_____________________________________________________________________________________________________________________




Sunday, July 5, 2015

Bursa Cina Crash?



Gejolak 2014 - 2020



Tidak Belajar

(Kekayaan Lenyap per Minggu Setara 1 Tahun GDP Indonesia)

Ada kata-kata bijak dari Kong Hu Cu:
Ada tiga cara untuk belajar dan menjadi bijak.
  1. Pertama dengan perenungan yang dalam dan matang, ini adalah cara yang paling mulia dan kerén.
  2. Kedua dengan mencontoh, ini adalah cara yang paling mudah.
  3. Dan ketiga adalah dari pengalaman, ini adalah yang paling menyedihkan dan menyengsarakan. EOWI menambahkan: Untuk mengerti kok harus menderita dulu.
EOWI menambahkan lagi:
  1. kalau orang tidak bisa belajar dari pengalaman......, entah apa namanya. Quran menyebutnya sebagai asfala safiliin. Keledai saja yang bodoh tidak akan jatuh di lubang yang sama, bagaimana manusia yang tidak bisa belajar dari pengalaman?
Banyak orang (Cina) mungkin masuk pada kategori 4.
Bursa saham Cina boleh dikata crash. Indeks komposit Shanghai jatuh 26% dari top (puncak)nya dalam 3 minggu. Dari level 5,178 interday high tanggal 12 Juni 2015 ke 3,837 closing tanggal 3 Juli 2015. Bursa Shanghai dan Shenzhen yang mempunyai kapitalisasi pasar total sekitar $ 10 – 11 trilyun pada awal bulan Juni 2015, kehilangan hampir $ 3 trilyun. Ini 3 kali GDP Indonesia!! Wow....!
Dalam 1 tahun terakhir ini, bursa saham Cina kebanjiran peminat. Orang Cina seperti sudah kehabisan obyek untuk dispekulasikan setelah harga properti mendingin. Indeks saham Shanghai melonjak 2.5 kali lipat hanya dalam kurun waktu 1 tahun. Dengan crash seperti ini, mungkin pesta sudah berakhir. Dan target akhir untuk indeks Shanghai di sekitar 1,750. Uups.

Chart- 1
Ini mengingatkan saya pada saham BUMI yang dulu sampai mencapai di atas Rp 8000 dan sekarang masuk kategori saham gopek-an. Kasihan yang beli di harga Rp 8000an itu.
Walaupun Cina punya Kong Hu Cu dengan segala kata-kata bijaknya, tetapi mereka, orang Cina tidak bisa belajar. Yang pasti mereka yang ikut berpartisipasi dan rugi di bursa ini bukan manusia kategori 1 dari mampu merenung, berpikir yang jernih untuk bisa memperoleh pencerahan dan kebijakan.
Mereka juga bukan kategori 2. Seharusnya mereka bisa belajar dari tetangga mereka, yaitu Jepang. Jepang mengalami boom ekonomi di tahun 1980an. Kemudian menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke 2 setelah US. Pertumbuhan ekonominya demikian pesatnya, sampai-sampai banyak yang berpikir bahwa Jepang akan menyusul US dan rajai ekonomi dunia. Bubble di sektor properti. Bubble di bursa saham.
Tetapi apa yang terjadi di tahun 1990?
Crash!......., sektor properti crash......., saham juga crash. Setelah 25 tahun, indeks Nikkei masih tersisa 50% nya saja. Kalau dinilai dengan memperhitungkan inflasi selama 25 tahun itu, entah berapa nilainya.

Chart- 2
Padahal jarak antara bursa Nikkei di Tokyo dan dan bursa Shanghai hanya 1760 km (2 kali Bandung – Denpasar). Toh orang-orang di bursa Shanghai tidak bisa belajar.
Apakah mereka ini masuk pada kategori 3, yang hanya bisa belajar dari pengalaman sendiri?
Tidak juga.........., baru saja orang-orang Cina ini, investor retail, anggota masyarakat awam ini terjerumus ke dalam spekulasi properti yang membubble., yang kemudian membeku. Turun perlahan-lahan, yang membuat banyak spekulator berdoa.......moga-moga naik lagi. Tetapi yang ditunggu tidak naik-naik.
Mungkin mereka ini pendatang baru, yang belum berpengalaman. Mungkin. Mungkin akhirnya menyesal seperti mereka yang membeli BUMI di bursa Jakarta. Mungkin juga orang bego...., yang tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri. Siapa perduli...!

Goreng Terus Sampai Hangus

Jangan salah sangka......, tidak semua orang Cina bego. Ada juga yang pintar, mungkin juga banyak. Iya......banyak terutama insider alias orang-orang dalam, pemilik perusahaan, jajaran managemen atasnya. Contohnya adalah Li Hejun, CEO dari Hanergy Thin Film Power Group http://www.hanergy.com yang usahanya di bidang energi terbarukan (termasuk hidro-elektrik).
Setahun lalu harga saham Hanergy yang perdagangkan di bursa Hongkong hanya berkisar $0.18. Kemudian beberapa bulan lalu melonjak ke $7.5. Apakah kenaikkan ini karena digoreng oleh para insider, entahlah. Perlahan-lahan mereka menjual sahamnya. Dan akhirnya setelah digoreng sampai hangus, saham dijatuhkan. Perdagangan saham Hanergy kemudian disuspensi. Dengar-dengar harga saham di pasar negosiasi hanya $0.18 saja, kembali ke harga awal. Spekulan retail yang terperangkap seperti ikan teri yang digoreng hidup-hidup.

Chart- 3
Di samping Hanergy, ada lagi Goldin Financial Holding. Awalnya sahamnya hanya berkisar di $4 Hongkong. Beberapa bulan lalu melesat sampai ke $29, untuk kemudian dijatuhkan kembali ke $8.

Chart-4
Kejatuhan Hanergy dan Goldin bersama-sama membukukan kerugian spekulan sebesar $ 36 milyar (Hongkong tentunya). Dan..... keuntungan $36 milyar untuk para penggorengnya, seperti Li Hejun. Sudah kaya....menjadi semakin kaya lagi.
Sepertinya, banyak yang digoreng hidup-hidup dan ini membuat saya ingat kasus BUMI. Bedanya, BUMI digorengnya dengan api kecil, membuat sakitnya dan siksaannya berkepanjangan. Dari saham pekceng ke saham gocap memakan waktu 7 tahun.

Renungan

Uang sebesar 3 kali GDP Indonesia menguap dalam waktu 3 minggu. Itu jumlah yang besar dan dalam waktu yang pendek. Artinya uang sebesar yang dihasilkan oleh ekonomi Indonesia 1 tahun lenyap hanya dalam 1 minggu. Itu terjadi di bursa Cina.
Apakah tidak akan merambat ke sektor lain, ekonomi misalnya. Kemudian disusul spill-over ke negara-negara lain? Seperti Jepang, Korea, tetangganya. Atau partner dagangnya seperti US, Iran, Australia,.......Indonesia.
Ingat Jepang dulu di tahun 1980an. Bukankah banyak kemiripan dengan Cina sekarang? Pertumbuhan ekonomi yang cepat, yang melesat menjadi ekonomi ke 2 dunia setelah US. Diramalkan akan menyusul US..........entah apa lagi. Bukankah tidak mungkin akan bernasib seperti Jepang. Crash di bursa saham dan properti, disusul dengan resesi dan pertumbuhan ekonomi yang marginal selama 25 tahun. Stimulus selama 25 tahun tidak mempan.
Tadi disebutkan Indonesia? Yang mungkin kena dampaknya. Mmmmm..... Indonesia..., Indonesia. Skenario yang paling berpeluang terjadi adalah, harga komoditi bahan tambang (dan minyak) turun lagi, karena karena resesi di Cina. Pendapatan pemerintah dari sektor ini turun lagi. Pemerintah mengejar-kejar orang untuk membayar pajak. Kantor pajak akan berburu di kebun binatang, menembak gajah yang ada disana – itu kiasan untuk lebih membebani pembayar pajak yang taat. Perlambatan ekonomi. Rupiah perlahan-lahan melemah.
Secara implisit, skenario di atas mengatakan bahwa ekonomi Cina akan melambat dan resessi. Tentu saja ada skenario lain. Misalnya crash landing, dana asing keluar secara berbondong-bondong, atau/disertai pembersihan politik. Ini akan merambat dengan cepat kemana-mana dan credit line akan beku. Itu yang parah. Harga properti di kota-kota yang menjadi tujuan jutawan Cina seperti Toronto, Vancouver, Singapore, Melbourne.......akan crash. Selanjutnya bisa anda bayangkan sendiri. Pada saat credit line tutup, credit mengering dana asing tergesa-gesa keluar, maka rupiah juga akan crash.
EOWI tidak yakin skenario ke 2 akan terjadi. Ketika tahun 1990 Jepang mengalami crash dan Uni Soviet secara bersamaan runtuh; dunia tidak banyak terpengaruh. Entahlah kalau kali ini berbeda.
Sekian dulu. Semoga cerita ini ada hikmahnya bagi anda. Ini adalah doa EOWI yang secara implisit berbuny: “Semoga pembaca EOWI setidaknya ada pada kategori 2 dan 1 menurut pembagian Kong Hu Cu”. Itu doa kami untuk pembacanya. Dan semoga anda termasuk yang selamat bahkan memperoleh keuntungan selama Gejolak 2014 – 2020 ini. Amiiiiiiin.
EOWI sedang melakukan kampanye untuk menaikkan jumlah follower nih. Supaya lebih kerén. Kalau anda belum jadi follower EOWI, silahkan klik link untuk jadi follower, supaya EOWI jadi kerén, karena banyak followernya. Dan anda juga jadi kerén karena membaca secara rutin situs ekonomi alternatif yang terbaik di Indonesia.
 



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, July 3, 2015

Deflasi atau Inflasi? (1): Fakta



Tulisan ini saya dedikasikan kepada para baby boomer Indonesia yang sedang memasuki masa pensiunnya. Karena dimasa yang tidak lama lagi, ada peluang  untuk terjadi krisis ekonomi. Dan saat nanti itu, sifatnya global.
Beberapa hari yang lalu, saya membicarakan seorang paman dengan adik saya yang tinggal di London. Dulu sekitar tahun 1992 ia memperoleh uang pensiun sebesar Rp 60 juta. Saya perkirakan tabungannya mungkin ada sekitar Rp 150 juta. Sehingga total simpanannya untuk menyongsong masa tuanya mencapai Rp 200 jutaan. Di masa itu Rp 200 juta itu banyak sekali.  Gaji pembantu masih Rp 50,000. Dan untuk hidup biasa cukup Rp 1 juta. Jadi Rp 200 juta dengan dia bisa hidup sekitar 15 - 20 tahun dari tabungannya.
Sayangnya.....tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia. Dan 80% dari nilai tabungannya amblas. Terus bagaimana dia harus hidup untuk sisa umurnya?
Obrolan saya dengan adik saya itu berawal mengenai menguapnya uang suaminya dan dirinya yang disimpan di salah satu anak perusahaan bank Lloyds di Cayman. Karena ada persoalan dengan debiturnya, bank tersebut di-rushed oleh deposan-deposan besarnya. Adik saya dan suaminya adalah investor kecil dan bukan deposan yang besar. Dan informasi semacam ini investor kecil adalah orang-orang yang terakhir tahu. Oleh sebab itu depositnya sebesar ₤ 350,000 (Rp 7.3 milyar) amblas. Padahal uang itu sebenarnya akan dipakai untuk membeli rumah.
Ini adalah kisah nyata. Yang satu kehilangan sebagian besar nilai tabungannya dan yang satunya lagi kehilangan seluruh tabungannya. Bisa dibayangkan jika hal ini terjadi lagi. Entah bagaimana cara para baby boomer Indonesia melewati masa tuanya, jika mereka tidak siap. Itulah sebabnya, tulisan ini saya dedikasikan untuk para baby boomer Indonesia....., yang akan/baru saja memasuki masa pensiunnya.
Cerita ini akan saya mulai dengan dua (2) penyataan:
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang, tetapi masyarakat tidak bisa dipaksa untuk mengambil kredit untuk membeli, mengkonsumsi sehingga roda ekonomi berputar.
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang dan membiarkan masyarakat spekulan menggunakannya untuk berspekulasi bahkan pemerintah ikut meningkatkan pemborosannya dengan proyek-proyeknya yang absurd serta ikut memborong saham dan bersama-sama dengan spekulan mendongkrak harga asset (properti, saham, bond, akik dan barang koleksi) dan selanjutnya menjadikannya bubble, dan diharapkan pada akhirnya dikalangan masyarakat memberikan rasa kaya dan makmur yang notabene adalah illusi. Selanjutnya diharapkan memberikan effek trickle down dengan memicu konsumsi,.......yang akhirnya memutar roda ekonomi. Tetapi...... tidak ada yang bisa memaksa masyarakat untuk tidak merasa kuatir akan masa depannya dan mulai menabung, melunasi hutangnya dan berhemat.
 Kurang lebih begitulah gambaran yang menjadi latar belakang stimulasi ekonomi yang dilakukan pemerintah. Roda ekonomi bisa berjalan lagi jika ada pengglontoran liquiditas. Itulah yang diinginkan pemerintah serta bank-bank sentral untuk bisa membuat negaranya keluar dari lingkaran deflasi, dimana masyarakatnya sedang menahan diri dari belanja dan konsumsi. Sayangnya pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat untuk tidak mementahkan usahanya.
Deflasi terjadi di masyarakat yang sedang punya kecenderungan untuk menabung, menunda konsumsi dan melunasi hutangnya. Dan ini dipersepsikan akan membuat permintaan atas barang dan jasa turun, dengan demikian harga barang cenderung turun dan roda ekonomi melambat, pemasukkan pajak pemerintah turun, sehingga pemerintah harus mengurangi kegiatannya.
Dimasa deflasi, nilai uang meningkat karena meningkatnya daya beli uang akibat penurunan harga barang. Uang $10 yang tadinya hanya bisa untuk membeli rupiah sebesar Rp 90,000, ketika harganya turun 40%, maka dengan $10 itu bisa memperoleh Rp 166,000. Dalam kondisi ini, beban hutang dalam denominasi mata uang yang mengalami deflasi, menjadi semakin berat. Kalau US dollar yang mengalami deflasi maka debitur US dollar semakin berat bebannya. Jika pemerintah adalah debitur, maka pemerintah adalah yang dirugikan oleh kondisi deflasi.
Jadi deflasi akan membuat beban hutang pemerintah menjadi berat sementara keuntungan akibat deflasi tidak bisa dipajaki. Itu tidak disukai pemerintah!!! Oleh sebab itu pemerintah harus memeranginya. War on Deflation.
Di dalam sistem yang berbasis riba, kredit yang melalui fractional reserve lending, akan berbeda dengan sistem yang berbasis uang (Money).
Money dan credit adalah dua hal yang berbeda. Inilah yang menentukan apakah krisis saat ini adalah deflasi seperti Jepang atau inflasi seperti Zimbabwe, atau keduanya di tempat yang berbeda.
Seorang pembaca EOWI mengatakan bahwa EOWI berada di kubu deflasi, bersama Harry Dent. Sebenarnya bukan hanya Harry Dent, tetapi beberapa analis kondang seperti Robert Precter, dan blogger Mish Shedlock, dan yang tidak secara implisit mengatakannya sebagai kubu deflasi, seperti John Mauldin, blogger Pater Tenebrarum.
Sementara itu di kubu yang berlawanan adalah Peter Schiff dan yang agak lunak Jim Rickards.
Dan ada juga kubu agnostik seperti Jim Rogers. Walaupun banyak yang menyangka Jim Rickards ada di kubu inflasi, tetapi dilihat dari dasar-dasar opininya ada kemungkinan Jim Rickards, setengahnya adalah kubu agnostik.
EOWI akan menyajikan beberapa tulisan yang mendasari kepercayaan EOWI mengenai krisis dunia saat ini. EOWI tidak fanatik berada di kubu deflasi atau inflasi. Kalau pembaca EOWI yang lama ingat, sebelum tahun 2010, EOWI adalah salah satu cheerleader emas, perak dan komoditi. Setelah itu EOWI beralih sebagai cheerleader US dollar. Ada satu hal yang penting dipahami oleh investor dan penabung: “Jangan jatuh cinta pada investasinya dan tema investasinya”.
Pada bagian pertama ini EOWI akan menyajikan data-data. Dengan data ini pembaca bisa menilai, apa yang sedang terjadi, tanpa ada pengaruh dari Harry Dent atau Peter Schiff dan Jim Rickards. Kemudian, berikutnya adalah mengenai perjalanan rupiah dari masa ke masa. Dan setelah itu........, ah itu nanti saja supaya pembaca penasaran.

Data Money Velocity

Kita akan memulai inti cerita dengan melihat data M1 money velocity. Tetapi sebelumnya EOWI akan mengulangi paragraf yang ada di awal tulisan ini:
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang dan membiarkan masyarakat spekulan menggunakannya untuk berspekulasi bahkan pemerintah ikut meningkatkan pemborosannya dengan proyek-proyeknya yang absurd serta ikut memborong saham dan bersama-sama dengan spekulan mendongkrak harga asset (properti, saham, bond, batu akik dan barang koleksi) dan selanjutnya menjadikannya bubble, dan diharapkan pada akhirnya dikalangan masyarakat memberikan rasa kaya dan makmur yang notabene adalah illusi. Selanjutnya diharapkan memberikan effek trickle down dengan memicu konsumsi,.......yang akhirnya memutar roda ekonomi. Tetapi...... tidak ada yang bisa memaksa masyarakat untuk tidak merasa kuatir akan masa depannya dan mulai menabung, melunasi hutangnya dan berhemat.
Pertanyaan yang mendasar mengenai stimulus-stimulus yang dilakukan oleh bank-bank sentral adalah: Apakah dengan stimulus dan membanjiri sistem dengan liquiditas akan membuat masyarakat serta merta berbelanja?
Salah satu indikator yang bisa dilihat adalah M1 money velocity (MV)
M1 money velocity (MV) adalah ukuran yang menunjukkan berapakali uang berpindah tangan untuk setiap uang yang diciptakan. Kalau uang itu berpindah tangan berkali-kali maka hal tersebut mencerminkan kemarakan ekonomi. Dengan kata lain, money velocity (MV) adalah salah satu indikator kemarakan ekonomi. Setidaknya, indikator effektivitas uang yang dicetak. Semakin besar MV tandanya penggunaan uang semakin meningkat.
Kita lihat, MV sejak tahun 2009 mengalami penurunan (Chart-1). Artinya perputaran uang mengalami penyurutan. Uang dicetak, tetapi tidak sering digunakan. Lebih sering ngendon di tabungan. Itu fakta.


Chart- 1
Dilihat dari sisi M2, yaitu M1 + uang yang ada di buku tabungan di bank, keadaan juga tidak berubah (Chart-2).


Chart- 2
 Perpindahan tangan, uang-uang yang ada termasuk yang di tabungan juga menurun.
Mungkin ada yang berpikir bahwa penurunan perputaran uang karena meningkatnya angka tenaga kerja. Saya gunakan kata tenaga kerja, supaya lebih nyata. Chart-3 menunjukkan sejak tahun 2011 terjadi divergen (berlawanan arah) antara jumlah tenaga dengan M2 money velocity. Sejak tahun 2011 M2 money velocity tetap turun, sementara  tetapi tingkat tenaga kerja (employment) meningkat. Nampaknya tekanan kecenderungan untuk tidak melakukan konsumsi sedemikian kuatnya sehingga walaupun ada peningkatan employment, tetapi tidak ada imbasnya ke konsumsi.
Biasanya antara employment dan M2 velocity punya trend yang seiring. Tetapi selama tahun 2011 – 2015 tidak demikian. Hal seperti ini pernah terjadi antara tahun 1982 – 1985, yang setahu saya, Amerika Utara sedang kurang baik ekonominya. Kebetulan waktu itu saya tinggal disana.

Chart- 3
 Kalau orang enggan melakukan konsumsi dan cenderung melunasi hutangnya atau cenderung menabung, apakah ini inflasi atau deflasi? Silahkan jawab sendiri.

Hutang Rumah Tangga

Bagaimana dengan hutang? Apakah hutang-hutang mengalami kontraksi atau malah ekspansi? Kemana larinya liquiditas yang diglontorkan bank-bank sentral?
Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di atas sudah dijawab di artikel Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (II).
Tetapi tidak ada salahnya kita mengulangnya kembali.
Kita mulai dengan hutang rumah tangga. Kita tahu bahwa Money Velocity mengalami perlambatan. Apakah hal ini bersumber dari rumah tangga?
Kita mulai dari Jerman. Kita tidak akan membahas Jepang, karena untuk Jepang jawabannya sudah jelas.
Rumah tangga di Jerman mengalami deleveraging. Hal ini nampak pada rasio hutang rumah tangga terhadap GDP di Jerman menurun (Chart-4) sejak akhir 2008. Jadi setelah krisis 2008, kultur konsumsi orang Jerman berubah.

Chart- 4
Silahkan simpulkan, apakah ini inflasi atau deflasi.
Sekarang kita lihat untuk US, negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Chart di bawah ini menunjukan bahwa rumah tangga di US juga melakukan pelunasan hutang sejak tahun 2009. Hutang rumah tangga secara konsisten turun dari tahun ke tahun.

Chart- 5

Jadi secara fakta…., apakah ini inflasi atau deflasi?
Bagaimana dengan Cina, negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia setelah US?
Hutang rumah tangga Cina memang masih menanjak (Chart-6, kurva biru). Tetapi dari sudut kecepatannya, terjadi perlambatan (kurva merah). Yang menarik adalah pada tahun 2007, menjelang krisis sub-prime, hutang rumah tangga meningkat dengan drastis, kemudian berhenti tumbuh di masa krisis sub-prime 2008 - 2009.
Jadi secara kenyataan, masyarakat/keluarga di Cina, negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia masih belum melakukan deleveraging hutang, walaupun sedang mengalami perlambatan.

Chart- 6
 Tanpa ingin bertele-tele mengeluarkan semua chart, secara umum Eropa barat mengalami kontraksi hutang rumah tangga. Dari 3-4 negara dengan ekonomi terbesar dunia dan Eropa, hutang rumah tangga mengalami kontraksi, setidaknya mengalami perlambatan. Apakah ini deflasi atau inflasi?
Kata yang tepat: bubble hutang rumah tangga yang mengempis alias deflated.

Hutang Perusahaan (Non-Finansial)

Kalau hutang pemerintah, semua pemerintah di dunia, dari US, Cina, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang..... mungkin Yunani sebagai pengecualian,.....semua orang juga tahu. Yaitu, pasti naik sepanjang tahun 2009 – 2015. Karena pemerintah perlu dana untuk melakukan kegiatan-kegiatannya dan pemasukkan pajak tidak mencukupi.
Tetapi bagaimana dengan dunia usaha, corporate, perusahaan? Apakah mereka melakukan deleveraging terhadap hutang mereka. Toh konsumen yang mereka servis melakukan deleveraging terhadap hutang? Apakah dunia usaha masih melakukan ekspansi (dengan hutang)?
Chart berikut ini menunjukkan bahwa corporate di US tidak melakukan deleveraging selama krisis sub-prime atau sesudahnya. Hutang dan liabilities nya masih menanjak terus.


Chart- 7
 Kita harapkan hal yang sama untuk Cina atau negara lain.
Pertanyaannya adalah, untuk apa mereka melakukan ekspansi, sedangkan konsumen melakukan perlambatan? Sampai berapa jauh corporate bisa seperti ini?
Mungkin pertanyaannya tidak tepat bagi tulisan ini. Siapa yang perduli apakah corporate masih ekspansi atau tidak. Toh hal itu adalah masalah ke-tidak-rasionalan manusia. Pertanyaan yang lebih tepat dalam konteks tulisan ini adalah: Apakah ini deflasi atau inflasi?
Anda bisa menjawabnya sendiri.

Harga Bahan Komoditi

Bahan komoditi memang bukan merupakan indikator aktifitas ekonomi. Bisa digunakan, tetapi tidak selalu seiring dengan aktivitas ekonomi. Harus ditambahkan faktor spekulasi dan leveraging di sektor ini. Hanya saja kadar spekulasinya, apakah lebih besar dari pada faktor permintaan-penawaran, untuk setiap periode akan berbeda.
Sejak terjadinya krisis subprime, sektor komoditi sudah mengalami penyurutan. Ini terlihat di sektor logam. Walaupun terjadi rebounce karena stimulus-stimulus ekonomi yang diglontorkan pemerintah-pemerintah, tetapi akhirnya tidak bisa juga menahan tekanan untuk deleveraging. Sejak tahun 2011, komoditi metal mengalami tekanan dan turun (Chart-8). Rebounce nya adalah a dead cat rebounce.

Chart- 8
 Sektor minyak juga mengalami hal yang sama, hanya saja indeks harga minyak mentah dan produk-produknya bisa bertahan sampai tahun 2014, sebelum terjun bebas kembali (Chart-9). Dan secara keseluruhan sektor komoditi mempunyai dead cat rebounce yang mirip dengan sektor minyak (Chart-10).

Chart- 9

Chart- 10
 Jadi bagaimana kesimpulan untuk sektor ini? Deflasi atau inflasi?
Opini EOWI: ....., ini bubble komoditi yang pecah, karena toh rebounce nya adalah dead cat bounce!

Pasar Saham

Krisis sub-prime 2007, bursa saham mengalami crash, tetapi di awal tahun 2009 hampir semua bursa di dunia mengalami rebounce. Bahkan banyak diantaranya kemudian menciptakan rekor baru.
Bursa saham kecipratan (spill-over) dari stimulasi bank-bank sentral adalah yang lebih tepat untuk pertanyaan, kemana saja larinya liquiditas yang diglontorkan bank-bank sentral. Hal ini bisa dilihat juga dengan meningkatnya margin debt di bursa saham (Chart-11).


Chart- 11
Tidak semua bursa saham memulai rebounce nya di tahun 2009. seperti bursa Cina, misalnya, baru mengalami rebounce pada tahun 2014, setahun lalu. Di Cina pengglelontoran liquiditas melimpah ke sektor properti sehingga mem-bubble, seperti halnya di Indonesia. Baru setelah bubble properti Cina berhenti menggembung (belum pecah lagi), spekulasi beralih ke bursa saham. Indeks saham Shanghai meroket (Chart-12) dan dalam kurun waktu 1 tahun menjadi hampir 2.5 kali lipat!!

 Chart- 12
 Dan bulan lalu tepatnya 5 Juni 2015, indeks Shanghai mencapai 5,023 dan setelah itu terjun bebas, terpangkas 20% hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan.
Apakah terjun bebas ini akan berlanjut? Jika “iya” maka targetnya adalah di bawah 2,000.
Wow.........., ini berbahaya. Lebih berbahaya dari gagal bayarnya hutang Yunani.

Data Inflasi

Poin terakhir........data inflasi. Untuk menentukan apakah sekarang ini masa inflasi atau deflasi, bukan kah lebih baik melihat langsung pada data inflasi harga-harga bahan konsumen?
Di bawah in adalah data inflasi harga barang konsumen di US. Ingat grafik ini adalah untuk US dan harga barang-barang yang disurvey adalah dalam US dollar, bukan dalam yen, rupiah atau euro.
Inflasi Y-o-Y kadang meningkat dan kadang melambat. Tetapi menurut grafik di bawah ini, untuk tahun 2009 dan selanjutnya cenderung menurun.


Chart- 13
 Jadi kesimpulannya bagaimana?
Menurut grafik di atas: Inflasi harga (bukan inflasi lainnya) dalam US dollar, di US, cenderung menurun. Tetapi belum negatif. Itu kesimpulannya.
Harus diingat bahwa grafik/data di atas adalah untuk US saja dan mata uang yang digunakan untuk menentukan harga adalah US dollar. Kalau untuk Indonesia, Yunani, Malaysia atau Cina......., grafiknya lain lagi.
Apa implikasi dari grafik di atas. Apakah anda pikir the Fed akan menaikkan suku bunganya untuk memerangi inflasi? Kalau anda jawab “iya”......., sebaiknya anda jangan baca EOWI lagi.

Kesimpulan

Bagaimana kesimpulannya?
Silahkan simpulkan sendiri........mau ikut Jim Rickards? Harry Dent? Peter Schiff? Silahkan.
Bagi EOWI......., yang ada adalah bubble-bubble-bubble. Ada yang sedang mengempis, ada yang sudah matang, siap meletup dan ada yang masih mekar dipompa.
Sekian dulu....., semoga anda tercerahkan.
Kalau anda belum jadi follower EOWI, silahkan klik link untuk jadi follower, supaya EOWI jadi keren, karena banyak followernya. Dan anda juga jadi keren karena membaca secara rutin situs ekonomi alternatif yang terbaik di Indonesia.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, June 20, 2015

Panggilan Terakhir Penerbangan USD17000



Pemerintah.... Babi dan Buta Pula

Kadang-kadang sambil pulang kantor, saya mendengarkan radio untuk menghilangkan kebosanan dan kesepian. Hanya dua stasiun radio yang saya kenal, yaitu radio PASFM dan KISFM. Memang selera saya sangat terbatas.
Mendengarkan PASFM sebabnya jelas, karena ingin tahu berita valas dan saham. Sedangkan dengan KISFM ceritanya lain. Perkenalan saya dengan KISFM karena dulu sekali KISFM sering memperdengarkan lagu-lagu rock classic. Walaupun sekarang saya lebih suka mendengarkan musik MP3 dari tumb-drive, sesekali saja dengarkan KISFM.
Sore ini radio PASFM mengangkat berita dari koran dan membuka komentar kepada pendengarnya. Siaran seperti ini adalah salah satu program rutinnya yang disebut investor opinion.
Kali ini penyiar Nina Amelia mengangkat tulisan Tony Prasetiantono di kolom ekonomi Kompas. Nina Amelia mengatakan bahwa Tony Prasetiantono berpendapat bahwa tindakan pemerintah mengharuskan pembeli rumah dan mobil mewah untuk menunjukkan surat bebas tunggakan pajak adalah membabi buta. Mungkin artikel yang dimaksud oleh Nina Amelia adalah artikel lama berikut ini:
JAKARTA , KOMPAS.com -  Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Anthonius Tony Prasetiantono menilai pemeritah terkesan membabi buta dengan mengenakan pajak kepada berbagai sektor untuk mencapai target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp 1.296 triliun.
"Di satu sisi pemerintah menargetkan pajak yang tinggi, tapi terlihatnya semacam membabi buta semuanya dipajaki. Ini sangat kontra produktif," ujar Tony di Jakarta, Sabtu (28/3/2015).......
....... "Jangan sampai pemerintah membabi buta untuk mengejar target itu. Karena semakin dipajaki maka ekonomi akan semakin lesu. Spending untuk konsumsi berkurang. Kenaikan pajak itu harus hati-hati jangan sampai kontra produktif." ujarnya lagi.
Untuk kasus ini banyak yang memberikan komentar negatif dan setengahnya memaki-maki pemerintah. Saya membayangkan seorang pendengar PASFM yang merespon lewat telpon berkomentar: “……Memang pemerintah itu babi…….buta pula dan budeg!!!.
Saya tidak tahu apakah ada pendengar PASFM yang menganggap bahwa pemerintah memang seperti babi atau layak disebut babi, seperti kata Anthonius Tony Prasetiantono. Bahkan buta pula serta budeg, karena tidak melihat realita ekonomi dan kesengsaraan rakyat, memajaki seenaknya serta tidak mendengarkan keluhan di PASFM. Rasanya memang layak orang mengungkapkan kemarahannya kepada pemerintah yang telah membuat hidup mereka ribet dan sengsara dengan peraturan-peraturannya yang tidak perlu dan dengan pajak-pajaknya.
Hal yang menarik berikutnya adalah pemerintah ini adalah hasil dari proses demokrasi. Siapa yang memilih mereka. Kemudian, apa yang pemilih harapkan, jika mereka memilih babi untuk mengurus anda, memimpin anda.....? Malah hidup anda menjadi sulit. Jadi siapa yang salah? Yang memilih babi untuk memerintah? Atau babinya itu sendiri.
Kata babi untuk pemerintah Anthonius Tony Prasetiantono memang lebih layak dari anjing. Karena babi dalam banyak hal lebih buruk dari anjing. Kalau anjing, memang kita harus memelihara mereka, memandikan mereka, memberi makan, mengolahragakan....., tetapi sebagai balasannya mereka menjaga rumah kita. Dan ini menghemat biaya satpam yang sekarang gaji rata-ratanya 2 x Rp 2.7 juta (UMR). Catatan: untuk menjaga 24 jam diperlukan 2 satpam bergantian.
Anjing tidak hanya menjaga rumah, tetapi juga memberi kasih sayang dan kesetiaan kepada pemiliknya. Dan ini tidak bisa anda peroleh dari babi.
Menurut EOWI yang mendasarkan argumennya dari Quran dan hadith, menyamakan babi dengan pemerintah atau pegawai pajak dan kementerian keuangan, adalah menghina babi. Babi lebih baik dari mereka! Bahkan kalau babi-babi mengerti bahwa mereka disamakan dengan pemerintah, pegawai pajak atau petinggi departemen keuangan, babi-babi ini akan tersinggung sekali.
Menurut Quran, hadith dan sains , babi terlalu baik untuk disetarakan dengan orang-orang ini. Oleh sebab itu EOWI tidak akan memanggil orang-orang ini babi.
Buktinya babi lebih baik dari mereka ada di Quran. Tuhannya orang Islam, menyebutkan bahwa mereka ini bisa .......serendah-rendahnya (Q 95:4 -5), lebih rendah dari binatang ternak (Q 7:179). Bahkan penarik pajak seperti mereka ini untuk mensucikannya agar tidak masuk neraka harus dirajam. Babi tidak perlu dirajam untuk bebas dari neraka!!
Quran tidak pernah menyebutkan bahwa babi itu rendah. Tidak hanya itu. Walaupun babi dagingnya diharamkan, tetapi menurut Quran, lemaknya, kupingnya, tulangnya, jantungnya.....tidak haram. Pembaca bisa melihatnya sendiri di Quran bahwa hanya dagingnya (daging babi) yang haram sedangkan lemaknya, kupingnya, tulangnya, jantungnya.....di dalam Quran tidak sebut keharamannya. Sekali lagi, hal ini bisa dilihat di Quran itu sendiri. Mau lihat ayatnya:
[Q 5:3] Diharamkan bagimu bangkai, darah yang mengalir, daging babi (Arabnya: lahma kinzir), hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan yang disembelih untuk berhala............
Jelas-jelas di ayat tersebut dinyatakan daging babi (lahma = daging,  kinzir = babi), bukan babi (kinzir) saja secara umum dan keseluruhan. Jadi syakhama kinzir (syakhama = lemak, kinzir = babi) atau uzunun kinzir (kuping babi) atau qalb kinzir (jantung babi) tidak diharamkan!!
Pembaca bisa mendiskusikannya, memperdebatkannya ayat ini (topik ini) dengan seseorang yang mengerti bahasa Arab. Kalau dia jujur maka dia akan mengakuinya. Tetapi biasanya, anda akan memperoleh resistansi/penolakan, karena umumnya pengaruh fiqih (yang notabene sarat dengan opini manusia) sangat dominan dalam beragama. Orang lebih mengikuti hukum-hukum fiqih (yang notabene sarat dengan opini manusia) dari pada Quran.
Pada saat topik daging babi ini saya bawa ke ipar saya yang lulusan IAIN (Institut Agama Islam Negri), dia terpojok dan saya dituduh mencari celah-celah kelemahan hukum saja.
Mungkin saja saya mencari celah-celah kelemahan hukum “Tuhan”. Kalau Tuhan bisa kecolongan, artinya dia kurang cerdas....., maka tuhan semacam ini tidak layak saya sembah. Artinya......, saya harus mengakui salah satu dari pilihan berikut ini: apakah yang haram itu terbatas pada daging babi saja atau tuhan yang kurang cerdas  dan bisa diakali oleh manusia seperti saya ini. Dan pilihan saya adalah yang pertama. Yaitu: yang diharamkan adalah spesifik daging babi, bukan organ babi lainnya.
Ada hasil riset yang menarik. Banyak organ-organ babi yang secara anatomi cocok untuk manusia. Misalnya bagi penderita klep jantung bocor, saat ini pilihannya adalah klep mekanik terbuat dari titanium, dari plastik, dari klep jantung sapi dan klep babi. Dan yang terbaik dan secara anatomis paling cocok untuk manusia adalah yang dari babi. Organ-organ babi secara anatomis cocok dengan manusia, walaupun secara genetik tidak. Tetapi dikemudian hari (mungkin tidak lama lagi) problem ini bisa diatasi sehingga di saat itu bukan tidak mungkin babi sebagai donor organ bagi manusia, seperti jantung, paru-paru dan organ-organ lainnya. Pada saat itu babi sangat jauh lebih baik dari pada politikus dan birokrat di pemerintahan. Hanya ada satu undang-undang yang bisa mendekatkan kembali derajad politikus dan birokrat dengan derajad babi, yaitu undang-undang yang membolehkan organ-organ milik politikus dan birokrat dipanen ketika mereka mati. Apakah itu kornea mata, jantung, paru-paru, ginjal, atau lainnya. Selama tidak ada undang-undang itu, derajad politikus dan birokrat jauh lebih rendah dari babi.
Kita sudahi dulu cerita mengenai babi yang mungkin bagi banyak pembaca informasi bahwa yang diharamkan oleh Quran adalah terbatas pada daging babi dan bukan kupingnya, bukan lemaknya, bukan jantungnya adalah hal yang baru. Di EOWI, pembaca akan banyak menjumpai kejutan-kejutan. Tetapi jangan kuatir, kejutan tersebut bukan kejutan ala Lia Eden alias Lia Aminudin orang yang mengaku memperoleh wahyu bahwa akan ada pesawat ruang angkasa mendarat di lapangan Monas. Kejutan-kejutan EOWI bisa dibuktikan sendiri dengan melihat referensi yang disodorkan EOWI.

Panggilan Terakhir Penerbangan USD17000

Tidak terasa USD sudah mencapai Rp 13300 akhir-akhir ini, dan nampaknya sulit untuk turun di bawah Rp 12000. Ini bagus untuk portofolio EOWI. Sementara itu, Nina Amelia dari PASFM, setiap sore hampir selalu mengucapkan: “.........dalam perdagangan saham hari ini investor asing membukukan  net sell sebesar .....sekian milyar rupiah”.
Kata net sell, sama sekali tidak enak didengar bagi kebanyakan orang. Oleh sebab itu tidak heran indeks harga saham gabungan tergerus terus. Dan pada saat tulisan ini dibuat, IHSG sudah berada di di bawah 5000.
Bagi kami di EOWI, suara Nina Amelia terdengar sangat merdu ketika mengucapkan kata net sell. Pada hari dimana Nina Amelia mengucapkan kata net sell, harga dollar naik. Portofolio EOWI membaik, membukukan keuntungan.
Sementara itu, di New York indeks Dow Industrial, DJIA, juga sudah berada dibawah 18,000. Sementara itu indeks dollar masih berkutat di sekitar 93 – 95 walaupun demikian kurs USD masih cenderung menguat terus terhadap rupiah, dan mencapai level di atas Rp 13,000 per US dollar.
Dari kurva USD-Rp, nampaknya penerbangan USD menuju Rp 17,000 sudah pada fase boarding dan panggilan terakhir sudah diumumkan. Tinggal landas akan segera dilaksanakan.
Berapa lama penerbangan ini...., mungkin 1 tahun, mungkin juga 2.5 tahun. Tetapi kemungkinan besar adalah 1.5 tahun.
Dari segi siklus tahunan, biasanya musim panas (di Eropa dan Amerika) sampai awal musim gugur – Juni sampai September, adalah periode bearish bagi bursa saham. Katanya: “Sell in May and go away”. Yang ditakutkan adalah: “Sell in May and keep selling.....” , sampai akhirnya kebablasan dan terjadi crash. Peluang terjadinya crash cukup tinggi ditinjau dari sudut teknikal (Chart-1). 


Chart- 1

Struktur megaphone dengan top ke-3 nya sudah terbentuk sejak setahun lalu. Disamping itu, jarak antara puncak-1 dengan puncak-2 adalah 8 tahun. Dan sekarang adalah tahun ke 8 dari puncak-2. Apakah tahun ini bursa saham sudah mencapai puncaknya di DJIA = 18312, yaitu pada tanggal 19 May 2015? Dan berikutnya adalah crash?
Waktu yang akan membuktikannya.
Harus diingat bahwa topping sebuah long term trend seperti ini, bisa berlangsung selama 3 tahun, mungkin lebih. Oleh sebab itu crash tidak harus terjadi tahun ini atau tahun depan. Mungkin 2 tahun lagi. Jadi selama 2 tahun ini harus sangat berhati-hati. Dan yang paling penting adalah....., tidak ada sesuatupun yang mengharuskan adanya sikus 8 tahunan. Ini yang lebih penting untuk membatalkan pemikiran bahwa puncak indeks saham DJIA terjadi pada tanggal 19 May 2015 lalu dan berikutnya akan disusul dengan crash dan krisis.
Lalu apa kaitannya antara crash di bursa saham dengan rupiah?
Krisis saat ini merupakan bagian dari krisis deflationary yang dijelaskan secara panjang lebar di Gejolak 2014 – 2020. Pada butir no.5 disebutkan bahwa US dollar akan mencapai Rp 17,000 sampai Rp 25,000 karena kontraksi dan kebekuan kredit. Pada saat krisis terjadi, investor akan lari ke cash, dalam hal ini US dollar, bukan rupiah. Itu intinya.
Jadi......, kemungkinan pada saat ini, puncak kegilaan di bursa saham, credit bubble, sudah lewat. Bursa saham dalam ancaman rupiah juga dalam ancaman dan asset-asset lainnya, kecuali US dollar, dalam ancaman.

Makro Ekonomi Tidak Menolong

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus melambat sejak tahun 2011, akhir dari commodity bull market. Wajar, karena andalan ekonomi Indonesia adalah komoditi bahan tambang. Ketika komoditi ini menyalami penyurutan, maka pertumbuhan ekonominya pun pengalami perlambatan. Itu konsekwensi logis. Masuk akal. Kalau ada pemikiran yang melawan hal ini adalah waham, gila, mengalami dilusi.

Chart- 2

Sejak turunnya harga komoditi, pertumbuhan GDP Indonesia mengalami perlambatan secara konsisten dari 6.5% (2011) ke 4.7% (Q1 2014) per tahunnya. Ini membuat Indonesia tidak terlalu menarik bagi investor. Dana ditarik keluar, dan Indonesia mengalami peningkatan defisit pembayaran berjalan, dari 0.2% dari GDP (2011) ke 3.1% dari GDP (2014).
Dan di tengah-tengah perlambatan ekonomi, presiden dan pemerintah panik, bingung, dan menjadi gila, menginginkan, mentargetkan kenaikan perolehan pajak 30% perolehan pajak serta 14% kenaikkan pendapatan negara. Bagaimana tidak bisa dibilang panik, bingung dan gila kalau dimasa ekonomi melambat, bisnis melambat, penghasilan melambat, pertumbuhan keuntungan melambat, maka pendapatan pemerintah akan turun, padahal pemerintah sudah terbiasa melakukan pemborosan, banyak pengeluarannya tidak bisa ditawar lagi seperti gaji pegawai DPR, politikus dan birokrat. Mereka ini tidak mengenal perlambatan ekonomi. Solusinya: pemerintah menodong kenaikan pajak sebesar 30%!  Ini sama saja menimpakan tangga kepada orang sudah jatuh. Sama seperti memajaki uang pesangon PHK. Orang sudah kena musibah, malah diambil duitnya (dipajaki).
Kalau demikian halnya akan ada tiga kemungkinan. Pertama akan banyak bisnis yang tersungkur bergelimpangan, mati. Atau pemerintah tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Dan ke tiga adalah pemerintah tidak memperoleh apa yang diingkannya dan banyak bisnis yang rontok. Mungkin yang terjadi adalah yang ketiga. Ouch!!! Ini adalah ramalan logis!!
Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan berubah tanpa ada perubahan model ekonominya, yaitu ekspor bahan komoditi. Pertumbuhan ekonomi Cina, negara target ekspor bahan komoditi, mengalami perlambatan sejak tahun 2010 dan mengalami over-stock bahan-bahan komoditi.


 Chart- 3

Sedangkan Amerika Serikat sebagai kosumen terbesar dunia, mengalami pertumbuhan yang marginal, disekitar 2%. Ini juga tidak bisa diharapkan.

Chart- 4

Dengan kondisi seperti ini, apakah Indonesia bisa meningkatkan ekspor untuk memacu pertumbuhan ekonominya? Jawabnya sudah jelas.
Pertanyaan berikutnya: Apakah rupiah akan menguat, atau setidaknya bertahan?
Indonesia adalah pengimpor bahan makanan. Beras, ayam, telur, sapi (daging) sebagian berasal dari impor. Nampaknya saja ayam dan telur adalah produk lokal. Tetapi kalau ditelusuri, pakannya adalah impor. Lalu...., tahu dan tempe juga produk lokal......, tetapi bahan bakunya yaitu kedele adalah produk impor. Sementara ekspor  (bahan komoditi) menurun, dana spekulasi asing yang masuk menurun, dan makan, perut lapar tidak mengenal kompromi, kebutuhan dollar dalam negri meningkat (untuk impor dan yang hengkang), sedangkan yang masuk berkurang....., apa yang mau diharapkan? Tekanan terhadap rupiah bukan?

Jurus Yang Tumpul

Ada berita di koran beberapa hari lalu (bulan Juni 2015). Judulnya: Jurus Pemerintah Kuatkan Rupiah
Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mempunyai beberapa cara menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah dengan meningkatkan kepercayaan investor dengan memberikan beberapa sentimen positif di pasar keuangan.
Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah selalu mengeluarkan pernyataan yang bisa memberikan sentimen positif ke pasar. Salah satu pernyataan yang dilontarkan adalah bahwa pemerintah akan terus berusaha menjaga pertumbuhan ekonomi berada di level yang ditargetkan (EOWI: poin 1).
"Dari pemerintah kami berupaya menciptakan dan juga menumbuhkan sentimen positif untuk memperbaiki keyakinan pelaku ekonomi sehingga bisa membantu penguatan nilai rupiah," kata Bambang (EOWI: poin 2)., saat berbincang dengan Liputan6.com, di Bengkalis, Riau, Rabu (17/6/2015).
Bambang mengungkapkan, selain cara tersebut, pemerintah juga terus mencoba memperbaiki fundamental ekonomi dengan mengendalikan inflasi dan neraca perdagangan. "Jadi kami upayakan inflasi dikendalikan dan neraca perdagangan tidak memberatkan, kemudian dari sisi APBN jadi lebih baik pada bulan-bulan ke depan," tuturnya.
Ia menambahkan, menjaga kekuatan rupiah sebenarnya merupakan tugas Bank Indonesia. Ia berharap Bank Indonesia terus menjaga stabilitas rupiah. "Urusan jaga mata uang rupiah utama Bank Indonesia, kami harapkan Bank Indonesia terus hadir di pasar menjaga stabilitas rupiah," pungkasnya (EOWI: poin 3).
Pembaca bisa menilai sendiri kebenaran/kebohongan pernyataan menteri keuangan ini.
Pertanyaan untuk poin 1: apakah pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi?
Dari chart-2 terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan! Mungkin pemerintah akan mengelak bahwa target kami (pemerintah) memang perlambatan. Dan untuk ini kita harus melihat apakah pemerintah sering meleset dari targetnya.
Bulan Mei lalu ada pernyataan dari staf kepresidenan Luhut Panjahitan yang mengatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5.8% akan meleset. Pertama bahwa mentargetkan 5.8% sebagai tingkat pertumbuhan ekonomi adalah gila (seharusnya hanya 4% saja), karena 5.8% sepatutnya diperuntukan tahun 2013, bukan tahun 2015 atau selanjutnya. Yang kedua menteri perekonomian jelas-jelas sudah bohong. Dia tahu bahwa pertumbuhan ekonomi akan meleset, kok masih ngomong bahwa pemerintah akan menjaga targetnya.
Kalau sering bohong, lama-lama orang tidak percaya. Yang sejatinya orang sudah tidak percaya kepada pemerintah.
Pertanyaan untuk poin 2: Kalau pemerintah sering memberi omongan bohong, apakah orang akan percaya, dan apakah bisa menumbuhkan kepercayaan (kepada rupiah atau kepada ekonomi Indonesia)?
Pembaca bisa menjawabnya sendiri.
Untuk poin 3, kita masukkan sebagai sub-topik baru.

Mempertahankan Rupiah Bukan Misi BI yang Sejatinya

Yang selalu kita dengar adalah, bahwa salah satu misi BI adalah menjaga kestabilan rupiah. Dan kita tahu bahwa rupiah telah mengalami pelemahan dibandingkan US dollar dari level Rp 8,500 (2011) ke level Rp 13,000 an (pertengahan 2015). Dalam kurun 4 tahun tergerus 50%.
Pertanyaannya: apakah persenjataan BI tumpul atau BI tidak punya niat untuk mempertahankan rupiah?
Kalau BI mau mempertahankan rupiah, tentunya dengan cadangan devisanya. Dengan kata lain cadangan devisa akan turun. Kenyataannya tidak demikian (Chart-5). Cadangan devisa Indonesia malah kembali ke level  US$ 110 milyaran di tahun 2015 ini. Naik dari level US$ 90 milyaran di tahun 2013. Di saat nilai rupiah tergerus dari level Rp 9,700 ditahun 2013 ke Rp 13,300 per US dollar cadangan devisa naik juga. Jelas BI tidak berniat mempertahankan nilai tukar rupiah. Yang dipertahankan adalah jumlah cadangan devisa saja.

Chart- 5

Itulah misi BI yang sejatinya, yang terlihat nyata di data. Bukan yang gembar-gemborkan atau yang diajarkan di sekolah-sekolah dan universitas.

Hikmah Sejarah

Mungkin pembaca masih belum percaya dan dalam hati masih bertanya: Masa’ sih BI tidak mempunyai misi untuk mempertahankan nilai rupiah?
Chart di bawah ini menunjukkan perjalanan rupiah dari kelahirannya sampai hari ini.
Silahkan jawab pertanyaan ini: Menurut sejarah, Apakah BI mau dan mampu mempertahankan rupiah?
Saya pikir jawabnya sudah jelas.
Hikmah yang bisa dipelajari dari chart ini adalah, nilai rupiah bisa bertahan di masa secular commodity bull market dan akan terpuruk pada masa secular commodity bear market. Itu sejarah! Sebabnya jelas, yaitu karena ekonomi Indonesia berbasis komoditi.


Chart- 6

Rasanya tidak afdol jika hanya sejarah narasi saja yang dipelajari, tetapi harus ditambah dengan hitungan-hitungan kwantitatif yang relevan dengan masa kini.
Pada secular commodity bear market tahun 1951 – 1970, kurs US dollar pada masa itu adalah ORI Rp 11.4 per US dollar. Atau kalau di konversikan ke uang rupiah Orba yang sekarang digunakan adalah Rp 0.00114. Hanya sepersepuluh sen saja. Di akhir periode bear market tahun 1970, kurs dollar adalah Rp 326 per US dollar. Rupiah selama 19 tahun ini terbantai dan kehilangan 99.9997% dari nilainya.
Kemudian pada secular commodity bear market ke dua dalam kehidupan NKRI dan rupiah, yaitu tahun 1980 – 2000, rupiah terbantai lagi dari Rp 627 per US dollar menjadi Rp 7,400 per US dollar. Nilai rupiah menguap 91.51%, menyisakan hanya 8.49% nya saja.

Periode
Kurs di Awal Periode
Kurs di Akhir Periode
Perubahan Nilai, %
Rp Masa itu
Rp Orba
Rp Orba

Bear Market 1951-1970
ORI Rp 11.4
0.00114
326.00
-99.999%
Bull Market 1970-1979

326.00
627.00
-48.03%
Bear Market 1980-2000

627.00
7400.00
-91.52%
Bull Market 2000-2011

7400.00
8500.00
-12.94%
Bear Market 2011- ??

8500.00
-


Bagaimana dengan secular commodity bear market yang ke-3 yang dimulai pada tahun 2011? Rupiah dimulai di level Rp 8,500 per US dollar. Apakah target kurs  kurs dollar Rp 17,000 wajar (50% menguap), atau Rp 25,000 (66% menguap)...... atau Rp 50,000 (83% menguap)?
Kalau saya mentargetkan Rp 50,000 per US dollar di tahun antara 2025-2030, apakah masih wajar?
Biarkan sejarah menjawabnya.........tetapi kalau pembaca mau menjawabnya, silahkan.

Renungan

Dilain waktu, kita akan membahas lebih panjang lebar tentang perbandingan antara penurunan nilai rupiah di masa secular commodity bear market 1951 – 1970 dan 1980 – 2000 dalam kaitannya dengan regulasi dan campur tangan pemerintah. Kenyataan sejarah adalah bahwa kombinasi antara ekonomi terpimpin (Sukarno) yang sarat dengan campur tangan pemerintah serta regulasi yang membuat hidup ribet dengan secular commodity bear market adalah campuran yang lebih mematikan dibandingkan ekonomi Pancasila (Suharto).
Pertanyaan: Seberapa jauh rupiah akan jatuh pada masa secular commodity bear market 2011 – 20XX sekarang ini?
Semuanya itu tergantung pada campur tangan pemerintah. Semakin banyak campur tangan pemerintah, semakin kuat racun yang diminumkan ke rupiah.
Pada bulan Ramadan ini, EOWI merasa bahwa tidak ada salahnya untuk memberi sedikit nasehat kepada mereka yang bekerja sebagai birokrat dan pegawai pajak. Apa yang kalian lakukan menyengsarakan banyak orang. Bahkan nabi Muhammad S.A.W. mengatakan bahwa untuk mensucikan perbuatan sebagai penarik pajak adalah dengan rajam (dilempari batu sampai mati). Tinggalkanlah dan cari pekerjaan lain. Berdoalah untuk memperoleh pekerjaan yang diridhoi oleh orang banyak dan diridhoi Allah. Insya Allah....., Dia akan mengabulkannya.

Sebagai birokrat yang berkerja di bidang moneter pemerintah, BI, atau yang membuat aturan-aturan (baca: pengekangan-pengekangan), dan membuat nilai rupiah terus merosot di atas 90% menguap untuk setiap periode secular commodity bear market, bukan perbuatan yang diridhoi orang masyarakat, jika mereka tahu bahwa penyebabnya adalah kalian. Di hari perhitungan nanti Allah akan membeberkan semua prilaku anda dan akibatnya pada orang banyak. Mata mereka akan melek dan sadar siapa yang menyengsarakan mereka. Pada hari itu, hutang-hutang yang merupakan perbuatan yang menyengsarakan wajib dibayar. Allah akan memberi kesempatan para korban penyengsaraan untuk membalas kepada pelakunya. Dan pada saat itu kata "maaf" tidak berlaku. Rasa welas asih tidak ada lagi. Yang ada hanyalah get even, menuntut pelunasan. Karena setiap orang punya hutang dan tidak akan mau balance sheet nya negatif yang bermakna menjadi penghuni neraka. Mereka berusaha menagih hutang-hutang mereka, kepada yang menyengsarakan hidupnya di dunia, kepada yang berdosa pada mereka, supaya balance sheet mereka positif. Oleh sebab itu berhati-hatilah dalam berbuat. Walaupun orang yang menjadi korban/teraniaya tidak tahu, tetapi di hari perhitungan, mereka akan diberi tahu dan akan menuntut atas dosa yang diperbuat atas mereka.

Sekian dulu......., selamat berpuasa bagi yang melakukannya. Dan....berhati-hatilah dengan tabungan anda selama secular commodity bear market saat ini. Sejarah menunjukkan bahwa selama periode ini nilainya jatuh sangat parah. Dan diakhir masa ini juga terjadi kerusuhan besar (kejatuhan Sukarno G30S tahun 1965 - 1967 dan kejatuhan Suharto, krismon 1998 dan tragedi May 1998). Walaupun akhir secular commodity bear market masih lama, tidak ada salahnya EOWI mengingatkan pembacanya, agar pembacanya mengingatkan anak-anaknya.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.