___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Monday, November 26, 2018

Mini Ice Age – Global Cooling


(Bagian – 1: Hoax Terbesar Abad 21 dan Kebenaran)
Dua atau tiga  dekade lalu anda sering dengar istilah yang menjadi sangat populer yaitu global warming. Katanya global warming ini akibat emisi gas-gas green house (gas rumah kaca). Tudingan gas rumah kaca itu tertuju pada CO2 sebagai akibat ulah manusia. Gas CO2 ini adalah emisi hasil pembakaran fossil fuel, bahan bakar fossil.

Ada yang pro yang suaranya lantang dan ada yang kontra, yang suaranya kurang terdengar. Dasar argumen kubu yang kontra adalah, bahwa kentutnya sapi yang merupakan gas methane juga gas rumah kaca yang dari dulu sejak tahun dal sudah dilepaskan lewat anus-anus sapi. Tidak hanya itu, methane itu lebih potent sebagai gas rumah kaca. Walaupun dengan argumen yang kuat ini, walaupun suara kubu kontra ditekan lewat keras-kerasan suara teriakan. Banyak politikus yang tentu saja tidak punya ilmu yang cukup untuk membuat analisa hal seperti ini, menyuarakan gagasan global warming. Kubu global warming memperlakukan persaingan ini seperti kontes popularitas. Bukan sebagai debat ilmiah untuk mencari kebenaran.

Salah satu pemandu sorak dari kubu global warming adalah mantan wakil presiden US, Al Gore. Tahun 2006 dia menulis dan membintangi film yang berjudul An Inconvenient Truth. Dan film ini memperoleh hadiah Oscar untuk Best Documentary Feature dan Best Original Song. Artinya film ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan/untuk memperoleh respon yang baik dari masyarakat. Dana banyak dikucurkan ke kubu ini. Dukunganpun semakin banyak. Undang-undang pembatasan emisi karbon, pajak karbon semakin banyak diadopsi di banyak negara. Negara-negara yang meratifikasi pejanjian pembatasan emisi karbon semakin banyak.

Global warming adalah hoax terbesar pada abad 21. Penyebarnya adalah para politikus. Kalau dulu EOWI sering mengatakan bahwa: “ada penipu, ada penipu ulung, ada politikus dan ada Cut Zahara Fona”, nampaknya para politikus seperti Al Gore sekarang bisa menyaingi penipu kelas Cut Zahara Fona. Apakah peningkatan kualitas politikus ini benar? Tunggu sampai ada Cut Zahara Fona, Joko Suprapto atau Raja Idrus – Ratu Markonah yang baru.

Tetapi kebenaran tidak diperoleh dari kontes popularitas. Ilmuwan sejati yang tentu condong dan berpihak pada data serta argumen yang logis, tetap bersikukuh memnyodorkan data-data yang otentik dan membatah data-data yang dimanipulasi oleh para politikus, hoax atau propaganda ala An Inconvenient Truth. Dampaknya sudah mulai terlihat. Perlahan-lahan istilah global warming berganti menjadi climate change. Perhatikan perubahan istilah ini. Dan……, bukan tidak mungkin nanti istilah climate change berubah menjadi global cooling atau mini ice age.

Mini ice age bukan lah hal yang baru. Sebelumnya pernah terjadi kira-kita antara tahun 1400 – 1800. Tepatnya, kapan dimulai, kapan berakhir dalam perdebatan para pakar. Tentu saja demikian karena mini ice age merupakan proses yang cukup lama menurut ukuran umur manusia. Dari semua itu yang tercatat dalam sejarah di tahun 1645 – 1715, pada musim dingin di Eropa, banyak sungai-sungai yang membeku, seperti sungai Thames di London.

Berbeda dengan kubu global warming, modelnya sulit diterima, seperti dasar terjadinya global warming adalah CO2 akibat kegiatan manusia. Benarkah meningkatnya kadar CO2 di atmosphere akan menyebabkan kenaikkan suhu bumi?

Kenyataan saat ini adalah sebaliknya. Beberapa gejala sudah nampak akan munculnya mini ice age dimasa mendatang. Bahkan mungkin tahap awalnya sedang berlangsung. Ini akan lebih memperkuat posisi kubu global cooling.  Sedangkan kubu global cooling punya dasar eksperimen laboratorium untuk memperkuat modelnya. Bisa saja ada kompetisi andata global warming yang disebabkan CO2, tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi global cooling nampaknya akan lebih mendominasi.

Walaupun kita mungkin tidak mengalami bottom atau bagian ekstrim dari mini ice age ini setidaknya kita akan mengalami proses global coolingnya sendiri. Tidak hanya itu, sebagai orang tua, kita bisa mempersiapkan anak-anak dan cucu-cucu menghadapi periode global cooling.

EOWI ingin menyentuh beberapa aspek dari dampak global cooling terhadap manusia serta peluang-peluang apa yang terbuka dimasa depan.


Data dan Fakta

Salju Di Gurun
Beberapa tahun terakhir ini kita mendengar turunnya salju di Saudi Arabia. Kalau turunnya di wilayah Tabuk yang berada di utara dekat dengan Jordania, Syria dan Israel, kita tidak perlu heran. Ini terjadi tahun 2016 pada bulan Desember. Tetapi jika salju ini turunnya di Mekkah dan Madinah serta wilayah-wilayah di daerah itu lain ceritanya. Tahun 2014, 2016 dan 2018 hujan es melanda Mekkah dan atau Madinah. Ini baru cerita yang seharusnya membuat kita mempertimbangkan lagi, apakah kejadian ini akan berlanjut dan merupakan awal dari suatu proses yang panjang.



Mekkah turun salju tahun 2016 (https://youtu.be/3FSGKg4MdRQ)



Mekkah Turun salju tahun 2014 (https://youtu.be/8Htlc9GfM48)



Jalan antara Mekkah dan Madinah 2016 (https://youtu.be/EkHv349AK2o)



Hujan es di Saudi Arabia 2018 (https://youtu.be/66Px2grmB3c)

Perhatikan reaksi orang-orang di video ini, kelihatan norak, karena mengalami hal yang baru.

Penebalan Lapisan Salju di Greenland
Salju glacier di kutub utara, termasuk Greenland mempunyai dinamika siklus tahunan. Pada musim panas, salju glacier mencair dan mengalir ke laut dari bulan Juni sampai Agustus. Pada bulan-bulan ini glacier di Greenland menyusut karena glacier yang cair mengalir ke laut bukan tetap di daratan. Tetapi kemudian dari bulan September ke bulan Mei dengan turunnya salju, es dan hujan yang membeku, akumulasi terjadi lagi dan lapisan es glacier menebal kembali. (Lihat chart berikut)


Chart-1
Untuk mengamati apakah salju glacier di Greenland dari tahun ke tahun menyusut (menunjukkan global warming) atau menebal (menunjukkan global cooling), dapat dilakukan pengukuran pada setiap bulan September. Jika ada kenaikkan maka itu menunjukkan global cooling dan jika ada penyusutan, maka itu global warming.

Tiga  orang ahli cuaca Denmark, Dr Ruth Mottram, Dr Peter Langen and Dr Martin Stendel dari Danish Meteorological Institute (DMI) di Copenhagen, menunjukkan bahwa tahun 2011 – 2012 pun ada surplus endapan salju sekitar 50 G-ton. Artinya pada tahun itu antara salju yang mencair dengan curah salju, masih lebih banyak salju diendapkan di tanah Greenland. Dan untuk tahun 2016 – 2017 surplusnya semakin banyak yaitu 550 G-ton. Jadi salju di Greenland sebenarnya menebal dan meluas sejak 2011 dan mungkin mengalami percepatan. Walaupun demikian penambahan massa glacier tahun 2016 – 2017 ini masih dalam kisaran statistik selama 30 tahun, antara 1981 – 2010 (area berwarna abu-abu). Jadi untuk mengatakan global cooling masih terlalu dini. Kita bisa mengatakan bahwa trendnya mengarah pada global cooling, bukan global warming. Dan saat ini masih dalam phase awal.

Chart-2


Teori Gas Rumah Kaca vs Teori Aktivitas Matahari

Kubu global warming mempunyai argumen bahwa CO2 hasil pembakaran fossil fuel adalah gas rumah kaca, yang akan menahan panas matahari yang jatuh ke bumi dan menghambat pelepasannya keluar atmosfir bumi. Jadi dengan bertambahnya gas rumah kaca maka panas dari sinar matahari akan terkungkung di dalam atmosfir bumi. Teorinya demikian sederhana dan mudah dicerna oleh orang awam dan politikus. Oleh sebab itu teori ini mendapat banyak dukungan dari orang awam dan politikus. Politikus yang otaknya pas-pasan menjadi corong kubu ini. Dana dikucurkan untuk kampanye mitigasi global warming dan untuk usaha-usaha/program menahan laju global warming. Bahan bakar ramah lingkungan dan segala macam program tetek-bengek, dari mulai konfrensi sampai pembuatan peraturan, undang-undang serta program yang mendorong penggunaan green energy dijalankan untuk mengurangi emisi CO2

Teori sunspot cycle adalah yang dijadikan pegangan bagi kubu global cooling.

Aktifitas matahari tidak selalu konstan. Pada masa aktif dan sibuknya matahari mengeluarkan letupan-letupan atau badai di permukaan yang ditandai dengan peningkatan aktivitas magnetik. Bagian-bagian matahari yang aktif ini disebut sunspots karena bentuknya seperti bintik-bintik di matahari. Letupan-letupan ini menghasilkan solar wind (angin matahari) yang memancar keluar dan menerpa salah satunya bumi.

Solar wind pada dasarnya terdiri dari proton (ion hidrogen) dan ion helium (sinar alpha). Dalam banyak hal partikel-partikel/atom bermuatan ini punya peran yang penting dalam melindungi bumi dari radiasi sinar kosmik (cosmic rays) yang banyak mengandung sinar gamma yang mempunyai energi tinggi. Sinar kosmic ini yang berasal dari ledakan nova dan supernovae.

Permukaan bumi sendiri terlindung dari solar wind karena adanya medan magnit bumi.

Gambar di bawah ini bisa memberi illustrasi tentang solar wind, cosmic rays dan medan magnet bumi.

Illiustrasi-1

Beberapa ilmuwan Denmark lainnya seperti Henrik Svensmark dari Technical University of Denmark, baru-baru ini bisa menunjukkan bahwa partikel-partikel terionisasi bisa memicu terbentuknya inti titik-titik air yang hasil akhirnya adalah pembentukan awan. Dengan kata lain partikel terionisasi membantu pembentukan awan.

Penemuan ini ada kaitannya dengan sinar kosmik, dimana sinar kosmik yang berenergi tinggi ini masuk ke atmosfir akan menghantam atom-atom di udara dan membuat atom-atom ini bermuatan, alias menjadi ion. Selanjutnya ion-ion ini akan membantu pembentukan awan.

Oleh sebab itu, pada saat aktivitas matahari berkurang, sinar kosmik banyak yang masuk ke bumi, pembentukan awan akan lebih mudah. Dan selanjutnya bisa ditebak. Sinar matahari terhalang untuk menerpa permukaan bumi karena awan. Awan-awan yang berwarna putih itu memantulkan cahaya matahari keluar bumi. Inilah yang menyebabkan suhu bumi mendingin.

Sunspot cycle punya rentang siklus antara 9.5 – 12 tahun (Chart-3). Satu setengah abad yang lalu panjang siklus ini sekitar 11.5 – 12 tahun. Tetapi dengan perjalanan waktu secara perlahan-lahan siklus ini memendek, dan yang terpendek adalah sekitar 9.5 tahun yaitu pada tahun 1986 – 1996. Setelah itu siklus ini ada tanda-tanda kembali memanjang.

Chart-3

Tadi disebutkan bahwa sunspots, solar wind, berkaitan dengan berkurangnya potensi terbentuknya awan, dengan demikian assosiasinya adalah bertambah panasnya bumi. Panjang-pendek siklus berhubungan langsung dengan pancaran solar wind. Oleh sebab itu diharapkan panjang-pendeknya siklus sunspot punya korelasi yang dekat dengan perubahan suhu rata-rata bumi.

Chart-4 sejalan dengan hipotesa di atas. Pada Chart-4 ini juga diplot kadar CO2 yang jelas sekali tidak bisa dikorelasikan ke suhu bumi. Chart-4 ini jelas sekali mendukung hipotesa sunspot cycle dan menumbangkan hipotesa gas rumah kaca dalam kaitannya dengan pemanasan bumi.

Chart-4

Banyak ilmuwan dari kubu global cooling masih tawadhu (modest) dengan mengatakan bahwa ilmu mereka masih belum cukup dan banyak yang belum diketahui mengenai iklim dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Walaupun demikian, itu tidak menghalangi mereka untuk membuat ekstrapolasi, seperti yang ditunjukkan pada Chart-3. Menyimpulkan bahwa dalam masa 5 – 10 dekade mendatang pola sunspot cycle akan membentuk minimum seperti Maunder Minimum yang selanjutnya menyebabkan mini ice age, adalah terlalu dini. Kecuali para ilmuwan punya predictive sun activity model, maka ekstrapolasi semacam ini bisa disebut spekulasi. Walaupun itu termasuk educated guess yang tidak bisa dibantah atau dikukuhkan. Andaikata mini ice age terjadi, titik nadirnya akan berkisar pada tahun 2050 – 2100. Masih lama. Tetapi apa yang akan terjadi pada masa transisi, itu yang amat penting. Karena pada masa itu banyak perubahan-perubahan yang akan terjadi. Perubahan dari normal yang lama ke normal yang baru. Itu menjadi daya tarik tersendiri. Curah hujan meningkat. Tanah longsor, bahkan ada yang berpikir gempa bumi dan letusan gunung berapi akan sering terjadi. Apakah anda dan anak anda siap?


Kita sudahi dulu dongeng ini. Insya Allah akan dilanjutkan dengan bagian selanjutnya. Jaga kesehatan anda baik-baik dan juga tabungan anda.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, September 19, 2018

Biodiesel: The Devil is in the Details (Ketidak-bijakan Pemerintah)

Tulisan (katanya dari) L.B. Panjahitan dan Komentar EOWI (2)


Salah satu solusi dari melemahnya rupiah adalah peningkatan kandungan minyak sawit di dalam biodiesel dari 10% menjadi 20% dan ini disebut B20, mungkin singkatan dari Biodiesel 20%.

Kelihatannya ini adalah solusi yang bagus untuk mengurangi impor, menghemat devisa dan secara pelestarian lingkungan juga bagus, karena biodiesel adalah energi terbarukan (renewable) alias green energy. Begitu bukan?

Dalam tulisan ini, EOWI akan membuktikan bahwa penjelasan dan alasan itu adalah omong kosong. Menggantikan sebagian diesel dengan biodiesel yang berasal dari CPO (minyak sawit) akan menambah beban pada ekonomi, keuangan pemerintah dan penggunaan uang pajak. 

Ide biodiesel secara garis besarnya memang indah. Tetapi the devil is in the details. Artinya, jika sudah memasuki detailnya biodiesel adalah pepesan kosong yang akan merongrong keuangan negara.

Sebenarnya dengan cara orang bodoh saja bisa dijelaskan bahwa secara ekonomis, biodiesel itu tidak ekonomis. Cukup dengan pertanyaan investigative: “Kalau biodiesel memang bagus, kenapa kok tidak terlihat banyak yang berpindah ke biodiesel?”. Tidak perlu lagi eksplorasi minyak yang resiko gagalnya tinggi. Tidak perlu lagi ada enhanced oil recovery yang mahal. Tidak perlu lagi fracking yang mahal……. dan seterusnya. Cukup menanam sawit di setiap halaman, di setiap  tepi jalan, taman, pinggir kali dan memperoleh bahan bakar. Setiap negara punya tanah-tanah yang bisa dimanfaatkan untuk sawit. Tetapi kenapa hal ini tidak terjadi? Bahkan dulu pernah digembar-gemborkan bahwa tanah-tanah tandus dan tidak subur bisa ditanami jatropha (jarak) untuk bio-fuel, ternyata tidak pernah bisa terwujud. Kenapa?

Jawabnya sudah pasti: “Tidak menggiurkan, bahkan proyek itu akan merongrong kocek. Proyek yang secara ekonomis akan rugi”. Dan itu yang kan EOWI buktikan.

Biodiesel Butuh Minyak Bumi
Entah dari mana datangnya ide biodiesel. Yang pasti akan ditolak mentah-mentah oleh pelaku ekonomi yang sejati. Jadi kemungkinan ide ini datangnya dari lembaga riset pemerintah atau LSM yang hidupnya jauh dari ekonomi nyata. Saya tahu beberapa kenalan saya di ITB melakukan riset ini.

Untuk menghasilkan bio-fuel seperti minyak sawit, atau minyak jarak (jatropha) perlu minyak bumi. Ini yang sering diabaikan. Untuk menghasilkan biodiesel, perlu pupuk yang terbuat dari minyak bumi, perlu herbisida dan insektisida yang juga terbuat dari minyak bumi. Untuk memproses buah sawit dan mengambil minyaknya, perlu energi, dan sebagian dipasok oleh minyak bumi. Untuk transportasi buah sawit ke kilang, tidak menggunakan keledai atau kuda, melainkan dengan truk yang perlu minyak.

Sampai disini pembaca tentunya sudah bisa menebak, dimana tempat persembunyian jin iprit nya. Yaitu pada kenyataan bahwa untuk menghasilkan bio-fuel diperlukan minyak.

Selanjutnya untuk memperjelas persembunyian si jin iprit, yang diperlukan adalah menghitung effisiensi energinya dan cash-flownya saja.

Heating value (sebut saja kalor bakar, energi yang dihasilkan oleh pembakaran) dari diesel adalah 45.5 MJoule/kg diesel. Jika berat jenis diesel adalah 0.832 gr/cc, maka harga energi yang dihasilkan diesel per kcal (kilo kalori) bisa dihitung. Konstanta konversi dari MJoule ke kcal adalah 238.85 kcal/MJoule.

Untuk minyak sawit CPO, kalor bakarnya 39.6 MJoule/kg. Inipun bisa dihitung harga energinya dalam US$/kcal.

Berikut ini adalah kurva harga CPO di spot market Malaysia dan diesel di spot market New York. Semuanya dalam satuan US$ per juta kcal. Kita lihat pada chart ini bahwa harga diesel tidak jarang sekali berada di atas harga minyak sawit/CPO. Hal itu tidak mengherankan, karena untuk membuat minyak sawit diperlukan minyak bumi. Bisakah harga minyak sawit lebih rendah dari diesel secara langgeng, bukan sementara saja? Mungkin….. bisa. Kalau ada teknologi yang membuat yield produksi sawit tinggi sekali.

Chart-1

Untuk lebih memperjelas, bentuk kurvanya diubah sedikit. Yaitu perbedaan harga CPO dengan harga diesel. Dan area yang diarsir merah adalah periode dimana harga diesel lebih tinggi dari harga CPO. Kondisi yang demikian terjadi hanya sesaat, yaitu tahun 2005 – 2006, akhir tahun 2008, dan beberapa kali di tahun 2013 dan 20014.


Chart-2

Dari CPO ke Biodiesel FAME
Biodiesel tidak sama dengan CPO atau minyak sawit. Minyak sawit atau CPO cenderung untuk terurai menjadi asam lemak dan gliserin. Walaupun asam lemak bukanlah asam yang kuat, tetapi dalam jangka panjang akan membuat korosi pada peralatan. Oleh sebab itu perlu diubah menjadi senyawa lain yang lebih stabil, yaitu Fatty Acid Methyl Ester disingkat FAME. Disini CPO harus direaksikan dengan methanol. Tentu saja ini akan ada biaya tambahan. Dengan berpegang pada dalil bahwa semakin panjang rantai proses, harga produk semakin mahal maka Harga FAME selalu lebih tinggi dari CPO.

Chart berikut ini (Chart-3) menunjukkan harga FAME di spot market. Dalam 3 tahun terakhir, harga rata-ratanya sekitar $900 per ton. Sedangkan CPO sedikit di bawah $700 per ton, atau 25% lebih rendah dari FAME.

Chart-3

Heating value FAME sedikit lebih rendah dari CPO, yaitu sekitar 38 MJoule. Atau sekitar 4% lebih rendah dari CPO. Jadi dalam satuan kcal, kilo kalori, harga FAME sekitar 30% lebih mahal dari diesel. Jadi kalau Chart-2 yang diplot adalah perbedaan harga kalor bakar antara FAME dan diesel, maka bagian yang diarisir merah akan hilang. Artinya sepanjang sejarah (jika ada data harga FAME dimasa lalu) diesel tidak pernah lebih rendah harga kalorinya dibanding dengan biodiesel. EOWI memplot harga CPO dgn diesel karena CPO punya histori harga yang cukup panjang. Jadi CPO dijadikan proxy untuk FAME.

Variable Yang Hilang Dalam Persamaan
Di atas sudah ditunjukkan bahwa harga biodiesel per energi yang dihasilkannya mahal. Lalu kenapa dipaksakan? Bukankah itu proyek rugi dilihat dari segi aggregat ekonomi Indonesia.

Seseorang akan berargumen bahwa untuk menekan keluarnya devisa dari impor, perlu biaya. Dan harga bahan bakar yang mahal itu adalah harus dibayar demi menyelamatkan rupiah.

Benarkah demikian?

EOWI tidak mudah percaya.

Pertama. Salah satu bahan baku untuk membuat FAME adalah methanol. Dan methanol harus diimpor. Produksi dalam negri terlalu kecil untuk menutupi keperluan untuk membuat FAME. Tetapi ini mungkin hanya faktor yang kecil, karena methanol yang dibutuhkan sekitar 15% dari biodiesel saja dan harganyapun hanya sekitar 70% dari CPO.

Kedua. Suatu pertanyaan yang menggelitik di otak EOWI: “Apakah Indonesia punya pabrik FAME?.” Setidaknya akan perlu tambahan kapasitas. Untuk meningkatkan kapasitas ini tentu perlu pabrik baru. Itu adalah impor barang modal. Kalau tidak mau membuat di dalam negri, maka harus impor. Dan ini justru akan membuat defisit perdagangan melebar. Karena setiap persen diesel akan diganti oleh FAME dengan jumlah yang sama, tetapi harganya lebih mahal. Dengan kata lain, mengurangi impor diesel dan menggantikannya dengan FAME yang lebih mahal akan melebarkan defisit perdagangan.

Jadi setidaknya ada dua (2) faktor yang masih tersisa untuk melengkapi gambaran yang menyeluruh tentang biodiesel sebagai solusi untuk mengurangi impor dan menghemat devisa. Jawabannya mungkin tidak ada devisa yang dihemat, bahkan defisit bisa melebar. Dan EOWI tidak tahu (karena tidak punya datanya).

Siapa yang Diuntungkan?
Di atas sudah ditunjukkan bahwa harga biodiesel per energi yang dihasilkannya mahal. Itu harus dibayar, entah oleh konsumen (untuk diesel non-subsidi) atau dibayar oleh rakyat lewat pajak dan hutang. Harus diingat bahwa pemerintah bukan institusi yang menghasilkan uang dan kemakmuran, tetapi badan yang merampok secara legal (disebut pajak) orang-orang yang berhasil dalam menciptakan kemakmuran dan mendistribusikannya kepada kaum yang miskin untuk memperoleh vote dan kepada kroni-kroninya.

Biodiesel di negara-negara maju seperti Eropa barat adalah untuk pencitraan. Biodiesel diassosiasikan dengan green energy. Walaupun harganya lebih mahal, demi pencitraan harus ditelan juga. Apakah rakyat Indonesia juga harus menelan tambahan biaya yang tidak perlu ini? Dalam jangka panjang, biodiesel ini akan ditinggalkan orang, seperti gema global warming. Tahukah anda bahwa istilah global warming sedang mengalami penenggelaman, dan perlaha-lahan diganti dengan climate change. Karena global warming itu tidak ada. Yang ada dan nyata adalah global cooling. Saya tidak terlalu heran jika dalam beberapa abad mendatang, ice age akan muncul. Lain kali kita bahas hal ini untuk pengetahuan saja.

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa konsumen, rakyat, seperti saya ini tidak diuntungkan, malah dirugikan. Devisa (mungkin) tidak dihemat. Dari sudut pelestarian alam pun perkebunan sawit bukan bisnis yang ramah lingkungan. Untuk membuka kebun sawit, telah terjadi pembabatan hutan, penggusuran satwa liar langka seperti harimau, gajah dan orang utan. Dan juga pembakaran hutan sebagai cara yang murah untuk membuka lahan. Belum lagi, bahwa sawit sangat menuntut banyak pupuk.

Lalu untuk apa? Pasti harus ada kelompok yang diuntungkan.

Kalau dilihat mata rantainya, yang diuntungkan adalah:
  • Produsen CPO
  • Produsen dan/atau importir FAME
  • Produsen dan/atau importir methanol
  • Periset yang dapat research grants dan LSM penggiat green energy
Itu yang bisa saya lihat. Semua aliran uang dari kocek konsumen/pembayar pajak ke kocek produsen CPO dan produsen/importir FAME legal dan syah sesuai dengan undang-undang.

Sekian dulu, jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik. Kalau tulisan ini mau diviralkan silahkan, semoga bisa dibaca oleh teman-teman di badan-badan riset sehingga mereka bisa berpikir waras dan cerdas, bukan seperti oxymoron.



Jakarta 20 September 2018.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, September 15, 2018

Tulisan (katanya dari) L.B. Panjahitan dan Komentar EOWI (1)

Beberapa hari lalu, tengah malam saya menerima WA dari seorang teman untuk dimintai komentar saya. Isinya, katanya tulisan menteri Luhut Panjahitan mengenai penurunan nilai rupiah. Tentang kebenaran asal-usul tulisan ini, apakah benar dari Luhut Panjahitan, saya tidak tahu. Tetapi isinya banyak yang absurd, mungkin mewakili opini jajaran menteri di pemerintahan. Mungkin juga tidak. Jangan terlalu terpaku pada asal-usul tulisan ini, yang penting isinya. Karena tujuan EOWI bukan menyerang individu tetapi pemikirannya. EOWI akan selalu menghindari logical fallacy strawman argument.

Sebelum saya membuat komentarnya, berikut ini adalah tulisan yang dimaksud. Nantinya komentar saya akan saya bagi beberapa seri. Dan seri pertama, yang akan saya komentari adalah pandangan pemerintah, c.q. (katanya) Luhut, atas situasi sekarang. Seri berikutnya, komentar tentang solusi dari pemerintah.


Apa yang Terjadi dengan Rupiah?
Teman-teman sekalian, saya banyak membaca perdebatan-perdebatan di WA grup kita ini mengenai keadaan ekonomi terutama terkait dengan pelemahan Rupiah.
Terhadap concern teman-teman, di sini saya ingin memberikan gambaran lebih lengkap mengenai apa yang sedang terjadi kepada Rupiah dan langkah-langkah yang sedang dan akan diambil oleh pemerintah.

Saya sangat paham mengenai kondisi tersebut, karena kebetulan saya termasuk di dalam tim ekonomi Indonesia yang diantaranya beranggotakan Menko Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Gubernur BI, dan Ketua OJK. Topik ini sendiri sudah kami bicarakan secara intens sejak 3 minggu yang lalu.

Secara global, recovery pertumbuhan ekonomi dunia yang berjalan baik dalam satu tahun terakhir saat ini sedang terancam oleh trade war yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap mitra dagang utama mereka seperti Tiongkok, Uni Eropa, Meksiko dan Kanada, dengan cara menaikkan tarif impor barang barang dari negara-negara tersebut.

Negara-negara itu pun mengancam akan membalas balik tindakan Trump. Hal inilah yang menyebabkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai membaik akan melambat atau bahkan resesi.

Tiongkok, yang menjadi target utama trade war dari Trump, telah mendepresiasikan mata uangnya secara signifikan untuk menjaga harga barangnya tetap kompetitif di pasar Amerika Serikat. Dampak depresiasi Yuan terhadap Dolar Amerika, juga memicu depresiasi mata uang negara negara berkembang lainnya. Hal ini pula yg menjadi salah satu faktor utama depresiasi Rupiah sejak Maret tahun ini.

Selain perang dagang Trump, krisis di beberapa negara berkembang juga memiliki pengaruh terhadap pelemahan Rupiah. Turki adalah salah satunya. Inflasi yang hampir mencapai 18%, dan hutang luar negeri yang mencapai 53% dari total GDP menyebabkan tekanan depresiasi terhadap mata uang Lira, yang per 31 Agustus kemarin mencapai 42%. Hal ini kemudian diperburuk oleh rendahnya kredibilitas pemerintah Turki di mata investor akibat intervensi yang dilakukan oleh Erdogan dengan melarang bank sentral untuk menaikkan suku bunga, padahal inflasi sudah melambung tinggi. Selain itu, Erdogan juga menunjuk menantunya sendiri menjadi menteri keuangannya.

Di samping Turki, Argentina juga mengalami krisis yg cukup parah. Mata uang Peso terdepresiasi sebesar 53% dan tingkat inflasi yg mencapai 28%, memaksa bank sentral mereka untuk menaikkan suku bunga menjadi 60% dan meminta talangan IMF sebesar USD 50 milyar. Selain Turki dan Argentina, negara-negara berkembang lain yang mengalami depresiasi signifikan per 31 Agustus antara lain Afrika Selatan (15.8%), Rusia (15.5%), India (9.9%), Chili (9.3%), Philipina (6.7%), dan Indonesia (7.8%).

Hal inilah yang menjadi salah satu karakteristik negara-negara berkembang, di mana investor internasional menganggap mereka berada dalam satu keranjang yang sama. Jika ada satu dua yang bermasalah, para investor ini cenderung mengambil langkah berjaga-jaga dengan menarik investasi mereka dari seluruh negara berkembang. Akibatnya kurs mata uang akan terdepresiasi bersama-sama

Tidak Perlu Khawatir
Saya tidak melihat bahwa Indonesia berada dalam keadaan krisis besar. Kalau dibilang kita harus berhati-hati, itu betul. Atau dibilang bahwa pemerintah melakukan koordinasi dengan sangat intens, itu juga betul. Tapi tidak perlu khawatir berlebih bahwa krisis 1998 akan terulang lagi. Sebabnya, kondisi sekarang sangat berbeda dibandingkan dengan 1998.
Perbedaan utama terletak pada sosok pemimpinnya. Pemimpin sekarang, Pak Jokowi, tidak korupsi. Pak Jokowi, menurut hemat saya, adalah seorang pemimpin yang sederhana, memberikan contoh, baik dirinya maupun keluarganya tidak terlibat bisnis dengan pemerintah. Sehingga saya pribadi pun tidak ada bisnis apapun dalam pemerintahan. Karena prinsip ketauladanan yang saya percayai sebagai perwira, adalah kata kunci dari suatu leadership. 

Selain Pak Jokowi, dari sisi pemerintahan sekarang kita juga memiliki Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, yang kredibilitasnya di mata dunia tidak diragukan lagi. Hal hal tersebut yg menjadi salah satu tumpuan kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Perbedaan ke  dua adalah pada sisi fundamental ekonomi sekarang yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5.27% di kuartal kedua 2018, tertinggi sejak tahun 2014. Inflasi pun masih terkendali di angka 3.20% per Agustus 2018, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga cukup baik. Rasio hutang luar negeri kita juga cukup rendah di 34% (60% di periode 1997-1998). Ekonomi kita pun sebagian besar didorong oleh sektor domestik dan investasi, hanya sekitar 20% kontribusi ekspor terhadap PDB kita. Hal ini akan meminimalkan dampak trade war seandainya terus berlanjut.

Solusi Pemerintah
Untuk menghadapi kondisi global di atas, kita harus menuntaskan PR yang belum terselesaikan selama puluhan tahun yaitu defisit neraca pembayaran atau impor barang dan jasa kita lebih besar dibandingkan ekspor.

Yang terjadi selama ini, kita harus mengimpor bahan baku dan barang modal lebih banyak setiap kali pertumbuhan ekonomi meningkat. Belum lagi pertumbuhan kelas menengah yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu peningkatan impor barang-barang konsumsi mewah.

Akibatnya impor kita tumbuh kencang, mencapai 24% pada periode Januari-Juli 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara ekspor, hanya tumbuh sekitar 11.35%. Akibatnya defisit neraca pembayaran kita akan mencapai USD 25 milyar pada tahun ini, dibandingkan USD 17.5 milyar di 2017.

Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah sebagai solusi adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi impor
Contohnya adalah mengganti penggunaan crude oil dengan biodiesel sebagai bahan bakar. Targetnya, tahun ini kita bisa menghemat  USD 2.3 milyar impor minyak. Selain penghematan impor minyak, teman-teman dapat melihat harga sawit sudah naik. Kita berharap harga ini beberapa bulan ke depan dapat naik sampai ke USD 600-700 per ton. Kalau skenario ini jalan, maka tahun depan diharapkan kita mendapat lebih dari USD 9.5 milyar dari penghematan impor minyak dan kenaikan devisa ekspor cpo.

2. Optimalisasi TKDN atau local content.
Selama bertahun-tahun kita tidak pernah konsisten untuk mengutamakan penggunaan _local content_/komponen dalam negeri untuk industri. Sekarang saya ditunjuk untuk mengkoordinasikan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), sehingga kita bisa hemat USD 2-3 milyar. Saya sangat _concern_ dengan masalah-masalah detil seperti ini karena belum pernah ada yang berpikir demikian. Mungkin selama ini kita terlalu asyik berpikir pada tataran makro saja. Saya sendiri memang ngotot untuk dapat dilakukan perbaikan dalam hal ini, karena saya suka melihat detil. Contohnya kemarin saya datang ke kawasan industri morowali, disana bijih nikel diproses sampai menjadi, slab, billet, stainless steel dan carbon steel. Saat ini mereka ekspor 3.5 juta ton, sementara itu industri besi baja kita seperti krakatau steel harus mengimpor slab jutaan ton. Mengapa tidak yg di morowali ini kita hubungkan dengan krakatau steel? Sehingga nilai tambah dalam negeri bisa meningkat dan devisa impor kita bisa hemat.

3. Perbaikan pariwisata.
Pariwisata adalah salah satu sektor fokus dari Presiden jokowi, yg sebelumnya sering dianggap remeh. Padahal salah satu penghasil devisa yg cukup besar dan menciptakan tenaga kerja secara cepat. Tahun ini, per Juli 2018, jumlah turis asing yg masuk ke Indonesia mencapai 9 juta orang. Angka ini naik 13 persen jika dibandingkan sebelumnya. Kita harapkan tahun ini bisa mendapatkan devisa mencapai $15-17 milyar dolar dari sektor pariwisata ini, naik dibandingkan tahun lalu yang $12.5 milyar.

Kita beruntung ada IMF-WB Annual Meeting yang akan diselenggarakan Oktober 2018. Tanpa disadari, jujur saya katakan bahwa dengan infrastruktur pariwisata yang kami perbaiki dalam mendukung Annual Meeting, ternyata juga membantu menyelamatakan ekonomi kita ke depan.

Dengan segala perbaikan yang kita lakukan, tahun depan kita akan memperoleh revenue senilai USD 20 milyar dari pariwisata dengan jumlah turis 20 juta orang. Kalau kita kurangi dengan angka turis kira yang pergi keluar negeri, mungkin kita akan mendapat sekitar USD 7.5 milyar. Jadi total Current Account Deficit kita bisa single digit tahun depan.

Dengan langkah-langkah ini semua kami melihat dari tim ekonomi dan anak-anak muda yang bekerja dengan saya kita akan bisa membawa eknomi kita jauh lebih baik dari sekarang. Ini optimisme yang kita bangun dan membutuhkan kerjasama tim yang kuat supaya ini bisa tercapai dan sekaligus memperbaiki struktur ekonomi kita ke depan. Kalau industri kita kuat maka ekspor kita kuat, kita bisa equilibrium antara ekspor-impor. 

Kesimpulan
Sebagai penutup, saya mengajak kita semua tidak perlu panik dalam menghadapi situasi saat ini. Kondisi ekonomi dan pemerintah kita jauh lebih kuat dibandingkan Turki dan Argentina.

Saya juga mohon kepada teman-teman, tidak perlu ragu terhadap upaya pemerintah dalam menghadapi kondisi global yang makin tidak menentu.

Kalau ada yang perlu ditanyakan kepada saya, silahkan saja. Saya siap menerima siapa saja untuk diskusi karena saya paham angka-angka ini. Kalaupun saya kurang mengerti, anak-anak muda di tim saya banyak yang sangat paham dengan angka-angka dan kami mengerjakannnya dengan sepenuh hati.

Mudah-mudahan dengan tulisan yang agak panjang lebar ini, teman-teman sekalian mendapatkan pemahaman yang lebih baik lagi mengenai keadaan Indonesia.

Salam dari atas langit Lampung-Jakarta, di mana saya sedang menempuh perjalanan udara sambil menulis ini, sembari kadang terkesima melihat pemandangan jalan tol di bawah saya yang sudah jadi.

Hormat saya,

Luhut B. Pandjaitan.

Komentar Waras dari EOWI
Tentang pandangan Luhut mengenai penyebab krisis dan situasi ekonomi saat ini, agaknya perlu dipertanyakan. Setidaknya, begitu pandangan EOWI.

1.      Ekonomi Global Tidak Wajar.
Opini tentang pertumbuhan ekonomi dunia yang berjalan dengan baik. Mari kita lihat data pertumbuhan ekonomi global, GDP global yang bisa dilihat berikut ini.





Lima tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi dunia bisa dibilang payah. Di sekitar 2% - 3%. Kemudian bisa keluar sedikit dari 3% dan Trump mengumumkan perang dagang dgn negara-negara lain, dan masih berpikir pertumbuhan ekonomi global masih bagus? Sebelumnya saja payah tanpa perang dagang dan tanpa quantitative tightening (yang berarti) dari the Fed, dan sekarang berpikir ekonomi dunia membaik? Apa krisis di Turki, Argentina dan Venezuela akan membuat ekonomi dunia lebih baik? Kalau jawabannya “iya”, entah apa yang habis dihisapnya tadi.

Menurut data statistik, angka pengangguran di Indonesia mencapai angka terendah dalam sejarah. Hanya dalam bilangan 5%. Saya tidak tahu apakah harus mempercayai angka ini. Kalau hal ini benar maka konsumsi akan naik dan orang akan banyak yang membeli rumah (memenuhi syarat mendapatkan untu kredit KPR dari bank). Pada kenyataannya sektor properti lesu. Jangankan sektor properti, produksi rokok, barang konsumsi yang membuat orang kecanduan pun turun dalam beberapa tahun terakhir dan untuk tahun ini turun 8%. Walaupun BPS (Badan Pusat Statistik) melacak pertumbuhan gaji yang trendnya masih naik, tetapi angka ini meragukan karena tidak seiring dengan angka lainnya. Ini tidak maka agak sulit untuk mengecheck angka pengangguran.

Contoh yang paling jelas adalah di US, angka pengangguran juga mencapai level terendah dalam sejarah, di bilangan 4%. Tepatnya 3.9%. Tetapi anehnya tidak ada tekanan kenaikan upah. Logisnya, jika yang menganggur sedikit, para (calon) pekerja agak jaga gengsi dan minta upah yang lebih tinggi. Dan bagi perusahaan, harus menawarkan gaji yang lebih tinggi jika akan merekruit pegawai. Kenyataannya hal ini tidak terjadi (lihat chart di berikut). Bahkan dalam setahun terakhir ini, ada kecenderungan turun. Upah cenderung turun.

Antara statistik pemerintah dengan realitas hidup tidak cocok. Sampai tahun 2013, bagi konsultan seperti saya dan teman-teman, cari gaji $1,500 - $2,500 per hari adalah biasa. Sekarang, bisa dapat $500 per hari sudah bagus. Di angka $300 per hari pun susah. Banyak teman-teman saya yang harus kembali ke Indonesia, karena sulitnya memperoleh pekerjaan di pasar internasional saat ini. Dan itu mau disebut ekonomi global membaik dan pengangguran 5% (atau apapun angkanya)?

Entah apa yang habis dihisapnya tadi. Orang waras tidak akan mau menelan angka-angka itu.




Bukti berikutnya adalah perdagangan global. Tingkat perdagangan global mencerminkan tingkat ekonomi global. Perdagangan global menurun secara konsisten sejak 5 tahun terakhir. Apapun yang menjadi latar belakang, hal ini adalah simptom/gejala yang tidak sehat bagi perekonomian dunia. Kalau ada yang bilang bahwa perekomonian dunia masih sehat setelah melihat grafik ini, mungkin otaknya sedang tidak sehat.




Yang berikutnya adalah suku bunga. The Fed sedang melakukan pengetatan liquiditas. Suku bunga naik, artinya pendanaan dari hutang naik juga. Seperti ditunjukkan pada chart berikut, suku bunga LIBOR berjangka 1 tahun. Sejak Jokowi naik menjadi presiden, suku bunga LIBOR naik 0.5% ke 2.8% atau 5.6 kali lipat. Jadi kalau 4 tahun lalu sebuah perusahaan mengeluarkan biaya $ 1 juta untuk membayar bunga pinjamannya, sekarang, jika hutang itu mau di-rollover, dia harus merogoh kocek $5.6 juta. Itu kenaikan yang besar. Jadi kalau dikatakan bahwa ekonomi dunia aman-aman saja, setiap orang yang masih punya kewarasan akan geleng-geleng kepala.



2.      Salahkan Pengelolaan Budget
Menyalahkan trade war dan/atau krisis ekonomi di Turki, Argentina dan Venezuela tidak bisa dijadikan alasan, melainkan dalih saja. Dikatakan dalih, bukan alasan karena Indonesia sudah sepantasnya memperoleh goncangan moneter, walaupun kali ini tidak sebesar tahun 1998 atau 1965. Tetapi jika prilaku pemerintah masih seperti sekarang berlanjut sampai periode-periode berikutnya (terlepas siapa yang berkuasa), kemungkinan antara tahun 2025 – 2030, kejadian goncangan ekonomi dan sosial seperti tahun 1998 atau 1965 akan terulang.

Prilaku yang seperti apa yang dimaksud. Sejak Jokowi menjadi presiden, hutang pemerintah meningkat, dari US$24.7 milyar ke US$28.7 milyar. Dan rasio hutang terhadap GDP meningkat, artinya beban hutang tidak diimbangi dengan kekuatan membayar hutang. Terlalu aggressive berhutang.

Prilaku yang sifatnya populis - pencitraan, seperti proyek jalan Trans Papua, BBM 1 harga, Listrik 35 ribu Megawatt, Asian Games. Ini adalah proyek-proyek yang tidak ekonomis. Yang pasti BBM 1 harga akan mengakibatkan distorsi harga dan akhirnya pada mal-allokasi sumber daya kapital. Program listri 35,000 megawatt adalah pembangunan listrik over-capacity.

Beberapa waktu lalu diberitakan presiden Jokowi berkunjung ke kabupaten Nduga di Papua (lihat video di bawah).



Perhatikan isi pidato Jokowi…… di kantor bupati tidak ada orang, di kota kabupaten sepi tidak ada orang. Jumlah penduduk 129 ribu orang dan yang dijumpai di pasar hanya 60 orang saja.

Mengeluarkan biaya bermilyar rupiah untuk pembangunan jalan di wilayah yang penduduknya hanya 129 ribu orang, disaat pendanaan cekak itu absurd. Berapa ekonomi yang bisa diciptakan oleh 65 ribu orang (asumsi hanya laki-laki dewasa dan wanita dewasa), mungkin hanya 33 ribu saja yang punya potensi bekerja. Itupun tidak bisa direlisasikan dengan segera. Perlu yang lain-lain masuk, seperti mobil, dan alat-alat produksi. Lalu kapan investasi ini bisa kembali?

Hal ini tidak dipikirkan oleh pemerintah. Karena pemerintah tidak pernah berkeringat untuk mencari uang. Kartun di bawah ini sangat untuk menggambarkan policy pemerintah. Oleh sebab itu pemikiran tentang effisiensi dan ekonomis sangatlah jauh.




Policy seperti ini tentunya tidak adil bagi tempat-tempat lain yang produktif dan mengalami kesulitan untuk menjalankan roda ekonominya. Misalnya daerah Sukabumi yang punya potensi ekonomi lumayan dari pabrik-pabrik yang ada dan tanah yang subur (hasil pertanian). Wilayah Cibadak, Cicuruk dan Ciawi menjadi tempat kemacetan yang kronis. Bogor – Sukabumi yang jauhnya sekitar 60 km bisa memakan waktu 5 jam. Dalam kondisi seperti ini, sayuran tidak akan bisa dipasarkan ke Jakarta (mungkin juga Singapura). Barang-barang ekspor akan kena biaya ekstra. Pada saat tulisan ini diturunkan, jalan Ciawi – Sukabumi belum selesai dan entah kapan selesainya.

Coba renungkan, mana yang bisa lebih memberi manfaat membangun jalan di wilayah dengan penduduk 129 ribu orang yang bisa memanfaatkannya  dengan wilayah yang berpenduduk 2.4 juta orang yang bisa memanfaatkannya? Untuk setiap rupiah atau dollar, pembangunan jalan di Sukabumi bermanfaat bagi orang yang jumlahnya 20 kali lebih banyak dari pada di Nduga, Saya berani bertaruh bahwa mobil/kendaraan yang melewati jalan Sukabumi-Ciawi mungkin ratusan kali lebih banyak dari jalan Nduga.

Jadi kalau yang jadi prioritas adalah proyek-proyek yang tidak membuahkan hasil ekonomis dengan segera, bagaimana bisa ekonomi Indonesia punya ketahanan? Jadi jangan menyalahkan orang lain, karena pemerintah tidak smart dalam memilih proyek. Akan banyak proyek-proyek yang tidak ekonomis akan mandeg di tengah jalan seperti Trans Papua, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Listrik 35 ribu megawatt dan sejenisnya. Jika sekarang sudah dibangun, maka akan banyak menara-menara kegagalan seperti Hambalangnya SBY.

3.      Salahkan Ketidak-bijakan Sosialisme
Menggunakan BUMN dan swasta untuk tujuan pemerataan kesejehteraan akan menghancurkan perusahaan-perusahaan itu. Seperti kartun di atas, Orang yang dikutili uangnya, lama-lama tidak bisa menjalankan peran ekonominya. Dalam kasus BPJS misalnya, beberapa rumah sakit mulai mengeluh karena asuransi BPJS menunggak pembayaran. Dahulu, sebelum ada BPJS, penderita sakit terminal, secara alamiah akan memilih mati secara terhormat. Usahanya mungkin hanya bagaimana mengelola dana yang dimilikinya untuk menunggu datangnya maut senyaman mungkin. Dengan adanya BPJS,…… kenapa tidak dimanfaatkan untuk memperpanjang umur beberapa bulan? Gratis!! Perubahan sikap seperti ini membuat prilaku ekonomi masyarakat berubah, dan menciptakan ekonomi mahal. Pertanyaannya adalah: Sampai kapan rumah sakit yang finansialnya pas-pasan bisa bertahan?

Banyak lagi bentuk-bentuk program sosialisme populis seperti BPJS, misalnya ketidak-bijakan 1 harga BBM, listrik bersubsidi, biodiesel (kita akan bahas lebih detail tentang kesalahannya biodiesel ini).

Kita hentikan dulu karena sudah terlalu panjang dan akan kita lanjutkan minggu depan. Saya akan akhiri dengan menyitir pekataan seorang entertainer Penn Jillette:

Sangat mengherankan, bagaimana orang berpikir bahwa memilih pemerintahan yang menyantuni orang miskin disebut welas asih…… Welas asih yang sesungguhnya adalah jika kamu sendiri yang membantu orang miskin.



Sekian dulu, jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik.


Jakarta 15 September 2018.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.