Untuk di renungkan:

Karl Mark, Das Kapital & Depresi Ekonomi
" owners of capital will stimulate the working class to buy more and more of expensive goods, houses and technology, pushing them to take more and more expensive credits, until their debt becomes unbearable. The unpaid debt will lead to bankruptcy of banks, which will have to be nationalised and the state will have to take the road which will eventually lead to communism" Karl Marx Das Kapital 1867

Undang-Undang Penjaminan Simpanan/Deposit
Pernyataan di LPS:
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan, sejak tanggal 13 Oktober 2008, nilai Simpanan yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank paling banyak Rp2.000.000.000,- (dua miliar rupiah).

Kesimpulan:
1. Pemerintah tidak menjamin nilai riil uang anda agar supaya tetap. Hanya nominalnya saja yang tetap.

2. Pemerintah tidak mengatakan bahwa deposit anda tidak akan dibekukan. Uang anda akan utuh di bank tetapi tidak bisa diambil kalau pemerintah memutuskan untuk dibekukan.


Bagaimana bisa menanggung Rp 268.6 trilliun deposit nasabah yang ada kalau modalnya kurang dari 3%?


Untuk kasus Bank Century...., tiba-tiba dalam 1 tahun modal LPS naik dari Rp 7 triliun ke Rp 14 triliun, dan dipakai untuk 'menolong' Bank Century Rp 6.7 triliun. Dari mana datangnya Rp 7 triliun dalam 1 tahun ini. Hebat amat LPS bisa tumbuh 100% dalam 1 tahun. Mungkin dapat hibah dari pemerintah. Dan kwitansi hibah itu nantinya ditagih dalam bentuk pajak atau mencetak duit.......


Makna Demokrasi
Hasil Pilkada DKI:
Pemilih Terdaftar: 5.719.285
Fauzi Bowo: 2.010.545 (35.1%)
Adang: 1.467.737 (25.7%)
Tidak Memilih: 2.241.003 (39.2%)
Pemenangnya Kursi Kosong. Kenapa Fauzi Bowo jadi gubernur?


Makna Keadilan
Gigi dibayar gigi
Mata dibayar mata
Hutang Nyawa dibayar nyawa,

Hutang Emas dibayar emas dengan jumlah sama
Hutang pencemaran nama baik dibayar dengan pencemaran nama baik

Tetapi.., pengADILan menetapkan bahwa TIME harus bayar Rp 1 triliyun kepada pak Harto untuk hutang pencemaran nama baik..., (mungkin peradilan harus ganti nama menjadi per-TIDAK-ADIL-an)

Demokrasi dan Pajak
Oman, Qatar, Kuwait, Arab Saudi punya persamaan bahwa disana tidak ada pajak dan tidak ada pemilihan umum.



Untuk warga negara US, mereka wajib membayar pajak US dimana saja mereka tinggal dan cari nafkah dan walaupun sudah menanggalkan kewarganegaraan US nya masih harus terus membayar pajak sampai 10 tahun.


Perang


“Naturally the common people don't want war; neither in Russia, nor in England, nor in America, nor in Germany. That is understood. But after all, it is the leaders of the country who determine policy, and it is always a simple matter to drag the people along, whether it is a democracy, or a fascist dictatorship, or a parliament, or a communist dictatorship. Voice or no voice, the people can always be brought to the bidding of the leaders. That is easy. All you have to do is to tell them they are being attacked, and denounce the pacifists for lack of patriotism and exposing the country to danger. It works the same in any country.” - Hermann Goring - Pimpiman Militer Jerman pada masa Hitler.


___________________________________________


Pengumuman


_____ooOoo_____

BREAKING NEWS


----ooOoo----

Musik Minggu Ini: Black Knight

Loading...

Thursday, April 17, 2014

Pemerintah dan Perangkat Pembodohan Massa dan Repressinya (I)



Ada seorang pembaca EOWI, sebut saja namanya Sinatrya,yang mengirimkan email. EOWI tidak akan secara langsung menjawabnya, tetapi akan memberi gambaran yang lebih jelas mengenai negara, agar email pencinta EOWI ini terjawab dengan sendirinya. Isi email itu adalah sebagai berikut.

Pak imam semar saya seorang mahasiswa jurusan ekonomi dan sedang mengambil mata kuliah pajak. saya terheran-heran dengan sejarah perpajakan indonesia dimana pemerintah berkata bahwa negara membutuhkan pajak karena ingin membangun kemandirian dengan tidak mengandalkan sektor migas dan hutang luar negeri untuk membangun bangsa. yang jadi pertanyaan adalah mengapa banyak negara di Timur Tengah sana yang hanya mengandalkan sektor migas bisa menjadi negara makmur tanpa menarik pajak rakyatnya?

Semenjak indonesia menandatangani perjanjian dengan IMF maka pemerintah tidak bisa secara langsung menambang dan memonopoli migas di tanah sendiri (kok mau?) dan memperbolehkan swasta untuk ikut menambang. tapi mengapa pemerintah kelihatan tidak bijaksana dalam mengambil kebijakan seperti misalnya izin yang berbelit dan pajak yang harus dibayar di muka padahal belum tentu ada minyak di daerah situ. bukankah dengan ini hanya akan membuat rakyat dan investor menjadi sengsara?

Kemarin saya baru saja quiz mata kuliah pajak, dan salah satu pertanyaanya adalah: “Apa alasan pemerintah melakukan reformasi pajak?:

Saya menjawab "Untuk menciptakan bangsa yang mandiri, memberikan keadilan serta meratakan kesejahteraan, dan memberikan kepastian hukum bagi pembayar pajak."  Jawaban yang sesuai dengan isi buku yang diwajibkan untuk mahasiswa.

Pertanyaannya adalah kalau anda menjadi dosen saya nilai berapa yang anda berikan untuk saya?, serta apakah alasan pemerintah ini kenyataan atau merupakan cuci otak?

Ada suatu cerita mengenai anak saya ketika dia masih duduk di kelas 3 SD di sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal (karena mahalnya). Suatu hari saya baru pulang dari kantor dan dia pulang dari main. Seperti biasanya saya tanyakan mengenai sekolahnya:

Gimana ulangannya tadi?”

“Bisa semua sih.....hhmmm.. ada beberapa jawaban yang benar, tapi disalahin bu guru.”

“Pertanyaannya apa?”

“Coba sebutkan perusahaan yang mengelola air minum Jakarta......, aku jawab aqua.”

“Terus.....?”

“Disalahkan bu guru. Katanya jawaban yang benar itu PAM Jaya.”

“Kamu nggak protes?”

Nggak sih, nggak ngaruh. Aku cuma tanya sama bu guru, dia minumnya air apa. Dan dia jawab aqua. Terus aku bilangin bahwa teman-teman juga minum aqua, ibu dan papa ku juga minum air aqua. Satpam sekolah di luar itu juga minum aqua. Nggak ada yang minum air PAM Jaya. Tapi kata bu guru, aqua itu salah, dan yang benar adalah PAM Jaya.”

Anak saya tersenyum-senyum saja. Lanjutnya: “Terus aku bilang.....Bu guru......, jawaban yang benar itu aqua. Tetapi jawaban yang tidak disalahin itu PAM Jaya. Harusnya bu guru kasih instruksi: ‘Berilah jawaban yang tidak disalahkan’ bukan: ‘Berilah jawaban yang benar’ di bagian atas lembar soal. Jawaban yang benar dan jawaban yang tidak disalahin, itu tidak sama.”

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali terjadi pada anak saya. Ada kejadian lain yang membuat saya selalu ingat. Seperti biasa saya menanyakan tentang ulangannya. Kali ini tentang polisi.

“Pertanyaannya adalah: siapa yang menjaga keamanan Indonesia. Aku jawab satpam. Dan itu disalahin bu guru. Katanya polisi.”

Saya tersenyum mendengar jawabannya yang spontan itu.

“Aku sih nggak protes. Aku cuma tanya lagi, siapa yang ada dan jaga keamanan di sekolah? Bu guru jawab satpam. Siapa yang  ada dan jaga keamanan di gedung-gedung dan di mall-mall? Bu guru juga jawab satpam. Siapa yang patroli dan jaga keamanan di lingkungan perumahan? Jawabnya juga satpam. Siapa yang jaga rumahku dan membuka pintu gerbang? Jawabnya juga satpam. Dimana polisi? Di jalan raya ngatur lalu-lintas bukan jaga keamanan.”

“Bu guru.......” kata anak saya. “Polisi baru mau datang kalau ada laporan kejadian kejahatan. Itu bukan untuk menjaga keamanan. Karena polisi membiarkan tidak aman dulu sebelum bertindak.”.

Begitu cerita anak saya beberapa tahun lalu tentang pelajaran sekolah. Intinya, bahwa yang diajarkan disekolah adalah hal-hal yang tidak disalahin, bukan hal-hal yang benar secara hakekat.

Ada 5 bidang yang pemerintah merasa wajib menguasai. Penguasaan kelima bidang itu sangat essensial untuk mengontrol rakyat banyak sehingga akan menjamin kelanggengan kekuasaan pemerintah. Kelima bidang itu adalah:

  1. bidang persekolahan
  2. bidang penguasaan persenjataan
  3. bidang hukum dan penegakannya
  4. bidang informasi
  5. bidang pencetakan uang
Kita akan bahas satu-persatu dengan alasan dan penjelasannya.


Persekolahan/Pusat Indoktrinasi

Kita akan membahas bagian ini agak panjang-lebar, karena menyangkut pengertian dan hakekat-hakekat di dalam hidup.

Sekolah adalah sarana indoktrinasi, sarana untuk menanamkan:

  1. nilai-nilai yang dikehendaki penguasa, terutama untuk menciptakan citra agar semua perbuatan pemerintah, terutama perbuatan dosa, menjadi terlihat halal.
  2. peran-peran imaginer dari pemerintah
  3. siapa the good guy dan siapa the bad guy

Salah satu citra yang berhasil diciptakan dan tertanam dibenak setiap orang adalah bahwa pemerintah adalah tuhan yang menyediakan pangan, kebutuhan hidup dan kemakmuran, membangun negara. Kalau perlu jalan, waduk, air bersih, layanan kesehatan, jaminan hari tua, perlindungan, keadilan, hiburan, kebutuhan sehari-hari, pemerintah akan menyediakannya, maka mintalah kepada pemerintah.

Entah karena sudah disadari, atau secara alamiah, pemerintah yang notabene adalah tuhan (dengan “t” kecil) perlu setan, apalagi jika Tuhan yang sebenarnya sedang tidak sejalan dengan tuhan. Maka diperlukan setan jahat untuk dijadikan kambing hitam, tempat melemparkan kesalahan.

Citra kaum swasta harus dibikin buruk, setan jahat, karena pikirannya cuma cari untung. Dan cari untung itu jelek. Maka dari kecil anak-anak sudah dicekoki konsep bahwa tengkulak dan spekulan itu jahat. Apalagi tukang timbun barang kebutuhan sehari-hari. Walaupun 95% penduduk Indonesia beragama Islam dan Kristen, yang notabene pernah mendengar kisah nabi Yusuf, tetapi hikmah dari kisah nabi Yusuf tidak berbekas sama sekali. Menurut Quran dan Bible Nabi Yusuf adalah spekulan, penimbun terbesar sepanjang jaman (seandainya bukan sepanjang jaman, setidaknya pada  jaman kuno juga boleh). Dia menimbun banyak bahan makanan dimasa subur dan harga pangan murah. Dan menjualnya di musim paceklik dengan keuntungan yang lumayan. Kalau kita menyebut nabi Yusuf adalah seorang penimbun, maka akan ada yang marah. Karena, di dalam agama, nabi Yusuf dicitrakan sebagai orang yang baik, tetapi karena perbuatannya menimbun bahan pangan ia disebut penimbun akan dianggap sebagai penghinaan. Kata “penimbun” adalah jelek. Jadi walaupun nabi Yusuf melakukan penimbunan pangan, dia tidak boleh disebut penimbun. Titik!

Penimbun bukanlah penjahat seperti dicitrakan oleh sistem pendidikan. Penimbun adalah pedagang, orang yang membeli sesuatu, mengolahnya (menyimpan termasuk dalam pengertian mengolah) untuk memperoleh nilai tambah. Pangan akan mempunyai nilai tambah jika pasokannya berkurang. Penimbun yang baik akan mempertimbangkan resiko busuk, harganya turun lagi karena pasokan lain dengan nilai tambah untuk menahan terus dagangannya. Artinya dia akan melakukan managemen stoknya, mengamati pasar dan menyalurkan dagangannya secara strategis agar penggunaannya optimum.  Menimbun juga perlu modal, seperti gudang dan juga menanggung resiko busuk atau tiba-tiba pasar kebanjiran pasokan lagi. Wajar kalau dia memperoleh untung, karena banyak resiko yang harus diambil.

Bagi pemerintah yang merasa dirinya tuhan, pamornya akan hilang jika ada kelangkaan barang kebutuhan rakyat. Pada hakekatnya pemerintah memang bukan tuhan penyedia kesejahteraan rakyatnya. Pada saat paceklik dan kekurangan pasokan itulah setan diperlukan untuk tempat pelemparan kesalahan. Dan setan itu adalah pengusaha, pedagang dan petani jika mereka kaya.

Kurikulum sekolah yang digunakan untuk menciptakan citra bahwa pemerintah sebagai tuhan pemberi rizki. Pemberi hajat hidup rakyatnya dirasakan tidak cukup tanpa entiti yang secara langsung menangani bidang-bidang yang berkaitan dengan hajat hidup rakyat. PLN, PAM, Telkom (dulu, sekarang sudah swasta), PJKA (kereta Api), departemen pekerjaan umum, departemen perumahan rakyat (beserta Perumnas nya), Garuda dan Merpati Airlines serta BUMN-BUMN lainnya adalah entiti yang melengkapi citra pemerintah sebagai tuhan penyedia hajat hidup rakyat. Jaman dulu badan-badan seperti ini lebih banyak lagi, dan satu persatu hilang karena kalah populer dengan swasta.

Sejak kecil, sekolah dasar, melalui pelajaran Pengetahuan Umum, anak sudah dicekoki banyak ide, seperti penyedia air minum adalah PAM bukan Aqua, ...., penyedia jasa jalan raya adalah Jasa Marga dan departemen PU, bukan Citra Marga; pabrik kertas adalah pabrik kertas Padalarang dan Leces, bukan Indah Kiat dan Tjiwi Kimia; pabrik petrokimia adalah pabrik petrokimia Gresik, bukan Chandra Asri; perusahaan tambang Nikel adalah Aneka Tambang, bukan Inco; pabrik semen adalah pabrik semen Gresik, bukan Holcim; perusahaan tambang emas adalah Aneka Tambang, bukan Freeport, dan lain sebagainya. Oh saya lupa, lembaga yang membuat film di Indonesia adalah PFN (Perusahaan Film Negara), bukan MD Entertainment Punjabi......, ha ha ha....., kemana tuh PFN sekarang. Atau....., perusahaan penerbangan domestik adalah Merpati Nusantara Airlines, bukan Sriwijaya Air atau Express Air, atau Susi Air........, kemana tuh Merpati. Sudah jadi burung emprit kali.

Bersama-sama dengan penguasaan di bidang informasi, citra pemerintah sebagai tuhan penyedia kebutuhan hajat hidup dengan perangkat-perangkatnya sebagai the good guy, menjadi lengkap. Kita tidak pernah mendengar pabrik pupuk PUSRI menyebabkan ikan-ikan di sungai Musi mati ketika PUSRI membuang blow-down liquidnya ke sungai Musi. Kita juga tidak pernah mendengar pabrik Petrokimia Gresik mencemari lingkungannya. Atau Antam atau PT Timah bermasalah dengan lingkungannya. Yang kita dengar, perusahaan-perusahaan swasta seperti Freeport, Newmont,......bermasalah dengan lingkungannya. Swasta is bad! Goverment is good. PAM Jaya is good, not Aqua.

Contoh lain dari pencintraan the good guy dan the bad guy adalah pada pelajaran sejarah G30S. Pembaca EOWI yang setia yang berprofesi sebagai profesor di Universitas Hasanuddin, menunjukkan bahwa terjadi pemutar-balikkan citra pada sejarah G30S. PKI (Partai Komunis Indonesia) tidak pernah melakukan kudeta dan perebutan kekuasaan RI. Yang terjadi adalah konflik internal Angkatan Darat antara kelompok yang afiliasi dengan komunis dan yang tidak. Komunis tidak pernah melakukan usaha untuk menggulingkan presiden Sukarno dan merebut kekuasaan presiden. Yang mereka lakukan adalah membunuh 7 orang perwira angkatan darat (6 jenderal dan 1 kapten), bukan kudeta. Yang melakukan kudeta/perebutan kekuasaan sejatinya adalah Suharto, Menteri Panglima Angkatan Darat, melalui episode 11 Maret. Pada waktu itu letjen Suharto, bersama dengan brigjen Amir Machmud, brigjen Basuki Rachmat dan brigjen M. Jusuf pergi menemui presiden Sukarno di istana Bogor dan menodong agar Sukarno menandatangani surat penyerahan kekuasaan kepada letjen Suharto. Surat tersebut dikenal sebagai surat perintah 11 Maret 1966 adalah penggulingan kekuasaan presiden Sukarno oleh letjen Suharto tanpa pertumpahan darah. Tindakan kudeta oleh Suharto menjadi lebih jelas, ketika tidak lama kemudian presiden Sukarno dikenakan tahanan rumah. Untuk apa presiden dikenakan tahanan rumah kalau bukan ada tujuan penggulingan kekuasaan. Jadi yang melakukan kudeta adalah Suharto, bukan PKI. Fakta sangat berlawanan dengan kesimpulan/retorik untuk mencitrakan pemerintahan Suharto sebagai the good guy. Dan disamping PKI, juga Sukarno dijadikan the bad guy sampai tahun 1986. Perubahan Sukarno dari the bad guy menjadi setengah good guy ini  melalui Keppres RI No 081/TK/Tahun 1986. Sekarang Sukarno, di sekolah-sekolah sudah dicitrakan sebagai a good guy, dan semua anak yang sekolah dimasa sekarang percaya akan hal itu.

Memang terkadang pemegang pemerintahan yang lama bisa dijadikan the bad guy untuk membentuk citra diri yang baik berdasarkan prinsip “saya baik kalau orang lain jelek”, “pemerintahan Suharto – Orde Baru, baik, jika ada pembandingnya yang jelek, yaitu Orde Lama”. Konsep “Belanda adalah penjajah dan penindas” diperlukan agar NKRI dianggap the good guy. Apakah penjajah Belanda lebih menindas dari pada Orde Baru atau Orde Lama, atau Pemerintahan Reformasi? Bukti-bukti mengatakan sebaliknya.

Kemampuan pemerintah dalam membuat ukiran yang dalam pada benak rakyatnya terlihat pada pernyataan pembaca EOWI, Sinatrya, di atas: “ ......tapi mengapa pemerintah kelihatan tidak bijaksana dalam mengambil kebijakan......

Adakah kebijakan yang tidak bijaksana?

Akibat indoktrinasi, logika menjadi tidak bekerja.

Selanjutnya: ".......’Untuk menciptakan bangsa yang mandiri, memberikan keadilan serta meratakan kesejahteraan, dan memberikan kepastian hukum bagi pembayar pajak.’ Jawaban yang sesuai dengan isi buku yang diwajibkan untuk mahasiswa.”

Ada 4 poin penting dalam kalimat ini yang bisa kami lihat sebagai pengelabuhan dan rancu:

  • bangsa yang mandiri
  • memberikan keadilan
  • memeratakan kesejahteraan
  • memberikan kepastian hukum bagi pembayar pajak

Pertama, kata bangsa yang mandiri. Kata ini (bangsa) digunakan sebagai bujukan atau pengelabuhan. Pada saat dikatakan bangsa, maka kamu (orang yang diajak bicara oleh pemerintah) juga termasuk disitu. Dengan kata lain, kata pemerintah (atau buku pelajaran itu): “Dengan saya ambil uangmu, maka kamu akan jadi mandiri, makmur.....” .

Bagaimana hal ini bisa terjadi. Kalau pemerintah mengambil uang saya, maka saya kurang makmur dan konsumsi saya harus ditekan (disesuaikan). Misalnya, saya berpenghasilan Rp 3 milyar setahun. Kemudian oleh pemerintah diambil Rp 1 milyar. Dengan uang Rp 1 milyar itu sebenarnya saya bisa punya mobil 1 BMW X-1 lagi dan menggaji supir. Atau menggaji orang untuk entah apa, misalnya menceboki, menggaruk punggung saya, atau hal-hal yang membuat saya senang dan merasa makmur, mandiri (bayangkan saya tidak bisa cebok atau menggaruk punggung sendiri). Kalau saya tidak bisa mandiri, artinya bangsa ini tidak mandiri, setidaknya ada 1 orang dari bangsa ini yang tidak mandiri.

Poin kedua adalah memberikan keadilan. Adil yang bagaimana? Adil per definisi adalah keseimbangan antara perbuatan dan hasilnya/ganjarannya. Ketika seseorang sukses dan memperoleh penghasilan tinggi karena usahanya yang smart dan keras, seharusnya memperoleh ganjaran (hadiah, appresiasi, penghargaan) yang lebih besar. Filosofi pajak adalah sebaliknya. Pajak adalah hukuman bagi yang berhasil, mandiri dan sukses. Apalagi pajak progressive, semakin berhasil seseorang maka semakin besar hukumannya. Apakah adil jika seseorang berbuat baik, sukses (dalam istilah Qurannya salleh) memperoleh hukuman?

Poin ketiga, memeratakan kesejahteraan. Pemerataan kesejahteraan adalah retorik untuk menarik simpati massa yang pada dasarnya iri dan dengki (bahasa Arabnya khasad), sifat membenci kesuksesan orang lain. Surat 113 Quran, berbicara masalah bahaya sifat khasad. Retorik pemerintah/politikus mengenai pemerataan kesejahteraan tidak lain adalah meniup-niup bara khasad, iri, dengki supaya menyala-nyala. Orang yang sukses (secara finansial) harus dihajar, diambil hartanya, dan dibagikan ratakan kepada setiap orang. Tentu saja hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan (ganjaran sebanding dengan usaha). Retorik inilah yang digunakan oleh polikus agar terpilih. Kebanyakan orang akan suka memperoleh sesuatu (hasil jarahan pemerintah), dan berlagak tidak tahu dari mana asal uang tersebut.

Poin ke empat, memberikan kepastian hukum bagi pembayar pajak. Mungkin maksudnya adalah sarana pengancaman dan penyandraan. Undang-undang pajak tidak lah sederhana, panjang dan tidak semua orang membacanya. Ambil 50 orang rekan sekerja, atau teman anda yang sudah dewasa. Dan tanyakan apakan mereka pernah membaca UU perpajakan. Hitung berapa yang pernah membaca UU perpajakan secara keseluruhan. Ada yang tidak pernah baca sama sekali. Bahkan nayak dari mereka yang diakuntansi hanya baca sebagian saja, tidak keseluruhan.  UU pajak memastikan anda selalu bersalah.  Camkan pernyataan saya. Mari kita lihat salah satu pasal dari UU No. 16 Tahun 2000, Pasal 38.

Setiap orang yang karena kealpaannya:
a.      tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
b.    menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar,sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling tinggi 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar

Undang-undang ini menjamin sebagian besar warga Indonesia diancam penjara, karena tidak memasukkan surat isian pajak, isinya tidak benar dan/atau tidak lengkap. Banyak warga Indonesia yang tidak terjamah pajak dan mereka bisa dituntut kalau pemerintah mau. Poin berikutnya, kata tidak benar dan tidak lengkap, adalah persyaratan karet yang bisa molor panjang sampai menjerat.

Pajak adalah bentuk penindasan dan penuh ancaman seperti perampokan/pemerasan. Hanya saja pajak dilegalkan. Kalau tidak percaya, bisa dilihat di KUHP delik perampokan/pemerasan, pasal 368:

(1) Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan.  

Jika kata melawan hukum dihilangkan maka penarikan pajak memenuhi syarat dari KUHP pasal 368. Penarikan pajak adalah perbuatan pemaksaan (UUD45 amandemen, pasal 23A) dan penuh dengan ancaman-ancaman yang dituangkan pada UU No. 16 Tahun 2000.

Hebatnya sistem sekolahan adalah mampu membuat orang meninggalkan ajaran-ajaran agamanya. Kalau anda tanyakan kepada orang yang makan sekolahan yang 80% beragama Islam – atau kepada kyai, apakah pajak 15% itu wajar. Niscaya jawaban terbanyaknya adalah “wajar”. Padahal Islam (nabi Muhammad) tidak merestui pajak. Beliau mengatakan bahwa menarik pajak 10% atau lebih adalah perbuatan yang lebih buruk dari zina yang pensuciannya adalah rajam (dilempari batu sampai mati). Dan menurut beliau, Allah tidak akan mengabulkan permohonan penarik pajak. Untuk lebih detailnya, bisa dibaca pada link ini.

Kita lihat bahwa sekolah mampu membolak-balikkan kesimpulan. Suharto yang jelas-jelas melakukan kudeta, tetapi PKI yang dicap sebagai pemberontak pelaku usaha penggulingan kekuasaan (kudeta). Aqua (air minum kemasan) adalah air yang diminum masyarakat Jakarta, tetapi PAM Jaya yang disebut sebagai pengada air minum, dst. Pajak yang tidak sesuai dengan norma-norma agama Islam terlihat halal. Bahkan hampir tidak ada yang pernah mengungkit soal bahwa menurut nabi Muhammad pajak 10% ke atas adalah zalim dan penghapusan dosanya adalah rajam (dilempari batu sampai mati). Oleh sebab itu, sektor sekolah sebagai sarana indoktrinasi akan menjadi wilayah yang selalu diinginkan pemerintah untuk dikuasai. Pemerintah memang tidak perlu memonopoli sekolahan, swasta juga diperbolehkan untuk turut serta, tetapi kontrol pemerintah tetap ada melalui kurikulum dan orientasi idiologi pengajarnya yang dibentuk semasa pendidikan guru. Menguasai sistem persekolahan berarti menguasai pembentukan pola pikir masyarakat.

Sekian dulu, sampai nanti...., kita akan lanjutkan lagi tentang penguasaan persenjataan, hukum dan penegakannya, bidang informasi dan bidang pencetakan uang.


Wamena, 16 April 2014


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, April 11, 2014

Hari Perhitungan Awal Abad 21



 The Great Disappointment

Istilah the Great Disappointment, bisa mengacu pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh group band rock AFI. Lagunya cukup enak untuk didengarkan. Kalau pembaca ingin tahu lebih lanjut bisa dicari dan didownload dari internet.

Tetapi the Great Disappointment yang akan  EOWI jadikan latar belakang dari tulisan pada kesempatan kali ini bukanlah lagu ciptaan AFI, melainkan suatu kisah bertema menyongsong hari perhitungan, the judgement day, yaumil akhir. Dalam sejarah salah satu denominasi agama Kristen Protestan, dikenal suatu periode yang dalam bahasa Inggris sebagai the Great Disappointment. Dalam kesempatan ini EOWI akan menggunakan episode the Great Disappointment ini untuk dijadikan hikmah (pelajaran).

The judgement day atau reckoning day atau sebut saja hari perhitungan/penghakiman dalam bahasa Indonesia, adalah hari dimana semua perbuatan manusia dimintai pertanggungan jawabannya. Kesalahan akan diperhitungkan dan hukumannya akan berikan untuk pikul sendiri. Demikian juga dengan kebaikan. Dalam agama Islam disebut dihisab. Suatu hal mengenai kedatangan hari yang besar itu adalah, menurut Quran dan  Bible, hanya Tuhan yang tahu waktunya.

Menurut Jesus yang dikutip di Perjanjian Baru:

“Tidak ada yang tahu kapan harinya dan jamnya, malaikat-malaikat di surga tidak, sang Anak (Jesus) pun tidak, hanya Bapa (Allah) saja yang tahu.”

”Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.“
(Matius 24:36-37; Markus 13:32-33)

Intinya adalah, bahwa hari perhitungan/penghakiman, tidak ada yang tahu kapan datangnya, kecuali Tuhan, oleh sebab itu, kita harus selalu siap.

Quranpun juga memperingatkan hal yang sama.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q 31:34)

Ada beberapa ayat lain yang senada, seperti ayat Q 43:85; Q 67:26, dan Q 7:187.

Walaupun sudah disebutkan dalam buku panduan yang dipercaya mempunyai sumber Illahi, tetapi banyak yang entah karena apa, tidak tahan untuk tidak meramalkan hari penghakiman ini. Salah satunya adalah seorang pengkhotbah bernama William Miller pada abad ke 19.

William Miller, mempelajari Bible, melakukan penafsiran-penafsiran, gothak-gathuk, akhirnya berkesimpulan bahwa Jesus akan kembali ke dunia pada tahun 1844 untuk membersihkan dunia ini dari kejahatan dan kemaksiatan. Lebih spesifik lagi, tanggalnya adalah antara 21 Maret 1843 sampai 21 Maret 1844.

Dasar ramalan William Miller adalah kitab Daniel dari Perjanjian Lama. Lebih spesifik lagi Daniel 8:14 yang berbunyi: ...: : “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar." Kata-kata 2300 itu digathuk-gathukkan untuk memperoleh tanggal-tanggal yang diperkirakan sebagai hari penghakiman.

Pada saatnya, selama setahun itu pengikut-pengikutnya meninggalkan harta, benda dan keduniaan lainnya untuk menyongsong hari penghakiman yang sangat bersejarah itu. Pada tanggal 21 Maret 1844, ia berserta pengikut-pengikutnya keluar rumah dan menanti. Sampai sore, malam tiba, yang dinanti-nanti tidak datang juga. Semuanya menjadi kecewa. Sangat kecewa.

William Miller, kemudian merevisi ramalannya lagi menjadi 18 April 1844. Setelah menunggu sampai tanggal 18 April 1844, ternyata Jesus dan hari penghakimannya tidak datang juga. Tetapi hal ini tidak membuat Willam Miller dan pengikutnya kapok. Samuel S. Snow merevisi kembali tanggal hari kedatangan Jesus menjadi tanggal 22 Oktober 1844. Pada hari itu para pengikut William Miller keluar rumah, melakukan penantian. Ternyata penantian mereka berlalu tanpa klimaks. Sejarah mencatat kekecewaan yang mendalam dialami pengikut Miller. Oleh sebab itu kejadian tersebut dinamakan the Great Disappointment. Salah seorang pengikut Miller, bernama Henry Emmons menulis:

Saya menunggu sepanjang hari Selasa (22 Oktober 1844)  dan Jesus yang terkasih tidak datang juga. Saya menunggu sepanjang pagi sampai tengah hari Rabu (23 Oktober 1844) dan saya secara fisik masih segar seperti sebelum-sebelumnya, tetapi setelah jam 12 siang saya merasa lemah dan menjelang magrib saya memerlukan bantuan untuk mendukung saya kembali ke kamar saya karena kekuatan saya terbang dengan cepat. Dan saya bersujud selama 2 hari tanpa merasakan sakit, melainkan kekecewaan yang mendalam.”

William Miller sendiri masih menunggu hari kedatangan Jesus sampai ajal menjemputnya di tahun 1849.

Bagaimana dengan aliran Miller selanjutnya? Anda akan heran jika aliran William Miller ini adalah cikal-bakal aliran Kristen yang sampai sekarang jumlah pengikutnya cukup banyak. Kebetulan keluarga salah satu ipar saya adalah penganut aliran tersebut. Kalau pembaca tertarik untuk membaca kisahnya lebih lanjut, anda bisa mencari literatur sejarah mengenai agama Kristen Advent.

Kita tidak akan membahas bagaimana pengikut Miller melakukan resolusi dari the Great Disappointment. Buat EOWI, episode the Great Disappointment merupakan kejadian yang bisa diambil hikmahnya. Datangnya hari penghakiman tidak ada yang tahu kapan. Di dalam agama Islam, nabi Muhammad tidak pernah menyebutkan, saat (tanggal, bulan dan tahun) datangnya hari akhir itu. Namun demikian, menurut hadith (walaupun menurut kami, sebagian hadith itu tidak terlalu kuat), nabi memberikan tanda-tandanya. Secara umum bisa diartikan bahwa tanda-tanda itu adalah banyaknya manusia yang melakukan penyimpangan-penyimpangan dari hukum alam serta melakukan pengerusakan-pengerusakan, ketimpangan-ketimpangan yang melampaui batas. Hal ini memerlukan natural rebalancing. Mengetahui tanggal, bulan dan tahun, hari akhir itu menjadi tidak terlalu penting selama kita selalu siap dan punya strategi. Seperti Nuh yang sudah siap sedia dan punya strategi untuk menghadapi banjir.

Miller bukan satu-satunya yang gagal dalam meramalkan hari kehancuran. Belum lama, manusia sibuk dengan ramalan kehancuran pada tanggal 21 Desember 2012 yang berdasarkan sistem penanggalan suku Maya. Sekarang sudah tahun 2014. Hampir dua tahun telah berlalu dan kehidupan masih berjalan seperti sebelumnya. Oleh sebab itu jika ada yang meramalkan hari kiamat, jangan dipercaya. Termasuk juga ramalan-ramalan kiamat dari EOWI.


Hutang, Dosa dan Agama

Katanya, asal kata agama adalah dari bahasa Sanskerta, yaitu a = tidak dan gama = kacau. Dalam hal pengertian, kata tidak-kacau seakan condong pada nuansa kontrol terhadap masyarakat dan akhirnya menjurus kepada fasisme. Di dalam Islam kata yang digunakan berbeda. Kata deen (baca: diin, الدين) di dalam bahasa Arab yang sering dipadankan dengan kata agama. Kata deen bisa berarti hutang serta hal-hal yang menyangkut hutang dan kredit, bukan tidak kacau seperti pengetian agama dalam bahasa Sanskerta. Ternyata bukan saja Islam yang mengkaitkan agama dengan hutang. Kalau kita lihat doa Lord Prayer yang diajarkan Jesus, juga berbunyi: “....And forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors...”. Seakan dosa, pelanggaran diidentikan dengan hutang. Setidaknya dosa dikategorikan sebagai hutang. Saya sengaja mengutipnya dari terjemahan bahasa Inggris, bukan dari bahasa Indonesia. Karena di dalam bahasa Indonesia, kata debts dan debtors diterjemahkan sebagai dosa dan pelaku dosa, yang menurut kami agak kurang mendekati bahasa aslinya (Aramea dan/atau Yunani) atas dasar terjemahan bahasa Inggris tertua King James Bible menggunakan kata debts dan debtors, hutang dan penghutang bukan sins dan sinners.

Bagian ini akan kami akhiri dengan melihat sebuah doa yang diajarkan oleh nabi Muhammad yang ada kaitannya dengan hutang. Bunyi doa itu adalah:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)


Hari Perhitungan

Umat Islam setiap hari menyebut kata yauminddeen sebanyak minimal 17 kali. Kata yaumiddeen di dalam buku-buku panduan sholat sering diartikan sebagai hari pembalasan. Terjemahan hari pembalasan sebenarnya secara harfiah tidak tepat, karena yaum = hari, deen = hutang. Akan lebih tepat jika terjemahkan sebagai hari jatuh-temponya hutang. Lebih bisa difahami jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris yaitu the day of debt settlement.

Disamping yaumiddeen yang banyak disebutkan di Quran, ada beberapa kata lain yang juga menggunakan seperti kata yaumilakhir (hari akhir – Q 2:8, 62, 126, 177, Q: 60:6, dll), mungkin bisa diartikan juga hari jatuh tempo. Kemudian yaumulhisab (hari perhitungan, Q 38:16, 26, 53; Q 40:27), yaumilqiamah (hari kebangkitan, Q 2:85, 133, 174, 121; Q 3:55, 77, dan banyak lagi).  Kami berikan sebagian referensi ayat Qurannya agar pembaca bisa melakukan pengecekan sendiri. Disamping itu ada beberapa mana yang sedikit (atau hanya sekali) digunakan, seperti: yaumilaleem, (hari yang menyakitkan,  Q 11:26),  yaumidhadhim (hari yang besar Q 26:156, 189), keduanya dalam konteks penyiksaan.

Ada lagi yang cukup relevan dengan apa yang nanti akan diceritakan, yaitu yauminmuheet (hari yang mengurung, Q 11:84). Konteksnya adalah tentang orang yang mengurangi timbangan, berbuat curang dengan takaran, dimana pada hari itu ia akan terkurung oleh (catatan) perbuatannya sendiri. Kalau ditelusuri lebih jauh, seorang yang berbuat curang dalam takaran, sebenarnya dia berhutang kepada lawan dagangnya sebesar kecurangan yang dilakukannya. Baginya hari perhitungan adalah hari dimana semua catatan amal perbuatannya akan mengurungnya dan membuatnya tidak bisa melarikan diri.


Kreditisme, Dosaisme dan Cardinal Sin

Saya tidak tahu apakah menganalogikan kredit, hutang dengan dosa punya cukup relevansi. Dalam banyak hal mereka punya persamaan. Mereka punya jatuh tempo, hanya namanya saja di dalam bahasa Indonesia yang berbeda. Di dalam bahasa Inggris, sama yaitu the day of reckoning. Di dalam doa, hutang juga dianalogikan sebagai dosa. Terlepas dari itu semua, saya mau menganalogikan hutang, kredit dengan dosa.

Bagian ini akan dimulai dengan beberapa hikmah pelajaran, kutipan-kutipan ucapan yang menarik dari beberapa orang mengenai hutang, problem dan politikus serta dosa.

Yang pertama dari hadith mengenai penghutang yang isinya sebagai berikut:

Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali berlindung dari hutang.”

Maka beliau menjawab, “Jika seseorang telah berhutang, maka jika berbicara niscaya ia (bisa) berkata dusta dan jika berjanji niscaya ia bisa mengingkari.” (HR. Bukhari no. 832 dan Muslim no. 589)

“All governments are run by liars and nothing they say should be believed.”  (I. F. Stone journalis investigatif dan pengarang)

"There ain't no ticks like poly-ticks.  Bloodsuckers all." (Davy Crockett, pahlawan rakyat Amerika, serdadu dan pejelajah frontir)

"Politicians are, by nature, liars." (Dale Amon, blogger tidak terkenal)

"Government does not solve problems. It subsidizes them." (Ronald Reagan, presiden US)

Kutipan-kutipan di atas kalau dirangkaikan bisa membentuk kalimat: “Pemerintah yang notabene dijalankan oleh politikus, bukan bertujuan menyelesaikan masalah, melainkan mensubsidinya, yang biayanya diambil dengan jalan berhutang (dan pajak), selanjutnya menjadikan politikus parasit penghisap darah itu menjadi pembohong.”

Silahkan rangkaikan sendiri dan buktikan di lapangan. Misalnya Jokowi, katanya mau menyelesaikan masalah Jakarta,.....eeeh belum setahun jadi gubernur Jakarta, sudah mencalonkan diri jadi presiden. Kapan bisa membereskan Jakarta? Kalau mau mengabdi kepada masyarakat, tidak perlu jadi presiden atau gubernur, cukup jadi pekerja sosial dan philanthropist (tukang derma dan kerja sosial) seperti madam Teresa atau Mahatma Gandhi atau Albert Schweitzer. Pertanyaan serupa juga berlaku untuk Abu Rizal Bakri dan Prabowo. Sumbangkan kekayaannya untuk rakyat miskin, seperti Albert Schweitzer. Kami di EOWI percaya, bahwa janji mereka adalah bohong. Mereka ingin jadi presiden, bukan membantu rakyat supaya makmur.

Judul bagian ini menggunakan kata kreditisme dan dosaisme. Ini adalah kata yang baru diperkenalkan untuk merujuk kepada suatu paham, isme, yang mati dan hidupnya mengagungkan hutang. Nama itu memang tidak diperkenalkan oleh Nixon, tetapi, Nixonlah yang menyemainya dan membuatnya tumbuh.

Sejarah dimulai dengan Perang Dunia I, ketika itu emas adalah uang. Ketika perang usai, Amerika, US, menerima banyak emas/uang sebagai imbalan bantuan peralatan perang dan logistik kepada Inggris cs. melawan Jerman cs. Sejarah diputar lebih cepat ke akhir Perang Dunia II, pada episode perjanjian Bretton Woods, sebagai negara yang paling kaya, paling banyak punya emas, dimasa itu, mata uang US dijadikan mata uang untuk cadangan devisa dan digunakan untuk transaksi internasional sebagai pengganti emas. Dollar saat itu dipantek di emas dengan kurs $35 per oz emas.

Cadangan emas terbatas. Dan jumlah dollar yang bisa dicetak juga terbatas. Kalau pemerintah mau pinjam uang, dengan mengeluarkan surat hutang, bank sentral hanya bisa mencetak uang sebanyak cadangan emas yang dimilikinya. Defisit pembayaran suatu negara (baca: US) juga terbatas sampai cadangan emasnya susut dan habis. Hutang terbatas diperbolehkan, tetapi harus dibayar dalam waktu, maksimum 5 tahun. Politikus juga tidak bisa membelanjakan uang negara seenak udhelnya saja, sehingga defisit berkepanjangan. Karena hanya ada 2 cara untuk menutupi defisit belanja negara, yaitu menaikkan pajak (yang tentu akan menimbulkan pemberontakan) atau/dan hutang. Keduanya adalah perbuatan dosa. Kondisi seperti ini, maksudnya sistem keuangan berbasis emas, membuat politikus sukar berbuat banyak dosa (baca: hutang, defisit). Oleh sebab itu Nixon, yang waktu itu sedang giat-giatnya berbuat dosa, membunuhi orang-orang di Vietnam, menghamburkan uang pembayar pajak US, tidak suka. Defisit $56 juta membuat cadangan devisanya susut dan jumlah emas untuk mem-back-up cadangan devisanya hanya 22% saja. Dengan kata lain US dollar sangat overvalue terhadap emas. Dan dia menghapuskan secara sepihak perjanjian Bretton Woods 15 August 1971, dengan Executive Order 11615nya. Sejak saat itu dollar tidak dikaitkan lagi dengan emas, melainkan dengan surat-surat hutang, apakah surat hutang pemerintah atau surat hutang yang ada kaitannya subprime. Itulah cardinal sin, yang diperbuat Nixon yang merupakan pintu bagi dosa-dosa lainnya dalam skala global.

Hutang bagaikan dosa, selingkuh, narkoba, judi, menjadikan pelakunya ketagihan dan sulit melepaskan diri. Akan tetapi dosisnya harus ditambah terus untuk memperoleh effek yang sama. Sejak tahun 1972, pertumbuhan uang/kredit dalam skala global melesat dengan cepat. Rambu-rambu defisit sudah tidak ada lagi. Katanya, berupa pertanyaan: “Deficit, does it matter?


Chart - 1, Pasar hutang yang terus membengkak.


Skenario Hari Penghakiman

Dengan hutang, banyak yang bisa dibeli, kalau mau. Biasanya, hutang digunakan untuk membeli sesuatu, misalnya rumah, saham, emas dan perak, leverage di pasar modal, untuk ganti barang seperti mobil SUV, tv flat-screen, cell-phone, gadget untuk selfie, dan sederet lagi barang yang tidak terlalu penting atau tidak perlu diganti. Barang lama dibuang. Ekonomi marak. Cina sebagai negara pengekspor barang konsumen membangun banyak pabrik-pabrik untuk memasok permintaan yang melonjak (sementara sifatnya), dan membukukan surplus perdagangan. Dan negara-negara lain sebagai konsumen seperti US dan negara Eropa (kecuali Jerman), membukukan defisit dalam perdagangannya. Negara-negara yang memasok bahan baku seperti Indonesia, Canada, Australia mengalami boom karena naiknya harga bahan baku seperti timah, (bijih) besi, nickel, tembaga, minyak bumi dan sejenisnya.

Tadi disebutkan bahwa hutang akhirnya bisa dipakai untuk membeli asset seperti rumah, emas/perak dan saham. Selanjutnya asset-asset ini membengkak harganya mencapai rekor. Levelnya sampai patut dipertanyakan. Pada level harga rumah 30 kali dari sewa tahunannya, harga itu patut dipertanyakan. Bahkan besarnya GDP Cina yang di atas 7%  itu patut dipertanyakan kwalitasnya. Kalau memang pertumbuhan ekonomi Cina punya kwalitas, kenapa indeks saham Cina terus melorot sejak krisis sub-prime tahun 2008. Perusahaan-perusahaan Cina tidak membukukan keuntungan dan tidak punya pertumbuhan keuntungan seperti yang dicerminkan GDPnya. Patut dicurigai bahwa perusahaan-perusahaan Cina, hanya dari luarnya dan dari publikasinya saja mentereng. Di dalamnya tidak menjanjikan apa-apa di saat ini dan di masa depan.

Ada seorang yang dianggap pintar oleh kelompoknya. Namanya Ludwig von Mises. Dia punya pendapat:

"There is no means of avoiding the final collapse of a boom brought about by credit expansion. The alternative is only whether the crisis should come sooner as the result of a voluntary abandonment of further credit expansion, or later as a final and total catastrophe of the currency system involved."

Ekspansi hutang ada batasnya menurut Mises. Bank-bank sentral bisa menyediakan uang kepada bank-bank komersial. Tetapi kalau tidak ada yang mau ambil kredit, maka pesta belanja berakhir. Jika hura-hura belanja berhenti, segalanya kembali ke normal, mungkin sedikit mengencangkan ikat pinggang, apa yang akan terjadi? Kelebihan kapasitas menjadi tidak berguna. Sebagai negara yang dikendalikan oleh Pusat, negara bisa memerintahkan pabrik-pabrik BUMN untuk terus berproduksi menyemangati pabrik swasta untuk berjalan terus, agar supaya karyawannya tetap bekerja. Pada saatnya, ketika produk-produknya sudah bertumpuk, tidak ada jalan lain kecuali menghentikan produksi. Kemudian, hutang perusahaan akan bermasalah. Jika perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang rendah punya persoalan hutang, artinya buruk sekali.

Kondisi semacam itu bisa menjalar ke hutang konsumen. Yang ini agak kecil resikonya, karena porsi konsumsi di Cina, rendah terhadap GDPnya. Artinya kecenderungan menabung cukup tinggi. Setidaknya orang akan lebih berhati-hati dalam berspekulasi, dimana spekulasi yang sedang populer adalah di sektor properti. Artinya bubble properti bisa pecah.

Inilah tantangan Cina. Jika wilayah yang mempunyai ekonomi lebih dari 50% dari dunia, yaitu US, Uni Eropa dan Jepang sedang mengurangi konsumsinya, kemana Cina akan mengeksport barangnya?  Mungkin ke wilayah yang 50% lainnya? Jangankan untuk menambah tingkat konsumsinya, patut dipertanyakan apakah wilayah dunia yang 50% itu tidak kena imbas? Secara keseluruhan, di saat itu, setidaknya kelebihan kapasitas produksi di Cina akan terlihat nyata.

Kalau Cina punya problem, yang lain juga ditulari. Cina adalah pelahap 50% produksi logam di dunia, 12% produksi minyak di dunia, 54% produksi batubara dunia melakukan pengurangan produksinya, katakanlah 25% saja. Dampaknya akan mengenai negara-negara yang mengeksport bijih dan bahan-bahan tambang ini. Indonesia, Australia, Canada, dan negara-negara yang sudah Cina-Centris akan terkena dampaknya. Bubble property di negara-negara ini akan terkena juga.


Tanda-Tanda Datangnya Hari Perhitungan

Dulu tahun 1970an, waktu jamannya Suharto sebagai presiden Indonesia dan Jimmy Carter sebagai presiden Amerika, ada yang menyangka bahwa kiamat sudah dekat. Alasannya bahwa ada anak petani jadi presiden dan membangun gedung-gedung tinggi. Dan waktu itu juga sedang gencar-gencarnya histeria ledakan populasi (lebih intens dari histeria climate change dan global warming sekarang, sampai-sampai program KB sangat dipaksakan ke penduduk). Jadi wajar-wajar saja kalau orang percaya hari kiamat sudah dekat. Ketika Jim Jones seorang pengkhotah Amerika Serikat, beserta pengikutnya melakukan bunuh diri masal tahun 1978 di Jamestown Guyana, wajar-wajar saja kalau ada yang berpikir bahwa orang-orang itu bunuh diri karena menyongsong kiamat. Padahal sebenarnya karena sikap paranoia dari Jim Jones.

Melihat tanda-tanda hari perhitungan itu penting. Tetapi, terkadang-tanda-tanda itu muncul, tetapi hari yang ditunggu sampai bertahun-tahun bahkan berabad-abad tidak datang juga. Namun demikian, kalau tidak diamati dan tidak diceritakan, maka dunia ini menjadi sangat membosankan. Oleh sebab itu EOWI mau memonitor dan menceritakannya kepada pembaca.

Saat ini sudah ada 3 institusi keuangan (mutual fund, institusi investasi, reksadana) gagal bayar dalam tahun 2014 ini seperti yang pernah diceritakan di EOWI. Salah satunya adalah kasus Credit Equals Gold #1. 
(link)

Kemudian, nilai Yuan yang tiba-tiba melemah. Juga diceritakan dalam posting yang sama. Ekspor Cina melemah cukup drastis karena kekurangan permintaan dari negara lain atas barang Cina. Disusul dengan impor bahan baku yang melemah drastis karena aktivitas produksi melemah di Cina. Berita ini tidak akan memicu hari penghakiman jika hanya sejumlah kecil investor/reksadana keluar dari pasar. Tetapi jika keluarnya beberapa reksadana diikuti oleh yang lain dalam jumlah yang agak besar, bisa menimbulkan panik, seperti kasus sub-prime 2008. Bayangkan disebuah gedung bioskop yang berkapasitas 1000 orang. Jika ada 5-10 orang keluar bersama-sama dengan tenang, mungkin tidak terjadi apa-apa. Tetapi jika ada 20 orang berlari keluar, sambil berteriak-teriak “api!!!”, niscaya pintu gedung bioskop menjadi sesak, orang keluar berhimpitan. Seperti kasus krisis sub-prime, misalnya, pemicunya hanyalah kebangkrutan Lehman Brother yang notabene sebuah perusahaan dengan kapitalisasi pasar $60 milyar pada bulan Februari 2007, kurang lebih setahun sebelum dinyatakan bangkrut. Ukuran ini tidak ada apa-apanya dibandingkan JP Morgan, perusahaan sejenis lainnya dengan kapitalisasi pasar waktu itu $ 190 milyar.

Dengan computer-trading atau high-frequency trading atau algorithmic trading, pintu keluar akan sesak jika terjadi panik di pasar modal. Belum lagi trader yang memakai leverage, cenderung untuk memperparah keadaan. Mungkin 3 gagal bayar ini hanya sebagai prelude saja. Mungkin juga bukan.

Di samping Cina, pasar modal di US juga telah menunjukkan gejala topping (Chart-2 untuk indeks Dow Industrial). Betuk pola corrective megaphone a-b-c-d-e indeks DJIA akan mengakhiri wave-d naik disekitar 17,000-18,000 dan mulai wave-e turun. Target wave-e adalah antara 5,000 – 6,000. Ada beberapa analis mengatakan bahwa koreksi berikutnya bisa mencapai 3,500. Entah lah.....


Chart - 2


Terkadang kita hanya melihat yang jelas-jelas nampak, seperti Cina atau US atau Uni Eropa sebagai pemicu pertama. Bisa saja yang lain. Seperti krisis Ukraina, misalnya. Walaupun tidak akan ada yang menganggap krisis Ukraina bisa menyebar kemana-mana dan menimbulkan krisis ekonomi dunia. Russia mulai meminta Euro sebagai pengganti US dollar untuk pembayaran gasnya kepada partner dagangnya seperti Cina, Jepang, Korea. Siapa tahu hal seperti ini bisa memicu krisis? EOWI sendiri tidak percaya, tetapi siapa tahu?

Beberapa hari ini, bursa saham dunia menjadi cukup volatile. Pergerakan indeks Dow Industrial, Nikkei mencapai 3 digit. Apakah ini perupakan prelude atau tanda-tanda awal dari crash, hari perhitungan? Entahlah.

Atau ada bank Eropa yang bangkrut karena banyak memegang surat obligasi Ukraina? Atau, kalau ada nanti bank Eropa yang dibangkrutkan menjadi pemicu hari perhitungan. Saat ini bank-bank Eropa kondisi neracanya tidak bagus (baca: negatif) karena kebanyakan pegang derivatif finansial (lihat chart di bawah) – asset dengan leverage tinggi, 30 – 40 kali. Ini bisa jadi pemicu terkadinya krisis.


Chart - 3


Masih banyak lagi yang perlu diwaspadai dan perlu dimonitor. Kalau mau dibikin listnya akan panjang. Terlepas dari itu semua, EOWI tidak perduli dan akan membuat ramalan bahwa krisis finansial akan dimulai tahun 2014 ini. Ini adalah ramalan yang berani....., karena sepertinya EOWI tidak pernah belajar dari kasus William Miller. Tetapi bagi jeli, akan berkomentar: “Mas IS ini pinter ngakali orang. ‘Kan krisis sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2011. Selama ini hanya memperbesar momentum saja. Jika momentumnya sudah sudah massa/bobot yang cukup maka hari kepanikan akan dengan sendirinya tiba.”.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa:

Jam yang mati (rusak) akan menunjukkan waktu yang benar sebanyak 2 kali sehari. 

Pepatah itu adalah ucapan sinis yang ditujukan untuk orang-orang yang suka membuat ramalan. Maksudnya, peramal yang sangat burukpun, suatu saat ramalannya akan benar karena suatu kebetulan. Menanggapi pernyataan sinis ini, EOWI juga tidak mau kalah sinis:

Jam yang mati (rusak) akan menunjukkan waktu yang benar sebanyak 2 kali sehari. Peramal yang buruk suatu saat akan benar, karena kebetulan, bukan karena hebatnya ramalannya............, kecuali William Miller......., ha ha ha ha ha ha..... 

Sekian dulu, jaga kesehatan anda, tabungan anda, investasi dan hasil jerih payah anda baik-baik.



Bintuni 11 April 2014
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, March 24, 2014

Nilai Rupiah dan Defisit Dalam Sejarah



Berikut ini adalah chart nilai kurs rupiah terhadap US dollar sejak diproklamasikannya rupiah oleh Muhammad Hatta pahlawan terkenal Indonesia yang tanpa cacat menurut buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Saya tidak sepakat mengenai Hatta sebagai negarawan yang baik. Anda bisa lihat sendiri pada chart tersebut bahwa nilai rupiah selalu melorot, apalagi selama Hatta menjadi wakil presiden. Payah banget kinerja rupiah. Kalau inflasi adalah pemiskinan rakyat terutama penabung oleh pemerintah melalui pencetakan uang yang semena-mena, maka pada jaman Hatta dan beberapa tahun sesudahnya adalah masa yang terparah. Cukup adil jika dikatakan bahwa Hatta penghisap darah rakyat dan penabung yang paling sadis diantara para petinggi negara RI. Karena dialah yang memperkenalkan dan menganjurkan rakyat untuk pindah dari gulden ke rupiah. Atau kalau kita tetap bersikukuh bahwa Hatta adalah seorang negarawan, maka pengertian negarawan adalah penipu sontoloyo yang membuat orang sengsara dengan tipu daya (melalui pencetakan uang).

Hampir 1.5 bulan ini rupiah menguat. Siapapun yang punya posisi short di rupiah agak nervous. Apalagi kalau posisi itu diambil dengan leverage yang tinggi. Sebagai disclaimer, saya punya posisi short rupiah dengan leverage 2 kali. Artinya saya pinjam dari bank sebesar Rp 5 milyar, kemudian uang ini saya simpan dalam US dollar. Pertanyaannya adalah kemana arah rupiah yang akan datang. Apakah akan menguat terus atau penguatan selama 1.5 bulan itu hanyalah koreksi terhadap secular bear market di rupiah?

EOWI akan membagi perjalanan nilai rupiah ini menjadi beberapa periode sesuai dengan warna ekonomi Indonesia. Pertama Jaman Ekonomi Tertutup – Berdikari, yang mempunyai rentangan dari masa kemerdekaan sampai tahun 1970. Periode ini EOWI sebut dengan nama Periode Pembangkrutan Secara Kejam. Dan kemudian jaman keterbukaan investasi asing atau periode Penyengsaraan pelan-pelan. Kita bisa melihat adanya penurunan (perubahan trend) tingkat inflasi dari level “masya Allah gede banget” sampai level “sialan gue dikerjain pemerintah”. Kami katakan level “masya Allah gede banget” karena pada masa itu seorang jutawan, seperti ayah saya dulu, bisa bangkrut hanya dalam kurun waktu kurang dari 4-5 tahun. Nilai tabungannya menguap dan tersisa hanya 0.1% saja.

Perubahan trend inflasi dari level masya Allah gede banget ke level trend sialan gue dikerjain pemerintah, ada kaitannya dengan pembukaan kran penjualan kekayaan bumi pertiwi (istilah yang akan dipakai para politikus sosialis/populis). Jamannya Sukarno, eksploitasi sumber-sumber alam mineral tidak seterbuka jaman Suharto dan sesudahnya. Untuk membiayai pemerintahan, dananya diambil dari mencetak duit dengan kecepatan yang masya Allah gede banget. Setelah Sukarno digulingkan, pemerintah punya sumber dana baru, yaitu para penambang (kebanyakan asing, tetapi kemudian swasta lokal juga muncul). Kalau ada yang bertanya, ‘kan jamannya Sukarno ada BUMN pertambangan pemerintah, seperti PN Aneka Tambang, PN Timah dan Pertamina, apakah dana dari mereka kurang? Pertanyaan semacam ini tidak perlu dijawab. Cukup orang tersebut disuruh melihat kinerja PT Timah, Aneka Tambang dan Pertamina serta Merpati Nusantara atau PT Dirgantara Indonesia........, serta BUMN-BUMN lainnya.


Chart - 1


Setelah kran eksplorasi dan eksploitasi hutan, minyak, bahan mineral dibuka, maka, masuklah investor-ivestor asing seperti Inco (nikel), Conoco (minyak), Arco (minyak), Kodeco (hutan), dll, sedangkan yang sudah ada seperti Caltex Pacific (lapangan Duri),  Freeport (Freeport Irian) mulai melakukan eksploitasi, mengeduk kekayaan bumi Indonesia (istilah yang mungkin disukai politikus sosialis seperti Kwik Kian Gie dan Amin Rais). Sebagian (besar) budget negara dibiayai oleh hasil penjualan kekayaan bumi Indonesia dan yang berkaitan dengan itu (seperti pajak-pajaknya). Kondisi seperti ini sampai sekarang, tidak banyak perubahan.

Intinya, bahwa selama 45 tahun terakhir ini, pembiayaan negara RI banyak bergantung kepada komoditi tambang. Dan kekurangannya akan diambil dari rakyat dengan segala tipu daya. Andaikata thesis ini benar maka akan ada korelasi antara nilai rupiah, defisit pembayaran dan harga komoditi tambang. Pada periode commodity secular bull market, rupiah akan stabil dan neraca pembayaran RI akan mengalami surplus. Dan sebaliknya, pada masa commodity secular bear market, nilai rupiah akan merosot dan neraca pembayaran RI akan mengalami defisit. Fenomena ini yang harus kita lihat sebagai bukti terhadap thesis di atas.


Commodity Secular Bull Market 1970 – 1980
Chart di bawah ini menunjukkan adanya siklus 30 tahunan untuk bahan komoditi. Commodity Secular Bull Market sebelumnya terjadi pada tahun 1972 – 1981. Pada saat itu CRB Index (Commodity Research Bureau Index) mencapai puncaknya di 1400 (dinormalkan terhadap inflasi). Lamanya periode bull market ini sekitar 9 - 10 tahun. Kemudian disusul dengan 20 tahun bear market.


Chart - 2


Pada masa commodity secular bull market tahun 1970 - 1980 ini nilai tukar rupiah terhadap dollar bertahan di level Rp 425 per US dollar selama hampir 10 tahun (lihat Chart-1). Minyak pada masa itu adalah komoditi unggulan ekspor Indonesia. Indonesia sebagai net eksporter minyak memperoleh banyak petro-dollar. Pertamina sebagai perusahaan negara menjadi besar dan kelimpahan banyak uang. Mal-invesment banyak dilakukan oleh Pertamina, termasuk investasi untuk membangun restoran di New York yang diberi nama Ramayana yang akhirnya bangkrut. Banyaknya petro-dollar yang diperoleh ini membuat Pertamina masuk ke bisnis-bisnis yang non-minyak, seperti rumah sakit, hotel dan lain sebagainya. Ibnu Sutowo, direktur Pertamina dimasa itu, digambarkan sebagai orang yang terkaya di Indonesia (suatu gambaran yang salah). Dan orang-orang yang bekerja di sektor minyak identik dengan orang bergaji tinggi. Gambaran ini sekedar untuk illustrasi bagaimana melimpahnya petro-dollar ke Indonesia. Dan dengan petro-dollar inilah, rupiah bisa bertahan.

Sebagian orang dipemerintahan menyadari bahwa petro-dollar tidaklah bisa langgeng. Minyak akhirnya bisa habis dan produksi minyak akan berkurang. Oleh sebab itu usaha-usaha untuk memperoleh pendapatan dari sektor lain (manufakturing) diusahakan. Dan muncullah istilah ekspor non-migas yang masih terbawa sampai sekarang walaupun tidak relevan (kalau ada ekspor nonmigas, memangnya Indonesia punya ekspor migas sekarang? Yang ada cuma ekspor gas).

Sebenarnya masih ada sektor lain yang menyumbangkan devisa dan menjadi benteng pertahanan rupiah, yaitu kayu. Pada masa itu perusahaan-perusahaan HPH – Hak Pengelolaan Hutan bermunculan. Kodeco, salah satu perusahaan minyak yang beroperasi di Indonesia, pada awalnya adalah perusahaan kayu.


Commodity Secular Bear Market 1980 – 2000
Commodity Secular Bull Market dibunuh oleh Paul Volker dari the Fed (bank sentral USA). The Fed menaikkan suku bunga dasar. Katanya untuk menekan harga-harga barang (baca: inflasi). Harga bahan komoditi juga ikut tertekan (katanya). Dan dunia memasuki periode baru yaitu periode Commodity Secular Bear Market yang berlangsung sampai tahun 2000.

Perjalanan rupiah selama 20 tahun (antara tahun 1980 sampai 2000) sangat menyedihkan. Sebenarnya bukan rupiahnya yang menyedihkan, tetapi penabung dan pekerja yang bergaji rupiah. Tabungan dan gaji mereka terkikis nilainya, yang tidak bisa dikatakan perlahan-lahan melainkan sudah di level kurang ajar, bangsat, gue dikerjain pemerintah. Level ini lebih buruk dari level sialan gue dikerjain pemerintah, yang merupakan rata-rata dengan level inflasi dimasa bull market. Kurs US dollar meningkat secara bertahap dari Rp 420 menjadi sekitar Rp 9000 melalui proses selama 20 tahun. Rupiah kehilangan lebih dari 95% dari nilainya. Sebutan inflasi tingkat kurang ajar, bangsat, gue dikerjain pemerintah cukup relevan bukan? Orang yang menabung untuk hari tua dan masa pensiunnya akan memaki-maki kalau dia tahu nilai tabungannya digrogoti pemerintah. Yang pasti, dimasa tuanya, dia akan sengsara.

Pada dasarnya besarnya birokrasi pemerintahan negri yang disebut Indonesia diluar kemampuan rakyatnya. Untuk membayar Ratu Atut, Rano Karno, Aulia Pohan, Budiono, gubernur daerah ini dan itu berserta wakilnya, juga menteri-menteri dan wakil-wakilnya yang berjumlah besar, serta pegawai negrinya, belum lagi anggota DPR yang berjumlah sekitar 500 orang (angka kasar), plus staffnya tidaklah mudah bagi rakyat jika bekerja di sektor manufakturing, mengolah bahan baku ke barang jadi. Pada periode 1980 – 2000, banyak investasi maufakturing yang masuk ke Indonesia. Mulai dari industri sepatu, industri garmen pakaian jadi, tekstil, industri perakitan elektronik, dan sederet lagi yang saya sendiri lupa. Pada masa itu, jika orang pergi ke luar negri dan mau membeli oleh-oleh berupa sesuatu yang bermerk, seperti sepatu (Addidas, Puma atau Reebok) atau baju dan celana designer (Dior, Daniel Hechter, Hugo Boss, Polo Ralph, Armani, Lacoste, Mark & Spencer, dsb) harus dilihat dulu labelnya. Karena bisa jadi adalah made in Indonesia. Masa’ jauh-jauh dibawa dari luar negri ternyata buatan lokal. Akan mengecewakan. Tingkat keterampilan bangsa Indonesia belum bisa membiayai besarnya birokrasi. Bandingkan saja anggota Volksraad yang hanya 37 orang dan 4 orang menteri, sangat sedikit dibandingkan jumlah anggota DPR yang 500 orang dan lebih dari 50 orang menteri (dan wakilnya). Padahal tingkat keterampilan mayoritas anak bangsa ini tidak banyak berubah.

Anak bangsa yang kurang trampil ini juga tidak bisa memproduksi sesuatu yang berharga dengan nilai tukar yang tinggi dan untuk membeli barang-barang yang diperlukan. Makanan saja seperti beras, kedele, dll, juga harus impor. Secara aggregat negara yang dicintai rakyatnya ini tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan  neraca pembayarannya selalu negatif selama 20 tahun (1980 – 2000). Istilahnya defisit neraca pembayaran (Chart-3). Kejadian ini berlangsung lama sekali, sampai akhirnya mencapai titik klimaks, tahun 1998, yang dikenal dengan nama krismon 1997.



Chart - 3


Begitulah kisahnya sampai krismon 1997. Keterpurukan ibu pertiwi terhenti karena munculnya periode baru, yaitu Commodity Secular Bull Market 2000 – 2011.


Commodity Secular Bull Market 2000 – 2011
Commodity Secular Bull Market 2000 – 2011 dipicu oleh easy money policy yang diterapkan oleh the Fed, bank sentral US sebagai respons dari krisis keuangan di US, dari pecahnya bubble saham technology Nasdaq (2000), serangan 9/11 (2001), skandal creative accounting Enron (2002) secara terus menerus melahirkan bubble yang kemudian pecah dan digantikan dengan bubble lain sampai akhirnya skandal subprime debt (2007) pecahnya bubble sektor properti US. Setelah bubble yang terakhir ini pecah dan dampaknya kemana-mana, mengglobal, boleh dikata semua bank sentral di dunia mengucurkan stimulasi, easy money policy.

Kucuran kredit stimulasi sebagai respons dari sub-prime crisis, di samping  melahirkan bubble kredit di Cina, juga menghidupkan kembali sisa-sisa tenaga dari commodity bull market. Indeks CRB rebound, tetapi tidak pernah mencapai level yang dicapainya di tahun 2008. Walaupun demikian, bagi Indonesia, rebound nya harga bahan komoditi tambang sudah cukup untuk mempertahankan neraca pembayarannya, cadangan devisa, serta nilai tukar rupiah (lihat pada artikel sebelumnya). Cadangan devisa mengalami penurunan di tahun 2011, nilai tukar rupiah mulai melemah tahun 2011 dan neraca pembayaran Indonesia menjadi defisit di akhir tahun 2011. Tahun 2011 menjadi tahun bersejarah dan merupakan titik balik dari keperkasaan rupiah. Eeeh.....salah. Tahun 2011 adalah tahun dimana harga bahan komoditi tambang tidak bisa memberikan nilai ekspor Indonesia menunjang kehidupannya sehari-hari. Itu pernyataan yang lebih tepat.


Akhir Commodity Secular Bull Market
Secular bull market di sektor komoditi mati pada tahun 2011, dan digantikan oleh secular bear market. Itu sudah final. Mungkin kita harus menunggu lama sekali kedatangan secular bull market di sektor komoditi. Mungkin 10 tahun lagi, mungkin 20 tahun lagi. Mungkin hanya 7 tahun lagi. Entahlah. Sebelum tahun 1950an, siklus komoditi panjangnya 30 tahun (dari peak ke peak). Dan nampaknya dua secular bull market (1970 – 1981 dan 2000 – 2011) masih seperti itu. Dari peak ke peak lamanya 30 tahun (1980 dan 2011).

Di bawah ini chart harga tembaga. Harga tembaga telah menebus resistan nya pada pola segitiga, dan melanjutkan ke trend bearishnya.


Chart - 4



Hanya nickel saja yang agak menyimpang (Chart-5). Tetapi kami di EOWI tidak percaya hal ini akan berlanjut terus. Ini adalah dilatar-belakang oleh pasar yang agak cemas karena krisis di Ukraina dan Crimea. Dalam benak para spekulan, pasokan nickel akan tersendat, karena Russia adalah penghasil nickel terbesar di dunia yang memasok 13% dari produksi dunia. Tetapi, menurut pandangan kami, tidak akan ada peluru ditembakkan, tidak ada darah yang tercecer dan tidak ada nyawa yang hilang di Crimea. Skenario paling buruk adalah: tidak akan ada roket diluncurkan di Crimea. Jadi, harga nickel akan kembali pada trend nya seperti harga bahan tambang lainnya. Lihat saja stock nickel di London Metal Exchange terus meningkat (Chart-6). Bahkan bulan terakhir (Maret 2014) stocknya melonjak drastis. Artinya, tidak ada kekurangan pasokan.

Kalau mau melanjutkan dengan bahan komoditi tambang lainnya, silahkan. Pembaca akan menemui trend yang sama dengan tembaga (lihat 2 artikel EOWI sebelumnya). Dan trend rupiah kembali kepada pola bearish seperti tahun 1980 – 2000. Defisit pembayaran membengkak. Kalau di tahun 1980 – 2000, defisit pembayaran hanya berkisar sampai kira-kira US$ 2000, pada awal secular bear market rupiah 2011 – 2030(?), gejala awal menunjukkan defisit US$ 10,000. Lima kali lebih besar.



Chart - 5




Chart - 6



Selamat Tinggal Bull Rupiah, Sampai Jumpa 15 - 20 tahun lagi.
Selamat tinggal nilai rupiah yang stabil, dan selamat datang rupiah bear. Moga-moga kamu tidak tinggal selama big daddy 1980-200 bear. Moga-moga kamu pergi lebih cepat.

Kalau ada yang bertanya, bagaimana perjalanan rupiah untuk selanjutnya. Yang paling gampang adalah dengan melihat sejarah dan trend yang lama diekstrapolasi ke masa depan. Dengan kata lain bahwa rupiah akan mengalami masa bearish yang panjang, seperti tahun 1980 – 2000. Tentu saja masa depan tidak sama dengan masa lalu. Dengan kata lain, trend 1980 – 2000 tidak akan valid/berlaku jika ada faktor fundamental yang berubah. Misalnya, anak bangsa Indonesia ini menjadi seperti Korea, maksud kami, Korea Selatan, bukan Korea Utara. Dua Korea itu sangat berbeda. Korea Selatan mengalami perubahan struktur ekonominya dalam kurun waktu 20-30 tahun. Pada dekade 80an, nama Samsung, LG atau Hyundai belum terdengar atau hanya terdengar samar-samar. Sekarang seakan merajai show room mobil dan toko elektronik. Korea Selatan mengalami perubahan struktur ekonomi yang sangat mendasar. Dengan pengelolaan uang yang baik perubahan ini akan mampu menekan defisit. Apakah Indonesia bisa seperti itu? Seandainya tidak bisa melakukan perbaikan kualitas barang-barang yang diproduksinya, bisakah rakyat Indonesia menekan konsumsinya sehingga keuangannya lebih baik. Anda bisa menjawabnya sendiri.

Mungkinkah bangsa Indonesia sedemikian effektifnya dan punya cukup sumber daya manusia yang terampil sehingga menarik modal asing (membawa dollar ke dalam negri)? Kalau dibilang effektif dan terampil, entahlah. Sebagai perbandingan, di banyak toko swalayan US, posisi kasir sudah ditiadakan. Seperti posisi teller di bank-bank dan digantikan oleh ATM. Nasabah berinteraksi sendiri dengan mesin. Begitu pula posisi kasir di US, sudah dijalankan oleh mesin. Hanya perlu 1 orang untuk mengawasi 8-10 jalur pembayaran di toko-toko swalayan seperti Walmart. Itu kata teman saya lho. Saya sendiri belum pernah melihat. Belum lagi di bidang pertanian. Mekanisasi dan otomatisasi memungkinkan seorang bisa menangani lebih dari 100 ha ladang pertanian, dari mulai membajak, menebar bibit, memberi pupuk sampai memanen. Bagaimana dengan Indonesia, apakah bisa lebih kompetitif. Apakah harga beras atau kedelai Indonesia bisa bersaing?

Kalau yang bisa dijual cuma bisa laku murah, orang tidak tertarik membawa dollar untuk berinvestasi di Indonesia, mungkin yang terjadi adalah anak bangsa ini dipaksa menurunkan pola konsumsinya, dengan jalan melemahnya nilai rupiah. Jalur ini membuat harga-harga barang impor menjadi mahal (baca: bersaing dengan produk dalam negri yang mahal juga karena pembuatannya tidak effektif). Dengan kata lain, beras, daging (sapi), tempe, tahu, ayam, bawang putih, susu akan naik harganya. (Ayam, tahu dan tempe memang produksi dalam negri, tetapi bahan bakunya impor) Artinya anak bangsa Indonesia akan lebih sehat, tingkat obesitas meurun, sakit jantung coroner atau penyakit-penyakit akibat kelebihan gizi akan turun. Moga-moga saja tidak digantikan dengan penyakit-penyakit gizi buruk. Mungkin harga mobil dan barang elektronik serta produk manufakturing tidak banyak naik karena toh nantinya ongkos produksi barang-barang ini di luar negri ditekan karena proses robotisasi.

Yang EOWI lihat adalah trend di masa datang adalah trend yang lebih buruk dari trend 1980 – 2000. Saat ini Indonesia mengalami defisit minyak bumi, dengan kata lain importir minyak bumi. Dan nampaknya harga minyak masih bercokol dengan bandel di level $ 90 - $ 100 per BBL. Sampai saat ini minyak masih enggan mengikuti rekan-rekan komoditi bahan tambang lainnya (mungkin nanti). Ini memperburuk situasi dan posisi rupiah. Memang Indonesia masih eksportir gas alam. Tetapi porsi uang yang masuk ke pemerintah berbeda. Untuk minyak adalah 85% dari produksi, sedang untuk gas hanya 65%. Lagi pula gas harus diproses dulu menjadi LNG agar supaya bisa diekspor. Jadi bear rupiah tahun 1980 – 2000 akan berbeda besarnya dengan bear baru yang datang ini. Coba saja lihat, belum apa-apa hantamannya sudah mencapai hampir US $ 10 milyar defisit (lihat Chart-3). Bandingkan dengan bear 1980-2000 yang hanya kecil saja.

Seorang rekan mengatakan bahwa Indonesia sebagai juru selamat seperti Jokowi dan ini akan kita pilih dalam pemilu ini. Tetapi ada rekan yang lain yang mengirimkan kisah berikut (akan saya ceritakan dalam bentuk aslinya dalam bahas Inggris):

The human body is wondering as to who is the leader.
The heart says: It’s me because I am the one that circulate the blood, to make the life goes on.
The brain says: No, it isn’t you, but me. Because I have control over everybody.
The liver says:  No, it isn’t you either. It is me, because I clean all the toxin and poison.
The anus (asshole) says: No, it is me.
All laugh.
The Anus refuses to open for a week. The liver bursts, the brain melts, the heart explodes

Hikmah dari cerita ini adalah: Assholes selalu naik menjadi pemimpin dengan membuat sengsara yang lain.

Ramalan adalah ramalan, perkiraan dan bisa salah. Apalagi yang detail dan menyangkut waktu.nabi Muhammad saja tidak tahu kapan kiamat. Tetapi mereka tahu tanda-tandanya......, yang tidak terlalu detail. Seberapa besar secular bear rupiah kali ini dan berapa lama akan bercokol, kami di EOWI tidak tahu tepatnya. Tetapi cukup aman untuk mengatakan: “lihatlah sejarah masa lalu.” Mungkin maksudnya periode 1980 – 2000.

Sekian dulu, semoga peringatan ini bisa bermanfaat bagi anda untuk bisa merencanakan pensiun anda dengan baik dan membuat strategi keuangan, melindungi hasil keringat anda dari kutilan para assholes.


Bintuni, 24 Maret 2014


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.