___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, November 8, 2014

Jepang: (Belum atau Sudah?) pada Puncak Kegilaan


Judi Kode Buntut dan Orang Gila
Pada jaman dulu, masih dalam hitungan beberapa dekade lalu, judi massal masih marak di Indonesia. Ada beberapa jenis judi yang dikenal di Indonesia dengan beberapa nama: judi buntut, porkas, buntut toto, hua-huwei dan lain lain. Inti permainannya sama yaitu judi dengan permainan 2 angka yang diputar seminggu sekali. Banyak orang-orang dari tukang becak, penjual rokok sampai pengangguran ikut terlibat dalam permainan ini. Sejalan dengan judi buntut itu, ada yang disebut kode buntut yang banyak dicari orang. Yang dimaksud dengan kode buntut ini adalah angka yang ditengarai akan keluar minggu depan. Orang mau menjalani apa saja untuk memperoleh kode buntut ini. Bertapa di kuburan, berendam di sungai, dan yang paling sering adalah menyuruh orang gila untuk menyebut suatu angka. Kalau sudah seperti itu kita tidak tahu, siapakah yang gila, apakah yang bertanya/menyuruh atau yang ditanya. 
Mencari kode buntut dengan bertanya kepada orang gila (orang sakit jiwa) belum bisa disebut kegilaan, tetapi lebih condong pada irrasional alias tidak rasional. Tetapi jika hal yang tidak rasionil ini dilakukan berkali-kali dan tidak berhenti serta mengharapkan hasil yang berbeda, maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai kegilaan (insanity) – perbuatan orang sakit jiwa.

Albert Einstein mengatakan: "Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results."

Mungkin ucapan ini bukan Einstein yang pertama mengatakannya, tetapi Einstein adalah yang mempopulerkannya. Setidaknya orang banyak menyepakatinya seperti itu. Tentunya pembaca bertanya, kenapa EOWI menyitir ucapan Einstein ini. Sebabnya EOWI ingin menunjukkan betapa banyak orang yang edan dan mempengaruhi hidup anda dan hidup orang banyak.

Kejutan di Akhir 2014 dari Bank Sentral Jepang
Tanggal 31 Oktober 2014, Jumat lalu, pasar dunia memperoleh shock dari Jepang. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya bank sentral Jepang (Bank of Japan, BoJ) mengumumkan kelanjutan stimulus ekonomi Quantitative Easing (QE) yang lebih aggressive yaitu menambah pembelian surat obligasi pemerintah Jepang dari sekitar $450 milyar ke $ 730 milyar setiap tahun. Tidak hanya itu, BoJ juga mau meningkatkan pembelian saham dari $10 milyar per tahun menjadi $30 milyar. Akibatnya nilai yen terjun, harga emas terjun juga $25 dan indeks Nikkei terbang 815 poin. Entah kenapa emas dan perak ikut terjun pada hari itu.

Kegilaan yang Mahal
Orang yang tidak rasionil belum bisa disebut gila. Tetapi semua orang gila pada dasarnya tidak rasionil. Dalam berpikir persepsi dipengaruhi oleh kewahamannya (dilusinya). Ini yang membuat mereka berbeda dengan orang waras. Yang dimaksud dengan dilusi adalah kepercayaan atas kesunyataan (basic truth, kebenaran dasar) yang sebenarnya tidak ada. Misalnya seorang penderita paranoid schizophrenia, percaya bahwa dirinya sedang dikejar-kejar untuk dibunuh. Dia akan bertindak seakan-akan jiwanya terancam. Bukan mustahil ia menyerang orang disekitarnya karena ingin mempertahankan diri dari apa yang diasumsikan sebagai potensi bahaya. Penderita paranoid schizophrenia bisa mendatangkan bahaya dan kerugian harta dan nyata pada masyarakat, walaupun tidak skalanya tidak sebesar akibat prilaku para central banker.

Penggelontoran kredit dipercaya selalu bisa mengaktifkan ekonomi. Dengan penggelontoran kredit, bisnis akan melakukan peningkatan investasi dan ekspansi bisnis sehingga lapangan kerja bertambah. Ini dianggap sebagai suatu kesunyataan oleh para central banker. Terlepas hal ini merupakan keberadaan hakiki atau illusi, toh kepercayaan ini sudah meresap ke dalam kepercayaan para central bankers.

Bank sentral Jepang melakukan suatu hal yang sama dan sia-sia (tidak mencapai apa yang diinginkannya) selama 25 tahun serta memakan biaya yang besar sekali. Perbuatan ini bisa dikategorikan sebagai kegilaan yang mahal. Sejak tahun 1990, bank sentral Jepang melakukan stimulasi ekonomi agar bisa bangkit kembali dari keterpurukannya di tahun 1990. Dan sampai saat ini pertumbuhan ekonomi Jepang selalu di bawah 3%, sangat marginal. Biayanya, sebagian masih bisa dilihat dalam bentuk hutang pemerintah Jepang yang melampaui satu (1) quadrilliun yen di tahun 2013. EOWI memperkenal kata baru bagi pembaca sekalian, yaitu quadrilliun. Ini menggambarkan betapa besarnya hutang pemerintah Jepang sampai-sampai sebutan angkanya tidak termasuk dalam kata  yang kita kenal. Kalau diukur dengan GDP, angka ini mencapai 218%. Dan angka ini masih naik menjadi 227% di tahun 2014.

Awal Dimulainya
(Ekonomi) Jepang mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1990. Kejayaan ini diakhiri dengan meledaknya bubble realestate dan pasar saham Nikkei. Sejak saat itu ekonomi Jepang mengalami masa deflasi yang suram. Kata suram ini mungkin barlaku untuk politikus di pemerintahan, tetapi tidak berlaku bagi rakyat Jepang. Saham Jepang tidak ikut pesta bubble tech tahun 1990an dan sektor properti Jepang juga absen dari pesta di sektor properti dunia yang berakhir tahun 2008.

Kami di EOWI berpendapat bahwa puncak ekonomi Jepang ini ada korelasinya dengan demografi. Puncak konsumsi rakyat Jepang berakhir di tahun 1990. Gelombang generasi ini berpopulasi cukup besar dan mereka melepaskan anak-anaknya dan memasuki masa tuanya kemudian pensiun di masa tahun 1990 itu. Setelah itu generasi berikutnya tidak cukup banyak/besar populasinya untuk bisa mengembalikan tingkat konsumsi di masa lalu. Sekarang masyarakat Jepang adalah masyarakat yang menua. Di samping populasi yang menurun, jumlah orang-orang tua di dalam demografi Jepang terus meningkat. Dan orang tua tidak konsumtif, bahkan cenderung untuk berhemat. Jepang kehilangan konsumen, dan konsekwensinya kehilangan permintaan akan barang dan jasa. Kehilangan selera untuk mengambil kredit, akibatnya perputaran uang pun tidak seperti dulu lagi. Kehilangan selera untuk berspekulasi dan bursa sahampun mandeg. Dan penghasilan mereka relatif tetap dari pensiun, kalau tidak mau disebut menurun karena dimakan inflasi.

Menurut para ekonom Keynesian kondisi ekonomi semacam ini tidak baik. Tentu saja EOWI tidak sependapat dengan mereka. Menurut mereka, kalau tidak ada inflasi itu jelek. Apakah rasionil opini ekonom seperti ini? Kalau anda ditanya: “Apakah anda suka jika harga barang tidak pernah naik?” Kalau anda masih waras, maka jawabannya adalah bahwa tingkat inflasi nol adalah bagus. Nilai uang dan tabungan kita tetap dan tidak berkurang. Tentunya anda akan bertanya: “Dimana kewarasan orang yang duduk di pemerintahan dan bank sentral itu, yang menginginkan nilai riil tabungan susut 2% (atau berapa saja) setiap tahunnya?”. Setiap bank sentral di dunia, termasuk Haruhiko Kuroda dari BoJ, menginginkan inflasi setidaknya 2%  per tahun. Perilaku orang-orang di pemerintahan dan bank sentral ini punya banyak persamaan jika dibandingkan dengan orang yang bertanya kepada orang gila tentang kode buntut. Mereka sama-sama tidak tidak rasionil.

Terlepas rasionil atau tidak pemikiran para ekonom dan orang-orang di bank sentral, mereka bertekad bulat untuk mengakhiri kondisi semacam ini dengan segala cara dan dengan biaya berapapun. Itulah awal penyakit yang menggrogoti Jepang secara bertahap selama 25 tahun dan masih berlangsung. Bertahun-tahun pemerintah Jepang bersama dengan bank sentralnya melakukan apa yang disebut stimulasi ekonomi, yang sekarang dikenal dengan nama QE, tetapi hasilnya tidak ada. Eksperimen/perbuatan yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang panjang (25 tahun) dan mereka mengharapkan hasil yang berbeda, itu namanya insanity, kegilaan. The maestro Alan Greenspan sendiri mengatakan/mengakui bahwa QE tidak akan memperbaiki dan menstimulasi ekonomi riil yang berupa pembukaan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan riil. Yang ada adalah menstimulasi pembentukan bubble dan spekulasi. Artinya perbuatan melakukan QE akan sia-sia. Itu tentu saja tidak dikatakannya ketika menjabat sebagai ketua the Fed, bank sentral Amerika. Mungkin dia sembuh dari kegilaannya ketika turun dari kursi ketua the Fed. Walaupun sudah difatwakan oleh sang maestro, tindakan yang tidak masuk akal dan sia-sia, ketidak-bijaksanaan ini dilakukan selama 25 tahun oleh 6 central bankers Jepang dari mulai Yasushi Mieno, kemudian Yasuo Matsushita, lalu Masaru Hayami, Toshihiko Fukui, Masaaki Shirakawa dan akhirnya Haruhiko Kuroda. Ini memenuhi kriteria/definisi Albert Einstein tentang gila (insanity). Jika anda memilih orang gila atau penipu untuk urusan anda, maka yang anda dapat adalah kesengsaraan dimasa akan datang.

Hidup Bejalan Terus
Kembali ke cerita awal. Sejak jebolnya bubble saham dan properti Jepang, menurut kata para ekonom dan bank sentral bahwa ekonomi Jepang suram. Mungkin karena harganya tidak naik-naik. Tetapi di pihak lain orang Jepang masih produktif. Mereka masih menghasilkan banyak barang untuk diekspor. Surplus perdagangannya selama beberapa dekade selalu positif (Chart-1). Sulit untuk mengatakan bahwa kehidupan di Jepang sengsara. Tidak ada kelaparan, tidak ada wabah yang membasmi populasinya. Mereka masih bisa bekerja secara effisien. Bisa memproduksi dan menjual barang lebih banyak dari yang dibutuhkan artinya tidak ada persoalan bukan? Antara ekonom, politikus, birokrat dengan rakyat kebanyakan ada jurang persepsi yang dalam.

Chart - 1

Dengan surplus ini rakyat Jepang punya banyak tabungan. Ini tentu saja akan diincar oleh para politikus. Duit nganggur. Bisa dipakai untuk bereksperimen. Dan nampaknya rakyat Jepang tidak protes. Kenaifan rakyat Jepang inilah nanti yang nantinya akan membuat mereka sengsara.

Sayangnya kondisi surplus perdagangan Jepang ini secara alami tidak bisa terjadi terus-menerus. Tidak ada yang bisa punya surplus perdagangan terus-menerus tanpa akhir. Itulah hidup. Tahun 2012 surplus ini berakhir.

Gangguan
Kalau anda sebagai rakyat dan konsumen, kondisi dimana harga-harga cenderung turun, bukankan ini bagus juga bukan?  Tetapi para politikus berpikir lain. Mereka suka kalau anda, rakyat, lebih miskin. Entah 2% per tahun, 6% per tahun, atau 99% per tahun seperti di Zimbabwe. Bagi bangsa yang berbudaya tinggi seperti Jepang, pemiskinan rakyat dengan cara pencetakan uang yang dilakukan harus halus. Bukan ala Zimbabwe. Pemerintah Jepang membuat proyek ini dan itu. Membangun jalan yang tidak dilewati orang, membangun jembatan di tempat jin buang anak, dan berbagai proyek yang tidak mempunyai nilai ekonomis. Kisah ini dibahas di EOWI beberapa tahun lalu salah satunya adalah Jepang: Negara Matahari Terbenam, cerita mengenai Jembatan Hamada yang letaknya di tempat jin buang anak. Itulah cara orang yang beradab.

Uang/biaya proyek ini dan itu Jepang sebagian dari pajak. Tetapi pajak tidak boleh terlalu tinggi. Sebab yang dipajaki bisa marah kalau yang disedot terlalu tinggi. Jika masih kurang, maka kekurangnya diperoleh dari hutang. Hutang adalah pemerkosaan hak-hak mereka yang tidak punya hak demokrasi – memilih atau dipilih. Yaitu anak-anak di bawah umur. Mereka inilah yang akan membayar hutang pemerintah yang jatuh temponya 30 – 40 tahun. Anak-anak tidak bisa protes. Karena tidak ada yang protes (anak-anak tidak bisa protes) maka setiap tahun pemerintah Jepang terus berhutang untuk menutupi devisit peneriamaan-belanja negara sejak tahun 1993 atau 26-27 tahun lalu (Chart-2) sampai sekarang, non-stop, tanpa berhenti satu tahunpun.
  

Chart - 2

Kalau pemerintah Jepang mengeluarkan surat hutang, tentu ada yang beli. Sayangnya yang beli itu-itu juga, BoJ dan dana pensiun Jepang. Asing jarang sekali. Pasalnya, BoJ menekan suku bunga pinjaman sampai mendekati nol. Artinya antara punya cash yen dan bond pemerintah, boleh dikata tidak ada perbedaannya (kecil sekali). Investor asing tidak akan tertarik membeli bond pemerintah Jepang. Bagaimana bisa menarik, bunganya kecil, kalau nilai yen turun, maka investor akan kena batunya. Faktor lainnya juga, Jepang selama beberapa dekade mengalami surplus perdagangan, sehingga tidak banyak yen yang parkir di negri orang. Dengan demikian bank-bank sentral mitra dagang Jepang tidak perlu melakukan sterilisasi yen di negrinya. Dan tidak perlu menukarkan yen nya dengan bond pemerintah Jepang. Jadi dengan kata lain Jepang berhutang pada dirinya sendiri. Pemerintah Jepang mengeluarkan surat hutang dan bank sentralnya mencetak duit untuk membelinya. Ini bisa dilihat dari pertumbuhan asset BoJ (Chart-3) yang sebagian diantaranya tidak lain adalah obligasi pemerintah Jepang (dan saham). Peningkatan asset BoJ menjadi parabolik setelah tahun 2012, yang bersamaan dengan berakhirnya commodity secular bull market. Ini mungkin hanya kebetulan saja. Atau ada keterkaitan antara pilek-flu di ekonomi Cina, negara penghasil komoditi dengan mitra dagangnya yaitu Jepang.

Chart - 3


Neraca Keuangan Pemerintah Jepang – Negara Maju yang Gagal
Kesehatan keuangan pemerintah Jepang bisa dilihat dari neraca pendapatan-belanja negaranya. Ambil saja sebagai contoh untuk perkiraan pendapatan-belanja negara tahun 2013, komposisinya sebagai berikut:
Perkiraan Pemasukan negara: 92.6 trilliun yen
Perolehan dari pajak:  43.0 TY
Perolehan lainnya: 4.0 TY
(Penerbitan surat) Hutang: 42.8 TY

Belanja: 92.6 TY
Bayar bunga hutang dan pokoknya: 22.2 TY
Jaminan Sosial: 29.1 TY
Lainnya: 41.2 TY


Pertama, data yang di atas adalah perkiraan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada kenyataannya, di akhir tahun fiskal, yang dihabiskannya bisa 100 trilliun yen, artinya ada defisit. Persoalan kedua adalah untuk jaminan sosial dan menservis hutang hampir 120% dari pendapatan pajak. Persoalan kedua ini menurunkan persoalan berikutnya, yaitu setiap tahun pemerintah Jepang harus menerbitkan surat hutang yang besarnya mendekati 2 kali pengeluaran untuk menservisnya (membayar hutang yang jatuh tempo dan bunganya). Dengan kata lain tutup lubang, gali lubang yang besarnya 2 kali lipat. Kalau begini caranya, sampai kiamatpun nggak bisa melunasi hutangnya. Memang niatan untuk melunasi hutang itu tidak ada di benak politikus.

Saat ini rasio hutang dengan pendapatan fiskal Jepang adalah 800%. Jauh di atas negara-negara lain (Chart-4). Apakah Jepang telah mencapai titik yang tidak bisa kembali, patah arang?Mungkin untuk penggambarannya adalah kena HIV, sakit yang tidak bisa sembuh dan mati perlahan-lahan.
Pertama, data yang di atas adalah perkiraan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada kenyataannya, di akhir tahun fiskal, yang dihabiskannya bisa 100 trilliun yen, artinya ada defisit. Persoalan kedua adalah untuk jaminan sosial dan menservis hutang hampir 120% dari pendapatan pajak. Persoalan kedua ini menurunkan persoalan berikutnya, yaitu setiap tahun pemerintah Jepang harus menerbitkan surat hutang yang besarnya mendekati 2 kali pengeluaran untuk menservisnya (membayar hutang yang jatuh tempo dan bunganya). Dengan kata lain tutup lubang, gali lubang yang besarnya 2 kali lipat. Kalau begini caranya, sampai kiamatpun

Chart - 4

Kalau pemerintah Jepang tidak bisa merampingkan birokrasinya dan melakukan disiplin  budget, maka kecepatan berhutangnya akan terus meningkat. Penerimaan pajak akan menurun sejalan dengan gelombang angkatan kerja yang memasuki pensiun dan tidak tergantikan oleh generasi yang baru. Dengan populasi yang menyusut dan menua, pajakpun akan turun. Menaikkan pajak ada batasnya. Politikus harus lebih kreatif dalam menariki pajak. Harapan pada kebangkitan ekonomi Jepang mungkin di tangan robot dan otomatisasi, yang membuat effisiensi lebih tinggi. Barangkali nantinya politikus yang kreatif akan bisa menerapkan pajak penghasilan robot.Ide itu cepat atau lambat akan muncul.

Faktor lain yang akan mempercepat Jepang harus berhutang adalah jaminan kesehatan bagi orang tua yang akan terus meningkat sejalan dengan membesarnya populasi orang-orang tua, yang sakit-sakitan dan perlu perawatan.

Jika ketidak-bijaksaan yang diterapkan masih seperti sekarang, akan stabilkah sistem/cara seperti ini?  Apakah Jepang telah mencapai titik yang tidak bisa kembali sehingga tidak bisa merubah pola (ketidak) bijaksaanannya? Silahkan jawab sendiri.

Jurus Putus Asa Atau Apa?
Usaha putus asa untuk mendongkrak inflasi dan meningkatkan penerimaan dari pajak dilakukan beberapa bulan yang lalu adalah menaikkan pajak penjualan. Untuk beberapa bulan harga-harga barang konsumen naik, hanya saja besarnya sebanding dengan kenaikan pajak penjualan. Ini tentu bukan karena rakyat merubah pola konsumsi mereka. Dengan bangga BoJ mengumumkan bahwa mereka sudah bisa membunuh setan deflasi. Tetapi......, konsumen terpukul dan mundur, uups, lalu mengurangi konsumsinya. Uuups, penerimaan pajak penjualan turun lagi. Setan deflasi masih di atas angin. Rakyat tidak meningkatkan konsumsinya.

Akhirnya jurus pemungkas yaitu keputusan BoJ yang diumumkan pada tanggal 31 Oktober 2014, Jumat lalu, mengenai Quantitative Easing (QE) yaitu pembelian surat obligasi pemerintah Jepang sebesar $ 730 milyar setiap tahun dan saham $30 milyar per tahun bisa dianggap sebagai jurus keputus-asaan dan puncak kegilaan. Semua surat hutang yang dikeluarkan pemerintah, akan dibeli oleh BoJ. EOWI tidak tahu apakah itu jurus pamungkas dan puncak kegilaan. Bahkan EOWI juga tidak tahu apakah kegilaan punya puncak atau tidak. Tetapi pengetahuan seperti itu tidak punya nilai-nilai praktis, oleh sebab itu tidak akan dibahas. Lebih penting lagi adalah membahas dampak dari tindakan Kuroda saat ini, kalau ada.

Mungkin Jepang sedang menghancurkan hutangnya melalui hiper-inflasi yang menghancurkan nilai yen. Tetapi hutang itu toh kepada Jepang sendiri. Pemerintah sebagai debitur dan BoJ sebagai kreditur. Yang terjepit ditengah-tengah adalah penabung (orang yang punya tabungan pensiun), yang nilai riil tabungannya turun. 

Jika nilai yen turun artinya barang-barang import, termasuk barang-barang dasar akan naik (dalam yen). Rakyat/konsumen akan terpukul karena kenaikan harga energi dan makanan yang masih diimpor. Demikian juga produsen karena bahan dasar yang diimpor akan naik. Memang harga jual produk bisa dinaikkan, tetapi bagi pekerja upah riil tetap akan turun. Jadi pekerja juga akan terkena dampaknya karena gajinya turun nilainya.

Endgame?
Melihat tindakan Jepang ini, Cina, Korea dan saingan-saingan dagangnya akan merasa tidak nyaman karena barang-barangnya bisa kalah bersaing dengan barang-barang Jepang. Mungkin mereka akan latah mengikuti tindakan Jepang. Negara-negara yang pasar obligasinya kecil atau banyak dikontrol oleh bank sentralnya akan bisa berdansa mengikuti irama Jepang. Mata uang mereka juga akan turun terhadap mata uang negara yang mempunyai pasar obligasinya besar dan tidak sepenuhnya dikontrol oleh bank sentralnya. EOWI memegang US dollar sebagai mata uang yang akan berjaya dalam endgame ini.

Kalau negara saingan dagang Jepang seperti Korea dan Cina bisa melihat bahwa pemerintah Jepang, c.q. BoJ menghancurkan nilai yen, rakyat Jepang cepat atau lambat akan melihat juga tabungannya hancur. Apakah mereka akan diam saja? Kalau anda pada posisi mereka, apakah anda akan diam saja? Atau melupakan semua rasa nasionalisme dengan membuang mata uang nasional yen dan memborong US dollar?

Dari sudut pandangan skeptis seperti yang dimiliki EOWI, Jepang akan mengalami perubahan struktural. Yang paling kecil adalah perubahan ukuran dan struktur birokrasinya. Dan kita masih bisa berimaginasi secara liar, terbang melihat Jepang menjadi beberapa negara kecil atau menjadi negara baru atau menjadi bagian negara lain. Pajak yang menurun karena pensiun dan jaminan sosial dan kesehatan orang tua naik adalah persamaan aljabar yang tidak punya solusi. 

Renungan
Kalau anda melihat uang kertas, uang kertas negara mana saja, nama atau/dan tanda tangan gubernur/ketua bank sentral dan/atau menteri keuangan tercantum di sana. Bayangkan berapa banyak tanda tangan yang beredar dari seorang menteri keuangan dan/atau gubernur/ketua bank sentral sebuah negara. Dia adalah orang yang tanda tangannya beredar terbanyak di negara itu. Apakah karena intelektualitasnya? Kehebatannya? Kepandaiannya? Keagungannya? Kebaikannya? Moralitasnya? Atau apa? Mungkin kegilaanya dan kekejamannya.

Boleh dikata semua central bankers dan menteri keuangan punya target inflasi. Mereka mengatakan bahwa inflasi itu bagus untuk pertumbuhan. Lalu, sekarang ini ada tren baru. Katanya, kalau pasar saham bagus, harga saham naik artinya ekonomi bagus. Itu sebabnya banyak central bankers dan menteri keuangan menghendaki inflasi dan harga saham yang naik terus. Kalau mereka punya intelektual, katakanya selevel anak SMP, tentunya mereka bisa mempelajari dari kasus Venezuela. Harga sahamnya melambung. Inflasinya juga melambung. Tetapi apakah Venezuela makmur? Lihatlah indeks saham Venezuela berikut ini (Chart-4). Naiknya gila-gilaan sejak entah kapan, paling tidak sejak tahun 2010 (perlu grafik dengan skala logaritma).  Inflasinya secara khronis bergoyang antara 20% - 30% sebelum terbang ke hampir 70% per tahunnya di tahun 2012 -2013. Apakah Venezuela makmur? Tetapi pertumbuhan GDPnya hanya bergoyang di antara minus 2%  sampai dengan plus 3% sebelum terangkat ke sekitar plus 6%.

Chart - 5

Apakah ketiga parameter itu ada hubungannya? Atau cuma kebetulan? Atau statistik yang digunakan adalah statistik versi Mark Twain (Lies, damned lies, and statistics)?  Venezuela bukan negara yang berekonomi bebas. Kurs mata uangnya pun dipatok (pegged). Itupun kurs resmi ini sejak tahun 2008 sudah mengalami devaluasi dua kali dan nilai US dollar sudah terbang 70% dari nilai bolivar. Itukah yang dicari para central bankers? Harga saham naik, GDP gitu-gitu aja, dan nilai tabungan jeblok?

Chart - 6

Para central bankers dan politikus tidak perduli kepada orang kebanyakan. Ada kemungkin mereka masih perduli pada investor saham, tetapi itupun masih perlu diuji kebenarannya lewat pemfaktoran harga saham terhadap inflasi. Yang pasti mereka masih perhatian terhadap spekulan saham dan mata uang dengan menciptakan volatilitas. Dan yang pasti, rakyat kebanyakan bukan fokus perhatian mereka. Moralitas mereka perlu dipertanyakan. Untuk Jepang: Niatan memiskinkan orang-orang tua yang sudah tidak bisa bekerja dengan cara inflasi apakah bisa disebut bermoral? Itu berlaku umum, untuk Jepang, Zimbabwe atau negara manapun........... Dari hutan belantara Irian Jaya, EOWI mengucapkan jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik. Sampai ketemu di lain cerita. (8 November 2014).



Catatan tambahan: Kalau saya jadi orang Jepang dan punya access meminjam uang (yen), maka saya akan ambil pinjaman dengan bunga hampir nol persen dan kemudian didepositokan ke US, memperoleh bunga sedikit dan ......appresiasi dollar sebesar 33%....., (dasar Imam Semar seorang speklator).




Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

13 comments:

Anonymous said...

Pak IS Jepang kan berutang dengan BOJ bukan dengan pihak luar negeri, seandainya default juga tidak fatal kan ?

Jefri Sid said...

Maksud bang imam semar, kelakuan politikus di tiap negara tak akan pernah berubah? Lalu gimana masyarakat melindungi hasil kerja keras mereka?

Btw bang, usd-idr kok gak turun2 bang? Malah naik terus? Hiks..

Imam Semar said...

Anony,
Kelihatannya BoJ bersama-sama pemerintah Jepang melakukan unholy conspiration membangkrutkan rakyatnya. Cepat atau lambat, mereka akan mengelak dari kewajibannya di jaminan sosial dan lain-lain. Fatal bagi orang-orang tua dan pensiunan.

Jefri,
Untuk melindungi hasil keringat rakyat, tidak ada jalan lain kecuali rakyat itu sadar dan melindungi diri mereka sendiri.

USD-IDR ngggak turun-turun? Silahkan baca halaman Gejolak 2014-2020.

Cakra Pelita said...

Menurut saya Jepang sudah melewati batas kegilaan, semua hal yang terjadi di Jepang adalah hasil peradaban yang terlewat tinggi, kendati demikian jepang masih bisa diatas limit dari yang sekarang.

Who Knows

Anonymous said...

Pak semar, kalo terawangan bapak benar, berarti beli properti pun cukup baik buat investasi, dollar naik, bahan bangunan naik, inflasi, ujungnya harga rumah juga naik...

Jefri Sid said...

Mulai turun tuh bang semar. Tapi kok keliatannya usd calon game over.. haha..

Wave 5 kah? Hehe

Murid_Kwik said...

Anda mungkin miss satu hal IS, dalam ‘debt based money system’ adanya inflasi merupakan suatu keniscayaan atau system ini kolaps. Jadi jika ada yg mengharapkan hari-hari tanpa inflasi seperti menghayal di siang bolong. Orang-orang termasuk IS pasti sangat senang jika harga-harga tidak beranjak naik atau bahkan turun tapi disisi lain kredit mengalami kontraksi. Money is printed from thin air Mr IS , and unfortunately it was a debt, don’t forget it’s interest also, Uuups.. All debt must be payed guys!
Jadi, jika menggunakan logika orang waras pasokan uang pasti akan bertambah dan harus ditambah. Sekedar simulasi saja:
Supply uang pertama $ 1000 + (i) 5%, (ingat yang dicetak hanya capital nya saja). Jadi pada tanggal jatuh tempo ada ekses sebesar $50. Lalu darimana datangnya yang $50 ini, jin kah?? Agar bertahan hidup, sistem harus di inject likuiditas terus menerus sebagai nafasnya and so on sampai sesak nafas dan…. Boooom(?). Bagaimana jika tidak ada yang bersedia meminjamnya? Tenang, masih ada pemerintah! Bukan begitu IS.
“Inflation is Bad but deflation is worse”. Central Bank bisa saja menaikkan interest semau mereka untuk menekan inflasi tp mereka tidak bisa memotong nya dibawah 0%. Menghalau seekor kuda memang lebih mudah daripada memaksanya untuk minum walau sudah diceburkan ke dasar sungai sekalipun.
Jika Anda tidak suka dengan inflasi yang terus menggerus hasil jerih payah anda seharusnya bukan inflasi yang menjadi pokok permasalahan melainkan sistem. Mengharapkan hilang nya inflasi dalam sistem yang seperti ini seperti mengharapkan seekor ayam agar berhenti ‘tembelek’. Pertanyaannya, adakah alternatif sistem lain yang bisa ditawarkan? Mungkin IS ada usul, Roll back ke sistem emas? Jika iya, pasti IS akan dihujat mungkin sambil ditertawakan para ekonom ‘modern’ karena ide nya hanya akan membawa kemunduran peradaban terutama dalam bidang ekonomi. Kebutuhan, aktifitas dan permintaan manusia akan hal-hal baru tidak bisa lagi diimbangi dengan supply emas yang terbatas, tidak seperti fiat money yang dalam kontrol ‘penuh’ manusia, paling tidak mereka masih bisa memainkan interest rate. Jika kita mau mengubah atau setidaknya memperbaiki suatu sistem itu berarti kita sudah berbicara hal yang fundamental dalam ekonomi.
Pernah suatu hari saya tidak sengaja menonton film semi documenter yang agak aneh, dan orang-orang nya ekstrem kalau tidak mau dibilang gila. Saya sebut aneh disini karena ide nya sangat ekstrem yang lahir dari para libertarian juga, mereka mau mengubah status quo! Alias mau menghapus sistem berbasis uang! hehe… tidak usah terlalu dianggap serius, anggap saja mereka komplotan OVJ yang suka melawak untuk membuat kita terhibur menjelang tidur. Entah mereka hanya berhalusinasi atau bisa jadi suatu ketika ide tersebut menjadi kenyataan, who knows?!

andry w said...

Boleh tahu nama filmnya? Sepertinya menarik

Agen Vimax Asli said...

nice info gan

Imam Semar said...

Murid Kwik YTS,

Alternatif anda tetang hutang: Uuups.. All debt must be payed guys!, masih ada yang kurang. Hutang bisa dihapuskan dengan ngemplang.

Hutang yang diciptakan dari thin air akan hilang ...puff...menjadi thin air lagi melalui mekanisme dilunasi dan dikemplang. Yang pasti bunganya harus dikemplang. Oleh sebab itu oleh banyak agama, riba dilarang. Karena riba sesungguhnya menciptakan illusi. Akhirnya harus dikemplang.

Gitu....., omong-omong sekarang di Jepang banyak perusahaan yang membangkrutkan diri (mengemplang hutangnya) setelah implementasi Abenomics.

Lain kali kita bahas.

Nak Kwik, kami di EOWI adalah Libetarian pragmatis - alias spekulan kecil yang menunggang kegilaan manusia. Kami punya cita-cita, tetapi juga tidak ingin memaksakan kehendak. Mau sistem emas, tembaga, sistem hutang, itulah kenyataan yang dihadapi. Dari pada memaksakan kehendak, tiwas pegel ati lan awak-e toh lebih baik menunggangi kegilaan manusia. Kami akan berspekulasi dengan emas/perak nanti pada saat yang tepat. Sekarang....., kita membantu BI mendepresiasi rupiah dengan melakukan short rupiah-long dollar. Biar jatuhnya telak gituuuu...

Salaam,

IS

Murid_kwik said...

@andry w.
kalo sy tidak salah, Judul nya Addendum. Jika anda katolik 'tulen' tidak disarankan menonton sekuel nya dari awal.

@IS.
Oke, semoga kita disini bisa menjadi penunggang handal yang bisa mengambil keuntungan (yang sebesar-besarnya)dari keadaan.
Saya harap IS juga tidak lupa bahwa selain riba juga ada ayat yang bicara tentang pemerataan. Janganlah harta itu berputar di segelintir orang saja (akses thd kekayaan), walaupun kaya dan miskin merupakan keniscayaan dalam sistem yg seperti ini, tapi paling tidak kesenjangan tidak terlalu meruncing.
Maaf OOT.

P.S: Ditunggu artikel selanjutnya tentang situasi di jepun, kelihatannya menarik. Pajak penjualan yang mencekik konsumen pati memuluskan mereka untuk collaps.

vimax izon said...

I can learn a lot and could also be a reference
I hope to read the next your article updates,
Thank you for sharing in this article,wish you all success.

Jon Roky said...

I can learn a lot and could also be a reference
I hope to read the next your article updates,
Thank you for sharing in this article,wish you all success.

(*) Vimax Asli Canada,Vimax Izon