___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, November 22, 2008

AKHIRNYA….. SAATNYA TIBA UNTUK BELI SAHAM EMAS DAN MINYAK

Minggu ini pendek dan singkat saja. Harap maklum saya baru terkena flu. Tidak berat sih. Cuma mengganggu.

MENGENANG MASA YANG LALU
Berbicara ramal-meramal, apakah pembaca ingat chart indeks S&P 500 di bawah ini (Chart-1) yang dimuat di EOWI edisi July 2008 ? (link). Ramalan seorang tukang tarik menarik garis. Seorang pembaca EOWI sempat berkomentar: “Emmmm, double tops.” Dan bagaimana keadaan yang sekarang? Kita bisa lihat di Chart-2.


Chart 1 (klik chart untuk memperbesar)

Saya mau sekedar koreksi mengenai targetnya. Yaitu sekitar 450. Angka 1.62 adalah angka Fibonacci. Setelah dihitung lagi berapa target jatuhnya S&P 500, maka nampak adanya simetri. Dalam kehidupan sehari-hari, simetri adalah merupakan bagian dari alam. Demikian juga bilangan Fibonacci. Banyak design alam mengikuti pattern angka Fibonacci. Alam cenderung membentuk simetri, jadi peluang S&P 500 menyentuh 450 masih ada. Mungkin di bawah 50%. Walaupun demikian EOWI cenderung untuk membuat disclaimer:

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Kalau banyak orang yang percaya, maka scenario double tops di Chart-2 ini bisa terjadi. Self-fulfilling prophesy.


Chart 2 (klik chart untuk memperbesar)

Kalau anda menghadiri pertemuan KSC.COM tahun 2003 di Kuningan, anda mungkin masih ingat salah satu chart yang saya tampilkan (Chart-3). Bagaimana kalau bear market 2007-20XX ini seperti bear market 1929 – 1932? Saya tidak menakut-nakuti anda, tetapi lihat Chart-4. Antara depressi 1930 dengan 2008 banyak persamaannya. Yang pasti penyebabnya hutang/kredit bubble. Dan ada juga perbedaannya. Sekarang ada Ben Bernanke yang katanya sudah mempelajari kasus depressi 1930. Kalau Big Ben tidak bisa menangani kekisruhan kredit 2008 ini, harga saham bisa jeblok seperti kasus tahun 1930...., indeks Dow terpangkas 90%.

Analog ini bisa benar dan bisa salah. Indonesia mungkin baru tahun 2009 depan terjadi PHK yang agak nampak. Oooh, saya lupa, depressi 1930 diakhiri dengan perang dunia II. Orang pada saat ini sudah bosan dan gampang tersinggung. Begitu ada pemimpinnya yang mengajak mereka: “Let’s go out and kick some asses.” Mereka dengan semangat mengikutinya. Dan terjadilah perang dunia II, perang kemerdekaan RI dan lain-lain. Lain kali kita akan bahas persamaan dan perbedaan depressi 1930 dengan calon depressi 2008.


Chart 3 (klik chart untuk memperbesar)


Chart 4 (klik chart untuk memperbesar)



Chart 5 (klik chart untuk memperbesar)


REPATRIASI DOLLAR VS MONETESASI HUTANG
Ada analis dari sekuritas Bahana diciduk polisi gara-gara mengedarkan email yang berisi peringatan kepada klientnya tentang adanya beberapa bank yang mengalami kesulitan liquiditas. Nama analis tersebut adalah Erick. Kasihan juga Erick. Dia hanya menjalankan tugasnya memberi peringatan kepada kliennya ternyata bisa dikriminalisasi. Kejahatan bisa dilegalisasi seperti fractional reserve banking (FRB). Dan kebaikan bisa juga dikriminalisasi. Nabi Muhammad juga dikejar-kejar karena mengajarkan kebenaran. Jesus juga dituntut hukuman mati di atas tiang salib karena ajarannya bisa menggoyangkan sistem yang mapan dan salah. Apa salah Erick? Apa karena tindakannya bisa menggoncang perbankan? Atau bank-bank itu sudah mengalami kesulitan? Kalau bank-bank yang dimaksud Erick tidak melakukan FRB dan tidak mengalami persoalan liquiditas, kenapa mesti takut. Takut karena ada barang busuk yang disembunyikan.

Tentang kasus Erick, EOWI sudah mengingatkan bahwa pada masa Winter-K, pemerintah cenderung menjadi sosialist, fasist dan tangan besi. Demokrasi menjadi sistem “Democracy is a government by the people, of the people, to fool the people”, mungkin harus ditambahi – to suppress the people when necessary.

Apa hubungannya antara Erick dan repatriasi dollar vs monetesasi hutang serta judul bab ini? Apa yang disebarkan Erick ternyata ada benarnya. Bank Century mengalami gagal kliring dan diambil alih pemerintah. Ini adalah awal proses monetesasi. Susahnya bagi investor ialah pemerintah RI sudah sangat tanggap. Transparansi sudah dihapus. Berita busuk harus dipendam, karena pemerintah akan membuat jurus monetesasi hutang - alias menyuntikan dana. Jadi kita tidak tahu kapan pemerintah melakukan monetesasi hutang, mencetak uang besar-besaran dan menggerus nilai tabungan kita. Bagi yang tidak tahu arti monetesasi hutang, perlu kami jelaskan seperti berikut. Bank, perusahaan investasi punya surat hutang, tetapi (surat) hutang busuk. Kemudian pemerintah mengabil alih ke bank tersebut dan menyuntikkan dana. Dana itu dari mana? Dari mencetak duit. Itu dia namanya monetesasi hutang. Hutang atau kredit diubah menjadi cash.

Katanya Bloomberg menuntut the Fed kepengadilan karena the Fed tertutup mengenai usaha-usaha pengacakan (menurut the Fed: penyelamatan, EOWI akan menggunakan kata pengacakan karena hal ini lah yang sebenarnya) ekonomi. CNBC menelusuri, sudah berapa besar biaya yang dipakai untuk mengatasi krisis kredit dan moneter ini [link]. Ternyata sudah $ 4.3 trillion (lihat tabel di bawah dari CNBC).


Saya tidak tahu bagaimana akhir persengketaan antara the Fed dan Bloomberg. EOWI lebih tertarik pada masalah keuangan.

Bisa dibayangkan kalau the Fed, bank sentral Iceland, bank sentral Belanda, Jerman, Indonesia, Cina, Russia, melakukan monetesasi hutang, bagaimana hebatnya inflasi nanti. Orang masih ragu, bagaimana the Fed, bank sentral yang independen bisa seenaknya mencetak duit? Jawabnya sederhana.

Dept. Keuangan US menerbitkan surat hutang untuk menutupi defisitnya. Perkiraan sementara pada tahun pertama Obama nanti defisit anggaran belanja US adalah $ 2 trilliun (2 dengan 9 angka nol dibelakangnya). Naik 4 kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin lebih banyak kalau pemerintah US mau bikin mega proyek untuk menstimulir ekonomi. Bendungan Hoover pembangkit tenaga listrik dan struktur beton terbesar di dunia dibuat oleh presiden Hoover dengan tujuan menstimulir ekonomi dimasa depressi 1930. Mount Rushmore memorial dibangun tahun 1927-1941. Pemerintah akan berbuat apa saja untuk menstimulir ekonomi dan kalau tidak berhasil akan mengalihkan perhatian kemana saja termasuk perang. Untuk kasus tahun 1930 adalah perang dunia II.

Kalau Dept. Keuangan US menerbitkan surat hutang, siapa yang mau beli? Cina, Russia dan Jepang beli surat obligasi US untuk menyimpan surplus perdagangannya. Kalau consumen US tidak membeli barang dari Cina, Jepang, Russia, apa urusan mereka ini beli surat hutang US? Jadi pembeli terakhirnya adalah the Fed. The Fed mencetak duit untuk ditukarkan dengan surat hutang pemerintah US. Ini bisa berlaku untuk semua negara. Pemasukan pajak negara dalam masa depressi kecil. Jadi defisit anggaran sudah pasti.

Saya punya joke: Pada masa Greenspan, rakyat menuntut kredit maka the Fed membanjirinya dengan kredit murah. Pada masa Ben Bernanke, kreditnya menjadi basi dan dosisnya tidak mempan lagi, dan rakyat minta cash, maka the Fed (akan) membanjirinya. Ketika sadar bahwa mencetak uang tidak membuat makmur......, akhirnya uang fiat dicerca....


Rushmore Memorial (Benda yang mubazir dan tidak punya fungsi)


TEKANAN JUAL BERAKHIR DI EMAS (JUGA DI MINYAK)
Tekanan jual di sektor emas nampaknya sudah berakhir. Liquidasi paksa akibat carry trade yang berbalik arah sudah surut di sektor emas. Sekarang kita harapkan perdagangan emas akan bullish kembali karena investor yang mengantisipasi inflasi akibat monetesasi hutang akan masuk secara agressif.

Tanda-tanda titik balik arah perdagangan emas ini ada pada hari Kamis tanggal 20 November 2008, dimana indeks Dow jatuh 6% lebih sedangkan emas mencetak gain positif dan saham emas terkoreksi sedikit. Dan pada hari berikutnya emas mencetak gain 5.7% dan indeks saham emas HUI 27%. Hal yang seperti ini adalah gejala akhir dari koreksi.

Saham-saham minyak juga membukukan keuntungan yang lumayan. NOV – National Oil Varco, mencetak gain 20% di hari Jumat itu.

Tanpa basa basi lagi, EOWI akan masuk dengan amunisi penuh, 100% bertempur di sektor ini. Perkiraan EOWI rally di sektor emas ini bisa berlangsung sampai February 2009. Ini ada kaitannya dengan siklus perdagangan emas.

Recomendasi:

EOWI menyukai option-option berikut ini dengan harga penutupan hari jumat 21 Nov 2008 :

NOV call $25 Jan 09 (NOVBE) di $4.00. Harga ditutup pada level $ 3.62

GDX call $25 Mar 09 (GBJCY) di $3.50 - $4.00, harga penutupan di $4.00

GLD call $80 Mar 09 (GLDCB) di $8.20. Harga penutupan tgl 21 Nov 09 di $8.10

Dengan rally yang cukup besar pada hari Jumat kemarin, kami harap ada koreksi sedikit. Jadi kita bisa ambil diharga yang lebih rendah. Jangan lupa trailing stop, kalau-kalau perkiraan kita salah.

Omong-omong harga emas kelihatannya sudah menembus rekor baru dalam rupiah, di atas Rp 300 ribu per gram. Selamat bagi yang telah memidahkan depositonya ke emas... .Jaga kesehatan anda baik-baik dan juga tabungan anda.

Jakarta 22 Nov. 2008


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

22 comments:

Aditya Suseno said...

Saya senang sekali dengan tulisan Anda. Apakah Anda dosen atau pengajar? Saya penasaran dengan siapa Anda. Tulisannya benar-benar cerdas.

Imam Semar said...
This comment has been removed by the author.
Imam Semar said...

Terima kasih atas pujian anda. Sebaiknya hal itu disimpan untuk Allah. Segala puji bagi Allah.

Kami bukan dosen, melainkan pekerja/karyawan yang menyempatkan diri untuk melihat kondisi ekonomi demi tabungan, hasil jerih payah dan keringat, agar nilainya tidak susut ketika kami pensiun nanti. Dan meluangkan waktu untuk berbagi informasi dengan pembaca..... supaya sama-sama selamat dan supaya sama-sama menjadi pintar.

KOMUNITAS EMBUN PAGI said...

Kalau melihat masa depan perkembangan pemikiran/kecerdasan "dosen-dosen ekonomi", saya kira sangat suram. Selama sistem pendidikan mereka masih tertutup, selama mereka masih produk negara, selama mereka menganggap dosen sebagai profesi.Hampir musykil masyarakat akan mendapat kebenaran informasi dan ilmu pengetahuan untuk melindungi diri dari serangan monster negara.

Giyanto

Gugus A. Sakti said...

Setuju dengan yang Pak Giyanto utarakan. Karena itu saya sebagai seorang mahasiswa fakultas ekonomi lebih senang mencari ilmu di luar dan belajar dari kondisi lapangan.

Imam Semar said...

Ayo mas Gugus..., anggap saja EOWI adalah sekolah excursion atau apalah..., coba terangkan bagaimana terjadinya krisis di Indonesia sebagai effek domino dari krisis subprime US.

Sampai sekarang rentetannya adalah Subprime US merambat ke krisis kredit, kemudian ke deflasi,...., hayooo gimana :D

On Coffee Talk said...

(2nd trial tadi komen saya gagal)

Saya bukan mas Gugus, boleh ikutan jawab ya?

Setelah deflasi, berikutnya cetak uang untuk melumasi perekonomian. dan bersamaan monetesasi utang dari bailout/nasionalisasi, maka terjadi inflasi. Atau mungkin juga bila pencetakkan uang "dirasa" terlalu lambat, maka bisa jadi pilihannya adalah devaluasi mata uang.

michael said...

Dear pak IS,

Ada beberapa hal yang saya perlukan saran bapak, mohon di jawab ya pak =D

1. Sehubungan dengan maraknya NPWP belakangan ini, apa saran Pak IS apakah perlu kita sebagai rakyat kecil membuat NPWP atau kita cuek in aja? Latar belakang saya adalah sebagai konsultan/tenaga ahli freelance, dimana penghasilan PPh dipotong perusahaan dan perlu di hitung final pada akhir tahun.

2. Sesuai tulisan pak IS untuk bertempur amunisi penuh di sektor emas dan minyak, baik secara fisik maupun saham/option. Yang saya ingin tanyakan adalah apakah ada fasilitas yang memungkinkan di Indonesia untuk melakukan pembelian emas dengan USD sehingga tidak terjadi kerugian kurs USD/IDR karena spread yang ada sedang tidak stabil. Dan apakah sudah saatnya sekarang melepas USD karena sepertinya USD akan melejit lagi..

Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih dan semoga pak IS sehar selalu..

Regards,

Michael

michael said...

Dear pak IS,

Ada beberapa hal yang saya perlukan saran bapak, mohon di jawab ya pak =D

1. Sehubungan dengan maraknya NPWP belakangan ini, apa saran Pak IS apakah perlu kita sebagai rakyat kecil membuat NPWP atau kita cuek in aja? Latar belakang saya adalah sebagai konsultan/tenaga ahli freelance, dimana penghasilan PPh dipotong perusahaan dan perlu di hitung final pada akhir tahun.

2. Sesuai tulisan pak IS untuk bertempur amunisi penuh di sektor emas dan minyak, baik secara fisik maupun saham/option. Yang saya ingin tanyakan adalah apakah ada fasilitas yang memungkinkan di Indonesia untuk melakukan pembelian emas dengan USD sehingga tidak terjadi kerugian kurs USD/IDR karena spread yang ada sedang tidak stabil. Dan apakah sudah saatnya sekarang melepas USD karena sepertinya USD akan melejit lagi..

Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih dan semoga pak IS sehar selalu..

Regards,

Michael

Pustaka Pohon Bodhi said...

Kalau 10 atau 20% uang di pasar finansial dunia bisa digunakan untuk menanam lebih banyak bahan pangan, atau untuk membuka lebih banyak sekolah, atau untuk riset sumber energi lain, dunia ini mungkin sudah jauh jauh lebih maju dan sejahtera. Mayoritas orang yang saya kenal kehilangan uang di pasar spekulasi (saham, forex, index, komoditi), saya khawatir ini bukan kebetulan.. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar kerugian yang dialami masyarakat, semakin besar juga uang yang tidak bisa digunakan untuk ekonomi riil..

Giy-Blog Praksiologi said...

@PPB
"Mayoritas orang yang saya kenal kehilangan uang di pasar spekulasi (saham, forex, index, komoditi)"

Giy
Saya kira tidak masalah selama itu adalah uang mereka sendiri. Tapi masalahnya kalau uang yang dimainkan itu adalah hasil kredit atas kong-kalikong dari uang rakyat dan uang tabungan masyarakat yang ada di bank ataupun di pemerintahan...

Setiap orang berhak memutuskan ke mana uangnya akan dipakai, tapi dia tidak berhak menggunakan hak milik orang lain untuk spekulasi tanpa ijin dari si pemilik hak..
Itu prinsipnya!!!!

"Kalau 10 atau 20% uang di pasar finansial dunia bisa digunakan untuk menanam lebih banyak bahan pangan, atau untuk membuka lebih banyak sekolah, atau untuk riset sumber energi lain, dunia ini mungkin sudah jauh jauh lebih maju dan sejahtera"

Giy:
Atas dasar apa uang tersebut muncul? apakah dari pencetakan uang, uang pajak, uang tabungan atau uang hampa?
Yang dibutuhkan bapak saya untuk bertani sebenarnya bukanlah uang, tapi modal produksi yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai barang produksi.
Buat apa uang cetakan yang tidak cukup untuk membayar gaji buruh, irigasi, dsb...

Intinya, uang bukanlah modal tapi dia cuma alat tukar---yang sering dirampok oleh pemerintah dan negara sehingga nilainya semakin menurun.

Salam

Pustaka Pohon Bodhi said...

@Giy
Saya setuju dengan Bapak, namun manusia zaman ini tidak ingin kembali ke zaman barter lagi, jadi mau tak mau kita tetap butuh uang untuk digunakan. Modal produksi tetap perlu uang untuk dibeli.

Menurut saya, yang perlu diperjuangkan adalah mengganti sistem moneter sekarang, uang jangan muncul dalam bentuk kredit oleh perbankan swasta. Apa hak mereka untuk menciptakan uang (kredit) dan menagih bunga kepada kita?
dan kalau memang sistem ini tidak bisa diubah, maka semua bank harus dinasionalisasikan, semua keuntungan mereka disetor sebagai pajak kepada negara, untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar rakyat.

Saya percaya uang greenbacks versi Lincoln, negara mencetak uang dan mendistribusikan kepada rakyatnya untuk digunakan (bebas hutang), bukan yang versi bankir, di mana uang muncul dalam bentuk kredit, di mana semua orang adalah penyewa uang.

Kalau kita bisa mengganti sistem yang kita gunakan sekarang, saya percaya satu per satu masalah ekonomi dan sosial perlahan-lahan bisa diselesaikan.

& satu hal lagi, saya percaya pemerintah hanyalah kambing hitam atas masalah, kesalahan terletak di sistem perbankan yang kita anut. Pemerintah juga sama seperti kita, mereka adalah korban kredit & bunga.

Giy-Blog Praksiologi said...

@PPH
"yang perlu diperjuangkan adalah mengganti sistem moneter sekarang, uang jangan muncul dalam bentuk kredit oleh perbankan swasta"

Giy:
Saya Setuju dengan pendapat di atas. Tapi pendapat anda yang mengatakan:
"saya percaya pemerintah hanyalah kambing hitam atas masalah, kesalahan terletak di sistem perbankan yang kita anut. Pemerintah juga sama seperti kita, mereka adalah korban kredit & bunga."

Giy:
Masalahnya di sini anda sudah terlanjur meyakininya. Ada sifat-sifat yang saling tumpang tindih dan proposisi tersebut.
Bagaimana mungkin pemerintah menjadi korban, wong yang menciptakan sistem tersebut adalah mereka sendiri.
Dimanapun sifat-sifat kekuasaan tidak akan dapat dipercaya untuk memegang sistem ekonomi. Apalagi uang...sama saja anda menyerahkan nyawa anda kepada politisi...

mandrivalover said...

@Giy
William Gladstone, seorang perdana menteri Inggris tahun 1852pernah bilang:Sejak saya bertugas disini, saya mulai menyadari ternyata pemerintah tidak berkuasa atas masalah finansial. Mereka sebenarnya tidak direncanakan untuk berkuasa, pekerjaan mereka sebenarnya adalah melindungi dan menutupi "Kekuatan Kaya".

On Coffee Talk said...

@Mandrilover

Saya kira Anda/William Gladstone benar, kaum kaya itulah yang mengendalikan perekonomian. Beberapa sumber (yang pernah saya baca) menyebut mereka dengan istilah Elite, dan mereka itulah yang mengendalikan perekonomian dan pemerintahan banyak negara, seperti boneka puppet!

Pustaka Pohon Bodhi said...

@Giy
Saya percaya pemerintah (bukan cuma Indonesia) tidak menciptakan sistem perbankan, mereka tidak memiliki kekuasaan riil untuk itu, kekuasaan tertinggi ada di tangan bankir internasional (Rothschild, Rockefeller, Warburg, Oppenheimer, dll). Kalau para bankir tidak sanggup mempertahankan kekuasaan mereka dengan suap, mereka akan menggunkan cara yang lebih sederhana, bunuh saja si pejabat pembangkang.

Presiden, pejabat ekonomi, mereka hanya melanjutkan sistem yang ada, dan berupaya memperbaiki keadaan dengan aturan main sesuai sistem yang sudah ada (riba & fractional reserve).

Itu sebabnya saya mengatakan pemerintah sendiri adalah korban.

Ada sebuah website yang sangat bagus berisi research sejarah bankir dan kriminalitas mereka, www.iamthewitness.com , semoga Bapak ada waktu untuk membaca-baca di sana juga.

Imam Semar said...

@On Coffee Talk
@Mandrilover

OCT:Saya kira Anda/William Gladstone benar, kaum kaya itulah yang mengendalikan perekonomian. Beberapa sumber (yang pernah saya baca) menyebut mereka dengan istilah Elite, dan mereka itulah yang mengendalikan perekonomian dan pemerintahan banyak negara, seperti boneka puppet!

IS: Democracy,Aristocracy, oligocray, Monarchy..... semuanya sama: Plutocracy. (Asal jangan plutonya Mickey Mouse saja...., he he he he he).

Giy-Blog Praksiologi said...

@mandrivalover
@Pustaka Pohon Bodhi

Giy:
Sebenarnya apa yang saya pakai bukanlah data "sejarah" seperti kutipan anda. Tapi lebih dekat dengan pandangan saya mengenai sifat-sifat kekuasaan. Katakanlah anda berdua "menuduh" bahwa para "penguasa ekonomi" (dengan bahasa lain para kapitalis---kalaupun itu bankir) ialah 'dalang' dari segala ketidakadilan...

Sekali lagi saya memiliki pandangan lain. Dalam "kekuasaan" maka akan ada banyak jenisnya, Selain ekonomi, politik, intelektual, budaya, moral dsb...memiliki sifat-sifatnya masing-masing.

Dan menurut saya yang paling berbaya adalah penguasa politik. Katakanlah dengan bahasa saya, intinya anda berdua ingin mengatakan bahwa untuk merobohkan "penguasa ekonomi", kita harus mendorong "penguasa politik"/pemerintah untuk campur tangan mengambil alih ketidak adilan. Logika tersebut menurutku jelas jauh dari nalar.

seperti kata-kata ini: "Presiden, pejabat ekonomi, mereka hanya melanjutkan sistem yang ada, dan berupaya memperbaiki keadaan dengan aturan main sesuai sistem yang sudah ada".

Giy:
yang anda lupakan adalah bahwa sifat-sifat politik itu lebih mementingkan 'citra' daripada akal. Saya akan memberi contoh jenis "kebodohan pemerintah" yang dampaknya langsung saya rasakan. Misalnya, katakanlah untuk "membantu" si "miskin" agar mendapatkan beras, pemerintah harus mendirikan BULOG agar dapat "mengotak-atik" harga beras di pasar agar "terjangkau". Apakah itu cara 'melindungi' rakyatnya dari kemiskinan? Pertanyaan yang terlupakan adalah. Bagaiman dampaknya terhadap nasib petani?

sama saja logika yang anda pakai dalam hal argumen anda yang membela kebijakan baik moneter, perbankan, industri, dsb...oleh pemerintah

Apakah anda mendukung agar saham Bumi dapat "dilindungi" pemerintah?

Dengan usul anda berdua, di sekitar kita akan banyak melihat monster-monster Bakrie-bakrie yang lain.
Dan yang jelas-jelas dirugikan adalah orang yang tidak memiliki akses kekuasaan...


Jadi inti semua problem ekonomi adalah, adanya campur tangan 'penguasa politik' untuk melindungi kepentingan "rakyat" yang walaupun sebenarnya adalah mengacaukannya!

Solusinya: biarkan yang dapat kaya itu berkarya, dan yang miskin berusaha!

Salam

Pustaka Pohon Bodhi said...

@Giy
Apakah yang kaya dapat berkarya, atau yang miskin dapat berusaha tidak tergantung kita. Dunia ini tidak ada kapitalisme murni. Kecuali kalau kita bisa membebaskan diri dari sistem riba perbankan, bila tidak bankirlah yang memegang kendali.

Anda pernah membaca 24 Protokol Tetua Terpelajar Zion? Kalau belum nanti saya postkan di blog saya (tapi masih dalam bahasa Inggris). Memang ada debat apakah protokol itu benar-benar ada, tapi itu bukan pokok masalahnya, Anda baca saja, dan renungkan apakah bukan itu yang memang sedang terjadi.

Politisi tidak memegang kendali, mereka hanya boneka untuk menjalankan sandiwara. TUAN UANGlah yang berada di balik setiap masalah. Tidak ada politisi di zaman ini yang bisa naik ke puncak karier tanpa dukungan dari tuan uang.

Imam Semar said...
This comment has been removed by the author.
Imam Semar said...

@Michael

Saya tidak menganjurkan anda untuk melanggar aturan, karena resikonya ada. Kalau anda mau melanggar aturan, harus dipertimbangkan untung ruginya. Kalau saya lihat anda bergerak bukan di ekonomi underground seperti tukang bakso, parkir liar, tukang sayur yang tidak akan pernah berurusan dengan pemerintah. Peluang mereka untuk bisa lolos dari jeratan pajak cukup besar. Oleh sebab itu mereka yang bergerak di sektor ekonomi underground biasanya tidak punya NPWP. Dan sebagian besar selamat.

Untuk anda, yang harus anda tanyakan pada diri anda ialah, apakah anda bisa menghindar pajak terus-menerus dan kalau kena pergok apakah anda mau menerima dendanya? Soalnya sekarang pemerintah kelihatannya mau menutup banyak pintu dan menggiring semua orang untuk punya NPWP. Misalnya, kalau anda mau beli rumah, ambil kredit mobil, dll sekarang, kalau tidak salah, akan dimintai NPWP. Pemerintah dengan segala cara akan memaksa orang untuk punya NPWP.

Ada kenalan saya, tidak mau punya NPWP karena dia sudah menetapkan hatinya untuk berimigrasi ke luar negri, pensiun disana dan tidak akan balik ke Indonesia.

Jadi pikirkan lah baik-baik. Walaupun saya tidak suka dipajaki seperti sekarang ini (karena tidak adil dan lebih banyak seperti pemalakan), saya tidak akan membuka front dengan pemerintah. Karena mereka punya senjata dan banyak pasukannya. Kecerdikan lebih baik daripada bermain otot. Kalau anda bisa cari negara yang lebih adil, pindah saja dan buang NPWP serta warga negara Indonesia anda.

michael said...

Dear Pak IS,

Terima kasih atas buah pikiran bapak. Dugaan bapak benar, saya tidak termasuk dalam kelompok ekonomi underground. Saya seorang konsultan di BUMN.

Inti yang saya dapatkan adalah adalah bermain cerdik.

Apakah bermain cerdik dalam arti laporan tahunannya? Tolong diluruskan apabila saya salah menangkap maksud pak IS.

Bagaimana dengan pembelian emas dengan USD di Indonesia? Apakah pak IS ada lead untuk hal ini?