___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Saturday, March 12, 2011

Video Gempa di Jepang

Walaupun terlambat......., berikut ini adalah beberapa video gempa dan tsunami di Jepang.






Kilang minyak di Ichihara terbakar ketika gempa terjadi.







Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, March 10, 2011

(No.9) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21



(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)




Uang Illusi dan Ekonomagik
Kredit alias uang illusi hanyalah catatan elektronik dikomputer. Dengan demikian diciptakan dengan sangat mudah, semudah menekan tombol-tombol keyboard komputer. Demikian mudahnya sehingga godaan untuk membuatnya sangat besar. Bahkan pemerintah sendiri sering mendorong agar bank menyalurkan kredit (baca: menciptakan uang illusi).

Pemerintah modern akan menggunakan pencetakan uang kertas fiat sebagai langkah yang ke-sekian untuk memperoleh peningkatan pemasukan/pendapatan negara. Mereka lebih suka jalur yang berliku dan menggunakan orang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor. Maka bank-bank komersial lah yang disuruh dengan memberikan bank-bank komersial kredit yang sangat ringan persyaratannya. Gayung pun disambut dengan gembira oleh para staff pemasaran bank yang kinerjanya diukur dengan jumlah nasabah yang melakukan transaksi. Praktek kehati-hatian sering diserempet-serempet atau dilanggar.

Kredit sebagai uang illusi akan menciptakan “peningkatan ekonomi illusi”, atau ekonomagik. Tentu saja istilah ekonomagik ini tidak akan anda temui di buku resmi yang dipakai di universitas. Istilah itu hanya ada di buku ini. Paling tidak, buku ini yang mempelopori jika nantinya kata ini dipergunakan secara luas.

Kredit alias uang illusi menciptakan peningkatan "kemampuan konsumsi illusi”. Artinya bagi seseorang dengan kualitas ketrapilan yang rendah, walaupun bekerja membanting tulang, tidak akan pernah sanggup membeli rumah, atau memiliki mobil misalnya; dengan kredit dia bisa membeli rumah atau membeli mobil. Hal seperti ini bisa terjadi jika bank tidak lagi berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Kreditnya disebut kredit sub-prime. Kesembronoan bank dalam menyalurkan kredit selalu berulang sepanjang jaman.

Kredit alias uang illusi menciptakan “kepemilikan illusi”. Untuk seseorang memperoleh kredit kepemilikan rumah, misalnya. Rumah yang dibelinya akan di-atas-namakan dirinya. Tetapi kepemilikan sesungguhnya bukan ada pada dirinya. Buktinya kalau dia tidak sanggup lagi membayar angsuran, maka rumahnya akan disita (oleh bank).

Kredit alias uang illusi juga menciptakan “kemampuan konsumsi illusi” dan “permintaan illusi”. Dalam dunia ekonomagik seseorang bisa membeli rumah, mobil, motor, perabotan rumah, membiayai sekolah, dengan uang yang tidak dimilikinya. Dengan kata lain konsumsi dengan kemampuan illusi. Seiring dengan pengucuran dan pertumbuhan kredit, maka terjadilah peningkatan permintaan. Dan ini akan disambut oleh produsen dengan meningkatkan kapasitas. Untuk mengingkatkan kapasitas produksi, produsen akan meminta kredit. Dampak selanjutnya adalah terciptanya lapangan kerja baru untuk memenuhi tingkat konsumsi illusi. Angka pengangguran turun, gaji dan penghasilanpun naik. Semua ini sekedar untuk memenuhi permintaan yang maya. Artinya peningkatan ekonomi semacam ini sebenarnya adalah maya, illusi.

Dengan adanya permintaan semu ini, harga rumah dan asset-asset lain naik (gaji juga naik). Orang merasa lebih kaya. Orang merasa lebih makmur dan mengkonsumsi lebih banyak. Tidak hanya itu, orang mulai mengagunkan rumahnya untuk memperoleh kredit yang akan digunakan untuk membuat kolam renang serta peningkatan konsumsi lainnya. Terjadi effek berantai. Kapasitas produksi harus dinaikkan lagi. Bank mungkin tidak melonggarkan persyaratan kreditnya, tetapi yang dipakai untuk menentukan pemberian kreditnya adalah parameter-parameter yang maya, seperti daya beli (gaji) tinggi yang sementara sifsanya dan harga illusi dari asset agunan yang di-mark-up.

Sampai disini ini bank mulai belajar, bahwa ekonomi terus tumbuh. Artinya orang yang daya belinya rendah, bisa dianggap bahwa nantinya akan meningkat. Oleh sebab itu, seiring dengan pertumbuhan ekonomi tidak ada salahnya melonggarkan persyaratan kredit lebih jauh. Tolok ukur pemberian kredit bukan kondisi keuangan calon debitur lagi masa kini, tetapi projeksi kemampuannya di masa akan datang yang kemilau. Demikian juga dengan perusahaan, dalam membuat perencanaan akan menggunakan trend yang ada, yaitu ekonomi yang terus tumbuh. Selanjutnya ekonomi memang berekspansi, konsumsi juga berekspansi. Target perolehan keuntungannya pun berdasarkan trend ekonomagik, trend ekonomi bubble. Mereka juga akan memperoleh kredit dengan mudah karena prospek ke depan perusahaan sangat bagus. Tanpa terasa kredit semakin longgar, karena ekonomi semakin hanya mengarah ke atas saja. Harga asset juga hanya mengarah ke atas saja. Tetapi semua itu hanyalah perasaan saja, karena peningkatan nilai asset dilatar belakangi oleh landasan yang semu alias illusi.

Pendek kata kredit alias uang illusi menciptakan “kemakmuran illusi”.

Ekonomi marak dan pendapatan pemerintah dari pajak naik. Baik itu dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak bea cukai. Gaji politikus naik, aktifitas meningkat, uang rapat dan tunjangan-tunjangan lain juga meningkat. Birokrasi diperbesar. Semuanya berdiri di atas ekonomi illusi.

Keadaan menjadi semakin jauh dari dunia nyata ketika kredit-kredit itu dipaket-paketkan, kemudian diberi peringkat (Inggris: rating) dan dijual sebagai surat berharga.

Semua akan berjalan lancar selama kredit masih bisa dikucurkan dengan kecepatan yang eksponensial, karena kredit yang baru harus bisa menutup kredit yang lama berserta bunganya. Kondisi semacam ini tidak bisa berlangsung terus. Penghasilan yang bisa dicapai manusia adalah terbatas. Sehari hanya ada 24 jam dan seminggu hanya ada 7 hari. Manusia/perusahaan tidak bisa mengambil kredit terus menerus. Ada batasnya dimana beban itu tidak bisa dipikul lagi.

Dari sisi konsumsi dan permintaan atas barang dan jasa juga ada batasnya. Manusia hanya perlu 1 rumah untuk berlindung bagi dirinya dan keluarganya. Punya dua rumah adalah bentuk dari kemewahan. Dan kalau 3 rumah adalah bentuk dari kegilaan. Demikian juga untuk mobil. Yang diperlukan hanya 1 sampai 2 di dalam satu keluarga. Itupun tidak perlu mobil bermesin besar. Kalau sudah 3 mobil, artinya kemewahan. Konsumsi ada batasnya. Dan bila batas itu tercapai, maka konsumsi akan berhenti dengan sendirinya.

Pada saat itulah uang illusi alias kredit harus berkontraksi. Kredit menjadi kurang peminat. Kredit/hutang berserta bunganya harus dilunasi. Sayangnya, karena permintaan atas barang dan jasa berhenti ekspansi atau bahkan menurun, maka terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Dan pengangguran meningkat. Daya beli, maksudnya kemampuan bayar, menurun. Terbuktilah bahwa ketahanan daya beli yang dilandasi kredit hanyalah semu dan sementara. Yang tidak bisa bayar kredit, assetnya disita. Dengan demikian terbuktilah juga bahwa kepemilikan berdasarkan kredit adalah kepemilikan illusi yang berakhir dengan kehampaan. Orang tidak lagi merasa kaya.

Asset-asset kreditan itu dilelang. Karena uang fisik tidak bertambah, uang illusi (kredit) mengalami kontraksi dan semakin sedikit, maka harga lelang juga harus turun. Ini yang disebut deflasi, yang merupakan lawan kata dari inflasi. Jumlah uang (uang sejati plus uang politikus dan uang illusi) semakin langka, akibatnya harga-harga juga turun. Orang semakin merasa tidak kaya karena nilai nominal asset-assetnya (real-estate, saham dan lainnya) turun, sekalipun asset-asset itu tidak dijual. Karena merasa lebih miskin, maka pola konsumsinya kembali ke normal, bahkan sampai mengirit. Permintaan menurun. Permintaan yang semu dan illusi ikut sirna.

Mesin-mesin produksi harus ditutup karena kapasitas terpasang yang dibangun untuk memenuhi permintaan illusi atas barang (dan jasa). Maka jadilah besi tua bagai monumen kegagalan. Bank-bank banyak yang rontok, bangkrut karena kredit yang diberikan tidak bisa kembali. Dan ketika nasabah yang menyimpan uangnya di bank, uangnya tidak ada. Bank lari ke Lembaga Penjamin Simpanan, yang di Amerika Serikat dikenal dengan singkatan FDIC, Federal Deposit Insurance Corporation, untuk menalangi nasabah yang duitnya tidak ada lagi di bank. Kalau lembaga penjamin simpanan ini kolaps, siapa lagi yang akan menyelamatkannya.

Lalu bagaimana dengan pemerintah? Menurut gubernur bank sentral Amerika Serikat yang juga mantan seorang professor berkepala botak dari Princeton University, Benjanin Bernanke:

“......U.S. dollars have value only to the extent that they are strictly limited in supply. But the U.S. government has a technology, called a printing press (or, today, its electronic equivalent), that allows it to produce as many U.S. dollars as it wishes at essentially no cost. By increasing the number of U.S. dollars in circulation, or even by credibly threatening to do so, the U.S. government can also reduce the value of a dollar in terms of goods and services, which is equivalent to raising the prices in dollars of those goods and services. We conclude that, under a paper-money system, a determined government can always generate higher spending and hence positive inflation.”

Intinya adalah pemerintah Amerika Serikat atau pemerintah manapun punya sebuah teknologi yang disebut mesin cetak termasuk versi elektroniknya yang bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya sehingga kejatuhan nilai uang bisa menahan kejatuhan harga barang. Teori yang menarik.

Kemudian Mr. Bernanke melanjutkan:

“Of course, the U.S. government is not going to print money and distribute it willy-nilly (although as we will see later, there are practical policies that approximate this behavior). Normally, money is injected into the economy through asset purchases by the Federal Reserve. To stimulate aggregate spending when short-term interest rates have reached zero, the Fed must expand the scale of its asset purchases or, possibly, expand the menu of assets that it buys. Alternatively, the Fed could find other ways of injecting money into the system--for example, by making low-interest-rate loans to banks or cooperating with the fiscal authorities.”

Teorinya mengatakan bahwa untuk membendung deflasi the Fed, bank sentral, akan membeli asset-asset sitaan yang jatuh harganya itu. Sejalan dengan itu, suku bunga pinjaman kepada bank komersial diturunkan sampai nol untuk merangsang bank supaya memberikan kredit.

Kalau memang strategi ketidak-bijaksanaan (Inggris: dumb policy) ini diterapkan, maka pemerintah akan memiliki gedung-gedung perkantoran yang kosong dari penyewa, mall dan pusat perbelanjaan yang kosong penyewa, pabrik-pabrik yang berhenti operasi. Maka lengkaplah wujud dan rupa pemerintah sebagai badan yang tidak effisien dan selalu rugi. Keseimbangan antara permintaan aggregat dengan pasokan (keseimbangan demand dan supply) di dalam ekonomi sebelum semua ekses dan kelebihan-kelebihan pasokan musnah.

Bagaimana dengan nasib pemerintah kemudian? Pemerintah mengalami budget defisit karena turunnya penerimaan pajak. Kalau pemerintah melakukan usaha-usaha penyelamatan di sektor perbankan dan/atau penyelamatan perusahaan kroninya, maka hasil akhirnya adalah defisit belanja negara yang membengkak. Penyelesaiannya seperti biasa: naikkan pajak, mengeluarkan surat hutang bahkan di negara yang maju, bisa digalakkan denda-denda pelanggaran lalu lintas dan segala macam denda. Satu hal yang jarang dilakukan, ialah menurunkan pengeluaran dan memecat pegawai negri untuk merampingkan birokrasi.

Episode selanjutnya, jika hutang pemerintah sudah kebanyakan dan pemerintah tidak sanggup membayar lagi, maka jalan keluarnya adalah mengemplang hutang. Atau, pemerintah menghancurkan nilai riil hutangnya dengan pencetakan uang. Ini terjadi jika kecepatan kontraksi kredit sudah melambat sehingga pemerintah bisa mengimbanginya dengan pencetakan uang yang biasanya bisa kebablasan sampai hiperinflasi.

Itulah teori ekonomi modern yang kita sebut ekonomagik.


(Bersambung...........)



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, March 8, 2011

Lost In Space

“Danger…., danger…., warning…., warning….., danger…..Will Robinson. Danger....” itu adalah kalimat yang menjadi ciri khas dari robot B-9 di dalam film seri tv di pertengahan tahun 1960 yang terkenal, “Lost in Space”. Peran utama film ini terfokus pada seorang anak bernama Will Robinson, Dr. Smith dan Robot B-9. Peran utama yang tidak terlalu utama adalah anggota keluarga Robinson yang lain berserta mayor Don West. Robot B-9 diceritakan berperan sebagai pengawal Will dan Penny Robinson, dan sangat protektif sekali terhadap kedua anak ini. Bila ada bahaya atau ancaman yang laten (tidak nampak) maka robot B-9 berteriak-teriak memberi peringatan: “Danger…., danger…., warning…., warning….., danger…..Will Robinson. Danger....”, memperingatkan Will dan Penny Robinson.

Lost in Space di produksi oleh Irwin Allen, dan filmnya dibuat oleh the 20th Century Fox Television dan ditayangkan oleh CBS. Lost in Space berhasil mengalahkan Star Trek yang akhirnya diproduksi juga beberapa tahun kemudian. Sebagai film untuk semua umur, Lost in Space bisa dikatakan bagus dan menarik. Paling tidak Lost in Space bisa mengalahkan Star Trek.


Andaikata ada robot B-9 yang bisa mendeteksi trend mood masyarakat yang mengingkat dan memberi peringatan dini kepada Hosni Mubarak, Ben Ali dan Qaddafi, kemungkinan mereka masih berkuasa sampai sekarang. “Warning...warning....danger...social mood alamingly high, alarming high. Quenching required, quenching required....” Begitu peringatannya, barangkali. Sayangnya Hosni Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, tidak pernah diberi peringatan dini. Negara-negara mereka bergolak dan satu-satu para “pemimpin” ini berjatuhan. Tragedi yang sama bisa menyentuh Saudi, Kuwait, Bahrain, Yaman.

Dua ribu tahun lalu, wilayah yang dikenal sebagai sabit hijau, merupakan daerah yang subur. Romawi selalu ingin mengangkangi wilayah ini kaena surplus pangannya. Ketika Amru bin As dimasa khalifah Umar, datang “membebaskan” Afrika Utara, tata niaga pertanian dan perdagangan gandum diliberalisasikan. Wilayah kemudian menjadi sangat makmur. Pajak hanya 1 – 3 dinar saja per kepala (laki-laki saja yang dikenakan). Liberalisasi dibidang usaha membawa wilayah ini ke masa emasan yang tidak terlalu panjang umurnya. Ketika Umar digantikan oleh Uthman, pajak dinaikkan kembali, dan dukungan rakyat kepada Romawi timbul kembali. Romawi berhasil mengusir pemerintahan kekhalifahan Uthman untuk beberapa waktu, sampai Amru diangkat kembali menjadi gubernur Mesir dan Afrika Utara dan menjanjikan pemerintahan yang liberal (bebas berusaha dan pajak yang rendah) kepada rakyat Mesir dan Afrika Utara

Nampaknya wilayah itu sekarang tidak lagi bisa menghasilkan pangan. 40% pangan diimpor dari luar. Ketika pengangguran tinggi dan harga pangan meningkat, maka orang menjadi marah. Dan pelampiasannya entah mau kepada siapa......, yang paling gampang adalah kepada pemerintah.

Pada jaman dahulu, kesulitan pangan bukan tidak pernah terjadi. Di masa Firaun dan nabi Yusuf seperti yang diriwayatkan di Bible Perjanjian Baru dan Quran, juga di masa pemerintahan Umar bin Khattab yang dikenal dengan “tahun abu”, wilayah-wilayah tertentu di Timur-Tengah mengalami kesulitan pangan. Tetapi protes dan penggulingan pemerintah tidak pernah tercatat di dalam sejarah karena kesulitan pangan. Biasanya karena pajak yang memberatkan. Jaman dulu negara tidak bertanggung jawab atas kemakmuran. Paling tidak mereka tidak berjanji untuk memberikan kemakmuran rakyatnya. Negara dulu dan sekarang adalah parasit murni, yang kerjanya menariki pajak. Beda antara satu pemerintahan dengan pemerintahan lainnya adalah level pajak yang ditariknya. Entah dari mana datangnya, di jaman modern ini negara dipersepsikan sebagai institusi yang wajib memberikan kemakmuran kepada rakyatnya. Suatu ide yang absurd dan tidak masuk akal.

Persoalan di Mesir, Libya, Tunisia, dan Timur Tengah dan Afrika Utara secara umum belum selesai dengan tumbangnya pemerintahannya. Menumbangkan pemerintahan jauh lebih mudah dari pada memberi makan rakyat. Apakah Bangladesh menjadi lebih makmur setelah pemerintahan Pakistan didepak? Apakah Timor Timur lebih makmur setelah pemerintah RI didepak? Karena untuk memberi makan rakyat, banyak anggota masyarakat yang harus bekerja. Mendepak pemerintah dan menggantikannya dengan yang baru adalah sama saja. Ibaratnya sama dengan membuang parasit lama dan menggantikannya dengan parasit yang baru. Seperti kasusnya Indonesia, mendepak penjajah Belanda yang hanya menariki pajak penghasilan 3% (tiga persen) dan menggantikannya dengan Republik Indonesia yang menghisap 30%-35% dari penghasilan anda. Itupun mengalami pergolakan selama beberapa dekade. Oleh sebab itu jangan berharap Tunisia, Mesir yang telah berhasil mengganti penguasanya akan aman damai dan masalah pangan terselesaikan dalam waktu dekat ini.

Ekonomi dunia masih lemah. Sejak tahun 2002 pertumbuhan kredit 11% sedangkan pertumbuhan GDP hanya 4%. Artinya setiap dollar pertumbuhan diperlukan 2.75 dollar kredit. Orang berhutang. Dan bank juga kebanyakan memberi hutang. Mungkin ekonomi harus istirahat dulu, hutang perlu dibayar sebelum konsumen bisa kembali mengkonsumsi. Buktinya, ketika harga minyak naik ke $90 per bbl (61% dari harga tertinggi tahun 2008) dan harga bahan komoditi juga naik sekitar 60% dari harga tahun 2008, protes merebak kemana-mana yang mengakibatkan 2 pemerintahan tumbang dan 1 di pinggir jurang ketumbangan. Ekonomi tidak kuat menahan beban yang hanya 60% dari beban terberatnya di tahun 2008

Seperti yang EOWI katakan sebelumnya mengenai fokus tahun 2010, yang salah satunya adalah suku bunga Cina. Akhir bulan Februari 2010, sentral bank Cina menaikkan suku bunganya 0.25%. Suku bunga pinjaman naik ke 6,06% dari 5,81% dan suku bunga deposito naik dari 2,75% ke 3%. Ini adalah kenaikan yang ke tiga yang dimulai dari bulan Oktober 2010 dan setelah itu Desember 2010. Bisa dimengerti, Cina pasti tidak ingin kejadian di Timur Tengah menjalar ke negrinya. Setiap kepala negara yang waspada akan bertanya apakah kasus Timur Tengah dan Afrika Utara akan menjalar ke negaranya. Persoalannya dengan Timur Tengah adalah sebagian besar pasokan minyak berasal dari sana. Dan adanya keributan disama akan membuat pasokan tersendat dan harga akan melambung. Walaupun pasokan tidak tersendat, ketakutan akan tersendatnya pasokan juga akan membuat harga minyak melambung. Jika harga minyak melambung sampai $220, seperti yang digembar-gemborkan banyak analis, bagaimana dunia? Harga-harga bahan pangan akan naik, dan ........., selanjutnya tebak sendiri. Jadi tidak terlalu mengherankan jika Cina sudah memulai pengetatan moneter. Siapa menyusul? Katanya ECB, sentral bank Eropa mau ikut menaikkan suku bunganya. Kapan? Entahlah.

Entah ada kaitannya atau tidak dengan pengetatan kredit di Cina, bursa-bursa mulai rontok. India sudah turun 17% sejak Oktober 2010 lalu (Chart-1).


Chart-1


Bursa Cina yang tidak pernah bisa recovery dari crashnya di tahun 2007, hanya bisa trace out 38% saja, sekarang mulai menunjukkan gejala kelelahan (Chart-2).



Chart-2


Juga bursa Hongkong. Indeks harga saham Hang Seng juga sudah keluar dari trend bullishnya (Chart-3)


Chart-3


Indeks Kospi Korea juga sudah keuar dari trend bullishnya sejak Februari 2011 lalu (Chart-4). Kata Elliot Wave International bahwa koreksi bursa-bursa emerging market hanya sementara sifatnya. Emerging market sedang mengalami fase bull.

Sementara itu, dunia mengawali tahun 2011 dengan protes. Dunia, baca sekali lagi, dunia. Masalahnya adalah pangan, pengangguran, kenaikan harga-harga... entah apa lagi, seperti kata berita di bawah ini.




Kalau video itu belum memuaskan, bagaimana dengan yang di bawah ini?






Bahkan ada yang meramalkan USA akan kolapse secara ekonomi.




Atau ramalan Gerald Celente 2 tahun lalu.



Siapa yang benar? Entahlah.

Minggu lalu, BLS (Biro Statistik Amerika Serikat) mengatakan bahwa tingkat pengangguran Amerika Serikat turun dari 9.2% ke 8.9%. Tetapi tadi pagi Gallop poll mengatakan bahwa tingkat pengangguran US naik dari 9.4 ke 10.1. Suatu kenaikan yang cukup berarti. Siapa yang benar? Entahlah......



Sebagai penonton, kita Cuma bisa berkomentar: “You people are lost. Lost in Space”. Dan Robot B-9 mulai berteriak-teriak: “Warning, warning,...... danger, danger, you people are lost......, lost in space”.


Jakarta 8 Maret 2011,




Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugi an yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, March 6, 2011

(No.8) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)



Kredit dan Uang Illus
i

Bahasa Inggrisnya illusi adalah
illusion yang menurut definisi adalah: “an unreal image presented to the bodily or mental vision; a deceptive appearance”. Kira-kira artinya penampakan yang menipu. Membuat illusi tidak bisa dikategorikan sebagai tindak kriminal. Tukang sulap misalnya, selalu menggunakan illusi di dalam attraksinya; dan dia tidak akan ditangkap, dipenjarakan karena ulahnya. Bagaimana kalau illusi ini diciptakan di dalam ekonomi? Topik ini menarik untuk dibahas, karena permainan sulap ini korbannya yang disengsarakan banyak.

Pada bulan November 2008, seorang analis keuangan bernama Erick Jazier Adriansjah dari perusahaan sekuriti Bahana ditangkap polisi. Latar belakang penangkapan itu adalah karena Erick memperingatkan kliennya melalui email bahwa akan ada beberapa bank yang mengalami kesulitan likwiditas. Dan oleh kliennya, email itu disebarkan lagi sehingga meluas. Erick dituding bisa mengganggu kestabilan dunia perbankan Indonesia.

Apa hubungan antara peringatan Erick dengan kestabilan perbankan Indonesia? Bukankah apa yang dilakukan Erick adalah perbuatan baik yaitu memperingatkan kliennya agar berhati-hati. Dan apa yang dikatakan Eric ternyata benar, tidak lama kemudian kasus kebangkrutan bank Century terungkap.

Yang ditakutkan oleh para birokrat politikus pemerintah adalah akibat beredarnya email dari Erick akan mendorong banyak nasabah bank menarik uangnya dari bank. Pasalnya bank sering tidak mempunyai uang sebanyak saldo nasabahnya. Bank akan mengalami krisis likwiditas. Ini disebabkan karena bank melakukan apa yang disebut fractional reserves banking (FRB) yaitu penciptaan uang illusi. Disebut uang illusi karena sebenarnya uang itu tidak ada, yang ada hanya catatan pembukuan saja. Jika 20% saja dari nasabah mau mengambil saldo rekeningnya, bank belum tentu mempunyai cukup uang untuk diserahkan. Sebagian dari uang yang tercatat sebagai saldo rekening, wujud fisiknya tidak pernah ada. Itu sebabnya uang itu bisa dinamakan uang illusi. Itulah kredit dan catatan saldo di bank.

Bank punya berbagai cara yang cerdik untuk memperoleh untung. Cara yang ampuh dan paling populer adalah melalui FRB. FRB ini bagaikan permainan sulap. Dari uang fisik yang merupakan kapital dari bank itu dan uang simpanan masyarakat diciptakan uang-uang yang sifatnya hanya catatan saja. Sulapnya ini lebih halus dan bukan dengan cara-cara yang kasar mencetak uang kertas fiat dengan nilai nominal yang besar, melainkan melalui pemberian kredit.

Sulap ini disebut fractional reserve banking (FRB) dan caranya adalah sebagai berikut. Misalnya di dalam ekonomi secara fisik ada 100 milyar rupiah uang kertas. Tentu saja uang ini disimpan di bank karena menyimpan uang tunai di bawah bantal tidaklah aman. Oleh bank uang ini dipinjamkan, misalnya 90% nya (atau 90 milyar rupiah) ke pada pelaku ekonomi. Uang yang dipinjamkan, secara fisik tidak pernah meninggalkan bank untuk disimpan di bawah bantal, melainkan dititipkan juga ke bank juga, mungkin bank yang sama atau bisa juga bank yang lain. Secara fisik uang kertas ini tidak berpindah dari sistem perbankan. Dari satu bank ke bank lainnya.

Jadi sampai pada titik ini kredit yang diciptakan sebesar 90 milyar rupiah dan sebenarnya hanya catatan elektronik saja. Sekarang di catatan saldo semua rekening nasabah ada 190 milyar rupiah, yaitu Rp 100 milyar uang fisik dan Rp 90 milyar kredit. Di samping itu asa catatan hutang kepada bank 90 milyar rupiah. Biasanya catatan hutang kepada bank tidak perlu diributkan, karena bank tidak akan menggunakan catatan ini untuk belanja kepasar. Lain halnya dengan saldo. Saldo ini bisa digunakan untuk belanja dan melakukan aktivitas ekonomi lainnya.

Kembali pada kredit yang 90 milyar rupiah tadi. Uang yang 90 milyar rupiah itu, kemudian dipinjamkan lagi 90%nya (81 juta dollar) kepada debitur lain. Tentu saja uang ini tidak pernah masuk ke bawah bantal dan meninggalkan sistem perbankan seperti uang yang 90 milyar sebelumnya. Seterusnya berlaku hal yang sama. Berikutnya 72.9 milyar rupiah diciptakan. Dan seterusnya, sehingga secara teoritis dari 100 milyar rupiah bisa menciptakan kredit setara dengan 900 milyar rupiah sehingga kredit dan uang fisik menjadi setara dengan 1000 milyar rupiah.

Kredit ini bisa bertingkah seperti uang. Dengan kredit, orang bisa membeli barang. Akibatnya ekspansi kredit bisa menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Bayangkan bagaimana effektifnya FRB dalam menstimulasi kenaikkan harga.

Kredit tidak bisa disamakan dengan uang fisik baik itu yang sejati, emas dan perak ataupun yang fiat politikus. Secara sepintas, kredit lebih dekat kepada uang fiat atau uang politikus ketimbang uang sejati. Tetapi ada perbedaan yang mendasar antara uang politikus dan kredit. Pertama, uang fiat politikus hanya dikeluarkan dan diedarkan oleh bank sentral atau badan yang resmi ditunjuk pemerintah. Sedangkan kredit bisa dikeluarkan oleh bank komersial dan bank sentral. Hanya saja, bank sentral tidak memberikan kredit kepada masyarakat secara langsung.

Perbedaan kedua, nasib uang fiat arahnya hanya ada satu jurusan yang jelas, umumnya ekspansif alias selalu bertambah. Uang fiat selalu menyebabkan inflasi karena jumlah yang beredar alias pasokannya selalu bertambah. Sedangkan uang illusi (kredit), bisa menguap seperti sulapan yaitu ketika kredit dilunasi atau diputihkan (gagal bayar). Kredit juga bisa bertambah banyak, seperti sulapan juga. Jadi uang illusi (kredit) disamping bisa berekspansi jumlahnya, bisa juga berkontraksi.

Untuk terciptanya kredit diperlukan dua (2) pihak, calon debitur (bisnis atau konsumen) dan calon kreditur (bank). Jika bank enggan menyalurkan kredit, dan/atau konsumen enggan membuat kredit maka kredit tidak akan tercipta. Kalau konsumen bank memutuskan untuk melunasi hutangnya, maka kreditnya termusnahkan. Jika di dalam ekonomi terjadi melunasan kredit besar-besaran bisa membuat net-ekspansi kredit menjadi negatif. Dan kejadian ini disebut kontraksi kredit atau deflasi. Kontraksi kredit bisa terjadi kalau debitur mengemplang hutangnya. Catatan saldonya menjadi nol dan catatan hutangnya menjadi NPL (non performing loan) dan diputihkan.

Uang sejati – emas dan perak, tidak bisa mengalami kontraksi. Demikian juga uang fiat politikus. Pernyataan ini sesungguhnya tidak 100% benar. Kalau uang fiat ini sudah kehilangan nilai riilnya, maka masih bisa dijadikan pengganti kayu bakar. Bisa saja oleh pemiliknya uang-uang kertas ini dibakar. Dan pada saat itu jumlah uang kertas yang beredar berkurang dan mengalami kontraksi.

Sifat uang illusi yang satu inilah (deflasi) yang katanya paling ditakuti oleh politikus dan birokrat. Akibat dari deflasi, memasukan pajak dan cukai akan menurun. Untuk menutup jurang antara pemasukan pajak dan pengeluarannya, para birokrat politikus akan memutar mesin cetak uang fiatnya secepat mungkin. Kalau perlu 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Kalau hal ini masih tidak bisa mengatasinya, maka terbitkan pecahan baru dengan nilai nominal yang lebih besar, misalnya $100 trilliun, seperti yang dilakukan Zimbabwe selama dekade 2000an.


(Bersambung..........)

Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Thursday, March 3, 2011

(No.7) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21



(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)




Pseudo Uang Sejati
Kalau sebelumnya kita membahas uang sejati, kemudian uang politikus, sekarang ada lagi pseudo uang sejati. Apa pula itu?

Untuk mengerti hal ini di bawah ini ada beberapa gambar uang kertas Amerika Serikat pecahan $20. Yang pertama adalah terbitan tahun 1904. Perhatikan inskripsi di bagian bawah uang ini. Tertera:
“Twenty Dollar in Gold Coin Payable to the Bearer on Demand”.
Yang artinya:
“Dua Puluh Dollar dalam bentuk koin emas, dibayarkan kepada pembawanya jika diminta”.
Dengan kata lain uang kertas ini didukung oleh emas, dan jika mau pemiliknya bisa menukarkannya dengan emas sebesar 20 dollar.



Pecahan mata uang US$ 20, terbitan tahun 1904, pseudo uang emas


Kurs tukar emas dollar tetap dan diatur oleh undang-undang US, yaitu dalam Coinage Act 1792. Untuk $ 10 ekivalen dengan 247 4/8 grain (16.0 g) emas murni atau 270 grain (17.5 g) emas 22 karat. Demikian juga dengan pecahan yang lebih kecil, disamakan dengan perak. Kurs perak adalah 1 unit emas = 15 unit perak. Kurs ini hampir sama dengan perbandingan jumlah emas dan perak di alam.

Uang kertas pecahan DOLLAR AMERIKA SERIKAT terbitan tahun 1929, inskripsi agak berbeda sedikit dengan yang diterbitkan tahun 1904. Untuk terbitan tahun 1929 inskripsinya berbunyi:
“The Federal Reserve Bank of Chicago Will pay to the bearer on demand Twenty Dollars”
yang artinya:

“The Federal Reserve Bank Chicago akan membayarkan kepada pembawa (uang ini) sebesar 20 dollar jika diminta”.




Pecahan mata uang US$ 20, terbitan tahun 1929 – pseudo uang emas


Dan yang dimaksud 20 dollar dalam pernyataan pada uang kertas di atas, baik yang terbitan tahun 1904 atau 1929 adalah uang emas logam, seperti pada foto dibawah ini. Bisa juga mengacu pada uang perak. Definisi dollar ini adalah seperti yang dicantumkan pada Coinage Act of 1792, maka uang kertas ini sama dengan uang kertas terbitan 1904. Yaitu bisa ditukarkan dengan emas sejumlah yang sama.

Catatan: kata bahasa Inggrisnya untuk uang kertas adalah bank note, Artinya “nota” yang dikeluarkan oleh bank.




Uang $ 20 sejati, keluaran tahun 1904


Kedua uang kertas di atas disebut uang pseudo-uang sejati. Maknanya pengganti uang sejati. Disebut demikian karena uang kertas itu bukan emas atau perak, tetapi bisa ditukarkan ke bank sentral dengan emas. Jangan lupa bahwa bank/pemerintah sewaktu-waktu bisa menyalahi janjinya dengan menghapuskan undang-undangnya (misalnya Coinage Act of 1792). Alasan inilah yang membuat uang kertas jenis ini tidak bisa disebut 100% uang sejati. Masih ada kemungkinan bank/pemerintah membatalkan janjinya. Ini terbukti dalam sejarah Amerika. Misalnya presiden F.D Roosevelt melakukan devaluasi dollar dari 1 oz emas = $ 20.67, menjadi 1 oz emas = $35 melalui Executive Order 6102 yang ditandatangi tanggal 5 April 1933. Keputusan presiden ini juga mengkriminilkan kepemilikan emas. Kemudian tahun 1965, presiden Johnson membatalkan Coinage Act of 1792 dan menggantikannya dengan Coinage Act of 1965 dimana banyak status dollar sudah diganti.

Pada tanggal 15 Agustus, 1971, presiden Nixon membatalkan semua hubungan antara emas dan dollar. Keputusan itu membuat perjanjian Bretton Wood dibubarkan pada tahun 1973. Saat ini uang inskripsi pada uang kertas Amerika Serikat tidak lagi “payable to bearer” melainkan:

“this note is legal tender for all debts, public and private”
Atau

“nota ini adalah alat pembayaran yang syah untuk semua hutang, baik hutang pemerintah atau hutang swasta”

Seperti yang tertera pada uang kertas pecahan US$ 20 terbitan tahun 1985, 1995 dan 2006 di bawah ini.




Pecahan mata uang US$ 20, terbitan tahun 1985 dan 1995, uang politikus, hanya alat pembayaran yang syah




Pecahan uang kertas US$ 20, terbitan tahun 2006, uang politikus, hanya alat pembayaran yang syah.


Dalam banyak catatan sejarah, penggunaan uang pseudo sejati, sering dikaitkan dengan penipuan di tingkat pemerintahan. Apakah penipuan ini direncanakan sejak awal atau terjadi dalam keadaan terpaksa. Masyarakat tertarik kepada uang pseudo sejati karena mudah dibawa-bawa karena ringan. Jadi ada potensi permintaan uang pseudo sejati di kalangan masyarakat. Tetapi penggunaan uang pseudo sejati akan menggoda para politikus untuk mencetak uang itu lebih banyak dari pada uang sejati (asset emas dan perak) yang menjadi cadangannya. Kemudian jika penyimpangan ini sudah terlalu banyak pemerintah akan melanggar janjinya. Pada saat itu uang pseudo sejati yang berbentuk kertas dan nilai interinsiknya rendah ini tidak dapat lagi ditukarkan dengan uang sejati yang memiliki nilai intrinsik seperti emas dan perak. Pola ini menjadi modus operandi pemerintah untuk mencuri tabungan masyarakat sejak berabad-abad lalu. Dan uang pseudo sejati, tidak hanya uang kertas (bank note) saja, tetapi menjadi lebih umum ke bond dan surat hutang pemerintah.

Tentang pseudo uang emas, Daniel Webster seorang politikus Amerika Serikat yang sudah mati, sudah memperingatkan bahwa pseudo uang emas tidak sama dengan emasnya sendiri, melainkan sebuah janji yang bisa diingkari. Dalam pidatonya di hadapan Senat Amerika Serikat tahun 1833 dia mengatakan:
“We are in danger of being overwhelmed with irredeemable paper, mere paper, representing not gold nor silver; no sir, representing nothing but broken promises, bad faith, bankrupt corporations, cheated creditors and a ruined people.”
Kira-kira artinya:

Kita berada dalam bahaya karena terlalu percaya pada oleh surat berharga yang katanya bisa ditukarkan dengan emas. Kertas adalah kertas dan tidak mewakili emas atau perak, akan tetapi semata-mata mewakili pengingkaran janji, ketidak jujuran, perusahaan yang bangkrut, kreditur yang tertipu dan sekelompok orang bangkrut.
Dan ucapan Daniel Webster ini terbukti ketika pada tanggal 15 Agustus, 1971, presiden Nixon menutup loket penukaran dollar Amerika Serikat ke emas untuk menghindari pembayaran 280 juta oz emas kepada pemilik dollar Amerika Serikat di luar negrinya yang mengantri untuk menukarkan dollarnya dan dipelopori oleh presiden Prancis Charles De Gaulle.

(Bersambung......)


Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, March 1, 2011

(No.6) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)



Uang Fiat dan Uang Politikus
Peter Bernstein dalam bukunya The Power of Gold bercerita mengenai Marco Polo[1]. Ketika Marco Polo berada di Cina, ia sangat terkesan dengan uang kertas yang digunakan di Cina dimasa itu. Kublai Khan bak seorang yang ulung dalam seni sulap kimia. Kertas yang terbuat dari kulit kayu mullberry dicetak dan dipotong dengan berbagai ukuran. Dan kertas-kertas ini mewakili emas dan perak dengan berbagai macam nilai sesuai dengan yang tertulis. Kertas yang mewakili 1000 koin perak ukurannya hanya 9 inch x 13 inch dan hanya seberat bulu ayam. Sedangkan 1000 keping koin perak yang diwakilinya mempunyai berat 8 pound (3,60 kg). Dengan kata lain, 9 inch x 13 inch kertas, diberi stempel kerajaan, kemudian diberi angka nominal, dan........ simsalabim!!! Jadi 3,60 kg perak. Ini namanya sulap kimia. Kertas yang bahan dasarnya selulosa dengan rumus kimia (C6H10O5)n berubah menjadi perak yang rumus kimianya Ag. Semuanya itu berkat stempel kerajaan.

Dengan sistem uang kertas ini, Kublai Khan bisa membeli semua harta kekayaan yang ada di dunia ini. Ya... semua harta kekayaan di jagat ini. Tulis Marco Polo lagi, bahwa Kublai Khan memerintahkan semua pembayaran dimanapun di wilayah imperiumnya dengan menggunakan uang kertas. Alasan Marco Polo waktu itu tidak dimengerti orang karena semua orang di Eropa menggunakan emas dan perak sebagai alat pembayaran. Sampai Marco Polo melanjutkan pernyataannya: “.....dan tidak ada yang berani menolak uang kertas ini karena takut kehilangan nyawanya dengan cara yang sangat menyakitkan”

Marco Polo tidak pernah menceritakan apakah uang kertas yang diberi stempel kerajaan Kublai Khan laku di warung kopi di wilayah kesultanan Peureulak Aceh, ketika dia mampir ke Sumatera atau laku di Republik Venesia, tempat tinggalnya. Kemungkinan besar tidak.

Itulah lelucon yang ditulis oleh Marco Polo, sekilas tentang uang kertas dan penguasa di jaman dulu. Saya tidak yakin anda, pembaca, bisa menangkap letak lucunya, apalagi tertawa. Karena anda anda hidup di dalam kultur uang kertas dan tidak pernah mengenal sistem uang sejati atau uang emas dan perak.

Uang kertas yang saat ini digunakan sehari-hari untuk transaksi tunai disebut uang politikus atau uang fiat. Disebut uang fiat karena keberlakuan uang itu didukung oleh undang-undang dan kekuasaan. Bukan atas dasar suka rela. Kata fiat adalah dari bahasa Latin yang berarti dekrit, atau keputusan yang secara hukum mengikat , sehingga arti kata uang fiat adalah uang yang dinyatakan oleh pemerintah melalui undang-undang sebagai alat pembayaran yang syah. Selanjutnya, bisa juga disebut uang politikus karena yang mengeluarkan, mengatur peredarannya dan menetapkan nilainya adalah politikus, penguasa dan birokrat di pemerintahan.

Uang kertas adalah uang fiat dan secara fisik terbuat dari kertas. Nilai interinsik, nilai riil, kertas adalah senilai kertas apakah wujudnya itu buku, kertas WC penyeka tinja, bungkus kacang atau kertas koran. Yang membuat uang kertas itu berbeda nilainya dari nilai interinsiknya karena ada undang-undang yang mendukungnya. Ketika pemerintahan yang legalkan uang kertas itu tidak lagi berkuasa, maka nilai uang kertas itu kembali kenilai interinsiknya, yang sama dengan kertas WC penyeka tinja, kertas tulis dan koran.

Teman saya yang gila matematika mengatakan bahwa pemerintah yang korup dan/atau repressif adalah kondisi cukup (bahasa Inggrisnya sufficient condition) akan keberadaan uang fiat. Dalam bahasa matemetika bunyi pernyataannya: Uang fiat beredar jika dan hanya jika ada pemerintah yang korup mendukungnya.

Perjalanan uang kertas untuk bisa diterima oleh masyarakat biasanya agak panjang dan melibatkan pengelabuhan. Misalnya uang kertas US dollar atau dollar Amerika. Dulunya dollar Amerika Serikat kertas dicetak berdasarkan cadangan emas yang ada di gudang lemari besi bank sentral Amerika Serikat. Uang kertas dollar Amerika dulunya bisa ditukarkan dengan emas. Memang nilai dollar kertas tidak terlepas dari campur tangan politikus. Seorang presiden Amerika Serikat yang mati karena perdarahan otak bernama F. D. Roosevelt, pernah mendevaluasi dollar. Satu dollar yang tadinya bisa ditukarkan dengan 10/205 oz emas, didevaluasi menjadi 1/35 oz emas. Tetapi yang paling parah adalah Nixon yang menghapuskan keterkaitan dollar terhadap emas, mengingkari perjanjian internasional Bretton Woods untuk menghindari tagihan emas sebesar 280 juta oz. Dan ucapan Nixon yang terkenal adalah:

“I am not a crook” – “Saya bukan penjahat” (Nixon 17 November 1973)

Walaupun kalimat ini diucapkan dalam konteks yang lain – yaitu konteks skandal Watergate, tetapi intinya bahwa dia pernah memposisikan dirinya sangat defensif untuk menyangkal tuduhan bahwa dirinya adalah seorang penjahat, birokrat yang korup. Karena dasar watak yang korup memang sudah ada, maka Nixon juga dengan mudah mengingkari kesepakatan Bretton Woods tentang garansi emas untuk mata uang dollar Amerika Serikat.

Sejak tahun 1973, di dunia tidak ada lagi uang sejati atau pseudo-uang sejati yang beredar secara resmi. Semua uang yang beredar di atas bumi ini adalah uang politikus dan uang illusi. Secara perlahan-lahan politikus menggantikan uang sejati dengan uang fiat dan uang illusi. Uang sejati (emas dan perak) diberi julukan yang merendahkan, seperti “relik sisa-sisa peninggalan jaman purba”. Uang sejati adalah musuh utama dari politikus dan bank sentral.

Pada uang kertas selalu tertera semacam peringatan atau pernyataan dari pemerintah. Contohnya seperti uang kertas rupiah pecahan Rp 100.000 terbitan tahun 2004, ada tertera tulisan:

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BANK INDONESIA MENGELUARKAN UANG SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH DENGAN NILAI”

Memang tidak semua mata uang kertas di dunia mempunyai tulisan sepanjang pernyataan di atas. Seperti uang kertas dollar Singapura tulisannya hanya pendek saja:

“THIS IS LEGAL TENDER” – Ini alat pembayaran yang syah.

Kata “syah” inilah yang memaksa orang menerimanya sebagai uang. Yang menarik ialah tidak adanya pernyataan bahwa uang fiat ini terjamin nilainya. Anda tidak akan menjumpai uang fiat manapun yang pempunyai pernyataan seperti di bawah ini:

“Uang Ini Dijamin Nilai Riilnya Tetap Sepanjang Masa”

Bahkan jika pemerintah sudah bosan atau secara politik designnya tidak disukai maka uang-uang itu dinyatakan tidak syah lagi dan ditarik dari peredaran. Misalnya pecahan-pecahan uang kertas yang bergambar Sukarno yang beredar sebelum tahun 1965, dilenyapkan dari peredaran semasa Orde Baru Suharto, mungkin karena Sukarno secara politik tidak disukai lagi. Demikian juga dengan pecahan Rp 50.000 yang beredar di akhir masa Suharto, dicabut dari peredarannya ketika Suharto jatuh dan digantikan oleh Orde Reformasi. Tahun 2000 kembali wajah Sukarno menghiasi muka uang pecahan Rp 100.000 terbitan tahun 1999. Mungkin ini ada kaitannya dengan posisi Megawati sebagai wakil presiden yang dimulai dari tahun 1999. Dia tentu menyukai ayahnya (Sukarno).

Uang fiat disebut juga uang politikus karena seringkali designnya dilengkapi dengan wajah politikus yang sudah mati. Terkadang wajah penguasa yang masih hidup. Ini terjadi kalau penguasanya agak megalomania, narsis dan ingin populer.

Nilai interinsik dari uang fiat jauh lebih rendah dari nilai nominalnya. Misalnya uang pecahan Rp 100.000 terbitan tahun 2004, jika tidak ada pernyataan: “dengan rahmat Tuhan yang maha esa, bank indonesia mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai”, atau jenis uang itu sudah ditarik dari peredaran, nilai riilnya tidak lebih tinggi dari kertas WC untuk menyeka tinja. Atau bagi yang menyukai seni dan interior design, uang itu bisa dinilai setara dengan wall paper.

Uang fiat juga tidak bisa dipecah-pecah. Misalnya uang pecahan Rp 100.000 disobek menjadi 2 bagian, tidak berarti nilai sobekannya masing-masing Rp 50.000. Sifat ini sangat berbeda dengan uang sejati emas atau perak. Bahkan untuk uang fiat, jika gambarnya terhapus, maka tidak laku lagi.

Ada hal lain lagi yang membedakan antara uang politikus dengan uang sejati, yaitu kesediaan orang untuk menerimanya. Misalnya dollar Amerika Serikat bisa diterima hampir di seluruh muka bumi. Hanya kadang-kadang money changer dan bank di Indonesia mensyaratkan nomer seri tertentu untuk dollar Amerika Serikat. Sedangkan rupiah Indonesia, hanya bisa diterima di Indonesia. Jika anda gunakan di London, misalnya, tidak ada supir taksi dan pedagang yang mau menerimanya. Kalau dollar Amerika Serikat diterima di seluruh dunia dan rupiah hanya diterima di negaranya sendiri, lain halnya peso Kuba atau won Korea Utara. Keduanya kurang laku di negaranya sendiri, karena disana perdagangan tidak ada. Yang ada hanya ransum dari pemerintah. Barang tidak ada di pasar (pasar yang sesungguhnya pun mungkin tidak ada) dan seandainya barang ada, maka kebanyakan orang lebih suka menukarnya dengan dollar Amerika Serikat dari pada won Korea Utara atau peso Kuba. Karena dollar Amerika Serikat bisa digunakan untuk membeli barang yang tidak bisa didapat di Kuba atau Korea Utara serta lebih berguna.

Uang politikus selalu menjadi godaan bagi para politikus. Misalnya kalau anda punya hak monopoli untuk mencetak uang dari bahan yang murah, mudah didapat dan nilai ekonomisnya rendah, kemudian uang yang dihasilkan bisa digunakan untuk membeli barang/jasa yang nilai ekonomisnya tinggi, apakah anda tidak tergoda untuk mencetak sebanyak-banyaknya? Anda masih waras kalau menjawab “ya”. Demikian juga politikus. Mereka juga tergoda untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya. Yang dimaksud dengan “sebanyak-banyaknya” bukan secara fisik banyak, tetapi cukup ditambah saja angka “nol”nya, supaya nominalnya naik. Jangan heran kalau uang politikus makin lama makin panjang jumlah nol nya. Ini dengan perjalanan waktu akan menyulitkan pada wartawan dan ahli bahasa. Karena jika uang sudah punya nol banyak sekali, gaji sudah mencapai di atas 1.000 trilliun, maka harus ditemukan suatu kata baru lagi untuk menyatakan 1000.000.000.000.000.

Maksudnya begini: kalau 1.000 disebut seribu, 1.000.000 disebut sejuta, 1.000.000.000 adalah semilyar dan 1.000.000.000.000 adalah satu trilliun, lalu 1.000.000.000.000.000 itu disebut apa? Apakah itu zilliun atau xyelliun (kedua kata ini adalah rekaan saya saja). Ahli bahasa harus menemukan kata untuk angka itu.

Uang jenis fiat ini kita sebut uang politikus. Pemikir umumnya jarang yang bisa termakan oleh tipuan. Oleh sebab itu sejak dulu banyak pemikir yang tidak suka dengan uang fiat ini. Seorang pemikir dari Prancis yang sudah mati, Voltaire (1694-1778) mengatakan:

“Paper money eventually returns to its intrinsic value........ zero.”
(Voltaire, penulis dan filosof Prancis)

“Uang kertas akhirnya menuju nilai interinsiknya yaitu nol”

Tentunya dia ucapkan dalam bahasa Prancis, tetapi karena kebanyakan buku-buku ditulis dalam bahasa Inggris, maka sitiran di ataslah yang kami bisa peroleh. Mungkin yang Voltaire ucapkan adalah:

“La monnaie de papier rend finalement à sa valeur intrinsèque ........ le zéro”

Jadi jangan heran kalau uang kertas a.k.a. uang politikus a.k.a. uang fiat akhirnya kembali ke nilai interinsiknya yaitu nol. Hal ini sudah sering kali terjadi. Jangan salah sangka, bahwa proses perjalanan nilai uang kertas menjadi nol, bukan karena tunduk terhadap perintah Voltaire, tetapi karena sifat uang gadungan demikian. Akhirnya kembali ke nilai asalnya, yaitu secarik kertas yang tidak berbeda dengan kertas WC penyeka tinja (toilet paper).

Di bawah ini ada gambar uang pecahan 500 milyar dinara dari negara Yugoslavia (sebuah negara yang di kemudian hari pecah menjadi Serbia, Bosnia dan Kroasia) keluaran tahun 1993. Perhatikan betapa banyaknya angka “nol”. Uang ini mungkin masih belum apa-apa dibandingkan dengan uang Zimbabwe. Mereka, Zimbabwe punya pecahan Z$ 100 trilliun!! Untuk pecahan yang lebih besar dari Z$ 100 trilliun ini, Gideon Gono (kepala bank sentral Zimbabwe yang merancang uang Zimbabwe ini) mengalami kesulitan mencari kata untuk 1.000 trilliun. Zillion mungkin. Sampai sekarang belum diterbitkan pecahan Z$ 1 Zillion itu. Sebagai penggantinya, semua uang Zimbabwe ditarik dari peredaran dan digantikan dengan uang baru dengan 6 angka “nol”nya telah dipangkas.



Pecahan 500 milyar dinara uang Yugoslavia terbitan 1993


Catatan: uang pecahan Z$ 100 trilliun ini tidak cukup untuk membeli roti, setelah beberapa bulan beredar.




Pecahan Z$ 100 trilliun uang Zimbabwe terbitan 2008.


Sekedar pernyataan sarkas di akhir bab ini: Sulit dimengerti, kenapa para politikus menerbitkan uang pecahan 100 trilliun atau 1.000 trilliun atau berapa saja yang panjang sekali jejeran “nol”nya. Mungkin karena mereka ingin rakyatnya menjadi trilliuner semua, termasuk pengemis. Yang itu disebut trilliuner kere. Tujuan itu tidak mungkin dicapai jika uang sejati (emas dan perak) yang digunakan. Trilliuner dinar emas atau dirham perak, adalah trilliuner sejati yang kaya. Bukan kere.
(Bersambung........)

___________________________________________________________________
[1] The Power of Gold, Peter Bernstein, John Wiley & Sons Inc, 2000, hal. 167 - 168



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.