_____________________________________________________________________________________________________________________




Sunday, July 26, 2015

Rupiah: Masa Lalu, Sekarang dan Masa Datang



Bagian I: Masa Lalu, Periode Kondratieff Spring dan Commodity Bear Market


Ekonomi Bukan Sains

Walaupun mungkin kurang akurat, terkadang untuk meramalkan masa depan ekonomi, moneter dan harga, kita harus melihat masa lampau. Karena, ekonomi bukan sains. Untuk sains, cara memahaminya, mempelajarinya dan mengertinya ada laboratorium yang bisa digunakan untuk melakukan eksperimen. Eksperimen yang dilakukan dalam skala kecil dan dalam kondisi yang terkontrol serta terbatas,  jika ada hasil yang tidak diinginkan serta tidak diantisipasi sebelumnya, maka dampaknya terbatas dan kerusakannyapun terbatas.
Untuk ekonomi tidak ada yang namanya laboratorium untuk menguji suatu hipotesa dan teori. Sering kali, politikus di pemerintahan, melakukan eksperimen langsung ke masyarakat. Dampaknya sering merupakan suatu penderitaan. Mungkin sejak awal para politikus ini memang tidak punya niat baik, mungkin ada unsur keterpaksaan untuk memilih antara buruk dan lebih buruk sebagai suatu necessary evil. Bahkan, sekalipun diawali dengan niat yang baik, dampak buruk yang tidak terpikirkan sebelumnya atau harmful unintended conseqencies,  sering muncul dan menjadi penyebab penderitaan jutaan manusia.
 Anda bisa membayangkan, seorang dokter yang main coba-coba obat baru yang belum diuji secara klinis langsung ke masyarakat. Masyarakat dijadikan sebagai uji klinisnya. Berapa banyak orang yang akan mati, jika metode ini diterapkan. Mungkin jutaan. Disini terlihat bahwa uji coba di laboratorium bisa mengurangi resiko yang bisa menimpa masyarakat. Pada uji laboratorium, yang terkena pertama adalah hewan-hewan percobaan. Kemudian secara bertahap ke manusia. Tahapan-tahapan ini membuat dampaknya terukur dan terbatas.
Kali ini EOWI akan melihat sejarah rupiah selama hampir satu (1) siklus manusia (siklus Kondratieff), yang panjangnya antara 50 – 70 tahun. Berbarengan dengan itu, rupiah juga sudah melewati hampir dua (2) siklus komoditi yang panjang siklusnya 30 tahun.
EOWI mempunyai hipotesa bahwa rupiah punya terkaitan dengan kedua siklus ini. Siklus yang pertama (siklus Kondratieff), ada kaitannya dengan pola konsumsi dan prilaku manusia ditinjau dari perjalanan hidupnya. Setiap masa dalam hidup (umur)nya manusia punya pola konsumsi yang berbeda.
Siklus yang kedua ada kaitannya dengan  sisi pemenuhan kebutuhannya, yaitu bahan bakunya. Kebetulan basis ekonomi Indonesia adalah bahan komoditi. Dengan mempelajari pola yang ada, diharapkan EOWI bisa meramalkan bagaimana nasib rupiah dimasa 10 – 30 tahun mendatang.
Chart berikut ini adalah chart perjalanan kurs dollar terhadap rupiah dari kelahiran rupiah sampai Juli 2015 dengan siklus Kondratieff sebagai latar belakangnya. 

 Kurs US dollar terhadap rupiah (Orba) dan Siklus Kondratieff

Dikaitkan dengan siklus Kondratieff, antara batas-batas siklus dengan kurs dollar terhadap rupiah tidak nampak korelasi yang jelas. Pada masa Kondratieff spring sampai awal summer, terjadi lonjakan nilai tukar dollar terhadap rupiah. Kemudian pada sebagian besar masa Kondratieff summer yaitu tahun 1970an, rupiah relatif stabil sampai menjelang fall (authum).
Rupiah memperoleh tekanan kembali sampai 75% dari masa Kondrtieff fall (authum) sampai 1998. Dan kemudian kembali stabil sampai pertengahan Kondratief winter.
Korelasi kurs dollar terhadap rupiah dengan siklus komoditi nampak lebih jelas dibandingkan dengan siklus Kondratieff. Bisa dilihat bahwa selama setiap commodity secular bear market, rupiah selalu tertekan, walaupun tingkat tekanannya berbeda. Sedangkan selama periode commodity secular bull market, rupiah relatif stabil.


 
  Kurs US dollar terhadap rupiah (Orba) dan Siklus komoditi

Saat ini sampai 10 – 15 tahun mendatang, kita berada dalam periode commodity secular bear market. Secara deduksi analogi, peluangnya rupiah akan tertekan terus untuk jangka waktu yang lama yaitu selama 10 – 15 tahun mendatang. Pertanyaannya adalah, apakah pergerakan kurs dollar tajam akan seperti beruang grizzly tahun 1950 – 1970 atau beruangnya hanyalah beruang madu Asia tahun 1980 – 2000? Mungkin jawabannya ada di prilaku manusia dikaitkan dengan siklus Kondratieff.
Dengan melihat perjalanan rupiah ini dan dalam rangka menyongsong masa 10 – 30 tahun kedepan, diharapkan pembaca dan kami sendiri di EOWI bisa menjadikan analisa ini sebagai guiding star (petunjuk) untuk menyusuri hidup ini lebih baik. Setidaknya untuk bisa lebih baik dari pendahulu-pendahulu kita. Bagi para baby boomer yang mulai pensiun, semoga bisa mempertahankan nilai tabungan hari tuanya lebih baik sampai ajal menjemput. Dan bagi mereka yang masih muda-muda agar bisa menjalani karir serta mengumpulkan harta lebih banyak. Hedonis dan materialistis sekali kedengarannya. Kami di EOWI sangat hedonis dan materialistis. Kami bukan penganut spiritualisme yang tidak jelas. Hedonis dan materialistis adalah baik!!
Kata hedon, punya konotasi yang buruk. Tetapi Quran dalam salah satu ayatnya, menganjurkan perilaku hedon, yaitu: hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan dasar, tetapi lebih dari sekedar dasar.
[Q 2:219] Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat keburukan yang besar dan beberapa manfa'at bagi manusia, tetapi mudharat keduanya lebih besar dari manfa'atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka belanjakan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
Umat Islam disuruh membelanjakan uangnya lebih dari sekedar untuk keperluan dasar, selama bukan hal-hal yang buruk dan merugikan. Kalau mampu, belilah mobil BMW atau Mercedes dan pekerjakan supir bukan  sekedar beli Toyota Kijang. Pergilah untuk manicure dan pedicure. Bukan sekadar beli pemotong kuku. Nikmatilah hidup yang lebih dari keperluan (dasar). Tentu saja harus dibarengi dengan mengejar rejeki yang banyak dan halal. Itulah Islam. Hedon, mencintai kenikmatan. Sorgapun penuh dengan kenikmatan. Carilah sorga di dunia dan sorga di akhirat.
Itulah sedikit pesan moral dari EOWI.
EOWI bermaksud untuk memasukkan sebagian dari tulisan ini akan menjadi bagian dari laman Paska Krisis 2014 – 2020, karena relevansinya.

Ekonomi Masa Pra-Rupiah (Nasib Indonesia Sejak Dulu)

Indonesia, atau Hindia Belanda pada jaman dulu, adalah wilayah yang ekonominya berbasis komoditi. Walaupun komoditi bukanlah tujuan awal dari orang-orang Eropa datang ke wilayah nusantara ini, tetapi dalam perjalanan waktu, peran komoditi menjadi penyebab yang besar untuk tetap bercokol di wilayah ini.
Di abad 19, Hindia Belanda sudah menjadi wilayah yang berbasis komoditi. Walaupun cultuurstesel (buku-buku sejarah menyebutnya sebagai Tanam Paksa walaupun seandainya paksaan itu ada, paksaannya jauh lebih lunak dari pada paksaan membayar pajak di masa NKRI paska Orde Baru dan memberi kemakmuran pada masa jayanya) yang dicanangkan oleh gubernur Jenderal van den Bosch pada tahun 1830. Untuk mereka yang berkacamata myop akan mengambilnya sebagai tonggak awal komoditi sebagai basis ekonomi wilayah Hindia Belanda. Padahal sebelumnya, wilayah nusantara didatangi oleh pedagang-pedagang asing, Arab, Cina dan India untuk mencari bahan komoditi pertanian.
Menjelang akhir abad 19, tepatnya tahun 1885 ditemukan minyak bumi di Telaga Said, Langkat. Penemuan-penemuan lapangan minyak berikutnya di Cepu dan di tempat-tempat lain membuat wilayah Hindia Belanda ini tidak lagi hanya bergantung pada komoditi pertanian, seperti karet, gula, tembakau, tetapi juga komoditi tambang. Tidak hanya minyak, tetapi juga timah (Bangka), bauksit dan batubara mengalami perkembangan yang pesat karena adanya mesin-mesin (uap) yang bisa dipakai untuk eksploitasi besar-besaran. Maka lengkaplah wilayah Hindia Belanda sebagai wilayah yang berbasis komoditi. Dan lengkaplah pula-lah nasib wilayah yang dulu bernama Hindia Belanda ini mempunyai ekonomi yang naik turunnya mengikuti siklus komoditi 30 tahunan. Tidak bisa disangkal lagi, pasang-surutnya rupiah Indoensia sangat dipengaruhi oleh siklus komoditi 30 tahunan ini.
Itulah nasib wilayah ini, sangat bergantung pada komoditi. Dan nampaknya tidak akan berubah sampai sejauh mata bisa memandang. Inilah yang akan dijadikan asumsi EOWI dalam menganalisa rupiah.

Kelahiran Rupiah Indonesia

Mohammad Hatta sering dianggap sebagai pahlawan tanpa cacat oleh kalangan sejarahwan. Bagi EOWI, Mohammad Hatta, mungkin adalah orang yang paling berdosa dalam menyengsarakan bangsa Indonesia. Dan dosanya termasuk jenis amal dosa jariah (amal = perbuatan). Yaitu perbuatan dosa yang seperti mata air yang besar, selalu mengeluarkan evil/keburukan/kemudharatan sampai akhir jaman dan menimpa orang banyak. Dibandingkan dengan Orde Barunya Suharto yang melakukan purging orang-orang yang dianggap PKI, Hatta lebih kejam. Purging yang meliputi dari pembunuhan, penahanan dan pengabaian hak-hak hidup keluarga anggota PKI, dilakukan Suharto hanya berlangsung sampai 15 tahun. Sedangkan apa yang diperbuat Hatta dengan memperkenalkan rupiah kepada bangsa Indonesia, penyengsaraan rakyat Indonesia melalui inflasi dimulai sejak awal penggunaan rupiah, dan masih berlangsung terus sampai sekarang serta masa yang akan datang. Suharto hanya terbatas pada eks-PKI dan keluarganya, sedangkan Hatta seluruh rakyat Indonesia yang punya uang. Dan semua rakyat Indonesia punya uang rupiah kecuali rakyat di pedalaman, kaum Badui di Banten, suku Kubu dan suku-suku sejenisnya.
Cerita rupiah dimulai pada tanggal 29 Oktober 1946. Melalui Radio Republik Indonesia (RRI), Mohammad Hatta mengumumkan pemberlakuan uang rupiah. Teks pidato Bung Hatta adalah sebagai berikut:
Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah satu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadap penghidupan baru.
Besok mulai beredar Uang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang syah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang syah, tidak laku lagi. Beserta dengan uang Jepang ikut pula tidak berlaku Uang De Javasche Bank.
Dengan ini tutuplah masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita.
Sejak mulai besok, kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita.
Uang Republik keluar dengan membawa perubahan nasib rakyat, istimewa pegawai negeri, yang sekian lama menderita karena inflasi uang Jepang rupiah republik yang harganya di Jawa lima puluh kali harga rupiah Jepang. Di Sumatra seratus kali, menimbulkan sekaligus tenaga pembeli kepada rakyat yang bergaji tetap yang selama ini hidup daripada menjual pakaian dan perabot rumah, dan juga kepada rakyat yang menghasilkan, yang penghargaan tukar penghasilannya jadi tambah besar.
Apakah memang penderitaan rakyat Indonesia hilang karena penggunaan rupiah seperti kata bung Hatta? EOWI harus mengatakan “tidak”. Pembaca EOWI juga tahu. Banyak orang merasakan kebalikan dari apa yang Hatta katakan, tetapi tidak tahu kenapa.
Semua cerita di atas itu adalah sejarah, yang dijadikan latar belakang dari kisah perjalanan rupiah.

Rupiah Masa Kondratieff Spring (1950 – 1966) dan Commodity Bull Market

Tujuan pembahasan nilai rupiah pada tulisan ini adalah untuk melihat nasib rupiah di masa Kondratieff spring 2020 – 2035(?) dengan melihat periode Kondratieff spring dan summer di masa lalu. Oleh sebab itu EOWI akan mengutip kejadian-kejadian, kondisi saat ini pada saat membahas Kondratieff spring 1950 – 1965 untuk membandingkan keduanya.
Kondratieff spring dimulai sekitar 1944 – 1945, setelah perang dunia II selesai. Serdadu-serdadu yang pulang kampung setelah perang usai kemudian melaksanakan perkawinan tertunda dengan pujaan hatinya. Kemudian mereka beranak-pinak, cepat sekali, melahirkan baby boom, gelombang kelahiran antara tahun 1945 – 1964. Generasi baby boomers ini nantinya yang menjadi penentu arah ekonomi, budaya, pola konsumsi dan teknologi pada 4 dekade berikutnya.
Disebut (Kondratieff) spring karena pada masa itu secara siklus manusia memang bak awal dari suatu kehidupan yang baru bangun dari tidur. Pada masa ini suku bunga masih rendah, harga bahan komoditi juga masih rendah (akibat periode depressi di masa sebelumnya) dan tingkat hutang juga rendah. Faktor-faktor ini menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi.
Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, perlahan-lahan money velocity meningkat. Inflasi juga merangkak naik tetapi masih pada level yang nyaman. Suku bunga juga mulai merangkak naik dari level terendahnya di masa Kondratieff winter, tetapi masih pada level yang nyaman. Akumulasi kapital baik berupa modal tabungan atau alat-alat produksi juga beranjak naik. Tingkat pengangguran menurun.
Tetapi hal yang disebutkan di atas terjadi di US dan Eropa. Di Indonesia sendiri, yang pada masa itu (tahun 1950) baru merdeka. Sektor ekonomi andalannya yaitu komoditi masih dalam masa secular bear market. Sehingga kebangkitan di US dan Eropa tidak memberikan keuntungan apa-apa. Bahkan terhadap rupiah kondisi seperti ini malah menjadi tekanan. Pertama modal akan tersedot ke arah negara-negara industri dimana akumulasi kapital sedang berlangsung. Kedua sumber pemasukan pendapatan, yaitu bahan komoditi, harganya masih rendah. Untuk membiayai jalannya pemerintahan, NKRI yang belum mempunyai sistem perpajakan yang baik, mencetak rupiah dengan gila-gilaan yang berlanjut pada inflasi yang tinggi.
Pada awalnya banyak sumber daya disalurkan untuk hal-hal yang positif seperti pembangunan perumahan dan wilayah dengan penataan yang baik. Di Jakarta, seperti Kebayoran, dibangun tahun 1949. Tebet, Grogol, adalah wilayah-wilayah yang dibangun penataannya di masa awal-awal sampai pertengahan Kondrateff spring 1950 – 1965.
Adanya perang Korea, 1950 – 1953, membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia karena perang Korea membutuhkan minyak dan karet Indonesia. Walaupun harga bahan komoditi masih tertekan, setidaknya pemasukan devisa melalui volume penjualan yang meningkat. Hal ini berlanjut terus sekalipun perang Korea telah usai.
Kalau tahun 2015 pengontrolan kapital dilakukan pemerintah melalui pembatasan penjualan/pembelian mata uang asing maksimium $100 ribu dan larangan transaksi selain dengan rupiah, pada tahun 1950an pemerintah menerapkan pembatasan-pembatasan, atau pengontrolan terhadap kapital berupa kurs ganda. Pada tahun-tahun sekitar 1950an, pemerintah menerapkan sistem kurs ganda terhadap mata uang US dollar. Ketidak-bijaksanaan ini dimulai seminggu setelah Gunting Sjafruddin diberlakukan. Pada ketidak-bijaksanaan kurs ganda ini ada kurs resmi yaitu Rp 3,80 per US dollar ada harga kurs effektif untuk eksportir yaitu Rp 7,60 dan ada harga kurs effektif untuk importir yaitu Rp 11,40 per dollar.
Pada dasarnya bagi importir yang memerlukan mata uang asing dan harus membeli dollar akan dikenakan kurs effektif Rp 11,40 per US dollar. Bagi ekspotir yang memperoleh mata uang asing dikenakan kurs effektif Rp 7,60 ketika menukarkannya dengan rupiah. Dari perbedaan kurs effektif ini, pemerintah memperoleh keuntungan untuk menutup defisit anggaran negara.
Tentu saja dalam prakteknya tidak semudah itu. Dengan mekanisme seperti ini, eksportir bak dikenai pajak ekspor sebesar 66,70%. Siapa sih yang suka dikenai pajak. Kalau ada celah, kenapa tidak menghindar? Eksportir (juga berlaku bagi semua yang berpenghasilan dollar) akan cenderung menghindari dari pada menjual dollarnya secara resmi. Oleh sebab itu perlu peraturan pemaksan, harus ada instrumen pemaksa bagi pelaku bisnis untuk tunduk dengan kemauan pemerintah. Aliran devisa dikontrol ketat melalui BLLD (Biro Lalu Lintas Devisa). Penukaran resmi uang asing dapat dilakukan di bank-bank devisa yang memperoleh ijin dari Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negri (LAAPLN). Disinilah pasar resmi mata uang asing.
Apapun namanya, .....pajak, cukai, kurs ganda, kalau sudah 66,70%, walaupun untuk pemerintah, banyak orang tidak rela. Angka 66,70% itu lebih kejam dari beban Taman Paksa yang hanya 20%. Memang bentuknya berupa pengotrolan devisa bukan seperti pajak, yang secara terang-terangan ditarik ke wajib pajak. Pengontrolan dan pengkebirian mekanisme pasar yang berlebihan seperti ini menyebabkan distorsi pasar yang besar. Orang akan selalu mencari jalan keluar. Muncullah kurs saingan sehingga kurs dollar ada dua, yaitu kurs resmi dan kurs Pasar Baru. Kurs resmi adalah kurs yang didasari oleh paksaan (coercion) dan kurs Pasar Baru (atau pasar gelap lainnya) adalah kurs yang adil yang muncul dari pasar bebas. Pasar gelap tempat pertukaran mata uang asing berlangsung terus sampai tahun 1967, dimana pengontrolan devisa melonggar.
Saya sebut kurs yang tidak resmi ini sebagai kurs Pasar Baru karena kalau pada masa itu anda jalan-jalan ke Pasar Baru Jakarta, sering ada orang mendekat dan berkata pelan-pelan: “dollar pak...., dollar ibu”. Mereka mengajak bertransaksi dollar. Kadang pasar uang di Pasar Baru di masa itu disebut pasar gelap. Kata pasar gelap ini digunakan pemerintah pada hakekatnya untuk memberikan konotasi buruk. Padahal sebenarnya adalah pasar bebas dan dilakukan di siang hari yang terang.
Ketidak-bijaksanaan kurs ganda ternyata membuat kekacauan dan umurnya hanya kurang dari 2 tahun. Pada bulan Januari 1952, diberlakukan satu (1) kurs resmi yaitu Rp 3,80 per US dollar. Ternyata itupun hanya berlaku sekitar 1 bulan. Karena pada bulan Februari 1952, rupiah didevaluasi menjadi Rp 11,40 per dollar. Nilai rupiah menguap 67% hanya dengan sebuah peraturan. Beruntunglah orang-orang yang menyimpan asset non-rupiah. Nilainya tidak tergerus oleh peraturan pemerintah.
Reaksi orang terhadap pemaksaan (coercion) pajak (pajak yang terang-terangan atau terselubung) bermacam-macam. Ada menentang secara terang-terangan lewat kekerasan, ada yang hanya menghindar, membuat jalan keluar yang baru. Biasanya kekerasan adalah jalan terakhir. Hal ini nampak pada NKRI di masa akhir Kondratieff spring. Politik kekerasan bermunculan seperti pembrotakan Permesta 1957, PRRI 1958, yang sedikitnya dilatar-belakangi oleh ekonomi.  
Merasa kekerasan yang sudah ada masih kurang, Sukarno, yang menjadi presiden saat itu memberi sirkus sebagai pengganti roti yang diminta rakyat. Lahirlah Ganyang Malaysia, Dwikora 1962 dan Bebaskan Irian Barat, Trikora 1961. Keduanya adalah sirkus yang harus dibayar mahal, baik dengan nyawa dan materi. Dan keduanya itu bukan politik kekerasan yang terakhir. Konflik terakhir terjadi,  melainkan G30S, suatu konflik internal angkatan darat yang kemudian terbawa ke wilayah sipil. Antara 500 ribu – 3 juta jiwa melayang. Dan konflik terakhir ini membawa ibu pertiwi ke neraka hiper-inflasi rupiah yang terbesar dari semua yang pernah meletus sebelumnya. Hiper-inflasi ini terjadi di awal Kondratieff summer 1966 – 1967. Negara (rakyat dan pemerintah) sudah kehabisan dana akibat pengeluaran yang besar dan pendapatannya pun mengalami terkanan commodity secular bear market. Commodity secular bear market yang dimulai dari tahun 1950, membuat pendapatan merosot terus selama 17 tahun dan ini bersama-sama prilaku tidak produktif menguras dana yang ada.
Itulah kisah perjalanan rupiah selama periode Kondratieff spring 1950 – 1966 dan commodity secular bear market. Mari kita ringkas saja agar supaya memudahkan pembahasan berikutnya nanti.
Secara ringkas, ada beberapa poin penting pada masa Kondratieff spring di Indonesia:
  1. Dengan murahnya harga bahan komoditi yang menjadi andalan Indonesia, membuat pemerintah mengalami kesulitan untuk membiayai jalannya roda pemerintahan.
  2. Selanjutnya pemerintah melakukan kontrol devisa (kontrol kapital) dan penyunatan tabungan rakyat sebagai pajak terselubung untuk membiayai pemerintahan.
  3. Inflasi rata-rata di atas 100% per tahun.
  4. Nilai dollar (dan emas dalam rupiah) meningkat.
  5. Perang dan pertikaian (PRRI/Permesta, kampanye Ganyang Malaysia dan Bebaskan Irian Barat, serta “pembrontakan” G30S) menjelang Kondratieff summer memperburuk fiskal, selanjutnya merambat ke ekonomi dan rupiah mengalami hiper-inflasi.


Sekian dulu, akan bersambung secepatnya.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, July 19, 2015

Bank-bank Yunani Dibuka Kembali Hari Senen

Bank-bank Yunani akan dibuka kembali hari Senen 20 Juli 2015. Akan sangat menarik melihat prilaku nasabah. Apakah mereka melihat bahwa hal ini merupakan kesempatan kembali untuk menariki uangnya....., atau perasaan mereka sudah berhasil ditenangkan.

Yunani tidak mungkin membayar hutangnya. Para politikus tahu. Rakyat tahu. Nasabah bank juga tahu. Saat ini yang diperoleh adalah hanya perpanjangan saja napas. Hasil akhirnya tetap harus ada restrukturisasi. Artinya......, sebagian hutangnya harus diputihkan (baca: dikemplang).
Sampai hari senen......



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, July 14, 2015

Deflasi atau Inflasi (2): Kill the King!



Anakku punya jawaban nakal untuk soal-soal ulangan yang dia tidak tahu. Dari pada membiarkan kosong, maka muncul idenya untuk menjawab waulahu alam (hanya Allah yang tahu). Jawaban nakal. Dalam cerita kali ini saya akan menggunakan ekspressi waulahu alam, untuk mengekspressikan.....emangnya gue pikirin, atau ...nggak tahu ah moso bodo amat. Kedengaran kerén banget.
Di tengah-tengah krisis hutang Yunani, tiba-tiba di kalangan ekonom (pemerintah) dibanyak negara termasuk Indonesia merebak ide untuk menghapuskan cash. Dengan kata lain, membuat semua transaksi cash illegal. Mengkriminalisasikan pemegang cash. Patut diduga ini adalah response dari krisis yang sedang terjadi dan dalam rangka untuk mempertahankan sistem fractional reserve banking bisa terhindar dari kolaps.
Hal ini bukan lah hal yang baru. Dalam bentuk yang lain larangan-larangan dan kriminilisasi seperti ini ini juga dilakukan pada masa depresi 1930an (larangan memiliki emas sebagai harta simpanan). Dalam bentuk yang lebih lunak (tetapi dampaknya tidak kalah menyakitkan bagi penabung, pensiunan dan kelas menengah) dalam krisis keuangan Argentina (1998–2002) dan krisis-krisis keuangan tempatan (lokal) lainnya.
Indonesia sendiri selangkah demi selangkah telah mengarah kesana. Awalnya, adalah aturan bahwa pembelian US dollar di atas US 100,000 per bulan harus disertai dengan dokumen underlaying transaksi (Peraturan Bank Indonesia  Nomor 16/16/Pbi/2014) yaitu kegiatan  yang  mendasari  pembelian penjualan valuta asing terhadap Rupiah.
Kemudian larangan transaksi dengan menggunakan mata uang lain, selain rupiah. Berikutnya entah apa lagi. Bentuk pengkangan-pengekangan seperti ini bukan ciri krisis inflationary. Dimasa inflationary uang banyak dan orang cenderung menyelamatkan nilai kekayaannya dengan menimbun asset riil. Sekarang......, pemerintah RI berusaha mencegah penggunaan mata uang asing (terutama US dollar), mencegah pembelian US dollar karena US dollar yang ditimbun. Nilai US dollar meningkat. Apakah ini berarti US dollar sedang dalam masa deflationary? Dan pemerintah-pemerintah di dunia berusaha mencegahnya.
Sebelum kita menginjak pada cerita pokoknya, saya mau mensitir kata-kata bijak dari kakek saya. “Uang itu seperti burung. Kalau sudah lepas susah ditangkap. Dan burung yang lepas tidak bisa dijual kalau lagi perlu duit, tidak bisa dipetéti (disuruh bernyanyi) dan seperti bukan milik sendiri.” Oleh sebab itu, ia suka cash dan enggan memberi hutang kepada orang.
Juga pesan bagi pembaca yang baru, tulisan ini menggunakan jargon-jargon yang mungkin asing bagi anda dan tida dimengerti. Sekedar untuk mengingatkan, bahwa EOWI punya kamus essensialis. Jika anda menemukan kata-kata yang tidak di mengerti artinya, anda bisa cari makna essensialisnya di kamus EOWI ini. Misalnya:
Uang Illusi: saldo yang tertulis di buku tabungan atau buku giro anda, diciptakan melalui jalur kredit dan fractional reserve banking (FBR).
Fractional Reserves Banking (FRB): teknik membuat uang illusi dengan jalan mengkreditkan uang secara berulang-ulang. Atau teknik sulapan illusi yang bisa membuat Rp 10 milyar seakan menjadi Rp 100 milyar.

Kisah Tragedi Yunani

Judul dari bagian ini seperti potongan syair lagu Panggung Sandiwara nya God Bless. Yunani mengalami tragedi. Ini bukan nyanyian tetapi kejadian yang sedang berlangsung saat ini. Tragedi dikarenakan banyak hutang dan mengalami kesulitan untuk membayar. Beginilah kisahnya.....
Untuk sebab yang waulahu alam, kepercayaan terhadap Yunani merosot. (Rakyat) Yunani dengan hutangnya yang jatuh tempo dan tidak punya kemampuan untuk membayar, terlibat dalam tarik-menarik antara bayar atau ngemplang. Sementara Jerman (dan Prancis) yang bank-banknya dan investornya menjadi kreditur Yunani merasa senewen apakah harus memperpanjang kredit yang diberikannya disertai dengan segala kondisi dan persyaratan yang mengekang prilaku Yunani yang boros. Atau membiarkan piutangnya dikemplang. Suatu pilihan yang sulit.
Keraguan atau kebingungan kreditur (waulahu alam) bisa dilihat dengan telah berkali-kalinya kreditur Yunani memberikan kesempatan terakhir. Tetapi yang menjadi kesempatan terakhir ternyata bukan terakhir. Selalu masih ada kesempatan terakhir lainnya. Walaupun akhir yang terbaik (tetapi tetap menyakitkan) adalah Yunani keluar dari euro.
Terlepas dari semua kesempatan terakhir yang diberikan kreditur, tetapi.....rakyat Yunani sudah menentukan keinginannya melalui referendum, yaitu NO untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Secara tidak langsung artinya.....”ngeplang saja yuk, sakitnya dibagi rata antara debitur dan kreditur”.
Apakah ngemplang hutang artinya keluar dari zona euro, dan kembali ke drachma? Supaya bisa mencetak duit. Waulahu alam.
Yunani sekarang ini kekurangan duit. Mereka tidak bisa mencetak euro. Kapital (baca: duit) keluar dari Yunani. Depositor menariki uangnya dari bank, karena takut kalau banknya kolaps. Akibatnya bank-bank Yunani kekurangan cash. Lumpuh.
Saya tidak tahu bagaimana nasib bank yang terbesar di Yunani, Alpha Bank, saat ini. Pada hari jumat, tanggal 26 Juni 2015 lalu, diumumkan bahwa bank-bank Yunani akan tutup di hari senennya (29 Juni 2015).  Apakah ditutup untuk sementara, atau ditutup untuk jangka waktu yang tidak ditetapkan (kata halus untuk selamanya). Saya berusaha mencari berita tentang dibukanya kembali bank-bank di Yunani, tetapi yang saya peroleh....., bank masih tutup ketika kalimat ini ditulis. Greek banks will not open on Monday and ATMlimits will be reduced  demikian salah satu judul berita dari banyak berita yang serupa yang saya peroleh.
Bank tidak hanya tutup. ATM, seandainya masih ada cash, nasabah hanya bisa menarik sebesar €50 saja.
Tidak hanya itu......, pemilik uang yang menyimpan uangnya di safe deposit box di bank-bank, tidak boleh dan tidak bisa mengambil uangnya. Larangan tersebut adalah larangan dari deputi menteri keuangan Yunani. Di samping itu, bank-bank juga tutup. Orang tidak akan bisa membuka dan mengambil apa-apa yang disimpannya disitu!! Lihat berita ini Greekscannot tap cash in safe deposit boxes under capital controls 
Wow....sungguh malang nasibmu rakyat Yunani. Sekalipun punya duit di tabungan. Yang sejak awal sudah berjaga-jaga dengan mengambili uangnya dan disimpan di safe deposit box, ternyata disandra oleh pemerintah. Alangkah malangnya nasibmu, rakyat Yunani. Yang aman adalah yang punya duit di bawah bantal!!
Kemalangan tidak berhenti sampai disitu...., maksudnya di kalangan rakyat saja. Di kalangan bisnispun terhambat. Barang-barang import tidak bisa dibeli karena bank-bank tidak mau/bisa melakukan transaksi dengan bank-bank di luar Yunani. Entah karena kepercayaan bank di luar turun terhadap bank-bank Yunani......., wauLah hualam.
Contohnya, koran di Yunani mengalami kesulitan memperoleh kertas dari pemasoknya di luar negri. Kata Business Insider:  Greece can’t pay for paper anymore

Naiknya Sang Raja

Ada hal yang bisa diambil hikmahnya dari kasus Yunani, bagi orang yang mau belajar dari pengalaman orang lain. Belajar dari pengalaman orang lain banyak enaknya dari pada belajar dari pengalaman sendiri. Biarlah orang lain yang menderita, agar kita bisa mengambil hikmahnya.
Dari kasus Yunani, dan kasus-kasus lainnya, suatu hal yang pokok yang harus diwaspadai pada masa krisis liquiditas/keuangan bahwa apapun sumber pemicu krisis, yang pasti uang di bank tidak akan pernah cukup untuk membayar semua nasabahnya. Itu kenyataan. Semua penyebab itu berpangkal pada praktek Fractional Reserves Banking (FRB) yang dilakukan bank sehingga praktek itu menelorkan uang-uang illusi. Catatan saldo di buku tabungan anda atau di buku giro anda adalah uang illusi. Disebut illusi karena...., itu cuma catatan saja yang membuat anda merasa mempunyainya. Tetapi, belum tentu anda bisa menggunakannya, terutama dimasa krisis. Seperti burung yang yang tidak ditangan yang digambarkan oleh kakek saya. Tidak bisa disembelih untuk dimakan, tidak bisa dijual, tidak bisa........banyak lagi, karena harus ditangkap dulu. Dan menangkapnya adalah sulit.
Jumlah uang illusi berlipat-lipat kali lebih banyak dari pada cash. Sehingga jika semua nasabah mau mengambil uang miliknya sebagai cash, maka semua cash yang ada di bank tidak pernah mencukupi uang illusi yang dimiliki nasabah bank. Jumlah saldo yang tercatat di buku tabungan dan giro nasabah, jauuuuuuuh lebih  banyak dari pada cash yang ada di bank (lihat banyaknya uuuuu untuk mengekspresikan betapa jauhnya). Sehingga bisa dipastikan akan ada yang tidak kebagian.
Pada masa normal, nasabah biasanya tidak perduli terhadap resiko akan kehilangan uangnya. Karena mereka punya kepercayaan kepada bank. Resiko untuk menempatkan uang di bank dan memperoleh imbalan bunga masih sepadan dengan hilangnya tabungan. Sehingga selisih yang lebar antara cash dan saldo total nasabah tidak dipersoalkan.
Persoalannya menjadi lain pada masa krisis liquiditas, krisis keuangan, kepercayaan pada bank menurun. Orang-orang mulai takut kehilangan uangnya dan menariki uangnya dari bank. Jurang selisih antara uang cash dan uang illusi (catatan saldo nasabah di bank) semakin nyata dan bisa dilihat. Dan semakin cepat orang menariki uangnya dari tabungannya di bank, membuat keadaan semakin parah.
Kalau orang meragukan integrity, kekuatan suatu jembatan panjang sekali, apakah anda pikir orang akan memakainya? Mungkin lebih memilih menyeberang dengan menggunakan ferri. Kalau kondisi bank meragukan, apakah orang akan melakukan transaksi dengan menggunakan kredit atau apapun yang melewati bank (debit card)? Segala sesuatu yang menlewati bank akan mempunyai resiko tidak bisa diambil. Bayangkan, seorang pengecer yang menerima pembelian dengan uang illusi (dengan kartu kredit dan kartu debit). Semua modalnya terparkir macet di bank dan tidak bisa diambil. Dengan adanya pembatasan mengambil uang sebesar € 60, bagaimana caranya penjual yang akan kulakan yang nilainya puluhan kali € 60. Bisnisnya akan macet. Jadi transaksi cash akan mendominasi kehidupan. Dimasa krisis keuangan, apakah itu untuk konsumen atau pelaku bisnis cash is the king. Itu yang bisa dijadikan pelajaran. Jangan lupa. Dan kalau ditanya guru, jangan menjawab waulahu alam.
Ternyata hal ini terjadi juga selama krisis moneter 1998 di Indonesia. (Catatan: selama krismon 1997 – 1998 saya tidak ada di Indonesia. Saya tinggal di Scotland, UK sampai tahun 2000). Teman saya bercerita bahwa di masa itu bank-bank di-rushed, orang-orang menariki uangnya dari bank. Bank-bank harus menaikkan suku bunganya sampai 50% - 60% untuk menarik nasabah agar memasukkan uangnya kembali ke bank. Cash is the King.



Posisi Pemerintah

Suatu hal yang harus diingat bahwa secara umum pemerintah tidak akan pernah berada di pihak anda, di pihak rakyat. Mereka berada di pihak bank dan para pemilik modal serta di pihak pemerintah itu sendiri. Kalau pemerintah melakukan tindakan penyelamatan, artinya adalah sosialisasi hutang. Hutang yang dimiliki pemerintah, pengusaha disebarkan ke masyarakat. Itu kata kerénnya untuk : dibebankan ke pembayar pajak, ke rakyat. Sebagai contoh adalah usaha BLBI (Bantuan Liquiditas Bank Indonesia) ketika krismon 1998. Bagi mereka yang hidup dimasa itu tahu bahwa tiba-tiba nilai rupiah anjok dari Rp 2,500 per US dollar menjadi Rp 15,000 sebelum stabil dikisaran Rp 8,000 – Rp 9,000. Untuk menyelamatkan bank-bank yang beku, penabung dikorbankan. Untuk beberapa orang, nilai riil tabungan susut 80%, walaupun secara nomimal masih sama. Ada juga yang uangnya amblas sama sekali, bersama jatuh pailitnya bank tempatnya menabung. Kasihan......

Kill The King
Raja tidak akan menyukai jika ada raja lain naik tahta di negaranya. Maka raja baru harus dibunuh!! Jangan heran disetiap krisis keuangan, selalu ada larangan-larangan untuk menyimpan cash atau cash equivalent. Bahkan di negara demokratis dan free market , tangan presidennya pun gatal dan risih terhadap cash. Presiden Roosevelt tahun dimasa the great depression, mengeluarkan larangan kepemilikan emas melalui Executive Order 6102, April 5, 1933, dan baru dicabut kembali tahun 1964. Selama berlakunya larangan ini, bagi pelanggarnya didenda $ 10,000 dan/atau penjara 5 – 10 tahun.
Ide untuk menghapuskan cash muncul kembali. Semua transaksi akan diharuskan secara elektronik. Ini berarti menguasaan tabungan kita (rakyat) tidak ada di tangan pemiliknya yang berhak lagi, melainkan di tangan bank.
Inilah cara membunuh the King.

Catatan Akhir

Apa yang akan terjadi dengan Yunani adalah waulahu alam. Tetapi menurut perkiraan EOWI, Yunani akan keluar atau didepak keluar. Sebagian besar rakyat Jerman merasa persyaratan-persyaratan yang menekan Yunani adalah wajar. Sebagian rakyat Yunani merasa lebih baik ngemplang hutangnya. Tinggal para politikusnya.
Kalau skenario Yunani mengemplang hutangnya (sebagian atau semua) berikut ini adalah korbannya dan seberapa besar kerugiannya.
Jerman pegang piutang Yunani 92 milyar euro (3.2% GDP Jerman), Prancis 70.3 milyar euro (3.2% GDP), Itali 61.5 milyar euro (3.8%), Spanyol 42.3 milyar euro (4% GDP). Itu pukulan bagi pemerintahan negara-negara tersebut.
Tidak hanya itu, jika Yunani kembali ke drachma, maka nilai drachma mungkin hanya 20% – 50% dari nilai euro. Penabung terpukul. Barang-barang impor naik dan membuat konsumen terpukul. Jerman yang mengekspor barang-barang ke Yunani akan terpukul, barangnya mendadak menjadi mahal. Russia yang mengekspor gas ke Yunani juga akan terpukul......., € 60 – € 70 milyar impor Yunani akan susut.
Walaupun sudah mengemplang hutang, rakyat Yunani masih harus mengencangkan ikat pinggang. Pemerintah Yunani harus mengejar pajak dan berdisplin terhadap fiskalnya. Eropa akan merasakannya.
Dan......., jika Itali dan Spanyol melihat Yunani bisa menghidar dari kewajiban membayar hutang, apakah mereka tidak berpikir.......”kenapa saya tidak mencobanya juga?” . Kalau begitu kejadiannya......krisis akan melebar. .......waulahu alam.
Sekian dulu. Ingat-ingat: dimasa krisis cash is the king. Dan kalau ditanya bu guru, jangan menjawab dengan ekspresi waulahu alam.
Ada satu pertanyaan lagi: apakah krisis semacam ini bersifat deflasi atau inflasi......, jawabanya waulahu alam.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, July 5, 2015

Bursa Cina Crash?



Gejolak 2014 - 2020



Tidak Belajar

(Kekayaan Lenyap per Minggu Setara 1 Tahun GDP Indonesia)

Ada kata-kata bijak dari Kong Hu Cu:
Ada tiga cara untuk belajar dan menjadi bijak.
  1. Pertama dengan perenungan yang dalam dan matang, ini adalah cara yang paling mulia dan kerén.
  2. Kedua dengan mencontoh, ini adalah cara yang paling mudah.
  3. Dan ketiga adalah dari pengalaman, ini adalah yang paling menyedihkan dan menyengsarakan. EOWI menambahkan: Untuk mengerti kok harus menderita dulu.
EOWI menambahkan lagi:
  1. kalau orang tidak bisa belajar dari pengalaman......, entah apa namanya. Quran menyebutnya sebagai asfala safiliin. Keledai saja yang bodoh tidak akan jatuh di lubang yang sama, bagaimana manusia yang tidak bisa belajar dari pengalaman?
Banyak orang (Cina) mungkin masuk pada kategori 4.
Bursa saham Cina boleh dikata crash. Indeks komposit Shanghai jatuh 26% dari top (puncak)nya dalam 3 minggu. Dari level 5,178 interday high tanggal 12 Juni 2015 ke 3,837 closing tanggal 3 Juli 2015. Bursa Shanghai dan Shenzhen yang mempunyai kapitalisasi pasar total sekitar $ 10 – 11 trilyun pada awal bulan Juni 2015, kehilangan hampir $ 3 trilyun. Ini 3 kali GDP Indonesia!! Wow....!
Dalam 1 tahun terakhir ini, bursa saham Cina kebanjiran peminat. Orang Cina seperti sudah kehabisan obyek untuk dispekulasikan setelah harga properti mendingin. Indeks saham Shanghai melonjak 2.5 kali lipat hanya dalam kurun waktu 1 tahun. Dengan crash seperti ini, mungkin pesta sudah berakhir. Dan target akhir untuk indeks Shanghai di sekitar 1,750. Uups.

Chart- 1
Ini mengingatkan saya pada saham BUMI yang dulu sampai mencapai di atas Rp 8000 dan sekarang masuk kategori saham gopek-an. Kasihan yang beli di harga Rp 8000an itu.
Walaupun Cina punya Kong Hu Cu dengan segala kata-kata bijaknya, tetapi mereka, orang Cina tidak bisa belajar. Yang pasti mereka yang ikut berpartisipasi dan rugi di bursa ini bukan manusia kategori 1 dari mampu merenung, berpikir yang jernih untuk bisa memperoleh pencerahan dan kebijakan.
Mereka juga bukan kategori 2. Seharusnya mereka bisa belajar dari tetangga mereka, yaitu Jepang. Jepang mengalami boom ekonomi di tahun 1980an. Kemudian menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke 2 setelah US. Pertumbuhan ekonominya demikian pesatnya, sampai-sampai banyak yang berpikir bahwa Jepang akan menyusul US dan rajai ekonomi dunia. Bubble di sektor properti. Bubble di bursa saham.
Tetapi apa yang terjadi di tahun 1990?
Crash!......., sektor properti crash......., saham juga crash. Setelah 25 tahun, indeks Nikkei masih tersisa 50% nya saja. Kalau dinilai dengan memperhitungkan inflasi selama 25 tahun itu, entah berapa nilainya.

Chart- 2
Padahal jarak antara bursa Nikkei di Tokyo dan dan bursa Shanghai hanya 1760 km (2 kali Bandung – Denpasar). Toh orang-orang di bursa Shanghai tidak bisa belajar.
Apakah mereka ini masuk pada kategori 3, yang hanya bisa belajar dari pengalaman sendiri?
Tidak juga.........., 7 – 8 tahun yang lalu, bursa Shanghai mengalami crash. Mereka sudah lupa.
Mungkin ingatan mereka tidak terlalu bagus untuk mengingat kejadian yang lebih lama dari 5 tahun lalu. Sakit seperti alzheimer. Tetapi ada hal yang baru...., mungkin kurang dari 1 tahun. Baru saja orang-orang Cina ini, investor retail, anggota masyarakat awam ini terjerumus ke dalam spekulasi properti yang membubble., yang kemudian membeku. Turun perlahan-lahan, yang membuat banyak spekulator berdoa.......moga-moga naik lagi. Tetapi yang ditunggu tidak naik-naik. Dan kejadian ini sudah dilupakan....., atau pura-pura lupa.
Mungkin mereka ini pendatang baru, yang belum berpengalaman. Mungkin. Mungkin akhirnya menyesal seperti mereka yang membeli BUMI di bursa Jakarta. Mungkin juga orang bego...., yang tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri. Siapa perduli...!

Goreng Terus Sampai Hangus

Jangan salah sangka......, tidak semua orang Cina bego. Ada juga yang pintar, mungkin juga banyak. Iya......banyak terutama insider alias orang-orang dalam, pemilik perusahaan, jajaran managemen atasnya. Contohnya adalah Li Hejun, CEO dari Hanergy Thin Film Power Group http://www.hanergy.com yang usahanya di bidang energi terbarukan (termasuk hidro-elektrik).
Setahun lalu harga saham Hanergy yang perdagangkan di bursa Hongkong hanya berkisar $0.18. Kemudian beberapa bulan lalu melonjak ke $7.5. Apakah kenaikkan ini karena digoreng oleh para insider, entahlah. Perlahan-lahan mereka menjual sahamnya. Dan akhirnya setelah digoreng sampai hangus, saham dijatuhkan. Perdagangan saham Hanergy kemudian disuspensi. Dengar-dengar harga saham di pasar negosiasi hanya $0.18 saja, kembali ke harga awal. Spekulan retail yang terperangkap seperti ikan teri yang digoreng hidup-hidup.

Chart- 3
Di samping Hanergy, ada lagi Goldin Financial Holding. Awalnya sahamnya hanya berkisar di $4 Hongkong. Beberapa bulan lalu melesat sampai ke $29, untuk kemudian dijatuhkan kembali ke $8.

Chart-4
Kejatuhan Hanergy dan Goldin bersama-sama membukukan kerugian spekulan sebesar $ 36 milyar (Hongkong tentunya). Dan..... keuntungan $36 milyar untuk para penggorengnya, seperti Li Hejun. Sudah kaya....menjadi semakin kaya lagi.
Sepertinya, banyak yang digoreng hidup-hidup dan ini membuat saya ingat kasus BUMI. Bedanya, BUMI digorengnya dengan api kecil, membuat sakitnya dan siksaannya berkepanjangan. Dari saham pekceng ke saham gocap memakan waktu 7 tahun.

Renungan

Uang sebesar 3 kali GDP Indonesia menguap dalam waktu 3 minggu. Itu jumlah yang besar dan dalam waktu yang pendek. Artinya uang sebesar yang dihasilkan oleh ekonomi Indonesia 1 tahun lenyap hanya dalam 1 minggu. Itu terjadi di bursa Cina.
Apakah tidak akan merambat ke sektor lain, ekonomi misalnya. Kemudian disusul spill-over ke negara-negara lain? Seperti Jepang, Korea, tetangganya. Atau partner dagangnya seperti US, Iran, Australia,.......Indonesia.
Ingat Jepang dulu di tahun 1980an. Bukankah banyak kemiripan dengan Cina sekarang? Pertumbuhan ekonomi yang cepat, yang melesat menjadi ekonomi ke 2 dunia setelah US. Diramalkan akan menyusul US..........entah apa lagi. Bukankah tidak mungkin akan bernasib seperti Jepang. Crash di bursa saham dan properti, disusul dengan resesi dan pertumbuhan ekonomi yang marginal selama 25 tahun. Stimulus selama 25 tahun tidak mempan.
Tadi disebutkan Indonesia? Yang mungkin kena dampaknya. Mmmmm..... Indonesia..., Indonesia. Skenario yang paling berpeluang terjadi adalah, harga komoditi bahan tambang (dan minyak) turun lagi, karena karena resesi di Cina. Pendapatan pemerintah dari sektor ini turun lagi. Pemerintah mengejar-kejar orang untuk membayar pajak. Kantor pajak akan berburu di kebun binatang, menembak gajah yang ada disana – itu kiasan untuk lebih membebani pembayar pajak yang taat. Perlambatan ekonomi. Rupiah perlahan-lahan melemah.
Secara implisit, skenario di atas mengatakan bahwa ekonomi Cina akan melambat dan resessi. Tentu saja ada skenario lain. Misalnya crash landing, dana asing keluar secara berbondong-bondong, atau/disertai pembersihan politik. Ini akan merambat dengan cepat kemana-mana dan credit line akan beku. Itu yang parah. Harga properti di kota-kota yang menjadi tujuan jutawan Cina seperti Toronto, Vancouver, Singapore, Melbourne.......akan crash. Selanjutnya bisa anda bayangkan sendiri. Pada saat credit line tutup, credit mengering dana asing tergesa-gesa keluar, maka rupiah juga akan crash.
EOWI tidak yakin skenario ke 2 akan terjadi. Ketika tahun 1990 Jepang mengalami crash dan Uni Soviet secara bersamaan runtuh; dunia tidak banyak terpengaruh. US kena resesi dari bulan Juli 1990 sampai February 1991. Kecuali sedikit perampingan di perusahaan-perusahaan Amerika, dan indeks DOW turun 20% dari 2,999.8 di bulan July 1990 ke 2,408 dibulan Oktober 1990 yang kemudian rebounce. Bukan crash ala bursa Shanghai sekarang. Pada waktu itu, kecuali bursa Tokyo, selebihnya di tahun itu biasa saja. 

Jadi, kalau mengambil analogi bursa Tokyo tahun 1990, kemungkinan crash di bursa Shanghai di tahun 2015 in tidak banyak berpengaruh ke bursa lainnya. Entahlah kalau kali ini situasinya berbeda. Artinya....., US mengalami resesi, bursa Wall st. ikut-ikutan turun sampai 20% dan berlanjut terus. Entah lah.
Sekian dulu. Semoga cerita ini ada hikmahnya bagi anda. Ini adalah doa EOWI yang secara implisit berbuny: “Semoga pembaca EOWI setidaknya ada pada kategori 2 dan 1 menurut pembagian Kong Hu Cu”. Itu doa kami untuk pembacanya. Dan semoga anda termasuk yang selamat bahkan memperoleh keuntungan selama Gejolak 2014 – 2020 ini. Amiiiiiiin.
EOWI sedang melakukan kampanye untuk menaikkan jumlah follower nih. Supaya lebih kerén. Kalau anda belum jadi follower EOWI, silahkan klik link untuk jadi follower, supaya EOWI jadi kerén, karena banyak followernya. Dan anda juga jadi kerén karena membaca secara rutin situs ekonomi alternatif yang terbaik di Indonesia.
 



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, July 3, 2015

Deflasi atau Inflasi? (1): Fakta



Tulisan ini saya dedikasikan kepada para baby boomer Indonesia yang sedang memasuki masa pensiunnya. Karena dimasa yang tidak lama lagi, ada peluang  untuk terjadi krisis ekonomi. Dan saat nanti itu, sifatnya global.
Beberapa hari yang lalu, saya membicarakan seorang paman dengan adik saya yang tinggal di London. Dulu sekitar tahun 1992 ia memperoleh uang pensiun sebesar Rp 60 juta. Saya perkirakan tabungannya mungkin ada sekitar Rp 150 juta. Sehingga total simpanannya untuk menyongsong masa tuanya mencapai Rp 200 jutaan. Di masa itu Rp 200 juta itu banyak sekali.  Gaji pembantu masih Rp 50,000. Dan untuk hidup biasa cukup Rp 1 juta. Jadi Rp 200 juta dengan dia bisa hidup sekitar 15 - 20 tahun dari tabungannya.
Sayangnya.....tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia. Dan 80% dari nilai tabungannya amblas. Terus bagaimana dia harus hidup untuk sisa umurnya?
Obrolan saya dengan adik saya itu berawal mengenai menguapnya uang suaminya dan dirinya yang disimpan di salah satu anak perusahaan bank Lloyds di Cayman. Karena ada persoalan dengan debiturnya, bank tersebut di-rushed oleh deposan-deposan besarnya. Adik saya dan suaminya adalah investor kecil dan bukan deposan yang besar. Dan informasi semacam ini investor kecil adalah orang-orang yang terakhir tahu. Oleh sebab itu depositnya sebesar ₤ 350,000 (Rp 7.3 milyar) amblas. Padahal uang itu sebenarnya akan dipakai untuk membeli rumah.
Ini adalah kisah nyata. Yang satu kehilangan sebagian besar nilai tabungannya dan yang satunya lagi kehilangan seluruh tabungannya. Bisa dibayangkan jika hal ini terjadi lagi. Entah bagaimana cara para baby boomer Indonesia melewati masa tuanya, jika mereka tidak siap. Itulah sebabnya, tulisan ini saya dedikasikan untuk para baby boomer Indonesia....., yang akan/baru saja memasuki masa pensiunnya.
Cerita ini akan saya mulai dengan dua (2) penyataan:
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang, tetapi masyarakat tidak bisa dipaksa untuk mengambil kredit untuk membeli, mengkonsumsi sehingga roda ekonomi berputar.
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang dan membiarkan masyarakat spekulan menggunakannya untuk berspekulasi bahkan pemerintah ikut meningkatkan pemborosannya dengan proyek-proyeknya yang absurd serta ikut memborong saham dan bersama-sama dengan spekulan mendongkrak harga asset (properti, saham, bond, akik dan barang koleksi) dan selanjutnya menjadikannya bubble, dan diharapkan pada akhirnya dikalangan masyarakat memberikan rasa kaya dan makmur yang notabene adalah illusi. Selanjutnya diharapkan memberikan effek trickle down dengan memicu konsumsi,.......yang akhirnya memutar roda ekonomi. Tetapi...... tidak ada yang bisa memaksa masyarakat untuk tidak merasa kuatir akan masa depannya dan mulai menabung, melunasi hutangnya dan berhemat.
 Kurang lebih begitulah gambaran yang menjadi latar belakang stimulasi ekonomi yang dilakukan pemerintah. Roda ekonomi bisa berjalan lagi jika ada pengglontoran liquiditas. Itulah yang diinginkan pemerintah serta bank-bank sentral untuk bisa membuat negaranya keluar dari lingkaran deflasi, dimana masyarakatnya sedang menahan diri dari belanja dan konsumsi. Sayangnya pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat untuk tidak mementahkan usahanya.
Deflasi terjadi di masyarakat yang sedang punya kecenderungan untuk menabung, menunda konsumsi dan melunasi hutangnya. Dan ini dipersepsikan akan membuat permintaan atas barang dan jasa turun, dengan demikian harga barang cenderung turun dan roda ekonomi melambat, pemasukkan pajak pemerintah turun, sehingga pemerintah harus mengurangi kegiatannya.
Dimasa deflasi, nilai uang meningkat karena meningkatnya daya beli uang akibat penurunan harga barang. Uang $10 yang tadinya hanya bisa untuk membeli rupiah sebesar Rp 90,000, ketika harganya turun 40%, maka dengan $10 itu bisa memperoleh Rp 166,000. Dalam kondisi ini, beban hutang dalam denominasi mata uang yang mengalami deflasi, menjadi semakin berat. Kalau US dollar yang mengalami deflasi maka debitur US dollar semakin berat bebannya. Jika pemerintah adalah debitur, maka pemerintah adalah yang dirugikan oleh kondisi deflasi.
Jadi deflasi akan membuat beban hutang pemerintah menjadi berat sementara keuntungan akibat deflasi tidak bisa dipajaki. Itu tidak disukai pemerintah!!! Oleh sebab itu pemerintah harus memeranginya. War on Deflation.
Di dalam sistem yang berbasis riba, kredit yang melalui fractional reserve lending, akan berbeda dengan sistem yang berbasis uang (Money).
Money dan credit adalah dua hal yang berbeda. Inilah yang menentukan apakah krisis saat ini adalah deflasi seperti Jepang atau inflasi seperti Zimbabwe, atau keduanya di tempat yang berbeda.
Seorang pembaca EOWI mengatakan bahwa EOWI berada di kubu deflasi, bersama Harry Dent. Sebenarnya bukan hanya Harry Dent, tetapi beberapa analis kondang seperti Robert Precter, dan blogger Mish Shedlock, dan yang tidak secara implisit mengatakannya sebagai kubu deflasi, seperti John Mauldin, blogger Pater Tenebrarum.
Sementara itu di kubu yang berlawanan adalah Peter Schiff dan yang agak lunak Jim Rickards.
Dan ada juga kubu agnostik seperti Jim Rogers. Walaupun banyak yang menyangka Jim Rickards ada di kubu inflasi, tetapi dilihat dari dasar-dasar opininya ada kemungkinan Jim Rickards, setengahnya adalah kubu agnostik.
EOWI akan menyajikan beberapa tulisan yang mendasari kepercayaan EOWI mengenai krisis dunia saat ini. EOWI tidak fanatik berada di kubu deflasi atau inflasi. Kalau pembaca EOWI yang lama ingat, sebelum tahun 2010, EOWI adalah salah satu cheerleader emas, perak dan komoditi. Setelah itu EOWI beralih sebagai cheerleader US dollar. Ada satu hal yang penting dipahami oleh investor dan penabung: “Jangan jatuh cinta pada investasinya dan tema investasinya”.
Pada bagian pertama ini EOWI akan menyajikan data-data. Dengan data ini pembaca bisa menilai, apa yang sedang terjadi, tanpa ada pengaruh dari Harry Dent atau Peter Schiff dan Jim Rickards. Kemudian, berikutnya adalah mengenai perjalanan rupiah dari masa ke masa. Dan setelah itu........, ah itu nanti saja supaya pembaca penasaran.

Data Money Velocity

Kita akan memulai inti cerita dengan melihat data M1 money velocity. Tetapi sebelumnya EOWI akan mengulangi paragraf yang ada di awal tulisan ini:
Sentral bank boleh mengglontorkan liquiditas, mencetak uang dan membiarkan masyarakat spekulan menggunakannya untuk berspekulasi bahkan pemerintah ikut meningkatkan pemborosannya dengan proyek-proyeknya yang absurd serta ikut memborong saham dan bersama-sama dengan spekulan mendongkrak harga asset (properti, saham, bond, batu akik dan barang koleksi) dan selanjutnya menjadikannya bubble, dan diharapkan pada akhirnya dikalangan masyarakat memberikan rasa kaya dan makmur yang notabene adalah illusi. Selanjutnya diharapkan memberikan effek trickle down dengan memicu konsumsi,.......yang akhirnya memutar roda ekonomi. Tetapi...... tidak ada yang bisa memaksa masyarakat untuk tidak merasa kuatir akan masa depannya dan mulai menabung, melunasi hutangnya dan berhemat.
Pertanyaan yang mendasar mengenai stimulus-stimulus yang dilakukan oleh bank-bank sentral adalah: Apakah dengan stimulus dan membanjiri sistem dengan liquiditas akan membuat masyarakat serta merta berbelanja?
Salah satu indikator yang bisa dilihat adalah M1 money velocity (MV)
M1 money velocity (MV) adalah ukuran yang menunjukkan berapakali uang berpindah tangan untuk setiap uang yang diciptakan. Kalau uang itu berpindah tangan berkali-kali maka hal tersebut mencerminkan kemarakan ekonomi. Dengan kata lain, money velocity (MV) adalah salah satu indikator kemarakan ekonomi. Setidaknya, indikator effektivitas uang yang dicetak. Semakin besar MV tandanya penggunaan uang semakin meningkat.
Kita lihat, MV sejak tahun 2009 mengalami penurunan (Chart-1). Artinya perputaran uang mengalami penyurutan. Uang dicetak, tetapi tidak sering digunakan. Lebih sering ngendon di tabungan. Itu fakta.


Chart- 1
Dilihat dari sisi M2, yaitu M1 + uang yang ada di buku tabungan di bank, keadaan juga tidak berubah (Chart-2).


Chart- 2
 Perpindahan tangan, uang-uang yang ada termasuk yang di tabungan juga menurun.
Mungkin ada yang berpikir bahwa penurunan perputaran uang karena meningkatnya angka tenaga kerja. Saya gunakan kata tenaga kerja, supaya lebih nyata. Chart-3 menunjukkan sejak tahun 2011 terjadi divergen (berlawanan arah) antara jumlah tenaga dengan M2 money velocity. Sejak tahun 2011 M2 money velocity tetap turun, sementara  tetapi tingkat tenaga kerja (employment) meningkat. Nampaknya tekanan kecenderungan untuk tidak melakukan konsumsi sedemikian kuatnya sehingga walaupun ada peningkatan employment, tetapi tidak ada imbasnya ke konsumsi.
Biasanya antara employment dan M2 velocity punya trend yang seiring. Tetapi selama tahun 2011 – 2015 tidak demikian. Hal seperti ini pernah terjadi antara tahun 1982 – 1985, yang setahu saya, Amerika Utara sedang kurang baik ekonominya. Kebetulan waktu itu saya tinggal disana.

Chart- 3
 Kalau orang enggan melakukan konsumsi dan cenderung melunasi hutangnya atau cenderung menabung, apakah ini inflasi atau deflasi? Silahkan jawab sendiri.

Hutang Rumah Tangga

Bagaimana dengan hutang? Apakah hutang-hutang mengalami kontraksi atau malah ekspansi? Kemana larinya liquiditas yang diglontorkan bank-bank sentral?
Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di atas sudah dijawab di artikel Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (II).
Tetapi tidak ada salahnya kita mengulangnya kembali.
Kita mulai dengan hutang rumah tangga. Kita tahu bahwa Money Velocity mengalami perlambatan. Apakah hal ini bersumber dari rumah tangga?
Kita mulai dari Jerman. Kita tidak akan membahas Jepang, karena untuk Jepang jawabannya sudah jelas.
Rumah tangga di Jerman mengalami deleveraging. Hal ini nampak pada rasio hutang rumah tangga terhadap GDP di Jerman menurun (Chart-4) sejak akhir 2008. Jadi setelah krisis 2008, kultur konsumsi orang Jerman berubah.

Chart- 4
Silahkan simpulkan, apakah ini inflasi atau deflasi.
Sekarang kita lihat untuk US, negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Chart di bawah ini menunjukan bahwa rumah tangga di US juga melakukan pelunasan hutang sejak tahun 2009. Hutang rumah tangga secara konsisten turun dari tahun ke tahun.

Chart- 5

Jadi secara fakta…., apakah ini inflasi atau deflasi?
Bagaimana dengan Cina, negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia setelah US?
Hutang rumah tangga Cina memang masih menanjak (Chart-6, kurva biru). Tetapi dari sudut kecepatannya, terjadi perlambatan (kurva merah). Yang menarik adalah pada tahun 2007, menjelang krisis sub-prime, hutang rumah tangga meningkat dengan drastis, kemudian berhenti tumbuh di masa krisis sub-prime 2008 - 2009.
Jadi secara kenyataan, masyarakat/keluarga di Cina, negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia masih belum melakukan deleveraging hutang, walaupun sedang mengalami perlambatan.

Chart- 6
 Tanpa ingin bertele-tele mengeluarkan semua chart, secara umum Eropa barat mengalami kontraksi hutang rumah tangga. Dari 3-4 negara dengan ekonomi terbesar dunia dan Eropa, hutang rumah tangga mengalami kontraksi, setidaknya mengalami perlambatan. Apakah ini deflasi atau inflasi?
Kata yang tepat: bubble hutang rumah tangga yang mengempis alias deflated.

Hutang Perusahaan (Non-Finansial)

Kalau hutang pemerintah, semua pemerintah di dunia, dari US, Cina, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang..... mungkin Yunani sebagai pengecualian,.....semua orang juga tahu. Yaitu, pasti naik sepanjang tahun 2009 – 2015. Karena pemerintah perlu dana untuk melakukan kegiatan-kegiatannya dan pemasukkan pajak tidak mencukupi.
Tetapi bagaimana dengan dunia usaha, corporate, perusahaan? Apakah mereka melakukan deleveraging terhadap hutang mereka. Toh konsumen yang mereka servis melakukan deleveraging terhadap hutang? Apakah dunia usaha masih melakukan ekspansi (dengan hutang)?
Chart berikut ini menunjukkan bahwa corporate di US tidak melakukan deleveraging selama krisis sub-prime atau sesudahnya. Hutang dan liabilities nya masih menanjak terus.


Chart- 7
 Kita harapkan hal yang sama untuk Cina atau negara lain.
Pertanyaannya adalah, untuk apa mereka melakukan ekspansi, sedangkan konsumen melakukan perlambatan? Sampai berapa jauh corporate bisa seperti ini?
Mungkin pertanyaannya tidak tepat bagi tulisan ini. Siapa yang perduli apakah corporate masih ekspansi atau tidak. Toh hal itu adalah masalah ke-tidak-rasionalan manusia. Pertanyaan yang lebih tepat dalam konteks tulisan ini adalah: Apakah ini deflasi atau inflasi?
Anda bisa menjawabnya sendiri.

Harga Bahan Komoditi

Bahan komoditi memang bukan merupakan indikator aktifitas ekonomi. Bisa digunakan, tetapi tidak selalu seiring dengan aktivitas ekonomi. Harus ditambahkan faktor spekulasi dan leveraging di sektor ini. Hanya saja kadar spekulasinya, apakah lebih besar dari pada faktor permintaan-penawaran, untuk setiap periode akan berbeda.
Sejak terjadinya krisis subprime, sektor komoditi sudah mengalami penyurutan. Ini terlihat di sektor logam. Walaupun terjadi rebounce karena stimulus-stimulus ekonomi yang diglontorkan pemerintah-pemerintah, tetapi akhirnya tidak bisa juga menahan tekanan untuk deleveraging. Sejak tahun 2011, komoditi metal mengalami tekanan dan turun (Chart-8). Rebounce nya adalah a dead cat rebounce.

Chart- 8
 Sektor minyak juga mengalami hal yang sama, hanya saja indeks harga minyak mentah dan produk-produknya bisa bertahan sampai tahun 2014, sebelum terjun bebas kembali (Chart-9). Dan secara keseluruhan sektor komoditi mempunyai dead cat rebounce yang mirip dengan sektor minyak (Chart-10).

Chart- 9

Chart- 10
 Jadi bagaimana kesimpulan untuk sektor ini? Deflasi atau inflasi?
Opini EOWI: ....., ini bubble komoditi yang pecah, karena toh rebounce nya adalah dead cat bounce!

Pasar Saham

Krisis sub-prime 2007, bursa saham mengalami crash, tetapi di awal tahun 2009 hampir semua bursa di dunia mengalami rebounce. Bahkan banyak diantaranya kemudian menciptakan rekor baru.
Bursa saham kecipratan (spill-over) dari stimulasi bank-bank sentral adalah yang lebih tepat untuk pertanyaan, kemana saja larinya liquiditas yang diglontorkan bank-bank sentral. Hal ini bisa dilihat juga dengan meningkatnya margin debt di bursa saham (Chart-11).


Chart- 11
Tidak semua bursa saham memulai rebounce nya di tahun 2009. seperti bursa Cina, misalnya, baru mengalami rebounce pada tahun 2014, setahun lalu. Di Cina pengglelontoran liquiditas melimpah ke sektor properti sehingga mem-bubble, seperti halnya di Indonesia. Baru setelah bubble properti Cina berhenti menggembung (belum pecah lagi), spekulasi beralih ke bursa saham. Indeks saham Shanghai meroket (Chart-12) dan dalam kurun waktu 1 tahun menjadi hampir 2.5 kali lipat!!

 Chart- 12
 Dan bulan lalu tepatnya 5 Juni 2015, indeks Shanghai mencapai 5,023 dan setelah itu terjun bebas, terpangkas 20% hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan.
Apakah terjun bebas ini akan berlanjut? Jika “iya” maka targetnya adalah di bawah 2,000.
Wow.........., ini berbahaya. Lebih berbahaya dari gagal bayarnya hutang Yunani.

Data Inflasi

Poin terakhir........data inflasi. Untuk menentukan apakah sekarang ini masa inflasi atau deflasi, bukan kah lebih baik melihat langsung pada data inflasi harga-harga bahan konsumen?
Di bawah in adalah data inflasi harga barang konsumen di US. Ingat grafik ini adalah untuk US dan harga barang-barang yang disurvey adalah dalam US dollar, bukan dalam yen, rupiah atau euro.
Inflasi Y-o-Y kadang meningkat dan kadang melambat. Tetapi menurut grafik di bawah ini, untuk tahun 2009 dan selanjutnya cenderung menurun.


Chart- 13
 Jadi kesimpulannya bagaimana?
Menurut grafik di atas: Inflasi harga (bukan inflasi lainnya) dalam US dollar, di US, cenderung menurun. Tetapi belum negatif. Itu kesimpulannya.
Harus diingat bahwa grafik/data di atas adalah untuk US saja dan mata uang yang digunakan untuk menentukan harga adalah US dollar. Kalau untuk Indonesia, Yunani, Malaysia atau Cina......., grafiknya lain lagi.
Apa implikasi dari grafik di atas. Apakah anda pikir the Fed akan menaikkan suku bunganya untuk memerangi inflasi? Kalau anda jawab “iya”......., sebaiknya anda jangan baca EOWI lagi.

Kesimpulan

Bagaimana kesimpulannya?
Silahkan simpulkan sendiri........mau ikut Jim Rickards? Harry Dent? Peter Schiff? Silahkan.
Bagi EOWI......., yang ada adalah bubble-bubble-bubble. Ada yang sedang mengempis, ada yang sudah matang, siap meletup dan ada yang masih mekar dipompa.
Sekian dulu....., semoga anda tercerahkan.
Kalau anda belum jadi follower EOWI, silahkan klik link untuk jadi follower, supaya EOWI jadi keren, karena banyak followernya. Dan anda juga jadi keren karena membaca secara rutin situs ekonomi alternatif yang terbaik di Indonesia.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.