_____________________________________________________________________________________________________________________




Thursday, April 16, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (IV)



Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis  (IV)

Dua minggu lalu kita mulai suatu topik yang berjudul Sepuluh Potensi Pemicu Krisis dalam kerangka Gejolak 2014 – 2020. Topik yang sama juga dimaksudkan sebagai ramalan untuk tahun Kambing 4713. Poin-poin 10 potensi pemicu krisis yang akan menjalar ke full-blown 2014 – 2020 crisis (sengaja saya gunakan bahasa Inggris sebab saya mengalami kesulitan mengekspressikannya dalam bahasa Indonesia) yaitu:
  1. Bubble hutang dan bubble properti Cina meletus
  2. Penghembusan bubble US dollar
  3. Jerman mengalami resesi dan krisis disusul zone Euro
  4. Zone Euro pecah, Yunani keluar dari zone Euro diikuti oleh Spanyol, Portugal, Itali
  5. Dot Com jilid II
  6. Indeks Dow Jones secara teknikal terkoreksi dan dipersepsikan sebagai koreksi tajam.
  7. Kejatuhan harga bahan komoditi tambang dan minyak berlanjut dampaknya ke emerging market dan negara-negara OPEC
  8. FFF bubble meletus, junk bond bubble meletus
  9. Cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan (melonjaknya harga bahan pangan)
  10. Ekspor terorisme ke nagara barat (2000)
Untuk minggu ini, akan dibahas lanjutan dari minggu lalu, yaitu Jerman mengalami resesi dan Zone Euro pecah. Keduanya sebenarnya saling kait-mengait. Tetapi sebelum melanjutkan ke topik tersebut, kita akan melihat perkembangan dunia dalam kaitannya  ramalan 10 pemicu krisis.
Sebelum melanjutkan ke poin 3 dan 4, ada beberapa perkembangan mengenai poin ke 9 sebagai pemicu krisis, yaitu cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan. Mungkin pembaca membelalakkan mata melihat cuaca buruk dan gagal panen dijadikan pemicu krisi no.9. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta entah mengamati atau tidak, tetapi sungai-sungai di Jakarta masih tinggi level airnya. Sunter kadang-kadang banjir. Bahkan ketika artikel ini sedang ditulis, di Metro TV, disiarkan bahwa ada 2 rumah di Banjarnegara, hanyut oleh banjir dan juga Bandung Selatan.  Dari internet bisa dilihat sejak Februari lalu, beberapa tempat yang terkena banjir seperti Ngawi, Sumbawa, beberapa tempat di Jakarta, pantai utara Jawa (Pantura),......dan banyak lagi. Silahkan mencarinya di internet. Tetapi yang pasti, musim hujan belum selesai. Dan cuaca buruk seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi sifatnya global. Global warming? Bukan....., melainkan global cooling. Bulan Maret lalu, yang seharusnya sudah musim semi, tetapi di Itali, di US, New York masih turun salju. Bahkan minggu depan diramalkan akan ada badai salju di US. Pada saat harapan kita melihat bunga-bunga berkembang di bulan April, eee.. malah salju yang turun. Apakah ini global cooling bukan? 
Lalu, dalam kaitannya dengan bubble US dollar, tanggal 11 April ini, US dollar indeks kembali akan menguji level 100, setelah terkoreksi sampai ke level 96.
Itu berita terkini dari potensi pemicu krisis yang patut dimonitor sepanjang setengah dekade ini.

Jerman Mengalami Resesi Dan Krisis Disusul Zone Euro

Negara yang menjadi tiang penyangga zone Euro adalah Jerman, dalam arti diantara anggota-anggota zone Euro, Jerman adalah negara yang ekonominya paling besar (disusul Prancis). Sehingga kalau terjadi segala sesuatu yang buruk pada Jerman, maka dampaknya akan mengenai zone Euro lainnya. Dari tren pertumbuhan GDP Jerman, terlihat bahwa Euro sedang mengalami ancaman resesi. Sejak dari tahun 2011 GDP Jerman mengalami tren turun dari sedikit di atas 2% ke sekarang di antara nol dan satu. Kita bisa mengatakan bahwa penurunan dari 2% ke 0.5% secara nominal, kecil saja besarannya. Tetapi kalau dilihat dari tolok ukur lain, 2% adalah 4 kali 0.5%. Jadi cukup besar.


EOWI menempatkan Jerman sebagai pemicu krisis 2014 – 2020 no. 3 karena pertumbuhan GDP Jerman yang loyo dan penggerak pertumbuhan GDP Jerman, yaitu demografi, saat ini mengalami penuaan serta lemahnya pengganti generasi baby boomer Jerman yang memasuki masa pensiun. Dengan kata lain, konsumsi di Jerman akan menurun karena penuaan populasinya dan ini akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Jerman. Selanjutnya akan menjalar ke zone Euro.
Memang ECB (sentral bank Eropa) berusaha memompa ekonomi dengan QE (quantitative easing) yang aggressive. Ketika pertumbuhan ekonomi Jerman negatif pada kwartal II 2012, likwiditas dipompakan dengan membeli bond-bond pemerintah, sehingga ekonomi bisa rebound dan kembali di atas 0%. Harga bond naik dan yield bond dengan jangka jatuh tempo yang lama menjadi negatif. Bond pemerintah Jerman yang jatuh tempo 6 tahun, misalnya, mempunyai yield yang negatif. ZIRP atau  Zero Interest Rate Policy sudah berubah menjadi Negative Interest Rate Policy (NIRP). 


Memang pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan tidak mengalami kontraksi lebih dari 2 kwartal dengan usaha yang demikian aggressif. Investor pengejar bunga (penabung dan pensiunan), dihajar habis-habisan dengan diberi bunga yang negatif, dan berharap kecenderungan menabung mereka ini ditekan sehingga mau meningkatkan konsumsi. Tetapi mereka ini tidak bisa distimulasi untuk berbelanja padahal kredit murah juga disediakan. Hal ini nampak pada inflasi yang terjaga rendah. Turun dari sekitar 2.5% di tahun 2011 ke sekitar nol di tahun 2014 – 2015. Ini disebut deflasi. Mungkin orang akan lebih suka menyimpan uangnya di bawah kasur ketika dengan suku bunga negatif dipaksa berbelanja. Inilah deflasi.



Zone Euro Pecah, Yunani Keluar Dari Zone Euro Diikuti Yang Lain

Antara zone Euro pecah dan Jerman mengalami resesi adalah konsekwensi yang berurutan. Ketika Jerman mengalami kesulitan ekonomi, maka Yunani akan terkena dampaknya. Tidak ada resesi di Jerman saja, Yunani mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya, apalagi kalau Jerman jatuh dan pada posisi tidak bisa membantu. Jerman yang ekonominya mengandalkan ekspor, memerlukan anggota-anggota Euro pinggiran, seperti Yunani, Spanyol sebagai saluran ekspor barang-barang produksinya. Jadi wajar kalau Jerman mau membantu kesulitan negara-negara Euro pinggiran itu, karena ada pamrih.
Tetapi perdagangan yang tidak berimbang, dalam hal ini neraca Jerman selalu surplus sedangkan negara-negara zone Euro selatan selalu defisit, tidak bisa berlangsung terus dan suatu saat secara alami akan ada koreksi. Untuk sistem moneter yang didasari emas, neraca perdagangan yang timpang tidak bisa berlangsung lama, karena ketika emas harus berpindah tangan. Jerman menerima emas sedangkan negara zone Euro selatan menerima barang dari Jerman. Dalam kerangka sistem uang fiat berbasis hutang, ketimpangan neraca perdagangan seperti yang disebutkan di atas bisa berlangsung lama sekali. Dan inilah yang terjadi. Tetapi, yang disebut lama juga ada batasnya. Apakah sekarang ini sudah dekat dengan perbatasan itu? Ini adalah pertanyaan 323 milyar euro.
Dalam hal memberi bantuan, Jerman juga akan mempertimbangkan apakah bantuannya akan berguna bagi dirinya sendiri, dengan kata lain, apakah eknomoni Jerman bisa dipertahankan tidak mengalami kontraksi. Kalau ekonomi Jerman tidak bisa tumbuh, apa lagi yang mau diharapkan Jerman. Artinya bantuan Jerman sia-sia, pamrihnya tidak terbalas. Apalagi kalau bantuannya tersebut beresiko tidak bisa dibayar kembali.
Euro adalah eksperimen yang kemungkinan gagal dan tidak berumur panjang. Satu mata uang tanpa sistem fiskal yang terintegrasi. Sekarang sudah berumur 16 tahun. Saat ini pemerintah Yunani harus menyediakan sekitar €11 milyar antara akhir Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. Yaitu € 4.3 milyar di bulan Maret ini, € 3.5 milyar di bulan Juli dan € 3.2 milyar di bulan Agustus. Problemnya adalah pemerintah Yunani tidak punya uang.  Pemerintah Yunani sepanjang ingatan EOWI selalu mengalami defisit di dalam budgetnya. Artinya pemerimaan pemerintah selalu lebih kecil dari pada belanjanya. Perolehan pajaknya sepanjang ingatan EOWI tidak pernah bisa membayar pegawai pemerintah, melakukan perawatan infrastruktur, program-program sosial dan kewajiban-kewajiban yang dijanjikan pemerintah lainnya.


Akibat dari budget defisit yang berkepanjangan ini, hutang pemerintah Yunani semakin bertumpuk. Apakah Yunani bisa membayar kewajiban-kewajibannya? Menurut opini EOWI adalah “TIDAK”.


Alasan kenapa pemerintah Yunani tidak pernah bisa membayar hutangnya adalah bahwa Yunani adalah negara defisit. Secara keseluruhan dan sepanjang ingatan EOWI, Yunani hidup dari hutang, lebih besar pasak dari pada tiang, kebih besar pengeluaran dari pada penghasilan. Neraca perdagangan Yunani selalu mengalami defisit artinya, lebih banyak yang dibeli (untuk dikonsumsi) dari pada yang dijual.


Pada akhirnya pemerintah Yunani harus berhenti berhutang, mengemplang hutang (dan/atau menegosiasikan hutangnya kembali dengan krediturnya yang mayoritas, 60% lebih, adalah bank sentral Eropa), mengurangi (tidak menepati) program-program sosialnya supaya bisa menyeimbangkan budget negaranya. Dan ini bisa dilakukan jika Yunani keluar dari zone Euro dan memperoleh kemerdekaannya kembali. Yaitu, meninggalkan mata uang Euro, membuat mata uang baru – drachma – misalnya, mengkonversi hutang-hutangnya (yang dalam Euro) kemudian melakukan debasing (men-jeblokkan) mata uang drachma barunya. Yunani merdeka kembali, bebas dari beban hutangnya yang beratnya 175% dari GDPnya dengan mencetak drachma-drachma baru. Gampang saja ‘kan?.
Kalau Yunani bisa membebaskan dirinya dari hutang besarnya 175% dari GDP, maka Itali, Portugal dan Spanyol yang juga punya beban hutang yang tidak kalah beratnya, yaitu masing-masing 133%, 127.8%, 93.7% dari GDPnya (angka tahun 2014). Seperti Spanyol, walaupun hutangnya hanya 93.7% dari GDPnya, tetapi hutang ini melonjak tajam sejak 5 tahun lalu. Spanyol akan dengan senang hati kalau bisa menghancurkan hutangnya lewat inflasi dari pada harus terbelit dan terbebani hutang terus.


Jika zone Euro pecah akan menjalar kemana-mana akibatnya, karena akan ada pergeseran-pergeseran di bidang moneter. EOWI menempatkan pecahnya zone Euro pada faktor no. 4 karena ada kemungkinan hal ini tidak terjadi di tahun ini. Euro adalah suatu eksperimen, seperti negative interest rate (NIRP). Saat ini sudah ada beberapa negara yang mengalami NIRP, yaitu Jerman, Switzerlad, Denmark. Sampai saat ini masih ada penjelasan logis kenapa NIRP terjadi di neraga-negara ini. Yaitu penabung/investor nerasa bahwa assetnya terjamin tidak hilang atau turun jika berwujud bond pemerintah Jerman atau Swiss (serta Denmark). Bisa saja bank sentral Eropa nantinya memanipulasi suku bunga sedemikian rupa sehingga hal yang sama terjadi untuk Yunani, Itali dan Spanyol. Artinya, Yunani akan memperoleh perpanjangan nafas lagi. Apakah NIRP ini juga akan menular ke Yunani, atau Yunani sudah berantakan sebelum tertular virus NIRP? Entahlah........
Okey, sekian dulu......, sampai nanti.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, April 3, 2015

NKRI: Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak



Saya tidak bermaksud memplesetkan kata NKRI menjadi Negara (yang) Kemanusiaan Resmi diInjak-injak, diIngkari, tetapi hal ini adalah suatu keniscayaan yang resmi sejak tahun 2001. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum itu tidak pemerintah tidak melakukan hal-hal yang tidak berprikemanusiaan terhadap rakyatnya. Tetapi secara undang-undang dasar (konstitusi) hal tersebut tidak disebutkan secara gamblang. Hanya saja, sejak tahun 2001, pemaksaan dan penindasan menjadi resmi dan legal. Dan hal itu, maksudnya penindasan dan pemaksaan, menjadi semakin meningkat sejak tahun 2001.
Pada tahun 2001, konstitusi RI diubah untuk ketiga kalinya (bahasa kerennya amendemen ke tiga) dan salah satu pasal yang diubah adalah pasal 23, yang ditambahi dengan pasal 23A. Sekarang pasal tersebut mengandung kalimat yang berbunyi: Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Tahun 2001 secara resmi pemerintah boleh memaksa-maksa rakyatnya untuk menyerahkan uang, harta miliknya (rakyat).
Sebelumnya, apakah itu dijaman Orde Lama atau Orde Baru, segala tindakan repressi dan pemaksaan yang tidak berprikemanusiaan tidak ada yang resmi secara konstitusi. Hal itu ada dan masih dibungkus dengan undang-undang (yang derajadnya di bawah konstitusi) dan narasinya secara verbal tidak vulgar. Akan tetapi jangan dikira bahwa halus dan tidak vulgar berarti lemah, tetapi bak karet yang bisa ditarik panjang sekali, seperti pasal pencemaran nama baik, pasal keamanan negara atau undang-undang anti subversi. Dan waktu itu belum ada yang dituangkan di dalam konstitusi (undang-undang dasar).
Sekarang, pemerintah punya dasar hukum yang (dianggap) paling tinggi yaitu konstitusi. Repressi, pemaksaan diperbolehkan dalam kaitannya dengan pajak dan pungutan-pungutan yang ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan. Tentunya pemerintah tidak salah kalau mereka membuat peraturan yang banyak untuk memaksa rakyat untuk menyerahkan uangnya. Itu legal. Apakah masuk diakalnya orang waras dan masih berprikemanusiaan?
Untuk pertanyaan: Apakah masuk diakalnya orang waras dan masih berprikemanusiaan?,  EOWI tidak akan menjawabnya. Cukup pembaca sendiri yang merenungkannya.

Pajak bukan Jual Beli

Latar belakan penyitiran pasal 23A UUD-45 Amendemen di atas karena kita akan membicarakan masalah pajak dan sejenisnya dalam kaitannya dengan kata “paksa” di kalimat pasal 23A tersebut. EOWI punya sebuah kata-kata mutiara, humor sadonik mengenai pajak, yaitu sbb:
Tuhannya orang Islam memberi 5 perintah (5 rukun Islam) dan 1 buku panduan hidup yang berisi 144 pasal (surah) sebagai balasannya setiap muslim dibebani pajak penghasilan 2.5% (zakat).
Tuhannya orang Kristen dan Yahudi memberi 10 perintah dan larangan kepada umatnya dan 66 buku dengan 1189 pasal , karenanya mereka dikenakan pajak 10% dari penghasilan mereka. (Catatan: Bible adalah kumpulan 66 buku dari kitab Kejadian sampai ke kitab Wahyu. Dan Bible adalah punya akar kata yang sama dengan bibliography dan bibliothek, yaitu biblia).
NKRI memberi 100 ribu aturan dan larangan dan buku undang-undang sebanyak satu perpustakaan penuh dengan jutaan pasal, oleh karenanya NKRI menuntut pajak penghasilan 30%, PPN 10%, pajak meterai, pajak kendaraan, pajak barang mewah, PBB,......dan karena masih kurang lagi maka pajak jalan tol dan lainnya akan ditambahkan dikemudian hari.
Jadi ada kaitannya antara banyaknya aturan dan besarnya uang yang diminta. Saya suka Islam karena pajaknya kecil, hanya 2.5% dan aturannya sedikit. Ditambah lagi...., saya tidak perlu mengisi formulir pajak yang rumit, melaporkan kekayaan saya kepada Tuhan, punya kartu identitas. Itu enaknya menjadi orang Islam (warga Tuhannya orang Islam) dari pada menjadi warga negara Indonesia. Tuhan tidak perlu biaya untuk memutar roda kehidupan, sedangkan NKRI perlu uang dari rakyatnya untuk menjalankan negara.
Orang berpikir bahwa membayar pajak kepada pemerintah adalah bayaran/imbalan atas jasa yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya. Seperti jual-beli. Tentu saja pendapat itu salah. Karena jika hal tersebut adalah jual-beli, maka berdasarkan Islam (Quran) harus ada unsur keridhaan (sama-sama senang dan tidak ada paksaan) karena pertukaran jasa dengan harta (uang) tersebut bersifat proporsional.
“kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29).
Untuk pajak, sifatnya lebih menekan pada rakyat dan imbalan tersebut tidak proporsional. Selanjutnya bagi yang ingin mengetahui definisi mengenai pajak, bisa dilihat di Wikipedia.
Karena salah satu persyaratan pajak adalah sifatnya memaksa maka unsur kemanusiaan akan diinjak-injak dan unsur kewarasan menjadi hilang. Kita akan lihat dari beberapa contoh yang sudah dilakukan dan akan dilakukan oleh pemerintah.

1.      Meterai Untuk Pembelian Cabe 3 kg

Kasus meterai untuk pembelian cabe 3 kg masih digodog di DPR dan belum diimplementasikan. Mungkin tahun depan atau sesudahnya bisa diterapkan di masyarakat. Dan akibatnya mbok-mbok penjual cabe harus punya meterai. Berikut ini adalah beritanya.
Minggu lalu ada berita yang menarik mengenai perpajakan. Bunyinya seperti ini (link): 
Dirjen Pajak Kemenkeu Sigit Priadi Pramudito mengungkapkan, optimalisasi bea materai itu dilakukan dengan menerapkan tarif baru yang naik lebih dari 100 persen pada Juni nanti.
"Tarif bea materai yang saat ini sebesar Rp 3.000 dan Rp 6.000, akan dinaikkan menjadi Rp 10.000 dan Rp 18.000," sebut Sigit saat ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta,  kemarin.
Sigit menyebutkan, proses pembahasan terkait hal tersebut sudah hampir rampung. "Targetnya (pembahasan bea materai) bulan Juni selesai. Jadi pengenaan bea materai akan terlaksana tahun ini," ujarnya.
Sigit melanjutkan, untuk menaikkan tarif materai diperlukan revisi Undang Undang Bea Materai. Terkait hal tersebut, pihaknya mengaku telah memasukkan revisi UU Bea Materai dalam penyusunan prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015.
"Sudah masuk prolegnas dan DPR berjanji bahwa Prolegnas (terkait) Bea Materia itu akan didahulukan,"lanjutnya.
Selain itu, Sigit menuturkan, nantinya transaksi untuk ritel juga akan dikenakan tarif Bea Materai. Ditjen Pajak akan mengawasi pengusaha ritel yang belum memungut bea meterai dalam transaksi perdagangan yang dilakukan.
Dalam UU Bea Materai, transaksi belanja di atas Rp 250 ribu dipungut bea meterai sebesar Rp 3.000, di atas Rp 1 juta dikenakan bea materai Rp 6.000.
Dalam UU Bea Materai, transaksi belanja di atas Rp 250 ribu dipungut bea meterai sebesar Rp 3.000, di atas Rp 1 juta dikenakan bea materai Rp 6.000.
Jadi, jika pembantu anda berbelanja cabe 3 kilo yang kadang-kadang harganya mencapai Rp 100 ribu/kg, atau bawang akhir-akhir ini mencapai Rp 100 ribu/kg atau beras 20kg (harganya Rp 15 ribu/kg) pembantu anda akan dikenai meterai Rp 3000!!! Dan kalau bea meterai Rp 3000 sudah dinakkan menjadi Rp 10,000 maka beli cabe 3 kg akan kena meterai Rp 10,000.
Opo tumon.....ono wong koyo ngono.
Saya sedang berpikir jika kurs US dollar 2 – 3 tahun ke depan nanti mencapai Rp 25,000, maka harga cabe bisa mencapai Rp 200 – Rp 250 ribu per kilonya, maka untuk membeli 1 kg cabe, anda dikenai biaya meterai Rp 10,000!!! Mbok-mbok penjual cabe harus bawa-bawa meterai!!!
Berprikemanusiaan kah NKRI  (Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak)?

2.      Kena Musibah Malah Dipajaki

Bila seseorang terkena musibah, secara moral harus dibantu. Kalau seseorang terkena musibah, kemudian masih diperas, diambil uangnya dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya, maka si pemaksa, pemeras, pengambil uang orang yang tertimpa musibah bisa disebut biadab, bejad, tidak bermoral (terserah pembaca, nama apa yang cocok bagi orang/kelompok seperti ini). Buat saya, orang seperti itu tempatnya adalah neraka. Kalau di dunia ini, orang-orang seperti ini harus dibasmi. Tidak ada ajaran moral  (kecuali Pancasila barang kali) yang mengajarkan agar orang menimpakan tangga ke orang yang sudah jatuh. Atau membuat orang sudah sengsara menjadi lebih sengsara.
Yang saya maksud dengan orang yang terkena musibah ini adalah orang yang diPHK, kena pecat dari pekerjaannya, kehilangan sumber penghasilannya. Orang-orang yang diberhentikan dari pekerjaannya sepatutnya memperoleh simpati dan dibantu. Tetapi oleh pemerintah, malah dibikin lebih sengsara.
Pekerja yang diberhentikan dari pekerjaannya akan memperoleh pesangon. Besarnya, secara resmi bisa mencapai 28 bulan gaji + plus lain-lain. Katakanlah 30 bulan atau 2.5 tahun gaji untuk gampangnya. Itu kalau dia sudah bekerja di tempat yang sama lebih dari 24 tahun. Dengan kata lain ia sudah berumur....., di atas 45 tahun. Pada umur ini, pengeluaran sedang tinggi-tingginya, berada dipuncaknya. Anak-anaknya sekolah di universitas. Dan pesongon ini oleh pemerintah NKRI dikenai pajak sampai 25%.
Mungkin banyak yang akan berargumen, bahwa yang terkena pajak sampai 25% adalah yang memperoleh Rp 500 juta ke atas. Yang Rp 50 juta hanya kena 5%. Angka Rp 500 juta kelihatannya besar. Padahal kalau dibandingkan dengan harga sebuah apartemen studio (1 kamar) atau rumah type 45 (tanah 90 m2 dan bangunan 45 m2) di pinggirnya Jakarta (bukan di Jakarta-pinggir), masih dibawahnya dan sulit untuk bisa membeli properti seperti itu.
Terlepas dari banyak atau tidaknya angka Rp 500 juta, harus dilihat juga angka 2.5 tahun-gaji. Rentang waktu 2.5 tahun itu tidak lama. Untuk memperoleh pekerjaan tetap terkadang memakan waktu bertahun-tahun bagi pekerja yang sudah berumur dan dimasa krisis. Bahkan banyak pekerja yang diPHK dimasa krisis 1998 tidak pernah bisa memperoleh pekerjaan (tetap). Banyak yang menjadi pengangguran atau bekerja serabutan.......(walaupun melarat dan bekerja serabutan tetapi masih hidup bukan dan masih bisa dipajaki bukan?).
Argumen bahwa yang terkena pajak sampai 25% adalah yang memperoleh Rp 500 juta ke atas adalah orang kaya adalah dalih, bukan argumen. Hal itu tidak menghapuskan kenyataan bahwa mengambil pajak dari uang pesangon adalah tidak manusiawi, tidak berprikemanusiaan melainkan biadab. Orang sedang ditimpa kemalangan kok malah diambil uangnya.
Apapun dalihnya, tanpa pajak uang PHK, para korban PHK bisa menggunakan uang pesangonnya sampai 25% lebih lama. Penderitaannya bisa ditunda 25% lebih lama. Jadi siapa saja yang mempercepat datangnya penderitaan orang layak disebut biadab.
Berprikemanusiaan kah NKRI  (Negara (yang) Kemanusiaan Resmi di-Injak)?
Ketika anda memilih orang, memberi mereka kekuasaan dan mandat dan berharap agar mereka berbuat sesuatu yang baik untuk anda, jangan harap hal tersebut terjadi. Yang ada adalah, anda akan dipajaki dengan pajak berlapis-lapis ketika anda makan, makanan anda akan dibebani pajak penjualan, bea meterai, restribusi.....dll. Ketika anda tertimpa kemalangan, diPHK, seharusnya anda memperoleh pertolongan, tetapi uang pesangon anda malah dipajaki (banyak pula). Ketika anda sakit, anda membayar biaya pengobatan, itupun dipajaki. Jika uang pengobatan tersebut anda claim ke kantor anda, maka uang reimbursement pengobatan tersebut akan dipajaki pula. Kalau istri bekerja mencari tambahan penghasilan keluarga, kalau penghasilan keluarga dilaporkan secara bersama, bisa kena pajak yang lebih tinggi lagi.
Politikus bukan Tuhan pemberi rizki. Berharap dan meminta kepada Tuhan lebih baik dari pada berharap/meminta kepada politikus. Kalau Tuhan, paling buruk adalah tidak mengabulkan permintaan anda. Kalau politikus......, mereka akan membebani anda dengan pajak-pajak yang berat dan memaksa........, dan imbalannya belum tentu ada. Oooh masih ada lagi, anda juga dibebani oleh larangan-larangan dan aturan-aturan yang banyaknya jutaan pasal.
Tuhan tetap menjadi pilihan yang lebih baik dari pada politikus. Untuk rizki yang diberikannya, Tuhannya orang Islam hanya membebani 1 buku yang berisi 114 pasal (surat) dan 5 perintah serta 2.5% potongan/pajak untuk penghasilan anda.
Sedangkan untuk Tuhannya orang Kristen hanya membebani umatnya dengan 66 buku yang berisi 1189 pasal, 10 perintah dan larangan serta 10% potongan/pajak untuk penghasilan anda.
Dan untuk pemerintah NKRI, yang terdiri dari orang-orang yang berjanji untuk memakmurkan anda, mengambil sampai 30% dari penghasilan anda, 10% dari setiap barang yang anda beli, sampai 25% uang PHK anda, sampai 75% untuk mobil yang dianggap mewah........dan banyak lagi. Dan imbalan yang diberikan pemerintah? Silahkan anda evaluasi sendiri, apakah sepadan atau tidak. Kalau saya harus pilih Tuhan, mati untuk Tuhan, membela Tuhan atau membela NKRI, mati untuk NKRI.......sudah jelas sejelas-jelasnya, saya pilih Tuhan.
Sekian dulu renungan kali ini.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, March 24, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (III)



Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis (Dollar Bull Market)

Penghembusan Bubble US Dollar

Ada pembaca EOWI bertanya, kenapa emas tidak melambung harganya ketika terjadi krisis yang dinamakan EOWI sebagai Gejolak 2014 – 2020?. Dan ini sudah terasa. Harga emas tertekan, lebih-lebih ketika US dollar mengalami rally.
Ada baiknya pembaca EOWI kembali membaca laman Gejolak 2014 – 2020 lagi dan mencoba mencerna isinya. Perlu diperhatikan bahwa krisis kali ini adalah bagian dari siklus yang rentangnya seumur manusia. Kalau umur rata-rata manusia saat ini adalah 71 tahun, maka rentang siklus ini adalah 71 tahun. Oleh sebab itu krisis ini hanya dialami oleh seseorang sekali seumur hidupnya, kecuali ia berumur panjang seperti nabi Nuh, yang konon umurnya mencapai 900 tahun. Dalam sejarah keuangan, uang kertas, termasuk US dollar, selalu berakhir ke nilai interinsiknya, yaitu nol, tetapi pada krisis ini US dollar belum akan menjadi nol. Memang hal ini sulit dicerna karena beberapa tahun lalu, tahun 2000 – 2010, masyarakat terpelajar dijejali doktrin bahwa US dollar akan menjadi nol nilainya. Banyak buku-buku terbit pada periode ini bertemakan US dollar menjadi nol. Tetapi sekali lagi EOWI katakan, US dollar akan menjadi nol nilainya pada suatu masa nanti, tetapi saat ini belum masanya.
Sayangnya untuk studi kasus, analogi tidak bisa diambil, karena untuk menengok ke belakang sajarah masa lalu, memang sepengetahuan EOWI belum pernah terjadi krisis deflationary di dalam sistem uang fiat. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi halangan bagi EOWI untuk mengkajinya, melakukan analisa dan menyimpulkan outcome nya. Bagi pembaca yang masih penasaran mengenai mekanisme krisis dan kenapa emas bukan safe-haven pada krisis kali ini, silahkan baca kembali laman Gejolak 2014 – 2020.
US dollar sudah mengalami rally sejak tahun 2011, ketika secular bull market di sektor komoditi berakhir. Tetapi pemerintah, para pelaku pasar dan bisnis di Indonesia baru tersadar ketika rally dollar mengalami percepatan di tahun 2014. Segala macam komentar serta opini pakar di media membeokan apa yang disiarkan di media US. Dollar menguat karena the Fed mau menaikkan suku bunga.  Entah sejak kapan issue the Fed mau menaikkan suku bunga. Terlalu lama untuk diingat, kata kuncinya “mau”, dan sampai sekarang kata “mau” masih digunakan. Dan entah kapan kata “mau” diganti menjadi “sudah”. Dari 8 poin hasil rapat komite the Fed yang keluar minggu lalu (20 Maret 2015), belum nampak kapan kata “mau” diganti dengan “sudah” dalam kaitannya dengan menaikkan suku bunga. Inilah poin-poin yang dimaksud dan artinya:


  1. The Committee continues to see the risks to the outlook for economic activity and the labor market as nearly balanced.
Maknanya: kalau sudah mencapai keseimbangan, artinya bisa njomplang lagi ke kiri atau ke kanan. Kalau dipaku secara kokoh, baru tidak bisa njomplang.
  1. The Committee continues to monitor inflation developments closely.
Maknanya: The Fed masih belum tahu apa yang terjadi dan tidak bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi.  Kalau sudah tahu, tentunya punya rencana dan bertindak.
  1. The Committee judges that an increase in the target range for the federal funds rate remains unlikely at the April FOMC meeting.
Maknanya: The Committee (Fed) tidak tahu apa yang terjadi, maka jangan harap the Fed akan mengambil tindakan apa-apa. Tunggu saja sampai kami (the Fed) tahu apa yang terjadi.
  1. Just because we removed the word “patient” from the statement doesn’t mean we are going to be impatient.
Maknanya: Walaupun the Fed sudah menghilangkan kata “patient” (“sabar”) bukan berarti menjadi tidak sabar dalam menaikkan suku bunga. Dikira-kira sendiri saja lah...
  1. While it is still the case that we consider it unlikely that economic conditions will warrant an increase in the target range at the April meeting, such an increase could be warranted at any later meeting, depending on how the economy evolves.
Maknanya: Walaupun the Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai April, bukan berarti setelah itu akan menaikkan suku bunga. Dikira-kira saja sendiri saja lah...
  1.  Well, when an economy is operating at the so-called zero lower bound, it creates a situation where there are asymmetric risks. It is possible if the economy proves stronger than is expected to respond to that by tightening policy. If there are adverse shocks to demand that tend to push inflation and economic performance in an adverse direction it's not possible to lower rates.
Maknanya: Kami (the Fed) tahu kalau ekonomi masih sontoloyo, walaupun suku bunga sudah nol. Oleh sebab itu, mungkin kami (the Fed) akan menaikkan suku bunga, sehingga nantinya bisa kita turunkan lagi. Dengan demikian kami (the Fed) kelihatannya bekerja.
  1. In some corporate debt markets, we do see evidence of unusually low spreads.
Maknanya: Siapa sih yang begitu tolol membeli corporate bond dengan yield seperti treasury bond, hanya 5%?
  1. The global experience shows that giving central banks independence to make monetary policy decisions that they think are in the best interest of the country and consistent with their mandates leads to lower inflation and more stable macroeconomic outcomes.
Maknanya: Bank-bank sentral di dunia ini hebat, terutama dengan perannya membuat bubble dan membuat siklus boom & bust makin hebat sampai hampir menghancurkan sistem finansial global dan memberikan impresi bahwa dunia masih memerlukan bank sentral dan kami (bank sentral) punya pekerjaan yang penting.
Dari pernyataan-pernyataan the Fed pada rapat tanggal 17 – 18 Maret 2015, nampaknya the Fed sedang mengkondisikan pelaku pasar agar siap terhadap kenaikkan suku bunga. Pasalnya, kalau tidak dinaikkan maka the Fed tidak punya kerja. Dengan suku bunya yang nyaris nol, the Fed tidak punya kerja dan nampak sepertinya impoten, tidak punya kekuatan lagi untuk memperbaiki ekonomi. Oleh sebab itu the Fed suku bunga akan dinaikkan supaya ada ruang untuk menurunkannya kembali. Jadi the Fed nampak punya kerja....sibuk dan bukan kelihatan nganggur. 

Teknikal dan Target Rally Dollar

Apakah the Fed mau menaikkan suku bunga atau tidak, bukanlah hal yang penting dan tidak menjadi urusan EOWI. Ekonomi sudah berjalan dengan auto-pilot. Ketiadaan bank sentral sebenarnya lebih baik. Oleh sebab itu, EOWI tidak merasa perlu melihat keputusan the Fed. Teknikal dari US dollar akan punya peran dalam mendikte gerak US dollar.
Berikut ini adalah traded US dollar index (simbol DXY) sebut saja US dollar indeks walaupun ada beberapa jenis US dollar index. Tetapi yang akan digunakan adalah traded US dollar index. Chart ini saya ambil dari situs Trading Economic. Terlihat adanya bentuk formasi bullish falling wedge yang sangat besar (jangka lama) dari tahun 1980 dan US dollar indeks berhasil menembusnya ke atas pada tahun 2014. Saat ini US dollar index di sekitar 100 (antara 96 – 100).
 
Chart- 1

Seorang analis teknikal biasanya tahu target pattern falling wedge ini. Jika antara tahun 1980 sampai 1984 rally membawa US dollar indeks dari 82 ke 162 (naik 80 poin atau hampir 100%), maka rebound kali ini akan sebesar 80 poin dihitung dari resistance nya (di 90). Oleh sebab itu 170 adalah target rebound dari pattern falling wedge besar ini.
Kalau anda ingin tahu lebih lanjut mengenai falling wedge, kami anjurkan untuk mencarinya di internet.
Situs http://www.forex-tribe.com/Falling-Wedge.php menyajikan beberapa data statistik dari falling wedge.
  1. Ada 92% peluang untuk menembus resistance nya dan rebound ke arah target.
  2. Jika resistance nya sudah tertembus, maka peluangnya mencapai target adalah 63%.
  3. Ada peluang sebesar 27% akan terjadinya false breakout.
  4. Target rebound panjangnya sama dengan rally pertama di pattern falling wedge. Untuk kasus DXY (US dollar indeks), besarnya adalah 80 poin. Oleh sebab itu target rally US dollar indeks adalah 170. Artinya kalau sekarang DXY ada di kisaran 96 – 100, maka kenaikan harga dollar akan mencapai 70%.
Mungkin pembaca mengatakan bahwa US dollar tidak mungkin rally sebesar itu. Pembaca yang skeptis harus menengok 34 ke belakang, tahun 1980 – 1984. Indeks 82 sampai 162. Kenapa sekarang tidak bisa. Bahkan kalau sekarang seharusnya bisa lebih banyak lagi.
Jika US dollar bisa menguat 70% lagi (indeksnya rally dari 100 ke 170), maka dalam rupiah, US dollar bisa rally dari Rp 13,000 ke Rp 22,000. Seperti perkiraan kasar EOWI tentang target US dollar rally beberapa waktu lalu yaitu antara Rp 17,000 sampai Rp 25,000, sekarang secara teknikal bisa dijelaskan.
Apakah benar US dollar akan mencapai Rp 22,000......tinggal tunggu waktunya saja. Dengan waktu, akan dibuktikan apakah EOWI isinya hanyalah crackpot yang suka teler dan menghayal atau target Rp 22,000 sesuatu yang akan menjadi keniscayaan.
Hallo, Imam Semar bangun!!.......Indonesia sudah dikeluarkan dari the fragile five lho!!!
Pembaca EOWI yang setia, krisis kali ini adalah krisis yang belum pernah dilihat oleh manusia yang masih hidup saat ini yang juga masih belum bau tanah. Keluar dari the fragile five tidak berarti lepas dari keterikatan terhadap US dollar dan keterkaitan dengan ekonomi dunia. Norwegia yang bukan anggota the fragile five juga bisa jatuh mata uangnya.

Opsi Long US Dollar

Ada pembaca yang menanyakan bagaimana cara menyimpan US dollar cash? Perlu EOWI tekankan kembali, dimasa krisis deflationary, US dollar cash is the king, bukan US dollar kredit. Karena kredit diciptakan oleh bank-bank dari kenihilan. Istilahnya kredit adalah creatio ex nihilo. Oleh sebab itu ketika ada krisis (deflationary), kredit akan menguap, puffff....hilang menjadi nihil lagi. Oleh sebab itu yang harus kita miliki adalah cash, yaitu uang yang bisa dipegang, dilipat, dimasukkan dompet,.......
Bagaimana cara menyimpannya, karena semua akan mengincar cash anda, apa lagi perampok.  Begitulah pertanyaan banyak orang.
Bagi yang melakukan investasi di emas pada dekade 2000an (2000 – 2011), tentunya tahu bagaimana menyimpan asset tangible seperti  emas. Mereka ini tentunya sudah punya jawaban bagaimana menyimpan US dollar cash. Bahkan untuk US dollar, opsinya lebih banyak dari pada emas batangan. Mari kita lihat satu persatu.

  1. Deposito berjangka US dollar: cara ini punya kelemahan, yaitu ketika krisis mulai mengalami eskalasi (percepatan), dan depositonya belum jatuh tempo, maka asset kita tertahan di bank. Hal yang demikian membuat tabungan menjadi rentan terhadap segala ketidak-bijakan pemerintah (pembekuan asset, konversi paksa ke rupiah dengan nilai tukar yang buruk, dll) serta jika bank bangkrut maka milik kita ikut menguap bersamanya. Sedangkan keuntungannya adalah perolehan bunga deposito. Deposito berjangka hanya bagus kalau kita tahu bahwa krisis masih lama meletusnya.
  2. Tabungan US dollar: Resiko dan keuntungannya hampir sama dengan deposito berjangka. Tetapi tabungan US dollar mempunyai keunggulan bahwa asset ini bisa dicairkan lebih cepat tanpa kena penalty. Sehingga pada saat krisis mengalami eskalasi, asset kita di bank kemungkinan besar bisa cair. Harus diingat bahwa kita tidak boleh terlambat. Pengalaman tahun 1997, beberapa bulan sebelum krismon 1998, saya akan pindah ke Scotland dan mengalami kesulitan menukarkan uang rupiah saya ke poundsterling di money changer.  Tetapi tidak sulit membuat demand draft poundsterling.
  3. Cash di safe deposit box (SDB): anda bisa menyewa safe deposit box di bank sebuah bank untuk menyimpan cash di sana. Bagi yang pernah berinvestasi di emas pada dekade 2000an, cara ini adalah cara yang aman untuk menyimpan dan bertransaksi emas. Saya dulu biasanya melakukan transaksi emas di bank. Bank dengan safe deposit box (SDB) digunakan sebagai tempat rendezvous dan bertransaksi. Emas langsung dimasukkan ke SDB dan transfer pembayaran dilakukan ditempat yang sama.
Untuk US dollar cash, kita bisa ambil di bank counter kemudian dimasukkan ke SDB. Resiko dirampok menjadi kecil. Cara ini aman dan sederhana. Mungkin tidak sesederhana itu. Setidaknya saya masih punya pertanyaannya:
a.      Pada masa krisis dan bank kena rush, apakah SDBnya masih buka dan uang yang kita simpan disana masih bisa di-access (diambil)?
b.      jika banknya bangkrut, apakah SDBnya akan ditutup sampai proses peleburan dsb selesai?
Kedua pertanyaan ini saya tidak bisa menjawabnya, karena pada masa krismon 1997 – 1998, walaupun saya mempunyai SDB di bank Bumi Daya di Jakarta, tetapi saya tinggal di Scotland. SDB saya yang berisi perhiasan istri tidak pernah dibuka sampai kami kembali ke Jakarta tahun 2000.
  1. Deposit Box/Brankas (di rumah): Cara yang paling sederhana untuk menyimpan US dollar cash atau barang-barang berharga lainnya adalah dalam brankas atau lemari (kotak) besi. Hanya saja, cara ini rentan terhadap perampokan. Apa lagi jika banyak orang keluar-masuk rumah kita (domestic helpers) yang kurang kita percayai. Terkadang otak kejahatan adalah orang dalam. Resiko dari cara ini akan berkurang jika tidak ada yang tahu bahwa anda punya brankas di rumah.
Ada baiknya anda membuat rencana bagaimana cara menyimpan asset-asset anda sebelum krisis, menjelang krisis dan di masa krisis. Masing-masing punya resiko yang berbeda sehingga cocok untuk saat yang berbeda. Ketika krisis masih jauh, menyimpan uang US dollar sebagai deposito adalah yang terbaik. Semakin dekat ke arah krisis, berangsur-angsur deposito dikonversikan ke (ditukar dengan) tabungan/giro, selanjutnya ke SDB atau brankas.Diskusi dan buat rencana dengan pasangan anda. Apakah meminta saran dan adivs dari konsultan investment anda adalah hal baik? Saya tidak tahu. Sebab opsi no.4, sebaiknya tidak banyak orang yang tahu.
Suatu hal yang perlu diingat, bahwa pada puncak krisis moneter, cash bisa lebih berharga dari pada kredit. Pada saat ATM tutup, bank tutup (tidak bisa bertransaksi), kartu kredit/debit tidak laku, orang-orang kaya mau ke luar-negri,  maka harga/nilai lembaran dollar bisa lebih tinggi dari pada dollar digital elektronik. Itu pernah terjadi baru-baru ini di Venezuela, Argentina, Ukraina bahkan dulu juga pernah terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu punya cash di tangan berarti punya peluang untuk memperoleh keuntungan.


EOWI mengatakan bahwa eskalasi rally dollar akan memicu krisis, karena......, bayangkan para dollar carry traderers mulai menyadari bahwa meminjam US dollar untuk diinvestasikan kedalam mata uang emerging market untuk memperoleh selisih bunga ternyata sudah tidak menguntungkan lagi, karena tergerus oleh depresiasi mata uang negara emerging market, maka kemudian mereka keluar. Sebagai akibatnya terjadi akselerasi appresiasi dollar. Hal ini bisa diperparah jika spekulan ikut masuk ke posisi long dollar dengan leverage. Maka US dollar akan naik secara parabolik. Ini akan membuat debitur dollar kelabakan karena beban hutangnya semakin berat. Selanjutnya bisa terjadi gagal bayar, yang kemudian dilanjutkan dengan tertutupnya aliran kredit.
EOWI menempatkan appresiasi dollar sebagai pencetus krisis nomor 2, karena proses appresiasi dollar sudah berjalan. Hanya menunggu terjadinya akselerasi sehingga membuat para dollar carry traders panik masuk kandang, spekulan ikut terjun meramaikan pesta dan akhirnya para debitur (yang berdenominasi US dollar) yang akan terbantai tidak bisa bayar hutang, dan selanjutnya kran kredit tertutup.
Sekian dulu sampai kisah lanjutannya.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, March 19, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (II)




Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis

Tulisan ini adalah lanjutan dengan tulisan sebelumnya berjudul: Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713. Di bagian ke dua ini akan diramalkan kejadian-kejadian apa yang bisa (tetapi tidak harus) menjadi pemicu dari krisis yang mungkin berlangsung di tahun kambing kayu 4713 ini atau tahun berikutnya yaitu 4714 pada penanggalan Cina.
Mengingat panjangnya kisah kali ini, EOWI akan memecahnya menjadi beberapa bagian.
Setidaknya ada 10 pemicu yang bisa EOWI identifikasi berpotensi menjadi pemicu krisis tahun 2015 M. Antara lain:
  1. Bubble hutang dan bubble properti Cina meletus
  2. Penghembusan bubble US dollar
  3. Jerman mengalami resesi dan krisis disusul zone Euro
  4. Zone Euro pecah, Yunani keluar dari zone Euro diikuti oleh Spanyol, Portugal, Itali
  5. Dot Com jilid II
  6. Indeks Dow Jones secara teknikal terkoreksi dan dipersepsikan sebagai koreksi tajam.
  7. Kejatuhan harga bahan komoditi tambang dan minyak berlanjut dampaknya ke emerging market dan negara-negara OPEC
  8. FFF bubble meletus, junk bond bubble meletus
  9. Cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan (melonjaknya harga bahan pangan)
  10. Ekspor terorisme ke nagara barat (2000)

Sumber Krisis: Bubble Hutang yang Mencapai Rekor

Pada laman Gejolak 2014 – 2020 , dibahas secara panjang lebar mengenai penyebab krisis. Intinya yaitu hutang untuk leverage. Pada krisis yang diramalkan akan terjadi di antara tahun 2014 – 2020 pada dasarnya adalah koreksi adanya kelebihan-kelebihan (excess) dan bubble yang disebabkan hutang. Deflasi adalah kata lain dari kontraksi hutang. Dan deflasi global adalah kontraksi hutang secara global.
Bubble umumnya meletus, bukan mengempis perlahan-lahan. Oleh sebab itu bubble hutang global yang menjadi sumber kekuatan ledak krisis 2014 – 2020 akan meletus. Tetapi untuk meletusnya perlu pemicu.
Sebelum mulai dengan faktor-faktor yang menjadi pemicu meledaknya bubble hutang global, kita akan update dulu bubblenya.
Report dari McKinsey Global Institute mengenai status terkini dari bubble hutang global yang berjudul: “Debt and (not much) deleveraging”  mengatakan bahwa krisis subprime 2008 tidak serta merta secara global menyebabkan pelaku ekonomi melakukan deleveraging, mengurangi hutangnya. Antrara tahun 2008 sampai tahun 2014, jumlah hutang global ternyata meningkat sebesar $57 trilliun. Peningkatan hutang terbesar datangnya dari Cina. Dalam 7 tahun terakhir (2007 – 2014) total hutang di Cina meningkat 4 kali lipat (400%)! dari $7 trilliun di tahun 2007 menjadi $28 trilliun di tahun 2014. Ada dua faktor yang memungkinkan hal ini terjadi di Cina, yaitu properti bubble dan shadow banking.
Pada kwartal II 2014 menurut McKinsey Global Institute, hutang di dunia ini telah mencapai $200 trilliun. Dibandingkan GDP dunia sebesar $ 74 trilliun, hutang ini telah mencapai 270% dari GDP. Ini adalah ulah bank-bank sentral dunia yang mengucurkan likwiditas dengan segala jenis quantitative easing sejak krisis sub-prime di US.
Pada saat suku bunga suku bunga rendah terutama di negara-negara maju, investor menjadi semakin aggressive karena merasa tidak ada resiko lagi. Kalau ada krisis, mereka pikir bank-bank sentral akan menalanginya. Akibatnya bubble-bubble lain (selain di sektor properti US) bermunculan lagi.  Bubble emas dan bahan komoditi pecah di tahun 2011. Dengan demikian pilihan pelaku pasar berkurang satu.
Bubble baru yang muncul antara lain Dot-Com bubble jilid II. Indeks Nasdaq menembus level bubble Dot-Com tahun 2000. Demikian juga indeks Dow Jones dan indeks-indeks banyak negara berkembang, terbang membuat rekord baru.
Ini disebut bubble. Kenapa disebut bubble, karena kenaikan saham tidak punya dasar ekonominya. Selama 7 tahun, dari tahun 2000 sampai 2007 GDP dunia naik $17 trilliun dari $35 trilliun menjadi $53 trilliun. Selama itu, hutang juga naik $ 55 trilliun. Dengan kata lain, untuk menciptakan GDP $1 diperlukan $3.16 hutang. Jadi jangan heran ekonomi dunia tidak “sepenuhnya” pulih. Tahun 2007 – 2014 effektifitas hutang sebagai stimulus ekonomi menjadi lebih buruk. Untuk menghasilkan GDP sebesar $1, diperlukan hutang 3.39. Hutang menjadi beban kepada ekonomi. Jika ada pemicunya, bubble hutang ini akan kolaps. Dan itulah yang sedang kita amati terus.


Bubble Hutang dan Bubble Properti Cina Meletus

Stephen Roach, (mantan) ketua analis ekonomi dari Morgan Stanley, pada dekade lalu selama 1 dekade meramalkan bahwa ekonomi Cina akan rontok. Entah kenapa sekarang suara sumbang Stephen Roach itu tidak terdengar lagi.
Stephen Roach tidak salah ketika mengatakan bahwa ekonomi Cina membubble dan akan meletus. Tetapi, seperti halnya bubble-bubble lain, bisa terus membesar dan tidak tahu kapan meletusnya. Oleh sebab itu, ada nasehat yang kaitannya dengan mengshort bubble:Dalam melakukan shorting sebuah bubble, harus diingat bubble masih bisa terus membesar, terus sampai pelaku-pelaku shorting bisa kehabisan dana.” Dengan kata lain, kapan bubble akan meletus, sulit diramalkan. Oleh sebab itu, dengan hati-hati EOWI mengatakan bahwa bubble di Cina punya potensi meletus. Kalau ditanya kapan meletusnya, jawaban EOWI: “Sorry...., kami tidak tahu.”
Menurut laporan  McKinsey Global Institute (MGI), hutang total di Cina meningkat 4 kali lipat dalam kurun waktu antara 2007 sampai 2014 dari $ 7 trilliun menjadi $ 28 trilliun. Kalau jumlah ini hanya sebagian kecil dari GDPnya, maka tidak akan ada persoalan apa-apa. Tetapi jumlah yang $ 28 trilliun ini adalah hampir 300% (tiga kali lipat) dari GDPnya. Ini Dan rasio ini lebih besar  dari rasio hutang-GDP di US atau di Jerman. Memang masih banyak negara maju lainnya yang mempunyai rasio hutang-GDP yang lebih tinggi seperti US, Jerman atau Jepang, tetapi mereka ini termasuk negara maju dan pertumbuhan ekonominya tidak setinggi Cina. Hutang adalah kata lain dari membawa konsumsi/pengeluaran di masa depan ke masa sekarang.  Segala pengeluaran yang dibiayai hutang, akan diimbangi dengan berkurangnya pengeluaran di masa datang.
Hutang harus dibayar dengan bunganya atau dikemplang. Pada saat hutang harus dibayar dengan bunganya maka ekonomi akan melambat. Apa bila pilihannya adalah membayar hutang yang jatuh tempo dengan hutang baru (roll-over) dan menambah hutang baru untuk meningkatkan konsumsi/pengeluaran maka hasilnya adalah bubble hutang. Di dalam suatu sistem ekonomi, hutang tidak bisa berekspansi secara terus menerus, karena hutang adalah beban. Ada batas kekuatan ekonomi suatu masyarakat untuk menanggung beban hutang. Pada saat hutang yang jatuh tempo tidak bisa dibayar maka jalan lainnya adalah harus dikemplang. Jika skenario ini yang terjadi, maka hasilnya adalah krisis. Dengan kata lain, akhir dari sebuah bubble hutang adalah krisis deflasi.
Menurut MGI, ada tiga (3) hal baru di Cina yang muncul antara tahun 2007 – 2014, yaitu:
1.      50% dari dari hutang/kredit terkait ke pasar properti Cina yang overheated.
2.      50% dari hutang yang baru terkait ke shadow-banking yang belum diregulasikan.
3.      Hutang dari pemerintah daerah di Cina beresiko gagal bayar.
Ketiga faktor di atas menjadikan hutang yang terbentuk di Cina dalam kurun waktu 2007 – 2014 cukup beresiko. Tetapi EOWI akan menambahkan beberapa faktor resiko lagi:
4.      Kaum kayanya melakukan exodus (keluar dari Cina), dana keluar dari Cina
Antara munculnya shadow banking yang belum diregulasikan, bubble di sektor properti dan ketidak-bijakan di sektor perbankan terkait satu dengan yang lain dengan sangat erat. Untuk memberikan subsidi kepada eksportir, bank-bank diperbolehkan memberikan bunga yang sangat rendah kepada deposannya. Akibatnya, nilai tabungan akan selalu tergerus inflasi. Oleh sebab itu para penabung mengalihkan simpanannya ke asset-asset lain, seperti properti. Yang bisa memperoleh kredit perumahan akan menyabet apartemen-apartemen sebagai investasi dan yang akhirnya dibiarkan kosong karena mereka berpikir bahwa apartemen kosong dengan kerusakannya dimakan waktu serta depresiasinya masih lebih baik dalam menahan penurunan nilai asset (akibat inflasi) dibandingkan dengan menyimpan uangnya di bank.
Selain apartemen dan properti, rakyat Cina yang berduit juga memilih investasi seperti "Golden Elephant No. 38" yang termasuk ke dalam kategori shadow banking, yang menjanjikan bunga kurang lebih 7%.
Yang membuat Cina beresiko bubblenya pecah saat ini adalah, pertama untuk menciptakan pertumbuhan sebesar $1 diperlukan kredit $3.60. Kredit sudah tidak effektif lagi. Sektor swasta dan perorangan saat ini harus menanggung beban bunga sekitar 13% dari GDP. Walaupun demikian, Cina tetap mencoba tumbuh 7% per tahun. Artinya pertumbuhan hutang akan meroket, dan bebannya juga akan meroket.
Yang diperlukan untuk membuat bubble pecah adalah, terbangunnya rakyat Cina dari mimpinya dan menyadari bahwa beban hutangnya sudah berat dan investasinya hanyalah pepesan kosong. Shadow banking seperti "Golden Elephant No. 38", banyak di antaranya hanya didukung oleh projek-projek perumahan yang hampir kosong ditinggalkan oleh penghuninya. Harus diingat bahwa rumah kosong harus dilihat lebih condong sebagai liability (beban) yang menguras uang dari kantong dari pada asset yang memasukkan uang ke kantong.
Tetapi menurut MGI, pemerintah Cina mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan sektor finansial jika krisis di sektor properti merebak. Jadi menurut MGI, Cina tidak akan mengalami krisis yang berkepanjangan. Mungkin opini ini ada benarnya. Tetapi, apakah sudah dimasukkan faktor exodus (keluarnya secara besar-besaran) kaum kaya, milyuner Cina dengan harta meraka. Beberapa berita (data) menyiratkan bahwa ditahun 2013 untuk pertama kalinya uang keluar dari Cina. Tahun 2013, untuk pertama kalinya sejak lama, Yuan mulai tertekan. Memang pelemahannya belum ada 10%, tetapi sudah ada pelemahan. Untuk pelemahan yuan ini, bisa saja berdalih bahwa Cina perlu melemahkan mata uangnya untuk mendorong ekspor. Tetapi bagi EOWI, pelemahan yuan adalah bagian dari proses deflasi US dollar.
Chart - 1
Puncak cadangan devisa Cina ada pada kwartal II 2014 (bulan July 2014), sejak saat itu cadangan devisa Cina tergerus. Selama 6 bulan (sampai Januari 2015), US$ 150 milyar telah keluar dari cadangan devisa Cina (Chart-2 dan Chart-3). Jumlah ini tidak besar dibandingkan cadangan devisa Cina secara total yang mencapai puncaknya di level US$ 4 trilliun. Tetapi, misalnya dibandingkan dengan Indonesia, yang hanya mencapai level tertinggi di US$ 120 milyar, maka angka US$ 150 milyar adalah tinggi. Jika dana sebesar itu keluar dari Indonesia, maka Indonesia sudah menjadi Zimbabwe
Chart - 2
Dalam hal keluarnya dana dari Cina, pemerintah Cina berusaha untuk mencegahnya melalui peraturan-peraturan. Tetapi selalu ada celah-celah yang bisa digunakan. Kalau dalam jumlah kecil, alasan mengirim uang untuk anak sekolah di luar negri. Yang lebih besar lagi melalui perusahaan, membuat pembelian fiktif untuk barang modal atau bahan bak; atau memarkir revenue ekspor di luar negri. Jalan selalu ada.
Chart - 3
EOWI menempatkan meletusnya Cina sebagai pencetus krisis pada tempat yang paling tinggi kemungkinannya dari kesepuluh pencetus krisis yang bisa EOWI identifikasi. Sebab dana keluar dari Cina sudah dimulai. Pertanyaannya: apakah proses ini akan mengalami percepatan dan menjadi pemicu krisis atau malah melambat dan melempem? Waktu akan menentukannya.
Sekian dulu........, di lain waktu kita akan lanjutkan ke sembilan (9) pencetus-pencetus krisis lainnya.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.