_____________________________________________________________________________________________________________________




Tuesday, March 24, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (III)



Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis (Dollar Bull Market)

Penghembusan Bubble US Dollar

Ada pembaca EOWI bertanya, kenapa emas tidak melambung harganya ketika terjadi krisis yang dinamakan EOWI sebagai Gejolak 2014 – 2020?. Dan ini sudah terasa. Harga emas tertekan, lebih-lebih ketika US dollar mengalami rally.
Ada baiknya pembaca EOWI kembali membaca laman Gejolak 2014 – 2020 lagi dan mencoba mencerna isinya. Perlu diperhatikan bahwa krisis kali ini adalah bagian dari siklus yang rentangnya seumur manusia. Kalau umur rata-rata manusia saat ini adalah 71 tahun, maka rentang siklus ini adalah 71 tahun. Oleh sebab itu krisis ini hanya dialami oleh seseorang sekali seumur hidupnya, kecuali ia berumur panjang seperti nabi Nuh, yang konon umurnya mencapai 900 tahun. Dalam sejarah keuangan, uang kertas, termasuk US dollar, selalu berakhir ke nilai interinsiknya, yaitu nol, tetapi pada krisis ini US dollar belum akan menjadi nol. Memang hal ini sulit dicerna karena beberapa tahun lalu, tahun 2000 – 2010, masyarakat terpelajar dijejali doktrin bahwa US dollar akan menjadi nol nilainya. Banyak buku-buku terbit pada periode ini bertemakan US dollar menjadi nol. Tetapi sekali lagi EOWI katakan, US dollar akan menjadi nol nilainya pada suatu masa nanti, tetapi saat ini belum masanya.
Sayangnya untuk studi kasus, analogi tidak bisa diambil, karena untuk menengok ke belakang sajarah masa lalu, memang sepengetahuan EOWI belum pernah terjadi krisis deflationary di dalam sistem uang fiat. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi halangan bagi EOWI untuk mengkajinya, melakukan analisa dan menyimpulkan outcome nya. Bagi pembaca yang masih penasaran mengenai mekanisme krisis dan kenapa emas bukan safe-haven pada krisis kali ini, silahkan baca kembali laman Gejolak 2014 – 2020.
US dollar sudah mengalami rally sejak tahun 2011, ketika secular bull market di sektor komoditi berakhir. Tetapi pemerintah, para pelaku pasar dan bisnis di Indonesia baru tersadar ketika rally dollar mengalami percepatan di tahun 2014. Segala macam komentar serta opini pakar di media membeokan apa yang disiarkan di media US. Dollar menguat karena the Fed mau menaikkan suku bunga.  Entah sejak kapan issue the Fed mau menaikkan suku bunga. Terlalu lama untuk diingat, kata kuncinya “mau”, dan sampai sekarang kata “mau” masih digunakan. Dan entah kapan kata “mau” diganti menjadi “sudah”. Dari 8 poin hasil rapat komite the Fed yang keluar minggu lalu (20 Maret 2015), belum nampak kapan kata “mau” diganti dengan “sudah” dalam kaitannya dengan menaikkan suku bunga. Inilah poin-poin yang dimaksud dan artinya:


  1. The Committee continues to see the risks to the outlook for economic activity and the labor market as nearly balanced.
Maknanya: kalau sudah mencapai keseimbangan, artinya bisa njomplang lagi ke kiri atau ke kanan. Kalau dipaku secara kokoh, baru tidak bisa njomplang.
  1. The Committee continues to monitor inflation developments closely.
Maknanya: The Fed masih belum tahu apa yang terjadi dan tidak bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi.  Kalau sudah tahu, tentunya punya rencana dan bertindak.
  1. The Committee judges that an increase in the target range for the federal funds rate remains unlikely at the April FOMC meeting.
Maknanya: The Committee (Fed) tidak tahu apa yang terjadi, maka jangan harap the Fed akan mengambil tindakan apa-apa. Tunggu saja sampai kami (the Fed) tahu apa yang terjadi.
  1. Just because we removed the word “patient” from the statement doesn’t mean we are going to be impatient.
Maknanya: Walaupun the Fed sudah menghilangkan kata “patient” (“sabar”) bukan berarti menjadi tidak sabar dalam menaikkan suku bunga. Dikira-kira sendiri saja lah...
  1. While it is still the case that we consider it unlikely that economic conditions will warrant an increase in the target range at the April meeting, such an increase could be warranted at any later meeting, depending on how the economy evolves.
Maknanya: Walaupun the Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai April, bukan berarti setelah itu akan menaikkan suku bunga. Dikira-kira saja sendiri saja lah...
  1.  Well, when an economy is operating at the so-called zero lower bound, it creates a situation where there are asymmetric risks. It is possible if the economy proves stronger than is expected to respond to that by tightening policy. If there are adverse shocks to demand that tend to push inflation and economic performance in an adverse direction it's not possible to lower rates.
Maknanya: Kami (the Fed) tahu kalau ekonomi masih sontoloyo, walaupun suku bunga sudah nol. Oleh sebab itu, mungkin kami (the Fed) akan menaikkan suku bunga, sehingga nantinya bisa kita turunkan lagi. Dengan demikian kami (the Fed) kelihatannya bekerja.
  1. In some corporate debt markets, we do see evidence of unusually low spreads.
Maknanya: Siapa sih yang begitu tolol membeli corporate bond dengan yield seperti treasury bond, hanya 5%?
  1. The global experience shows that giving central banks independence to make monetary policy decisions that they think are in the best interest of the country and consistent with their mandates leads to lower inflation and more stable macroeconomic outcomes.
Maknanya: Bank-bank sentral di dunia ini hebat, terutama dengan perannya membuat bubble dan membuat siklus boom & bust makin hebat sampai hampir menghancurkan sistem finansial global dan memberikan impresi bahwa dunia masih memerlukan bank sentral dan kami (bank sentral) punya pekerjaan yang penting.
Dari pernyataan-pernyataan the Fed pada rapat tanggal 17 – 18 Maret 2015, nampaknya the Fed sedang mengkondisikan pelaku pasar agar siap terhadap kenaikkan suku bunga. Pasalnya, kalau tidak dinaikkan maka the Fed tidak punya kerja. Dengan suku bunya yang nyaris nol, the Fed tidak punya kerja dan nampak sepertinya impoten, tidak punya kekuatan lagi untuk memperbaiki ekonomi. Oleh sebab itu the Fed suku bunga akan dinaikkan supaya ada ruang untuk menurunkannya kembali. Jadi the Fed nampak punya kerja....sibuk dan bukan kelihatan nganggur. 

Teknikal dan Target Rally Dollar

Apakah the Fed mau menaikkan suku bunga atau tidak, bukanlah hal yang penting dan tidak menjadi urusan EOWI. Ekonomi sudah berjalan dengan auto-pilot. Ketiadaan bank sentral sebenarnya lebih baik. Oleh sebab itu, EOWI tidak merasa perlu melihat keputusan the Fed. Teknikal dari US dollar akan punya peran dalam mendikte gerak US dollar.
Berikut ini adalah traded US dollar index (simbol DXY) sebut saja US dollar indeks walaupun ada beberapa jenis US dollar index. Tetapi yang akan digunakan adalah traded US dollar index. Chart ini saya ambil dari situs Trading Economic. Terlihat adanya bentuk formasi bullish falling wedge yang sangat besar (jangka lama) dari tahun 1980 dan US dollar indeks berhasil menembusnya ke atas pada tahun 2014. Saat ini US dollar index di sekitar 100 (antara 96 – 100).
 
Chart- 1

Seorang analis teknikal biasanya tahu target pattern falling wedge ini. Jika antara tahun 1980 sampai 1984 rally membawa US dollar indeks dari 82 ke 162 (naik 80 poin atau hampir 100%), maka rebound kali ini akan sebesar 80 poin dihitung dari resistance nya (di 90). Oleh sebab itu 170 adalah target rebound dari pattern falling wedge besar ini.
Kalau anda ingin tahu lebih lanjut mengenai falling wedge, kami anjurkan untuk mencarinya di internet.
Situs http://www.forex-tribe.com/Falling-Wedge.php menyajikan beberapa data statistik dari falling wedge.
  1. Ada 92% peluang untuk menembus resistance nya dan rebound ke arah target.
  2. Jika resistance nya sudah tertembus, maka peluangnya mencapai target adalah 63%.
  3. Ada peluang sebesar 27% akan terjadinya false breakout.
  4. Target rebound panjangnya sama dengan rally pertama di pattern falling wedge. Untuk kasus DXY (US dollar indeks), besarnya adalah 80 poin. Oleh sebab itu target rally US dollar indeks adalah 170. Artinya kalau sekarang DXY ada di kisaran 96 – 100, maka kenaikan harga dollar akan mencapai 70%.
Mungkin pembaca mengatakan bahwa US dollar tidak mungkin rally sebesar itu. Pembaca yang skeptis harus menengok 34 ke belakang, tahun 1980 – 1984. Indeks 82 sampai 162. Kenapa sekarang tidak bisa. Bahkan kalau sekarang seharusnya bisa lebih banyak lagi.
Jika US dollar bisa menguat 70% lagi (indeksnya rally dari 100 ke 170), maka dalam rupiah, US dollar bisa rally dari Rp 13,000 ke Rp 22,000. Seperti perkiraan kasar EOWI tentang target US dollar rally beberapa waktu lalu yaitu antara Rp 17,000 sampai Rp 25,000, sekarang secara teknikal bisa dijelaskan.
Apakah benar US dollar akan mencapai Rp 22,000......tinggal tunggu waktunya saja. Dengan waktu, akan dibuktikan apakah EOWI isinya hanyalah crackpot yang suka teler dan menghayal atau target Rp 22,000 sesuatu yang akan menjadi keniscayaan.
Hallo, Imam Semar bangun!!.......Indonesia sudah dikeluarkan dari the fragile five lho!!!
Pembaca EOWI yang setia, krisis kali ini adalah krisis yang belum pernah dilihat oleh manusia yang masih hidup saat ini yang juga masih belum bau tanah. Keluar dari the fragile five tidak berarti lepas dari keterikatan terhadap US dollar dan keterkaitan dengan ekonomi dunia. Norwegia yang bukan anggota the fragile five juga bisa jatuh mata uangnya.

Opsi Long US Dollar

Ada pembaca yang menanyakan bagaimana cara menyimpan US dollar cash? Perlu EOWI tekankan kembali, dimasa krisis deflationary, US dollar cash is the king, bukan US dollar kredit. Karena kredit diciptakan oleh bank-bank dari kenihilan. Istilahnya kredit adalah creatio ex nihilo. Oleh sebab itu ketika ada krisis (deflationary), kredit akan menguap, puffff....hilang menjadi nihil lagi. Oleh sebab itu yang harus kita miliki adalah cash, yaitu uang yang bisa dipegang, dilipat, dimasukkan dompet,.......
Bagaimana cara menyimpannya, karena semua akan mengincar cash anda, apa lagi perampok.  Begitulah pertanyaan banyak orang.
Bagi yang melakukan investasi di emas pada dekade 2000an (2000 – 2011), tentunya tahu bagaimana menyimpan asset tangible seperti  emas. Mereka ini tentunya sudah punya jawaban bagaimana menyimpan US dollar cash. Bahkan untuk US dollar, opsinya lebih banyak dari pada emas batangan. Mari kita lihat satu persatu.

  1. Deposito berjangka US dollar: cara ini punya kelemahan, yaitu ketika krisis mulai mengalami eskalasi (percepatan), dan depositonya belum jatuh tempo, maka asset kita tertahan di bank. Hal yang demikian membuat tabungan menjadi rentan terhadap segala ketidak-bijakan pemerintah (pembekuan asset, konversi paksa ke rupiah dengan nilai tukar yang buruk, dll) serta jika bank bangkrut maka milik kita ikut menguap bersamanya. Sedangkan keuntungannya adalah perolehan bunga deposito. Deposito berjangka hanya bagus kalau kita tahu bahwa krisis masih lama meletusnya.
  2. Tabungan US dollar: Resiko dan keuntungannya hampir sama dengan deposito berjangka. Tetapi tabungan US dollar mempunyai keunggulan bahwa asset ini bisa dicairkan lebih cepat tanpa kena penalty. Sehingga pada saat krisis mengalami eskalasi, asset kita di bank kemungkinan besar bisa cair. Harus diingat bahwa kita tidak boleh terlambat. Pengalaman tahun 1997, beberapa bulan sebelum krismon 1998, saya akan pindah ke Scotland dan mengalami kesulitan menukarkan uang rupiah saya ke poundsterling di money changer.  Tetapi tidak sulit membuat demand draft poundsterling.
  3. Cash di safe deposit box (SDB): anda bisa menyewa safe deposit box di bank sebuah bank untuk menyimpan cash di sana. Bagi yang pernah berinvestasi di emas pada dekade 2000an, cara ini adalah cara yang aman untuk menyimpan dan bertransaksi emas. Saya dulu biasanya melakukan transaksi emas di bank. Bank dengan safe deposit box (SDB) digunakan sebagai tempat rendezvous dan bertransaksi. Emas langsung dimasukkan ke SDB dan transfer pembayaran dilakukan ditempat yang sama.
Untuk US dollar cash, kita bisa ambil di bank counter kemudian dimasukkan ke SDB. Resiko dirampok menjadi kecil. Cara ini aman dan sederhana. Mungkin tidak sesederhana itu. Setidaknya saya masih punya pertanyaannya:
a.      Pada masa krisis dan bank kena rush, apakah SDBnya masih buka dan uang yang kita simpan disana masih bisa di-access (diambil)?
b.      jika banknya bangkrut, apakah SDBnya akan ditutup sampai proses peleburan dsb selesai?
Kedua pertanyaan ini saya tidak bisa menjawabnya, karena pada masa krismon 1997 – 1998, walaupun saya mempunyai SDB di bank Bumi Daya di Jakarta, tetapi saya tinggal di Scotland. SDB saya yang berisi perhiasan istri tidak pernah dibuka sampai kami kembali ke Jakarta tahun 2000.
  1. Deposit Box/Brankas (di rumah): Cara yang paling sederhana untuk menyimpan US dollar cash atau barang-barang berharga lainnya adalah dalam brankas atau lemari (kotak) besi. Hanya saja, cara ini rentan terhadap perampokan. Apa lagi jika banyak orang keluar-masuk rumah kita (domestic helpers) yang kurang kita percayai. Terkadang otak kejahatan adalah orang dalam. Resiko dari cara ini akan berkurang jika tidak ada yang tahu bahwa anda punya brankas di rumah.
Ada baiknya anda membuat rencana bagaimana cara menyimpan asset-asset anda sebelum krisis, menjelang krisis dan di masa krisis. Masing-masing punya resiko yang berbeda sehingga cocok untuk saat yang berbeda. Ketika krisis masih jauh, menyimpan uang US dollar sebagai deposito adalah yang terbaik. Semakin dekat ke arah krisis, berangsur-angsur deposito dikonversikan ke (ditukar dengan) tabungan/giro, selanjutnya ke SDB atau brankas.Diskusi dan buat rencana dengan pasangan anda. Apakah meminta saran dan adivs dari konsultan investment anda adalah hal baik? Saya tidak tahu. Sebab opsi no.4, sebaiknya tidak banyak orang yang tahu.
Suatu hal yang perlu diingat, bahwa pada puncak krisis moneter, cash bisa lebih berharga dari pada kredit. Pada saat ATM tutup, bank tutup (tidak bisa bertransaksi), kartu kredit/debit tidak laku, orang-orang kaya mau ke luar-negri,  maka harga/nilai lembaran dollar bisa lebih tinggi dari pada dollar digital elektronik. Itu pernah terjadi baru-baru ini di Venezuela, Argentina, Ukraina bahkan dulu juga pernah terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu punya cash di tangan berarti punya peluang untuk memperoleh keuntungan.


EOWI mengatakan bahwa eskalasi rally dollar akan memicu krisis, karena......, bayangkan para dollar carry traderers mulai menyadari bahwa meminjam US dollar untuk diinvestasikan kedalam mata uang emerging market untuk memperoleh selisih bunga ternyata sudah tidak menguntungkan lagi, karena tergerus oleh depresiasi mata uang negara emerging market, maka kemudian mereka keluar. Sebagai akibatnya terjadi akselerasi appresiasi dollar. Hal ini bisa diperparah jika spekulan ikut masuk ke posisi long dollar dengan leverage. Maka US dollar akan naik secara parabolik. Ini akan membuat debitur dollar kelabakan karena beban hutangnya semakin berat. Selanjutnya bisa terjadi gagal bayar, yang kemudian dilanjutkan dengan tertutupnya aliran kredit.
EOWI menempatkan appresiasi dollar sebagai pencetus krisis nomor 2, karena proses appresiasi dollar sudah berjalan. Hanya menunggu terjadinya akselerasi sehingga membuat para dollar carry traders panik masuk kandang, spekulan ikut terjun meramaikan pesta dan akhirnya para debitur (yang berdenominasi US dollar) yang akan terbantai tidak bisa bayar hutang, dan selanjutnya kran kredit tertutup.
Sekian dulu sampai kisah lanjutannya.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, March 19, 2015

Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713 (II)




Gejolak 2014 – 2020: Sepuluh Potensi Pemicu Krisis

Tulisan ini adalah lanjutan dengan tulisan sebelumnya berjudul: Ramalan Untuk Tahun Kambing 4713. Di bagian ke dua ini akan diramalkan kejadian-kejadian apa yang bisa (tetapi tidak harus) menjadi pemicu dari krisis yang mungkin berlangsung di tahun kambing kayu 4713 ini atau tahun berikutnya yaitu 4714 pada penanggalan Cina.
Mengingat panjangnya kisah kali ini, EOWI akan memecahnya menjadi beberapa bagian.
Setidaknya ada 10 pemicu yang bisa EOWI identifikasi berpotensi menjadi pemicu krisis tahun 2015 M. Antara lain:
  1. Bubble hutang dan bubble properti Cina meletus
  2. Penghembusan bubble US dollar
  3. Jerman mengalami resesi dan krisis disusul zone Euro
  4. Zone Euro pecah, Yunani keluar dari zone Euro diikuti oleh Spanyol, Portugal, Itali
  5. Dot Com jilid II
  6. Indeks Dow Jones secara teknikal terkoreksi dan dipersepsikan sebagai koreksi tajam.
  7. Kejatuhan harga bahan komoditi tambang dan minyak berlanjut dampaknya ke emerging market dan negara-negara OPEC
  8. FFF bubble meletus, junk bond bubble meletus
  9. Cuaca buruk, gagal panen dan krisis pangan (melonjaknya harga bahan pangan)
  10. Ekspor terorisme ke nagara barat (2000)

Sumber Krisis: Bubble Hutang yang Mencapai Rekor

Pada laman Gejolak 2014 – 2020 , dibahas secara panjang lebar mengenai penyebab krisis. Intinya yaitu hutang untuk leverage. Pada krisis yang diramalkan akan terjadi di antara tahun 2014 – 2020 pada dasarnya adalah koreksi adanya kelebihan-kelebihan (excess) dan bubble yang disebabkan hutang. Deflasi adalah kata lain dari kontraksi hutang. Dan deflasi global adalah kontraksi hutang secara global.
Bubble umumnya meletus, bukan mengempis perlahan-lahan. Oleh sebab itu bubble hutang global yang menjadi sumber kekuatan ledak krisis 2014 – 2020 akan meletus. Tetapi untuk meletusnya perlu pemicu.
Sebelum mulai dengan faktor-faktor yang menjadi pemicu meledaknya bubble hutang global, kita akan update dulu bubblenya.
Report dari McKinsey Global Institute mengenai status terkini dari bubble hutang global yang berjudul: “Debt and (not much) deleveraging”  mengatakan bahwa krisis subprime 2008 tidak serta merta secara global menyebabkan pelaku ekonomi melakukan deleveraging, mengurangi hutangnya. Antrara tahun 2008 sampai tahun 2014, jumlah hutang global ternyata meningkat sebesar $57 trilliun. Peningkatan hutang terbesar datangnya dari Cina. Dalam 7 tahun terakhir (2007 – 2014) total hutang di Cina meningkat 4 kali lipat (400%)! dari $7 trilliun di tahun 2007 menjadi $28 trilliun di tahun 2014. Ada dua faktor yang memungkinkan hal ini terjadi di Cina, yaitu properti bubble dan shadow banking.
Pada kwartal II 2014 menurut McKinsey Global Institute, hutang di dunia ini telah mencapai $200 trilliun. Dibandingkan GDP dunia sebesar $ 74 trilliun, hutang ini telah mencapai 270% dari GDP. Ini adalah ulah bank-bank sentral dunia yang mengucurkan likwiditas dengan segala jenis quantitative easing sejak krisis sub-prime di US.
Pada saat suku bunga suku bunga rendah terutama di negara-negara maju, investor menjadi semakin aggressive karena merasa tidak ada resiko lagi. Kalau ada krisis, mereka pikir bank-bank sentral akan menalanginya. Akibatnya bubble-bubble lain (selain di sektor properti US) bermunculan lagi.  Bubble emas dan bahan komoditi pecah di tahun 2011. Dengan demikian pilihan pelaku pasar berkurang satu.
Bubble baru yang muncul antara lain Dot-Com bubble jilid II. Indeks Nasdaq menembus level bubble Dot-Com tahun 2000. Demikian juga indeks Dow Jones dan indeks-indeks banyak negara berkembang, terbang membuat rekord baru.
Ini disebut bubble. Kenapa disebut bubble, karena kenaikan saham tidak punya dasar ekonominya. Selama 7 tahun, dari tahun 2000 sampai 2007 GDP dunia naik $17 trilliun dari $35 trilliun menjadi $53 trilliun. Selama itu, hutang juga naik $ 55 trilliun. Dengan kata lain, untuk menciptakan GDP $1 diperlukan $3.16 hutang. Jadi jangan heran ekonomi dunia tidak “sepenuhnya” pulih. Tahun 2007 – 2014 effektifitas hutang sebagai stimulus ekonomi menjadi lebih buruk. Untuk menghasilkan GDP sebesar $1, diperlukan hutang 3.39. Hutang menjadi beban kepada ekonomi. Jika ada pemicunya, bubble hutang ini akan kolaps. Dan itulah yang sedang kita amati terus.


Bubble Hutang dan Bubble Properti Cina Meletus

Stephen Roach, (mantan) ketua analis ekonomi dari Morgan Stanley, pada dekade lalu selama 1 dekade meramalkan bahwa ekonomi Cina akan rontok. Entah kenapa sekarang suara sumbang Stephen Roach itu tidak terdengar lagi.
Stephen Roach tidak salah ketika mengatakan bahwa ekonomi Cina membubble dan akan meletus. Tetapi, seperti halnya bubble-bubble lain, bisa terus membesar dan tidak tahu kapan meletusnya. Oleh sebab itu, ada nasehat yang kaitannya dengan mengshort bubble:Dalam melakukan shorting sebuah bubble, harus diingat bubble masih bisa terus membesar, terus sampai pelaku-pelaku shorting bisa kehabisan dana.” Dengan kata lain, kapan bubble akan meletus, sulit diramalkan. Oleh sebab itu, dengan hati-hati EOWI mengatakan bahwa bubble di Cina punya potensi meletus. Kalau ditanya kapan meletusnya, jawaban EOWI: “Sorry...., kami tidak tahu.”
Menurut laporan  McKinsey Global Institute (MGI), hutang total di Cina meningkat 4 kali lipat dalam kurun waktu antara 2007 sampai 2014 dari $ 7 trilliun menjadi $ 28 trilliun. Kalau jumlah ini hanya sebagian kecil dari GDPnya, maka tidak akan ada persoalan apa-apa. Tetapi jumlah yang $ 28 trilliun ini adalah hampir 300% (tiga kali lipat) dari GDPnya. Ini Dan rasio ini lebih besar  dari rasio hutang-GDP di US atau di Jerman. Memang masih banyak negara maju lainnya yang mempunyai rasio hutang-GDP yang lebih tinggi seperti US, Jerman atau Jepang, tetapi mereka ini termasuk negara maju dan pertumbuhan ekonominya tidak setinggi Cina. Hutang adalah kata lain dari membawa konsumsi/pengeluaran di masa depan ke masa sekarang.  Segala pengeluaran yang dibiayai hutang, akan diimbangi dengan berkurangnya pengeluaran di masa datang.
Hutang harus dibayar dengan bunganya atau dikemplang. Pada saat hutang harus dibayar dengan bunganya maka ekonomi akan melambat. Apa bila pilihannya adalah membayar hutang yang jatuh tempo dengan hutang baru (roll-over) dan menambah hutang baru untuk meningkatkan konsumsi/pengeluaran maka hasilnya adalah bubble hutang. Di dalam suatu sistem ekonomi, hutang tidak bisa berekspansi secara terus menerus, karena hutang adalah beban. Ada batas kekuatan ekonomi suatu masyarakat untuk menanggung beban hutang. Pada saat hutang yang jatuh tempo tidak bisa dibayar maka jalan lainnya adalah harus dikemplang. Jika skenario ini yang terjadi, maka hasilnya adalah krisis. Dengan kata lain, akhir dari sebuah bubble hutang adalah krisis deflasi.
Menurut MGI, ada tiga (3) hal baru di Cina yang muncul antara tahun 2007 – 2014, yaitu:
1.      50% dari dari hutang/kredit terkait ke pasar properti Cina yang overheated.
2.      50% dari hutang yang baru terkait ke shadow-banking yang belum diregulasikan.
3.      Hutang dari pemerintah daerah di Cina beresiko gagal bayar.
Ketiga faktor di atas menjadikan hutang yang terbentuk di Cina dalam kurun waktu 2007 – 2014 cukup beresiko. Tetapi EOWI akan menambahkan beberapa faktor resiko lagi:
4.      Kaum kayanya melakukan exodus (keluar dari Cina), dana keluar dari Cina
Antara munculnya shadow banking yang belum diregulasikan, bubble di sektor properti dan ketidak-bijakan di sektor perbankan terkait satu dengan yang lain dengan sangat erat. Untuk memberikan subsidi kepada eksportir, bank-bank diperbolehkan memberikan bunga yang sangat rendah kepada deposannya. Akibatnya, nilai tabungan akan selalu tergerus inflasi. Oleh sebab itu para penabung mengalihkan simpanannya ke asset-asset lain, seperti properti. Yang bisa memperoleh kredit perumahan akan menyabet apartemen-apartemen sebagai investasi dan yang akhirnya dibiarkan kosong karena mereka berpikir bahwa apartemen kosong dengan kerusakannya dimakan waktu serta depresiasinya masih lebih baik dalam menahan penurunan nilai asset (akibat inflasi) dibandingkan dengan menyimpan uangnya di bank.
Selain apartemen dan properti, rakyat Cina yang berduit juga memilih investasi seperti "Golden Elephant No. 38" yang termasuk ke dalam kategori shadow banking, yang menjanjikan bunga kurang lebih 7%.
Yang membuat Cina beresiko bubblenya pecah saat ini adalah, pertama untuk menciptakan pertumbuhan sebesar $1 diperlukan kredit $3.60. Kredit sudah tidak effektif lagi. Sektor swasta dan perorangan saat ini harus menanggung beban bunga sekitar 13% dari GDP. Walaupun demikian, Cina tetap mencoba tumbuh 7% per tahun. Artinya pertumbuhan hutang akan meroket, dan bebannya juga akan meroket.
Yang diperlukan untuk membuat bubble pecah adalah, terbangunnya rakyat Cina dari mimpinya dan menyadari bahwa beban hutangnya sudah berat dan investasinya hanyalah pepesan kosong. Shadow banking seperti "Golden Elephant No. 38", banyak di antaranya hanya didukung oleh projek-projek perumahan yang hampir kosong ditinggalkan oleh penghuninya. Harus diingat bahwa rumah kosong harus dilihat lebih condong sebagai liability (beban) yang menguras uang dari kantong dari pada asset yang memasukkan uang ke kantong.
Tetapi menurut MGI, pemerintah Cina mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan sektor finansial jika krisis di sektor properti merebak. Jadi menurut MGI, Cina tidak akan mengalami krisis yang berkepanjangan. Mungkin opini ini ada benarnya. Tetapi, apakah sudah dimasukkan faktor exodus (keluarnya secara besar-besaran) kaum kaya, milyuner Cina dengan harta meraka. Beberapa berita (data) menyiratkan bahwa ditahun 2013 untuk pertama kalinya uang keluar dari Cina. Tahun 2013, untuk pertama kalinya sejak lama, Yuan mulai tertekan. Memang pelemahannya belum ada 10%, tetapi sudah ada pelemahan. Untuk pelemahan yuan ini, bisa saja berdalih bahwa Cina perlu melemahkan mata uangnya untuk mendorong ekspor. Tetapi bagi EOWI, pelemahan yuan adalah bagian dari proses deflasi US dollar.
Chart - 1
Puncak cadangan devisa Cina ada pada kwartal II 2014 (bulan July 2014), sejak saat itu cadangan devisa Cina tergerus. Selama 6 bulan (sampai Januari 2015), US$ 150 milyar telah keluar dari cadangan devisa Cina (Chart-2 dan Chart-3). Jumlah ini tidak besar dibandingkan cadangan devisa Cina secara total yang mencapai puncaknya di level US$ 4 trilliun. Tetapi, misalnya dibandingkan dengan Indonesia, yang hanya mencapai level tertinggi di US$ 120 milyar, maka angka US$ 150 milyar adalah tinggi. Jika dana sebesar itu keluar dari Indonesia, maka Indonesia sudah menjadi Zimbabwe
Chart - 2
Dalam hal keluarnya dana dari Cina, pemerintah Cina berusaha untuk mencegahnya melalui peraturan-peraturan. Tetapi selalu ada celah-celah yang bisa digunakan. Kalau dalam jumlah kecil, alasan mengirim uang untuk anak sekolah di luar negri. Yang lebih besar lagi melalui perusahaan, membuat pembelian fiktif untuk barang modal atau bahan bak; atau memarkir revenue ekspor di luar negri. Jalan selalu ada.
Chart - 3
EOWI menempatkan meletusnya Cina sebagai pencetus krisis pada tempat yang paling tinggi kemungkinannya dari kesepuluh pencetus krisis yang bisa EOWI identifikasi. Sebab dana keluar dari Cina sudah dimulai. Pertanyaannya: apakah proses ini akan mengalami percepatan dan menjadi pemicu krisis atau malah melambat dan melempem? Waktu akan menentukannya.
Sekian dulu........, di lain waktu kita akan lanjutkan ke sembilan (9) pencetus-pencetus krisis lainnya.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, March 17, 2015

Brazil (Nyaris) Rusuh


Update Gejolak 2014 - 2020


Demonstrasi besar-besaran terjadi di salah satu anggota the Fragile Five (Indonesia, Brazil, Afrika Selatan, India dan Turki), Brazil seperti yang dilangsir Bloomberg. Menurut judul beritanya, lebih dari sejuta pengunjuk rasa turun ke jalan (More Than a Million Hit Brazil Streets to Protest Rousseff)

(Bloomberg) -- Brazil’s government will present a package of anti-corruption measures after more than 1 million people, some of them calling for President Dilma Rousseff’s impeachment, took to the nation’s streets Sunday.
Rousseff will deliver the package within days, Secretary General Miguel Rossetto and Justice Minister Jose Eduardo Cardozo said to reporters in Brasilia after meeting with the president. Cardozo said the government is open to dialogue. He added that Brazil needs “political reform” including a ban on corporate finance of electoral campaigns.
Higher taxes and increased prices for government-regulated items like gasoline are rankling Brazilians as the biggest corruption scandal in the nation’s history ensnares elected and appointed officials. The approval rating of Rousseff’s government has plummeted since she won a close re-election last October. Yesterday’s protests were bigger than the June 2013 demonstrations in which more than a million people decried deficient public services and demanded an end to corruption.
Selanjutnya disebutkan juga berapa besar demonstrasi itu, yaitu 1 juta orang di San Paulo, 100 ribu di Porto Alegre dan 45 ribu di Brasilia, serta di kota-kota lainnya.
The largest protest occurred in Sao Paulo, with 1 million people as of 3:40 p.m. local time, according to its military police. Protests occurred in cities of 16 states and the federal capital, according to newspaper O Globo’s website. Its TV network reported 100,000 protesters in Porto Alegre and 45,000 in Brasilia, citing the military police of those cities.
Satu juta orang dan demonstrasi di beberapa kota secara serentak bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Penyebabnya juga mungkin sesuatu yang serius.  Beberapa waktu lalu, Brazil sempat disebutkan dalam salah satu artikel EOWI (Ramalan Untuk TahunKambing 4713)

Real Brazil jatuh sebesar 22%, lebih baik dari Norwegia. Tetapi, tidak seperti mata uang Norwegia, mata uang real Brazil telah terdepresiasi sebesar hampir 46% (lebih dalam) semenjak tahun 2011, akhir dari comodity secular bull market. Kejatuhan real Brazil ini tidak terlalu mengherankan. Brazil dikenal sebagai salah satu the fragile five (Brazil, Afrika Selatan, Indonesia, Turki, dan India) adalah negara yang dipersepsikan sebagai negara yang mengalami pertumbuhan yang cepat sehingga mengalami aliran masuk modal yang cukup besar selama comodity secular bull market 2000 – 2011. Dan ketika modal ini keluar, alirannya relatif akan lebih deras dari negara-negara lain Nigeria atau Angola. Dengan demikian Brazil akan mengalami penderitaan lebih parah dari yang lain.
Brazil terlalu jauh dari Indonesia. Dan dampak gonjang-ganjing disana, kecil kemungkinannya akan sampai ke Indonesia. Terlepas apakah kondisi di Brazil bisa meningkat dari nyaris rusuh ke rusuh parah, ada beberapa hal yang bisa diambil hikmahnya dari kasus Brazil. Indonesia punya banyak persamaan dengan Brazil. Berikut ini adalah poin-poin persamaan Indonesia dengan Brazil.
  1. Termasuk the Fragile Five artinya mata uangnya punya posisi yang sama-sama lemah atau berpotensi lemah (sudah sering dibahas EOWI).
  2. Ekonominya berbasis komoditi yang harganya sedang jatuh (sudah sering dibahas EOWI).
  3. Politikus dibiayai oleh pengusaha-pengusaha besar. Seperti Surya Paloh (Media Indonesia dan Metro TV), Bakri (group Bakri), Jusuf Kalla dan sederet lagi.
  4. Kenaikan pajak di tengah melemahnya daya beli. Indonesia baru mulai mempertimbangkan untuk menaikkan cukai rokok, pajak jalan tol dan entah apalagi sampai yang terkonyol adalah pengenaan biaya meterai untuk semua pembelian di atas Rp 250 ribu (beli daging 3 kilo akan kena biaya meterai!!). Belum lagi wacana memajaki rumah dengan kriteria tertentu sebagai rumah-mewah (orang kok tidak boleh menikmati kemakmuran hasil keringatnya?). Ini tidak termasuk mengejar-ngejar wajib pajak. Komentar EOWI adalah: Tuhannya orang Islam yang memberi rizki dan kehidupan yang memberikan udara secara gratis hanya minta 2.5% dari penghasilan. Tuhannya orang Kristen minta lebih banyak yaitu 10%. Tetapi ini masih kecil dibandingkan dengan pemerintah NKRI yang minta 30% dari penghasilan.
  5. Korupsi dan kebobrokan sistem peradilan dan penegakan hukum. Mungkin hukum dan prosedur hukum yang konyol bisa dimasukkan dalam kategori ini.
  6. Pemerintah menaikkan harga kebutuhan yang peredarannya dan harganya diregulasi pemerintah (BBM, listrik, pangan.....)
Ada 3 pertanyaan dari EOWI yang tidak perlu dijawab, Cuma untuk direnungkan saja:
a)    Apakah situasi di Brazil bisa meningkat dari nyaris rusuh ke rusuh parah?
b)    Apakah Indonesia bisa seperti Brazil dan berlajut menjadi parah?
c)    Dan yang terakhir, yang sepertinya tidak ada kaitannya: Apakah nilai tukar US dollar-Rupiah bisa ke Rp 15,000 dan berlanjut ke kisaran Rp 17,000 sampai Rp 25,000 dalam 1 – 3 tahun mendatang? Dan bagaimana effeknya terhadap kondisi sosial-politik Indonesia?
Untuk pertanyaan (c) pemerintah sudah mencanangkan beberapa hal konyol bagi sekelompok masyarakat yang mencari uangnya secara jujur dan halal – pengusaha hotel. Yaitu, pemerintah ingin agar hotel-hotel di daerah wisata menggunakan tarif dalam rupiah bukan dollar. Kalau saya jadi wartawan, akan bertanya: “Bagaimana penggunaan tarif kamar dalam rupiah bisa mencegah merosotnya nilai rupiah?“. Yang ada adalah, kerugian bagi pemilik hotel dan keuntungan bagi bank dan money changer. Lain halnya jika ada permintaan yang luaaaaaar biasa atas produk Indonesia, dan permintaan itu demikian kuatnya, tidak ada barang subsitusi lainnya, kemudian....., pemerintah minta transaksinya dalam rupiah. Disini permintaan untuk rupiah meningkat dan nilai rupiah akan terdongkrak. Kenyataannya adalah sebaliknya......, surat obligasi Indonesia banyak dilepas (asing) akhir-akhir ini. Boro-boro mau meningkatkan penjualan barang, kenyataannya malah orang mau melepas produk NKRI.

Kalau melihat kasus Brazil, ada suatu hikmah yang bisa dituangkan dalam satu kalimat pendek: (orang-orang) pemerintah dipilih rakyat kemudian jadi penindas rakyat dan akhirnya menjadi musuh rakyat sampai rakyat benci dan berusaha menggulingkannya kembali. EOWI tidak menganjurkan anda menjadi musuh pemerintah, melainkan hanya memanfaatkan situasi dan ketidak-bijaksanaan pemerintah dan menghindari penindasan pemerintah dengan aturan main pemerintah sendiri.
Sekian dulu.....moga-moga US dollar bisa ke Rp 15,000 dan berlanjut ke Rp17,000 dan terus ke Rp 25,000 tanpa ada kerusuhan. EOWI cinta damai.
  

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.