_____________________________________________________________________________________________________________________




Thursday, October 23, 2014

Mengukur Ketahanan Rupiah

Seorang pembaca EOWI mengatakan sudah tahu kalau kelakuan politikus itu brengsek dan ingin membaca yang lain dari EOWI, yaitu mengenai ekonomi. Persoalan utama dari masalah ekonomi adalah bahwa pembuat masalahnya adalah politikus. Pertama mereka yang membuat pengekangan-pengekangan. Misalnya untuk memulai bisnis di Indonesia secara legal (supaya tidak diganggu yang berwenang) diperlukan waktu 48 hari. Sebelum itu, jangankan mendirikan pabrik, membuka kantor atau mengurus surat-surat lainpun tidak bisa. Kalau mau berdagang drugs, lain soal. Misal lain, 30% dari penghasilan kita (orang yang relatif sukses dalam pekerjaan) diambil pemerintah. Kalau tidak diambil, tentunya bisa kita belanjakan dan membuat ekonomi bergarak, bukan? Pemerintah yang sok kuasa dan berpikir mereka bisa mengontrol ekonomi, justru membuat berantakan karena the unintended consequences (akibat yang tak terpikirkan sebelumnya) dari peraturan-peraturannya. Terlepas dari itu semua, EOWI memang ingin menurunkan suatu seri tulisan mengenai prahara ekonomi 2014 – 2020. Dan itu kita mulai dari sini.

Sudah sejak lama, di EOWI, kami tidak pernah percaya kepada calon presiden atau/dan presiden. Ketika pemilihan presiden 2014 yang dimenangkan oleh Jokowi, EOWI tidak ikut memilih. Alasannya sudah jelas, kami tidak percaya. Walaupun orang percaya bahwa Jokowi akan pro-rakyat dan anti kompromi yang dicerminkan dengan seringnya ia blusukan. Katanya kabinetnya akan ramping. Ternyata sekarang, rencana susunan kabinetnya berkata lain. Kompromi politik sudah nampak. Jumlah kementriannya tidak berbeda dengan pendahulunya (SBY). Tidak hanya itu, beberapa programnya nanti akan lebih membebani rakyat. Porsi pendapatan negara yang notabene dari pajak untuk subsidi BBM ini akan dialihkan ke “pembangunan” yang belum tentu bisa dinikmati rakyat. Dengan dikuranginya subsidi BBM, artinya rakyat harus menanggungnya harga minyak secara keseluruhan termasuk kenaikan harga bahan pokok akibat naiknya biaya transportasi.  Memang pajak tidak dinaikkan, tetapi jatah/porsi yang kembali ke rakyat dikurangi.

Disadari atau tidak, Jokowi sejak awal dari pemerintahannya akan berhadapan dengan prahara ekonomi. Kalau sekedar problem opposisi dari koalisi Merah-Putih di DPR, maka hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan prahara ekonomi 2014-2020 ini. Dalam kaitannya dengan prahara ekonomi ini EOWI tidak perduli dengan Jokowi. Karena EOWI tidak punya misi untuk memuluskan atau mengganggu jalannya pemerintahan. EOWI cuma tidak perduli. Misi EOWI hanya memperingatkan dan mengedukasi pembacanya agar selamat ketika keluar dari prahara ekonomi ini.

Suatu pertanyaan yang mendasar dalam kaitannya penyelamatan diri (survival) dari prahara ekonomi 2014 – 2020 ini adalah seberapa besar ketahanan ekonomi Indonesia saat ini? Bagaimana neraca keuangan Indonesia? Informasi itulah yang lebih penting bagi pembaca EOWI yang setia dari pada masalah Jokowi. Dan hal itu yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

Apa yang membuat rupiah kuat atau lemah? Itu adalah pertanyaan yang menjadi dasar diskusi pada tulisan ini. Anggap saja rupiah seperti barang. Jika ada ketidak-seimbangan antara permintaan dan pasokan maka akan terjadi penyesuaian harga. Harga akan naik jika ada kelangkaan yang tidak bisa memenuhi permintaan. Hal ini bisa terjadi karena tiga sebab, yaitu barangnya tidak ada atau permintaannya meningkat drastis atau kedua-duanya secara bersamaan. Dalam masalah mata uang, yang disebut dengan pasokan sifatnya relatif. Misalnya, jika dikatakan bahwa permintaan rupiah meningkat, maksudnya adalah relatif terhadap pasokan dollar.

Sepanjang dekade 2000 – 2010, nilai tukar rupiah relatif kuat dalam arti tidak turun sepanjang dekade ini. Hal ini paralel dengan:

  1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup bagus. Ini lebih banyak sebagai penyebab penguatan rupiah
  2. Rasio hutang total (pemerintah dan swasta) terhadap GDP di Indonesia menurun dari 63% pra-krismon 1997 (atau 158% di tahun 1998 setelah krismon) menjadi 37% di tahun 2014. Tetapi jangan gembira dulu, sebab secara nominal hutang total Indonesia meningkat dari $150 milyar pra-krismon 1998 menjadi dua kali lipat $ 335 milyar di tahun 2014.
  3. Rasio hutang pemerintah terhadap GDP menurun dari 150% di tahun 1998, sampai hanya 24% saja di tahun 2014. 
  4. Cadangan devisa Indonesia meningkat mencapai titik tertingginya pada $ 124 milyar.
  5. Nilai tukar rupiah terhadap US dollar secara bertahap mengalami penguatan dan titik tertingginya dicapai pada tahun 2011, yaitu Rp 8,500 per US dollar.

Ekonomi bukan sains, melainkan hanya sekumpulan opini. Tidak ada rumus-rumus yang berdasarkan observasi, melainkan hanya berdasarkan opini. Di dalam pembahasan kali ini akan digunakan perbandingan saja untuk memperoleh kesahihan secara keilmuan. Dan perbandingan itu adakalanya akan merujuk pada krismon 1998 yang merupakan prahara moneter yang besar (tetapi bukan yang terbesar) yang pernah terjadi di Indonesia. Kenapa krisis moneter 1998 diambil sebagai rujukan karena Prahara 2014 – 2020 menurut perkiraan EOWI adalah prahara moneter/ekonomi dunia yang terbesar yang akan anda lihat sepanjang hidup anda. Tidak ada krisis global yang lebih parah yang akan anda lihat selama hidup anda selain prahara yang akan datang di kurun 2014 – 2020.

Kita akan melihat perbedaan kondisi internal dan eksternal Indonesia antara sekarang dengan 1998. Hal ini perlu diperhitungkan karena pada akhirnya, kedua kondisi inilah yang akan menentukan berat atau ringannya pukulan terhadap rupiah serta kondisi moneter Indonesia.

Krisis Global Terbesar Sepanjang Hidup, bukan Krisis Regional
Pada tahun 1998, ketika krismon melanda Indonesia, negara-negara ekonomi besar di dunia, seperti US, Eropa, Cina (yang pada waktu itu belum terlalu besar) sedang dalam fase ekspansi. Sejak runtuhnya Uni Soviet di tahun 1991, perang nyaris tidak ada, perang dinginpun usai. Hal ini memungkinkan ekonomi melakukan ekspansi ke arah yang lebih produktif bukan dan tidak lagi terfokus pada penciptaan peralatan perang. Tetapi proses ini kemudian kebablasan, yaitu dilanjutkan dengan aksi spekulasi (saham teknologi di bursa Nasdaq) di akhir dekade 1990, yang selanjutnya meletus di tahun 2000. Memang ada beberapa bubble dan krisis moneter yang terjadi hampir bersamaan di beberapa bagian dunia ini, seperti krisis LTCM (1998), krisis moneter Russia (1998), krisis moneter Argentina (1999 – 2002), atau jauh sebelum tahun 1998 yaitu krisis tequila Mexico (1994). Tetapi sifatnya hanya regional dan yang terkena bukan adalah negara-negara yang secara ekonomi mendominasi perekonomian dunia. Dengan kata lain skala krisis 1998, tidak global sifatnya. Dan negara-negara berekonomi besar masih bisa membantu melalui badan-badan perekonomian dunia seperti IMF. Indonesia dibantu oleh IMF, Paris Club, dan lainnya.

Prahara moneter 2014 – 2020 yang akan datang ini sifatnya global. Yang terkena termasuk negara-negara dengan ekonomi besar. Seperti Amerika Serikat, Jerman dan Uni Eropa, Jepang, dan juga Cina. Yang pasti, Uni Eropa saat ini belum pulih. US juga demikian. Jepang masih loyo sejak krisis deflationary yang melandanya di tahun 1990 (sudah 25 tahun lamanya).

Eropa (baca: Jerman) dan US punya latar belakang penyebab yang sama dan ini dijelaskan secara panjang lebar di laman EOWI Gejolak2014 – 2020. Intinya ada 3 poin:

  1. Motor penggerak ekonomi – baby boomer, memasuki masa pensiun artinya,
  2. Puncak konsumsinya sudah lewat
  3. Hutang (pemerintah dan swasta/konsumen) yang dulunya membengkak, sekarang swasta/konsumen sedang menurunkan level hutangnya (deflasi).
  4. Bubble di sektor saham US siap meletus
  5. Pelaku ekonomi menumpuk dollar dan mementahkan usaha penggelontoran likwiditas the Fed dan bank-bank sentral

Krisis di Jepang sejak 25 tahun lalu punya penyebab yang sama. Hanya saja hal itu terjadi 25 tahun lalu dan sampai sekarang tidak ada generasi yang baru yang punya kekuatan berkonsumsi seperti bapak-bapak mereka karena faktor besarnya jumlah populasinya. Sedangkan di pihak lain roda ekonomi digerakkan oleh konsumsi dan produksi. Tanpa pertumbuhan konsumsi ekonomi juga tidak akan tumbuh.

Cina punya bubble di sektor properti (dan kredit) yang sangat besar dan siap meletus. Dan negara-negara yang berbasis komoditi seperti Australia, Canada dan Indonesia punya banyak persamaan dengan Cina. Setidaknya, bubble properti di Cina adalah penyebabnya. Bubble di negara-negara berbasis komoditi punya akar yang sama, yaitu investment bubble di Cina yang memerlukan banyak bahan komoditi. Dengan kata lain bubble di Australia, Canada, Indonesia, Afrika Selatan adalah anak yang dilahirkan oleh investment bubble di Cina.

 Krisis moneter 1998 tidak bisa disamakan dengan prahara 2014 – 2020. Krisis pada periode 2014 – 2020 negara-negara ekonomi besar terkena badai, sehingga tidak bisa membantu apa-apa. Setidaknya permintaan barang dari negara-negara ini masih bertahan. Pada periode 2014 – 2020 hal seperti ini tidak lagi bisa diharapkan. Demikian juga dengan badan-badan moneter internasional seperti IMF, akan klabakan, dan tidak mampu membantu. Prahara ini terlalu besar dan luas cakupannya untuk badan seperti IMF, world bank dan juga badan-badan kerja sama bilateral dan regional lainnya. Seperti misalnya negara-negara BRICS (Brazil, India, China, South Africa) baru-baru ini mendirikan the New Development Bank (NDB) dengan modal awal $50 milyar dan Contingent Reserve Arrangement (CRA) yang bermodal $100 milyar, yang salah satu tujuannya untuk membantu anggotanya jika ditimpa kesulitan ekonomi/moneter. Indonesia sendiri juga sudah menandatangani perjanjian bilateral dengan Cina 3 tahun currency swap sebesar 100 milyar yuan atau 175 trilliun rupiah ($15 milyar). Disamping dengan Cina, Indonesia juga punya kerja sama dengan Asean. Apakah semua ini akan membantu? Kuncinya ada pada jawaban pertanyaan ini: “Kalau Cina atau negara manapun yang menanda-tangani perjanjian dengan Indonesia, secara bersamaan dilanda prahara ekonomi/moneter, apakah mereka juga tidak butuh bantuan? Kalau demikian, alih-alih membantu, bukankah mereka juga butuh bantuan?”. Akan berada dimana nantinya Paris Club yang membantu Indonesia pada masa krisis 1998? Silahkan jawab sendiri.

Krisis Deflationary, bukan Inflationary Pelaku Pasar Menumpuk US Dollar
Seperti dikatakan sebelumnya bahwa krisis kali ini berbeda dengan krisis sebelumnya yang pernah anda lihat dalam hidup anda. Biasanya yang anda lihat adalah krisis di masa inflationary. Krisis kali ini adalah deflationary. Biasanya hanya terjadi sekali dalam hidup anda. Apa itu krisis deflationary? Intinya, krisis dimana para pelaku ekonomi melakukan deleveraging. Konsumen yang biasanya menggunakan fasilitas kredit sebagai leverage, di masa ini dikurangi. Leverage disini maksudnya adalah kemudahan dalam arti, jika menggunakan kemampuan saat itu, pembelian tidak bisa dilakukan, tetapi dengan berhutang, kemampuan membeli menjadi ada. Sama juga dengan perusahaan, tanpa berhutang, kemampuan berekspansi terbatas. Tetapi dengan hutang kemampuan ekspansi diciptakan. Deleveraging artinya mengurangi penggunaan hutang, selanjutnya berdampak pada ekspansi bisnis.

Deflasi adalah fenomena psikologi. Dan pada periode Kondratieff winter, penyakit psikologis ini melanda konsumen, produsen dan juga banker-banker komersial. Sehingga kredit murah dari bank sentral pun tidak digubris. Bank sentral, seperti the Fed, walaupun telah mencetak uang dan membanjiri ekonomi dengan dengan uang, tetapi respons yang diharapkan dari pelaku ekonomi (konsumen dan produsen) tidak kunjung datang. Yang ada dari dari spekulan. Banker-banker komersial enggan mengucurkan kredit dan pelaku ekonomi juga enggan mengambil kredit. Walaupun seandainya bank-bank sentral mengambil alih peran bank komersial dalam hal menyalurkan kredit, belum tentu pelaku ekonomi (bisnis dan konsumen) mau mengambil kredit Kredit sulit diperoleh, roll-over  sudah selayaknya juga akan sulit. Dan juga peminat kredit juga susut jumlahnya. Menumpuk cash menjadi tema yang populer di masa deflationary. Uang yang dicetak the Fed dan bank-bank sentral lainnya menjadi mandeg, tidak mengalir, tidak digunakan secara berulang-ulang. Ini terlihat pada velocity of money yang terus menurun. Tanda dari pelaku ekonomi yang menumpuk cash.

Chart – 1  Velocity of Money yang turun terus

Hutang Jangka Pendek dan Cadangan Devisa
Pada saat Indonesia harus berdiri sendiri, titik ketahanan Rupiah yang bisa memicu kejatuhannya adalah besarnya hutang jangka pendek dibandingkan dengan cadangan devisa. Jika cadangan devisa tidak cukup untuk membayar hutang yang jatuh tempo, maka tamatlah riwayat rupiah. Catatan: pada masa deflationary, roll-over hutang mungkin akan lebih sulit dibandingkan pada masa normal. Pernyataan-pernyataan ini cukup masuk akal bukan?

Sebenarnya bukan hutang jangka pendek saja yang menjadi titik lemah/kuat dari rupiah. Secara umum adalah perbedaan antara cadangan devisa dan keperluan untuk pembayaran, apakah itu pembayaran hutang yang jatuh tempo atau menutup defisit perdagangan atau menutup modal asing yeng keluar.

Indonesia selama 11 tahun masa comodity bull market (2000 – 2011), memperoleh dana asing dari surplus perdagangan bahan-bahan tambang. Disamping itu juga dana dollar masuk dari investasi langsung di sektor pertambangan atau yang tidak langsung dipengaruhi oleh booming di sektor pertambangan. Oleh sebab itu cadangan devisanya melonjak naik secara parabolik. Nilai ini naik dari $16.6 milyar di tahun 1997 saat krismon, ke $ 108.8 milyar di saat comodity bull market berakhir tahun 2012. Kemudian turun menjadi $ 96.3 setahun setelah puncak dari comodity bull market (2013). Di awal comodity bull market cadangan devisa Indonesia hanya $ 28.5 milyar saja. Ini kenaikan yang cukup tinggi. Memang setelah krismon  Asia 1998 ada kecenderungan bagi negara-negara berkembang (merging markets) yang terkena krismon untuk menumpuk cadangan devisa untuk mencegah krismon-krismon dimasa datang. Jadi kenaikan yang drastis ini tidak perlu diherani.


 
Chart – 2  Cadangan Devisa Indonesia, turun tahun 2011 di akhir booming komoditi 

Setahun setelah comodity bull market berakhir (2013) cadangan devisa Indonesia melorot dari $ 108.8 milyar ke $ 96.3 milyar. Ini menunjukkan kebergantungan Indonesia pada penjualan bahan-bahan tambang (bahan mentah). Ketika harga barang andalannya jatuh, dan (pemerintah dan rakyatnya) enggan mengencangkan ikat pinggang, mengurangi belanjanya maka akan terjadi defisit ganda dan cadangan devisa pun ikut melorot. Kejatuhan harga bahan tambang berikutnya patut diduga akan menarik cadangan devisa ke level yang lebih rendah lagi. Dan konsekwensinya nilai rupiah akan melorot lebih dalam lagi.

Walaupun secara nominal hutang Indonesia meningkat selama periode 2000 – 2012, tetapi rasio hutang jangka pendek dengan cadangan devisa menurun dari 73.9% di tahun 2000 ke 39.7 % pada tahun 2012. Akan tetapi secara nominal bertambah dari $ 21.1 milyar di tahun 2000 ke $ 43.2 milyar di tahun 2012, atau meningkat 2 kali lipat. Jadi jangan terpukau oleh angka 39.7% yang sering didengung-dengungkan para analis. Di bagian akhir nanti akan ditunjukkan bahwa neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia sudah berdarah-darah sejak tahun 2012, yaitu sejak commodity bull masuk kandang.

Chart – 3  Rasio hutang jangka pendek Indonesia terhadap cadangan devisa

Dibandingkan dengan sesama negara berkembang dan negara yang berbasis komoditi seperti Malaysia, Thailand (negara berkembang) dan Brazil (berbasis komoditi) seharusnya Indonesia bisa lebih banyak menurunkan tingkat hutangnya. Seperti Brazil misalnya, bisa menurunkan rasio hutang jangka pendeknya terhadap cadangan devisanya dari 91% di tahun 2000 menjadi 10% saja di tahun 2012. Dengan kata lain, krisis yang akan datang ini akan memukul rupiah lebih parah dari pada real Brazil, ringgit Malaysia atau bath Thailand.  Sekali lagi, jangan terpukau dengan opini analis yang mengatakan bahwa hutang eksternal jangka pendek Indonesia kecil (dibandingkan dengan cadangan devisanya).

Sistem moneter Indonesia akan terluka parah, seandainya para kreditur hutang Indonesia tidak mau me-roll-over hutang jangka pendek Indonesia yang jatuh tempo. Artinya maka 40% dari cadangan devisanya akan menguap untuk membayar hutang yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini.



 Chart – 4  Rasio hutang jangka pendek beberapa negara terhadap cadangan devisa

Rasio hutang eksternal jangka pendek dan cadangan devisa, bisa dijadikan patokan akan ketahanan suatu mata uang. Tetapi bukan satu-satunya faktor. Yang paling penting adalah faktor kemauan kreditur untuk memperpanjang hutang, atau kepercayaan kreditur untuk memberi hutangan baru untuk menutup hutang yang lama. Misalnya kasus Argentina bulan Januari 2014 lalu. Walaupun posisi hutang Argentina lebih baik dari Indonesia, tetapi Argentina mengalami gagal bayar atau setidaknya mengalami kesulitan untuk membayar bond pemerintah yang berdenominasi US dollar, akibatnya peso Argentina anjlok dari ARS 5.85 per US dollar ke ARS 8. Memang bukan kejatuhan 50% atau 80%, tetapi tetap saja kejatuhan. Tetapi...... (ada tetapinya lagi)., itu yang resmi. Harga ARS resminya memang ARS 8 per US dollar, tetapi di pasar (yang tidak resmi) dimana ada transaksi harga US dollar sekitar ARS 15. Jadi secara resmi tabungan rakyat Argentina menguap 27%, tetapi tidak resminya (yang riil) menguap 61%. Lebih dari separo dari nilai tahungan menguap!!!. Satu hal lagi, dalam krisis di bulan Januari 2014 itu, tidak ada badan moneter internasional atau negara besar lain yang membantu.

Hutang Swasta, Hutang Pemerintah
Baik Pemerintah atau swasta menambah hutangnya sejak krismon 1998. Total hutang Indonesia mencapai 2 kali lipat dari pada saat pra-krismon 1998. Hal ini bisa bagus dan bisa buruk, tergantung jenis hutangnya. Ada 2 jenis hutang, yang self liquidating debt, atau hutang-hutang yang dipakai untuk hal-hal yang produktif, menghasilkan income dan hasil incomenya dipakai untuk membayar pokok serta bunganya. Atau non-self liquidating debt, hutang yang tidak produktif dan untuk membayarnya harus diambil dari pos lain. Hutang untuk konsumsi masuk ke dalam kategori ini. Hutang pemerintah untuk membiayai jalannya pemerintahan, termasuk kategori ini. Dan hutang yang jenis ini terus bertambah.

Yang menarik dari perjalanan hutang total di Indonesia adalah relatif  konstan sepanjang kurang lebih 10 tahun sesudah krismon 1998 di level $130 - $150 milyar. Nampaknya setelah kasus subprime di akhir 2007, hutang Indonesia meningkat secara parabolik. EOWI tidak percaya pada kebetulan. Sehingga patut diduga dana QE (Quantitative Easing) tidak tersalurkan ke arah pemulihan ekonomi US, melainkan ke arah spekulasi di emerging market. Jadi di samping hutang pemerintah yang tidak produktif, juga hutang untuk berspekulasi, seperti hutangnya Imam Semar untuk menge-short rupiah, yang notabene juga tidak produktif, ikut menanjak.

Chart – 5  Total hutang Indonesia

Peningkatan hutang setelah krisis subprime bukanlah hal bagus. Pertama karena kasus subprime merambat menjadi krisis global yang sampai saat ini Eropa dan US masih belum pulih. Beberapa negara memang belum terkena dampaknya secara nyata. Seperti Indonesia, Malaysia, Australia, Canada, Cina dan sederet lagi seakan tidak pernah terjadi krisis. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa perekonomian global pincang dengan sakitnya perekonomian Eropa dan US. Cina memang berusaha untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya dengan memfokuskan pada pertumbuhan investasi. Tetapi hal ini tidak akan bisa bertahan lama. Siapa yang akan menjadi konsumennya?

Ada yang menarik dari perkembangan hutang pemerintah di Indonesia. Sejak krismon 1998, hutang pemerintah tidak lagi melulu dalam denominasi mata uang asing. Tetapi juga mata uang rupiah. Perbandingannya mendekati sekitar 50%-50%. Ini mungkin dimaksudkan untuk mencegah terulangnya kembali krisis 1998.

Chart – 3  Hutang pemerintah Indonesia, % GDP dari tahun 1990 sampai 2003

Mungkin idenya bahwa kalau surat hutangnya dalam rupiah maka yang beli adalah investor lokal dan pemerintah bisa membayarnya dengan mencetak saja dari kertas-kertas kosong. Sebab kalau dalam denominasi dollar, maka pemerintah harus menyediakan dollar yang harus dibelinya.

Persoalannya ialah jika pembelinya adalah investor asing, maka pada saat membeli mereka harus menukarkan dollar mereka ke dalam rupiah dahulu. Ini akan menyebabkan rupiah terappresiasi. Dan sebaliknya, ketika mereka keluar dari pasar, maka rupiah yang hasil penjualan bond yang mereka punyai akan dikonversikan ke mata uang asing, US dollar. Akibatnya rupiah akan terdepresiasi. Sederhana bukan.

Sejak krisis subprime 2008, di samping hutang Indonesia meningkat, rupiah juga menguat dari Rp 13,000 ke Rp 8,500. Sebabnya ada aliran dana dari luar masuk ke Indonesia. Harga saham Indonesia naik sekitar 400%. Surat hutang Indonesia berdenominasi rupiah juga menarik bagi spekulan asing karena bunganya tinggi dibandingkan dengan bunga di US. Jangankan surat hutang Indonesia, junk bond saja disabet para investor (spekulan). Ini adalah dampak ketidak-bijakan QE, easy money yang dikeluarkan the Fed dan bank-bank sentral lainnya. Dengan mengambil surat hutang berdenominasi rupiah, investor (spekulan) memperoleh dua keuntungan, yaitu bunga yang tinggi dan appresiasi rupiah.

Persoalan bagi Indonesia adalah spekulan-spekulan asing ini sering berbaju lokal dan ketika mereka ini keluar secara hampir serentak. Pemerintah harus punya dollar banyak. Jadi apakah itu hutang eksternal atau internal sulit dibedakan, atau hutang jangka panjang atau jangka pendek dan dampaknya sama saja. Akan menarik jika memang spekulan asing banyak bermain di sektor bond lokal. Sebab ketika mereka keluar, pasar bond yang relatif tidak likwid ini akan mengalami kemacetan, sesak, pintunya kurang besar. Bond yield akan meroket. Untuk menunjukkan betapa sempitnya pintu keluar, ketika krisis subprime tahun 2008 harga bond pemerintah Indonesia dalam denominasi dollar jatuh dan bottomnya mencapai 60 sen untuk $1. Ini adalah bond yang masih jauh jatuh temponya. Dengan kata lain, hutang jangka panjang atau yang sudah hampir jatuh tempo punya dampak yang sama.

Akhir Bubble Properti Cina, Canada, Australia, Indonesia
Bubble di sektor properti di Cina, Indonesia dan negara-negara berbasis komoditi seperti Canada, Australia, Brazil nampaknya sudah sampai pada akhirnya. Yang terjadi berikutnya apakah hanya pendinginan, atau pengempisan secara perlahan-lahan atau meletus. Bubble biasanya meletus, berakhir dengan tidak mengenakkan. Pemain/pekerja di sektor properti sudah merasakan adanya penurunan omzet. Pasar sepi dan sulit bertransaksi. Banyak di antara pemain sudah keluar. Misalnya agen yang beberapa tahun lalu membantu mencarikan rumah yang saya tempati sekarang ini sudah keluar karena sepi order dan akhirnya bertukar profesi. Beberapa developer bahkan menawarkan down-payment yang bisa dicicil. Padahal arti kata down-payment adalah bagian dari pembayaran yang tidak dicicil. Dengan kata lain, pembelian rumah seperti itu adalah tanpa down-payment. Ini adalah usaha-usaha yang sudah putus asa.
Dengan berakhirnya bubble di sektor properti di Cina dan negara-negara berbasis komoditi, apakah krisis global yang berkonsekwensi appresiasi US dollar akan berlanjut? Kita lihat saja.

Akselerasi Pengempesan Bubble Komoditi Tambang
Sudah sekitar setahun, pengempesan bubble komoditi terhenti untuk mengambil nafas. Dari data yang hampir sepanjang 200 tahun, commodity bear market tidak akan merhenti sampai disini. Sikusnya adalah sekitar 30 tahun. Kalau bull marketnya dimulai tahun 2000, maka bull market berikutnya baru dimulai tahun 2030. Setidaknya tahun 2025. Sampai 10 – 15 tahun mendatang, harap bahan-bahan komoditi akan menjadi primadona lagi. Konsekwensinya adalah, pendapatan pemerintah NKRI akan turun. Penerimaan US dollar juga akan menyusut. Pemasukan devisa juga turun. Selanjutnya rupiah akan sakit. Dalam beberapa tahun mendatang, pengempesan bubble di sektor komoditi akan mengalami akserasi, sejalan dengan melambatnya ekonomi Cina, meletusnya bubble properti Cina. Itu adalah konsekwensi logis saja.

Yang lebih penting lagi, karena sampai 10 – 15 tahun ke depan di sektor komoditi mengalami perlambatan tidak banyak memerlukan investasi, FDI (Foreign Direct Investment) menurun dan uang hasil eksport komoditi akan ada kecenderungan untuk diparkir di luar negri. Dengan menurunnya FDI yang cukup besar di sektor bahan tambang, pemasukan dollar ikut melambat (kalau tidak mau dibilang terhenti). Dan semua ini bisa terlihat pada defisit neraca transaksi berjalan NKRI yang berdarah-darah selama 2 tahun terakhir ini.

Tanda-Tanda Perdarahan di Neraca Transaksi Berjalan

Kejatuhan rupiah dari Rp 8,500 ke Rp 12,000 per US$ nya selama 2 tahun ini, hanyalah pembukaan, prelude dari kejatuhan berikutnya yang lebih dalam. Itu bisa dilihat dari kurva neraca transaksi berjalan NKRI (Chart-6). Selama 11 tahun (2000 – 2011) commodity bull market, Indonesia selalu mengalami surplus pada neraca transaksi berjalannya yang membuat cadangan devisa NKRI menanjak hampir 4 kali lipat selama dekade 2000an (Chart-2). Padahal kalau dilihat pada Chart-6, “goyangan” surplus pembayarannya hanya di sekitar US$ 2 – US$ 4 milyar per kwartal saja. Ketika commodity bull market usai dan digantikan dengan commodity bear market (2011 – 2030?), terlihat “goyangan” defisit pembayaran mencapai kisaran minus US$ 4 sampai minus US$ 10 milyar per kwartal. Berarti selama kejatuhan bahan komoditi, pengurasan cadangan devisa NKRI adalah dua sampai 4 kali lebih volatile dari pada penumpukannya di tahun 2000 – 2011. 

 Chart – 6  Neraca transaksi berjalan Indonesia, defisit sejak akhir boom komoditi 2011

Perlu dicatat bahwa tahun 2012 dan 2013 sekitar $24 - $30 milyar dari defisit neraca transaksi yang keluar pertahunnya tidak banyak dari dana investasi portfolio. Pemerintah masih bisa menambal cadangan devisanya dengan mengeluarkan surat hutang (obligasi) berdominasi dollar di tahun 2014. Tidakan ini adalah mengulur waktu saja. Saat ini orang masih berpikir surat hutang pemerintah dalam US dollar adalah lebih baik atau sama dengan cash US dollar. Yang pasti investor sudah tahun, surat obligasi berdenominasi rupiah tidak sama dengan yang berdenominasi dollar walaupun kuponnya lebih tinggi. Nilai rupiah dalam 2 tahun terakhir ini sudah jeblok 25% yang tentu saja tidak bisa diimbangi dengan kupon. Pada saatnya investor akan tersadar bahwa obligasi dollar NKRI tidak sama dengan US bond. Pasarnya terlalu kecil. Pada saat krisis, pasar hutang Indonesia beku, ceritanya akan lain, mengulur waktu tidak akan bisa lagi.

Pesan EOWI, bersiaplah menghadapi ombak gelombang yang tinggi. Pelayaran tidak akan mulus.

Peraturan Untuk Membendung Rontoknya Rupiah
Mau dipercaya atau tidak, sebenarnya Bank Indonesia (BI) tahu bahwa posisi rupiah cukup rapuh. Oleh sebab itu, BI merasa perlu untuk membuat benteng pertahanan untuk menjaga rupiah. Beberapa waktu lalu pemerintah NKRI memberlakukan peraturan baru, bahwa pembelian mata uang asing lebih dari US$ 100,000 harus disertai bukti underlayingnya. Maksudnya, adalah bahwa setiap pembelian US$ diatas US$100,000 harus ada alasan kepentingannya dan disertai dengan dokumen pendukungnya (seperti invoice) sebagai bukti adanya transaksi bisnis, bukan sekedar untuk investasi portfolio, hedging dan spekulasi. Peraturan ini dimaksudkan untuk mencegah adanya volatility, yang diperkirakan akan membuat reaksi panik dari pelaku pasar. Pemerintah menghendaki kontrol terhadap nilai rupiah. Kalau mau jatuh, yang diinginkan adalah jatuh yang teratur.

Beberapa waktu lalu, pemerintah (BI) juga menghimbau pelaku bisnis untuk tidak memborong dollar untuk memenuhi kewajiban mereka pada bulan-bulan mendatang. Bisa beli nanti saja dan tidak usah khawatir harga US dollar naik. Kalau perlu lakukan saja lindung nilai. Kalau saya jadi pelaku bisnis, akan bertanya: "Siapa yang menjamin?".  Dan hedging juga ada biayanya. Siapa yang mau bayar?

Ada pepatah yang mengatakan: “Jika pemerintah menginginkan kontrol, hasilnya adalah ketidak pastian.” Adanya pembatasan-pembatasan membuat pelaku ekonomi dan investor menjadi curiga. Setiap ada satu peraturan/pembatasan keluar, artinya ruang gerak dibatasi. Kalau ruang gerak dan aturan main diubah-ubah, akan timbul pertanyaan dari pelaku ekonomi dan investor: “Kapan peraturan yang merugikan saya akan dimunculkan?” Ini yang disebut rasa ketidak pastian. Perubahan-perubahan yang mengarah pada kerugian seseorang bisa dianggapnya sebagai resiko. Dengan kata lain, perubahan level kontrol-kendali merupakan ketidak pastian bagi investor dan pelaku ekonomi.

Investor juga cerdik dan banyak akalnya mencari celah. Pemerintah tidak bisa mencegah keluarnya US dollar ketika pengelola dana asing bisa menunjukkan adanya redemption di luar negri. Juga dengan pasar derivative yang hampir tidak ada regulasinya. Pasar uang di Indonesia relatif kecil. Transaksinya hanya sekitar $ 5 milyar saja perharinya kalau sedang ramai dan hanya $ 3 - $ 4 milyar saja kalau sedang sepi. Ibaratnya pasar yang kecil seperti ini pintu yang sempit. Jika semua orang mau keluar......, akan terjadi gejolak. Mungkin secara kekuatan dan potensial, kondisi Indonesia masih bagus, tetapi pintu keluarnya kecil yang bisa menimbulkan panik.

Okey, kita ringkas saja cerita yang panjang tadi. Ringkasnya:

Dibandingkan dengan kondisi tahun 1998, posisi rupiah saat ini jauh lebih baik. Sayangnya prahara, tornado 2014 – 2020 tipenya bukan 25 year storm tetapi adalah lifetime storm (badai yang terjadi seumur hidup manusia) ukurannya besar. Jadi walaupun posisi rupiah lebih baik dari pada tahun 1998, tetapi belum tentu kuat dan tegar menghadapi badai moneter 2014 – 2020.

Rupiah punya beberapa titik lemah. Pertama, selama habisnya periode commodity bull market tahun 2011, neraca transaksi berjalan NKRI sedang berdarah-darah. FDI di sektor komoditi pertambangan sudah susut karena berakhirnya commodity bull market. Dan uang hasil penjualan bahan tambang cenderung untuk diparkir di luar negri (diparkir di dalam negri untuk apa? Toh tidak ada gunanya). Di samping itu juga karena defisit perdagangan. Ekspor andalan NKRI harganya sedang jatuh.. Dan akan jatuh lagi dikemudian hari, sampai 10 - 15 tahun ke depan.

Berikutnya, hutang eksternal jangka pendek NKRI sekitar 40% dari cadangan devisa dan prosentase ini meningkat dengan berjalannya waktu. Bayangkan kalau tidak bisa diroll-over, berapa sisa cadangan devisa NKRI untuk mempertahankan rupiah? Kenyataannya money velocity di US terus menurun, artinya ada kecenderungan pelaku busines lebih suka menahan cash dari pada invest. Kedepannya cari hutangan baru akan lebih sulit.

Berikutnya, pasar uang Indonesia kecil. Ketika investor keluar, akan menimbulkan gejolak. Pemerintah tidak akan bisa meredam gejolak ini. Ketika tahun 1998, US dollar melejit sampai Rp 15,000 dan jatuh lagi ke Rp 6,000 yang kemudian stabil di kisaran Rp 9,000 per dollar. Itu overshoot sebesar 60%. Hal semacam ini berpotensi terjadi lagi.

Selanjutnya, adanya perjanjian kerja sama (bilateral atau regional), currency swap atau sejenisnya tidak akan ada gunanya, karena semua anggotanya akan membutuhkan dana pada saat krisis.

US dollar beberapa waktu lalu mengalami rally. Indeks US dollar sempat menembus level 86, suatu level yang sudah lama tidak pernah dicapai. Terhadap rupiah sempat mencapai Rp 12,250. Harga minyak Texas Intermediate sempat ke level $ 80 per bbl. Jangan berpikir krisis sudah dimulai. EOWI percaya bahwa rupiah akan menguat, harga minyak juga menguat dan US dollar melemah dulu. Perjalanan tidak seperti jalan yang lurus dan monotone. Ada naik, ada turun dan ada berbelok. Demikian juga dengan nasib rupiah. Tetapi saecara fundamental akan bergerak turun.

Sekian dulu jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik. Siapkan strategi investasi dan bisnis anda untuk lingkungan deflationary, bukan inflationary. Sampai lain cerita tentang bagaimana mengambil keuntungan dimasa krisis. (Jakarta 20 Oktober 2014)
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, October 18, 2014

(No.52) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA



Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21. 

Dongeng ini didedikasikan bagi mereka:  

  • yang kritis, skeptis, berpikir bebas dan mencintai kebenaran
  • dan yang suka menikmati sarkasme dan humor sardonik

(Terbit, insya Allah setiap hari Minggu atau Senen)


Jaman Pembantu Rumah Tangga Milyuner Dan Trilliuner

Judul di atas kedengarannya sangat sinis dan provokatif. Apakah bisa, seorang pembantu menjadi milyuner, tak perlulah menjadi trilliuner? Dan kalau seorang pembantu adalah trilliuner maka majikannya harus seorang zillioner agar supaya bisa membayar gaji pembantu rumah tangganya itu. Apakah bisa terjadi? Kalau sudah menjadi trilliuner, kenapa masih menjadi pembantu. Bukankah seharusnya dia bisa punya banyak pembantu rumah tangga?

Tentu saja pembantu rumah tangga bisa saja seorang trilliuner. Kata milyuner atau triluner rupiah tidak ada kaitannya sama sekali dengan tingkat kemakmuran atau status ekonomi seseorang. Seorang pembantu rumah tangga di Jakarta tahun 2009, bergaji rata-rata Rp 600.000 per bulan. Ini kalau dikurskan ke rupiah ORI (oeang Repoeblik Indonesia, tahun 1946) maka sama dengan RP 6 milyar ORI. Kalau uang republik tidak pernah mengalami penyunatan angka nol, maka di republik ini para pembantu rumah tangga sudah menjadi milyuner. Ini terjadi dalam kurun waktu 64 tahun. Jadi bukan tidak mungkin dalam kurun waktu 4 dekade lagi, target pembantu bergaji Rp 1 milyar (uang Orba – yang berlaku dari 1965 sampai sekarang).

Kita tidak perlu kecewa karena republik ini hanya menunda pencetakan milyuner-milyuner baru yang terlalu cepat. Kita harus sabar sedikit. Pada saatnya nanti status milyuner akan dimiliki pembantu rumah tangga. Jika kecepatan pertumbuhan uang masih seperti sekarang, maka cita-cita itu akan tercapai pada dekade 2060an. Akan tetapi sebelum status milyuner, para pembantu rumah tangga ini harus melewati tahap jutawan dulu. Dan ini akan dilampauinya setelah tahun 2015 - 2020. Dan status trilliuner bisa dicapai para pembantu rumah tangga pada tahun sekitar 2110. Itu kalau republik ini masih berdiri.

Mungkin pembaca sekalian sulit untuk mempercayai ramalan pembantu milyuner atau trilliuner. Ketidak percayaan ini sama saja kalau nenek saya bangun dari kubur dan melihat pembantu-pembantu sekarang ini, tahun 2010, punya gaji Rp 600.000 per bulan. Dia akan terkaget-kaget melihat gaji setinggi itu. Ketika mereka masih hidup, hanya dalam bilangan ribu rupiah.

Ketika De Javasche Bank didirikan tahun 1828, uang yang diedarkannya hanya 1,12 juta gulden. Kalau anda jutawan waktu itu, maka anda punya De Javasche Bank. Dengan pernyataan ini anda mungkin sudah bisa mengerti bahwa adanya pembantu milyuner itu bisa menjadi kenyataan di masa datang. Uang yang diedarkan De Javasche Bank waktu itu adalah uang kertas dengan garansi perak. Pada waktu itu sudah ada bermacam-macam koin perak dan emas lain yang beredar. Selanjutnya sampai tahun 1922, De Javasche Bank mengedarkan 9 juta gulden. Tentunya dengan tambahan garansi perak atau kolateral. Pertumbuhan uang selama hampir seabad, antara tahun 1828 sampai 1922 kalau dihitung hanyalah 2,2% “saja” per tahun. Adanya kata “saja” adalah untuk memberikan penekanan, karena adanya perbedaan prilaku antara penjajah Belanda dan pemerintah Republik Indonesia merdeka.

Kita lupakan periode jaman penjajahan Jepang yang kacau itu dan datanya pun kacau. Kita maju ke periode berikutnya yaitu periode kemerdekaan. Antara jaman Kemerdekaan, jaman Gunting Sjafruddin sampai jaman Orde Lama, inflasi uang giral dan kartal (M1) rata-rata adalah 62,2%. Pada tahun 1950, uang kartal dan giral yang tersisa dari keputusan Gunting Sjafruddin adalah Rp 4,5 milyar. Dan 9 tahun kemudian menjadi Rp 5.2 milyar (lihat Grafik VII - 3). Jaman ini diakhiri dengan penyunatan satu angka nol yang dimiliki rupiah. Rp 1000 menjadi Rp 100.

Kemudian jaman Orde Lama Sukarno dari tahun 1959 - 1966. Dibandingkan dengan penjajah Belanda, ternyata bapak pendiri negara republik ini sangat suka mencetak uang. Belanda hanya 2,2% pertahun dan bapak pendiri negara republik ini 104,2%. Inflasi rata-rata selama periode ini adalah 104.2%. Inilah jaman Sosialisme Pancasila, Marhaenisme. Uang dicetak untuk disosialkan (apapun arti disosialkan). Sampai akhirnya terlalu banyak jutawan. Rupanya penerus Sukarno, yaitu Suharto merasa bahwa di Indonesia terlalu banyak jutawan kere, kemudian menyunat 3 nol dari rupiah diakhir tahun 1965. Dan uang Rp 1000 menjadi Rp 1.


   Grafik VII - 3    Jumlah uang rupiah kartal dan giral (M1) yang beredar

Bapak pembangunan Indonesia, Suharto, yang agak kapitalis. Tepatnya menerapkan kroni-kapitalisme dan sosialisme-hutang yang tidak seganas pendahulunya yang sosialis Pancasila dalam mencetak uang.  Inflasi M1 rata-rata jaman Orde Baru, dari Repelita I (Rencana Pembangunan Lima Tahun I - nama program pembangunan di jaman Suharto) sampai era lepas landas (istilah Suharto untuk program pembangunan 5 tahunannya yang terakhir) dan nyungsep (1966 – 1998), hanyalah 36.2%. Dihampir masa pemerintahan Orde Baru, kroni kapitalisme diterapkan. Hanya dibagian akhir era Suharto, sosialisme hutang diterapkan, dimana hutang-hutang para kroni kapitalis dijadikan beban sosial dengan menstimulasi hiper-inflasi. Pada krisis moneter 1998, inflasi ditinggikan supaya nilai riil hutang yang dimiliki para konglomerat kroni kapitalis menjadi turun. Mekanisme sosialisme hutang otomatis berjalan. Nilai riil tabungan masyarakat (sosial) tergerus. Karena pada dasarnya inflasi adalah memindahkan kekayaan riil penabung ke debitur (penghutang).

Jaman Reformasi agressifitas politikus dalam hal mencetak uang untuk sementara mereda. Inflasi M1 hanya sekitar 16% saja. Ini berarti setiap 4-5 tahun harga-harga akan naik 2 kali lipat. Sekarang bayangkan, bahwa setiap 4-5 tahun gaji pembantu naik menjadi 2 kali lipat. Bisakan tingkat milyuner dicapai ditahun 2065 dan tingkat trilliuner dicapai di tahun 2100an?

Untuk menghitungnya mudah saja. Setiap 5 tahun gaji dikalikan 2 saja. Sehingga kalau tahun 2010 gaji pembantu rumah tangga adalah Rp 600.000, maka tahun 2015 akan menjadi Rp 1.200.00. Dan tahun 2020 menjadi Rp 2.400.000. Kemudian tahun 2025 Rp 4.800.000. Dan seterusnya sehingga menjadi Rp 614 juta di tahun 2060; Rp 1,23 milyar di tahun 2065 dan Rp 1.2 trilliun di tahun 2115.

Ini tidak berarti pembantu menjadi makmur semua. Karena harga-harga juga naik. Buktinya, harga emas (uang sejati) bergerak secara tandem dengan jumlah uang rupiah yang beredar (lihat Grafik VII - 4) Padahal harga emas selalu seiring dengan harga kambing sejak jaman Romawi, jaman nabi Muhammad dulu. Artinya nilai rupiah terus turun sejalan dengan bertambahnya pasokan uang rupiah.

Grafik VII - 4    Supply uang kartal dan giral (M1) sejalan dengan harga emas

Hanya dalam waktu 6,5 dekade semenjak kelahirannya, nilai riil rupiah hanya tersisa 0,0000018% saja.  Perhatikan ada 5 angka nol di belakang desimal. Dibandingkan dengan rupiah tahun 1946, nilai rupiah sudah tergerus hampir semuanya, tepatnya 99,9999982%. Demikian parahnya, untuk mengikuti kemerosotan nilai rupiah harus digunakan grafik semilogaritmik (Grafik VII - 5). Ini adalah cara untuk memperlihatkan penurunan sampai beberapa desimal.

Grafik VII - 5    Penurunan nilai riil rupiah

Sejalan dengan menurunya nilai rupiah dan dollar Amerika Serikat maka angka-angka kemakmuran nominal yang disajikan oleh badan-badan resmi menjadi tidak relevan. Contohnya saja GDP, apakah itu dalam bentuk GDP nominal (dalam US$) atau Purchasing Power Parity (dalam 1990US$), nampak sangat aggressif dibandingkan dengan GDP per kapita Indonesia dalam emas (Grafik VII - 6). GDP nominal dan PPP nampak mengarah untuk naik terus. Tetapi GDP per kapita Indonesia dengan patokan emas dari awal jaman Orde Baru sampai tahun 2010, tidak logaritmik kenaikannya. 

Grafik VII - 6    GDP per kapita Indonesia dalam berbagai tolok ukur

Grafik VII - 7 adalah untuk memperjelas Grafik VII - 6, dimana GDP\PPP ditiadakan. GDP dalam US dollar dan dalam gram emas, dimulai pada level yang sama pada tahun 1967, tahun di awal Orde Baru. Nilainya di sekitar 50-60. Empat dekade kemudian, GDP Indonesia per kapita dalam US dollar naik di atas $ 2000 atau naik 400 kali. Sedang dalam gram emas masih bertengger tidak lebih dari 70 gram (Grafik VII - 8). GDP nominal ini dalam dollar Amerika Serikat. Kalau dalam rupiah, kenaikkannya ratusan kali lebih dahsyat lagi. Kalau dilihat kenyataan, GDP dengan tolok ukur emas lebih mencerminkan kenyataan. Misalnya, ayah saya dulu punya rumah dengan luas tanah/bangunan 300m/150m. Yang saya milikipun kurang lebih demikian. Apa yang dulu rata-rata orang punyai, sekarangpun demikian. Tentu saja antara jaman dulu dan sekarang tidak selalu sama, tetapi selalu ada padanannya. Misalnya radio, tv hitam-putih padanannya tv plasma, atau komputer; gramaphone dengan entertainment center; video dengan DVD. Teknologi memungkinkan manusia memperoleh barang-barang dan lebih baik dengan harga yang semakin murah seiring dengan waktu. Tetapi barang-barang yang sudah tidak bisa diup-grade lagi, seperti ayam, telur, kambing, hewan ternak, hasil pertanian, harganya naik seiring dengan inflasi uang yang diedarkan.

Kenaikan GDP/PPP dari $1.000 tahun 1967 ke $4.000 tahun 2009 tidak berarti rumah orang sekarang berukuran 4 kali lebih besar dari pada rumah-rumah orang tahun 1967. Kalau anda bertanya, mewakili apakah GDP/PPP itu? Entah lah. Tanyakan kepada ahli statistik. Kalau anda bertanya seperti itu, kemungkian tanggapannya adalah sangat membingungkan sampai akhirnya anda menyerah. Demikian juga makna jutawan, milyuner, trilliyuner atau zillioner,........tidak ada maknanya selama uang masih bisa dicetak. Untuk memahami hal ini, anda harus membaca lagi bab Pajak, Pungutan, Pemerasan Dan Inflasi.

Mungkin mengatakan bahwa milyuner, trilliyuner atau zillioner, tidak ada maknanya selama uang masih bisa dicetak, tidak sepenuhnya benar. Secara riil bisa saja mereka ini kere, tetapi dari namanya, milyuner, trilliuner atau zillioner kere ini akan layak dipajaki.

Grafik VII - 7    GDP per kapita Indonesia dengan tolok ukur US dollar dan emas

Grafik VII - 8    GDP per kapita Indonesia dengan uang sejati/emas sebagai tolok ukur
 


Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya yaitu deflasi US dollar dan beberapa mata uang lainnya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, October 4, 2014

(No.51) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21. 

Dongeng ini didedikasikan bagi mereka:
 
  • yang kritis, skeptis, berpikir bebas dan mencintai kebenaran
  • dan yang suka menikmati sarkasme dan humor sardonik

(Terbit, insya Allah setiap hari Minggu atau Senen)


Jaman Reformasi - Jaman Jutawan Kere

Setelah nyungsep dan babak belur akibat krisis Asia 1997-1998, imperium Ibu Pertiwi lemah dan nampak bangkrut. Gejalanya sama seperti imperium Majapahit setelah ditinggal raja Hayam Wuruk. Dan situasi ini bak kesempatan bagi bara-bara di tepi imperium untuk menyala kembali. Timor-Timur bergolak dan akhirnya berhasil memerdekakan diri. GAM memaksa penandatanganan perjanjian damai dengan imperium Republik Indonesia. OPM seperti halnya RMS (Republik Maluku Selatan yang aktif di jaman Sukarno) yang tidak pernah kuat, tidak bisa melukai Republik.  Dan Komando Jihad yang tidak pernah ada (hanya memedhi sawah ciptaan Orde Baru), tidak mengambil kesempatan ini. Hanya beberapa keluarga korban yang dulunya dicap sebagai Islam Fundamentalis dan antek Komando Jihad, seperti korban kasus Tanjung Priok, menuntut keadilan dan pengusutan kembali pelaku-pelaku pembunuhan massal di Tanjung Priok September 1984). Tentu saja mereka tidak akan pernah mendapatkannya.

Setelah krisis Asia 1997-1998, kata jutawan di Indonesia tidak punya konotasi kaya raya. Misalnya di tahun 2007, seorang supir taxi di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.100.000 Orba (terbilang: satu juta seratus ribu rupiah uang Orba) per bulan bisa disebut jutawan karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Kenyataannya bahwa hidupnya masih penuh dengan keluhan karena untuk makan ukuran warung Tegal (istilah waktu itu untuk warung sederhana dipinggir jalan yang menjual makanan murah) saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia mempunyai istri dan 2 anak, berarti harus punya 2 x Rp 40.000 per hari untuk makan siang dan malam saja. Jutawan ini tidak mampu makan di warung Tegal sekeluarga 3 kali setiap hari. Di samping mereka harus mengeluarkan Rp 800.000 per bulan, mereka juga punya keperluan lain seperti bayar sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa “rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit” (RSSSSSSSSS), rumah petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000, ongkos transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 – 200.000. Jadi bisa dimengerti kalau saya sebut Jutawan Kere karena mempunyai karateristik bahwa makan harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah). Kalau perlu istri juga kerja untuk memperoleh tambahan penghasilan keluarga dan menjadi keluarga multi-jutawan kere.

Jaman Reformasi ditandai oleh tumbangnya Orde Baru dan kobaran semangat demokratisasi, kebebasan berpolitik dan otonomi daerah. Jumlah politikus dan birokrat bertambah dengan adanya otonomi daerah. Setiap daerah muncul banyak politikus daerah. Partai-partai baru pun lahir. Selama dua dekade terakhir Orde Baru dari 1977 - 1997, di Indonesia hanya ada 3 partai politik, pada jaman Reformasi pemilihan umum tahun 1999 diikuti 48 partai politik. Rupanya orang mengamati bahwa karier politikus cukup menjanjikan dan mudah, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi yang susah dan tidak perlu keahlian akademik yang sulit. Sekolah hanya perlu untuk memperoleh ijasah saja.

Banyak artis-artis dan bintang iklan yang berganti profesi ke politikus, apa lagi artis-artis film, penyanyi, model yang sudah tidak laku. Sampai-sampai ada teman saya mem-plesetkan partai PAN menjadi Partainya Artis Nasional, karena banyaknya calon legislatif artis dari partai ini untuk tahun pemilihan 2004 dan 2009. Semakin banyak politikus semakin berat beban pembayar pajak, yang kemudian merambat kemana-mana. Pada akhirnya politik bukan bidang profesi yang memberikan kemakmuran.

Kalau dilihat data, sebenarnya banyak rakyat tidak perduli akan demokrasi. Dalam pemilihan kepala daerah, gubernur dan bupati, banyak pemilik hak pemilih yang tidak ikut. Yang ikutpun, banyak sekedar mau meramaikan saja. Dan tidak tahu/tidak perduli tentang kegunaan gubernur atau bupati. Di banyak pemilihan kepada daerah, suara yang terbanyak adalah yang tidak memilih. Contohnya adalah pilkada (pemilihan kepada daerah) Jakarta 2007, 10 tahun setelah reformasi. Berikut ini adalah hasilnya:

Tidak Memilih                                   : 2.241.003 (39.2%)
Fauzi Bowo dan Prijanto                       : 2.010.545 (35.1%)
Adang Daradjatun dan Dani Anwar       : 1.467.737 (25.7%)

Seharusnya, kalau mau jujur, untuk pemilihan gubernur DKI Jakarta adalah kursi kosong. Tetapi para politikus tidak sudi kalau kursi gubernur dan wakil gubernur dibiarkan kosong. Dan Fauzi Bowo menjadi gubernur dengan perolehan suara 35.1% dari pemilik hak pilih, padahal 39.2% dari calon pemilih tidak menginginkan siapa-siapa untuk menjadi gubernur atau tidak perduli apakah kursi gubernur dikosongkan.

Table berikut ini adalah data lain untuk Pilkada 2007 yang berhasil saya kumpulkan (tidak semua Pilkada). Perhatikan kemenangan kursi kosongnya.

Hasil Perolehan Suara PILKADA 2007
 Daerah pemilihan
Perolehan Suara
%
Catatan
Pilkada Jawa Barat



Pemilih Terdaftar
           27,972,924
100.0%

Agum Gumelar
             6,217,557
22.2%

Danny
             4,490,901
16.1%

HADE
             7,287,647
26.1%

Kursi kosong
             9,976,819
35.7%
Menang




Pilkada DKI Jakarta



Pemilih Terdaftar
             5,719,285
100.00%

Adang Darajatun
             1,467,737
25.66%

Fauzi Bowo
             2,010,545
35.15%

Kursi kosong
             2,241,003
39.18%
Menang




Pemilih Terdaftar
             5,306,691
100.0%

Abdul Aziz Q Mudzakkar
                786,792
14.8%

Amin Syam
             1,404,910
26.5%

Syahrul Yasin
             1,432,572
27.0%

Kursi kosong
             1,768,440
33.3%
Menang









Hasil Perolehan Suara PILKADA 2007
 Daerah pemilihan
Perolehan Suara
%
Catatan
Pilkada Sumatra Utara



Pemilih Terdaftar
             8,457,296
100.0%

Ali Umri
                789,793
9.3%

RE Siahaan
818,171
9.7%

Abdul Wahab Dalimunthe
858,528
10.2%

Tritamtomo
             1,070,303
12.7%

Syamsul Arifin
             1,396,892
16.5%

Kursi kosong
             3,523,609
41.7%
Menang Telak




Pilkada Bangka Belitung



Pemilih Terdaftar
              17,798
100.0%

Fajar F Rusni
               15,329
2.1%

Sofyan Rebuin
               35,949
5.0%

Basuki T Purnama
             166,561
23.2%

Eko Maulana Ali
             180,641
25.2%

H A Hudarni Rani
             112,374
15.7%

Kursi kosong
             206,944
28.8%
Menang




Pilkada Jawa Tengah



Pemilih Terdaftar
        25,859,906
100.0%

Bambang Sadono
          3,192,093
12.3%

Agus Soeyitno
             957,343
3.7%

Sukawi Sutarip
          2,182,102
8.4%

Bibit Waluyo
          6,084,261
23.5%

M. Tamzil
          1,591,243
6.2%

Kursi kosong
        13,444,107
52.0%
Majoritas!




Pilkada Kalimantan Timur



Pemilih Terdaftar
       1,790,195
100.0%

Awang Faroek Ishak
          740,724
41.4%

Achmad Amins
            53,768
3.0%

Kursi kosong
          995,703
55.6%
Majoritas!








Hasil Perolehan Suara PILKADA 2007
Daerah pemilihan
Perolehan Suara
%
Catatan
Pilkada Kalimantan Tengah



Pemilih Terdaftar
       1,202,390
100.0%

Drs. Asmawi Agani
163,322
13.6%

Agustin Teras Narang, SH
349,329
29.1%

Drs. A.Dj. Nihin
160,872
13.4%

M. Usop. MA
35,659
3.0%

S A. Fawzi Zain Bachsin
8,519
0.7%

Kursi kosong
484,689
40.3%
Menang Telak





Setelah 10 tahun reformasi, demokratisasi dan otonomi daerah, rakyat tidak perduli siapa pemimpinnya. Di Jawa Tengah dan Kalimantan Timur, seharusnya tidak ada gubernur, karena mayoritas rakyat tidak memilih. Kita bicara Jawa (Tengah), yang ada di pulau Jawa, pusat pemerintahan, dan pemilihnya 13 juta orang lebih. Kenapa Bibit Waluyo jadi gubernur. Dia bukan pilihan mayoritas!

Kita hanya bisa membuat hipotesa bahwa rakyat banyak yang menyadari bahwa demokrasi bukanlah tujuan yang mereka inginkan. Bahkan sebagai alat untuk mencapai tujuan merekapun mungkin juga bukan. Yang rakyat inginkan adalah kemakmuran, bukan demokrasi dan otonomi daerah. Apa lagi kalau demokrasi dan otonomi daerah harus dibayar mahal. Oleh sebab itu partisipasi mereka pada pilkada semakin menyurut setelah 10 tahun reformasi. Ini adalah hipotesa, bisa diuji kalau mau. Caranya dengan menyandingkan calon eksekutif atau legislatif dengan kursi kosong. Dan insentif diberikan bagi kemenangan kursi kosong berupa pengurangan pajak. Semakin banyak perolehan kursi kosong maka semakin kecil pajak yang akan diberlakukan. Ini dimaksudkan untuk menguji apakah pemilih bersedia membayar kewajiban mereka (pajak) yang diperlukan oleh suatu pemerintahan atau memilih tidak ada pemerintahan yang notabene harus tidak ada pajak. Saya yakin, kursi kosong akan menang. Dengan kata lain, bahwa mereka sudah terlalu bayar mahal untuk para politikus. Saya tidak yakin politikus berani menguji hipotesa ini. Karena takut kalah.

Ketakutan politikus terhadap kekuatan kursi kosong tercermin oleh pernyataan Megawati yang bingung menghadapi massa kursi kosong yang membuat partai-partai politik lainnya kehilangan pamornya. Megawati tanggal 5 Juli 2008 pada kampanye untuk pemilihan gubernur Maluku, mengatakan bahwa Golput (massa kursi kosong) tidak layak menjadi warga negara Indonesia.[1]

"Orang-orang golput seharusnya tidak boleh menjadi WNI, karena mereka menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta perundang-undangan di negara ini,"

Pernyataan ini diliput oleh banyak media cetak.

Ingatan rakyat Indonesia sangat pendek. Mereka sudah lupa bagaimana pemerintahan Sukarno membuat sengsara rakyat melalui inflasi, penerbitan uang yang berlebihan. Demikian juga dengan pemerintahan Suharto. Yang diingat oleh rakyat mungkin hanya yang baru-baru saja. Mungkin yang diharapkan dari demokratisasi politikus yang dipilih mereka akan memperhatikan mereka. Dan pemisahan antara tiga badan suci, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif bisa memastikan keberhasilan demokrasi. Rakyat ini naif dan pemikirannya sederhana saja. Persoalan yang belum pernah hinggap dibenak mereka adalah bahwa ketiga badan yang suci ini melakukan konspirasi setan jahat.

Memang hal-hal yang sifatnya illegal, abu-abu, tidak transparan, seperti rekening-rekening departemen negara yang atas nama perorangan sudah tidak ada lagi di jaman rejim reformasi, tidak berarti pengelabuhan tidak dapat dilakukan. Kalau korupsi didefinisikan sebagai memperkaya diri sendiri dan orang lain secara tidak legal dan merugikan negara, maka definisi korupsi menjadi gugur jika kegiatan memperkaya ini dilakukan secara legal (dan transparan), sekalipun merugikan negara. Bagaimana kalau eksekutif dan DPR bersekongkol untuk membuat keputusan untuk menaikkan gaji dan tunjangan mereka seenaknya sendiri? Legal bukan? Definisi korupsi gugur bukan? Presiden RI ke V (atau ke VI kalau Sjafruddin Prawiranegara dihitung sebagai presiden) yang dikenal sebagai ketua partainya wong cilik, membuat keputusan presiden, Keppres no 81 tahun 2004 yang ditanda-tanganinya sendiri dan isinya adalah memberikan uang tunjangan perumahan purnabakti sebesar Rp 20 milyar kepada mantan presiden yang notabene nantinya adalah dirinya sendiri. Keputusan ini dikeluarkan pada hari Senin tanggal 28 September 2004 hanya 3 bulan sebelum masa tugasnya berakhir tanggal 20 Oktober 2004. Penentuan waktu yang sangat tepat. Beritanya tidak muncul ke permukaan dan tidak mendapat sorotan media massa. Tetapi sampai 6 tahun kemudian yaitu 2010, kalau kita melakukan google search “partai wong licik”, bisa diperoleh lebih dari 26.000 hits. Diam-diam orang masih membicarakannya.

Apakah ini korupsi? Tentu saja bukan, semuanya legal. Hanya saja lucu. Presiden, yang bergelar ketua partainya wong cilik pula, menanda-tangani keputusan untuk menghadiahkan kekayaan negara senilai 170 kg emas kepada dirinya sendiri. Seratus persen legal dan lumayan sebagai hadiah untuk 3 tahun kerja. Perlu dicatat bahwa Megawati menempati posisi jabatan presiden hanya 3 tahun, untuk menggantikan Gus Dur yang dilengserkan MPR.

(Catatan: kalau presiden yang sekarang Susilo Bambang Yudhoyono - SBY mau uang yang nilainya sama ketika dia pensiun tahun 2014 nanti, maka dia harus menaikkan tunjangan perumahan mantan presiden ini ke Rp 90 milyar, karena nilai rupiah sudah tergerus. Untuk tahun 2009 saja, uang Rp 20 milyar tidak lagi bisa memperoleh 170 kg, melainkan hanya 61 kg).

Kejadian lain muncul kepermukaan disekitar tahun 2007, dalam kaitannya dengan peraturan presiden PP No 37 tahun 2006. Peraturan presiden ini mengenai tunjangan bagi pegawai negri yang bertugas dibidang pembuatan undang-undang (salah satunya anggota DPR dan DPRD). Ini yang disebut memperkaya kolega secara legal dari uang negara. Bukankah para anggota legislatif sudah digaji untuk menjalankan tugas rutinnya membuat undang-undang? Apakah yang dimaksud gaji adalah upah untuk menganggur dan tunjangan adalah tambahan kalau bekerja rutin? Buat orang swasta hal seperti ini tidak masuk ke dalam akal. Tidak hanya itu, dalam pelaksanaannya, anggota legislatif ini memperoleh rapel. Misalnya anggota DPRD Batam menerima rapelan tunjangan komunikasi sebesar Rp 64,26 juta (setara 0,31 kg emas)  per orang. Kemudian, selain itu Ketua DPRD Batam mendapatkan rapelan dana operasional Rp128,52 juta (0,63 kg emas) dan Wakil Ketua DPRD Rp 68,544 juta (setara 0,33 kg emas). Memang bilangan juta tidak bisa disebut banyak. Sebab pada saat itu kere pun bisa disebut jutawan. Tetapi bayangkan biaya yang harus dipikul pembayar pajak kalau pembagian ini untuk semua anggota DPRD di seluruh Indonesia.

Karena banyak menuai kritik akhirnya PP No 37 tahun 2006 ini dibatalkan oleh PP No 21 tahun 2007 yang salah satu pasalnya mewajibkan anggota DPRD yang sudah menerima rapelan dana komunikasi tersebut mengembalikannya paling lama sebulan sebelum masa jabatan mereka berakhir. Keadaan semakin seru karena banyak anggota DPRD yang menolak mengembalikan uang yang telah diterimanya. Bagaimana akhirnya? Entahlah, karena tidak lama kemudian masa jabatan para anggota DPRD ini habis dan kasus ini hilang dari permukaan media massa lagi.

Pada akhir tahun 2009, di saat krisis keuangan global 2007-2008 baru agak mereda, pemerintah merencanakan untuk membagi-bagikan mobil dinas mewah seharga Rp 1,3 milyar  bagi anggota DPR. Wow....., harganya setara dengan 4 kg emas. Entah bagaimana kelanjutan dari rencana ini. Beritanya tertutup oleh kejadian-kejadian yang baru.

Contoh-contoh di atas merupakan contoh persekongkolan badan legislatif dan/dengan eksekutif untuk memperkaya bersama secara legal atas biaya negara/pembayar pajak. Nampaknya anggota judikatif tersingkirkan dan tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya tidak juga, karena mereka juga bisa main. Dan permainan mereka merebak ke media masa tahun 2009/2010 dengan nama mafia kasus. Mafia kasus atau dikenal dengan akronim markus adalah persekongkolan antara polisi dan kejaksaan/kehakiman untuk memperoleh uang dari kasus-kasus pengadilan. Tentu saja hal ini tidak legal. Tetapi, siapa yang akan menuntut mereka. Bukankah mereka penguasa pengadilan (badan judikatif). Cerdik sekali. Semua tindak illegal yang dilakukan otoritas peradilan punya peluang yang besar untuk bisa lolos dari jeratan peradilan, karena yang menentukan suatu kasus layak dibawa ke pengadilan, diadili, dihukum adalah pelaku tindak illegal dan komeradnya itu sendiri. Cerdik sekali bukan.

Selama rejim Reformasi berkuasa, inflasi riil berkisar antara 15% - 17% dihitung dari ekspansi uang yang beredar M2. Sedangkan inflasi versi BPS (Badan Pusat Statistik) rata-rata di bawah 10%. Biasanya dilaporkan sekitar 5% saja. Pada kenyataannya nilai riil rupiah tergerus 15%-17% per tahunnya. Tahun 1999 kurs rata-rata rupiah terhadap uang sejati, emas, Rp 328.000 per gram, dan pernah mencapai Rp 390.000 per gram. Dibandingkan dengan harga emas tahun 1999 yang di level rata-rata Rp 70.670 per gram, nilai rupiah sudah tergerus 78,5% dalam 10 tahun. Memang kurs rata-rata rupiah-dollar Amerika tidak beranjak banyak antara tahun 1999 ke 2009, yaitu Rp 9.300 ke Rp 10.500 hal ini disebabkan karena dollar Amerika Serikatpun mengalami inflasi. Alan Greenspan (ketua bank sentral Amerika) dan penggantinya Ben Bernanke mengglontorkan likwiditas sebagai reaksi atas dua kejadian yaitu krisis saham teknologi Nasdaq di bursa saham Wall St (tahun 2000), disusul dengan peristiwa serangan bom terhadap gedung Twin Towers World Trade Center New York yang dikenal dengan peristiwa 9/11 (11 September 2001).

Pada awal era Reformasi, GDP Indonesia dalam emas sempat mengalami pemulihan dari 50 gram emas per kapita tahun 1998 ke 74 gram emas per kapita tahun 2009. Dan tertinggi adalah 93 gram emas di tahun 2003. Nampaknya GDP Indonesia jika dinilai dalam emas sedang mengalami penurunan sejak tahun 2003.


[1] Megawati: Golput tak Boleh Jadi WNI, Kompas.Com, 5 Juli 2008 http://nasional.kompas.com/read/2008/07/05/21241680/megawati.golput.tak.boleh.jadi.wni.




Disclaimer: 

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.