_____________________________________________________________________________________________________________________




Sunday, July 27, 2014

(No.44) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA



Eksperimen untuk menjajah dan menyengsarakan rakyat dalam arti yang sebenarnya, menurut sejarah memang pernah dicoba oleh Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal VOC tahun 1617 - 1629. Diriwayatkan[1] bahwa di tahun 1620an VOC mengusir semua penduduk pulau Banda, dibiarkan mati atau dibunuh dalam rangka untuk membuat perkebunan cengkeh dan pala. Jan Pieterszoon Coen berharap bisa menggantikan penduduk ini dengan orang-orangnya Belanda, tetapi usaha ini gagal, karena terlalu mahal. Tindakan Coen adalah tolol. Yang kedua, sebenarnya dia bisa mencari tanah-tanah kosong jika sekedar mau membuat perkebunan cengkeh dan pala. Di kepulauan Maluku dan Irian pada saat itu masih banyak tanah kosong. Riwayat ini mungkin ada benarnya jika dilihat dari ucapan Coen yang terkenal: “Jangan putus asa, jangan kasihan terhadap musuhmu karena Tuhan bersama kita” yang menunjukkan bahwa Coen adalah seorang yang kejam, tentu saja juga berpikiran pendek. Tentu saja perlu ditanyakan kembali, apakah Coen seorang yang (kejam dan) berpikiran pendek ataukah sejarah telah berbohong.

Kasus yang menarik lainnya yang bisa mendukung hipotesa penaklukan penguasa lokal oleh VOC (bukan penjajahan yang menyengsarakan rakyat) sebagai kisah sejarah alternatif adalah kasus kesultanan Banten. Banten yang pada abad 16-17 mempunyai pelabuhan yang merupakan pelabuhan untuk perdagangan lada yang katanya merupakan komoditi yang dicari di Eropa. Banten yang lebih suka pada perdagangan bebas dari pada memberikan monopoli kepada VOC, menghadapi persaingan dengan Batavia yang direbut VOC tahun 1619. Konflik internal kerajaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya, yaitu Sultan Haji, menjadikan kesempatan bagi VOC untuk menyingkirkan saingannya, Banten. Dengan membantu Sultan Haji dalam mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa, maka tujuan VOC tercapai. Cita-cita Sultan Haji juga tercapai, yaitu menjadi penguasa Banten, dan keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan lada juga tercapai. Banten tetap menjadi kesultanan.

Setelah VOC bubar tahun 1795, Banten baru dilebur ke dalam Republik Batavia, dengan deklarasi yang dikeluarkan oleh Daendels, gubernur jenderal di nusantara tahun 1808 Belanda pada masa itu dibawah pengaruh kekuasaan Kaisar Napoleon dari Prancis.

Jadi asumsi penyengsaraan rakyat nusantara secara langsung dengan kerja rodi dan pajaknya bisa dikesampingkan (catatan: pajak penghasilan/pajak upah baru diberlakukan di sekitar tahun 1920an). Kemungkinan kerja rodi dan pajak ditarik setelah perangkat pemerintahan Hindia Belanda terbentuk secara mapan, seperti ketika masa cultuurstelsel yang oleh para sejarawan disebut Tanam Paksa. Itupun sejarah versi resmi mengalami kesulitan untuk menjelaskan hambatan-hambatan pelaksanaan kerja rodi Pelaksanaannya akan sulit, kecuali terhadap para penjahat dan narapidana. Mengumpulkan orang untuk dipaksa kerja tanpa dibayar tidak mudah. Lebih mudah dan murah jika dengan imbalan upah. Cara seperti ini masih ada peninggalan-peninggalannya yaitu komunitas Ja-kon, Jawa Kontrak, yang ada di Sumatera Timur dan Suriname. Orang-orang Jawa dikirim sebagai kuli kontrak untuk membuka dan bekerja di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur, New Caledonia dan Suriname. Bukan sebagai pekerja rodi. Sejarah versi resmi akan mengalami kesulitan menjelaskan penyengsaraan rakyat oleh VOC atau pemerintah Belanda melalui kerja rodi yang tidak dibayar.

Sanggahan terhadap teori penjajahan yang menyengsarakan kedua adalah bahwa dengan sistem keuangan yang ada, tidak dimungkinkan penerapan inflasi secara effektif, katakanlah di atas 10% per tahun. Menyinggung mengenai inflasi, sejak kedatangannya, VOC Belanda menggunakan uang perak, bukan uang kertas. Dengan demikian, inflasi sulit diciptakan.

Angus Maddison[2] mencatat bahwa selama 2 abad, dari 1600, 1700 dan 1800, GDP (PPP) Indonesia (nusantara) tidak mengalami penurunan, alias meningkat (Grafik VII - 1). Sulit untuk mengatakan bahwa VOC membawa kesengsaraan kepada rakyat nusantara. Sekiranya ada perselisihan antara Belanda dan masyarakat lokal, harus dilihat dari golongan mana masyarakat lokal itu.


Grafik VII - 1    GDP/PPP Indonesia dan Belanda tahun 1600 - 1800


Sejarah mencatat adanya serangan terhadap penjajah asing yang dilakukan oleh Fatahillah, Sultan Agung dari Mataram, Hasanuddin dari Makassar dan lain sebagainya. Kalau dilihat lebih dekat lagi, yang merasa terusik bukan rakyat kelas waisya, tetapi kelas ksatria atau kelas ksatria yang menerapkan/memegang monopoli perdagangan. Bagi kelas waisya, pekerja dan pedagang murni, masuknya bangsa Belanda untuk berdagang malah menguntungkan karena pasar untuk hasil bumi komoditi rempah-rempah mereka menjadi lebih besar. Ekonomi menjadi lebih marak.

Perlu dicatatat lagi bahwa VOC adalah perusahaan dagang, bukan pemerintahan Belanda. VOC juga tidak punya perangkat untuk memaksa rakyat untuk menanam suatu komoditi. Terlalu banyak jumlah manusia yang tercecer di wilayah yang luas yang harus dikontrol dan dipaksa. Ambil contoh saja, ketika Belanda hendak membuka perkebunan di Sumatera, pada abad 19, mereka mendatangkan buruh kontrak dari Jawa, bukan memaksa rakyat Sumatera untuk dipekerjakan. Demikian juga dengan Inggris di Semenanjung Malaya ketika membuka tambang-tambang timah, mereka mendatangkan kuli-kuli dari Cina dan India. Memperbudak masyarakat setempat bukan pilihan yang menguntungkan. Jadi sulit mencari alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa VOC menyengsarakan rakyat – kaum waisya di nusantara.

Lain halnya dengan para bangsawan dan penguasa yang sumber pendapatannya dari pajak, uang takut dan monopoli perdagangan. Gesekan-gesekan akan lebih mudah terjadi antara penguasa setempat, kaum ksatria, dengan pedagang-pedagang Eropa yang memiliki tentara. Besar kemungkinannya bahwa pedagang-pedagang VOC Kompeni Belanda tidak akan mudah membayar uang takut, upeti, bea-cukai kepada penguasa setempat. Ini akan menyinggung harga diri para penguasa setempat. Oleh sebab itu bentrokan-bentrokan besarpun terjadi. Penjelasan ini lebih bisa menerangkan secara masuk akal mengenai terjadinya perselisihan antara Kompeni Belanda dengan penguasa nusantara seperti Sultan Agung, Sultan Hasanuddin Banten, Sultan Hasanuddin Gowa dan lain sebagainya serta GDP/PPP yang tidak menurun selama VOC Kompeni Belanda masih berkiprah.

Pada Grafik VII - 1 juga nampak bahwa ada kenaikan GDP/PPP Indonesia yang cukup berarti selama 2 abad itu, dibandingkan dengan kenaikan GDP/PPP penjajah Belanda. Ini bisa dimengerti, karena dengan adanya pasar baru dan persaingan bebas untuk rempah-rempah dan hasil bumi, maka perekonomian di nusantara juga marak. Sedangkan bagi Belanda, kenaikan yang menyolok terjadi antara tahun 1500-1600 (tidak ditampilkan dalam grafik), dimana para pedagang berhasil menemukan jalan laut ke Timur untuk memperoleh rempah-rempah dan komoditi baru. Jalur ini memotong banyak waktu perjalanan dari Eropa ke wilayah Asia bagian timur sehingga perdagangan semakin marak.

Memang bentrokan antara rakyat dan VOC Kompeni Belanda benar terjadi dan tidak dapat dipungkiri. Bentrok antar kelompok masyarakat, antara perusahaan besar dan buruh serta masyarakat adalah kenyataan sosial yang sampai sekarang masih bisa dijumpai analoginya. Tetapi skala dan frekwensinya tidak seperti bentrok antara penguasa setempat dan VOC. Kompeni Belanda merupakan perusahaan pemegang hak monopoli perdagangan di Belanda yang mempunyai pasukan. Pemberontakan warga Cina di Jawa, kasus ekspedisi Hongi di Maluku, adalah beberapa diantara bentrok yang besar antara Kompeni Belanda dengan kelas waisya (masyarakat biasa, bukan bangsawan) nusantara. Selebihnya adalah keterlibatan VOC Kompeni Belanda dalam bentrok antar elit politik dan bangsawan, kelas ksatria nusantara.

Beberapa contoh campur tangan VOC di dalam bentrok antar kaum ksatria lokal misalnya konflik antara kerajaan Gowa dan Bone (1660-1667), Sultan Hassanudin raja Gowa melawan Arung Palakka pangeran dari kerajaan Bone yang dibantu oleh VOC berakhir dengan perjanjian Bongaya, yang salah satu isinya adalah membebaskan VOC dari bea dan cukai perdagangan.

VOC juga terlibat ke dalam konflik antara Trunojoyo, Adipati Madura, yang juga salah satu pangeran Mataram melawan sunan Amangkurat I dan dilanjutkan dengan anaknya Amangkurat II dari Mataram (1676-1679) setelah Amangkurat I meninggal. Trunojoyo dibantu oleh Karaeng Galesong,  pendukung Sultan Hasanuddin dari Gowa yang telah dikalahkan oleh Aru Palakka dan VOC.

Keterlibatan VOC dalam konflik panjang antar bangsawan Jawa (1740-1755) berikutnya adalah antara Pangeran Mangkubumi, Pangeran Mas Said alias Pangeran Sambernyawa, Pakubuwono II dan  III, Sunan Kuning serta Cakraningrat melahirkan perjanjian Gayanti (1755) dan kraton Jogya, Kraton Solo dan Mangkunegaran. Dalam perjanjian ini VOC memperoleh kekuasaan di daerah pesisir utara Jawa yang strategis untuk perdagangan.

Tidak semua konflik raja-raja nusantara dicampur-tangani oleh VOC. Seperti konflik bangsawan kesultanan Deli, Sumatera (1728) yang berakhir dengan pecahnya kesultanan itu menjadi dua, kesultanan Deli di bawah sultan Tuanku Panglima Pasutan dan kesultanan Serdang di bawah sultan Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Syah, tidak memperoleh perhatian dari VOC. Kemungkinan wilayah Sumatera Utara/Timur pada waktu itu tidak mempunyai nilai ekonomis, dan/atau VOC sudah punya banyak persoalan yang harus ditangani. Beberapa konflik bangsawan di wilayah ini, caplok-mencaplok wilayah terjadi sampai abad ke 19 dan setelah berlakunya Tanam Paksa alias cultuurstelsel. Pada saat itu keperluan tanah oleh swasta Belanda meningkat dan nilai ekonomis wilayah Sumatera menjadi menarik.

Perang sangat membebani VOC. Bentrok dengan saingan-saingannya, Portugis, Inggris dan penguasa lokal serta, menurut banyak cerita, VOC juga dirongrong dari dalam oleh korupsi, akhirnya VOC bubar, dinasionalisasi bersama hutangnya yang banyak di tahun 1795.

Setelah VOC dibubarkan dan peran perusahaan yang semi pemerintah ini digantikan oleh negara Belanda, Republik Batavia. Pada masa ini uang perak yang beredar berbasis 2,50 G (gulden) yang beratnya 25 gram dan mengandung perak 23.6 gram perak murni. Kalau dilihat dari berat dan ukurannya, tidak salah jika 8-Real Spanyol adalah merupakan standard yang dipakai untuk ukuran koin-koin yang dikeluarkan dimasa berikutnya. Pecahan koin gulden yang lebih kecil juga diedarkan, 1⁄16, 1⁄8, 1/4, ½  dan 1 gulden. Walaupun namanya gulden, yang artinya emas, uang koin gulden adalah uang perak. Untuk uang receh, pecahan koin tembaga stuivers juga diedarkan.

Setelah Republik Batavia berkuasa di nusantara, Prancis di bawah Napoleon menguasai Belanda dengan rajanya yang masih saudara dari Napoleon Bonaparte. Pada waktu itu gubernur jenderal untuk nusantara adalah Daendels (1808 - 1811). Dia mengupayakan proyek pembuatan jalan pos di sepanjang pantai utara Jawa, dari Anyer ke Panarukan. Disini masih terlihat adanya fokus infra-struktur yang beorientasi pada pantai dan pesisir. Kemungkinan Belanda masih terfokus pada perdagangan. Infrastruktur ke arah pedalaman Jawa, yaitu jalan kereta api, baru dibangun oleh swasta setelah Tanam Paksa, karena diperlukan untuk mengangkut hasil bumi dan peningkatan perdagangan.

Daendels digantikan oleh Stamford Raffles (1811 - 1815) , Inggris. Masuknya Inggris berkaitan dengan kekalahan Napoleon oleh Inggris. Setelah Inggris di bawah Stamford Raffles angkat kaki, pemerintah Belanda kembali ke bumi nusantara.

Sampai beberapa abad, di nusantara - Hindia Belanda, menurut ceritanya banyak raja-raja lokal yang dijadikan perangkat pemerintahan Hindia Belanda digaji oleh Belanda, dan masih banyak juga berkuasa, tetapi tidak ada yang dominan dan membentuk imperium seperti jamannya Majapahit. Di Sumatera, dari mulai kesultanan Aceh, kesultanan Langkat, kesultanan Deli, kesultanan Riau-Lingga, Asahan, Serdang, kerajaan Simalungun, Panai, masih hidup, kadang saling berperang antar mereka, sampai terjadinya revolusi sosial tahun 1946, dimana banyak raja-raja, bangsawan-bangsawan ini dan keluarganya dibantai secara kejam oleh rakyat. Amir Hamzah putra mahkota kesultanan Langkat dan Pujangga Baru mati dengan kepala terpenggal di Kuala Begumit, beberapa puluh kilometer dari ibukota kesultanannya Tanjung Pura. Raja Simalungun, menurut penuturan, dibunuh ketika sedang mengadakan kenduri. Kemudian dagingnya digulai. Penuturan ini kedengarannya agak sadis. 




[1] Dutch East India Company, Wikipedia, Online Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company

[2] Historical Statistics of the World Economy: 1 – 2006 AD, Angus Maddison, http://www.ggdc.net/Maddison/Historical_Statistics/horizontal-file_03-2009.xls
 



Catatan: EOWI mengucapkan berbahagialah di hari Ied yang penuh berkah.

Disclaimer:


Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya yaitu deflasi US dollar dan beberapa mata uang lainnya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, July 20, 2014

(No.43) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA



Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap hari Minggu atau Senen)



Periode Raja-Raja Nusantara dan Kompeni Belanda

Ada satu keputusan yang sulit dalam menyusun bab ini, yaitu menentukan titik untuk memulai cerita. Apakah akan dimulai dari kerajaan Mataram Hindu, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, atau kerajaan Mataram Islam. Setelah dipertimbangkan materi ceritanya, kita bisa lupakan saja hal itu, karena sebenarnya jaman kerajaan atau jaman republik polanya sama.

Sejarah terkadang ditulis berdasarkan penginggalan-peninggalan dan catatan masa lampau. Dan ini digunakan sebagai kerangka untuk penulisan sejarah. Selebihnya adalah bumbu dan mitos dari sang penulis apakah itu perorangan atau sebuah panitia. Mungkin yang lebih ilmiah adalah mengunakan prilaku masyarakat sekarang yang diekstrapolasi ke masa lalu. Dalam masa 500 tahun atau 2000 tahun, evolusi tidak akan banyak beranjak. Tatanan masyarakat 2000 atau 500 tahun lalu bisa diasumsikan sama.

Tatanan masyarakat di pasar, misalnya, ada pedagang, kuli yang mencari nafkah disana. Mereka ini kelas waisya. Di samping itu ada (sekelompok) jagoan tukang palak, kaum ksatria, yang memintai uang dari kaum waisya secara paksa dengan intimidasi. Dan kondisi seperti itu masih kita lihat sampai sekarang.

Dalam skala yang lebih besar adalah negara. Ada raja yang punya tentara yang kuat, dan ada penguasa-penguasa daerah yang tunduk kepadanya dan harus membayar upeti setiap tahunnya. Yang disebut penguasa daerah bisa bupati bisa juga raja-raja taklukan. Upeti yang dipersembahkan kepada raja berasal dari pajak yang ditarik dari rakyat – kelas waisya. Tidak ada pemilihan umum untuk memilih raja. Siapa saja yang bisa membentuk pasukan yang kuat dan bisa menguasai dan “memiliki” suatu daerah, maka ia bisa menjadi raja. Sangat sederhana.

Adakalanya penguasa tidak murni kelas ksatria, terkadang merupakan perpaduan antara kelas ksatria dan waisya. Pemerintah tidak hanya sebagai penguasa daerah, tetapi juga memiliki dan pengelola suatu tanah/daerah atau asset usaha yang memonopoli lewat kekuasaannya. Usahanya bisa merupakan perdagangan, industri, pertanian atau penyewaan tanah.

Ken Arok adalah pencuri, perampok, tukang palak yang berhasil masuk ke dalam lingkungan istana Tumapel. Masuknya Ken Arok, yang menurut sejarah resmi adalah seorang penjahat kecil, ke dalam kalangan istana Tumapel adalah sangat menarik. Predikat penjahat kecil kemungkinan salah. Yang lebih mungkin adalah bahwa Ken Arok adalah tukang palak yang disegani, yang dipakai oleh bupati Tunggul Ametung untuk menarik pajak. Analogi serupa masih dapat anda lihat di pasar-pasar atau jalan raya, dimana aparat keamanan resmi (polisi misalnya) bermain mata dengan pemalak, dan memperoleh setoran dari para pemalak. Ksatria resmi tidak ingin mengotori tangannya sehingga harus menggunakan ksatria tidak resmi.

Ketika Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, juga membuktikan dia bukan penjahat kelas teri. Membunuh raja atau bupati bukan gaya seorang penjahat kelas teri, apalagi kemudian Ken Arok mengawini janda Tunggul Ametung, yaitu Ken Dedes. Itu bukan prilaku penjahat biasa, melainkan politikus. Penjahat hanya memperkosa, bukan mengawini janda korbannya. Bahwa Ken Dedes mau dipersunting oleh Ken Arok, juga mengindikasikan bahwa Ken Arok bukan kelas begal dan perampok pasar, tetapi punya kelas yang elit. Kalau Ken Arok adalah begal pasar, sulit dipercaya bahwa Ken Dedes yang ningrat mau diperunting. Kecuali Ken Dedes adalah pelacur kelas bawah. Dari patungnya yang ada di musium Jakarta, sulit untuk bisa menyimpulkan bahwa Ken Dedes adalah pelacur kelas pasar.

Setelah berkuasa di Tumapel, kemudian Ken Arok meluaskan kekuasaannya dengan mengalahkan Kediri, dan kerajaannya dinamai Singosari. Hidup Ken Arok berakhir tragis dibunuh oleh anak tirinya, Anusopati yang merupakan anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung.

Anak Ken Dedes, keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung saling membunuh dan silih berganti berkuasa di Singosari, sampai akhirnya Kertanegara berkuasa.

Sebelum pemerintahan raja Kertanegara, fokusnya kekuasaannya masih di pulau Jawa. Ketika Kertanegara berkuasa, rupanya sebagai negara pedalaman yang pajaknya hanya bersumber dari pertanian, kurang memuaskan. Pajak dari pulau Jawa dirasa masih kurang, maka ekspansi teritorial ditingkatkan keluar Jawa, yaitu Sumatera dan Bali. Kemungkinan untuk mengejar pajak dari perdagangan di samping juga dari pertanian. Singosari menjadi imperium terlalu cepat. Ketika pasukan Kertanegara masih sibuk memadamkan kobaran-kobaran api di wilayah tepi imperium – Semenanjung Malaya,  tanpa diduga, Kediri daerah taklukan yang bawah pimpinan Jayakatwang, melakukan serangan untuk merebut kekuasaan Singosari dan berhasil.

Kediri tidak lama berdiri karena kemudian Raden Wijaya, yang katanya masih menantu Kertanegara, berhasil mengalahkan Jayakatwang, dan kemudian mendirikan kerajaan Majapahit. Berbeda dengan Kediri dan Singosari yang merupakan negara pedalaman, Majapahit adalah negara pesisir. Dari segi pajak, negara pesisir bisa memperoleh lebih banyak. Negara pedalaman lebih banyak mengandalkan pemasukan dari hasil bumi dan perdagangan darat yang tersebar. Sedangkan negara pesisir menguasai pelabuhan sebagai pintu  perdagangan antar pulau, dimana lalulintas uang terkonsentrasi. Peran apapun yang dimainkan penguasa, apakah sebagai pemegang monopoli perdagangan lewat kekuasaan  atau sebagai penarik pajak (tukang palak), pemasukan penghasilan akan jauh lebih effektif.  Tidak heran bahwa Majapahit kemudian menjadi imperium yang cukup besar.

Siklus negara/kerajaan sebelum masuknya bangsa Eropa ke nusantara, sama saja dengan siklus negara umumnya. Bermula dengan sebuah negara kecil. Kemudian agak serakah, dan melakukan ekspansi menaklukkan negara-negara tetangganya untuk menaikkan pendapatan negara. Dengan kemajuan ini, pengeluaran negara meningkat untuk hal-hal yang secara ekonomi tidak perlu. Ada yang membangun candi-candi, monumen-monumen yang menguras kas negara. Ekspansi wilayah jalan terus supaya bisa memperoleh upeti yang lebih banyak. Akhirnya jadilah sebuah imperium seperti Majapahit dan Sriwijaya. Tetapi imperium tidak bisa berekspansi terus menerus. Pada titik tertentu biaya ekspansi dan mempertahankan daerahnya dengan pemasukkan tidak lagi seimbang dan menjadi negatif. Biaya untuk mempertahankan kesatuan negara semakin membebani. Akhirnya imperium itu dengan sendirinya runtuh.

Pedagang tulen, petani dan pelaku ekonomi terus menjalani kehidupan mereka tanpa perduli siapa yang berkuasa selama beban masih bisa dipikul. Dalam perdagangan internasional diantara pelaku ekonomi ada semacam kesepakatan untuk menggunakan koin emas dan perak menjadi alat tukar selama berabad-abad. Koin tembaga, timah dan perunggu, logam murah, juga gunakan sebagai uang receh. Koin perak dari India, koin tembaga/perunggu dari Cina pada masa kerajaan-kerajaan ini banyak beredar bersama dengan perdagangan internasional.

Ketika bangsa Eropa datang, mereka juga membawa koin perak 8-Real Spanyol yang menjadi mata uang internasional. Koin 8-Real ini beratnya sekitar  27,468 grams dan mengandung 93,06% perak. Koin perak 8-Real ini dikemudian hari menjadi dasar pembuatan dollar perak Amerika Serikat, gulden Belanda dan mata uang negara-negara lain dikemudian hari. Dilihat dari beratnya, nilai 8-Real kira-kira setara dengan 6 – 7 ekor ayam. Jadi koin 8-Real masih termasuk uang pecahan yang besar untuk dipakai transaksi eceran. Selain 8-Real, beredar juga koin 4, 2, 1, 1/2 and 1/4 Real. Untuk pecahan yang lebih besar, digunakan uang emas. 


 
Koin 8-Real Spanyol, Perhatikan angka 8 yang tercetak pada koin ini

Belanda juga mencetak koin yang disebut rijksdaalder, dengan isi 25,70 gram perak murni, tetapi popularitasnya tidak bisa menyamai 8-Real Spanyol. Rijksdaalder mempunyai 0.54% lebih banyak perak dibandingkan dengan 8-Real Spanyol, oleh sebab itu banyak yang dilebur untuk dijadikan 8-Real.

Kalau anda telusuri kata perak di dalam bahasa pergaulan Indonesia, seperti contohnya pada kata 1000 perak yang artinya Rp 1000 atau 100 perak yang bermakna Rp 100, riwayatnya berakar ke jaman dan periode penggunaan koin perak ini. Demikian juga kata duit, berasal dari nama pecahan mata uang yang dikeluarkan VOC Belanda.

Sejarah mengatakan bahwa kedatangan bangsa Eropa – Belanda membawa kesengsaraan bagi bangsa di nusantara (Indonesia) karena mereka ini adalah penjajah. Seorang murid yang cerdas akan bertanya tentang apa sarana dan alat dari Belanda untuk menyengsarakan bangsa di nusantara (Indonesia) ini. Apakah pajak yang mencekik atau pencurian tabungan melalui inflasi atau kerja rodi. Dan pada akhirnya, kesengsaraan itu harus dibuktikan dengan penurunan GDP.

Ketika datang ke kepulauan nusantara, VOC (singkatan dari: Verenigde Oostindische Compagnie yang artinya Gabungan/Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) Belanda adalah dalam misi dagang bukan menjajah (mencari upeti). Karena VOC adalah perserikatan dagang yang terbesar pada jamannya yang sahamnya dijual kepada publik dan yang diberi hak monopoli perdagangan rempah-rempah oleh pemerintah Belanda. VOC juga dilengkapi dengan pasukan bersenjata untuk melawan saingannya, Portugis dan Inggris serta bajak-bajak laut dan penguasa lokal.

Ada kerancuan pengertian yang sengaja dibuat oleh sejarawan tentang bercokolnya Belanda di bumi nusantara ini. VOC dianggap sebagai penjajah. Kalau perusahaan dagang datang berbisnis dianggap sebagai penjajah, maka sampai sekarangpun Indonesia belum merdeka, karena banyaknya perusahaan asing yang melakukan bisnisnya di Indonesia, seperti Shell, BP, Freeport, MacDonald, Bayer, Carrefour dan lain-lain. VOC tidak identik dengan pemerintah.

Negri Belanda pada masa itu adalah republik federasi 7 negara Nederlands yang terdiri dari 7 provinsi/negara-bagian yang otonom yang dibentuk tahun 1587. Secara ekonomi Belanda sudah dianggap maju oleh para sejarawan. Amsterdam menjadi kota dagang yang makmur, mempunyai pasar modal yang permanen dan buka secara tetap. Salah satu siklus boom-bust pasar modal, mania dan bubble di bursa saham, pertama kali terjadi di sini, yaitu the tulip mania of 1636–1637. Bubble ini terjadi satu abad sebelum terjadinya bubble Mississippi Companynya John Law, 1719 – 1720. Dalam hal perdagangan dan ekonomi, Belanda termasuk maju pada waktu itu.

Alasan bahwa kedatangan bangsa Eropa ke bumi nusantara adalah karena mencari rempah-rempah, membuat pertanyaan besar di benak saya. Sejarah dinyatakan sahih kalau ada jejak-jejak yang bisa dirangkai menjadi sebuah cerita yang logis. Sejarah mengatakan bahwa bangsa Belanda pernah di Indonesia, dan ini meninggalkan banyak jejak-jejak yang bisa dilihat sampai sekarang. Kijing/Batu kuburan Jan Pieterszoon Coen, kuburan-kuburan Belanda, bangunan-bangunan bergaya Eropa dan juga banyaknya perbendaharaan kata-kata Belanda yang masuk ke dalam kosa-kata bahasa Indonesia. Sekarang bandingkan dengan anggapan/cerita bahwa kedatangan bangsa Belanda/Eropa adalah karena mencari rempah-rempah. Cerita ini tidak mempunyai jejak dan bekas-bekas sama sekali. Masakan Eropa tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Tidak perlu dibandingkan dengan masakan kari India yang sarat dengan rempah-rempah, cukuplah di bandingkan dengan masakan Padang, masakan Malaysia atau masakan Makassar, pemakaian rempah-rempah di dalam masakan Eropa masih kalah jauh. Untuk mengatakan bahwa harga rempah-rempah mahal, juga sulit, karena kebutuhan akan rempah-rempah bukanlah kebutuhan non-elastis. Ibaratnya, kalau tidak ada rempah-rempah, orang di Eropa tidak akan mati, ekonomi tidak akan terganggu, apa lagi berhenti. Untuk mengerti arti kata kebutuhan yang non-elastis, contohnya kebutuhan akan minyak bumi untuk menggerakkan ekonomi di dunia tahun 1970 sampai sekarang, dimana transportasi sangat bergantung pada minyak bumi. Kekurangan pasokkan minyak bumi akan mengganggu roda perekonomian. Kondisi ini tidak akan berubah sampai struktur sistem transportasi berubah dan tidak bergantung pada minyak bumi saja.

Kalau demikian halnya, apa sebabnya orang Eropa datang ke bumi nusantara? Ketika hal ini saya tanyakan kepada istri saya, untuk memperoleh pendapatnya, dia menjawab dengan seenaknya: “Mencari minyak telon barangkali?.” Saya masih tidak punya jawabannya. Menurut logika, seharusnya yang datang ke nusantara ini adalah orang-orang India yang makanannya penuh dengan bumbu rempah-rempah; bukan orang Eropa.

Ada yang mengatakan bahwa kedatangan bangsa Eropa ke wilayah Timur ini dalam rangka mencari emporium (pasar) baru setelah Constantinopel jatuh ke tangan Turki tahun 1453. Persoalannya dengan hipotesa ini ialah bahwa pusat perdagangan antara Timur dan Barat melalui jalan darat pada waktu itu masih berada di Venesia, yang kemudian tenggelam karena ditemukannya jalur laut yang lebih murah. Tetapi semua ini tidak bisa menjawab pertanyaan, kenapa tiba-tiba bangsa Eropa tertarik pada rempah-rempah padahal dalam makanannya tidak banyak diperlukan bahan rempah-rempah ini.

Penjelasan lain yang masuk akal berasal dari Bernard H M Vlekke[1]. Bangsa Eropa yang pertama datang ke wilayah Timur, India dan Nusantara, adalah bangsa Portugis. Bernard H M Vlekke secara implisit mengatakan bahwa kedatangannya bangsa Portugis ini dilandasi semangat reconquista dan crusader untuk menyebarkan agama dan melakukan penekanan terhadap bangsa “Moor” (istilah bangsa Portugis dan Spanyol untuk muslim). Semangat kemenangan atas sisa kaum Moor di Granada, semenanjung Iberia, tahun 1492, terbawa terus menjadi semangat untuk menaklukkan Afrika Utara dan daerah-daerah lain. Di jalur-jalur perdagangan, sasaran utamanya adalah pedagang-pedagang bangsa “Moor”. Oleh sebab itu armada mereka sering menyerang kapal-kapal pedagang Arab dan Gujarat yang diidentikkan dengan bangsa “Moor”. Kemudian mereka, Portugis, bercokol di Goa, India. Dengan menguasai sumber rempah-rempah (Maluku, Sumatera dan Jawa), dan pasarnya (India) Portugis mematikan mata pencarian pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang sebelumnya menguasai perdagangan rempah-rempah antara kepulauan Nusantara, India, Arab dan Cina ini. Penjelasan ini lebih masuk akal dibandingkan cerita bahwa orang-orang Eropa mencari rempah-rempah untuk mereka sendiri.

Kalau Spanyol dan Portugis datang untuk memotong peran bangsa “Moor” dalam jalur perdagangan rempah-rempah, maka kedatangan Belanda ke Nusantara, pada awalnya adalah untuk mematikan ekonomi Spanyol. Belanda yang sedang mengalami perang kemerdekaan (perang 80 tahun) melawan Spanyol. Pertempuran-pertempuran dan persaingan antara Belanda dengan Portugis di Nusantara adalah perluasan perang di Eropa, perang antara Uni Portugal-Spanyol melawan Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis. Hipotesa ini lebih masuk akal.

Karena kedatangan orang Eropa ke Nusantara bukan semata-mata murni untuk berdagang, tetapi ada motif-motif pergulatan politik di Eropa, maka yang disebut pedagang tidak lain adalah serdadu yang dipersenjatai. Ini berbeda dengan pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang sebelumnya memegang peran di Nusantara. Pedagang-pedagang Arab dan Gujarat tidak menggunakan senjata dalam misinya. Prilaku pendatang perintis Eropa seperti Ferdinand Magellan dan Cornelis de Houtman tidak sama seperti pedagang-pedagang layaknya. Mereka mengalami bentrok dengan penguasa lokal. Buktinya ada dari mereka yang mati di tangan penduduk lokal. Magellan mati di Filipina dan Houtman mati di Aceh.

Prilaku pedagang-pedagang Eropa ini agak aneh, karena sebelumnya Asia juga pernah kedatangan bangsa Eropa dan yang terkenal adalah Marco Polo dari Venesia. Venesia sendiri merupakan bagian dari jalur perdagangan jalan sutra (silk-road). Jadi perdagangan Eropa-Asia, sudah lama terbina di jalan sutra. Kenapa kemudian setelah Marco Polo prilaku pedagang-pedagang ini menjadi tidak professional? Apakah di Eropa terjadi revolusi kebudayaan, dari bangsa yang normal menjadi bangsa yang brutal? Saya tidak mempunyai jawaban mengenai pertanyaan ini. Saya akan serahkan kepada pembaca sekalian, untuk mencari jawabannya atau menerka-nerka. Andaikata anda juga tidak bisa menemukan jawabannya, anggap saja sejarah ini sebagai dongeng yang sangat sempurna karena bisa masuk ke sekolah-sekolah sebagai sejarah.

Apapun alasan bangsa-bangsa Eropa datang ke Timur, Tetapi demi kepentingan penulisan kisah ini, kita percayai cerita ini, walaupun kualitasnya tidak lebih baik dari sebuah dongeng. Dan kualitas ini tidak kalah dengan kisah sejarah lainnya. Dongeng saja.

Apapun sebabnya, kenyataannya Portugis, Spanyol dan Belanda memang datang ke bumi nusantara. Menurut sejarahnya, sebelum tahun 1700, VOC Belanda sudah membentuk basis/kantor/pergudangan di Coromandel, Gujarat India; Bengala/Bangladesh; Iran; Taiwan; juga mendirikan basis angkatan laut di Cape Town di Afrika Selatan,  dan meluaskan daerah perdagangannya ke Afrika, Arabia, Persia, India sampai ke Cina dan Jepang. Pada puncaknya jumlah kapal dagang VOC mencapai 4000 – 5000. Dengan aktifitas VOC seperti itu, populasi Belanda (termasuk dengan penduduk daerah yang sekarang disebut Belgia) yang pada tahun 1600 masih 1,5 juta jiwa dan meningkat menjadi 1,9 juta jiwa di tahun 1700 bisa di perkirakan populasi seperti ini tidak akan cukup mengelola secara langsung nusantara yang penduduknya mencapai 13 juta jiwa tahun 1700 dengan wilayah yang luas. Sebagai gambaran bagaimana sulitnya mengelola negri ini, pegawai negri Republik Indonesia tahun 2009 mencapai 4,4 juta. Bayangkan kalau tahun 2009 untuk mengurus wilayah seluas Indonesia di perlukan 4,4 juta pegawai negri, bagaimana mungkin negara yang berpenduduk 1,9 juta mengurus wilayah seluas ini? Kecuali dengan cara yang sangat effektif. Mungkin angka pegawai negri Republik Indonesia tidak relevan untuk dibandingkan. Hipotesa yang lebih baik dalam mengartikan sejarah adalah, bahwa yang disebut penjajahan kemungkinan adalah terbatas pada penaklukan penguasa-penguasa lokal. 

Catatan: Di antara banyak alasan konflik antara VOC dan penguasa lokal adalah keengganan VOC dan pedagang Eropa untuk membayar pajak. Ini bisa dilihat dari perjanjian-penjanjian di akhir suatu konflik. Seperti perjanjian Bongaya adalah pembebasan bea-cukai (pajak ekspor dan impor) bagi VOC serta monopoli perdagangan di wilayah Makassar. 


[1] Nusantara, Sejarah Indonesia, Bernard H M Vlekke, Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.



Disclaimer:

Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya yaitu deflasi US dollar dan beberapa mata uang lainnya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, July 13, 2014

(No.42) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA




Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21





(Terbit, insya Allah setiap hari Minggu atau Senen)




SEJARAH KEMAKMURAN BANGSA INDONESIA


  
History is a set of lies agreed upon

Sejarah adalah sebuah paket kebohongan yang disepakati untuk diterima sebagai kisah yang benar”

(Napoleon Bonaparte, panglima perang dan Kaisar Prancis)


  

Sejarah: Paket Kebohongan yang Disepakati Benar

Kata sejarah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab yang artinya pohon yang kemudian dikaitkan dengan pengertian silsilah. Kita tidak akan membahas pohon dan silsilah. Yang dimaksud sejarah disini adalah kata yang punya padanan bahasa Inggris history.

Dari pandangan pembaca buku sejarah yang skeptis, kata history, sering diplesetkan menjadi his story yang artinya ceritanya dia, bukan our story atau my story. Artinya cerita itu tidak 100% jujur dan objektif. Dengan kata lain sejarah mempunyai misi dan tujuan.

Kalau kita bersantai dirumah, pada hari hujan lebat, berbadai, pernahkan anda berpikir siapa yang menemukan semen, bahan bangunan yang akrab dengan anda dan sangat berguna untuk membuat rumah, tempat berteduh dari hujan dan terik matahari, berlindung di waktu malam dari pencuri dan penjarah. Berapa banyak benda-benda yang memudahkan hidup kita yang terbuat dari semen selain rumah; jembatan, tiang listrik, jalan, tanggul penahan ombak, dermaga kapal. Banyak lagi. Aneh bukan kalau penemu semen tidak ada yang tahu?

Kalau anda disuruh menyebutkan siapa presiden pertama Amerika Serikat, atau presiden pertama Indonesia, atau perdana menteri Canada pertama, maka dengan mudah anda menyebut nama G. Washington, Sukarno dan McDonald. Aneh bukan? Jasa apa yang mereka telah perbuat dalam kaitannya dengan kenyamanan hidup anda. Ambil saja Kemal Attartuk, atau Mahatma Gandhi? Apa jasa mereka kepada anda dan umat manusia sehingga nama mereka ada di buku-buku sejarah dan harus dipelajari dan membuat anda hapal? Bandingkan dengan penemu aspal, semen, lampu atau penicilin (antibiotik).

Supaya anda tidak penasaran akan saya sebut nama penemu aspal. Aspal di dalam bahasa Inggris disebut tarmac, singkatan dari tar McAdam. John McAdam, seorang Scot, adalah pioneer untuk penggunaan asphalt/bitumen untuk kostruksi jalan raya jauh sebelum tahun 1900. Untuk semen, barang ini sudah ada sejak jaman Romawi kuno, dan tidak diketahui siapa penemunya. Sedang untuk penicillin, walaupun awalnya ditemukan sebagai antibiotik oleh mahasiswa kedokteran Prancis Ernest Duchesne, tahun 1896, tetapi yang diakui penemunya adalah Alexander Fleming tahun 1928.

Bagaimana bisa, orang-orang yang justru memberikan jalan kemudahan dalam hidup kita ini seperti John McAdam, Alexander Fleming, Ernest Duchesne, Carnot, tidak dikenal secara luas, sedang Washington, Gandhi dan Sukarno, sangat dikenal? Jawabannya adalah sejarah. Kita di sekolah dipaksa mempelajari suatu paket cerita, legenda, dongeng yang disebut sejarah. Kalau kita kurang serius dan cerita itu tidak banyak yang menempel di otak kita, maka kita tidak lulus. Padahal guna sejarah nyaris tidak ada. Apa lagi kalau isinya penuh kebohongan.

Berbicara mengenai sejarah, banyak politikus penguasa berlomba-lomba menulis biografinya semasa dia berkuasa. Mungkin mereka takut bahwa nantinya sejarah mengenai mereka ditulis tidak sesuai dengan keinginan mereka. Di pihak lain, seorang penguasa yang memperoleh posisinya karena terpaksa, seperti Umar bin Khattab, semasa kekuasaannya malah melarang penulisan hadist nabi – orang yang dikaguminya. Apalagi biografinya sendiri. Kenapa Umar bin Khattab punya kecenderungan berbeda dengan politikus dan penguasa lainnya? Apa karena Umar bin Khattab mampu mengembangkan kekuasaannya yang semula hanya sebagian Jazirah Arab menjadi negara yang membentang dari Afrika Utara sampai perbatasan Cina dalam waktu 10 tahun?

Politikus secara umum adalah makhluk yang parasit di dalam masyarakat. Silahkan perhatikan kembali prilaku mereka. Istana negara bukan bangunan dimana lembaran baja masuk dan mobil-mobil baru keluar, seperti layaknya pabrik mobil. Demikian juga gedung parlemen, bukan gedung dimana pupuk dan bibit padi masuk, lalu padi dan beras keluar, seperti sawah.  Yang bisa kita amati adalah masuknya politikus dan kemudian makanan ke gedung parlemen, selang beberapa jam mereka keluar lagi dan besoknya makanan itu dikeluarkan di WC rumah mereka masing-masing.

Oleh sebab itu penguasa dan politikus memerlukan pembenaran mengenai keberadaannya di masyarakat, yaitu dengan indoktrinasi yang materinya disebut sejarah. Citra bahwa masyarakat memerlukan politikus dan penguasa harus diciptakan. Politikus/penguasa perlu dicitrakan sebagai komponen masyarakat yang paling essensiel. Penguasa/politikus mewajibkan pelajaran sejarah diajarkan di sekolah-sekolah sebagai indoktrinasi untuk memasukkan dogma ini.

Ada opini yang menarik dari Napoleon tentang sejarah. Katanya:

History is a set of lies agreed upon

Dengan kata lain Napoleon menganggap sejarah itu sama dan sejajar tingkat kejujurannya dengan dongeng, hikayat dan legenda.

Tentu saja kutipan di atas bukanlah kutipan asli, Napoleon tidak mengatakannya dalam bahasa Inggris. Buku ini akan bohong kalau mengatakan bahwa ucapan tersebut adalah ucapan Napoleon, karena bahasa Inggris bukan bahasa Napoleon sehari-hari dan Inggris adalah musuh besarnya. Akibat dominasi budaya Anglo-Saxon, maka terjemahan dalam bahasa Inggrisnya lah yang paling banyak ditemukan di literatur-literatur. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa sitiran di atas adalah dari Napoleon, maka yang mengatakannya itu bohong. Yang benar kemungkinan bahwa Napoleon mengatakan seperti ini (google translate):

“L'histoire est un ensemble de mensonges convenu”

Sitiran itu kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi:

“Sejarah adalah sebuah paket kebohongan yang disepakati untuk diterima sebagai kisah yang benar.”

Tidak sulit untuk membuat suatu kebohongan untuk bisa diterima sebagai kebenaran. Menteri Propaganda Jerman di masa Hitler, yaitu Joseph Goebbels mengatakan:

If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it. The lie can be maintained only for such time as the State can shield the people from the political, economic and/or military consequences of the lie. It thus becomes vitally important for the State to use all of its powers to repress dissent, for the truth is the mortal enemy of the lie, and thus by extension, the truth is the greatest enemy of the State.”

Ucapan sebenarnya tentu saja dalam bahasa Jerman. Terjemahan bahasa Indonesianya adalah:

Bikinlah kebohongan yang besar dan dengungkanlah secara terus menerus, orang akhirnya akan menerimanya sebagai kebenaran. Kebohongan itu bisa dipertahankan sepanjang pemerintah bisa menutupi pandangan rakyat dari melihat konsekwensi politik, ekonomi dan militer kebohongan tersebut. Jadi adalah sangat penting bagi pemerintah untuk menggunakan kekuasaannya untuk menindas semua opini yang berbeda (dan ada benar), karena kebenaran adalah musuh utama dari kebohongan, dengan demikian kebenaran adalah musuh utama dari pemerintah.”

Goebbels mepraktekannya selama ia menjabat sebagai menteri propaganda Jerman pada tahun 1933 – 1945. Dukungan rakyat Jerman terhadap Hitler tidak pernah luntur sampai akhirnya rejim mereka semua dihancurkan sekutu. Tidak hanya itu, Joseph Goebbels sendiri termakan oleh kebohongannya. Dia juga ikut percaya atas kebohongannya sendiri. Dia begitu percaya kebohongan yang dibuatnya tentang supermasi Aria, Nazi Jerman dan Hitler sampai-sampai ke enam anak-anaknya diberi nama dengan huruf awal H; Helga, Hildegard, Helmut, Holdine, Hedwig dan Heidrun sebagai tanda kekagumannya kepada Hitler. Joseph Goebbels dan istrinya Magda Goebbels terpaksa berhadapan dengan kenyataan pahit, ketika Hitler bersama dirinya terkurung di dalam bunker dan terkepung tentara Uni Soviet di akhir perang. Magda membunuhi anak-anaknya satu per satu. Kemudian sendiri bunuh diri mengikuti tindakan Hitler.

Sejarah menceritakan romantisme dan kehebatan para pelaku sejarah. Apakah itu seorang perampok/pencuri seperti Ken Arok, atau pembunuh berdarah dingin seperti Gajah Mada (ingat pembantaian di Bubat), atau Abraham Lincoln yang mengantar 2% rakyatnya ke liang kubur. Oleh sejarah mereka dijadikan pahlawan. Romantisme, memberikan warna corak make-up dan bumbu berupa kehebatan dan keagungan para pelaku sejarah membuat pembacanya lupa essensi nilai-nilai moralnya. Moral yang bejad bisa tertutupi oleh make-up dan bumbu romantisme kemudian makna citranya diputar-balikkan. Tindakan Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, bupati, bapak angkatnya, dan mengawini janda bapak angkatnya ini, yaitu Ken Dedes kemudian menggantikan posisi bupati, bukan tindakan yang bermoral. Atau tindakan Gajah Mada membunuh seluruh keluarga calon mempelai wanita dari rajanya, bukan juga tindakan yang bermoral. Tetapi toh, keduanya dipersepsikan sebagai pahlawan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan.

Sejarah juga menghapus catatan hitam seseorang. Anda tidak pernah mendengar rejim Sukarno memenjarakan group penyanyi Koes Bersaudara karena ketidak sukaan Sukarno pada lagu-lagu Koes Bersaudara yang cengeng. Apakah itu bukan mencerminkan Sukarno sebagai penindas yang semena-mena? Atau memenjarakan selama bertahun-tahun politikus yang tidak disukainya seperti Mohammad Natsir (perdana menteri Indonesia ke 5), Sutan Syahrir (perdana menteri Indonesia pertama), Yunan Nasution (Ketua partai Masyumi), Burhanuddin Harahap (perdana menteri Indonesia ke 9), Buya Hamka (da'i dan pengarang),  Syafruddin Prawiranegara (kepala negara dimasa darurat, menteri keuangan, perdagangan dan pertanian di beberapa kabinet), Assa’at (politikus Masyumi pernah menjadi pejabat presiden, Desember 1949 – Agustus 1950), Prawoto Mangkusasmito (wakil perdana menteri Indonesia ke-9), Mohammad Roem (menteri luar negri ke 4), Isa Anshary (politikus Islam, dan anggota parlemen serta Konstituante), EZ Muttaqien (da'i), Kasman Singodimedjo (jaksa agung kedua Indonesia) dan sederet nama lagi. Dalam buku sejarah Jepang yang diajarkan di sekolah-sekolah Jepang, sama sekali tidak menyebutkan kata romusha atau jigun ianfu (wanita-wanita yang diperdayakan dan kemudian dijadikan budak seks tentara Jepang di masa Perang Dunia II).

Pembentukan citra bahwa politikus adalah kaum yang penting adalah sangat universal. Di Indonesia pun sejarah selalu mengagungkan kaum kstaria. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” kata Sukarno, walaupun seorang Ken Arok, pencuri/perampok yang naik pangkat menjadi raja. Kita lihat bagaimana bangsa ini membanggakan perang kemerdekaan yang heroik dan penuh romantisme. Bagi yang tidak merasakan kesengsaraan perang, nampak seakan perang itu indah, heroik dan penuh romantisme. Tetapi, saya berani bertaruh kalau anda berada di medan perang dan tertembak kakinya. Tidak mati dan tidak hidup, dikepung musuh......., mungkin anda terkencing-kencing di celana karena ketakutan atau lebih baik bunuh diri untuk menghilangkan stres. Nenek saya yang harus mengungsi ketika perang kemerdekaan, dan ketika perang usai ia mendapati rumahnya rusak, emasnya yang ditanam (dipendam) di lantai kamar hilang, sawahnya rusak. Akan tetapi kadang ia masih terbius oleh image yang diciptakan para politikus.

Kalau anda berpikir, apa gunanya perang? Suriname toh bisa merdeka tanpa perang. Juga Malaysia, Singapura, Canada....., dan sederet lagi. Perang tindakan tolol yang perlu pengorbanan sia-sia. Jangan tanyakan hal ini kepada politikus, mereka akan membantahnya. Tetapi satu hal, fakta bahwa Malaysia, Brunei, Singapura atau Suriname merdeka tanpa setetes darah pahlawan, adalah tidak bisa dipungkiri. Apakah pahlawan yang mati pada saat kemerdekaan adalah sia-sia, dalam arti menjalani kematian yang seharusnya bisa dihindari? Anda tidak perlu menjawabnya, cukup merenungkannya. Tetapi saya ingatkan, pengaruh doktrin sejarah terhadap pola pikir anda cukup kuat.

Harus diakui bahwa tidak semua warga ksatria dalam sejarah atau legenda digambarkan sebagai pahlawan. Pahlawan selalu memerlukan musuh – the bad guys. Hitler, Mussolini, Hideki Tojo, dimasukkan dalam satu group bersama dengan Rahwana dan Kurawa, yaitu the bad guys. Mungkin Hitler dan Mussolini tidak lebih buruk dari Abraham Lincoln. Hanya saja, para penulis sejarah tidak berpihak pada Hitler dan Mussolini karena mereka dipihak yang kalah dan tidak mempunyai kontrol terhadap penulisan sejarah. Jepang misalnya berusaha menghilangkan kisah mengenai romusha dan jigun ianfu serta kekejaman mereka terhadap tawanan perang mereka, tetapi sampai sekarang masih terus ditekan oleh negara-negara yang pernah menderita akibat prilaku Jepang di perang Pasifik. Padahal kekejaman dan kebrutalan tidak hanya dilakukan oleh pasukan Jepang, tetapi juga oleh pasukan Amerika. Banyak tentara Amerika yang memutilasi jasad tentara Jepang yang terbunuh untuk diambil bagian-bagian tubuhnya sebagai kenang-kenangan[1]. Anggota badan yang paling disukai adalah gigi (emas) untuk digunakan sebagai kalung, tengkorak untuk pajangan dan souvernir, telinga untuk dikalungkan, dan lain sebagainya. Banyak jasad tentara Jepang yang mati di pertempuran Saipan dan Iwo Jima sudah tidak berkepala lagi. Tetapi kekejaman ini tidak masuk dalam buku sejarah Amerika. Sama seperti kasusnya romusha dan jigun ianfu di dalam sejarah Jepang.

Jadi tidak salah kalau Napoleon mengatakan bahwa: “Sejarah adalah paket kebohongan yang diterima sebagai kisah yang benar”. Andaikata pembaca tidak setuju dengan hal ini, tidak usah heran. Karena kemungkinan anda telah dicuci otaknya dari sejak sekolah dasar dengan menggunakan kaidah-kaidah Goebbles: “Bikinlah kebohongan yang besar dan dengungkanlah secara terus menerus, orang akhirnya akan menerimanya sebagai kebenaran.”






[1] “American mutilation of Japanese war dead”; Wikipedia online encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/American_mutilation_of_Japanese_war_dead
 



Disclaimer:


Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya yaitu deflasi US dollar dan beberapa mata uang lainnya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, July 7, 2014

Menurut Prabowo, Menurut Jokowi dan Menurut Kamus Essensialis EOWI



Dalam kampanye pemilu kali ini banyak slogan, janji, issue, dsb yang dilemparkan oleh kedua kubu kandidat. Bagi orang waras, ocehan mereka sudah bisa dipahami artinya. Beginilah arti dan makna yang hakiki dan tersirat itu.



Menghina Gus Dur

Menurut kubu Jokowi: Prabowo menghina Gus Dur dengan membandingkan Gus Dur dengan PM Inggris saat itu Tony Blair, Presiden AS George W Bush, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dan mengatakan ketiga pemimpin asing tersebut lelaki tampan sedangkan Indonesia mempunyai seorang laki-laki buta.

Menurut kubu Prabowo:No comment.“

Menurut Kamus essensialis EOWI: Lha…DPR juga malu dan malah mempermalukan Gus Dur dengan memecatnya.Tuntut juga DPR!!!


Diberhentikan dari jabatannya

Menurut kubu Jokowi: (Prabowo) diberhentikan (atas rekomendarsi dewan kehormatan ABRI) dari jabatannya di ABRI karena melakukan kesalahan yang fatal.

Menurut kubu Prabowo:No comment.“

Menurut Kamus essensialis EOWI: Tidak hanya Prabowo, tetapi juga
  1. Gus Dur, bapak bangsa, tetua NU, diberhentikan oleh DPR. Artinya aibnya lebih besar karena yang memberhentikan adalah wakil rakyat, bukan sekedar dewan kehormatan ABRI!!!
  2. Presiden Sukarno, proklamator, pemimpin besar revolusi, bapaknya Megawati ketua PDIP, lawan Prabowo dalam Pemilu 2014, diberhentikan oleh MPRS, wakil rakyat Indonesia. Artinya aibnya jauuuuh lebih besar!!!
  3. Presiden Suharto, bapak pembangunan Indonesia, dipaksa lengser oleh rakyat. Artinya aibnya jauuuuh lebih besar!!!


Ganjelan masa lalu

Menurut kubu Jokowi: Orang yang diduga tersangkut tindak penculikan dan pembunuhan politik (jari meunjuk kea rah Prabowo) tidak layak menjadi presiden

Menurut kubu Prabowo:No comment.“

Menurut Kamus essensialis EOWI:
  1. Gus Dur dibelakang Banser yang diduga ikut membantai orang yang dianggap PKI tahun 60an. (Diakui oleh Gus Dur sendiri), tidak layak jadi presiden. Oleh sebab itu dilengserkan oleh DPR.
  2. Sukarno yang terlibat dalam pembasmian DI-TII, Permesta, yang mengorbankan banyak nyawa termasuk Kartosuwiryo teman nya (Sukarno) tidak layak menjadi presiden. Oleh sebab itu MPRS melucutinya.
  3. Presiden Suharto, bapak pembangunan Indonesia, diduga terlibat dalam penculikan pembunuhan 3 juta orang yang dianggap PKI, maka tidak layak jadi presiden, oleh sebab itu dipaksa lengser oleh rakyat.


(Jokowi) orang Cina dan non muslim

Kubu Prabowo: (Jokowi) orang Cina dan non muslim

Menurut kubu Jokowi: Siapa yang Cina dan siapa yang non muslim?

Menurut Kamus essensialis EOWI: Faham anti pancasila dan UUD45, orang Cina dan non muslim tidak boleh jadi presiden


Program Jokowi

1.   Meningkatkan profesionalisme, menaikkan gaji dan kesejahteraan PNS, TNI dan Polri secara bertahap selama lima tahun. Program renumerasi PNS akan dituntaskan di tingkat pusat dan diperluas sampai level daerah.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Pajak akan bertambah untuk membayar kenaikkan ini, tetapi tidak diimbangi dengan pelayanan.


2.   Mensejahterakan desa dengan cara mengalokasikan dana desa rata-rata Rp1,4 miliar per desa dalam bentuk program bantuan khusus dan menjadikan perangkat desa jadi PNS secara bertahap.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: penggembungan birokrasi yang akan diimbangi dengan pajak yang akan bertambah untuk membayar penggembungan birokrasi tanpa ada perbaikan pelayanan. Kata:  “Mensejahterakan desa“ harus dibaca “Mensejahterakan perangkat desa“


3.  Meningkatkan anggaran penanggulangan kemiskinan termasuk memberi subsidi Rp1 juta per bulan untuk keluarga pra sejahtera sepanjang pertumbuhan ekonomi di atas 7%.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Masih kalah dengan idenya Rob Rainer, yaitu penghasilan minimum $ 20,000 bagi setiap orang (pengangguran dan gelandangan). Duitnya darimana ya? Ini tautannya: http://news.ca.msn.com/canada/guaranteed-dollar20k-income-for-all-canadians-endorsed-by-academics


4.  Program kepemilikan tanah pertanian untuk 4,5 juta kepala keluarga. Pembangunan/perbaikan irigasi di 3 juta ha sawah. Pembangunan 25 bendungan, 1 juta ha lahan pertanian baru di luar jawa dan pendirian bank petani dan UMKM serta penguatan Bulog.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: 4.5 juta kepala keluarga akan perahan Bulog dan tertinggal secara ekonomi dari orang-orang yang berurbanisasi ke kota menjadi pembantu, supir, pelayan mini-market, pemulung, dsb. Dan bank petani akan bangkrut atau sebagai alat penghisap darah petani.


5.    Perbaikan 5.000 pasar tradisional dan membangun pusat pelelangan, penyimpanan dan pengolahan ikan.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Usaha yang membuang-buang sumber daya kapital, 5000 pasar tradisionil hidup sesuai dengan iramanya sendiri.


6.   Menurunkan pengangguran dengan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru selama lima tahun. Bantuan dana Rp10 juta per tahun untuk UMKM/koperasi. Mendorong, memperkuat dan mempromosikan industri kreatif dan digital sebagai salah satu upaya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Ketua/wakil ketua RT dan ketua/wakil RW untuk seluruh Indonesia sudah cukup 10 juta lapangan kerja baru. Kreatif bukan? Tambah pemekaran RT dan RW kalau perlu!!!


7.   Layanan kesehatan gratis rawat inap/rawat jalan dengan Kartu Indonesia Sehat, 6.000 puskesmas dengan fasilitas rawat inap serta air bersih untuk seluruh rakyat.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Tidak ada yang gratis di dunia ini. Dokter dan perawat harus ada yang bayar gajinya, dan itu rakyat pembayar pajak. Kalau ada yang gratis maka di balik itu harus ada yang bayar, plus biaya administrasinya yang rawan dikorupsi. Dan untuk air bersih……, PAM saja tidak bisa melayani Jakarta, alih-alih seluruh rakyat. Mendingan Aqua (air kemasan) dinikmati sampai kepelosok-pelosok.


8.  Membantu meningkatkan mutu pendidikan pesantren guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Meningkatkan kesejahteraan guru-guru pesantren sebagai bagian komponen pendidik bangsa.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Sudah ada contoh, sekolah negri. Sudah berpuluh-puluh tahun dikelola pemerintah, tidak bisa bersaing dengan sekolah swasta.


9.   Mewujudkan pendidikan seluruh warga negara termasuk anak petani, nelayan, buruh termasuk difabel dan elemen masyarakat lain melalui Kartu Indonesia Pintar.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Orang bisa menyediakan kuda sebuah kolam air yang besar bahkan sebuah waduk, tetapi tidak bisa memaksa kuda untuk minum. Artinya, membuang-buang dana pembayar pajak, kalausemua warga negara dikasih fasilitas pendidikan tetapi yang serius belajarnya dan mau menjadi pintar cuma sedikit. "Menjadi pintar" perlu kemauan dan usaha.


Program Prabowo

1.  Memprioritaskan alokasi anggaran untuk pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)


Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)

2.   Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lain untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil dan menengah

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)


3.      Mendirikan Bank Tani dan Nelayan

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)


4.      Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)


5.      Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Maksudnya.....nasib buruh tidak seperti buruh pabrik kertas Kiani?


6.  Mengalokasikan APBN minimum Rp1 miliar/desa/kelurahan per tahun langsung ke desa/kelurahan dan mengimplementasikan Undang-undang Desa

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #2 programnya Jokowi)


7.      Mendirikan lembaga tabung haji

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Hallo......., kapan naik hajinya? Keburu mati. Antreannya sudah panjang mas!! Kalau nggak mati, nilai tabungannya akan turun banyak. Dengan tingkat inflasi riil sekarang (± 15%) setiap 4 tahun nilai uang turun 50%. Nah kalau menunggunya sampai 16 tahun......, berapa rugi akibat inflasinya?


8.   Mempercepat reformasi agraria untuk menjamin kepemilikan tanah rakyat, meningkatkan akses, dan penguasaan lahan.

Arti menurut Kamus essensialis EOWI: Prabowo sudah kehabisan ide. (Lihat point #4 programnya Jokowi)



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.