___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, March 22, 2009

JEPANG – NEGARA MATAHARI TERBENAM

Untuk bisa menulis di Ekonomi Orang Waras dan Investasi (EOWI), ada suatu keahlian yang wajib dimiliki, yaitu kemampuan untuk membuat argumen logis yang membuat lawannya jatuh terkapar (Inggris: bashing). Kalau pembaca perhatikan ungkapan-ungkapan di EOWI, Citigroup diolok-olok menjadi Shittygroup, ungkapan “too big to fail” menjadi “too big to bail” dan lainnya. Ungkapan itu benar, tepat dan menyodok. Contohnya pangeran Saudi Arabia, Al-Waleed bin Talal yang mencoba menolong Citigroup dengan memberikan $349 juta pada bulan November 2008 (Al-Waleed punya kepentingan di Citigroup karena dia punya saham banyak disitu, 5% - 6%), sekarang dia akan banyak mengucap : ”Yaaa.... khara!!” (Ooh shit!!) bila nama Citigroup disebut, karena menyesal. Sekarang kalau dia dimintai lagi uang untuk menolong Shittygroup, maka dia akan bilang: ”Kul kharii!!” - (artinya Hokkien: Ciak Sai; Betawi: Makan tuh taik gue; Inggris: eat my shit, Belanda: eet mijn shit; Jerman: essen meine Scheiße; Russia: есть мое дерьмо, Jawa Solo: monggo dhidahar tinjo kulo). Tentu saja akan demikian responsnya karena saham Citigroup turun dari $ 8 - $ 9, ketika Al-Waleed menyuntikkan dana menjadi $1 -$ 2 saja, 4-5 bulan kemudian. Jadi jutaan dollar nilai saham dan investasi Al-Waleed menguap 80% - 90% dan sisanya hanya 10% - 20%. Jadi tidak salah kalau Citigroup disebut Shittygroup – al khara fi NYSE.

Kali ini kita belajar istilah baru – Jepang Negara Matahari Terbenam. Kenapa EOWI menyebutnya demikian? Karena memang pantas disebut demikian, seperti Citigroup dengan Shittygroupnya.

Tujuan EOWI menyajikan tulisan ini dimaksudkan sebagai studi kasus yang berkaitan dengan stimulus ekonomi yang saat ini secara beramai-ramai digalakkan oleh semua pemerintahan di jagad raya ini. Mungkin bukan jagad raya, tetapi dunia saja. Pandangan EOWI tidak berubah, bahwa stimulus ekonomi ini tidak akan membantu memulihkan ekonomi, tetapi malah akan membebani generasi yang akan datang. Ada bukti sebagai kajian kasus. Skenario stimulasi ekonomi ini lah yang terjadi di Jepang. Memang matahari belum bisa disebut terbenam di Jepang, tetapi disana hari-hari telah senja. Prilaku manusianya pun sudah seperti manusia senja (apapun artinya).


LATAR BELAKANG – JAPAN LOST DECADE
Jepang mengalami boom ekonomi tahun 1980an. Pada masa itu dunia melihat Jepang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pusat kemajuan teknologi dan entah apalagi. Banyak hal yang dicontoh dari Jepang.

Harga-harga perumahan dan real estate melambung tinggi. Demikian tingginya sampai ada yang mengatakan bahwa harga tanah sebesar pulau Manhattan di Tokyo sama dengan harga semua tanah di California. Jadi jangan heran, ketika bubble itu kempes, yang tersisa hanya 20%nya saja. Sisanya, 80% mengalami proses penguapan selama belasan tahun.


Chart 1 Real Estate Bubble di Jepang (klik chart untuk memperbesar)

Harga saham Nikkei juga mengalami bubble. Indeks saham Nikkei mencapai level tertinggi interday 38,951 pada tanggal 4 Januari 1990. Angka ini tidak berarti apa-apa kalau tidak dikaitkan dengan earning (pedapatan) per saham. Price eaning ratio (PER) rata-rata Nikkei mencapai 100 pada puncaknya ini. Setelah tanggal 4 Januari 1990, indeks Nikkei jatuh dan sampai saat ini – 19 tahun kemudian tidak pernah mencapai level 39,000 lagi. Tepatnya saat ini hanya di level 7900an dan masih cenderung turun.


Chart 2 Indeks Saham Nikkei, setelah 19 tahun belum pulih juga.
(klik chart untuk memperbesar)

Bank-bank Jepang banyak yang hampir kolaps kalau tidak ditolong pemerintah. Tetapi suntikan dana oleh pemerintah tidak membuat bank-bank Jepang sehat, melainkan hanya mengubahnya menjadi bank zombi yang tidak mau menyalurkan kredit.

Pemerintah Jepang banyak melakukan usaha-usaha pemulihan ekonomi, tetapi selama belasan tahun, Jepang kehilangan masa keemasannya. The lost decades.


STIMULASI EKONOMI– JEMBATAN HAMADA
Usaha-usaha pemerintah Jepang untuk memulihkan ekonomi bukan main-main. Proyek-proyek infrastruktur diaktifkan. Kalau konsumen tidak bisa mempertahankan (tidak usah meningkatkan, cukup sekedar mempertahankan) konsumsinya, maka menurut resep mazhab ekonomi meneterisme Keynesian, pemerintahlah yang menggantikannya. Pemerintah mengucurkan dana trilliunan dollar selama belasan tahun untuk menahan laju mengempisan bubble dan menstimulasi ekonomi. Jalan-jalan, jembatan-jembatan, lapangan udara, di tempat jin buang anak (daerah yang terisolir) dibangun, bahkan dalam proporsi yang berlebihan. Ibaratnya, semen-semen dituangkan dimana-mana, beton-beton dibangun dimana-mana tanpa jelas berapa banyak yang akan menggunakannya. Demikian aggresivenya usaha-usaha pemerintah Jepang, kebanyakan proyek-proyek itu mubazir.

Beberapa minggu lalu di International Herald Tribune (IHT) ada cerita mengenai usaha-usaha reflasi Jepang dalam melawan deflasi yang dimulai tahun 1990 [link]. Penulisnya, Martin Fackler, memulai ceritanya dengan sebuah jembatan di sebuah desa nelayan yang sebenarnya tidak memerlukan jembatan sebesar itu. Ini cuplikannya. Namanya jembatan Hamada, berasal dari nama kampung nelayan cumi-cumi di sana. Jembatan ini menghubungkan Hamada dengan sebuah pulau kecil Setogashima di dekatnya.

In Japan, a lonesome bridge offers U.S. a lesson
By Martin Fackler Published: February 6, 2009

HAMADA, Japan: The Hamada Marine Bridge soars majestic over this small fishing harbor, so much larger than the squid boats anchored below that it seems out of place.

And it is not just the bridge. Two decades of generous public works spending have showered this city of 61,000 mostly graying residents with a highway, a two-lane bypass, a university, a prison, a children's art museum, the Sun Village Hamada sports center, a bright red welcome center, a ski resort and an aquarium featuring three ring-blowing Beluga whales.

Nor is this remote port in western Japan unusual. Rural areas across the country have been paved over and filled in with roads, dams and other big infrastructure projects, the legacy of trillions of dollars spent to lift the economy out of a severe downturn caused by the bursting of a real estate bubble in the late 1980s. During those nearly two decades, Japan accumulated the largest public debt in the developed world — totaling 180 percent of its $5.5 trillion economy — while failing to generate a convincing recovery.

Ada koreksi terhadap angka 180% dari GDPnya. Angka dari Economist, menunjukkan angka yang lebih dari 200%.


Jembatan Hamada, megah dan jarang pengguna.

Dalam artikel itu ada lagi, sebuah kota dengan penduduk 740,000 jiwa punya 3 airport komersial yang bisa didarati pesawat jet, dan hanya digunakan untuk 2 penerbangan per hari. Bisa dibayangkan bagaimana keras dan membabi-butanya usaha-usaha pemerintah Jepang untuk menahan laju deflasi dan menstimulasi ekonomi, tetapi gagal. Harga rumah di Jepang saat ini sama dengan harga di tahun 1975, dan sudah turun 80% dari level tertingginya 19 tahun lalu. Indeks Nikkei, saat ini hanya 20% di level 19 tahun lalu.

Saya mencoba meng-google search Hamada Bridge - photo, hasilnya sangat mengejutkan, karena yang disebut Hamada, benar-benar kampung. Di bawah ini adalah foto yang saya download. Sangat kampung sekali. Jembatan yang megah dan besar sangat kontras dengan perahu-perahu nelayan cumi-cumi yang bertebaran di sekitarnya.


Kampung Nelayan Hamada.

Ekonomi Hamada tidak lah besar. Pulau Setogashima yang kecil itu tidak punya ekonomi yang cukup untuk dijadikan alasan membangun jembatan sebesar jembatan Hamada. Artinya ekonomi di sekitar jembatan Hamada tidak bisa membayar pembangunan jembatan itu sendiri.

Jadi apa guna jembatan yang megah dan berharga jutaan US dollar itu? Pertanyaan itu berlaku juga untuk jembatan, jalan-jalan, dam dan infrastruktur yang dibangun pada masa the lost decades di Jepang, yang mubazir dan tidak mempunyai fungsi ekonomis atau kemakmuran.


HUTANG PEMERINTAH (JEPANG) YANG SEGUNUNG
Dari mana dana trilliunan dollar untuk penyelamatan bank dan untuk stimulasi ekonomi? Dari mana lagi kalau tidak dari hutang. Pemerintah bukan badan yang berorientasi keuntungan. Sumber dana pemerintah hanya tiga, yaitu pajak, hutang dan mencetak uang. Yang terakhir hakekatnya sama dengan pajak. Selama the lost decade, pemerintah Jepang telah mengakumulasi hutang untuk melakukan stimulasi ekonomi.

Beberapa minggu lalu, The Economist menurunkan suatu cerita mengenai hutang-hutang negara maju. Coba terka, negara mana yang terbesar? Kalau anda menyebut Jepang, maka anda benar. Hutang pemerintah Jepang adalah lebih dari 200% GDPnya, disusul Italy (105% GDP) dan US (80% GDP) [link]

Mar 9th 2009
Economist.com
Rich countries, especially, are piling up debt

AMERICA, Britain and China are among the many countries that have adopted spend-now-pay-later policies to stave off economic disaster. But giant fiscal stimuluses, tax cuts and bail-outs are weighing heavily on public finances. In a paper prepared for the forthcoming G20 summit, the IMF sets out new forecasts for government debt. Japan's debt burden, which is already the largest of the world's big economies, will reach a sumo-sized 225% of GDP in 2010. Rich countries' debt is set to grow from 83.3% of GDP in 2008 to almost 100% in 2010. Developing economies will see much smaller growth from 35.7% to 37.8% in two years, but these countries also have lower debt tolerance than rich ones


Chart 3 Hutang pemerintah beberapa negara (klik chart untuk memperbesar)

Kalau dilihat ukurannya (dibandingkan dengan GDPnya) hutang pemerintah Jepang kurang lebih tiga kali hutang pemerintah US. Ini akan menimbulkan banyak resiko yang kaitannya dengan pembayaran hutang tersebut. Memang selama ini Jepang mengalami surplus perdagangan yang cukup besar. Tetapi itu terjadi ketika ekonomi dunia (US) masih hidup bergerak. Sejak tahun 2008, Jepang mengalami defisit perdagangan yang cukup parah. Ini adalah berita nya terakhir [link].

Japan Suffers Record Trade Deficit Article
By Takashi Mochizuki , February 26, 2009
TOKYO -- Japan's trade deficit widened to its biggest level on record in January, as a global economic downturn sapped overseas demand for Japanese goods and caused exports to fall 46%, their fastest decline ever.

The figures indicate Japan's economy, which in past recessions relied on exports to recover, won't be supported by overseas demand and will continue to suffer. Analysts said there were few signs exports will pick up any time soon.

Pascal Lamy, director-general of the World Trade Organization, said during a visit to Japan Wednesday that the nation's reliance on exports makes it "particularly vulnerable" to the global slowdown.

Japan's trade deficit was 952.6 billion yen ($9.85 billion) in January, the Ministry of Finance said Wednesday. While the figure was better than forecasts of a 1.15 trillion yen deficit, it was still the largest on record.

Pushing Japan's trade scorecard deep into the red was a 45.7% fall in overall exports to 3.48 trillion yen, while imports fell 31.7% to 4.44 trillion yen.

Demikian juga dengan surplus neraca berjalannya. Sejak Januari 2009 surplus itu sudah menuap dan menjadi defisit [link].

Japan posts record current account deficit in January, 1st deficit in 13 years
Sunday March 8, 2009, 10:35 pm EDT
TOKYO (AP) -- Japan posted a record current account deficit in January, plunging into the red for the first time in 13 years due to plummeting demand for Japanese exports and a deepening global downturn, the Ministry of Finance said Monday.

The deficit stood at a record 172.8 billion yen ($1.8 billion) in January, far bigger than the previous deficit record of 25.6 billion yen in January 1996, the ministry said.

The current account is Japan's broadest measure of trade in goods and services with the rest of the world.

"We incurred the current account deficit due to a plunge in exports. Our exports to key regions, including the United States, Europe and Asia, were all down sharply due to the deteriorating global economy," said ministry official Michito Yamagami.

Jadi jangan heran kalau Yen Jepang beberapa waktu lalu mengalami penurunan yang drastis. Untuk jangka pendek, yen Jepang bisa menguat karena kredit yang dikucurkan untuk spekulasi di pasar modal dan pasar uang, yen carry trade, selama 2003 – 2008 cukup besar, dan yen credit crunch, untuk sementara akan mendominasi trend yen. Bila yen-deleveraging atau repatriasi yen sudah selesai, maka yen akan kembali pada trend jangka panjangnya, yaitu turun.

BUDAYA MENABUNG YANG SEKARAT
Saya agak terkejut ketika memperoleh data-data kecenderungan menabung dari rumah tangga (household saving rate). Bahwa ternyata rakyat Jepang lebih sedikit atau kurang lebih sama dengan rakyat US dalam budaya menabung, bagi saya agak sukar dipercaya. Sebab, Asia, termasuk Jepang biasanya dicitrakan sebagai bangsa yang gemar menabung. Apalagi Jepang yang dicitrakan sebagai bangsa dengan disiplin yang tinggi. Harapannya, tentunya rakyat Jepang juga disiplin terhadap penggunaan uangnya. Ternyata citra ini salah.

Berdasarkan google search saya, sudah banyak artikel tentang erosi terhadap kecenderungan menabung rakyat Jepang. Banyak diantaranya dikeluarkan oleh Bank of Japan seperti kutipan di bawah ini.

The Decline of Japan’s Saving Rate and Demographic Effects
(Maiko Koga – Bank of Japan)

The Japanese economy experienced a long stagnation called “the lost decade,” but the decline in the household saving rate also continued during this period. Our investigation provides an empirical analysis to explain this phenomenon. In our study, the relationship among the saving rate, demographic factor, and income factor can be described as a cointegration and error-correction mechanism. Our results show that there exists a force that brings deviations back to the long-run equilibrium where the above mentioned factors are cointegrated. Therefore, the demographic factor was a major cause of the sharp decline in the Japanese saving rate in the 1990’s. Furthermore, in this equilibrium we estimate that the impact each age group has on the macroeconomy is described as a hump-shaped curve, which is consistent with what the life-cycle model implies.

Further examinations are left for future study. Though our framework has assumed that the effect of the life-cycle curve is constant, the shape might be determined simultaneously with consumers’ labor supply decision. Due to the recent increase in the number of the elderly, giving consideration to their labor supply is of growing importance in analyses of consumption and saving behavior.

Maiko Koga menggunakan regressi dan model matematik dalam analisanya. Saya agak malas untuk mencernanya, karena lebih tepat sebagai diskusi akademis dari pada diskusi praktis pasar modal. Disamping itu menurut saya, analisa tersebut lebih baik menggunakan model ekonomi umum (general economic model) yang melibatkan ratusan state-variables, dan puluhan observable-variable. Saya enggan membahas model-model seperti ini karena lebih cocok untuk kegiatan akademis. EOWI bukan arena akademis, tetapi lebih condong ke praktis.

Menurut Maiko Koga dan juga periset-periset lain bahwa penurunan kecenderungan menabung disebabkan karena faktor demografi Jepang yang menua. Sepintas pernyataan ini agak menyimpang dari sifat psikologis orang tua. Orang tua cenderung untuk hemat dan menabung. Tetapi kemudian saya pikir bahwa sifat orang tua yang hemat dan cenderung menabung masih berlaku, hanya saja penghasilannya sudah berkurang dan biaya hidup juga tinggi (karena pajak). Oleh sebab itu yang bisa ditabung makin lama makin sedikit. Kemampuan menabung turun. Itu lah yang membuat masyarakat Jepang tidak bisa menabung. Bukan karena mereka tidak mau menabung. Sekedar untuk perdebatan akademis, periset-periset seperti Maiko Koga, tidak memasukkan faktor “emosi dan kecenderungan” masyarakat menabung dalam variablenya. Variable ini memang bukan “observable” variable. Variable ini bisa dimasukkan ke dalam model dengan penanganan tertentu. Bagi pakar ‘control theory’, penanganan semacam bukanlah hal yang asing.

Kecenderungan menabung masyarakat Jepang mengalami puncaknya tahun 1974 (Chart-4). Sejak itu tingkat menabung ini turun. Dan di tahun 2009 adalah -0.2% (minus 0.2%). Di pihak lain ekonomi mengalami kemajuan pesat dan bubble sampai tahun 1990. Yang menarik ialah kecenderungan menabung naik selama 2 tahun setelah bubble (real estate dan bursa saham) di Jepang meletup. Tetapi kecendurungan menabung ini menurun lagi.


Chart 4

Saya perkirakan dari tahun 1974 sampai 1990 Jepang mengalami penggembungan kredit. Bubble kredit ditiup. Itu yang membuat masyarakatnya tidak bisa menabung. “Buy now and pay later with the interest”. Falsafah hidup semacam itu tumbuh dengan cepat sejak tahun 1970an di Jepang.

Setelah bubble meletup, terjadi deflasi asset. Pada saat ini, hutang masyarakat sudah menumpuk (hutang/kredit untuk beli rumah, mobil, dsb), sehingga akan lebih memberatkan masyarakat Jepang untuk menabung. Harus diingat bahwa pada masa ‘deflationary depression’, memenuhi kewajiban hutang akan lebih sulit. Jadi tidak heran kalau masyarakat Jepang mengalami kesulitan untuk menyisihkan penghasilannya untuk ditabung. Jepang bukan lagi negara matahari terbit. Hutang pemerintah nya akan membebani rakyatnya dimasa datang. Apalagi kalau dalam krisis ini pemerintah Jepang akan berhutang untuk mengucurkan lagi stimulasi ekonomi.

Dalam kaitannya dengan krisis yang dimulai tahun 2007, saya ingin membandingkan antara tingkat kecenderungan menabung US dengan Jepang (Chart-5). Saat ini tingkat menabung di US naik ke 3% dari 1%. Dari kasus Jepang, bisa diasumsikan bahwa 1-2 tahun lagi, trend menabung di US akan kembali menurun, karena masyarakat US tidak mampu lagi menabung. Dimasa ‘deflationary resession/depression’, memenuhi kewajiban hutang akan lebih sulit. US (dan Eropa yang juga mengalami bubble kredit) akan mengalami masa depressi seperti Jepang. Lama.


Chart 5



RENUNGAN
Sejarah dan alur pemikiran yang logis membuktikan bahwa stimulasi ekonomi bukannya akan membawa manfaat, tetapi malah akan membuat kesengsaraan lebih lama. Pemerintah tidak bisa menciptakan lapangan kerja ‘per se’. Esensi dari stimulasi ekonomi, tidak lain adalah memindahkan konsumsi masyarakat menjadi proyek/pengeluaran pemerintah. Bagi orang waras dan mau berpikir, kenapa penggunaan uang saya harus pemerintah yang menentukannya (seperti membangun jembatan yang tidak berdaya guna banyak, infra struktur yang jarang digunakan). Dan seringnya dipakai untuk hal-hal yang tidak punya nilai tambah untuk kemakmuran (seperti pemilu di Indonesia saat ini).

Penyelamatan AIG, GM, Ford dan lainnya, bagai membuang uang ke dalam ‘black hole’. AIG dan GM akan terus meminta tambahan dana. Seperti GM, seharusnya sudah bangkrut karena pasar untuk produknya sudah menciut dan konpensasi untuk karyawannya terlalu tinggi. Kapasitas produksi mobil di US terlalu besar untuk memenuhi permintaan dan kemampuan pasar US yang waras (yang tidak ditunjang kredit). Oleh sebab itu, membangkrutkan GM akan lebih baik. Sehingga kapasitas produksi otomatif US terpangkas sampai sebatas kemampuan daya beli masyarakat US. Pekerja indutri otomotif US harus melupakan serikat pekerjanya dan mau menurunkan standard gaji dan konpensasinya untuk meningkatkan daya saing industri otomotif US sehingga secara keseluruhan sistem bisa mencapai keseimbangan. Saat ini uang pajak masyarakat dipakai untuk membayar upah pekerja GM yang ‘over paid’ atau eksekutif AIG yang ‘over-paid’. Ini beban untuk masyarakat dan sistem ekonomi. Parasit semacam ini harus dipisahkan dan dibiarkan beradaptasi tanpa induk semangnya.

US dan Eropa akan menapak pada jalan yang sama dengan Jepang. Bedanya, ketika deflasi-depressi dimulai di Jepang, tingkat kecenderungan menabung masyarakat Jepang masih tinggi. Sedang US, memulai masa deflasinya dengan tingkat kecenderungan menabungnya yang rendah. US akan mengalami kepahitan yang lebih parah. Pemerintahannya akan membuat segunung hutang seperti Jepang. GM, AIG dan ekonomi US akan menjadi ‘too big to bail’ seperti ekonomi Jepang bukan ‘too big to fail’. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Jepang sudah terbebas. Generasi berikut di Jepang masih akan terbebani oleh hutang negaranya yang setinggi gunung. Hutang negara seperti dosa bawaan, akan terbawa terus sampai keanak cucu. Cara menyelesaikannya, adalah pengorbanan. Siapa yang harus dikorbankan? Saya pikir anda tahu jawabannya.

Apakah anda berpikir intervensi yang minimal seperti saya? Intervensi pemerintah tidak akan mempersingkat dan meringankan kesengsaraan di masa krisis ekonomi. Malah sebaliknya, akan memperlama dan memperdalam. Anda perlu renungkan kembali. Raihlah kewarasan anda kembali. Pilih kursi kosong!! Kurangi birokrasi yang hanya membawa kesengsaraan.

Jakarta 22 Maret 2009.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

4 comments:

Blue said...

Aduh mas IS. Kalau apa ayang anda tulis itu benar, maka rasanya kita sudah diambang World War III. Berapa persen kemungkinan itu mas IS ?

Imam Semar said...

@Blue,
Itu bukan kata saya, tetapi kata pakar periset. Saya cuma menggabung-gabungkan datanya/ceritanya saja.....

Hartono said...

Hubungan antara cadangan devisa dengan hutang gimana yah? Bukankah cadangan devisa Jepang cukup besar? Selain itu, di daftar negara-negara dengan hutang yang besar tercantum China yang memiliki cadangan devisa terbesar. Pertanyaannya, mengapa tidak menggunakan cadangan devisa untuk melunasi utang? Apakah cadangan devisa tidak sama dengan surplus cash?

Kalau Indonesia nggak usah dingomong deh, dengan bangga mengatakan cadangan devisa 50 miliar dollar, tertinggi sepanjang pemerintahan, tetapi tingginya cadangan devisa itu sebagian karena pencairan utang. Sama aja boong, mending saya nggak punya uang, tapi nggak punya utang, daripada ngomong punya uang 1 miliar, tetapi berutang 2 miliar.

Imam Semar said...

@Hartono,

Silahkan mencerna sendiri data statistik Jepang ini.

GDP: $4.5 trilliun
Hutang Pemerintah: $9 trilliun
Cadangan Devisa: $ 1.6 trillun (Feb 09).

Mengkerut menjadi $ 1. trilliun.

Mengapa tidak menggunakan cadangan devisa untuk melunasi hutangnya?

1. Hutang pemerintah Jepang dalan yen, bukan US$. Kalau hutang pemerintah dalam bentuk US$ bisa pakai cadangan devisa. Bank of Japan beli surat hutang pemerintah Jepang dalam bentuk yen, ditukar dengan US$ dan pemerintah bayar hutang.

2. Cadangan devisa lebih dikaitkan dengan perdagangan dan bisinis (termasuk hutang) dengan luar negri. Turunnya cadangan devisa Jepang dari $1.6 T ke $1.0 karena banyak perusahaan menukarkan yennya dengan US$ untuk bayar hutang (dalam US$).

3. Cadangan devisa bukan surplus cash pemerintah. Bukan harta pemerintah.

Jadi cadangan devisa tidak ada kaitannya dengan 'kekayaan' pemerintah Jepang.