___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, August 31, 2014

(No.49) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA



Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21. 

Dongeng ini didedikasikan bagi mereka: 
            •  yang kritis, skeptis, berpikir bebas dan mencintai kebenaran
            • dan yang suka menikmati sarkasme dan humor sardonik

(Terbit, insya Allah setiap hari Minggu atau Senen)


Ketidak-bijakan berdikari juga membawa dampak pada swasta. Pabrik-pabrik yang memerlukan bahan baku, bahan pembantu dan suku cadang mesin dari luar negri mengalami hambatan pasokan. Mesin produksi tersendat. Dan ekonomi mengalami kontraksi berkepanjangan. Ini merupakan kontraksi ekonomi yang panjang dalam sejarah Indonesia yang bisa dicatat.

Sirkus tanpa lagu, akan terasa pincang. Pemilihan lagu yang tepat akan membantu mempopulerkan gagasan-gagasan Sukarno. Dan Sukarno memilih lagu-lagu mars yang bersemangat. Tema lagu tahun 1960 – 1966 di Indonesia didominasi dengan tema perjuangan, revolusi dan pemujaan pada pahlawan; pendek kata semuanya progressif revolusioner. “Acungkan tinju kita – Nasakom bersatu”, “Lagu untuk paduka yang mulia Sukarno”, “Bulat semangat tekad kita – Ini dadaku”, adalah sebagian dari tema lagu jaman Orde Lama. Padahal di dunia pada saat itu yang populer adalah lagu-lagu ceria, rock & roll dan lagu-lagu lembut the Beatles pada periode 1963 - 1966. Di puncak kekuasaan Sukarno lagu-lagu populer the Beatles yang dijuluki Sukarno sebagai musik ngak-ngik-ngok,  jarang diperdengarkan. Dan group band Koes Bersaudara yang lagu-lagunya masuk kategori ngak-ngik-ngok, ditangkap dan dipenjara pada bulan Juli 1965, karena selera musiknya tidak sesuai dengan selera Sukarno. Mereka baru dilepaskan akhir Agustus 1965.

Sirkus dengan lagu mars pertama adalah Trikora (1961 – 1962). Yaitu konfrontasi dengan Belanda mengenai Papua bagian barat. Pasukan dikirimkan dan satu kapal terpedo KRI Macan Tutul tenggelam. Pada akhirnya kemenangan Indonesia diperoleh dari diplomasi dan perundingan, bukan dari pertempuran operasi Trikora. Dengan demikian korban yang ikut tenggelam bersama KRI Macan Tutul menjadi sia-sia. Papua bagian barat menjadi provinsi Indonesia dengan nama Irian (Ikut Republik Indonesia Anti Netherland).

Tidak cukup dengan Trikora, sirkus baru perlu dibuat. Apalagi kalau roti sudah semakin sulit diperoleh. “Kora” lain perlu dibuat, namanya Dwikora (1962 – 1966), ganyang Malaysia. Ini dilandasi politik bebas aktif yang dianut Indonesia, artinya politik yang bebas dan aktif mencampuri urusan negara tetangga. Semenajung Malaya, Serawak, Sabah dan Singapura berniat membentuk satu negara federasi Malaysia dan masuk ke dalam organisasi negara-negara persemakmuran. Menurut ceritanya, hal inilah yang tidak berkenan dihati Sukarno. Sukarno tidak suka Malaysia menjadi boneka imprialis Inggris. Apakah itu adalah alasan yang sebenarnya atau masalah ekonomi, entahlah. Kalau dipikir lebih jauh, apakah salah Malaysia jika mereka memutuskan untuk menjadi boneka Inggris, seperti halnya Ukrania menggabungkan diri dengan Russia untuk membentuk Uni Soviet (1922) atau Hawaii menjadi bagian Amerika Serikat tahun 1959 atau Irian menjadi bagian dari Indonesia.

Kalau anda mendengarkan pidato-pidato Sukarno yang sekarang ini mudah diakses di Youtube misalnya pada link ini: http://www.youtube.com/watch?v=9-RuawIVKWY, kalau belum dihapus, anda akan tahu kharisma dan kemampuan Sukarno untuk mempengaruhi massa,  sekalipun idenya absurd. Saya anjurkan pembaca untuk mencari pidato Sukarno yang lain ketika mencanangkan program ganyang Malaysia. Potongan pidatonya di atas adalah seperti berikut ini:

.........Eh engkau Malaysia, apa konsepsi yang engkau berikan kepada umat manusia, apa konsepsi yang engkau berikan kepada rakyat di Kalimantan Utara, atau rakyat di Malaya atau rakyat di Singapur?  Apa konsepsi yang engkau keluarkan?

Indonesia tegap mengeluarkan konsep Pancasila, Manipol Usdek, Berdikari, Trisakti, Nasakom. Dan ini semuanya di Kairo, huduuh..... dikagumi oleh rakyat disana.....

.... Demikian juga tatkala saya berkata beberapa tahun lalu: “Go to hell with your aid.” Pada waktu itu orang Afrika: “It rang through Africa.”

Saya tanya sekarang kepada Malaysia: “Apa? apa suaramu yang membuat rakyat-rakyat di lain  negara merasa rang, merasa menggelegar?”

Tidak ada. Malaysia adalah suatu negara, kalau boleh dinamakan negara, tanpa konsepsi, suatu negara tanpa ideologi..........

Berbondong-bondong rakyat mendaftar menjadi sukarelawan perang untuk dikirim ke Kalimantan Utara (Serawak dan Sabah), yang kemudian dengan mudah tertangkap oleh pihak Malaysia.

Sukarno demikian bangganya dengan ide-idenya yang dianggapnya besar. Tetapi tidak sampai 10 tahun setelah kejatuhannya, orang sudah melupakan semua ide-idenya kecuali Pancasila. Itupun karena rejim Suharto menggunakannya sebagai subjek indokrinasi. Siapa yang masih ingat Trisakti, Manipol Usdek? Dan Malaysia yang dikatakannya sebagai negara tanpa konsep, ternyata bisa menjadi lebih makmur dari Indonesia, sehingga banyak orang Indonesia yang mencari makan disana. Dipihak lain, Indonesia dengan ide-ide brillian dari Sukarno, seperti Trisakti, Berdikari, Manipol Usdek dan Nasakom, mengalami kehancuran ekonomi.

Pada saat ekonomi mandeg, apalagi mengalami kontraksi, aktifitas dunia usaha melesu, kapital Belanda didepak keluar, maka yang bisa dipajaki semakin sedikit. Pemasukan pajak berkurang. Tetapi sirkus-sirkus seperti Asian Games di Jakarta, Ganefo, Conefo, Dwikora perlu biaya, seperti halnya pegawai negri. Lebih-lebih untuk kabinet yang menterinya berjumlah 100 orang (banyak). Dan bagi negara Indonesia, cari hutangpun sulit, karena para pemilik uang, kaum kapitalis dimusuhi. Kata Sukarno: “Go to hell with your aids”. Bagaimana jalan keluarnya?

Perlu uang? Takut rakyat memberontak karena dibebani dengan pajak yang tinggi? Penyelesaiannya mudah saja. Selama terbuat dari kertas atau bahan yang murah dan monopoli pencetakannya dan peredarannya di tangan pemerintah, maka pemerintah tinggal mencetaknya saja. Mesin cetak uang berputar dengan kecepatan penuh. Nilai uang dengan cepat merosot. Uang Rp 2.000 menjelang tahun 1964 bisa dipakai untuk belanja makan keluarga selama 2 hari, nilainya merosot. Dan 4 tahun kemudian, tahun 1967, hanya bisa dipakai untuk membeli sebungkus kwaci. Tabungan hancur. Alangkah mahalnya harga Trisakti, Manipol Usdek, Berdikari, Nasakom dan Dwikora.

Hidup semakin sulit. Nasi harus dicampur jagung. Tiwul dan gaplek menjadi biasa bagi sebagian masyarakat. Beras sintetis TEKAD (pellet yang terbuat dari Tela, Katjang, Djagung) pernah diperkenalkan untuk mengatasi kekurangan ini. Tetapi menghilang begitu saja, mungkin karena tidak ada bahan-bahan untuk membuatnya. Kenapa susah-susah membuat pellet, kalau tela, gaplek bisa dimakan langsung.

Kesulitan hidup membuat mood masyarakat menjadi terkotak-kotak. Dan akhirnya, ketika ada yang tidak bisa menahan diri dan memulai sesuatu yang drastis, yang menjadi pemicu segalanya maka timbullah kekacauan. Kejadian yang drastis itu terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi, yaitu pembunuhan 6 orang jenderal  dan seorang kapten angkatan darat, yang kemudian dikenal sebagai pahlawan revolusi (walaupun saat itu tidak ada revolusi). Mayatnya dibuang di sebuah sumur di Lubang Buaya, Pondok Gede. Yang dituding sebagai pelakunya adalah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selanjutnya pemburuan besar-besaran anggota-anggota PKI dan antek-anteknya berlansung. Ada yang memang layak mati karena dosanya. Banyak juga diantaranya adalah petani-petani biasa, buruh dan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa tentang PKI; yang keanggotaannya hanya ikut-ikutan. Bahkan hanya terdaftar saja. Mereka ditangkap, ada yang dibunuh dan banyak yang ditahan. Ada yang memperkirakan 500.000 orang yang dituduh PKI dan antek-anteknya dibunuh. Itu hanya perkiraan yang banyak disitir, tidak ada sensus dan pendataan tentang jumlah yang sebenarnya.

Ekonomi semakin parah dengan dihabisinya sebagian petani dan buruh tani yang dituduh PKI. Makanan semakin langka. Pemerintah terpaksa mendatangkan makan yang disebut bulgur, makanan hewan dari daerah Iran, Turki dan Asia Tengah. Kalau memasaknya pandai, enak juga rasanya. Yang pasti, bikin kenyang. Pada masa ini, keluarga saya terpaksa membagi 1 telur untuk 3 orang. Padahal 6 tahun sebelumnya, yaitu tahun 1961, anjing saya mengkonsumsi 0,25 kg daging per harinya.

Diperkirakan kurs dollar Pasar Baru mencapai Rp 2.000 di awal tahun 1964, kemudian melorot ke hampir Rp 5.000 di akhir 1964. Dan akhirnya menjadi sekitar Rp 35.000 di akhir 1965. Ini dikenal sebagai inflasi 620% di jaman Sukarno. Kemudian di akhir tahun 1965 ini, rupiah disunat 3 nolnya, supaya tidak terlalu banyak nolnya. Pecahan Rp 1000 menjadi Rp 1 uang baru. Di akhir masa kepresidenannya, tahun 1967, kurs dollar mencapai  Rp150 (rupiah baru) per dollar. Sebungkus kecil kwaci adalah Rp 2 atau US$ 0,013. Prestasi yang mengagumkan bagi Sukarno. Dalam masa 8 tahun (1959 – 1967) 99,97% dari nilai riil rupiah terbabat habis dan hanya tersisa 0.03% saja. Kolonialisme dan imperialisme yang dimusuhinya, rata-rata tidak sekejam ini dalam hal menyengsarakan rakyat. Buktinya Malaysia yang dicap sebagai  boneka imperial Inggris bisa melaju lebih makmur dari pada Indonesia.

Kejatuhan Sukarno, sangat mengenaskan. Dia tersingkirkan, dihinakan, paling tidak sampai 15 tahun setelah kematiannya. Juga keluarganya mengalami kesulitan. Walaupun demikian, pengikut setianya masih ada. Kata Abraham Lincoln:

You can fool some of the people all of the time, and all of the people some of the time, but you can not fool all of the people all of the time.

Kamu bisa menipu banyak orang sepanjang masa, dan semua orang untuk masa tertentu, tetapi kamu tidak bisa menipu semua orang selama-lamanya.

Sukarno yang bisa diibaratkan sebagai seorang salesman ulung yang mampu menjual kulkas kepada orang Eskimo atau menjual tahi ayam seharga coklat, pada akhirnya sebagian orang akan bertanya: Apakah kulkas dan tahi ayam yang telah dibelinya layak dan ada gunanya? Ada masanya orang menjadi tidak percaya kepada ide-ide brillian Sukarno karena tidak terbukti seperti yang diadvertensikan. Sebagian masih percaya, bahkan sampai sekarang. Itu pokok ucapan Lincoln. Dan pada saat mulai banyak orang menjadi tidak percaya, muncullah politikus baru untuk mempergunakan kesempatan. Dan lahirlah rejim baru, periode baru dan jaman baru. Tetapi inti proses dan isinya sama, hanya pelaku-pelakunya yang berbeda. Sejarah berulang kembali dengan pelaku-pelaku yang berbeda.



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya yaitu deflasi US dollar dan beberapa mata uang lainnya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

10 comments:

Dihas Enrico said...

ketika bangsa lupa untuk apa negara dan bangsa ini didirikan, saat itulah tidak akan ada kemajuan....

Tommy at Melbourne said...

Terima kasih Pak IS atas pencerahannya.

Saya jadi penasaran untuk membuat perbandingan.
Manakah yang lebih baik antara orde lama dengan orde baru jika hanya dilihat dari nilai pengurangan kekayaan (inflasi)saja yang terjadi selama masing2 rezim ini berkuasa?

Apakah periode orde lama (1949 - 1965) ataukah orde baru (1966 - 1998). Atau orde setelahnya (orde reformasi?) (1998-2014)?
Jadi asumsinya tiap awal periode rezim, argometer dimulai dari zero lagi.
Terima kasih.

Imam Semar said...

Sabar mas Tommy....., pertanyaan anda dijawab dalam 3-4 episode mendatang dengan judul: "Jaman Pembantu Rumah Tangga Milyuner Dan Trilliuner"

Saat ini, pembantu rumah tangga sudah jutawan (gaji pembantu rumah tangga saya Rp 1 juta).

Itu saya ramalkan sejak 10-15 tahun lalu.

Anonymous said...

Sekitar Jakarta Pusat, gaji pembantu sudah lebih dari 1 juta. Dengan adanya rencana redenominasi, ramalan Pak IS sepertinya akan tertunda sebentar, bisa 5 thn lagi atau lebih untuk pembantu menjadi jutawan lagi.

Datu said...

Sepertinya ramalan Pak IS akan tertunda sejenak bila rencana Redenominasi akhirnya dijalankan.

Mungkin butuh 5 - 10 th setelah Redenominasi baru para Pembantu bisa jadi Jutawan lagi.

Imam Semar said...

Datu....,

ha ha ha ha...., ini 'kan joke saja (tapi nyata). Tidak usah serius...., nikmati saja humor sardonik.....

Anonymous said...

senang rasanya melihat Om Is bisa tertawa lepas...hehehehe...pergerakan LM bgmn om..? udah jarang ngupas LM lg kyknya om IS...

Anonymous said...

bahas perekonomian dunia terkini donk pak is. sebagai intermezo gitu.

Imam Semar said...

Anony September 5, 2014 at 1:08 AM,

Saya sedang mempersiapkan 1 page ttg pandangan ekonomi 5 tahun ke depan.

Tunggu saja dulu...., sabar.

Anonymous said...

Ulasannya sangat menyenangkan dan smart.