___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Monday, June 4, 2018

Teroris (Bagian III): Labeling dan Bukan Monopoli Islam

Labeling
EOWI tersandung pada website yang agak tidak umum untuk masyarakat Indonesia. Ia adalah: Uriavery.com. Sebuah website dari penulis Yahudi Israel.

Ada paragraf yang menarik pada artikel dilaman ini http://uriavnery.com/en/hatur.html

I was a member of the National Military Organization (the "Irgun"), an armed underground group labeled "terrorist".
Palestine was at the time under British occupation (called "mandate"). In May 1939, the British enacted a law limiting the right of Jews to acquire land. I received an order to be at a certain time at a certain spot near the sea shore of Tel Aviv in order to take part in a demonstration. I was to wait for a trumpet signal.
The trumpet sounded and we started the march down Allenby Road, then the city's main street. Near the main synagogue, somebody climbed the stairs and delivered an inflammatory speech. Then we marched on, to the end of the street, where the offices of the British administration were located. There we sang the national anthem, “Hatikvah”, while some adult members set fire to the offices.
Suddenly several lorries carrying British soldiers screeched to a halt, and a salvo of shots rang out. The British fired over our heads, and we ran away.
Perhatikan paragraf selanjutnya.

Remembering this event 79 years later, it crossed my mind that the boys of Gaza are greater heroes then we were then. They did not run away. They stood their ground for hours, while the death toll rose to 61 and the number of those wounded by live ammunition to some 1500, in addition to 1000 affected by gas.
Bagi pembaca yang mengalami kesulitan bahasa, bisa menggunakan google translate untuk menterjemahkan tulisan Uri Avery.

Uri mengatakan bahwa dia dulu sebagai anggota organisasi bersenjata "Irgun" diberi label teroris oleh pemerintah Inggris di Palestina. Setelah mereka menang dan mendirikan negara di tanah yang sama yang sekarang disebut Israel, mereka menyebut orang-orang Palestina sebagai teroris. Sedangkan para bekas anggota "Irgun" sekarang disebut pahlawan.

Hal yang senada terjadi di Indonesia, Belanda menyebut ekstrimis, Indonesia menyebut pejuang kemerdekaan untuk kelompok yang sama. Perubahan label ini mudah terjadi. Dulu mereka disebut penjuang Mujahidin Afganistan, sekarang disebut teroris Taliban. Dulu disebut penjuang muslim moderat Suriah, sekarang disebut teroris ISIS. Dulunya disebut pemimpin GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Fretilin, kemudian tahun 2002 disebut presiden Timor Leste.

Apa bedanya Xanana Gusmao dengan Ventje Samuel, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo dan Johan Manusama?

Jadi……… apa itu teroris?

Silahkan definisikan sendiri.

Islam Bukan Satu-Satunya
Teroris tidak akan menyebut diri mereka sebagai teroris. Demikian juga dengan pemberontak dan gerakan pengacau keamanan. Mereka lebih suka sebutan pejuang. Apakah itu pejuang mujahidin, pejuang Macan Tamil, pejuang kemerdekaan, pejuang ini dan itu. Dan lawan mereka oleh mereka disebut penjajahthogutpenindasrejim... dan lainnya. Itu pandangan dari kacamata para pejuang-pejuang itu yang bukan dari kelompok mapan.

Ada yang membingungkan dalam kaitannya dengan teroris yang sekarang ini. Siapa yang menjadi lawan mereka nampaknya sekarang menjadi kabur. Serangan bom sering tidak pandang bulu, seperti di Afganistan dan Timur-Tengah. Korbannya sering kali orang-orang yang sedang melintas. Barang kali teroris sekarang ini sebagian sudah kehilangan arah. Tidak tahu lawannya atau salah sasaran.

Tetapi mungkin, Indonesia saat ini agak lebih baik dari yang di Afganistan dan Timur Tengah. Setidaknya mereka lebih jelas mengarah pada yang dipersepsikan sebagai musuh mereka, yaitu polisi, khususnya Densus 88 dan kaum yang mereka anggap kafir. Tetapi ini target kecil, bukan target vital atau target high profile. Menyasar target-target semacam ini, akan cepat menghabiskan resources yang sangat langka, yaitu nyawa anggotanya. Setidaknya sejarah mencatat banyak teroris di masa lalu lebih selektif dalam memilih target. Dan banyak akhirnya mereka yang memperoleh kemenangan, langsung atau tidak langsung.

Mungkin bom bunuh diri yang pertama tercatat dan juga berhasil melumpuhkan high profile target nya adalah di tahun 1881. Masa itu adalah periode yang belum lama setelah ditemukannya dinamit dengan detonatornya oleh Alfred Nobel pada dekade 1860an. Pelakunya bom bunuh diri ini bukan orang Islam. Kemungkinan Kristen Orthodox. Namanya Nikolai Rysakov, Ignacy Hryniewieck dan Ivan Emelyanov, ketiganya anggota organisasi sosialis revolusioner Narodnaya Volya. Sedangkan sasarannya Tsar Alexander II, penguasa Russia.

Serangan berlapis tiga mejadi rencana mereka. Pertama Nikolai Rysakov, melemparkan bom ke kendaraan Tsar, gagal melukai Tsar. Ignacy Hryniewieck melakukan serangan berikutnya yang membuat tubuh Tsar rusak parah. Ignacy Hryniewieck bersama orang-orang disekitarnya ikut terluka dan kemudian menemui ajalnya. Dan Ivan Emelyanov yang direncanakan sebagai pembom ketiga, hanya bersiap-siap kalau kedua temannya gagal.

Nasib pelaku bom bunuh diri ini menarik. Ignacy Hryniewieck  mati bersama Tsar dan orang-orang disekitarnya oleh bomnya sendiri. Nikolai Rysakov tertangkap diadili dan dihukum gantung. Dan Ivan Emelyanov tertangkap, diadili, tetapi…. akhirnya diberi amesti dan melanjutkan hidupnya sampai meninggal secara alamiah.

Organisasi revolusioner Narodnaya Volya adalah organisasi militant yang isinya kaum muda terpelajar yang beraliran sosialis dan memilih jalan kekerasan. Targetnya cukup selektif yaitu pejabat pemerintah yang high profile.  

Yang lebih anyar, ditahun 1980an, organsasi yang punya tingkat kesuksesan serupa adalah Macan Tamil dari Sri Langka. Mereka mengirimkan seorang wanita yang berhasil meledakkan dirinya dan membunuh (mantan) perdana menteri India, Rajiv Gandhi. Tidak hanya itu, serangan bom bunuh diri Macan Tamil juga berhasil membunuh presiden Sri Langka Ranasinghe Premadasa serta high profile pejabat pemerintah Sri Langka lainnya seperti walikota Jaffna Alfred Duraiyappah, menteri perindustrian dan pembangunan Clement Gunaratne, anggota parlemen Abeyagoonasekera, menteri luar negri Ranjan Wijeratne, politikus ternama Gamini Dissanayake……. dan sederet lagi. Mungkin Macan Tamil adalah teroris yang paling banyak berhasil melenyapkan pejabat-pejabat yang high profile dengan bom bunuh diri.  

Cina juga tidak luput dari catatan teroris/pejuang bunuh diri. Tidak hanya itu, di dalamnya melibatkan nama seorang muslim sebagai salah satu anggota yang high profile, yaitu Umar Bai Chongxi yang dikemudian hari menjadi menteri pertahanan pertama Republik Cina. Nama organisasi itu adalah pasukan berani mati, Gansidui. Awalnya aktif dalam pemberontakan untuk menggulingkan dinasti Manchu Qing. Tetapi kemudian berlanjut ketika perang dunia ke II meletus, Cina juga berperang melawan Jepang. Gansidui dikenal melakukan bom bunuh diri untuk menghadapi tank-tank Jepang. Ironisnya Jepang menggunakan taktik yang sama dalam menghadapi Amerika di medan perang Pasifik dengan pasukan Kamikaze yang mengawaki pesawat terbang dan terpedo untuk menhantam kapal Amerika.

Yang Menang dan Yang Kalah dan Yang Keok
Saya tidak tahu tentang nasib Irgun saat ini, karena saya tidak baca buku-buku Israel. Mungkin Irgun diagung-agungkan atau sudah dilupakan. Yang pasti kubu dan idiologi  yang diperjuangkan Irgun menang, dan sekarang mereka menjadi kelompok yang mapan, yaitu pemerintah Israel, yang memerangi teroris Palestina. Posisi meja telah berbalik bagi Irgun.

Pembunuhan Tsar Alexander II oleh Narodnaya Volya, menyalakan bak api dalam sekam semangat kekerasan dan terorisme untuk mecapai tujuan-tujuan politik di Russia sampai beberapa dekade kemudian. Ketika tekanan ekonomi semakin meningkat di Russia akibat perang Russia-Jepang, kemudian perang dunia pertama, kekuatan pihak sosialis populis anti kemapanan menjadi menguat dan aksi gerilya teror sporadis merubah menjadi pemberontakan terbuka, Revolusi Bolshevic. Dan Tsar Nikolas II tergulingkan pada saat perang dunia pertama masih berlangsung.

Gansidui boleh dikata mengalami kesuksesan. Dinasti Manchu Qing, yang sudah berkuasa selama 3 abad, merupakan kekuatan yang menua, melemah, akhirnya termajinalkan oleh  kaum Komintang sampai Jepang datang. Jepangpun akhirnya babak belur di Pasifik. Pasukan Kamikazenya baik yang menggunakan pesawat terbang atau terpedo untuk menghantam kapal-kapal Amerika, tidak banyak membantu, karena Jepang juga sudah kelelahan berperang. Tetapi kubu politik Gansidui, yaitu Republik Cina, akhirnya dipukul oleh Cina Komunis sehingga Republik Cina, keok dan menyingkir ke Taiwan.

Nasib Macan Tamil cukup tragis. Walaupun mereka berhasil melumpuhkan banyak politikus dan pejabat pemerintah yang high profile, Macan Tamil harus menelan kekalahan militer dan sekarang nampaknya sudah lumpuh. Keok, kehilangan popularitas dan mungkin sudah bubar.

Suatu hal yang harus dipikirkan untuk para calon teroris, mereka akan sia-sia kalau mereka tidak balajar dari sejarah. Kelompok yang didukung Irgun menang karena Inggris secara ekonomi sudah babak belur karena perang dunia I. Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin akhirnya menang karena Indonesia juga pada kondisi ekonomi yang babak belur. Pemberontak Bolshevik menang atas Tsar Nikolas II juga karena Russia pada kondisi ekonomi yang babak belur setelah perang dunia I. Sedangkan Macan Tamil, walaupun berhasil melumpuhkan/melenyapkan banyak elit politik, tetapi gagal meraih kemenangan akhir, karena Sri Langka pada waktu itu tidak lemah secara ekonomi. Jemaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Daula, atau kelompok-kelompok lain akan sulit menang, kecuali Indonesia dalam keadaan lemah ekonominya. Mereka akan menjadi gerakan populist dan memperoleh banyak dukungan di saat ekonomi yang lemah. Dan syarat tambahannya bahwa mereka jangan menjadikan sipil menjadi sasarannya, karena akan kehilangan simpati. Saat ini…… mungkin belum waktunya.

Kesempatan bagi kelompok radikal tidak pernah ada jika pemerintah bisa mempertahankan tingkat kemakmuran sehingga tidak muncul ketidak-puasan ekonomi. Radikalisme mungkin bisa diredam kalau orang punya kesibukan lain. Sibuk kerja. Bukan sibuk ikut kursus P4 (Pedoman Pengamalan Pengamalan Pancasila). Kecuali semua rakyat Indonesia bisa dapat gaji yang besarnya seperti gaji ketua  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Indoktrinasi idieologi tidak akan mempan meredam radikalisme yang sumbernya dari ketidakpuasan ekonomi. Hanya ekonomi saja yang bisa.

Jadi bagaimana kalau solusinya dengan pertumbuhan ekonomi 7%, pajak hanya 10%? Itu cukup untuk membuat orang, anak-anak muda sibuk kerja, bukan sibuk baca buku-buku indoktrinasi terorisme. Kalau cuma 5%, hanya cukup untuk menutupi kebutuhan lowongan karena urbanisasi yang tingkatnya sampai 4%. Hampir semua untuk tenaga kerja dari kampung, sedang generasi yang memasuki umur kerja, tidak dapat bagian.


Selesai.



Jakarta 4 Juni 2018

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, May 27, 2018

Menghadapi Krisis (bagian I): Don’t Fight the Fed

Krisis global yang sifatnya deflationary yang di depan mata ini bagi Indonesia bukan apa-apa dibandingkan dengan krisis yang bersiklus 3 dekade yang mempengaruhi Nusantara yang akan terjadi antara 2025 – 2030. Kalau EOWI bercerita tentang Pahlawan-Teroris, Chauvinisme dan topik-topik sejenis, sebenarnya EOWI akan mengarahkan pembacanya kepada krisis besar atau kerusuhan besar Nusantara yang EOWI perkirakan akan terjadi menjelang berakhirnya dekade 2020 untuk berganti ke dekade 2030. Sejarah menunjukkan bahwa pada siklus yang mempunyai rentang waktu 3 dekade ini, adanya perubahan wilayah kedaulatan adalah biasa. Setidaknya itu dialami kerusuhan tahun 1998 yang berakhir dengan merdekanya provinsi Timor-Timur. Itu juga dialami tahun 1945, dengan nyempalnya Hindia Belanda dari Imperium Kerajaan Belanda. Atau tahun 1907 dimana Aceh dan Bali menjadi satu (digabung, dianeksasi) bagian dari Hindia Belanda. Untuk semua kasus, termasuk kasus ini EOWI memposisikan diri di sudut agnostik dengan kacamata yang objektif. Tidak ada perasaan chauvinis ketika memberikan penilaian.

Dari wangsit dan preliminary data, nampaknya kerusuhan besar Nusantara 2025 - 2030 adalah nyata. Tetapi itu topik yang akan EOWI tulis nanti tahun 2023 atau 2025. Riset yang akan memakan dana yang tidak sedikit, harus dilakukan. Apakah EOWI masih hidup dimasa itu? Atau gagal gara-gara dana? Kita lihat 5 tahun lagi. Sekarang fokus kita adalah krisis global deflation yang ada di depan mata (lihat laman Gejolak 2014 – 2020, EOWI). – Bantuan data atau apa saja untuk projek riset Kerusuhan Besar Nusantara 2025 - 2030 selalu terbuka.

Don’t Fight the Fed (Dua Jurus the Fed)
The Fed punya beberapa jurus untuk mengobok-obok ekonomi. Saat ini yang EOWI lihat adalah dengan menggembung/kempiskan assetnya dan bermain dengan suku bunganya. Pada saat ia menggembungkan assetnya (baca: membeli bond dengan uang yang dicetaknya) tanpa/dengan menurunkan suku bunganya, artinya the Fed melakukan quantitative easing (QE). Kalau sebaliknya artinya quantitative tightening (QT). Sejarah menunjukkan bahwa jika the Fed merubah permainan jurusnya, akan merubah arah ekonomi dunia dan pasar. Dampaknya adalah dunia, karena secara defakto US dollar adalah mata uang dunia.

Jurus Suku Bunga the Fed
Beberapa waktu lalu, kami membaca sebuah artikel dari Crescat Capital yang kami pikir ada chart yang menarik untuk di tampilkan kepada pembaca EOWI (lihat chart di bawah).


Intinya bahwa Don’t Fight the Fed - jangan melawan ketidakbijaksanaan the Fed. 

Ada fenomena yang menarik adalah setiap kali the Fed melakukan pengetatan moneter, dengan menaikkan suku bunga effektifnya atau lainnya, akan berakhir dengan suatu krisis dipasar saham dan/atau pasar uang serta ekonomi, baik di US atau di tempat lain, di suatu belahan dunia nun jauh dari US disana.

Sejak tahun 1967 ada 7 pengetatan moneter yang dilakukan the Fed dan semuanya mungkin kebetulan diikuti dengan krisis-krisis keuangan. Krisis-krisis ini terjadi antara 1 - 4 tahun setelah the Fed mulai menaikkan suku bunganya.

Sekarang, the Fed mulai menaikkan target suku bunganya sejak akhir tahun 2015. Jadi sudah 2.5 tahun. Kenaikkannya sangat lambat dibanding sebelum-sebelumnya. Dari 0.5% ke 1.75% dalam kurun waktu 2.5 tahun. Walaupun demikian pasar bond mulai “ketar-ketir”. Terjadi gejala yang disebut flattening yield curve, yaitu perbedaan antara suku bunga (yield) bond jangka panjang (10 tahun misalnya) dengan suku bunga bond jangka pendek (2 tahun misalnya) menciut. Walaupun suku bunga bond jangka panjang bisa naik karena pengaruh kenaikkan suku bunga the Fed, tetapi kenaikkan ini tidak secapat suku bunga bond jangka pendek. Dari ekstrapolasi, diharapkan awal-awal tahun 2019 perbedaan suku bunga kedua bond ini sama (lihat chart berikut). Ini disebut flat yield. Kalau sampai negatif disebut inverted yield. Sebabnya banyak investor bond masih berkutat mempertahankan bond jangka panjangnya karena mengantisipasi krisis.

Pada umumnya krisis terjadi pada saat kurva yield dalam proses flattening atau sudah flat (suku bunga jangka panjang sama dengan suku bunga jangka pendek) seperti terlihat pada chart di bawah (arsir merah menunjukkan saat krisis). Ada kekecualian untuk krisis di tahun 1980 dan 2007, setelah yield menjadi flat, perlu waktu/jeda 1-2 tahun sampai terjadinya krisis. Kedua masa ini agak berbeda. Yang pertama adalah dikonversikannya dari sistem berbasis emas ke sistem fiat. Masa yang sangat inflationary. The Fed mulai menaikkan suku bunganya tahun 1977, baru flat setahun kemudian. Dan krisis hutang dan moneter Amerika Latin terjadi di awal tahun 1980. Pada saat itu banyak negara-negara Amerika Latin tidak bisa membayar hutangnya.

Yang kedua, adalah kasus  memicu krisis subprime. The Fed mulai menaikkan suku bunganya tahun 2004, yield curve menjadi flat tahun 2006 dan tahun 2007 terjadi krisis subprime. Apa yang menjadi penyebab adanya jeda waktu antara flat yield dengan krisis, jawabannya EOWI tidak tahu dan tidak mau berspekulasi untuk memuaskan pembaca.


Dari ekstrapolasi, yield baru akan flat di awal tahun 2019 (lihat chart di bawah). Yield dari 10 yr-TB bisa mencapai 5%. Naik dari harga terendahnya 1.5%. Ini akan menyeret suku bunga pinjaman dan suku bunga hipotek naik ke atas. Tidak hanya itu. Negara lain, terutama negara yang sedang berkembang punya pilihan, mata uangnya akan mengalami devaluasi terhadap US dollar atau suku bunga dinaikkan. Silahkan pilih. Masing-masing punya konsekwensi sama. Yaitu mencekik bisnis dan ekonomi negara-negara ini.


Kalau kita mengambil hikmah sejarah, krisis mungkin  bisa mulai terjadi antara kuartal ini sampai 3 tahun lagi (tahun 2021).

Jurus Kesimbangan Neraca Asset
Jurus ini yaitu memberikan liquiditas ke dalam ekonomi (QE) dan menyusutkan liquiditas (QT) dengan cara menggembungkan dan meyusutkan asset the Fed, menurut pengetahuan saya, adalah jurus yang baru sekali ini digunakan dengan kekuatan luar biasa, yaitu antara tahun 2009 – 2015 pada saat quantitative easing (QE). Cukup lama. Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dan pasar? Yang ada datanya adalah ketika fasa QE. Sedangkan untuk fasa QT belum.

Jurus QE yang dimainkan dari tahun 2009 – 2015, membuat bubble dimana-mana, mulai pasar saham, bond, property...., sebut saja apa lagi. Untuk jurus QT, sampai bulan Februari 2018 lalu, baru kembangannya saja kalau mengacu istilah silat, atau embu istilah kempo atau kata istilah karate, yang dimainkan the Fed. Tidak akan bikin benjol atau patah tangan.

Antara tahun 2015 – 2017, asset the Fed turun hanya 1%. Permainan yang agak serius baru dimainkan sejak diawal tahun 2018 sekitar bulan Februari. Dalam waktu 4 bulan, asset the Fed sudah diturunkan 2.7%. Memang tidak banyak. Hanya USD 117 milyar dalam masa 3 bulan dibanding seluruh assetnya pada bilangan USD 4.46 triliun di awal tahun 2017. Tetapi dampaknya terhadap rupiah terasa cukup telak. Nilai tukarnya turun dari Rp 13,300/USD ke Rp14,200/USD. Ini juga terjadi pada mata uang negara lainnya.


Yang menjadi pertanyaan adalah, jika pengetatan ini lebih aggressif, bukan USD 40 milyar per bulan tetapi USD100 milyar atau USD 200 milyar. Apa lagi kalau targetnya untuk kembali ke posisi sebelum krisis subprime yang hanya sekitar USD 900 milyar. Untuk mencapai level asset USD 900 milyar dari USD 4.34 triliun itu pemotongan yang tidak sedikit. Kalau Jerome Powell, ketua the Fed, masih mempertahankan kecepatan tingkat menyeimbangan neraca asset the Fed seperti yang sekarang $ 40 milyar per bulan, perlu waktu sekitar 7 tahun. Kalau yang diinginkan kurang dari 2 tahun, maka ia perlu menarik USD 150 milyar perbulan. EOWI tidak tahu apa yang ada di kepala-kepala the Fed. Oleh sebab itu kita lihat saja perkembangannya.

The Fed Dalam Dilema?
Itu pertanyaan yang mudah dijawab.

Ucapan John Connally, menteri Keuangan US dan arsitek utama pada ketidak-bijaksaan Nixon Shock di tahun 1971, dalam pertemuan G-10 di Roma di akhir tahun 1971 dan membuat peserta pertemuan mengkerutkan dahi adalah: 

"The dollar is our currency, but it's your problem," 
(dollar adalah mata uang kami, tapi it problem kamu)

Kalau itu ucapan the Fed maka bunyinya: 

“Dollar itu mata uang kami dan kami yang mengeluarkan, tetapi itu problem kamu.”

Kamu disini mungkin termasuk presidennya sendiri, rakyat Amerika dan pelaku bisnisnya; di samping orang-orang negara lain. Jadi the Fed tidak punya dilema. Yang punya orang lain.

Jerome Powell yang diangkat menjadi ketua the Fed pada 4 Februari 2018, nampaknya berbeda dengan Jenet Yellen. Tidak lama setelah pengangkatan Powell menjadi ketua the Fed, tidakannya bisa dilihat pada asset the Fed yang turun relatif lebih cepat dibandingkan ketika jaman Yellen. Dalam kasus ini Powell lebih aggressif dibanding Yellen. Saya tidak terlalu heran kalau the Fed akan menaikkan suku bunganya 3x lagi sampai Desember nanti sehingga membuat target suku bunga the Fed 2.25% - 2.50%.

The Fed yang selama ini menjadi pembeli utama treasury bond, tidak lagi membeli surat obligasi yang dikeluarkan pemerintah US. Yang ada dibiarkan jatuh tempo dan ada yang dijual. Konsekwensinya, pemerintah US akan lebih sulit mengeluarkan surat hutang kecuali dengan imbalan (yield) yang lebih tinggi. Ini akan mendorong suku bunga di US untuk naik. Ini bisa dilihat bahwa saat ini yield 10-yr US treasury bond menyusul yield 10-yr bond Australia, sama-sama bond dari negara maju. Sebelumnya ini pernah terjadi tahun 1984, 3.5 dekade lalu dimana kedua bond yields saling mendekat. Apakah kedepannya yield dari Aussie bond akan naik (Bond akan turun) karena mekanisme pasar? Mungkin sekali terjadi, untuk menciptakan kesimbangan pasar. Dan apakah ini akan menyeret jatuhnya nilai tukar Aussie dollar terhadap US dollar?  Mungkin saja terjadi untuk menciptakan keseimbangan baru. Setidaknya bank sentral Australia harus melakukan tindakan untuk mencegahnya kalau hal ini tidak diinginkan mereka. Menaikkan suku bunganya? Hmm… suku bunga hipotek juga naik 'kan dan akan memecahkan property bubble?


Kalau hal seperti ini terjadi pada Australia, bagaimana dengan negara-negara lain? Sri Mulyani dan Agus Martowardojo….....apakah kalian siap?

“Dollar itu mata uang kami (the Fed) dan kami yang mengeluarkan, tetapi itu problem kamu.”


Sekian dulu, sampai bagian selanjutnya.
Jakarta 27 May 2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, May 24, 2018

Teroris (Bagian II): Semangat (Kepahlawanan) Yang Dipupuk Sejak Kecil

Apakah pemerintah benar-benar panik atau memang bagian dari skenario, setelah serangan terhadap gereja di Surabaya, tiba-tiba saja muncul serangan-serangan lainnya, di Polrestabes Surabaya dan di Polda Riau. Yang di Riau sepertinya sangat amatir, yaitu dengan senjata tajam. Ini bukan aksi terror bunuh diri, tetapi benar-benar bunuh diri, walaupun dari pihak polisi ada 1 yang meninggal. Tetapi dari pihak teroris 3 orang mati.

Saya membayangkan aksi di Riau ini seperti perang kemerdekaan, bambu runcing melawan karabin metraliyur (senapan mesin ringan). Sulit untuk menerima dengan akal, apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang membawa bambu runcing atau pedang menyerang, menyongsong tembakan peluru dari moncong senapan, apalagi kaliber 6.72 mm dari AK47 atau 5.56 mm dari M-15 atau SS-1. Orang-orang itu sudah tidak memikirkan untung ruginya. Untuk yang menggunakan bom, masih bisa diterima akal. Kalkulasi potensi jumlah korban bisa melebihi yang bunuh diri. Tetapi yang pakai pedang, pisau atau bambu runcing? Dimana perhitungannya?

Tidak lama berselang banyak terduga teroris yang ditangkap dan ditembak mati, 74 orang ditangkap dan 14 ditembak mati. Harus diingat mereka ini orang-orang yang secara hukum tidak bersalah sampai dibuktikan oleh pengadilan. Statusnya sama dengan korban bom di Surabaya. Mereka ini belum melakukan aksi kekerasan. Paling-paling melawan ketika akan ditangkap. Apa ini bisa dijadikan alasan untuk menembak mati? Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Intinya, kekerasan akan melahirkan kekerasan juga. Tekanan akan melahirkan reaksi.

Sifat yang nampak reaktif muncul dimana-mana. Ada yang mau membatasi jumlah ulama dan ada keharusan bersertifikat yang harapannya sejalur dengan pemerintah. TNI mau diperbantukan di Polri, yang notabene melanggar UU yang dibuat pemerintah sendiri. TNI itu bukan penegak hukum, sedangkan teroris itu pelanggaran hukum. Ada lagi yang aneh-aneh? Entahlah. Itu topik yang tidak menarik.

Pelajaran Sejarah: Pupuk Semangat Kekerasan
Tanpa disadari sebenarnya kekerasan dan semangat anti kemapanan itu sudah dipupuk sejak anak masuk sekolah. Sejarah Singosari, dimulai dari Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk naik menjadi bupati dan mengawini istri Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok memberontak melawan rajanya Kertajaya untuk mejadi raja. Semanjutnya Ken Arok dibunuh oleh Anusopati. Tidak lama kemudian Anusopati dibunuh oleh Tohjaya. Dan selanjutnya.

Bahkan hal-hal sepele seperti ada orang yang menancapkan patok-patok di tanahnya orang lain bisa memicu perang yang menghabiskan kas negara. Perang Diponegoro.

Tidakkah anda berpikir bahwa mungkin ada sebagian dari pembaca sejarah perang Padri menganalogikan dengan keadaan sekarang. Kaum Adat analog dengan PDI dan barisan nasionalis di kubu Jokowi. Belanda parallel dengan pemerintah sekarang, termasuk aparat polisi. Mereka di dalam sejarah sebagai the bad guys, togut, partai setan.

Dan kaum Padri sebagai the good guys, partai Allah, berpadanan dengan HTI, FPI, Abu Bakar Ba’syir, Habib Rizieq.  Dan…., latar belakangnya punya kesamaan, yaitu keinginan kaum Padri atau HTI untuk menegakkan syariat dan menentang kaum Adat yang ingin mempertahankan status quo. Harus diingat bahwa perang Padri adalah salah satu perang yang paling lama kalau tidak yang terlama, 17 tahun yaitu dari 1815 – 1832.

Apakah ada orang berpikir untuk menganalogikan perang Padri dengan konflik dan polarisasi di masyarakat saat in? Saya tidak tahu secara pasti. Tetapi kalau sejarah punya pengaruh di bawah sadar? Itu tidak bisa dipungkiri. Masalahnya suntikan semangat keagamaan semacam ini bukan pada perang Padri saja, tetapi perang Aceh, perang Diponegoro. Dalam hikayat perang Aceh, mati melawan penguasa kemapanan (Belanda) adalah syahid. Sampai sekarang ada pepatah Minang adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, masih terdengar dan pengaruhnya kuat. Diponegoro sendiri  sampai sekarang digambarkan sebagai orang berjubah bukan sebagai pangeran yang berpakaian lurik atau beskap. Apakah pangeran Diponegoro memimpin peperangan di daerah tropis yang panas dan kelembaban yang tinggi menggunakan jubah? Akan berkeringat banyak, tidak praktis, dan akan cepat capek karena mengalami dehidrasi. Biasanya orang Jawa yang beraktivitas di luar akan telanjang dada, bukan pakai jubah. Belum lagi kyai Maja. Dia berjubah juga untuk menunjukkan bahwa kyai Maja merupakan simbol agama.

Kemerdekaan RI juga sarat dengan kekerasan. Salah satu ikon kekerasan yang sangat dipuja adalah Bung Tomo, the good guys, dengan pidatonya yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan togut tentara Inggris yang ditumpangi Belanda. Perayaan hari kemerdekaan tidak lengkap kalau tanpa image orang memegang bambu runcing, rambut gondrong dengan ikat kepala merah-putih sambil mengacungkan tinjunya. Mati dalam perang kemerdekaan adalah mati syahid. Itu menjadi unsur untuk membakar semangat. 

 Sejarah: Senjata Makan Tuan
Coba renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah perjuangan pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, ada kaitannya dengan Indonesia? Nama Indonesia baru ada mungkin setelah tahun 1920an.

Napoleon menyatakan bahwa “Sejarah adalah sekumpulan kebohongan yang disepakati.” Itu bukan pernyataan kosong, tetapi suatu realita.

Orang yang tidak ada kaitannya dengan Indonesia, seperti pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, dengan sejarah bisa menjadi warga negara dan pahlawan Indonesia. Tidak hanya itu, sejarah juga memelintir nilai-nilai moral. Apakah Gajah Mada bermoral? Dia membunuh raja  Prabu Mundingwangi dari Pakuan dan putrinya yang akan menjadi mertua dan pengantin Hayam Wuruk rajanya. Yang pasti jalan Gajah Mada di kota-kota besar Indonesia merupakan jalan utama. Mungkin ada kekecualian yaitu di daerah Pasundan yang masih punya ganjelan terhadap Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Bahwa pendidikan bisa menjadikan orang tidak bermoral seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk (Ken Arok yang awalnya seorang perampok kalau mau ditambahi) menjadi pahlawan yang disanjung-sanjung adalah suatu kenyataan bahwa pelajaran sejarah bisa mencuci otak masyarakat, sampai-sampai manusia tidak bermoral bisa disanjung.

Secara tidak sadar, diharapkan dengan ikon-ikon itu rasa cinta pada tanah air, c.q. pemerintah akan tumbuh. Tetapi plintiran-plintiran itu kadang tidak tepat sekali ke sasarannya. Yang diterima adalah semangat anti kemapanan yang berkobar-kobar. Pemerintah dianalogikan dengan Belanda, musuh, penindas.

Saya yakin banyak pembaca yang tidak suka dengan pernyataan ini. Apa lagi yang dari kubu pro-pemerintah.

Salah satu langkah panik pemerintah adalah mau membatasi dan menyaring (sesuai dengan keinginan pemerintah) ustadz-ustadz agar ajaran radikal tidak tumbuh dan menumbuhkan semangat cinta tanah air. Tentu saja itu salah. Tumbuhnya semangat radikal itu asalnya dari (pelajaran) sejarah (baca: kebohongan yang disepakati sebagai kebenaran). Apakah itu sejarah Indonesia atau sejarah Islam. Semua isinya perang. Tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) itu sendiri.

Contoh: Habib Rizieq dan pengikutnya bersemangat untuk memenjarakan Ahok. Pertanyaan berikut ini anda sudah pasti tahu jawabannya.

Apakah Rizieq membaca Quran? Apa dia pernah baca ayat yang bunyinya seperti ini?

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat. (QS 6: 68)

Yang diminta Quran adalah meninggalkan orang-orang itu sampai mereka selesai mengolok-olok agama. Setelah itu, kalau mau makan, minum, pesta, ngobrol bareng lagi, silahkan! Tidak dilarang. Tetapi apa yang diminta Rizieq, yaitu penjara, adalah semangat yang melebihi ajaran Quran. Semangat Rizieq mengalahkan ajaran Quran.

Oknum-oknum pemerintah, juga presiden mungkin, ingin agar Islam diajarkan cuma Islam yang sejuk. Saya pastikan orang seperti ini, termasuk menteri agama atau apapun tidak mempelajari Quran. Islam adalah Islam, sumbernya Quran, bukan tafsir dan riwayat-riwayat yang sarat dengan semangat keagamaan yang tinggi. Bagaimana para dai memuja ahlak para pendahulunya yang dekat dengan nabi, tidak sejalan dengan ayat Quran ini:

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)

Ini mengisahkan pada saat sholat jumat, nabi sedang berkhotbah, tiba-tiba di luar masjid ada orang (berteriak-teriak) menjajakan dagangannya dan jemaah keluar untuk menonton pedagang tersebut dan tersisa hanya beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Tentu saja kebanyakan riwayat-riwayat yang ada agak bertolak belakang, dalam arti sahabat-sahabat nabi iman dan kepatuhannya tinggi. Silahkan nilai sendiri, tingkat keimanan, kesopanan, kepatuhan orang seperti ini. Pada jaman Now saja, tindakan seperti ini (meninggalkan khatib berkhotbah) dianggap kurang ajar.

Jadi dari mana semangat keagamaan yang membuat Dita mau membawa keluarganya bunuh diri atau Rizieq ngotot mau memenjarakan Ahok?

Sumber-sumber selain Quran itulah yang membuat adanya Islam yang sejuk dan Islam yang radikal. Padahal sesungguhnya hanya ada Islam saja.

Membatasi dakwah Islam hanya Islam yang sejuk dan moderat itu bukan cara untuk menurunkan terorismen. Yang tepat adalah menghapuskan pelajaran sejarah dan segala bentuk cinta tanah air. Karena itulah sumber kekerasannya. Sumber kefanatikan terhadap idiologi yang kita percayai

NKRI Bukan Harga Mati
Kalau HTI dan konco-konconya berteriak: “Negara Khalifah!!” maka kubu yang berseberangan meneriakkan yel-yel: “NKRI Harga Mati!”

Harus diingat di balik sejarah, banyak hal-hal yang bisa terbaca, istilahnya read between the lines. Indonesia baru ada sejak tahun 1945 yang muncul dari reruntuhan Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Bahkan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” dulu tidak ada, melainkan “Dari Sabang sampai Bula” karena Irian baru resmi menjadi bagian dari Indonesia tahun 1969.  

Kemudian Timor Timur menjadi provinsi ke 27 Indonesia tahun 17 Juli 1976, melalui pertumpahan darah. Dan lepas lagi di tahun 2002 juga melalui pertumpahan darah. Apakah penganjur NKRI Harga Mati tidak bisa belajar dari masa lalu? Atau kekalahan semangat NKRI sengaja dihapus dari pelajaran sejarah? Belum lagi pertanyaan: Apakah NKRI Harga Mati itu setara dengan harga nyawa manusia?

Lahir dan lenyapnya suatu bangsa, adalah biasa. Bangsa Prussia, Maya, Gaelic hilang dari percaturan dunia. Belum lama, Cekoslovakia, Yugoslavia juga hilang. Timor Leste lahir. Itu bagian dari kehidupan. Mengingkari hal ini adalah suatu kebodohan.

Chauvinisme bisa membawa penderitaan bagi penganutnya. Silahkan tanya kepada Rodovan Karadzic yang divonis 40 tahun penjara oleh pengadilan Internasional. Juga kepada Slobodan Milošević yang mati di tahanan pengadilan Internasional.

Memang tidak semua penganut chauvinisme berhasil diseret ke pengadilan Internasional. Westerling misalnya yang dituduh melakukan pembunuhan massal di Sulawesi Tenggara, tidak pernah bisa diadili. Dan yang didepan mata kita, jendral Wiranto bersama 7 orang lainnya dituduh bertanggung jawab atas kematian 1400 orang Timor Timur selama periode 1 Januari and 25 Oktober 1999. Perintah penahanannya (pencekalannya) dikeluarkan oleh the Serious Crimes Unit, PBB pada 10 May 2004. 

Mungkin persoalan Wiranto sudah terselesaikan secara pembiaran (impunity) seperti Westerling, mungkin juga belum. Kalau belum, artinya kalau Wiranto pergi keluar negri punya  potensi ditangkap untuk diadili, walaupun dia jadi presiden RI.

Masih mau NKRI Harga Mati? Atau Negara Khalifah harga mati?

Renungkan lagi, berapa yang harus anda bayar. Mati barangkali.

Sekian dulu, sampai lain waktu……

Jakarta 24-May-2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, May 16, 2018

Teroris (Bagian I): Pahlawan = Teroris?


Minggu lalu banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di republik ini. Pada hari Selasa tanggal 8 May 2018,  kita dikejutkan oleh kerusuhan di Mako Brimob, pemberontakan tahanan teroris yang mengakibatkan 5 orang anggota polisi dan 1 tahanan tewas. Kemudian serbuan masyarakat ke kantor polsek Bayah, Lebak, Banten tanggal 12 May 2018. Kemudian Minggu pagi hari tanggal 13 May 2018 kita dikejutkan oleh beberapa aksi bom bunuh diri yang hampir serentak ke 3 gereja di Surabaya. Dilanjutkan dengan pemboman oleh satu keluarga lagi ke Malporestabes Surabaya tanggal 14 May 2018, sehari sesudah pemboman serentak ke 3 gereja Surabaya. Dan terakhir, pagi ini serangan teroris dengan senjata tajam ke Mapolda Riau.
Diantara serangan-serangan ini ada yang tidak umum, atau katakanlah berpola baru, asli dari Indonesia, yaitu yang dilakukan oleh wanita ibu Puji Kuswati namanya, dengan mengikut sertakan dua anaknya yang masih kecil. Ini suatu hal yang menarik karena wanita, baik pada manusia atau pada kebanyakan hewan mempunyai sifat bawaan alam untuk memelihara kehidupan, nurturing life. Bukan merusak dan menghancurkan kehidupan. Yang sering ditemui, wanita bisa membunuh dalam keadaan terpaksa dan terpojok atau dalam keadaan mata gelap. Seorang wanita bisa membunuh bayinya sendiri dari hasil hubungan gelap misalnya karena tidak menemukan jalan keluar persoalannya. Dalam sejarah tidak banyak ditemui pahlawan wanita. Yang melakukan bunuh-bunuhan adalah kaum pria. Bahwa bisa menumbuhkan militansi dikalangan wanita sehingga bisa mendorongnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri adalah suatu prestasi yang luar biasa atau situasinya sudah benar-benar membuat para wanita ini muak dan rela melakukan bunuh diri. Untuk melatih laki-laki untuk melakukan kamikaze (bunuh diri) itu sudah sulit, apalagi wanita, kecuali jika ada faktor kondisi.
Dengan adanya serangan ledakan bom dan serangan terhadap polisi yang berturut-turut membuat ramai di masyarakat, setidaknya di media massa dan media sosial, menyuarakan kutukan terhadap kelompok yang melakukan aksi kekerasan ini dan pemerintah/presiden Jokowi ingin membasmi  sampai ke akar-akarnya.
Tetapi ada juga oleh sebagian orang kejadian ini juga dijadikan jokes. Salah satu diantaranya di salah satu website berbunyi (dilengkapi dengan foto potongan penis) :
Viral di media sosial tentang potongan penis yang sepertinya adalah milik pelaku bom bunuh diri. Kondisi yang memprihatinkan dan berantakan ini membuat netizen bergunjing cukup ramai.
Yang menjadi pokok pembahasan adalah ketika pelaku melakukan bunuh diri tujuannya adalah bertemu bidadari surga dan bisa melakukan hubungan seksual sepuasnya.
Tapi yang jadi masalah adalah penisnya lepas dan tentu akan merepotkan nantinya. Netizen ramai membicarakan apa yang terjadi nanti ketika bertemu bidadari. Bisa jadi teroris malah diketawain sama para bidadari karena penisnya masih tertinggal di bumi dalam kondisi berantakan.
Atau meme seperti ini


Ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak terlalu perduli atau sedih – atas kejadian tersebut. Opini EOWI adalah agnostik untuk hal seperti ini. Bagi EOWI, terorisme itu bukan ancaman. Yang jadi sasaran teroris bom adalah gereja, tempat hiburan dan polisi khususnya Densus 88. Kalau masjid dan ulama adalah sasaran orang gila. Dan kalau KPK adalah sasaran teroris dengan air keras bukan bom.
Saya jarang ke kantor polisi, tidak pernah lagi ke gereja dan jarang ke tempat-tempat hiburan seperti bar. Saya juga bukan KPK dan hanya seminggu sekali ke masjid serta tidak punya tampang ulama. Jadi teroris buat saya kecil resikonya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Lebih baik tenaga dicerahkan untuk cari duit saja.
EOWI tidak mau ribut-ribut yang reaktif. Tetapi ada sesuatu yang menggelitik dan mengusik benak saya. Ada satu hal pokok yang paling medasar, yaitu mengerti apa yang dibicarakan. Apa itu teroris? Pembaca akan terkejut dengan kesimpulan uraian berikut ini.

Teroris dan Pahlawan adalah Satu
Sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu saja, mari kita simak dan renungkan arti kata teroris untuk kasus berikut ini. Mungkin banyak pembaca yang belum lahir ketika kejadian ini berlangsung.

Kejadiannya adalah pemboman bank HSBC Singapura yang dulu ada di MacDonald House, Orchard road pada tanggal 10 Maret 1965.  Aksi ini yang memakan korban 3 orang meninggal dilakukan oleh Harun Tohir, dan Usman Jannatin, anggota KKO (marinir) RI.

Pertanyaannya: Apakah Harun Tohir, dan Usman Jannatin itu teroris atau pahlawan?

Menurut bukti tertulis Singapura, Harun Tohir, dan Usman Jannatin adalah teroris. Sampai saat ini masih bisa anda lihat sendiri di MacDonald Building di Orchard road sebuah plakat yang menyebutkan secara eksplisit kata teroris itu lebih tepatnya Indonesian terrorists. Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan bahwa Singapura menggolongkan Usman dan Harun sebagai teroris.




Di pihak lain Usman dan Harun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebuah pengakuan yang tidak terbantahkan bahwa keduanya adalah pahlawan. Tidak hanya itu nama Usman Jannatin juga diabadikan sebagai nama masjid. Dan mungkin masih banyak pengakuan-pengakuan yang lain yang saya tidak tahu.

Tidak hanya itu, pemerintah RI tahun 2014, RI membeli kapal korvet Jerambak dari Brunei merubah nama kapal perang KRI tersebut menjadi Usman-Harun (359) tetapi mendapat protes dari Singapura, sehingga nama tersebut diganti menjadi KRI Bung Tomo (357).  Artinya Republik Indonesia setuju dengan Singapura. – QED.

Saya akhir uraian di atas dengan akronim QED yang merupakan kepanjangan dari Quod Erat Demonstrandum artinya "apa yang seharusnya ditunjukkan” atau secara lugas berarti “terbukti”, “bukti telah dibeberkan”. Tidak bisa untuk membantahnya lagi.

Kembali ke persoalan semula: Jadi apakah keluarga pak Dita dan bu Puji Kuswati itu teroris atau pahlawan?

Quiz
Apa bedanya sih pahlawan dan teroris untuk saya? Nyaris tidak ada. Bahkan berita bom bunuh diri bu Puji Kuswati itu mungkin juga hoax. Mungkin juga rekayasa. Siapa tahu? Hal ini patut dicurigai karena Polri mencela-mencele, ibaratnya hari ini kedele besok tempe. 

Misalnya kata kapolri jendral Tito pada tanggal 13 May 2018 dalam keterangan persnya, bahwa mereka sekeluarga (keluarga pasangan Dita-Puji) ini baru pulang dari Suriah (https://news.detik.com/berita/4018581/keluarga-pengebom-gereja-surabaya-baru-pulang-dari-suriah), tetapi para tetangganya mengatakan bahwa mereka ini tidak pernah ke Suriah seperti dilansir seorang wartawan asing ABC, David Lipson di Twitternya sekitar 4 jam setelah Kapolri Tito memberi keterangan  (https://twitter.com/davidlipson/status/995897272574464000 ).  Baru hampir sehari kemudian kapolri jendral Tito meralatnya. Mungkin kalau tidak ada David Lipson, cerita tentang keluarga pembom Dita-Puji ini dari Suriah masih sahih. Kisah teror dengan bumbu Suriah akan lebih menyakinkan dan dahsyat dari pada tidak.

Terus terang saja, untuk masalah teroris, posisi EOWI adalah agnostik. Pembahasan kasus ini sekedar untuk memuaskan intelektualitas saja. Oleh sebab itu tulisan ini akan diakhiri dengan quiz.

Kasus I
Tahun 2015 terjadi pemboman di Mall Alam Sutra yang dilakukan oleh seorang bernama Leopard Wisnu Kumala. Dari namanya patut diduga ia seorang dari etnik Cina dan beragama Kristen (mungkin bukan Katholik seperti mayoritas etnik Cina, karena nama depannya bukan tipikal nama baptis, seperti Leonardus misalnya).

Apakah Leopard Wisnu Kumala ini seorang teroris?

Kasus II
Pada tanggal 25 Februari 2003, Badan Pemerintahan Transisi PBB untuk Timor-Timur (UNTAET) mengeluarkan perintah penangkapan terhadap jendral Wiranto bersama dengan 7 orang lainnya yang bertanggung jawab atas tuduhan pembunuhan sebanyak 1400 orang, deportasi dan tindak kekerasan sebagai bagian dari kejahatan terhadap kemanusiaan (serious crime against humanity) yang dilakukan sepanjang 1 Januari – 25 oktober 1999. 

Sampai sekarang Wiranto masih menjadi buron PBB. Dan kalau dia keluar negri, bisa ditangkap untuk diadili PBB, seperti Slobodan Milocevic, Rodovan Karadzic dan Hideki Tojo.

Apakah jendral Wiranto seorang teoris? Lebih penting lagi, apakah NKRI akan menyerahkannya ke mahkamah PBB untuk diadili (dibuktikan bersalah/tidak atas tuduhan pembunuhan 1400 orang itu), jika Indonesia mau konsisten dengan UU anti terorisme?

Atau.....Wiranto seorang (calon) pahlawan yang nanti kalau meninggal dikuburkan di Taman Makam Pahlawan?

Pertanyaan terakhir yang paling mendasar: Apa itu artinya teroris?

Sekian dulu, sampai lain kali untuk bagian berikutnya.



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.