___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, July 26, 2015

Rupiah: Masa Lalu, Sekarang dan Masa Datang



Bagian I: Masa Lalu, Periode Kondratieff Spring dan Commodity Bear Market


Ekonomi Bukan Sains

Walaupun mungkin kurang akurat, terkadang untuk meramalkan masa depan ekonomi, moneter dan harga, kita harus melihat masa lampau. Karena, ekonomi bukan sains. Untuk sains, cara memahaminya, mempelajarinya dan mengertinya ada laboratorium yang bisa digunakan untuk melakukan eksperimen. Eksperimen yang dilakukan dalam skala kecil dan dalam kondisi yang terkontrol serta terbatas,  jika ada hasil yang tidak diinginkan serta tidak diantisipasi sebelumnya, maka dampaknya terbatas dan kerusakannyapun terbatas.
Untuk ekonomi tidak ada yang namanya laboratorium untuk menguji suatu hipotesa dan teori. Sering kali, politikus di pemerintahan, melakukan eksperimen langsung ke masyarakat. Dampaknya sering merupakan suatu penderitaan. Mungkin sejak awal para politikus ini memang tidak punya niat baik, mungkin ada unsur keterpaksaan untuk memilih antara buruk dan lebih buruk sebagai suatu necessary evil. Bahkan, sekalipun diawali dengan niat yang baik, dampak buruk yang tidak terpikirkan sebelumnya atau harmful unintended conseqencies,  sering muncul dan menjadi penyebab penderitaan jutaan manusia.
 Anda bisa membayangkan, seorang dokter yang main coba-coba obat baru yang belum diuji secara klinis langsung ke masyarakat. Masyarakat dijadikan sebagai uji klinisnya. Berapa banyak orang yang akan mati, jika metode ini diterapkan. Mungkin jutaan. Disini terlihat bahwa uji coba di laboratorium bisa mengurangi resiko yang bisa menimpa masyarakat. Pada uji laboratorium, yang terkena pertama adalah hewan-hewan percobaan. Kemudian secara bertahap ke manusia. Tahapan-tahapan ini membuat dampaknya terukur dan terbatas.
Kali ini EOWI akan melihat sejarah rupiah selama hampir satu (1) siklus manusia (siklus Kondratieff), yang panjangnya antara 50 – 70 tahun. Berbarengan dengan itu, rupiah juga sudah melewati hampir dua (2) siklus komoditi yang panjang siklusnya 30 tahun.
EOWI mempunyai hipotesa bahwa rupiah punya terkaitan dengan kedua siklus ini. Siklus yang pertama (siklus Kondratieff), ada kaitannya dengan pola konsumsi dan prilaku manusia ditinjau dari perjalanan hidupnya. Setiap masa dalam hidup (umur)nya manusia punya pola konsumsi yang berbeda.
Siklus yang kedua ada kaitannya dengan  sisi pemenuhan kebutuhannya, yaitu bahan bakunya. Kebetulan basis ekonomi Indonesia adalah bahan komoditi. Dengan mempelajari pola yang ada, diharapkan EOWI bisa meramalkan bagaimana nasib rupiah dimasa 10 – 30 tahun mendatang.
Chart berikut ini adalah chart perjalanan kurs dollar terhadap rupiah dari kelahiran rupiah sampai Juli 2015 dengan siklus Kondratieff sebagai latar belakangnya. 

 Kurs US dollar terhadap rupiah (Orba) dan Siklus Kondratieff

Dikaitkan dengan siklus Kondratieff, antara batas-batas siklus dengan kurs dollar terhadap rupiah tidak nampak korelasi yang jelas. Pada masa Kondratieff spring sampai awal summer, terjadi lonjakan nilai tukar dollar terhadap rupiah. Kemudian pada sebagian besar masa Kondratieff summer yaitu tahun 1970an, rupiah relatif stabil sampai menjelang fall (authum).
Rupiah memperoleh tekanan kembali sampai 75% dari masa Kondrtieff fall (authum) sampai 1998. Dan kemudian kembali stabil sampai pertengahan Kondratief winter.
Korelasi kurs dollar terhadap rupiah dengan siklus komoditi nampak lebih jelas dibandingkan dengan siklus Kondratieff. Bisa dilihat bahwa selama setiap commodity secular bear market, rupiah selalu tertekan, walaupun tingkat tekanannya berbeda. Sedangkan selama periode commodity secular bull market, rupiah relatif stabil.


 
  Kurs US dollar terhadap rupiah (Orba) dan Siklus komoditi

Saat ini sampai 10 – 15 tahun mendatang, kita berada dalam periode commodity secular bear market. Secara deduksi analogi, peluangnya rupiah akan tertekan terus untuk jangka waktu yang lama yaitu selama 10 – 15 tahun mendatang. Pertanyaannya adalah, apakah pergerakan kurs dollar tajam akan seperti beruang grizzly tahun 1950 – 1970 atau beruangnya hanyalah beruang madu Asia tahun 1980 – 2000? Mungkin jawabannya ada di prilaku manusia dikaitkan dengan siklus Kondratieff.
Dengan melihat perjalanan rupiah ini dan dalam rangka menyongsong masa 10 – 30 tahun kedepan, diharapkan pembaca dan kami sendiri di EOWI bisa menjadikan analisa ini sebagai guiding star (petunjuk) untuk menyusuri hidup ini lebih baik. Setidaknya untuk bisa lebih baik dari pendahulu-pendahulu kita. Bagi para baby boomer yang mulai pensiun, semoga bisa mempertahankan nilai tabungan hari tuanya lebih baik sampai ajal menjemput. Dan bagi mereka yang masih muda-muda agar bisa menjalani karir serta mengumpulkan harta lebih banyak. Hedonis dan materialistis sekali kedengarannya. Kami di EOWI sangat hedonis dan materialistis. Kami bukan penganut spiritualisme yang tidak jelas. Hedonis dan materialistis adalah baik!!
Kata hedon, punya konotasi yang buruk. Tetapi Quran dalam salah satu ayatnya, menganjurkan perilaku hedon, yaitu: hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan dasar, tetapi lebih dari sekedar dasar.
[Q 2:219] Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat keburukan yang besar dan beberapa manfa'at bagi manusia, tetapi mudharat keduanya lebih besar dari manfa'atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka belanjakan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
Umat Islam disuruh membelanjakan uangnya lebih dari sekedar untuk keperluan dasar, selama bukan hal-hal yang buruk dan merugikan. Kalau mampu, belilah mobil BMW atau Mercedes dan pekerjakan supir bukan  sekedar beli Toyota Kijang. Pergilah untuk manicure dan pedicure. Bukan sekadar beli pemotong kuku. Nikmatilah hidup yang lebih dari keperluan (dasar). Tentu saja harus dibarengi dengan mengejar rejeki yang banyak dan halal. Itulah Islam. Hedon, mencintai kenikmatan. Sorgapun penuh dengan kenikmatan. Carilah sorga di dunia dan sorga di akhirat.
Itulah sedikit pesan moral dari EOWI.
EOWI bermaksud untuk memasukkan sebagian dari tulisan ini akan menjadi bagian dari laman Paska Krisis 2014 – 2020, karena relevansinya.

Ekonomi Masa Pra-Rupiah (Nasib Indonesia Sejak Dulu)

Indonesia, atau Hindia Belanda pada jaman dulu, adalah wilayah yang ekonominya berbasis komoditi. Walaupun komoditi bukanlah tujuan awal dari orang-orang Eropa datang ke wilayah nusantara ini, tetapi dalam perjalanan waktu, peran komoditi menjadi penyebab yang besar untuk tetap bercokol di wilayah ini.
Di abad 19, Hindia Belanda sudah menjadi wilayah yang berbasis komoditi. Walaupun cultuurstesel (buku-buku sejarah menyebutnya sebagai Tanam Paksa walaupun seandainya paksaan itu ada, paksaannya jauh lebih lunak dari pada paksaan membayar pajak di masa NKRI paska Orde Baru dan memberi kemakmuran pada masa jayanya) yang dicanangkan oleh gubernur Jenderal van den Bosch pada tahun 1830. Untuk mereka yang berkacamata myop akan mengambilnya sebagai tonggak awal komoditi sebagai basis ekonomi wilayah Hindia Belanda. Padahal sebelumnya, wilayah nusantara didatangi oleh pedagang-pedagang asing, Arab, Cina dan India untuk mencari bahan komoditi pertanian.
Menjelang akhir abad 19, tepatnya tahun 1885 ditemukan minyak bumi di Telaga Said, Langkat. Penemuan-penemuan lapangan minyak berikutnya di Cepu dan di tempat-tempat lain membuat wilayah Hindia Belanda ini tidak lagi hanya bergantung pada komoditi pertanian, seperti karet, gula, tembakau, tetapi juga komoditi tambang. Tidak hanya minyak, tetapi juga timah (Bangka), bauksit dan batubara mengalami perkembangan yang pesat karena adanya mesin-mesin (uap) yang bisa dipakai untuk eksploitasi besar-besaran. Maka lengkaplah wilayah Hindia Belanda sebagai wilayah yang berbasis komoditi. Dan lengkaplah pula-lah nasib wilayah yang dulu bernama Hindia Belanda ini mempunyai ekonomi yang naik turunnya mengikuti siklus komoditi 30 tahunan. Tidak bisa disangkal lagi, pasang-surutnya rupiah Indoensia sangat dipengaruhi oleh siklus komoditi 30 tahunan ini.
Itulah nasib wilayah ini, sangat bergantung pada komoditi. Dan nampaknya tidak akan berubah sampai sejauh mata bisa memandang. Inilah yang akan dijadikan asumsi EOWI dalam menganalisa rupiah.

Kelahiran Rupiah Indonesia

Mohammad Hatta sering dianggap sebagai pahlawan tanpa cacat oleh kalangan sejarahwan. Bagi EOWI, Mohammad Hatta, mungkin adalah orang yang paling berdosa dalam menyengsarakan bangsa Indonesia. Dan dosanya termasuk jenis amal dosa jariah (amal = perbuatan). Yaitu perbuatan dosa yang seperti mata air yang besar, selalu mengeluarkan evil/keburukan/kemudharatan sampai akhir jaman dan menimpa orang banyak. Dibandingkan dengan Orde Barunya Suharto yang melakukan purging orang-orang yang dianggap PKI, Hatta lebih kejam. Purging yang meliputi dari pembunuhan, penahanan dan pengabaian hak-hak hidup keluarga anggota PKI, dilakukan Suharto hanya berlangsung sampai 15 tahun. Sedangkan apa yang diperbuat Hatta dengan memperkenalkan rupiah kepada bangsa Indonesia, penyengsaraan rakyat Indonesia melalui inflasi dimulai sejak awal penggunaan rupiah, dan masih berlangsung terus sampai sekarang serta masa yang akan datang. Suharto hanya terbatas pada eks-PKI dan keluarganya, sedangkan Hatta seluruh rakyat Indonesia yang punya uang. Dan semua rakyat Indonesia punya uang rupiah kecuali rakyat di pedalaman, kaum Badui di Banten, suku Kubu dan suku-suku sejenisnya.
Cerita rupiah dimulai pada tanggal 29 Oktober 1946. Melalui Radio Republik Indonesia (RRI), Mohammad Hatta mengumumkan pemberlakuan uang rupiah. Teks pidato Bung Hatta adalah sebagai berikut:
Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah satu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadap penghidupan baru.
Besok mulai beredar Uang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang syah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang syah, tidak laku lagi. Beserta dengan uang Jepang ikut pula tidak berlaku Uang De Javasche Bank.
Dengan ini tutuplah masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita.
Sejak mulai besok, kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita.
Uang Republik keluar dengan membawa perubahan nasib rakyat, istimewa pegawai negeri, yang sekian lama menderita karena inflasi uang Jepang rupiah republik yang harganya di Jawa lima puluh kali harga rupiah Jepang. Di Sumatra seratus kali, menimbulkan sekaligus tenaga pembeli kepada rakyat yang bergaji tetap yang selama ini hidup daripada menjual pakaian dan perabot rumah, dan juga kepada rakyat yang menghasilkan, yang penghargaan tukar penghasilannya jadi tambah besar.
Apakah memang penderitaan rakyat Indonesia hilang karena penggunaan rupiah seperti kata bung Hatta? EOWI harus mengatakan “tidak”. Pembaca EOWI juga tahu. Banyak orang merasakan kebalikan dari apa yang Hatta katakan, tetapi tidak tahu kenapa.
Semua cerita di atas itu adalah sejarah, yang dijadikan latar belakang dari kisah perjalanan rupiah.

Rupiah Masa Kondratieff Spring (1950 – 1966) dan Commodity Bear Market

Tujuan pembahasan nilai rupiah pada tulisan ini adalah untuk melihat nasib rupiah di masa Kondratieff spring 2020 – 2035(?) dengan melihat periode Kondratieff spring dan summer di masa lalu. Oleh sebab itu EOWI akan mengutip kejadian-kejadian, kondisi saat ini pada saat membahas Kondratieff spring 1950 – 1965 untuk membandingkan keduanya.
Kondratieff spring dimulai sekitar 1944 – 1945, setelah perang dunia II selesai. Serdadu-serdadu yang pulang kampung setelah perang usai kemudian melaksanakan perkawinan tertunda dengan pujaan hatinya. Kemudian mereka beranak-pinak, cepat sekali, melahirkan baby boom, gelombang kelahiran antara tahun 1945 – 1964. Generasi baby boomers ini nantinya yang menjadi penentu arah ekonomi, budaya, pola konsumsi dan teknologi pada 4 dekade berikutnya.
Disebut (Kondratieff) spring karena pada masa itu secara siklus manusia memang bak awal dari suatu kehidupan yang baru bangun dari tidur. Pada masa ini suku bunga masih rendah, harga bahan komoditi juga masih rendah (akibat periode depressi di masa sebelumnya) dan tingkat hutang juga rendah. Faktor-faktor ini menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi.
Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, perlahan-lahan money velocity meningkat. Inflasi juga merangkak naik tetapi masih pada level yang nyaman. Suku bunga juga mulai merangkak naik dari level terendahnya di masa Kondratieff winter, tetapi masih pada level yang nyaman. Akumulasi kapital baik berupa modal tabungan atau alat-alat produksi juga beranjak naik. Tingkat pengangguran menurun.
Tetapi hal yang disebutkan di atas terjadi di US dan Eropa. Di Indonesia sendiri, yang pada masa itu (tahun 1950) baru merdeka. Sektor ekonomi andalannya yaitu komoditi masih dalam masa secular bear market. Sehingga kebangkitan di US dan Eropa tidak memberikan keuntungan apa-apa. Bahkan terhadap rupiah kondisi seperti ini malah menjadi tekanan. Pertama modal akan tersedot ke arah negara-negara industri dimana akumulasi kapital sedang berlangsung. Kedua sumber pemasukan pendapatan, yaitu bahan komoditi, harganya masih rendah. Untuk membiayai jalannya pemerintahan, NKRI yang belum mempunyai sistem perpajakan yang baik, mencetak rupiah dengan gila-gilaan yang berlanjut pada inflasi yang tinggi.
Pada awalnya banyak sumber daya disalurkan untuk hal-hal yang positif seperti pembangunan perumahan dan wilayah dengan penataan yang baik. Di Jakarta, seperti Kebayoran, dibangun tahun 1949. Tebet, Grogol, adalah wilayah-wilayah yang dibangun penataannya di masa awal-awal sampai pertengahan Kondrateff spring 1950 – 1965.
Adanya perang Korea, 1950 – 1953, membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia karena perang Korea membutuhkan minyak dan karet Indonesia. Walaupun harga bahan komoditi masih tertekan, setidaknya pemasukan devisa melalui volume penjualan yang meningkat. Hal ini berlanjut terus sekalipun perang Korea telah usai.
Kalau tahun 2015 pengontrolan kapital dilakukan pemerintah melalui pembatasan penjualan/pembelian mata uang asing maksimium $100 ribu dan larangan transaksi selain dengan rupiah, pada tahun 1950an pemerintah menerapkan pembatasan-pembatasan, atau pengontrolan terhadap kapital berupa kurs ganda. Pada tahun-tahun sekitar 1950an, pemerintah menerapkan sistem kurs ganda terhadap mata uang US dollar. Ketidak-bijaksanaan ini dimulai seminggu setelah Gunting Sjafruddin diberlakukan. Pada ketidak-bijaksanaan kurs ganda ini ada kurs resmi yaitu Rp 3,80 per US dollar ada harga kurs effektif untuk eksportir yaitu Rp 7,60 dan ada harga kurs effektif untuk importir yaitu Rp 11,40 per dollar.
Pada dasarnya bagi importir yang memerlukan mata uang asing dan harus membeli dollar akan dikenakan kurs effektif Rp 11,40 per US dollar. Bagi ekspotir yang memperoleh mata uang asing dikenakan kurs effektif Rp 7,60 ketika menukarkannya dengan rupiah. Dari perbedaan kurs effektif ini, pemerintah memperoleh keuntungan untuk menutup defisit anggaran negara.
Tentu saja dalam prakteknya tidak semudah itu. Dengan mekanisme seperti ini, eksportir bak dikenai pajak ekspor sebesar 66,70%. Siapa sih yang suka dikenai pajak. Kalau ada celah, kenapa tidak menghindar? Eksportir (juga berlaku bagi semua yang berpenghasilan dollar) akan cenderung menghindari dari pada menjual dollarnya secara resmi. Oleh sebab itu perlu peraturan pemaksan, harus ada instrumen pemaksa bagi pelaku bisnis untuk tunduk dengan kemauan pemerintah. Aliran devisa dikontrol ketat melalui BLLD (Biro Lalu Lintas Devisa). Penukaran resmi uang asing dapat dilakukan di bank-bank devisa yang memperoleh ijin dari Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negri (LAAPLN). Disinilah pasar resmi mata uang asing.
Apapun namanya, .....pajak, cukai, kurs ganda, kalau sudah 66,70%, walaupun untuk pemerintah, banyak orang tidak rela. Angka 66,70% itu lebih kejam dari beban Taman Paksa yang hanya 20%. Memang bentuknya berupa pengotrolan devisa bukan seperti pajak, yang secara terang-terangan ditarik ke wajib pajak. Pengontrolan dan pengkebirian mekanisme pasar yang berlebihan seperti ini menyebabkan distorsi pasar yang besar. Orang akan selalu mencari jalan keluar. Muncullah kurs saingan sehingga kurs dollar ada dua, yaitu kurs resmi dan kurs Pasar Baru. Kurs resmi adalah kurs yang didasari oleh paksaan (coercion) dan kurs Pasar Baru (atau pasar gelap lainnya) adalah kurs yang adil yang muncul dari pasar bebas. Pasar gelap tempat pertukaran mata uang asing berlangsung terus sampai tahun 1967, dimana pengontrolan devisa melonggar.
Saya sebut kurs yang tidak resmi ini sebagai kurs Pasar Baru karena kalau pada masa itu anda jalan-jalan ke Pasar Baru Jakarta, sering ada orang mendekat dan berkata pelan-pelan: “dollar pak...., dollar ibu”. Mereka mengajak bertransaksi dollar. Kadang pasar uang di Pasar Baru di masa itu disebut pasar gelap. Kata pasar gelap ini digunakan pemerintah pada hakekatnya untuk memberikan konotasi buruk. Padahal sebenarnya adalah pasar bebas dan dilakukan di siang hari yang terang.
Ketidak-bijaksanaan kurs ganda ternyata membuat kekacauan dan umurnya hanya kurang dari 2 tahun. Pada bulan Januari 1952, diberlakukan satu (1) kurs resmi yaitu Rp 3,80 per US dollar. Ternyata itupun hanya berlaku sekitar 1 bulan. Karena pada bulan Februari 1952, rupiah didevaluasi menjadi Rp 11,40 per dollar. Nilai rupiah menguap 67% hanya dengan sebuah peraturan. Beruntunglah orang-orang yang menyimpan asset non-rupiah. Nilainya tidak tergerus oleh peraturan pemerintah.
Reaksi orang terhadap pemaksaan (coercion) pajak (pajak yang terang-terangan atau terselubung) bermacam-macam. Ada menentang secara terang-terangan lewat kekerasan, ada yang hanya menghindar, membuat jalan keluar yang baru. Biasanya kekerasan adalah jalan terakhir. Hal ini nampak pada NKRI di masa akhir Kondratieff spring. Politik kekerasan bermunculan seperti pembrotakan Permesta 1957, PRRI 1958, yang sedikitnya dilatar-belakangi oleh ekonomi.  
Merasa kekerasan yang sudah ada masih kurang, Sukarno, yang menjadi presiden saat itu memberi sirkus sebagai pengganti roti yang diminta rakyat. Lahirlah Ganyang Malaysia, Dwikora 1962 dan Bebaskan Irian Barat, Trikora 1961. Keduanya adalah sirkus yang harus dibayar mahal, baik dengan nyawa dan materi. Dan keduanya itu bukan politik kekerasan yang terakhir. Konflik terakhir terjadi,  melainkan G30S, suatu konflik internal angkatan darat yang kemudian terbawa ke wilayah sipil. Antara 500 ribu – 3 juta jiwa melayang. Dan konflik terakhir ini membawa ibu pertiwi ke neraka hiper-inflasi rupiah yang terbesar dari semua yang pernah meletus sebelumnya. Hiper-inflasi ini terjadi di awal Kondratieff summer 1966 – 1967. Negara (rakyat dan pemerintah) sudah kehabisan dana akibat pengeluaran yang besar dan pendapatannya pun mengalami terkanan commodity secular bear market. Commodity secular bear market yang dimulai dari tahun 1950, membuat pendapatan merosot terus selama 17 tahun dan ini bersama-sama prilaku tidak produktif menguras dana yang ada.
Itulah kisah perjalanan rupiah selama periode Kondratieff spring 1950 – 1966 dan commodity secular bear market. Mari kita ringkas saja agar supaya memudahkan pembahasan berikutnya nanti.
Secara ringkas, ada beberapa poin penting pada masa Kondratieff spring di Indonesia:
  1. Dengan murahnya harga bahan komoditi yang menjadi andalan Indonesia, membuat pemerintah mengalami kesulitan untuk membiayai jalannya roda pemerintahan.
  2. Selanjutnya pemerintah melakukan kontrol devisa (kontrol kapital) dan penyunatan tabungan rakyat sebagai pajak terselubung untuk membiayai pemerintahan.
  3. Inflasi rata-rata di atas 100% per tahun.
  4. Nilai dollar (dan emas dalam rupiah) meningkat.
  5. Perang dan pertikaian (PRRI/Permesta, kampanye Ganyang Malaysia dan Bebaskan Irian Barat, serta “pembrontakan” G30S) menjelang Kondratieff summer memperburuk fiskal, selanjutnya merambat ke ekonomi dan rupiah mengalami hiper-inflasi.


Sekian dulu, akan bersambung secepatnya.
 

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

50 comments:

Anonymous said...

Bung imam,

Saya pekerja Migas yang terkena phk..dengan job market yang sulit saat ini,terutama di sektor. Migas,keliatannya agak sulit untuk kembali bekerja.uang pesangon apa sebaiknya untuk pelunasan KPR rumah (dengan 100 persen pesangon) atau di belikan dengan dolar dengan harapan nilainya akan naik dan mencukupi untuk membayar cicilan KPR?mohon tips2nya bagi kami kami para pekerja Migas yang sudah terkena lay off saat ini,untuk survive di era bearish komoditas ini.

Salam,

Untu

maleosx said...

saya barusan beli usd 5000 disurabaya, diminta KTPbuat dicatat. peraturan baru katanya.

Ketakutan saya bagaimana kalau sampai kepemilikan Dollar USD dilarang/diillegalkan seperti amerika dulu meng illegalkan kepemilikan emas.

kemana kita harus jual tuh dollar fisik?

Anonymous said...

Hi Pak IS,

Saya mempunyai pertanyaan yang mirip2 dengan bapak diatas.

Jadi saya seorang pekerja di jakarta. baru kerja 5 tahun dari sejak lulus kuliah. ada kepikiran untuk mempeli mubil or rumah.

jadi saya berpikir nya begini. akan lebih untung jika saya membeli rumah & Mobil dengan cara kredit dengan jangka waktu yang panjang daripada dibeli dengan Cash. jadi uang cash & monthly salary yang saya miliki sekarang lebih baik di simpen di USD. dan sebagian bayar kredit :D

Gak tahu itu pikiran waras apa bego? hihihi...

Please comment ya Pak IS :p



Oh iya tambahan. karena artikel kali ini pak IS akan masukan di bagian "Paska Krisis 2014 - 2020" mungkin bisa di bagikan juga kiat2 kira2 pekerjaan/bisnis apa yang agak tahan krisis diluar menumpuk USD :D (kira2 apa saja yang kita bisa siapkan diluar USD)

Anonymous said...

Saya beberapa hari yang lalu sempat berbincang dengan beberapa rekan dan dalam perbincangan itu saya menganjurkan utk menyimpan sedikit "simpanan uang" ke dalam usd karena terus naik tapi mereka lebih memilih emas karena menurut mereka kalaupun dunia resesi sekalipun emas adalah yang paling aman ( safe haven) dan menurut mereka dollar tidak akan sampai 20.000 untuk beberapa waktu ini.
Yang ingin saya tanyakan ke bung imam

1.jika index dow jones merosot tajam di beberapa bulan ke depan seperti yang di ramalkan, apakah masih aman memegang usd? Bukannya usd akan turun juga karena merosotnya dow jones?

2. asumsi mereka jika emas merosot dan rupiah merosot terhadap usd maka nilai emas akan tetap tinggi karena harga emas dunia dalam dollar, kecuali kalau rupiah menguat terhadap usd dan emas jatuh
contoh misalkan saja sekarang (harga ilustrasi)
1 gram emas = 50 usd dan 1 usd =13000 maka 1 gram emas jika di rupiahkan menjadi 650.000. Dan diKemudian hari emas anjlok misalkan 20% 1gram 40 usd dan rupiah juga anjlok 1 usd menjadi 17.000 maka harga emas menjadi 680.000 (malah jadi untung) dan yang paling mereka kuatirkan adalah ketika kekacauan terjadi karena resesi atau dow jones jatuh karena resesi,maka harga mata uang usd akan ikut turun dan orang akan kembali mengejar emas.

Mohon pencerahan dari bung imam dan mohon maaf jika ilustrasi di atas keliru karena kami orang awam yang ingin "belajar" dan semakin was was dengan langkah pemerintah khususnya mentri ekonomi terkait yang cenderung "santai" dan tidak melakukan antisipasi nyata menghadapi krisis. Terima kasih

Anonymous said...

@ bapak di atas

Beli emas nya tar aja. pas udah dibawah USD600/700 :D sekarnag masih USD1100 :D

Anonymous said...

Pak Is, saya masih penganut tulisan-tulisan bapak di tahun-tahun lampau bahwa Uang Kertas baik Dollar, Euro, Rupiah dan lain-lain akan kembali ke asal yakni sejenis dengan Toilet Paper alias Tidak Berharga.

Meski bapak telah berubah dan berselingkuh dengan Toilet Paper bernama Dollar, saya hanya mendoakan semoga bapak bisa sadar kembali sebelum Sistem Ekonomi yang penuh Dosa ini ambruk dan kertas2 itu akan bertebaran di pinggir jalan tersapu angin.

Saya tetap mengikuti saran bapak dulu, pegang Cash secukupnya dan alihkan yg lain ke aset riil jangan aset di awang2 seperti bit coin/bit komputer dan juga kertas toilet itu :-)

frank1 said...

menurut saya bang imam ini realistis alias trader sejati. lain situasi lain juga strategi. dollar lagi mengguat.jadi pegang usd dulu nti klo sdh puncak baru kita short. masalahnya kapan puncaknya. malam ini yellen mau bicara. kita liat dolar mau kemana. apa september mau di naikin bunganya?

Anonymous said...

September, Yuan bakalan dijadikan currency reserve, nah pengaruhnya nilai dolar U$ bagaimana ? Akankah DXY melemah dulu ?

Reader said...

Yuan jadi reserve currency di September?? Bro baca di komik mana?

:)

Anonymous said...

http://www.jokowinomics.com/2015/07/13/opini/menanti-pengumuman-besar-bulan-oktober-2015-yang-akan-mengguncang-keuangan-dunia/

Ini , coba baca....dolar U$ bakalan jatuh

frank1 said...

hahaha gmn pendapat imam semar tentang opini dari theo f tomion?

Anonymous said...

mau pegang yuan boleh mau pegang usd boleh yg bang is bilang gak boleh pegang rupiah wkwkwkw

Anonymous said...

omongan di theo njelimet, susah dipahami..

Gak ada perjelasan atau data waras nya. semuanya opini aja

Vitamin Ekonomi said...

Pak IS, teori anda tentang nasib negara berbasis komoditi ini selalu menarik. Sebagai kuli tambang migas, bagaimana nasib negara2 tujuan kuli seperti kami ini seperti Australia, Timur Tengah, Mongolia dan Afrika? Tolong dong diulas benchmarknya dengan Indonesia. Kalau anda bilang baby boomers harus siap-siap dengan uang pensiunnya. Maka tolong generasi-generasi dibawah baby boomers arah yang lebih baik ketimbang hanya menyimpan USD.

Tulisan anda mengingatkan buku kuliah Anne Booth - The Indonesian Economy in The Nineteenth and Twentieth Centuries a History of Missed Opportunities. Pembuat kebijakan di Indonesia emang hobi mengulangi sejarah. Sedih rasanya kalau melihat data sejarah yang memperlihatkan bahwa di masa penjajahan Hindia Belanda orang Indonesia itu ternyata lebih sejahtera. Setelah kemerdekaan, kita menyaksikan pajak hasil kerja keras kita dipakai pembuat kebijakan untuk "copy-paste" peraturan lama. Apakah ini produk sampingan sistem pendidikan dari sekolah sampai universitas yang sukses mengajarkan anak untuk mencontek?

Semoga kelak negara kita bisa menjadi negara dengan ekonomi berbasis pengetahuan atau setidaknya jasa. Keduanya membutuhkan manusia yang berpikir dan bukan menikmati hidup yang begitu-begitu tapi menginginkan hasil yang berbeda.

Anonymous said...

Us index dollar sudah 97.54 malam ini terus naik,gejala jelek untuk rupiah kah?

Anonymous said...

Dear Pak IS,

Saya setuju dengan yang dibilang Vitamin ekonomi diatas

"Maka tolong generasi-generasi dibawah baby boomers arah yang lebih baik ketimbang hanya menyimpan USD"

Klo ada kesempatan bisa dibahas soal ini. karena ketika saya melihat film dokumenter "great depression 1930" sangat mengerikan sampir semua orang jadi pengangguran.

Jadi saya jadi mikir. jika krisis yang akan datang lebih parah dari "great depression 1930" aggg.. gak kebayang

Jadi Petani kali ya pak?

Reader said...

Tanpa ada maksud mengejek, tapi saya kira Pak Theo T. bukan orang yg memberikan rasa aman ya utk diikuti nasehat spekulasinya.

Ini artikel fear-mongering sih.

Imam Semar said...

Saya senang di antara pembaca EOWI terjadi diskusi. Saya harap hal ini bisa berlangsung terus.

EOWI sendiri punya opini yang berbeda. Analisanya akan kami angkat minggu-minggu depan. Intinya masuknya Yuan ke dalam SDR tidak (banyak) berpengaruh pada trend US$.

Mungkin pak T membaca sebagian tulisan2 Jim Rickard.

Saya juga membaca beberapa artikel oleh Jim Rickard mengenai SDR. Seingat saya, Jim berpendapat bahwa SDR akan menjadi pemicu inflasi. Dalam 2 bukunya terakhir (yang belum selesai saya baca), sebenarnya Jim ada di kubu deflation.

Bagi EOWI, antara deflasi dan inflasi adalah masalah waktu. Credit cycle. EOWI perkirakan, sampai 2030, tidak akan ada run away inflation USdollar. Antara 2020 - 2030 mungkin mild inflastion. Setelah itu baru terjadi inflasi yang serius.

Salam,
IS

Imam Semar said...

Yang menarik......US$ sudah menari-nari disekitar Rp 13,500.

Mmmm...mmmmm...mmm.

Anonymous said...

Saya pikir sih pegang CNY atau U$ terhadap rupiah sama aja, toh dipegging cny ama U$, tapi ketika CNY dijadikan SDR sama IMF, kemungkinan CNY menguat terhadap U$.

Anonymous said...

Ada refrensi buku / artikel / blog / berita apa yang biasa dibaca om IS?

Anonymous said...

USD sampai pk 19.15, ada di kisaran 13.555, versi XE.com

Anonymous said...

USD sampai pk 19.15 hari ini, berkisar di 13.555 versi XE.com

Christopher Widjaja said...

Selama politik dan situasi dalam negri amerika masih aman terkendali selamat bermimpi aja Yuan menggantikan dollar belajarlah dari sejarah kekaisaran Romawi. Saat ini amerika masih diposisi puncaknya. Paling banter akan ada dollar digital yang mengadopsi tekhnologi semacam bitcoin.

Bali Manggis said...

terimakasih pak IS utk informasinya

Bali Manggis said...

terimakasih utk informasi bpk/ibu...

Anonymous said...

http://www.zerohedge.com/news/2015-08-04/chinese-stock-short-squeeze-stalls-after-imf-delays-decision-yuan-sdr-inclusion

penundaan yuan jadi SDR ke tahun 2016

Fari said...

Jakarta, Aktual.com — Rilis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2015 yang belum cukup kuat menahan pelemahan laju rupiah. Selain itu, reaksi pemerintah yang terkesan tenang menanggapi pelemahan rupiah justru memberikan sentimen negatif.

BACA SELENGKAPNYA DI :
Ekonomi RI Melambat, Rupiah Diprediksi Masih di Zona Pelemahan

IBU ERSIN Malaysia said...

saya IBU ERSIN posisi sekarang di malaysia
bekerja sebagai pembantu gaji tidak seberapa
setiap gajian selalu mengirimkan uang orang tua dikampung,
sebenarnya saya sudah pengen pulang tapi gak punya ongkos,
sempat saya putus asah dan secara kebetulan
saya buka FB ada seseorng berkomentar
tentang KI SAKTI katanya ki sakti ini bisa membantu orang sukses
melalui jalan togel dan saya coba2 menghubungi KI SAKTI ini,
karna di malaysia ada pemasangan
jadi saya memberanikan diri untuk meminta angka kepada KI SAKTI ,dan
angka yang di berikan 6D TOTO,saya pasang kali 100 lembar,dan ternyata tembus 100%,sungguh saya tidak pernah menyangka bisa menang togel ,
terima kasih banyak KI,kalau bukan berkat KI SAKTI mungkin saya tidak bisa sukses seperti sekarang,,
saya sangat bersyukur sekarang saya sudah sangat senang karna hidup saya sekarang jauh lebih layak dari sebelumnya,,TERIMAH KASIH banyak kepada KI SAKTI sampai mati saya tidak akan pernah lupa dengan kebaikan AKI,dan rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha di kampung halaman saya..
..BAGI ANDA PENGGEMAR TOGEL YANG INGIN MERASAKAN KEMENANGAN,
TERUTAMA YANG PUNYA UTANG BANYAK DAN BELUM LUNAS,,ANDA JANGAN PUTUS ASAH .
HUBUNGI KI SAKTI DI 082_338_188_733
TAK ADA SALAHNYA ANDA MENCOBA,DAN SAYA JAMIN KI SAKTI TIDAK AKAN MENGECEWAKAN..

Anonymous said...

Waduh ada Bu Ersin, he he he. Tolong dong diterawang grafik us$ ama idr sampe tahun 2025 ke Ki Yelen, eh Ki Sakti, oh ya sekalian ama CNH nya

Lestari Fbbb said...

Buat kaum muslimin tetaplah memegang emas dan perak karena dari jaman nabi nabi dahulu insya allah tdk brubah....
Janganlah memakan riba...bermain jual beli mata uang dg niat 'bukan' dalam perdagangan riil..msk golongan pemakan riba...naudzubillah minzalik..
Mudah mudahan umat RI tdk terombang ambing..keganasan sistem ribawi..fractional reserve..amiinn..ya Allah..

Imam Semar said...

Bagi yang percaya bahwa Yuan akan menguat, ini ada berita sedih:

China devalues yuan by 2pc

http://www.themalaymailonline.com/money/article/china-devalues-yuan-by-2pc-after-poor-economic-data

Anonymous said...

China devalues yuan, semua mata uang regional langsug kena dampak, termasuk saham. IHSG paling parah. :o

Lestari Fbbb said...

Mantap...akibatnya maka harga emas naik..

Habib said...

Analisa apa saja, silahkan deh....mau buat kesimpulan yang berbagai macam, boleh2 saja.
Sekian banyak ulasan yang telah dibeberkan, sangat mengganjal jika bung IS menghujat / menumpahka semua permasalahan ini ke Bung Hata (alm).
Mohon sudilah minta ma'af ke keluarga beliau.
Kondisi rupiah kita dan juga keputusan menggunakan "rupiah" bukanlah keputusan perorangan...
Akankah bung IS akan menghujat Bung Karno karena telah "membaca" kan proklamasi kemerdekaan bangsa ini (karena bobroknya mental sebagian bangsa ini sekarang) atau kita terus2 mencoba mensucikan diri???
Wassalam...

Anonymous said...

Kesempatan untuk masuk ke CNH, dari rupiah nih, Bagaimana Mas IS ? Apa ini kesempatan ?

Imam Semar said...

Alamaaaaak,
Usd sdh 13,800

Anonymous said...

Udah IDR 13.880 Mas IS bentar lagi IDR 14.000

Orang diatas yg nyuruh minta maaf abaikan aja mas IS. Kritik aja trus... biar semua orang sadar apa yang pernah dikatakan oleh nabi bahwa akhir Zaman akan ada kebohongan Besar

Teruslah menulis untuk Umat :D

Anonymous said...

om IS makin girang aja nich..hehehe

Lestari Fbbb said...

Dari dulu jaman nabi nabi uang itu adalah emas dan perak basisnya...ya pake uang fiat kertas bgini smpai kiamat. Juga akan trus terombang ambing spt buih di lautan...
Riba itu ada 73 jalan...bukan sekadar bunga ..aja....trmasuk fractional reserve yg dipraktekan sekrang!...
Aadanya siklus deflasi dan inflasi spt tsunami skrg ini karena..karena kebodohan kita mau aja ikut prjanjian brettonwood...smua mua pake dollar...makan gratis mrk cuma modal printing...naudzubilllah minzalik...

Anonymous said...

Jangan lupa artikelnya om is

Imam Semar said...

Ada ledakan besar, ekivalen 21 ton TNT di Tian Jin Cina tadi malam.......,

Nasib Cina tidak baik sama sekali...

Nasrullah said...

http://www.visualcapitalist.com/60-trillion-of-world-debt-in-one-visualization/

Nasrullah said...

http://www.visualcapitalist.com/60-trillion-of-world-debt-in-one-visualization/

Anonymous said...

Setidaknya komoditas pangan tidak terus merangkak naik

Analisisnya diperpanjang lg Pak IS, klo stabilitas pangan ambrol jg, wassalam deh

Nasrullah said...

30%-50% lagi
-------------------
****************

Well, former IMF economist Stephen Jen is suggesting that we could soon see major currencies all over the planet being devalued by up to 50 percent…


[The] devaluation of the yuan risks a new round of competitive easing that may send currencies from Brazil’s real to Indonesia’s rupiah tumbling by an average 30 percent to 50 percent in the next nine months, according to investor and former International Monetary Fund economist Stephen Jen.

Anonymous said...

Apa hubungannya ledakan di china sama ekonominya?

Anonymous said...

Gak ada hubungan nya bro

mungkin maksut mas is "udah jatoh tertimpa tangga"

denmas said...

Bung IS, kl bagi US sendiri apa ga gelisah kl melihat USD menguat sendirian? sementara dari analisa Bung IS sendiri dlm tulisan2 terdahulu, tingkat/kebiasaan konsumsi rakyat US cdrg menurun/berhemat, yg artinya cdrg berbalik menjadi negara produsen/eksportir lagi.. Pengusaha asli US spt Donald Trump dkk & Perbankan di US sendiri terlihat jd lebih "tidak nyaman" dgn devaluasi Yuan, selain tren Euro yg terus melemah.. Pegang longterm USD apa masih bijaksana?, Emas jg segitu2 sj, Properti jg melemah, Negara produsen minyak sama2 tidak mau mengerem keluaran "emas hitam"nya, krn ancaman defisit APBNnya lebih mengerikan (artinya tidak mau terlalu kencang mengikat pinggangnya, mgk spt analisa Bung IS, takut dikudeta rakyatnya yg telah dibiasakan sejahtera).

belajar blogspot said...

http://globalbola8.blogspot.com/