___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, March 13, 2011

(No.10) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)




Klasifikasi Uang Versi Akademisi

Klasifikasi yang sudah kita lakukan adalah sesuai dengan kenyataan. Uang yang terbuat dari emas dan perak disebut uang sejati karena di samping sebagai alat pembayaran yang bisa diterima sepanjang masa juga sebagai wahana untuk menjaga nilai kekayaan. Kemudian uang fiat politikus, karena untuk menjadi alat pembayaran harus digunakan undang-undang dimana hanya politikus dan birokrat saja yang bisa menetapkannya. Dan yang terakhir disebut uang illusi, karena memang tidak ada wujud riilnya yang bisa dipegang dan diraba.

Para akademisi juga membuat klasifikasi uang. Mereka menyebutnya MB, M0, M1, M2 dan M3. Huruf M adalah singkatan dari kata Money, dari bahasa Inggris artinya “uang”. Dari keempat jenis uang ini, tidak ada satupun yang mewakili uang sejati. Karena sekarang ini adalah jaman modern dan uang sejati adalah relik masa lalu (yang oleh masyarakat masih bisa diterima dan dicintai dimasa krisis saja). Munculnya klasifikasi ini karena pada jaman modern ini hampir semua sistem ekonomi diatur oleh pemerintah. Pembagian ini dasarnya adalah seberapa jauh dan effektif peraturan pemerintah bisa menjangkaunya. Jadi jelas bahwa kenapa uang sejati disebut relik dari masa lampau dan tidak termasuk di dalam empat jenis uang MB, M0, M1. M2 dan M3. Karena uang sejati tidak perlu diatur oleh pemerintah.

MB atau Monetary Base, terdiri dari koin, uang kertas cadangan bank komersial dan uang yang tersimpan di gudang bank sentral. Dengan kata lain MB adalah semua uang fisik (kertas dan koin) yang beredar di ekonomi negara yang bersangkutan dan yang tersimpan di gudang bank sentral.

M0 atau uang yang dalam pengertian sempit (Inggris: Narrow measures) adalah uang yang secara langsung dipengaruhi oleh peraturan moneter pemerintah. Sedangkan yang paling luas adalah M3, memasukkan unsur-unsur lain. Di Amerika Serikat definisi tersebut adalah:

M0: meliputi seluruh uang koin dan uang kertas yang beredar.

M1: M0 + uang yang tercatat dalam rekening giro yang versi modern nya berupa catatan elektronik.

M2: M1 + uang yang tercatat dalam rekening tabungan, dan sertifikat deposito pribadi yang jumlahnya relatif kecil, di rekening pasar uang, dan di reksadana pasar uang.

M3: M2 + sertifikat deposito besar, rekening pasar uang dan reksadana pasar uang yang dimiliki institusi; perjanjian pembelian kembali surat hutang dan deposito mata uang asing; uang di rekening bank luar negri.

Wikipedia mempunyai cara yang bagus untuk menggambarkan arti M0, M1, M2 dan M3. Berikut ini adalah saduran bebas dari Wikipedia:

M0
• Sarimin mempunyai dua belas uang pecahan Rp 100.000 yang mewakili M0 sebesar Rp 1.200.000 di negara Amarta. Sekarang distribusi uang adalah MB = Rp 1.200.000; M0 = Rp 1.200.000, M1 = Rp 1.200.000; M2 = Rp 1.200.000.

• Sarimin kemudian memakai 1 lembar pecahan Rp 100.000 untuk dibakar sebagai rokok. Maka distribusi uang adalah Sekarang distribusi uang adalah MB = Rp 1.100.000; M0 = Rp 1.100.000; M1 = Rp 1.100.000; M2 = Rp 1.100.000.

M1
• Sarimin kemudian memasukkan sembilan lembar uangnya ke rekening gironya di bank. Maka sebagian (Rp 900.000) dari M0 masuk ke kas bank, sedangkan M1 sampai M3 tetap. Sekarang distribusi uang M adalah MB = Rp 1.100.000; M0 = Rp 200.000; M1 = Rp 1.100.000; M2 = Rp 1.100.000; M3 = Rp 1.100.000.

• Kemudian oleh bank uang deposit yang Rp 900.000 itu dimutarkan dengan memberikan kredit kepada pengusaha. Menurut peraturan FRB (Fractional Reserves Banking), bank boleh menyisakan hanya 10% saja sebagai cadangan sesuai dengan peraturan. Sehingga Rp 810.000 boleh dipinjamkan. Oleh bank ini dianggap sebagai cadangan yang siap dipinjamkan. Artinya terjadi penciptaan uang M1 sebesar Rp 810.000 dari deposit di rekening giro sebesar Rp 900.000 itu. Sekarang distribusi uang M adalah MB = Rp 1.100.000; M0 = Rp 200.000; M1 = Rp 1.910.000; M2 = Rp 1.910.000; M3 = Rp 1.910.000.

• Bank meminjamkan Rp 810.000 dari simpanan Sarimin kepada Poniman. Dan Poniman memasukkannya ke rekening gironya di bank lain. Dengan demikian bank Poniman ini punya Rp 729.000 uang yang boleh dipinjamkan lagi (M1). Dan M1 mulai mekar menjadi Rp 2.439.000. Selanjutnya posisi menjadi MB = Rp 1.100.000; M0 = Rp 200.000; M1 = Rp 2.639.000; M2 = Rp 2.639.000; M3 = Rp 2.639.000.

• Selanjutnya bank Poniman akan meminjamkan uang nasabah yang ada padanya sebanyak yang diatur oleh peraturan FRB, 10% ditahan sebagai cadangan dan 90% boleh dipinjamkan lagi. Pada puncak FRB dengan kewajiban cadangan 10%, Rp 900.000 itu akan menghasilkan Rp 8.100.000 kredit. Oleh sebab itu uang yang tercatat di rekening bank menjadi Rp 9.000.000. Dengan demikian, MB = 1.100.000; M0 = 200.000; M1 = Rp 9.200.000; M2 = 9.200.000; M3 = Rp 9.200.000


M2
• Sarimin kemudian menulis cek sebesar Rp 1000.000 dan membawanya ke bank dan membuka rekening pasar uang (bukan pasar modal). Dengan demikian M1 turun Rp 1000.000, karena dari cek itu uang di rekening tabungan Sarimin dipindahkan ke rekening pasar uang yang kontrol pemerintah lebih jauh. Akan tetapi jumlah M2 tetap, karena M2 mencakup pasar uang. MB = Rp 900.000; M0 = Rp 200.000; M1 = Rp 8.200.000; M2 = Rp 9.200.000; M3 = Rp 9.200.000.


M3
• Sarimin membuka rekening giro rupiah di Singapura (misalnya ada) yang tidak terjangkau oleh peraturan Indonesia, dan mentransfer Rp 500.000 dari rekening gironya di Indonesia, maka M1 dan M2 akan turun sebesar Rp 500.000, tetapi M3 tetap. MB = Rp 900.000; M0 = Rp 200.000; M1 = Rp 7.500.000; M2 = Rp 8.500.000; M3 = 9.000.000.

Cerita M3 menjadi semakin kompleks untuk dijelaskan di dalam cerita dongeng ini, karena cerita dongeng ini ditulis untuk orang awam. Pada dasarnya sifat-sifat kredit dan perpanjangan kredit ada di dalam komponen M3.

Catatan:
Bank sentral US, sejak tanggal 23 Maret 2006, tidak lagi melaporkan M3. Tetapi beberapa individu masih melakukan penghitungan M3 dan tersedia untuk umum.

Sepengetahuan saya, Bank Indonesia tidak pernah melaporkan M3.

Klasifikasi berdasarkan jangkauan kekuasaan pemerintah semacam ini sangatlah menarik. Karena seakan mengatakan bahwa sesungguhnya pemerintah berambisi sekali untuk menguasai penciptaan dan peredaran uang. Itu bisa dimengerti karena politikus orientasinya adalah kekuasaan dan uang adalah kekuasaan.




[1] Money Supply, Wikipedia online Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Money_supply



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

2 comments:

gareng said...

Pak IS, tulisan menarik mengenai Mx, menurut pak IS berapa perbandingan uang kartal yang dicetak BI dan uang ilusi hasil FRB ini. apakah sudah melwati angka 1: 10?
Pada waktu krisis 1997 sebelum krisis kalau tidak salah pernah disebutkan 1:7

Saya pernah membaca artikel menkeu mengenai usaha menggerakkan kredit, dan saya baru ngeh setelah membaca tulisan ini.

Selena Mea said...

hallo, selamat sore. boleh saya bertanya, mengenai jumlah uang beredar.
mengapa The Fed dalam menghtiung jumlah beredar tidak lagi menggunakan perhitungan M3? dan mengapa itu bisa terjadi?
kenapa Indonesia juga tidak menggunakan M3 dalam menghitung jumlah uang beredar?