___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Thursday, May 24, 2018

Teroris (Bagian II): Semangat (Kepahlawanan) Yang Dipupuk Sejak Kecil

Apakah pemerintah benar-benar panik atau memang bagian dari skenario, setelah serangan terhadap gereja di Surabaya, tiba-tiba saja muncul serangan-serangan lainnya, di Polrestabes Surabaya dan di Polda Riau. Yang di Riau sepertinya sangat amatir, yaitu dengan senjata tajam. Ini bukan aksi terror bunuh diri, tetapi benar-benar bunuh diri, walaupun dari pihak polisi ada 1 yang meninggal. Tetapi dari pihak teroris 3 orang mati.

Saya membayangkan aksi di Riau ini seperti perang kemerdekaan, bambu runcing melawan karabin metraliyur (senapan mesin ringan). Sulit untuk menerima dengan akal, apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang membawa bambu runcing atau pedang menyerang, menyongsong tembakan peluru dari moncong senapan, apalagi kaliber 6.72 mm dari AK47 atau 5.56 mm dari M-15 atau SS-1. Orang-orang itu sudah tidak memikirkan untung ruginya. Untuk yang menggunakan bom, masih bisa diterima akal. Kalkulasi potensi jumlah korban bisa melebihi yang bunuh diri. Tetapi yang pakai pedang, pisau atau bambu runcing? Dimana perhitungannya?

Tidak lama berselang banyak terduga teroris yang ditangkap dan ditembak mati, 74 orang ditangkap dan 14 ditembak mati. Harus diingat mereka ini orang-orang yang secara hukum tidak bersalah sampai dibuktikan oleh pengadilan. Statusnya sama dengan korban bom di Surabaya. Mereka ini belum melakukan aksi kekerasan. Paling-paling melawan ketika akan ditangkap. Apa ini bisa dijadikan alasan untuk menembak mati? Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Intinya, kekerasan akan melahirkan kekerasan juga. Tekanan akan melahirkan reaksi.

Sifat yang nampak reaktif muncul dimana-mana. Ada yang mau membatasi jumlah ulama dan ada keharusan bersertifikat yang harapannya sejalur dengan pemerintah. TNI mau diperbantukan di Polri, yang notabene melanggar UU yang dibuat pemerintah sendiri. TNI itu bukan penegak hukum, sedangkan teroris itu pelanggaran hukum. Ada lagi yang aneh-aneh? Entahlah. Itu topik yang tidak menarik.

Pelajaran Sejarah: Pupuk Semangat Kekerasan
Tanpa disadari sebenarnya kekerasan dan semangat anti kemapanan itu sudah dipupuk sejak anak masuk sekolah. Sejarah Singosari, dimulai dari Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk naik menjadi bupati dan mengawini istri Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok memberontak melawan rajanya Kertajaya untuk mejadi raja. Semanjutnya Ken Arok dibunuh oleh Anusopati. Tidak lama kemudian Anusopati dibunuh oleh Tohjaya. Dan selanjutnya.

Bahkan hal-hal sepele seperti ada orang yang menancapkan patok-patok di tanahnya orang lain bisa memicu perang yang menghabiskan kas negara. Perang Diponegoro.

Tidakkah anda berpikir bahwa mungkin ada sebagian dari pembaca sejarah perang Padri menganalogikan dengan keadaan sekarang. Kaum Adat analog dengan PDI dan barisan nasionalis di kubu Jokowi. Belanda parallel dengan pemerintah sekarang, termasuk aparat polisi. Mereka di dalam sejarah sebagai the bad guys, togut, partai setan.

Dan kaum Padri sebagai the good guys, partai Allah, berpadanan dengan HTI, FPI, Abu Bakar Ba’syir, Habib Rizieq.  Dan…., latar belakangnya punya kesamaan, yaitu keinginan kaum Padri atau HTI untuk menegakkan syariat dan menentang kaum Adat yang ingin mempertahankan status quo. Harus diingat bahwa perang Padri adalah salah satu perang yang paling lama kalau tidak yang terlama, 17 tahun yaitu dari 1815 – 1832.

Apakah ada orang berpikir untuk menganalogikan perang Padri dengan konflik dan polarisasi di masyarakat saat in? Saya tidak tahu secara pasti. Tetapi kalau sejarah punya pengaruh di bawah sadar? Itu tidak bisa dipungkiri. Masalahnya suntikan semangat keagamaan semacam ini bukan pada perang Padri saja, tetapi perang Aceh, perang Diponegoro. Dalam hikayat perang Aceh, mati melawan penguasa kemapanan (Belanda) adalah syahid. Sampai sekarang ada pepatah Minang adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, masih terdengar dan pengaruhnya kuat. Diponegoro sendiri  sampai sekarang digambarkan sebagai orang berjubah bukan sebagai pangeran yang berpakaian lurik atau beskap. Apakah pangeran Diponegoro memimpin peperangan di daerah tropis yang panas dan kelembaban yang tinggi menggunakan jubah? Akan berkeringat banyak, tidak praktis, dan akan cepat capek karena mengalami dehidrasi. Biasanya orang Jawa yang beraktivitas di luar akan telanjang dada, bukan pakai jubah. Belum lagi kyai Maja. Dia berjubah juga untuk menunjukkan bahwa kyai Maja merupakan simbol agama.

Kemerdekaan RI juga sarat dengan kekerasan. Salah satu ikon kekerasan yang sangat dipuja adalah Bung Tomo, the good guys, dengan pidatonya yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan togut tentara Inggris yang ditumpangi Belanda. Perayaan hari kemerdekaan tidak lengkap kalau tanpa image orang memegang bambu runcing, rambut gondrong dengan ikat kepala merah-putih sambil mengacungkan tinjunya. Mati dalam perang kemerdekaan adalah mati syahid. Itu menjadi unsur untuk membakar semangat. 

 Sejarah: Senjata Makan Tuan
Coba renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah perjuangan pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, ada kaitannya dengan Indonesia? Nama Indonesia baru ada mungkin setelah tahun 1920an.

Napoleon menyatakan bahwa “Sejarah adalah sekumpulan kebohongan yang disepakati.” Itu bukan pernyataan kosong, tetapi suatu realita.

Orang yang tidak ada kaitannya dengan Indonesia, seperti pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, dengan sejarah bisa menjadi warga negara dan pahlawan Indonesia. Tidak hanya itu, sejarah juga memelintir nilai-nilai moral. Apakah Gajah Mada bermoral? Dia membunuh raja  Prabu Mundingwangi dari Pakuan dan putrinya yang akan menjadi mertua dan pengantin Hayam Wuruk rajanya. Yang pasti jalan Gajah Mada di kota-kota besar Indonesia merupakan jalan utama. Mungkin ada kekecualian yaitu di daerah Pasundan yang masih punya ganjelan terhadap Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Bahwa pendidikan bisa menjadikan orang tidak bermoral seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk (Ken Arok yang awalnya seorang perampok kalau mau ditambahi) menjadi pahlawan yang disanjung-sanjung adalah suatu kenyataan bahwa pelajaran sejarah bisa mencuci otak masyarakat, sampai-sampai manusia tidak bermoral bisa disanjung.

Secara tidak sadar, diharapkan dengan ikon-ikon itu rasa cinta pada tanah air, c.q. pemerintah akan tumbuh. Tetapi plintiran-plintiran itu kadang tidak tepat sekali ke sasarannya. Yang diterima adalah semangat anti kemapanan yang berkobar-kobar. Pemerintah dianalogikan dengan Belanda, musuh, penindas.

Saya yakin banyak pembaca yang tidak suka dengan pernyataan ini. Apa lagi yang dari kubu pro-pemerintah.

Salah satu langkah panik pemerintah adalah mau membatasi dan menyaring (sesuai dengan keinginan pemerintah) ustadz-ustadz agar ajaran radikal tidak tumbuh dan menumbuhkan semangat cinta tanah air. Tentu saja itu salah. Tumbuhnya semangat radikal itu asalnya dari (pelajaran) sejarah (baca: kebohongan yang disepakati sebagai kebenaran). Apakah itu sejarah Indonesia atau sejarah Islam. Semua isinya perang. Tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) itu sendiri.

Contoh: Habib Rizieq dan pengikutnya bersemangat untuk memenjarakan Ahok. Pertanyaan berikut ini anda sudah pasti tahu jawabannya.

Apakah Rizieq membaca Quran? Apa dia pernah baca ayat yang bunyinya seperti ini?

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat. (QS 6: 68)

Yang diminta Quran adalah meninggalkan orang-orang itu sampai mereka selesai mengolok-olok agama. Setelah itu, kalau mau makan, minum, pesta, ngobrol bareng lagi, silahkan! Tidak dilarang. Tetapi apa yang diminta Rizieq, yaitu penjara, adalah semangat yang melebihi ajaran Quran. Semangat Rizieq mengalahkan ajaran Quran.

Oknum-oknum pemerintah, juga presiden mungkin, ingin agar Islam diajarkan cuma Islam yang sejuk. Saya pastikan orang seperti ini, termasuk menteri agama atau apapun tidak mempelajari Quran. Islam adalah Islam, sumbernya Quran, bukan tafsir dan riwayat-riwayat yang sarat dengan semangat keagamaan yang tinggi. Bagaimana para dai memuja ahlak para pendahulunya yang dekat dengan nabi, tidak sejalan dengan ayat Quran ini:

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)

Ini mengisahkan pada saat sholat jumat, nabi sedang berkhotbah, tiba-tiba di luar masjid ada orang (berteriak-teriak) menjajakan dagangannya dan jemaah keluar untuk menonton pedagang tersebut dan tersisa hanya beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Tentu saja kebanyakan riwayat-riwayat yang ada agak bertolak belakang, dalam arti sahabat-sahabat nabi iman dan kepatuhannya tinggi. Silahkan nilai sendiri, tingkat keimanan, kesopanan, kepatuhan orang seperti ini. Pada jaman Now saja, tindakan seperti ini (meninggalkan khatib berkhotbah) dianggap kurang ajar.

Jadi dari mana semangat keagamaan yang membuat Dita mau membawa keluarganya bunuh diri atau Rizieq ngotot mau memenjarakan Ahok?

Sumber-sumber selain Quran itulah yang membuat adanya Islam yang sejuk dan Islam yang radikal. Padahal sesungguhnya hanya ada Islam saja.

Membatasi dakwah Islam hanya Islam yang sejuk dan moderat itu bukan cara untuk menurunkan terorismen. Yang tepat adalah menghapuskan pelajaran sejarah dan segala bentuk cinta tanah air. Karena itulah sumber kekerasannya. Sumber kefanatikan terhadap idiologi yang kita percayai

NKRI Bukan Harga Mati
Kalau HTI dan konco-konconya berteriak: “Negara Khalifah!!” maka kubu yang berseberangan meneriakkan yel-yel: “NKRI Harga Mati!”

Harus diingat di balik sejarah, banyak hal-hal yang bisa terbaca, istilahnya read between the lines. Indonesia baru ada sejak tahun 1945 yang muncul dari reruntuhan Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Bahkan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” dulu tidak ada, melainkan “Dari Sabang sampai Bula” karena Irian baru resmi menjadi bagian dari Indonesia tahun 1969.  

Kemudian Timor Timur menjadi provinsi ke 27 Indonesia tahun 17 Juli 1976, melalui pertumpahan darah. Dan lepas lagi di tahun 2002 juga melalui pertumpahan darah. Apakah penganjur NKRI Harga Mati tidak bisa belajar dari masa lalu? Atau kekalahan semangat NKRI sengaja dihapus dari pelajaran sejarah? Belum lagi pertanyaan: Apakah NKRI Harga Mati itu setara dengan harga nyawa manusia?

Lahir dan lenyapnya suatu bangsa, adalah biasa. Bangsa Prussia, Maya, Gaelic hilang dari percaturan dunia. Belum lama, Cekoslovakia, Yugoslavia juga hilang. Timor Leste lahir. Itu bagian dari kehidupan. Mengingkari hal ini adalah suatu kebodohan.

Chauvinisme bisa membawa penderitaan bagi penganutnya. Silahkan tanya kepada Rodovan Karadzic yang divonis 40 tahun penjara oleh pengadilan Internasional. Juga kepada Slobodan Milošević yang mati di tahanan pengadilan Internasional.

Memang tidak semua penganut chauvinisme berhasil diseret ke pengadilan Internasional. Westerling misalnya yang dituduh melakukan pembunuhan massal di Sulawesi Tenggara, tidak pernah bisa diadili. Dan yang didepan mata kita, jendral Wiranto bersama 7 orang lainnya dituduh bertanggung jawab atas kematian 1400 orang Timor Timur selama periode 1 Januari and 25 Oktober 1999. Perintah penahanannya (pencekalannya) dikeluarkan oleh the Serious Crimes Unit, PBB pada 10 May 2004. 

Mungkin persoalan Wiranto sudah terselesaikan secara pembiaran (impunity) seperti Westerling, mungkin juga belum. Kalau belum, artinya kalau Wiranto pergi keluar negri punya  potensi ditangkap untuk diadili, walaupun dia jadi presiden RI.

Masih mau NKRI Harga Mati? Atau Negara Khalifah harga mati?

Renungkan lagi, berapa yang harus anda bayar. Mati barangkali.

Sekian dulu, sampai lain waktu……

Jakarta 24-May-2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

19 comments:

Eko said...

Mohon izin saran, daripada membahas tentang agama padahal bukan ahlinya (bukan kiai, bukan pula ustadz, apalagi ulama), lebih baik kembali ke khittah saja membahas mengenai Ekonomi Orang Waras dan Investasi, bagaimana nih kondisi sekarang, Dollar semakin mengamuk dll, apakah perlu borong Dollar, emas, properti, atau gimana? Maturnuwun, peace :)

D_J said...

Selamat datang kembali eowi.setahun lebih ga muncul..apa ikut nemeni ahox di penjara��
Cara pandang yg unik walupun rasanya dunia ga akan sepi dr chauvinisme..krn akn sll ada yg ingin lbh unggul terpilih

Anonymous said...

topiknya gak menarik, fokus ke ekonomi dan investasi wae om semar

Anonymous said...

Dita sekeluarga & rekan-2xnya melakukan bom bunuh diri dengan dalil agama itu fakta.
Demikian juga kejadian-2x teror yang lain. Suka tidak suka, mau tidak mau adalah fakta, bahwa agama bisa digunakan sebagai alat atau komoditas politik. Persetan dengan opini pro & kontranya. Dengan demikian sudah membuktikan bahwa agama & Tuhan adalah produk manusia dan bukan kebenaran mutlak yang paling sempurna turun dari langit

Imam Semar said...

KALAU ANDA MERASA KURANG NYAMAN DENGAN ILMU SEJARAH, AGAMA, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK YANG DIAJARKAN DI SEKOLAH, DAN INGIN MENCARI JAWABAN YANG OBJEKTIF, MAKA DISINILAH TEMPATNYA. BLOG INI MEMBAHAS MASALAH MAKRO EKONOMI, POLITIK DAN INVESTASI DARI SISI PANDANGAN ORANG WARAS DAN YANG BERJIWA MERDEKA. FOKUS UTAMA: SAHAM, EMAS, MATA UANG, BOND, PERUNDANG-UNDANGAN, KE(TIDAK)BIJAKSANAAN PEMERINTAH, POLITIK, EKONOMI MAKRO

Anonymous said...

Bagus, jadi tambah ilmu......

Anonymous said...

Yang merasa sudah nyaman dengan ilmu sejarah dan agama, bukan disini tempatnya. Yang masih ngotot memBUKTIkan soal kebenaran agama & Tuhan, dia masih ada bisul di otaknya sehingga gak paham bahwa "orang bisa mempercayai sesuatu tanpa perlu BUKTI".

Anonymous said...

kejadian saat ini yg berkuasa sedang berusaha mempertahankan kekuasaannya mati matian menggunakan semua cara entah itu pakai agama,ekonomi dsb
ini sangat membebani negara,karena semua oknum partai,politikus,hingga ke ormas ormas sampai ke ormas agama pun begitu,semuanya harus di beri "makan" untuk setiap dukungan yang mengalir,alhasil kemakmuran yg seharusnya mengalir di masyarakat cuma "menetes" gara gara sebagian besarnya mengalir ke mereka semua
intinya semuanya itu bicara soal harta,tahta,wanita agama,ras dan semua isu di tunggangi oleh politikus entah itu penguasa atau penantang untuk mencapai tujuannya
gak heran politikus bersih macam ahok akan otomatis tersisih karena ahok gak memberi mereka "makan",sy yakin kalau seandainya waktu itu si ahok mau aja kasih mereka-mereka "makan" maka si ahok masih jadi gubernur,so pilihannya kasih makan ke rakyat tapi oknum yang lapar atau kasih makan ke oknum politik stabil tapi rakyat kelaparan

tp akhirnya juga kembali ke konstituen dan masyarakat mayoritas,imam semar nulis panjang mengenai kebobrokan sistem negara,politikus toh gak akan berpengaruh juga kan,karena toh nyatanya sistem kekuasaan politik masih berlangsung dan akan terus berlangsung menurut saya ,itu karena konstituen mayoritas mudah di tipu,emosional,egois dengan janji janji dan cerita cerita ditambah unsur heroik dan bumbu sara

Kevin said...

Pertinyiinyi...kalau memang teroris terjadi krn cuci otak semasa sekolah dengan cerita2 perang ..kenapa para pelaku teroris yang melakukan bunuh diri selama ini hanya dilakukan oleh orang2 beragama Islam? Apakah umat agama lain di Indonesia ini selama sekolahnya diceritain cerita2 perang perjuangan yang berbeda dari umat Islam di indonesia?
Atau mau dinafikan juga bahwa para pelaku teroris ini sebenarnya orang2 kafir Yahudi agen2 Mossad CIA atau MI-5 antek James Bond atau kaum neoliberal kapitalis radikal yang sedang menyamar menjadi umat Islam untuk menjelekkan agama Islam?
Sungguh miris jika ada lulusan ITB trained engineer ketika menghadapi masalah bukannya mencari solusi malah menafikan permasalahannya. Tidak heran negara ini sangat terkebelakang kalau lulusan perguruan tinggi terkemukanya saja tidak sanggup menghadapi kenyataan dan permasalahan yang ada dihadapannya..
Di setiap negara pasti ada cerita sejarah perjuangan bagian dari nation building, tapi cuman di Indonesia sejarah bangsa dipersalahkan menjadi bibit terorisme?

DawetLegi said...

Mas Semar, lak iso ojo kakean komen soal agama utowo politik Mas bahas ekonomi & soal invetasi wae
Saiki mumet baca koran & sosmed di groupku kabeh rumangsane pakar politik & agama krosone awake paling bener dewe.

Prediksi ekonomi wae, piye carane ben tetep iso blonjo anteng & ati tentrem.
(Baca komen Mas Semar kalau soal prediksi ekonomi hati lebih tenang)

Zacky said...

Sudut pandang om IS menarik untuk disimak, dan memang secara logika hampir semuanya benar. Komentar negatif diatas sebenarnya hasil pelajaran sejarah yang selama ini diajarkan, dari sejak SD sampai SMA. Yang bahkan kalau dipikir baik-baik, bukan hanya teroris yang jadi korban cuci otak, kita-kita pun sebenarnya juga korban cuci otak pelajaran sejarah. :D

hay kel said...

Persiapan utama menjelang Krisis
1. Air MINUM / sumur
2. Makanan awet (beras, gandum, kurma, garam, gula, kalengan)
3. Pakaian
4. Solar Panel
5. P3K/ Herbal / Bibit
6. Alat Survival
7. BBM Seperlunya
8. Teman yang berilmu / Khidr

CC: www.hafa.my.id

venchen said...

Kita adalah saudara dalam kemanusiaan

Adakah ajaran agama yg mengajari membunuh manusia itu boleh, apapun alasan nya???

Begitu banyak perbedaan, jgn bicara antar bangsa..
Jangan bicara antar suku..
Jangan bicara antar agama..

Kalau masing2 agama suku atau golongan memperbolehkan menghabisi manusia lain yg berbeda dari mereka, mnurut para penulis dan pembaca, apa yg terjadi?

Jadi, para manusia di muka bumi...

Kita memilih yang mana?

Saifudin Rohmat said...

Pemikiran yang berbeda. Pendapat yang tidak umum. Tapi asyik juga membacanya. Kebebasan beropini dan berpikir. Saya hormati dan saya hargai. Biar adem dan tenterem.

Anonymous said...

Om semar pemkirannya cukup jernih dan berusaha memahami segala sesuatu secara komprehensif. Kalau blog ini dibatasi cuma soal ekonomi dan investasi sama aja mengkerdilkan dan menyempitkan kemampuan dan om semar untuk teman2 penikmat blog ini cobalah untuk belajar menikmati setiap tulisan2 yang disajikan om semar

Prasetia Hajar Purnamasidi said...

Sejarah sering dipenuhi cerita-cerita pemberontakan dan dari pemberontakan berubah menjadi kisah kepahlawan yg legendaris dan dipuja para pengikutnya. Tapi dari cerita sejarah yang seringkali penuh dengan konflik antar golongan entah agama, politik atau kelas sosial kita juga perlu ambil hikmahnya tidak hanya dari kisah kepahlawanan atau ideologi chauvinismenya tapi dari kesadaran untuk lebih berhati-hati dan bijaksana dlm membaca kisah sejarah supaya kita bisa menatap masa depan menjadi lebih baik. Jangan terlalu mengkultuskan tokoh, simbol2 suci yg dipakai tokoh sejarah seperti pakaian dan apapun yg dipakai dan diperjuangkan tapi yang harus kita pelajari adalah dialektika zaman dimana setiap ada tesis pasti ada konflik dan menjadi sintesis baru atau zaman baru yg seharusnya membuat peradaban kita menjadi lebih tinggi bukan hanta meromantisir masa lalu semata.

eka nanda said...

Saya lihat pendapat bapak eowi terlalu cendorong membela agama saja. Saya orang yang tipenya membenci sesuatu yang bersifat dogmatis, karena segala sesuatu itu tidak ada yang mutlak bahkan teori2 science saja bisa ditumbangkan apalagi agama. Segala sesuatu yang dogmatis bisa memunculkan kefanatikan yang berakibatkan perang. Lihatlah saja sumber perang sepanjang sejarah chauvinisme/nasionalisme, tribalisme/kesukuan, bigotry/keagamaansemuanya ada hubungannya dengan fanatisme dogma.
Saya sendiri agnostik dan mungkin pendapat saya agak bias tapi satu hal yang saya tidak saya sukai dari alquran tentang adanya ayat "jihad". "Jihad", "fi sabilillah", "mati syahid" ini adalah konsep kuno yang tidak berlaku di jaman sekarang karena penegakan hukumnya sudah bagus. Udah gak jamannya lagi bunuh2an sekarang ini.
Masalah lainnnya alquran ini multitafsir buktinya islam terpecah ke banyak aliran. Muslim sendiri katanya mengikuti perintah tuhan tapi sebenarnya mereka cuman mengikuti perkataan muhammad. Bahkan kitabnya hanyalah tafsiran dari sahabat2nya. Di logika saja bisa saja muhammad cuman delusi dapat wahyu atau juga sahabatnya salah interpretasi. Muslim tidak layak menyebut agama islam ajaran paling sempurna, kalau kitabnya saja multitafsir.
Untuk melengkapinya ini saya cantumkan ayat2 kekerasan dalam alquran
1.Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS.5:33)
2.Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (QS.47:4)
3.Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah 638 dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. 9:29)
4.Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. (QS. 9:123)
5. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS. 9:73)
6.Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 9:5)
7.Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. 2:191)

Gavriel SS said...

Selamat Pagi Pak Imam Semar,
saya seorang penganut beribadah pada hari Sabtu, saya ingin mempertanyakan makna dari hari Sabtu di Alquran menurut pertimbangan Pak Imam Semar, berikut ayatnya dibawah ini:

QS. Al-Baqarah [2]:65: Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina".

QS. An-Nisaa' [4]:47
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

QS. An-Nisaa' [4]:154
Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah melalui pintu gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh



adi purwadi said...

Makin tinggi kepandaian keilmuannya, maka makin dalam jurang kebodohannya.

Membahas topik yg bukan ahlinya malah jadi menyesatkan, soalnya tidak ada manusia sempurna, bisa ahli dari segala bidang keilmuan, itu mustahil.

Lebih baik fokus di bidangnya, dari pada membahas yg diluar keilmuannya, memaksakannya malah makin jelas jurang kebodohannya.