___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, February 4, 2017

Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017 (Bagian IV)




Dua Pukulan Telak Datang
Tahun 2016 adalah tahun yang menggembirakan bagi pemilik rupiah dan punya investasi di BEJ serta penggemar emas. Ketiganya mengalami rally. Dan cadangan devisa RI naik mencapai level $116 milyar. Pastinya saya tidak tahu, tetapi, mungkin kegembiraan ini harus berakhir di tahun 2017. Karena rally ketiganya adalah counter-trend rally. Trend utama dari ketiga sektor investasi ini adalah bearish.
Dalam level global, investor cukup berbahagia apalagi menjelang akhir tahun 2016, pemilihan presiden dimenangkan oleh Donald Trump, Donald si kentut berbunyi. Pasar saham mengalami euphoria berkaitan dengan program pajak rendah Trump, deregulasi dan kebijakan stimulus belanja pemerintah pada infrastruktur. Walaupun semuanya masih belum jelas, mengenai berapa yang akan dibelanjakan oleh Trump dan bagaimana dampaknya terhadap ekonomi. Kenyataan bahwa US sudah melewati batas dimana penambahan hutang bisa menghasilkan asset yang self-liquidating. Jembatan atau infrastruktur lainnya bermanfaat dan manfaatnya bisa membayar biaya yang dikeluarkan. Oleh sebab itu EOWI percaya bahwa ekonomi US akan tumbuh sesuai dengan target dan akhirnya menjadi motor ekonomi dunia. Demikian juga dengan Cina atau Eropa dan Jepang. Pada akhirnya komoditi akan kembali pada arahnya semula, down-trend yang dampaknya tidak akan baik untuk Indonesia seperti yang terjadi antara 2013 – 2015.
Selain sektor keuangan global, ada juga cuaca yang akan mempengaruhi Indonesia. Sehingga akan ada dua pukulan yang mengarah ke Indonesia. Perkiraan EOWI, Indonesia dan negara-negara di Asia tenggara, seperti Philipina dan Malaysia akan terkena dua pukulan yang cukup telak pada ekonominya tahun 2017 sampai 2018. Saya tidak akan membahas mengenai negara lain kecuali Indonesia.
Yang menyolok terjadi di tahun 2016, kalau pembaca cukup jeli, yaitu adanya ketegangan yang menajam antar golongan di masyarakat. Gejala ini tentunya bersifat global. Dan ini sudah di bahas pada bagian sebelumnya. Kemudian musim hujan yang tidak kunjung berhenti. Indonesia mengalami apa yang disebut musim kemarau basah. Bahkan lebih cocok kalau disebut musim kemarau penuh banjir. Banyak wilayah di Indonesia terkena banjir.
Skala hujan (dimusim hujan dan kemarau) tahun 2016 cukup berat menimbulkan banyak kerugian. Banjir bandang di Bandung membuat jalan-jalan seperti Pagarsih, Pasteur, bak sungai yang mengalir deras menyapu mobil dan kendaraan lainnya. Dan ini terjadi berkali-kali.
Banjir di Jalan Raya Bandung-Garut di bulan Juni, Rabu (8/6/2016). Satu dari banyak banjir di musim kemarau
Kalau musim kemarau basah dan kadang-kadang diselingi banjr, Apalagi musim hujannya, akan lebih parah lagi. Bahkan wilayah Bima yang menurut saya seperti savana, terkena banjir (Desember 2016 dan Januari 2017). Ditempat-tempat lain juga banyak yang terkena banjir dan bencana akibat banjir/hujan seperti tanah lonsor.
Di Jakarta, (sssst....., jangan keras-keras ngomongnya, nanti terdengar kelompok anti Ahok), selain banjir di banyak tempat di Jakarta, ternyata tahun banjir ini memakan korban beberapa nyawa ketika jembatan penyebrangan di Pasar Minggu roboh. Ahok lupa menyuruh staffnya untuk melakukan inspeksi yang seharusnya dilakukan secara rutin untuk struktur yang dibagun sejak beberapa dekade lalu.
Tentu saja cakupan kerusakan tahun hujan 2016 tidak berhenti di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta saja, karena hujan sifatnya regional. Walaupun tidak diberitakan, kemungkinan ditempat-tempat lain terkena dampak curah hujan yang berlebih. Tandanya, harga cabai pernah mencapai Rp 180 ribu per kg, di Gorontalo, Manado, Anambas, Bojonegoro. Itu yang diberitakan. Artinya ada kegagalan panen.
Kalau anda percaya pada tahayul, mungkin Tuhan marah karena Ahok sudah menista agama dan pemerintah berusaha mati-matian membelanya. Tentu saja ini tahayul. Dan EOWI akan memberikan penjelasan yang lebih rasionil. Termasuk kelanjutannya di tahun 2017.
Itu gambaran umum mengenai Indonesia tahun 2016 berkaitan dengan ekonomi.

Alam Tidak Ramah
Pada pembukaan tulisan ini disebutkan bahwa curah hujan untuk tahun 2016 tinggi dan menyebabkan banjir serta bencana lain yang bersumber dari tingginya curah hujan, seperti tanah longsor. Yang tidak banyak diketahui orang adalah penyebabnya. Saat ini ada 2 faktor/siklus yang membuat curah hujan tinggi di kawasan Asia tenggara. Pertama adalah sun-spot cycle yang merupakan siklus 10.8 tahunan dan yang kedua adalah fenomena La Nina, yang tahun 2016 termasuk kategori mild. Penurunan aktivitas matahari, sun spots membuat temperatur bumi turun, secara siklus. Uap air yang dibentuk pada siklus sebelumnya, di kondensasikan dan dijatuhkan pasa saat periode penurunan aktivitas matahari. Kombinasi La Nina dan down-trend sun spot cycle, menguatkan gejala musim hujan, bahkan membuat sampai “kemarau basah” atau musim kemarau penuh banjir. Kemarau yang  biasanya ditandai dengan rendahnya curah hujan pada bulan-bulan April – Agustus, tetapi untuk tahun 2016 curah hujan masih tinggi.
Saya tidak punya data mengenai kerusakan akibat musim hujan tahun 2016. Tetapi dilihat sepintasan, runtuhnya jembatan penyembrangan di Pasar Minggu, mobil-mobil yang terbawa arus banjir bandang Bandung, rumah yang hancur oleh banjir bandang Bima,...... belum lagi gagal panen. Itu cukup menyengsarakan.
Saya bukan seorang yang percaya pada astrologi, tetapi phenomena sun-spot, tetapi nampaknya mempengaruhi kejadian-kejadian penting (baca: kerusuhan) di wilayah Indonesia seperti mulainya perang Diponegoro, perang Padri, perang Aceh, peristiwa Puputan Bali, kemerdekaan Indonesia, pemberontakan G30S dan yang terakhir penggulingan rejim Suharto dimulai/meletus pada saat fase penurunan pada siklus sun-spot, terutama bagian akhirnya (titik nadir).
Saya tidak mengatakan bahwa tahun 2017 akan terjadi kerusuhan karena siklus sun-spot menunjukkan penurunan, tetapi siklus sun-spot mempengaruhi cuaca, terutama musim hujan jika bersamaan dengan penurunan aktivitas matahari. Musim hujan yang biasanya menjadi berkah untuk memulai musim tanam, menjadi bencana cobaan banjir, tanah longsor, gelombang tinggi yang mencegah nelayan untuk melaut dan sebagainya. Dan kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar.
Tahun 2017, siklus sun-spot masih pada fase menurun, sedangkan La Nina – El Nino diperkirakan netral atau La Nina lemah. Jadi diperkirakan cuaca kurang lebih sama atau sedikit lebih baik dari tahun 2016. Jadi kalau ada keinginan untuk berspekulasi dengan cabai, tahun depan mungkin masih bisa. Harga cabai bukan tidak mungkin bisa melonjak sampai Rp 200 ribu per kilonya. Bisnis-bisnis yang berkaitan dengan banjir dan hujan punya peluang yang baik. Bisnis seperti apa itu? Selain cabai, masih belum terpikirkan.

Dampak Perlambatan Ekonomi US
Seperti ceritakan sebelumnya, EOWI memperkirakan akan adanya global economic slow down yang dimulai di kwartal ke-3 tahun 2017 sampai kwartal ke-1 2018. Secara ekonomi akan mempengaruhi Indonesia, tetapi “tidak terlalu berat”. Dalam arti sebenarnya Indonesia masih bisa bertahan jika hanya ekonomi saja yang berpengaruh. Memang sektor komoditi akan tertekan, cadangan devisa akan menyusut sebagai dampak dari harga komoditi yang tertekan, tetapi tabungan masyarakat yang diperoleh dari commodity boom 2000 – 2011 masih cukup banyak, sehingga tidak akan mengarah ke keresahan masyarakat yang mampu menggoyang pemerintahan Jokowi.
EOWI memperkirakan perlu waktu sekitar 1 dekade lagi untuk mencapai kesengsaraan yang bisa membuat mood masyarakat ke level yang bisa meletuskan kerusuhan besar. EOWI sejak awal berpendapat bahwa ketegangan Habib Rezieq – Ahok tidak akan berakhir ke arah kerusuhan besar yang sampai menggoyang pemerintahan, walaupun saat ini pemerintah dan  PDI nampak mengalami kebingungan dalam mempertahankan Ahok. Indonesia akan aman-aman saja.

Walaupun kerusuhan besar diperkirakan tidak akan terjadi sampai 1 dekade lagi, tetapi tidak berarti ekonomi tidak rentan terhadap resiko goncangan. Ancaman itu datangnya bukan sekedar dari perlambatan ekonomi, melainkan pecahnya credit bubble di Amerika dan Cina. Andaikata...., sekali lagi saya tegaskan, .....andaikata credit bubble ini pecah, dampaknya akan ke liquiditas. Dan pada saat itu cash adalah raja.
Terhadap Indonesia krisis yang akan datang besarnya, jika terjadi, ukurannya sedikit lebih besar dari krisis tahun 2008. Bukan seperti tahun 1998. Kemungkinan tidak akan menginggalkan monumen-monumen kegagalan seperti yang terlihat di jalan Rasuna Said. Proyek-proyek infrastruktur walaupun mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, akan diteruskan sampai penderitaan rakyat Indonesia akibat kumulasi kemudharatan pembangunan infrastruktur tidak tertahankan lagi.
Monumen Kegagalan Monorail di jl. Rasuna Said, Jakarta
Sekian dulu, jaga kesehatan anda dan tabungan anda baik-baik, semoga keberkahan bisa diperoleh di tahun 2017 sekalipun ada krisis.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, January 28, 2017

Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017 (Bagian III)

 Trump, Presiden Kentut
 
Judul di atas kedengarannya lucu. Yang sebenarnya memang lucu. Itu kenyataan bahwa kata trump dalam English (mungkin British) artinya kentut. Saya tidak bermaksud mengejek, tetapi semoga saja rakyat Amerika sadar bahwa mereka baru saja memilih seorang presiden yang namanya bersinonim kentut yang berbunyi.
Mungkin pembaca berpikir cerita saya ini hanyalah sebuah hoax. Oleh sebab itu anda bisa google search “trump English slang fart” dan lihat hasilnya. Tetapi untuk membantu, saya sediakan beberapa linknya.
  1. Link-1 (https://youtu.be/ux848MsW_b4)
  2. Link-2 (https://youtu.be/UlWi5FMbBnc)
  3. Link-3 (https://youtu.be/-w8qhVX_Ujo)
  4. Link-4 (https://youtu.be/WpSBEz5FxZM)  
  5. Link-5 (https://youtu.be/RxnosRVGvWE)
Yang menarik tentang presiden ke 45 USA ini adalah, setelah pengangkatannya, terjadi demostrasi anti-Trump (21 Jan. 2017) di Chicago, Los Angeles dan Washington D.C. walaupun penyelenggara demonstrasi tersebut sudah membatalkan rencananya, tetapi banyak peserta yang tetap datang. Saya tidak tahu apakah hambatan-hambatan Trump ini karena tulah atau kutukan dari namanya atau lainnya, entahlah. Dan kalau diperluas lagi kutukan dari nama itu, akan menjadi pertanyaan pula, apakah nantinya Trump akan kasih rakyat Amerika janji-janjinya dengan kentut atau kemakmuran yang sejatinya, entahlah. Saat ini hanya Tuhan yang tahu.
Trump memberikan pidato inagurasi yang relatif pendek. Ada beberapa poin yang saya pikir Trump seakan-akan berbicara tentang Indonesia. Katanya (saya terjemahkan saja): Sudah sejak lama, ada group kecil yang di ibukota telah memanen buah dari kebijakan pemerintah padahal pembiayaannya dibebankan kepada rakyat. (Politikus di) pusat pemerintahan makmur sedangkan rakyat tidak ikut menikmati kemakmuran ini. Politikus makmur, tetapi kesempatan kerja hilang dan pabrik-pabrik tutup.
Walaupun Trump berbicara mengenai Amerika Serikat, tetapi pernyataan Ini mengingatkan saya pada diri sendiri dan banyak rekan-rekan yang diPHK, sedangkan mantan presiden SBY punya puri Cikeas dan bukan dia saja yang kaya tetapi orang-orang yang dekat dengan pemerintahan.
Kemudian lanjutnya: Pemerintah melindungi dirinya sendiri, bukan warga negara. Kemenangan mereka bukan kemenangan kalian (rakyat). Ketika mereka merayakan kemenangan di ibukota, hanya sedikit yang bisa dirayakan oleh keluarga-keluarga yang masih kesusahan di seluruh negara.
Ini mengingatkan pada Nurul Fahmi (NF) warga Klender, seorang yang menurut kisah di internet bahwa usahanya tutup, jadi pengangguran, lalu ikut unjuk rasa dengan membawa bendera merah-putih yang ditulisi dengan huruf Arab la illaha illalaah. Kemudian Nurul Fahmi ditangkap malam-malam.
Pemerintah kalau terhadap rakyat yang dipersepsikan sebagai lawannya, reaksinya cepat, walaupun Iwan Fals, Metalica, dan banyak lagi juga melakukan hal yang sama, tetapi tidak pernah diproses. Kalau diantara sesama mereka, seperti Setya Novanto yang ada rekaman pembicaraannya dalam kasus sahamnya, lambat prosesnya dan bisa lolos. Bahkan bisa naik lagi menjadi ketua DPR.
Catatan: Saya tidak mengerti apakah Jokowi atau Tito patut disebut muslim. Dengan menangkap Nurul Fahmi dan menuduhnya mencemari/menghina bendera RI artinya mereka menganggap credo la illaha illaah, sebagai kata yang dikategorikan sebagai penghina dan penoda. Saya juga tidak tersinggung dengan kelakuan rejim Jokowi mengkriminalisasi penulis kalimat credo la illaha illalaah. Tetapi perilaku seperti itu adalah pengingkaran terhadap credo itu sendiri.
Seperti yang sudah banyak diketahui orang, bahwa Amerika telah membuat negara-negara lain makmur dengan pindahnya pabrik-pabrik keluar Amerika. Amerika juga mensubsidi keamanan negara-negara lain dan melupakan infrastruktur dalam negrinya berantakan, kekayaan kleas menengahnya berpindah ke luar Amerika. Tetapi hal itu adalah masa lalu. Pada masa mendatang, semua keputusan tentang perdagangan, pajak, imigrasi dan urusan luar negri harus menguntungkan rakyat Amerika.
Janji Trump ini mengingatkan saya pada sebuah meme yang judulnya menolak lupa di bawah ini. Politikus memorinya payah banget. Saya tidak tahu apa Trump bisa ingat atas janji-janjinya.
Mungkin Trump akan ingat akan janji-janjinya karena Trump bukan politikus, melainkan businessman. Dan kalau dipadukan dengan rasa nasionalisme yang besar, maka “Make America Great Again” bisa terwujud, walaupun kadar rasa nasionalisme patut diragukan melihat 2 dari 3 istrinya yang orang Amerika imigran. Mungkin juga tidak, dalam arti Trump suka wanita cantik, apa itu model atau bintang film.
Bola Kristal Ekonomi Dunia
Saya tidak punya bola kristal dengan kemampuan yang dimiliki peramal nasib, kalau anda percaya tahayul tukang ramal. Bola kristal saya yang saya beli di Beijing, punya kemampuan bikin pingsan siapa saja yang kepalanya kena lemparan lemparan bola tersebut. Lebih dari itu tidak ada.
Fokus pembahasan perkiraan ekonomi dunia kedepan dititik-beratkan pada ekonomi Amerika, karena sampai saat ini negara ini adalah negara yang punya ekonomi terbesar di dunia. Jadi wajar jika Amerika booming maka dunia ikut booming dan sebaliknya. Tetapi argumen itu kita simpan detailnya sampai akhir cerita.
Keseriusan Trump patut diperhitungkan. Misalnya, laman mengenai perubahan iklim milik gedung putihmenghilang setelah pelantikan Trump menjadi presiden. Seperti ucapannya bahwa kelompok lingkungan alam terlalu mendikte sehingga membebani daya saing Amerika. Nampaknya Trump serius untuk membuat US bisa bersaing kembali. Trump juga dalam beberapa hari setelah pelantikannya akan segera mengeluarkan perintah untuk membekukan progran pengungsi termasuk pengungsi dengan dasar kemanusiaan.
Trump juga sudah memerintahkan untuk membatalkan beberapa milyar dollar yang dijanjikan oleh Obama sebagai sumbangan US untuk pelestarian iklim PBB. Tidak hanya itu, Trump juga meminta Kongress untuk merevisi aturan mengenai jumlah dana sumbangan US ke PBB (baca: minta dikurangi).
Janjinya untuk membuat tembok pembatas dengan Mexico untuk mencegah masuknya imigran gelap dan memaksa Mexico untuk menanggung biayanya nampaknya semakin jelas strateginya. Pertama kota-kota tempat imigran berlindung, yaitu kota-kota yang pemerintah kota prajanya enggan menyerahkan imigran/penduduk tanpa surat-surat legal, akan dibereskan. Kedua petugas imigrasi dan patroli perbatasan akan dlipat-tigakan.
Kemudian  membangun 1000 miles tembok (bukan pagar) setinggi 10 – 15 meter sebagai tahap pertama dari 2000 miles perbatasan US-Mexico. Dan harganya  $10 milyar. Jumlah itu tidak banyak dibandingkan $ 2.6 trilliun biaya perang Irak yang ditanggung US. Mengenai ocehannya tentang biaya pembangunan tembok ini yang akan dibebankan ke Mexico, nampaknya Trump cukup serius. Sebabnya dalam hal ini Trump memegang kartu trump. Imigran Mexico di US mengirimkan uang ke keluarganya di kampung halamannya sebesar sekitar $28 milyar per tahun. Ini lebih besar dari pendapatan Mexico dari impor minyaknya ($23.2 milyar, tahun 2015). Dibandingkan dengan budget pemerintah yang $ 224 milyar tahun 2016, remittance dari US sekitar 12.5%. Suatu porsi yang cukup besar untuk dijadikan sandra oleh Trump.
Potensi penderitaan Mexico tidak akan berhenti sampai disitu, 80% ekspor Mexico adalah ke US. Banyak diantaranya adalah barang-barang perusahaan milik Amerika yang pabriknya berlokasi di Mexico yang memanfaatkan upah buruh yang lebih rendah dari pada di US. Ancaman Trump akan memberlakukan bea masuk yang tinggi. Perusahaan-perusahaan seperti ini diberi pilihan, kembali merelokasikan pabrik-pabriknya ke Amerika atau dikenakan bea masuk yang tinggi. Ford yang tadinya akan menginvestasikan $1.6 milyar di Mexico, membatalkan rencananya, dan menggantikannya dengan ekspansi pabriknya di Michigan. Toyota juga membatalkan rencana ekspansi pabriknya di Mexico.
Selain Ford dan Toyota, General Motor dan BMW yang punya pabrik di Mexico, juga memperoleh ancaman bea masuk 35% dari Trump. Ini bagian dari rencana Trump untuk menegosiasi ulang (baca: mengabaikan) North American Free Trade Agreement (NAFTA).
Menimbang itu semua, nampaknya peso Mexico yang selama hampir 2 tahun ini terdepresiasi terhadap dollar sebesar 37%, akan lebih volatile dimasa mendatang.
Tidak hanya Mexico dan Amerika Utara, tetapi juga wilayah Asia Pasifik ditinggalkan oleh US. Secara resmi Trump sudah menarik US mundur dari Trans-Pacific Partnership (TPP) agreement yang Obama dan dianggotai, Singapore, Brunei , New Zealand , Chile, Australia, Peru, Vietnam,  Malaysia,  Mexico, Canada, Jepang dan US.
Perjanjian dagang TPP yang meripakan inisiatif Obama untuk membendung hegemoni Cina di Pasifik akan ditinggalkan oleg Trump. Artinya US akan meninggalkan sekutu-sekutunya dan Cina akan dibiarkan merajalela di wilayah Pasifik. Lalu bagaimana selanjutnya?
Pertanyaan lain juga muncul, apa rencana proteksionisme US akan berlanjut ke arah terhentinya  globalisasi disektor ekonomi dan perdagangan yang tonggak sejarahnya dimulai GATT/WTO (General Agreement on Tariff and Trade/World Trade Organization) di di tahun 1947/1995? Proteksionisme US akan memicu perang tariff. Negara yang barangnya dikenai bea masuk oleh US akan membalas dengan mengenakan bea masuk untuk barang US.
Indeks Dow mengalami rally sejak kemenangan Trump menembus level 20,000 ketika tulisan ini dibuat (akhir minggu ke 3 Jan 2017) dari level 18,000 di awal November 2016. Itu lebih dari 10%. Yang menarik adalah bahwa komoditi tidak ikut rally. Saya tidak mengerti kenapa indeks saham US mengalami rally, apa karena antisipasi program yang akan dijalankan Trump bisa membuat America Great Again. Sebab menurut EOWI yang selalu skeptis ini arahnya justru berbalikan. Mari kita lihat alasan EOWI.
Perang dagang umumnya merugikan semua pihak, apa lagi konsumen yang harus membayar barang-barang yang lebih mahal karena dibebani pajak dan bea masuk. Tetapi Amerika punya beberapa keunggulan teknologi dan sudah mencuri start. Dan ini mungkin yang membuat Amerika bisa menang. Dan program Trump bisa membuat  America Great Again dimasa mendatang. Tetapi tidak dalam 3 tahun kedepan. Effektivitas strategy Trump untuk memaksa perusahaan-perusahaan Amerika untuk merelokasikan kembali dengan tujuan memberi peluang kerja bagi rakyat Amerika patut diragukan. Pasalnya, jaman sudah berubah. Era robotisasi sudah dimulai. Adidas sudah mulai merelokasikan produksinya ke Jerman tahun 2017 ini, dari Asia termasuk 6 yang ada di Cina. Dengan otomatisasi/robotisasi, ongkos produksi bisa ditekan lebih mudah dari pada dengan menggunakan tenaga-tenaga Asia. Hal yang sama bisa terjadi dengan relokasi pabrik-pabrik milik perusahaan Amerika, kembali ke Amerika. Tindakan Trump hanya akan mempercepat proses robotisasi saja.
Dari statistik data resesi US, menunjukkakan bahwa resessi dimulai agak jarang terjadi sejak tahun 1920an. Ada yang menarik dari data resessi sejak tahun 1920an ini. Setiap kali ada pergantian presiden dari partai yang berbeda, dan/atau presiden sebelumnya menjabat dua (2) masa bakti, maka di akhir masa kepresidenan yang lama atau di awal masa kepresidenan yang baru, peluang resesi besar sekali.
Misalnya, George Bush Jr (2001 – 2008) dari partai Republik dan 2 kali berturut-turut menjabat presiden, kita lihat ada resessi tahun 2008 – 2009, yaitu diakhir masa jabatan Bush (Republik) dan di awal masa Obama (Demokrat). Demikian juga presiden sebelum Bush Jr. (Republik) yaitu Clinton (1993 -2001, dari Demokrat). Resessi di US terjadi di tahun 2001. Juga dari Jimmy Carter (Demokrat, 1977 – 1981) ke Ronald Reagan (Republik, 1981 – 1989) terjadi resessi di tahun 1981 – 1982. Pergantian dari Lyndon Johnson (Demokrat) ke Richard Nixon (Republik) tahun 1969 juga terjadi resessi awal 1970. Dan di bagian akhir dari data adalah dari Truman (Demokrat) ke Eisenhower (Republik) di tahun 1953, di tahun itu terjadi resessi. 
Kasus yang agak berbeda adalah resessi 1929 terkenal. Presiden sebelumnya adalah Calvin Coolidge (Republikan) menjabat dua periode kepresidenan 1923 – 1929, sebelum digantikan oleh Hoover Republikan juga (1929 - 1933).
Anda bisa lihat data-data diantaranya, seperti dari Eisenhower (Republik) ke Kennedy (Demokrat) yang juga mengalami resessi pada periode peraligannya dan presiden lainnya.
Kalau EOWI meramalkan bahwa tahun 2017 akan ada resessi di US, bukanlah tebakan asal-asalan denga peluang randomnya kecil. Ada statistiknya dan ada penjelasannya.
Presiden jika sudah dua (2) kali memegang masa jabatannya, diakhir masa jabatannya yang ke II, tidak punya motivasi lagi untuk melakukan yang terbaik, karena sudah tertutup baginya untuk menjadi presiden pada periode selanjutnya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan pekerjaannya. Oleh sebab itu semangat dan kinerjanya menurun. Nah ini bisa menyebabkan resessi di akhir masa pemerintahannya atau setidaknya ekonomi sudah rentan resessi.
Pergantian platform partai dari presiden akan menaikkan peluang resessi di awal pemerintahan presiden berikutnya. Presiden yang baru harus memilih banyak staff dan birokrat dari partainya dan menyingkirkan birokrat lama (dari partai lawannya). Ini perlu waktu yang tidak cepat, sebab para kroni-kroni bisnis yang punya kepentingan atas jalannya pemerintahan harus memulai lobby kepada orang-orang yang baru.
Hal ini berlaku kepada Trump, apa lagi dia mau membongkar habis program-program Obama, mulai dari Obama Care, politik luar negri, perjanjian-perjanjian perdagangan dan lain sebagainya. Trump akan membongkar program-program Obama, memilih orang-orangnya dan menyusun programnya sendiri. Praktis dalam beberapa bulan pertama tidak ada program yang jalan, karena sedang dibongkar atau sedang disusun oleh teamnya atau sedang dibikin rencananya. Dengan kata lain pemerintahan Trump belum bisa on top of the issues dalam tahun 2017 ini. Sedangkan tahun 2016 saja bukan tahun yang kuat bagi ekonomi US. Pertumbuhan rata-rata untuk tahun 2016 adalah 1.9% dan untuk kwartal-4 2016 hanya 1.6%. Pertumbuhan ini jauh dari normal 4%. Dengan demikian, wajar jika punya antisipasi bahwa di akhir tahun 2017 (atau awal atau pertengahan 2018) mulai terjadi resessi di US.
Faktor lain yang memperkuat peluang resessi adalah faktor demografi. Semakin banyak baby boomers yang memasuki masa pensiun. Konsumsi (permintaan terhadap barang) akan berkurang untuk membuat ekonomi tumbuh pada level normal (sekitar 4%).
Dampak Perlambatan Ekonomi US
Tadi telah dibahas bahwa terjadinya resessi di US yang dimulai antara akhir 2017 dan pertengahan 2018 peluangnya cukup tinggi. Dan resessi ini akan menjalar ke ressesi atau perlambatan ekonomi global. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari ekonomi negara-negara lain. Jepang masih nyaris nol pertumbuhannya. Eropa juga sulit diandalkan. Cina, sedang sibuk sendiri dengan bubble di sektor properti dan manufakturingnya. Dan India tidak cukup besar untuk menutup/mengimbangi perlambatan di US.
Resessi global ini bisa menjadi pemicu pecahnya beberapa bubble yang tercipta akibat reflating (quantitative easing) yang dimulai dari tahun 2008. Bursa saham Amerika, saat ini adalah yang termahal ke-3 setelah pra-pecahnya bubble 2000 dan pra-1929 crash. Valuasi saham di US saat ini tidak murah, bahkan termahal ke-3 dalam sejarah.
Secara teknikal sangat mungkin (lihat chart berikut). Indeks DJIA sudah membentur resistance atasnya pada formasi megaphone.
Akankah bubble di bursa saham US meletus?
Perkiraan EOWI Trump rally masih akan berlanjut sampai pertengahan tahun 2017 ini dan indeks Dow masih bisa ke 22,000, sehingga valuasinya disekitar valuasi tahun 1929, valuasi pra - the great depression. Volume perdagangan saham meningkat drastis bersamaan dengan kemenangan Trump. Itu perlu dipertimbangkan dalam mengantisipasi pergerakan saham kedepan. Saham diperkirakan akan mulai merangkak turun pada saat sessi “sell in may and go away” dan berlanjut pada October the jink month. Akhirnya saat yang tidak pernah anda lihat seumur hidup datang dengan cepat. Dan......, lupakan the Fed. Mereka tidak akan bisa menurunkan suku bunganya lebih dari 3 poin, karena yang tersisa hanyalah 0.75% yang sebelumnya tidak waktu dan peluang untuk bisa dinaikkan.
Catatan Akhir
Episode terakhir dari tragedi ekonomi yang digambarkan pada Gejolak 2014 – 2020 punya meluang akan dimulai pada tahun 2017. Sejarah menunjukkan bubble selalu akan pecah. Hanya saja waktunya sulit untuk ditentukan, apa lagi bubble yang terjadinya hanya sekali seumur hidup. Manusia tidak pernah mengalaminya sendiri hal yang serupa sebelumnya. Sehingga sulit percaya dan sulit menebak kapan datangnya. Tetapi dengan berjalannya waktu, kita bisa menerka-nerka jarum-jarum kejadian yang berpotensi sebagai pemecah bubble. Dan kali ini adalah naiknya Trump dari partai Republik menggantikan Obama dari partai Demokrat yang bertahta selama 2 periode kepresidenan US. Set-up semacam ini secara statistik berpeluang menimbulkan resessi (di US), yang akhirnya menjadi pemicu pecahnya bubble saham, hutang, komoditi dan properti global. Kita tidak lagi berbicara tentang US, tetapi tentang kondisi dengan cakupan global.
Emas akan jatuh menembus $1000 dan akhirnya menyentuh target yang dinubuatkan pada Gejolak 2014 – 2020, yang kemudian counter-trend rally akan menjadi selingan sebelum turun lagi ke level di bawah $700.
Ini juga berlaku untuk komoditi lainnya. Sedangkan saham, indeks Dow akan terkoreksi 40% - 50%, kemudian akhirnya ke 5000 – 6000, setelah ada selingan counter-trend rally.
Kejadian ini disebut crash, bubble burst, atau apapun yang menggambarkan ukuran dan kecepatan yang terlibat dalam proses ini. Dalam bilangan 2 - 4 bulan koreksi bisa mencapai 40%. Pada saat itu, sulit untuk bereaksi, karena perlunya kecepatan pengambilan keputusan dan gerak. Oleh sebab itu, saat ini kita sudah bersiap pada posisi bertahan. Andaikata crash yang diantisipasi tidak muncul pada tahun ini, tidak perlu kecewa. Karena lebih baik sudah pada posisi bersiap menghadapi crash, dari pada menunggu sampai datangnya crash, yang kemudian sudah terlambat untuk mengambil tindakan yang membuahkan penyesalan selama sisa hidup kita. Kata “penyesalan selama sisa hidup kita” bukan pernyataan yang berlebihan, karena kejadian ini hanya terjadi selama hidup kita. Kejadian yang setara baru akan dialami oleh generasi anak-anak kita.
Sekian dulu, untuk pandangan mengenai ekonomi global tahun 2017. Kita akan bahas bagian terakhir yang akan menyinggung mengenai ekonomi Indonesia.
Ada tambahan catatan akhir, jika tahun 2017 - 2018 ini target EOWI yang dinubuatkan pada Gejolak 2014 – 2020 mengena, EOWI akan menyusun sebuah nubuat lagi. EOWI melihat adanya banjir darah di nusantara pada periode antara tahun 2025 dan tahun 2030. Mungkin akan memanjang sampai tahun 2033. Disebut banjir darah, karena korbannya bukan dalam bilangan ribuan atau puluhan ribu, melainkan ratusan ribu.
Nampaknya cerita ini harus diungkapkan walaupun sebenarnya saya tidak suka pada kekerasan, gloom and doom drama. Siapa tahu ada tindakan-tindakan untuk mencegahnya.
Jaga kesehatan dan tabungan anda baik-baik, sampai minggu depan, insya Allah.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, January 18, 2017

Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017



(Bagian II)

Jokowi: Dari Dukungan Penuh ke  Kehilangan Legitimasi
Di Indonesia ceritanya mirip tetapi tidak sama. Setidaknya belum selesai, gambar keseluruhannya belum lengkap, mungkin tahun-tahun mendatang foto politik Indonesia secara keseluruhan akan lengkap. Kalau di US muncul ksatria hitam usahawan Trump, di Itali pelawak Beppe Grillo, di Indonesia sebelum itu semua adalah munculnya Jokowi, tokoh yang memperkenalkan blusukan, mencitrakan dirinya seperti madam Teresa mengalahkan sosok bercitra gagah pangeran berkuda, Prabowo. Citra pangeran dari kelompok mapan dikalahkan oleh sosok bercitra rakyat biasa. Tentu saja semuanya itu citra yang dibuat dengan bantuan media massa. Yang sesungguhnya......entahlah, Tuhan lebih tahu, tetapi saya sudah tidak percaya pada media besar.
Kisahnya tidak berhenti disitu. Dua tahun kemudian muncul Habib Rizieq dipenghujung tahun 2016, mengalahkan popularitas Jokowi. Pada demo 2 Desember 2016, kira-kira ada 3 juta rakyat jelata peserta demo yang dimotori Habib Rizieq, MUI dan para kyai mengalahkan jumlah pada demo tandingan disponsori oleh kaum golongan mapan, konglomerat, pemilik stasiun TV, dan elit politik. Pasalnya... penistaan agama oleh Ahok, mantan wakil gubernur Jokowi semasa menjabat posisi gubernur Jakarta.
EOWI tidak melihat kejadian ini merupakan suatu kemarahan sekelompok masyarakat yang agamanya dinistakan, karena sebagian besar orang yang mengaku Islam tidak tahu tentang Islam dan mungkin tidak tahu apa yang diucapkan oleh Ahok. Demonstrasi 2 Desember 2014 dan balasannya tidak lain suatu proses penajaman polarisasi di masyarakat, antara kelompok mapan, yang ekonominya kuat, masih stabil, punya posisi politik dengan kelompok yang terpinggirkan, yang bukan siapa-siapa. Dan Jokowi sudah tidak dianggap sebagai simbol yang pro kaum pinggiran, melainkan dari kaum mapan dan politikus. Buktinya, ketika demonstrasi sebelumnya demo 411, pada tanggal 4 November 2016, Jokowi lebih suka sowan ketua dan tokoh-tokoh partai untuk minta dukungan dan minta bantuan, ketimbang berdialog dengan para wakil demonstran. Lengkaplah citra Jokowi sebagai kubu pro kaum mapan. Apalagi, pemerintah semakin mengetatkan apa yang boleh dilihat dan apa yang tidak boleh dilihat oleh publik, sensor.
Di Jakarta, memang yang dilakukan Ahok sebagai gubernur adalah membuat Jakarta lebih nyaman bagi beberapa segmen masyarakat, yaitu yang mapan, yang resmi, yang....., tetapi mematikan kelompok-kelompok pinggiran. Relokasi orang-orang gusuran sama saja mencabut mata pencaharian mereka. Karena kaum pinggiran rumahnya itu adalah hidupnya. Mata pencahariannya berdekatan dengan rumahnya.
Beberapa waktu lalu ada video beredar di dunia maya, Jakarta Unfair. Saya tidak tahu berapa lama video ini bisa ditonton, karena sensor pemerintah semakin kuat saat ini. 


Ambil contoh juga kasus Kalijodo, sebelumnya tempat ini, di samping pemukiman kumuh, juga tempat orang mencari makan. Sekarang menjadi taman bermain. Memang banyak yang memuji. Itu adalah kaum yang punya waktu untuk bermain dan menikmati taman. Tetapi bagi yang harus selalu bergelut dengan aktivitas mencari uang, maka ceritanya lain lagi.

Kaum mapan lainnya yang bisa memanfaatkan Kalijodo baru adalah artis yang cari uangnya mudah dan bergengsi (penjual lendir juga mencari uangnya mudah, tetapi tidak bergengsi).

Ada teman saya yang protes, bahwa para penjual lendir juga cari uangnya mudah, tetapi kenapa tidak EOWI kategorikan sebagai kaum mapan? Memang para penjual lendir Kalijodo yang tergusur itu cari uangnya mudah, tinggal mengangkang saja, dan expiry date (waktu kedaluwarsa)nya juga pendek seperti para artis. Kalau sudah tua tidak laku. Tetapi occupational hazzardnya tinggi. Resiko terpapar penyakit, bertemu pelanggan yang tidak ramah dan banyak lagi menjadi resiko pekerjaan.
Jokowi dan Ahok walaupun di bawah naungan PDIP yang dulu katanya partainya wong cilik, yang sebenarnya adalah partai yang mengambil citranya wong cilik. Pembaca EOWI tahu tentang Keppress 81 2004 yang ditanda-tangani Megawati, isinya memnghadiahi dirinya sendiri nanti beberapa hari berselang ketika ia sudah tidak menjabat posisi presiden sebanyak....., ekivalen dengan 200 kg emas pada waktu itu. Saya tidak tahu apakah ia juga mengambil jatah wakil presiden, yang secara legal ia juga berhak atau jumlah yang sama. Kalau dia ambil maka ia akan memperoleh kekayaan senilai 400 kg emas dimasa itu. Hmmmmm......., ketua partainya wong cilik. Apakah partainya wong cilik sekarang ini dicintai oleh wong cilik atau oleh para artis dan pengusaha? Entahlah.


Penanganan wong cilik, kaum terpinggirkan dalam perkara gusur menggusur mungkin hanya sebatas citra, dalam arti ada dalam perencanaan dan di atas kertas bisa ditunjukkan ke publik. Tidak usah melihat penggusuran/pemindahan penduduk, pengalaman menunjukkan penutupan beberapa lokalisasi pelacuran yang notabene tempat maksiat, menyisakan banyak persoalan, seperti yang dialami oleh pemda Bandung. 
Pelatihan, sekolah nampaknya tidak banyak membantu. Orang-orang yang sudah dilatih, kemudian ternyata sulit untuk memperoleh lapangan kerja dengan keterampilan yang baru diperolehnya. EOWI tidak yakin kalaupun deparemen pendidikan dan kebudayaan diikutkan untuk mendesign kurikulum pelatihan tersebut akan menjamin keterampilan tersebut laku di pasar kerja.
Fakta tidak berhenti disitu. Tanggal 8 Januari 2017 lalu, artis-artis dan band yang mempunyai nama menggelar keramaian di Citos Jakarta. Itu tidak sekedar hiburan yang disebut Flash Mob, tetapi kampanye untuk Ahok dan membagi-bagikan selendang bermotif kotak-kotak simbolnya Ahok. Kita bisa lihat dari kelompok mana para pendukung Ahok, kaum mapan atau kaum pinggiran. 

Kasus Jokowi ini menarik. Ia bisa naik menjadi gubernur DKI, kemudian belum lagi masa jabatan gubernurnya selesai, ia berhasil memenangkan pemilihan presiden RI. Semua ini berkat teknologi media massa yang dimiliki kaum mapan yang mencitrakan Jokowi datang sebagai dewa kelompok populis – pejabat yang suka blusukan, bukan orang partai, sederhana, dan kalau berpergian naik pesawat komersial bersama rakyatnya. Citra itulah yang melontarkan dirinya ke kursi kepresidenan RI tahun 2014 oleh media massa milik kaum mapan. Harus diingat bahwa semua stasiun TV adalah milik kaum mapan. TVRI yang milik pemerintah sudah dikebiri dan jarang penonton. Dan yang bisa pasang spanduk serta baliho adalah mereka yang punya duit.  
Bagi Jokowi, menjadi populis setelah 2 tahun adalah dilema. Pilihan memihak orang-orang yang memilihnya atau Ahok, partnernya dalam pemilihan gubernur Jakarta serta partai pendukungnya. Ahok sebagai pilihannya menjadi jelas ketika terjadi pemburuan tukang sihir, alias witch hunting. Satu persatu lawan-lawan Ahok diburu. Mulai dari Ahmad Dani yang jelas-jelas mengekspressikan permusuhan terhadap Ahok dan Jokowi, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas yang anti kemapanan siapapun rejimnya. Kivlan Zein, Adityawarman Thahar TNI yang setahu EOWI tidak punya track record politik, Buni Yana yang mengunggah video Ahok dan sederet lagi sampai 11 orang. Sebagian besar tuduhannya adalah permufakatan jahat untuk makar dan sejenisnya. Habib Rizieq dan pentolan FPI, EOWI ramalkan akan juga dikejar dalam beberapa waktu yang akan datang. Penangkapan orang yang punya pengikut, timingnya harus tepat. Seperti episode penangkapan Jesus yang direncanakan oleh Judas yaitu pada saat orang banyak tidak sadar, tidak tahu.
Fasisme mungkin sudah tradisi Indonesia. Kalau Kondratieff winter diwarnai oleh tumbuhnya fasisme, Indonesia sepanjang berdirinya, aroma fasismenya lebih panjang. Dari 7 presidennya adalah 3 fasis atau calon fasis. Mulai dari Sukarno, Suharto dan sekarang Jokowi, fasis yang santun. Sukarno tidak segan-segan memenjarakan orang-orang yang berbeda pandangan politiknya dan yang mengkritisinya seperti Sutan Syahrir, Kasman Singodimejo, Mohammad Natsir, Prawoto, Hamka, Mochtar Lubis, Yunan Nasution dan sederet lagi, serta tidak segan-segan menghukum mati kawan seindekosnya Kartosuwiryo. Suharto juga dikenal tangan besi terhadap lawan-lawan politiknya dan orang-orang yang mengkritiknya dan punya perangkat untuk itu, seperti Kopkamtib. Sekarang Jokowi, mulai menerapkan pasal makar yang penginggalan jaman kolonial. Tidak hanya itu, Jokowi sudah mengkaretkan/menarik pasal yang dulunya diartikan sebagai melawan kekuasaan dengan senjata, sekarang dengan transfer uang, dengan penyediaan makan siang, transportasi, sudah cukup disebut makar.
Tidak terlalu mengherankan jika pasal fasis Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP akan sering digunakan di Indonesia. Secara umum fasisme subur selama periode Kondratieff winter.
Di samping penajaman polarisasi kelompok dan fasisme, masyarakat Indonesia juga terkena wabah peningkatan chauvinisme. Targetnya pekerja-pekerja illigal Cina. Pekerja illigal dari Cina sudah ada semenjak dulu. Mereka dibawa oleh kontraktor-kontraktor Cina. Ini mengingatkan saya ketika melakukan pengeboran sumur gas/minyak, beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang bekerja di lokasi pengeboran tidak mempunyai surat-surat ijin yang lengkap. Jika akan ada inspeksi dan pemeriksaan dari kanwil Depnaker, pekerja-pekerja Cina ini disuruh masuk hutan dulu.
Dulu ada pembiaran, bahkan dibantu ketika harus disembunyikan. Sekarang ceritanya lain. Mereka akan dilaporkan, kalau tidak ada tindakan dari instansi berwenang, akan disebarkan di internet untuk menekan pemerintah agar bertindak. Jangan heran, berita tentang tiba-tiba ditemukan sebuah kampung yang isinya pekerja Cina, TKA (Tenaga Kerja Asing) Cina illegal bertebaran di internet. Silahkan google search untuk membuktikannya.
Pada saat lapangan kerja menciut, tenaga-tenaga asing akan dimusuhi, dan yang paling lemah adalah mereka yang tidak punya surat-surat alias illegal.
 Sekian dulu, sampai nanti.
Catatan, banyak Youtube link yang kami rujuk sudah dihapus. Ini resiko jaman fasisme.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, January 4, 2017

Trump, Setya Novanto, Sksndal, MSBC dan Bisnis Property

Ada video tentang Trump dan Indonesia. Berita yang menarik......adalah bahwa Trump ingin berinvestasi di Indonesia.

Berikut adalah link ke videonya.



Di-update tgl 16 Jan 2017 dengan link yang lain.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, December 29, 2016

Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017



(Bagian I: Politik dan Sosial Global)

Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh kejutan baik untuk global dunia atau dalam negri bagi yang tidak siap atau tidak bisa berkutik. Tetapi semuanya itu masih dalam kerangka Kondratieff winter.
Sebelumnya kita lihat score card EOWI dalam kaitannya ramalan Gejolak 2014 -2020. Satu (1) ramalan EOWI yang dituangkan dalam Gejolak 2014 – 2020 terpenuhi. Pada tanggal 15 Januari 2016 harga minyak menembus $30 per bbl, kemudian rebound sedikit dan kejatuhannya berlanjut sampai $26 pada tanggal 11 Februari 2016 sebelum rebound ke level saat ini (pada saat tulisan ini dibuat) $53. Satu hutang (ramalan 2014 - 2020) EOWI terpenuhi. Walaupun harga minyak mengalami rebound, jangan bergembira dulu, karena rally yang dimulai dari bulan Februari 2016 lalu adalah counter-trend rally. EOWI melihat counter-trend rally ini sudah, setidaknya hampir berakhir. EOWI berpendapat bahwa dalam 24 bulan mendatang, harga minyak akan kembali ke wilayah di bawah $30 per bbl.
Di sektor properti, kalau mau dikatakan sudah memasuki target, bisa juga. Di Jakarta dan sekitarnya, kalau dulu spanduk advertensi properti bunyinya: “Tanggal .......harga naik.” Sekarang bunyinya: Discount ....% dan Bonus mobil, kitchen set .....” Artinya sektor properti sudah beku dan harga sudah turun. Mungkin secara nominal belum turun, tetapi dengan discount dan bonus ini dan itu, sama saja dengan harga yang turun. Jadi walaupun masih bisa didebat, tetapi bisa dikatakan bahwa ramalan untuk sektor properti sudah terpenuhi. Sekarang tinggal sektor saham (4000 – 5000 untuk indeks Dow Jones Industrial), harga emas (di bawah $700/oz), kurs US dollar ke rupiah (Rp 17,000 per US$) dan kejatuhan junk bond. Sebagian dari target ini mungkin bisa dicapai dalam 24 bulan mendatang antara tahun 2017 – 2018.
Dalam rangkaian tulisan ini, kita akan bahwa apa yang telah terjadi di tahun 2016 dan bagaimana gambaran yang EOWI peroleh dari ekstrapolasi mengenai tahun 2017 di bidang politik, sosial dan ekonomi baik untuk dunia dan juga dalam negri.
Seperti yang dikisahkan dalam Gejolak 2014 – 2020, bahwa saat ini dunia sedang dalam periode Kondratieff winter. Di dunia politik, ciri-ciri Kondratieff winter masih sangat kental. Polarisasi dalam masyarakat dan dunia semakin meningkat/menguat. Semangat populisme memperoleh dukungan yang kuat. Kemenangan kandidat yang yang mengusung populisme secara tidak terduga memenangkan pemilihan kursi politik. Populisme yang bisa aliran kiri, kanan atau tengah, tetapi intinya gerakan ini adalah penggalangan penyatuan kelompok rakyat biasa mengambang yang tidak punya kedudukan, tidak punya kekuatan politik, tidak punya tempat di dunia politik. Mereka bersatu melawan elit politik yang licik, punya kedudukan/kekuatan politik/partai, didukung oleh kaum kaya dan intelektual. Walaupun belum nampak jelas, gerakan polulisme, sebagian akan mengalami metamorfosa menjadi fasisme, pemaksaan coercion. Kita akan lihat hal ini dalam tahun-tahun mendatang.
Nasionalisme dan chauvinisme kedaerahan, suku, agama juga semakin meningkat. Ketegangan politik global juga mengalami eskalasi. Walaupun masih berwujud perang proxi, medannya berpindah, tetapi lebih intense dalam arti kerusakan yang diakibatkannya dan kematian yang ditimbulkannya dibandingkan tahun 2015 atau sebelumnya.
Sosio-Politik: Tumbuhnya Populisme, Matinya Pluralisme dan Globalisasi
Tanggal 23 Juni 2016, dunia dikejutkan dengan hasil referendum di UK – Britannia Raya. British (orang Indonesia menyebutnya Inggris) memilih keluar (leave) dari Uni Eropa. Hasil referendun ini mengejutkan karena jajak pendapat sebelumnya menunjukkan dominasi tetap (stay) di dalam Uni Eropa. Secara historis selama tahun 1973 – 2015, hasil jajak pendapat cenderung ke arah tetap bersama Uni Eropa atau pendahulunya, yaitu Masyarakat Ekonomi Eropa. Pada dekade 70an dan 80an yang punya kecenderungan untuk memisahkan diri dari Uni Eropa dan Masyarakat Ekonomi Eropa datangnya dari Partai Buruh. Tetapi sejak tahun 90an motornya adalah partai gurem pendatang baru yaitu UK Independent Party, UKIP dan beberapa anggota Partai Konservatif. Suatu hal yang menarik adalah ketua UKIP, Nigel Farage punya karakter yang sangat sarkastik. Mendengarkan pidato-pidatonya di parlemen Uni Eropa, bagi saya sebagai seorang penggemar humor sardonik, sangat menghibur.
Untuk beberapa saat rakyat Inggris yang notabene melakukan referendum sempat bingung dengan hasilnya.
Kemenangan Brexit merupakan perwujudan semangat chauvinisme, nasionalisasi yang menajam dan awal kematian dari globalisasi. Inggris tidak ingin bersatu dengan Eropa! Ingin merdeka!
Ternyata di dalam Inggris sendiri, benih-benih perpecahan sudah berkecambah. Scotland dan Irlandia Utara ingin keluar dari UK dan memisahkan diri dari England.  Ini akan menarik karena ratu Inggris, juga merupakan ratu Scotland dan England. Mungkin juga tidak menarik, karena ratu Inggris adalah juga kepala negara Canada dan Australia.
Brexit juga merupakan kemenangan bagi aliran populisme mengalahkan elit politik di Brussel yang menetapkan aturan-aturan yang bukan aspirasi rakyat. Elit-elit politik di Brussel ini tidak mewakili rakyat Inggris atau rakyat manapun karena tidak dipilih berdasarkan pemilihan umum.
Kemenangan populisme kembali mengejutkan dunia pada bulan November 2016, yaitu kemenangan Donald Trump, orang yang tidak pernah menduduki posisi politik dan pemerintahan atas Hillary Clinton, seorang politikus kawakan untuk posisi presiden US ke 45. Trump non-politikus menang telak 306 : 232 electoral vote atas politikus kawakan Hillary.
Kampanye Trump lebih dekat pada dagelan. Tentu saja menjadi sasaran bully media yang kebanyakan pro kaum elit,  Hillary. Misalnya ketika media meributkan (mengolok-olokan) video Melani Trump yang memberi pidato, yang notabene jiplakan dari pidato Michelle Obama, Donald Trump malah menanggapinya dengan dagelan (kurang lebih): “Saya heran, kalau Michelle Obama memberi pidato seperti itu, orang-orang memberi applause. Sedang kalau istri saya, memberikan pidato yang sama, orang-orang kok mengejek. Saya ini korban bully.“
Ketika media hendak menorehkan citra buruk dengan menayangkan rekaman percakapan tidak senonoh Donald Trump di dalam bus, ia malah membuat hal itu sebagai dagelan. Demikian juga ketika Trump membuat area debat di TV menjadi dagelan, dengan celetuk-celetukannya yang konyol dan lucu. Beberapa programnya seperti mau membuat tembok pemisah di perbatasan dengan Mexico dan membebankan biayanya ke Mexico, sangatlah konyol.
Sampai saat ini Trump belum menjabat posisi presiden US, tetapi sudah membuat banyak orang gerah. Salah satunya melakukan hubungan telepon dengan pemimpin Cina Taiwan president Tsai Ing-wen. Tidak hanya itu, Trump juga melakukan pembicaraan dengan pemimpin Russia tentang pentingnya meningkatkan (baca: bukan mengurangi) persenjataan nuklir. Tentu saja ini berlawanan dengan policy US dan global dimasa lalu. Trump memang menjungkir-balikkan semua tatanan yang sudah mapan. Selanjutnya bagaimana?
 Akankah Trump merapat ke Taiwan dan Russia, dan menjauh dari Cina? Jadikah Trump membuat tembok besar yang memisahkan USA dengan Mexico dan biayanya dibebankan ke Mexico? Akankah Trump menyobek-nyobek perjanjian perdagangan NAFTA, dengan Pasifik, juga komitmen US terhadap pemanasan global dan lingkungan hidup? Semuanya akan terjawab ketika Trump sudah memangku jabatan presiden US. Perdagangan global pada kenyataannya sudah menyurut, dengan adanya Trump, proses ini akan mengalami percepatan. Demikian juga global out-sourcing, akan mengalami hal yang sama. Yang pasti tenaga kerja professional Indonesia sudah 3 tahun terakhir ini banyak yang pulang kampung, pulang ke Indonesia. Tentu ini menjadi problem bagi Indonesia.
Bagi Indonesia, ada solusi yang bisa diajukan yaitu menawarkan kepada Trump agar mau bergabung dengan Indonesia dan menjadikan USA sebagai provinsi Indonesia ke 35, dan Trump hanya mau jadi gubernur saja. Ini akan membuat out-source tidak lagi lintas negara, hanya lintas-provinsi dan professional pribumi di Jawa tidak perlu kerja di luar negri, melainkan hanya di provinsi jauh yang bernama provinsi USA.
Siapa tahu Trump mau?
Prilaku Trump dalam kampanye mengingatkan saya pada partai politik favorit saya Rhinoceros Party di Canada (1963 – 1993). Partai ini landasannya adalah satir politik. Kredonya atau janji primodialnya: “janji untuk tidak ditepati sama sekali”. Dalam kampanye mereka memberikan janji yang konyol dan tidak masuk akal dan pasti tidak bisa ditepati. Tujuannya hanya untuk menghibur para pemilih. Seperti janji Trump untuk membangun tembok pemisah dengan Mexico dan biayanya akan dibebankan ke Mexico, sudah mendekati janji-janji Rhino Party. Contoh janji yang mungkin dilontarkan Rhino Party adalah membuat riset senjata hormon, yang bisa mengubah para tentara lawan menjadi homosexual dan bergairah (terangsang), sehingga jika bom ini dijatuhkan ke wilayah lawan, maka tentara lawan akan sibuk sendiri saling mencumbu serta melupakan perang.
Beberapa anggota partai mengaku berdiologi Marxist-Lennonist (bukan Marxist-Leninist) yang mengacu pada Groucho Marx (comedian) and John Lennon (penyanyi).
Partai Rhino ini adalah partai favorit saya ketika tinggal di Canada. Kalau pembaca berpikir saya mengada-ada, silahkan mencari sendiri dengan google, dimulai dengan Wikipedia
Rhino Party yang katanya punah tahun 1993, ternyata tahun 2015 kembali ikut pemilihan umum Canada. Apakah pertanda kebangkitan aliran populis? Beberapa program yang diusungnya antara lain:
  1. Untuk membasmi kriminalitas (baca: pelanggaran hukum), hapus semua hukum dan peraturan (jadi tidak ada lagi pelanggaran aturan, karena aturannya tidak ada).
  2. Menghapus 2 bahasa resmi Canada (Inggris dan Prancis) dan menggantikannya dengan 2 telinga resmi (untuk mendengarkan bahasa Inggris dan satu lagi untuk bahasa Prancis.
  3. Memperbaharui Lottere Canada dengan menggantikan hadiah uang dengan kursi (posisi) di parlemen.
Kalau Nigel Farage UKIP yang motornya Brexit, atau Trump yang presiden terpilih US adalah bukan komedian asli, tetapi kampanyenya cukup membuat tersenyum dan menghibur. Lain halnya di Itali, dimana referendum dimenangkan oleh kubu yang dimotori oleh pelawak sungguhan, Beppe Grillo.
Referendum Italia bertujuan untuk meminta persetujuan rakyat untuk mengubah konstitusi Italia. Jika ada perubahan ini, pemerintah (elit politik) bisa lebih leluasa (berkuasa). Ini merupakan pertarungan antara partai yang sudah mapan (partai demokrat) yang dipimpin oleh perdana menteri Matteo Renzi yang mengusulkan amendmen (yes), melawan partai pendatang baru yang euro sceptic yaitu Five Star Movement, dipimpin oleh seorang pelawak Beppe Grillo untuk kubu menolak (no) amendmen konstitusi. Dan hasilnya kemenangan telak 59.4 : 40.6 pendatang baru Euro sceptic pelawak Beppe Grillo pada 5 Desember 2016 lalu. Ini memaksa perdana menteri Matteo Renzi untuk menyerahkan posisi perdana menterinya.
Kemenangan Five Star Movement akan membuka peluang yang lebih besar kemungkinan Italia keluar dari Uni Eropa dan kembali ke lira. Dengan hutang pemerintahnya yang tinggi, cara yang terbaik dan elegan adalah dengan mengkonversikan hutang-hutang itu ke lira, kemudian mendevaluasi nilai lira.
Belum lagi problem yang ada bank tertua di dunia yang ada di Itali, Monte dei Paschi di Siena, yang punya kesulitan liquiditas (baca: solvency) dan gagal mencari investor swasta untuk membantunya. Walaupun pemerintah Itali sudah bersedia memberi bantuan €20 milyar, desakan terus menekan agar rakyat tidak disuruh menalangi kerugian bank dengan pemerintah yang memberi bantuan tetapi para investor bond bersedia menerima kerugian. Penyeleamatan bank ini oleh pemerintah akan membuat partainya Matteo Renzi semakin tidak populer. Disamping itu Merkel, chancellor Jerman sudah bersiteguh untuk tidak melakukan penyelamatan bank Itali ini. Tentu saja rakyat Itali akan banyak yang berpikir “untuk apa Uni Eropa, kalau tidak bisa membantu anggotanya yang sedang kesulitan
Ancaman pecahnya Uni Eropa. Tidak saja datang dari Inggris dan Itali saja, tetapi juga dari Prancis. Marine Le Pen dan partainya Front National yang didirikan tahun 1972 sedang naik daun. Front National baru bisa ikut pemilihan presiden Prancis pada tahun 2002. Jadi relatif belum lama. Walaupun Front National memperoleh banyak suara dalam pemilihan umum, tetapi tidak banyak anggotanya yang masuk dalam pemerintahan. Tetapi hal ini akan berubah jika Marine Le Pen berhasil menduduki posisi presiden Prancis. Pada pemilihan presiden Prancis tahun 2012, ia menduduki posisi ke-3 di belakang François Hollande and Nicolas Sarkozy, dengan perolehan suara pada putaran pertama 28.63% : 27.18% : 17.90%, yang diikuti kurang dari 80% pemilih terdaftar.
Putaran pertama pemilihan presiden Prancis yang akan datang rencananya dilakukan pada bulan April 2017. Setelah 5 tahun banyak pergeseran-pergeseran mood sosial. Ketidak puasan masyarakat, meningkatnya rasa nasionalisme yang chauvinistis, anti immigrasi, anti globalisasi, Euro sceptic, serta banyaknya pemilih terdaftar yang tidak menggunakan pada pemilihan sebelumnya (2012), membuka peluang yang besar bagi Front National, Marine Le Pen untuk menang. Dan jika Le Pen menang, meluang terjadinya penataan ulang Eropa akan meningkat. Janji Le Pen tidak hanya keluar dari Uni Eropa, tetapi juga keluar dari Nato. Artinya, Uni Eropa hanyalah Jerman, mirip dengan batas-batas negara menjelang perang dunia II. Catatan, bahwa Belanda punya peluang untuk mengikuti jejak Inggris.
Politik Timur-Tengah patut dicatat adanya eskalasi perang baik dari perserta yang terlibat, juga intersitasnya. Secara tradisi yang sudah berlangsung beberapa dekade, perang terjadi di wilayah Troublestan dan Irak. Tahun 2016 arenanya pindah ke Suriah yang mengakibatkan aliran pengungsi yang besar sepanjang tahun 2016. Russia yang biasanya tidak terlibat langsung, mungkin setelah kemenangannya di Semenanjung Crimea, punya banyak waktu untuk mengubek-ubek Timur-Tengah.
Turki yang anggota NATO, beberapa kali terlibat dalam ketegangan dan insiden dengan Russia, menjelang akhir tahun 2016 terjadi lagi insiden pembunuhan duta besar Russia untuk Turki, Andrey Karlov. Penembaknya adalah anggota polisi Turki yang sedang tidak bertugas yang tidak suka terhadap keterlibatan Russia dalam serangan tentara pemerintah Suriah ke Aleppo. Tidak lama setelah insiden ini terjadi, ada berita di sosial media yang mengatakan bahwa duta besar Turki untuk Russia ganti diserang, tetapi pistol yang digunakan untuk menembaknya tidak berfungsi.  Ternyata itu hanyalah plintiran berita. Yang benar adalah penembakan Ahmed Dogan, pimpinan partai suku Turki di Bulgaria. Jadi kalau mau di-check di internet berita duta besar Turki untuk Russia ditembak, tidak akan dijumpai. Dan ini bukan pembunuhan yang direncanakan secara serius karena pistolnya pun adalah pistol gas yang tidak terlalu mematikan. Bisa mematikan hanya kalau jaraknya dekat sekali.
Timur-Tengah masih berlanjut. Bagaimana selanjutnya jika US merapat ke kubu Russia, Bashar al- Assad, Iran? Akankah Saudi ditinggalkan? Kalau ini terjadi....., haruskah Saudi berteman dengan al-Qaeda dan ISIS. Akankah Cina merapat ke Saudi dengan potensi Trump berkawan dengan Tsai Ing-wen dan Putin? Konstellasi politik Timur-Tengah punya potensi berubah. Perjalanan masih jauh.
Untuk Timur Jauh dan Pasifik, hanya ada Myanmar sebagai wilayah yang brutal, tidak seimbang, hanya pembunuhan massal dan genocide, penuh kesedihan. Muslim dibantai oleh Buddhist. Biasanya yang disebut teroris adalah yang muslim. Di Myanmar...., Buddhist belum disebut teroris walaupun sudah terbukti membunuh, menyiksa, membakar rumah orang-orang minoritas Rohingya. Sebabnya entah kenapa. Sedangkan di Indonesia, punya timbangan, paku-paku, buku kesehatan, buku bahasa Arab, sudah dicap teroris dan ditembak mati. Tidak ada perlawanan. Polisi ketika ditanya tentang beradaan bahan peledaknya, jawabnya hanya “belum datang, mereka sedang menunggu.”  Saya tidak tahu, bahwa menunggu kedatangan bahan peledak itu sebuah tindakan kriminal. Tidak ada bantuan dari sesama umat Islam sekalipun yang militant seperti Habib Rizieq, Front Pembela Islam (FPI). FPI ini tidak bisa disalahkan, karena namanya bukan Front Pembela Umat Islam (FPUI).
Timur-Jauh tidak terlalu menarik, mungkin karena kurang diberitakan. Mungkin juga wilayah ini sudah kehilangan tokoh-tokoh di satu pihak, sehingga membuat pertikaian kurang berimbang dan tidak menarik untuk diberitakan. Oleh sebab itu, kita akhiri dulu bagian Global Sosial dan Politik dari Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017. Kita akan lanjutkan untuk dalam negri yang sedang seru-serunya tetapi masih damai. 
Sejalan dengan mood masyarakat global yang menghendaki perubahan tatanan di dalam masyarakat, EOWI berniat untuk mendirikan sebuah partai politik. Untuk namanya ada beberapa pilihan masih belum ditetapkan antara lain Partai Mawas Pongo atau Partai Paus Hijau. Untuk platformnya EOWI tidak mau tinggi-tinggi, cukup ½ meter saja demi memenuhi faktor keselamatan operasi, kalau jatuh tidak fatal akibatnya. Kami harap pembaca EOWI akan mendukung gagasan kami.

(Bersambung)
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.