___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, April 17, 2011

(No.19) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)



Sukarno

Sukarno adalah pahlawan, itu yang tertulis dibuku-buku sejarah Indonesia saat ini. Tetapi tidak halnya pada tahun 1966 – 1970, nuansa semua tulisan tentang Sukarno sangatlah berbeda. Sejak dari kejatuhannya sampai menjelang kematiannya, Sukarno dikucilkan dan dikenakan semacam tahanan rumah. Haknya (kalau dia punya) untuk memperoleh perawatan medis untuk mengobati penyakit ginjalnya diabaikan. Setelah itupun namanya masih dianggap berbau busuk sehingga dirasakan perlu mengganti semua nama-nama yang diambil dari nama Sukarno. Kota Sukarnopura diganti menjadi Jayapura, Gelora Bung Karno (Gelanggang Olah-Raga Bung Karno) menjadi Stadion Utama Senayan, Puncak Sukarno menjadi puncak Jaya-Wijaya. Bahkan kalau dalam buku sejarah masa lampau disebutkan bahwa Sukarno adalah perumus Panca Sila, kemudian Mohammad Yamin dijadikan sebagai penggali Panca Sila.

Apa yang terjadi 15 tahun kemudian? Angin berbalik. Pada pertengahan dekade 1980an, nama Sukarno direhabilitasi kembali. Namanya menghiasi lapangan terbang Cengkareng (1985). Dia dinobatkan menjadi pahlawan proklamasi Indonesia melalui keputusan presiden Keppres RI No 081/TK/Tahun 1986, tanggal 23 Oktober 1986.

Kalau begitu bung Karno itu pahlawan atau bukan? Apakah bung Karno pahlawan karena secarik kertas yang bernama Keppres RI No 081/TK/Tahun 1986? Atau dia memang pahlawan yang sejatinya. Bagaimana statusnya antara tahun 1970 – 1985? Pada periode antara tahun 1970 - 1985 dengan periode antara 1985 – sampai sekarang Sukarno sudah tidak pernah lagi membuat perubahan, bagaimana mungkin statusnya berubah? Itulah persoalannya dengan istilah “resmi” (Inggris: official), keputusan pemerintah, undang-undang. Walaupun isinya selalu ada kata-kata: “menimbang”, “mengingat”, seakan-akan ada alasan-alasan logis yang mendasari pembuatan sebuah keputusan, tetapi sering kali kata-kata itu tidak ada maknanya. Ibaratnya, jika ada keputusan pemerintah menyamakan kecantikan seekor monyet dengan seorang ratu kecantikan, maka secara resmi seekor monyet sama cantiknya dengan seorang ratu kecantikan. Seperti halnya pemerintah mendekritkan nilai selembar kertas yang bernama uang, bernilai sama dengan sepotong roti atau sebongkah emas.

Lupakan hal yang resmi-resmi dulu, kumpulkan data yang ada mengenai hasil karya Sukarno. Kemudian memutuskan dimana dia layak ditempatkan. Cara ini adalah cara yang layak dan paling masuk akal.

Faktanya Sukarno adalah yang membacakan text proklamasi Indonesia yang ditanda tanganinya bersama Mohammad Hatta. Faktanya dia juga presiden Indonesia dari tahun 1945 sampai 1967. Tetapi apakah hal ini sudah cukup untuk mengkategorikannya sebagai orang baik? Masih banyak lagi yang dilakukannya (bersifat positif atau negatif). Lagi pula menandatangi naskah proklamasi dan membacakannya atau menjadi presiden tidak penting, yang lebih penting adalah dampak dari prilakunya.

Sukarno pada tahun 1943, bersama Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo memperoleh bintang kekaisaran Jepang yang diberikan langsung dari kaisar Hirohito[1]. Diantara ketiga penerima bintang kekaisaran Jepang Sukarno lah yang aktif dalam perekrutan romusha. Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno mengatakan:

“Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul ditangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan – kepala pemerintahan militer dan para pembesar pemerintahan. Aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang kerangka hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang emas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”


Bung Karno mengakui bahwa tugas seorang panglima adalah memenangkan peperangan, dan dalam beberapa pertempuran mungkin kalah dan harus mengorbankan ribuan jiwa untuk menyelamatkan jutaan jiwa.[2] Kita tidak tahu tentang jutaan jiwa yang diklaim Sukarno telah diselamatkan dengan kematian ribuan jiwa. Sekedar angka statistik saja, jumlah romusha yang berhasil direkrut diperkirakan mencapai 270 ribu orang Jawa dan hanya 52 ribu yang berhasil pulang[3]. Berarti 218 ribu orang mati. Sukarno tidak pernah menerangkan dari mana angka jutaan orang yang terselamatkan karena pengorbanan 210 ribu orang itu dan peperangan apa yang harus dimenangkan. Tanpa penjelasan arti kematian 218 ribu orang Jawa itu adalah sia-sia.

Kalau bung Karno mengaku bahwa dialah yang mengantarkan ribuan jiwa untuk dikorbankan itu untuk menyelamatkan jutaan jiwa, siapakah yang memberi hak Sukarno mengorbankan si fulan dan si badu? Apakah Sukarno pemimpin terpilih waktu itu? Kenapa bukan yang lain yang dijadikan tumbal, seperti dirinya sendiri. Apakan pengorbanan itu sebelumnya telah dijelaskan kepada calon romusha bahwa mereka akan dikorbankan? Dengan kata lain apakah mereka rela bahwa mereka akan dikorbankan. Ataukah mereka diakali untuk dikorbankan?

Berdasarkan penuturan orang-orang tua kita yang hidup di masa itu lurah dan kepala desa ikut merekrut romusha dan iming-imingannya adalah gaji dan makan yang cukup untuk pekerjaan yang mereka lakukan. Seakan romusha ini akan bekerja. Informasi ini dikukuhkan dengan sebuah artikel[4]:

Tahun 1943 pemuda Karja Wiredja meninggalkan desanya di Matukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menjadi romusha di Thailand. Di benaknya mungkin tidak terpikir bahwa dia baru akan kembali ke desanya 52 tahun kemudian. "Waktu itu lurah bilang kita boleh ikut Nippon," kata Karja akhir bulan Juli yang lalu. Maka berangkatlah pemuda lugu tersebut untuk jadi mandor pembangunan rel kereta api sepanjang 415 kilometer antara Thailand dan Burma. Bayarannya, dua sen sehari. Selama sebulan kerja Karja mendapat gaji enam rupiah.

Jadi yang dijanjikan adalah lapangan kerja dengan gaji tentunya, bukan kerja paksa yang menuju kematian. Bukan kah romusha ini pengelabuhan?

Salah satu gagasan dan retorik yang sering dilontarkan oleh Sukarno selama menjadi presiden adalah anti imperialisme, anti kolonialisme. Sampai-sampai Sukarno mengajak rakyat Indonesia untuk mencampuri urusan bangsa Malayu pada saat membentuk negara Malaysia. Selama Sukarno memerintah tidak pernah terdengar bantahan untuk menggugat apakah imperialisme dan kolonialisme itu pada hakekatnya buruk?

Data tidak bisa menyimpulkan bahwa imperialisme dan kolonialisme itu buruk. Berikut ini adalah suatu perbandingan GDP (Purchasing Power Parity, kemampuan membeli, PPP) antara imperium terbesar pada masa Sukarno masih muda, yaitu negara kolonial Inggris, negri yang dijajahnya sampai tahun 1997 yaitu Hong Kong dan negri yang membebaskan diri dengan jalan kekerasan di tahun 1947, yaitu India (Grafik IV- 1).

Grafik IV- 1 Perbandingan GDP (PPP) negara imperial (Inggris), negara yang dijajah (Hong Kong) dan negara yang cepat merdeka. GDP India lambat tumbuh dibandingkan Hong Kong negara yang terlama dijajah Inggris.

Yang menarik ialah, bahwa GDP Hong Kong – negri jajahan Inggris bisa melampaui GDP negara yang menjajahnya, yaitu Inggris, di tahun 1988. Sebagai negara terjajah, nasibnya tidak selalu lebih buruk dari penjajahnya. Buktinya Hong Kong.

Lalu bagaimana negara yang memerdekakan diri dari Inggris sejak tahun 1947, India? Memang ada kenaikan GDP dan kemakmuran. Tetapi lambat. Jauh tertinggal dibandingkan dengan Hong Kong – tanah terjajah. Itu fakta!! Padahal Hong Kong tanah dan sumber alamnya kalah jauh dibandingkan dengan India. Mungkin anda tertarik untuk membandingkan sendiri GDP Indonesia, Suriname dan Antilles Belanda serta Belanda, silahkan mencari datanya.

Bagaimana pengaruh kemerdekaan itu sendiri, terutama pemerintahan Sukarno terhadap kemakmuran yang dimanifestasikan sebagai GDP (Purchasing Power Parity, PPP) per kapita. Kalau dilihat dari data yang dikumpulkan oleh Angus Maddison (Grafik IV- 2)[5], ternyata pada jaman Sukarno, rakyat Indonesia kurang lebih 10% - 20% lebih melarat dari pada pada jaman penjajahan Belanda yang oleh nenek saya disebut jaman Normal. Maksudnya jaman republik Sukarno adalah jaman yang tidak bisa disebut normal. Apa lagi pada tahun-tahun 1964 – 1967, itu lebih cocok disebut jaman melarat. Banyak yang kelaparan, harus makan jagung atau bulgur (makanan hewan) dan nilai uang serta nilai tabungan hancur lebur karena mesin cetak uang diputar sangat cepat.

Kalau dilihat perbedaan antara GDP Indonesia di jaman penjajahan Belanda dengan jaman Sukarno hanya terpaut sedikit saja, hanya 10% - 20%. Tetapi jangan sangka bahwa pada jaman merdeka adalah yang lebih tinggi, melainkan sebaliknya jaman Belanda yang lebih baik. Harus dilihat bahwa pada jaman Belanda, tidak banyak sarjana dan lulusan SMA. Pengharapan para sarjana dan lulusan SMA yang sangat dihargai pada jaman Belanda, tentunya tinggi. Tetapi situasi berubah. Dokter tidak lagi identik dengan punya rumah besar dengan pembantu 5 orang dan hidup yang mewah. Orang yang berpendidikan meningkat tetapi penghasilan malah turun. Perbedaan antara pengharapan dan kenyataan menjadi sangat lebar. Itu sebabnya nenek saya menyebut jaman Belanda sebagai jaman Normal, sedang jaman Sukarno adalah jaman tidak normal.

Grafik IV- 2 Perbandingan GDP (PPP) Hindia Belanda dan Indonesia merdeka. Walaupun sudah banyak rakyat yang berpendidikan tinggi, GDP/PPP di jaman Sukarno lebih rendah dibanding dengan GDP/PPP di jaman penjajahan Belanda.

Sukarno dengan gagasan kemerdekaannya membuat Indonesia menjadi bangsa tempe yang tidak punya daya saing. Dari tahun 1950 – setelah pengakuan kedaulatan Indonesia sampai berakhirnya masa jabatan Sukarno tahun 1967, pertumbuhan rata-rata GDP per kapita Indonesia hanya 0.8% per tahunnya. Jika dibandingkan dengan rata-rata dunia adalah 3%. Dan pertumbuhan GDP untuk mantan penjajah (Belanda) adalah 3.3%. Jadi, jangankan untuk mensejajarkan diri dengan bangsa penjajah Belanda, revolusi malah menjadikan Indonesia bangsa kelas kambing yang ekonominya tumbuh jauh di bawah rata-rata dunia, selama pemerintahan Sukarno.

Angka yang diberikan Angus Maddison, menurut penilaian saya agak lunak. Sebagai orang yang hidup dan merasakan tahun 1964 – 1967, saya nilai Angus Maddison terlalu bermurah hati terhadap prestasi Sukarno. Seingat saya, tahun 1964, uang Rp 1000 bisa digunakan untuk makan sekeluarga sehari. Karena inflasi (pencetakan uang secepat-cepatnya) uang Rp 1000 itu sudah tidak punya nilai lagi dan 3 angka nol nya dihilangkan dan menjadi Rp 1 dan hanya bisa membeli sebungkus kwaci. Itu jauh lebih menyengsarakan dibandingkan dengan angka GDPnya Maddison yang hanya turun 10% - 15% selama kurun waktu 6 tahun. Mengenai kesengsaraan di masa Sukarno ini akan dibahas lagi di bagian lain dengan menggunakan tolok ukur yang lebih universal, yaitu uang sejati – emas.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sukarno adalah orator yang ulung seperti Hitler. Perumpamaan keahlian orator adalah bak penjual yang mampu menyakinkan calon-calon pembelinya untuk membayar tahi ayam seharga permen coklat yang melanggar semua ketentuan-ketentuan akal sehat. Sukarno berhasil mengganti akal sehat dan indra dengan slogan dan kata-kata eksotik. “Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur”, berdikari, manipol usdek, dwikora, trikora, nekolim, gayang Malaysia, demokrasi terpimpin, politik bebas aktif, marhaenisme adalah slogan dan kata-kata eksotik memukau jutaan orang sehingga menanggalkan semua akal warasnya dan indranya. Untuk dirinya, semasa menjadi presiden di dekade 60an, dia memakai gelar panjang yang sangat eksotik yaitu: “Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, Mandataris MPRS, Panglima Tertinggi ABRI”. Dan dalam tulisan resmi, gelar ini selalu mendahului namanya.

Salah satu bukti bahwa Sukarno mampu menghipnotis massa bisa dilihat dari idenya menghadapi penjajah dengan bambu runcing yang kemudian diikuti orang. Berikut ini adalah cuplikan pidato Sukarno:

“Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing,... saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka.” (Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945)

Renungkanlah dengan pikiran yang jernih ajakan merdeka di atas. Bambu runcing melawan karaben metraliyur (senapan otomatis ringan)? Tidak ada orang yang masih menggunakan akalnya mau maju perang dengan bambu runcing melawan musuhnya yang bersenjata senapan mesin. Kenyataannya ada rakyat Indonesia yang mau melakukannya dan akhirnya mati menjadi sasaran empuk senapan mesin. Pasti mereka pikir bahwa bambu runcing dan semangat membuat mereka kebal peluru. Kepercayaan semacam ini sama saja dengan kehilangan akal. Mungkin yang mati akibat kegilaan ini tidak banyak, karena dalam perang kemerdekaan hanya ada 2 pertempuran yang besar, pertempuran 10 November di Surabaya dan pertempuran 5 hari di Semarang. Walaupun demikian setiap kematian pahlawan untuk kemerdekaan negaranya, adalah termasuk sia-sia. Malaysia, Singapura, Brunei, Suriname dan sederet negara lagi, memperoleh kemerdekaan tanpa perlu pengorbanan nyawa dari orang yang disebut pahlawan. Tentu saja mereka ini tidak punya kenikmatan dalam mengagungkan pahlawan-pahlawannya yang bisa dilakukan setiap tahun dalam perayaan kemerdekaan seperti Indonesia atau Amerika Serikat.

Ada lagi gagasan Sukarno yang absurd lainnya, yaitu berdikari. Berdikari suatu konsep yang absurd dan indah didengar. Konsep dan idenya ialah bahwa semuanya harus diusahakan sendiri tanpa keikut-sertaan bangsa lain. Indah terdengar, tetapi ketika diuji dengan hal yang sangat sepele akan gugur. Untuk urusan korma bagi penganan buka puasa, misalnya apakah bisa ditanam di Indonesia? Selama ini harus didatangkan dari Kalifornia, Timur Tengah dan tempat-tempat lain. Itu baru masalah korma yang sepele. Mungkin juga pergi haji bagi orang Islam di Indonesia, mereka harus ke Mekkah yang tidak ada di Banten atau Sumatra. Berdikari adalah konsep yang mengabaikan prinsip keunggulan suatu daerah atas daerah lain karena kondisi alamnya, sumber daya alamnya dan juga keterampilan masyarakatnya. Oleh sebab itu politik berdikari akan menghasilkan sistem ekonomi yang mahal dan menyengsarakan. Jangan heran kalau selama masa pemerintahan Sukarno, ekonomi dan GDP tidak beranjak kemana-mana.

Politik bebas aktif dan mendukung perdamaian maksudnya tidak memihak kemana-mana dan mencintai perdamaian. Mungkin politik bebas aktif itu hanya sampai pada masa operasi Dwikora yang dilaksanakan di bulan Maret 1964. Karena setelah itu adalah Dwikora yang merupakan politik untuk mencampuri urusan tetangga Malaysia. Sukarno merasa perlu mencampuri urusan rakyat Melayu yang mau mendirikan negara federasi Malaysia. Untuk itu dikirimkanlah sukarelawa-sukarelawan ke perbatasan untuk berperang melawan Malaysia.

Walaupun retorik “Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur” bukan resmi dari mulutnya, di jaman Sukarno slogan ini sangat populer. Dan sesungguhnya Sukarno telah membawa Indonesia menyebrangi jembatan emasnya. Sayangnya emas bukan logam yang baik untuk konstruksi jembatan. Akibatnya jembatan itu ambruk. Ekonomi makin lama makin terpuruk dan akhirnya tahun 1965 tidak tahan lagi dan meletuslah huru-hara, yang berlangsung sampai Sukarno jatuh.

Untuk menilai semua itu, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah” – “JASMERAH” kata Sukarno. Semua harus diingat: keikut-sertaannya dalam mengantar 218 ribu romusha kepada kematiannya; memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan menempuh jalan kekerasan untuk merdeka dan mengorbankan nyawa dan harta secara sia-sia; ikut memprovokasi para pemuda untuk berjuang dan bertempur secara tidak seimbang dengan Belanda, bambu runcing melawan bedil yang menyebabkan sebagian dari mereka mati sia-sia; membawa masyarakat Indonesia ke masyarakat yang lebih berpendidikan tetapi lebih melarat; memelaratkan bangsa Indonesia dengan mencetak banyak rupiah di akhir pemerintahannya; mencampuri urusan dalam negri tetangga (Malaysia) yang menyebabkan korban mati dan tertawan dipikul oleh para sukarelawan. Masuk kategori manakah Sukarno ini? Ibu Teresa, Albert Schweitzer, Amru bin As atau Lincoln dan Hitler?



(Bersambung..........)


[1] Soekarno, Wikipedia bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno

[2] The Other Stories - Bung Karno – Serpihan Sejarah yang Tercecer; Roso Daras, 2009, Penerbit Imania.

[3] Romusha; Wikipedia Online Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Romusha

[4] Kisah Seorang Romusha; Suara Independen No.03/1, Augus 1995 http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/09/02/0000.html

[5] Historical Statistics for the World Economy: 1-2006 AD, Angus Maddison, http://www.ggdc.net/Maddison/Historical_Statistics/horizontal-file_03-2009.xls



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, April 16, 2011

APAKAH KITA PERLU PEMERINTAH?




Tanggal 9 April 2011 lalu adalah hari yang ke 300 di Belgia tanpa ada pemerintahan. Tidak ada menteri selama 300 hari. Tidak ada kabinet, tidak ada kepala pemerintahan. Apakah Negara Belgia kacau? Tidak juga. Apakah negara Belgia yang berpenduduk 10 juta orang ini makin miskin? Tidak juga. Apakah bisnis tutup? Tidak juga. Jadi apa yang kurang? Yang berkurang hanya kabinat, menteri dan perdana menteri, dan pekerjaan di departemen-departemen/kementerian mandeg.

Pemerintah Portugal tanggal 24 Maret 2011 lalu membubarkan diri. Sekarang sudah 2 minggu tanpa pemerintahan. Alasan pemerintah membubarkan diri adalah karena saling tidak setuju mengenai budgetnya.

Berita tentang tidak adanya pemerintahan di Belgia dan Portugal saya ceritakan kepada rekan sekantor. Dengan spontan dia berkomentar: “Woww…., bagaimana tuh Portugal? Hutangnya ‘kan banyak!”. Rekan sekantor saya ini perlu merenung yang dalam, memikirkan ucapannya tadi. Yang perlu direnungkannya adalah pertanyaan: “siapa yang membuat hutang Portugal menumpuk itu.” Jawabnya sederhana saja, yaitu: “Pemerintah!” Dengan tidak adanya pemerintah, maka biang kerok kekacauan ini sudah disingkirkan.

Kalau pembaca masih sulit menerimanya, kita lihat Libya. Libya kacau. Perang antara pendukung Muamar Qaddafy melawan pendukung Mahmoud Jibril, yang menjadi pimpinan opposisi. Di Libya pemerintah bertambah dengan adanya pemerintahan bayangan yang dipimpin Mahmoud Jibril, dan negaranya makin kacau.

Mesir masih bergolak. Semua orang mau memerintah mau membuat kebijaksanaan. Kakacauan masih terus berlangsung.

Bisakah pembaca menangkap makna semua ini? Hikmah apakah yang bisa diambil? Kalau pembaca tidak berani mengatakannya atau tidak bisa mengambil kesimpulan, saya akan bantu: “Banyak yang tidak diperlukan di Pemerintah. Kalau mau ekstrim, bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya pemerintah tidak diperlukan.”

EOWI saat ini sedang menurunkan dongeng bersambung yang berjudul “Penipu, Penipu Ulung, Politikus dan Cut Zahara Fonna”. Mungkin dimasa datang EOWI harus menurunkan kisah “Pencuri, Orang Cabul dan Politikus”. Baru saja EOWI memperoleh ide ini dari Presiden Republik Czech, Václav Klaus, anggota DPR dari partai PKS Arifinto dan berita lama anggota DPR dari Golkar Yahya Zaini. Presiden Republik Czech dua hari lalu tertangkap kamera sedang mengutil. Arifinto kepergok menonton video porno ketika sidang paripurna DPR dan berita lama Yahya Zaini bermain video porno dan diedarkan ke Youtube.

Dalam hal kutil-mengutil, seorang presiden tidak kalah lihainya. Contohnya saja presiden Václav Klaus seperti pada tayangan video Youtube ini. Perhatikan tangan kanannya mengambil pena, kemudian menurunkannya ke bawah, sampai terhalang meja. Kemudian memindahkannya ke tangan kiri (terhalang meja) dan memasukkannya ke dalam saku (juga terhalang meja). Setelah itu ia menutup kotak penanya. Semua gerakannya berjalan dengan halus sekali dan tidak mencurigakan jika tidak memperhatikan setiap langkahnya. Begitulah cara pejabat dan politikus mencuri.




M Irfan, pewarta foto harian Media Indonesia, memergoki Arifinto anggota DPR sedang menontong video porno di IPad miliknya pada saat sidang paripurna DPR. Arifinto yang berjenggot adalah dari partai PSK, eeh.. salah, maksud saya PKS. Ketika berita ini tersebar ke media massa, Arifinto mengelak dengan mengatakan bahwa dia hanya melihat beberapa detik saja lalu menghapusnya.

Lain kata Arifinto, lain pula kata wartawan fotonya. Kata wartawan foto yang memergokinya adalah beberapa menit. Antara menit dan detik punya perbedaan bagaikan antara kilo dan kwintal atau gram dengan ons. Mendekati 100 kalinya. Si wartawan foto Irfan sempat mengabadikan momen itu sampai beberapa kali. Jadi tidak mungkin hanya bilangan detik. Sangat patut diduga bahwa Arifinto berbohong. Dosanya menjadi 2, menonton video porno dan berbohong. Mungkin dosanya 3, karena harus ditambah 1 lagi yaitu berjanggut seakan untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang taat beragama padahal dia penggemar video cabul dan (suka) berbohong pada posisi terpojok (atau mungkin juga tidak tepojok).

Ternyata perkara dosa anggota DPR-PKS ini merambat kemana-mana. Tifatul Sembiring, rekan Arifinto dari PSK,.... maksud saya PKS, membela melalui twitter seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com. Katanya:

“apakah tindakan arifinto yg dikirim link situs porno, lalu dibukanya selama 2 menit, itu termasuk dosa besar? Menurut saya ini tidak termasuk kabair (dosa besar). Namun bukan berarti tidak berdosa sama sekali. Kalau hukum positif, tentu lain lagi."

Ini adalah pengakuan PSK (eeh salah ketik lagi, maksudnya PKS) bahwa Arifinto memang menonton video porno. Dan kata Tifatul Sembiring sebelumnya:

Dari kacamata Islam sy pahami bahwa kabair (dosa2 besar) adalah: 1. Syirk pd Allah 2. Durhaka pd ortu 3. Pembunuhan 4. Zina 5. Sumpah palsu.


Secara implisit, maksud Tifatul Sembiring bahwa korupsi juga bukan dosa yang besar dan boleh-boleh saja dilakukan seperti halnya menonton video porno. Dan perbuatan dosa yang boleh dilakukan termasuk juga mengingkari kepercayaan rakyat, berbohong, berjanji paslu, ingkar janji......., ini boleh-boleh saja dilakukan. Tentu saja yang boleh melakukannya hanya politikus, menteri dan anggota DPR, serta anggota partai. Soalnya, bagi Tifatul, yang menteri Penerangan (kominfo), lain hari lain ceritanya, karena pelakunya berbeda. Tiga bulan lalu ia berusaha dengan gigih menutup semua situs-situs porno, seperti yang diberitakan RakyatMerdekaOnline.Com Tifatul Mulai Blokir Pornografi di BlackBerry.

Sembilan bulan lalu ceritanya juga lain bagi Tifatul. Republika online melansir berita keaktifan menkominfo ini memberantas pornografi dunia maya, Tifatul: Situs Porno Tuntas Diblokir Sebelum Ramadhan. Maksudnya Ramadhan 2010 lalu. Katanya:

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring mengatakan, pihaknya menargetkan proses pemblokiran terhadap situs porno di dalam negeri tuntas sebelum memasuki Bulan Ramadhan. Dia mengingatkan, pemblokiran situs porno merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan pemerintah.


"Saya minta waktu selama sebulan, ini baru satu pekan, pokoknya sebelum Ramadhan sudah beres, supaya tidak terganggu ibadahnya," ujar Tifatul sebelum mengikuti Rapat Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kamis (22/7). Pemblokiran itu, kata dia, akan dilakukan secara masif meski tidak bisa seluruhnya.


"Bukan seluruhnya ya, cuma yang masuk itu kami blok, jadi secara masif kami lakukan," ujar Tifatul. Mengenai sanksi terhadap pembuat situs itu, Tifatul menyerahkan kepada kepolisian. Dia hanya mengingatkan, dalam UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memuat hukuman penjara 6-12 tahun.


Akankah Arifinto dihukum 6-12 tahun untuk pelanggaran UU No 11/2008? Meragukan. Karena hal itu adalah kata Tifatul sebelum ada politikus yang melanggar UU No 11/2008, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sekarang lain lagi ceritanya. Arifinto akan melenggang kangkung. Sebabnya....., karena janggutnya.

Arifinto dipecat dari DPR dan majelis suro PKS. Tetapi tidak lebih dari itu. Kata PKS, masih belum ada penggantinya. Di EOWI, kami mengatakan tidak perlu ada penggantinya. Sejarah membuktikan bahwa dengan 38 orang wakil rakyat sudah cukup untuk membuat peraturan (UU). Dan sekarang ini sudah terlalu banyak. Anggota DPR 560, DPD 132 orang dan DPRD I 1.770 serta DPRD II 13.525 orang sekarang ini (2009-2014). Itu baru anggotanya, belum lagi staff “ahlinya”. Tahun 2007 DPR (pusat) punya 550 staff ahli. Sekarang dan yang akan datang entah berapa lagi. Dan ini belum termasuk yang ada di daerah.


Arifinto – yang berjanggut sakti, pelanggar UU No 11/2008?.


Dibandingkan dengan jaman Belanda dulu, anggota Volkraad hanya 38 orang. Jumlah kementerian hanya 5. Tidaklah mengherankan kalau jumlah peraturan melesat banyaaak sekali, saling tumpang tindih, ruang gerakpun semakin sempit. Sampai-sampai sekarang ini arisan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran UU BI No. 10 tahun 1992 – Mengumpulkan dana tanpa ijin BI. Undang-undang seperti ini yang saya sebut UU sontoloyo, karena terlalu mencampuri urusan pribadi orang. Setiap hari secara tidak sadar kita melanggar UU – yang sontoloyo.

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan undang-undang baru. Saya belum baca undang-undang yang sudah jadi, baru rancangannya saja. Namanya Undang-Undang Tentang Informasi Geospasial. Kata Geospasial, sangat mentereng, atau “big word” dalam bahasa Inggris. Saya yakin pembaca tidak tahu artinya. Menurut definisinya:

Geospasial adalah sifat keruangan yang menunjukkan posisi atau lokasi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi dengan posisi keberadaannya mengacu pada sistem koordinat nasional. Peta termasuk informasi geospatial.


Pokoknya Indonesia sudah canggih, punya peraturan baru dengan big word baru yaitu Geospasial. Bahasa awamnya adalah tentang peta. Cuma itu. Disamping isi bahasanya menyentuh langit, tentu saja UU ini menjadi banyak konyolnya. Kalau tidak konyol, mana mau EOWI menyentuhnya.

Bab VII Ketentuan Pidana Pasal 59 ayat 3 dan ayat 4:

Setiap orang yang mengubah Informasi Geospasial Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 untuk maksud disebarkan kepada orang lain tanpa persetujuan dari penyelenggara Informasi Geospasial Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).


Setiap orang yang mengubah Informasi Geospasial Tematik dengan maksud disebarkan kepada orang lain tanpa persetujuan dari penyelenggara Informasi Geospasial Tematik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dan Pasal 24 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (pasal 59 ayat 3 & 4)


Pada dasarnya, kalau anda membuat undangan dan disertai peta petunjuk cara mencapai lokasi, maka jika peta itu dasarnya dari “pihak yang berwenang” maka tidak boleh ditambah, dikurangi, atau diperbaharui (update) untuk memudahkan undangan mencapai lokasi tersebut. Dan juga harus dengan ijin “pihak yang berwenang”. Jika seseorang tersesat dan mengalami kerugian bensin, maka pembuat undangan tersebut bisa 24 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000. Ini tentunya kalau pemerintah lagi mau menuntut. Pokoknya suka-suka pemerintah lah.

Undang-undang konyol banyak sekali. Hampir setiap hari ada saja peraturan yang kita langgar. Tetapi tentunya kita tidak dituntut. Penuntutan sangat tergantung pada mood pemerintah yang angot-angotan. UU No. 10 tahun 1992 (arisan), UU No 11/2008 internet porno, Peraturan ketenaga kerjaan, UU perkawinan, dan sederet lagi. Kalau anda punya radio di mobil anda, seingat saya anda harus bayar pajak. Demikian juga TV, ada iuran TV. Juga sepeda dan anjing. Itu baru yang kecil-kecil.

Jaman Belanda dulu hanya ada 5 kementerian, yaitu:

  • Departemen Van Economische Zaken (Ekonomi)
  • Departement van Sociale Zaken (Masalah Sosial termasuk tenaga kerja)
  • Departement van Verkeer en Waterstaat (Perkerjaan Umum)
  • Departemen Van Binnenlandsche Zaken (Dalam Negri)
  • Departemen van Onderwijs en Eredienst (Pendidikan dan Budaya/Kepercayaan)

Dan anggota perwakilan rakyat hanya 38 orang. Bandingkan dengan sekarang ada 34 menteri, plus 3 pejabat setingkat menteri (kepala Polisi, Kepala TNI dan jaksa agung). Setelah 80 tahun kementeriannya naik dari 5 menjadi 37 atau 7,5 kali. Dan anggota parlemen naik dari 38 menjadi 15.987 atau naik 421 kali. Padahal penduduk Indonesia hanya naik 4,2 kalinya saja sejak tahun 1920 dari 54 juta jiwa (tahun 1920) menjadi 226 juta (tahun 2008). Jumlah kabinet dan jumlah wakil rakyat melesat jauh dibandingkan dengan jumlah yang bayar pajak. Kalau mau dihitung perbandingan jumlah pegawai negri yang katanya untuk mengurusi rakyat dengan jumlah rakyat yang diurusinya (maksudnya yang bayar pajak) maka terjadi lonjakan yang drastis. Jangan heran kalau pajak penghasilan naik dari 3% di jaman Belanda menjadi maksimum 30% di jaman reformasi dan 35% di jaman orde baru. Indonesia merdeka untuk membebani rakyatnya dengan pajak 10x lipat.

Jaman Belanda dikenal oleh kakek-nenek kita sebagai jaman Normal. Karena cari penghidupan relatif mudah. Dan harga-harga stabil. Orang bisa menabung. Itu karena Belanda menerapkan pajak upah (penghasilan) hanya 3%. Entah kebetulan atau tidak, nabi Muhammad juga menerapkan 2,50% kewajiban zakat. Kalau mau lebih tidak dilarang. Mungkin Tuhannya orang Islam menganggap 2,50% sudah cukup untuk menolong secara “memberi ikan”. Selebihnya bisa untuk menolong secara “memberi kail”. Pemerintah bukan lembaga yang produktif. Hasilnya hanyalah menghabiskan modal dan resources, membuat UU dan peraturan yang tidak ada gunanya. Ada ucapan dari Don Kickles – seorang comedian:

Internal Revenue Code: It's about ten times the size of the Bible - and unlike the Bible, contains no good news.


Buku aturan pajak di Amerika tebalnya 10 kali Bible, tetapi sama sekali tidak mengandung kabar gembira. Untuk Indonesia tidak jauh berbeda. Ini baru aturan pajak, belum lagi aturan-aturan lainnya.

Pembaca EOWI mungkin berpikir bahwa EOWI selalu mencitrakan pemerintah sebagai the bad guy. Walaupun demikian, EOWI juga menyodorkan bukti-buktinya bukan? Bukan sekedar opini tanpa dasar. Misalnya mengenai Tifatul dan Arifinto, mereka tahu bahwa nabi mereka hanya mewajibkan iuran wajib 2,5% dari penghasilan. Sekarang mereka bergabung dengan golongan penindas yang setuju menariki sampai 30%. Dan uangnya digunakan untuk menggaji mereka. Apakah mereka layak disebut pengikut nabi mereka, nabi Muhammad? Tidak hanya itu, partai berjanggut ini juga digoncang kemelut penggelapan dana Rp 10 milyar yang berasal dari Adang Darajatun, calon gubernur DKI. Salah satu beritanya dilansir oleh Wartabuawa.com dalam Deklarator PKS Tuduh Petinggi PKS Gelapkan Dana.

JAKARTA, WARTABUANA.COM-Deklarator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yusuf Supendi melaporkan Presiden PKS Luthfi Hasan, Sekjen PKS Anis Matta, dan Wakil Sekjen PKS Mahfudz Siddiq ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tuding telah menerima dana asing dari Timur Tengah untuk partai dan menggelapkan dana Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2007 sebesar Rp10 miliar.


a mengaku tidak main-main dengan kasus yang dialaporkanya itu. Karena semuanya ada bukti kuat terkait penggelapan dana Pilkada Jakarta senilai Rp10 miliar itu. Yang bakal mendapat dukungan sejumlah nama saksi kunci dan pemegang bukti manipulasi laporan daftar donatur partai ke KPU.


Yusuf melaporkan sejumlah dana yang diterima PKS dari pihak tertentu, termasuk dari mantan Wakil Kapolri Komjen Pol. Adang Daradjatun. Menurut Yusuf, Adang pernah memberikan dana Rp40 miliar kepada PKS sebagai 'uang mahar' dicalonkan PKS sebagai gubernur Jakarta.


"Dari jumlah itu, digelapkan Anis Matta Rp10 miliar," kata Yusuf, tanpa tedeng aling-aling.



Yusuf juga melaporkan adanya sumbangan dana Rp21 miliar dari salah satu calon presiden pada Pemilu 2009, dan senilai Rp34 miliar dari salah satu calon wakil presiden saat Pemilu 2004. Dana itu, kata Yusuf, dikelola oleh Luthfi Hasan Ishaaq yang kini menjabat Presiden PKS.


"Kalau memang tidak bisa diselesaikan secara internal, saya laporkan ke KPK," kata Yusuf sambil membawa bukti-bukti yang dituduhkannya, Senin (21/3). "Saya juga akan memberikan nama-nama saksi yang masih aktif di PKS. Ada 11 saksi," tandasnya.


Hallo... Yusuf...., kok masih berpikir diselesaikan secara internal. Ini delik kriminal. Hallooooo...., polisi, kok tidak diselidiki, sampai ke calon presidennya?

Saya tidak heran jika ada kelompok Islam yang mengkafirkan mereka yang berprilaku seperti itu.

Kembali pada pertanyaan: Apakah kita perlu pemerintah? Belgia sudah lebih dari 300 hari tanpa pemerintahan. Amerika Serikat nyaris me-shutdown beberapa pelayanan umumnya seminggu lalu.

Anda pasti bisa menjawab pertanyaan itu.

Dan cerita ini akan saya akhiri dengan sebuah video (bukan porno yang ditonton Arifito PKS) dari CATO Institute tentang pemerintah:



Banyak persamaannya dengan Indonesia. Bahkan Indonesia lebih parah.

Anda bisa membantu menjadikan Indonesia lebih makmur dengan berbagi kisah ini dengan teman dan kenalan anda.



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, April 14, 2011

(No.18) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)


Politikus Sontoloyo

Adolf Hitler

Sejarah mencatat dan mencitrakan Hitler sebagai penjahat. Kematiannya adalah karena bunuh diri pada saat dia sudah terkepung oleh tentara Uni Soviet di Berlin; dan mayatnya kemudian dibakar oleh anak buahnya supaya tidak bisa dikenali lagi. Keputusan bunuh diri adalah keputusan yang sadar dan penuh perhitungan. Seandainya ia tertangkap oleh sekutu, ia pasti diadili, dipermalukan dan dihukum mati. Itu yang tidak diinginkannya.

Hitler seharusnya menjadi pahlawan bagi mereka yang memilih jalur tengah. Hilter sangat anti kapitalis dan juga anti komunis, serta orang-orang Yahudi yang selalu diassosiasikan dengan golongan yang menguasai sektor keuangan dan perbankan. Hitler menyukai jalan tengah, yaitu sosialisme. Menurut ceritanya, Sukarno menyukai sosialisme, juga Suharto yang menyebutnya sebagai sosialisme Pancasila (ada tambahan kata Pancasila).

Hitler dipilih sebagai pemimpin Jerman secara demokratis. Jadi jangan salah sangka, kenaikan Hitler ke kursi kekuasaannya bukan dengan perebutan secara militer melainkan dengan pemilihan yang demokratis. Dengan kata lain Hitler adalah produk sistem demokrasi. Dia menjadi chancellor pada 3 Januari 1933 sebagai produk koalisi partainya dengan partai Rakyat Nasional Jerman (Deutschnationale Volkspartei DNVP). Jangan salah sangka juga, bahwa sistem demokrasi tidak bisa menghasilkan seorang diktator bahkan dikemudian hari dianggap sebagai diktator yang jahat. Dengan manuver politiknya, Hitler berhasil secara legal konstitusionil menjadikan Nazi menjadi partai tunggal di Jerman pada tanggal 14 Juli 1933. Kekuasaan Hitler semakin kokoh ketika presiden Paul von Hindenburg meninggal pada 2 Agustus 1934, dan plebisit (pengambilan suara) diadakan untuk menyatukan jabatan presiden dan chancellor. Hitler memperoleh dukungan suara 84,6% untuk penyatuan kedua posisi itu, penyatuan fungsi legislatif dan fungsi eksekutif. Ini menunjukkan betapa populernya dia dimata rakyat Jerman.

Hitler adalah seorang orator yang ulung. Ibaratnya dia mampu menyakinkan ribuan bahkan jutaan orang untuk membeli tahi ayam seharga permen coklat. Ketika ia menawarkan dirinya sebagai presiden sekaligus sebagai chancellor, 84,6% rakyat Jerman menerimanya tanpa paksaan.

Kesuksesan Hitler memang tidak semata-mata karena kepiawaiannya dalam berpidato saja tetapi juga memotivasi rakyatnya untuk menggairahkan indutri-industri Jerman yang hancur dan rusak parah setelah Perang Dunia I dan akibat depressi ekonomi global tahun 1930. Ekonomi Jerman bisa lebih baik dan pemerintahannya berhasil menurunkan angka pengangguran.

Usaha-usaha Hitler membangkitkan perekonomian Jerman termasuk membangun infrastruktur, seperti dam, jalan bebas hambatan, jalur-jalur kereta api yang lebih lebar supaya bisa menampung kereta yang lebih besar dan lebih cepat. Di bidang militer, Hitler mengabaikan perjanjian Versailes yang isinya mengebiri kemampuan militer Jerman. Jerman dilarang memiliki pasukan lebih dari 100.000 orang, angkatan laut tidak lebih dari 15.000 orang, 6 kapal perang dan semua di bawah 10.000 ton, 6 kapal penjelajah, 6 kapal penghancur dan 12 kapal terpedo. Pesawat terbang yang dilengkapi senjata, kapal selam dan tank dilarang dimiliki. Disamping itu masih ada lagi pembatasan lain, yaitu larangan pembuatan senapan mesin. Jalan menuju pembangunan militer Jerman menjadi mulus ketika ditanda-tanganinya persekutuan militer laut Inggris-Jerman pada 18 Juni 1935. Jerman juga menyelenggarakan Olimpiade 1936 di Berlin yang berlangsung sangat meriah. Jadi jangan terlalu heran kalau Hitler memperoleh gelar “the Man of the Year” majalah Times tahun 1938.

Sampai menjelang ajalnya Hitler adalah pahlawan bagi Jerman. Buktinya mayoritas rakyat Jerman mau berkorban mengikuti arahannya. Sebanyak 8,2 juta (10%) rakyat Jerman, tidak termasuk Yahudinya, dengan suka rela mati di dalam Perang Dunia II mengikuti ambisi politik Hitler. Kota-kota di Jerman sebagian hancur lebur semasa Perang Dunia II. Walaupun demikian, kalau bukan pahlawan yang disukai oleh rakyatnya, bagaimana mungkin rakyat Jerman mau mati mengikuti ambisi Hitler? Apakah Hitler benar-benar pahlawan atau bajingan sontoloyo? Yang pasti, sampai sekarang Hitler adalah dewa bagi kaum Neo-Nazi dan kaum supermasi kulit putih.



Politikus Pahlawan

Abraham Lincoln

Abraham Lincoln dikenal di dalam sejarah bangsa Amerikan Serikat (US) dan dipuja, dikenang sebagai presiden salah satu yang besar Amerika Serikat kalau bukan yang terbesar. Demikian disanjungnya sampai dibuatkan patungnya yang besar dan bangunan untuk mengabadikan namanya - Abraham Lincoln Memorial. Seakan orang telah melupakan atau tidak tahu bahwa kesengsaraan yang paling berat sepanjang sejarah yang dialami oleh rakyat Amerika adalah karena keputusan dan ulah Abraham Lincoln. Perang saudara antara Utara dan Selatan, antara Federationist dan Confederationist, yang diputuskan Abraham Lincoln adalah kesengsaraan yang terbesar dalam sejarah USA. Dimulai tahun 1861 dan berakhir tahun 1865 dan hanya dalam 4 tahun, perang menelan korban 620.000 atau 2% dari penduduk mati sia-sia. Kalau untuk ukuran sekarang, 2% dari penduduk Amerika Serikat adalah 6 juta jiwa. Bayangkan betapa banyaknya.

Apakah Abraham Lincoln itu pahlawan atau orang konyol?

Kesengsaraan itu bukan hanya bagi jiwa yang melayang sia-sia, tetapi juga ekonomi. Pihak Federasi (pihaknya Abraham Lincoln), kehabisan uang. Tidak ada uang untuk melakukan aktifitas ekonomi. Tetapi, tentara harus digaji. Baru 1 tahun berperang pemerintah Federal sudah kebingungan cari dana untuk perang ini. Pada tahun 1862 pemerintah Amerika Serikat memberlakukan undang-undangkan yang memberikan hak bagi pemerintah untuk mencetak mata uang nasional. Awalnya sistem keuangan Amerika Serikat menggunakan uang sejati, emas dan perak; kemudian oleh Abraham Lincoln dilanggar begitu saja, - secara resmi dan legal dengan menggunakan undang-undang tentunya.

Undang-undang hak mencetak uang tanpa didukung oleh cadangan emas ataupun asset riil apa-apa ini adalah yang pertama dalam sejarah USA. Maka dicetaklah uang-uang yang berwarna hijau. Disebut Greenback karena satu sisi yang bergambar dan warnanya hijau). Itulah asal muasal kata Greenback - artinya uang kertas yang bagian belakangnya berwarna hijau.



Biaya perang yang dikeluarkan oleh pemerintah Federasi mencapai $15 milyar uang masa itu. Kalau diekivalenkan dengan masa 2007 adalah $ 600 milyar atau setara dengan 900 juta oz (280 ribu ton) emas. Itu baru pihak Federasi. Pihak Konfederasi juga menderita dengan jumlah yang hampir sama, sehingga total menjadi $ 1,2 trilliun. Kalau populasi Ameruka Serikat seperti sekarang, 301 juta, maka setiap orang hanya menanggung $4.000 per kepala. Jumlah itu kecil. Tetapi pada waktu itu jumlah penduduk Amerika Serikat hanya 31,4 juta, sehingga setiap orang harus menanggung beban dari pihak Federasi sebesar $40.000 (uang 2007) per kepala atau 1,8 kg emas. Sayangnya bukan hanya pihak Federasi yang mengeluarkan biaya, tetapi juga musuhnya, yaitu pihak Konfederasi. Katakanlah besarnya sama. Jadi dalam perang saudara – Amerika Serikat Civil War, diperkirakan orang yang hidup harus menanggung beban sebesar $40.000 yang ekivalen dengan 1,8 kg emas. Itu jumlah yang banyak! Dan jumlah itu hanya pengeluaran pemerintah dan tidak termasuk rumah-rumah harta benda, infra-struktur dan ladang yang hancur. Mungkin lebih besar dari pengeluaran pemerintah.

Orang boleh berargumen bahwa perang saudara di Amerika Serikat bertujuan mulia, penghapusan perbudakan. Orang waras mengatakan pengorbanan sia-sia. Pada saat itu perbudakan ada dimana-mana. Di Amerika selatan dan tengah misalnya, orang Spanyol juga punya budak-budak negro. Di Asia, Timur Tengah dan Afrika masih berlaku perbudakan. Untuk daerah-daerah Asia, Afrika dan tempat lain selain Amerika Serikat, perbudakan hilang tanpa peperangan. Memang memakan waktu yang lebih lama. Abraham Lincoln seharusnya bisa melakukan penghapusan perbudakan tanpa perang, tanpa mengorbankan 2% dari pendudukanya dan tanpa membebani rakyatnya dengan ongkos perang sebesar 1.8 kg emas, kalau dia tidak melakukannya dengan perang.

Alangkah sia-sianya. Pengorbanan sia-sia untuk keputusan yang tolol. Lalu apa bedanya dengan Hitler? Sama-sama mengorbankan nyawa rakyatnya dengan sia-sia. Hanya besarnya penderitaan rakyatnya saja yang berbeda dan akhir dari pencatatan sejarah. Abraham Lincoln dijadikan pahlawan, sangat dipuja berkat promosi, bumbu dan citra yang diciptakan elit politik. Sedang Hitler dicerca. Itulah sejarah.

Mengelompokkan Abraham Lincoln dengan ibu Teresa, Albert Schweitzer, Amru bin As, jelas tidak mungkin. Ibu Teresa dan Albert Schweitzer menyelamatkan orang, mengurangi penderitaan orang, bukan membawa 620.000 manusia kepada kematiannya seperti yang dilakukan Abraham Lincoln. Menggolongkan Abraham Lincoln bersama Amru bin As juga tidak bisa. Amru menghindari pertempuran, dan tidak pernah membebani rakyat Mesir dan rakyat Hijaz dengan 1,8 kg emas per orang. Amru malah menurunkan pajak di Mesir, dibandingkan Abraham Lincoln yang membuat inflasi (catatan: pada bab-bab yang akan datang akan dijelaskan bahwa inflasi dan pencetakan uang adalah bentuk pajak yang tersembunyi atas tabungan). Perlu diketahui, pajak yang dikenakan kepada rakyat Mesir adalah antara 1 – 4 dinar (4 – 16 gram emas) per tahunnya, bukan 1,8 kg seperti yang dilakukan Abraham Lincoln. Dengan 1 – 4 dinar emas itupun sebenarnya rakyat Mesir masih diuntungkan, karena sebelumnya oleh pemerintahan Romawi, mereka diwajibkan membayar 5 kali lebih banyak. Jadi Amru sebenarnya meringankan beban pajak rakyat Mesir sebanyak 80%. Adakah Abraham Lincoln melakukan hal seperti itu?



(Bersambung........)



Disclaimer: Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, April 13, 2011

Tertib Dan Tahu Perintah/Aturan

Anjing
Beginilah anjing berkomunikasi.





Perhatikan Doberman ini tidak memakan makanannya sampai diperbolehkan.




Sekarang perhatikan manusia........












Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, April 10, 2011

(No.17) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21



(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)




Umar bin Chattab, Amru bin As dan Umar bin Abdul Aziz


Banyak cerita yang dicatat mengenai Umar bin Khattab. Walaupun Umar hanya memerintah sebagai khalifah selama 10 tahun, tetapi catatan keteladanan mengenai dirinya sangat banyak. Umar adalah khalifah Islam yang paling banyak dicatat dalam sejarah karena keteladannya.


Umar bin Chattab bekerja sebagai hakim ketika Abu Bakar menjadi khalifah. Apakah Umar adalah politikus dan birokrat? Pastinya dia bukan birokrat karena cita-cita dan pilihannya. Ketika Umar terpilih menjadi khalifah berdasarkan pemilihan, dia mengatakan: “....saya menerima jabatan ini sebagai layaknya memakan bangkai”. Jabatan khalifah, amiril mukminin, kepala negara, bukan cita-citanya. Dia tidak pernah kasak-kusuk berkampanye, menyogok dan bermain politik uang untuk memperoleh jabatan itu. Andaikata ada orang lain yang terpilih, Umar akan sangat senang sekali. Kata “memakan bangkai” adalah gambaran terhadap sesuatu yang sangat buruk dan sangat tidak disukai.


Umar dikenal juga sebagai “khalifah yang menangis”, karena pada saat sholat, orang sering melihat ia menitikkan air matanya. Ia dikenal juga sebagai khalifah yang hanya punya baju 2 pasang dan kalau berpergian selalu bergantian naik onta dengan pembantunya karena hanya memiliki seekor onta untuk dua orang. Dengan kata lain Umar adalah khalifah yang miskin bergaji rendah dang tunjangan minimum walaupun wilayah kekuasaannya luas dan kaya. Ia selalu introspeksi. (Catatan penulis: memiliki 2 baju dimasa Umar tidak bisa dianggap sebagai sangat miskin. Jangan dibandingkan dengan situasi jaman moderen dimana pengemispun bisa punya 5-10 pasang baju. Kain dan baju diduga cukup mahal dimasa itu karena terkait dengan teknologi. Pada masa moderen, dimana teknologi dan mesinisasi sudah membudaya, harga sandang bisa ditekan menjadi sangat rendah. Dengan kata lain Umar adalah miskin, tetapi tidak sangat miskin.)


Pada masa pemerintahannya yang hanya 10 tahun, daerah kekuasaan kekhalifahannya meluas ke arah barat sampai ke Afrika Utara dan ke arah timur sampai ke Persia, terus ke utara sampai ke laut Kaspia di daerah Armenia sekarang.


Dalam pengembangan wilayah, Umar punya 2 orang pembantu yang sangat penting perannya. Amru bin As untuk pengembangan wilayah ke arah barat (Mesir dan Afrika Utara) berhadapan dengan Romawi. Dan pembantu yang ke dua adalah Khalid bin Walid yang mengembangkan wilayah ke arah timur berhadapan dengan Persia. Khalid bin Walid adalah seorang senopati di medan laga oleh sebab itu pengembangan ke daerah timur sangat berdarah-darah. Umar tidak menjadikan Khalid sebagai pemimpin, tetapi hanya sebagai senopati. Umar mungkin takut bila Khalid dijadikan gubernur sekali gus dengan senopati semua masalah akan ditangani secara militer dan akan menimbulkan banyak korban. Akhirnya Khalid dipecat di puncak kariernya karena ketidak setujuan Umar terhadap strategi Khalid yang condong pada penyelesaian militer. Memang ada opini penulis sejarah yang mengatakan bahwa pemecatan Khalid adalah karena kecurigaan Umar terhadap harta yang dimiliki Khalid. Tetapi tidak pernah ada bukti bahwa Khalid korupsi. Umar terkenal tegas – anaknya pun yang bernama Abu Syahmah mati ketika dihukum cambuk 100 kali karena terbukti salah. (Catatan: kisah ini oleh sebagian ulama dianggap meragukan, tetapi karena dongeng PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA hanyalah bertaraf dongeng, maka biarlah para ulama berdebat tentang kesahihan kisah ini, kami tidak memperdulikannya). Tidak adanya hukuman bagi Khalid, bisa disimpulkan bahwa Khalid tidak pernah melanggar hukum.


Amru bin As melebarkan kekuasaan dengan sedikit darah. Amru bisa dikatakan diundang oleh rakyat lokal dan pemimpin lokal untuk mengusir pemerintahan Romawi. Penaklukan Jerusalem misalnya, relatif tidak banyak pertumpahan darah. Pada saat kejatuhan Jerusalem tahun 638 M, Patriarch/Uskup Jerusalem Sophronius sebelumnya telah membuat perjanjian dengan Umar. Perjanjian ini terkenal dengan nama piagam Umar dan sampai sekarang masih bisa dijumpai salinannya. Isinya sebagai berikut:


Dengan nama Allah yang maha Pemurah dan Penyayang. Ini adalah janji yang diberikan oleh Umar, hamba Allah, amirul mukminin kepada penduduk Jerusalem, yaitu jaminan keamanan bagi mereka, harta mereka, gereja mereka, anak-anak mereka dan keluarga mereka.


Gereja mereka tidak boleh disita atau dirusak atau dihinakan, juga salib-salib mereka, atau harta mereka. Mereka juga tidak boleh dipaksa menukar agama mereka atau disakiti. Tidak ada orang Yahudi boleh hidup bersama mereka di Jerusalem dan ini adalah syarat yang diminta mereka (kaum Kristen).


Mereka (kaum Kristen) diwajibkan membayar pajak seperti halnya warga kota lain. Mereka diwajibkan mengusir orang Romawi dari tanah Jerusalem. Akan tetapi jika ada yang hendak meninggalkan Jerusalem dengan membawa harta kekayaan mereka bersama orang Romawi, dan meninggalkan anak serta bisnis mereka, maka anak serta bisnis mereka akan selamat sampai mereka sampai ke tujuan.


Apa yang tertuang dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum mu’minin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka.


Perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amru bin As, Abdurrahman bin Auf, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.


Catatan: Kuil Sulaiman atau Baitul Maqdis, waktu itu sudah menjadi daerah tempat pembuangan sampah. Ketika Umar mengunjungi tempat itu, dia menyuruh membersihkan area itu dari sampah dan mendirikan masjid di area tersebut[1].


Yang menarik adalah adanya perjanjian ini menunjukkan Umar memberi banyak konsesi kepada umat Kristen Jerusalem. Perlakuan Umar menghormati Uskup Jerusalem Sophronius dan memberi posisi yang terhormat hanya mungkin jika Uskup Sophronius yang menundang Umar untuk mengusir Romawi.


Uskup Sophronius bukan satu-satunya “penghianat” bagi Romawi. Uskup Agung Cyrus yang juga menandatangani perjanjian damai dengan Amru bin As pada bulan November 641 dalam rangka penyerahan kota Alexanderia, padahal Alexanderia (ibu kota Mesir waktu itu) tidak pernah diserbu oleh tentara Amru bin As atau menderita kelaparan karena pengepungan. Di samping itu ada nama patriarch Benjamin, pemimpin Kristen Koptik, juga menjalin hubungan dengan Amru bin As.


Gubernur Romawi di Mesir, Muqauqis atau Pkauchios, sudah dikenal menjalin hubungan baik sejak nabi Muhammad masih hidup. Bahkan Muqauqis pernah mengirimkan 2 hamba sahaya sebagai hadiah kepada nabi Muhammad, yaitu Maria dan saudara prempuannya. Maria kemudian dinikahi nabi Muhammad, sedangkan saudaranya dimerdekakan.


Jalannya peperangan antara pasukan Amru bin As dan pasukan Muqauqis lama, bertele-tele dan berkesan saling mengulur waktu. Pertempuran yang sengit tidak ada. Sampai-sampai Kaisar Romawi Herkules, menganggap Muqauqis bermain mata dengan Amru bin As. Tentara Romawi yang sangat professional dan terlatih berjumlah 100.000 orang dapat diusir oleh pasukan Arab badui Amru bin As yang berjumlah 12.000 ditambah dengan bantuan dari Umar sehingga secara total menjadi sekitar 20.000 orang. Jadi kecurigaan Kaisar Herkules sangat beralasan.


Kemenangan Amru bin As dalam penaklukan Mesir dan Afrika Utara yang relatif tidak banyak menumpahkan darah menarik untuk dikaji. Bahkan secara umum, riwayat pemerintahan Umar bin Khattab selama 10 tahun itu banyak dicatat dalam sejarah secara detail. Pertanyaannya kenapa penduduk dan pemimpin lokal memilih memihak Amru bin As dari pada Romawi. Jawabannya adalah pajak dan kebebasan. Dari kacamata moral, Umar bisa dikategorikan sebagai pembebas. Seperti Afrika Utara yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Romawi, mengalami tekanan pajak dan tekanan tata niaga gandum yang diterapkan oleh pemerintah Romawi. Gubernur Afrika Utara jaman Umar bin Khattab, yaitu Amr bin As justru menurunkan pemasukkan pajak dari 72 juta dinar per tahun di jaman pemerintahan Romawi menjadi hanya 4 - 12 juta dinar, tetapi kemakmuran meningkat.[2] Besarnya pajak 4 dinar bagi yang kaya, 3 dinar golongan kelas menengah dan 2 dinar bagi kelas bawah. Atau 48 dirham golongan kaya, 24 dirham bagi kelas menengah dan 12 dirham kelas peladang, pekerja tangan. Pajak hanya dikenakan kepada laki-laki. Prempuan dan anak-anak dan orang tua tidak dikenakan pajak. Daerah yang keamanannya tidak bisa dijamin oleh pemerintah, juga tidak dipungut pajak. Karena pajak tidak lain adalah untuk jasa keamanan yang diberikan pemerintah. Bila perwujudan jasa itu tidak ada (daerah itu tidak aman) maka, layaklah kalau pajak tidak perlu dibayar. Bagaimana dengan orang miskin dan tidak mampu? Sebagian dari masa pemerintahan Umar, orang mengalami kesulitan untuk membayar zakat. Sulit mencari orang miskin. Catatan mengenai perpajakan ini kemudian terbawa oleh Abu Yusuf dalam bukunya Al-Kharaj yang digunakan sebagai petunjuk perpajakan pada masa Khalifah Harun al-Rasyid di Bagdad.


Kontrak yang jelas antara rakyat dan pemerintah dan tidak membebani pihak yang berkewajiban membayar. Inilah yang membuat penduduk wilayah kekuasaan Umar merasa senang. Tidak ada bea cukai, pajak penjualan, retribusi daerah, tipu-tipu pencetakan uang fiat atau pajak-pajak lain. Orang tua, anak-anak dan orang miskin dibebaskan dari pajak. Harus diingat bahwa penduduk Mesir waktu itu tidak beragama Islam. Selama bererapa abad setelah kejatuhan kekuasaan Romawi atas kekhalifahan Islam, agama Islam bukan agama mayoritas di Mesir. Berlawanan dengan cerita-cerita yang dipercayai oleh orang barat bahwa Islam berkembang dengan pedang dan darah, tetapi sesungguhnya Islam tidak punya ambisi untuk menyebarkan agama dan mencari penganut. “Tidak ada paksaan dalam beragama” adalah prinsip yang diajarkan Quran dan dipegang teguh birokrat Islam. Populasi muslim ketika masa Amru bi As sangat kecil, kurang dari 10% saja. Pada masa Bani Umayyah (661 – 750 M) hanya sekitar 10%. Dan baru menjadi 40% ketika jaman dinasti Abbasyiah (750 M – 1258 M) berkuasa[3]. Diperlukan satu (1) abad untuk mencapai 40%. Sampai sekarangpun masih banyak dijumpai penganut agama Kristen Orthodoks Timur di Mesir. Catatan: sekedar untuk menunjukkan bahwa Islam tidak berambisi mencari pengikut adalah kasus di India. Di India, Islam berkuasa sejak abad 13 berkuasa sampai Inggris masuk dan menguasai India sepenuhnya tahun 1856, tidak membuat India menjadikan Islam sebagai agama mayoritas. Diterimanya pemerintahan kekhalifahan Umar, semata-mata karena rejim ini tidak menindas dan pajaknya rendah.


Mengenai pajak yang rendah, saya juga akan merasa senang kalau dikenakan pajak setinggi yang diberlakukan Amru bin As. Walaupun secara ekonomi saya tidak bisa dikategorikan sebagai ekonomi kelas atas, 4 dinar (16 gram emas) setahun jauh lebih ringan dari pajak yang saya bayarkan sekarang kepada pemerintah Republik Indonesia.


Semasa Amru bin As Mesir dan Afrika Utara mengalami kemakmuran karena dibubarkannya tata niaga gandum dan pertanian. Dengan perdagangan bebas, petani bebas menjual hasil pertaniannya kepada siapa saja dengan harga yang ditentukan oleh mekanisme pasar. Campur tangan pemerintah terhadap dunia usaha sangat minim, dan diserahkan kepada pasar. Kebebasan berusaha membuat bisnis menjadi marak. Kebijakan pasar bebas jugalah nantinya menyebabkan kematian Umar, karena kekecewaan seorang yang “tertindas” yang merasa tidak memperoleh dukungan dan perlindungan dari pemerintah.


Hal yang menarik disini ialah, biasanya perang menyebabkan kebangkrutan sebuah negara, baik yang menang atau yang kalah. Seperti Prancis dimana Louis V pada bab sebelumnya, secara finansial bangkrut, walaupun secara teritorial dan kekuasaan mengalami masa jayanya. Hal seperti ini tidak terjadi pada Kekhalifahan. Kenyataannya, pajak, pemasukan negara malah diturunkan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila Kekhalifahan menerapkan perang murah. Yaitu perang yang tidak banyak mengorbankan harta dan nyawa. Dia, khalifah Umar, juga tidak suka pertempuran dan perang. Buktinya Khalid bin Walid, panglima perang yang paling ulung pada jamannya, diberi posisi hanya dibawah pimpinan Abu Ubaidah orang yang “non-militer”. Khalid akhirnya dicopot dari jabatannya disaat memenangkan banyak pertempuran-pertempuran dan mengalahkan Kizra Jazdagird, kaisar Persia.


Peperangan yang dilakukan Umar adalah karena terpaksa. Kekhalifahan pada masa itu masih sangat muda. Hegemoni teritorial menurut perhitungan di atas kertas tidak akan menguntungkan. Di lain pihak, Romawi melihat kekhalifahan sebagai sumber pemasukkan uang pajak upeti. Sedangkan Persia lebih melihat kekhalifahan sebagai sasaran hegemoni daerah kekuasaan. Baik Persia dan Romawi sudah terbukti berusaha menaklukan kekhalifahan selagi kekhalifahan masih muda dan belum kuat.


Dalam hal kebebasan dan mekanisme pasar, pemerintah melepaskan sepenuhnya urusan ekonomi kepada pelaku ekonomi. Kebebasan berusaha dilegalkan seperti yang tercantum di dalam piagam Umar. Dia juga membebaskan pembatasan besarnya mas kawin (mahar) dan menyerahkannya kepada masing-masing individu (menyerahkan pada mekanisme pasar). Wanita berhak penuh untuk menentukan besarnya mahar. Kematian Umar, juga ada kaitannya dengan kebijakan laissez faire, lepas campur tangan pemerintah atas hubungan buruh-majikan. Umar mati terbunuh, ditusuk ketika memimpin sholat subuh di masjid Madinah oleh seorang budak bernama Fairuz atau Abu Lu’ Lu’ah yang kesal karena Umar tidak mau mencampuri urusan antara Fairuz dengan majikannya. Pemerintah tidak sepatutnya mencampuri urusan buruh dan majikan, selama tindak kriminal tidak terjadi.


Dimasa pemerintahan Umar, tidak selamanya makmur. Sebelum pemaklukan Mesir, Hijaz – Jazirah Arab mengalami kekeringan yang panjang sehingga panen gagal dan ternak-ternak kurus dan mati karena tidak memperoleh makanan. Peristiwa ini mulai terjadi pada tahun akhir tahun 17 H. Tahun itu disebut Tahun Abu (Amar-Ramadah). Disebut Tahun Abu, karena tanaman yang mengering, batang dan rantingnya berdebu.


Walaupun wilayah Hijaz dimasa itu masyarakatnya secara finansial makmur, tetapi dimasa paceklik uang menjadi tidak berharga dibandingkan makanan dan air. Kelaparan melanda wilayah Hijaz. Sebagai khalifah yang mempunyai kekuasaan luas, Umar sebenarnya bisa tidak merubah pola makannya. Makanan selalu tersedia kalau memang dikehendakinya. Tetapi dia malah bersumpah untuk menjadi vegetarian sampai bencana ini berlalu. Umar pada masa itu menjadi kurus.


Pada waktu bantuan pangan berupa gandum dan ternak dari wilayah lain seperti Iraq dan Persia, Umar turut serta dalam kegiatan pembagian makanan. Episode ini menjadi legenda dan sering diceritakan sebagai cerita teladan. Yaitu cerita tentang Umar memberi bantuan makanan bagi seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan. Dalam hal ini Umar agak mikro-management. Seharusnya dia bisa hanya berkerja pada level pengaturan saja, tanpa harus terjun langsung, mencari orang-orang yang kelaparan, mengantarnya dan memikul makanan itu sendiri.


Hal yang patut dicatat dari Umar adalah, dia sebenarnya tidak menyukai posisi khalifah oleh sebab itu ia tidak akan bisa haus kekuasaan, jabatan khalifah dipegangnya karena terpaksa. Dia miskin, gaji dan tunjangannya kecil, bahkan untuk keamanannya yang demikian minimnya, sampai dibayar dengan nyawanya. Dia datang melakukan pembebasan atas undangan daerah-daerah yang tertindas oleh negara-negara besar. Hidupnya dicurahkan untuk kebebasan berusaha. Umar juga tidak menjanjikan kemakmuran kepada rakyatnya, yang pasti tidak akan pernah bisa dipenuhinya. Cukup hanya menjanjikan keamanan dan kebebasan berusaha karena hanya itu yang bisa dipenuhi oleh sebuah pemerintahan.


Umur kursi kekuasaan Amru bin As hanya sebatas umur Umar. Tidak lama setelah Umar meninggal yaitu tahun 23 H, Amru bin As dicopot posisinya sebagai gubernur Mesir oleh Usman bin Affan, khalifah yang menggantikan Umar, karena Amru bin As menolak menaikkan pajak. Usman menggantikannya Amru dengan Abdullah bin Abi Sarh, orang yang mau mengikuti kemauan khalifah. Pengenaan berbagai kenaikan pajak ini membuat penduduk Mesir meminta pihak Romawi untuk menggulingkan pemerintahan kekhalifahan di Mesir. Ajakan ini kemudian di sambut oleh Romawi dengan mengirimkan 300 kapal di bawah pimpinan Manuel. Kota Alexandria jatuh dari kekuasaan kekhalifahan dan diduduki kembali oleh Romawi.


Menanggapi kejadian ini khalifah Usman bin Affan hanya tahu bahwa Amru sajalah yang berpengalaman di Mesir. Atas permintaan khalifah Usman, Amru bin As kembali ke Mesir, dan dengan cepat berhasil merebut Alexandria. Atas jasa ini Amru ditawari posisi sebagai panglima keamanan Mesir sedangkan posisi gubernurnya tetap dipegang oleh Abdullah bin Abi Sarh. Atas tawaran ini, Amru menjawab:


“Saya ibaratnya akan menjadi orang yang memegangi kedua tanduk sapi, sementara itu orang lain memerahnya”


Analogi Amru sama sekali tidak tepat karena ia bukan peternak sapi. Sapi betina tidak segalak itu. Tetapi maksud pernyataan Amru dapat dimengerti. Dia tidak tertarik pada posisi yang tinggi, apalagi kalau harus melakukan tekanan kepada rakyat dan membantu rejim yang membebani rakyatnya dengan tambahan pajak. Amru, tidak menduduki jabatan pemerintahan apa-apa pada masa khalifah Usman.


Dalam hal pajak dan kebijakan ekonomi Amru bin As patut dijadikan contoh. Kemakmuran Mesir terbentuk karena pajak yang rendah dan kebebasan berusaha. Kemakmuran Mesir dibanding dengan daerah kekhalifahan lain sering membuat Umar tergiur untuk menarik pajak yang lebih banyak. Beberapa kali Umar meminta Amru untuk menaikkan pajak di Mesir, tetapi selalu ditolak. Tidaklah adil kalau suatu daerah harus memikul beban yang lebih berat karena daerah itu secara ekonomi lebih makmur dari daerah lainnya. Sebenarnya menerapan pajak yang lebih tinggi bagi golongan kaya, juga tidak bisa dianggap adil. Setiap warga negara punya kewajiban yang sama, baik kaya atau miskin. Kecuali kalau golongan kaya memerlukan porsi jasa dari pemerintah yang lebih banyak, maka layak jika diharuskan membayar pajak yang lebih besar. Jika semua golongan, kaya, kelas menengah dan miskin memerlukan porsi yang sama atas jasa yang diberikan pemerintah, maka tidak boleh ada perbedaan dalam besarnya pajak. Itulah yang dinamakan keadilan. Jika ada perbedaan, maka dasarnya hanyalah semata-mata karena rasa kemanusiaan, bukan keadilan. Dalam hal ini Amru, dalam batas tertentu, masih mengorbankan keadilan untuk rasa kemanusiaan terhadap sekelompok golongan miskin. Ide semacam ini mengabaikan rasa kemanusiaan dan keadilan terhadap golongan kaya. Pembedaan pajak untuk kepentingan golongan kurang mampu bak merampok si kaya untuk diberikan kepada yang miskin. Sepatutnya urusan kemanusiaan itu diserahkan kepada masing-masing individu dengan zakat dan sedekah (bukan dengan pajak) dan tanpa paksaan seperti penyataan Quran (Quran 2: 256): “.....tidak ada paksaan dalam beragama.......”.


Amru tidak terlalu populer dimata muslim, dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid. Mungkin karena Amru dikemudian hari berada di pihak Muawiyah melawan Ali bin Abi Thalib yang notabene sepupu nabi sekaligus menantu nabi. Ini hanya karena ikatan emosi umat Islam terhadap keluarga nabi Muhammad sehingga boleh jadi membuat mereka tidak objektif lagi. Ada kemungkinan, Amru mati dalam penyesalan karena memihak Muawiyah karena Muawiyah dan dinasti Bani Umayyah dikemudian hari tidak lagi berprilaku sebagai layaknya pemimpin Islam. Kekecewaan yang sama terjadi pada sahabat-sahabat nabi lainnya yang mengambil jalan seperti Amru bin As. Saad bin Abi Waqas misalnya akhirnya merantau ke Cina dari pada harus tinggal berdekatan dengan kekhalifahan Bani Umayyah.


Sepeninggal Umar bin Khattab, kekhalifahan dipegang orang baik yang tidak cakap atau politikus dan birokrat sejati. Kemakmuran mengalami penurunan. Langit cerah muncul kembali ketika khalifah Sulaiman bin Abdul Malik meninggal (712 M) dan digantikan oleh sepupunya yaitu Umar bin Abdul Aziz berdasarkan surat wasiat dari khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sendiri.


Umar bin Abdul Aziz adalah buyut Umar bin Khattab dari garis ibu. Ayahnya Abdul Aziz bin Marwa sebagai gubernur Mesir, tergolong kaya. Walaupun masih kerabat dekat kerajaan, Umar lebih suka menghabiskan hidupnya di Madinah dari pada di pusat pemerintahan dinasti Umayyah, Damaskus. Dia sempat menjadi gubernur Hijaz di Madinah, tetapi kemudian diberhentikan karena faktor politis, yakni berseteru dengan gubernur Iraq.


Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar wasiat saudara sepupunya, dia langsung berbicara dengan khalayak ramai.


“....para hadirin, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa menanyakannya padaku dan tanpa pernah aku memintanya. Oleh sebab itu aku membebaskan kalian dari kewajiban dan keterpaksaan untuk setia dan loyal padaku yang ada pada leher kalian dan pilihlah siapa saja yang kalian kehendaki".



Umar menolak jabatan khalifah dan menyuruh masyarakat untuk melakukan pemilihan khalifah.


Umar bin Abdul Aziz akhirnya terpilih menjadi khalifah dan hanya memerintah selama kurang dari 3 tahun saja. Banyak contoh keteladanan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kebanyakan adalah tentang masalah korupsi, penggunaan fasilitas negara untuk keperluan pribadi. Dia mengurangi fasilitas negara untuk dirinya, tidak menempati istana kekhalifahan Bani Umayyah yang megah, tetapi menempati rumah yang sederhana seperti buyutnya, yakni Umar bin Khattab. Demikian juga untuk kendaraan khalifah, dia menggunakan kendaraannya sendiri. Dalam pandangannya, khalifah adalah orang yang terakhir yang berhak kaya. Oleh sebab itu dia menyerahkan sebagian besar kekayaannya dan meminta istrinya juga menyerahkan perhiasannya untuk kas negara (baitul maal).


Pernik-pernik kecil semacam ini yang diceritakan sebagai contoh keteladanan Umar bin Abdul Aziz, sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak pada kemakmuran bagi negara secara keseluruhan. Seberapa besar kah dampak harta seseorang untuk bisa memakmurkan rakyat yang luasnya membentang dari Spanyol sampai ke Asia Tengah? Banyak penulis sejarah yang punya pemikiran sosialistis terlalu terpaku pada perbuatan-perbuatan yang dampaknya kecil, seperti masalah Umar yang hanya punya baju satu, menggunakan kendaraan milik pribadi, tidak menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itu tidak mempunyai dampak yang besar, kecuali jika diterapkan kepada seluruh birokrat. Apakah Umar bin Abdul Aziz memberlakukan penghematan budget dengan menurunkan fasilitas para birokrat yang notabene adalah kerabatnya sendiri?


Pada masa pemerintahannya yang pendek banyak gubernur yang diganti, antara lain, 'Ady bin Arthaah gubernur Basrah, Yazid bin Abi Muslim, gubernur Afrika Utara, Shalih bin Abdirrahman, gubernur Iraq dan As Tsaqafi, gubernur Andalus, Jarrah bin Abdillah Al-Hukmi, gubernur Khurasan. Tindakan ini kemungkinan adalah implementasi dari gagasannya mengenai birokrasi yang sederhana dan biaya rendah.


Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sejarah mencatat Umar sebagai khalifah yang sukses dalam pemerintahannya yang berumur hanya 3 tahun itu. Kemungkinan, tindakan-tindakan yang berdampak besar pada kemakmuran adalah menghentikan beberapa perang, seperti pengepungan Konstantinopel dan berhadapan dengan kekuatan gabungan Byzantium dan Bulgaria dan dalam meredam pembrontakan kaum Khawarij ia memilih jalan perundingan-damai. Tindakan-tindakan ini memungkinkan dana yang digunakan untuk perang yang biasanya mahal, dipakai untuk hal-hal yang produktif. Paling tidak, pemerintah bisa mengurangi beban pajak. Dan ini terbukti dengan dihapuskannya pajak bagi mereka yang sudah membayar zakat. Dengan kata lain, zakat dan dana masyarakat lebih banyak mengalir langsung ke masyarakat dari pada harus melewati pemerintah.


Salah satu tindakan Umar yang terkenal ialah mengembalikan gereja basilika John the Baptist Damaskus yang disita oleh khalifah sebelumnya Al-Walid dan dijadikan masjid. Mengembalikan kepada keturunan nabi Muhammad kepemilikan tanah Fadaq tanah waris dari nabi Muhammad yang disengketakan oleh khalifah pertama Abu Bakar dan disita di jaman khalifah Usman. Kalau hanya itu, dampaknya terhadap ekonomi dan kemakmuran juga tidak banyak. Dampak yang nyata baru terlihat jika hal semacam ini dilakukan dalam jangkauan yang luas. Dan ini yang Umar lakukan. Secara keseluruhan, selama pemerintahannya, ia mengembalikan hak-hak orang yang dirampas oleh keluarga kerajaan yang notabene adalah kerabatnya sendiri.


Umar bin Abdul Aziz meninggal tahun 712 M karena diracun setelah kurang dari 3 tahun memerintah. Umurnya kira-kira belum 40 tahun. Nasibnya bisa diramalkan sebelumnya. Dia punya banyak musuh yang juga masih kerabatnya sendiri. Dan dia juga tidak punya pengawal dan penjaga yang mengawasi makanannya dan keamanannya.


Itulah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Berangkat sebagai orang yang cukup kaya, didepak dari jabatan gubernur karena persengketaan politik dengan gubernur lain. Kemudian dengan hati terpaksa menjadi khalifah; jabatan yang sebelumnya ditolaknya; wilayah kekuasaannya membentang dari Spanyol sampai perbatasan Cina. Dan ketika meninggal dunia hartanya cuma 17 dinar (sekitar 65 gr emas yang ekivalen dengan 17 ekor kambing) dan menurut kisahnya uang itu habis untuk kain kafan 5 dinar (yang menurut penulis agak kemahalan untuk ukuran masyarakat moderen), 2 dinar untuk tanah pekuburannya, dan sisanya 10 dinar untuk dibagikan kepada anaknya yang berjumlah 11. Dia juga meninggalkan kenangan yang manis berupa kemakmuran rakyatnya yang tidak tertandingi oleh semua khalifah dinasti Umayyah. Itulah pemimpin yang besar, bukan politikus yang mencari kursi kekuasaan. Dia seperti Umar bin Khattab dan Amru bin As.


Catatan: Umar bin Abdul Aziz tidak sepenuhnya sempurna. Ia meningkatkan jalan pos yang dibangun oleh khalifah Abdul Malik dan membangun rumah tinggal bagi musafir sepanjang jalan raya Khurasan. Ini menjadi beban pemerintah karena hanya sebagian saja bisa ditunjang oleh kegiatan sektor swasta, sebagian besar lebih ke peruntukan kepentingan pemerintah yang tidak menciptakan kemakmuran dan membebani pembayar pajak. Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, dinasti Umayyah kembali pada corak lamanya. Hanya memerlukan waktu 30 tahun bagi dinasti Umayyah untuk mengalami kehancuran. Dari dalam keluarganya sendiri terpecah-pecah dan dari luar pembrontakan akibat kebencian terhadap para politikus istana. Ketika kekuatan baru dari klan Abbasiah mengambil-alih, dinasti Umayyah hancur bercerai berai, hanya sebagian yang bisa selamat dalam pelarian, yaitu yang melarikan diri ke Andalusia.

(Bersambung......................)




[1] Umar bin Khattab, Muhammad Haekal (terjemahan bahasa Indonesia), Litera Antarnusa, 2002



[2] Sejarah Hidup Umar bin Khattab, Hussein Haikal, Terjemahan bahasa Indonesia oleh Ali Audah, Litera Antarnusa, hal 629.



[3] A World Without Islam, Graham E. Fuller, Little, Brown and Company, Edisi 1, 2010, hal 90.

Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.