___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, September 6, 2014

Lagu-Lagu Jejak Sejarah pada Dongeng EOWI


Ada pembaca EOWI yang memberi komentar bahwa Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21, Penipu, Penipu Ulung Politikus dan Cut Zahara Fonna, kelihatannya didukung oleh riset yang cukup dalam. Ada undang-undang, data-data ekonomi, dan komentar sejarah yang didukung dengan data. Bahkan lebih bagus dari pada buku-buku pegangan di sekolah-sekolah. Kemudian, pertanyaannya adalah: “Dimana dongengnya?”.

Jawaban saya adalah bahwa dongengnya tidak banyak. Kebanyakan adalah pada kisah sejarah yang dikutip dari buku sejarah. Misalnya kisah Ken Arok. Itupun EOWI memberikan komentar logisnya – seharusnya sejarah yang masuk akan bagaimana. Menurut EOWI, sejarah itu punya kadar dongeng yang lebih besar dari pada kenyataan.

Walaupun kisah Penipu, Penipu Ulung Politikus dan Cut Zahara Fonna, kami sebut Sejarah, Dongeng Satir……, jejak-jejak sejarahnya banyak sekali. Pembaca bisa berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kali Bata untuk melihat makam Brigjen Abdulhamid Swasono, polisi yang berani menangkap penipu Cut Zahara Fonna. Atau melihat undang-undang yang EOWI sitir. Berikut ini kami juga mau menampilkan jejak-jejak sejarah yang di-download di Youtube.

Pada seri ke 48 dan 49, dari kisah Penipu, Penipu Ulung Politikus dan Cut Zahara Fonna, diturunkan cerita tentang Sukarno yang membenci musik ngak-ngik-ngok dan sebagai gantinya bangsa Indonesia dijejali musik-musik mars yang bersemangat. Berikut ini adalah beberapa lagu favorit tahun 60an. Masih ada beberapa lagi tetapi tidak ada yang men-download-nya ke Youtube.







Kalau di atas adalah lagu maju tak gentar, berikut ini adalah lagu penantian wanita yang ditinggal pergi menjalankan misi Anu dan Itu Kora nya Sukarno.  





Tentunya pembaca masih ingat mengenai penipu yang bernama Raja Idrus dan Ratu Markonah? Penyanyi Tety Kadi menyanyikan lagunya, dengan nada ceria.




Dan tidak afdol kalau kita tidak mendengarkan pertunjukkan yang diberikan oleh sang superstar. Inilah sang superstar dengan kemampuan menjual tahi ayam seharga cokelat beraksi di atas panggung.




Semoga anda terhibur....., selamat berakhir pekan.


Disclaimer: 
Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

4 comments:

Usama Juniansyah Fauzi said...

Mas, saya nemu link blog-nyo di Facebook temen saya. Saya baca tulisan nya lama2. Menarik sekali mas..

Imam Semar said...

Terima kasih mas Usama,

Memang tujuan EOWI adalah menghibur dan menyampaikan ilmu serta pemikiran untuk direnungkan....

Anonymous said...

Kata Ibu saya, dia sangat tidak suka dengan Megawati. Alasannya karena di jaman bapaknya, ibu saya hidup sangat menderita, untuk membeli baju sepotong saja tidak mampu, akibatnya banyak yang menggunakan karung goni sebagai bahan baju.

Saya mendapatkan penjelasannya di blog ini tentang sepak terjang Sukarno di jaman itu.

Trims Pak IS.

Anonymous said...

@anonymous: Ibu saya pun merasa sangat menderita di jaman romusha, kata beliau jaman makan bulgur dan berpakaian karung goni.