___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, November 25, 2007

MONITORING KRISIS EKONOMI - XII

(Minggu ke IV, November 2007)

CINA DALAM SOROTAN

Topik Kali Ini
NAGA RAKUS ATAU ELANG BONDOL RAKUS?
NAGA YANG MAKMUR?
REVIEW PASAR SAHAM
DALAM NEGRI: KOMENTAR ATAS ISI KORAN


NAGA RAKUS ATAU ELANG BONDOL RAKUS?
Pada bulan puasa Ramadhan beberapa waktu lalu saya ke Cina, dari Beijing ke Hohhot, Baotou di Inner Mongolia (lihat peta, Gambar-1) tempatnya daerah pertambangan berbagai mineral serta tempat asal Gengis Khan. Walaupun perjalanan ini bersifat cari angin dan tidak ada kaitannya dengan investasi, tetapi banyak informasi yang berkaitan dengan investasi dan ekonomi yang bisa didapat dalam perjalanan ini. Selain itu saya baru tahu bahwa orang Cina utara dan yang agak be barat jauh lebih cantik dari pada Cina keturunan di Indonesia yang kebanyakan dari selatan.


Gambar 1

Cina mengalami transformasi yang spektakular dalam beberapa dekade ini. Kalau kita pergi ke Beijing 15-20 tahun lalu, maka jalan raya banyak dipenuhi sepeda. Paling tidak gambaran itu merupakan sterio-type dari Cina. Sekarang pemandangan kemacetan jalan dimana-mana. Mobil Audi, Mercides, WV dimana-mana. Pertumbuhan di atas 10% selama bertahun-tahun bukan omong kosong. Pertanyaannya apakah Cina mengalami bubble? Dan kalau memang mengalami bubble, pertanyaannya lagi ialah: seberapa besar? Kalau meletus, bagaimana dampaknya terhadap perekonomian dunia?

Untuk menjawab pertanyaan itu semua, kita bisa lihat statistik konsumsi, produksi dan juga pertumbuhannya. GDP Cina kira-kira 4% dari GDP dunia. Perhatikan baik-baik angka 4% ini. Sebab angka ini didominasi oleh konsumsi dan merupakan acuan yang akan kita bandingkan dengan angka “konsumsi” lainnya.

Cina mengkonsumsi 9% produksi minyak mentah dunia. Bandingkan US dengan GDP 20% dunia mengkonsumsi 20% produksi minyak dunia. Indonesia dengan GDP 0.4% dunia, konsumsi minyaknya 1.5% produksi dunia sedang GDPnya 0.4% dunia. Pola konsumsi minyak China adalah typikal pola konsumsi negara yang mengandalkan eksport. Di negara maju seperti US dan Jerman, konsumsi minyaknya sebanding dengan GDPnya (lihat Tabel-1 di bawah).


Cina juga dikenal sebagai negara yang lapar dan rakus mengkonsumsi bahan komoditi, sehingga bahan komoditi melonjak harganya. Kita lihat. Cina mengkonsumsi 20% produksi aluminum dunia, 30%-35% besi, bijih besi dan batu bara, serta 45% dari produksi semen dunia. Khusus mengenai batu-bara, saya melihat sendiri, sepanjang perjalanan bus dari Bautou ke Hohhot, berkuda dan ber-onta di sekitar gurun Gobi, sering dijumpai iring-iringan truk besar mengangkut batu-bara. Jadi kalau dilihat konsumsi bahan-bahan ini seakan 4-10 kali dibandingkan GDP. Jangan heran kalau pertumbuhan GDPnya selama beberapa dekade ini selalu di atas 10%. Konsumsi bahan-bahan ini, kecuali semen, bukan untuk konsumsi sendiri, melainkan untuk eksport. Pertumbuhan industri di Cina mencapai 23%. Indonesia yang hanya 2.6% kelihatan kerdil. Jangan dibandingkan dengan US yang sudah tidak bisa tumbuh lagi industrinya terutama manufakturing.

Pertumbuhan industri Cina yang demikian pesatnya sebenarnya lebih banyak untuk eksport bukan untuk konsumsi dalam negri. Dalam persentase GDP, eksport Cina kurang lebih sama dengan Indonesia, yaitu sedikit kurang dari 40% dari GDP. Walaupun industri kedua mempunyai persamaan yaitu untuk eksport, tetapi ada perbedaan yang mendasar dari apa yang dieksport kedua negara ini. Cina mengeksport barang jadi, sedangkan Indonesia mengeksport bahan mentah. Cina memberikan nilai tambah atas bahan-bahan yang diimportnya dan menciptakan banyak lapangan kerja. Sedang Indonesia hanya menjual barang yang dihasilkan dari dalam buminya, dan menciptakan sedikit lapangan kerja (rata-rata industri pertambangan adalah capital intensive). Itu perbedaan yang mendasar.

Data Statistik Cina (2006)
GDP per kapita:: $ 2100
GDP – Kemampuan daya beli: $7,800 per kapita
Populasi: 1,322 juta
Pertumbuhan Industri: 22.9%
Eksport: $ 1 triliun (38% GDP)
Neraca Berjalan: $249.9 billion (9% GDP)
Public debt: 22.1% of GDP
Debt - external: $315 billion
Exports - partners: US 21%, Hong Kong 16%, Jepang 9.5%, Korea Selatan 4.6%, Jerman 4.2% (2006)

Data Statistik Indonesia (2006)
GDP per kapita: $ 1,200
GDP – Kemampuan daya beli: $3,900 per kapita
Populasi: 234,693,997
Pertumbuhan Industri: 2.6%
Eksport:: $102.7 milyar (37% GDP)
Neraca Berjalan: $9.686 billion (35% GDP)
Public debt: 38.6% of GDP
Debt - external: $130.2 billion

Eksport barang-barang jadi/manufakturing merupakan sasaran utama ekonomi Cina terlihat dengan besarnya produksi listrik Cina yang mencapai sekitar 280 ribu MW (250 juta kWh per tahun, tahun 2006) dan tumbuh hampir 20% pertahunnya. Kapasitas terpasang pembangkit listriknya mencapai 600 ribu MW. Produksi listrik Indonesia nampak kerdil dibandingkan Cina. Saat ini Indonesia hanya memproduksi 15,000 MW dan akan dinaikkan menjadi 21,000 MW ditahun 2025. Kapasitas yang dibangun per tahunnya di Cina adalah tiga kali kapasitas di Indonesia. Besarnya konsumsi listrik ini terutama untuk industri.

Kita akan terlusuri kemana larinya barang-barang Cina ini. Yang pasti 21% ke US, 16% ke Hong Kong, 9% ke Jepang dan 4.6% ke Korea Selatan. Hong Kong bukan untuk di konsumsi sendiri. Negara bagian Cina yang kecil itu tidak akan bisa menelan eksport dari Cina. Jadi larinya adalah eksport lagi. Kemana? Sebagian besar ke US. Bagaimana dengan Jepang. Idem ditto. Eksport Jepang ke US 22.8% dari total eksport Jepang. Korea Selatan, sama juga. Akhirnya patut diduga bahwa ada porsi yang cukup besar dari bahan-bahan komoditi yang dibeli Cina bermuara ke US. Naga yang mengambil, elang bondol yang memakan. Bagaimana seandainya kalau elang bondong sudah sakit perut kena limbah subprime? Sang Naga belum bisa makan secara rakus.

NAGA YANG MAKMUR?
Kalau kita perhatikan orang-orang di jalan-jalan Beijing dan dibandingkan dengan di Jakarta, terdapat perbedaan yang menyolok. Di jalan-jalan Beijing, Bautou, Tian Jin atau Hohhot, pada siang hari tidak nampak orang yang menganggur, kalau ada orang, selalu ada yang dikerjakan. Hampir tidak nampak orang yang kongkow-kongkow menonton orang yang lalu lalang seperti menjadi pemandangan lumrah di setiap sudut Jakarta, jalan Thamrin, Sudirman atau Gatot Subroto. Orang bisa dibilang rajin. Mereka (orang-orang di Beijing dan kota-kota besar lainnya) baru nampak santai dan menikmati hidupnya setelah sore hari.

Saya katakan orang Cina rajin karena, misalnya dalam kasus onta dan kuda. Ketika saya menunggang onta di Gurun Gobi, awalnya saya enggan karena pengalaman di Arab, bahwa onta selalu bau pesing. Ketika di Gurun Gobi, onta-onta yang disewakan sama sekali tidak bau. Tentu saja hal yang demikian karena onta-onta tersebut sering dibersihkan dan kandangnya selalu bersih. Juga ketika di pasar malam kagetan Donghuamen di dekat Wangfujing di Beijing, yang menjual makanan exotic seperti kalajengking goreng, ulat goreng, belalang goreng dsb. Setelah para pedagang jajanan kaki lima selesai berjualan, mereka bersama-sama membersihkan jalan raya dan trotoar dengan detergen sehingga bersih sekali. Bandingkan dengan pedagang kaki-lima di Jakarta. Jorok.


Gambar 2: Naik Onta Gurun Gobi



Gambar 3: Pasar Kaget Wangfujing yang bersih

Saya sulit membandingkan mana yang lebih makmur antara Cina dan Indonesia dalam kaitannya dengan konsumsi. Mungkin karena yang saya lihat adalah middle class nya. Kemungkinan besar, presentase middle dan upper class Cina lebih banyak dari Indonesia. Harga makanan di Beijing lebih murah dari di Jakarta. Saya makan berlima di sebuah restoran sederhana di dekat hotel Novotel Beijing, sampai bersisa banyak yang kemudian dibawa pulang ke Hotel untuk sahur, hanya menghabiskan 150 Yuan (Rp 150 ribu). Saya tidak yakin anda akan memperoleh makanan dengan kwalitas dan jumlah yang sama di Ayam Suharti atau Mbok Berek.

Di bidang turisme, Kota Terlarang, Kuil Langit, Istana Musim Panas, Tembok Besar, Lapangan Tianamen dan tempat-tempat turis lainnya selalu penuh dikunjungi turis lokal. Lalu lintas Beijing selalu padat dan macet. Bahkan, katanya, Shanghai melarang mobil kecil untuk memasuki kota.


Gambar 4: Mongolian Horseman

Kemungkinan konsumsi Cina tidak diarahkan ke makanan atau pakaian. Mobil dan barang-barang elektronik, turisme lokal bisa menjadi muara konsumsi Cina. Tetapi mungkin tidak seberapa atau tidak merata. Di daerah Inner Mongolia, seperti Bautou atau Hohhot, keadaan tidak sekonsumtif di Beijing. Nampaknya arah konsumsi Cina tersalur ke properti dan saham. Properti di kota-kota besar dan saham yang dalam beberapa waktu ini naik dan sudah mencapai taraf bubble.

Penerbangan domestik nampak sibuk. Bandara Bautou yang besar itu nampak disesaki para calon penumpang. Saya pikir, bandara Adi Sucipto, Yogya, baik ukuran ataupun kapasitas menampung pemakai jasa penerbangan udara, tidak ada apa-apanya dibanding bandara Bautou. Bayangkan kota Bautou yang tidak dikenal di Indonesia itu, ternyata bandaranya sangat sibuk dipenuhi pemakai jasa penerbangan. Bisnis bergerak.


Gambar 5: Suasana di salah satu ruang tunggu (gate) di Terminal Bandara Bautou yang sibuk.

Secara singkat saya bisa menyimpulkan suatu teori bahwa Cina adalah mesin produksi dengan buruh-buruh yang rajin. Konsumsi Cina terbatas di kota-kota besar, dimana orang mulai menikmati hidup. Selebihnya hasil keringat mereka lari ke tabungan, properti dan saham. Pasar produk orang-orang Cina ini larinya ke US. Oleh sebab sebab itu jika konsumsi di US melambat, pabrik-pabrik di Cina juga berhenti (melambat). Jika pabrik-pabrik di Cina maka permintaan bahan komoditas juga turun.

Pada perjalanan pulang tour dari Kuil Langit (Temple of Heaven) teman saya mengambil foto sebuah toko di depan pintu keluar timur Kuil Langit. Kami akan kembali kesana 3-4 tahun lagi dan mengecheck apakah toko itu masih ada atau tidak dalam 3-4 tahun nanti. Kami bertaruh bahwa ekonomi Cina akan crash landing.


REVIEW PASAR SAHAM
Para penganut teori Dow Jones minggu lalu mengatakan bahwa tren utama (primary trend) pasar modal di US resmi memasuki fase Bear, yaitu sejak tanggal 21 November 2007 ketika Indeks Dow Industrial ditutup di 12799 bawah level penutupan terrendah di bulan Agustus 2007 lalu di 12845.8 (lihat Chart-1). Sebelumnya para penganut teori Dow ini mewanti-wanti adanya “non confirmation” ketika indeks Dow Transportation tidak ikut rally bersama Dow Industrial. Dengan kata lain, para penganut mazhab teori Dow Jones, akan mengharapkan “low” berikutnya akan lebih rendah dari 12799, sampai tren utama yang bearish ini berubah.

Chart 1

Perdagangan di hari Jumat 23 Nov 2007 pasar mengalami rebounce dengan volume tipis. Saya akan sangat berhati-hati dengan hal ini. Ada kemungkinan pasar akan rebounce karena hari sales nasional (Black Friday) di US Jumat lalu tanggal 23 November 2007 setelah Thanks Giving Day, nampak ramai dimeriahkan oleh para pembeli yang menyerbu toko-toko. Ada kemungkian juga pasar saham kembali mendapat tekanan jual dan mengabaikan “sukses” nya hari sales nasional US. Saya akan gunakan masa sekarang sampai akhir tahun untuk membuang posisi short karena pasar sudah cukup bearish (lihat Chart-2) dan mulai mengumpulkan saham-saham emas yang mungkin akan mengakhiri koreksi jangka pendeknya. Investor yang bullish sudah mendekati level pada bulan Agustus 2007 lalu. Ada baiknya memasang kuda-kuda jurus kontrarian.


Chart 2

DALAM NEGRI: KOMENTAR ATAS ISI KORAN
Minggu lalu saya membaca analisa ekonomi oleh Faisal Basri di koran Kompas. Entah kenapa saya tergerak untuk memberi komentar. Mungkin karena hari itu ada supir taksi yang salah sangka, saya dikira Faisal Basri. Jadi ada semacam ego yang terusik. Imam Semar tidak sama dengan Faisal Basri.

Kompas, Senin, 19 November 2007 berjudul ANALISIS EKONOMI - Masalah Ada di Internal Pemerintah.

Faisal Basri: Surat Utang Negara dan saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta segera kembali diburu oleh investor asing ataupun domestik.

Komentar Imam Semar: Untuk asing, tidak akan ikut memburu. Dunia akan resesi dan Yen carry trade nampak akan pulang kandang. Bahkan rupiahpun akan melorot. Apalagi kalau limbah subprime masuk ke Indonesia ikut merebak. Level Rp 10,000 – Rp 11,000 per US$ nampak tidak jauh dari sekarang. Kasihan investor lokal retail, orang awam dan ibu-ibu rumah tangga selalu masuk pada akhir mania.

Faisal Basri: Aliran masuk investasi portofolio tersebut, dan ditambah dengan peningkatan nilai ekspor sejumlah komoditas primer yang harganya melambung, membuat cadangan devisa meningkat cukup tajam. Pada minggu kedua November ini, cadangan devisa sudah menembus 55 miliar dollar Amerika Serikat.

Komentar Imam Semar: angka $ 55 milyar dollar uang sejati (68.75 juta oz emas) adalah di bawah angka 4 tahun lalu ($ 28 milyar atau 78 juta oz emas). Riil asset seperti barang komoditas kok ditukar dengan uang kertas. Dan....., lihat saja nanti BI bisa keteteran pada waktu carry trader hengkang dan ekonomi stagflasi 3 tahun ke depan. Kita akan bahas lain kali.

Faisal Basri: Kalau masalah yang membelit dirinya saja pemerintah masih tertatih-tatih, jangan banyak berharap pemerintah piawai menyelesaikan masalah rakyatnya.

Komentar Imam Semar: Memangnya orang-orang di pemerintahan punya niat menyelesaikan masalah rakyat? Mereka lebih suka main main dengan kekuasaannya.

Masalah gugatan masyarakat Pondok Indah memperoleh perlawanan dari pemerintah dengan jurus ala komunis. Di beberapa pojok dan simpang jalan muncul spanduk yang berbunyi: “Anda boleh naik Mercy, kami butuh busway”. Issu komunis dan pertentangan kelas. Saya tidak yakin ini adalah aspirasi “rakyat kecil”, karena selain pengguna mercy, masih ada pengguna jasa dan penyedia jasa (sopir dan kenet) metro mini, bus biasa, angkot dan motor. Motor, Metro Mini, Bus biasa, dan angkot juga terganggu dengan adanya busway. Jadi yang memasang spanduk itu adalah pemerintah. Orang yang waras dan waspada tidak begitu saja percaya isi spanduk seperti itu. Biaya membuat spanduk semacam itupun mahal dan perlu koordinasi. Siapa lagi kalau bukan pemerintah.

Cara-cara Triad dan Yakuza tidak haram bagi Nazi SS, atau CIA atau penguasa umumnya. Ingat ketika Bush mengatakan: “You are with us or against us” sebagai usaha untuk mengintimidasi opini yang berbeda tentang invasi Iraq. Atau label “komunis” oleh Orde Baru atau “tidak revolusioner” oleh Orde Lama Sukarno terhadap opini yang berbeda dengan pemerintah. Warga Pondok indah diancam keamanannya diganggu, melalui pemaksaan pembongkaran portal-portal yang menjadi hambatan/deterrent bagi penjahat yang mau beroperasi di Pondok Indah atau perumahan sejenisnya. Portal bagi warga Pondok Indah adalah pagar keamanan yang yang seharusnya menjadi tugas polisi. Polisi dalam hal ini gagal memberi jasa keamanan (atau jasa apa saja yang seharusnya mereka berikan). Dan Satpam serta portal terpaksa dibangun untuk mengisi tugas polisi yang gagal. Kalau portal di bongkar oleh pemerintah, sama saja pemerintah mempersilahkan penjahat untuk menjarah rumah di Pondok Indah.

Saya yakin tidak ada gunanya kalau warga Pondok Indah membuat spanduk tandingan yang berbunyi: “Anda boleh naik busway, kami perlu jalannya untuk Metro Mini, angkot, bajaj, taksi, motor, bus biasa, dan mobil pribadi/dinas/kantor. Kami juga punya hak yang sama”. Karena politikus terlalu arogan. Oleh sebab itu saya mengajak untuk melakukan Gerakan Kursi Kosong. Dalam pemilihan umum, pusat, daerah atau apa saja, dengan sengaja kartu suara dibikin tidak berlaku (pilih semua, misalnya). Ini bukan “Golput”, tetapi yang kita kehendaki adalah pengosongan posisi yang selalu disalah gunakan. Kita tidak perlu politikus yang secara alamiah pembohong. Ajarkan ide ini kepada rekan dan kenalan anda. Saya yakin banyak yang sudah muak dengan para politikus. Dan tunjukkan kita tidak butuh mereka.

Sampai disini untuk minggu ini. Jaga kesehatan anda, tabungan dan investasi anda baik-baik. Semoga anda sukses.

Jakarta 25 November 2007.
Sekiranya tulisan di atas dan tulisan sebelumnya cukup menstimulir intelektual anda, ceritakan situs ini kepada rekan, teman dan saudara anda supaya mereka juga terstimulir intelektualnya.

1 comment:

Giyanto said...

Mas You Keren, Umurnya berapa to?he2...
pasti teman anda sedikit di pemerintahan,ha2!!!
Kalo ngomongnya begitu siapa yang mau ngobrol. Pasti mereka menganggap Mas Imam 'gila'...
Tapi bukankah sekarang yang gila itu jamannya jadi kebanyakan orang itu gila.
Yang waras sedikit, jadi sekarang orang waras dianggap "gila" oleh orang yang sebenarnya gila beneran!!!