___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Monday, December 8, 2014

Currency Wars : The Dollar Strikes Back


The Dollar Strikes Back adalah lanjutan kisah sebelumnya Return of the Dollar. Keduanya adalah judul film sekuel The Star Wars . EOWI meniru-niru judul tersebut bukan karena ada kemiripan antara US dollar dan kisah film the Star Wars itu, tetapi karena sekedar enak didengar. Currency Wars dengan Star Wars dan Return of the Dollar dengan Return of the Jedi, atau Empire Strikes Back dengan US Dollar Strikes Back mereka seirama.

Beberapa minggu lalu saya melihat-lihat indeks US dolar (seterusnya disebut indeks dollar). Secara mengejutkan ternyata US dollar tidak selalu menurun terhadap sekeranjang mata uang negara lainnya seperti yang sering dipersepsikan media selama ini. Pada periode tertentu yang ukurannya dalam bilangan dekade, US dollar mengalami peaking  atau berada pada titik puncak, seakan membentuk pengulangan atau siklus. Pada saat ini US dollar berada dalam fase bullish dan trennya menanjak. Dan tren ini akan berlangsung terus, menurut EOWI sampai kira-kira tahun 2019. Awalnya penguatan terhadap beberapa mata uang sudah terjadi sekitar 4 – 5 tahun lalu, tetapi tren ini belum nampak jelas. Dan akhir-akhir ini tren ini sudah menjadi jelas karena semakin banyak mata uang yang tertekan oleh US dollar. Tidak hanya mata uang, tetapi asset-asset lain seperti komoditi dan properti di berbagai negara mengalami tekanan. Hanya saham saja yang masih belum memperoleh pukulan dari US dollar. Pilihan katanya adalah belum, bukan tidak. Saham tidak akan imun terhadap gempuran US dollar.

Apa yang dipersepsikan oleh media dan banyak analis bahwa the Fed akan melakukan usaha-usaha untuk menjatuhkan nilai dollar dengan membanjiri pasar dengan likwiditas, mencetak dollar sebanyak-banyaknya, untuk mendongkrak harga-harga asset (properti, saham, bond swasta), mengobarkan api inflasi, memberikan illusi seakan pemilik asset kaya dan mendongkrak ekonomi, tetapi usaha-usaha ini sebagian gagal. US dollar tidak mengalami depresiasi, ekonomi US tidak bersinar dan beberapa asset tidak terdongkrak nilainya, kecuali saham dan kebangkrutan massal perusahaan dan bank yang sampai saat ini masih bisa ditahan. Dengan kata lain the Fed gagal (gagal sebagian bukan gagal tidak total). Sampai saat ini memang belum gagal total, pada saatnya EOWI meramalkan sektor saham akan terpukul dan kebangkrutan-kebangkrutanpun tidak bisa dicegah.

Chart-1 di bawah ini menunjukkan bahwa indeks dollar telah keluar dari pola trading wedge nya dan siap meluncur ke 120 ( dari level 79 di awal tahun 2014 ini.

Chart 1  (klik chart untuk memperbesar)


Euro-Dollar Bear
Pasangan Euro-Dollar atau nilai tukar Euro terhadap US dollar mengalami masa bearish sejak krisis subprime tahun 2008. Ini bisa dilihat pada chart berikut. 


Chart 2  (klik chart untuk memperbesar)

Ekonomi Eropa mengalami keterpurukan yang lebih parah dari US. Eropa juga punya masalah bubble di sektor properti di samping itu, tiang penyangga utamanya yaitu Jerman punya masalah demografi yang lebih parah dari US. Belum lagi sistem sosialis di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belanda, Itali, Spanyol, dll, membuat negara-negara itu sulit membenahi defisit fiskalnya.  Secara  reatif, bank sentral Eropa mencetak uang lebih banyak dari the Fed.

Tidak banyak yang bisa dikomentari, karena Euro akan mengetest kembali resistan di level 1.24  untuk ke tiga kalinya sebelum melanjutkan masa bearishnya. Jika ini berhasil, maka target berikutnya adalah 1.00, nilai tukar US dollar terhadap Euro adalah 1.

Gempuran US dollar terhadap zone Euro masih akan berlanjut. Kedahsyatannya mungkin bisa berakibat pecahnya koalisi Euro, dalam arti beberapa negara mungkin terpaksa harus keluar dari persekutuan Euro. Di wilayah dengan cakupan yang lebih luas, yaitu masyarakat ekonomi Eropa, Inggris (rakyatnya) nampaknya mempertimbangkan untuk keluar dari European Union (Masyarakat Ekonomi Eropa). Sebabnya adalah, kepentingan-kepentingan masing-masing negara saling bertabrakan.


Yen, Era Baru – Yaitu Bear Market
Pasangan US$ - yen mengalami masa bearish sejak jaman kuda gigit besi. Artinya nilai tukar US dollar selama beberapa dekade terdepresiasi terus terhadap yen. Jepang memang kalah Perang Dunia II, tetapi seusai perang, secara ekonomi Jepang mengalahkan US, setidaknya yen selalu menguat terhadap US dollar sejak jaman kuda gigit besi. Wah itu agak dilebih-lebihkan. Lebih tepatnya sejak the Fed mendatanya tahun 1970 (Chart-3 dan Chart-4). Jadi setidaknya selama 42 tahun yen secara umum mengalami appresiasi terhadap US dollar. Ini adalah jangka waktu yang lamaaaaa sekali. Yen baru keluar dari tren yang sudah berjalan beberapa dekade pada tahun 2014 ini. Nilai tukar dollar menjadi di atas ¥ 110.


Chart 3 (klik chart untuk memperbesar)

Namun demikian, sejak tahun 1998 (krisis Asia) appresiasi ini mengalami perlambatan (Chart-3).  Dan tahun 2014 ini pasangan US$-yen keluar dari masa bearishnya (Chart-3, Chart-4 dan Chart-5). Nampaknya tahun 2014 adalah awal dari era baru bagi US$ terhadap yen. Lebih tepatnya era baru bagi keterpurukan yen. Tuhan mengabulkan permintaan para banker di BoJ. Mungkin pengabulan ini bersifat rapel. Maksudnya doa selama 25 tahun itu dikabulkan sekali gus dan yen jatuh terpuruk, nyungsep.
 

Chart 4 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 5  (klik chart untuk memperbesar)


Jepang yang bangkit dari kehancuran Perang Dunia II dan menjelma menjadi negara maju, produsen barang-barang konsumen dan barang-barang modal yang effisien dan ekspornya bersaing. Barang-barang buatan Jepang merajai dunia. Oleh sebab itu neraca perdagangannya mengalami surplus selama beberapa dekade. Selama dekade 70an, neraca perdagangan masih selang-seling surplus dan defisit. Setelah tahun 1980 sampai tahun 2012 neraca perdagangan Jepang selalu mengalami surplus (Chart-6).  Tidak terlalu mengherankan jika neraca transaksi berjalannya selalu mengalami surplus pada periode tersebut (Chart-7). Demikian juga yen selalu mengalami penguatan dimasa itu. Harga US$ tahun 1970 adalah ¥ 360 dan 42 tahun kemudian, tahun 2012 nilai tukar ini menjadi ¥ 79 per US dollar. Yen ter-appresiasi menjadi 4.6 kali lipat. Appresiasi yen ini berarti produk-produk Jepang  jika harga nominalnya dalam yen tidak diturunkan maka akan menjadi 4.6 kali lebih mahal dan tidak kompetitif. Kalau sekarang kita mengatakan bahwa barang-barang Jepang tidak bisa dikatakan mahal, maka barang-barang produksi Jepang 4 dekade lalu seharusnya bisa disebut sangat murah. Kenyataannya memang begitu. Barang-barang Jepang di tahun 70an dikenal sebagai murah dan kwalitasnya dipandang  rendah. Saat ini tentang kwalitas, barang-barang Jepang tidak bisa disebut buruk. Bahkan dengan buatan Amerika dan Eropa Barat, barang buatan Jepang termasuk bagus.

Chart 6 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 7 (klik chart untuk memperbesar)

Generasi yang tumbuh semasa dan paska Perang Dunia II (ekivalen dengan Baby Boomer di US), sejak tahun 1990 – 2000 memasuki masa tua, pensiun dan tidak seproduktif seperti di masa mudanya. Sedangkan generasi penggantinya tidak cukup banyak untuk mengisi tempat yang ditinggalkan bapaknya. Jepang menjadi masyarakat yang menua.  Jepang tidak bisa lagi memproduksi barang dengan harga yang kompetitif dalam jumlah yang lebih banyak dari pada yang dikonsumsinya sejak tahun 2012 (Chart 5). Hal ini akan berlanjut terus, kecuali masyarakat Jepang  merubah pola hidup meraka.

Defisit neraca transaksi berjalan dan defisit perdagangan sejak 2013 berarti sejak tahun ini Jepang membutuhkan lebih banyak dollar untuk membeli serta membayar barang, jasa, kewajibannya dari pada dollar yang diterima oleh Jepang. Yen mengalir keluar Jepang. Hal itu salah satunya menyebabkan yen melemah.

Tidak hanya itu, belum lama ini Bank Sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), bertekad untuk membeli saham dan obligasi pemerintah sampai mencapai $ 730 milyar setiap tahun untuk bond dan $30 milyar untuk saham (lihat: Jepang: (Belum atau Sudah?) pada Puncak Kegilaan). Ini adalah upaya untuk mendepresiasi yen supaya produk Jepang bisa bersaing lagi. Entah karena usaha BoJ berhasil, atau karena memang secara alami yen harus melemah atau kedua-duanya adalah tidak penting. Yang penting bahwa realitanya yen melemah.

Rakyat Jepang selama ini masih puas menyimpan uangnya di tabungan yen nya, kendatipun dengan bunga yang kecil. Ini dimaklumi karena selama ini nilai yen terus menguat. Walaupun bunganya kecil, tetapi gerusan inflasi hampir tidak ada. Bagaimana jika kemudian mereka (rakyat Jepang) melihat nilai yen perlahan-lahan tergerus dan BoJ bersama pemerintah berusaha mati-matian untuk mengobarkan inflasi? Tidak hanya itu, mereka melihat bahwa pemerintah mereka tidak punya pilihan lain kecuali menggerus nilai yen untuk menghancurkan hutang mereka (pemerintah), karena pemerintah ini tahu bahwa mereka tidak akan sanggup menarik pajak yang besar untuk membayar hutangnya. Apakan kepercayaan rakyat Jepang terhadap yen tidak runtuh? Hiper-inflasi bukan sekedar masalah cetak-mencetak uang saja, tetapi lebih banyak masalah hilangnya percayaan terhadap suatu mata uang. Walaupun bank sentral mencetak dan menerbitkan uang yang banyak, tetapi jika masih banyak yang percaya dan mau memegang mata uang tersebut, hiper-inflasi tidak terjadi. Tetapi, jika kepercayaan itu hilang, orang menganggap mata uang tersebut tidak ada nilainya, maka hal ini akan membuat semua orang melepaskan uangnya (mata uang tersebut yang dimilikinya). Akibatnya anggapan bahwa mata uang tersebut tidak ada nilainya menjadi kenyataan. Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana jadinya jika semakin banyak rakyat Jepang melihat BoJ dan pemerintahnya berusaha mati-matian untuk menghancurkan yen dan tidak ada solusi lain bagi pemerintah Jepang dalam menyelesaikan hutangnya kecuali dengan menghancurkan yen? Apakah kepercayaan mereka terhadap yen akan hilang? Akankah terjadi krisis kepercayaan terhadap yen?

Pertanyaan di atas akan bertambah sejalan dengan masuknya Jepang dalam resesi yang diumumkan tanggal 19 November 2014 ini. Akankah hilangnya/berkurangnya kepercayaan terhadap yen ini sudah mulai terjadi atau terjadi dalam di dalam 2 tahun mendatang?

Ekonom di BoJ boleh berpikir bahwa dengan dihancurkannya yen, yang notabene adalah menghancurkan hutang termasuk hutang perusahaan, maka banyak perusahaan yang terlibat hutang akan memperoleh keuntungan dan terselamatkan, tetapi kenyataannya lain. Menurut study oleh Tokyo Soho Research jumlah kepailitan di Jepang sejak tahun 2013 akibat depresiasi yen ternyata jauh melebihi kepailitan perusahaan akibat penguatan yen (Chart-8).

Chart 8 (klik chart untuk memperbesar)

Mungkin saja kebangkrutan tahun 2009 – 2011 yang disinyalir sebagai akibat dari penguatan yen, adalah karena faktor lain. Karena saat itu adalah masa perlambatan ekonomi global paska krisis subprime. Pada masa ada faktor lain yaitu perlambatan ekonomi global tahun.  Dan  kalau mau berargunan sekarangpun bisa dikatakan juga masa menjelang krisis ekonomi global. Itulah ekonomi. Mau ngomong apa saja bisa. Tetapi untuk kisah ini akan lebih seru kalau dikatakan bahwa kedua kasus kebangkrutan ini (periode 2009 – 2011 dan periode 2013 – 2014) adalah akibat dari perubahan nilai tukar yen. Ketika yen menguat, harga jual barang Jepang yang diproduksi di pasar ekpor menjadi tinggi dan menjadi tidak kompetitive. Sedangkan ketika yen melemah, dan harga jual barang-barang Jepang di pasar ekspor turun, tetapi untuk komponen bahan bakunya dan komponen energi (dari impor) tidak turun.

Tidak hanya itu, depresiasi yen berakibat juga bertambahnya beban rumah tangga. Bahan bakar kendaraan dan listrik yang semuanya diimpor, akan naik (dalam yen). Sedangkan pendapatan rumah tangga/gaji relatif tetap. Memang turunnya harga minyak meringankan sebagian dari beban dari depresiasi yen. Yen yang turun dari level ¥79 per dollar ke ¥120 adalah depresiasi sebesar 53%. Sedangkan minyak turun 34% dari $ 100 per bbl ke $ 66 per bbl. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang dilanjutkan dengan kenaikan gaji/upah, maka depresiasi yen akan menjadi beban secara ekonomi bagi rumah tangga. Konsumsi akan turun dan resesi berkepanjangan menjadi resiko yang besar. Dengan kata lain: the dollar strikes yen back…… and knocks down the Japan economy.


US Dollar vs Emas
Tanggal 30 November 2014 lalu, rakyat Swiss keluar rumah untuk memberikan suaranya dalam suatu referendum mengenai keharusan Swiss National Bank (SNB) untuk menambah cadangan emasnya dari 8% ke 20% yang harus dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun. Ini merupakan langkah awal dari proses untuk kembali ke standard emas di Swiss. Pada minggu-minggu sebelumnya, gold bulls dan gold bugs, secara antusias memprolamirkan akan adanya rally besar. Kami di EOWI tenang-tenang saja. Bahkan EOWI tidak menurunkan artikel apa-apa tentang kemungkinan adanya rally besar dan panjang di sektor emas.

EOWI bukannya tidak mendukung atau tidak setuju dengan sistem moneter berbasis emas sistem berbasis asset riil, tetapi kita harus realistik. Pasar sedang mengalami pengempesan bubble emas. Bubble emas sedang kempes, sehingga bisa diramalkan bahwa antusiasme untuk kembali ke sistem keuangan berbasis emas bisa dipastikan sudah merosot. Ibaratnya seperti sedang kekenyangan makan gulai gajeboh yang lemak semua, kemudian ditawari kue tart yang juga lemak gurih. Rasanya akan neg dan bisa muntah. Jadi jangan heran kalau pro-emas dikalahkan secara telak 77% – 23% untuk kemenangan anti sistem emas. Mungkin rakyat Swiss memang sudah bosan dengan sistem keuangan berbasis asset riil dan lebih senang pemerintahnya mempermainkan mata uang mereka. Entahlah. Yang pasti SNB tidak perlu menambah 300 ton emas ke dalam pundi-pundinya setiap tahun selama 5 tahun, tidak lagi menjual cadangan emasnya dan menyimpan semua cadangan emasnya di Swiss (bukan di negara lain).

Tidak ada rally emas sebelum referendum dilaksanakan sebagai kebiasaan pasar buy on rumor sell on news. Bahkan ketika hasil referendum keluar yang seharusnya membuat emas terpuruk, juga tidak terjadi. Pasar emas berjalan seakan referendum di Swiss tidak pernah ada.

Di medan pertempuran antara logam mulia (emas) dengan US dollar, beberapa waktu lalu, keduanya masih berimbang mempertahankan garis pertahanan antara $1200 - $1400 per oz selama hampir 1.5 tahun. Tetapi nampaknya beberapa minggu lalu US dollar bisa memberikan serangan yang telak dan memukul mundur emas dari garis pertahannya $1200.  Dan ajang pertempuran selanjutnya akan berada di sektor $ 1000 - $ 1200 per oz. Beberapa kali emas berusaha merebut kembali garis pertahanan $1200 per oz, tetapi berhasil dipukul mundur kembali oleh US dollar.

Chart 9  (klik chart untuk memperbesar)


US Dollar vs Minyak Mentah
Harga minyak mentah (kita sebut saja minyak), terhadap rupiah atau ringgit atau euro tidak berubah banyak, relatif stabil. Tetapi ketika dollar memukul mata uang-mata uang ini maka harga minyak terhadap dollar mengalami kejatuhan. Bahkan untuk beberapa kasus, di saat harga minyak jatuh terhadap dollar, harga minyak ini naik terhadap beberapa mata uang, seperti terhadap rubel.

Dari tahun 2012, harga minyak tidak beranjak banyak dari kisaran $80 - $115 per bbl untuk minyak mentah WTI (West Texas Intermidiate).  Orang bilang sekitar $90 - $100 per bbl. Tetapi dengan kembalinya (penguatan) dollar, permainan akan berubah (Chart-10).


Chart 10 (klik chart untuk memperbesar)

Harga minyak telah menembus pola wedge segitiganya. Dan harga terendah akhir yang pernah dicapainya adalah $64 per bbl. Secara teknikal kemungkinan minyak akan jatuh di bawah $32, yaitu harga pada masa krisis subprime.


Rubel in Trouble
Russia menandatangani perjanjian dengan Cina untuk pembelian gas 30 milyar meter kubik pertahunnya, sebesar $400 milyar selama 30 tahun. Harga minyak ditetapkan dalam yuan. Berita ini terpampang di beberapa media massa beberapa waktu lalu. Kemudian analis-analis hardcore anti dollar, mengatakan bahwa  masa dominasi dollar telah pudar. Cina akan menjadi pesaing utama US sebagai pemegang kendali ekonomi dunia dan yuan akan menggantikan US dollar sebagai mata uang dunia. Petro-Yuan. Itu menjadi tema-tema tulisan para analis. Link ini sebagai contohnya: The Rise of the ‘Petro-yuan’ and the Slow Erosion of Dollar Hegemony. Bukannya EOWI pro dollar, tetapi kami berpendapat bahwa Cina tidak akan bisa menjadi pengganti US dalam 100 tahun ke depan. Kasus ini mirip dengan kasus euphoria ketika Jepang sedang menanjak di tahun 1980-1990. Semua orang memuji Jepang, meramalkan bahwa Jepang akan menyusul dan menggantikan US dalam peranannya di ekonomi dunia. Kenyataannya tidak demikian. Hal ini sama dengan kasus Cina, sebabnya pun sama, yaitu masalah demografi. Kita akan dibahas di lain kesempatan.

Fakta menunjukkan bahwa Eropa mengkonsumsi 541 milyar meter kubik per tahunnya (2013). Dan 30% nya (161.5  milyar meter kubik) dipasok oleh Gazprom Russia. Separo atau 80 milyar meter kubik dari pasokan Russia ini melewati Ukraina yang saat ini mengalami ketegangan dengan Russia. Angka pasokan ke Cina hanyalah sekitar 30% dari pasokan yang melewati Ukraina yang mengalami perang. Secara keseluruhan ekspor Russia turun baik volume dan nilainya (karena turunnya harga gas/minyak), budget pemerintah meningkat (karena perang yang tidak langsung) dan situasi menjadi tidak kondusif terhadap bisnis. Ini kombinasi yang bisa menjatuhkan nilai mata uang Russia. Pada saat pemerintah sudah membatasi transaksi forex, mengancam spekulator, membatasi keluarnya dollar (dari negara itu), capital flight, maka semakin semakin takut pelaku bisnis untuk menempatkan kapitalnya di negara tersebut. Itu yang terjadi. Rubel in trouble. Dalam 2 tahun ini kurs rubel terhadap dollar jatuh hampir 100%, dari Rub 29 per US dollar di awal tahun 2013 menjadi Rub 53 – Rub 55 di akhir tahun 2014.

 Chart 11 (klik chart untuk memperbesar)


US Dollar vs Rupiah
Selama 1 tahun ini kurs US dollar terhadap rupiah dalam fase konsolidasi, kemungkinan di wave-4 menurut hitungan Elliot wave (Chart-12). Koreksi ABCDE sudah dipecahkan (Chart-13). Nampaknya rally dollar akan berlanjut. Target berikutnya setidaknya akan ke Rp 14,000 – Rp 15,000 per dollarnya. Bisa juga ke level Rp 16,000 atau Rp 17,500. Mana yang akan dicapainya? Entahlah. Nampaknya level Rp 14,000 – Rp 15,000 adalah level yang kuat, yaitu level tertinggi pada saat krismon 1998 lalu.

Chart 12 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 13 (klik chart untuk memperbesar)


Untuk rupiah dan harga minyak saat ini kita batasi saja pembahasannya. Lain kali akan dibahas secara lebih detail dalam seri Gejolak 2014 – 2020.

Sekian dulu, jaga kesehatan, tabungan dan  investasi anda baik-baik.

Jakarta 7 Desember 2014.
 





Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

8 comments:

Anonymous said...

Pak Imam, komentar bapak dengan artikel berikut gimana :

http://fortruss.blogspot.it/2014/11/grandmaster-putins-golden-trap.html

"Thus, the Western world, built on the hegemony of the petrodollar, is in a catastrophic situation. In which it cannot survive without oil and gas supplies from Russia. And Russia is now ready to sell its oil and gas to the West only in exchange for physical gold! The twist of Putin's game is that the mechanism for the sale of Russian energy to the West only for gold now works regardless of whether the West agrees to pay for Russian oil and gas with its artificially cheap gold, or not. "

Terima Kasih.

Furqon Azis said...

Om IS, bagaimana prospek mengoleksi Yen taun 2015-2019 nanti?

Imam Semar said...

Mas Aziz,

Yen mengalami mas bullish selama 42 tahun. Setelah itu biasanya (ini biasanya lho) akan mengalami masa bearish yang cukup panjang juga.

Secara fundamental, Jepang punya persoalan yang sangat mendasar:

a. Masyarakat/demografi yang menua. Orang tua sulit berkompetisi dan orang tua konsumsinya menurun.

b. Pemerintah Jepang punya hutang segunung (pernyataan hiperbolik).

Kedua faktor ini akan mengikis kepercayaan terhadap yen.

Hati-hati

Imam Semar said...

Mas Anony December 8, 2014 at 10:02 AM,

Tantangan utama dari Russia sebagai penjual minyak adalah......., bukan Russia saja yang menjual minyak/gas. Ada OPEC yang pakai dollar, ada US yang sekarang surplus minyak, ada Canada......,

Apakah Putin bisa memaksakan kehendaknya? Itu pertanyaan $30 yang akan kita bahas di minggu-minggu depan.

Imam Semar said...

US$ pagi ini terbang tinggi. Hati hati.....sdh lepas dari wedge pattern nya

reply said...

Saya Pribadi awalnya pesimis dgn rupiah,tp belakangan cukup optimis dengan sepak terjang jokowi yang sepertinya mampu meredam defisit dan terakhir beritanya sekarang sedang menutup beberapa lembaga pemerintah yg tidak perlu,artinya pemerintah jokowi cukup jeli atau setidaknya tidak sebodoh pemerintahan SBY

sy tidak berpikir bahwa rupiah akan menguat,tapi setidaknya mungkin rupiah bisa keluar dari fragile five

ini infonya
http://nasional.kontan.co.id/news/jokowi-membubarkan-40-lembaga-non-struktural

gimana mnrt pendapat om is?

ezaa said...

Hi Mas IS,

Iya nih udah di angka 12,625/ 1 USD :o

saya dapet kurs di sekitar 12,300/ 1 USD untuk Conver semua tabungan saya. hehehe.. telat nih

menurut mas IS ada batasan kurs gak untuk beli dolar. misal, jika kurs masih di bawah 14.000 di beli aja dari gaji kita / or jika udah di atas 14,000 di tahan dulu?

saya gak punya kemampuan berhutang ke bank soal nya

Regards
Ezaa

Imam Semar said...

Pagi ini USD-Rp masuk ke level Rp 12,900.

Semakin menarik kinerja Jokowi.