___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, November 29, 2014

Currency Wars I: Return of the Dollar



Return of the Jedi adalah judul film sekuel The Star Wars. EOWI meniru-niru judul tersebut bukan karena ada kemiripan antara US dollar dan kisah film the Star Wars itu, tetapi karena sekedar enak didengar. Currency Wars dengan Star Wars dan Return of the Dollar dengan Return of the Jedi, enak didengar ‘kan?

Belum lama dalam ingatan kita, banyak opini yang mengatakan bahwa yuan atau euro akan menggantikan US dollar. Dominasi dollar akan memudar. Mesin cetak uang yang ada di the Fed, bank sentral Amerika Serikat, mencetak dollar dengan kecepatan penuh. The Fed berusaha mati-matian untuk menjatuhkan nilai dollar. Harapannya tentu akan ada inflasi yang tinggi, harga-harga melambung terhadap US dollar, suku bunga di Amerika Serikat akan melambung dan nilai dollar terhadap mata uang lainnya akan anjlok. Dari semua itu, yang menjadi kenyataan adalah jumlah uang yang dicetak memang meningkat, selebihnya (nilai dollar anjlok, suku bunga melambung, inflasi terbang tinggi) tidak menjadi kenyataannya. Malah sebaliknya. Suku bunga deposito dollar masih rendah, nilai dollar menguat dan inflasi masih rendah dan tenang-tenang saja. Apa yang diperbuat the Fed tidak mencapai tujuan yang diinginkannya. Apa yang terjadi?

EOWI akan melakukan analisa dari beberapa data ekonomi yang didokumentasikan oleh the Fed, bank sentral Amerika Serikat. Analisa ini akan dipecah dalam beberapa seri yang bertajuk Currency Wars. Pemecahan ini karena panjangnya cerita dan dimaksudkan agar supaya pembaca rajin mengunjungi situs EOWI.

Kalau ada ada cerita film Star Wars, maka EOWI mau bikin cerita mengenai Currency Wars, perang melawan mata uang (sendiri). Kenapa ada perang melawan mata uang (sendiri), mungkin didasari oleh paham Ekonomi Keynesian. Hal ini terutama dilakukan oleh negara-negara yang ekonominya berbasis ekspor. Karena banyak pemerintahan menginginkan negaranya unggul di dalam ekspor, maka perang melawan mata uang (sendiri) menjadi fenomena yang mengglobal. Memang perang melawan mata uang (sendiri) tidak pernah diproklamirkan. Tetapi secara data, hal tersebut terlihat. EOWI akan menyajikan hal ini pada tulisan berseri ini.

Intinya, setiap negara akan berusaha menjatuhkan nilai mata uangnya sendiri. The Fed di Amerika Serikat akan berusaha menjatuhkan nilai dollar. Banyak usaha yang telah dilakukannya. Yang sekarang populer dengan nama Quantitative Easing (QE) adalah nama lain dari tindakan-tindakan yang sebelumnya yang intinya mencetak duit dan menggelontorkan likwiditas. Tujuannya, menurut teori, untuk memicu inflasi. Dengan adanya inflasi maka orang tidak akan menyimpan uangnya melainkan membelanjakannya (alasannya takut kalau besok harga naik, seperti yang diadvertensikan oleh pengembang-pengembang properti: Besok Harga Naik).  Bank of Japan, sentral bank Jepang sudah melakukannya selama 25 tahun. Dan selama 25 tahun itu, bukannya yen melemah, tetapi malah naik terus (sampai kwartal terakhir 2014)! Inflasi masih didekat nol, konsumen lebih suka menabung alias tidak mau meningkatkan konsumsinya.

Persoalan utama dari the Fed (kenapa the Fed gagal menjatuhkan nilai dollar), karena bukan the Fed saja yang melakukan perang melawan mata uangnya sendiri. Negara-negara lain juga melakukan hal yang sama dan mementahkan usaha-usaha the Fed. Kalau the Fed mencetak dollar, kemudian bank sentral Jepang, Cina, Eropa, the fragile five, Canada dan lain sebagainya, melakukan gerakan beli dan sapu bersih dollar yang dikeluarkan oleh the Fed dan memasukkan ke dalam brankas mereka (bank-bank sentral ini) sebagai cadangan devisa. Maka hasil akhir yang terjadi adalah peredaran mata uang negara-negara ini yang lebih lancar dari pada dollar sendiri. Di pihak lain pelaku bisnis swasta dan konsumen US mengurangi hutang mereka, sehingga permintaan dollar menurun. Usaha-usaha the Fed mentah kembali. Itu adalah inti dari hasil analisa EOWI.

Secara ringkas, pihak-pihak yang terlibat dalam currency war ini adalah the Fed melawan US dollar. Tetapi dollar tidak sendiri tetapi dollar yang jelek ini memperoleh bantuan dari bank-bank sentral dunia bersama konsumen US, pelaku bisnis, serta spekulan besar seperti George Soros, spekulan kecil seperti Imam Semar dan para pengikutnya yang sedang membaca tulisan ini. Kelihatannya dengan dukungan konsumen US, pelaku bisnis serta para spekulan, US dollar kembali menguasai medan pertempuran. Return of the dollar - US dollar kembali.

Secara tidak sengaja, 2 minggu lalu saya melihat-lihat indeks US dolar (seterusnya disebut indeks dollar). Secara mengejutkan ternyata US dollar tidak selalu menurun terhadap sekeranjang mata uang negara lainnya seperti yang sering dipersepsikan media selama ini. Pada periode tertentu yang ukurannya dalam bilangan dekade, US dollar mengalami peaking  atau berada pada titik puncak, seakan membentuk pengulangan atau siklus. Memang untuk setiap siklus yang menjadi motor penyebabnya tidak selalu sama, oleh sebab itu mengkaitkan pasang surutnya nilai dollar dengan suatu parameter makro ekonomi akan gagal. Siklus sebelumnya belum tentu disebabkan oleh hal yang sama dengan siklus saat ini. Tetapi secara keseluruhan penyebab-penyebab ini membuat US dollar mengalami siklus 17 tahun.

Untuk siklus saat ini, dollar akan menanjak terus dan puncak dollar mendatang akan berada di tahun 2019. Tanpa mencoba untuk mengganthuk-gathukkan, kesimpulan ini sejalan dengan siklus Kondratief versi EOWI, yang mana (siklus ini) akan menyebabkan krisis 2014 – 2020. Dengan kata lain, krisis yang disebabkan oleh penguatan US dollar adalah bagian dari deflasi US dollar di masa Kondratief winter (silahkan baca laman Gejolak 2014 – 2020).

Seorang analis akan mencoba mencari data yang mendukung opininya dan mengabaikan, membuang, menyembunyikan data yang melemahkan hipotesisnya. Kami di EOWI berusaha untuk tidak melakukan hal tersebut, karena tindakan seperti itu akan menjebloskan diri sendiri ke dalam jurang kehancuran finansial. Dalam kaitannya dengan tulisan tentang dollar dan kembalinya dollar ini, pada awalnya, EOWI mengamati data-data indeks dollar sejak dari tahun 1964 sampai 2014 dan menemukan adanya pengulangan titik klimaks (puncak) di setiap 17 tahun. Dan titik klimaks/puncak berikutnya adalah di tahun 2019, membuat EOWI mengkaji kembali keterkaitan US dollar dengan siklus Kondratief.

Untuk panjangnya rentang siklus, EOWI juga melihat kekuatan dibalik kembalinya dollar. Seperti banyak yang diberitakan di media, the Fed, bank sentral Amerika menggelontorkan likwiditas mencetak dollar dengan melakukan monetezation hutang sejak krisis subprime 2008 yang seharusnya membuat nilai dollar jatuh, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Dollar malah menguat, dan seakan mengatakan: “I am returning“ – Aku datang! Dengan kata lain kekuatan dibalik penguatan dollar ini kuat.


Mekanisme Pasang-Surutnya Dollar
Pada jaman modern ini, lalulintas aliran modal bisa berjalan relatif lancar dan cepat dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Keluar-masuknya modal ke/dari sebuah negara sulit bisa dibendung. Kita bisa melihat krisis moneter sering  terjadi di negara-negara pinggir, Zimbabwe, Argentina, Brazil, Mexico, Indonesia,  dan juga negara-negara sentral ekonomi dunia seperti US, Jepang dan negara-negara Uni Eropa. Krisis yang mengenai suatu negara bisa (tidak selalu harus) merambat ke negara lain. Krisis di Brazil bisa merambat ke negara-negara Amerika Selatan lainnya. Krisis di Thailand tahun 1997 merambat ke Malaysia, Singapura, Indonesia dan akhirnya ke Korea, Taiwan dan lainnya. Krisis subprime di US (2007) merambat ke seluruh dunia. Jaman dulu, pengaruh perubahan moneter/ekonomi di suatu negara ke negara lain juga ada. Tetapi mungkin tidak secepat masa sekarang. Dimasa modern ini, pengaruh ekonomi/moneter suatu negara ke negara lainnya berjalan lebih cepat dikarenakan oleh semakin terintegrasinya ekonomi dunia.

Sebagai reserve currency (mata uang cadangan devisa), aliran US dollar mempunyai pengaruh yang besar terhadap kekuatan banyak mata uang. Penguatan dollar terhadap suatu mata uang merupakan cermin dari aliran modal yang tidak lain juga, kondisi ekonomi relatif di US dengan di negara tersebut. Apakah kondisi ekonomi itu tumbuh, melambat, penuh spekulasi bubble atau pada kondisi bubble yang pecah.

Secara logika, ada beberapa faktor dinamis yang menyebabkan US dollar naik/turun nilainya:
1.      Untuk cadangan devisa suatu negara pada saat ada surplus transaksi berjalan (membuat mata uang  negara tersebut naik terhadap dollar) dan nantinya bisa digunakan  untuk pembelian barang impor (akan menekan mata uang negara tsb.)
2.      Devaluasi mata uang negara lain untuk membuat ekspor mereka lebih kompetitif sehingga ekspor negara tersebut  bisa ditingkatkan
3.      Permintaan untuk spekulasi (lebih condong ke kredit) seperti carry tradehot money
4.      Tempat berlindung terhadap krisis – hot money dan dana investasi portfolio
5.     Tarik (pengetatan)-ulur (pelonggaran, seperti QE) yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat, the Fed.

Poin-poin di atas cukup diskriptif sehingga tidak perlu dibahas. Yang lebih penting adalah membahas apa yang sedang berlaku saat ini sampai 5 tahun mendatang.


Siklus Dollar 17 tahunan
Berikut ini adalah chart indeks dollar dari tahun 1964 sampai 2014. Kalau diperhatikan ada semacam siklus 17 tahunan yang diukur pada peak atau puncaknya. Jarak antara peak-to-peak, atau  jarak antara 2 titik puncak adalah 17 tahun. Titik puncak pertama di tahun 1968, dollar bertengger sekitar 2 tahunan di level 120. Agak sulit untuk memeriksa awal mula bull market dollar yang terjadi sekitar tahun 1960 – 1962 atau lebih awal lagi, karena pada periode ini US dollar dikaitkan dengan emas. Tetapi patut diduga adanya kaitannya dengan percepatan pertumbuhan ekonomi di US selama tahun 1955 – 1968. Disamping itu tahun 1951 – 1968 adalah masa commodity secular bear market setelah masa puncaknya di tahun 1951. Kombinasi menurunnya (murahnya) harga bahan komoditi, percepatan pertumbuhan US, Jepang dan Jerman membuat kebutuhan dollar sebagai mata uang dunia meningkat.  Neraca transaksi berjalan US mengalami surplus dimasa itu.

Chart - 1 (klik chart untuk memperbesar)

Kemudian setelah peaking di tahun sekitar 1968 – 1970 (sebut saja 1968), masuklah dollar ke masa bear market dollar 1968 – 1980 yang di latar belakangi oleh besarnya inflasi dan defisit budget US akibat perang Vietnam dan dilanjutkan dengan masa commodity bull market 1970 – 1980 yang membuat banyak US dollar keluar dari negaranya. Impor US terutama minyak mentah mahal harganya membuat US mengalami defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan secara kronis dimulai tahun 1971 sampai tahun 1980. Selama masa commodity bull market tahun 1970 – 1980 dollar terbantai.

Ada faktor lainnya yaitu hilangnya kepercayaan terhadap dollar sebagai akibat keputusan Presiden Richard Nixon untuk memutuskan hubungan antara dollar dengan emas. Disamping itu juga karena dominasi US di perekonomian dunia berkurang dengan munculnya Jerman dan Jepang sebagai pendatang baru yang bangkit dari keterpurukan di perang dunia II. Ketidak percayaan terhadap dollar memuncak di tahun 1980, inflasi harga mencapai  14.5%. Investor melarikan uangnya ke emas, perak dan real assets, hard assets sehingga membuat mania di sektor emas, perak, bahan komoditi dan hard/real assets dengan intensitasnya tidak pernah terjadi dalam sejarah.

Kepercayaan terhadap dollar dipulihkan oleh Paul Volcker ketua bank sentral US yang naik tahta pada tahun 1979. The Fed menaikkan suku bunga ke level yang tidak pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya  dan saat ini. Bunga effective fed mencapai di atas 19%. Dan tindakan ini membuat kepercayaan investor pulih. Pelarian dollar ke emas dan real assets, mengalami pembalikan arah. Arus balik ke US dollar, sebagai manifestasi pulihnya kepercayaan terhadap US dollar menjadi dasar dari periode bull market dollar 1980 – 1985.


Sektor komoditi yang memasuki secular bear market, ikut melontarkan dollar ke atas. Di sektor komoditi (minyak), dengan ditemukannya cadangan minyak dan gas yang cukup besar di Laut Utara (North Sea) di masa boom minyak  1970 – 1980, memungkinkan dibangunnya infrastruktur dan selanjutnya pengembangan temuan minyak di sana menjadi murah. Hal ini membuat dunia kebanjiran kapasitas produksi minyak, sehingga harga minyak tertekan untuk beberapa dekade sampai cadangan minyak/gas tersebut mengempis dan kapasitas produksi menjadi cukup rendah.  Harga minyak dan komoditi lainnya mulai menggeliat lagi setelah tahun 2000.


Obat yang diberikan Paul Volcker hanya bertahan sampai 1985. Dollar kembali keluar dari negaranya. Banyak peluang yang lebih menarik di luar US sana. Jepang mengalami booming di tahun 1980 – 1990, setidaknya tahun 1985 – 1990 adalah masa masuknya dollar ke Jepang. Kemudian munculnya macan-macan Asia, seperti  Korea (Selatan), Taiwan dan emerging market seperti Indonesia, Thailand, Brazil dan lain-lain.  Dollar juga mengalir kesini.

Dollar mengalami bull market kembali tahun 1995 – 2002. Investor kembali melarikan assetnya dari berbagai negara ke US dollar sebagai tempat yang dianggap aman. Yang menjadi sebab adalah krisis timbul di berbagai negara. Mulai dari Tequila crisis (Desember 1994), krisis Asia (Krismon – 1998), Krisis LTCM (1998), krisis Russia (1998), ketakutan terhadap Y2K dan meledaknya bubble Nasdaq (2000). Di Amerika Selatan ada Great Depression Argentina (1998 – 2002), Brazil (1998 – 1999).

Dari semua krisis yang menjadi later belakang dollar bull 1995 – 2002, yang prosesnya panjang adalah krisis Russia (1990 – 1995). Russia setelah runtuhnya Uni Soviet di tahun 1990 mengalami masa yang bergejolak. Pertumbuhan ekonomi Russia mengalami kontraksi, krisis demi krisis muncul Ada beberapa Black Tuesday terjadi yaitu, 22 September, 1992 dimana rubel jatuh 17%, setelah itu 26 Januari 1993 rubel jatuh 15% dalam beberapa hari dan kemudian 11 Oktober, 1994 dimana rubel jatuh 27%.  

Dollar mengalami masa bear lagi di tahun 2002 – 2011. Alan Greenspan merespon pecahnya bubble tech Nasdaq dengan membanjiri ekonomi dengan likwiditas. Gayung disambut, kredit murah digunakan untuk spekulasi di sektor perumahan dan saham di hampir seluruh dunia terlebih di emerging markets. Bubble-bubble muncul di berbagai sektor, seperti komoditi, emas, properti  dan saham di berbagai negara. Dollar mengalir keluar, ke emerging market, Cina dan negara-negara penghasil komoditi. Akibatnya nilai dollar turun terhadap hampir semua mata uang.  Dollar mencapai titik nadirnya di tahun 2007, ketika terjadinya krisis subprime. Investor melarikan assetnya ke tempat yang aman yaitu US dollar, sehingga membuat dollar rebound dari level 71 ke 88  pada indeks dollar. Tetapi ini tidak berumur panjang, karena bank sentral US menggelontorkan likwiditas lagi. Dollar mengetest bottomnya di level 71 sekali lagi di tahun 2011. Petanyaannya, apakah kembalinya dollar ke level 71 adalah yang terakhir kalinya untuk siklus dollar 2002 – 2019? Atau akan kembali lagi sebelum tahun 2019? Pasalnya beberapa waktu yang lalu indeks dollar sudah menantang kembali resistannya di level 88.

Untuk memastikan hal tersebut, kita akan melihat beberapa sektor  yang bisa dijadikan indikator. Antara lain seperti sektor komoditi dan emas, mata uang negara-negara berkembang dan mata uang beberapa punya potensi sebagai saingan dollar.


Belum Pernah Terjadi Sebelumnya?
Harus diakui bahwa krisis mendatang (yang sedang berlangsung) tidak pernah terjadi sebelumnya, setidaknya sepanjang sejarah hidup kita. Sehingga sulit untuk mencari analoginya. Yang terdekat adalah krisis deflationary tahun 1930an. Tetapi ada perbedaan yang mendasar yaitu dollar masih dipatok terhadap emas. Saat ini para goldbugs bisa mengklaim bahwa emas adalah uang sejati. Tetapi secara defacto, saat ini emas tidak digunakan sebagai cadangan devisa utama di kebanyakan negara, emas tidak digunakan sebagai alat perdagangan dunia, harga-harga barang di perdaganganan internasional tidak dalam emas melainkan dalam US dollar. Perbedaan utama lainnya adalah, bahwa bank-bank sentral saat ini bisa mencetak uang secara leluasa untuk menghindari kebekuan kredit. Di tahun 1930an semua itu harus dilandasi oleh emas. Walaupun bank sentral Amerika Serikat melakukan devaluasi dollar dari $ 20 ke $ 34 per oz emas, tetapi ini tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan monetization of debt (bank sentral membeli asset hutang seperti bond, hutang hipotek, dsb dengan uang yang dicetaknya) yang dilakukan bank-bank sentral. Mungkin bisa dikatakan sama hanya skalanya dan keleluasaannya berbeda. Itulah perbedaan utamanya.
                                                       
Persamaan lainnya adalah kondisi pasar komoditi. Komoditi mengalami peak (puncak siklus) di tahun 1920 dan tahun 1929 ada pada pertengahan periode commodity bear market nya. Tahun 1920 – 1929 pasar sedang dalam masa kosolidasi. Tetapi kemudian deflasi 1930an menendang komoditi ke dasar jurangnya di tahun 1933. Pada saat ini puncak commodity bull market sudah berlalu 6 tahun lalu (2008). Dan pasar sedang dalam fase kosolidasi. Misalnya harga minyak sudah jatuh dari $140 per bbl (2008) dan mengalami konsolidasi di sekitar $ 90 - $ 110 (catatan, pada hari tulisan ini diturunkan, harga minyak anjlok ke $ 68 per bbl). Memang tidak seluruhnya mirip, terutama pada rentang waktunya.  Pada krisis 1930an, hanya memerlukan waktu 3 tahun untuk membuat commodity bull tersungkur ke dasar jurang, sedangkan krisis saat ini sudah 6 tahun konoditi belum tersepak ke dasar jurang. Walaupun sudah babak belur.

Memang detail mekanismenya dikatakan belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi untuk beberapa hal ada kemiripan. Kita akan berusaha untuk menelaahnya mekanistik cara kerja krisis ini dalam kaitannya dengan aliran dollar sebagai pengganti (analog) emas di tahun 1930. Sedangkan emas akan diperlakukan sebagai bahan komoditi.


Defisit Perdagangan US Menyempit, yang Lain Melebar
Commodity bull market 2000 – 2011 membuat banyak perubahan di bidang komoditi Amerika Serikat. Negara yang bebas memungkinkan pelaku ekonomi/bisnis melakukan inovasi di bidang eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alamnya secara lebih leluasa, dibandingkan dengan negara-negara yang mempunyai sistem sentralisasi, pembangunan dan pengelolaan ekonomi yang top-down seperti Indonesia. Di bidang minyak, sektor bisnis Amerika Serikat memanfaatkan tingginya harga minyak untuk mengembangkan cadangan-cadangan minyak yang tidak lazim seperti shale oil  dan shale gas serta coal bed methane. US yang sejak lama dikenal sebagai net importir minyak yang besar, berubah menjadi eksportir minyak. Akibatnya, defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan US sejak tahun 2006 (tahun ke 6 commodity bull market) mengalami perlambatan dan secara bertahap menciut (Chart-2).

Chart - 2 (klik chart untuk memperbesar)

Dollar yang digunakan oleh pemiliknya untuk membeli barang dari negara lain dibandingkan tahun tahun sebelumnya berkurang/lebih sedikit. Dollar yang keluar kandang lebih sedikit. Kalau faktor-faktor lainnya sama, maka penciutan defisit ini adalah satu faktor yang membuat penurunan nilai dollar diperlambat. Kenyataannya dollar semakin menguat. Tentunya ada faktor-faktor lain yang bersinergi dengan faktor penciutan defisit.


Bank-Bank Sentral Menumpuk Dollar/Melemahkan Mata Uangnya
Sulit membayangkan sebelumnya, kalau bank-bank sentral di dunia menumpuk US dollar. Kalau suatu negara mengalami surplus perdagangan atau surplus transaksi, kemudian cadangan devisanya naik, adalah wajar. Karena dengan adanya surplus ini, maka US dollar yang masuk ke negara tersebut lewat transaksi perdagangan, investasi atau keuntungan perusahaan. Harus diingat bahwa US dollar adalah mata uang yang digunakan dalam perdagangan internasional dan secara otomatis menjadi mata uang yang digunakan sebagai cadangan devisa. Jika suatu negara mengalami defisit perdagangan atau defisit transaksi, kemudian cadangan devisanya meningkat, adalah tidak wajar. Seharusnya, dengan adanya defisit, sebagian dollar yang ada di dalam cadangan devisa akan keluar untuk menutup defisit itu.

Pada kenyataannya jumlah US dollar yang dijadikan cadangan devisa terus menanjak (Chart-3), seakan tanpa berhenti, ada krisis atau tidak. Juga tidak pandang apakah defisit US menyempit atau melebar.  Hanya ada satu kesimpulan bahwa bank-bank sentral di dunia sedang berlomba-lomba melemahkan mata uangnya. Dengan membeli US dollar yang beredar (dengan menggunaka mata uang lokal untuk membayarnya) artinya mereka mencetak mata uang mereka (lokal/negara tersebut). Ini bisa dilihat cadangan devisa untuk masing-masing negara.

Chart - 3 (klik chart untuk memperbesar)

Memang cadangan devisa suatu negara tidak semata-mata hanya US dollar (Chart-4). Masih ada yang lain, seperti Euro dan Yen (selebihnya kecil porsinya) serta asset yang tidak konvensional juga saham, bond perusahaan dan emas. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini pemakaian US dollar sebagai cadangan devisa meningkat 3 kali lipat, dari $ 4 triliun ke hampir $ 12 trilliun. Memang porsinya turun dari 66% ke 61%, tetapi secara kwantitas naik menjadi 3 kali lipat. Jadi kesimpulannya, bahwa US dollar masih dikoleksi oleh bank-bank sentral dunia, apapun alasannya.

Kita akan melihat cadangan devisa beberapa negara. Untuk mudahnya, kita assumsikan bahwa perubahan cadangan devisa adalah identik dengan perubahan US dollar di dalam brankas bank sentral suatu negara. Walaupun kenyataannya tidak sepenuhnya dollar. Tetapi demi kepraktisan, maka kita assumsikan sebagai dollar.
Chart - 4 (klik chart untuk memperbesar)


Wilayah Euro, yang secara ekonomi terbesar setelah US, nampak cadangan devisanya naik terus. Memang tidak semua cadangan devisanya US dollar, tetapi US dollarnya dominan. Padahal neraca transaksi berjalannya relatif berimbang dilihat dalam kurun waktu yang lama. Surplus dan defisit silih berganti. Kenaikan cadangan devisanya bukan karena surplus dalam arti yang alamiah, melainkan sentral bank Eropa memang mengkoleksi dollar untuk melemahkan Euro. Dollar dibeli dengan Euro dan dollarnya disimpan. Diharapkan Euro beredar, sedangkan dollar mengendon di brankasnya. Usaha-usaha bank sentral Eropa berhasil. Sejak tahun 2008 secara bertahap Euro melemah terhadap US dollar.


Chart - 5 (klik chart untuk memperbesar)


Saat ini bank sentral Eropa nampak sudah kehabisan tenaga. Pengkoleksian dollarnya dalam setahun ini agak menyurut. Apakah ini hanya sekedar untuk menarik nafas sebelum melakukan serangan berikutnya? Entah lah.

Walaupun polanya sama, kasus yuan Cina agak lain dibandingkan dengan Euro. Cina mengalami surplus transaksi, tetapi sejak tahun 2008 (krisis subprime) surplus ini turun ke level $ 50 milyar saja dari hampir $ 110 milyar pada puncaknya. Tetapi cadangan devisanya menanjak dengan kecepatan yang sama, tanpa ada perlambatan sama sekali (Chart-5). Kalau menggunakan pola pikir sederhana, dengan berkurangnya surplus, maka dollar yang masuk ke Cina lebih sedikit. Dengan demikian, penumpukan cadangan devisa agak melambat. Kenyataannya tidak demikian. Hanya ada satu penjelasan, yaitu bank sentral Cina juga mengumpulkan US dollar untuk melemahkan mata uang yuan. Usaha-usaha bank sentral Cina memang belum membuahkan hasil yang nyata saat ini. Tetapi pada saatnya Tuhan akan mengabulkan harapan dan doa orang-orang di bank sentral Cina. Ketika bubble properti di Cina meletus Tuhan akan merapel doa orang-orang di bank sentral Cina selama ini dan yuan akan diterjun bebaskan.


 Chart - 6 (klik chart untuk memperbesar)


Sekarang kita beralih ke negara yang mengalami kemerosotan neraca transaksi dan baru saja memasuki fase defisit, yaitu Jepang. Cadangan devisa Jepang secara tetap saja konsisten naik, walaupun neraca transaksi berjalannya memburuk di tahun 2008 dan secara konsisten memburuk sejak tahun 2010 (Chart-7). Bagaimana mungkin bank sentral Jepang secara konsisten menumpuk US dollar? Apa lagi kalau tidak bank sentral Jepang mengkoleksi dollar (juga saham Jepang dan lain-lainnya) dengan harapan agar yen terdepresiasi, selanjutnya ekspornya bisa ditingkatkan, konsumsi meningkat, gaji pekerja naik dan akhirnya penerimaan pajak meningkat. Tahun ini (2014), Tuhan mengabulkan permohonan agar yen terdepresiasi, banyak pula. Tetapi keinginan selebihnya belum. Mungkin tidak akan dikabulkan. Entah lah.


Chart - 7 (klik chart untuk memperbesar)


Rasanya belum afdol jika kita belum melihat the fragile five, India, Indonesia, Brazil, Afrika Selatan dan Turkey serta negara dengan basis ekonomi komoditi seperti Canada dan Autralia.

Kita lihat dulu Canada. Canada termasuk negara maju. Tetapi transaksi berjalannya mengalami defisit. Dan defisit melebar sejak tahun 2007. Tetapi cadangan devisanya naik terus (Chart-8). Jadi kasusnya sama dengan Jepang, hanya dalam versi yang lebih parah. Tentang kondisi mata uangnya, seperti halnya Australia, Brazil, Indonesia, sejak berakhirnya commodity bull market, mata uang semua negara ini mengalami depresiasi terhadap US dollar.

 Chart - 8 (klik chart untuk memperbesar)


Brazil salah satu the fragile five mempunyai pola tren neraca transaksi dan cadangan devisa yang sama. Titik balik kurs US$-Real Brazil bertepatan dengan berakhirnya commodity bull market 2011. Dari tahun 2011 sampai 2014 mata uang real Brazil sudah terkoreksi lebih dari 40%. Kurs dollar dari RB 1.55 tahun 2011 menjadi RB 2.61 per US dollar. Tetapi sejak tahun 2012, bank sentral Brazil tidak perlu mengumpulkan US dollar lagi. Nilai real Brazil tetap terpuruk. Mungkin investor, penabung lari dari Brazil. Transaksi berjalan mengalami defisit dan cadangan devisa juga turun sedikit. Selain nilai real turun, adakah tujuan bank sentral Brazil yang lain tercapai, misalnya peningkatan ekspor, pembukaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi yang dahsyat? Jawabnya “tidak”.


Chart - 9 (klik chart untuk memperbesar)


Sejak tahun 2012, cadangan devisa Brazil berhenti menanjak, malah sedikit menurun, padahal mata uang real Brazil baru turun 40% saja. Toh masih bisa turun lagi bukan, supaya ekspornya naik? Apakah bank sentral Brazil kehabisan tenaga? Mungkin tidak. Mungkin mereka takut dimarahi oleh rakyat Brazil kalau mereka sukses membunuh real Brazil. Perang melawan mata uang sendiri harus dilakukan secara rahasia, tidak boleh diketahui oleh orang banyak (rakyat) dan spekulan karbitan. Bila orang melihat nilai real jatuh terus dan mereka kehilangan kepercayaan terhadap real, maka yang akan terjadi hiperinflasi ala Zimbabwe periode 2000an.


Konsumen: Enggan Berhutang
Penciptaan uang yang paling effektif dan pada saat ini menjadi yang terbesar diantara semua cara adalah melalui hutang di bank-bank komersial yang caranya dikenal dengan nama fractional reserves system. Untuk setiap $ 1 uang yang dikeluarkan the Fed atau bank sentral lainnya, akan menjadi $ 10. Oleh sebab itu kalau dilihat uang kartal (uang yang punya wujud fisik) yang beredar jauh lebih sedikit dari pada uang M3. Sebagian besar dari uang M3 ini diciptakan oleh bank komersial melalui fractional reserves banking. The Fed atau bank sentral bisa memudahkan (atau menyulitkan) debitur dan calon debitur dengan memainkan suku bunga pinjaman. Tetapi pada akhirnya, keputusan ada di tangan konsumen/calon debitur. Bank sentral bisa memberi bunga sampai, secara praktis nol persen, tetapi kalau mereka tidak mau mengambil hutang, bank sentral tidak bisa memaksa. Pemekaran M3 tidak terjadi.

Kembalinya kejayaan dollar untuk beberapa tahun ke depan dibantu oleh rumah tangga di US yang enggan menambah hutangnya. Usaha-usaha the Fed yang dikenal dengan QE, dimentahkan oleh konsumen. Bunga rendah tidak memicu pemekaran kredit yang merupakan komponen dari uang M3. Sejak dari tahun 2009, hutang rumah tangga di US turun terus (Chart-10). Effeknya prilaku konsumen seperti ini adalah menyusutkan jumlah dollar yang beredar.

Chart - 10  (klik chart untuk memperbesar)


Ringkasan Currency War I: Return of the Dollar
Dollar kembali menguat terhadap banyak mata uang dunia. Sebagai mata uang yang digunakan pada perdagangan/bisnis internasional dan sebagai cadangan devisa, kekuatan dollar didukung oleh bank-bank sentral dunia. Bank-bank sentral di dunia terutama negara yang ekonominya berbasis ekspor, mengkoleksi US dollar agar bisa mencetak/menciptakan mata uang lokal mereka. Hal ini dilakukan agar ekspor mereka kompetitif. Dulu-dulu bank-bank sentral ini juga melakukan hal yang sama. Tetapi di masa krisis deflationary, hal semacam ini akan dilakukan lebih intens. Batasnya adalah sampai kepercayaan terhadap mata uang lokal tersebut hilang dan memicu hiperinflasi. Itu yang masih dirasa perlu dijaga oleh bank-bank sentral di dunia.

Faktor lain yang memicu kembalinya dominasi dollar adalah faktor rumah tangga yang enggan menambah hutangnya. Penciptaan dollar melalui fractional reserves banking malah berbalik arah. Jumlah dollar di pasaran susut.

Faktor yang tidak kalah pentingnya karena akan memperkeruh suasana adalah faktor spekulan besar seperti George Soros dan spekulan kecil seperti Imam Semar and the gang. Omong-omong......ada beberapa pengikut Imam Semar telah meminjam duit masing-masing Rp 10 milyar kemudian dibelikan US dollar. Sedang agunannya adalah US dollar yang dibelinya dari pinjaman itu. Itu namanya ngeshort rupiah dengan leverage 1:2. Kata Erry Firmansyah, mantan direktur BEJ, "Kalian ini tidak punya rasa nasionalisme!". Kami pikir Erry tidak melihat gambarannya secara keseluruhan. Yang tidak punya nasionalisme itu BI (Bank Indonesia) yang berusaha melemahkan rupiah. Kami......, spekulan kecil cuma membonceng saja dan membantu BI dalam melemahkan rupiah. Dan jangan kuatir...... kalau dollar mencapai Rp 25,000 masih belum bisa disebut hiperinflasi.

Yang terakhir adalah otak-atik gothak-gathuk ala Imam Semar. Saat ini indeks dollar ada di level 88, telah naik dari level 79 setahun lalu (11%). Terhadap rupiah, naik dari Rp 9,200 ke Rp 12,200 per dollar (33%). Target penguatan dollar adalah sampai 120 pada indeks dollar . Maka dari rumusan otak-atik gothak-gathuk ala Imam Semar, nilai dollar dalam rupiah akan menjadi kurang lebih Rp 23,500. Angka ini tidak jauh dari perkiraan EOWI ala SWAG (Scientific Wild Ass Guess) semula yaitu antara Rp 17,000 sampai Rp 25,000 per dollar.

Sekian dulu sampai nanti Currency Wars II: the Dollar Strikes Back. Jaga kesehatan anda dan hasil keringat serta jerih payah anda baik-baik. (Jakarta 29 November 2014).



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

9 comments:

Anonymous said...

siap-siap ikutan koleksi dollar, yen, dan sedikit emas bar wakakak

Anonymous said...

Menurut analis defisit transaksi berjalan indonesia 2015 akan turun,bagaimana tanggapan dan prediksi pak is?,omong omong pak is ajukan pinjaman b2b dengan bank apa?,terus dapat brp % dari total angunan?,trims

Anonymous said...

Pak/Mbah, aku ada pertanyaan:
Apakah Bank mau menerima pengajuan kredit yang sepeti itu, bagaimana jika sebaliknya Nilai tukarnya menguat apa enggak rugi kita ditambah lagi bunga nya. Apa Bank tersebut mau ikutan menanggung risiko itu, atau meminta agunan lain sebagai back up jika ada kerugian.
Mohon pencerahan nya Pak/Mbah IS.

Anonymous said...

Pak/Mbah, saya ada pertanyaan:
Apakah Bank mau ikutan menanggung risiko dari krediturnya yang digunakan untuk spekulasi? Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya, dalam kasus diatas nilai tukarnya malah menguat(berarti rugi donk belum lagi bunganya).
Apa Bank tidak meminta agunan tambahan sebagai back up jika ada kerugian?
Mohon pencerahannya Pak/Mbah IS.

Anonymous said...

ga sampe 120 lah, paling 90-100..

Imam Semar said...

Anony December 1, 2014 at 9:41 AM,

Teman saya bilang Mandiri bisa kasih B2B dengan bunga 7%-7.5% (bisa minta discount bagi nasabah premium). Sedangkan deposito agunannya adalah 0.5% - 0.75%. Jadi net nya sekitar 6.XX%.

Hati-hati dengan leverage semacam ini. Anda harus punya strategi dan disiplin. Sebaiknya anda konsultasi dengan advisor anda terutama yang jago dalam teknikal analisis. Spekulator sering jago dalam menebak tren jangka panjang, tetapi ketika melakukan shorting bisa babak belur karena adanya cost for shorting

Anonymous said...

Saya dari semarang. Saya termasuk yang rajin baca eowi. Cuma suka tulisannya, beda dengan yang lain.

Anonymous said...

wah,cost nya tinggi juga ya,mikir mikir lagi nih jadinya,hehehe

Hamka SKom said...

Penelitian yang luar biasa dan terbukti dalam dunia nyata .. Ini musti jadi referensi utk dibaca oleh semua orang.. Trima kasih sudah berbagi ilmu.