_____________________________________________________________________________________________________________________




Saturday, November 8, 2014

Jepang: (Belum atau Sudah?) pada Puncak Kegilaan


Judi Kode Buntut dan Orang Gila
Pada jaman dulu, masih dalam hitungan beberapa dekade lalu, judi massal masih marak di Indonesia. Ada beberapa jenis judi yang dikenal di Indonesia dengan beberapa nama: judi buntut, porkas, buntut toto, hua-huwei dan lain lain. Inti permainannya sama yaitu judi dengan permainan 2 angka yang diputar seminggu sekali. Banyak orang-orang dari tukang becak, penjual rokok sampai pengangguran ikut terlibat dalam permainan ini. Sejalan dengan judi buntut itu, ada yang disebut kode buntut yang banyak dicari orang. Yang dimaksud dengan kode buntut ini adalah angka yang ditengarai akan keluar minggu depan. Orang mau menjalani apa saja untuk memperoleh kode buntut ini. Bertapa di kuburan, berendam di sungai, dan yang paling sering adalah menyuruh orang gila untuk menyebut suatu angka. Kalau sudah seperti itu kita tidak tahu, siapakah yang gila, apakah yang bertanya/menyuruh atau yang ditanya. 
Mencari kode buntut dengan bertanya kepada orang gila (orang sakit jiwa) belum bisa disebut kegilaan, tetapi lebih condong pada irrasional alias tidak rasional. Tetapi jika hal yang tidak rasionil ini dilakukan berkali-kali dan tidak berhenti serta mengharapkan hasil yang berbeda, maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai kegilaan (insanity) – perbuatan orang sakit jiwa.

Albert Einstein mengatakan: "Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results."

Mungkin ucapan ini bukan Einstein yang pertama mengatakannya, tetapi Einstein adalah yang mempopulerkannya. Setidaknya orang banyak menyepakatinya seperti itu. Tentunya pembaca bertanya, kenapa EOWI menyitir ucapan Einstein ini. Sebabnya EOWI ingin menunjukkan betapa banyak orang yang edan dan mempengaruhi hidup anda dan hidup orang banyak.

Kejutan di Akhir 2014 dari Bank Sentral Jepang
Tanggal 31 Oktober 2014, Jumat lalu, pasar dunia memperoleh shock dari Jepang. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya bank sentral Jepang (Bank of Japan, BoJ) mengumumkan kelanjutan stimulus ekonomi Quantitative Easing (QE) yang lebih aggressive yaitu menambah pembelian surat obligasi pemerintah Jepang dari sekitar $450 milyar ke $ 730 milyar setiap tahun. Tidak hanya itu, BoJ juga mau meningkatkan pembelian saham dari $10 milyar per tahun menjadi $30 milyar. Akibatnya nilai yen terjun, harga emas terjun juga $25 dan indeks Nikkei terbang 815 poin. Entah kenapa emas dan perak ikut terjun pada hari itu.

Kegilaan yang Mahal
Orang yang tidak rasionil belum bisa disebut gila. Tetapi semua orang gila pada dasarnya tidak rasionil. Dalam berpikir persepsi dipengaruhi oleh kewahamannya (dilusinya). Ini yang membuat mereka berbeda dengan orang waras. Yang dimaksud dengan dilusi adalah kepercayaan atas kesunyataan (basic truth, kebenaran dasar) yang sebenarnya tidak ada. Misalnya seorang penderita paranoid schizophrenia, percaya bahwa dirinya sedang dikejar-kejar untuk dibunuh. Dia akan bertindak seakan-akan jiwanya terancam. Bukan mustahil ia menyerang orang disekitarnya karena ingin mempertahankan diri dari apa yang diasumsikan sebagai potensi bahaya. Penderita paranoid schizophrenia bisa mendatangkan bahaya dan kerugian harta dan nyata pada masyarakat, walaupun tidak skalanya tidak sebesar akibat prilaku para central banker.

Penggelontoran kredit dipercaya selalu bisa mengaktifkan ekonomi. Dengan penggelontoran kredit, bisnis akan melakukan peningkatan investasi dan ekspansi bisnis sehingga lapangan kerja bertambah. Ini dianggap sebagai suatu kesunyataan oleh para central banker. Terlepas hal ini merupakan keberadaan hakiki atau illusi, toh kepercayaan ini sudah meresap ke dalam kepercayaan para central bankers.

Bank sentral Jepang melakukan suatu hal yang sama dan sia-sia (tidak mencapai apa yang diinginkannya) selama 25 tahun serta memakan biaya yang besar sekali. Perbuatan ini bisa dikategorikan sebagai kegilaan yang mahal. Sejak tahun 1990, bank sentral Jepang melakukan stimulasi ekonomi agar bisa bangkit kembali dari keterpurukannya di tahun 1990. Dan sampai saat ini pertumbuhan ekonomi Jepang selalu di bawah 3%, sangat marginal. Biayanya, sebagian masih bisa dilihat dalam bentuk hutang pemerintah Jepang yang melampaui satu (1) quadrilliun yen di tahun 2013. EOWI memperkenal kata baru bagi pembaca sekalian, yaitu quadrilliun. Ini menggambarkan betapa besarnya hutang pemerintah Jepang sampai-sampai sebutan angkanya tidak termasuk dalam kata  yang kita kenal. Kalau diukur dengan GDP, angka ini mencapai 218%. Dan angka ini masih naik menjadi 227% di tahun 2014.

Awal Dimulainya
(Ekonomi) Jepang mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1990. Kejayaan ini diakhiri dengan meledaknya bubble realestate dan pasar saham Nikkei. Sejak saat itu ekonomi Jepang mengalami masa deflasi yang suram. Kata suram ini mungkin barlaku untuk politikus di pemerintahan, tetapi tidak berlaku bagi rakyat Jepang. Saham Jepang tidak ikut pesta bubble tech tahun 1990an dan sektor properti Jepang juga absen dari pesta di sektor properti dunia yang berakhir tahun 2008.

Kami di EOWI berpendapat bahwa puncak ekonomi Jepang ini ada korelasinya dengan demografi. Puncak konsumsi rakyat Jepang berakhir di tahun 1990. Gelombang generasi ini berpopulasi cukup besar dan mereka melepaskan anak-anaknya dan memasuki masa tuanya kemudian pensiun di masa tahun 1990 itu. Setelah itu generasi berikutnya tidak cukup banyak/besar populasinya untuk bisa mengembalikan tingkat konsumsi di masa lalu. Sekarang masyarakat Jepang adalah masyarakat yang menua. Di samping populasi yang menurun, jumlah orang-orang tua di dalam demografi Jepang terus meningkat. Dan orang tua tidak konsumtif, bahkan cenderung untuk berhemat. Jepang kehilangan konsumen, dan konsekwensinya kehilangan permintaan akan barang dan jasa. Kehilangan selera untuk mengambil kredit, akibatnya perputaran uang pun tidak seperti dulu lagi. Kehilangan selera untuk berspekulasi dan bursa sahampun mandeg. Dan penghasilan mereka relatif tetap dari pensiun, kalau tidak mau disebut menurun karena dimakan inflasi.

Menurut para ekonom Keynesian kondisi ekonomi semacam ini tidak baik. Tentu saja EOWI tidak sependapat dengan mereka. Menurut mereka, kalau tidak ada inflasi itu jelek. Apakah rasionil opini ekonom seperti ini? Kalau anda ditanya: “Apakah anda suka jika harga barang tidak pernah naik?” Kalau anda masih waras, maka jawabannya adalah bahwa tingkat inflasi nol adalah bagus. Nilai uang dan tabungan kita tetap dan tidak berkurang. Tentunya anda akan bertanya: “Dimana kewarasan orang yang duduk di pemerintahan dan bank sentral itu, yang menginginkan nilai riil tabungan susut 2% (atau berapa saja) setiap tahunnya?”. Setiap bank sentral di dunia, termasuk Haruhiko Kuroda dari BoJ, menginginkan inflasi setidaknya 2%  per tahun. Perilaku orang-orang di pemerintahan dan bank sentral ini punya banyak persamaan jika dibandingkan dengan orang yang bertanya kepada orang gila tentang kode buntut. Mereka sama-sama tidak tidak rasionil.

Terlepas rasionil atau tidak pemikiran para ekonom dan orang-orang di bank sentral, mereka bertekad bulat untuk mengakhiri kondisi semacam ini dengan segala cara dan dengan biaya berapapun. Itulah awal penyakit yang menggrogoti Jepang secara bertahap selama 25 tahun dan masih berlangsung. Bertahun-tahun pemerintah Jepang bersama dengan bank sentralnya melakukan apa yang disebut stimulasi ekonomi, yang sekarang dikenal dengan nama QE, tetapi hasilnya tidak ada. Eksperimen/perbuatan yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang panjang (25 tahun) dan mereka mengharapkan hasil yang berbeda, itu namanya insanity, kegilaan. The maestro Alan Greenspan sendiri mengatakan/mengakui bahwa QE tidak akan memperbaiki dan menstimulasi ekonomi riil yang berupa pembukaan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan riil. Yang ada adalah menstimulasi pembentukan bubble dan spekulasi. Artinya perbuatan melakukan QE akan sia-sia. Itu tentu saja tidak dikatakannya ketika menjabat sebagai ketua the Fed, bank sentral Amerika. Mungkin dia sembuh dari kegilaannya ketika turun dari kursi ketua the Fed. Walaupun sudah difatwakan oleh sang maestro, tindakan yang tidak masuk akal dan sia-sia, ketidak-bijaksanaan ini dilakukan selama 25 tahun oleh 6 central bankers Jepang dari mulai Yasushi Mieno, kemudian Yasuo Matsushita, lalu Masaru Hayami, Toshihiko Fukui, Masaaki Shirakawa dan akhirnya Haruhiko Kuroda. Ini memenuhi kriteria/definisi Albert Einstein tentang gila (insanity). Jika anda memilih orang gila atau penipu untuk urusan anda, maka yang anda dapat adalah kesengsaraan dimasa akan datang.

Hidup Bejalan Terus
Kembali ke cerita awal. Sejak jebolnya bubble saham dan properti Jepang, menurut kata para ekonom dan bank sentral bahwa ekonomi Jepang suram. Mungkin karena harganya tidak naik-naik. Tetapi di pihak lain orang Jepang masih produktif. Mereka masih menghasilkan banyak barang untuk diekspor. Surplus perdagangannya selama beberapa dekade selalu positif (Chart-1). Sulit untuk mengatakan bahwa kehidupan di Jepang sengsara. Tidak ada kelaparan, tidak ada wabah yang membasmi populasinya. Mereka masih bisa bekerja secara effisien. Bisa memproduksi dan menjual barang lebih banyak dari yang dibutuhkan artinya tidak ada persoalan bukan? Antara ekonom, politikus, birokrat dengan rakyat kebanyakan ada jurang persepsi yang dalam.

Chart - 1

Dengan surplus ini rakyat Jepang punya banyak tabungan. Ini tentu saja akan diincar oleh para politikus. Duit nganggur. Bisa dipakai untuk bereksperimen. Dan nampaknya rakyat Jepang tidak protes. Kenaifan rakyat Jepang inilah nanti yang nantinya akan membuat mereka sengsara.

Sayangnya kondisi surplus perdagangan Jepang ini secara alami tidak bisa terjadi terus-menerus. Tidak ada yang bisa punya surplus perdagangan terus-menerus tanpa akhir. Itulah hidup. Tahun 2012 surplus ini berakhir.

Gangguan
Kalau anda sebagai rakyat dan konsumen, kondisi dimana harga-harga cenderung turun, bukankan ini bagus juga bukan?  Tetapi para politikus berpikir lain. Mereka suka kalau anda, rakyat, lebih miskin. Entah 2% per tahun, 6% per tahun, atau 99% per tahun seperti di Zimbabwe. Bagi bangsa yang berbudaya tinggi seperti Jepang, pemiskinan rakyat dengan cara pencetakan uang yang dilakukan harus halus. Bukan ala Zimbabwe. Pemerintah Jepang membuat proyek ini dan itu. Membangun jalan yang tidak dilewati orang, membangun jembatan di tempat jin buang anak, dan berbagai proyek yang tidak mempunyai nilai ekonomis. Kisah ini dibahas di EOWI beberapa tahun lalu salah satunya adalah Jepang: Negara Matahari Terbenam, cerita mengenai Jembatan Hamada yang letaknya di tempat jin buang anak. Itulah cara orang yang beradab.

Uang/biaya proyek ini dan itu Jepang sebagian dari pajak. Tetapi pajak tidak boleh terlalu tinggi. Sebab yang dipajaki bisa marah kalau yang disedot terlalu tinggi. Jika masih kurang, maka kekurangnya diperoleh dari hutang. Hutang adalah pemerkosaan hak-hak mereka yang tidak punya hak demokrasi – memilih atau dipilih. Yaitu anak-anak di bawah umur. Mereka inilah yang akan membayar hutang pemerintah yang jatuh temponya 30 – 40 tahun. Anak-anak tidak bisa protes. Karena tidak ada yang protes (anak-anak tidak bisa protes) maka setiap tahun pemerintah Jepang terus berhutang untuk menutupi devisit peneriamaan-belanja negara sejak tahun 1993 atau 26-27 tahun lalu (Chart-2) sampai sekarang, non-stop, tanpa berhenti satu tahunpun.
  

Chart - 2

Kalau pemerintah Jepang mengeluarkan surat hutang, tentu ada yang beli. Sayangnya yang beli itu-itu juga, BoJ dan dana pensiun Jepang. Asing jarang sekali. Pasalnya, BoJ menekan suku bunga pinjaman sampai mendekati nol. Artinya antara punya cash yen dan bond pemerintah, boleh dikata tidak ada perbedaannya (kecil sekali). Investor asing tidak akan tertarik membeli bond pemerintah Jepang. Bagaimana bisa menarik, bunganya kecil, kalau nilai yen turun, maka investor akan kena batunya. Faktor lainnya juga, Jepang selama beberapa dekade mengalami surplus perdagangan, sehingga tidak banyak yen yang parkir di negri orang. Dengan demikian bank-bank sentral mitra dagang Jepang tidak perlu melakukan sterilisasi yen di negrinya. Dan tidak perlu menukarkan yen nya dengan bond pemerintah Jepang. Jadi dengan kata lain Jepang berhutang pada dirinya sendiri. Pemerintah Jepang mengeluarkan surat hutang dan bank sentralnya mencetak duit untuk membelinya. Ini bisa dilihat dari pertumbuhan asset BoJ (Chart-3) yang sebagian diantaranya tidak lain adalah obligasi pemerintah Jepang (dan saham). Peningkatan asset BoJ menjadi parabolik setelah tahun 2012, yang bersamaan dengan berakhirnya commodity secular bull market. Ini mungkin hanya kebetulan saja. Atau ada keterkaitan antara pilek-flu di ekonomi Cina, negara penghasil komoditi dengan mitra dagangnya yaitu Jepang.

Chart - 3


Neraca Keuangan Pemerintah Jepang – Negara Maju yang Gagal
Kesehatan keuangan pemerintah Jepang bisa dilihat dari neraca pendapatan-belanja negaranya. Ambil saja sebagai contoh untuk perkiraan pendapatan-belanja negara tahun 2013, komposisinya sebagai berikut:
Perkiraan Pemasukan negara: 92.6 trilliun yen
Perolehan dari pajak:  43.0 TY
Perolehan lainnya: 4.0 TY
(Penerbitan surat) Hutang: 42.8 TY

Belanja: 92.6 TY
Bayar bunga hutang dan pokoknya: 22.2 TY
Jaminan Sosial: 29.1 TY
Lainnya: 41.2 TY


Pertama, data yang di atas adalah perkiraan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada kenyataannya, di akhir tahun fiskal, yang dihabiskannya bisa 100 trilliun yen, artinya ada defisit. Persoalan kedua adalah untuk jaminan sosial dan menservis hutang hampir 120% dari pendapatan pajak. Persoalan kedua ini menurunkan persoalan berikutnya, yaitu setiap tahun pemerintah Jepang harus menerbitkan surat hutang yang besarnya mendekati 2 kali pengeluaran untuk menservisnya (membayar hutang yang jatuh tempo dan bunganya). Dengan kata lain tutup lubang, gali lubang yang besarnya 2 kali lipat. Kalau begini caranya, sampai kiamatpun nggak bisa melunasi hutangnya. Memang niatan untuk melunasi hutang itu tidak ada di benak politikus.

Saat ini rasio hutang dengan pendapatan fiskal Jepang adalah 800%. Jauh di atas negara-negara lain (Chart-4). Apakah Jepang telah mencapai titik yang tidak bisa kembali, patah arang?Mungkin untuk penggambarannya adalah kena HIV, sakit yang tidak bisa sembuh dan mati perlahan-lahan.
Pertama, data yang di atas adalah perkiraan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada kenyataannya, di akhir tahun fiskal, yang dihabiskannya bisa 100 trilliun yen, artinya ada defisit. Persoalan kedua adalah untuk jaminan sosial dan menservis hutang hampir 120% dari pendapatan pajak. Persoalan kedua ini menurunkan persoalan berikutnya, yaitu setiap tahun pemerintah Jepang harus menerbitkan surat hutang yang besarnya mendekati 2 kali pengeluaran untuk menservisnya (membayar hutang yang jatuh tempo dan bunganya). Dengan kata lain tutup lubang, gali lubang yang besarnya 2 kali lipat. Kalau begini caranya, sampai kiamatpun

Chart - 4

Kalau pemerintah Jepang tidak bisa merampingkan birokrasinya dan melakukan disiplin  budget, maka kecepatan berhutangnya akan terus meningkat. Penerimaan pajak akan menurun sejalan dengan gelombang angkatan kerja yang memasuki pensiun dan tidak tergantikan oleh generasi yang baru. Dengan populasi yang menyusut dan menua, pajakpun akan turun. Menaikkan pajak ada batasnya. Politikus harus lebih kreatif dalam menariki pajak. Harapan pada kebangkitan ekonomi Jepang mungkin di tangan robot dan otomatisasi, yang membuat effisiensi lebih tinggi. Barangkali nantinya politikus yang kreatif akan bisa menerapkan pajak penghasilan robot.Ide itu cepat atau lambat akan muncul.

Faktor lain yang akan mempercepat Jepang harus berhutang adalah jaminan kesehatan bagi orang tua yang akan terus meningkat sejalan dengan membesarnya populasi orang-orang tua, yang sakit-sakitan dan perlu perawatan.

Jika ketidak-bijaksaan yang diterapkan masih seperti sekarang, akan stabilkah sistem/cara seperti ini?  Apakah Jepang telah mencapai titik yang tidak bisa kembali sehingga tidak bisa merubah pola (ketidak) bijaksaanannya? Silahkan jawab sendiri.

Jurus Putus Asa Atau Apa?
Usaha putus asa untuk mendongkrak inflasi dan meningkatkan penerimaan dari pajak dilakukan beberapa bulan yang lalu adalah menaikkan pajak penjualan. Untuk beberapa bulan harga-harga barang konsumen naik, hanya saja besarnya sebanding dengan kenaikan pajak penjualan. Ini tentu bukan karena rakyat merubah pola konsumsi mereka. Dengan bangga BoJ mengumumkan bahwa mereka sudah bisa membunuh setan deflasi. Tetapi......, konsumen terpukul dan mundur, uups, lalu mengurangi konsumsinya. Uuups, penerimaan pajak penjualan turun lagi. Setan deflasi masih di atas angin. Rakyat tidak meningkatkan konsumsinya.

Akhirnya jurus pemungkas yaitu keputusan BoJ yang diumumkan pada tanggal 31 Oktober 2014, Jumat lalu, mengenai Quantitative Easing (QE) yaitu pembelian surat obligasi pemerintah Jepang sebesar $ 730 milyar setiap tahun dan saham $30 milyar per tahun bisa dianggap sebagai jurus keputus-asaan dan puncak kegilaan. Semua surat hutang yang dikeluarkan pemerintah, akan dibeli oleh BoJ. EOWI tidak tahu apakah itu jurus pamungkas dan puncak kegilaan. Bahkan EOWI juga tidak tahu apakah kegilaan punya puncak atau tidak. Tetapi pengetahuan seperti itu tidak punya nilai-nilai praktis, oleh sebab itu tidak akan dibahas. Lebih penting lagi adalah membahas dampak dari tindakan Kuroda saat ini, kalau ada.

Mungkin Jepang sedang menghancurkan hutangnya melalui hiper-inflasi yang menghancurkan nilai yen. Tetapi hutang itu toh kepada Jepang sendiri. Pemerintah sebagai debitur dan BoJ sebagai kreditur. Yang terjepit ditengah-tengah adalah penabung (orang yang punya tabungan pensiun), yang nilai riil tabungannya turun. 

Jika nilai yen turun artinya barang-barang import, termasuk barang-barang dasar akan naik (dalam yen). Rakyat/konsumen akan terpukul karena kenaikan harga energi dan makanan yang masih diimpor. Demikian juga produsen karena bahan dasar yang diimpor akan naik. Memang harga jual produk bisa dinaikkan, tetapi bagi pekerja upah riil tetap akan turun. Jadi pekerja juga akan terkena dampaknya karena gajinya turun nilainya.

Endgame?
Melihat tindakan Jepang ini, Cina, Korea dan saingan-saingan dagangnya akan merasa tidak nyaman karena barang-barangnya bisa kalah bersaing dengan barang-barang Jepang. Mungkin mereka akan latah mengikuti tindakan Jepang. Negara-negara yang pasar obligasinya kecil atau banyak dikontrol oleh bank sentralnya akan bisa berdansa mengikuti irama Jepang. Mata uang mereka juga akan turun terhadap mata uang negara yang mempunyai pasar obligasinya besar dan tidak sepenuhnya dikontrol oleh bank sentralnya. EOWI memegang US dollar sebagai mata uang yang akan berjaya dalam endgame ini.

Kalau negara saingan dagang Jepang seperti Korea dan Cina bisa melihat bahwa pemerintah Jepang, c.q. BoJ menghancurkan nilai yen, rakyat Jepang cepat atau lambat akan melihat juga tabungannya hancur. Apakah mereka akan diam saja? Kalau anda pada posisi mereka, apakah anda akan diam saja? Atau melupakan semua rasa nasionalisme dengan membuang mata uang nasional yen dan memborong US dollar?

Dari sudut pandangan skeptis seperti yang dimiliki EOWI, Jepang akan mengalami perubahan struktural. Yang paling kecil adalah perubahan ukuran dan struktur birokrasinya. Dan kita masih bisa berimaginasi secara liar, terbang melihat Jepang menjadi beberapa negara kecil atau menjadi negara baru atau menjadi bagian negara lain. Pajak yang menurun karena pensiun dan jaminan sosial dan kesehatan orang tua naik adalah persamaan aljabar yang tidak punya solusi. 

Renungan
Kalau anda melihat uang kertas, uang kertas negara mana saja, nama atau/dan tanda tangan gubernur/ketua bank sentral dan/atau menteri keuangan tercantum di sana. Bayangkan berapa banyak tanda tangan yang beredar dari seorang menteri keuangan dan/atau gubernur/ketua bank sentral sebuah negara. Dia adalah orang yang tanda tangannya beredar terbanyak di negara itu. Apakah karena intelektualitasnya? Kehebatannya? Kepandaiannya? Keagungannya? Kebaikannya? Moralitasnya? Atau apa? Mungkin kegilaanya dan kekejamannya.

Boleh dikata semua central bankers dan menteri keuangan punya target inflasi. Mereka mengatakan bahwa inflasi itu bagus untuk pertumbuhan. Lalu, sekarang ini ada tren baru. Katanya, kalau pasar saham bagus, harga saham naik artinya ekonomi bagus. Itu sebabnya banyak central bankers dan menteri keuangan menghendaki inflasi dan harga saham yang naik terus. Kalau mereka punya intelektual, katakanya selevel anak SMP, tentunya mereka bisa mempelajari dari kasus Venezuela. Harga sahamnya melambung. Inflasinya juga melambung. Tetapi apakah Venezuela makmur? Lihatlah indeks saham Venezuela berikut ini (Chart-4). Naiknya gila-gilaan sejak entah kapan, paling tidak sejak tahun 2010 (perlu grafik dengan skala logaritma).  Inflasinya secara khronis bergoyang antara 20% - 30% sebelum terbang ke hampir 70% per tahunnya di tahun 2012 -2013. Apakah Venezuela makmur? Tetapi pertumbuhan GDPnya hanya bergoyang di antara minus 2%  sampai dengan plus 3% sebelum terangkat ke sekitar plus 6%.

Chart - 5

Apakah ketiga parameter itu ada hubungannya? Atau cuma kebetulan? Atau statistik yang digunakan adalah statistik versi Mark Twain (Lies, damned lies, and statistics)?  Venezuela bukan negara yang berekonomi bebas. Kurs mata uangnya pun dipatok (pegged). Itupun kurs resmi ini sejak tahun 2008 sudah mengalami devaluasi dua kali dan nilai US dollar sudah terbang 70% dari nilai bolivar. Itukah yang dicari para central bankers? Harga saham naik, GDP gitu-gitu aja, dan nilai tabungan jeblok?

Chart - 6

Para central bankers dan politikus tidak perduli kepada orang kebanyakan. Ada kemungkin mereka masih perduli pada investor saham, tetapi itupun masih perlu diuji kebenarannya lewat pemfaktoran harga saham terhadap inflasi. Yang pasti mereka masih perhatian terhadap spekulan saham dan mata uang dengan menciptakan volatilitas. Dan yang pasti, rakyat kebanyakan bukan fokus perhatian mereka. Moralitas mereka perlu dipertanyakan. Untuk Jepang: Niatan memiskinkan orang-orang tua yang sudah tidak bisa bekerja dengan cara inflasi apakah bisa disebut bermoral? Itu berlaku umum, untuk Jepang, Zimbabwe atau negara manapun........... Dari hutan belantara Irian Jaya, EOWI mengucapkan jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik. Sampai ketemu di lain cerita. (8 November 2014).



Catatan tambahan: Kalau saya jadi orang Jepang dan punya access meminjam uang (yen), maka saya akan ambil pinjaman dengan bunga hampir nol persen dan kemudian didepositokan ke US, memperoleh bunga sedikit dan ......appresiasi dollar sebesar 33%....., (dasar Imam Semar seorang speklator).




Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, November 6, 2014

Trouble Ruble

 Ruble Rusia sedang dalam kesulitan. Padahal ruble Rusia tidak termasuk fragile-5 yaitu real Brazil , rupiah Indonesian , rand Afrika Selatan, rupee India, dan lira Turkish. Pertanyaannya kalau ada trouble-ruble bisakah ada rupiah-payah. 

EOWI mengundang komentar dari pembaca.






Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, November 4, 2014

Harga Minyak Mentah Tembus di Bawah $80 per bbl: Terlambat dan Menyengsarakan


Di  EOWI kami selalu mengamati prilaku pemerintah. Dan salah satunya adalah perkara subsidi BBM. Sejak dulu, seringnya pemerintah terlambat dalam menaikkan harga BBM dengan dalih subsidi sudah terlalu besar. Pada saat itu harga minyak mentah dunia sedang dalam penurunan, sehingga rencana itu akan diimplementasikan atau beberapa waktu setelah implementasi harga BBM yang baru, terjadi perubahan harga (turun) minyak dunia. Kalau rencana kenaikan BBM sudah diimplentasikan dan harga minyak mentah turun, mau diapakan kelebihan anggaran tersebut. Hutang negara masih naik terus dan tidak pernah turun. Pajak juga tidak turun. Tidak ada penurunan tingkat kemiskinan yang drastis. Lalu pertanyaannya: “Diapakan kelebihan anggaran tersebut?”

Tadi malam harga minyak mentah turun, West Texas Intermediate menembus di bawah level psikologis $80 per bbl. Apakah rencana kenaikan BBM akan dilanjutkan? Kalau menurunan ini berlanjut terus, karena komoditi memang sedang dalam masa secular bear market, lalu duitnya mau untuk apa?
Harga minyak mentah: level $80 per bbl ditembus dengan sangat meyakinkan

Alasan defisit anggaran pemerintah tidak bisa diterima, karena seberapapun pendapatan pemerintah, kalau mau mengumbar nafsu, maka defisit itu tetap ada. Neraca pendapatan-belanja negara berimbang adalah masalah komitmen bukan keterpaksaan. Banyak pos yang tidak berguna bisa dihapuskan.

Saran EOWI untuk menurunkan defisit:

  1. Kurangi anggota DPR dan DPRD, sisakan sampai 10% saja. Hilangkan yang 90%, apalagi DPR bayangan, kabinet bayangan, dan seterusnya.
  2. Hapuskan kementerian yang tidak berguna, tidak punya prestasi dan tidak memberi manfaat bagi rakyat (kementerian sosial, agama, informasi, pendayagunaan aparatur negara, pendidikan.......) dan pegawainya diPHK dengan pesangon.
  3. Hentikan pemekaran daerah, daerah-daerah yang sudah dimekarkan digabung kembali dan organisasinya dirampingkan.
Harga minyak mentah dunia sudah turun di bawah level psikologis $80 per bbl. Ada lagi kah alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM?


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, November 1, 2014

Terlambat dan Menyengsarakan



Seorang teman, sebut saja bernama Imam Ahmad (yang berarti pemimpin yang terpuji),  yang berasal dari Solo dan mengaku teman sekelas istri Jokowi di SMP mengatakan bahwa ketika pemilihan umum dia memilih Prabowo bukan lantaran dia memendam dendam karena pacarnya di SMP direbut Jokowi tetapi karena Jokowi berperawakan kurus dan bertampang prihatin (orang sengsara). Pemimpin yang hidupnya prihatin (sengsara) akan membawa rakyatnya hidup prihatin pula, lanjutnya. Teman saya ini tidak suka hidup prihatin dan sengsara. Saya juga. Siapa sih yang suka, kecuali kalau terpaksa. Kami di EOWI sebisa mungkin memberikan kiat-kiat bagaimana tidak sengsara dengan jalan mempertahankan tabungan dari mengutilan pemerintah lewat yang disebut inflasi atau monopoli kekuasaan atas sistem moneter di negara kita. Itu salah satu wujud manifestasi falsafah hidup kami bahwa kami di EOWI sangat membenci kesengsaraan. Kesengsaraan adalah musuh EOWI. Pendapat kami di EOWI, tidak ada salahnya menjadi kaya raya, selama jalannya halal.

Ternyata yang diramalkan Imam Ahmad teman saya itu mengenai Jokowi akan menjadi sumber kesengsaraan adalah benar. Pertama Jokowi akan menghapuskan pemberian Bantuan Sosial tunai, semua itu akan lewat bank. Orang waras akan bertanya, apakah:

  1. lapisan sosial/ekonomi paling bawah ini punya rekening bank
  2. lapisan sosial/ekonomi paling bawah ini mengerti perbankan
  3. ada bank/ATM sampai ke pelosok-pelosok desa
Supir dan pembantu saya yang tidak miskin dan tidak berhak memperoleh bantuan sosial, tidak punya rekening bank. Apalagi pemulung atau petani penggarap atau buruh galian. Buat mereka, bank itu tidak ada gunanya. Uang cuma pas-pasan, tidak ada yang bisa ditabung, digajipun dalam bentuk tunai. Lalu...., mau pinjam bank juga tidak mungkin. Urusan dengan bank akan memperumit (baca: membuat susah/sengsara) hidup mereka.

Menurut berita yang dilansir Kompas, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menuturkan: "Akan mempercepat transfer, orang kecil akan melek perbankan, biasa menggunakan perbankan.”

Komentar EOWI: “Pak menteri......, orang miskin tidak punya banyak duit untuk ditabung dan juga tidak memenuhi persyaratan untuk meminjam uang dari bank serta transaksi sehari-hari selalu dalam bentuk tunai, jadi untuk apa tahu seluk-beluk bank? Bagi mereka, bank menjadi beban.”

Sekarang bagi orang-senang (bukan orang miskin sengsara), beban akan bertambah. Pegawai-pegawai negri yang tugasnya membagikan bantuan sosial tunai, tidak akan diPHK. Mereka akan jadi pengangguran terselubung yang tetap membebani anggaran pemerintah, dan selanjutnya beban ini akan ditanggung pembayar pajak. Lalu, akan diadakan pegawai untuk mengurusi bantuan sosial dengan transfer bank. Tentunya mereka ini punya spesifikasi yang tidak sama dengan pegawai yang hanya bisa membagikan cash. Ibaratnya, polisi gagal memberantas korupsi, maka dibentuklah team anti korupsi dan yang terakhir adalah KPK. Polisi tidak dibubarkan. Lalu, dulu ada BPPKA yang mengurusi perminyakan Indonesia, yang BUMN, kemudian dijadikan BPMigas yang organisasinya lebih besar lagi dan peraturannya semakin banyak dan yang terakhir SKKMigas, yang juga makin besar, yang tidak berarti produksi minyak Indonesia meningkat (bahkan turun). Alhasil, pajak tetap tinggi untuk pembiayaan overhead mereka. Bahkan pemerintah akan mengejar penghindar pajak dan mencari jalan untuk memperbanyak jumlah penghindar pajak (dengan mengada-ada).

Walaupun Jokowi sering blusukan, menteri Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (dulunya disebut Menko Kesra) Puan Maharani cucunya pencetus paham Marhaenisme,  Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil yang katanya anak tukang cukur dan ibunya yang guru ngaji, nampaknya mereka seperti orang kecil dan tidak mengerti orang kecil. Mereka bak penderita sindroma Marie Antonette ratu Prancis yang mengatakan: “Kalau rakyat tidak punya roti dan tidak bisa makan roti, suruh saja mereka makan cake.” Kami di EOWI tidak tahu, apakah mereka, politikus, ini pembohong atau penderita sindroma kewahaman Marie Antonette.

Kedua (dalam hal penyengsaraan rakyat), adalah wacana menaikkan harga BBM. Ketidak-bijaksanaan ini akan berdampak seperti judul tulisan ini Terlambat dan Menyengsarakan. Kita akan soroti dampak yang menyengsarakan dulu. Yang pasti ongkos transportasi akan naik. Dan ini akan merambat kemana-mana. Harga barang yang paling sedikit kena dampaknya adalah barang-barang kecil yang berharga tinggi konsumsi orang-orang berduit seperti emas, berlian, perhiasan, jam Rolex, jam Franck Muller, tas Louis Vitton, Hermes, karena transportasi bukan komponen yang perlu diperhitungkan dalam harga. Bayangkan jam Franck Muller yang harganya setara dengan mobil Honda Jazz atau Honda Freed, bahkan bisa lebih, dengan volume dan berat yang bisa digenggam tangan, apakah artinya biaya transportasi? Nah lain lagi dengan sayuran, beras, daging, ayam, cabe, ikan dan bulk material lainnya. Tidak hanya biaya transportasi naik tetapi biaya operasi dari beberapa sektor produksi pangan, seperti nelayan, akan naik juga. Nelayan sekarang tidak menggunakan perahu layar lagi!

Bagi orang kaya, kenaikan BBM tidak banyak dampaknya. Dengan mobil mereka yang bagus, tentunya bukan peneguk bensin premium bersubsidi, melainkan Pertamax atau V-Power. Tidak hanya itu, komponen BBM dalam konsumsi mereka tidak besar. Pengeluaran untuk dugem, dan kongkow-kongkow, makan di restoran berkelas, jauh lebih besar dari pada untuk beli bensin bersubsidi.

Kita bisa meneruskan lagi pembahasan mengenai dampak kenaikan BBM ini, misalnya pengaruh harga makanan rakyat kecil dan rakyat kaya. Komponen harga makanan pada makanan warung tegal, warung pinggir jalan atau mbok-mbok yang menggelar makanannya untuk pada supir, tukang ojek dan kuli galian cukup besar (mereka nyaris tidak membayar sewa gedung),  dibandingkan dengan komponen ongkos transportasi pada makanan di cafe-cafe, restoran di Pondok Indah Mall, Senayan City, Gandaria City atau Pacific Place. Harga makanan di tempat-tempat orang kaya nongkrong, lebih banyak komponen sewa gedung, fasilitasnya dan suasana/atmosfir yang santai dibandingkan dengan harga bahan mentah makanannya. Akhirnya, yang terkena lebih banyak dampak kesengsaraan akibat kenaikan harga BBM adalah rakyat yang sudah sengsara, bukan rakyat yang masih hidup senang.

Terlambat, .....ya, kenaikan BBM ini terlambat. Seperti biasanya pemerintah sering (kalau tidak mau disebut selalu) terlambat dalam mengambil keputusan. Mungkin tidak punya ekonom yang kompeten. Ini juga terjadi pada masa lalu. Pada jamannya Megawati, 3 bulan setelah harga BBM dinaikkan, harga minyak mentah dunia turun. Tetapi harga BBM Indonesia tidak diturunkan kembali. Mungkin hal seperti ini akan terjadi lagi.

Harga minyak saat ini sedang dalam periode bearish, cenderung untuk turun. Dalam 4 bulan terakhir ini harga minyak jatuh lebih dari 25%. Kemungkinan selama 10 – 15 tahun ke depan trendnya akan turun. Menaikkan harga BBM akan menjadi pertanyaan besar. Samakah penghapuskan subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM? Ini harus dihitung kembali. Yang pasti menaikkan harga BBM adalah identik dengan menutup defisit pengeluaran-pendapatan pemerintah. Itu yang pasti.

Harga minyak yang turun terus sejak Juni 2014. Apakah kenaikan harga BBM identik dengan penghapusan subsidi BBM.

Menaikkan harga BBM bisa berarti pemerintah akan mengambil keuntungan lebih banyak dari harga yang lebih tinggi. Bisa juga pemerintah mengurangi jatah anggaran untuk rakyat (dimana rakyat lebih bebas membelanjakan uangnya sesuai dengan keinginan rakyat secara individual) dan dialihkan belanja yang sesuai dengan keinginan pemerintah. Sebagai rakyat, jika harga BBM murah (karena disubsidi) dan berdampak harga kebutuhan pokok yang murah (karena transportasi murah), maka dengan kelebihan gaji/pendapatan bulanannya rakyat bisa membelanjakan untuk sesuatu yang diinginkannya. Untuk beli rokok, beli sabun yang lebih wangi, mencicil motor misalnya. Dan untuk yang sudah punya motor, maka dia bisa jalan-jalan dengan motornya yang dibensini oleh BBM bersubsidi.

Katanya subsidi BBM akan dialihkan ke subsidi yang berkaitan dengan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Keluarga Sejahtera. Untuk Kartu Indonesia Pintar, misalnya, entah bagaimana implementasinya. Apakah akan diberikan kepada semua anak-anak yang tidak mampu sekolah supaya bisa sekolah sampai SMP atau SMA. Persoalan utamanya adalah bahwa manusia adalah makhluk hidup dan bukan mesin/robot. Cobalah tawari sekolah gratis kepada anak-anak yang berumur 6-12 tahun yang ngamen dan mengemis di pinggir jalan. Mereka lebih suka main di jalan dan mengemis. Katakanlah pemerintah berhasil memaksa atau membujuk anak untuk sekolah, pertanyaannya adalah berapa banyak yang serius mencari ilmu. Kenyataannya banyak dari anak sekolah takut Ujian Nasional menunjukkan mereka tidak punya kepercayaan pada diri mereka bahwa mereka berilmu dan bisa lulus ujian apapun. Mungkin yang dikerjakan setiap hari hanyalah duduk di kelas tanpa mengerti pelajaran yang diocehkan guru. Ini tidak termasuk mengerti kegunaan “ilmu” yang diajarkan.

Berbicara mengenai kegunaan “ilmu” yang diajarkan disekolah, menurut pendapat saya kebanyakan tidak relevan dengan kebutuhan kerja. Kakau mau jujur, lebih dari 90% dari materi yang diberikan di sekolah tidak ada gunanya di dalam kehidupan sehari-hari. Tidak pernah saya gunakan dalam bekerja, karena tidak punya nilai-nilai praktis. Kalau seseorang membuang waktu, sekolah/berbuat yang tidak bermanfaat karena pilihannya sendiri, itu adalah kesalahannya sendiri. Tetapi jika dipaksa membuang-buang hidupnya oleh pemerintah, itu kejahatan.

Kita boleh curiga bahwa uang subsidi tidak akan pernah mengalir 100% ke program-program kesejahteraan. Mungkin hanya sementara, sampai semua lupa. Kita sudah banyak yang lupa bahwa dulu untuk memasak digunakan minyak tanah bersubsidi. Kemudian subsidi minyak tanah dicabut, dan rakyat disuruh pindah ke LPG. Sekarang orang sudah lupa kemana subsidi minyak tanah ini dialihkan. Apakah masih klop? Juga untuk diesel, dulu industri boleh menggunakan diesel bersubsidi, dan barang-barang Indonesia menjadi kompetitif. Sekarang entah kemana uang subsidi itu dialihkan. Mungkin untuk menambah bupati dan anggota DPRD (pemekaran).

Subsidi itu jelek, tetapi jika uang pajak tidak kembali ke pembayar pajak, itu lebih jelek lagi. Subsidi jelek karena uang yang diambil adalah uang rakyat (dari pajak) dan itu dibagi untuk biaya overhead dan operasi pegawai pemerintah dan untuk subsidinya sendiri. Dan yang memperoleh nama adalah pemerintah bukan pembayar pajak. Orang yang menerima subsidi akan berterima kasih pada orang yang salah, yaitu pemerintah bukan kepada pembayar pajak yang sejatinya sebagai penderma asal muasal uang subsidi. Dengan kata lain, subsidi adalah perbuatan pemerintah merampok si Jonny dan uangnya sebagian diberikan kepada di Fulan setelah dipotong ongkos operasi. Kalau porsi yang diberikan si Fulan dihapuskan, artinya norma perbuatan yang tersisa adalah perampokan saja.

Berbicara mengenai terlambat, baru-baru ini pemerintah mau mempermudah investasi di bidang pertambangan. Ini keputusan yang telat. Harga bahan komoditi tambang cenderung turun untuk masa yang panjang. Komoditi sedang dalam masa secular bear market. Lihat saja harga tembaga, berada dalam koridor menurunnya.

 Harga tembaga menurun sejak tahun 2011, dan kecenderungan ini secara siklus tidak akan berubah sampai 10-15 tahun kedepan. Ada yang mau invest disini?

Hal ini juga berlaku untuk bahan ekspor andalan Indonesia lainnya, yaitu nickel, timah dan lain-lainnya. Kalau saya jadi investor, maka saya akan menunggu 10 tahun lagi dan bye-bye investasi. Usaha pemerintah untuk membuka investasi di sektor pertambangan adalah terlambat. Tunggu 10 tahun lagi.

Harga nickel menurun sejak tahun 2011, dan kecenderungan ini secara siklus tidak akan berubah sampai 10-15 tahun kedepan. Ada yang mau invest disini?

Bursa saham Jepang Jumat 31 Oktober 2014 lalu mengalami lonjakan yang fenomenal 870 poin. Dan harga emas anjlok $25. Ada apakah? EOWI akan mencoba mengangkat topik ini pada minggu pertama November ini.

Dari pedalaman Irian Jaya, kami ucapkan: sekian dulu, jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, October 26, 2014

Don’t Cry Argentina



Apa yang terjadi dengan negara penghasil daging sapi ini? Sadar atau tidak, saya memplesetkan judul lagu karangan Andrew Lloyd Webber dengan lirik oleh Tim Rice yang cukup popular yang kemudian dipentaskan menjadi opera dan film musik. Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice adalah genius dalam menciptakan lagu-lagu opera seperti Phantom of the Opera, Cat dan Jesus Christ Superstar dan Evita. Lagu yang saya maksud pertama kali dinyanyikan oleh Julie Covington tahun 1976. Tetapi saya lebih suka jika lagu ini dibawakan oleh  Elaine Paige atau Sarah Brightman. Di kalangan generasi yang lebih muda, Madonna dikenal sebagai pembawa lagu ini dalam film musical berjudul Evita (1996, diperankan oleh  Madonna, Antonio Banderas, dan Jonathan Pryce). Tetapi, menurut EOWI, suara Madonna sengau, tidak jernih dan artikulasinya kurang jelas. Judul lagu tersebut adalah Don’t Cry for Me Argentina, sebuah lagu yang dikaitkan dengan Eva Peron, atau Evita Peron, artis dan istri diktator Juan Peron yang kemudian menjadi mencalonkan diri sebagai wakil presiden Argentina. Dia menjadi pujaan wong cilik. Ia dijegal oleh kelompok militer dan borjuis di dalam perjalanan karirnya. Kematiannya membuat dirinya di jadikan martir. Ia diberikan upacara kenegaraan seperti layaknya presiden dan diberi gelar “Pemimpin Spritual Bangsa” oleh parlemen Argentina. Dan di dunia internasional Eva Peron dijadikan sosok yang dijadikan tema film dan musik.

Banyak yang mengira bahwa lagu ini bercerita tentang tragisnya suatu kehidupan di Argentina. Banyak orang menyangka arti kata Don’t Cry for Me Argentina adalah “Argentina janganlah menangis untukku”, sebuah tema yang sedih. Tetapi menurut pengarangnya kata Cry disini tidak berarti menangis (Inggris: weep), tetapi memanggil dengan berteriak. Sebab pada lagu ini ada bait yang mengatakan: the truth is I will never left you (hakekatnya aku tidak pernah meninggalkan mu).  Argentina, tidak perlu berteriak-teriak memanggilku, itu kurang lebih arti lagu itu. Lagu itu mungkin tidak bercerita tentang tragisnya Argentina, melainkan tragisnya nasib Evita Peron. Tetapi kalau dilihat liriknya, tidak juga begitu, tidak bercerita tentang ketragisan.

Masih dengan urusan tragis dan tidak tragis, perjalanan lagu ini juga sempat melewati masa-masa tragis, karena dilarang beredar di negara penciptanya (Andrew Lloyd Webber) yaitu Inggris ketika perang Falkland 1982. Tetapi yang lebih tragis adalah nasib rakyat dan negara Argentina. Oleh sebab itu judul lagu itu di plesetkan EOWI menjadi Don’t Cry Agerntina.

Sejarah jatuh bangunnya suatu negara bisa dilihat dari Argentina. Argentina merupakan laboratorium hidup dari eksperimen-eksperimen politik dan ekonomi. Dan sebagai subjeknya adalah orang-orang yang tidak pernah bisa mengambil hikmah sejarah. Orang orang ini bak keledai moron. Sebab keledai tidak pernah mau jatuh pada lubang yang sama.

Setelah perang kemerdekaan yang lama (1810–1818), Argentina masih didera oleh perang saudara. Yang disebut dengan perang saudara, tidak berarti perang yang benuansa kasih sayang dan penuh dengan rasa persaudaraan, tetapi sama seperti perang-perang lainnya, kejam dan brutal (bahkan lebih kejam dan lebih brutal). Itu politik. Oleh sebab itu yang disebut perang saudara lebih tepat disebut perang tidak-bersaudara. Selanjutnya setelah 40 tahun perang tidak-bersaudara, tahun 1860an, terjadi perubahan yang mendasar. Liberalisasi ekonomi dan pembukaan pintu imigrasi. Didukung oleh liberalisasi ekonomi membuat suasana yang memicu migrasi besar-besaran dari Eropa, yang kemudian merubah tatanan demografi, sosial dan budaya. Selanjutnya proses ini melontarkan Argentina menjadi negara ke 7 termakmur di dunia di awal abad ke 20. Argentina berada pada posisi 7 negara termakmur di antara negara-negara maju di jaman itu setelah Switzerland, New Zealand, Australia, United States, the United Kingdom dan Belgia.

Sejarah berbalik secara bertahap ketika demokrasi dikembangkan. Tahun 1912 ketika hak memilih dan dipilih bagi pria diundangkan di Argentina membuka pintu kaum sosialis naik ke pucuk pimpinan politik negara. Hipólito Yrigoyen, pimpinan Radical Civic Union (UCR), memenangkan pemilihan umum tahun 1916. Dia membuat eksperimen baru, istilah kerennya pembaharuan di bidang sisoal dan ekonomi. Politikus Argentina memilih untuk menghargai mereka yang tidak berprestasi secara ekonomi, tidak kreatif dan tidak inovatif dengan memberikan perlindungan. Perlindungan buruh dan rakyat kecil, memmbuat masyarakat kurang tertantang dan tidak resourceful, kurang kreatif. Lebih baik menuntut ke pemerintah untuk diberi lebih. Tentu saja pemerintah tidak bisa memproduksi apa yang dituntut, oleh sebab itu sasarannya adalah para majikan.

Catatan hak memilih dan dipilih bagi wanita baru diundangkan di Argentina tahun 1942. Itupun bisa diduga karena manuver politik untuk menaikkan Eva Peron.

K-Winter, depresi global tahun 1930, memporakporandakan tatanan struktur politik Argentina. Kudeta militer atas Yrigoyen, merupakan tonggak sejarah menurunnya kemakmuran di Argentina. Walaupun demikian Argentina tetap menjadi 15 negara termakmur di dunia sampai pertengahan abad 20. Argentina memang harus menangis, karena akhirnya terpuruk masuk ke dalam kelompok negara yang belum berkembang. Don’t Cry Argentina, it is your own fault to have democracy and let those socialists and lunatics govern you.

Sejarah menunjukkan bahwa Argentina pertama kali mengingkari hutangnya tahun 1828. Dan gagal bayar tahun 2014 ini adalah yang ke 8. Jangan cerita sebabnya. Karena sebabnya bisa aneh, sulit dipercaya atau fabrikasi. Yang pasti, kalau sebuah negara punya hutang, maka pemerintahnya tidak bisa menyeimbangkan antara pengeluaran dan pendapatannya. Boros dan banyak menghambat pelaku ekonomi, adalah kata yang paling tepat. Kalau saja pelaku ekonomi dibiarkan berinovasi, tentunya pemasukan pajak akan lebih tinggi bukan?

Bagi yang hidup di Argentina, akan merasakan kesulitan, seperti judul cerita ini: Don’t Cry Argentina. Tetapi, bagi pengunjung/turis lebih menyenangkan. Sebagai turis, anda bisa meniknati makan siang di restoran yang mewah, steak Argentina yang tebal dan terkenal itu, medium rare, dengan texture yang lezat sekali, dan ditutup dengan kudapan pencuci mulut dan kopi hanya perlu mengeluarkan US$25. Itu jika anda bisa menukarkan dollar anda pada kurs “biru”, satu dollar dikurskan menjadi 15 peso. Tetapi....., hal itu tidak boleh ketahuan oleh agen-agen pemerintah, karena mereka menyebutkannya sebagai pasar gelap. Padahal sebenarnya transaksi dilakukan pada siang hari, bukan pada malam hari tanpa penerangan. Tidak ada yang gelap di sana. Hanya Cristina Fernández de Kirchner, sang presiden, dan para pembantunya yang mengatakan pasar itu sebagai pasar gelap (tanpa penerangan barangkali).

Semua relatif murah jika anda bisa menukarkan dollar anda di pasar yang disebut pasar gelap itu. Sebab ada juga tempat penukaran uang yang lain. Cristina Fernández de Kirchner menyebut kurs yang sepatutnya adalah “kurs putih”, 1 dollar sama dengan 5.7 peso. Jadi lupakan saja makan siang di tempat yang mewah steak Argentina yang lezat itu jika anda cuma punya uang $ 25.



Di internet ada yang memberikan kiat-kiat bagaimana hidup di Argentina.

  1. Tukar uang US dollar anda di cueva, slang lokal untuk  underground casa de cambio atau tempat penukaran uang gelap. Hati-hati kalau mencari tahu tempat-tempat ini, jangan bertanya kepada sembarangan orang, karena kalau ia adalah agen pemerintah, anda bisa memperoleh kesulitan. Bertanyalah pada tour guide anda atau resepsionis hotel misalnya.
  2. Kalau sulit mencari cueva, bayarlah hotel dan restoran atau tempat anda belanja dengan dollar. Mereka biasanya memberikan kurs yang lebih baik dari kurs resmi.
  3. Jangan menggunakan ATM atau kartu kredit di samping kursnya adalah kurs resmi, juga biaya transaksinya mahal.
  4. Ada juga yang menawarkan transaksi penukaran US dollar ke peso lewat internet. Dengan chatting atau telpon atau SMS tempat dan waktu transaksi ditentukan. Hanya cara ini berbahaya kalau kita tidak dilakukan dengan orang kita kenal atau terpercaya.

Beberapa waktu lalu, Presiden Argentina Cristina Fernández de Kirchner mengalami delusi/kewahaman, sehingga ia menuduh kepala bank sentral, Juan Carlos Fabrega, sabotase peso. EOWI menduga adanya kewahaman pada diri Kirchner karena jika ia benar maka jika Juan Carlos Fabrega diberhentikan maka peso akan menguat. Kenyataannya berbeda. Ketika Fabrega berhenti, nilai peso malah turun lebih dalam. Ini menguatkan dugaan EOWI bahwa Kirchner mengalami delusi.

Mungkin karena tidak ada penanganan dokter psikiater, kewahaman Kirchner tidak berhenti disitu, ia mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat sedang merencanakan untuk membunuhnya. Mungkin EOWI bisa membantu Argentina dengan mengirimkan seorang dokter jiwa. Tetapi, hal itu bisa memicu kemarahan rakyat Argentina, akan EOWI mengatakan bahwa rakyat Argentina gila semua. Siapa yang mau memilih orang gila menjadi presidennya, kecuali orang gila pula, bukan?

Harga kedelai tanaman andalan terbesar Argentina - jatuh 35% pada kuartal ke-2, 2014. Tetapi kalau dihitung dari puncaknya di tahun 2012, make telah turun 50% lebih. Penurunan terburuk sejak kasus subprime 2008. GDP Argentinapun jatuh. Meskipun demikian presiden Kirchner dan staffnya mengatakan sebaliknya. Mungkin matematika yang diajarkan di sekolah dasar di Argentina berbeda dengan yang ada di Indonesia.




Hutang jangka pendek yang katanya hanya sekitar 35% dari cadangan devisanya sedikit lebih rendah dari Indonesia (40%), seharusnya bisa untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo, entah kenapa kok tidak bisa. Mungkin laporan World Bank banyak yang kacau, atau uang panas lebih cepat keluar dari pada penitia pembayaran hutang sehingga mereka tidak kebagian dollar. Atau otak di kepada para staff ekonomi Kirchner masih down atau lemot atau mereka juga terlalu sering menghisap jamur atau daun kecubung. Entahlah, nampaknya kelompok yang duduk dipemerintahan sedang mengalami dilusi. Peso tenggelam. Dan cadangan dollar menghilang.



Seorang rekan berandai-andai dan mengusulkan, untuk mengatasi kebekuan cadangan devisa dan pengelolaan cadangan devisa serta mengendalikan kurs mata uang, mungkin Indonesia bisa meminjamkan ahli-ahli ekonominya yang ada di Bank Indonesia. Sampai saat ini rupiah bisa bertahan. Tetapi menurut EOWI, kualitas BI dan bank sentral Argentina, sama saja. Ketika Carlos Menem (presiden Argentina periode 1989 to 1999) mematok peso ke US dollar, maka investor merasa aman masuk ke Argentina. Hutang dan kredit mengalir. Kalau hutang digunakan untuk hal-hal yang produktif dan menghasilkan keuntungan, maka hutang itu bisa dibayar. Tetapi jika hutang tersebut untuk membayar pegawai negri, membayar gaji anggota parelemen yang besar, dan kegiatan-kegiatan yang non produktif, akan diakhiri dengan air mata rakyat. Pemerintah hanya bisa menahan kurs peso untuk sekian lama. Pada akhirnya harus dilepas, peso harus didepresiasi. Dan......, debitur tercekik untuk membayar hutangnya yang dalam denominasi dollar. Kreditur dimana saja sama. Mereka akan mengejar piutangnya sampai ke liang kubur. Kalau di skala kecil, maka dikirimlah  debt-collectors.  Kalau skala besar ada versi besarnya. Tidak hanya itu, burung-burung nasar, vultures, akan mengitari debitur yang sedang sekarat, mencari keuntungan. Kirchner boleh sebel kepada debt vultures, tetapi mereka ada dan hidup dari darah-darah pemerintah yang sekarat karena hutang.

Bagaimana kalau kita pinjamkan penasehat-penasehat BI kepada Argentina? Entahlah. Baru-baru ini BI menyarankan presiden Jokowi agar menaikkan harga BBM untuk menghapuskan subsidi BBM. Ini adalah upaya pengelolaan nilai rupiah dan cadangan devisa. Penghapusan subsidi berarti memberi ruang bagi pemerintah untuk menghamburkan uang ke sektor lain yang tidak produktif, dilain pihak cadangan devisa tetap akan terkuras karena tindakan tadi tidak ada kaitannya dengan neraca transaksi berjalan Indonesia. BBM masih harus diekspor (cuma sekarang rakyat yang ketambahan beban), harga bahan komoditi tetap rendah (pemasukan dari ekspor bahan komoditi tidak bertambah), eksportir yang memarkir dollar hasil penjualan ekspornya di luar negri juga tidak bisa dipaksa untuk repatriasi dollarnya. Apa yang berubah? Oleh sebab itu meminjamkan penasehat-penasehat keuangan BI juga tidak ada gunanya.

Ada komentator yang salah memasang stelan otaknya, mengatakan bahwa situasi Argentina saat ini baik sekali. Banyak opportunity di sektor saham. Saham Argentina sudah terkoreksi dalam. Sebentar lagi Kirchner akan turun dan digantikan dengan orang yang lebih baik, katanya lagi. Argentina merupakan negara yang kaya dan banyak sumber alam. Untuk opini seperti ini EOWI tidak bisa berkomentar apa-apa.  Mungkin akhirnya white exchange rate (“kurs putih”) akan sama dengan kurs pasar gelap “kurs biru” dengan kata lain kurs resmi dan kurs pasar akan sama. Ini bisa “kurs biru”nya yang mendekati kurs resmi (“kurs putih”) atau “kurs putih”nya yang makin jeblok. Menurut EOWI, kurs resmi (“kurs putih”) lah yang harus terkoreksi mendekati kurs pasar. Artinya lebih baik beli saham Argentina nanti saja. Terus....., dengan masa depan politik dan pemerintahan yang lebih baik, menurut EOWI calon pengganti Kirchner yang kompeten belum ada. Semuanya sama saja. Jadi apa yang mau diharapkan. Belum ada sinar yang nampak di ufuk timur.

Seperti tadi dikatakan bahwa bagi yang hidup di Argentina, akan merasakan kesulitan, sejalan dengan judul cerita ini: Don’t Cry Argentina. Kita yang hidup di Indonesia harus bersyukur bahwa kita masih bisa membeli rumah dengan kredit jangka panjang, sampai 15 tahun. Mau makan di restoran atau belanja tidak perlu bawa-bawa segepok uang Rp 100,000an yang membuat dompet tebal, tetapi masih bisa bayar dengan kartu kredit. Di Argentina, perusahaan kredit mana yang mau ambil resiko. Sekarang nilai kurs peso adalah 15 peso per US$. Bulan depan entah berapa? Bikin usaha perkreditan menjadi susah. Ekonomi Argentina adalah ekonomi cash. Bagi pembaca tanah air yang pernah hidup di jaman pra 1970an, tahu artinya ekonomi cash. Beli rumah harus cash, beli mobil harus cash, beli......harus cash. Tidak ada kredit. Tidak ada deflasi. Yang ada hanya inflasi yang menggila. Tabungan dan pensiun cepat menguap. Don’t Cry Argentina.

Teman saya mengatakan..., amit-amit jabang bayi. Indonesia tidak akan mengalami hal yang demikian. Saya tidak tahu apakah dengan mantra amit-amit jabang bayi, Indonesia bisa terbebas dari bencana seperti Argentina. Yang pasti dulu-dulu kita pernah mengalaminya. Amit-amit jangan terjadi lagi. Kita tidak perlu pakai mantra amit-amit segala macam, cukup dengan kewaspadaan dan pengelolaan tabungan yang baik. Indonesia atau Argentina boleh babak belur dihajar debt collectors, tetapi yang penting kita selamat, bahkan memperoleh keuntungan bersama para debt vultures. Don’t Cry Argentina, let’s party with the vultures.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.