_____________________________________________________________________________________________________________________




Saturday, January 31, 2015

Cicak vesus Buaya Jilid II



Pada suatu hari sabtu pagi menjelang siang, saya mengendarai mobil Peugeot 504 tahun 1975 kesayangan saya di jalan Asia Afrika (Jakarta), dari arah Manggala Wanabakti. Di pertigaan yang sekarang tidak jauh dari pintu masuk hotel Mulia, pada masa itu ada larangan verboten untuk lurus ke arah Senayan Plaza, kecuali hari libur. Karena hari itu adalah hari sabtu, maka saya lurus saja. Dan di ujung pertigaan itu sudah menunggu seorang polisi dengan motor besar, yang kemudian menyetop saya.
“Bapak tahu, bahwa bapak telah melanggar larangan masuk?” kata polisi itu kepada saya.
“Larangan itu tidak berlaku di hari sabtu, pak” jawab saya.
“Hari sabtu bukan hari libur, tanggalannya tidak merah.” sanggah pak polisi.
Karena pak polisi mulai berdebat kusir maka saya keluarkan jurus-jurus debat yang bisa memukul telak. “Pak......, kita bisa ke kantor walikota di sana, terus ke departemen-departemen pemerintah. Pasti tutup  libur. Memang polisi dan rumah sakit tidak libur, karena orang sakit datangnya kapan saja. Dan penjahat juga tidak punya hari libur resmi.”
“Tapi pak...., hari ini tanggalannya tidak merah.” debat pak polisi lagi.
Tiba-tiba saya ingat bahwa saya punya kalender yang hari liburnya dicetak dengan huruf biru. Kalau tidak salah kalender itu ditebitkan oleh Schlumberger yang corporate colornya biru. Lalu saya katakan ke pak polisi: “pak......., kalender saya tidak ada tanggal yang berwarna merah. Adanya hitam dan biru.” Lalu saya ambil kalender itu dan saya tunjukkan ke pak polisi.  Dengan penuh kemenangan, tegas saya kemudian: ”pak....., kalau mau cetak kalender berwarna-warna juga tidak ada larangannya. Senen merah, selasa hitam, rabu biru, kamis hijau, jumat oranye,......... Itu suka-suka penerbitnya.”
Pak polisi tetap bersikukuh bahwa hari sabtu bukan hari libur. Oleh sebab itu saya minta surat tilang dan mau membela diri di pengadilan. SIM saya diambil.
Pada hari yang ditentukan, saya ke pengadilan Jakarta Selatan di jln. Ampera seperti yang diperintahkan. Ternyata berkas kasus saya tidak ada disana. Katanya belum dikirim. Saya curiga bahwa berkas saya memang tidak akan pernah dikirim ke pengadilan karena kemungkinan saya akan menang. Kejadian ini bukan yang pertama yang pernah saya alami.
Kejadian sebelumnya belangsung di ujung jalan Thamrin, di bundaran air mancur. Waktu itu lampu lalu-lintas yang berwarna merah mati (putus). Dan saya distop polisi atas tuduhan menerobos lampu merah.
“Pak...., saya tidak menerobos lampu merah. Tetapi menerobos lampu mati. Dan tidak ada larangan menerobos lampu mati. Jadi secara faktual yuridis formal, saya tidak menerobos larangan apa-apa.” debat saya.
“Tetapi bapak sebenarnya tahu bahwa lampu merahnya mati.” debat pak polisi itu lagi.
“Pak....., secara hukum saya tidak punya kewajiban untuk menterjemahkan bahwa lampu mati itu sama dengan lampu merah. Secara faktual dan teknis yang saya lewati adalah lampu mati. Dan tidak ada larangan untuk menerobos lampu mati.”
Akhirnya saya minta tilang untuk ke pengadilan untuk menyelesaikan kasus saya. Dan sudah bisa ditebak bahwa berkas saya tidak pernah dikirimkan ke pengadilan untuk diproses lebih lanjut. Untuk mengambil SIM saya yang disita oleh polisi, saya terpaksa menggunakan jasa koperasi di KOMDAK yang dikelola (dulu) oleh pak Panto, walaupun biayanya 5 kali lebih mahal dari pada nyogok di tempat.
Kedua cerita itu adalah kisah lama yang menorehkan kesan negatif yang dalam di benak saya. Bagi saya, polisi Indonesia adalah organisasi yang menyebalkan. Kalau bisa kita (saya) tidak berurusan dengan mereka. Inipun bukan berarti tanpa pengorbanan. Selama ada mereka, hal-hal yang menyebalkan pasti terjadi. Misalnya, untuk sekarang, dengan kantor di jln Sudirman di dekat fly-over Karet, mau pulang kerja menjadi serba salah. Setiap hari selalu ada polisi yang menghambat lalu-lintas yang akan keluar dari jalur lambat di depan rumah sakit Siloam. Akibatnya, perjalanan di jalur lambat jln. Sudirman dari bawah fly-over Karet ke segmen masuk jalur cepat Sudirman di depan RS Siloam bisa memakan waktu setidaknya 30-60 menit untuk jarak yang kurang dari 2 km. Kalau kita keluar kantor jam 4 sore bisa kena 3 in 1. Walaupun bisa ambil jalan alternatif lewat kolong Semanggi di depan Komdak, tetapi yang paling aman adalah tetap berusaha keluar ke jalur cepat Sudirman dari depan RS Siloam. Karena di bawan kolong Semanggi biasanya ada polisi yang akan menyetop mobil untuk mengechek jumlah penumpang.  Dengan kata lain, polisi sengaja membuat jalur lambat Sudirman sepanjang fly-over Karet sampai ke RS Siloam agar mobil bisa digiring ke kolong Semanggi dimana perangkap sudah disiapkan. Beberapa teman saya sudah menjadi langganan jebakan polisi ini. Pilihannya cuma pakai joki atau bayar sogokan Rp 100 ribu (tahun 2014 – 2015).
Banyak yang mengatakan bahwa polisi dimana-mana menyebalkan. Kesimpulan ini bisa diterima, kalau dilihat pada kasus di Ferguson, US, beberapa bulan lalu, dimana polisi dengan semena-mena menembak mati seorang remaja dan kasus ini berekor protes besar-besaran yang dibalas oleh polisi dengan tindak repressi terhadap demonstran.
Menyusul kasus Ferguson, ada lagi kasus baru di US yaitu kasus Eric Garner, yang mati karena dipiting oleh polisi. Ini lebih sakit dari pada ditembak. Mati dipiting tentunya lebih sakit. Kejadian semacam ini membuat kita bertanya, untuk apakah polisi itu. Sebagai aparat keamanan, perlengkapan polisi saat ini sudah mendekati militer – aparat pertahanan (dari serangan musuh dari negara lain). Kendaraan lapis baja, senjata yang kuat (powerful gun) seperti M16 itu bukan untuk melumpuhkan tetapi untuk mematikan.
 Itu memang di US, tetapi di Indonesia juga terjadi militerisasi polisi. Tetapi dalam bidang ini, Indonesia kelihatannya lebih banyak latahnya. Hal lebih pokok lagi pada polisi Indonesia adalah masalah tradisi korup, termasuk membuat jebakan-jebakan lalu-lintas. Kita tidak perlu kemana-mana, cukup sektor lalu-lintas saja. Sebagai pengemudi, pengalaman buruk hanya saya jumpai di Indonesia. Padahal saya pernah tinggal di Inggris, Canada, Singapore, Malaysia, dan Saudi Arabia. Hanya 2 negara saja saya pernah berhadapan dengan tilang, Indonesia dan Malaysia. Untuk Malaysia hanya 1 jenis kasus yang saya langgar, yaitu mengendarai dengan kecepatan yang melebihi ketetapan. Saya kena tilang yang disebut saman-ekor, kurang lebih 5 kali, di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda.
Di jalan raya Karak (lebuh raya Karak), di wilayah Janda Baik ada bagian yang lurus dan menurun sepanjang 10 – 15 km dengan sudut ketajaman sekitar 30 – 40 derajad. Dan kecepatan maksimal disitu 90 km/jam. Disana ada kamera yang siap mengabadikan siapa-siapa yang ngebut melebihi 90 km/jam.
Di penggalan jalan raya Karak ini, kelihatannya polisi juga tahu kesulitan bagi pengendara untuk mentaati aturan lalu-lintas tersebut. Persoalan utamanya adalah sulit untuk mempertahankan laju kendaraan di bawah 90 km/jam di jalan dengan kondisi seperti itu. Rem yang terus-menerus akan mudah panas. Sedangkan dengan pengereman mesin di gigi 3 akan membuat mesin mengerang-erang keras. Jadi serba salah. Biasanya mobil akan saya lepas di gigi 4, tanpa menginjak pedal gas atau rem. Hasilnya adalah 110 – 125 km/jam. Dan......, kalau dalam minggu itu saya tidak menerima surat tilang, artinya saya bisa lolos dari jepretan kamera.
Biasanya kita bisa lolos dengan memposisikan kendaraan di belakang mobil besar. Jadi yang akan kena tembakan kamera adalah mobil di depan saya. Tetapi keberuntungan tersebut tidak selalu ada. Karena jalan tersebut harus saya lewati  2 kali setiap minggunya maka wajarlah kalau saya selama 2 tahun di Malaysia kena jepret 5 kali.
Berurusan dengan polisi lalu-lintas di Malaysia seringnya tidak berhadapan langsung, seperti di Indonesia. Surat tilang (saman ekor) datang dengan pos seminggu kemudian dan saya bayar di KLCC atau tempat-tempat yang ditentukan. Tidak ada pelanggaran lampu mati atau larangan masuk kecuali tanggalan merah. Jadi kalau institusi polisi di Indonesia menjengkelkan (dibandingkan dengan di Malaysia atau Canada, Inggris, Singapore), bisa dibuktikan sendiri.
 Walaupun nampaknya ada perbedaan antara polisi di satu negara dengan polisi di negara lain, tetapi mereka punya persamaan dalam suatu kultur. Mau menang sendiri. Dalam kasus Michael Brown dan Eric Garner di Amerika, polisi tidak pernah mengakui kesalahannya. Di film-film TV, juga bisa dilihat bahwa polisi tidak pernah salah dan tidak pernah mengaku salah serta tidak mau kalah. Kasus tilang saya melanggar lampu mati dan larangan masuk kecuali pada hari bertanggal merah, yang tidak pernah sampai ke pengadilan, juga cermin dari sikap polisi yang tidak mau kalah.
Banyak peraturan-peraturan yang secara langsung berhadapan dengan kepentingan kita dan punya loop-hole. Misalnya Peraturan Daerah (Perda) mengenai 3-in-1, yang melarang mobil berpenumpang kurang dari 3 orang untuk masuk ke jalan Sudirman dan Gatot Subroto pada jam-jam tertentu. Saya melihat setidaknya 2 loop-hole. Pertama, peraturan tersebut adalah Perda, dan jalan Sudirman/Thamrin serta Gatot Subroto adalah jalan negara yang perawatannya diatur dan dibiayai oleh pemerintah pusat, bukan DKI.  Perda tidak berlaku di wilayah pusat. Untuk jalan, wilayah juridiksi pemerintah daerah DKI adalah jalan provinsi bukan jalan negara. Kalau pemerintah daerah memasang rambu-rambu lalu-lintas di jalan negara, adalah tidak konstitusional. Apalagi menerapkan perda di jalan negara.
Loop-hole kedua, bunyi perdanya adalah ..... berpenumpang kurang dari 3 orang.... Disitu ada kata orang secara spesifik disebutkan di perda nya. Andaikata di perda nya tidak ada kata orang, dengan kata lain, bunyi: “berpenumpang 3 atau lebih” kama kita bisa bawa 2 kecoa bersama kita, sehingga penumpang yang ada di mobil ada 3, yaitu 1 manusia dan 2 kecoa. Karena kata orang disebutkan secara spesifik maka perda tersebut harus diakali dengan cara lain.
Untuk mengakali perda 3-in-1 itu saya sebenarnya bisa membawa anjing saya yang bernama Hanibal-Orang di dalam mobil ketika memasuki kawasan 3-in-1. Jadi di dalam mobil ada 3 penumpangnya, yaitu 2 orang yang bernama Imam Semar dan Hasan (supir saya), serta seekor anjing yang bernama Orang (perhatikan huruf O besar yang menunjukkan bahwa kata Orang disini adalah nama). Di dalam perda 3-in-1 itu tidak dijelaskan bahwa kata orang itu harus berarti manusia, homo sapiens, bukan hewan species lain, pet yang bernama Orang.
Walaupun saya tahu perda 3-in-1 ada loop-holenya, tetapi saya yakin bahwa polisi akan mau menang sendiri. Akal-akalan saya tidak akan digubris. Dan kejadian beberapa belas tahun lalu, dimana berkas tilang saya tidak pernah diproses, akan terulang lagi jika saya melakukan uji coba jurus mengalahkan loop-hole ini ke dalam praktek. Kalau kejadian tersebut terulang, maka belum tentu pak Panto masih ada untuk mencarikan polisi yang menahan SIM saya. Oleh sebab itu saya lebih suka ditemani oleh sebuah boneka besar untuk mengecoh polisi. Boneka tersebut akan nampak seperti penumpang ke 3. Cara ini punya peluang lolos dari pada berdebat dengan polisi tentang loop-hole dari perda 3-in-1.
Polisi tidak dididik untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mereka dididik untuk tidak mau kalah. Ketika Budi Gunawan sebagai calon kapolri dinyatakan tidak bersih oleh KPK, polri (Budi Gunawan) pasti tidak akan mau kalah. Polisi kemudian menangkap Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja dua wakil ketua KPK sebagai balasannya. Ini seperti halnya polisi yang menilang saya karena kasus melanggar lampu mati dan larangan masuk kecuali di hari bertanggal merah. Cuma bedanya sekarang dua wakil ketua KPK ditangkap. Pesan polri: “Kalau kau ganggu kami, maka kami juga bisa ganggu kamu.” Seperti halnya polisi yang menilang saya, cara polisi menghadapi KPK juga kasar. Tidak elegan sama sekali.
Saya tidak tahu apakah KPK bersih atau tidak, karena saya tidak pernah berurusan dengan KPK. Tetapi, untuk polisi, saya pernah bersentuhan langsung dengan polisi sehingga bisa memberi pendapat. Saya juga termasuk orang yang meragukan kultur yang bersih di lingkungan polri. Saya juga tidak heran kalau banyak orang sependapat dengan saya. Kata fit & proper dengan polri seperti air dan minyak. Kalau DPR melakukan test fit & proper terhadap calon kapolri, itu tidak lain cuma lelucon saja. Bisa juga diartikan sebagai sekedar memberi legitimasi status quo.
Bagi orang yang berpikir dan jujur (naif) keberadaan institusi kepolisian perlu dipertanyakan. Pertama, sebagai petugas keamanan, sudah banyak digeser oleh satpam. Di sektor penangkal kriminalitas juga banyak tanda tanyanya. Kalau kita kecurian barang, apakah akan kembali jika kita lapor polisi? Sebagai pengatur lalu-lintas, sudah banyak digeser oleh pak ogah. Kedua, perkara kebersihan polisi sangat diragukan. Apakah ada polisi yang bersih? Polisi tidur saja juga kotor oleh lumpur dan tinja kuda. Patung polisi juga kotor oleh debu. Makna fit & proper sebenarnya adalah fit & proper untuk status quo dalam arti DPR masih seperti itu, kabinet juga seperti itu, presiden juga seperti itu (silahkan terjemahkan sendiri kata itu). Tidak perlu heran jika Budi Gunawan yang dicurigai KPK dan masuk daftar hitam KPK bisa lolos fit & proper nya DPR. Karena DPR dengan polri punya musuh yang sama yaitu KPK. (Catatan: berapa banyak anggota DPR yang sudah diseret oleh KPK ke pengadilan). Dan tidak perlu heran yang merekomendasikan Budi Gunawan juga ketua partainya wong cilik yang membuat Keppres no 81 tahun 2004 dan isinya adalah memberikan uang tunjangan perumahan purnabakti sebesar Rp 20 milyar (setara dengan 20 kg emas) kepada mantan presiden yang notabene nantinya adalah dirinya sendiri. Dan keputusan ini dikeluarkan pada hari Senin tanggal 28 September 2004 hanya 3 bulan sebelum masa tugasnya berakhir tanggal 20 Oktober 2004.
Ada yang mengatakan bahwa kultur korup di kalangan polisi sudah sedemikian parahnya. Kalau dibaratkan computer, maka hardisknya sudah terinfeksi banyak virus dan kalau mau diperbaiki sudah terlalu banyak files yang terkorupsi sehingga banyak program yang tidak berfungsi secara benar. Jalan satu-satunya adalah format ulang., kemudian diisi dengan program dari sumber yang bersih. Artinya polisi diberhentikan semua, dan diganti dengan orang-orang yang baru. Persoalan akan timbul ketika orang yang melakukan isi ulang dari hardisk tersebut patut dicurigai karena punya kepentingan dengan penggunaan komputer tersebut. Keadaan tidak akan berubah jika sang penyusun ulang polisi kotor atau punya kepentingan yang berkaitan dengan polisi. Oleh sebab itu, EOWI akan mundur ke dasarnya dengan mempertanyakan, untuk apa badan kepolisian itu diadakan? Kapan badan kepolisian pertama dibentuk. Karena semua badan kepolisian di dunia ini hanyalah copy-an saja.
Fungsi polisi mungkin sudah berubah dengan perjalanan waktu. Ini bisa dilihat dari sudut pandang etimuloginya (asal-usul kata). Polisi atau police (bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani politeia,  yang artinya negara, pemerintahan. Kata ini punya akar yang sama dengan kata politik, politikus, policy (keputusan pemerintah). Juga ada kaitannya dengan penggalan kata polis di kata metropolis (yang ke bahasa Indonesia menjadi metropolitan). Jadi kata polisi ada kaitannya dengan mengatur masyarakat. Dalam perkembangannya terjadi perubahan, seperti pada kisah Robin Hood, ada sheriff Notingham yang menjadi musuh bebuyutan Robin Hood. Sheriff (kata lain untuk polisi, seperti juga marshal) Notingham punya tugas lain untuk memaksa rakyat membayar pajak yang menekan dan menghukum mereka yang mencoba lari dari pajak. Disamping itu juga, sheriff Notingham juga bertugas menjaga harta milik pemerintah, termasuk kijang-kijang liar yang diklaim sebagai milik raja.
Dari beberapa kamus online disebutkan bahwa kata police mungkin resmi dipakai di Prancis tahun 1580an yaitu kata Middle French policer yang artinya  "to keep order in" – mengatur dan menegakan hukum yang nota bene kemauan pemerintah. Mungkin pengertian inilah yang sampai sekarang berlaku. Kalau pemerintah mengeluarkan ke-tidak-bijaksanaan ini dan itu, maka polisi akan memaksakan penerapannya di dalam masyarakat, terlepas apakah keputusan tersebut konyol dan tidak disukai oleh masyarakat. Seperti halnya ke-tidak-bijaksanaan 3-in-1, disebut ke-tidak-bijaksanaan karena melarang orang menikmati kemakmuran yang diperolehnya yaitu naik mobil pribadi (bisa beli mobil = kemakmuran). Karena larangan ini konyol sifatnya, maka banyak yang berusaha membangkang terbukti dengan banyaknya joki 3-in-1. Ketidak bijakan ini polisi harus menegakkannya. Ini juga berlaku untuk peraturan larangan motor di jalan Thamrin Jakarta.
Salah satu peraturan yang harus ditegakkan, walaupu konyol adalah penggunaan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran resmi. Kita tahu mata uang rupiah, keberadaannya adalah karena coercion, paksaan. Wujudnya berupa kertas yang tidak ada manfaatnya, misalnya jika dibandingkan kambing. Kambing adalah sumer protein dan bisa dimakan (enak rasanya). Tetapi jika anda membawa 100 ekor kambing ke kantor pajak untuk membayar pajak penghasilan anda, niscaya polisi dengan senjatanya akan menjenguk dan mencokok anda. Ini bukan jamannya Robin Hood lagi. Bayar dengan rupiah, cash atau transfer. Anda bisa berargumen bahwa dibandingkan dengan rupiah, maka kambing nilainya stabil sepanjang masa, kambing punya nilai gizi, kambing punya sejuta manfaat, tetapi polisi tidak akan pernah perduli.
Kalau polisi tugasnya menegakkan hukum, mencari pelanggar hukum, kenapa ada KPK yang juga tugasnya menegakkan hukum anti korupsi. Mungkin untuk budaya korupsi, polisi sudah terlalu kotor. Sapu kotor tidak akan pernah bisa effektif untuk dipakai bersih-bersih. Ini bukan jamannya jenderal Hugeng, atau brigjen Swasono Abdulhamid. Istilah rekening gendut polisi adalah cermin kultur kotor. KPK dilahirkan apakah untuk hal yang serius, atau sekedar sandiwara. Yang pasti sampai saat ini belum pernah terdengar ada polisi dengan rekening gendut dimeja hijaukan, alih-alih dihukum mati karena korupsi.

Sekian dulu…….sampai nanti,


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, January 22, 2015

Excessive Leverage Kills



Minggu ini dibuka dengan berita tersungkurnya perusahaan sekuritas yang bergerak pada jasa forex, FXCM Inc, dan memerlukan dana talangan sebesar $300 juta. Penyebabnya karena melonjaknya frank Swiss secara tiba-tiba dan cepat. Banyak investor, banker, broker yang menderita kerugian besar. Kita akan membahas latar-berlakangnya. Tetapi, untuk lebih afdolnya pembaca sebelumnya melihat beritanya di bawah ini.

01/17/2015
 By Ira Iosebashvili, Andrew Ackerman and Alexandra Wexler
Banks, brokers and individual investors were left with hundreds of millions of dollars in losses a day after an unexpected surge in the Swiss franc sent shock waves through markets.
FXCM Inc., a major U.S. retail foreign-exchange broker, emerged as the biggest victim so far and had to be rescued by an emergency $300 million lifeline from investment firm Leucadia National Corp.
Shares of FXCM, one of the largest retail currency brokers in the world, were suspended on the New York Stock Exchange on Friday after the company said client losses on Swiss franc trades threatened to put it in violation of regulatory capital rules.
The two-year loan, with an initial interest rate of 10%, is "designed to maintain FXCM's financial strength and allow it to prosper going forward, " said Leucadia Chief Executive Richard Handler.
FXCM didn't respond to a request for comment.
Other firms were hit when the Swiss currency jumped by nearly 30% against the euro and 18% against the dollar in the minutes following the Swiss National Bank's decision to stop reining in the value of the franc against the euro.
Citigroup Inc. and Deutsche Bank AG will each lose about $150 million on the franc's appreciation, said people familiar with the firms. Goldman Sachs Group Inc. said Friday that the franc's move will be immaterial to its earnings. Losses at Barclays PLC will be in the tens of millions of dollars, people familiar with the bank said.
Among hedge funds suffering losses: Discovery Capital Management LLC, a South Norwalk, Conn., firm that manages $14.7 billion, and Comac Capital LLP, which oversees $1.2 billion in London. Comac was down roughly 8%, according to a person familiar with the firm.
Suku bunga rendah membuat investor sulit untuk memperoleh keuntungan dari investasi fixed-income yang aman, seperti bond pemerintah. Di lain pihak, suku bunga yang rendah juga membuat investor tergiur untuk melakukan leverage yang tinggi dan agak gila-gilaan. Apalagi pengelola dana pensiun. Bunga yang dijanjikan pengelona dana pensiun biasanya jauh lebih tinggi dari pada bunga bond pemerintah saat ini. Oleh sebab itu jika hanya mengandalkan bond maka pertumbuhan dana tidak akan mengejar target. Kondisi seperti ini membuat pengelola dana pensiun dan juga dana-dana investasi lainnya biasanya melakukan leverage.
Bank sentral Swiss (SNB) sebelum-sebelumnya melakukan pematokan harga frank Swiss di level €1.20 selama bertahun-tahun. Frank Swiss adalah mata uang yang mengalami deflasi yang termasuk kuat. Sehingga secara fundamental seharusnya frank Swiss menguat terhadap euro. Untuk mempertahankan frank Swiss di level  €1.20, SNB harus membeli bond berdenominasi euro. Bond berdenominasi euro ini agak beresiko. Kalau euro runtuh, akan terjadi gejolak euro atau mata uang baru jelmaan euro. Masalah kurs tukar euro dengan mata uang baru, seperti mark Jerman atau lira Italia pasti akan muncul. Nampaknya SNB enggan menambah resiko ini.
Pematokan frank Swiss ke euro juga menyebabkan harga-harga barang yang diimpor Swiss menjadi mahal. Baja, logam-logam dan bahan dasar kimia yang dipakai sebagai bahan dasar barang-barang yang diproduksi Swiss, seperti jam dan industri farmasi menjadi lebih mahal. Mungkin SNB ingin berbuat baik kepada rakyat Swiss, sehingga SNB memutuskan untuk melepas keterkaitan nilai frank dengan euro dan membiarkan nilai frank naik. Apapun sebabnya, tidaklah penting. Yang lebih penting adalah keputusannya.
Keputusan SNB ini memang sudah diantisipasi oleh pemain pasar. Banyak diantaranya beranggapan frank Swiss akan jebol setelah melihat rakyat Swiss menolak usulan agar SNB menambah cadangan emasnya dalam referandum yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Pandangan ini cukup masuk akal, karena menolak emas akan diassosiasikan dengan pandangan inflasionist. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu frank Swiss menguat. Ketika frank Swiss menguat, banyak pemain pasar berharap bahwa SNB akan melakukan intervensi untuk membuat frank Swiss melemah. Tetapi hal ini juga tidak terjadi. Maka banyak pemain pasar yang kena margin call dan harus meliquidasi posisinya dengan kondisi babak belur.
Yang menjadi biang keroknya adalah volatily di tanggal 15 January 2015. Nilai tukar frank Swiss bergerak sampai 32%, dari € 1.20 ke € 0.82 hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Chart 1 adalah grafik dalam interval data 1 jam. Sedang Chart 2 adalah interval data 15 menit.  Dalam waktu hanya 30 menit ini cukup untuk membangkrutkan banyak pemain pasar (dan juga membuat kaya lawan mainnya).

Chart 1

  
Chart 2

Sekian dulu, nanti akan kita lanjutkan dengan hikmah dari kasus ini.
 



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Monday, January 12, 2015

Batu Akik .........., Ponzi Scheme atau Pump & Dump?


Entah datangnya dari mana, tiba-tiba batu akik menjadi populer akhir-akhir ini. Di kantor saya yang kecil ini, setahu saya, sudah muncul 5 penggemar-penggemar baru. Itu baru yang saya ketahui, mungkin ada yang lain yang saya jarang berkomunikasi. Di meja kerja mereka ada beberapa kotak yang isinya batu akik yang menjadi sebagian dari koleksi mereka. Ipar saya juga sekarang sudah pakai batu akik dan koleksinya berkotak-kotak. Dan beberapa teman yang setahu saya tidak suka perhiasan, tiba-tiba fotonya di LinkedIn terlihat dengan cincin berbatu besar, seperti miliknya Tessy si pelawak yang sudah tidak laku. Tidak hanya itu, teman yang ruangan kerjanya di sebelah saya (penggemar akik) mengatakan bahwa ada 2 pulau di Maluku sudah ditutup karena takut kalau batu-batunya diangkut keluar. Nama batunya adalah bacan yang berwarna hijau.

Wah baunya tidak enak nih. Apakah ada demam baru? Takutnya ini adalah kasus yang sama dengan anthorium, ikan lohan, ternak cacing, ternak jangkrik,........ Bedanya adalah yang mempopulerkannya. 

Saya menemukan berita di internet. Ternyata selama ini memang ada pameran batu akik keliling yang diorganisir oleh Adhitama Cipta. Ini yang mempopulerkan dan membuat demam akik. Bukan Trubus.


Pameran Batu Akik Blok M Diserbu Pengunjung
Jumat, 31 Oktober 2014, 18:54 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tren batu dan permata menarik perhatian pengunjung Mall Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Even Organizer Adhitama Cipta  yang mengadakan pameran batu kebanjiran pengunjung sejak Kamis (30/10) kemarin.

Pameran yang menghadirkan 65 pengusaha batu dari berbagai daerah menjual  batu dengan jenis seperti  bacan doko, sungai dareh, limau manis, giok aceh dan lainnya.  Batu-batu tersebut tidak hanya dibentuk seperti cincin dan kalung. Beberapa batu juga dibuat menjadi beberapa jenis hewan seperti kura-kura, ikan dan buaya.

Dalam pameran tersebut panitia pelaksana Panji mengatakan, pengunjung yang hadir membeludak sampai malam hari.  Bahkan setelah pameran tutup, pengunjung masih saja berdatangan untuk sekedar melihat, menawar dan membeli batu dalam bentuk bahan ataupun sudah dijadikan cincin, kalung atau bentuk lainnya.

Pengunjung yang terpantau oleh panitia pelaksana  datang dari berbagai macam porfesi, seperti pedagang, tukang ojek, dan pengusaha. Panji melanjutkan, harga batu dalam pameran Gemstone yang sudah diikat sangat beragam.

Untuk batu bacan doko yang sudah  jadi cincin bisa mencapai Rp 1,5 Juta sedangkan untuk bahan paling murah ada yang menjual dengan harga Rp 100.000 dari berbagai jenis batu.  Penjual batu akik dalam pameran gemstone Herman menjual bahan batu dengan Jenis sungai dareh air, sungai dareh tebing, giok aceh dengan harga Rp 100 ribu per pecahan batu. Tidak jarang juga ada permintaan langsung pengunjung untuk memoles batu pilihannya menjadi cincin.

Tahun lalu, Herman yang bekerja di Gemstone King ini pernah menjual batu jenis Giok Aceh dengan harga Rp 2,5 Miliar dengan ikatan cincin berlapis emas.“Yang beli orang asing,” kata Herman pada pameran batu gemstone di halaman depan Blok M Square.

Kebanyakan pengunjung mencari batu jenis bacan doko dari Kepulauan Kasiruta, Maluku Utara Seorang pengunjung, Arif Satria, mencari beberapa batu bahan untuk dibentuk sendiri.

Batu-batu yang dipopulerkan memang, menurut saya, baru; seperti giok Aceh, sungai dareh, limau dan bacan. Harganya juga baru; Rp 2,5 milyar (woooow!!!). Dan dongengnya banyak sekali, termasuk SBY memberi batu jenis ini kepada Obama dan ditutupnya beberapa pulau di Maluku. Menarik........ Dalam skala besar, dulu di Eropa dikenal kasus Tulip Mania tahun 1636 - 1637.


Apakah anda berminat untuk investasi di batu permata? Silahkan komentar.....




Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, January 4, 2015

Selamat Tahun Baru 2015 dan Terima Kasih



Kita telah memasuki tahun 2015. Tidak terasa jumlah pembaca EOWI meningkat menjadi antara 500 – 1000 pengunjung setiap harinya. Banyak diantaranya adalah pembaca baru. Jumlah followers (entah apa itu artinya) sudah melewati 100 orang. Kami tidak tahu apakah angka-angka ini menunjukkan bahwa EOWI relatif cukup populer. Moga-moga demikian. Yang pasti kami melacak dan memonitor tempat asal pembaca EOWI. Yang paling banyak berasal dari Indonesia, kemudian USA, Canada, Jepang, beberapa negara di Eropa, Cina, bahkan dari sebuah pulau di Atlantik yang secara rutin mengunjungi situs EOWI.

Banyak pembaca mengirimkan email kepada kami. Bukannya kami tidak mau menjawab, tetapi komputer kami sering ngambek. Maklum sudah tua (10 tahun) dan perlu diganti. Nampaknya komputer tua saya ini sering tidak mau terhubung dengan modem internet Bolt. Posting kamipun sering terlambat karena harus menunggu sampai saat si komputer terhubung dengan internet. Memang kami punya Samsung Galaxy Tab, dan beberapa gadget lain tetapi gadget tersebut lebih banyak digunakan untuk membaca dan melakukan editing ringan. Mungkin sudah waktunya ganti komputer.

Kami berterima kasih atas perhatian dan kesetiaan pembaca sekalian kepada EOWI. Serta referensi pembaca kepada teman-teman/saudara sehingga komunitas pembaca EOWI menjadi semakin luas. Ini sejalan dengan misi kami yaitu membuat EOWI sebagai sarana pendidikan dan sarana berbagi pengetahuan dengan memberikan pandangan serta interpretasi alternatif. Yang kami maksud dengan alternatif, bisa merupakan koreksi terhadap pandangan yang salah atau pandangan untuk menggoyahkan kemutlakan suatu norma yang mapan. Sehingga kita sebagai pencinta kebenaran bisa menemukan kebenaran, setidaknya menemukan jalan menuju kebenaran.

Beberapa waktu lalu EOWI sempat absen cukup lama. Kemunculan kali ini, EOWI mempunyai misi khusus yaitu mengingatkan akan adanya krisis baru. Sebenarnya krisis lama tetapi yang gelombang baru akan menerjang ekonomi global. Kami menamainya Gejolak 2014 – 2020, karena kami memperkirakan kejadiannya akan belangsung pada rentang waktu tersebut. Misi kami bukan untuk mencegah krisis, karena krisis adalah hal yang alami, yaitu menyeimbangan kembali hal-hal yang tidak seimbang akibat perbuatan manusia atau akibat kejadian alam. Selain pengetahuan, pembaca juga bisa mengambil manfaat dari pengetahuan yang diperoleh dari EOWI untuk menavigasi pelayaran mengarungi badai Gejolak 2014 - 2020. Jatuhnya harga minyak ke level $53 per bbl, di akhir tahun 2014, mungkin ini adalah bagian dari Prahara 2014 - 2020. Kemudian indeks dollar yang menembus level 90, tepatnya 91, level yang tertinggi selama 10 tahun bahkan lebih tinggi dari pada ketika subprime crisis. Dan rupiah menembus Rp12,500 per dollar. Apakah ini kebetulan? Kami rasa tidak. Setidaknya arahnya sejalan dengan ramalan EOWI dalam laman Gejolak 2014 – 2020.

Selamat tahun baru, semoga anda tahun 2015 bisa mengarungi dengan baik sebagian dari prahara 2014-2020. Referensikan EOWI kepada teman-teman dan orang-orang yang anda kasihi. Mungkin informasi EOWI berguna bagi mereka. Mari kita buat EOWI makin rame......(ramai...maksudnya dalam bahasa Indonesia yang baik).
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, January 3, 2015

Gejolak 2014 – 2020: Tergelincir Minyak Yang Licin (Bagian III)



 Bagian III: ……..Kisahnya Belanjut  Bisa Semakin Tragis
Pembaca mungkin heran kenapa EOWI kok tertarik pada sejarah, padahal menurut Ambrose Bierce sejarah adalah:
History is an account, mostly false, of events, mostly unimportant, which are brought about by rulers, mostly knaves, and soldiers, mostly fools.

Tentu saja sejarah yang disodorkan oleh EOWI berbeda dengan sejarah-sejarah resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah. EOWI setuju dengan Ambrose Bierce, bahwa sejarah-resmi adalah kejadian yang tidak penting, tidak jelas yang ditulis oleh penguasa. Oleh sebab itu sejarah yang dibaca oleh EOWI adalah sejarah yang lain dan tidak ditulis oleh badan resmi. Sejarah yang disodorkan oleh EOWI adalah merupakan kejadian yang penting dan bisa diambil hikmahnya. Tetapi kesimpulannya masih tidak bersifat pasti, dan sifatnya sebagai hipotesa yang tidak lain adalah dugaan yang terstruktur.

Dongeng Hutang, Kewahaman dan Petaka
Dimasa lalu, awal dekade 1980, tepatnya pertengahan tahun 1981 sampai akhir tahun 1982, di dunia barat mengalami keterpurukan dan resesi disaat harga minyak sedang jatuh. Apakah hal ini akan berulang? Apakah ada kaitan antara jatuhnya harga minyak dengan resesi dimasa itu. Mungkin. Dan itu akan kita lihat keterkaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Yang pasti, waktu itu, di tahun 1982, dampak resesi di Amerika Utara kemana-mana. Salah satu yang dampaknya mengenai diri saya adalah dihapuskannya subsidi sekolah bagi pelajar asing di Canada.
Berakhirnya secular bull market periode lalu (1970 – 1980), diikuti dengan resesi di dunia barat. Resesi berekor turunnya pendapatan pemerintah yang salah satunya negara bagian Ontario Canada tempat saya bersekolah waktu itu. Resesi menyebabkan pemerintah harus mengetatkan budgetnya. Universitas yang uang sekolahnya disubsidi, terpaksa memilah-milah lagi, kepada siapa subsidi itu diberikan. Akhirnya pelajar asing (termasuk saya) terpaksa membayar uang sekolah $7,000, sedangkan pelajar lokal hanya dikenakan uang sekolah $2,000 per tahunnya. Andaikata saya datang ke Canada di tahun sebelumnya, saya hanya bayar uang sekolah $ 2000 per tahunnya. Nasib memang belum berpihak kepada saya.
Jatuhnya harga minyak di awal dekade 1980 membawa resesi di banyak negara, termasuk Canada dan Amerika Serikat. Di samping PHK bagi pekerja-pekerja minyak, juga ada ancaman kebangkrutan pada perusahaan-perusahaan kecil yang memproduksi minyak serta penyedia jasa di sektor perminyakan, serta perusahaan eksplorasi minyak.
Cuma untuk Indonesia, kisah tragis itu tidak perlu menunggu sampai puncak harga minyak. Dalam waktu hanya 3 tahun perjalanan secular bull market dekade 1970, yaitu tahun 1973, BUMN minyak Indonesia, yaitu Pertamina, sudah terlilit hutang. Sejak lahirnya secular bull market dekade 70an, Pertamnia sudah memperoleh kepercayaan dari kreditur. Mungkin karena publisitas pertumbuhan Indonesia yang pesat akibat liberalisasi setelah jatuhnya Orde Lama merupakan tambahan penyedap bagi secular bull market di sektor minyak itu sendiri. Booming minyak waktu itu masih awal, tetapi bisa membuat Pertamina punya nama besar, dan menjadi 200 perusahaan yang terbesar di dunia. Bisa dibayangkan bagaimana hotnya sektor minyak dimasa itu. Minyak, walaupun masih di awal secular bull market dekade 70an memang sedang hot, naik daun, mudah untuk memperoleh kucuran kredit. Dengan kredit Pertamina berekspansi ke bidang-bidang bukan core-business nya (non minyak) seperti rumah sakit, hotel, restoran, maskapai penerbangan, guest-house, dan bahkan sepertinya juga ikut berpartisipasi dalam membangun salah satu landmark kota Jakarta. Saya tidak tahu siapa yang sebenarnya membiayai pembuatan patung Pizza-man di bundaran persimpangan jln. Jen. Sudirman – jln. Sisingamangaraja dan jln. Senopati di depan Ratu Plaza, Jakarta. Kalau diperhatikan wajah patung Pizza-man yang setengah telanjang, berteriak karena tangannya kepanasan membawa pizza panas itu, mirip dengan wajah Ibnu Sutowo, direktur Pertamina pada masa itu. Patut diduga bahwa yang membiayai pembangunan patung Pizza-man adalah Pertamina, c.q. Ibnu Sutowo. Itu hanya dugaan, yang nilai kebenaran tidak jauh dari nilai kebenaran sejarah.
Hutang Pertamina meningkat, sehingga di tahun 1973, kreditur sepert IMF sadar akan kesembronoan Pertamina, dan memberi tekanan agar Pertamina hanya diperbolehkan untuk memperoleh pinjaman jangka pendek saja. Akibatnya hutang jangka pendek Pertamina meningkat drastis, sampai mencapai $1.5 milyar dari hutang totalnya yang berjumlah $10.5 milyar. Sebagai perbandingan adalah cadangan devisa Indonesia waktu itu adalah $1.49 milyar (1974) dan budget pemerintah adalah sekitar $8.6 milyar. Tentu saja hal ini bisa menimbulkan keguncangan ekonomi negara. Dan saatnya tiba ketika Pertamina men-default-kan hutangnya kepada krediturnya dari US dan Canada.
Pertamina harus melakukan perampingan-terpaksa. Yang paling populer adalah harus ditutupnya restoran Ramayana milik Pertamina di Rockefeller Center, New York. Restoran? Apa tidak salah? Tentu saja tidak salah. ‘Kan tadi sudah dikatakan bahwa busines Pertamina merambah ke sektor-sektor yang bukan core-businessnya. Penyanyi yang sekarang sudah gaek Bob Tutupoli pernah menjadi public relation restoran ini
Kisah Pertamina pada periode dekade 1970an adalah kisah-kasih salah urus dan korupsi. Salah satu kasus yang terkenal karena terungkap karena keserakahan anggota-anggota keluarga koruptor. Karena arena persengketaannya ada di Singapura, kasus ini tidak bisa ditutupi dan dipeti es-kan oleh pemerintah Indonesia. Kasus yang dimaksud adalah kasus korupsi H. Thahir, Asisten Umum Direktur Utama Pertamina. Dia mati dan meninggalkan uang di Bank Sumitomo Singapura bernilai US$ 35 juta. Persengketaan terjadi antara Kartika (istri ke-4 Thahir) dan anak-anaknya dari istri yang lainnya. Kemudian pemerintah ikut nimbrung dan mengklaim bahwa uang tersebut adalah hasil korupsi dan harus kembali ke Pertamina. Akhirnya, setelah 16 tahun perkara ini berlangsung, pada tanggal 25 Agustus 1992, Pengadilan Tinggi Singapura memutuskan bahwa Pertamina berhak atas uang deposito H. Thahir.
Itu cerita dari kultur korup yang ada, tetapi sumber kekuatan yang menghancurkan Pertamina adalah hutangnya. Euphoria membuat kreditur menjadi lebih berani berspekulasi dan mengucurkan dana hutangan ke Pertamina. Pertamina bisa memperoleh hutang karena agunannya adalah nilai perusahaan minyak itu. Korupsi seperti yang dilakukan Thahir tidak marak kalau tidak ada proyek-proyek yang merebak karena kucuran kredit.
Sejarah berlanjut, akhirnya Pertamina keluar dari 200 korporasi terbesar dunia karena salah urus dan korupsi. Dan hutangnya ditanggung oleh pembayar pajak, melalui Bank Indonesia.
Hikmah dari dongeng ini adalah, bahwa investor sering buta, mengucurkan kredit ke sektor yang beresiko (dalam kasus Pertamina adalah memberi kredit kepada perusahaan yang sembrono) karena illusi yang tercipta di benaknya. Padahal kemakmuran di sektor itu hanyalah semu, sesemu fatamorgana sebagai penampakan air di gurun pasir. Kasus kredit hipotek subprime di Amerika Serikat tahun 2008 juga kasus yang sama. Manusia memang pelupa.

Freaking Fucking Fracking (3F) = Pemicu Krisis?
Kasus shale oil/gas tidak mutlak sama dengan kasus Pertamina. Kalau mau dipaksakan untuk diambil hikmahnya sebagai pembanding, maka kasus shale oil/gas punya kemiripan, tetapi minus korupsinya. Motor yang menggerakkan sama, kreditur dengan mudah mengucurkan uangnya karena daya tarik investment yang sedang hot, euphoria dan delusion. Jadi faktor yang tersisa adalah korupsi dan salah urus.
Shale oil/gas mungkin sektor yang paling hot selama 4 tahun terakhir ini di sektor minyak bumi. Fracking dibayangkan banyak orang sebagai panacea (obat segala penyakit) bagi sumur minyak yang tidak mau mengalir. Boss saya yang secara teknik tidak tahu apa-apa terpengaruh oleh hype (promosi gencar di masyarakat minyak) mengusulkan beberapa proyek fracking yang tidak tepat yaitu di sumur-sumur yang tidak bisa di-fracking. Walaupun dengan berat hati saya lakukan yang diinginkannya dengan tujuan sebagai education untuk para manager. Hal yang sama saya lakukan sekitar 9 tahun lalu di Malaysia untuk memberi pendidikan bagi 19 orang engineers yang sedang saya bina kemampuannya.
Sejak tahun 2009, investor tidak punya pilihan banyak untuk menempatkan uangnya. The Fed dengan suku bunganya yang rendah, memaksa yield (bunga) high quality bond tertekan di level yang rendah. Bunga deposito juga rendah. Pilihan investor tidak banyak, yaitu saham dan junk-bond yang beresiko. Rupanya aksi para investor ini direspon dengan baik oleh para emiten. Banyak korporasi mengeluarkan bond untuk memperoleh dana dari investor. Ada yang menggunakan dana dari penjualan bond untuk ekspansi. Tetapi banyak juga emiten sontoloyo menggunakan untuk melakukan buy-back saham. Biasanya para petinggi di perusahaan punya saham hasil pembagian dan bonus. Dan buy-back biasanya dilatar belakangi usaha mendongkrak asset-asset para CEO dan petinggi perusahaan. Ini sedikit atau banyak adalah prilaku yang korup.
Inilah bubble terbaru yang disponsori oleh the Fed, yaitu bubble junk-bond. Bubble ini dalam 4 tahun terakhir, tumbuh tidak kalah besarnya dengan bubble-bubble lain yang disponsori oleh the Fed. Nama bubble baru ini adalah junk-bond bubble. Dalam kurun waktu 5 tahun, jumlah junk-bond meningkat dari sekitar $ 100 milyar di tahun 2008 menjadi $600 milyar di tahun 2013. Ini adalah bubble. Bandingkan dengan hutang subprime mortgage dari $50 milyar di tahun 2000 menjadi $335 milyar pada puncaknya di tahun 2005. Menurut perkiraan sekitar 25% (sekitar $ $150 milyar) dari junk-bond ini berasal dari bisnis fracking. Selain mencari dana dari pasar bond, perusahaan-perusahaan fracking ini juga .mengambil kredit sekitar $350 milyar dari luar pasar bond. Jadi total-jendral ada $500 milyar hutang di sektor fracking shale oil/gas. Angka ini cukup freaking big (besar) jika dilihat sektor ini adalah sektor yang lemah dan banyak ancamannya. Kita akan bahas ancamannya. Ingat namanya saja sudah junk-bond. Kata itu sudah bisa menggambarkannya dengan jelas.
Masih ingat kisah siklus minyak (silahkan baca bagian I, kisah ini), secular bull market dan secular bear market datang silih berganti dengan segala sebabnya. Secular bull market di sektor minyak selalu diakhiri dengan over-capacity yang biasanya memerlukan 20 tahun untuk memangkasnya. Dan sekarang yang paling rentan kena pangkas adalah di sub-sektor fracking shale oil/gas.
Ladang shale oil/gas  memerlukan pengeboran sumur-sumur baru, karena lapangan dengan permeability rendah ini setiap sumurnya punya area pengurasan yang kecil saja, dan satu sumur hanya berumur 3-5 tahun sehingga diperlukan pengeboran/pembuatan sumur produksi secara terus menerus. Untungnya harga sumurnya hanya berkisar antara $1.5 – 2.5 juta saja.
Tingkat balik-pokok dari proyek shale oil rata-rata ada pada harga minyak $60 per bbl. Dengan harga minyak di bawah $60 per bbl, proyek shale oil menjadi tidak ekonomis. Pengeboran sumur-sumur baru tidak punya justifikasi lagi. Tetapi untuk menghentikan program pengeboran bukan seperti membalikkan telapak tangan. Dalam melakukan pengeboran sumur, operator (perusahaan) produksi minyak punya kontrak dengan perusahaan pengeboran dan jasa-jasa penunjang pengeboran serta jasa-jasa data acquisition. Dalam kontrak pengeboran sumur produksi shale oil biasanya mencakup beberapa sumur karena pertimbangan ekonomis. Artinya, perusahaan pemilik ladang minyak terikat kewajiban untuk melakukan pengeboran sejumlah sumur sesuai dengan kontrak yang sudah ditanda-tangani. Tidak hanya itu, sumur yang sudah dibor kemudian harus dipasangi perlengkapan produksi dan distimulasi melalui proses fracking. Proses menjalani program kontrak seperti ini bisa berlangsung 1 – 3 tahun. Artinya, sumur-sumur shale oil masih akan terus bermunculan, sampai kontrak-kontrak pengeborannya habis. Jadi, walaupun kontrak-kontrak pengeboran sumur-sumur baru senadainya sudah dihentikan, over-supply kegiatan drilling (pengeboran), completion (melengkapi sumur dengan peralatan produksi) dan stimulasi fracking masih berlanjut sampai 2 - 3 tahun ke depan. Ini adalah jaminan dalam kurun waktu 3 tahun ke depan harga minyak akan masih tertekan karena over-capacity. Jangan harap OPEC akan menurunkan produksinya untuk mendongkrak harga minyak. Karena Saudi ingin sektor fucking freaking fracking oil mati. Yang menurut EOWI tidak akan terjadi. Yang terjadi adalah 3F oil akan masuk hibernasi untuk kemudian bangun pada saat harga minyak kembali tinggi, yang waktunya entah kapan.
Apa arti harga minyak di bawah $60 per bbl? Yang pasti, harga minyak di bawah $60 per bbl akan memangkas kemampuan para produser shale oil untuk membayar hutangnya. Jangan heran kalau jatuhnya harga minyak di bawah $60 per bbl membuat investor junk-bond menjadi nervous, kalau mereka cukup sehat akalnya.
Kalau ada waktu, kita akan membahas krisis di sektor F3 oil secara terpisah, karena dampaknya bisa memukul negara yang perekonomiannya terbesar di dunia, yaitu US. Jika US bersin-bersin, dan Cina batuk, maka yang lain harus diopname di rumah sakit.

Kehancuran OPEC (Defisit Anggaran Pembunuh)
Apakah OPEC akan hancur? Kami di EOWI tidak punya jawabannya. Lalu kenapa judul bagian ini Kehancuran OPEC? Alasannya adalah supaya pembaca tertarik untuk membaca kelanjutan cerita ini. Dan jawaban ini akan membuat pembaca penasaran. Memang kondisi penasaran itu yang kami inginkan. EOWI selalu suka membuat pembacanya penasaran. Apapun hasilnya, dalam arti pembaca penasaran atau tidak, EOWI tidak keberatan untuk menuntun pembacanya pada alur sejarah masa lalu yang mungkin bisa diambil hikmahnya. Saya akan mensitir kembali paragraf pembukaan tulisan ini: Pembaca mungkin heran kenapa EOWI kok tertarik pada sejarah yang menurut Ambrose Bierce adalah:
History is an account, mostly false, of events, mostly unimportant, which are brought about by rulers, mostly knaves, and soldiers, mostly fools.

Tentu saja sejarah yang disodorkan oleh EOWI berbenda dengan sejarah-sejarah resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah. EOWI setuju dengan Ambrose Bierce, bahwa sejarah-resmi adalah kejadian yang tidak penting, tidak jelas yang ditulis oleh penguasa. Oleh sebab itu sejarah yang dibaca oleh EOWI adalah sejarah yang lain, yang tidak resmi. Sejarah yang disodorkan oleh EOWI adalah merupakan kejadian yang penting, bisa diambil hikmahnya, tetapi kesimpulannya masih tidak pasti, karena sifatnya adalah hipotesa. Hipotesa bukanlah kebenaran, melainkan dugaan yang terstruktur. Beginilah sejarah yang akan diceritakan oleh EOWI:
Ketika subprime oil shock (anjloknya harga minyak sebagai imbas dari kasus subprime) 2008 lalu, Libya bergolak, pembrontakan meletus dan Presiden Muamar Qaddafy dijatuhkan, tertangkap, diarak dan di eksekusi di jalan raya. Video episode yang tragis ini tersebar di internet.
Kemudian Dubai ditinggalkan penduduknya dan untuk beberapa bulan menjadi kota hantu. Supaya lebih dramatis silahkan lihat: Dubai Calon Kota Hantu. Mesir yang bukan negara kaya, juga bergolak dan Husni Mubarak dijatuhkan oleh massa yang menuduh dirinya korupsi. Bahrain yang negara kaya, ikut-ikutan bergojak. Tetapi untuk Bahrain, gejolak ini bisa diredakan sebelum merebak menjadi pembrontakan yang sukses.
Peristiwa tersebut di atas terjadi pada tahun yang sama dengan kasus subprime di US. Apa hubungan hutang hipotek dengan gejolak politik di Timur Tengah?
Ketika kasus subprime merebak, selanjutnya diikuti oleh bekunya kredit. Dan hal ini membuat para spekulan cepat-cepat masuk kandang. Spekulan minyak, melikwidasi posisinya sehingga menyebabkan harga minyak anjlok, runtuh. Kata runtuh dan anjlok adalah tepat sekali, karena di tanggal 3 Juli 2008 harga minyak mentah (WTI) masih $145.31 per bbl, dan pada tanggal 23 Desember 2008 jatuh ke level $30.28 per bbl. Kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan kejatuhan harga sebesar 79% dalam waktu kurang dari 6 bulan kalau bukan kata anjlok atau runtuh.
Negara-negara Timur Tengah yang notabene kebanyakan adalah anggota OPEC dan hidupnya tergantung dari ekspor minyak, akan mengalami defisit ketika harga minyak anjlok. Belanja negara mereka punya porsi untuk subsidi. Kalau negara-negara ini mengikuti sunatullah, mengikuti hukum-hukum Tuhan, masalah tidak akan timbul. Persoalan akan timbul jika pemerintahnya ingin menjadi saingan Tuhan sebagai al Razak, pemberi rejeki (penghidupan). Pemerintah memberi subsidi melimpah dengan cara yang melebihi cara-cara kasih Allah. Sebagai perbandingan, Allah memberi udara, tetapi manusia harus menghirupnya. Allah memberi air, tetapi manusia harus mengambilnya dan mengolahnya (menyaring, menghilangkan kuman-kuman yang ada dengan merebusnya atau cara yang lain). Allah tidak menyodorkan rizki yang diberikan kepada manusia sampai di depan hidung mereka!
Ada hikmah yang bisa diambil dari suatu kisah di dalam Quran, surat Maryam 23 – 26, dimana seorang ibu bernama Maryam baru saja melahirkan ditempat yang terpencil dan tidak ada orang/tidak berpenghuni. Dalam keadaan yang masih lemah itu, kalau ia mau makan dan minum, dia (Maryam yang baru melahirkan itu) disuruh mengambil sendiri air di sungai di dekat tempatnya dan disuruh menggoyang-goyang pohon kurma untuk merontokkan buahnya, supaya buahnya jatuh. Tuhan yang paling pengasih (ar Rahman) itu tidak mengirimkan malaikat atau seseorang atau pegawai dinas sosial untuk membantu ibu Maryam yang masih lemah karena baru melahirkan itu dengan mengantarkan makanan dan minuman kepadanya.
Bandingkan bagaimana usaha pemerintah untuk menyaingi Allah, ar-Rahman (sang Pengasih), dengan memberi subsidi pangan dan kebutuhan rakyatnya. Apakah cara-cara Allah memberi rizki mahluknya masih kurang baik sehingga politikus menciptakan sistem subsidi? Bukankah Allah telah memberikan kemampuan usaha bagi ciptaannya (dari semut, bakteri sampai ke manusia) untuk mengusahakan rizki dari Nya. Allah tidak suka disaingi! (Atau dihina karena dianggap kurang pengasih). Oleh sebab itu sewaktu-waktu negara-negara sosialis ini akan diingatkan, kemudian/bahkan dilaknat oleh Allah. Diingatkan Allah dengan menyumbat sumber rizkinya, secara alami bukan secara magis dan sulapan. Ketika kucuran rizki dari para penguasa negara berhenti, rakyat sadar bahwa mereka ini bukan Tuhan yang sebenarnya. Luapan kemarahan terkadang berlebihan dan dimanifestasikan dalam bentuk yang sangat brutal seperti yang terjadi pada Muamar Qaddafy. Kasihan...., tuhan-tuhan kecil menemui ajalnya secara tragis.
Bila minyak dijadikan andalan budget negara, sebenarnya tidak akan menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah politikus pemerintahan yang bego. Mereka tidak bisa mengambil hikmah kisah nabi Yusuf yang intinya ada masa subur untuk menabung dan membuat persiapan, kemudian ada masa paceklik, dimana tabungan itu dipakai untuk hidup selama periode paceklik itu. Sederhana bukan? Politikus bego terlalu dungu atau tidak punya interest untuk mencerna kisah nabi Yusuf dan membuat budget negara defisit atau mengabaikan untuk menabung selama masa subur. Dan ketika masa paceklik kelabakan. Ketika para politikus ini kelabakan, rakyat menjadi marah melihat dewa-dewa sesembahannya ternyata hanyalah mahluk-mahluk pembohong dan lemah seperti mereka.
Bagi EOWI, masalah dewa-dewa sosialis bukan urusan EOWI. Yang penting adalah mengetahui:
1.    Sejauh mana dewa-dewa ini bisa mempertahankan statusnya sebagai dewa.
2.    Melihat dampaknya ketika kedok para dewa ini terungkap.

Kedua hal ini lebih penting karena menyangkut hidup manusia.
Berikut ini adalah tabel dari data World Bank dan IMF yang menunjukkan tingkat harga minyak yang membuat budget negara pengekspor minyak menjadi seimbang. Artinya di bawah harga itu, negara tersebut akan mengalami defisit budget negara.

 Table-1

Negara
Harga untuk Budget 2015 Break-even
Produksi, juta bbl/hari
Revenue Ekspor Minyak, $ juta
GDP, $ juta
Ekspor Minyak, % GDP
Cadangan Devisa, juta $
Rasio Cadangan Devisa & GDP, %
Norway
$40.00
1.9
104,520
513,000
20%
66,969
13%
Kuwait
$54.00
2.9
108,482
184,031
59%
34,350
19%
Qatar
$60.00
0.7
62,519
202,172
31%
43,496
22%
UAE
$77.30
2.8
126,307
396,235
32%
58,040
15%
Ecuador
$79.70
0.5
14,103
93,577
15%
2,625
3%
Kazakhtan
$90.00
1.6
54,600
224,000
24%
28,312
13%
Congo
$95.10
0.3
7,155
30,630
23%
5,239
17%
Angola
$98.00
1.7
67,829
120,509
56%
37,940
31%
Azerbaijan
$100.00
1.0
26,315
73,560
36%
13,080
18%
Iraq
$100.60
0.9
89,402
229,327
39%
71,240
31%
Saudi Arabia
$106.00
9.6
321,723
745,273
43%
742,459
100%
Venezuela
$117.50
2.8
85,861
373,978
23%
21,150
6%
Russia
$117.80
10.3
322,000
2,097,000
15%
398,900
19%
Nigeria
$122.70
1.8
89,314
515,787
17%
39,521
8%
Algeria
$130.50
1.2
44,458
223,857
20%
192,500
86%
Iran
$130.70
2.7
61,923
366,259
17%
68,060
19%
Libya
$184.10
0.9
40,163
73,755
54%
120,900
164%
Mexico

2.9
45,370
1,261,000
4%
197,026
16%
 

Dari table ini terlihat bahwa dengan harga minyak yang saat ini di level $53 per bbl, kecuali Norway, semua negara-negara yang ada pada table di bawah akan mengalami defisit dalam budget pemerintahnya. Bagi negara yang cadangan devisanya rendah seperti Venezuela sudah babak-belur. Yang menjadi sebabnya adalah kemampuan tidak ada dan maunya banyak; salah urus dan karena program-program sosial kemanusiaannya yang berusaha menyaingi tingkat kasih Tuhan, yang pada akhirnya membuat orang (rakyatnya) kurang berusaha untuk mengusahakan rizki dari Tuhan. Mereka tidak/kurang menghasilkan barang yang bisa dijual di pasar dunia dan memperoleh mata uang dunia (US dollar atau sejenisnya) yang bisa dipakai untuk membeli (barter) dengan barang kebutuhan lainnya yang mereka tidak bisa produksi sendiri. 
Perekonomian Venezuela goyah, mata uang bolivar terpuruk. Walaupun sebelumnya sudah pernah didevaluasi dari VEF 2 per US dollar ke VEF 4.25 tahun 2010, kemudian ke VEF 6.25 tahun  2013, tetapi ternyata saat ini di pasar gelap mencapai VEF 41 di bulan September 2014, kemudian VEF 102 di bulan November 2014,  dan VEF 150 per US dollar di akhir tahun 2014. Artinya, nilai Bolivar Venezuela hanya 4.2%  dari nilai riilnya.
Untuk memberi gambaran bagaimana enaknya rakyat Venezuela adalah harga bensin yang dipatok VEF 0.097 per liter. Dalam kurs resmi saja sudah murah, sekitar Rp 250 per liter (kurs 1 US$ = VEF 6.25 dan Rp 12,500 = US$1). Itu dengan kurs resmi yang sudah sangat murah. Dalam dollar riil (pasar bebas) adalah US$0.00065 atau 0.065 sen US atau Rp 8 per liter. Ini sama saja dengan gratis. Tuhan tidak menyukai pemerintah yang memberikan sesuatu yang gratis, tanpa usaha. Hukuman Tuhan adalah rakyat Venezuela mengalami kesulitan untuk membeli barang impor dan memperoleh kepercayaan kredit dari investor. Bisnis hengkang. Enak? Babak-belur kok enak......
EOWI pernah menyinggung mengenai Venezuela secara singkat bulan November 2014 lalu. Mungkin dilain waktu akan dibahas lebih panjang mengenai negara Nicolas Maduro yang memberi kehidupan sorga bagi rakyatnya.
Venezuela memproduksi 2.8 juta bbl minyak mentah per hari. Sekitar 1/3nya adalah untuk konsumsi dalam negri. Artinya 2/3nya untuk ekspor. Perusahaan minyak nasional Venezuela PDVSA sejak terjadinya pembangkangan terhadap presiden Hugo Chavez tahun 2002 – 2003, menjadi lebih jinak terhadap pemerintah. Hampir separo pegawai disingkirkan dan digantikan dengan orang-orang yang pro-pemerintah. Oleh sebab itu PDVSA saat ini tidak lebih sebagai cash-cow dari pemerintah.  Untuk menyediakan 800 ribu bbl bensin setiap harinya dengan harga supermurah, PDVSA menurut saja.
Di Wikipedia dikatakan bahwa berdasarkan perkiraan tahun 2014, Venezuela punya GDP nominal sebesar $ 6,869 per kapita. Sedangkan GDP PPP (Purchasing Power Parity atau kemampuan membeli, atau kesetaraan) $ 17,917 per kapita. Dengan kata lain, walaupun seorang warga Venezuela berpenghasilan $6,869 per tahun, tetapi kemampuan membelinya setara dengan orang yang berpenghasilan $17,917. Tidak terlalu mengherankan, dengan harga bensin setara dengan Rp 250 per liter, harga apa saja yang diproduksi akan murah. Harga cabe akan murah, harga ikan asin atau terasi akan murah, gaji juga tidak perlu tinggi, makan di restoran juga akan murah, harga rumah dan sebut saja yang lain. Walaupun sektor minyak nampaknya hanya 23% dari sesungguhnya peran minyak lebih besar dari 23%.
Bagi EOWI perbedaan yang lebar antara GDP nominal dan PPP menunjukkan adanya ketidak seimbangan. Dan ketidak seimbangan ini perlu adanya proses penyeimbangan. Persoalannya adalah: apakan proses penyeimbangan ini berjalan dengan mulus atau dengan benturan keras. Biasanya pemerintah akan memilih untuk menghindari penyeimbangan dengan membendungnya melalui segala cara. Tetapi alam mengalir sesuai dengan hukum-hukumnya dan akhirnya bendungan itu tidak kuat lagi menahan kekuatan alam. Hasilnya adalah air bah yang menerjang dan menghancurkan segala yang dilewatinya. Hukum Tuhan (hukum alam) sedang bekerja untuk menyeimbangkan hal-hal yang timpang di Venezuela. Mata uang bolivar sudah mengalami devaluasi beberapa bulan lalu. Cadangan devisa Venezuela juga sudah menipis (6% dari GDP, mungkin juga sudah kurang dari itu). Inflasi melonjak menjadi 65% di awal tahun 2014. Bahkan sekarang mencapai.......sorry EOWI sudah tidak bisa menghitung lagi. Yang pasti nilai riil bolivar sekarang hanya 4.2% nilai resminya. Ramalan EOWI, tidak lama lagi, barang-barang impor akan lenyap dari pasaran. Dan ini akan menambah kesengsaraan. Bahkan hal ini bisa terjadi untuk bensin. Di atas kertas bensin memang murah dan terjangkau oleh setiap orang. Tetapi itu hanya di atas kertas. Lebih penting lagi, pertanyaan apakah bensin itu tersedia dan bisa diperoleh? Pasalnya....., ketika ada disparity harga, maka penyelundupan bensin ke luar Venezuela akan marak. Untuk apa harga murah tetapi tidak tersedia?
Selain Venezuela, yang pada saat ini mengalami krisis moneter adalah Russia. Ruble mengalami depresiasi terhadap US dollar cukup tajam. Walaupun bagi Russia, ekspor minyak hanya 15% dari GDPnya, tetapi Russia juga mengandalkan ekspor bahan komoditi. Dan saat ini harga barang komoditi juga ikut jatuh bersama minyak bumi. EOWI yakin ruble akan rebound dengan baik untuk sementara waktu. Cadangan devisa Russia cukup kuat untuk mempertahankan ruble kalau mau.
Russia yang ekonominya berbasis bahan tambang, juga harus belajar dari periode secular bear market di sektor komoditi tahun 1980 – 2000, dimana beberapa negara yang ekonominya berbasis komoditi pecah dan mengalami kekacauan. Uni Soviet pecah berkeping-keping dan kemudian lenyap dan menjadi sejarah saja; Indonesia harus melepaskan Timor-Timur; lalu jatuhnya pemerintahan apartheid Afrika Selatan disusul dengan lepasnya Afrika Barat-Daya (Namibia). Semua itu karena pendapatan pemerintah dari bahan tambang sebagai sumber pokok budget pemerintah tidak cukup untuk mempertahankan sistem serta kedaulatan yang ada. Bagaimana Russia akan melayari secular bear market di sektor komoditi kali ini.....? Yang pasti akan bisa lebih mudah dibandingkan dengan Uni Soviet. Apakah kesempatan ini akan digunakan oleh Putin? Entahlah.

Pertanyaan serupa juga bagi negara-negara yang hidupnya menggantungkan diri pada minyak seperti Saudi Arabia, atau Iran, Iraq, Libya, Algeria, Congo, Nigeria, .... seberapa jauh  pengaruh penurunan pendapatan pemerintah dari minyak terhadap kestabilan negara-negara ini? Dan berapa lama mereka bisa bertahan?
Sejarah akan menjawabnya.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.