___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Wednesday, December 17, 2014

Gejolak 2014 – 2020: Tergelincir Minyak Yang Licin (I)


 (Bagian I: Pada Mulanya…….)
Meramalkan bencana bukanlah hal yang kami sukai. Apalagi mengenai hal yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang kami geluti. Ada beberapa poin yang EOWI ramalkan akan terjadi dimasa Gejolak 2014-2020. Salah satunya adalah di sektor dimana saya berkecimpung yaitu eksplorasi dan produksi minyak. Di bawah ini adalah 7 poin yang kami ramalkan dan poin no 3 adalah tentang jatuhnya harga minyak ke level $30 per bbl atau lebih rendah.
  1. Harga saham akan turun, dan indeks DJIA yang sekarang pada level 17000an bisa jatuh ke level 4000 – 5000, bahkan mungkin diteruskan ke level 3000an.
  2. Harga emas akan jatuh ke level $ 600 - $ 700 per oz.
  3. Dengan agak ragu-ragu, EOWI memperkirakan harga minyak akan menyentuh level di sekitar $30 per bbl. Confidence level kami cukup rendah mengenai perkiraan ini. Harga minyak adalah yang paling sulit diperkirakan.
  4. Harga property juga akan jatuh dan pasar membeku, tidak banyak transaksi.
  5. Harga US dollar terhadap mata uang lainnya akan mengalami penguatan. Dalam Rupiah kemungkinan akan mencapai Rp 17000 sampai Rp 25000 per dollarnya.
  6. Harga bond/surat obligasi pemerintah jangka pendek yang (dianggap) berkwalitas,seperti yang dikeluarkan oleh US, Jerman dan Swiss akan diborong dan nilainya naik (yieldnya turun). Tetapi bond-bond yang dianggap kurang berkwalitas seperti SUN (Surat Utang Negara) Indonesia, akan turun dan yieldnya akan naik.
  7. Jika periode ini ada kaitannya dengan periode K-Winter, dunia kemungkinan akan mengalami perang besar yang disebut dengan trough-war, setidaknya ketegangan dan konflik-konflik saat ini akan mengalami eskalasi. Perang pada periode K-Winter sebelumnya adalah Perang Dunia II, dimana batas-batas Negara berubah. Indonesia dan Suriname memisahkan diri dari Kerajaan Belanda. India, Pakistan memisahkan diri dari Imperium Inggris. Bukan mustahil, ada negara-negara baru yang terbentuk nantinya.
Pada saat EOWI menurunkan artikel tersebut di bulan Juli 2014, harga minyak mentah (WTI) masih bertengger di level $103 per bbl. Dan pada saat kata-kata ini dituliskan, harga minyak sudah di level $60 per bbl. Seperti disebutkan dalam laman Gejolak 2014 - 2020, tingkat kepercayaan EOWI agak rendah dalam hal minyak, tetapi kenyataannya dalam 6 bulan harga minyak sudah jatuh sebesar 42%! Ini membuat kepercayaan kami meningkat mengenai akan jatuhnya harga minyak ke level $30 per bbl atau lebih rendah.
Banyak orang berpikir bahwa minyak mentah di dunia ini akan/sudah habis. Oleh sebab itu harga minyak melambung. Pola berpikir semacam ini berkali-kali dipatahkan oleh kenyataan. Thomas Robert Malthus 200 tahun lalu meramalkan bahwa populasi dunia suatu masa akan mengalami kekurangan pangan global. Dan opini ini dikuatkan lagi oleh Paul Ehrlich di tahun 1968 dengan bukunya The Population Bomb yang meramalkan akan adanya pandemi kelaparan global pada dekade 1980an. Kenyataannya, mulai tahun 1980, angka obesitas (kelebihan pangan) dunia meningkat. Dan kemudian diet menjadi popular culture, pola hidup yang popular. Berbagai diet bermunculan, dari mulai menghitung/membatasi asupan kalori, makan sayur buah saja, vegetarian sampai ke diet karbohidrat.
Orang-orang yang meramalkan habisnya minyak atau kekurangan pangan dunia adalah orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan itu konyol, lupa mencukupkan rejekinya kepada manusia-manusia yang diciptakannya.  Kami di EOWI adalah orang-orang yang religius, percaya kepada Tuhan yang sensible. Oleh sebab itu jika ada ramalan gloom-doom yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan itu konyol, maka kami tidak percaya. Kami tidak percaya kepada global warming, pecahnya lapisan ozon, aliran lesbian dan homoseksual serta Islam Liberal. Kami percaya bahwa Tuhan menyediakan rejeki dan manusia harus punya usaha untuk mengambilnya. Bukan menunggu dijatuhkan dari langit.
Kenyataannya bahwa minyak bumi masih banyak. Hanya saja untuk mengambilnya semakin sulit, perlu usaha yang lebih banyak dengan cara yang lebih cerdik. Ini adalah adil. Ilmu yang dimiliki manusia (pemberian Tuhan) semakin banyak. Dan beberapa ilmu itu adalah untuk mencari minyak, memproduksi minyak bumi semakin effisien dan  menggunakan minyak secara lebih effisien.

Siklus 30 tahunan Minyak
Minyak seperti komoditi lainnya mempunyai siklus 30 tahunan. Siklus kali ini mempunyai puncak di tahun 2008. Puncak harga minyak sebelumnya adalah di tahun 1980. Tidak ada yang supernatural mengenai siklus ini. Misalnya, sebagai awal dari siklus kita mulai dari masa enak dan normal. Itu sebutan mudahnya bagi periode dimana harga minyak terjangkau. Dengan demikian ekonomi bisa tumbuh dengan baik. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, pemakaian minyak meningkat. Sementara jumlah cadangan terbukti menyusut dan selanjutnya kapasitas produksi mulai tercekik. Harga merangkak naik, ditambah dengan ulah spekulan membuat kenaikan harga minyak lebih liar. Inilah periode secular bull market untuk minyak (dan juga komoditi). Secular bull market yang lalu berlangsung selama tahun 2000 – 2008. Dan sebelumnya adalah 1970 – 1981.
Saya tidak tahu banyak mengenai secular bull market sebelum tahun 1970, tetapi secular bull market minyak tahun 1970 – 1980 banyak yang bisa dicatat dan dipelajari sebagai hikmah. Mungkin karena waktunya bersamaan dengan merebaknya kepercayaan yang mengimplikasikan bahwa Tuhan itu tolol, yang menciptakan manusia tetapi lupa menyediakan kebutuhannya, semasa secular bull market minyak 1970 – 1980 tumbuh juga kepercayaan (lebih cocok disebut histeria) bahwa minyak akan segera habis. Oleh sebab itu muncul aliran-aliran pencinta lingkungan, anti pollusi, konservasi energi, energi alternatif, dan sejenisnya. Di bidang demografi, Paul Erhlich dengan bukunya The Population Bomb, membuat histeria population control, alias KB (keluarga berencana). Miungkin ini yang membuat harga minyak menjadi lebih liar, karena spekulator merasa punya ruang untuk semakin aggresif.
Dengan naiknya harga minyak, banyak investor melirik sektor yang nampaknya menjanjikan ini. Kredit mengucur, modal mengalir dan aktivitas eksplorasi meningkat.
Selanjutnya cadangan-cadangan baru ditemukan. Diantara penemuan-penemuan cadangan baru, ada penemuan yang bisa membuat perubahan yaitu penemuan cadangan baru di cekungan-cekungan di wilayah-wilayah frontier yang sering kali didukung oleh dengan teknologi baru. Untuk bull market 1970 – 1981, wilayah temuan baru adalah Laut Utara (North Sea) yang iklimnya kurang ramah. Teknologi lepas pantainya yang kompleks ikut berperan dalam pengembangan wilayah Laut Utara ini.
Sejalan dengan berkembangnya temuan lapangan-lapangan minyak dan gas di wilayah Laut Utara (North Sea) ini selama periode bull market 1970 - 1981, infrastrukturpun juga berkembang di wilayah itu. Hal ini membuat eksplorasi dan produksi minyak di wilayah ini semakin murah (karena ketersediaan infrastruktur).
Tidak hanya cekungan di wilayah Laut Utara, tetapi di beberapa negara misalnya Mexico, juga ditemukan ladang raksasa Cantarell (1976). Dan banyak lagi yang terlalu banyak untuk disebutkan. Tetapi, mereka itulah yang terbesar dan yang paling berpengaruh.
Selanjutnya kredit mengalir ke sektor minyak. Eksplorasi semakin ramai, permintaan tenaga kerja di sektor minyak naik. Universitas membuka jurusan yang berkaitan dengan minyak. Bahkan untuk masa 1970-1980, seorang lulusan SMA atau sarjana sastra bisa diterima untuk menjadi mud-logger, data acquisition engineer/operator. Tidak hanya itu, universitas yang belum punya jurusan yang berkaitan dengan minyak dan geologinya, mendirikan jurusan-jurusan tersebut. Misalnya di Indonesia adalah Universitas Trisakti -1980 dan Universitas Indonesia yang agak telat dengan Program Study Teknik Gas tahun 1981, untuk level dunia banyak kasus seperti ini. Kalau melihat kebelakang, tahun 1970 - 1980 adalah masa kegilaan.
Sebagai akibatnya kapasitas produksi meningkat dan kelangkaan pasokan menjadi sirna. Negara-negara OPEC (eksportir minyak terbesar di saat itu) tidak bisa mengendalikan harga minyak. Walaupun OPEC berusaha membatasi produksinya dengan quota untuk anggota-anggotanya, tetapi gagal. Anggota-anggota sering melanggar quota. Dan setiap kali OPEC menurunkan produksi minyaknya, akan dimentahkan oleh produsen non-OPEC dengan akan mengisi kekurangan yang ditinggalkan oleh anggota OPEC. Dan ini membuat OPEC merasa iri karena pangsa pasarnya terambil oleh Non-OPEC. Itu yang menjadi alasan bagi anggota-anggota OPEC untuk melanggar quotanya. Akibatnya harga minyak turun dan dimulailah masa bear market untuk minyak di tahun 1980 sampai tahun 2000. Selama 20 tahun minyak kurang menarik investor dan juga calon tenaga kerja. Bahkan peminat untuk mengambil pelajaran perminyakanpun susut. Beberapa universitas terpaksa melebur jurusan teknik minyak dengan jurusan lain, biasanya teknik kimia. Kasus yang saya ingat adalah University of Southern California (USC) karena salah satu kolega saya lulusan univesitas itu dan saat ini tidak punya almamater jurusan.
Titik nadir (bottom, paling dasar) dari secular bear market minyak (dan komoditi umumnya) adalah sekitar tahun 1999 atau 2000 dimana harga minyak jatuh ke level di bawah $10 per bbl. Waktunya bersamaan dengan beberapa krisis moneter, seperti krisis Asia, LTCM, dan lainnya serta histeria Y2K. Krisis menyebabkan aktivitas turun yang kemudian berdampak pada pemakainan bahan-bakar. Ketika krisis ini beranjak pulih, pasokan minyak mulai seret. Harga minyak mulai merangkak naik. Proyek-proyek baru untuk meningkatkan produksi menjadi lebih aktif. Misalnya di lapangan Cantarell yang ditemukan tahun 1976, injeksi nitrogen diterapkan dan produksinya mencapai puncaknya di tahun 2003 di level 2.1 juta bopd (barrel per hari). Pada masa awal bull market minyak 2000 – 2008, bisnis kebanyakan hanya mengandalkan lapangan-lapangan yang sudah ada. Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan produksi secara cepat. Saya sendiri tahun 2001-2002 sebagai (alternate) team leader production enhancement di Malaysia. Misinya adalah menerapkan teknologi-teknologi murah dan mudah yang sudah ada untuk menaikkan produksi minyak secara cepat.

Secular Bull Market 2000 – 2008 dan Produksi Minyak Amerika
Secular bull market minyak 2000 – 2008, melahirkan hal yang mirip, tetapi tidak sama dengan secular bull market minyak 1970 – 1980. Dengan level yang menunjang penerapan teknologi yang lebih kompleks. Minyak dikembangkan daerah-daerah baru. Shale oil yang terdapat di formasi Bekken membentang dari North Dakota, Montana Amerika Serikat ke Saskatchewan dan Manitoba Canada. Juga shale gas di US. Selain itu juga tar sand di Athabasca, Canada. Ladang-ladang minyak/gas ini bukanlah temuan baru Dulu-dulu sudah ada (ditemukan) tetapi tidak bisa dieksploitasi karena memerlukan teknologi yang pada waktu itu mahal. Dengan harga minyak yang cukup tinggi, maka eksploitasi deposit minyak/gas semacam ini bisa dieksploitasi.
Teknologi yang digunakan untuk mengembangkan oil/gas shale, yaitu hydraulic fracturing (disingkat fracking)  bukan lah teknologi baru. Tetapi dengan harga minyak yang tinggi dan perbaikan dalam effisiensinya maka pada periode secular bull market 2000-2008 applikasinya bisa terealisir. Perlu dicatat bahwa untuk pengembangan oil/gas shale diperlukan pengeboran yang terus menerus, karena umur sumur produksi lapangan semacam ini pendek, hanya dalam bilangan tahun (bukan dekade). Jadi untuk mempertahankan tingkat produksi, sumur baru harus dibor untuk menggantikan sumur yang umurnya sudah beberapa tahun.
Diakhir secular bull market 2000 – 2008 dan awal secular bear market minyak, produksi minyak US mulai meningkat, kemudian menjadi parabolik dan hampir mencapai level 1980, rekor puncak produksi minyak US.  Di tahun 2007 produksi minyak US masih di level 5 juta bbl per hari. Dan 4 tahun kemudian menjadi 8.9 juta bbl per hari. Kenaikan produksi hampir 80% hanya dalam kurun waktu 4 tahun dan kebanyakan berasal dari unconventional oil, oil shale. Entah karena kenaikan produksi ini yang membuat harga minyak jatuh, atau karena kebetulan saja bahwa kenaikan produksi minyak US selalu berada di akhir secular bull market. Entah lah. EOWI memperkirakan banyak faktor yang menyebabkan turunnya harga minyak antara lain bearishnya para spekulan, menurunnya permintaan karena perlambatan ekonomi dan kapasitas pasokan minyak yang meningkat.

Chart 1 (klik Chart untuk memperbesar)

Ada beberapa catatan penting dalam kaitannya dengan penguatan US dollar, yang beberapa kali dibahas oleh EOWI, penambahan produksi sebesar hampir 4 juta bbl per hari, artinya pengurangan impor sebesar itu. Jadi dari sudut pandang US dollar,  bisa diterka. Tidak banyak US dollar yang keluar untuk membeli minyak. Peran US dollar dalam bisnis minyak berkurang. Andaikata Russia atau Iran atau negara manapun mau menjual minyaknya dalam mata uang lain, dampaknya tidak banyak terhadap US dollar.

Amerika Serikat Tidak Sendiri
Amerika Serikat tidak sendiri. Canada juga mengembangkan teknologi untuk mengeksploitasi tar sand (minyak berat yang ada di dalam pasir di permukaan tanah). Produksi minyak Canada naik dari 2.9 juta bbl per hari ditahun 2000 ke hampir 4 juta bbl per hari di tahun 2014.  Di wilayah Afrika Barat, muncul negara produsen minyak baru seperti Chad, Mauritania, Pantai Gading. Di samping negara-negara produsen minyak baru, ada juga penemuan-penemuan cadangan baru di wilayah negara-negara yang sebelumnya sudah merupakan produsen minyak seperti Nigeria, Cameroon, Equatorial Guinia, Angola dengan Deep Water nya. Kapasitas produksinya meningkat.
Tidak hanya di Afrika Barat, tetapi juga di Sudan di Afrika Timur juga menjelma menjadi negara penghasil minyak. Harga minyak yang tinggi membawa berkah bagi banyak negara. Tetapi membuka ancaman baru bagi negara-negara OPEC. Setidaknya bagi konsumen akan lebih baik. Dimasa mendatang tidak ada lagi pemasok yang dominan yang bisa menentukan harga pasar.

Terkecuali Indonesia
Pada saat banyak negara yang berhasil menaikkan cadangan dan produksi minyaknya karena harga minyak yang tinggi sehingga memungkinkan dilakukannya eksplorasi dan peremajaan lapangan tua, tetapi terlihat bahwa produksi dan cadangan minyak Indonesia terus menurun. Puncak produksi minyak Indonesia adalah 1.6 juta bbl per hari di tahun 1981, dan turun terus sampai 830 ribu bbl per hari di tahun 2014. Terima kasih ini berkat ketidak becusan BPMigas, SKKMigas, Migas, DPR dan UUD45 ayat 33. Seharusnya semua negara termasuk Indonesia bisa meningkatkan cadangan dan produksi minyaknya pada secular bull market minyak. Hanya negara yang salah urus saja yang tidak bisa. Indonesia tidak bisa mengambil peluang ini.
Alih-alih meningkatkan produksi minyak. Pemerintah malah menaikkan harga bensin premium dan solar. Pelaksana pemerintahan kelihatan bodohnya ketika menaikkan harga besin premium dari Rp 6500 ke Rp 8500 per liter (31%) tanggal 18 November 2014. Alasannya harga minyak akan naik dan beban subsidi sudah terlalu berat. Harga minyak adalah $ 75 per bbl pada saat dinaikkannya harga bensin premium, 25 hari kemudian pada saat saya menulis harga minyak mentah dunia turun dari $75  ke $57 per bbl (25%). Itu kalau dihitung dari saat kenaikan premium, tetapi kalau dihitung dari saat dilantiknya Jokowi, tanggal 20 oktober 2014, dimana tentunya dia sudah membuat hitung-hitungan kenaikan BBM, harga minyak mentah dunia ada di level $88 per bbl (36%). Jadi sekarang ini subsidi harga premium bisa jadi negatif. Artinya pemerintah sudah dapat untung dari BBM bersubsidi.
Mau lihat buktinya. Untuk tanggal 8 Desember 2014, harga bensin di US, negara yang liberal harga ditentukan pasar USA adalah $0.76 untuk type RON 92 seperti Pertamax atau Shell Super (sebelum pajak penjualan) dan di Indonesia adalah $0.82 per liter untuk permium yang RON nya 88! UUD 45 pasal 33 hanyalah kebohongan saja. Atau pemerintah yang bodoh dan tidak becus.
Ada yang mengatakan bahwa pemerintah nampak bodoh, tidak bisa mengamati harga minyak mentah karena terbukti bahwa tidak lama setelah pemerintah menaikkan harga BBM, harga minyak dunia turun drastis. EOWI tidak setuju dengan pendapat ini. Ada perbedaan arti yang besar sekali antara dua pernyataan di bawah ini:
  1. Dengan anjloknya harga minyak dunia membuat pemerintah nampak bodoh
  2. Dengan anjloknya harga minyak dunia membuat kebohohan pemerintah nampak
Kedua kalimat ini mirip tetapi artinya berbeda sekali. Kesimpulannya terserah pembaca. Tetapi coba ditambah dengan fakta bahwa selama satu (1) dekade harga minyak yang tinggi, dan tidak mampu meningkatkan cadangan dan produksi minyak mentah bahkan mempertahankan di level produksi yang sama, maka kesimpulan anda akan lengkap. Silahkan simpulkan sendiri.

Secular Bear Market Minyak 2008 – 2025(?)
Dalam beberapa tulisan sebelumnya, EOWI sudah memproklamirkan bahwa minyak telah memasuki periode secular bear market. Artinya dalam beberapa tahun ke depan, sampai bilangan dekade, harga minyak, insya Allah, tidak akan melampaui harga tertingginya $140 per bbl yang dicapainya pada tahun 2008 lalu. Tepatnya $145.31 per bbl, pada tanggl 3 Juli 2008. Sebab secular bear market ini adalah karena banyak cadangan yang telah ditemukan selama tahun 2000 - 2008. Memang cadangan baru ini tidak di Indonesia, sebabnya karena salah urus di Indonesia. Tetapi di belahan dunia sana banyak cadangan telah ditemukan dan kapasitas produksi meningkat.
Secara teknikal secular bear market sudah dimulai. Hal ini bisa dilihat pada chart di bawah ini. Puncak wave-5 terjadi pada tanggal 3 Juli 2008 ($145.31 per bbl). Koreksi wave A menjatuhkan harga minyak ke $30.28 per bbl hanya dalam waktu 6 bulan yaitu tanggal 23 Desember 2008. selanjutnya rebound wave B yang merupakan sekumpulan wave kecil a-b-c-d-e yang membentuk pola segitiga wedge. Wave B ini sekarang sudah selesai, tren secular bear market wave C akan berlanjut. Targetnya adalah di bawah wave A, yaitu di bawah $30.28 per bbl.


Chart 2 (klik Chart untuk memperbesar)


Dengan harga minyak yang sempat menyentuh level $53.80 pada tanggal 16 Desember 2014, rasanya ramalan di bawah $30 per bbl bukanlah hal yang mustahil. Entah kapan akan dicapainya, tetapi kami perkirakan antara tahun 2015 sampai 2020, sejalan dengan ramalan Gejolak 2014 – 2020.
Dengan harga minyak jatuh demikian drastisnya, akan banyak membawa akibat. Buntut harga minyak yang jatuh tidak hanya akan meruntuhkan perusahaan-perusahaan minyak yang lemah, juga menyeret investor pemberi kredit, PHK para pekerjanya, tetapi juga goncangan-goncangan sosial yang dilatarbelakangi oleh tekanan ekonomi dan ketidak-puasan masyarakat. Pergolakan  sosial ini di masa lalu mengakibatkan runtuhnya banyak pemerintahan. Bukan tidak mungkin hal yang sama/mirip akan terjadi di masa depan. Tema ini akan dibahas pada bagian berikutnya dari Tergelincir Minyak Yang Licin (Bagian II).
Sekian dulu. Nanti akan dilanjutkan kisah berikutnya........, sampai nanti, insya Allah


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

6 comments:

Reader said...

Terima kasih banyak atas wawasannya Pak.

Cuma dari sudut pandang orang awam, saya bahagia harga minyak dan komoditi jatuh.

Harga barang moga2 akan lebih terjangkau. Semakin murah harga barang, semakin mungkin aktivitas ekonomi orang2 di luar arena komoditi meningkat.

Memang yg cari makan di bidang produksi komoditi akan terpukul, tetapi manfaat yg didapat populasi di arena produksi komoditi akan membesar.

Dirman said...

Malam P.Imam Semar, mohon wejangan nya,.mengapa diprediksi DJIA akan jatuh hingga 4000 ,bukankah kondisi Amerika justru membaik?

Andy R said...

//Reader said...

Cuma dari sudut pandang orang awam, saya bahagia harga minyak dan komoditi jatuh. Harga barang moga2 akan lebih terjangkau. Semakin murah harga barang, semakin mungkin aktivitas ekonomi orang2 di luar arena komoditi meningkat.//

Sayangnya yg demikian (harga menjadi terjangkau) gak akan terjadi Pak (di Indonesia). :)

Cak Nur71 said...


http://finance.detik.com/read/2014/12/17/164221/2780442/1034/

Kebodohan atau Pembodohan pak?

Anonymous said...

Apakah pemerintah bisa menahn pelemahan rupiah

Jefri Sid said...

target wave 5 blom tercapai nih bang, tapi udah diintervensi BI plus FED.. kacau.. haha...

oya bang, keliatannya pemerintah yg sekarang juga gak beda2 banget sama pmrintahan SBY

Pajak ekspor CPO 2015 ditiadakan. Aneh tapi nyata, disaat butuh dana besar dari perpajakan sampai2 ada ancaman utang pajak 100 juta akan dicekal, ini malah membebaskan pajak yg nilainya trilyunan, padahal cukup jelas eksportir sudah diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Pengusaha mana yang gak genjot ekspor pada saat rupiah melemah? Tanpa insentif pun pasti digenjot. Pinter banget indonesia-ku..