___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Tuesday, July 10, 2018

Menghadapi Krisis (bagian III): Skenario - Skenario Yang Terburuk

Perang dagang baru dimulai, dan rupiah sudah kehilangan nilainya terhadap dollar 7.5%. Cadangan devisa juga sudah turun 7.6% (Lihat Chart-1 dan Chart-2).

Chart-1

Chart-2

Pernyataan di atas ada yang salah dan ada yang benar. Yang salah adalah bahwa sejak Januari 2018 nilai rupiah terhadap US dollar anjlok kira-kira 7.5% dan cadangan devisa Indonesia turun 7.6% dari level kira-kira US$ 132 milyar ke US$ 119 milyar. Itu adalah data, yang kebenarannya tergantung sumbernya, yaitu Bank Indonesia. Sedangkan bahwa penyebabnya adalah perang dagang yang dikobarkan oleh Amerika adalah semata-mata spekulasi. Penyebab turunnya nilai rupiah dan cadangan devisa bisa karena perang dagang, bisa quantitative tightening (QT) oleh the Fed, atau lainnya, atau kesemua itu secara bersamaan, entahlah. Tetapi mekanisme penurunan nilai rupiah dan cadangan devisa bisa dipastikan karena pelaku pasar melakukan pemindahan assetnya dari rupiah ke US dollar. Ini bisa dilihat juga bahwa indeks IHSG juga sudah turun sekitar 10%. Bahkan kalau dihitung dari puncaknya di bulan Maret, IHSG turun 15%.

Ternyata bukan hanya Indonesia saja, tetapi musuh besar perang dagang Amerika, yaitu Cina mengalami hal yang sama. Yuan turun sedikit terhadap US dollar, juga cadangan devisanya. Dan bursa sahamnya turun 20%.

Pertanyaan yang Sahih
Dalam benak kita tentunya ada pertanyaan: Apakah level krisis yang akan datang bisa seperti krisis tahun 1998?

Kalau pertanyaan ini dilontarkan ke Sri Mulyani, jawabnya tentu tidak. Dia sangat percaya diri bahwa krisis seperti 1998 sudah jadi sejarah. Tetapi, percaya diri bukan jawaban pertanyaan di atas. Analisa lebih penting dari itu.

Pertanyaan di atas bisa diganti dengan: Skenario apakah yang bisa membuat Indonesia terperosok ke dalam krisis seperti tahun 1998?

Hutang Jangka Pendek
Banyak yang percaya bahwa krisis 1998 bisa mencapai level seperti itu karena hutang jangka pendek, baik swasta dan juga pemerintah mencapai 183% dari cadangan devisa. Hutang jangka pendek, yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, artinya kewajiban yang ada di depan mata. Dan itu tidak ada duit untuk membayarnya. Hanya ada separonya lebih sedikit. Itulah yang membuat panik, klabakan, pening……

Ceritanya agak berbeda antara tahun 1998 dengan sekarang. Hutang jangka pendek pemerintah plus swasta saat ini adalah $45 milyar. Hanya 37% dari cadangan devisa. Setidaknya kewajiban hutang yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini masih bisa teratasi oleh cadangan devisa. Tetapi, angka $45 milyar ini bisa disebut kewajiban yang pasti harus ditunaikan atau gagal bayar. Bukan lagi mungkin.

Investor Portfolio Asing: Racun, Madu, Tuak?
Faktor berikutnya adalah investasi portfolio asing. Kita akan lihat secara seksama.

Pemerintah sering membanggakan diri bahwa kepercayaan investor asing terhadap Indonesia cukup tinggi. Lembaga rating mengkategorikan surat hutang Indonesia ke level investment grade.

Pemerintah boleh bangga terhadap itu semua, tetapi tidak bisa disangkal bahwa investasi portfolio adalah investasi yang likwid. Dana bisa keluar dan masuk secara cepat. Nah, bagaimana kalau investor asing (bukan lokal) melakukan redempsi (pencairan) portfolionya dan hengkang dari Indonesia? Berapa besarkah mereka ini.

Investasi di pasar obligasi Indonesia, ada sekitar $40 milyar dimiliki asing. Sedangkan di pasar saham ada sekitar $128 milyar dimiliki asing. Ini berarti $168 milyar portfolio asing ada di bursa. Sejumlah ini sewaktu-waktu bisa keluar dari bursa. Apakah itu secara bertahap atau secara pelan-pelan, atau secara cepat.

Tanpa melihat yang lain-lain, perbandingan antara cadangan devisa yang pada bulan Juli 2018 ini hanya $119 lebih sedikit dengan jumlah modal portfolio asing yang $128 milyar, anda bisa menyimpulkan apakah portfolio asing ini madu atau racun…. Atau tuak yang memabukkan.

Investor Portfolio Asing: Modal Asing Asli Atau Carry Trade?
Gejala lain yang harus dicermati adalah fenomena carry trade, spekulator meminjam uang dalam US yang bunganya rendah untuk diinvestasikan ke pasar di emerging market yang yieldnya, penggembalian modalnya lebih tinggi. Bunga obligasi Indonesia termasuk lumayan. Bisa diatas 7%. Bunga deposito saja di sekitar 5% - 6%. Hal ini cukup menggiurkan selama mata uang rupiah setidaknya stabil terhadap dollar. Lebih menarik lagi jika menguat. Tetapi…., jika nilai rupiah melemah, investasi di Indonesia naik resikonya, maka itu lain cerita.

Misalnya, selama 6 bulan terakhir, rupiah terdepresiasi 7.5%. Jelas investor carry trade harus menelan kerugian. Itu terjadi tidak hanya di pasar obligasi, tetapi juga di pasar saham.

Berapa banyak carry traders, entah lah. Carry traders akan lebih berbahaya dari pada non-carry traders. Karena carry traders punya risk aversion yang lebih peka. Lebih cepat keluar dari pasar jika mereka mencium bahaya.

Tambahan Tenaga
Akhir tahun 2017 lalu pemerintah merencanakan untuk menerbitkan surat hutang sebasar Rp 433 trilliun. Apakah itu dalam US dollar yang kira-kira nilainya $30 milyar, atau dalam rupiah. Anggap saja dalam US dollar. Ini adalah assumsi paling enak untuk pemerintah. Artinya, pemerintah akan memperoleh tambahan $30 milyar untuk mempertahankan rupiah dan menutup defisit neraca berjalannya.

Lumayan $30 milyar.

Ringkasan Besarnya Kekuatan Pemerintah dan Ancaman
Kekuatan
Cadangan devisa               : $ 119 milyar
Tambahan dari hutang       : $  30 milyar (mungkin bisa ada)
Total Kekuatan                   : $ 149 milyar           

Ancaman
Hutang jangka pendek        : $  45 milyar (wajib dibayar)
Portfolio asing di bursa       : $ 168 milyar
Total Ancaman                    : $ 213 milyar

Dari perimbangan kekuatan dan ancaman ini, terlihat pemerintah akan keteter dalam menghadapi krisis. Ini belum memperhitungkan ancaman dari investor yang men-dollarkan assetnya, serta kebutuhan cadangan devisa untuk impor yang besarnya kira-kira $ 20 milyar per bulan.

Menurut anda, apakah pemerintah siap? 

Yang lebih penting lagi, apakah anda siap? 

Tetapi jangan kuatir....., itu adalah skenario yang terburuk dan yang sangat buruk. 

Saya percaya dalam minggu-minggu ke depan, US dollar akan tertekan, karena koreksi teknikal. Bagi yang ingin men-dollarkan assetnya, saat itu adalah saat yang tepat.

Sekian dulu, jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik.


Jakarta 10 Juli 2018

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, June 28, 2018

Menghadapi Krisis (bagian II): Mengukur Ketahanan Indonesia

Penampakan Krisis Semakin Jelas
Beberapa minggu lalu EOWI mengangkat topik Menghadapi Krisis liquiditas, moneter yang potensial pemicunya adalah kenaikan suku bunga effektif the Fed (dan juga bank-bank sentral dunia) serta pengetatan moneter yang dilakukan mereka. Dampak yang paling jelas adalah adanya proses flattening yield curve yang pada artikel lalu diperkirakan pada akhir tahun 2018 yield curve menjadi flat. Dan dari sejarah, krisis bisa terjadi dalam 12 bulan setelah yield curve menjadi flat.

Pada saat tulisan ini dibuat, trend tersebut masih berlaku (Chart-1) dan perbedaan antara 10 year treasury bond yield dengan 2 year yield tidak lebih dari 0.4%, dibandingkan dengan bulan lalu yang masih di atas 0.5%.

Chart-1

Dampak dari tindakan the Fed sudah menampakkan hasilnya terutama ke mata uang negara-negara berkembang, emerging market. Beberapa diantaranya sudah mulai goyah. Rupiah sudah enggan turun ke bawah Rp14,000 per USD. Dari bulan Februari 2018 sampai saat ini mata uang Turki tercukur 16%, Brazil terbabat 15%, Thailand 6%, Afrika Selatan kena 14% Malaysia dan Indonesia kurang dari 4%.  Argentina lebih parah lagi karena harus menaikkan suku bunganya sampai 40% untuk mempertahankan peso.

Chart-2

Trend ini akan berlanjut terus, dan menurut sejarah, sampai terjadi resesi atau hal yang buruk di US. Dari komentar the Fed pada meeting lalu, pengamat banyak yang memperhatikan bahwa beberapa kata yang biasanya digunakan the Fed, di meeting itu tidak lagi digunakan. Ini seakan menjadi pertanda bahwa the Fed sudah memutuskan untuk bersikap hawkish dan terus melakukan quantitative tightening (QT) sampai ada yang berantakan di US. Dari dua kasus sebelumnya, the Fed tidak terlalu perduli dengan negara lain. Seperti tahun 1997 – 1999 ketika krisis moneter Asia, krisis hutang Russia dan krisis LTCM, the Fed tetap mempertahankan suku bunganya sampai bubble  tech meletus tahun 2000, baru the Fed menurunkan suku bunganya dan melakukan pengendoran moneter. Hal yang sama bisa diharapkan untuk masa yang akan datang.

Seberapa Effektif QE yang Akan Datang
Pertanyaan itu bisa didahului dengan, seberapa jauh the Fed bisa menaikkan suku bunganya sebelum the shit hits the fan. Dari Chart 3, kita lihat bahwa suku bunga maksimum yang bisa dinaikkan the Fed sebelum the shit hits the fan semakin lama rendah. Kali ini mungkin the shit hits the fan pada level suku bunga the Fed 2.5% - 3.0% seperti yang ditunjukkan oleh Chart-3.

Chart-3

Pada Chart-3 ini ada dua (2) trend. Yang pertama untuk cycle tahun 1950 – 1980, dimana trend the Fed rate maksimum untuk mengendalikan inflasi cenderung meningkat. Ini terjadi dimasa Kondratieff spring dan summer – periode ekspansi. Sedang pada periode 1980 – sekarang trend the Fed rate maksimum dimasa pelonggaran moneter cenderung turun. Ini adalah pada masa Kondratieff autumn dan winter – periode deflationary setidaknya disinflasi (inflasi cenderung turun). Periode ini belum habis. Hal itu terlihat bahwa level inflasi masih rendah. Pergantian periode baru akan terjadi ketika usia generasi echo-boomers mulai mendominasi roda ekonomi, yang saya perkirakan sekitar tahun 2025. Sebelum itu, kita harus puas dengan perngaruh generasi baby boomers yang menua.

Bagi the Fed krisis yang akan datang mungkin akan lebih sulit ditangani. Pada periode setelah 1980, dosis rate cut minimal 5%. Jika the shit hits the fan akhir tahun 2018 atau pertengahan 2019, the Fed mungkin hanya punya 3% - 4% saja. The Fed harus punya kiat-kiat yang lain. Entah apa.

Sejauh pandangan mata, tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk menalangi pukulan krisis moneter yang akan datang. Eropa masih belum pulih, juga Jepang.

Kalau Jepang, semua orang juga tahu. Jepang mengalami sindroma demografi menua. Susah mengharapkan orang-orang tua untuk menghidupkan dan memarakkan ekonomi.

Untuk zona Europa, GDP negara-negara besarnya mengalami trend menurun sejak krisis 2008 (Chart-4). Apakah kondisi ini bisa berbalik dengan segera? Mimpi barangkali. Bahkan, zone Eropa termasuk salah satu yang berpotensi menjadi pemicu krisis yang akan datang.

Chart-4

Problem Eropa ada di anggotanya yang merupakan ekonomi terbesar dunia ke 8 dan eksportir dunia ke 9, yaitu Italia masih dalam kesulitan yang besar dalam kaitannya dengan hutang pemerintah yang besarnya ±130% dari GDPnya atau $2.3 triliun, pakai T. Dengan tingkat pengangguran 11% dan 30% anak mudanya yang dibawah 25 tahun menganggur Italia masih berkubang dalam deep shit. Tidak hanya itu, partai Five Star Movement (M5S), yang menjadi partai terbesar Italia, berjanji dan sedang mengusahakan universal basic income sebesar $1000 per bulan. Yang menganggur akan dapat $1000 per bulan dan yang penghasilannya kurang dari itu akan ditambahi pemerintah. Kalau situasinya seperti itu, bagaimana caranya untuk membayar hutangnya? Apalagi jika suku bunganya naik.

Kalau jaman pra-euro, secara budaya Italia akan mendevaluasi mata uang lira yang dimilikinya. Dan…, problemnya hilang. Dengan mengadopsi euro, bagi Italia sama saja dengan menyerahkan kedaulatannya untuk mengemplang hutangnya secara halus. Satu-satunya jalan adalah mengemplang secara gentleman, terang-terangan melakukan gagal bayar. Jika ini terjadi, maka bank-bank Eropa yang memegang banyak surat obligasi Italia akan terkena dampaknya. Mungkin tidak semua dari $2.3 trilliun. Tetapi cukup telak.

Entah jalur mana yang mau ditempuh Italia, apa keluar dari Uni Eropa – zona Eropa, kembali kepada budaya bangsanya yang mengemplang secara halus dengan melakukan devaluasi lira, atau tetap bersama euro dan mengemplang secara terang-terangan (default). Pilihan pertama menjamin solusi yang permanen bagi problem yang sama dan merupakan perebutan kembali kedaulatan moneternya. Sedang pilihan ke dua, adalah pilihan yang mengutamakan rasa kesetia-kawanan sesama bangsa Eropa dengan mengalahkan kepentingan bangsanya sendiri.

Jadi…, Eropa tidak bisa diharapkan untuk menambal krisis yang akan datang. Lalu bagaimana dengan Cina?

Cina menimbun problem di tahun 2014, ketika pemerintahnya membolehkan swastanya mencari dana ke luar. Banyak perusahaan yang mengeluarkan surat obligasi di tahun 2014 - 2017  yang jatuh temponya 3 tahun. Oleh sebab itu Cina harus berhati-hati antara tahun 2018 – 2020, walaupun masih dalam kategori aman.

Sektor swasta mereka punya beban untuk membayar dan melakukan roll-over  hutang-hutang mereka. Menurut Bloomberg, untuk 2 kwartal terakhir 2018, hutang yang jatuh tempo sekitar $37.9 milyar, tahun 2019 $88.0 milyar dan 2 kwartal tahun 2019 sebanyak $ 31.3 milyar. Memang jumlah ini tidak besar dibandingkan dengan cadangan devisa Cina yang besarnya sekitar $ 3.1 trilliun. Hanya 3% nya saja. Dan menurut data World Bank, short-term debtnya hanya 25% dari cadangan devisanya dan cadangan devisanya cukup untuk 13 bulan. Ini cukup aman walaupun harus berhati-hati.

Di samping itu Cina belum menjadi ekonomi yang berbasis konsumsi, melainkan masih berbasis ekspor. Pada saat US dilanda krisis, dampaknya adalah ekspor ke US turun dan selanjutnya akan memukul ekonomi Cina.

Dengan adanya faktor-faktor tersebut, yuan punya peluang untuk merosot pada saat krisis. Campur tangan pemerintahnya akan membuat yuan makin terpuruk.

Dimana Posisi Indonesia?
Kita akan membandingkan kekuatan Indonesia relatif terhadap kekuatan pra-krisis 1998 dan pra-krisis 2007, untuk memperkirakan seberapa babak-belurnya kondisi ekonomi Indonesia ketika menerima terpaan badai krisis yang akan datang.

Yang pertama adalah cadangan devisa.

Secara nominal, cadangan devisa Indonesia memang sudah meningkat banyak. Akan tetapi rasio cadangan devisa terhadap GDP ternyata tidak banyak berubah. Sedikit lebih tinggi dari pra-krisis 1998 dan hampir sama dengan pra-krisis 2008. Yaitu sekitar 10% dari GDP. Jadi kekuatan bank Indonesia untuk mempertahankan nilai rupiah dari capital out-flow, tidak banyak berubah dibandingkan masa-masa sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan Malaysia dan Thailand yang mengalami peningkatan rasio cadangan devisa terhadap GDP.

Chart-5

Berikutnya adalah neraca perdagangan.

Indonesia mengalami kesulitan untuk mempertahankan surplus neraca perdagangannya. Antara tahun 1999 dan 2008, neraca perdagangan Indonesia selalu surplus berkat harga komoditi yang sedang booming. Setelah itu mengalami defisit dan surplus silih berganti seiring dengan harga komoditi. Dan saat ini mengalami defisit yang lumayan, $ 2 milyar (per bulan).

Chart-6

Memang $ 2 milyar itu tidak banyak jika dibandingkan dengan cadangan devisa yang besarnya $ 130 milyar. Tetapi kalau dilihat volume impor, cadangan devisa Indonesia cukup untuk 7 bulan saja. Memang lebih baik dari pra-krisis 1998 (3 bulan), tetapi tidak jauh berbeda dengan pra-krisis 2008 (5 bulan).

Berikutnya adalah neraca berjalan.

Dibandingkan dengan GDPnya, neraca berjalan Indonesia boleh dikata sama dengan pada saat pra-krisis 1998. Ini tentunya bukan pertanda yang baik, walaupun tidak separah pra-krisis 1998. Karena pra-krisis 1998 Indonesia telah mengalami defisit neraca berjalan kronis  selama 17 tahun, yaitu sejak tahun 1981. Saat ini baru 7 tahun defisit kronisnya.


Chart-7

Hutang luar negri Indonesia yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini sekitar $ 45 milyar. Dibandingkan dengan besarnya cadangan devisa, kira-kira sekitar 40%nya saja. Dibandingkan dengan pra-krisis 1998 yang 183% dari cadangan devisa, saat ini untuk menghasilkan krisis seperti tahun 1998, masih jauh. Artinya, berharap rupiah jatuh nilainya sampai 85% seperti tahun 1998. Tetapi berharap kejatuhan 30% - 50% masih wajar, karena pada krisis subprime 2008, gejolak rupiah sampai sejauh itu (dari Rp9,000 ke Rp 12,000). Bedanya adalah jangan berharap rupiah akan kembali ke level yang sekarang atau Rp 13,000, setelah krisis ini berakhir seperti halnya tahun 2008 yang akhirnya kembali ke level pra-krisis Rp 8,500 per USD. Kali ini tidak akan kembali ke level Rp 9,000 – Rp 13,000 lagi. Karena pada tahun 2008 – 2012 harga komoditi masih tinggi sehingga perdagangan masih surplus dan neraca berjalan masih positif. Pada krisis yang akan datang, tidak demikian lagi situasinya. Jadi mengharapkan swing sampai Rp 25,000 – Rp 30,000 per USD masih dalam kerangka harapan yang waras, walaupun akhirnya nanti akan stabil di sekitar Rp 20,000 per USD.

Chart-8


Chart-9

Apa Ada Yang Lebih Buruk?
Cadangan devisa dan kondisi makro ekonomi Indonesia, boleh dikata masih okey, dengan catatan bahwa tidak ada panik. Persoalan menjadi lain ketika investor portfolio panik. Dari asset yang sangat fluid adalah surat obligasi dan saham yang scripless.

Di pasar surat obligasi, kepemilikan asing $ 60 milyar dari $175 milyar total. Dan kapitalisasi pasar modal Jakarta yang scripless saat ini masing-masing sekitar $ 264 milyar dimana $ 128 milyar adalah kepemilikan asing (data bulan April 2018). Jika semua saham dimasukkan maka kapitalisasi pasar mencapai $500 milyar.

Ada perbedaan yang mendasar antara krisis 1998 dengan yang akan datang. Dahulu, investor portfolio asing relatif kecil. Booming di sektor komoditi membuat pasar modal Indonesia menarik. Skenario yang lebih buruk, jika asing cabut dari portfolionya di Indonesia. Mereka melakukan redemsi portfolionya dan mendollarkan hasilnya untuk cabut dari Indonesia. Cadangan devisa Indonesia yang hanya $ 125 milyar tidak akan cukup. Kecuali rupiah dijeblokkan sehingga ketika investor melakukan konversi ke US dollar memperoleh nilai tukar yang jelek.

Kalau anda masih menganggap pasar obligasi agak kebal dan imun terhadap krisis, silahkan lihat apa yang terjadi tahun 2008. Nilainya anjlok 56%. Suatu pukulan yang telak.

Pertanyaannya pada krisis yang akan datang, apakah nilai/harga obligasi akan kembali pulih seperti pada kasus krisis 2008? Situasinya akan berbeda. Mungkin dunia sudah memasuki bond secular bear market di tahun 2023 - 2025.  Artinya suku bunga akan mempunyai trending yang naik (nilai bond turun) selama 20 - 30 tahun. Memasuki Kondratieff spring dan summer, ceritanya akan lain.

Chart-10

Dan skenario yang paling buruk adalah, ketika investor dalam negri ikut-ikutan. Itu akan menarik. Itu menjadi mimpi buruk bagi Jokowi, Sri Mulyani dan Agus Martowardoyo, serta orang yang tidak siap menghadapi krisis ini. Saya enggan membayangkan skenario ini. Silahkan pembaca mereka-reka sendiri. Mungkin bayangannya seperti nyungsep di kubangan tinja. Yuch!!!

Sekian dulu dari EOWI. Jaga kesehatan anda dan tabungan anda baik-baik


Jakarta 27 Juni 2018.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, June 4, 2018

Teroris (Bagian III): Labeling dan Bukan Monopoli Islam

Labeling
EOWI tersandung pada website yang agak tidak umum untuk masyarakat Indonesia. Ia adalah: Uriavery.com. Sebuah website dari penulis Yahudi Israel.

Ada paragraf yang menarik pada artikel dilaman ini http://uriavnery.com/en/hatur.html

I was a member of the National Military Organization (the "Irgun"), an armed underground group labeled "terrorist".
Palestine was at the time under British occupation (called "mandate"). In May 1939, the British enacted a law limiting the right of Jews to acquire land. I received an order to be at a certain time at a certain spot near the sea shore of Tel Aviv in order to take part in a demonstration. I was to wait for a trumpet signal.
The trumpet sounded and we started the march down Allenby Road, then the city's main street. Near the main synagogue, somebody climbed the stairs and delivered an inflammatory speech. Then we marched on, to the end of the street, where the offices of the British administration were located. There we sang the national anthem, “Hatikvah”, while some adult members set fire to the offices.
Suddenly several lorries carrying British soldiers screeched to a halt, and a salvo of shots rang out. The British fired over our heads, and we ran away.
Perhatikan paragraf selanjutnya.

Remembering this event 79 years later, it crossed my mind that the boys of Gaza are greater heroes then we were then. They did not run away. They stood their ground for hours, while the death toll rose to 61 and the number of those wounded by live ammunition to some 1500, in addition to 1000 affected by gas.
Bagi pembaca yang mengalami kesulitan bahasa, bisa menggunakan google translate untuk menterjemahkan tulisan Uri Avery.

Uri mengatakan bahwa dia dulu sebagai anggota organisasi bersenjata "Irgun" diberi label teroris oleh pemerintah Inggris di Palestina. Setelah mereka menang dan mendirikan negara di tanah yang sama yang sekarang disebut Israel, mereka menyebut orang-orang Palestina sebagai teroris. Sedangkan para bekas anggota "Irgun" sekarang disebut pahlawan.

Hal yang senada terjadi di Indonesia, Belanda menyebut ekstrimis, Indonesia menyebut pejuang kemerdekaan untuk kelompok yang sama. Perubahan label ini mudah terjadi. Dulu mereka disebut penjuang Mujahidin Afganistan, sekarang disebut teroris Taliban. Dulu disebut penjuang muslim moderat Suriah, sekarang disebut teroris ISIS. Dulunya disebut pemimpin GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Fretilin, kemudian tahun 2002 disebut presiden Timor Leste.

Apa bedanya Xanana Gusmao dengan Ventje Samuel, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo dan Johan Manusama?

Jadi……… apa itu teroris?

Silahkan definisikan sendiri.

Islam Bukan Satu-Satunya
Teroris tidak akan menyebut diri mereka sebagai teroris. Demikian juga dengan pemberontak dan gerakan pengacau keamanan. Mereka lebih suka sebutan pejuang. Apakah itu pejuang mujahidin, pejuang Macan Tamil, pejuang kemerdekaan, pejuang ini dan itu. Dan lawan mereka oleh mereka disebut penjajahthogutpenindasrejim... dan lainnya. Itu pandangan dari kacamata para pejuang-pejuang itu yang bukan dari kelompok mapan.

Ada yang membingungkan dalam kaitannya dengan teroris yang sekarang ini. Siapa yang menjadi lawan mereka nampaknya sekarang menjadi kabur. Serangan bom sering tidak pandang bulu, seperti di Afganistan dan Timur-Tengah. Korbannya sering kali orang-orang yang sedang melintas. Barang kali teroris sekarang ini sebagian sudah kehilangan arah. Tidak tahu lawannya atau salah sasaran.

Tetapi mungkin, Indonesia saat ini agak lebih baik dari yang di Afganistan dan Timur Tengah. Setidaknya mereka lebih jelas mengarah pada yang dipersepsikan sebagai musuh mereka, yaitu polisi, khususnya Densus 88 dan kaum yang mereka anggap kafir. Tetapi ini target kecil, bukan target vital atau target high profile. Menyasar target-target semacam ini, akan cepat menghabiskan resources yang sangat langka, yaitu nyawa anggotanya. Setidaknya sejarah mencatat banyak teroris di masa lalu lebih selektif dalam memilih target. Dan banyak akhirnya mereka yang memperoleh kemenangan, langsung atau tidak langsung.

Mungkin bom bunuh diri yang pertama tercatat dan juga berhasil melumpuhkan high profile target nya adalah di tahun 1881. Masa itu adalah periode yang belum lama setelah ditemukannya dinamit dengan detonatornya oleh Alfred Nobel pada dekade 1860an. Pelakunya bom bunuh diri ini bukan orang Islam. Kemungkinan Kristen Orthodox. Namanya Nikolai Rysakov, Ignacy Hryniewieck dan Ivan Emelyanov, ketiganya anggota organisasi sosialis revolusioner Narodnaya Volya. Sedangkan sasarannya Tsar Alexander II, penguasa Russia.

Serangan berlapis tiga mejadi rencana mereka. Pertama Nikolai Rysakov, melemparkan bom ke kendaraan Tsar, gagal melukai Tsar. Ignacy Hryniewieck melakukan serangan berikutnya yang membuat tubuh Tsar rusak parah. Ignacy Hryniewieck bersama orang-orang disekitarnya ikut terluka dan kemudian menemui ajalnya. Dan Ivan Emelyanov yang direncanakan sebagai pembom ketiga, hanya bersiap-siap kalau kedua temannya gagal.

Nasib pelaku bom bunuh diri ini menarik. Ignacy Hryniewieck  mati bersama Tsar dan orang-orang disekitarnya oleh bomnya sendiri. Nikolai Rysakov tertangkap diadili dan dihukum gantung. Dan Ivan Emelyanov tertangkap, diadili, tetapi…. akhirnya diberi amesti dan melanjutkan hidupnya sampai meninggal secara alamiah.

Organisasi revolusioner Narodnaya Volya adalah organisasi militant yang isinya kaum muda terpelajar yang beraliran sosialis dan memilih jalan kekerasan. Targetnya cukup selektif yaitu pejabat pemerintah yang high profile.  

Yang lebih anyar, ditahun 1980an, organsasi yang punya tingkat kesuksesan serupa adalah Macan Tamil dari Sri Langka. Mereka mengirimkan seorang wanita yang berhasil meledakkan dirinya dan membunuh (mantan) perdana menteri India, Rajiv Gandhi. Tidak hanya itu, serangan bom bunuh diri Macan Tamil juga berhasil membunuh presiden Sri Langka Ranasinghe Premadasa serta high profile pejabat pemerintah Sri Langka lainnya seperti walikota Jaffna Alfred Duraiyappah, menteri perindustrian dan pembangunan Clement Gunaratne, anggota parlemen Abeyagoonasekera, menteri luar negri Ranjan Wijeratne, politikus ternama Gamini Dissanayake……. dan sederet lagi. Mungkin Macan Tamil adalah teroris yang paling banyak berhasil melenyapkan pejabat-pejabat yang high profile dengan bom bunuh diri.  

Cina juga tidak luput dari catatan teroris/pejuang bunuh diri. Tidak hanya itu, di dalamnya melibatkan nama seorang muslim sebagai salah satu anggota yang high profile, yaitu Umar Bai Chongxi yang dikemudian hari menjadi menteri pertahanan pertama Republik Cina. Nama organisasi itu adalah pasukan berani mati, Gansidui. Awalnya aktif dalam pemberontakan untuk menggulingkan dinasti Manchu Qing. Tetapi kemudian berlanjut ketika perang dunia ke II meletus, Cina juga berperang melawan Jepang. Gansidui dikenal melakukan bom bunuh diri untuk menghadapi tank-tank Jepang. Ironisnya Jepang menggunakan taktik yang sama dalam menghadapi Amerika di medan perang Pasifik dengan pasukan Kamikaze yang mengawaki pesawat terbang dan terpedo untuk menhantam kapal Amerika.

Yang Menang dan Yang Kalah dan Yang Keok
Saya tidak tahu tentang nasib Irgun saat ini, karena saya tidak baca buku-buku Israel. Mungkin Irgun diagung-agungkan atau sudah dilupakan. Yang pasti kubu dan idiologi  yang diperjuangkan Irgun menang, dan sekarang mereka menjadi kelompok yang mapan, yaitu pemerintah Israel, yang memerangi teroris Palestina. Posisi meja telah berbalik bagi Irgun.

Pembunuhan Tsar Alexander II oleh Narodnaya Volya, menyalakan bak api dalam sekam semangat kekerasan dan terorisme untuk mecapai tujuan-tujuan politik di Russia sampai beberapa dekade kemudian. Ketika tekanan ekonomi semakin meningkat di Russia akibat perang Russia-Jepang, kemudian perang dunia pertama, kekuatan pihak sosialis populis anti kemapanan menjadi menguat dan aksi gerilya teror sporadis merubah menjadi pemberontakan terbuka, Revolusi Bolshevic. Dan Tsar Nikolas II tergulingkan pada saat perang dunia pertama masih berlangsung.

Gansidui boleh dikata mengalami kesuksesan. Dinasti Manchu Qing, yang sudah berkuasa selama 3 abad, merupakan kekuatan yang menua, melemah, akhirnya termajinalkan oleh  kaum Komintang sampai Jepang datang. Jepangpun akhirnya babak belur di Pasifik. Pasukan Kamikazenya baik yang menggunakan pesawat terbang atau terpedo untuk menghantam kapal-kapal Amerika, tidak banyak membantu, karena Jepang juga sudah kelelahan berperang. Tetapi kubu politik Gansidui, yaitu Republik Cina, akhirnya dipukul oleh Cina Komunis sehingga Republik Cina, keok dan menyingkir ke Taiwan.

Nasib Macan Tamil cukup tragis. Walaupun mereka berhasil melumpuhkan banyak politikus dan pejabat pemerintah yang high profile, Macan Tamil harus menelan kekalahan militer dan sekarang nampaknya sudah lumpuh. Keok, kehilangan popularitas dan mungkin sudah bubar.

Suatu hal yang harus dipikirkan untuk para calon teroris, mereka akan sia-sia kalau mereka tidak balajar dari sejarah. Kelompok yang didukung Irgun menang karena Inggris secara ekonomi sudah babak belur karena perang dunia I. Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin akhirnya menang karena Indonesia juga pada kondisi ekonomi yang babak belur. Pemberontak Bolshevik menang atas Tsar Nikolas II juga karena Russia pada kondisi ekonomi yang babak belur setelah perang dunia I. Sedangkan Macan Tamil, walaupun berhasil melumpuhkan/melenyapkan banyak elit politik, tetapi gagal meraih kemenangan akhir, karena Sri Langka pada waktu itu tidak lemah secara ekonomi. Jemaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Daula, atau kelompok-kelompok lain akan sulit menang, kecuali Indonesia dalam keadaan lemah ekonominya. Mereka akan menjadi gerakan populist dan memperoleh banyak dukungan di saat ekonomi yang lemah. Dan syarat tambahannya bahwa mereka jangan menjadikan sipil menjadi sasarannya, karena akan kehilangan simpati. Saat ini…… mungkin belum waktunya.

Kesempatan bagi kelompok radikal tidak pernah ada jika pemerintah bisa mempertahankan tingkat kemakmuran sehingga tidak muncul ketidak-puasan ekonomi. Radikalisme mungkin bisa diredam kalau orang punya kesibukan lain. Sibuk kerja. Bukan sibuk ikut kursus P4 (Pedoman Pengamalan Pengamalan Pancasila). Kecuali semua rakyat Indonesia bisa dapat gaji yang besarnya seperti gaji ketua  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Indoktrinasi idieologi tidak akan mempan meredam radikalisme yang sumbernya dari ketidakpuasan ekonomi. Hanya ekonomi saja yang bisa.

Jadi bagaimana kalau solusinya dengan pertumbuhan ekonomi 7%, pajak hanya 10%? Itu cukup untuk membuat orang, anak-anak muda sibuk kerja, bukan sibuk baca buku-buku indoktrinasi terorisme. Kalau cuma 5%, hanya cukup untuk menutupi kebutuhan lowongan karena urbanisasi yang tingkatnya sampai 4%. Hampir semua untuk tenaga kerja dari kampung, sedang generasi yang memasuki umur kerja, tidak dapat bagian.


Selesai.



Jakarta 4 Juni 2018

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, May 27, 2018

Menghadapi Krisis (bagian I): Don’t Fight the Fed

Krisis global yang sifatnya deflationary yang di depan mata ini bagi Indonesia bukan apa-apa dibandingkan dengan krisis yang bersiklus 3 dekade yang mempengaruhi Nusantara yang akan terjadi antara 2025 – 2030. Kalau EOWI bercerita tentang Pahlawan-Teroris, Chauvinisme dan topik-topik sejenis, sebenarnya EOWI akan mengarahkan pembacanya kepada krisis besar atau kerusuhan besar Nusantara yang EOWI perkirakan akan terjadi menjelang berakhirnya dekade 2020 untuk berganti ke dekade 2030. Sejarah menunjukkan bahwa pada siklus yang mempunyai rentang waktu 3 dekade ini, adanya perubahan wilayah kedaulatan adalah biasa. Setidaknya itu dialami kerusuhan tahun 1998 yang berakhir dengan merdekanya provinsi Timor-Timur. Itu juga dialami tahun 1945, dengan nyempalnya Hindia Belanda dari Imperium Kerajaan Belanda. Atau tahun 1907 dimana Aceh dan Bali menjadi satu (digabung, dianeksasi) bagian dari Hindia Belanda. Untuk semua kasus, termasuk kasus ini EOWI memposisikan diri di sudut agnostik dengan kacamata yang objektif. Tidak ada perasaan chauvinis ketika memberikan penilaian.

Dari wangsit dan preliminary data, nampaknya kerusuhan besar Nusantara 2025 - 2030 adalah nyata. Tetapi itu topik yang akan EOWI tulis nanti tahun 2023 atau 2025. Riset yang akan memakan dana yang tidak sedikit, harus dilakukan. Apakah EOWI masih hidup dimasa itu? Atau gagal gara-gara dana? Kita lihat 5 tahun lagi. Sekarang fokus kita adalah krisis global deflation yang ada di depan mata (lihat laman Gejolak 2014 – 2020, EOWI). – Bantuan data atau apa saja untuk projek riset Kerusuhan Besar Nusantara 2025 - 2030 selalu terbuka.

Don’t Fight the Fed (Dua Jurus the Fed)
The Fed punya beberapa jurus untuk mengobok-obok ekonomi. Saat ini yang EOWI lihat adalah dengan menggembung/kempiskan assetnya dan bermain dengan suku bunganya. Pada saat ia menggembungkan assetnya (baca: membeli bond dengan uang yang dicetaknya) tanpa/dengan menurunkan suku bunganya, artinya the Fed melakukan quantitative easing (QE). Kalau sebaliknya artinya quantitative tightening (QT). Sejarah menunjukkan bahwa jika the Fed merubah permainan jurusnya, akan merubah arah ekonomi dunia dan pasar. Dampaknya adalah dunia, karena secara defakto US dollar adalah mata uang dunia.

Jurus Suku Bunga the Fed
Beberapa waktu lalu, kami membaca sebuah artikel dari Crescat Capital yang kami pikir ada chart yang menarik untuk di tampilkan kepada pembaca EOWI (lihat chart di bawah).


Intinya bahwa Don’t Fight the Fed - jangan melawan ketidakbijaksanaan the Fed. 

Ada fenomena yang menarik adalah setiap kali the Fed melakukan pengetatan moneter, dengan menaikkan suku bunga effektifnya atau lainnya, akan berakhir dengan suatu krisis dipasar saham dan/atau pasar uang serta ekonomi, baik di US atau di tempat lain, di suatu belahan dunia nun jauh dari US disana.

Sejak tahun 1967 ada 7 pengetatan moneter yang dilakukan the Fed dan semuanya mungkin kebetulan diikuti dengan krisis-krisis keuangan. Krisis-krisis ini terjadi antara 1 - 4 tahun setelah the Fed mulai menaikkan suku bunganya.

Sekarang, the Fed mulai menaikkan target suku bunganya sejak akhir tahun 2015. Jadi sudah 2.5 tahun. Kenaikkannya sangat lambat dibanding sebelum-sebelumnya. Dari 0.5% ke 1.75% dalam kurun waktu 2.5 tahun. Walaupun demikian pasar bond mulai “ketar-ketir”. Terjadi gejala yang disebut flattening yield curve, yaitu perbedaan antara suku bunga (yield) bond jangka panjang (10 tahun misalnya) dengan suku bunga bond jangka pendek (2 tahun misalnya) menciut. Walaupun suku bunga bond jangka panjang bisa naik karena pengaruh kenaikkan suku bunga the Fed, tetapi kenaikkan ini tidak secapat suku bunga bond jangka pendek. Dari ekstrapolasi, diharapkan awal-awal tahun 2019 perbedaan suku bunga kedua bond ini sama (lihat chart berikut). Ini disebut flat yield. Kalau sampai negatif disebut inverted yield. Sebabnya banyak investor bond masih berkutat mempertahankan bond jangka panjangnya karena mengantisipasi krisis.

Pada umumnya krisis terjadi pada saat kurva yield dalam proses flattening atau sudah flat (suku bunga jangka panjang sama dengan suku bunga jangka pendek) seperti terlihat pada chart di bawah (arsir merah menunjukkan saat krisis). Ada kekecualian untuk krisis di tahun 1980 dan 2007, setelah yield menjadi flat, perlu waktu/jeda 1-2 tahun sampai terjadinya krisis. Kedua masa ini agak berbeda. Yang pertama adalah dikonversikannya dari sistem berbasis emas ke sistem fiat. Masa yang sangat inflationary. The Fed mulai menaikkan suku bunganya tahun 1977, baru flat setahun kemudian. Dan krisis hutang dan moneter Amerika Latin terjadi di awal tahun 1980. Pada saat itu banyak negara-negara Amerika Latin tidak bisa membayar hutangnya.

Yang kedua, adalah kasus  memicu krisis subprime. The Fed mulai menaikkan suku bunganya tahun 2004, yield curve menjadi flat tahun 2006 dan tahun 2007 terjadi krisis subprime. Apa yang menjadi penyebab adanya jeda waktu antara flat yield dengan krisis, jawabannya EOWI tidak tahu dan tidak mau berspekulasi untuk memuaskan pembaca.


Dari ekstrapolasi, yield baru akan flat di awal tahun 2019 (lihat chart di bawah). Yield dari 10 yr-TB bisa mencapai 5%. Naik dari harga terendahnya 1.5%. Ini akan menyeret suku bunga pinjaman dan suku bunga hipotek naik ke atas. Tidak hanya itu. Negara lain, terutama negara yang sedang berkembang punya pilihan, mata uangnya akan mengalami devaluasi terhadap US dollar atau suku bunga dinaikkan. Silahkan pilih. Masing-masing punya konsekwensi sama. Yaitu mencekik bisnis dan ekonomi negara-negara ini.


Kalau kita mengambil hikmah sejarah, krisis mungkin  bisa mulai terjadi antara kuartal ini sampai 3 tahun lagi (tahun 2021).

Jurus Kesimbangan Neraca Asset
Jurus ini yaitu memberikan liquiditas ke dalam ekonomi (QE) dan menyusutkan liquiditas (QT) dengan cara menggembungkan dan meyusutkan asset the Fed, menurut pengetahuan saya, adalah jurus yang baru sekali ini digunakan dengan kekuatan luar biasa, yaitu antara tahun 2009 – 2015 pada saat quantitative easing (QE). Cukup lama. Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dan pasar? Yang ada datanya adalah ketika fasa QE. Sedangkan untuk fasa QT belum.

Jurus QE yang dimainkan dari tahun 2009 – 2015, membuat bubble dimana-mana, mulai pasar saham, bond, property...., sebut saja apa lagi. Untuk jurus QT, sampai bulan Februari 2018 lalu, baru kembangannya saja kalau mengacu istilah silat, atau embu istilah kempo atau kata istilah karate, yang dimainkan the Fed. Tidak akan bikin benjol atau patah tangan.

Antara tahun 2015 – 2017, asset the Fed turun hanya 1%. Permainan yang agak serius baru dimainkan sejak diawal tahun 2018 sekitar bulan Februari. Dalam waktu 4 bulan, asset the Fed sudah diturunkan 2.7%. Memang tidak banyak. Hanya USD 117 milyar dalam masa 3 bulan dibanding seluruh assetnya pada bilangan USD 4.46 triliun di awal tahun 2017. Tetapi dampaknya terhadap rupiah terasa cukup telak. Nilai tukarnya turun dari Rp 13,300/USD ke Rp14,200/USD. Ini juga terjadi pada mata uang negara lainnya.


Yang menjadi pertanyaan adalah, jika pengetatan ini lebih aggressif, bukan USD 40 milyar per bulan tetapi USD100 milyar atau USD 200 milyar. Apa lagi kalau targetnya untuk kembali ke posisi sebelum krisis subprime yang hanya sekitar USD 900 milyar. Untuk mencapai level asset USD 900 milyar dari USD 4.34 triliun itu pemotongan yang tidak sedikit. Kalau Jerome Powell, ketua the Fed, masih mempertahankan kecepatan tingkat menyeimbangan neraca asset the Fed seperti yang sekarang $ 40 milyar per bulan, perlu waktu sekitar 7 tahun. Kalau yang diinginkan kurang dari 2 tahun, maka ia perlu menarik USD 150 milyar perbulan. EOWI tidak tahu apa yang ada di kepala-kepala the Fed. Oleh sebab itu kita lihat saja perkembangannya.

The Fed Dalam Dilema?
Itu pertanyaan yang mudah dijawab.

Ucapan John Connally, menteri Keuangan US dan arsitek utama pada ketidak-bijaksaan Nixon Shock di tahun 1971, dalam pertemuan G-10 di Roma di akhir tahun 1971 dan membuat peserta pertemuan mengkerutkan dahi adalah: 

"The dollar is our currency, but it's your problem," 
(dollar adalah mata uang kami, tapi it problem kamu)

Kalau itu ucapan the Fed maka bunyinya: 

“Dollar itu mata uang kami dan kami yang mengeluarkan, tetapi itu problem kamu.”

Kamu disini mungkin termasuk presidennya sendiri, rakyat Amerika dan pelaku bisnisnya; di samping orang-orang negara lain. Jadi the Fed tidak punya dilema. Yang punya orang lain.

Jerome Powell yang diangkat menjadi ketua the Fed pada 4 Februari 2018, nampaknya berbeda dengan Jenet Yellen. Tidak lama setelah pengangkatan Powell menjadi ketua the Fed, tidakannya bisa dilihat pada asset the Fed yang turun relatif lebih cepat dibandingkan ketika jaman Yellen. Dalam kasus ini Powell lebih aggressif dibanding Yellen. Saya tidak terlalu heran kalau the Fed akan menaikkan suku bunganya 3x lagi sampai Desember nanti sehingga membuat target suku bunga the Fed 2.25% - 2.50%.

The Fed yang selama ini menjadi pembeli utama treasury bond, tidak lagi membeli surat obligasi yang dikeluarkan pemerintah US. Yang ada dibiarkan jatuh tempo dan ada yang dijual. Konsekwensinya, pemerintah US akan lebih sulit mengeluarkan surat hutang kecuali dengan imbalan (yield) yang lebih tinggi. Ini akan mendorong suku bunga di US untuk naik. Ini bisa dilihat bahwa saat ini yield 10-yr US treasury bond menyusul yield 10-yr bond Australia, sama-sama bond dari negara maju. Sebelumnya ini pernah terjadi tahun 1984, 3.5 dekade lalu dimana kedua bond yields saling mendekat. Apakah kedepannya yield dari Aussie bond akan naik (Bond akan turun) karena mekanisme pasar? Mungkin sekali terjadi, untuk menciptakan kesimbangan pasar. Dan apakah ini akan menyeret jatuhnya nilai tukar Aussie dollar terhadap US dollar?  Mungkin saja terjadi untuk menciptakan keseimbangan baru. Setidaknya bank sentral Australia harus melakukan tindakan untuk mencegahnya kalau hal ini tidak diinginkan mereka. Menaikkan suku bunganya? Hmm… suku bunga hipotek juga naik 'kan dan akan memecahkan property bubble?


Kalau hal seperti ini terjadi pada Australia, bagaimana dengan negara-negara lain? Sri Mulyani dan Agus Martowardojo….....apakah kalian siap?

“Dollar itu mata uang kami (the Fed) dan kami yang mengeluarkan, tetapi itu problem kamu.”


Sekian dulu, sampai bagian selanjutnya.
Jakarta 27 May 2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.