___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Friday, April 11, 2014

Hari Perhitungan Awal Abad 21



 The Great Disappointment

Istilah the Great Disappointment, bisa mengacu pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh group band rock AFI. Lagunya cukup enak untuk didengarkan. Kalau pembaca ingin tahu lebih lanjut bisa dicari dan didownload dari internet.

Tetapi the Great Disappointment yang akan  EOWI jadikan latar belakang dari tulisan pada kesempatan kali ini bukanlah lagu ciptaan AFI, melainkan suatu kisah bertema menyongsong hari perhitungan, the judgement day, yaumil akhir. Dalam sejarah salah satu denominasi agama Kristen Protestan, dikenal suatu periode yang dalam bahasa Inggris sebagai the Great Disappointment. Dalam kesempatan ini EOWI akan menggunakan episode the Great Disappointment ini untuk dijadikan hikmah (pelajaran).

The judgement day atau reckoning day atau sebut saja hari perhitungan/penghakiman dalam bahasa Indonesia, adalah hari dimana semua perbuatan manusia dimintai pertanggungan jawabannya. Kesalahan akan diperhitungkan dan hukumannya akan berikan untuk pikul sendiri. Demikian juga dengan kebaikan. Dalam agama Islam disebut dihisab. Suatu hal mengenai kedatangan hari yang besar itu adalah, menurut Quran dan  Bible, hanya Tuhan yang tahu waktunya.

Menurut Jesus yang dikutip di Perjanjian Baru:

“Tidak ada yang tahu kapan harinya dan jamnya, malaikat-malaikat di surga tidak, sang Anak (Jesus) pun tidak, hanya Bapa (Allah) saja yang tahu.”

”Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.“
(Matius 24:36-37; Markus 13:32-33)

Intinya adalah, bahwa hari perhitungan/penghakiman, tidak ada yang tahu kapan datangnya, kecuali Tuhan, oleh sebab itu, kita harus selalu siap.

Quranpun juga memperingatkan hal yang sama.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q 31:34)

Ada beberapa ayat lain yang senada, seperti ayat Q 43:85; Q 67:26, dan Q 7:187.

Walaupun sudah disebutkan dalam buku panduan yang dipercaya mempunyai sumber Illahi, tetapi banyak yang entah karena apa, tidak tahan untuk tidak meramalkan hari penghakiman ini. Salah satunya adalah seorang pengkhotbah bernama William Miller pada abad ke 19.

William Miller, mempelajari Bible, melakukan penafsiran-penafsiran, gothak-gathuk, akhirnya berkesimpulan bahwa Jesus akan kembali ke dunia pada tahun 1844 untuk membersihkan dunia ini dari kejahatan dan kemaksiatan. Lebih spesifik lagi, tanggalnya adalah antara 21 Maret 1843 sampai 21 Maret 1844.

Dasar ramalan William Miller adalah kitab Daniel dari Perjanjian Lama. Lebih spesifik lagi Daniel 8:14 yang berbunyi: ...: : “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar." Kata-kata 2300 itu digathuk-gathukkan untuk memperoleh tanggal-tanggal yang diperkirakan sebagai hari penghakiman.

Pada saatnya, selama setahun itu pengikut-pengikutnya meninggalkan harta, benda dan keduniaan lainnya untuk menyongsong hari penghakiman yang sangat bersejarah itu. Pada tanggal 21 Maret 1844, ia berserta pengikut-pengikutnya keluar rumah dan menanti. Sampai sore, malam tiba, yang dinanti-nanti tidak datang juga. Semuanya menjadi kecewa. Sangat kecewa.

William Miller, kemudian merevisi ramalannya lagi menjadi 18 April 1844. Setelah menunggu sampai tanggal 18 April 1844, ternyata Jesus dan hari penghakimannya tidak datang juga. Tetapi hal ini tidak membuat Willam Miller dan pengikutnya kapok. Samuel S. Snow merevisi kembali tanggal hari kedatangan Jesus menjadi tanggal 22 Oktober 1844. Pada hari itu para pengikut William Miller keluar rumah, melakukan penantian. Ternyata penantian mereka berlalu tanpa klimaks. Sejarah mencatat kekecewaan yang mendalam dialami pengikut Miller. Oleh sebab itu kejadian tersebut dinamakan the Great Disappointment. Salah seorang pengikut Miller, bernama Henry Emmons menulis:

Saya menunggu sepanjang hari Selasa (22 Oktober 1844)  dan Jesus yang terkasih tidak datang juga. Saya menunggu sepanjang pagi sampai tengah hari Rabu (23 Oktober 1844) dan saya secara fisik masih segar seperti sebelum-sebelumnya, tetapi setelah jam 12 siang saya merasa lemah dan menjelang magrib saya memerlukan bantuan untuk mendukung saya kembali ke kamar saya karena kekuatan saya terbang dengan cepat. Dan saya bersujud selama 2 hari tanpa merasakan sakit, melainkan kekecewaan yang mendalam.”

William Miller sendiri masih menunggu hari kedatangan Jesus sampai ajal menjemputnya di tahun 1849.

Bagaimana dengan aliran Miller selanjutnya? Anda akan heran jika aliran William Miller ini adalah cikal-bakal aliran Kristen yang sampai sekarang jumlah pengikutnya cukup banyak. Kebetulan keluarga salah satu ipar saya adalah penganut aliran tersebut. Kalau pembaca tertarik untuk membaca kisahnya lebih lanjut, anda bisa mencari literatur sejarah mengenai agama Kristen Advent.

Kita tidak akan membahas bagaimana pengikut Miller melakukan resolusi dari the Great Disappointment. Buat EOWI, episode the Great Disappointment merupakan kejadian yang bisa diambil hikmahnya. Datangnya hari penghakiman tidak ada yang tahu kapan. Di dalam agama Islam, nabi Muhammad tidak pernah menyebutkan, saat (tanggal, bulan dan tahun) datangnya hari akhir itu. Namun demikian, menurut hadith (walaupun menurut kami, sebagian hadith itu tidak terlalu kuat), nabi memberikan tanda-tandanya. Secara umum bisa diartikan bahwa tanda-tanda itu adalah banyaknya manusia yang melakukan penyimpangan-penyimpangan dari hukum alam serta melakukan pengerusakan-pengerusakan, ketimpangan-ketimpangan yang melampaui batas. Hal ini memerlukan natural rebalancing. Mengetahui tanggal, bulan dan tahun, hari akhir itu menjadi tidak terlalu penting selama kita selalu siap dan punya strategi. Seperti Nuh yang sudah siap sedia dan punya strategi untuk menghadapi banjir.

Miller bukan satu-satunya yang gagal dalam meramalkan hari kehancuran. Belum lama, manusia sibuk dengan ramalan kehancuran pada tanggal 21 Desember 2012 yang berdasarkan sistem penanggalan suku Maya. Sekarang sudah tahun 2014. Hampir dua tahun telah berlalu dan kehidupan masih berjalan seperti sebelumnya. Oleh sebab itu jika ada yang meramalkan hari kiamat, jangan dipercaya. Termasuk juga ramalan-ramalan kiamat dari EOWI.


Hutang, Dosa dan Agama

Katanya, asal kata agama adalah dari bahasa Sanskerta, yaitu a = tidak dan gama = kacau. Dalam hal pengertian, kata tidak-kacau seakan condong pada nuansa kontrol terhadap masyarakat dan akhirnya menjurus kepada fasisme. Di dalam Islam kata yang digunakan berbeda. Kata deen (baca: diin, الدين) di dalam bahasa Arab yang sering dipadankan dengan kata agama. Kata deen bisa berarti hutang serta hal-hal yang menyangkut hutang dan kredit, bukan tidak kacau seperti pengetian agama dalam bahasa Sanskerta. Ternyata bukan saja Islam yang mengkaitkan agama dengan hutang. Kalau kita lihat doa Lord Prayer yang diajarkan Jesus, juga berbunyi: “....And forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors...”. Seakan dosa, pelanggaran diidentikan dengan hutang. Setidaknya dosa dikategorikan sebagai hutang. Saya sengaja mengutipnya dari terjemahan bahasa Inggris, bukan dari bahasa Indonesia. Karena di dalam bahasa Indonesia, kata debts dan debtors diterjemahkan sebagai dosa dan pelaku dosa, yang menurut kami agak kurang mendekati bahasa aslinya (Aramea dan/atau Yunani) atas dasar terjemahan bahasa Inggris tertua King James Bible menggunakan kata debts dan debtors, hutang dan penghutang bukan sins dan sinners.

Bagian ini akan kami akhiri dengan melihat sebuah doa yang diajarkan oleh nabi Muhammad yang ada kaitannya dengan hutang. Bunyi doa itu adalah:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)


Hari Perhitungan

Umat Islam setiap hari menyebut kata yauminddeen sebanyak minimal 17 kali. Kata yaumiddeen di dalam buku-buku panduan sholat sering diartikan sebagai hari pembalasan. Terjemahan hari pembalasan sebenarnya secara harfiah tidak tepat, karena yaum = hari, deen = hutang. Akan lebih tepat jika terjemahkan sebagai hari jatuh-temponya hutang. Lebih bisa difahami jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris yaitu the day of debt settlement.

Disamping yaumiddeen yang banyak disebutkan di Quran, ada beberapa kata lain yang juga menggunakan seperti kata yaumilakhir (hari akhir – Q 2:8, 62, 126, 177, Q: 60:6, dll), mungkin bisa diartikan juga hari jatuh tempo. Kemudian yaumulhisab (hari perhitungan, Q 38:16, 26, 53; Q 40:27), yaumilqiamah (hari kebangkitan, Q 2:85, 133, 174, 121; Q 3:55, 77, dan banyak lagi).  Kami berikan sebagian referensi ayat Qurannya agar pembaca bisa melakukan pengecekan sendiri. Disamping itu ada beberapa mana yang sedikit (atau hanya sekali) digunakan, seperti: yaumilaleem, (hari yang menyakitkan,  Q 11:26),  yaumidhadhim (hari yang besar Q 26:156, 189), keduanya dalam konteks penyiksaan.

Ada lagi yang cukup relevan dengan apa yang nanti akan diceritakan, yaitu yauminmuheet (hari yang mengurung, Q 11:84). Konteksnya adalah tentang orang yang mengurangi timbangan, berbuat curang dengan takaran, dimana pada hari itu ia akan terkurung oleh (catatan) perbuatannya sendiri. Kalau ditelusuri lebih jauh, seorang yang berbuat curang dalam takaran, sebenarnya dia berhutang kepada lawan dagangnya sebesar kecurangan yang dilakukannya. Baginya hari perhitungan adalah hari dimana semua catatan amal perbuatannya akan mengurungnya dan membuatnya tidak bisa melarikan diri.


Kreditisme, Dosaisme dan Cardinal Sin

Saya tidak tahu apakah menganalogikan kredit, hutang dengan dosa punya cukup relevansi. Dalam banyak hal mereka punya persamaan. Mereka punya jatuh tempo, hanya namanya saja di dalam bahasa Indonesia yang berbeda. Di dalam bahasa Inggris, sama yaitu the day of reckoning. Di dalam doa, hutang juga dianalogikan sebagai dosa. Terlepas dari itu semua, saya mau menganalogikan hutang, kredit dengan dosa.

Bagian ini akan dimulai dengan beberapa hikmah pelajaran, kutipan-kutipan ucapan yang menarik dari beberapa orang mengenai hutang, problem dan politikus serta dosa.

Yang pertama dari hadith mengenai penghutang yang isinya sebagai berikut:

Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali berlindung dari hutang.”

Maka beliau menjawab, “Jika seseorang telah berhutang, maka jika berbicara niscaya ia (bisa) berkata dusta dan jika berjanji niscaya ia bisa mengingkari.” (HR. Bukhari no. 832 dan Muslim no. 589)

“All governments are run by liars and nothing they say should be believed.”  (I. F. Stone journalis investigatif dan pengarang)

"There ain't no ticks like poly-ticks.  Bloodsuckers all." (Davy Crockett, pahlawan rakyat Amerika, serdadu dan pejelajah frontir)

"Politicians are, by nature, liars." (Dale Amon, blogger tidak terkenal)

"Government does not solve problems. It subsidizes them." (Ronald Reagan, presiden US)

Kutipan-kutipan di atas kalau dirangkaikan bisa membentuk kalimat: “Pemerintah yang notabene dijalankan oleh politikus, bukan bertujuan menyelesaikan masalah, melainkan mensubsidinya, yang biayanya diambil dengan jalan berhutang (dan pajak), selanjutnya menjadikan politikus parasit penghisap darah itu menjadi pembohong.”

Silahkan rangkaikan sendiri dan buktikan di lapangan. Misalnya Jokowi, katanya mau menyelesaikan masalah Jakarta,.....eeeh belum setahun jadi gubernur Jakarta, sudah mencalonkan diri jadi presiden. Kapan bisa membereskan Jakarta? Kalau mau mengabdi kepada masyarakat, tidak perlu jadi presiden atau gubernur, cukup jadi pekerja sosial dan philanthropist (tukang derma dan kerja sosial) seperti madam Teresa atau Mahatma Gandhi atau Albert Schweitzer. Pertanyaan serupa juga berlaku untuk Abu Rizal Bakri dan Prabowo. Sumbangkan kekayaannya untuk rakyat miskin, seperti Albert Schweitzer. Kami di EOWI percaya, bahwa janji mereka adalah bohong. Mereka ingin jadi presiden, bukan membantu rakyat supaya makmur.

Judul bagian ini menggunakan kata kreditisme dan dosaisme. Ini adalah kata yang baru diperkenalkan untuk merujuk kepada suatu paham, isme, yang mati dan hidupnya mengagungkan hutang. Nama itu memang tidak diperkenalkan oleh Nixon, tetapi, Nixonlah yang menyemainya dan membuatnya tumbuh.

Sejarah dimulai dengan Perang Dunia I, ketika itu emas adalah uang. Ketika perang usai, Amerika, US, menerima banyak emas/uang sebagai imbalan bantuan peralatan perang dan logistik kepada Inggris cs. melawan Jerman cs. Sejarah diputar lebih cepat ke akhir Perang Dunia II, pada episode perjanjian Bretton Woods, sebagai negara yang paling kaya, paling banyak punya emas, dimasa itu, mata uang US dijadikan mata uang untuk cadangan devisa dan digunakan untuk transaksi internasional sebagai pengganti emas. Dollar saat itu dipantek di emas dengan kurs $35 per oz emas.

Cadangan emas terbatas. Dan jumlah dollar yang bisa dicetak juga terbatas. Kalau pemerintah mau pinjam uang, dengan mengeluarkan surat hutang, bank sentral hanya bisa mencetak uang sebanyak cadangan emas yang dimilikinya. Defisit pembayaran suatu negara (baca: US) juga terbatas sampai cadangan emasnya susut dan habis. Hutang terbatas diperbolehkan, tetapi harus dibayar dalam waktu, maksimum 5 tahun. Politikus juga tidak bisa membelanjakan uang negara seenak udhelnya saja, sehingga defisit berkepanjangan. Karena hanya ada 2 cara untuk menutupi defisit belanja negara, yaitu menaikkan pajak (yang tentu akan menimbulkan pemberontakan) atau/dan hutang. Keduanya adalah perbuatan dosa. Kondisi seperti ini, maksudnya sistem keuangan berbasis emas, membuat politikus sukar berbuat banyak dosa (baca: hutang, defisit). Oleh sebab itu Nixon, yang waktu itu sedang giat-giatnya berbuat dosa, membunuhi orang-orang di Vietnam, menghamburkan uang pembayar pajak US, tidak suka. Defisit $56 juta membuat cadangan devisanya susut dan jumlah emas untuk mem-back-up cadangan devisanya hanya 22% saja. Dengan kata lain US dollar sangat overvalue terhadap emas. Dan dia menghapuskan secara sepihak perjanjian Bretton Woods 15 August 1971, dengan Executive Order 11615nya. Sejak saat itu dollar tidak dikaitkan lagi dengan emas, melainkan dengan surat-surat hutang, apakah surat hutang pemerintah atau surat hutang yang ada kaitannya subprime. Itulah cardinal sin, yang diperbuat Nixon yang merupakan pintu bagi dosa-dosa lainnya dalam skala global.

Hutang bagaikan dosa, selingkuh, narkoba, judi, menjadikan pelakunya ketagihan dan sulit melepaskan diri. Akan tetapi dosisnya harus ditambah terus untuk memperoleh effek yang sama. Sejak tahun 1972, pertumbuhan uang/kredit dalam skala global melesat dengan cepat. Rambu-rambu defisit sudah tidak ada lagi. Katanya, berupa pertanyaan: “Deficit, does it matter?


Chart - 1, Pasar hutang yang terus membengkak.


Skenario Hari Penghakiman

Dengan hutang, banyak yang bisa dibeli, kalau mau. Biasanya, hutang digunakan untuk membeli sesuatu, misalnya rumah, saham, emas dan perak, leverage di pasar modal, untuk ganti barang seperti mobil SUV, tv flat-screen, cell-phone, gadget untuk selfie, dan sederet lagi barang yang tidak terlalu penting atau tidak perlu diganti. Barang lama dibuang. Ekonomi marak. Cina sebagai negara pengekspor barang konsumen membangun banyak pabrik-pabrik untuk memasok permintaan yang melonjak (sementara sifatnya), dan membukukan surplus perdagangan. Dan negara-negara lain sebagai konsumen seperti US dan negara Eropa (kecuali Jerman), membukukan defisit dalam perdagangannya. Negara-negara yang memasok bahan baku seperti Indonesia, Canada, Australia mengalami boom karena naiknya harga bahan baku seperti timah, (bijih) besi, nickel, tembaga, minyak bumi dan sejenisnya.

Tadi disebutkan bahwa hutang akhirnya bisa dipakai untuk membeli asset seperti rumah, emas/perak dan saham. Selanjutnya asset-asset ini membengkak harganya mencapai rekor. Levelnya sampai patut dipertanyakan. Pada level harga rumah 30 kali dari sewa tahunannya, harga itu patut dipertanyakan. Bahkan besarnya GDP Cina yang di atas 7%  itu patut dipertanyakan kwalitasnya. Kalau memang pertumbuhan ekonomi Cina punya kwalitas, kenapa indeks saham Cina terus melorot sejak krisis sub-prime tahun 2008. Perusahaan-perusahaan Cina tidak membukukan keuntungan dan tidak punya pertumbuhan keuntungan seperti yang dicerminkan GDPnya. Patut dicurigai bahwa perusahaan-perusahaan Cina, hanya dari luarnya dan dari publikasinya saja mentereng. Di dalamnya tidak menjanjikan apa-apa di saat ini dan di masa depan.

Ada seorang yang dianggap pintar oleh kelompoknya. Namanya Ludwig von Mises. Dia punya pendapat:

"There is no means of avoiding the final collapse of a boom brought about by credit expansion. The alternative is only whether the crisis should come sooner as the result of a voluntary abandonment of further credit expansion, or later as a final and total catastrophe of the currency system involved."

Ekspansi hutang ada batasnya menurut Mises. Bank-bank sentral bisa menyediakan uang kepada bank-bank komersial. Tetapi kalau tidak ada yang mau ambil kredit, maka pesta belanja berakhir. Jika hura-hura belanja berhenti, segalanya kembali ke normal, mungkin sedikit mengencangkan ikat pinggang, apa yang akan terjadi? Kelebihan kapasitas menjadi tidak berguna. Sebagai negara yang dikendalikan oleh Pusat, negara bisa memerintahkan pabrik-pabrik BUMN untuk terus berproduksi menyemangati pabrik swasta untuk berjalan terus, agar supaya karyawannya tetap bekerja. Pada saatnya, ketika produk-produknya sudah bertumpuk, tidak ada jalan lain kecuali menghentikan produksi. Kemudian, hutang perusahaan akan bermasalah. Jika perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang rendah punya persoalan hutang, artinya buruk sekali.

Kondisi semacam itu bisa menjalar ke hutang konsumen. Yang ini agak kecil resikonya, karena porsi konsumsi di Cina, rendah terhadap GDPnya. Artinya kecenderungan menabung cukup tinggi. Setidaknya orang akan lebih berhati-hati dalam berspekulasi, dimana spekulasi yang sedang populer adalah di sektor properti. Artinya bubble properti bisa pecah.

Inilah tantangan Cina. Jika wilayah yang mempunyai ekonomi lebih dari 50% dari dunia, yaitu US, Uni Eropa dan Jepang sedang mengurangi konsumsinya, kemana Cina akan mengeksport barangnya?  Mungkin ke wilayah yang 50% lainnya? Jangankan untuk menambah tingkat konsumsinya, patut dipertanyakan apakah wilayah dunia yang 50% itu tidak kena imbas? Secara keseluruhan, di saat itu, setidaknya kelebihan kapasitas produksi di Cina akan terlihat nyata.

Kalau Cina punya problem, yang lain juga ditulari. Cina adalah pelahap 50% produksi logam di dunia, 12% produksi minyak di dunia, 54% produksi batubara dunia melakukan pengurangan produksinya, katakanlah 25% saja. Dampaknya akan mengenai negara-negara yang mengeksport bijih dan bahan-bahan tambang ini. Indonesia, Australia, Canada, dan negara-negara yang sudah Cina-Centris akan terkena dampaknya. Bubble property di negara-negara ini akan terkena juga.


Tanda-Tanda Datangnya Hari Perhitungan

Dulu tahun 1970an, waktu jamannya Suharto sebagai presiden Indonesia dan Jimmy Carter sebagai presiden Amerika, ada yang menyangka bahwa kiamat sudah dekat. Alasannya bahwa ada anak petani jadi presiden dan membangun gedung-gedung tinggi. Dan waktu itu juga sedang gencar-gencarnya histeria ledakan populasi (lebih intens dari histeria climate change dan global warming sekarang, sampai-sampai program KB sangat dipaksakan ke penduduk). Jadi wajar-wajar saja kalau orang percaya hari kiamat sudah dekat. Ketika Jim Jones seorang pengkhotah Amerika Serikat, beserta pengikutnya melakukan bunuh diri masal tahun 1978 di Jamestown Guyana, wajar-wajar saja kalau ada yang berpikir bahwa orang-orang itu bunuh diri karena menyongsong kiamat. Padahal sebenarnya karena sikap paranoia dari Jim Jones.

Melihat tanda-tanda hari perhitungan itu penting. Tetapi, terkadang-tanda-tanda itu muncul, tetapi hari yang ditunggu sampai bertahun-tahun bahkan berabad-abad tidak datang juga. Namun demikian, kalau tidak diamati dan tidak diceritakan, maka dunia ini menjadi sangat membosankan. Oleh sebab itu EOWI mau memonitor dan menceritakannya kepada pembaca.

Saat ini sudah ada 3 institusi keuangan (mutual fund, institusi investasi, reksadana) gagal bayar dalam tahun 2014 ini seperti yang pernah diceritakan di EOWI. Salah satunya adalah kasus Credit Equals Gold #1. 
(link)

Kemudian, nilai Yuan yang tiba-tiba melemah. Juga diceritakan dalam posting yang sama. Ekspor Cina melemah cukup drastis karena kekurangan permintaan dari negara lain atas barang Cina. Disusul dengan impor bahan baku yang melemah drastis karena aktivitas produksi melemah di Cina. Berita ini tidak akan memicu hari penghakiman jika hanya sejumlah kecil investor/reksadana keluar dari pasar. Tetapi jika keluarnya beberapa reksadana diikuti oleh yang lain dalam jumlah yang agak besar, bisa menimbulkan panik, seperti kasus sub-prime 2008. Bayangkan disebuah gedung bioskop yang berkapasitas 1000 orang. Jika ada 5-10 orang keluar bersama-sama dengan tenang, mungkin tidak terjadi apa-apa. Tetapi jika ada 20 orang berlari keluar, sambil berteriak-teriak “api!!!”, niscaya pintu gedung bioskop menjadi sesak, orang keluar berhimpitan. Seperti kasus krisis sub-prime, misalnya, pemicunya hanyalah kebangkrutan Lehman Brother yang notabene sebuah perusahaan dengan kapitalisasi pasar $60 milyar pada bulan Februari 2007, kurang lebih setahun sebelum dinyatakan bangkrut. Ukuran ini tidak ada apa-apanya dibandingkan JP Morgan, perusahaan sejenis lainnya dengan kapitalisasi pasar waktu itu $ 190 milyar.

Dengan computer-trading atau high-frequency trading atau algorithmic trading, pintu keluar akan sesak jika terjadi panik di pasar modal. Belum lagi trader yang memakai leverage, cenderung untuk memperparah keadaan. Mungkin 3 gagal bayar ini hanya sebagai prelude saja. Mungkin juga bukan.

Di samping Cina, pasar modal di US juga telah menunjukkan gejala topping (Chart-2 untuk indeks Dow Industrial). Betuk pola corrective megaphone a-b-c-d-e indeks DJIA akan mengakhiri wave-d naik disekitar 17,000-18,000 dan mulai wave-e turun. Target wave-e adalah antara 5,000 – 6,000. Ada beberapa analis mengatakan bahwa koreksi berikutnya bisa mencapai 3,500. Entah lah.....


Chart - 2


Terkadang kita hanya melihat yang jelas-jelas nampak, seperti Cina atau US atau Uni Eropa sebagai pemicu pertama. Bisa saja yang lain. Seperti krisis Ukraina, misalnya. Walaupun tidak akan ada yang menganggap krisis Ukraina bisa menyebar kemana-mana dan menimbulkan krisis ekonomi dunia. Russia mulai meminta Euro sebagai pengganti US dollar untuk pembayaran gasnya kepada partner dagangnya seperti Cina, Jepang, Korea. Siapa tahu hal seperti ini bisa memicu krisis? EOWI sendiri tidak percaya, tetapi siapa tahu?

Beberapa hari ini, bursa saham dunia menjadi cukup volatile. Pergerakan indeks Dow Industrial, Nikkei mencapai 3 digit. Apakah ini perupakan prelude atau tanda-tanda awal dari crash, hari perhitungan? Entahlah.

Atau ada bank Eropa yang bangkrut karena banyak memegang surat obligasi Ukraina? Atau, kalau ada nanti bank Eropa yang dibangkrutkan menjadi pemicu hari perhitungan. Saat ini bank-bank Eropa kondisi neracanya tidak bagus (baca: negatif) karena kebanyakan pegang derivatif finansial (lihat chart di bawah) – asset dengan leverage tinggi, 30 – 40 kali. Ini bisa jadi pemicu terkadinya krisis.


Chart - 3


Masih banyak lagi yang perlu diwaspadai dan perlu dimonitor. Kalau mau dibikin listnya akan panjang. Terlepas dari itu semua, EOWI tidak perduli dan akan membuat ramalan bahwa krisis finansial akan dimulai tahun 2014 ini. Ini adalah ramalan yang berani....., karena sepertinya EOWI tidak pernah belajar dari kasus William Miller. Tetapi bagi jeli, akan berkomentar: “Mas IS ini pinter ngakali orang. ‘Kan krisis sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2011. Selama ini hanya memperbesar momentum saja. Jika momentumnya sudah sudah massa/bobot yang cukup maka hari kepanikan akan dengan sendirinya tiba.”.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa:

Jam yang mati (rusak) akan menunjukkan waktu yang benar sebanyak 2 kali sehari. 

Pepatah itu adalah ucapan sinis yang ditujukan untuk orang-orang yang suka membuat ramalan. Maksudnya, peramal yang sangat burukpun, suatu saat ramalannya akan benar karena suatu kebetulan. Menanggapi pernyataan sinis ini, EOWI juga tidak mau kalah sinis:

Jam yang mati (rusak) akan menunjukkan waktu yang benar sebanyak 2 kali sehari. Peramal yang buruk suatu saat akan benar, karena kebetulan, bukan karena hebatnya ramalannya............, kecuali William Miller......., ha ha ha ha ha ha..... 

Sekian dulu, jaga kesehatan anda, tabungan anda, investasi dan hasil jerih payah anda baik-baik.



Bintuni 11 April 2014
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

6 comments:

keris raja said...

imam semar yth, sy mau tanya kapan sistem moneter ini akan kolaps??

keris raja said...

mantap

Ms Shamrocks said...

I love the article. witty!!!!

Imam Semar said...

Keris Raja,

Saat ini stock market sedang dalam proses "topping". Saya perkirakan koreksi besar akan terjadi antara tahun ini sampai tahun 2016.

Moga-moga saya tidak seperti William Miller.

Ha ha ha ha ha ha.....

Musafir said...

Pantas saja persoalan hutang piutang menjadi sorotan penting di dalam al-Qur'an, bisa dilihat dalam QS 2:282, bagaimana hutang itu perlu dituliskan dengan jelas perihal, pelaku dan saksi-saksi. Ayat ini pula menjadi ayat paling panjang di dalam al-Qur'an...

Iman Adipurnama said...


Pantas saja persoalan hutang piutang menjadi sorotan penting di dalam al-Qur'an, bisa dilihat dalam QS 2:282, bagaimana hutang itu perlu dituliskan dengan jelas perihal, pelaku dan saksi-saksi. Ayat ini pula menjadi ayat paling panjang di dalam al-Qur'an...

Salam kenal sebelumnya,