_____________________________________________________________________________________________________________________




Sunday, May 10, 2015

Maka….Dilaranglah Bertransaksi Dalam Dollar, Ringgit, Pound, Kepeng……

Mungkin Pemerintah (Bank Indonesia, BI) sedang panik karena takut dianggap tidak bisa menahan melorotnya rupiah. Dengan melorotnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar dari kisaran Rp 8,500 beberapa tahun lalu ke Rp 13,000 per US dollar, BI takut kredibilitasnya dipertanyakan. Lalu mereka beraksi supaya kelihatan responsif, kelihatan bekerja dan kelihatan penting dengan membuat aturan (baca: larangan) baru. Tentu saja sifatnya adalah pemaksaan – coercion. Sekarang, sejak 1 April 2015, di wilayah republik Indonesia tidak boleh ada lagi transaksi jual-beli, perniagaan  dalam dollar, ringgit, pound, kepeng, krone, dinar……atau mata uang lain selain rupiah. Larangan baru yang dikeluarkan BI yaitu Peraturan BI No. 17/3/PBI/2015 melarang semua transaksi kecuali dalam rupiah, dan pelanggarnya akan dikenakan penjara 1 tahun dan denda maksimum Rp 200 juta. Katanya peraturan baru ini sejalan dengan UU No. 7 Tahun 2011 mengenai mata uang resmi. Larangan akan mematikan kreatifitas dan dinamika, kecuali kreatifitas mencari celah-celah hukum. EOWI ingat humor sadonik baru dari EOWI:
Di dalam Islam ada 1 pembuat aturan. Dia hanya memberi 5 perintah (5 rukun Islam) dan 1 buku panduan hidup yang berisi 114 pasal (surah) sebagai balasannya setiap muslim dibebani pajak penghasilan 2.5% (zakat). Sebagai balasannya Tuhan memberikan kehidupan, menyediakan udara gratis, air gratis, rizki, dan makanan gratis – cuma harus diusahakan sendiri. Bagi pelanggar aturannya hanya disuruh minta ampunan, tidak ada potongan semua yang disediakan secara gratis.
Di dalam Kristen, ada 3 yang mengatur-ngatur, oleh karenanya bagi umat Kristen ada 10 perintah dan larangan kepada umatnya dan 66 buku dengan 1189 pasal, mereka juga dikenakan pajak 10% dari penghasilan mereka. Sebagai balasannya umat Kristen memberikan kehidupan, menyediakan udara gratis, air gratis, rizki, dan makanan gratis – cuma harus diusahakan sendiri. Bagi pelanggar aturannya hanya disuruh minta ampunan, tidak ada potongan semua yang disediakan secara gratis.
(Catatan: Bible adalah kumpulan 66 buku dari kitab Kejadian sampai ke kitab Wahyu. Dan Bible adalah punya akar kata yang sama dengan bibliography dan bibliothek, yaitu biblia).
NKRI punya 500 pembuat undang-undang di DPR, ditambah lagi yang di DPRD, kemudian yang ada di kementerian, presiden dan wakilnya oleh sebab itu sanggup membuat 100an ribu aturan/larangan dan buku undang-undang sebanyak satu perpustakaan penuh dengan jutaan pasal. Selanjutnya, karena sudah memberi lebih banyak aturan dan karena yang membuat aturan juga banyak maka NKRI juga menuntut pajak penghasilan 30%, PPN 10%, pajak pesangon PHK 25%, pajak meterai, pajak kendaraan, pajak barang mewah, PBB,......dan karena masih kurang lagi maka semua yang disediakan secara gratis oleh Tuhan akan dipajaki. Bagi pelanggar aturannya akan dikenakan denda karena pajak itu saja tidak cukup bagi pemerintah NKRI.
Ada korelasi antara jumlah pembuat aturan, banyaknya aturan dan yang harus dibayar. Mungkin hal ini tidak berlaku untuk para ulama. Para ulama membuat ribuan tambahan aturan dan larangan dari yang ditetapkan Tuhan nampaknya tanpa meminta sepeserpun. Tetapi kenyataannya yang diminta adalah kesetiaan untuk memperbesar egonya, akibatnya.....banyak aliran-aliran agama dan pertumpahan darah atas nama Tuhan.
Kisah di atas hanyalah humor, yang tentu saja mempunyai hikmah. Dalam humor kebenaran hal-hal yang details sering diabaikan. Dan untuk humor di atas, kebenaran hal-hal yang details, terabaikan. Walaupun demikian masih ada hikmah yang bisa diambil. Hikmah dari humor ini adalah:
  1. Semakin banyak pembuat aturan, maka semakin banyak pula aturan yang dikeluarkan. Dan bukan tidak mungkin ada pertentangan antara satu aturan dengan aturan lainnya.
  2. Semakin banyak aturan, akan harus dibayar mahal, akan menjadi beban. Beban untuk membayar gaji pembuat aturan dan biaya untuk menjaga agar semua mentaatinya, serta biaya untuk menghukum para pelanggarnya.
  3. Tuhan tidak membuat banyak larangan, karena alam ciptaannya tidak perlu banyak larangan. Larangan akan mematikan kreativitas. Ini bisa dilihat bahwa kemajuan yang pesat ada pada masyarakat dimana kebebasan diutamakan.
Tuhannya orang Islam menyatakan: Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. [Q 23:71]
Yang dimaksud dengan mereka itu adalah orang-orang yang sesat dan tidak merasa Tuhan masih kurang baik, berpaling dari sabda-sabdanya (Quran), seakan aturan-aturannya masih kurang baik sehingga masih perlu menambahkan banyak aturan-aturan lain sampai 1 perpustakaan penuh, ........dan juga akhirnya berbuntut pajak.........Apakah dengan banyaknya aturan tersebut akan membuat keadaan lebih makmur dan teratur? Kata Tuhannya orang Islam, “tidak”, bahkan akan binasa.
Larangan bertransaksi dengan mata uang selain rupiah dari BI, Peraturan BI No. 17/3/PBI/2015, mungkin dimaksudkan sebagai langkah (panik) dari BI dari pelemahan US dollar di tahun 2015 untuk menunjukkan bahwa BI bekerja, berbuat sesuatu untuk mempertahankan rupiah. Tetapi yang akan tindakan itu sebenarnya rancu, membingungkan. Jika Indonesia ingin meningkatkan ekspor, maka pelemahan rubiah akan baik karena produk Indonesa bisa lebih bersaing dan produk impor akan lebih mahal. Sekarang rupiah mau dibuat kuat. Apakah mau mematikan ekspor?
Apapun yang diinginkan pemerintah tidak akan tercapai, kecuali image bahwa pemerintah melakukan sesuatu. US dollar akan terus menguat selama sumber pemasukan Indonesia dari sektor komoditi pertambangan lemah. Peraturan (terutama yang bersifat nasionalistik sosialis) sudah terlalu banyak, sehingga membuat sektor ini tidak bisa berkembang. Misalnya dari sektor minyak dan gas, berapa banyak penemuan sumber minyak dan gas yang bisa mencapai tahap pengembangan dari tahun 2006? Seingat saya nol!! Kalau waktu diundurkan ke belakang, sampai tahun 2000, sepanjang commodity secular bull market 2000 – 2011, hanya sektor batubara saja yang bisa berkembang pesat, tetapi itupun sekarang sudah rontok. Perkembangan itu didukung oleh kurangnya regulasi di sektor itu, sehingga semua orang (yang berkuasa) bisa terjun ke bidang itu.
Sekaranng dengan peraturan baru tentang rupiah, apakah akan membuat rupiah stabil? EOWI meragukannya. Jika secara fundamental memang akan jatuh, dan Tuhan menghendaki jatuh, maka jatuhlah rupiah. Kun faya kun, kata Tuhannya orang Islam. Tidak ada pilihan lain dan tidak ada jalan untuk menghindarinya. Tuhan sudah menghendakinya demikian (karena ulah manusianya itu sendiri).

Implikasi ke Bisnis

Minggu lalu istri saya baru pulang dari Bukittinggi. Dia mendapati bahwa di kalangan pedagang (baju) Bukittinggi berlaku dua mata uang, yaitu rupiah dan ringgit Malaysia. Banyak orang Malaysia membeli baju salah satunya abaya, untuk dijual ke Saudi Arabia. Harganya berkisar antara Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu (sekitar RM 50 – RM 100) Lucunya, banyak ibu-ibu dari Jakarta (teman-teman istri saya), dengan bangga memamerkan baju abaya yang dibelinya dari Saudi Arabia dengan harga 400 – 500 real Saudi ketika umroh. Suatu kenaikan harga 5 – 10 kali lipat. Padahal baju itu berasal dari Bukittinggi. Catatan: istri saya juga pernah membeli abaya yang sejenis 15 tahun lalu ketika kami tinggal di Scotland dan umroh/haji ke Saudi Arabia.
Ketidak-mampuan pedagang Indonesia untuk memutus rantai perjalanan abaya dari Bukittinggi ke Jakarta lewat Malaysia kemudian ke Mekkah/Madinah adalah persoalan lain, karena tidak semua abaya kembali ke Indonesia (Jakarta), dan ada yang berakhir di negara-negara di luar Indonesia. Tetapi perdagangan antara pedagang Malaysia dan pedagang/pengrajin abaya Bukittinggi adalah lain lagi, dan yang ini akan dijadikan difokus kita. Untuk kasus ini tidak banyak yang dirugikan. Mata uang apapun yang diterima pengrajin abaya Bukittinggi, pada akhirnya dia harus menukarkan uangnya ke rupiah, karena bahan baku yang dibelinya dijual dalam rupiah. Hanya saja kalau dia punya penyakit dan harus berobat ke Penang (tempat berobat yang populer untuk masyarakat Sumatera) atau punya keperluan lain di Malaysia, maka mereka akan dirugikan oleh adanya perbedaan kurs jual dan kurs beli. Ketika ia harus membeli ringgit, ia rugi 3%. Dengan kata lain, sektor seperti ini tidak banyak yang dirugikan oleh peraturan dan ketidak bijaksanaan BI ini.
Sektor kecil baju abaya memang tidak banyak kena dampak ketidak bijaksanaan BI No. 17/3/PBI/2015 ini. Tetapi banyak bisnis besar yang akan terkena. Bisnis-bisnis yang pendapatannya dalam dollar dan porsi dollar dalam expensenya cukup besar, akan terkena dampaknya. Bisnis di sektor pertambangan, misalnya, pendapatannya dalam dollar, demikian pula dengan belanja barang modalnya, hutangnya, headquater overhead, dan banyak lagi. Kecuali untuk gaji pegawai yang dalam rupiah, komunitas bisnis pertambangan dan perminyakan menggunakan dollar dalam transaksinya, dalam business plannya, budgeting, dan hampir dalam semua kontrak-kontraknya. Jika semua itu harus dikonversikan dalam rupiah maka sektor ini akan mengalami kerugian kurs dua (2) kali dalam pengonversian teresebut. Itu sekitar 1% – 5%.
Bukan hanya sektor pertambangan dan perminyakan, tetapi semua bisnis yang pendanaanya dari luar negri (biasanya US dollar) atau bisnis-bisnis yang pengeluarannya dan kewajiban-kewajibannya (selain pajak dan gaji pegawai lokal) sebagian besar dalam US dollar akan lebih effisien jika penghasilannya juga dalam US dollar.
Bisnis sewa properti komersial, sewa mobil, sewa, hotel, juga banyak yang menggunakan US dollar. Mungkin karena mereka punya pinjaman modal dalam bentuk US dollar. Dan ketidak bijaksanaan BI No. 17/3/PBI/2015 ini menjadi beban ketika pengeluaran untuk mengembalian hutang porsinya besar dalam neraca keuangannya. Bisnis-bisnis seperti ini akan lebih effisien jika konversi kurs dikurangi.
Seorang teman yang bergerak dibidang konstruksi yang baru-baru ini memperoleh proyek mengatakan bahwa dia tidak ada masalah dengan peraturan baru ini. Kiatnya adalah dengan meneken kontrak jangka panjang dengan pemasok bahan bakunya dan harganya sudah dikunci di satu angka untuk jangka waktu yang cukup panjang. Argumen saya adalah, bahwa melimpahkan resiko ke vendor, tidak berarti kita bisa bebas 100%. Jika pemasok barang mengalami kesulitan karena harga, mereka akan mencarikan barang-barang kelas II, yang secara resmi mempunyai spesifikasi yang sama, tetapi karena quality control nya kurang, maka mutunya tidak konsisten. Bila mutunya tidak konsisten maka akan ada resiko kegagalan struktur, yang berakibat rusak, roboh. Selanjutnya adalah klaim akan datang bertubi-tubi. Untung-rugi sulit diprediksi.
Bisa dipastikan bahwa ketidak bijaksanaan BI No. 17/3/PBI/2015 Ini membuat sebagian bisnis di Indonesia semakin mahal dan competitiveness Indonesia turun. Setidaknya untuk beberapa sektor.

Pengaruhnya Terhadap Kekuatan Rupiah

Kalau ditanya, bagaimana pengaruh ketidak-bijaksanaan ini terhadap kekuatan rupiah, atau permintaan dollar atau aliran rupiah-dollar, maka jawabnya adalah “tidak ada”. Bisnis yang memerlukan US dollar untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya (bayar hutang dalam mata uang asing, atau harus membeli bahan baku, dll), tetap akan membutuhkan dollar (atau mata uang asing).
Orang tua yang anaknya sekolah di luar negri, akan memerlukan mata uang asing untuk membiayai anaknya. Orang yang ingin berspekulasi dollar, akan tetap membeli dollar. Dari segi permintaan dollar, tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah bahwa rantai perjalanan US dollar akan lebih panjang di beberapa sektor bisnis. Dan tambahan rute ini adalah keharusan melewati bank sebagai money changer. Jadi dengan peraturan baru ini, pelaku bisnis dipaksa untuk membayar selisih kurs beberapa kali kepada bank selaku money changer. Dengan kata lain, peraturan ini adalah memindahkan keuntungan sektor bisnis ke sektor bank.
Saya tidak tahu apa yang dipikirkan pembuat ketidak bijaksanaan ini. Apakah perbankan Indonesia sedang perlu bantuan? Entahlah, tetapi mulai bulan ini, untuk mentransfer uang sebesar Rp 25 juta dikenakan biaya, padahal sebelumnya bebas biaya.

Akan Banyak Kriminal

Implikasi yang lain adalah meningkatnya jumlah orang yang yang bisa dikenakan denda Rp 200 juta dan penjara 1 tahun. Tidak perlu jauh-jauh mencari para kriminal yang bisa dipenjarakan 1 tahun dan denda Rp 200 juta, silahkan pergi ke SKKMigas. Saat ini mereka melakukan rapat-rapat WP&B (Work Program & Budget). Bisa dikatakan semua budget perusahaan-perusahaan minyak di Indonesia yang disetujui SKKMigas adalah dalam US dollar (bukan yen, bukan euro, bukan ringgit, apalagi rupiah!). Jadi kalau ada jaksa atau polisi mau cari kriminal yang bisa diperas, maka SKKMigas adalah tempatnya. Disana banyak sekali. Seluruh jajaran SKKMigas bisa dikriminilisasi dengan aturan BI ini karena meloloskan budget-budget dan kontrak dalam US dollar!
EOWI tidak tahu apakah akan dilakukan pembiaran, sampai saatnya diperlukan seperti kasus Novel Baswedan, suatu kasus yang sudah dibiarkan hampir 15 tahun. Kasus itu dimunculkan ketika diperlukan untuk menjegal Novel Baswedan dan/atau KPK. Apakah peraturan BI ini akan digunakan sebagai senjata seperti itu...., entahlah.
Mungkin akan ada pengecualian-pengecualian supaya SKKMigas dan lembaga-lembaga negara lainnya tidak terkena getahnya. Ini membuat saya ingat ungkapan orang Minang. “Jangan mancilok, kecuali kalau terpakso. Jangan memanjek bini orang, kecuali suko sama suko. Jangan bohong....., kecuali untuk menutupi aib. Jangan....., kecuali.” artinya “Jangan mencuri, kecuali kalau terpaksa. Jangan menselingkuhi bini orang, kecuali suka sama suka. Jangan berbohong kecuali punya aib. Jangan.........., kecuali”. Semua hal ada dalih pengecualiannya.

Renungan

Renungan ini sifatnya juga humor. Jangan terlalu dimasukkan kedalam hati. Tentu saja ada hikmahnya. Seperti diceritakan di atas bahwa Tuhan tidak membuat banyak larangan, karena alam ciptaannya tidak perlu banyak larangan. Larangan akan mematikan kreativitas (atau mungkin sebaliknya jika yang dikendaki adalah melanggar aturan). Inilah hikmah yang akan disampaikan.
Aturan adalah beban bagi manusia. Umat Islam yang diberi hanya 5 perintah, toh masih berat menjalankannya. Demikian juga umat Kristen, yang hanya diberi 10 perintah toh banyak yang tidak dijalankan.
Ada suatu kejadian. Suatu saat ketika berjalan dengan seorang teman pria yang beragama Kristen, lewatlah seorang wanita sexy sekali. Teman saya ini tidak tahan untuk tidak menatapnya......., dengan jakun naik-turun, seperti anjing melihat tulang atau kucing melihat ikan asin. Lalu saya peringatkan: “Ingat perintah Tuhan ke10 - Jangan kamu menginginkan milik orang lain”. Dengan tangkas dia menyahut: “Dia belum milik siapa-siapa, masih single. Belum ada cincin di jari manisnya”. Baginya 10 perintah/larangan masih terlalu banyak sehingga ada yang dilanggarnya.
Minggu lalu saya sedang melihat-lihat perusahaan yang akan melakukan IPO (Initial Public Offering, alias go public), salah satunya yang paling menarik adalah Ashley-Madison (Ashleymadison.com). Saya katakan menarik bukan karena kinerja perusahaan ini, masa depannya baik dan sangat prospektif, tetapi menarik karena secara jelas-jelas misi dan visi perusahaan ini melanggar perintah ke-7 dari Sepuluh Perintah Tuhan (the 10 Commandments) – Kamu jangan melakukan perzinahan.
Ashley Madison adalah media sosial, kurang lebih seperti Facebook atau LinkedIn atau Twitter yang mengangkat kegiatan perselingkuhan. Mottonya adalah:
Life is short. Have an affair”.
Saya mencoba masuk ke website Ashleymadison.com, ternyata diblokir oleh internet provider (atas perintah/aturan pemerintah Indonesia?). Jadi saya tidak tahu banyak apa saya yang ditawarkan oleh situs media sosial itu. Menurut cerita tangan kedua, Ashley Madison adalah penghubung antara pria-pria yang ingin melakukan hubungan (seks) dengan wanita-wanita yang sudah punya pasangan, tentu saja dengan ditarik biaya untuk percomblangan ini.
Bayangkan orang Kristen hanya diberi 10 perintah dan larangan, masih mau melanggar, berat katanya. Bagaimana beratnya warga NKRI yang diberi ratusan ribu larangan dan perintah (kewajiban)? Puluhan ribu kali beratnya.
Kalau 10 perintah (dan larangan) masih dianggap berat bagi sebagian orang Kristen, jangan anggap 5 perintah akan ringan. Untuk sebagian umat Islam yang diberi kewajiban hanya separo dari orang Kristen, masih menganggapnya berat. Banyak umat yang mengaku Islam tidak sholat atau puasa (di bulan Ramadhan). Bahkan sebagian akan menentang pemberlakuan hukuman bagi pelanggar perintah sholat dan puasa Ramadhan. Belum lagi zakat. Banyak orang yang pelit!!!
Salah satu implikasi banyaknya larangan adalah bentroknya satu larangan dengan larangan lainnya. Lokalisasi pelacuran yang dilontarkan oleh Ahok (atau/dan jajaran stafnya) baru-baru ini adalah salah satu tentu bertentangan dengan perintah ke 7 dari the 10 Commandments yang dikeluarkan oleh Tuhannya Ahok. Mungkin Ahok berkelit dengan mengatakan bahwa mitzvah dari zina (adultery) adalah hubungan seks antara pria dengan wanita yang punya suami. Jadi kalau wanitanya tidak punya suami hanya bisa disebut pelacuran, bukan zina. Sehingga lokalisasi pelacuran tidak melanggar the 10 Commandments. Pandai juga berkelitnya si Ahok ini.
Tahu kah anda bahwa sejak tanggal 30 April 2015 saat ini Sultan Jogya tidak lagi menjadi gubernur Jogyakarta secara legal? Baru-baru ini Sultan Jogya mengganti gelarnya melalui sabda-raja dari Ngarsa Dalem Sampeyan Salem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdulrrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa In Ngayogyakarto Hadiningrat, menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalaga Langgenging Bawono Langgeng Langgenging Tata Panatagama
Catatan EOWI: seharusnya nama yang benar adalah Hamengku Bawono I bukan Hamengku Bawono X karena penggunaan kata Hamengku Bawono adalah yang pertama. Sebelumnya adalah Hamengku Buwono dari 1 sampai 10. Bukan Hamengku Bawono.
Persoalannya adalah UU 13 TAHUN 2012 tentang keistimewaan daerah istimewa yogyakarta pasal 1 ayat 4 berbunyi: Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, selanjutnya disebut Kasultanan, adalah warisan budaya bangsa yang berlangsung secara turun-temurun dan dipimpin oleh Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah, selanjutnya disebut Sultan Hamengku Buwono.
Dan pasal 18 ayat 1C mengatakan bahwa hanya Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah yang bisa menjadi gubernur, bukan Sultan Hamengku Bawono.
Adanya UU 13 TAHUN 2012 dan norma, aturan yang tidak tertulis Jawa, menyebabkan seorang wanita tidak bisa menjadi sultan Jogya dan otomatis juga tidak bisa menjadi gubernur D.I. Jogyakarta. Sultan HB X mengubah gelarnya itu adalah gerakan politik untuk menjadikan anak prempuannya yang sulung sebagai penggantinya nanti. Anak prempuan sulungnya ini diberi gelar Mangkubumi yang merupakan gelar anak mahkota. Keinginan sultan HB X terbentur UU 13 TAHUN 2012 dan norma Kraton.
Oh...., bukan itu saja, tetapi prempuan menjadi sultan akan membentur kepercayaan Jogya mengenai nyi Roro Kidul yang posisinya sebagai istri sultan Jogya. Mungkin nyi Roro Kidul sekarang sudah menganut aliran sexually progressive alias lesbian bergabung dengan Ellen DeGeneres dan Portia de Rossi.
EOWI punya solusi agar sultan HB X tidak pusing memikirkan celah-celah UU 13 TAHUN 2012, norma Kraton dan nyi Roro Kidul harus mendaftar ke perkumpulan gay dan lesbian. Sederhana saja, yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi melakukan ganti kelamin menjadi laki-laki dan namanya berubah menjadi pangeran Mangkubumi. Beres ‘kan? 
Kebanyakan aturan bikin ribet. Anehnya warga NKRI setiap 5 tahun selalu memilih orang-orang yang membuat hidupnya ribet untuk membuat hidupnya ribet. Aneh.........
Sekian dulu....., semoga anda menikmati ocehan ngalor-ngidul ini. Hati-hati US dollar mungkin akan melompat ke level yang lebih tinggi lagi. Level Rp 15,000? Mungkin saja. Memang pemerintah/BI bisa memerintah-merintah dan memaksa, tetapi jangan anggap pemerintah/BI sebagai al-Malik (yang memerintah), al-Kahhar (pemaksa) mempertahankan rupiah di level Rp 13,000 per US dollar insya Allah tidak mampu (EOWI juga tidak tahu lho, jangan dikira EOWI sudah dapat wangsit dari Allah atau sok tahu).


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, April 16, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (IV)



Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis  (IV)

Dua minggu lalu kita mulai suatu topik yang berjudul Sepuluh Potensi Pemicu Krisis dalam kerangka Gejolak 2014 – 2020. Topik yang sama juga dimaksudkan sebagai ramalan untuk tahun Kambing 4713. Poin-poin 10 potensi pemicu krisis yang akan menjalar ke full-blown 2014 – 2020 crisis (sengaja saya gunakan bahasa Inggris sebab saya mengalami kesulitan mengekspressikannya dalam bahasa Indonesia) yaitu:
  1. Bubble hutang dan bubble properti Cina meletus
  2. Penghembusan bubble US dollar
  3. Jerman mengalami resesi dan krisis disusul zone Euro
  4. Zone Euro pecah, Yunani keluar dari zone Euro diikuti oleh Spanyol, Portugal, Itali
  5. Dot Com jilid II
  6. Indeks Dow Jones secara teknikal terkoreksi dan dipersepsikan sebagai koreksi tajam.
  7. Kejatuhan harga bahan komoditi tambang dan minyak berlanjut dampaknya ke emerging market dan negara-negara OPEC
  8. FFF bubble meletus, junk bond bubble meletus
  9. Cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan (melonjaknya harga bahan pangan)
  10. Ekspor terorisme ke nagara barat (2000)
Untuk minggu ini, akan dibahas lanjutan dari minggu lalu, yaitu Jerman mengalami resesi dan Zone Euro pecah. Keduanya sebenarnya saling kait-mengait. Tetapi sebelum melanjutkan ke topik tersebut, kita akan melihat perkembangan dunia dalam kaitannya  ramalan 10 pemicu krisis.
Sebelum melanjutkan ke poin 3 dan 4, ada beberapa perkembangan mengenai poin ke 9 sebagai pemicu krisis, yaitu cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan. Mungkin pembaca membelalakkan mata melihat cuaca buruk dan gagal panen dijadikan pemicu krisi no.9. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta entah mengamati atau tidak, tetapi sungai-sungai di Jakarta masih tinggi level airnya. Sunter kadang-kadang banjir. Bahkan ketika artikel ini sedang ditulis, di Metro TV, disiarkan bahwa ada 2 rumah di Banjarnegara, hanyut oleh banjir dan juga Bandung Selatan.  Dari internet bisa dilihat sejak Februari lalu, beberapa tempat yang terkena banjir seperti Ngawi, Sumbawa, beberapa tempat di Jakarta, pantai utara Jawa (Pantura),......dan banyak lagi. Silahkan mencarinya di internet. Tetapi yang pasti, musim hujan belum selesai. Dan cuaca buruk seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi sifatnya global. Global warming? Bukan....., melainkan global cooling. Bulan Maret lalu, yang seharusnya sudah musim semi, tetapi di Itali, di US, New York masih turun salju. Bahkan minggu depan diramalkan akan ada badai salju di US. Pada saat harapan kita melihat bunga-bunga berkembang di bulan April, eee.. malah salju yang turun. Apakah ini global cooling bukan? 
Lalu, dalam kaitannya dengan bubble US dollar, tanggal 11 April ini, US dollar indeks kembali akan menguji level 100, setelah terkoreksi sampai ke level 96.
Itu berita terkini dari potensi pemicu krisis yang patut dimonitor sepanjang setengah dekade ini.

Jerman Mengalami Resesi Dan Krisis Disusul Zone Euro

Negara yang menjadi tiang penyangga zone Euro adalah Jerman, dalam arti diantara anggota-anggota zone Euro, Jerman adalah negara yang ekonominya paling besar (disusul Prancis). Sehingga kalau terjadi segala sesuatu yang buruk pada Jerman, maka dampaknya akan mengenai zone Euro lainnya. Dari tren pertumbuhan GDP Jerman, terlihat bahwa Euro sedang mengalami ancaman resesi. Sejak dari tahun 2011 GDP Jerman mengalami tren turun dari sedikit di atas 2% ke sekarang di antara nol dan satu. Kita bisa mengatakan bahwa penurunan dari 2% ke 0.5% secara nominal, kecil saja besarannya. Tetapi kalau dilihat dari tolok ukur lain, 2% adalah 4 kali 0.5%. Jadi cukup besar.


EOWI menempatkan Jerman sebagai pemicu krisis 2014 – 2020 no. 3 karena pertumbuhan GDP Jerman yang loyo dan penggerak pertumbuhan GDP Jerman, yaitu demografi, saat ini mengalami penuaan serta lemahnya pengganti generasi baby boomer Jerman yang memasuki masa pensiun. Dengan kata lain, konsumsi di Jerman akan menurun karena penuaan populasinya dan ini akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Jerman. Selanjutnya akan menjalar ke zone Euro.
Memang ECB (sentral bank Eropa) berusaha memompa ekonomi dengan QE (quantitative easing) yang aggressive. Ketika pertumbuhan ekonomi Jerman negatif pada kwartal II 2012, likwiditas dipompakan dengan membeli bond-bond pemerintah, sehingga ekonomi bisa rebound dan kembali di atas 0%. Harga bond naik dan yield bond dengan jangka jatuh tempo yang lama menjadi negatif. Bond pemerintah Jerman yang jatuh tempo 6 tahun, misalnya, mempunyai yield yang negatif. ZIRP atau  Zero Interest Rate Policy sudah berubah menjadi Negative Interest Rate Policy (NIRP). 


Memang pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan tidak mengalami kontraksi lebih dari 2 kwartal dengan usaha yang demikian aggressif. Investor pengejar bunga (penabung dan pensiunan), dihajar habis-habisan dengan diberi bunga yang negatif, dan berharap kecenderungan menabung mereka ini ditekan sehingga mau meningkatkan konsumsi. Tetapi mereka ini tidak bisa distimulasi untuk berbelanja padahal kredit murah juga disediakan. Hal ini nampak pada inflasi yang terjaga rendah. Turun dari sekitar 2.5% di tahun 2011 ke sekitar nol di tahun 2014 – 2015. Ini disebut deflasi. Mungkin orang akan lebih suka menyimpan uangnya di bawah kasur ketika dengan suku bunga negatif dipaksa berbelanja. Inilah deflasi.



Zone Euro Pecah, Yunani Keluar Dari Zone Euro Diikuti Yang Lain

Antara zone Euro pecah dan Jerman mengalami resesi adalah konsekwensi yang berurutan. Ketika Jerman mengalami kesulitan ekonomi, maka Yunani akan terkena dampaknya. Tidak ada resesi di Jerman saja, Yunani mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya, apalagi kalau Jerman jatuh dan pada posisi tidak bisa membantu. Jerman yang ekonominya mengandalkan ekspor, memerlukan anggota-anggota Euro pinggiran, seperti Yunani, Spanyol sebagai saluran ekspor barang-barang produksinya. Jadi wajar kalau Jerman mau membantu kesulitan negara-negara Euro pinggiran itu, karena ada pamrih.
Tetapi perdagangan yang tidak berimbang, dalam hal ini neraca Jerman selalu surplus sedangkan negara-negara zone Euro selatan selalu defisit, tidak bisa berlangsung terus dan suatu saat secara alami akan ada koreksi. Untuk sistem moneter yang didasari emas, neraca perdagangan yang timpang tidak bisa berlangsung lama, karena ketika emas harus berpindah tangan. Jerman menerima emas sedangkan negara zone Euro selatan menerima barang dari Jerman. Dalam kerangka sistem uang fiat berbasis hutang, ketimpangan neraca perdagangan seperti yang disebutkan di atas bisa berlangsung lama sekali. Dan inilah yang terjadi. Tetapi, yang disebut lama juga ada batasnya. Apakah sekarang ini sudah dekat dengan perbatasan itu? Ini adalah pertanyaan 323 milyar euro.
Dalam hal memberi bantuan, Jerman juga akan mempertimbangkan apakah bantuannya akan berguna bagi dirinya sendiri, dengan kata lain, apakah eknomoni Jerman bisa dipertahankan tidak mengalami kontraksi. Kalau ekonomi Jerman tidak bisa tumbuh, apa lagi yang mau diharapkan Jerman. Artinya bantuan Jerman sia-sia, pamrihnya tidak terbalas. Apalagi kalau bantuannya tersebut beresiko tidak bisa dibayar kembali.
Euro adalah eksperimen yang kemungkinan gagal dan tidak berumur panjang. Satu mata uang tanpa sistem fiskal yang terintegrasi. Sekarang sudah berumur 16 tahun. Saat ini pemerintah Yunani harus menyediakan sekitar €11 milyar antara akhir Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. Yaitu € 4.3 milyar di bulan Maret ini, € 3.5 milyar di bulan Juli dan € 3.2 milyar di bulan Agustus. Problemnya adalah pemerintah Yunani tidak punya uang.  Pemerintah Yunani sepanjang ingatan EOWI selalu mengalami defisit di dalam budgetnya. Artinya pemerimaan pemerintah selalu lebih kecil dari pada belanjanya. Perolehan pajaknya sepanjang ingatan EOWI tidak pernah bisa membayar pegawai pemerintah, melakukan perawatan infrastruktur, program-program sosial dan kewajiban-kewajiban yang dijanjikan pemerintah lainnya.


Akibat dari budget defisit yang berkepanjangan ini, hutang pemerintah Yunani semakin bertumpuk. Apakah Yunani bisa membayar kewajiban-kewajibannya? Menurut opini EOWI adalah “TIDAK”.


Alasan kenapa pemerintah Yunani tidak pernah bisa membayar hutangnya adalah bahwa Yunani adalah negara defisit. Secara keseluruhan dan sepanjang ingatan EOWI, Yunani hidup dari hutang, lebih besar pasak dari pada tiang, kebih besar pengeluaran dari pada penghasilan. Neraca perdagangan Yunani selalu mengalami defisit artinya, lebih banyak yang dibeli (untuk dikonsumsi) dari pada yang dijual.


Pada akhirnya pemerintah Yunani harus berhenti berhutang, mengemplang hutang (dan/atau menegosiasikan hutangnya kembali dengan krediturnya yang mayoritas, 60% lebih, adalah bank sentral Eropa), mengurangi (tidak menepati) program-program sosialnya supaya bisa menyeimbangkan budget negaranya. Dan ini bisa dilakukan jika Yunani keluar dari zone Euro dan memperoleh kemerdekaannya kembali. Yaitu, meninggalkan mata uang Euro, membuat mata uang baru – drachma – misalnya, mengkonversi hutang-hutangnya (yang dalam Euro) kemudian melakukan debasing (men-jeblokkan) mata uang drachma barunya. Yunani merdeka kembali, bebas dari beban hutangnya yang beratnya 175% dari GDPnya dengan mencetak drachma-drachma baru. Gampang saja ‘kan?.
Kalau Yunani bisa membebaskan dirinya dari hutang besarnya 175% dari GDP, maka Itali, Portugal dan Spanyol yang juga punya beban hutang yang tidak kalah beratnya, yaitu masing-masing 133%, 127.8%, 93.7% dari GDPnya (angka tahun 2014). Seperti Spanyol, walaupun hutangnya hanya 93.7% dari GDPnya, tetapi hutang ini melonjak tajam sejak 5 tahun lalu. Spanyol akan dengan senang hati kalau bisa menghancurkan hutangnya lewat inflasi dari pada harus terbelit dan terbebani hutang terus.


Jika zone Euro pecah akan menjalar kemana-mana akibatnya, karena akan ada pergeseran-pergeseran di bidang moneter. EOWI menempatkan pecahnya zone Euro pada faktor no. 4 karena ada kemungkinan hal ini tidak terjadi di tahun ini. Euro adalah suatu eksperimen, seperti negative interest rate (NIRP). Saat ini sudah ada beberapa negara yang mengalami NIRP, yaitu Jerman, Switzerlad, Denmark. Sampai saat ini masih ada penjelasan logis kenapa NIRP terjadi di neraga-negara ini. Yaitu penabung/investor nerasa bahwa assetnya terjamin tidak hilang atau turun jika berwujud bond pemerintah Jerman atau Swiss (serta Denmark). Bisa saja bank sentral Eropa nantinya memanipulasi suku bunga sedemikian rupa sehingga hal yang sama terjadi untuk Yunani, Itali dan Spanyol. Artinya, Yunani akan memperoleh perpanjangan nafas lagi. Apakah NIRP ini juga akan menular ke Yunani, atau Yunani sudah berantakan sebelum tertular virus NIRP? Entahlah........
Okey, sekian dulu......, sampai nanti.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, April 3, 2015

NKRI: Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak



Saya tidak bermaksud memplesetkan kata NKRI menjadi Negara (yang) Kemanusiaan Resmi diInjak-injak, diIngkari, tetapi hal ini adalah suatu keniscayaan yang resmi sejak tahun 2001. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum itu tidak pemerintah tidak melakukan hal-hal yang tidak berprikemanusiaan terhadap rakyatnya. Tetapi secara undang-undang dasar (konstitusi) hal tersebut tidak disebutkan secara gamblang. Hanya saja, sejak tahun 2001, pemaksaan dan penindasan menjadi resmi dan legal. Dan hal itu, maksudnya penindasan dan pemaksaan, menjadi semakin meningkat sejak tahun 2001.
Pada tahun 2001, konstitusi RI diubah untuk ketiga kalinya (bahasa kerennya amendemen ke tiga) dan salah satu pasal yang diubah adalah pasal 23, yang ditambahi dengan pasal 23A. Sekarang pasal tersebut mengandung kalimat yang berbunyi: Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Tahun 2001 secara resmi pemerintah boleh memaksa-maksa rakyatnya untuk menyerahkan uang, harta miliknya (rakyat).
Sebelumnya, apakah itu dijaman Orde Lama atau Orde Baru, segala tindakan repressi dan pemaksaan yang tidak berprikemanusiaan tidak ada yang resmi secara konstitusi. Hal itu ada dan masih dibungkus dengan undang-undang (yang derajadnya di bawah konstitusi) dan narasinya secara verbal tidak vulgar. Akan tetapi jangan dikira bahwa halus dan tidak vulgar berarti lemah, tetapi bak karet yang bisa ditarik panjang sekali, seperti pasal pencemaran nama baik, pasal keamanan negara atau undang-undang anti subversi. Dan waktu itu belum ada yang dituangkan di dalam konstitusi (undang-undang dasar).
Sekarang, pemerintah punya dasar hukum yang (dianggap) paling tinggi yaitu konstitusi. Repressi, pemaksaan diperbolehkan dalam kaitannya dengan pajak dan pungutan-pungutan yang ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan. Tentunya pemerintah tidak salah kalau mereka membuat peraturan yang banyak untuk memaksa rakyat untuk menyerahkan uangnya. Itu legal. Apakah masuk diakalnya orang waras dan masih berprikemanusiaan?
Untuk pertanyaan: Apakah masuk diakalnya orang waras dan masih berprikemanusiaan?,  EOWI tidak akan menjawabnya. Cukup pembaca sendiri yang merenungkannya.

Pajak bukan Jual Beli

Latar belakan penyitiran pasal 23A UUD-45 Amendemen di atas karena kita akan membicarakan masalah pajak dan sejenisnya dalam kaitannya dengan kata “paksa” di kalimat pasal 23A tersebut. EOWI punya sebuah kata-kata mutiara, humor sadonik mengenai pajak, yaitu sbb:
Tuhannya orang Islam memberi 5 perintah (5 rukun Islam) dan 1 buku panduan hidup yang berisi 144 pasal (surah) sebagai balasannya setiap muslim dibebani pajak penghasilan 2.5% (zakat).
Tuhannya orang Kristen dan Yahudi memberi 10 perintah dan larangan kepada umatnya dan 66 buku dengan 1189 pasal , karenanya mereka dikenakan pajak 10% dari penghasilan mereka. (Catatan: Bible adalah kumpulan 66 buku dari kitab Kejadian sampai ke kitab Wahyu. Dan Bible adalah punya akar kata yang sama dengan bibliography dan bibliothek, yaitu biblia).
NKRI memberi 100 ribu aturan dan larangan dan buku undang-undang sebanyak satu perpustakaan penuh dengan jutaan pasal, oleh karenanya NKRI menuntut pajak penghasilan 30%, PPN 10%, pajak meterai, pajak kendaraan, pajak barang mewah, PBB,......dan karena masih kurang lagi maka pajak jalan tol dan lainnya akan ditambahkan dikemudian hari.
Jadi ada kaitannya antara banyaknya aturan dan besarnya uang yang diminta. Saya suka Islam karena pajaknya kecil, hanya 2.5% dan aturannya sedikit. Ditambah lagi...., saya tidak perlu mengisi formulir pajak yang rumit, melaporkan kekayaan saya kepada Tuhan, punya kartu identitas. Itu enaknya menjadi orang Islam (warga Tuhannya orang Islam) dari pada menjadi warga negara Indonesia. Tuhan tidak perlu biaya untuk memutar roda kehidupan, sedangkan NKRI perlu uang dari rakyatnya untuk menjalankan negara.
Orang berpikir bahwa membayar pajak kepada pemerintah adalah bayaran/imbalan atas jasa yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya. Seperti jual-beli. Tentu saja pendapat itu salah. Karena jika hal tersebut adalah jual-beli, maka berdasarkan Islam (Quran) harus ada unsur keridhaan (sama-sama senang dan tidak ada paksaan) karena pertukaran jasa dengan harta (uang) tersebut bersifat proporsional.
“kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29).
Untuk pajak, sifatnya lebih menekan pada rakyat dan imbalan tersebut tidak proporsional. Selanjutnya bagi yang ingin mengetahui definisi mengenai pajak, bisa dilihat di Wikipedia.
Karena salah satu persyaratan pajak adalah sifatnya memaksa maka unsur kemanusiaan akan diinjak-injak dan unsur kewarasan menjadi hilang. Kita akan lihat dari beberapa contoh yang sudah dilakukan dan akan dilakukan oleh pemerintah.

1.      Meterai Untuk Pembelian Cabe 3 kg

Kasus meterai untuk pembelian cabe 3 kg masih digodog di DPR dan belum diimplementasikan. Mungkin tahun depan atau sesudahnya bisa diterapkan di masyarakat. Dan akibatnya mbok-mbok penjual cabe harus punya meterai. Berikut ini adalah beritanya.
Minggu lalu ada berita yang menarik mengenai perpajakan. Bunyinya seperti ini (link): 
Dirjen Pajak Kemenkeu Sigit Priadi Pramudito mengungkapkan, optimalisasi bea materai itu dilakukan dengan menerapkan tarif baru yang naik lebih dari 100 persen pada Juni nanti.
"Tarif bea materai yang saat ini sebesar Rp 3.000 dan Rp 6.000, akan dinaikkan menjadi Rp 10.000 dan Rp 18.000," sebut Sigit saat ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta,  kemarin.
Sigit menyebutkan, proses pembahasan terkait hal tersebut sudah hampir rampung. "Targetnya (pembahasan bea materai) bulan Juni selesai. Jadi pengenaan bea materai akan terlaksana tahun ini," ujarnya.
Sigit melanjutkan, untuk menaikkan tarif materai diperlukan revisi Undang Undang Bea Materai. Terkait hal tersebut, pihaknya mengaku telah memasukkan revisi UU Bea Materai dalam penyusunan prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015.
"Sudah masuk prolegnas dan DPR berjanji bahwa Prolegnas (terkait) Bea Materia itu akan didahulukan,"lanjutnya.
Selain itu, Sigit menuturkan, nantinya transaksi untuk ritel juga akan dikenakan tarif Bea Materai. Ditjen Pajak akan mengawasi pengusaha ritel yang belum memungut bea meterai dalam transaksi perdagangan yang dilakukan.
Dalam UU Bea Materai, transaksi belanja di atas Rp 250 ribu dipungut bea meterai sebesar Rp 3.000, di atas Rp 1 juta dikenakan bea materai Rp 6.000.
Dalam UU Bea Materai, transaksi belanja di atas Rp 250 ribu dipungut bea meterai sebesar Rp 3.000, di atas Rp 1 juta dikenakan bea materai Rp 6.000.
Jadi, jika pembantu anda berbelanja cabe 3 kilo yang kadang-kadang harganya mencapai Rp 100 ribu/kg, atau bawang akhir-akhir ini mencapai Rp 100 ribu/kg atau beras 20kg (harganya Rp 15 ribu/kg) pembantu anda akan dikenai meterai Rp 3000!!! Dan kalau bea meterai Rp 3000 sudah dinakkan menjadi Rp 10,000 maka beli cabe 3 kg akan kena meterai Rp 10,000.
Opo tumon.....ono wong koyo ngono.
Saya sedang berpikir jika kurs US dollar 2 – 3 tahun ke depan nanti mencapai Rp 25,000, maka harga cabe bisa mencapai Rp 200 – Rp 250 ribu per kilonya, maka untuk membeli 1 kg cabe, anda dikenai biaya meterai Rp 10,000!!! Mbok-mbok penjual cabe harus bawa-bawa meterai!!!
Berprikemanusiaan kah NKRI  (Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak)?

2.      Kena Musibah Malah Dipajaki

Bila seseorang terkena musibah, secara moral harus dibantu. Kalau seseorang terkena musibah, kemudian masih diperas, diambil uangnya dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya, maka si pemaksa, pemeras, pengambil uang orang yang tertimpa musibah bisa disebut biadab, bejad, tidak bermoral (terserah pembaca, nama apa yang cocok bagi orang/kelompok seperti ini). Buat saya, orang seperti itu tempatnya adalah neraka. Kalau di dunia ini, orang-orang seperti ini harus dibasmi. Tidak ada ajaran moral  (kecuali Pancasila barang kali) yang mengajarkan agar orang menimpakan tangga ke orang yang sudah jatuh. Atau membuat orang sudah sengsara menjadi lebih sengsara.
Yang saya maksud dengan orang yang terkena musibah ini adalah orang yang diPHK, kena pecat dari pekerjaannya, kehilangan sumber penghasilannya. Orang-orang yang diberhentikan dari pekerjaannya sepatutnya memperoleh simpati dan dibantu. Tetapi oleh pemerintah, malah dibikin lebih sengsara.
Pekerja yang diberhentikan dari pekerjaannya akan memperoleh pesangon. Besarnya, secara resmi bisa mencapai 28 bulan gaji + plus lain-lain. Katakanlah 30 bulan atau 2.5 tahun gaji untuk gampangnya. Itu kalau dia sudah bekerja di tempat yang sama lebih dari 24 tahun. Dengan kata lain ia sudah berumur....., di atas 45 tahun. Pada umur ini, pengeluaran sedang tinggi-tingginya, berada dipuncaknya. Anak-anaknya sekolah di universitas. Dan pesongon ini oleh pemerintah NKRI dikenai pajak sampai 25%.
Mungkin banyak yang akan berargumen, bahwa yang terkena pajak sampai 25% adalah yang memperoleh Rp 500 juta ke atas. Yang Rp 50 juta hanya kena 5%. Angka Rp 500 juta kelihatannya besar. Padahal kalau dibandingkan dengan harga sebuah apartemen studio (1 kamar) atau rumah type 45 (tanah 90 m2 dan bangunan 45 m2) di pinggirnya Jakarta (bukan di Jakarta-pinggir), masih dibawahnya dan sulit untuk bisa membeli properti seperti itu.
Terlepas dari banyak atau tidaknya angka Rp 500 juta, harus dilihat juga angka 2.5 tahun-gaji. Rentang waktu 2.5 tahun itu tidak lama. Untuk memperoleh pekerjaan tetap terkadang memakan waktu bertahun-tahun bagi pekerja yang sudah berumur dan dimasa krisis. Bahkan banyak pekerja yang diPHK dimasa krisis 1998 tidak pernah bisa memperoleh pekerjaan (tetap). Banyak yang menjadi pengangguran atau bekerja serabutan.......(walaupun melarat dan bekerja serabutan tetapi masih hidup bukan dan masih bisa dipajaki bukan?).
Argumen bahwa yang terkena pajak sampai 25% adalah yang memperoleh Rp 500 juta ke atas adalah orang kaya adalah dalih, bukan argumen. Hal itu tidak menghapuskan kenyataan bahwa mengambil pajak dari uang pesangon adalah tidak manusiawi, tidak berprikemanusiaan melainkan biadab. Orang sedang ditimpa kemalangan kok malah diambil uangnya.
Apapun dalihnya, tanpa pajak uang PHK, para korban PHK bisa menggunakan uang pesangonnya sampai 25% lebih lama. Penderitaannya bisa ditunda 25% lebih lama. Jadi siapa saja yang mempercepat datangnya penderitaan orang layak disebut biadab.
Berprikemanusiaan kah NKRI  (Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak)?
Ketika anda memilih orang, memberi mereka kekuasaan dan mandat dan berharap agar mereka berbuat sesuatu yang baik untuk anda, jangan harap hal tersebut terjadi. Yang ada adalah, anda akan dipajaki dengan pajak berlapis-lapis ketika anda makan, makanan anda akan dibebani pajak penjualan, bea meterai, restribusi.....dll. Ketika anda tertimpa kemalangan, diPHK, seharusnya anda memperoleh pertolongan, tetapi uang pesangon anda malah dipajaki (banyak pula). Ketika anda sakit, anda membayar biaya pengobatan, itupun dipajaki. Jika uang pengobatan tersebut anda claim ke kantor anda, maka uang reimbursement pengobatan tersebut akan dipajaki pula. Kalau istri bekerja mencari tambahan penghasilan keluarga, kalau penghasilan keluarga dilaporkan secara bersama, bisa kena pajak yang lebih tinggi lagi.
Politikus bukan Tuhan pemberi rizki. Berharap dan meminta kepada Tuhan lebih baik dari pada berharap/meminta kepada politikus. Kalau Tuhan, paling buruk adalah tidak mengabulkan permintaan anda. Kalau politikus......, mereka akan membebani anda dengan pajak-pajak yang berat dan memaksa........, dan imbalannya belum tentu ada. Oooh masih ada lagi, anda juga dibebani oleh larangan-larangan dan aturan-aturan yang banyaknya jutaan pasal.
Tuhan tetap menjadi pilihan yang lebih baik dari pada politikus. Untuk rizki yang diberikannya, Tuhannya orang Islam hanya membebani 1 buku yang berisi 114 pasal (surat) dan 5 perintah serta 2.5% potongan/pajak untuk penghasilan anda.
Sedangkan untuk Tuhannya orang Kristen hanya membebani umatnya dengan 66 buku yang berisi 1189 pasal, 10 perintah dan larangan serta 10% potongan/pajak untuk penghasilan anda.
Dan untuk pemerintah NKRI, yang terdiri dari orang-orang yang berjanji untuk memakmurkan anda, mengambil sampai 30% dari penghasilan anda, 10% dari setiap barang yang anda beli, sampai 25% uang PHK anda, sampai 75% untuk mobil yang dianggap mewah........dan banyak lagi. Dan imbalan yang diberikan pemerintah? Silahkan anda evaluasi sendiri, apakah sepadan atau tidak. Kalau saya harus pilih Tuhan, mati untuk Tuhan, membela Tuhan atau membela NKRI, mati untuk NKRI.......sudah jelas sejelas-jelasnya, saya pilih Tuhan.
Sekian dulu renungan kali ini.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, March 24, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (III)



Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis (Dollar Bull Market)

Penghembusan Bubble US Dollar

Ada pembaca EOWI bertanya, kenapa emas tidak melambung harganya ketika terjadi krisis yang dinamakan EOWI sebagai Gejolak 2014 – 2020?. Dan ini sudah terasa. Harga emas tertekan, lebih-lebih ketika US dollar mengalami rally.
Ada baiknya pembaca EOWI kembali membaca laman Gejolak 2014 – 2020 lagi dan mencoba mencerna isinya. Perlu diperhatikan bahwa krisis kali ini adalah bagian dari siklus yang rentangnya seumur manusia. Kalau umur rata-rata manusia saat ini adalah 71 tahun, maka rentang siklus ini adalah 71 tahun. Oleh sebab itu krisis ini hanya dialami oleh seseorang sekali seumur hidupnya, kecuali ia berumur panjang seperti nabi Nuh, yang konon umurnya mencapai 900 tahun. Dalam sejarah keuangan, uang kertas, termasuk US dollar, selalu berakhir ke nilai interinsiknya, yaitu nol, tetapi pada krisis ini US dollar belum akan menjadi nol. Memang hal ini sulit dicerna karena beberapa tahun lalu, tahun 2000 – 2010, masyarakat terpelajar dijejali doktrin bahwa US dollar akan menjadi nol nilainya. Banyak buku-buku terbit pada periode ini bertemakan US dollar menjadi nol. Tetapi sekali lagi EOWI katakan, US dollar akan menjadi nol nilainya pada suatu masa nanti, tetapi saat ini belum masanya.
Sayangnya untuk studi kasus, analogi tidak bisa diambil, karena untuk menengok ke belakang sajarah masa lalu, memang sepengetahuan EOWI belum pernah terjadi krisis deflationary di dalam sistem uang fiat. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi halangan bagi EOWI untuk mengkajinya, melakukan analisa dan menyimpulkan outcome nya. Bagi pembaca yang masih penasaran mengenai mekanisme krisis dan kenapa emas bukan safe-haven pada krisis kali ini, silahkan baca kembali laman Gejolak 2014 – 2020.
US dollar sudah mengalami rally sejak tahun 2011, ketika secular bull market di sektor komoditi berakhir. Tetapi pemerintah, para pelaku pasar dan bisnis di Indonesia baru tersadar ketika rally dollar mengalami percepatan di tahun 2014. Segala macam komentar serta opini pakar di media membeokan apa yang disiarkan di media US. Dollar menguat karena the Fed mau menaikkan suku bunga.  Entah sejak kapan issue the Fed mau menaikkan suku bunga. Terlalu lama untuk diingat, kata kuncinya “mau”, dan sampai sekarang kata “mau” masih digunakan. Dan entah kapan kata “mau” diganti menjadi “sudah”. Dari 8 poin hasil rapat komite the Fed yang keluar minggu lalu (20 Maret 2015), belum nampak kapan kata “mau” diganti dengan “sudah” dalam kaitannya dengan menaikkan suku bunga. Inilah poin-poin yang dimaksud dan artinya:


  1. The Committee continues to see the risks to the outlook for economic activity and the labor market as nearly balanced.
Maknanya: kalau sudah mencapai keseimbangan, artinya bisa njomplang lagi ke kiri atau ke kanan. Kalau dipaku secara kokoh, baru tidak bisa njomplang.
  1. The Committee continues to monitor inflation developments closely.
Maknanya: The Fed masih belum tahu apa yang terjadi dan tidak bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi.  Kalau sudah tahu, tentunya punya rencana dan bertindak.
  1. The Committee judges that an increase in the target range for the federal funds rate remains unlikely at the April FOMC meeting.
Maknanya: The Committee (Fed) tidak tahu apa yang terjadi, maka jangan harap the Fed akan mengambil tindakan apa-apa. Tunggu saja sampai kami (the Fed) tahu apa yang terjadi.
  1. Just because we removed the word “patient” from the statement doesn’t mean we are going to be impatient.
Maknanya: Walaupun the Fed sudah menghilangkan kata “patient” (“sabar”) bukan berarti menjadi tidak sabar dalam menaikkan suku bunga. Dikira-kira sendiri saja lah...
  1. While it is still the case that we consider it unlikely that economic conditions will warrant an increase in the target range at the April meeting, such an increase could be warranted at any later meeting, depending on how the economy evolves.
Maknanya: Walaupun the Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai April, bukan berarti setelah itu akan menaikkan suku bunga. Dikira-kira saja sendiri saja lah...
  1.  Well, when an economy is operating at the so-called zero lower bound, it creates a situation where there are asymmetric risks. It is possible if the economy proves stronger than is expected to respond to that by tightening policy. If there are adverse shocks to demand that tend to push inflation and economic performance in an adverse direction it's not possible to lower rates.
Maknanya: Kami (the Fed) tahu kalau ekonomi masih sontoloyo, walaupun suku bunga sudah nol. Oleh sebab itu, mungkin kami (the Fed) akan menaikkan suku bunga, sehingga nantinya bisa kita turunkan lagi. Dengan demikian kami (the Fed) kelihatannya bekerja.
  1. In some corporate debt markets, we do see evidence of unusually low spreads.
Maknanya: Siapa sih yang begitu tolol membeli corporate bond dengan yield seperti treasury bond, hanya 5%?
  1. The global experience shows that giving central banks independence to make monetary policy decisions that they think are in the best interest of the country and consistent with their mandates leads to lower inflation and more stable macroeconomic outcomes.
Maknanya: Bank-bank sentral di dunia ini hebat, terutama dengan perannya membuat bubble dan membuat siklus boom & bust makin hebat sampai hampir menghancurkan sistem finansial global dan memberikan impresi bahwa dunia masih memerlukan bank sentral dan kami (bank sentral) punya pekerjaan yang penting.
Dari pernyataan-pernyataan the Fed pada rapat tanggal 17 – 18 Maret 2015, nampaknya the Fed sedang mengkondisikan pelaku pasar agar siap terhadap kenaikkan suku bunga. Pasalnya, kalau tidak dinaikkan maka the Fed tidak punya kerja. Dengan suku bunya yang nyaris nol, the Fed tidak punya kerja dan nampak sepertinya impoten, tidak punya kekuatan lagi untuk memperbaiki ekonomi. Oleh sebab itu the Fed suku bunga akan dinaikkan supaya ada ruang untuk menurunkannya kembali. Jadi the Fed nampak punya kerja....sibuk dan bukan kelihatan nganggur. 

Teknikal dan Target Rally Dollar

Apakah the Fed mau menaikkan suku bunga atau tidak, bukanlah hal yang penting dan tidak menjadi urusan EOWI. Ekonomi sudah berjalan dengan auto-pilot. Ketiadaan bank sentral sebenarnya lebih baik. Oleh sebab itu, EOWI tidak merasa perlu melihat keputusan the Fed. Teknikal dari US dollar akan punya peran dalam mendikte gerak US dollar.
Berikut ini adalah traded US dollar index (simbol DXY) sebut saja US dollar indeks walaupun ada beberapa jenis US dollar index. Tetapi yang akan digunakan adalah traded US dollar index. Chart ini saya ambil dari situs Trading Economic. Terlihat adanya bentuk formasi bullish falling wedge yang sangat besar (jangka lama) dari tahun 1980 dan US dollar indeks berhasil menembusnya ke atas pada tahun 2014. Saat ini US dollar index di sekitar 100 (antara 96 – 100).
 
Chart- 1

Seorang analis teknikal biasanya tahu target pattern falling wedge ini. Jika antara tahun 1980 sampai 1984 rally membawa US dollar indeks dari 82 ke 162 (naik 80 poin atau hampir 100%), maka rebound kali ini akan sebesar 80 poin dihitung dari resistance nya (di 90). Oleh sebab itu 170 adalah target rebound dari pattern falling wedge besar ini.
Kalau anda ingin tahu lebih lanjut mengenai falling wedge, kami anjurkan untuk mencarinya di internet.
Situs http://www.forex-tribe.com/Falling-Wedge.php menyajikan beberapa data statistik dari falling wedge.
  1. Ada 92% peluang untuk menembus resistance nya dan rebound ke arah target.
  2. Jika resistance nya sudah tertembus, maka peluangnya mencapai target adalah 63%.
  3. Ada peluang sebesar 27% akan terjadinya false breakout.
  4. Target rebound panjangnya sama dengan rally pertama di pattern falling wedge. Untuk kasus DXY (US dollar indeks), besarnya adalah 80 poin. Oleh sebab itu target rally US dollar indeks adalah 170. Artinya kalau sekarang DXY ada di kisaran 96 – 100, maka kenaikan harga dollar akan mencapai 70%.
Mungkin pembaca mengatakan bahwa US dollar tidak mungkin rally sebesar itu. Pembaca yang skeptis harus menengok 34 ke belakang, tahun 1980 – 1984. Indeks 82 sampai 162. Kenapa sekarang tidak bisa. Bahkan kalau sekarang seharusnya bisa lebih banyak lagi.
Jika US dollar bisa menguat 70% lagi (indeksnya rally dari 100 ke 170), maka dalam rupiah, US dollar bisa rally dari Rp 13,000 ke Rp 22,000. Seperti perkiraan kasar EOWI tentang target US dollar rally beberapa waktu lalu yaitu antara Rp 17,000 sampai Rp 25,000, sekarang secara teknikal bisa dijelaskan.
Apakah benar US dollar akan mencapai Rp 22,000......tinggal tunggu waktunya saja. Dengan waktu, akan dibuktikan apakah EOWI isinya hanyalah crackpot yang suka teler dan menghayal atau target Rp 22,000 sesuatu yang akan menjadi keniscayaan.
Hallo, Imam Semar bangun!!.......Indonesia sudah dikeluarkan dari the fragile five lho!!!
Pembaca EOWI yang setia, krisis kali ini adalah krisis yang belum pernah dilihat oleh manusia yang masih hidup saat ini yang juga masih belum bau tanah. Keluar dari the fragile five tidak berarti lepas dari keterikatan terhadap US dollar dan keterkaitan dengan ekonomi dunia. Norwegia yang bukan anggota the fragile five juga bisa jatuh mata uangnya.

Opsi Long US Dollar

Ada pembaca yang menanyakan bagaimana cara menyimpan US dollar cash? Perlu EOWI tekankan kembali, dimasa krisis deflationary, US dollar cash is the king, bukan US dollar kredit. Karena kredit diciptakan oleh bank-bank dari kenihilan. Istilahnya kredit adalah creatio ex nihilo. Oleh sebab itu ketika ada krisis (deflationary), kredit akan menguap, puffff....hilang menjadi nihil lagi. Oleh sebab itu yang harus kita miliki adalah cash, yaitu uang yang bisa dipegang, dilipat, dimasukkan dompet,.......
Bagaimana cara menyimpannya, karena semua akan mengincar cash anda, apa lagi perampok.  Begitulah pertanyaan banyak orang.
Bagi yang melakukan investasi di emas pada dekade 2000an (2000 – 2011), tentunya tahu bagaimana menyimpan asset tangible seperti  emas. Mereka ini tentunya sudah punya jawaban bagaimana menyimpan US dollar cash. Bahkan untuk US dollar, opsinya lebih banyak dari pada emas batangan. Mari kita lihat satu persatu.

  1. Deposito berjangka US dollar: cara ini punya kelemahan, yaitu ketika krisis mulai mengalami eskalasi (percepatan), dan depositonya belum jatuh tempo, maka asset kita tertahan di bank. Hal yang demikian membuat tabungan menjadi rentan terhadap segala ketidak-bijakan pemerintah (pembekuan asset, konversi paksa ke rupiah dengan nilai tukar yang buruk, dll) serta jika bank bangkrut maka milik kita ikut menguap bersamanya. Sedangkan keuntungannya adalah perolehan bunga deposito. Deposito berjangka hanya bagus kalau kita tahu bahwa krisis masih lama meletusnya.
  2. Tabungan US dollar: Resiko dan keuntungannya hampir sama dengan deposito berjangka. Tetapi tabungan US dollar mempunyai keunggulan bahwa asset ini bisa dicairkan lebih cepat tanpa kena penalty. Sehingga pada saat krisis mengalami eskalasi, asset kita di bank kemungkinan besar bisa cair. Harus diingat bahwa kita tidak boleh terlambat. Pengalaman tahun 1997, beberapa bulan sebelum krismon 1998, saya akan pindah ke Scotland dan mengalami kesulitan menukarkan uang rupiah saya ke poundsterling di money changer.  Tetapi tidak sulit membuat demand draft poundsterling.
  3. Cash di safe deposit box (SDB): anda bisa menyewa safe deposit box di bank sebuah bank untuk menyimpan cash di sana. Bagi yang pernah berinvestasi di emas pada dekade 2000an, cara ini adalah cara yang aman untuk menyimpan dan bertransaksi emas. Saya dulu biasanya melakukan transaksi emas di bank. Bank dengan safe deposit box (SDB) digunakan sebagai tempat rendezvous dan bertransaksi. Emas langsung dimasukkan ke SDB dan transfer pembayaran dilakukan ditempat yang sama.
Untuk US dollar cash, kita bisa ambil di bank counter kemudian dimasukkan ke SDB. Resiko dirampok menjadi kecil. Cara ini aman dan sederhana. Mungkin tidak sesederhana itu. Setidaknya saya masih punya pertanyaannya:
a.      Pada masa krisis dan bank kena rush, apakah SDBnya masih buka dan uang yang kita simpan disana masih bisa di-access (diambil)?
b.      jika banknya bangkrut, apakah SDBnya akan ditutup sampai proses peleburan dsb selesai?
Kedua pertanyaan ini saya tidak bisa menjawabnya, karena pada masa krismon 1997 – 1998, walaupun saya mempunyai SDB di bank Bumi Daya di Jakarta, tetapi saya tinggal di Scotland. SDB saya yang berisi perhiasan istri tidak pernah dibuka sampai kami kembali ke Jakarta tahun 2000.
  1. Deposit Box/Brankas (di rumah): Cara yang paling sederhana untuk menyimpan US dollar cash atau barang-barang berharga lainnya adalah dalam brankas atau lemari (kotak) besi. Hanya saja, cara ini rentan terhadap perampokan. Apa lagi jika banyak orang keluar-masuk rumah kita (domestic helpers) yang kurang kita percayai. Terkadang otak kejahatan adalah orang dalam. Resiko dari cara ini akan berkurang jika tidak ada yang tahu bahwa anda punya brankas di rumah.
Ada baiknya anda membuat rencana bagaimana cara menyimpan asset-asset anda sebelum krisis, menjelang krisis dan di masa krisis. Masing-masing punya resiko yang berbeda sehingga cocok untuk saat yang berbeda. Ketika krisis masih jauh, menyimpan uang US dollar sebagai deposito adalah yang terbaik. Semakin dekat ke arah krisis, berangsur-angsur deposito dikonversikan ke (ditukar dengan) tabungan/giro, selanjutnya ke SDB atau brankas.Diskusi dan buat rencana dengan pasangan anda. Apakah meminta saran dan adivs dari konsultan investment anda adalah hal baik? Saya tidak tahu. Sebab opsi no.4, sebaiknya tidak banyak orang yang tahu.
Suatu hal yang perlu diingat, bahwa pada puncak krisis moneter, cash bisa lebih berharga dari pada kredit. Pada saat ATM tutup, bank tutup (tidak bisa bertransaksi), kartu kredit/debit tidak laku, orang-orang kaya mau ke luar-negri,  maka harga/nilai lembaran dollar bisa lebih tinggi dari pada dollar digital elektronik. Itu pernah terjadi baru-baru ini di Venezuela, Argentina, Ukraina bahkan dulu juga pernah terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu punya cash di tangan berarti punya peluang untuk memperoleh keuntungan.


EOWI mengatakan bahwa eskalasi rally dollar akan memicu krisis, karena......, bayangkan para dollar carry traderers mulai menyadari bahwa meminjam US dollar untuk diinvestasikan kedalam mata uang emerging market untuk memperoleh selisih bunga ternyata sudah tidak menguntungkan lagi, karena tergerus oleh depresiasi mata uang negara emerging market, maka kemudian mereka keluar. Sebagai akibatnya terjadi akselerasi appresiasi dollar. Hal ini bisa diperparah jika spekulan ikut masuk ke posisi long dollar dengan leverage. Maka US dollar akan naik secara parabolik. Ini akan membuat debitur dollar kelabakan karena beban hutangnya semakin berat. Selanjutnya bisa terjadi gagal bayar, yang kemudian dilanjutkan dengan tertutupnya aliran kredit.
EOWI menempatkan appresiasi dollar sebagai pencetus krisis nomor 2, karena proses appresiasi dollar sudah berjalan. Hanya menunggu terjadinya akselerasi sehingga membuat para dollar carry traders panik masuk kandang, spekulan ikut terjun meramaikan pesta dan akhirnya para debitur (yang berdenominasi US dollar) yang akan terbantai tidak bisa bayar hutang, dan selanjutnya kran kredit tertutup.
Sekian dulu sampai kisah lanjutannya.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.