_____________________________________________________________________________________________________________________




Wednesday, December 17, 2014

Gejolak 2014 – 2020: Tergelincir Minyak Yang Licin (I)


 (Bagian I: Pada Mulanya…….)
Meramalkan bencana bukanlah hal yang kami sukai. Apalagi mengenai hal yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang kami geluti. Ada beberapa poin yang EOWI ramalkan akan terjadi dimasa Gejolak 2014-2020. Salah satunya adalah di sektor dimana saya berkecimpung yaitu eksplorasi dan produksi minyak. Di bawah ini adalah 7 poin yang kami ramalkan dan poin no 3 adalah tentang jatuhnya harga minyak ke level $30 per bbl atau lebih rendah.
  1. Harga saham akan turun, dan indeks DJIA yang sekarang pada level 17000an bisa jatuh ke level 4000 – 5000, bahkan mungkin diteruskan ke level 3000an.
  2. Harga emas akan jatuh ke level $ 600 - $ 700 per oz.
  3. Dengan agak ragu-ragu, EOWI memperkirakan harga minyak akan menyentuh level di sekitar $30 per bbl. Confidence level kami cukup rendah mengenai perkiraan ini. Harga minyak adalah yang paling sulit diperkirakan.
  4. Harga property juga akan jatuh dan pasar membeku, tidak banyak transaksi.
  5. Harga US dollar terhadap mata uang lainnya akan mengalami penguatan. Dalam Rupiah kemungkinan akan mencapai Rp 17000 sampai Rp 25000 per dollarnya.
  6. Harga bond/surat obligasi pemerintah jangka pendek yang (dianggap) berkwalitas,seperti yang dikeluarkan oleh US, Jerman dan Swiss akan diborong dan nilainya naik (yieldnya turun). Tetapi bond-bond yang dianggap kurang berkwalitas seperti SUN (Surat Utang Negara) Indonesia, akan turun dan yieldnya akan naik.
  7. Jika periode ini ada kaitannya dengan periode K-Winter, dunia kemungkinan akan mengalami perang besar yang disebut dengan trough-war, setidaknya ketegangan dan konflik-konflik saat ini akan mengalami eskalasi. Perang pada periode K-Winter sebelumnya adalah Perang Dunia II, dimana batas-batas Negara berubah. Indonesia dan Suriname memisahkan diri dari Kerajaan Belanda. India, Pakistan memisahkan diri dari Imperium Inggris. Bukan mustahil, ada negara-negara baru yang terbentuk nantinya.
Pada saat EOWI menurunkan artikel tersebut di bulan Juli 2014, harga minyak mentah (WTI) masih bertengger di level $103 per bbl. Dan pada saat kata-kata ini dituliskan, harga minyak sudah di level $60 per bbl. Seperti disebutkan dalam laman Gejolak 2014 - 2020, tingkat kepercayaan EOWI agak rendah dalam hal minyak, tetapi kenyataannya dalam 6 bulan harga minyak sudah jatuh sebesar 42%! Ini membuat kepercayaan kami meningkat mengenai akan jatuhnya harga minyak ke level $30 per bbl atau lebih rendah.
Banyak orang berpikir bahwa minyak mentah di dunia ini akan/sudah habis. Oleh sebab itu harga minyak melambung. Pola berpikir semacam ini berkali-kali dipatahkan oleh kenyataan. Thomas Robert Malthus 200 tahun lalu meramalkan bahwa populasi dunia suatu masa akan mengalami kekurangan pangan global. Dan opini ini dikuatkan lagi oleh Paul Ehrlich di tahun 1968 dengan bukunya The Population Bomb yang meramalkan akan adanya pandemi kelaparan global pada dekade 1980an. Kenyataannya, mulai tahun 1980, angka obesitas (kelebihan pangan) dunia meningkat. Dan kemudian diet menjadi popular culture, pola hidup yang popular. Berbagai diet bermunculan, dari mulai menghitung/membatasi asupan kalori, makan sayur buah saja, vegetarian sampai ke diet karbohidrat.
Orang-orang yang meramalkan habisnya minyak atau kekurangan pangan dunia adalah orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan itu konyol, lupa mencukupkan rejekinya kepada manusia-manusia yang diciptakannya.  Kami di EOWI adalah orang-orang yang religius, percaya kepada Tuhan yang sensible. Oleh sebab itu jika ada ramalan gloom-doom yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan itu konyol, maka kami tidak percaya. Kami tidak percaya kepada global warming, pecahnya lapisan ozon, aliran lesbian dan homoseksual serta Islam Liberal. Kami percaya bahwa Tuhan menyediakan rejeki dan manusia harus punya usaha untuk mengambilnya. Bukan menunggu dijatuhkan dari langit.
Kenyataannya bahwa minyak bumi masih banyak. Hanya saja untuk mengambilnya semakin sulit, perlu usaha yang lebih banyak dengan cara yang lebih cerdik. Ini adalah adil. Ilmu yang dimiliki manusia (pemberian Tuhan) semakin banyak. Dan beberapa ilmu itu adalah untuk mencari minyak, memproduksi minyak bumi semakin effisien dan  menggunakan minyak secara lebih effisien.

Siklus 30 tahunan Minyak
Minyak seperti komoditi lainnya mempunyai siklus 30 tahunan. Siklus kali ini mempunyai puncak di tahun 2008. Puncak harga minyak sebelumnya adalah di tahun 1980. Tidak ada yang supernatural mengenai siklus ini. Misalnya, sebagai awal dari siklus kita mulai dari masa enak dan normal. Itu sebutan mudahnya bagi periode dimana harga minyak terjangkau. Dengan demikian ekonomi bisa tumbuh dengan baik. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, pemakaian minyak meningkat. Sementara jumlah cadangan terbukti menyusut dan selanjutnya kapasitas produksi mulai tercekik. Harga merangkak naik, ditambah dengan ulah spekulan membuat kenaikan harga minyak lebih liar. Inilah periode secular bull market untuk minyak (dan juga komoditi). Secular bull market yang lalu berlangsung selama tahun 2000 – 2008. Dan sebelumnya adalah 1970 – 1981.
Saya tidak tahu banyak mengenai secular bull market sebelum tahun 1970, tetapi secular bull market minyak tahun 1970 – 1980 banyak yang bisa dicatat dan dipelajari sebagai hikmah. Mungkin karena waktunya bersamaan dengan merebaknya kepercayaan yang mengimplikasikan bahwa Tuhan itu tolol, yang menciptakan manusia tetapi lupa menyediakan kebutuhannya, semasa secular bull market minyak 1970 – 1980 tumbuh juga kepercayaan (lebih cocok disebut histeria) bahwa minyak akan segera habis. Oleh sebab itu muncul aliran-aliran pencinta lingkungan, anti pollusi, konservasi energi, energi alternatif, dan sejenisnya. Di bidang demografi, Paul Erhlich dengan bukunya The Population Bomb, membuat histeria population control, alias KB (keluarga berencana). Miungkin ini yang membuat harga minyak menjadi lebih liar, karena spekulator merasa punya ruang untuk semakin aggresif.
Dengan naiknya harga minyak, banyak investor melirik sektor yang nampaknya menjanjikan ini. Kredit mengucur, modal mengalir dan aktivitas eksplorasi meningkat.
Selanjutnya cadangan-cadangan baru ditemukan. Diantara penemuan-penemuan cadangan baru, ada penemuan yang bisa membuat perubahan yaitu penemuan cadangan baru di cekungan-cekungan di wilayah-wilayah frontier yang sering kali didukung oleh dengan teknologi baru. Untuk bull market 1970 – 1981, wilayah temuan baru adalah Laut Utara (North Sea) yang iklimnya kurang ramah. Teknologi lepas pantainya yang kompleks ikut berperan dalam pengembangan wilayah Laut Utara ini.
Sejalan dengan berkembangnya temuan lapangan-lapangan minyak dan gas di wilayah Laut Utara (North Sea) ini selama periode bull market 1970 - 1981, infrastrukturpun juga berkembang di wilayah itu. Hal ini membuat eksplorasi dan produksi minyak di wilayah ini semakin murah (karena ketersediaan infrastruktur).
Tidak hanya cekungan di wilayah Laut Utara, tetapi di beberapa negara misalnya Mexico, juga ditemukan ladang raksasa Cantarell (1976). Dan banyak lagi yang terlalu banyak untuk disebutkan. Tetapi, mereka itulah yang terbesar dan yang paling berpengaruh.
Selanjutnya kredit mengalir ke sektor minyak. Eksplorasi semakin ramai, permintaan tenaga kerja di sektor minyak naik. Universitas membuka jurusan yang berkaitan dengan minyak. Bahkan untuk masa 1970-1980, seorang lulusan SMA atau sarjana sastra bisa diterima untuk menjadi mud-logger, data acquisition engineer/operator. Tidak hanya itu, universitas yang belum punya jurusan yang berkaitan dengan minyak dan geologinya, mendirikan jurusan-jurusan tersebut. Misalnya di Indonesia adalah Universitas Trisakti -1980 dan Universitas Indonesia yang agak telat dengan Program Study Teknik Gas tahun 1981, untuk level dunia banyak kasus seperti ini. Kalau melihat kebelakang, tahun 1970 - 1980 adalah masa kegilaan.
Sebagai akibatnya kapasitas produksi meningkat dan kelangkaan pasokan menjadi sirna. Negara-negara OPEC (eksportir minyak terbesar di saat itu) tidak bisa mengendalikan harga minyak. Walaupun OPEC berusaha membatasi produksinya dengan quota untuk anggota-anggotanya, tetapi gagal. Anggota-anggota sering melanggar quota. Dan setiap kali OPEC menurunkan produksi minyaknya, akan dimentahkan oleh produsen non-OPEC dengan akan mengisi kekurangan yang ditinggalkan oleh anggota OPEC. Dan ini membuat OPEC merasa iri karena pangsa pasarnya terambil oleh Non-OPEC. Itu yang menjadi alasan bagi anggota-anggota OPEC untuk melanggar quotanya. Akibatnya harga minyak turun dan dimulailah masa bear market untuk minyak di tahun 1980 sampai tahun 2000. Selama 20 tahun minyak kurang menarik investor dan juga calon tenaga kerja. Bahkan peminat untuk mengambil pelajaran perminyakanpun susut. Beberapa universitas terpaksa melebur jurusan teknik minyak dengan jurusan lain, biasanya teknik kimia. Kasus yang saya ingat adalah University of Southern California (USC) karena salah satu kolega saya lulusan univesitas itu dan saat ini tidak punya almamater jurusan.
Titik nadir (bottom, paling dasar) dari secular bear market minyak (dan komoditi umumnya) adalah sekitar tahun 1999 atau 2000 dimana harga minyak jatuh ke level di bawah $10 per bbl. Waktunya bersamaan dengan beberapa krisis moneter, seperti krisis Asia, LTCM, dan lainnya serta histeria Y2K. Krisis menyebabkan aktivitas turun yang kemudian berdampak pada pemakainan bahan-bakar. Ketika krisis ini beranjak pulih, pasokan minyak mulai seret. Harga minyak mulai merangkak naik. Proyek-proyek baru untuk meningkatkan produksi menjadi lebih aktif. Misalnya di lapangan Cantarell yang ditemukan tahun 1976, injeksi nitrogen diterapkan dan produksinya mencapai puncaknya di tahun 2003 di level 2.1 bopd (barrel per hari). Pada masa awal bull market minyak 2000 – 2008, bisnis kebanyakan hanya mengandalkan lapangan-lapangan yang sudah ada. Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan produksi secara cepat. Saya sendiri tahun 2001-2002 sebagai (alternate) team leader production enhancement di Malaysia. Misinya adalah menerapkan teknologi-teknologi murah dan mudah yang sudah ada untuk menaikkan produksi minyak secara cepat.

Secular Bull Market 2000 – 2008 dan Produksi Minyak Amerika
Secular bull market minyak 2000 – 2008, melahirkan hal yang mirip, tetapi tidak sama dengan secular bull market minyak 1970 – 1980. Dengan level yang menunjang penerapan teknologi yang lebih kompleks. Minyak dikembangkan daerah-daerah baru. Shale oil yang terdapat di formasi Bekken membentang dari North Dakota, Montana Amerika Serikat ke Saskatchewan dan Manitoba Canada. Juga shale gas di US. Selain itu juga tar sand di Athabasca, Canada. Ladang-ladang minyak/gas ini bukanlah temuan baru Dulu-dulu sudah ada (ditemukan) tetapi tidak bisa dieksploitasi karena memerlukan teknologi yang pada waktu itu mahal. Dengan harga minyak yang cukup tinggi, maka eksploitasi deposit minyak/gas semacam ini bisa dieksploitasi.
Teknologi yang digunakan untuk mengembangkan oil/gas shale, yaitu hydraulic fracturing (disingkat fracking)  bukan lah teknologi baru. Tetapi dengan harga minyak yang tinggi dan perbaikan dalam effisiensinya maka pada periode secular bull market 2000-2008 applikasinya bisa terealisir. Perlu dicatat bahwa untuk pengembangan oil/gas shale diperlukan pengeboran yang terus menerus, karena umur sumur produksi lapangan semacam ini pendek, hanya dalam bilangan tahun (bukan dekade). Jadi untuk mempertahankan tingkat produksi, sumur baru harus dibor untuk menggantikan sumur yang umurnya sudah beberapa tahun.
Diakhir secular bull market 2000 – 2008 dan awal secular bear market minyak, produksi minyak US mulai meningkat, kemudian menjadi parabolik dan hampir mencapai level 1980, rekor puncak produksi minyak US.  Di tahun 2007 produksi minyak US masih di level 5 juta bbl per hari. Dan 4 tahun kemudian menjadi 8.9 juta bbl per hari. Kenaikan produksi hampir 80% hanya dalam kurun waktu 4 tahun dan kebanyakan berasal dari unconventional oil, oil shale. Entah karena kenaikan produksi ini yang membuat harga minyak jatuh, atau karena kebetulan saja bahwa kenaikan produksi minyak US selalu berada di akhir secular bull market. Entah lah. EOWI memperkirakan banyak faktor yang menyebabkan turunnya harga minyak antara lain bearishnya para spekulan, menurunnya permintaan karena perlambatan ekonomi dan kapasitas pasokan minyak yang meningkat.

Chart 1 (klik Chart untuk memperbesar)

Ada beberapa catatan penting dalam kaitannya dengan penguatan US dollar, yang beberapa kali dibahas oleh EOWI, penambahan produksi sebesar hampir 4 juta bbl per hari, artinya pengurangan impor sebesar itu. Jadi dari sudut pandang US dollar,  bisa diterka. Tidak banyak US dollar yang keluar untuk membeli minyak. Peran US dollar dalam bisnis minyak berkurang. Andaikata Russia atau Iran atau negara manapun mau mejual minyaknya dalam mata uang lain, dampaknya tidak banyak terhadap US dollar.

Amerika Serikat Tidak Sendiri
Amerika Serikat tidak sendiri. Canada juga mengembangkan teknologi untuk mengeksploitasi tar sand (minyak berat yang ada di dalam pasir di permukaan tanah). Produksi minyak Canada naik dari 2.9 juta bbl per hari ditahun 2000 ke hampir 4 juta bbl per hari di tahun 2014.  Di wilayah Afrika Barat, muncul negara produsen minyak baru seperti Chad, Mauritania, Pantai Gading. Di samping negara-negara produsen minyak baru, ada juga penemuan-penemuan cadangan baru di wilayah negara-negara yang sebelumnya sudah merupakan produsen minyak seperti Nigeria, Cameroon, Equatorial Guinia, Angola dengan Deep Water nya. Kapasitas produksinya meningkat.
Tidak hanya di Afrika Barat, tetapi juga di Sudan di Afrika Timur juga menjelma menjadi negara penghasil minyak. Harga minyak yang tinggi membawa berkah bagi banyak negara. Tetapi membuka ancaman baru bagi negara-negara OPEC. Setidaknya bagi konsumen akan lebih baik. Dimasa mendatang tidak ada lagi pemasok yang dominan yang bisa menentukan harga pasar.

Terkecuali Indonesia
Pada saat banyak negara yang berhasil menaikkan cadangan dan produksi minyaknya karena harga minyak yang tinggi sehingga memungkinkan dilakukannya eksplorasi dan peremajaan lapangan tua, tetapi terlihat bahwa produksi dan cadangan minyak Indonesia terus menurun. Puncak produksi minyak Indonesia adalah 1.6 juta bbl per hari di tahun 1981, dan turun terus sampai 830 ribu bbl per hari di tahun 2014. Terima kasih ini berkat ketidak becusan BPMigas, SKKMigas, Migas, DPR dan UUD45 ayat 33. Seharusnya semua negara termasuk Indonesia bisa meningkatkan cadangan dan produksi minyaknya pada secular bull market minyak. Hanya negara yang salah urus saja yang tidak bisa. Indonesia tidak bisa mengambil peluang ini.
Alih-alih meningkatkan produksi minyak. Pemerintah malah menaikkan harga bensin premium dan solar. Pelaksana pemerintahan kelihatan bodohnya ketika menaikkan harga besin premium dari Rp 6500 ke Rp 8500 per liter (31%) tanggal 18 November 2014. Alasannya harga minyak akan naik dan beban subsidi sudah terlalu berat. Harga minyak adalah $ 75 per bbl pada saat dinaikkannya harga bensin premium, 25 hari kemudian pada saat saya menulis harga minyak mentah dunia turun dari $75  ke $57 per bbl (25%). Itu kalau dihitung dari saat kenaikan premium, tetapi kalau dihitung dari saat dilantiknya Jokowi, tanggal 20 oktober 2014, dimana tentunya dia sudah membuat hitung-hitungan kenaikan BBM, harga minyak mentah dunia ada di level $88 per bbl (36%). Jadi sekarang ini subsidi harga premium bisa jadi negatif. Artinya pemerintah sudah dapat untung dari BBM bersubsidi.
Mau lihat buktinya. Untuk tanggal 8 Desember 2014, harga bensin di US, negara yang liberal harga ditentukan pasar USA adalah $0.76 untuk type RON 92 seperti Pertamax atau Shell Super (sebelum pajak penjualan) dan di Indonesia adalah $0.82 per liter untuk permium yang RON nya 88! UUD 45 pasal 33 hanyalah kebohongan saja. Atau pemerintah yang bodoh dan tidak becus.
Ada yang mengatakan bahwa pemerintah nampak bodoh, tidak bisa mengamati harga minyak mentah karena terbukti bahwa tidak lama setelah pemerintah menaikkan harga BBM, harga minyak dunia turun drastis. EOWI tidak setuju dengan pendapat ini. Ada perbedaan arti yang besar sekali antara dua pernyataan di bawah ini:
  1. Dengan anjloknya harga minyak dunia membuat pemerintah nampak bodoh
  2. Dengan anjloknya harga minyak dunia membuat kebohohan pemerintah nampak
Kedua kalimat ini mirip tetapi artinya berbeda sekali. Kesimpulannya terserah pembaca. Tetapi coba ditambah dengan fakta bahwa selama satu (1) dekade harga minyak yang tinggi, dan tidak mampu meningkatkan cadangan dan produksi minyak mentah bahkan mempertahankan di level produksi yang sama, maka kesimpulan anda akan lengkap. Silahkan simpulkan sendiri.

Secular Bear Market Minyak 2008 – 2025(?)
Dalam beberapa tulisan sebelumnya, EOWI sudah memproklamirkan bahwa minyak telah memasuki periode secular bear market. Artinya dalam beberapa tahun ke depan, sampai bilangan dekade, harga minyak, insya Allah, tidak akan melampaui harga tertingginya $140 per bbl yang dicapainya pada tahun 2008 lalu. Tepatnya $145.31 per bbl, pada tanggl 3 Juli 2008. Sebab secular bear market ini adalah karena banyak cadangan yang telah ditemukan selama tahun 2000 - 2008. Memang cadangan baru ini tidak di Indonesia, sebabnya karena salah urus di Indonesia. Tetapi di belahan dunia sana banyak cadangan telah ditemukan dan kapasitas produksi meningkat.
Secara teknikal secular bear market sudah dimulai. Hal ini bisa dilihat pada chart di bawah ini. Puncak wave-5 terjadi pada tanggal 3 Juli 2008 ($145.31 per bbl). Koreksi wave A menjatuhkan harga minyak ke $30.28 per bbl hanya dalam waktu 6 bulan yaitu tanggal 23 Desember 2008. selanjutnya rebound wave B yang merupakan sekumpulan wave kecil a-b-c-d-e yang membentuk pola segitiga wedge. Wave B ini sekarang sudah selesai, tren secular bear market wave C akan berlanjut. Targetnya adalah di bawah wave A, yaitu di bawah $30.28 per bbl.


Chart 2 (klik Chart untuk memperbesar)


Dengan harga minyak yang sempat menyentuh level $53.80 pada tanggal 16 Desember 2014, rasanya ramalan di bawah $30 per bbl bukanlah hal yang mustahil. Entah kapan akan dicapainya, tetapi kami perkirakan antara tahun 2015 sampai 2020, sejalan dengan ramalan Gejolak2014 – 2020.
Dengan harga minyak jatuh demikian drastisnya, akan banyak membawa akibat. Buntut harga minyak yang jatuh tidak hanya akanmerunthkan perusahaan-perusahaan minyak yang lemah, juga menyeret investor pemberi kredit, PHK para pekerjanya, tetapi juga goncangan-goncangan sosial yang dilatarbelakangi oleh tekanan ekonomi dan ketidak-puasan masyarakat. Pergolakan  sosial ini di masa lalu mengakibatkan runtuhnya banyak pemerintahan. Bukan tidak mungkin hal yang sama/mirip akan terjadi di masa depan. Tema ini akan dibahas pada bagian berikutnya dari Tergelincir Minyak Yang Licin (Bagian II).
Sekian dulu. Nanti akan dilanjutkan kisah berikutnya........, sampai nanti, insya Allah


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, December 8, 2014

Currency Wars : The Dollar Strikes Back


The Dollar Strikes Back adalah lanjutan kisah sebelumnya Return of the Dollar. Keduanya adalah judul film sekuel The Star Wars . EOWI meniru-niru judul tersebut bukan karena ada kemiripan antara US dollar dan kisah film the Star Wars itu, tetapi karena sekedar enak didengar. Currency Wars dengan Star Wars dan Return of the Dollar dengan Return of the Jedi, atau Empire Strikes Back dengan US Dollar Strikes Back mereka seirama.

Beberapa minggu lalu saya melihat-lihat indeks US dolar (seterusnya disebut indeks dollar). Secara mengejutkan ternyata US dollar tidak selalu menurun terhadap sekeranjang mata uang negara lainnya seperti yang sering dipersepsikan media selama ini. Pada periode tertentu yang ukurannya dalam bilangan dekade, US dollar mengalami peaking  atau berada pada titik puncak, seakan membentuk pengulangan atau siklus. Pada saat ini US dollar berada dalam fase bullish dan trennya menanjak. Dan tren ini akan berlangsung terus, menurut EOWI sampai kira-kira tahun 2019. Awalnya penguatan terhadap beberapa mata uang sudah terjadi sekitar 4 – 5 tahun lalu, tetapi tren ini belum nampak jelas. Dan akhir-akhir ini tren ini sudah menjadi jelas karena semakin banyak mata uang yang tertekan oleh US dollar. Tidak hanya mata uang, tetapi asset-asset lain seperti komoditi dan properti di berbagai negara mengalami tekanan. Hanya saham saja yang masih belum memperoleh pukulan dari US dollar. Pilihan katanya adalah belum, bukan tidak. Saham tidak akan imun terhadap gempuran US dollar.

Apa yang dipersepsikan oleh media dan banyak analis bahwa the Fed akan melakukan usaha-usaha untuk menjatuhkan nilai dollar dengan membanjiri pasar dengan likwiditas, mencetak dollar sebanyak-banyaknya, untuk mendongkrak harga-harga asset (properti, saham, bond swasta), mengobarkan api inflasi, memberikan illusi seakan pemilik asset kaya dan mendongkrak ekonomi, tetapi usaha-usaha ini sebagian gagal. US dollar tidak mengalami depresiasi, ekonomi US tidak bersinar dan beberapa asset tidak terdongkrak nilainya, kecuali saham dan kebangkrutan massal perusahaan dan bank yang sampai saat ini masih bisa ditahan. Dengan kata lain the Fed gagal (gagal sebagian bukan gagal tidak total). Sampai saat ini memang belum gagal total, pada saatnya EOWI meramalkan sektor saham akan terpukul dan kebangkrutan-kebangkrutanpun tidak bisa dicegah.

Chart-1 di bawah ini menunjukkan bahwa indeks dollar telah keluar dari pola trading wedge nya dan siap meluncur ke 120 ( dari level 79 di awal tahun 2014 ini.

Chart 1  (klik chart untuk memperbesar)


Euro-Dollar Bear
Pasangan Euro-Dollar atau nilai tukar Euro terhadap US dollar mengalami masa bearish sejak krisis subprime tahun 2008. Ini bisa dilihat pada chart berikut. 


Chart 2  (klik chart untuk memperbesar)

Ekonomi Eropa mengalami keterpurukan yang lebih parah dari US. Eropa juga punya masalah bubble di sektor properti di samping itu, tiang penyangga utamanya yaitu Jerman punya masalah demografi yang lebih parah dari US. Belum lagi sistem sosialis di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belanda, Itali, Spanyol, dll, membuat negara-negara itu sulit membenahi defisit fiskalnya.  Secara  reatif, bank sentral Eropa mencetak uang lebih banyak dari the Fed.

Tidak banyak yang bisa dikomentari, karena Euro akan mengetest kembali resistan di level 1.24  untuk ke tiga kalinya sebelum melanjutkan masa bearishnya. Jika ini berhasil, maka target berikutnya adalah 1.00, nilai tukar US dollar terhadap Euro adalah 1.

Gempuran US dollar terhadap zone Euro masih akan berlanjut. Kedahsyatannya mungkin bisa berakibat pecahnya koalisi Euro, dalam arti beberapa negara mungkin terpaksa harus keluar dari persekutuan Euro. Di wilayah dengan cakupan yang lebih luas, yaitu masyarakat ekonomi Eropa, Inggris (rakyatnya) nampaknya mempertimbangkan untuk keluar dari European Union (Masyarakat Ekonomi Eropa). Sebabnya adalah, kepentingan-kepentingan masing-masing negara saling bertabrakan.


Yen, Era Baru – Yaitu Bear Market
Pasangan US$ - yen mengalami masa bearish sejak jaman kuda gigit besi. Artinya nilai tukar US dollar selama beberapa dekade terdepresiasi terus terhadap yen. Jepang memang kalah Perang Dunia II, tetapi seusai perang, secara ekonomi Jepang mengalahkan US, setidaknya yen selalu menguat terhadap US dollar sejak jaman kuda gigit besi. Wah itu agak dilebih-lebihkan. Lebih tepatnya sejak the Fed mendatanya tahun 1970 (Chart-3 dan Chart-4). Jadi setidaknya selama 42 tahun yen secara umum mengalami appresiasi terhadap US dollar. Ini adalah jangka waktu yang lamaaaaa sekali. Yen baru keluar dari tren yang sudah berjalan beberapa dekade pada tahun 2014 ini. Nilai tukar dollar menjadi di atas ¥ 110.


Chart 3 (klik chart untuk memperbesar)

Namun demikian, sejak tahun 1998 (krisis Asia) appresiasi ini mengalami perlambatan (Chart-3).  Dan tahun 2014 ini pasangan US$-yen keluar dari masa bearishnya (Chart-3, Chart-4 dan Chart-5). Nampaknya tahun 2014 adalah awal dari era baru bagi US$ terhadap yen. Lebih tepatnya era baru bagi keterpurukan yen. Tuhan mengabulkan permintaan para banker di BoJ. Mungkin pengabulan ini bersifat rapel. Maksudnya doa selama 25 tahun itu dikabulkan sekali gus dan yen jatuh terpuruk, nyungsep.
 

Chart 4 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 5  (klik chart untuk memperbesar)


Jepang yang bangkit dari kehancuran Perang Dunia II dan menjelma menjadi negara maju, produsen barang-barang konsumen dan barang-barang modal yang effisien dan ekspornya bersaing. Barang-barang buatan Jepang merajai dunia. Oleh sebab itu neraca perdagangannya mengalami surplus selama beberapa dekade. Selama dekade 70an, neraca perdagangan masih selang-seling surplus dan defisit. Setelah tahun 1980 sampai tahun 2012 neraca perdagangan Jepang selalu mengalami surplus (Chart-6).  Tidak terlalu mengherankan jika neraca transaksi berjalannya selalu mengalami surplus pada periode tersebut (Chart-7). Demikian juga yen selalu mengalami penguatan dimasa itu. Harga US$ tahun 1970 adalah ¥ 360 dan 42 tahun kemudian, tahun 2012 nilai tukar ini menjadi ¥ 79 per US dollar. Yen ter-appresiasi menjadi 4.6 kali lipat. Appresiasi yen ini berarti produk-produk Jepang  jika harga nominalnya dalam yen tidak diturunkan maka akan menjadi 4.6 kali lebih mahal dan tidak kompetitif. Kalau sekarang kita mengatakan bahwa barang-barang Jepang tidak bisa dikatakan mahal, maka barang-barang produksi Jepang 4 dekade lalu seharusnya bisa disebut sangat murah. Kenyataannya memang begitu. Barang-barang Jepang di tahun 70an dikenal sebagai murah dan kwalitasnya dipandang  rendah. Saat ini tentang kwalitas, barang-barang Jepang tidak bisa disebut buruk. Bahkan dengan buatan Amerika dan Eropa Barat, barang buatan Jepang termasuk bagus.

Chart 6 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 7 (klik chart untuk memperbesar)

Generasi yang tumbuh semasa dan paska Perang Dunia II (ekivalen dengan Baby Boomer di US), sejak tahun 1990 – 2000 memasuki masa tua, pensiun dan tidak seproduktif seperti di masa mudanya. Sedangkan generasi penggantinya tidak cukup banyak untuk mengisi tempat yang ditinggalkan bapaknya. Jepang menjadi masyarakat yang menua.  Jepang tidak bisa lagi memproduksi barang dengan harga yang kompetitif dalam jumlah yang lebih banyak dari pada yang dikonsumsinya sejak tahun 2012 (Chart 5). Hal ini akan berlanjut terus, kecuali masyarakat Jepang  merubah pola hidup meraka.

Defisit neraca transaksi berjalan dan defisit perdagangan sejak 2013 berarti sejak tahun ini Jepang membutuhkan lebih banyak dollar untuk membeli serta membayar barang, jasa, kewajibannya dari pada dollar yang diterima oleh Jepang. Yen mengalir keluar Jepang. Hal itu salah satunya menyebabkan yen melemah.

Tidak hanya itu, belum lama ini Bank Sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), bertekad untuk membeli saham dan obligasi pemerintah sampai mencapai $ 730 milyar setiap tahun untuk bond dan $30 milyar untuk saham (lihat: Jepang: (Belum atau Sudah?) pada Puncak Kegilaan). Ini adalah upaya untuk mendepresiasi yen supaya produk Jepang bisa bersaing lagi. Entah karena usaha BoJ berhasil, atau karena memang secara alami yen harus melemah atau kedua-duanya adalah tidak penting. Yang penting bahwa realitanya yen melemah.

Rakyat Jepang selama ini masih puas menyimpan uangnya di tabungan yen nya, kendatipun dengan bunga yang kecil. Ini dimaklumi karena selama ini nilai yen terus menguat. Walaupun bunganya kecil, tetapi gerusan inflasi hampir tidak ada. Bagaimana jika kemudian mereka (rakyat Jepang) melihat nilai yen perlahan-lahan tergerus dan BoJ bersama pemerintah berusaha mati-matian untuk mengobarkan inflasi? Tidak hanya itu, mereka melihat bahwa pemerintah mereka tidak punya pilihan lain kecuali menggerus nilai yen untuk menghancurkan hutang mereka (pemerintah), karena pemerintah ini tahu bahwa mereka tidak akan sanggup menarik pajak yang besar untuk membayar hutangnya. Apakan kepercayaan rakyat Jepang terhadap yen tidak runtuh? Hiper-inflasi bukan sekedar masalah cetak-mencetak uang saja, tetapi lebih banyak masalah hilangnya percayaan terhadap suatu mata uang. Walaupun bank sentral mencetak dan menerbitkan uang yang banyak, tetapi jika masih banyak yang percaya dan mau memegang mata uang tersebut, hiper-inflasi tidak terjadi. Tetapi, jika kepercayaan itu hilang, orang menganggap mata uang tersebut tidak ada nilainya, maka hal ini akan membuat semua orang melepaskan uangnya (mata uang tersebut yang dimilikinya). Akibatnya anggapan bahwa mata uang tersebut tidak ada nilainya menjadi kenyataan. Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana jadinya jika semakin banyak rakyat Jepang melihat BoJ dan pemerintahnya berusaha mati-matian untuk menghancurkan yen dan tidak ada solusi lain bagi pemerintah Jepang dalam menyelesaikan hutangnya kecuali dengan menghancurkan yen? Apakah kepercayaan mereka terhadap yen akan hilang? Akankah terjadi krisis kepercayaan terhadap yen?

Pertanyaan di atas akan bertambah sejalan dengan masuknya Jepang dalam resesi yang diumumkan tanggal 19 November 2014 ini. Akankah hilangnya/berkurangnya kepercayaan terhadap yen ini sudah mulai terjadi atau terjadi dalam di dalam 2 tahun mendatang?

Ekonom di BoJ boleh berpikir bahwa dengan dihancurkannya yen, yang notabene adalah menghancurkan hutang termasuk hutang perusahaan, maka banyak perusahaan yang terlibat hutang akan memperoleh keuntungan dan terselamatkan, tetapi kenyataannya lain. Menurut study oleh Tokyo Soho Research jumlah kepailitan di Jepang sejak tahun 2013 akibat depresiasi yen ternyata jauh melebihi kepailitan perusahaan akibat penguatan yen (Chart-8).

Chart 8 (klik chart untuk memperbesar)

Mungkin saja kebangkrutan tahun 2009 – 2011 yang disinyalir sebagai akibat dari penguatan yen, adalah karena faktor lain. Karena saat itu adalah masa perlambatan ekonomi global paska krisis subprime. Pada masa ada faktor lain yaitu perlambatan ekonomi global tahun.  Dan  kalau mau berargunan sekarangpun bisa dikatakan juga masa menjelang krisis ekonomi global. Itulah ekonomi. Mau ngomong apa saja bisa. Tetapi untuk kisah ini akan lebih seru kalau dikatakan bahwa kedua kasus kebangkrutan ini (periode 2009 – 2011 dan periode 2013 – 2014) adalah akibat dari perubahan nilai tukar yen. Ketika yen menguat, harga jual barang Jepang yang diproduksi di pasar ekpor menjadi tinggi dan menjadi tidak kompetitive. Sedangkan ketika yen melemah, dan harga jual barang-barang Jepang di pasar ekspor turun, tetapi untuk komponen bahan bakunya dan komponen energi (dari impor) tidak turun.

Tidak hanya itu, depresiasi yen berakibat juga bertambahnya beban rumah tangga. Bahan bakar kendaraan dan listrik yang semuanya diimpor, akan naik (dalam yen). Sedangkan pendapatan rumah tangga/gaji relatif tetap. Memang turunnya harga minyak meringankan sebagian dari beban dari depresiasi yen. Yen yang turun dari level ¥79 per dollar ke ¥120 adalah depresiasi sebesar 53%. Sedangkan minyak turun 34% dari $ 100 per bbl ke $ 66 per bbl. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang dilanjutkan dengan kenaikan gaji/upah, maka depresiasi yen akan menjadi beban secara ekonomi bagi rumah tangga. Konsumsi akan turun dan resesi berkepanjangan menjadi resiko yang besar. Dengan kata lain: the dollar strikes yen back…… and knocks down the Japan economy.


US Dollar vs Emas
Tanggal 30 November 2014 lalu, rakyat Swiss keluar rumah untuk memberikan suaranya dalam suatu referendum mengenai keharusan Swiss National Bank (SNB) untuk menambah cadangan emasnya dari 8% ke 20% yang harus dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun. Ini merupakan langkah awal dari proses untuk kembali ke standard emas di Swiss. Pada minggu-minggu sebelumnya, gold bulls dan gold bugs, secara antusias memprolamirkan akan adanya rally besar. Kami di EOWI tenang-tenang saja. Bahkan EOWI tidak menurunkan artikel apa-apa tentang kemungkinan adanya rally besar dan panjang di sektor emas.

EOWI bukannya tidak mendukung atau tidak setuju dengan sistem moneter berbasis emas sistem berbasis asset riil, tetapi kita harus realistik. Pasar sedang mengalami pengempesan bubble emas. Bubble emas sedang kempes, sehingga bisa diramalkan bahwa antusiasme untuk kembali ke sistem keuangan berbasis emas bisa dipastikan sudah merosot. Ibaratnya seperti sedang kekenyangan makan gulai gajeboh yang lemak semua, kemudian ditawari kue tart yang juga lemak gurih. Rasanya akan neg dan bisa muntah. Jadi jangan heran kalau pro-emas dikalahkan secara telak 77% – 23% untuk kemenangan anti sistem emas. Mungkin rakyat Swiss memang sudah bosan dengan sistem keuangan berbasis asset riil dan lebih senang pemerintahnya mempermainkan mata uang mereka. Entahlah. Yang pasti SNB tidak perlu menambah 300 ton emas ke dalam pundi-pundinya setiap tahun selama 5 tahun, tidak lagi menjual cadangan emasnya dan menyimpan semua cadangan emasnya di Swiss (bukan di negara lain).

Tidak ada rally emas sebelum referendum dilaksanakan sebagai kebiasaan pasar buy on rumor sell on news. Bahkan ketika hasil referendum keluar yang seharusnya membuat emas terpuruk, juga tidak terjadi. Pasar emas berjalan seakan referendum di Swiss tidak pernah ada.

Di medan pertempuran antara logam mulia (emas) dengan US dollar, beberapa waktu lalu, keduanya masih berimbang mempertahankan garis pertahanan antara $1200 - $1400 per oz selama hampir 1.5 tahun. Tetapi nampaknya beberapa minggu lalu US dollar bisa memberikan serangan yang telak dan memukul mundur emas dari garis pertahannya $1200.  Dan ajang pertempuran selanjutnya akan berada di sektor $ 1000 - $ 1200 per oz. Beberapa kali emas berusaha merebut kembali garis pertahanan $1200 per oz, tetapi berhasil dipukul mundur kembali oleh US dollar.

Chart 9  (klik chart untuk memperbesar)


US Dollar vs Minyak Mentah
Harga minyak mentah (kita sebut saja minyak), terhadap rupiah atau ringgit atau euro tidak berubah banyak, relatif stabil. Tetapi ketika dollar memukul mata uang-mata uang ini maka harga minyak terhadap dollar mengalami kejatuhan. Bahkan untuk beberapa kasus, di saat harga minyak jatuh terhadap dollar, harga minyak ini naik terhadap beberapa mata uang, seperti terhadap rubel.

Dari tahun 2012, harga minyak tidak beranjak banyak dari kisaran $80 - $115 per bbl untuk minyak mentah WTI (West Texas Intermidiate).  Orang bilang sekitar $90 - $100 per bbl. Tetapi dengan kembalinya (penguatan) dollar, permainan akan berubah (Chart-10).


Chart 10 (klik chart untuk memperbesar)

Harga minyak telah menembus pola wedge segitiganya. Dan harga terendah akhir yang pernah dicapainya adalah $64 per bbl. Secara teknikal kemungkinan minyak akan jatuh di bawah $32, yaitu harga pada masa krisis subprime.


Rubel in Trouble
Russia menandatangani perjanjian dengan Cina untuk pembelian gas 30 milyar meter kubik pertahunnya, sebesar $400 milyar selama 30 tahun. Harga minyak ditetapkan dalam yuan. Berita ini terpampang di beberapa media massa beberapa waktu lalu. Kemudian analis-analis hardcore anti dollar, mengatakan bahwa  masa dominasi dollar telah pudar. Cina akan menjadi pesaing utama US sebagai pemegang kendali ekonomi dunia dan yuan akan menggantikan US dollar sebagai mata uang dunia. Petro-Yuan. Itu menjadi tema-tema tulisan para analis. Link ini sebagai contohnya: The Rise of the ‘Petro-yuan’ and the Slow Erosion of Dollar Hegemony. Bukannya EOWI pro dollar, tetapi kami berpendapat bahwa Cina tidak akan bisa menjadi pengganti US dalam 100 tahun ke depan. Kasus ini mirip dengan kasus euphoria ketika Jepang sedang menanjak di tahun 1980-1990. Semua orang memuji Jepang, meramalkan bahwa Jepang akan menyusul dan menggantikan US dalam peranannya di ekonomi dunia. Kenyataannya tidak demikian. Hal ini sama dengan kasus Cina, sebabnya pun sama, yaitu masalah demografi. Kita akan dibahas di lain kesempatan.

Fakta menunjukkan bahwa Eropa mengkonsumsi 541 milyar meter kubik per tahunnya (2013). Dan 30% nya (161.5  milyar meter kubik) dipasok oleh Gazprom Russia. Separo atau 80 milyar meter kubik dari pasokan Russia ini melewati Ukraina yang saat ini mengalami ketegangan dengan Russia. Angka pasokan ke Cina hanyalah sekitar 30% dari pasokan yang melewati Ukraina yang mengalami perang. Secara keseluruhan ekspor Russia turun baik volume dan nilainya (karena turunnya harga gas/minyak), budget pemerintah meningkat (karena perang yang tidak langsung) dan situasi menjadi tidak kondusif terhadap bisnis. Ini kombinasi yang bisa menjatuhkan nilai mata uang Russia. Pada saat pemerintah sudah membatasi transaksi forex, mengancam spekulator, membatasi keluarnya dollar (dari negara itu), capital flight, maka semakin semakin takut pelaku bisnis untuk menempatkan kapitalnya di negara tersebut. Itu yang terjadi. Rubel in trouble. Dalam 2 tahun ini kurs rubel terhadap dollar jatuh hampir 100%, dari Rub 29 per US dollar di awal tahun 2013 menjadi Rub 53 – Rub 55 di akhir tahun 2014.

 Chart 11 (klik chart untuk memperbesar)


US Dollar vs Rupiah
Selama 1 tahun ini kurs US dollar terhadap rupiah dalam fase konsolidasi, kemungkinan di wave-4 menurut hitungan Elliot wave (Chart-12). Koreksi ABCDE sudah dipecahkan (Chart-13). Nampaknya rally dollar akan berlanjut. Target berikutnya setidaknya akan ke Rp 14,000 – Rp 15,000 per dollarnya. Bisa juga ke level Rp 16,000 atau Rp 17,500. Mana yang akan dicapainya? Entahlah. Nampaknya level Rp 14,000 – Rp 15,000 adalah level yang kuat, yaitu level tertinggi pada saat krismon 1998 lalu.

Chart 12 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 13 (klik chart untuk memperbesar)


Untuk rupiah dan harga minyak saat ini kita batasi saja pembahasannya. Lain kali akan dibahas secara lebih detail dalam seri Gejolak 2014 – 2020.

Sekian dulu, jaga kesehatan, tabungan dan  investasi anda baik-baik.

Jakarta 7 Desember 2014.
 





Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.