_____________________________________________________________________________________________________________________




Wednesday, May 25, 2016

Sell in May and Go Away

Begitu bunyi mantra yang beredar di kalangan komunitas saham. Antara bulan May dan Oktober, pasar memang cenderung bearish. Saya agak malas untuk mencari statistiknya, karena 3 bulan terakhir ini harus bikin suatu study perminyakan dan laporannya. Keduanya menyita waktu yang cukup banyak. Belum lagi mengatur portofolio dan mempersiapkan invetasi 2 tahun ke depan. Belum lagi perlu ketemu orang, menutup deal, dan segala macam. Kebetulan saya baru saja mengurangi satu supir. Jadi sekarang lebih sering menyupir sendiri atau naik Uber. Walaupun masih ada supir di rumah, tetapi saya jarang menggunakan mereka, yang lebih banyak untuk anak dan istri.
Sebenarnya artikel ini lebih cocok kalau diterbitkan diawal May, tetapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sibuk sekali akhir-akhir ini. Tetapi tidak apalah, saat ini masih relevan. Masih belum banyak berubah karena baru mulai.

Saya akan mulai dengan mengambilkan 1 chart dari Dent Research yang berkaitan dengan Sell in May and Go Away.
Sell in May and Go Away
Chart di atas menunjukkan performance S&P selama 6 bulan. Jika anda masuk bursa pada 1 Januari dan meliquidasinya 6 bulan kemudian (bulan Juni) maka cuannya rata-rata 8.1%. Kalau masuk bulan Februari dan keluar bulan Juli, maka cuannya rata-rata 6.3%. Cuan tertinggi jika anda masuk di bulan November dan keluar di bulan April, yaitu 10.5%.
Performance terburuk adalah jika anda masuk di bulan May, biarkan dana mengendap di pasar selama 6 bulan dan keluar di bulan Oktober. Berdasarkan statistik inilah mantra Sell in May and Go Away berasal. Secara statistik juga, kita akan lihat saham dalam 6 bulan ke depan akan tidak terlalu bagus kinerja. Pada periode ini, investor cenderung pegang cash. Tidak hanya saham, tetapi juga komoditi dan emas akan mengalami siklus bearish. Untuk tahun 2015 – 2016 nampaknya statistik ini masih berlaku.
Sebelum melanjutkan cerita, kita lihat score card EOWI. Untuk tahun 2016 ini satu (1) ramalan EOWI sudah terwujud. Dalam laman Gejolak 2016 – 2020 disebutkan:
Dengan agak ragu-ragu, EOWI memperkirakan harga minyak akan menyentuh level di sekitar $30 per bbl. Confidence level kami cukup rendah mengenai perkiraan ini. Harga minyak adalah yang paling sulit diperkirakan. 
Pada bulan Januari 2016, harga minyak menembus $30 per bbl. Dan bottoming di $26/bbl sebelum rebound mendekati $50/bbl. Mungkin masih bisa berlanjut ke $60/bbl. Walaupun demikian, nanti insya Allah akan turun lagi.
Beberapa pembaca EOWI berkomentar bahwa EOWI sudah berganti portofolio dari dollar ke emas. Bahkan ada yang menelpon saya menanyakan tentang investasi di emas. EOWI masih bertahan pada ramalannya, yaitu: emas akan menembus $700 per oz. Kenapa harus terburu-buru menukar portofolio?
Tema investasi EOWI adalah investasi berdasarkan makro ekonomi. Dan sampai saat ini belum ada perubahan yang mendasar pada makro ekonomi dunia. Dan EOWI masih bertahan pada targetnya, yaitu:  emas menembus $700/oz, rupiah menembus level Rp17,000 per USD. Indeks saham DJIA akan menembus 6000, IHSG ke 1000......dan untuk selebihnya silahkan baca “Gejolak 2014 -2020”.
Memang dimulai di bulan Januari, emas rally cukup hebat, hampir 35%, juga minyak naik hampir 100%. Rupiah menguat sampai sedikit di bawah Rp13,000 per USD. Dan rupiah menembus Rp 13,000 (11.1%) membuat pemegang dollar panas dingin. Dan dari semua mata uang, yang paling kuat rallynya adalah real Brazil (17.8%). Semua ekonomi berbasis komoditi, seperti Australia, Canada, Afrika Selatan, Brazil, Russia, antara bulan Oktober 2015 sampai bulan May 2016, mata uangnya mengalami rally
Kami di EOWI cuek aja. Mau trading dengan melepas dollar dulu akan sulit. Kita bisa jual dollar sebanyak berapapun tidak ada halangannya dari peraturan. Tetapi untuk kembali membeli dollar hanya bisa $25,000 per bulan. Kalau saya punya Rp 2  milyar, harus menunggu 8 bulan untuk mendollarkannya. Jadi, diamkan saja lah.
Tetapi untuk masa yang akan datang, ceritanya akan lain. Ternyata beberapa bank menawarkan multi currency account. Rekening beberapa mata uang, seperti US dollar, Singapore dollar, Aussie dollar dan lain-lain. Mengalihkan uang dari US dollar ke dollar Canada dan sebaliknya tidak dikenai pembatasan oleh peraturan. Oleh sebab itu, jika terjadi lagi koreksi terhadap US dollar atau counter trend rally pada mata uang berbasis komoditi, saya akan bisa melakukan trading secara lebih leluasa. Memang bukan US dollar-Rupiah, tetapi hal itu bukan masalah. Rupiah dan mata uang negara yang berbasis komoditi pergerakannya terhadap US dollar searah.
Kalau ada yang mengeluh, karena target EOWI tidak tercapai, harus diingat tahun 2020 masih 4 tahun lagi. Apakah kira-kira 4 tahun lagi target-target EOWI tidak akan tercapai? Hanya waktu (yang masih lama) yang akan membuktikannya. Mungkin juga tahun 2016 ini. Mungkin juga tahun 2020.
Indeks Dow Jones mulai rally pada bulan Januari 2016 sampai April 2016 seperti yang ditunjukkan oleh chart di bawah ini. Jadi statistik Sell in May masih berlaku. Dan harapannya, sampai oktober nanti masih bearish.

Dow sudah di bawah 50 day-moving average nya
Untuk jangka panjang, ada hitungan Idiot Wave menunjukkan bahwa crash bursa saham akan terjadi dalam waktu dekat ini, seperti yang ditunjukkan oleh chart Idiot Wave indeks Wilshire 5000 di bawah. Bahwa saat ini hitungan Idiot Wave versi ini sudah berada pada wave (3) turun. Artinya pasar akan mengalami koreksi (kejatuhan) yang brutal dan drastis pada periode ini.
Wave (3) artinya koreksi yang brutal dan drastis
Kalau bukan Idiot Wave, maka tidak bisa mengelak (lihat chart di bawah). Yang disebut Idiot Wave bisa bilang: akan ada koreksi......., tapi kalau nggak ada koreksi masih akan ada rally dan bikin new high.
Kalau seperti ini lebih baik pakai dadu: ganjil artinya naik dan genap artinya turun. Dengan dadu, kita tidak perlu repot-repot bikin hitungan.
Idiot Wave selalu bisa mengelak- kalau tidak ada koreksi, artinya masih bisa rally dan membuat all time high.
Jadi kesimpulannya bagaimana? Apa akan ada crash di pasar? Jawabnya segampang melempar dadu. Genap artinya ada dan ganjil artinya tidak ada. Silahkan pembaca melakukannya sendiri-sendiri.
Bersamaan dengan rally di bursa saham di bulan Januari 2016 ini, emas dan komoditi (minyak) juga mengalami rally, seperti yang ditunjukkan oleh chart di bawah ini. Tetapi rallynya membentuk pola trading bearish wedge, segitiga yang mengerucut condong ke atas. Pola seperti ini biasanya secara statistik, akan dilanjutkan dengan koreksi harga, dan targetnya antara $26 - $34. Kita lihat nanti bagaimana kelanjutan pola bearish wedge ini.  Harga minyak masih bisa menembus sedikit di atas $50 sebelum terkoreksi. Saat yang baik untuk shorting minyak? Boleh saja bagi mereka yang berani.
Bearish Wedge Minyak
Berbeda dengan minyak, rally emas yang dimulai di awal tahun hanya berlangsung selama 2 bulan, sampai akhir Februari. Setelah itu flat. Pola flat seperti ini bisa tafsirkan sebagai ambil nafas untuk rally lagi, bisa juga sudah kehabisan bensin dan siap turun lagi. Terserah anda mau menterjemahkannya seperti apa.
Mau rally lagi atau terkoreksi, terserah anda
Dan terakhir adalah dollar-rupiah. Ternyata rally rupiah yang membuat banyak yang panas-dingin, demam, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bisa dibilang sudah berakhir. US dollar-rupiah sudah keluar dari bullish trading wedge nya dan siap untuk rally kembali. Bisakah tahun ini menembus $ 1 = Rp 15,000? Entah lah. Tetapi, pola trading bullish wedge seperti ini setidaknya Rp 14,700 akan tercapai. Kapan? Tahun ini mungkin. Itu tidak janji.
Dollar-Rupiah sudah keluar dari bullish trading wedge nya, siap untuk rally lagi
Sekian dulu, jaga kesehatan, tabungan dan investasi anda baik-baik. Sampai lain waktu.......


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, February 1, 2016

USD-Rp Teknikal, Feb 2016

Berikut ini chart analisa teknikal dari USD-Rp. Nampaknya Koreksi ABCDE baru saja selesai hari ini. Apakah akan lanjut rally nya? Kita serahkan pada waktu.






Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, January 27, 2016

Uni Soviet dan Saudi Arabia



Sejarah merupakan topik yang EOWI sukai. Sejarah yang EOWI maksud bukan sejarah seperti yang didefinisikan oleh Napoleon: “Sejarah adalah satu set kebohongan yang diakui bersama sebagai kebenaran”. Tetapi merupakan data-data dimasa lampau yang bisa diambil hikmahnya dan digunakan untuk analogi kasus-kasus dimasa kini dan yang akan datang. Kita akan melihat sejarah kehancuran sebuah negara dan hikmahnya akan digunakan untuk memperkirakan arah dan nasib negara yang saat ini ada di depan mata kita.
Kalau anda lahir sebelum tahun 1980 dan sesudah tahun 1920, maka nama Uni Soviet tidak asing bagi telinga anda. Dengan luas wilayah lebih dari 22 juta kilometer persegi sebelum mengalami keruntuhan, negara ini termasuk yang terbesar di dunia dalam hal wilayah, dan pengaruhnya juga berimbang dengan Amerika Serikat. Tetapi pada tahun 1991 negara ini runtuh berantakan, menyisakan pecahan-pecahan yang dulunya merupakan negara bagian dari Uni Soviet ini, antara lain Russia, Belarussia, Georgia, Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, Estonia, Azerbaijan, Ukraina dan sederet lagi terlalu panjang untuk dituliskan satu per satu.
Uni Soviet yang didirikan tahun 1922 akhirnya runtuh dari dalam, di tahun 1991 karena kehancuran ekonominya.

Uni Soviet adalah sebuah negara konfederasi negara-negara sosialis yang didirikan pada tahun 1922. Motornya adalah Russia, baik secara ekonomi, politik dan teknologi. Negara ini bukan negara yang monolitik dalam arti budaya, agama dan etnik. Kata etnik mungkin lebih tepatnya disebut bangsa. Misalnya Estonia, Latvia dan Lithuania termasuk negara-negara Baltik. Estonia yang secara ras dan bahasa lebih dekat ke Skandinavia dari pada ke Russia. Seorang Estonia bisa berkomunikasi dengan baik dengan seorang Swedia dengan menggunakan bahasanya masing-masing. Latvia dan Lithuania lebih ke arah Indo-Jerman yang dekat dengan Polandia.
Juga Kazakh, Kirgiz dan Uzbek secara bahasa dan ras lebih dekat ke Turki dari pada ke Russia. Seorang pelajar Uzbek di Turki yang saya pernah jumpai, dengan sangat mudah bekomunikasi dengan orang-orang Turki. Dan mayoritas agama mereka adalah islam yang berbeda dengan Russia yang katholik orthodok. Yang juga majoritas islam sunni adalah Tajikistan, dengan bahasa yang serumpun dengan Iran.
Belum lagi antara Armenia dan Azerbaijan, yang dulunya sering berperang. Dan yang terakhir di sekitar tahun 1990, dalam konflik Nagorno-Karabakh. Azerbaijani yang mayoritas muslim syiah lebih dekat ke Turki dari segi bahasa dan ras dan walaupun bertetangga dengan musuhnya Armenia yang bahasanya berakar pada bahasa Indo-Eropa dan agamanya katholik orthodok timur.

Basis ekonomi Uni Soviet adalah komoditi. Sumber mineral yang menjadi andalan adalah minyak dan gas, mangan, titanium, emas, perak dan chromit. Dengan wilayah luas maka pertanian dan hasil hutan (kayu) juga merupakan andalannya.
Setelah perang dunia ke II, Uni Soviet terlibat perang dingin dengan Amerika Serikat. Secara teknologi, mereka pada awalnya unggul. Uni Soviet adalah negara pertama yang meluncurkan satelit sputnik dan manusia ke ruang angkasa. Amerika Serikat menyusul beberapa tahun kemudian.
Naik-turunnya ekonomi Uni Soviet sejalan dengan siklus komoditi. Antara tahun 1945 – 1950, pertumbuhan GDPnya di atas 10% per tahun dianggap sebagai pertumbuhan mukjizat (seperti Cina pada periode 1990 - 2010 atau Jepang 1970 – 1990) di motori oleh commodity bull market dan pembangunan paska perang.  Kemudian, antara tahun 1960 – 1978, pertumbuhannya sekitar 4.8% per tahunnya. Rupanya commodity secular bull market 1970 – 1980, tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Uni Soviet yang masih bisa dibilang baik ini.
Yang menarik adalah ketika Uni Soviet terlibat ke dalam kancah perang di Afghanistan di tahun 1978. Milisi Mujahidin menjadi lawannya yang tangguh. Uni Soviet masuk ke kancah perang Afghanistan di saat yang salah. Harga minyak anjlok 2 tahun sejak dimulainya perang Afghanistan untuk kemudian memasuki periode commodity secular bear market. Harus diingat bahwa produksi minyak Uni Soviet di masa itu adalah terbesar setelah Saudi Arabia. Jadi bisa dibayangkan bagaimana ketergantungan Uni Soviet pada revenue ekspor minyak khususnya dan bahan komoditi lain umumnya. Ketika commodity secular bear market tiba, Uni Soviet melihat pemasukan hard currencynya merosot. Demikian juga ekonominya.
Ekonomi Uni Soviet melorot, sampai di bawah 2% saja antara tahun 1978 – 1998 dan terus menurun, kemudian stagnan sampai akhirnya terpuruk. Tentara Uni Soviet kalah dan harus ditarik mundur dari Afghanistan di tahun 1988.
Keterpurukan membuat kondisi dalam negri Uni Soviet menjadi bergejolak. Glasnost dan Perestroika yang muncul ketika Gorbachev naik menjadi sekretaris general partai komunis Soviet adalah perwujudan dari gejolak yang disebabkan oleh ekonomi yang stagnan. Orang mau ada perubahan. Uni Soviet kehilangan pengaruhnya di Eropa Timur. Pakta Warsawa bubar dan tembok Berlin runtuh di tahun 1989, yang merupakan simbol keruntuhan komunisme di Eropa.
Tidak hanya pengaruh Uni Soviet kehilangan pengaruh di Eropa, tetapi di dalam negrinya mengalami ketegangan antar sesama anggota konfederasi. Perang antara Azerbaijan dengan Armenia (1988 – 1994). Belum lagi pemberontakan Chenchen (1991 – 1994) terhadap Russia yang dimulai ketika Uni Soviet dibubarkan di tahun 1991.
Itulah nasib negara yang disebut Uni Soviet yang akhirnya runtuh. Padahal banyak orang pandai, terpelajar yang terbaik di dunia hidup disana. Tetapi ketika sumber ekonominya mengalami kejatuhan dan negara melibatkan diri ke dalam perang, maka ada peluang terjadinya keruntuhan negara itu.
Itu Uni Soviet.
Sekarang kita mau melihat Saudi Arabia. Jika kita ingin membuat analogi, pertanyaan yang pertama harus diajukan adalah: Adakah persamaan antara Saudi Arabia dengan Uni Soviet?
Yang jelas:
  1. Ekonominya bergantung pada minyak (dan bahan komoditi), bahkan untuk Saudi, minyak adalah gantungan ekonomi satu-satunya.
  2. Negara sosialis. Perencanaan terpusat dan bahan kebutuhan disubsidi pemerintah.
  3. Walaupun Saudi Arabia bukan multi-etnik, tetapi rakyat Saudi secara tradisi mengutamakan kabilah atau klan. Dan mereka secara historis sangat fanatik terhadap klannya. Harus diingat, negara Saudi Arabia muncul karena kemenangan peperangan klan al-Saud yang didukung oleh Inggris atas klan al-Rashid yang didukung oleh Turki Ottoman. Kata Saudi berasal dari kata al-Saud, klan yang berkuasa saat ini.
Dalam lingkup yang lebih besar dari klan, yaitu terpecahnya rakyat Saudi menjadi dua (2) sekte, syiah yang mayoritas di provinsi timur yang kaya minyak dan sunny.  Kaum syiah di Saudi Arabia relatif terkucilkan. Banyak diantaranya melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar. Dan kaum syiah ini secara emosi merasa lebih dekat ke Iran, Persia dari pada ke kaum sunni Wahabi di Riyadh.
  1. Soviet pada saat dimulainya commodity secular bear market, terjun ke dalam kancah perang dengan Afghanistan mujahidin yang didukung secara persenjataan dan finansial oleh Amerika Serikat. Sedangkan Saudi di periode awal commodity bear market terlibat perang dengan Yaman dan tidak langsung menduking ISIS dan al Qaeda di Syria.
  2. Uni Soviet kehilangan banyak sekutunya di Pakta Warsawa, sedangkan Saudi Arabia punya potensi kehilangan dukungan Amerika Serikat yang saat ini sedang merapat ke Iran. Di samping itu Amerika Serikat juga terlibat konflik dengan ISIS dan al Qaeda yang didukung Saudi Arabia secara persenjataan dan finansial. Musuh Amerika Serikat adalah perpanjangan tangan Saudi Arabia. Sehingga peluangnya cukup besar, bahwa Amerika akan meninggalkan Saudi.
Itu persamaan dan kemiripan Saudi Arabia dengan Uni Soviet.
Tentu saja banyak perbedaannya. Berikut ini merupakan perbedaan yang membuat posisi Saudi lebih baik dari pada Uni Soviet.
  1. Saudi tidak sebesar Uni Soviet dalam arti Uni Soviet ambruk karena beratnya sendiri.
  2. Banyak rakyat Saudi praktis tidak bekerja. Yang bekerja adalah orang asing, para expatriates. Sehingga, tidak ada istilah diPHK bagi rakyat Saudi. Dan keresahan sosial akibat kehilangan pekerjaan bisa dijaga.
Ada juga perbedaan-perbedaan yang membuat posisi Saudi Arabia lebih buruk dari Uni Soviet antara lain:
1.   Saudi  tidak membuat senjatanya sendiri, melainkan membeli dari negara lain dengan harga yang lebih mahal dari pada membuatnya sendiri. Ini sangat penting bagi negara yang berada dalam perang terbuka (dengan Yaman). Jika ada embargo dari negara pemasok senjata, maka tamatlah riwayat Saudi.
2.  Harga minyak masih akan terus tertekan dan tekanan deflationary saat ini lebih kuat dari sekedar tekanan secular bear market biasa.
3.    Saudi mungkin bisa kehilangan sekutunya yang paling dekat yaitu Amerika, karena:
  • Minyak Saudi sudah tidak dianggap strategis lagi oleh Amerika Serikat.
  • Produksi minyak Saudi dianggap mematikan perusahaan shale oil/gas Amerika Serikat
  • Dukungan yang sembunyi-sembunyi tetapi jelas seperti disiang bolong Saudi kepada al Qaeda dan ISIS yang jelas-jelas musuh Amerika dan sekutunya di Eropa.
  •  Walaupun kecil, Saudi bertempur di dua front, yaitu Yaman (perang langsung), Syria (proxy).
Saat ini posisi Saudi Arabia masih kuat secara ekonomi, sehingga tidak akan kolaps dalam waktu dekat ini. Kata kuncinya “dalam waktu dekat ini”. Cadangan devisa Saudi Arabia memang besar, pada puncaknya mencapai $750 milyar yang hampir sama dengan GDPnya di awal tahun 2015 di saat harga minyak masih di atas level $ 100/bbl. Ketika harga minyak jatuh dari level $100/bbl ke level $50/bbl, cadangan devisa ini susut cukup drastis, sekitar $ 95 - $ 100 milyar per tahun, atau sekitar $ 8 milyar per bulan. Ada beberapa analis yang memperkirakan sekitar $ 20 milyar per bulan. Tetapi data menunjukkan sekitar $ 8 milyar.
Chart- 1 Cadangan Devisa Saudi Arabia and Harga minyak
Sekarang harga minyak di level $30/bbl. Berpegang pada asumsi ceteris paribus atau jika semua sama maka cadangan devisa Saudi akan turun lebih drastis dan budget defisitnya pun akan semakin melebar pada harga minyak $30/bbl. Setidaknya bisa sampai $21 milyar per bulannya. Mungkin demikian analis di atas memperoleh angkanya. Kalau demikian maka dalam setahun dengan level harga minyak di kisaran $30/bbl, maka Saudi Arabia akan defisit sebesar $240 - $250 milyar. Artinya dalam 3 tahun cadangan devisanya bisa habis.
Angka $250 milyaran setahun mungkin bukan perkiraan kasar. Defisit fiskal Saudi Arabia di bulan September 2015 mencapai 22% dari GDPnya atau $156 milyar. Padahal saat itu harga minyak masih di level $40/bbl. Dengan harga minyak sekitar $30/bbl, defisit bisa mencapai 35% GDP atau $265 milyar. Berapa lama Saudi Arabia bisa bertahan?
Chart- 2 Defisit Anggaran Saudi dan Harga Minyak
Pertanyaan itu tentu sudah dipikirkan oleh pemerintah Saudi. Saudi Arabia akan berusaha memotong anggarannya, dengan memotong subsidi, mendevaluasi mata uang riyal nya dan mencari hutangan untuk menutup defisitnya. Untuk memotong subsidi, sudah dilakukan terhadap harga bensin dengan menaikkan harga jualnya. Mendevaluasi riyal, adalah langkah dimasa datang. Kita akan lihat langkah ini diambil oleh Saudi Arabia.
Berikutnya adalah menurunkan tingkat keteribatannya di Yaman, kalau bisa. Kata kalau bisa adalah penting, karena medan perang dengan Yaman adalah bagian kesatuan dari permusuhan dan perebutan pengaruh di Timur-Tengah dengan Iran.
Selanjutnya adalah memotong dukungan finansial dan persenjataan kepada al-Qaeda dan ISIS, kalau bisa. Kata kalau bisa adalah penting, karena medan perang dengan Yaman adalah bagian kesatuan dari permusuhan dan perebutan pengaruh di Timur-Tengah dengan Iran.
Jadi EOWI skeptis dengan kedua usaha pemotongan budget Saudi Arabia di atas.
Usaha berikutnya adalah mencari hutangan. Ini bisa mudah dan bisa susah. Sebab investor akan berpikir untuk mempertimbangkan resikonya. Saudi terdiri dari banyak klan dan terkotak-kotak. Jika nantinya Saudi Arabia berubah menjadi Rashidi Arabia atau Bantani Arabia atau Falembani Arabia....., atau lainnya, apakah hutang-hutang Saudi masih akan dibayar oleh dinasti berikutnya? Saat ini mungkin masih belum terpikirkan oleh kebanyakan investor. Tetapi nanti jika pertentangan antar klan terjadi, ceritanya akan lain.
Dari semua cerita di atas, apakah sudah bisa menjawab pertanyaan, apakah nasib Saudi akan seperti Uni Soviet......, mungkin seperti Libya, mungkin juga seperti Irak? Kisahnya masih terbuka. Memang tujuan tulisan ini bukan ingin menjawab pertanyaan tersebut, melainkan untuk menstimulasi khayalan pembacanya agar melayang-layang jauh ke angkasa. Yang pasti, perang Uni Soviet – Afganistan berlangsung selama 9 tahun sebelum menyeret Uni Soviet ke liang keruntuhan. Apakah untuk kasus Saudi Arabia akan seperti itu? Sembilan tahun? Entahlah......., khayalkan lah sendiri. 

Dan untuk menambah khayalan itu, silahkan pembaca memasukkan faktor kontraksi GDP alias pemiskinan yang menurut sejarah akan terjadi dalam 5 tahun mendatang. Begitulah sejarah masa lalu. Tetapi untuk kali ini harus ditambahkan faktor tekanan deflationary global serta tidak dominannya Saudi sebagai produser minyak dunia dan kedua faktor ini bisa membawa koreksi GDP Saudi lebih dalam dibandingkan periode tahun 1980 – 1985.



Chart- 3 GDP per kapita Saudi Arabia, berpotensi melorot 50% dalam 5 tahun mendatang

Harus diingat bahwa yang paling berat merasakan kemalangan ini adalah  mayoritas kelas menengah, bukan pada para pangeran kaya. Kemiskinan dan penderitaan tidak menelurkan kerusuhan, kecuali jika ada orang-orang kaya diantara mayoritas orang miskin dan sengsara. Ini yang akan menyulut kecemburuan sosial dan akhirnya bermuara ke clash dan pemberontakan.
 

Sampai disini dulu, jaga kesehatan dan tabungannya baik-baik. Semoga Tuhan melindungi anda sekalian dalam mengarungi Gejolak 2014 – 2020.

Jakarta, 26 Januari 2016
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, January 22, 2016

Mail Box – Januari 2016



Saya melihat-lihat komentar-komentar pembaca dan juga email yang dikirimkan ke saya. Saya pikir, ada baiknya jika komentar dan pertanyaan ini saya sunting. Sebab ada kalanya sebuah pertanyaan sudah dijawab oleh komentar lainnya. Dan seandainya saya rasa masih kurang, maka akan saya tambahi sedikit.
Karena ketidak-adaan nama, maka agak menyulitkan EOWI untuk mengindentifikasi pemberi komentar/pertanyaan. Alangkah baiknya jika pembaca menjadi follower dan memberikan indentifikasinya (cukup nama cyber) sehingga kami atau pembaca lain bisa menanggapi dan sasarannya lebih tepat.
Kita mulai saja dengan pertanyaan dari .........(nah ‘kan susah menyebutkan sumber penanya)

Anonymous December 31, 2015 at 12:36 PM
Dear Pak Is, selamat tahun baru 2016.
Ini pertama kali nya saya ikutan nimbrung setelah beberapa lama tertarik dengan blog Bapak. Selama saya mengikuti blog ini Bapak selalu bilang tentang short dollar.
Maaf karena saya awam tentang ekonomi, namun yang saya baca ekonomi Amerika juga gak bagus bagus amat, apa ada kemungkinan justru dollar yang jeblok. Karena yang saya baca Bank Bank besar Amerika juga gak sehat.
Citigroup
Total Assets: $1,808,356,000,000
Total Exposure To Derivatives: $53,042,993,000,000
JPMorgan Chase
Total Assets: $2,417,121,000,000
Total Exposure To Derivatives: $51,352,846,000,000
Goldman Sachs
Total Assets: $880,607,000,000
Total Exposure To Derivatives: $51,148,095,000,000
Bank Of America
Total Assets: $2,154,342,000,000
Total Exposure To Derivatives: $45,243,755,000,000
Morgan Stanley
Total Assets: $834,113,000,000
Total Exposure To Derivatives: $31,054,323,000,000
Wells Fargo
Total Assets: $1,751,265,000,000
Total Exposure To Derivatives: $6,074,262,000,000
Kalau sempat tolong Bapak ulas tentang hal tersebut
Terima Kasih
Ternyata dari pembaca lain ada komentar yang bisa menjawab pertanyaan ini. Berikut adalah komentar dari.......
Anonymous January 1, 2016 at 9:03 PM
Ada analyst dari negara paman Sam bilang tahun yang akan datang hutang-hutang triliunan dollar yang tertumpuk (QE the FED, BoJ, ECB, BoE) selama beberapa tahun sejak krisis finansial global akan lenyap dalam sekejap dan US Dollar jadi langka sehingga terjadi deflasi. Tetapi bagaimana hutang-hutang yang menggunung bisa hilang ? Ngemplang ?
Tambahan dari EOWI
Untuk lebih menjelaskan uraian di atas, akan saya ajukan sebuah pertanyaan:
“Kalau bank-bank ini tertimpa musibah derivative yang menjadi liability, apakah liability itu menimpa banknya atau US dollar?”
Tentu saja banknya. Dan bank-bank ini akan membutuhkan dollar untuk memenuhi kewajibannya. Dan kebutuhan itu jumlahnya besar. Selanjutnya.....silahkan tarik sendiri kesimpulannya.
Mungkin anda belajar dari pengalaman bahwa setiap ada krisis moneter di Indonesia (1998), banyak bank yang kolaps dan rupiah jeblok.
Untuk kasus Indonesia, ada pertanyaan yang bisa menerangkannya:
“Apakah di US, investor asing menanamkan modalnya dengan yuan, euro,.....ataukah dengan mata uang lokal (US dollar)?”
“Bagaimana dengan Indonesia? Apakah investor asing membawa masuk dollar atau rupiah ke Indonesia?”
“Jika investor asing keluar..... (dari US atau dari Indonesia), apakah mereka membawa US dollar atau rupiah?”
Jadi....., ketika krisis terjadi di US, bank-bank membutuhkan dollar untuk memenuhi kewajibannya. Sedangkan kalau krisis itu terjadi di Indonesia, Brazil, Argentina atau tempat lainnya, bank sentral setempat membutuhkan US dollar untuk membayar investor yang mau membawa uangnya keluar.

Pertanyaan dari Pram
Pak IS, bagaimana cara menghitung sampai pak is mendapat target 17000-18000 per dollar? Terimakasih
Jawaban EOWI
Dari analisa teknikal saja.

Anonymous January 8, 2016 at 1:07 AM
Banyak org/situs yg memprediksi gold akan turun. Tetapi gold msh bertahan utk saat ini.
Katakanlah prediksi gold turun ke depan nya. Akan tetapi hal tersebut bila diiringi dgn melemahnya rupiah thd usd..bukannya sama saja?
Mnurut saya ada investasi mata uang lain yg relatif aman dan stabil dibanding usd yg lbh volatile. Sayangnya disini bung Is hanya pemandu sorak usd.
Bgmn dgn SGD? Dollar australi?
Ayuk bung Is...monggoh dibahas juga. Akan menjadi sangat menarik utk blog inj bila tdk hanya membahas usd..tapi juga kesempatan mata uang lain..
Ada rumor bahwa poundsterling akan nyungsep dan menjadi tdk menarik. Bgmn pendapat bung Is?
Jawaban EOWI
EOWI memilih investasi yang aman, mudah dan hasilnya maksimum. Tema investasi kali ini adalah deflasi, credit crunch, pengempisan kredit. Pada saat ini jumlah kredit yang terbesar adalah dalam US dollar. Jadi pada saat terjadi credit crunch, kontraksi kredit, maka penyusutan US dollar akan lebih besar dari pada yang lainnya. US dollar akan menjadi mata uang yang paling dibutuhkan dari pada mata uang lainnya. Oleh sebab itu akan mengalami appresiasi terhadap mata uang lainnya.
EOWI tidak memilih emas, karena pada krisis ini tidak terjadi gold crunch dan tidak terjadi inflasi. Kalau emas belum turun sesuai dengan target (di bawah $ 700 per oz), maka kata kuncinya adalah belum. Seperti halnya bursa saham US...., baru mulai (turun).
EOWI juga tidak merekomendasikan bitcoin dengan alasan yang sama. Lagi pula bitcoin adalah senjata yang untuk memusuhi pemerintah secara terang-terangan. Bitcoin adalah perwujudan dari pemberontakan kepada pemerintah. Oleh sebab itu pemerintahan di dunia akan berusaha membuat bitcoin illegal. EOWI tidak mau berhadapan dengan pemerintah secara frontal. Lebih baik memanfaatkan ketidak becusan pemerintah.

Asuransi (December 30, 2015 at 8:59 PM)
Secara year to date per Rabu (30/12), valuasi rupiah sudah terkoreksi 11,3% dari posisi Rp 12.388 menjadi Rp 13.788 per dollar AS. Berarti, investor yang menghimpun dollar AS sepanjang tahun 2015 setidaknya sudah memperoleh imbal hasil lebih dari 10%.
Imbal hasil tersebut lebih tinggi ketimbang return jejeran instrumen investasi lainnya. Bandingkan dengan Jakarta Composite Index (JCI) yang minus 12,12% ke level 4.593 pada periode sama.
Lalu rata-rata return obligasi pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Total Return hanya tumbuh 3,3% ke level 180,37.
Sementara rata-rata return obligasi korporasi yang terlihat pada INDOBeX Corporate Total Return terangkat 9,88% ke level 196,53.
Harga emas antam Rabu (30/12) tercatat Rp 545.000 per gram. Angka tersebut naik 4,8% atau Rp 25.000 ketimbang posisi akhir tahun 2014 yang tercatat Rp 520.000. Sebaliknya, harga buyback tercatat Rp 469.000, turun Rp 3.000 dibandingkan akhir tahun lalu.
Source : http://investasi.kontan.co.id/news/2015-investor-dollar-as-raih-return-tertinggi
EOWI VS Hanif
EOWI : USD Cash
Hanif : instrumen investasi yang bakal mencetak return paling tinggi adalah efek saham. Ia memprediksi, JCI bakal bertengger di level 5.500 tahun depan.
Silakan yang lain komentarnya, gue ikutan EOWI aja.
Yang jadi masalah besar gue adalah, jualan asuransi gue turun terus mau dipajaki. Lempar parang
Tanggapan EOWI
JCI di level 5,500?........Taksiran EOWI di bawah 4,500.
Secara teknikal IHSG atau JCI akan menuju 1,000 pada krisis ini. Apakah itu tahun 2016 ini atau tahun 2018.....kami tidak tahu.

Blogger Aretha
Sebaiknya blog ini di isi oleh orang2 waras saja... yang lagi sterss janganlah menulis di sini, apapun agama anda , mau sok kristen, mau sok islam terserah...
Menjadi orang baik tak perlu menonjol kan agama., yang penting jaga kelakuan dan jangan mengganggu orang lain...
Marilah menambah ilmu (ekonomi) dengan berdiskusi yang berkenaan dengan ekonomi di blog yang menarik ini ..... Berminat diskusi soal agama? Mbok ya jangan di sini tho mas ....
Terima kasih.
Tanggapan EOWI
Terima kasih atas komentarnya.
Kalau anda membaca di bagian atas blog ini, tertulis:
Kalau anda merasa kurang nyaman dengan ilmu sejarah, agama, ekonomi, sosial dan politik yang diajarkan di sekolah, dan ingin mencari jawaban yang objektif, maka disinilah tempatnya. Blog ini membahas masalah makro ekonomi, politik dan investasi dari sisi pandangan orang waras dan yang berjiwa merdeka. Fokus Utama: Saham, Emas, Mata Uang, Bond, Perundang-Undangan, Ke(tidak)bijaksanaan Pemerintah, Politik, Ekonomi Makro
Disitu ada kata-kata sejarah, agama, sosial politik, perundang-undangan dan ketidak bijaksanaan pemerintah. Kesmuanya itu memperngaruhi pola hidup suatu masyarakat dan akhirnya bermuara ke ekonomi.
Tentang akhir-akhir ini EOWI sering menggunakan kata nubuat, adalah karena anjuran seorang pembaca Gejolak 2014 – 2020 untuk mengganti kata “prediksi” dengan “nubuat”. Setelah kami pikir-pikir...., kata “nubuat” lebih kelihatan “sexy”. Sejak itu kami menukar kata “prediksi” dengan “nubuat”.

Blogger Ghaisan Nadhif
Bung is, mohon sarannya, karena saya masih awam dalam hal investasi.
Saya ada sedikit kelebihan dana, rencana akan saya investasiksn untuk menambah reksadana yang saya miliki. Apakah saat ini tepat untuk membeli / menambah investasi reksadana ? Paling cocok yang tenor pendek, sedang atau panjang ?
Mohon sarannya Bung Is,
Tanggapan EOWI
Mas Ghaisan Nadhif,
Kami di EOWI hanya menceritakan apa yang kami pikirkan, rencana kami dan apa yang kami perbuat/akan perbuat. Kami tidak memberikan rekomendasi kepada pembaca, karena tanggung jawabnya besar untuk tindakan seperti itu.
Untuk pertanyaan anda, kami hanya bisa memberikan pandangan saja. Jangan anggap hal ini sebagai rekomendasi.
Menurut pandangan kami, harga saham akan turun. Oleh sebab itu saat ini kami di EOWI tidak punya asset yang berbentuk saham, unit link atau semua yang ada kaitannya dengan saham. Bahkan kami sedang berpikir dan mencari jalan dan merencanakan untuk melakukan short selling saham.
Secara teknikal, IHSG akan ke level di bawah 1,000. Apakah level ini akan tercapai... entahlah.
EOWI akan mempertimbangkan saham lagi setelah tahun 2018, mungkin setelah tahun 2020 kalau memang waktunya sudah tepat.

Anonymous January 15, 2016 at 11:37
Kalo harga komoditas turun, kenapa beras malah naik ya harganya dah gitu jelek lagi.
Tanggapan EOWI
Bukan harga beras (internasional) yang naik, tetapi nilai rupiah yang turun. Lagi pula, harga beras ‘kan dikontrol pemerintah. Tanyalah ke pemerintah. Hal yang sama berlaku dengan harga tarif listrik dan harga BBM.

Anonymous January 15, 2016 at 12:58 PM
Bung IS
Bgmn prediksi minyak stlh menyentuh 30? Apakah akan rebound atau malah nyungsep?
Warren B. Sedang membeli saham oil dalam jumlah yg besar.
Apakah minyak akan rebound?
Anonymous January 17, 2016 at 11:05 AM
Harga komoditas turun di pasar INTERNASIONAL, harga beras dll. naik di pasar DOMESTIK.
Harga minyak semakin menurun, sebagian perusahaan minyak akan bangkrut, barulah harga minyak akan rebound. Mungkin ada salah ketik bukan sampai 2030 tetapi 2020, karena tidak akan mampu bertahan sampai belasan tahun tetapi beberapa tahun saja sudah akan ada rebalancing.
GOLD FOR MONEY VALUES January 21, 2016 at 1:18 PM
AYO PAK IS.. SEKARANG MINYAK SUDAH 27$..
Anonymous January 17, 2016 at 9:49 AM
Bung IS, apa bisa dijelaskan jg.. ke depan akan lebih byk lagi negara2 yg jualan Bonds/Obligasinya krn tekanan defisit APBN mereka. Bgm Obligasi2 Indonesia bisa tetap bersaing melawan Obligasi2 dari negara2 kaya minyak kyk Saudi, Oman & Venezuela? Kira2 apa yg bikin pemodal tetap menarik menempatkan dananya di Obligasi Indonesia dalam kondisi seperti itu? Akankah Indonesia tetap dipandang mampu sebagai good boy dlm hal membayar hutang2nya?
Tanggapan EOWI
Harga minyak (juga harga bahan komoditi lainnya) akan rebound dan bergerak dalam kisaran $20 - $50 sampai tahun 2030 (bukan 2020). Harganya akan tetap tertekan.
Kalau Warren Buffet mulai mengambili saham minyak, entahlah. Dia punya team research yang kuat. Jadi punya sumberdaya untuk mencari barang murah. Sedangkan EOWI sampai saat ini belum sebegitu kuatnya.
Banyak negara yang bergantung pada komoditi seperti Indonesia akan mengeluarkan bond dan menumpuk berhutang. Pembeli bond selalu ada, tergantung pada harga yang ditawarkan. Yang resikonya besar, maka yieldnya akan tinggi. Negara-negara ini akan bersaing dengan yieldnya.
Persoalannya adalah apakah mereka bisa berhutang dan men-service hutangnya sampai secular commodity bull market mendatang (2030 – 2040) tiba? Itu pertanyaan lain. Dan itu merupakan topik untuk Geger 2025 – 2030 yang sedang kami pikirkan.
Catatan: entah kenapa EOWI mempunyai kecenderungan untuk meramalkan bencana.

Blogger christian
Pak IS, apa yang terjadi jika pemerintah china default ? akankah terjadi ? atau america yg default duluan?
Tanggapan EOWI
Pertama, yang default bukan pemerintah, tetapi bank. Dalam hal ini bank-bank komersial besar.
Kedua, yang didefault hutang dalam mata uang apa?
Jika bank sentral Cina tidak mampu membayar dana investor yang ingin hengkang dari Cina, maka yuan akan jatuh babak belur, karena investor meninggalkan yuan untuk lari ke luar dari Cina dengan US dollarnya, sedangkan bank sentral Cina susah payah mencari US dollar. Ini bisa terjadi, tetapi tidak pada krisis kali ini. Karena bank sentral Cina masih punya cadangan US dollar cukup banyak.
Jika bank-bank komersial bangkrut karena banyaknya NPL, kasihan nasabah lokal yang menyimpan uangnya di bank-bank itu. Ini akan memicu investor asing untuk keluar dari Cina. Dan .....mereka lari dengan US dollar.
Bagaimana kalau bank-bank besar US melakukan default, tidak bisa membayar tarikan dana nasabahnya?
Yang kasihan nasabahnya. Duitnya amblas. Kepercayaan pada bank turun, kepercayaan pada kredit juga turun. Kartu kredit, kartu debit mungkin tidak lagi dipercayai. Orang kembali ke jaman cash – duit kertas. Itu sebabnya EOWI menyukai paper cash, bukan cash equivalent.


Pertanyaan Hasan Halim
Halo Pak Imam,
Saya baru mengetahui blog EOWI anda dan benar2 sangat mantap pembahasan dan penjabaran Anda di blog.
Saya melihat portfolio sekarang adalah short rupiah, bagaimana cara short rupiah? Setahu saya tidak ada forex metatrader sejenis yang bisa short rupiah.
Mohon infonya.
Terima kasih.
Hasan
Tanggapan EOWI
Short rupiah artinya menjual rupiah, tidak menyimpan (banyak) rupiah dalam portofolio. Itu short pasif dan tanpa leverage.  Kalau mau dengan leverage, bisa pinjam rupiah (tentunya harus membayar bunga) dan menukarkannya dengan US dollar atau mata uang yang kita anggap akan naik harganya terhadap rupiah.

Email Adimas Aji
Apa kabar pak IS,
Tetangga tapi ga pernah ketemu hehehehe..
Anyway studi saya sudah selesai dapat master degree di Petroleum dengan pengorbanan waktu yang luar biasa untuk thesisnya. Sempat kena layoff di perusahaan lama bulan august kemarin, tp Allah memang Maha Baik, saya dapat oportunity join di Premier Oil di bagian produksi. Padahal kondisi oil price lagi seperti ini..ya tapi ga bisa bargaining jadi offering yang ada langsung saya accept.. hehehe..
Semoga ada waktu supaya bisa bincang2 dengan pak IS,ngobrol ngalor ngidul, he he he.. salam, Aji
Tanggapan EOWI
Mungkin pembaca heran kok ada orang yang tahu identitas IS. Sebabnya...., mudah saja. Amati orang-orang yang sering mengajak jalan doberman besar di......
Selamat atas pekerjaan yang baru dan lulusnya anda. Jadi pegawai yang manis sambil mengumpulkan skill. Kalau bisa fokus pada skill yang nantinya diperluka, on demand di tahun 2030 – 2040, secular commodity bull market yang akan datang sehingga bisa dijual mahal.
Untuk saya mungkin mau menerjuni bidang kecap atau susu sepertinya lebih baik bisnis kecap dan susu dari pada bisnis minyak





Sekian dulu, sampai lain kali.......


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.