___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, October 4, 2008

ISLAM, AGAMA TANPA SPIRITUALITAS (I)

PENGANTAR
Dalam rangka hari iedul fitri ini EOWI ingin mengetengahkan sebuah topik, yang seperti biasanya, agak kontroversial. Kami katakan kontroversial karena bisa dipastikan (99.99%), anda belum pernah mendengarnya, kecuali anda mengenal kami secara individu dan mendengarnya dari kami sendiri. Topik yang dimaksud adalah masalah rohani dan rohaniah atau spiritual dan spritualitas.

Tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah sayembara berhadiah Rp 10,000,000 (sepuluh juta rupiah). Selamat menikmati. Jangan terkejut kalau apa yang anda percayai selama ini ternyata tidak sejalan dengan Quran.


PUASA DAN PEMELIHARAAN DIRI
Umat Islam merayakan hari kemenangan, iedul fitri, setelah sebulan melaksanakan ibadah saum (puasa). Selama bulan Ramadhan itu banyak umat Islam mengisinya dengan segala macam kegiatan spiritual, kegiatan kerohanian, misalnya lebih sering mendengarkan santapan rohani.

Perintah puasa dan aturan-aturannya ada di Quran surah 2 ayat 182 sampai 187. Kalau kita perhatikan sangat spesifik.

[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

[2:184] (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

[2:187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

[2:189] Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.


Ayat-ayat seperti ini sering kami gunakan untuk mematahkan argumen bahwa Quran hanya membahas yang umum-umum saja, sedangkan pelaksanaannya harus dilihat di hadist. Kami berpendapat, jika pengarang Quran – Allah – menghendaki spesifik, maka akan dinyatakan dalam Quran. Jika tidak spesifik dan longgar maka, dinyatakan secara longgar di Quran. Ayat 182 – 189 surah al Baqarah menyatakan beberapa poin:

1. Puasa itu wajib
2. Siapa saja yang memperoleh pengecualian sementara dan harus membayar puasanya dikemudian hari: musafir, orang sakit.
3. Pengecualian dengan harus membayar fidiyah (uang pengganti puasa).
4. Puasa dilakukan selama hari yang ditentukan, dimulai dari munculnya bulan baru dan diakhiri ketika bulan baru berikutnya muncul.
5. Puasa dimulai pada saat mata bisa membedakan benang putih dan benang hitam (muculnya cahaya matahari, fajar) sampai malam (terbenam matahari). Catatan: tanpa adanya cahaya, warna hitam dan putih tidak bisa dibedakan.
6. Pada saat tidak berpuasa dimalam hari, diperbolehkan melakukan hubungan sex dengan pasangannya.
7. Jangan melakukan hubungan seks atau bercumbu ketika ber-i’tikaf di mesjid.

Semuanya sangat spesifik. Tanpa perlu sumber-sumber lain atau tafsir.

Pengarang Quran – Allah SWT – menjanjikan bahwa puasa akan membuat pelakunya lebih bertaqwa. Sepanjang pengetahuan kami, kata taqwa dalam konteks ini tidak pernah diterjemahkan (translasi) melainkan di-transliterasikan. Ini kami anggap sebagai kecurangan penterjemahan. Sebab, bagi yang tidak mengerti bahasa Arab, transliterasi bisa dimengerti secara berbeda dengan kata itu dalam bahasa aslinya. Kami ambil contoh yang sangat jelas untuk kasus salah arti ini. Kata Arab khidmat dalam bahasa Indonesia berpadanan dengan “solemn” bahasa Inggris, padahal dalam bahasa Arab padanannya adalah “serve” - melayani. Sangat berbeda. Anda tidak pernah mendengar kalimat ini:

Kita berkhidmat untuk masyarakat (artinya: kita melayani masyarakat).

Kecuali anda tinggal di Malaysia dimana kata khidmat artinya masih sama dengan kata Arabnya (serve, melayani).

Hal yang sama dengan kata taqwa. Kata taqwa ini, saat ini di dalam terjamahan Quran seakan mempunyai konotasi spiritual (ke-rohaniahan), yang sulit kami mengerti. Kata taqwa ini dimengerti sebagai “berserah diri kepada Allah”, atau fatalis. Ini tidak sejalan dengan pola pemikiran Quran yang sangat rasionil. Coba perhatikan ayat ini, Tuhan menghukum orang yang tidak menggunakan akalnya:

[10:100] Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Untuk memperoleh keimanan harus digunakan akal!. Dalam topik-topik lain, EOWI akan menunjukkan bagaimana rasionilnya Quran, bahkan susunan kalimat-kalimat Quran sangat berpegang teguh pada kaidah-kaidah logika. Lain kali akan kita bahas hal ini.

Kata taqwa berasal dari kata waqa ini punya arti yang berkaitan dengan pengertian “terpelihara”, bukan fatalis. Ada suatu kisah (hadis) yang berkaitan dengan pengertian taqwa. Seseorang melepas ontanya, tanpa diikat. Hal itu dilihat nabi dan kemudian ditanyakan kenapa orang tersebut berbuat demikian. Orang itu menjawab bahwa dia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Nabi Muhammad saw, kemudian menerangkan bahwa taqwa (berserah diri) itu bukan demikian. Tetapi dia harus berusaha sebaik mungkin dengan mengikat onta tersebut ditempat yang baik, sehingga tidak lari atau dicuri orang.

Kami agak meragukan kesahihan hadis ini, karena seharusnya orang Arab pada waktu itu seharusnya tahu arti kata taqwa. Yang jelas Islam bukan fatalis, menyerah pada nasib.

Andaikata kata taqwa diterjemahkan sebagai kata yang ada kaitannya dengan pemeliharaan diri, makna ayat-ayat Quran yang menggunakan kata taqwa tersebut sangat sensible dan tidak memerlukan penafsiran. Cukup penterjemahan. Kita harus membedakan antara tafsir (mengandung banyak opini si penafsir, disebut juga commentary dalam bahasa Inggris).


ANTARA TAFSIR, TERJEMAH DAN TRANSLITERASI
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara tafsir dan terjemah. Sebuah tafsir bisa lebih tebal dan lebih panjang dari pada yang ditafsirkannya itu sendiri. Jangan heran, tafsir al-Azhar Buya HAMKA lebih tebal dari Quran itu sendiri. Apakah sebuah tafsir itu benar?

Tafsir adalah sebuah penghinaan terhadap pengarang Quran, seakan pengarang Quran ini (Allah swt) tidak mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya dalam bentuk tulisan. Atau Allah swt ini suka yang misterius-misterius sehingga karangan (perintahnya) harus diterka-terka. Mengatakan bahwa Allah itu tidak pandai mengungkapkan perintahnya atau Allah itu misterius adalah penghinaan terhadap Allah.

[3:7] Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang jelas itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) dengan analogi. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat analogi untuk menimbulkan cobaan dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat analogi, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.

Misteriusme dalam Quran dibantah oleh beberapa ayat (paling tidak 4 ayat): [15:1], [26:2], [27:1], [28:2].

[15:1] Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab, yaitu Al Qur'an yang memberi penjelasan.

Bagaimana mungkin misterius jika jelas. Arti misterius adalah tidak jelas, sembunyi-sembunyi, samar-samar, kabur.

Jadi usaha-usaha memberikan penjelasan adalah bertentangan dengan Quran itu sendiri, karena pengakuan Quran bahwa pesan di Quran itu sudah jelas. Persoalannya, banyak penafsir tidak hidup dijaman dimana ilmu untuk mengerti Quran sudah berkembang. Misalnya Quran membicarakan mengenai kota Iram dengan pillar-pillar yang tinggi. Kota Iram itu tidak pernah ada dalam catatan sejarah sampai tahun 1978. Beberapa penafsir Quran sebelum tahun 1978 itu, seperti Yusuf Ali (tahun 30an), secara apologetic mengatakan Iram hanyalah kota secara figuratif, bukan kota yang riil. Pada tahun sekitar 1978, pada saat eksavasi kota Ebla, ditemukan catatan mengenai kota Iram. Jadi sejak tahun 1978, Iram sudah ada dalam sejarah. Hasil eksavasi Ebla ini di muat di buku National Geography tahun 1978. Bagaimana seorang penafsir sebelum tahun 1978 tahu mengenai Iram? Salah-salah tafsirnya condong pada hal-hal yang aneh seperti yang dikatakan Quran 3:7, mencari-cari takwilnya tanpa dasar.

Contoh lain. Quran 21:30

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Ada 3 poin dalam ayat ini:

a. Langit, bumi (alam semesta) ini awalnya “mono-block”, satu. Kemudian dipecahkan
b. Makhluk hidup terdiri/terbentuk dari air
c. Yang mengamati pertama kali hal ini adalah non-muslim

Poin pertama menceritakan tentang suatu fenomena yang kemudian disebut big-bang. Orang-orang yang bekerja sampai akhirnya big-bang ini menjadi teori yang diterima seperti Georges Lemaître, Albert Einstein, Alexander Friedmann, Edwin Hubble, Fred Hoyle, dsb – tidak satupun muslim. Juga orang yang menemukan bahwa mahluk hidup terdiri dari air, Anthony van Leeuwanhoek, juga bukan seorang muslim.

Pertanyaannya, sebelum pengetahuan ini (big-bang atau makhluk hidup terdiri dari air) established, bagaimana seorang penafsir Quran mengerti apa yang dimaksud Quran secara benar?

Adakah unsur misterius dalam ayat ini? Tentu saja tidak! Allah mengatakan bahwa alam ini mulanya monoblock, kemudian dipecahkan. Mana yang tidak jelas? Semuanya jelas, tetapi karena hal ini di luar pengalaman masyarakat masa lalu, maka mereka tidak bisa membayangkannya dan memahaminya. Saat inipun banyak ayat-ayat Quran yang tidak bisa dibayangkan, karena di luar pengalaman masyrakat masa kini.

Manusia memang sering gatal kalau membaca sesuatu yang tidak bisa dimengertinya. Dan itu sudah dikatakan dan dingatkan di Quran 3:7 supaya tidak gatal. Bagi penterjemah/penafsir, sulit untuk sedikit berrendah hati untuk mengatakan bahwa dia tidak mengerti atau berpuas hati dengan ketidak mengertiannya. Ada juga yang takut menterjemahkannya sehingga kemudian mentransliterasikan kata-kata sulit, seperti kata taqwa, muslim, islam. Tahap berikutnya adalah timbulnya pengertian yang berbeda ketika pembaca lain mereka-reka makna kata tersebut. Akhirnya kembali pada tafsir yang salah.


SPIRITUAL DAN SPIRITUALITAS (ROHANI DAN ROHANIAH)
Paling enak mentafsirkan suatu ayat dengan dibumbui aroma rohani dan rohaniah. Karena dunia rohani dan rohaniah tidak perlu bukti, tidak perlu penjelasan yang riil, tidak bisa didiskusikan dengan logika. Kalau tidak bisa diterangkan secara gamblang, bagaimana mungkin didiskusikan? Enak bukan? Telan saja. Itu sama sekali bukan Islam. Seperti pernyataan Quran 10:100, keimanan akan dicapai melalui prosedur Allah yang menggunakan akal. Dan barang siapa yang tidak menggunakan akalnya akan dimurkai Allah.

Dunia rohani dan rohaniah tidak ada di Quran. Bahkan kedua kata ini tidak dijumpai di Quran. Rohani dan rohaniah adalah kata bahasa Arab yang berarti spiritual dan spiritualitas. Andaikata Islam adalah agama yang memiliki faset rohani dan rohaniah, tentunya kata tersebut bisa dijumpai di dalam Quran. Mustahil sebuah buku tentang gajah tidak menyebut kata gajah di dalamnya. Demikian juga dengan Islam. Kalau memang Islam bernafaskan kehidupan rohani dan rohaniah maka kedua kata ini akan anda jumpai di Quran. Nyatanya tidak ada satupun kata ini bisa dijumpai di Quran.


RENUNGAN DAN SAYEMBARA RP 10 JUTA
Masyarakat muslim seperti orang yang waham, penderita schitzophrenia, hidup di dua dunia – kehidupan dunia dan kehidupan rohani. Dalam kehidupan sehari-hari mereka berada di alam dunia. Tetapi setiap tahun kambuh dan menjelma menjadi makhluk yang gandrung akan hal-hal yang bersifat kerohaniahan. Hari-harinya diisi dengan hal-hal yang bersifat kerohaniahan (entah apapun artinya).

Kata rohani dan rohaniah adalah kata Arab yang artinya sama dengan transliterasinya di dalam bahasa Indonesia. Artinya juga sama dengan spiritualitas dan spiritual (transliterasi dari bahasa Inggris). Kata rohani dan rohaniah, walaupun keduanya adalah kata bahasa Arab, tetapi tidak akan anda jumpai di dalam Quran. Kalau memang Islam adalah agama yang mempunyai faset spiritual atau mengandung hal-hal yang bersifat spiritual (kerohanian), maka akan dijumpai kata rohani atau rohaniah di Quran. Adalah mustahil kata gajah tidak dijumpai di suatu buku tentang gajah. Demikian juga dengan kata rohani dan rohaniah. Adalah mustahil tidak dijumpai di dalam Quran, kecuali pesan yang dibawa Quran sama sekali bukan hal-hal yang bersifat kerohaniahan.

Kalau tidak percaya kami akan memberi hadiah Rp 10,000,000 (terbilang: sepuluh juta rupiah) bagi siapa saja yang bisa menemukan kata rohani dan/atau rohaniah di Quran. Rasanya kurang elegan kalau EOWI tidak memberikan bantuan kepada anda. Kami akan memudahkan anda dalam pencarian ini. Jumpai seorang ustad, biasanya mereka punya indeks Quran. Dengan indeks Quran ini akan mudah mencari semua kata yang ada di Quran. Rohani dan rohaniah, kalau ada, akan berada di bagian indeks bersama dengan kata yang berakar kata ro-wau-ha. Silahkan cari disitu.

Kalau anda bisa menemukan kedua atau salah satu dari kata rohani dan rohaniah, silahkan beri tahu EOWI lewat komentar (comment) yang akan diteruskan ke email EOWI. EOWI akan segera menghubungi anda.

Sekian dulu...., semoga anda terpelihara dari hal-hal non-sense. Kasihan juga mereka yang selama 1 bulan ini menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bersifat kerohaniahan karena menyangka anjuran Quran dan kemudian ternyata Quran tidak pernah menyentuh subjek tersebut, bahkan kata rohani dan rohaniah tidak dipakai di Quran......, too bad, kasihan deh.

3 Oktober 2008.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

77 comments:

RevShark said...

Saya bukan Muslim.
Tapi membaca bahwa Islam punya aspek logika yang kuat seperti kata Anda, saya yakin jika semua umat Muslim bisa berpikir logis seperti Anda, maka akan ada perubahan yang besar dalam cara hidup banyak orang saat ini.

Giy said...

Saya agak pesimis dengan harapan Bung Revshark. Kelihatannya sumber masalahnya bukan ttg apakah umat muslim itu 'mau' menggunakan akalnya atau tidak. Tapi umat muslim kebanyakan suka diperbudak oleh harapan2nya sendiri.

setiap khotbah yg ditekankah oleh ustad kebanyakan ttg "dunia lain" ciptaan ustad itu sendiri. Mereka menjajikan surga yg belum pernah dilihat oleh umat muslim. Menurut mereka surga itu ada di sana. Bukan di sini.

Jadi, Bapak saya yg suka protes ttg ketidaklogisan para kyiai malah dianggap kafir. Tapi org2 yg suka dibohongi dengan harapan2 semu malah dianggap religius. dunia memang sudah terbalik.

Ketika org mencintai ilmu pengetahuan yg logis dianggap 'kafir' dan 'ateis'. Tapi org2 yg mencintai dunia misteri diluar dunia sehari-hari (seperti yg dijanjikan oleh para ustad) malah dianggap religius. Itulah fakta org2 muslim Bung Revshark!

jadi wajar jika yg sangat 'islami' malah org2 barat itu sendiri dan bahkan yg kita sebut bangsa 'yahudi' malah lebih islami karena mereka mencintai ilmu pengetahuan setengah mati. Tapi kebanyakan muslim malah sebaliknya, karena terlalu mencintai dunia misterius di luar akal yg dia miliki.

Aisyah said...

Mohon ijin berkomentar..

1. Tentang judul : Islam agama tanpa spiritualitas. Menurut saya, pak IS harus mendefinisikan dulu arti spiritualitas dengan jelas, setelah itu baru bisa didiskusikan apakah judul diatas tepat atau tidak. Jika spiritualitas diartikan sebagai sebuah kondisi kejiwaan manusia yang mempunyai keterikatan dengan Agama (iman, takwa, dan ibadah), maka saya tidak sepakat dengan judul diatas.

2. saya sangat sepakat dengan rasionalitas Quran dan Islam. Sepakat juga kalau Alloh tidak menyukai orang yang tidak mempergunakan akalnya.

3. Jika seseorang berpuasa dengan benar, maka akan membuat dia semakin bertakwa.
Sepengetahuan saya, takwa adalah kondisi mental seseorang yang menyebabkan dia mampu menjauhi segala larangan Alloh dan melakukan segala perintah Alloh. Sebutan utk orang yang demikian adalah Muttaqien. Kenapa di bulan Ramadhan umat islam di minta untuk meningkatkan amalan spiritual? menurut saya, itu karena amalan2 tersebut akan menjadi terapi bagi seseorang agar lebih mudah menjadi orang yang bertakwa. Jadi tidak salah mereka melakukan amalan2 "rohaniah" dan bukan hal yang non sense, karena hal tsb ada tuntunannya dalam hadis,
Nabi bersabda:
“Wahai manusia, sungguh kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung dan penuh berkah; yakni bulan yang di sana ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah jadikan puasanya suatu kewajiban dan ibadah di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu amalan (sunnah) di bulan itu, maka samalah dia dengan orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa mengerjakan amalan fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya.”
(HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.).

4. Tafsir adalah sebuah penghinaan terhadap pengarang Quran --> Saya tidak sepakat dengan kalimat ini. Tafsir adalah hasil pemikiran seseorang terhadap suatu obyek (tulisan, masalah, benda, dll). Kalimat dalam Al Quran memang telah jelas. Namun bagi orang tertentu, tetap memerlukan penjelasan tambahan agar bisa dia pahami maksudnya dengan baik dan tidak salah. Hal ini adalah wajar karena perbedaan kemampuan otak manusia berbeda-beda. Penafsiran ulama terhadap kalimat dalam Al Quran adalah penting bagi umat islam, setahu saya, untuk bisa menjadi seorang ahli tafsir, diperlukan kriteria dan persyaratan yang sangat berat. Dia harus faham masalah hadis, bahasa arab, akhlak nya baik, jujur, dll.dll.
Jika ada seorang doktor bidang meteorologi dan doktor bidang ekonomi menafsirkan/mengartikan sebuah fenomena alam yang sdg terjadi, maka saya akan lebih mempercayai apa yang di ucapkan doktor bidang meteorologi tsb.. Saran saya, Bapak2 IS meminta pendapat ahli bahasa arab untuk membicarakan masalah ini. Karena ini adalah masalah yang sensitif dan bisa membuat banyak orang bingung (Walaupun saya tidak bingung).

5. Setelah saya melihat Kamus Besar Indonesia, Rohani artinya :
ro·ha·ni :
1. n roh: di samping jasmani, -- juga memerlukan santapan;
2. a berkaitan dng roh; rohaniah: alam --;
--> ke·ro·ha·ni·an n sifat-sifat rohani; perihal rohani

Dsini terlihat bahwa maksud kerohanian dlm bahasa Indonesia lebih mengarah ke masalah KEJIWAAN, atau masalah ALAM ROH. Jadi kurang tepat kalau di samakan artinya dengan spiritualitas dalam english. Yang mnurut Oxford :

spiritual
• adjective 1 relating to or affecting the human spirit as opposed to material or physical things. 2 relating to religion or religious belief.
• noun (also negro spiritual) a religious song of a kind associated with black Christians of the southern US.
— DERIVATIVES spirituality noun spiritualize (also spiritualise) verb spiritually adverb.

Spiritualitas dalam islam berkaitan erat dengan kejiwaan yang berkorelasi dengan keimanan/keyakinan (religious belief).


Demikian.

Nad said...

Hmm, Anda benar sekali tulisan ini memang sangat kontroversial!

Meski pemahaman saya next to minimum, dapat perlu saya utarakan di sini bahwa saya menyimpan sejumlah keberatan atas artikel ini.

Terutama ttg pernyataan Bung IS bahwa:

1) Quran harus dipakai sebagai satu-satunya sumber pemahaman terhadapnya;

2) Penafsiran Quran adalah bentuk penghinaan terhadap kalam ilahi;

3) Islam adalah agama tanpa spiritualitas.

Sedikit argumen dasar saya sbb.:

a) Kapankah seorang muslim diwajibkan berpuasa? Apakah bayi/anak kecil diwajibkan? Apa info spesifik semacam ini ada di Quran?

b) Bukankah satu bentuk penggunaan akal adalah penafsiran? Bukahkah bahasa itu fenomena sosial yang berubah dengan waktu--seperti kata 'selingkuh' misalnya? Yang tidak dapat diterima adalah penafsiran oleh orang yang tidak berkompetensi di bidangnya.

c) Bukankah perkara akhirat dan the next life pada hakikatnya menyangkut fenomena ruh atau rohaniah atau spiritual (dan bukan fenomena jasadi) yang amat dipentingkan Islam?

Pada saat ini saya tambah menyesal tidak bisa berbahasa Arab dengan memadai; sayembara Bung IS terpaksa harus saya lupakan...

riadina said...

saya melihat anda adalah orang sok tahu mengenai Qur'an. Memang banyak sekali tafsir dari al Qur'an. dan Mungkin setiap orang mempunyai tafsir sendiri-sendiri mnegnai Qur'an. Dalam memahami Qur'an banyak sekali yang harus dipelajari baik dalam tata bahasanya, dialektika, pengertian istilah maupun sejarah turunnya al surat dalam al Quran.
Saya melihat dari pembahasan (tulisan)anda menunjukkan pemahaman atau tafsir anda mengenai Al quran masih sangat-sangat rendah.
Oleh karena itu sangat tidak layak untuk dikomentari lebih lanjut.

Orang yang tolol adalah orang yang merasa tahu/mengerti segala hal.

Imam Semar said...

Rekan-rekan yang menyanggah, kami akan jawab nanti saja sekalian semua.

Kami melihat bahwa sanggahan yang masuk tidak sejalan dengan methodology yang diajarkan di Quran dan logika. Tanpa argumen dan dalil. Suatu argumen harus didukung dengan bukti.

[21:24] Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujahmu (dalil/buktimu)! (Al Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan orang-orang yang sebelumku". Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.

(tuhan) disini bisa berarti imam, kiai,ulama, ....

Saya menganjurkan untuk melengkapi argumen anda dengan bukti, seperti yang EOWI. Dengan demikian diskusi bisa berjalan.

Argumen kami bahwa Islam tidak mengandung masalah rohani/rohaniah sudah dijelaskan, bahwa kedua kata itu tidak terdapat di Quran. Kami akan beri hadiah Rp 10 juta rupiah bagi yang menemukannya.

Kami pikir mencari kedua kata itu di Quran tidak sulit. Pergi lah ke ustad anda yang kemungkinan punya indeks Quran. Dengan indeks Quran hanya perlu kurang dari 10 menit untuk memastikan apa yang kami katakan. Kalau perlu anda bisa berbagi hadiah dengan ustad anda. Kalau demikian halnya, maka hadiah akan kami naikkan menjadi Rp 20 juta.

Kalau anda merasa bahwa kami sangat sombong, anda salah. Methodology di Quran seperti itu. Quran sarat tantangan untuk pembuktian. Lihat saja ayat Q 21:24 di atas. Apa bukan tantangan?

Mau lagi ayat-ayat yang bersifat tantangan pembuktian? Ini lagi:

[4:82] Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Anda disuruh cari inkonsistensi!

Atau ini lagi:

[2:23] Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang setara dengan Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Ini malah anda ditantang untuk membuat 1 surah bergotong-royong.

Jadi kalau anda melihat tulisan EOWI ini seakan sombong, sok pintar, jangan salah mengerti. Itulah methodologi Quran. Menantang pembuktian.

Salam.

SmartHirfah Teknologi said...

ok
sya sependapat dengan anda ...
maka itu rosul kabarkan bahwa banyak manusia berpuasa tidak sampai ke Allah swt,yang mereka dapat hanya lapar dan haus..
kata rohani yang anda maksud ini memang bahasa arab nya atau pengertiannya..?
dq

Imam Semar said...

@SmartHirfah Teknologi,

Kata Rohani dan Rohaniah adalah kata bahasa Arab. Bahasa Indonesia telah mengadopsinya. Arti di dalam kedua bahasa sama, yaitu spiritual dan spiritualitas. Dalam bahasa Inggris adalah spritual and spiritual things.

Kalau Quran membahas masalah spritual, maka di Quran akan dijumpai kata rohani dan rohaniah, karena kata itu adalah kata Arab.

Itu lah poin dari tulisan ini.

Salam,

Aisyah said...

Pak IS, mungkin di quran tidak ada kata ROHANI, tapi tidak berarti QURAN tidak membahasnya.. bisa jadi quran memiliki kata lain yang LEBIH TEPAT digunakan oleh quran.. perlu kita ingat, quran adalah kitab dengan muatan sastra yang sangat tinggi ..
Jika pertanyaan anda "Apakah di quran terdapat kata ROHANI? "maka bisa segera di jawab. Tapi jika anda mengatakan quran tidak membahas masalah ROHANI(yang dipahami dengan bhs Indonesia), maka saya tidak setuju... agar diskusi tdk menjadi DEBAT KUSIR.. Tolong anda definisikan DENGAN JELAS arti dan makna spiritualitas yang anda pahami. Apakah spiritualitas bermakna aktivitas ibadah, zikir, mengingat Alloh, dll..dll, atau apakah spiritualitas adalah perasaan keterikatan hati dengan Tuhan, iman, cinta pada Tuhan, dll..dll.. atau bagaimana? tolong anda TULISKAN DEFINISI yang anda pahami.. karena setahu saya, quran sarat dengan nuansa "ROHANI" dan "SPIRITUAL". Misalnya tentang iman, takwa, rindu surga, kematian, mengingat Alloh.. dll..dll.. (kecuali kalau anda punya definisi sendiri).. nanti saya akan mencari padanan kata/padanan makna di quran dari kata ROHANI.

Sebuah contoh. : Jika saya ingin bercerita tentang langit, saya tidak harus mengucapkan langsung, saya bisa bicara begini ".. diatas kita ada sesuatu yang berwarna biru, indah, dan jika kita memandangnya, kita akan merasa damai, diatas sana terdapat lapisan ionosfer yang melindungi kita dari radiasi.. bla..bla..bla.." bisa saja kan ?

jadi, tolong definisikan disini makna spiritual yang anda pahami, baru kita diskusi lbh lanjut.. tapi jika pertanyaan anda apakah ada kata ROHANI di quran ? saya sudah mencari nya, dan memang tidak ada.. tapi tidak berarti Islam tidak membahas "ROHANI".

Demikian.

btw, kalimat "Kata Rohani dan Rohaniah adalah kata bahasa Arab. Bahasa Indonesia telah mengadopsinya. Arti di dalam kedua bahasa sama, yaitu spiritual dan spiritualitas. Dalam bahasa Inggris adalah spritual and spiritual things." masih menimbulkan ambigu, dan kurang spesifik dalam mendifinisikan makna kata rohani.. Tolong didefinisikan, misalnya bgini, spiritualitas adalah bla..bla.. yang ..bla..bla..bla..

sehingga diskusi akan bs segera diselesaikan..

Oya, tolong jangan melecehkan orang yang dengan ikhlas menigkatkan ibadahnya di bulan ramadhan dengan mengatakan "..too bad, kasihan deh."

samex said...

permisi numpang koment
pertama.
islam adalah sistem hidup (jasadi dan rohani) bukan sekedar agama,, jd semua aspek kehidupan manusia sdh diatur jelas scr komprehensif dalam kitab suci al-qur'an contohnya : hukum, ekonomi, sosial, pendidikan,, sejarah dst..termasuk masalah santapan rohani spt tata cara ibadah,zikir,zakat dst. klo bpk2 IS cm mempermasalhkan bahwa islam adalh agama tanpa spiritualitas itu adlah hal yg gak perlu didiskusikan
kedua.
klo misalnya saya ganti pertanyaannya sbb : tolong cari perintah di INJIL yg menyuruh menyembah JESUS pasti tdk pernah ditemukan, tp apakh umat KRISTIANI bs menerima pertanyaan ini.?

herry said...

Pak IS, kalau kata ruhaniah tidak ada, kenapa kata ruh banyak kita jumpai di Quran ?
Silakan Pak IS buka Pocket Qurannya kemudian di-search kata "roh" atau "ruh". Bukankah ini artinya Quran juga memacu kita untuk meningkatkan kwalitas roh kita dengan aktifitas rohaniah?

Imam Semar said...
This comment has been removed by the author.
Imam Semar said...

@ Herry, Samex & yang lain,

Herry: kenapa kata ruh banyak kita jumpai di Quran ? Silakan Pak IS buka Pocket Qurannya kemudian di-search kata "roh" atau "ruh". Bukankah ini artinya Quran juga memacu kita untuk meningkatkan kwalitas roh kita dengan aktifitas rohaniah?.

IS: Kenapa kata ruh ada di Quran. Itu hak pengarangnya, mungkin Dia mau menerangkan adanya kehidupan, membedakan yang mati dgn yang hidup. Caranya dengan memperkenalkan hypothetical entity yang bernama ruh.

Apakah kita disuruh meningkatkan qualitas ruh? Tidak ada di Quran yang menganjurkan demikian.

Jangankan meningkatkan qualitas ruh, Quran sendiri tidak pernah menerangkan apa itu ruh. Bagaimana cara meningkatkan qualitasnya kalau barangnya tidak jelas? Bahkan pembaca Quran dilarang untuk cari tahu tentang ruh - kecuali kalau dikasih tahu Tuhan. Ini ayatnya.

[17:85] Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk ,b.urusan Tuhan-ku,/b., dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Kalau ruh bukan urusan kita, apa lagi santapannya.

Apapun argumen anda, niscaya sifatnya hanya tafsir tanpa dasar. Beri kami hujjah nya.

herry said...

Pak IS (IU?): Kenapa kata ruh ada di Quran. Itu hak pengarangnya, mungkin Dia..

Herry : argumen anda juga hanya tafsir, buktinya anda berasumsi dengan penggunaan kata "mungkin", yg sekaligus mematahkan teori anda sendiri tentang ke-tidakmisterius-an Quran.

Imam Semar said...

@Herry,

Kata mungkin kami gunakan sekedar supaya kelihatan modest saja. Kalau kita lihat di Quran.."Allah meniupkan ruhnya....kepada janin di rahim.... supaya hidup." Whatever it is, ruh is something to do with life.

Dan secara tegas mengatakan ruh itu urusan Allah Q [17:85], jangan mereka-reka. Membuat quran menjadi tidak misteris mengenai ruh.

Imam Semar said...

Anyway....., bagaimana hasil sayembaranya?

Ada yang berhasil?

Anang said...

Bung IS, kalau mencari kata ruhani/rohani di qur'an memang tidak ada. Karena jika dalam bahasa indonesia menggunakan kerohanian untuk menerjemahkan spriritualitas, itu adalah kata turunan kedua ketiga atau seterusnya untuk menjelaskan konsep spriritualitas. Di dalam Al-Qur'an konsep yang sama artinya dengan spiritualitas menggunakan frasa penyucian jiwa. jadi bisa banyak di temukan dalam Al-Qur'an kata kata yg berkaitan dengan penyucian jiwa. dan penyucian jiwa identik dengan kerohanian, bukan logika.

Aisyah said...

Bagaimana pak IS? anda belum menjawab pertanyaan saya tentang definisi SPIRITUALITAS yang anda fahami dengan jelas..
Saya melihat, inti masalah yang anda sampaikan adalah apakah Islam mempunyai aspek spiritualitas atau tidak..
Pertanyaan anda tentang apakah di quran ada kata rohaniah atau tidak hanyalah pertanyaan untuk menggiring pemikiran pembaca.. tapi inti yang ingin anda sampaikan adalah "Islam adalah agama tanpa spiritualitas" seperti judul tulisan anda.. jadi biar jelas, tolong definisikan lagi dengan jelas makna spiritualitas yang anda pahami, jadi diskusi tidak berbelok dan tidak jadi debat kusir.

be fair plz..

Imam Semar said...
This comment has been removed by the author.
Imam Semar said...
This comment has been removed by the author.
Imam Semar said...

@Anang,

Silahkan tunjukkan ayatnya..., sederhana bukan?

Imam Semar said...

@Aisyah,
begini....., saya beri anda kebebasan untuk mendefinisikan kata rohaniah dan rohani. Tentu saja anda harus meyertakan argumen anda dengan ayat Quran nya. Terserah kepada anda. Kemudian cari lagi di Quran diskusi mengenai rohani dan rohaniah, penyucian rohani, dsb.

Anda akan mengalami kesulitan. Alasannya...., kedua kata tersebut tidak ada di Quran. Pada diskusi yang effisien akan mengharuskan kedua kata tsb digunakan.

Silahkan buktikan sendiri.

Aisyah said...

@imam semar..

anda tidak boleh mengalihkankan tugas.. seperti apapun saya mendefinisikan makna spiritualitas.. akan anda jawab/bantah, karena anda pintar berfilsafat.. jadi harus anda dulu yang mendefinisikan.. karena ini adalah topik/masalah yang anda buat... jangan2 anda sendiri tidak tahu makna spiritualitas ??

Imam Semar said...

@Aisyah,
Kami tidak mengalihkan tugas. Tetapi menjaga agar diskusi tetap pada topiknya, bukan semantik.

- Definisi rohaniah/rohani tidak ada di Quran.
- Pembahasan/keterangan/diskripsi mengenai rohani/rohaniah juga tidak ada di Quran
- Kata rohani/rohaniah juga tidak ada.

Tunjukkan satu ayat saja, mengenai tiga hal ini. Kalaupun anda mengklaim anda bisa menunjukkan niscaya dalam ilmu logika masuk kategori:
a. Meragukan
b. Insufficient but necessary

Persyaratan suatu argumen ialah harus necessary&sufficient; atau jika necessary saja maka harus mematahkan alternative lain.

Kami beri anda jalan untuk mematahkan (membuktikan kami salah) dengan mencari 1 ayat Quran yang mengandung kata rohani/rohaniah. Bisa kah anda melakukan hal yang sama?

Itu tata cara mencari kebenaran.

Salam,

Aisyah said...

@imam semar..

1. kalimat "itu tata cara mencari kebenaran" --> siapakah anda ? berani mengklaim sebuah cara mencari kebenaran?

2. anda katakan sblm nya bahwa rohani = spiritual.. di quran bisa jadi tidak ada kata rohani, tapi TIDAK berarti quran tidak membahas aspek ROHANI.. that's my point..
cara anda menyimpulkan bahwa jika di quran tidak ada kata "rohani/spiritual" maka Islam tidak mempunyai aspek spiritual, adalah salah (mnurut saya). Karena banyak sekali padanan kata dan pembahasan yang berkaitan dengan spiritual things.
Selama anda tidak mau mendefinisikan makna spiritualitas yang anda pahami, diskusi tidak akan selesai.. kecuali kalau anda hanya menanyakan "apakah di quran ada kata rohani?" maka bisa langsung dijawab, yaitu : "sementara ini saya tidak menemukan kata tersebut" .. SELESAI.

Tapi saya kira diskusi skrg sudah bergeser, sesuai judul tulisan anda, "Islam tanpa spiritualitas"

Jadi bagaimanapun anda harus mendefinisikan makna spiritualitas yang anda pahami. Karena di quran banyak sekali pembahasan masalah spiritualitas.

2. @ anang..
Saya sepakat sekali dengan anda.. :)

3. @ Samex..
Saya sepakat juga dengan anda.. :)

4. @ riadina.. --> saya setuju.. hehehe..

5. @ nad --> sepakat..

6. @ revshark.
Thanks 4 the comment.. but u r not a moslem aren't u ? u have to learn a lot before giving a comment bout us.. i'm welcome to discuss with u..
memang msh byk muslim yang perlu belajar lagi tentang islam yang benar. Tapi pemikiran islam di EOWI ini mnurut saya kurang tepat juga.

salam.. :)

Anang said...

Ayat-ayatnya banyak sekali, coba kalau anda punya Al-
Qur'an digital search dengan kata mensucikan, atau menyucikan.

Jika anda punya pocket islam, search dengan huruf ya za kaf

salah satu contohnya : Surat 91 ayat 9 :
"Dan beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu"

QS 2:129, 2:151, 5:41, 38:46 dan masih banyak yg lain.

Sebaiknya kita berhati-hati dan tidak beragama berdasarkan prasangka saja, tetapi harus dengan ilmu. Karena prasangka tidak dapat membawa kepada kebenaran sedikitpun (QS 10:36).

Imam Semar said...

@Anang,
Yang anda rujuk adalah mengenai nafsu bukan ruh.
[Q 91:7]- Wa nafsin wamaa sawwa haa - (dan nafsu serta penyempurnaannya)
[Q 91:8] - Fa alhamaha fujuurohaa wa taqwahaa
[Q 91:9] qad aflaha zakaha

Taqwa (terpelihara) di ayat 91:8 dan zakah (bersih)di ayat 91:9 mengacu pada kata nafsu di ayat 91:7. Bukan ruh atau rohani....,

Usaha yang baik...., semoga anda dituntun oleh Nya kepada jalan kebenaran.

samex said...

Numpang koment

zakah (bersih)di ayat 91:9 mengacu pada kata nafsu di ayat 91:7. Bukan ruh atau rohani....,
skali lg pengertian yg diberikan Pak IS tentang kata NAFSIN hanya atas penafsiran saja.
Kemudian Apakah Nafs itu ??
Nafs mempunyai beberapa makna :

Pertama, Nafs yang berkaitan dan tumpuan syahwat atau hawa (hawa
berasal dari bahasa Arab yang tercantum dalam Alqur'an, wanaha An
nafsa `anil hawa - dan ia menahan dirinya (fisiknya) dari keinginannya (hawanya) ( An Nazi'at :40-41). Yaitu hawanya mata,
hawanya telinga, hawanya mulut, hawanya kemaluan, hawanya otak dll.
Hawa-hawa atau syahwat, selalu berkecenderungan kepada asal
kejadiannya yaitu sari pati tanah - dengan demikian An nafs berarti
fisik (tanah yang diberi bentuk). Dia akan bergerak secara naluri
mencari bahan-bahan materi asal fisiknya, ketika kekurangan energi
atau kekurangan unsur-unsur asalnya maka ia akan segera mencari atau
secara naluri ia akan berkata, saya lapar, saya haus !!
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari ekstrak yang berasal dari tanah." (Al Mukminun:12)
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur (berbentuk),
maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya Roh-Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud." (Al Hijir: 28-29. jadi An nafs scr arti fisik yang mempunyai bahan dari ekstrak tanah yang
mempunyai bentuk .

Kedua, An Nafs berarti : Jiwa , - jiwa mempunyai beberapa sifat, nafs
lawwamah (pencela), nafs muthmainnah (tenang), Nafs Ammarah bissu'(senantiasa menyuruh berbuat jahat).

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah ….. ( Al Fajr : 27-28)
Wala uqsimu binnafsil lawwamah …( Al Qiyamah:2)
Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu' ( Yusuf:53)
Sedangkan Qalb, artinya sifat jiwa yang berubah-ubah, tidak tetap.
Terkadang ia bersifat muthmainnah, kadang juga lawwamah, atau berubah
menjadi ammarah bissuu'

An nafs (jiwa ) memiliki alat-alat, Pikiran, Perasaan, Intuisi,
Emosi, dan Akal. Sedangkan An Nafs (fisik ) memiliki alat-alat :
Penglihatan ( mata ), Pendengaran (telinga), Perasa (lidah), Peraba,
Penciuman (hidung).

Ayat diatas menjelaskan banyak orang tertipu mengenai kehidupan,
sesungguhnya Roh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan berakal. Semuanya itu karena adanya Roh.

kurang jelas apalagi...

herry said...

Pak IS, Jika mensucikan/membersihkan nafs (diri) diartikan secara harfiah kayak gitu, berarti maksup ayat itu adalah "mandi 2x sehari" dong. aya-aya wae si akang teh, heheh..

Simple Share said...

Pa IS, semoga anda dituntun oleh Nya kepada jalan kebenaran.

diea said...

permisi,,,

saya sangat setuju dengan aisyah... :)

dan semoha Alloh memberikan petunjuk buat pak is....
aamiin

RevShark said...

@Aisyah: yup, seperti kata saya di awal2 banget, saya bukan Muslim. Anda dan semua pembaca berhak mendiskon pernyataan saya karena saya tidak mengenal ajaran Anda dengan baik. tapi saya welcome untuk belajar.

saya tegaskan, saya tidak ngarti Al-Quran, tapi hanya premis bahwa Al-Quran menggunakan logika, bukan kepercayaan membuta (=fatalis, seperti kata IS) itu saja bisa mengubah cara banyak orang berpandangan.

diskusi seperti ini sangat berharga bagi saya untuk tidak menilai Islam secara salah. blind faith is just foolish for me. ajaran yang benar tidak akan mengejek logika manusia dengan hal2 yang "out there" - di luar nalar, dalam kehidupan sehari-hari.

Donny Kurnia said...

Saya coba menuliskan pendapat saya. Islam memang bukan agama spiritual. Islam adalah panduan kehidupan dengan Al Quran sebagai panduan. Al Quran bukan buku mantra yang dibaca untuk mengusir gangguan jin. Bukan naskah puisi yang harus dibaca dengan indah tanpa pernah tahu arti bacaannya. Membaca Al Quran dengan tartil memang perlu, tapi paham artinya jauh lebih penting. Ibarat peta, kalau tidak paham dengan apa yang tertera, dipastikan akan tersesat.

Ada sebuah kesalahan tentang kaum jahiliyah di masa Nabi Muhammad. Jahiliyah sering diartikan bodoh dan kafir adalah tidak mengakui Allah. Tetapi coba baca surat Ar-Ra'd ayat 16, surat Az-Zukhruf ayat 9, surat Luqman ayat 25, surat Al-Ankabut ayat 61.

Semua itu adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk bertanya kepada orang2 jahiliyah Arab, dan ternyata mereka mengakui Allah. Lalu jahiliyah dan kafir itu apa?

Jahiliyah adalah tidak mau mengikuti aturan dari Allah SWT, yang tertuang di dalam Al Quran. Tiap berhala punya lambang sendiri, bendera sendiri, aturan sendiri. Ketika diajak untuk mengikuti aturan dari Allah SWT, mereka menolak, padahal mereka tahu Allah-lah yang menciptakan alam ini.

Coba kita lihat ke kehidupan kita sekarang. Ada yang sholat rajin, puasa penuh, haji juga sudah, tapi hal-hal klenik tetap dilakukan. Lebih parah dari itu adalah para pembuat aturan/undang-undang, yang pada akhirnya pasti akan menentang aturan dari Allah SWT.

Sebagai penutup, coba kita cermati ayat An Nisaa ayat 150-151:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

Di ayat ini orang yang dikatakan oleh Allah kafir sebenar-benarnya ternyata bukanlah Yahudi, Nasrani, Atheis, melainkan orang yang beriman pada sebagian ayat dan mengingkari sebagian ayat lain. Tak perlu sampai menyembah pohon untuk dikatakan kafir oleh Allah. Cukup buat aturan baru untuk sesuatu yang sudah jelas hukumnya di dalam Al Quran.

Kembali ke tema tulisan utama blog ini, Islam memang bukan agama spiritualitas. Ibadah puasa adalah ibadah latihan fisik dan jiwa. Bedakan ini dengan puasa mutih 40 malam hanya untuk cari tanggal baik bulan baik untuk menikahkan anak. Nauzubillah.

Semua ibadah dalam Islam bermanfaat bagi tubuh fisik. Gerakan sholat bagus untuk otot2 tubuh. Puasa membersihkan saluran pencernaan. Haji melatik kekuatan fisik. Tak heran sahabat Nabi fisiknya kuat2. Tak ada perintah untuk ibadah spiriual tanpa manfaat seperti yang dipraktekkan para penganut aliran sufi.

Semoga kita semua mendapat petunjuk dari Allah SWT.

andri11 said...

Hm.... Disini harus berpikir logis dan Waras yah....

kalo gitu saya coba akan berpikir logis dan waras...

Siapa yang tahu surat Al Ikhlas..??? apakah di dalamnya ada kata ikhlas

Siapa yang pernah Baca Surat Al Fatihah..???
Apakah di dalamnya juga ada kata Fatihah nya..??

apakah ada beberapa pengecualian untuk suatu bahasan yang tidak secara eksplisit tampak dan disebutkan dalam sebuah buku..???

ini adalah tanggapan yang logis.....

Sebenarnya Nama Al-Qur'an itu banyak...ada yang nyebut kitab Nur, Kitab Furqon, Kitab Roh, dan masih banyak nama-namanya yang lain...

Tetapi yang paling populer adalah Al qur'an, yang artinya "bacaan", jadi ya memang kebanyakan orang memang menganggap Al Qur'an hanyalah sebuah bacaan, untuk di baca-baca saja....

kalau masih dalam tataran seperti ini memang spiritualitas itu hanya diangan-angan saja...

Sama halnya seperti orang yang mendewakan ilmiah dan logika... mereka tidak akan menyadari peran Alloh SWT dalam setiap sisi kehidupannya.. karena Alloh SWT tidak dapat di ilmiahkan dan tidak dapat di masukkan ke dalam logika yang waras sekalipun...

Syurga dan neraka juga tidak dapat diilmiahkan...

orang jahat yang akhirnya tobat di akhir hayat maka akan dimasukkan ke dalam syurga...

orang baik yang diakhir hayatnya murtad maka akan dimasukkan ke neraka..

(catatan : menurut sebagian besar pendapat Syurga dan neraka itu kekal abadi / selama-lamanya)

Orang yang berpikir dengan logika yang waras akan mengira bahwa Alloh SWT Tidak adil.. berbuat kesalahan sedikit hukumannya selama-lamanya, berbuat kebaikan sedikit maka akan diberi nikmat selama-lamanya....

kayaknya sisi logika yang waras justru menyesatkan.... jika menjadi tolok ukur dalam semua sisi kehidupan...

ada sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia yang satu tapi diketahui oleh manusia yang lain.... bisa jadi soal analisis pasar modal, orang berlogika dan berpikir waras akan menghasilkan pemikiran-pemikiran objektif dan mencerahkan. tapi dalam pembahasan Agama ilmu logika dan berpikir waras harus dikembalikan pada yang memberikan Nya, kalau mengira bahwa dengan berpikir logis dan waras saja sudah bisa menguasai bidang agama, nanti malah jadi rusak pemahamannya... pepatah mengatakan, "jika sesuatu itu ditangani oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya"

jika Al qur'an hanya dipahami sebatas logika yang waras, maka akan ada beberapa ayat yang kelihatan bertentangan (padahal sebenarnya justru saling melengkapi) mau bukti..??? saya akan berikan buktinya... jika komentar ini sudah ada yang menanggapi..

Maaf jika ada kurang berkenan.. saya sudah mencoba menulis se waras mungkin.... jika dianggap kurang waras.. mungkin memang tingkat kewarasan saya yang memang belum sempurna..

Imam Semar said...

Mmm.... Oom Adri11 yang berusaha waras.

Pernahkan oom Adri bertanya. Apakah judul al Fatehah, al-Ikhlas, al-Falaq, dst adalah bagian dari wahyu (yang disebut Quran, Fuqan, Huda). Maksud saya, seperti kata basmallah di awal surah adalah bagian dari surah (wahyu). Jangan heran kalau dalam surah at-Taubah, tidak diawali dengan basmallah. Itu bukan karena Jibril terkhilaf.

Jangan-jangan judul surah adalah seperti tanda baca tajwid, yang dibuat dimasa Uthman untuk memudahkan cara membaca (tajwid).

Persoalan utama jika kata rohaniah ditiadakan, tetapi Quran membahas mengenai rohani, maka akan sangat tidak effektif. Karena dengan menghidari penggunaan kata rohani, maka pengarang Quran harus berpanjang-lebar untuk menguraikan maksud rohani.

Silahkan membahas mengenai berhitung (tambah, kurang, bagi, kali) tanpa menggunakan kata 'kurang', 'tambah', 'bagi','kali' atau simbolnya ( +, -, :, x). Akan sangat tidak effisien.

Kalau anda mau mengatakan bahwa Allah tidak effisien dan suka mubazir....., silahkan. Itu bukan Tuhan saya.

Imam Semar said...

@Adri,

Tambahan sedikit.

Salah kaprah dan tambah menambah sering terjadi. Misalnya, Quran disebut 'kitab suci'. Anehnya Quran sendiri tidak pernah menyebut 'kitab suci' atau bahasa arabnya 'kitab ul quddus'.

Tanyakan pada setiap orang apakah Quran itu kitab suci. Mereka akan mengiyakan. Kecuali saya.

Apanya yang suci? Cari penjelasannya di Quran, kalau bisa.

Donny Kurnia said...

Betul sekali, Imam.

Al Quran menjelaskan dirinya sendiri di dalam banyak ayat sebagai kitab petunjuk. Baca saja ayat 2 surah Al Baqarah, itu tentang Quran. Ayat 3-nya tentang siapa2 saja orang yang diberi petunjuk itu.

Al Quran ibarat peta, yang memberi petunjuk ke jalan yang benar. Ga ada orang di dunia ini yang membaca peta sebagai puisi, tapi semua orang mengikuti peta agar tidak tersesat.

Al Quran adalah petunjuk. Artinya ga cukup hanya dibaca secara merdu, tetapi harus tahu isi kandungan ayat yang dibaca tersebut. Kalo ga tau isi kandungannya, jangan harapkan keselamatan dunia akhirat, itu sama aja orang yang ga bisa baca peta, tapi mengharapkan ga tersesat.

andri11 said...

Saya kira Orang yang berlogika memang hanya membatasi semua bidang hanya sebatas logika nya saja… (Catatan: logika dan pikiran manusia itu terbatas kan?)

Coba pikir dengan pikiran yang Waras dan logika yang waras pula…

Siapa yang menciptakan alam semesta ini, manusia, hewan dan tumbuhan. Apakah itu bisa dimasukkan kedalam logika..???

Agama adalah sesuatu yang diyakini tanpa harus bisa dinalar dengan logika dan pikiran yang waras sekalipun.. iya kan..??


Benarkah Islam adalah agama Tanpa Spiritualitas….

Ini tulisan imam semar saya pastekan kembali…


ISLAM AGAMA TANPA SPIRITUALITAS


SPIRITUAL DAN SPIRITUALITAS (ROHANI DAN ROHANIAH)
Paling enak mentafsirkan suatu ayat dengan dibumbui aroma rohani dan rohaniah. Karena dunia rohani dan rohaniah tidak perlu bukti, tidak perlu penjelasan yang riil, tidak bisa didiskusikan dengan logika. Kalau tidak bisa diterangkan secara gamblang, bagaimana mungkin didiskusikan? Enak bukan? Telan saja.







Kenapa kok tulisannya dibikin Sulit dicerna (makna spiritualitas Versi imam semar juga nggak disebutkan, imam semar hanya menyebutkan bahwa Hal yang berbau spiritual dan spiritualitas (rohani dan rohaniah) itu tidak perlu BUKTI dan tidak perlu PENJELASAN RIIL dan tidak bisa didiskusikan dengan logika) padahal tulisan diatas itu esensinya bisa disampaikan dengan cara yang lebih mudah (Kadang sesuatu yang mudah memang sengaja dibikin rumit, agar susah dipahami orang lain dan yang nulis jadi kelihatan pinter)

Bahwa islam adalah agama tanpa spiritualitas berarti islam adalah agama yang selalu dapat dibuktikan dan dinalar dengan logika…. Tanggapan saya, sebagian memang iya tapi sebagian tidak… karena ada sesuatu yang kita imani setelah kita mengetahui dan membuktikan, dan ada yang harus kita imani secara mutlak tanpa tanya-tanya tentang bukti dan penjelasan…

Kalau Kita beragama Islam.. Rukun iman itu ada 6 dan dan sebagian besar adalah Hal yang Ghaib, gak bisa di buktikan, Gak bisa dinalar dan Gak bisa dipikir dengan logika yang waras sekalipun… benarkah islam adalah agama tanpa spiritualitas….???

disini logika yang diberikan oleh imam semar sudah bisa jatuh.. dan Saya sudah menang dengan cara yang Elegan.... He..he..he..


misalnya Yang kentut pantatnya (wudhunya jadi batal), dan yang dibasuh bukan pantatnya, tapi anggota wudhu dll. ini kan menurut orang yang hanya mengandalkan akal adalah hal yang tidak masuk akal.. (Yang kentut pantatnya kok yang dibasuh bukan pantatnya)


Satu lagi.. saya juga punya bukti bahwa tulisan imam semar yang membantah bahwa Al Qur'an hanya menjelaskan yang umum-umum saja... (coba cari tatacara sholat dalam Al Qur'an ada nggak..???)

Anonymous said...

"aku BERSAKSI tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan aku BERSAKSI bhw Muhammad adalah utusan Allah"

sebuah kalimat awal dan ikrar bagi seorang muslim/muslimah. Jelas menunjukkan bahwa AKAL adalah komponen awal dan wajib dimiliki oleh setiap mukmin. Tidak dikatakan "saya beriman kepada Allah.." atau "saya beriman bhw Muhammad adalah utusan Allah.."

Logika nya... setiap muslim dan muslimah DIWAJIBKAN MAMPU MEMBUKTIKAN kedua pernyataan tersebut diatas. Dan sebagai pembuktian, dibutuhkan AKAL.. bukan IMAN.

Sisi spiritual Islam memang tak mencolok. Spiritual Islam tak ada bedanya dengan agama samawi pendahulunya. Satu hal yang JELAS membedakan Islam dengan seluruh agama dimuka bumi ini adalah penekanan penggunaan AKAL dan keutamaan BERFIKIR.

"demikianlah bagi orang orang yang berfikir... " kalimat ini sering terdapat diakhir surat/ayat.

Wahai saudara saudaraku demi Allah... akal tak akan menyesatkan, dan Allah sudah mengingatkan keterbatasan akal agar digunakan secara bijaksana dan bermanfaat dan tidak membuang buang waktu. Manfaatkan kemampuan yang terbatas itu demi kemasyalatan umat, dunia dan akhirat. Dan jangan mengulangi kesalahan agama agama samawi pra Islam. Gunakan AKAL... urusan iman, jelas detailnya dalam Rukun Iman, sedangkan sisanya harus difikirkan, dan tak terjebak dalam hokus pokus beragama.

demikianlah bagi orang orang yang berfikir...

Wallahualam bissawab
UNIX hardcore

Anonymous said...

Pencari ilmu

Sebelumnya saya percaya blog ini waras..
tapi.....

mulai ragu....


saya tunggu kelanjuttannya..

AikidoIndonesia said...

Alhamdulillah, ternyata pak IS sepaham dengan saya, dari awal tulisan sampai dengan perdebatan tidak satupun pendebat yang menyajikan kuitpan ayat untuk menyanggah. Hal itu sudah menunjukkan.

semoga Pak IS dipanjangkan usia supaya semakin banyak menulis, memang antara waras dan gila hanya beda tipis.

Madness...

Teriokart said...

Salam,


Salut untuk Pak IS, sungguh cerdas, sangat rasional, logis, cermat dan sistematis dalam menuangkan gagasan berpikirnya.

Beberapa kutipan dari Pak IS yang mambuat saya sedikit “gatal” untuk berkomentar :

IS wrote :
Untuk memperoleh keimanan harus digunakan akal!. Dalam topik-topik lain, EOWI akan menunjukkan bagaimana rasionilnya Quran, bahkan susunan kalimat-kalimat Quran sangat berpegang teguh pada kaidah-kaidah logika. Lain kali akan kita bahas hal ini.

Saya setuju tapi tidak sepenuhnya sepakat. Iman tidak serta-merta dapat diraih hanya dengan menggunakan akal. Banyak orang yang berakal (jenius) seperti Isaac Newton, Georges Lemaître, Albert Einstein, Alexander Friedmann, Edwin Hubble, Fred Hoyle tidak juga beriman. Anda tahu kenapa ? kalo saya boleh menebak : karena mereka belum membaca Al-Quran. Ataupun sudah membaca sebagian darinya, tapi tidak menemukan kata “Rohani” didalamnya.  who knows ?

[10:100] Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

[10:101] Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

I wish you got the messages. Se-jenius apapun otak anda, secerdas apapun akal anda, sepintar apapun anda menganalisa, serasional apapun anda menterjemahkan Ayat-ayat Allah, tidak menjamin anda menjadi beriman kecuali dengan izin Allah. Saya rasa anda pasti dapat dengan mudah memahami 2 ayat diatas karena anda adalah salah satu orang yang berakal.

Jangan menjadi seperti orang-orang yahudi –mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung- yang senang memutar-balikkan lidahnya :

[4:46] Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.


IS wrote : ………..Kalau tidak percaya kami akan memberi hadiah Rp 10,000,000 (terbilang: sepuluh juta rupiah) bagi siapa saja yang bisa menemukan kata rohani dan/atau rohaniah di Quran

Saya yakin anda sebelumnya pasti sudah mencoba mencari nya dan tidak ketemu. Karena saya berasumsi anda lebih “berakal” daripada saya, adalah buang-buang waktu bagi saya untuk berpartisipasi pada sayembara yang hasil akhirnya sudah ketahuan.
Menurut pandangan saya sungguh tidak pantas Kitab Suci Al-Quran dijadikan bahan pertaruhan dalam sebuah perdebatan. Jika anda mendebat Al-Quran sama halnya anda mendebat Allah -Naudzubillah…-, hanya karena satu potong kata “Rohaniah” yang juntrungannya juga belum jelas apakah benar-benar berasal dari kosakata bahasa arab murni, atau hanya derivative dari kata “roh”.

[40:4] Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.

Wassalam

zatria said...

Saya sependapat dengan artikel ini ...
sebab untuk mem "benar" kan Tauhid memang harus pakai akal,
tidak ujug-ujug percaya ...
atau memang kebetulan kita dilahirkan dalam kalangan Islam,
dan entah kenapa kewajiban untuk membenarkan Tauhid menjadi otomatis sirna,
padahal ini adalah dasar dari agama monoteistik termasuk Islam ...

adalah salah untuk memberi "hujjah" berdasarkan Al Qur'an, karena kepercayaan terhadap kebenaran Al Qur'an sendiri adalah turunan dari kepercayaan terhadap kebenaran pencipta Al Qur'an ...
bagaimana caranya percaya pada turunan nya sementara kepercayaan terhadap asalnya belum bisa dibuktikan ?

disinilah peran akal,
bahkan Al Qur'an sendiri dibanyak ayat menyuruh manusia untuk menggunakan akal,
tidak harus mengikuti jejak yang sama seperti Nabi Ibrahim,
yang pada prinsipnya mengajarkan untuk menggunakan logika : ketika melihat Matahari terbenam Nabi Ibrahim menyimpulkan Tuhan tidak mungkin terbenam !
cara-cara yang digunakan prinsipnya mirip dengan filsafat ...
Islam pun punya filsafat ...
dan sudah menjadi salah satu cabang ilmu semenjak Ibnu Sina ...

jika boleh bertanya,
adakah ada yang tahu filsafat bercorak Islam tersebut ?

Donny Kurnia said...

@zatria, bukankah Islam itu sudah sempurna, kenapa mesti mencari hal lain di luar islam. Dari pada mencari filsafat bercorak Islam, kenapa tidak mengamalkan Islam dalam kehidupan secara kaffah?

bno said...

back to basic:
tafsir kata 'spiritualitas/rohani' yg dipahami imam semar apa ya?

sapa tau di Quran ada padanan katanya?

apa soal ruh,jiwa,alam gaib,malaikat,surga,neraka,jin ini semua tergolong spiritualitas???

setuju bahwa Islam esensinya bukan fatalis, karena banyak ayat2 yg tergolong sebab-akibat (kamu dapat A dsbabkan 'B').

anyway, saya sih sebenarnya kurang demen diskusi yg beginian. krena inti Islam ya rukun iman dan rukun Islam. jalankanlah perintahNya, dan soal hasilnya semua itu hak kuasa ALLAH.

kita terlalu sering ribut soal2 beginian, tpi kerja nyata di bumi sbgai khalifah masih kurang

Imam Semar said...

Zatria,
Yang diklaim sebagai Filsafat sekarang ini banyak ragamnya dan seringkali tidak punya nilai-nilai filsafat, hanya sekedar opini seseorang. Ilmu filsafat sendiri biasanya mempunyai ciri: sistematik dan sangat mengandalkan argumen yang rasional.

Kalau anda tertarik, bisa dimulai dengan Bertrand Russell. Tetapi saya tidak merekomendasi Konfusius. Banyak ide-ide para filosof yang indah, tetapi tidak di dasari oleh argumen yang rasional.

Pada akhirnya manusia akan belajar dari kesalahannya. Seperti nabi Ibrahim yang mengira bintang sebagai tuhan, kemudian bulan dan setelah itu matahari, sebelum ia mencapai kesimpulan akhirnya yaitu pencipta bintang, bulan dan matahari. Bila memang niatnya mencari kebenaran,....kalau diijinkan Allah, akhirnya bisa dicapai.

zatria said...

@Imam
berarti memang sebagian besar kalangan islam tidak mengetahui nya ...
silahkan cari referensi mengenai filsafat Suhrawardi ...
tokoh terakhirnya adalah Mulla Sadra dan Muhammad Baqir As Sadr ..

filsafat yang berupa kata-kata bijak bukan filsafat, namun orang memang cenderung menganggap demikian ...
filsafat yang dibawa oleh Suhrawardi tentu memiliki semua unsur yang dibutuhkan oleh filsafat "normal" , yang sama derajatnya dengan filsafat mulai dari Aristoteles hingga sekarang ...

mengenai Tauhid ...
jalan pembuktian tauhid tidak perlu dari filsafat,
bisa dari jalan sufisme, bahkan bisa melalui sains ...
mungkin dengan sedikit usaha mencari, ilmuwan fisika sekarang secara tidak berdaya akhirnya memasukkan "eksternal power" ke dalam mekanika kuantum agar bisa dibuktikan benar ...
mekanika kuantum yang berbicara mengenai struktur sub atomik yang berkesimpulan persis dengan idiom Budha "isi adalah hampa, hampa adalah isi" ...
teori yang sama yang pada akhirnya menghilangkan keberadaan materi menjadi jejak energi ...

dan secara ajaib kesimpulan-kesimpulan mekanika kuantum ini entah kenapa sejalan dengan filsafat Suhrawardi mengenai materi yang adalah tingkat terendah iluminasi cahaya (energi) Tuhan ...

mohon maaf, tidak bermaksud untuk membahasnya lebih jauh,
hanya saja ternyata Islam sudah punya tools untuk memahami dan mem benar kan Tauhid ...

Anonymous said...

Subhanallah...
Hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu...(QS, Hud, 11:3)

Mudah2an Pak IS kita ini tetap dilimpahi kesehatan lahir batin agar leluasa berfikir bebas-sebebas-bebasnya.

Tapi perintah Istighfar, mohon ampun kepada Allah swt Sang Pencipta ada banyak dalam Al Qu'ran; insya'allah bernilai lebih dari Rp 10,000,- (nilai uang baru)

Ada salam hangat dari Prof. Freeman dan Prof.Saswinadi. Saya tahu blog Pak IS dari beliau2 ini.
Salam dari Colorado
PHS

ariwisnu said...

[17:85] Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk ,b.urusan Tuhan-ku,/b., dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

salah besar...!

yang dimaksud adalah ruh orang lain/makhluk lain....
tidak perlu dipertanyakan memang karena itu bukan urusan kita....

kalo roh kita sendiri...
lah ya itu urusan kita sendiri...
karena roh itu adalah kita...

maka kewajiban kitalah untuk membersihkan roh kita sendiri...
bukan tuhan...
bukan orang lain...
kita sendiri...

bagaimana caranya?
itulah yang dicari2 orang seluruh dunia...!

Imam Semar said...

@Ariwisnu,
Apakah anda tahu "banyak" tentang ruh anda sendiri?

Bagaimana wujud ruh yang kotor? Bagaimana wujud ruh yang bersih?

Kalau tidak tahu, bagaimana harus membersihkannya?

Kalau ada yang mengatakan bahwa ruh yang bersih, maka akan tercemin di wajahnya yang tenang dan "sejuk".

Betulkah itu? apa ada buktinya?

Persoalan utamanya ialah bahwa kalau kita tidak tahu, maka semua yang dibicarakan tentang hal tersebut menjadi tidak jelas. Kalau saya disuruh menjelaskan ttg ruh....., ruh saya sendiri juga tidak saya kenal tuh.

ariwisnu said...

@imam
belum kenal sama ruhnya?
itulah dia masalahnya....

Anonymous said...

@Ariwisni,
Kalau anda mengenal ruh anda, tolong dikenalkan kepada kami-kami...., karena kami ingin tahu rupanya ruh itu seperti apa.

ariwisnu said...

ruh saya ga mau kenalan dengan anda...
enak aja...
ngapain ngurus ruh orang lain?
sedangkan anda urus ruh diri sendiri aja ga bisa...

Anonymous said...

saya mengutip tulisan anda,

Ada 3 poin dalam ayat ini:

a. Langit, bumi (alam semesta) ini awalnya “mono-block”, satu. Kemudian dipecahkan
b. Makhluk hidup terdiri/terbentuk dari air
c. Yang mengamati pertama kali hal ini adalah non-muslim

dari poin2 penjelasan anda diatas, bukankah anda sendiri bermaksud menerangkan (baca : menafsirkan) ayat alquran?

kemuudian, apakah anda tidak terpikir ketika alquran menyuruh kita untuk sholat, dari mana anda mendapat kaifiat atau tatacara untuk sholat?
semua itu berasaal dari hadist, yg notabene memeberikan tafsir atas ayat alquran.

Imam Semar said...

Anonymous,
dari uraian anda, saya bisa menduga bahwa anda tidak pernah membaca buku hadith secara penuh.

Solat adalah penting (menurut Quran). Tata cara dasarnya ada di sana (ruku, sujud,...dst). Hadith menambah sedikit, dan yang terbanyak adalah dari fiqih. Dan ada beberapa macam fiqh sholat yang masing-masing berbeda. Kalau anda pergi ke negara-negara lain yang ada umat Islamnya, maka akan anda jumpai cara sholat yang agak bervariasi. Cara sholat muslim di Indobnesia mengikuti fiqh Syafi'i.

Kalau anda pergi haji, perhatikan betapa beragamnya cara sholat, wudlu, dsb.

Cara sholat sendiri itu sendiri tidak penting (mau bervariasi tidak apa-apa, asal masih di dalam batas yang digariskan Quran). Hambali, Syafi'i, Maliki bisa berbeda, walaupun dasarnya sama-sama hadith.

Yang penting adalah hasilnya, yaitu menjadi orang yang baik. Sholat itu menjauhkan kita dari perbuatan mungkar. Kalau kita masih dekat dengan perbuatan mungkar, artinya sholat kita bukan sholat.

Saya anjurkan anda untuk membaca fiqh mengenai sholat dan wudlu dari Hambali, Maliki, Syafi'i dan Syiah, serta bab sholat di hadith Bukhari, Muslim, Abu Daud, supaya mengerti maksud saya.

Donny Kurnia said...

Benar, banyak hari ini orang Islam yang terpaku pada tata cara shalat, ingin shalat yang khusuk, tapi kemudian melupakan tujuan shalat itu sendiri. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat, bukan melaksanakan shalat.

Tata cara shalat sudah dicontohkan oleh Rasulullah, dan mudah diikuti. Yang sangat jarang diikuti adalah tujuan mendirikan shalat yang juga telah dicontohkan Rasulullah, yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar. Perintah Allah disini bukan hanya untuk individu yang mendirikan sholat itu, tapi juga perintah agar si individu tadi mencegah terjadinya perbuatan keji dan munkar di sekitarnya.

Jika setelah shalat 'dilakukan' lalu maksiat tetap berjalan, tak ada artinya shalat yang dikerjakan itu. Tiang didirikan untuk menyangga bangunan, kalau tiangnya hanya sekedar berdiri, keropos, ga ada guna dan bangunannya akan ambruk dengan mudah. Tiang tanpa dasar yang kokoh juga akan dengan mudah ambruk tertiup angin.

Yang sekarang masih getol melaksanakan shalat, segeralah introspeksi diri. Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat, bukan sekedar melaksanakan ritual berdiri, rukuk, sujut yang hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. Sudahkah shalat Anda berfungsi, untuk mencegah perbuatan keji dan munkar?

kemuningcare said...

bang sudah 2 tahun 4 bulan kok belum muncul juga ya divinisi ruhaniah yang abang maksudkan. Enak juga lho nglihat diskusi yang ngalor ngidul tapi kalau terlalu lama ya jenuh juga dan jadi kelihatan mana yang asal beda dan mana yang gampang putus asa untuk mengembalikan diskusi pada relnya.

Imam Semar said...

@ Kemucing,
Sebaiknya kita tidak terpancing dengan perdebatan mengenai definisi yang detail. Contoh di bawah ini menunjukkan bagaimana definisi selalu punya kelemahan.

Semua orang tahu apa arti kata "manusia". Tetapi pada jaman Plato, untuk suatu keperluan diperlukan (agak mengada-ada) definisi "manusia". Maka kemudian ditengoklah semua jenis hewan. Dan akhirnya disimpulkan bahwa:
1. Semua hewan berkaki 4 tidak berbulu terbang (feather), melainkan berrambut (fur).

2. Burung berkaki 2 dan memiliki bulu terbang (feather).

Manusia ternyata berbeda dengan hewan yaitu berkaki 2 dan tidak mempunyai "feather". Maka disimpulkan bahwa:

"Manusia adalah hewan berkaki 2 dan tidak memiliki feather.

Lalu seorang bijak mengambil seekor ayam dan mencabuti bulunya..... dan berteriak: "ini manusia!!!!"

Kembali pada masalah ruhaniah. Secara bahasa berarti "hal-hal mengenai ruh".

Ruh adalah hypothetical entity yang dipercayai sebagai penyebab dari hidup.

Jangan mencoba membuat definisi yang lebih detail lagi. Anda akan terbentur kasus "Ayam-Manusia" seperti di atas.

Karena ruh sendiri tidak diketahui wujudnya dan masih hypothetical, maka ruhaniah menjadi semakin abstrak. Tetapi......., orang-orang mengejar hal-hal yang abstrak ini.

Aneh bukan?.

Anonymous said...

Pak semar yang terhormat, sy lg nyalin tulisan niy, tolong dikomentarin dan dikasih analisa, masih ada kaitannya ama ruh kok

KENALI DIRI KENALI TUHAN

“Keraguan merupakan kunci dari menuju keyakinan”
Tafsir Ihya Ullumuddin Karangan Imam Al- Ghazali

Menurut Imam Al – Ghazali manusia terdiri dari dua komponen yaitu Ruh dan Raga yang ditandai oleh karakteristik masing masing berupa :

 Ruh = Penunggang Kuda = Jiwa = memiliki dan menggunakan akal perolehan = ilmu mukasyafah (ilmu yang dibukakan berupa pengalaman, pemahaman dan rasa) = bertujuan untuk pulang = definisi bahagia adalah kebahagiaan akherat yang hakiki = kenikmatan tertinggi berupa nikmat Iman dan Islam

 Raga = Kuda = Tunggangan = daging = perlambang syahwat manusia yang melekat bersama tubuh = mempunyai akal logika = ilmu muamalah = bertujuan untuk tinggal selamanya di padang dunia yang indah ini = definisi bahagia hanya kebahagiaan dunia

 Anjing pemburu = simbol setan dan hawa nafsu (terutama amarah yang selalu menggoda kuda dan penunggangnya

“Kebahagiaan dunia dan akherat adalah dimana penunggang kuda dapat mengendalikan kudanya dan menjinakkan anjing pemburunya mengarahkannya menuju arah pulang”

Tahapan tahapan menuju pulang dengan belajar mengendalikan kuda dan menjinakkan anjing :

• Niat = kenali diri sendiri kenali Tuhan yang benar = keraguan adalah kunci menuju keyakinan = bersungguh-sungguh mencari jalan pulang, diantara sekian banyak agama dan aliran di muka bumi maka harus menemukan satu-satunya kebenaran hakiki rumah berpulangnya ruh (Islam)
• Taubat = penunggang kuda mulai terjaga = hati adalah raja = meninggalkan segala bentuk agama dan aliran lain yang selama ini telah diikuti (termasuk yang atheis yang tidak percaya adanya jalan pulang) untuk bersungguh sungguh kembali menjalani jalan menuju pulang yaitu menuju Alloh semata
• Syariat = pagar = aturan-aturan yang dibuat oleh Alloh untuk melatih kuda dan menjinakkan anjing supaya penunggang kuda dapat mengarahkannya di jalanNya = dilatih sedini mungkin dan bertahap
• Thariqat = jalan = menjalani kehidupan sebagaimana fitrah kuda dan ruh yang berjalan beriringan tidak menjatuhkan satu sama lain, hanya Islam lah agama yang sesuai fitah manusia = menggunakan ilmu filsafat untuk memahami ayat ayat kebesaran Alloh disemua aspek kehidupan manusia = ibarat manusia yang memandangi dinding dengan lilin dibelakangnya, banyak tahu tapi tidak tahu banyak = berjamaah agar lebih mudah
• Hakekat = pemahaman kebenaran hakiki tentang setiap benda dan peristiwa di jalan hidup yang telah dipilihnya sebagai manusia yang berjalan pulang menuju penciptaNya = terbukanya ilmu mukasyafah = pemahaman tentang segala sesuatu yang melampaui ilmu filsafat yang dibukakan langsung oleh Alloh sedikit demi sedikit = sedikit menoleh menuju arah cahaya, pemahaman diatas rata-rata manusia umumnya = pijakan menuju ke langit
• Makrifat = pencerahan menuju cahaya pulang yang terang benderang = manusia yang hidupnya telah dibimbing sepenuhnya oleh ilmu mukasyafah dari Alloh langsung = kuda dan anjing benar-benar telah ditaklukkan, penunggang kuda menjadi pengendali sepenuhnya berjalan menuju jalan pulang = meniti tangga menuju langit

Syams al Ideris said...

Assalamu Alaikum, Pak IS.

Sejak dulu saya sangat tertarik dengan isi tulisan Pak IS tentang hal-hal yang berbau ekonomi karena analisis, penjabaran dan penjelasan yang lugas dengan bahasa yang dapat saya fahami. Itu karena ilmu pengetahuan pak IS tentang ekonomi sangat bagus walaupun tidak diperoleh dari pendidikan formal tapi saya yakin pak IS telah berusaha belajar ttg ekonomi dgn baik. Setelah pemahaman ekonomi pak IS cukup mapan baru tulisan pak IS tentang Ekonomi menjadi cemerlang.

Tapi sejak membaca tulisan Pak IS tentang Islam Agama tanpa Spritualitas, saya menyarankan agar sebelum mempublikasikan sebuah perdebatan ttg Al Quran alangkah baiknya pak IS belajar dulu ilmu tentang Al Quran seperti pak IS belajar ilmu Ekonomi di atas.

Kenapa? karena untuk memahami Al Quran dengan baik dibutuhkan ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf. Hal ini bukan karena Al Quran itu sendiri tidak jelas tapi karena:
1. Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga bagi non Arab harus faham betul tata bahasa Arab sebelum mengetahui maksud ayat yang sebenarnya.
2. kapasitas ilmu dan kemampuan akal tiap manusia berbeda sehingga tidak semua orang dapat menangkap maksud ayat sebenarnya. Jadi diperlukan orang yang menguasai ilmu alat agar pemahaman quran kita lebih baik. Di sini gunanya ahli tafsir artinya kita tidak perlu belajar ilmu alat tapi cukup belajar tafsir tersebut dimana sang penafsir memiliki keahlian lebih dari pada kita sehingga kita tidak akan terjebak dalam kesalahan.
3. Arti ayat al Quran disamping seperti arti yang telah tertulis dengan jelas, juga perlu dipahami dengan :
a) Memahami ayat dengan ayat, maksudnya ada ayat lain yang memperjelas atau menguatkan ayat yang adas.
b) Memahami ayat dengan hadits yang shahih, karena Nabi SAW sendiri berwasiat agar kita berpegang pada Quran dan Sunnah beliau agar tidak tersesat.
c) Memahami ayat dengan bantuan pemahamana sahabat, karena sahabat hidup dan bergaul sejaman dengan Rasulullah sehingga pemahaman mereka tentu lebih tepat daripada kita.
d) Memahami ayat dgn gramatika dan tata bahasa Arab karena translasi dasn transliterasi sering menimbulkan kesalahfahaman. Seperti saya amati dari diskusi di komentar-2 tulisan ini ttg kata "Rohani", "Nafs", "Spritualitas", dsb terkesan debat kusir.
e) Memahami ayat dengan asbabun nuzul sehingga kita lebih faham makna ayat dengan melihat konteks turunnya ayat.

Inti dari tulisan di atas saya mempertanyakan apakah Pak IS telah memiliki ilmu alat yang cukup sehingga berani mendebat ttg Al Quran seperti pak IS telah memahami Ekonomi sehingga berani menulis ttg Ekonomi. Kalau tidak maka saya sarankan agar pak IS menyimpan tulisan ini pada konsumsi pribadi jangan jadi konsumsi publik. Tapi kalau ya tolong pembaca diberi gambaran dari segi nahwu, sharaf, asbabun nuzul, dll ttg beberapa ayat yang pak IS tuliskan di sini supaya pembaca menjadi lebih jelas.

(bersambung)

Syams al Ideris said...

Pak IS saya seorang guru Matematika. Saya menemukan kenjanggalan logika dari tulisan pak IS ini.

Pak IS menulis
1) Islam agama tanpa Spritualitas
2) Spritualitas = rohani
3) Kata "Rohani" tidak ditemukan dalam Al Quran.

Untuk point (3) saya setuju dan sudah saya cross check dgn ustadz saya memang benar.

Untuk point (2) yang menjadi dasar dari pernyataan "Islam agama tanpa spritualitas" saya kurang setuju. Karena darimana pak IS berani mengambil kesimpulan bahwa "Rohani" = "Spritualitas"??.

Saya kutip tulisan pak IS
"Rohani dan rohaniah adalah kata bahasa Arab yang berarti spiritual dan spiritualitas". Nah, setelah kalimat ini tidak dijelaskan Pak Is mengambil dari mana, atau logika apa yang pak IS bangun sehingga pak IS sampai kesimpulan Rohani = Spritualitas. Kalau dari kamus, kamus mana? kalau dari kitab, kitab mana? kalau berdasarkan logika, logikanya apa?

Mengapa ini sangat penting karena disinilah letak "missing link" logika yang Pak IS bangun. Seandainay judul tulisan pak IS adalah "Islam agama tanpa rohaniah" maka secara logika mungkin benar karena memang kata "Rohani" tidak terdapat dalam al Quran.

Saya akan coba menyanggah logika yang anda bangun juga dengan logika saya:

1) Kita harus percaya pada Allah dan Rasul.
2) Rasul mengatakan kita harus berpegang pada Quran dan Sunnah Rasul (hadits).
3) Kata "rohani" memang tidak terdapat dalam al Quran tapi Pak IS belum menunjukkan bahwa kata "rohani" juga tidak terdapat dalam hadits.

Selama point (3) tidak pak IS buktikan maka logika yang dibangun pak IS sepanjang tulisan ini akan tersanggah dengan sendirinya. Kecuali pak IS tidak mempercayai Rasul dengan hadist-haditsnya, tapi hanya percaya Allah dan Al Quran-Nya saja. Kalau demikian berarti Syahadat Pak IS belum lengkap.

Kemudian, dari tradisi keilmuan, jika membahas sesuatu hal biasanya perlu didefinisikan dengan jelas ttg pokok bahasan tsb sebelumnya. Misal saya membahas "hasil belajar matematika" maka sebelumnya saya akan mengupas pengertian kata "hasil", "belajar", "matematika" dan "hasil belajar matematika' dengan jelas sebelum menyusun hipotesis berlandaskan teori-teori atau rujukan-rujukan yang sahih bukan dari pendapat pribadi.

Pada tulisan ini pak IS tidak membahas apa itu "Spritualitas" padahal itulah inti tulisan ini. Jangan heran komentar-komentar melahirkan debat kusir. Pak IS tak bisa berkelit dan menyuruh orang lain untuk tugas ini karena tugas penulislah menjelaskan tulisannya. Ingat lho, Pak IS tulisan anda dibaca publik dimana saja dan kapan saja yang mana tulisan ini berpengaruh pada iman dan aqidah seseorang. Kalau isi tulisan benar maka tak masalah, tapi kalau ternyata tulisannya salah apa pak IS tak takut ikut memikul dosa rusaknya iman dan aqidah seseorang? Jadi sudah sewajarnya ini menjadi tanggungjawab anda menjelaskan arti kata "Spritualitas".

Sebagai penutup saya sampaikan pendapat pribadi hasil dari mendengar berbagai majelis yang dibacakan oleh beberapa Ulama di daerah saya.

Pak IS menulis "Untuk memperoleh keimanan harus digunakan akal".

Tapi bagaimana kita mengimani Allah SWT sedangkan secara akal kita tidak mampu memikirkan dan menjangkaunya.

Coba kita jawab pertanyaan di bawah ini menggunakan akal:
1. Apakah Allah itu ada (Wujud)?
2. Dimanakah tempat wujudnya Allah itu?
3. Sejak kapan Allah itu ada, jika Allah lebih dahulu dari semua mahluk, lalu bagaiman atau siapa yang meng"adakan" Allah?
4. Mengapa Allah maha Kuasa (Qudrat)?
5. bagaimana cara Allah mendengarkan segala sesuatu (Bashar)?

Apakah hanya dengan akal kita mampu menjawab semua itu, tidak. Oleh karena itu diperlukan iman, percaya. Artinya jika ada sesuatu hal dalam agama Islam tidak dapat dijangkau akal kita maka iman yang bicara, kita harus percaya.

Imam Semar said...

Pak Syams al Ideris yang guru mathematik,

Komentar anda yang pertama tidak akan saya tanggapi karena argumen seperti ini dikenal dalam ilmu logika sebagai logical fallacies yang dalam bahasa Indonesia disebut sesat pikir. Salah satunya adalah strawman argument. Sebagai guru matematika, tentunya anda dibekali ilmu logika dasar. Andaikata sudah lupa, bisa dibaca kembali di

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_fallacies


Rasa skeptis anda patut dihargai. Hanya saja sekedar nasehat (pemberi semangat) saja, jangan tergantung banyak pada ustadz. Untuk mencari ada tidaknya kata ruhani anda bisa gunakan openburhan.com. Dan untuk mencari tahu artinya (dalam bahasa Inggris) bisa juga digunakan dictionary online.

a. Untuk mengechek bahasa Arabnya kata spritual bisa dilakukan disini:

http://www.stars21.com/dictionary/English-Arabic_dictionary.html

Found in dictionary: English > Arabic.

spiritual [’spɪrɪtʃʋəl] [US] adjective روحاني روحي


Atau untuk mengechek bahasa Inggrisnya روحاني bisa disini:
http://www.stars21.com/translator/arabic_to_english.html

روحاني spiritual

Ini jaman internet, semuanya mudah.

Anda mengatakan:

Saya akan coba menyanggah logika yang anda bangun juga dengan logika saya:

1) Kita harus percaya pada Allah dan Rasul.
2) Rasul mengatakan kita harus berpegang pada Quran dan Sunnah Rasul (hadits).
3) Kata "rohani" memang tidak terdapat dalam al Quran tapi Pak IS belum menunjukkan bahwa kata "rohani" juga tidak terdapat dalam hadits.


Komentar saya:
poin#2: Bukhari, Muslim, Nawawi, dan pengumpul hadith tidak percaya pada sebagian besar hadith yang mereka kumpulkan dan memberi kategori doif (lemah/meragukan) dan sebagian kecil mereka namakan sahih. Apa tidak mungkin hadith doif masih tersisa dikelompok yang mereka sebut sahih? Bukankah Quran telah mengatakan:

[15:1] Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab, yaitu Al Qur'an yang memberi penjelasan.

Kalau anda masih kurang jelas untuk bisa beragama Islam, maka Quran telah berbohong. Anda bisa berteriak: "Ini ada satu hal yang tidak jelas....., Quran tidak menjelaskannya."

Oleh sebab itu mencari-cari kata rohani di hadith tidak perlu. Karena pemilihan kata di hadith dilakukan oleh manusia, yang belum tentu sama dengan keinginan Allah.

Saya yakin anda akan berargumen bahwa sholat saya harus mengikuti hadith untuk memperkuat pentingnya penggunaan hadth dalam Islam. Ini adalah argumen hasil membeo yang saya sering dengar (saya tidak bermaksud mengejek, tetapi argumen ini memang hasil membeo dari ustadz-ustadz). Jawaban saya adalah bahwa sholat yang sekarang dilakukan oleh kaum muslimin sebagian besar sumbernya adalah dari ulama fiqih. Dalam hadith tidak ada yang merinci rukun sholat dan syarat syah/tidak nya sholat.

Kalau anda menganggap bahwa saya tidak pernah mendiskusikan masalah ini dengan ustadz....., anda salah. Karena saya sering mengangkat topik yang kontroversial untuk diperdebatkan, terutama yang sudah keluar dari Quran (tafsir yang keluar dari Qurannya sendiri).

Saya menganjurkan anda untuk berpikir lebih independen....., dan gunakan teknologi internet untuk memudahkan riset anda.

Salam,

Imam Semar said...

@Pak Syams al Ideris

Tentang Tuhan, lain kali saya lanjutkan ceritanya...., insya Allah.

Syams al Ideris said...

Pak IS yang terhormat, terima kasih atas tanggapan anda.

PERTAMA:
Saya kutip tulisan anda "Oleh sebab itu mencari-cari kata rohani di hadith tidak perlu. Karena pemilihan kata di hadith dilakukan oleh manusia, yang belum tentu sama dengan keinginan Allah".

OK, saya pegang kalimat anda, -belum tentu-. Artinya bisa sesuai bisa tidak. Jadi hadits-hadits yang ada sekarang kemungkinannya ada 3, yaitu:

1. Semua hadits tidak sesuai dengan keinginan Allah.
2. Sebagian hadits sesuai dan sebagian tidak sesuai dgn keinginan Allah.
3. Semua hadits sesuai dengan keinginan Allah.

Konsekwensinya: Pak IS harus memilih:

Jika Pak IS berpendapat seperti nomor 1 saya anggap diskusi sudah selesai dan anda tidak perlu membuktikan ada tidak nya kata "rohani" dalam hadits karena semua hadits salah. Tentu saya tidak setuju semua hadits tidak sesuai, tapi diskusi menarik ini tidak dapat dilanjutkan karena pijakan awal kita tidak sama dan hanya akan jadi debat kusir.

Jika Pak IS mengambil point (2) tentu Pak IS tidak bisa mengatakan tidak perlu mencari kata "Rohani" dalam hadits karena kita dapat mengabaikan hadits-hadits yang tidak seseuai, tapi pada hadits yang sesuai harus dibuktikan bahwa kata "Rohani" tidak ada.

Jika Pak IS berpendapat seperti nomor 3 tentu Pak IS harus membuktikan bahwa kata "Rohani" tidak ada dalam semua hadist agar judul tulisan "Agama Islam tanpa spritualitas benar".


KEDUA:
Manusia takkan bisa membuktikan apakah kata-kata "Redaksi" hadits yang ada saat ini sesuai tidak dengan kehendak yang dimaksud Allah. Untuk membuktikannya kita harus bertanya kepada Allah itu sendiri sebagai yang punya kehendak. Jadi baik saya yang awam ini, Pak IS yang waras, atau ulama besar sekalipun takkan bisa membuktikannya sebelum bertanya pada Allah secara langsung. Jadi jika argumen anda tidak perlu membuktikan ada tidaknya kata "rohani" dalam hadits saya tidak sependapat. Hal ini perlu agar anda bisa mengatakan "Islam agama tanpa Rohani/Spritualitas". Karena kembali pada premis saya pada komentar sebelumnya kita harus percaya "Allah dan Rasul-Nya". Jadi tidak cukup mencari di Al Quran yang kita yakini sebagai kata-kata Allah saja, tapi juga kita harus mencari pada hadits-hadits Rasul.

Kecuali anda menolak premis saya dan berpendapat, tidak, kita cukup "mendengarkan" kata-kata Allah saja tak perlu "mendengarkan" hadits-hadits Rasul. Tentu diskusi ini bisa kita akhiri karena sekali lagi dasar pijakan kita berbedaf. Saya berpendapat, percaya dan yakin bahwa dalam beragama Islam kita harus "mendengarkan" Al-Quran-Nya Allah dan hadits-hadits-nya rasul.

Wassalam, Pak IS, mohon maaf jika ternyata sebagai guru matematika mungkin saya kurang begitu menguasai ilmu logika dan kurang begitu piawai menggunakan internet untuk mencari sumber rujukan. Semoga diskusi ini berlanjut karena saya ingin belajar dari anda mengengai ilmu Logika dan Internet.

Imam Semar said...

@ Pak Syams al Ideris,

Jangan berkecil hati jika anda merasa anda kurang mampu menggunakan internet dan teknologi digital. Semuanya itu bisa dipelajari. Dan juga tentang ilmu logika. Semua itu bisa dipelajari dan dilatih. Saya melatihnya sejak kecil dan orang-orang Madura yang biasanya ketika kanak-kanak belajar di pesantren, mereka sudah diajari..., mereka sebut dengan ilmu mantik. (Orang Madura pandai berdebat dan kalau debat sering menang telak).

Anda menganjurkan untuk melihat hadith dan memberikan alternatif sebagai berikut:

1. Semua hadits tidak sesuai dengan keinginan Allah.
2. Sebagian hadits sesuai dan sebagian tidak sesuai dgn keinginan Allah.
3. Semua hadits sesuai dengan keinginan Allah.


Tentunya anda menginginkan saya memilih 2 atau 3 bukan.

Penulis hadith atau yang dalam bahasa Inggris authority (author = penulis), adalah Bukhari, Muslim, Malik, dsb. Kalau anda membaca hadith, tidak ada seorang perawi hadith ini yang berani mengatakan dan mengkaim bahwa tulisannya sesuai dengan kehendak Allah, bagaimana saja berani-beraninya mengatakan bahwa tulisan beliau-beliau ini sesuai dengan kehendak Allah? Penulisnya saja tidak berani, haruskah pembacanya berani. Ini lancang sekali. Ini berarti saya telah menempatkan hadith di level yang saya tidak ketahui statusnya.

Lagi pula, para perawi ini juga telah membuang sebagian besar hadith-hadith yang telah dikumpulkannya, dan menganggap sebagai kebohongan (doif/meragukan kebenarannya-kata yang halus untuk mengatakan bohong). Saya tidak terlalu heran jika mereka hanya menyebut hadith-hadith mereka sebagai sahih (valid) atau mutawatir (صَحِيْح), bukan siddiq (truth).


Salam,

Imam Semar said...

@ Pak Syams al Ideris,

Jangan berkecil hati jika anda merasa anda kurang mampu menggunakan internet dan teknologi digital. Semuanya itu bisa dipelajari. Dan juga tentang ilmu logika. Semua itu bisa dipelajari dan dilatih. Saya melatihnya sejak kecil dan orang-orang Madura yang biasanya ketika kanak-kanak belajar di pesantren, mereka sudah diajari..., mereka sebut dengan ilmu mantik. (Orang Madura pandai berdebat dan kalau debat sering menang telak).

Anda menganjurkan untuk melihat hadith dan memberikan alternatif sebagai berikut:

1. Semua hadits tidak sesuai dengan keinginan Allah.
2. Sebagian hadits sesuai dan sebagian tidak sesuai dgn keinginan Allah.
3. Semua hadits sesuai dengan keinginan Allah.


Tentunya anda menginginkan saya memilih 2 atau 3 bukan.

Penulis hadith atau yang dalam bahasa Inggris authority (author = penulis), adalah Bukhari, Muslim, Malik, dsb. Kalau anda membaca hadith, tidak ada seorang perawi hadith ini yang berani mengatakan dan mengkaim bahwa tulisannya sesuai dengan kehendak Allah, bagaimana saja berani-beraninya mengatakan bahwa tulisan beliau-beliau ini sesuai dengan kehendak Allah? Penulisnya saja tidak berani, haruskah pembacanya berani. Ini lancang sekali. Ini berarti saya telah menempatkan hadith di level yang saya tidak ketahui statusnya.

Lagi pula, para perawi ini juga telah membuang sebagian besar hadith-hadith yang telah dikumpulkannya, dan menganggap sebagai kebohongan (doif/meragukan kebenarannya-kata yang halus untuk mengatakan bohong). Saya tidak terlalu heran jika mereka hanya menyebut hadith-hadith mereka sebagai sahih (valid) atau mutawatir (صَحِيْح), bukan siddiq (truth).


Salam,

Pak Dhe Sam said...

@samex

kesimpulan sementara saya dengan diskusi ini adalah diskusi ini tidak akan ada titik temu karena dasar pijakan awal tidak ada.

yakni makna spiritualitas itu sendiri.

CMIAW

sekian

Pak Dhe Sam said...

kesimpulan saya sementara,

pertama
diskusi ini tidak akan pernah ada titik temu karena dasar pijakan awal tidak ada, yakni makna spiritualitas itu sendiri tidak dijelaskan oleh penulis.

kedua
sayembara untuk menemukan kata roh dalam alqurán sudah terjawab, jd sayembara tersebut bohongan belaka karena Pak IS sendiri tau di alqurán memang tidak ada kata roh/rohani

ketiga
tulisan Pak IS bahwa rohani=spiritualitas tidak ada dasarnya, padahal diskusi bermula dibangun dari persamaan ini. maka dari awal debat ini hanya akan jadi debat kusir aja. Gak ada yg menang atau kalah


CMIAW
sekian dari saya

inprodic said...

Akhirnya case closed... Jadi inget sama Goenawan Mohamad yang males debat:
http://www.tempo.co/read/caping/2009/06/22/128375/Debat

inprodic said...

Akhirnya Case Closed.... Semoga tidak menjadi debat kusir (Emang kusir suka berdebat?)Jadi inget Goenawan Mohamad:
http://www.tempo.co/read/caping/2009/06/22/128375/Debat

Anonymous said...

Assalamualaikum
Dear Imam Semar,

spiritualitas atau rohani itu ada penjelasannya di quran dan disandingkan bersama dengan intelektualitas.

spiritualitas yg dimaksud bersumber dari nur ilahi yg menghidupkan mata hati dan intelektualitas yg bersumber dari observasi eksternal ini dikenal sebagai majmaul bahrain atau dua samudra ilmu.

kisahnya bisa sampeyan baca di quran surat al kahfi. sementara mengenai nur d quran ada kalimat "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi..."

bagi mereka yg hanya mengandalkan rasionalitas semata, apalagi sampai sombong, seperti nabi musa saat bertemu nabi khidir maka dia akan tertipu karena penampilan berbeda dengan kenyataan.

nabi musa yg diingatkan oleh Allah bahwa di atas langit masih ada langit lgs sadar bahwa rasionalitas itu sendiri terbatas karena objek yg diindera adalah alam material. hal itu penting tapi tidak cukup. keduanya rasional dan spiritual harus menjadi kesatuan harmonni maka kita akan menjadi orang yg tidak terperdaya.

di zaman kita skrg bgitu banyak tipu daya dan oleh karena itu kita perlu untuk tidak buta (mata) hati dgn hanya mengandalkan rasio semata karena kalau demikian ..mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al-A’raaf: 179)."

menemukan harmoni adalah perjuangan dari lahir hingga liang lahat.

mhn maaf kl gak berkenan

btw, mas, q ud baca sekejap buku sampeyan penipu, penipu ulung..itu bukunya bagus bgt. mau diskusi lebih lanjut boleh minta email japrinya?

wassalam,
frass kamasa

Anonymous said...

Assalamualaikum
Dear Imam Semar,

spiritualitas atau rohani itu ada penjelasannya di quran dan disandingkan bersama dengan intelektualitas.

spiritualitas yg dimaksud bersumber dari nur ilahi yg menghidupkan mata hati dan intelektualitas yg bersumber dari observasi eksternal ini dikenal sebagai majmaul bahrain atau dua samudra ilmu.

kisahnya bisa sampeyan baca di quran surat al kahfi. sementara mengenai nur d quran ada kalimat "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi..."

bagi mereka yg hanya mengandalkan rasionalitas semata, apalagi sampai sombong, seperti nabi musa saat bertemu nabi khidir maka dia akan tertipu karena penampilan berbeda dengan kenyataan.

nabi musa yg diingatkan oleh Allah bahwa di atas langit masih ada langit lgs sadar bahwa rasionalitas itu sendiri terbatas karena objek yg diindera adalah alam material. hal itu penting tapi tidak cukup. keduanya rasional dan spiritual harus menjadi kesatuan harmonni maka kita akan menjadi orang yg tidak terperdaya.

di zaman kita skrg bgitu banyak tipu daya dan oleh karena itu kita perlu untuk tidak buta (mata) hati dgn hanya mengandalkan rasio semata karena kalau demikian ..mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al-A’raaf: 179)."

menemukan harmoni adalah perjuangan dari lahir hingga liang lahat.

mhn maaf kl gak berkenan. izin case open lagi ^_^

btw, mas, q ud baca sekejap buku sampeyan penipu, penipu ulung..itu bukunya bagus bgt. mau diskusi lebih lanjut boleh minta email japrinya?

wassalam,
frass kamasa

Jago Verifikasi said...

Kali ini imam semar agak keblinger dalam pemikiranya, meskipn saya tetap salut pada postingan tentang lainya.. :)

Mohon maaf TERPAKSA HARUS BERKATA JUJUR, Untuk urusan ini anda perlu banyak belajar, bahkan anda tidak bisa bercakap bahasa arab. :)

Salam Hormat Saya
Muslim

jagoverifikasi said...

MOHON MAAF saya harus berkata JUJUR.

Untuk postingan selain berbau Islam, ok lah anda jago, tapi untuk ini sepertinya anda harus belajar lebih banyak untuk pemahaman kata, bahka bahasa arab pun anda tidak becus kecuali menggunakan google translate atau kamus bahasa arab.

Dengan postingan semacam ini justru anda kelihatan jadi bodoh.

Semisal saya mengatakan tidak apa apa dalam bahasa english apakah saya harus berkata NO WHAT WHAT??

Begitu juga pemahaman anda tentang ISLAM dan BAHASA ARAB.

Mohon d pertimbangkan KEBODOHAN POSTINGAN INI.

SEJUJURNYA SAYA SANGAT MENGHORMATI ANDA SEBELUM ANDA MEMPOSTING INI.

POSTINGAN INI JUGA SAYA SCREENSHOOT, Saya ragu anda berani menampilkan postingan saya yang agak pedas ini.

Terimakasih..

Anonymous said...

Yang menulis artikel di atas kelihatannya tidak mengerti apa yang dia tulis dan bukan dalam kapasitasnya untuk menulis hal tersebut :)

Anonymous said...

...
penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini.
...

Anonymous said...

Kasian Pak IS