___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Tuesday, July 17, 2012

OSLO TANPA RAMADHAN MUSIM PANAS: MERUNTUHKAN KUBU RUKYAT



Menjelang puasa Ramadhan, seperti biasa saya menerima beberapa email yang topiknya perdebatan mengenai penentuan awal dan akhir Ramadhan. Saya sebenarnya sangat sibuk dan pendapat saya hanya mengalami perubahan sedikit (sangat tidak prinsipil) mengenai penentuan awal dan akhir Ramadhan, tetapi karena beberapa bulan sebelumnya saya sudah mempunyai defeating argument yang elegan bagi kubu yang bersebrangan, maka alangkah baiknya kita bisa berbagi argumen pamungkas yang elegan ini. Saya tidak akan heran jika akan banyak dari pembaca yang awalnya berbeda opini mengenai cara penentuan awal/akhir Ramadhan akan segera melepas apa yang dianutnya selama ini. Bagi seorang muslim (orang yang berserah diri, dan bukan sekedar menjalankan 5 rukun Islam saja lho) dan orang yang takwa, segera berubah bila disampaikan argumen yang benar secara elegan. Karena setiap hari ia bersumpah: “.......inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbi al'aalamiina. laa syariika lahu wabidzaalika umirtu wa-anaa awwalu almuslimiina.”

Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri".

Ungkapan “aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri”, bukan berarti kita, atau nabi Muhammad adalah orang muslim pertama, kita tahu bahwa Quran menyebutkan nabi Ibrahim adalah muslim. Kalimat itu tidak lain berarti, kesediaan mengikuti yang benar, saat itu juga, tanpa disuruh lagi, tanpa ada rasa keberatan sama sekali ketika kebenaran itu dibeberkan secara jelas. Saya harap pembaca termasuk orang-orang yang seperti itu.

Dalam cerita ini akan dimunculkan beberapa nama dan kelompok organisasi. Alice Norin, Alfred Almendingen, Prof T.Djamaluddin, Muhammadiyah dan al-Irsyad. Kita tahu, kalau untuk topik puasa, Prof T. Djamaluddin, Muhammadiyah dan al-Irsyad pasti ada kaitanya. Tetapi apa kaitannya antara bintang film Alice Norin dengan puasa, Prof T.Djamaluddin, Muhammadiyah dan al-Irsyad? Kita lanjutkan saja ceritanya.

Namanya Alice Norin. Dia adalah bintang film pemeran Ayat-Ayat Cinta.

Nama Norin diberikan oleh kedua orang tuanya yang merupakan akronim dari asal kedua orang tuanya yaitu Nor-way dan In-donesia. Ayah dari Alice Norin adalah teman baik saya, namanya Alfred Almendingen. Karena nama marganya Almendingen, tidak berarti dia keturunan Arab. Dia sama sekali tidak ada darah Arabnya. Almendingen adalah satu kata, bukan Al-Mendingen.

Penempatan Alice Norin dan Ayat-Ayat Cinta untuk pembukaan tulisan ini, bukan karena kotroversi Lebaran/Awal Ramadhan Dua Hari ada kaitannya dengan Ayat-Ayat Cinta. Tetapi ada contoh yang menarik yang bisa dipergunakan untuk menetapkan methode penentuan hari lebaran dan awal Ramadhan yang konsisten dan berlaku universal.

Alfred (bapaknya Norin), berasal dari sebuah kota kecil di Norway yang berpenduduk saat ini sekitar 9000 jiwa. Namanya Sandnessjøen dan sulit sekali dicari di peta. Letaknya pada koordinat 66° 01′ N 12° 38′ E yang sangat dekat dengan lingkaran kutub. Selama periode antara musim semi sampai musim gugur (Maret-September) daerah ini memperoleh siang lebih dari 12 jam. Matahari bersinar lebih dari 12 jam. Puasa selama musim panas akan kelihatan berat, walaupun hal ini dibantah oleh Alfred yang mengaku puasa selama Ramadhan.

Berat dan ringannya puasa selama bulan Ramadhan yang bertepatan dengan musim panas bukanlah yang mau disampaikan oleh cerita ini, melainkan kasus Ramadhan di musim panas di wilayah ujung utara bumi bisa meluruskan semua pertentangan dan kontroversi 2 awal/akhir puasa yang sering terjadi. Intinya sistem rukyat dan derivarifnya (seperti imkanur rukyah) itu gagal diapplikasikan untuk wilayah utara atau selatam bumi ketika musim panas. Jadi sistem rukyat itu salah, untuk hal-hal yang detail menjadi tidak akurat, sudah usang.

Itu kesimpulannya. Uraianya dan pembuktiannya adalah sebagai berikut.


DALIL-DALIL PUASA
Perintah puasa dan petunjuk kapan dimulainya dan diakhirinya puasa ada di Quran. Petunjuk itu sangat jelas.

Dalil-1
[Q 2:185] bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (Arab: syahida) bulan itu (Arab: syahru, Inggris: month) , maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, ........

Dalil-1 mengatakan bahwa siapa-siapa yang menyaksikan (syahida) bulan (Ramadhan) diwajibkan untuk puasa.

Adapun cara patokan untuk menentukan bulan penanggalan (month) adalah hilal (Ingg: New Moon. Ind: bulan baru, bulan sabit), seperti yang tertulis di Quran.

Dalil-2
[Q 2:189] Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (Arab: hilal). Katakanlah: "Bulan sabit (Arab: hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji......”

Banyak ulama menambahkan satu dalil pembantu lagi yaitu hadith nabi mengenai cara penentuan puasa dengan melihat (Arab: rukyat) hilal. Saya katakan hal ini sebagai dalil pembantu, karena sifatnya membantu bagi masyarakan setempat pada suatu masa itu. Artinya dalil itu tidak berlaku universal dan tidak bisa langgeng.

Hadith yang dijadikan dalil itu ada beberapa versi narasi dari Ibnu Umar, Abu Huraira Ummu Salamah dan Anas, tetapi pada intinya sama. Salah satunya adalah:

Dalil-3A (kondisional)
Sahih Bukhari Vol. 3, Buku 31, No. 130
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar
Rasulullah menyebut bulan Ramadhan dan mengatakan: “ Jangan berpuasa kecuali kamu melihat hilal (Ramadhan) dan jangan berhenti sampai kamu melihat hilal (Syawal). Tetapi jika langit berawan, perkirakan jumlah (hari)nya.


Dalil-3B (kondisional)
Sahih Bukhari Vol. 3, Buku 31, No. 131
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:
Rasulullah berkata: “Sebulan bisa ada 29 malam dan jangan berpuasa sampai kamu melihat hilal dan kalau langit berawan, lengkapi bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Saya katakan Dalil-3 ini kondisional karena hanya berlaku pada kondisi-kondisi tertentu, dan saat ini sebenarnya tidak diperlukan. Dalil ini bisa membuat rancu jika diterapkan secara universal karena membuat problemanya menjadi over-constraints/over-specified (terlalu banyak persyaratan) sehingga tidak bisa diselesaikan. Ibaratnya ada 5 persamaan dengan 3 variable yang tidak diketahui. Hasilnya adalah tidak bisa diselesaikan, kecuali 2 persamaan adalah turunan dari persamaan lainnya. Sifat over-specified inilah yang akan digunakan untuk mematahkan penggunaan Dalil-3 secara universal.

Terlepas dari itu semua, hadith Sahih Bukhari Vol. 3, Buku 31, No. 130 (di beberapa buku hadith di beri nomor 1767) diakhir dengan pernyataan Tetapi jika langit berawan, perkirakan jumlah (hari)nya. Lantas di beberapa buku hadith diberi komentar “maksudnya bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30”. Ini bukan ucapan nabi S.A.W

Dengan kata lain, perkiraan akhirnya tetap diandalkan. Tentu saja yang disebut perkiraan dimasa itu di masyarakat muslim Madinah/Mekkah hanyalah feeling saja. Apakah yang disebut perkiraan itu juga sekedar menggenapkan Sya’ban ke 30 hari, sebagai cara berjaga-jaga agar jangan terlalu cepat berpuasa, sifatnya adalah intepretasi/tafsir. Kita boleh saja menafsirkan yang lain. Hadith ini nampaknya jarang dijadikan rujukan dibandingkan hadith-hadith yang bernada sama (tentang awal/akhir Ramadhan).


SIKLUS BULAN
Penampakan wujud bulan dilihat dari bumi, berulang setiap 29.53 hari (perhitungan kasar). Secara diagram dapat dilihat di gambar berikut ini.

Dimulai saja dengan bulan baru (new moon). Wujud bulan seperti sabit yang sangat kecil. Ini yang disebut sebagai hilal, setidaknya sebagai awal dari hilal. Kecilnya wujud bulan seiring dengan sedikitnya bagian bulan yang terilluminasi matahari yang menghadap ke bumi.


Fasa bulan.


Seiring dengan perjalanan bulan mengelilingi bumi, maka wujud bulan semakin besar karena semakin banyak bagian bulan yang terilluminasi matahari yang bisa nampak dari bumi.

Akhirnya 50% (separo) dari bulan nampak dari bumi, ini disebut dalam bahasa Inggris First Quarter Moon. Jika ini diteruskan akhirnya menjadi bulan purnama atau Full Moon. Dan seterusnya seperti yang terlihat digambar atas. Akhirnya kembali ke New Moon.

Menurut Google Translate, yang disebut hilal adalah bulan sabit. Ini mencakup New Moon sampai crescent. Tetapi dalam konteks hadith dan ibadah agama Islam, hilal mengacu pada New Moon. Karena jika hilal dijadikan sebagai patokan hari pertama pada bulan komariah, maka yang disebut hilal adalah bulan sabit yang pertama, terkecil. Bukan yang sudah berumur 3-5 hari.

Menurut Google Translate, bulan secara umum dalam bahasa Arab disebut qamar. Dan bulan purnama (Full Moon) disebut badar kamil.

Keterangan di atas nampak mudah dan sederhana. Apalagi kalau sudah dimasukkan faktor visibility atau penampakan. Bulan, lebih-lebih bulan sabit mempunyai persyaratan untuk bisa dilihat. Yang pasti tidak terhalang awan. Kontras juga diperlukan, dalam arti posisi koordinat bulan tidak terlalu dekat dengan posisi matahari. Langit harus cukup gelap agar bulan (hilal) bisa terlihat. Dan yang lebih penting lagi, karena banyak dilupakan orang yang hidup di luar lingkaran kutub adalah bahwa posisi bulan harus di atas horizon.


DUA KUBU DALAM PENENTUAN HILAL
Awalnya dua (2) kubu dalam penentuan awal/akhir Ramadhan adalah kubu rukyat dan kubu hisab. Kubu rukyat mendasari penentuan awal/akhir Ramadhan dengan melihat bulan. Sedangkan kubu hisab mendasari penentuan awal/akhir Ramadhan dengan perhitungan ilmu falak. Kubu rukyat sering (hampir selalu) mendapat kesulitan dalam menentukan awal/akhir puasa, karena langit terutama di sekitar equator lebih sering tertutup awan. Walaupun demikian, pengikut kubu rukyat selalu lebih banyak. Mungkin karena di Indonesia, negara lebih memihak kubu rukyat.

Dalam perjalanannya pokok perbedaannya berubah. Beberapa kubu hisab bergabung dengan kubu rukyat, yang sebut saja sebagai kubu rukyat banci, karena methodenya adalah hisab, tetapi mengadopsi kriteria rukyat. Dalam kriteria penentuan 1 Ramadhan/Syawal, kriteria visibility versi kubu rukyat diperhitungkan dalam perhitungan siklus bulan. Kriteria Imkan rukyat (visibilitas hilal) mulai diadopsi oleh beberapa organisasi Islam seperti al-Irsyad dan Persis. Secara sederhana, penetapan tanggal 1 Ramadhan/Syawal mempunyai kriteria bahwa secara perhitungan posisi hilal misalnya harus di atas 6º pada saat matahari terbenam (magrib). Jika secara perhitungan hilal masih di bawah 6º maka belum masuk tanggal 1. Angka  6º dikaitkan dengan visibility bulan. Hilal hanya bisa dilihat jika di atas 6º.

Angka 6º adalah angka yang saya pilih secara arbitrary, sebagai kriteria visibility. Sebenarnya angka 6º tidak 100% arbitrary, karena beberapa belas tahun lalu di media, kriteria tersebut digunakan. Tetapi entah kenapa angka itu menjadi 2º. Mungkin jawabannya ada di Wikipedia (link: http://id.wikipedia.org/wiki/Hisab_dan_rukyat).

Astronom punya beberapa angka mendefinisikan visibity hilal. Ada visibility dengan mata telanjang, ada visibility dengan teropong binacular, dan lain-lain. Jadi jangan heran kalau dulu 6º dan sekarang ada yang mengajukan kriteria 2º, atau kriteria yang lebih kompleks lagi. Tidak hanya kriteria yang sudah kompleks, kemudian masih ditambah dengan jargon-jargon astronomi seperti limit Danjon, semakin membuat orang awam terintimidasi. Pembaca EOWI dan juga EOWI bukan astronom. Sehingga hal-hal semacam itu tidak dianggap penting. Memang hal-hal yang detail seperti itu sering dipakai untuk mengintimidasi lawan debat.

Kubu hisab lainnya seperti Muhammadiyah, menggunakan kriteria wujudul hilal. Artinya, tanggal 1 (Ramadhan/Syawal) ditetapkan dengan kriteria bahwa hilal telah terbentuk, tanpa memandang visibilitasnya. Mau sudutnya 1º atau 0.01º, tidak ada masalah. Pokoknya sudah lebih besar dari nol derajad.

Kriteria Imkan rukyat (IR) ini menjadi konyol jika hilal sudah tenggelam sebelum magrib. Kalau sudah tidak ada di horizon apa yang mau dilihat? Dan ini yang akan dijadikan argumen pamungkas untuk mematahkan kubu rukyat dan IR. Perhatikan kata magrib. Ini secara implisit dijadikan kriteria, kapan hilal harus dilihat. Bukan siang hari. Tetapi saat magrib tiba.


SURAT KEPUTUSAN AL-IRSYAD
Rekan saya mengirimkan email mengenai keputusan organisasi al-Irsyad yang sekarang menggunakan kriteria imkan rukyat dan bergabung dengan kubu rukyat yang didukung pemerintah. Berikut ini emailnya:

SK AL Irsyad Alislamiyyah mengenai 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

SURAT KEPUTUSAN
96 – SK – 1433

Sehubungan dengan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan maka Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah menyampaikan hasil hisab untuk penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal 1433H sebagai pedoman bagi warga Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya. Hisab diperhitungkan untuk Ibukota Jakarta dg Long: 106:50:43.0 dan Lat: -06:12:41.0 dengan level: 10 dpl.

Adapun hasil hisab sebagai berikut:

1. Awal Ramadhan 1433 H
Ijtima’ pada hari Kamis, 19 Juli 2012 pukul 11.24 WIB, tinggi hilal pada saat matahari ghurub hari Kamis 19 Juli 2012 yaitu; +01º51’59”. Lama hilal di atas ufuk 8 menit. Besarnya Hilal +00º00’04”. Deklinasi Matahari +20º43’20” dan deklinasi Hilal +15º54’31”. Hilal miring ke Selatan. Azimuth Matahari +290º44’37” dan Azimuth Hilal +286º13’31”. Elongasi +04º19’08”.

Berdasarkan kriteria Imkanur Rukyah, maka Hilal tidak bisa dilihat sehingga bulan Sya’ban 1433 H akan diistikmalkan. Dengan demikian maka Tanggal 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012 M

2. Awal Syawal tahun 1433 H
Ijtima’ pada hari Jumat, 17 Agustus 2012 M pukul 22.54 WIB. Tinggi Hilal pada saat matahari ghurub hari Sabtu18 Agustus 2012 ialah+07º32’01”.
Lama Hilal di atas ufuk 31 menit. Besarnya Hilal +00º00’18”
Deklinasi Matahari +12 º53’05” dan deklinasi Hilal +04º42’36”.
Azimuth Matahari +282º51’31” dan azimuth
Hilal +275º36’27”. Elongasi +11º08’31”

Berdasarkan kriteria Imkanur Rukyah, maka Hilal bisa dilihat. Dengan demikian maka Tanggal 01 Syawwal 1433 H jatuh pada hari Ahad tanggal 19 Agustus 2012 M.

Hasil hisab tersebut di atas sebagai pedoman sementara, adapun kepastian penetapanya, Pimpinan Pusat menghimbau untuk tetap menunggu hasil Sidang itsbat Pemerintah RI yang pada waktunya akan diumumkan oleh Menteri Agama RI.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah puasa dan amal ibadah-ibadah lainnya

Syahrul mubarak

Wassalamualaikum Wr Wb.

PIMPINAN PUSAT AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH

Ketua Umum Sekretaris Jenderal

ttd

KH. Abdullah Djaidi.   Dr. Mohammad Noer

Email ini tidak mempunyai nilai ilmiah untuk memembuktikan bahwa Imkanur Rukyah adalah methode yang sahih, valid untuk digunakan sebagai methode penentuan 1 Ramadhan/Syawal. Rekan saya mengirimkan email al-Irsyad ini, mungkin, secara implisit mengatakan kepada saya bahwa al-Irsyad sudah bergabung dengan kubu rukyat, kenapa saya (Imam Semar) tidak ikut bergabung.

Argumen bahwa mayoritas adalah yang benar adalah suatu logical fallacy (sesat pikir) yang sering digunakan orang. Paham mayoritas tidak membuktikan bahwa paham itu yang benar. Nabi Ibrahim hidup diantara (mayoritas) penyembah berhala, bukan? Nabi Muhammad lahir diantara penyembah berhala bukan? Yang saya tidak inginkan adalah ikut berjamaah di dalam bid’ah (wah saya menggunakan istilah Muhammadiyah).


EMAIL Prof. T. DJAMALUDDIN
Teman saya tadi juga mengirimkan email Prof. T. Djamaluddin yang dikirim ke milis [mus-lim]. Dia mengirimkan email ini karena saya memang bukan anggota milis tersebut. Maksud teman saya ini supaya saya mempertimbangkan untuk bersatu dengan group Islam yang lebih besar. Sebenarnya dia tahu, saya tidak akan terpengaruh pada mayoritas. Artinya saya lebih cenderung untuk mengikuti/mengutamakan yang benar, bukan mayoritas.

Inilah Email prof T. Djamaluddin

To: mus-lim@milis.isnet.org
Subject: RE: [mus-lim] awal ramadhan beda ??

Assalamu'alaikum wr. wb.,

Masalah perbedaan bukan pada "cara", tetapi kriteria. WH (IS: wujudul hilal) vs Imkan rukyat (visibilitas hilal). WH tidak mungkin dijadikan pemersatu, karena pasti akan beda dengan hasil rukyat ketika bulan rendah. IR direkomendasikan karena bisa jadi titik temu hisab dan rukyat. Persis (Persatuan Islam) adalah ormas pengamal hisab (sama seperti Muhammadiyah), keputusannya selalu sama dengan keputusan NU dan pemerintah karena mereka menggunakan kriteria IR. Muhammadiyah pun bisa. Tahun 1998 ketika Muhammadiyah menolak kriteria IR 2 derajat dengan mengatakan itu tidak ilmiah, saya katakan WH lebih tidak ilmiah. Salah satu alasannya saya jelaskan di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/. Semula saya berharap Muhammadiyah kemudian mengusulkan kriteria IR yang lebih astronomis, dengan ketinggian lebih dari 2 derajat (alasannya http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/24/kriteria-imkan-rukyat-kesepakatan-2-3-8-perlu-diubah-disesuaikan-dengan-kriteria-astronomis). Nyatanya mereka merasa puas dengan WH. Beberapa kata penghalus saya gunakan dalam diskusi terbatas bahwa WH sudah ditinggalkan kalangan astronomi (silakan cari referensi astronomi yang menggunakan WH).

Kontraproduktif? Kita boleh berbeda pendapat dalam strategi da'wah/amar ma'ruf nahi munkar berdasarkan pengalaman lapangan yang berbeda. Dalam upaya dialog lebih dari 10 tahun, tidak ada sesuatu yang bisa meruntuhkan superioritas mereka yang selalu mereka sampaikan pada semua jenjang. Seolah hisab mereka paling hebat. Simak pernyataan Ketua PP Muhammadiyah, "Kami sudah bisa menetapkan awal puasa, juga hari raya, sampai 100 tahun ke depan. Hal itu karena kami memiliki rumus esakta, seperti astronomi dan falak, ..." Pola superiroritas seolah hanya Muhammadiyah yang bisa hisab, sangat mengakar sehingga sering saya dengar dari kader Muhammadiyah dari berbagai strata. Bahkan ketika saya diundang ke Padang dalam Munas Tarjih 2003, ada kader Muhammadiyah yang berkomentar "... Siapa yang lebih pintar, kami atau ...", seolah kemampuan hisab itu indikasi kepintaran. Saya gunakan kata lugas "usang" (obsolete) yang netral (bukan kasar) untuk mematahkan superioritas itu, karena sesungguhnya kriterai WH tidak lagi digunakan oleh kalangan astronomi saat ini. Para astronom berusaha merumuskan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) agar hasil hisab yang berwujud kalender kompatibel dengan hasil rukyat. Dengan demikian dalam asplikasinya, pengamat hisab dan pengamat rukyat punya keputusan yang sama.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal

Email yang diforward teman saya ini juga tidak mempunyai nilai ilmiah untuk memembuktikan bahwa Imkanur Rukyah adalah kriteria yang sahih, valid untuk digunakan sebagai methode penentuan 1 Ramadhan/Syawal. Atau membuktikan kriteria wujudul hilal sebagai kriteria yang tidak sahih, valid. Email ini secara implisit menghimbau agar saya (Imam Semar) ikut bergabung.

Juga link yang rujuk pada email ini, tidak untuk membuktikan bahwa Imkanur Rukyah methode yang sahih, melainkan usulan untuk membengkokkan methode hisab, agar bisa berpuasa/berlebaran bersama-sama antara kubu rukyat dan hisab. Dengan adanya kebersamaan maka mayoritas akan tercapai.

Sekali lagi saya katakan bahwa argumen bahwa mayoritas adalah yang benar adalah suatu logical fallacy (sesat pikir) yang sering digunakan orang. Paham mayoritas tidak membuktikan bahwa paham itu yang benar. Nabi Ibrahim hidup diantara (mayoritas) penyembah berhala, bukan? Yang saya tidak inginkan adalah ikut berjamaah di dalam bid’ah.



KUBU IMKANUR RUKYAH DI OSLO TANPA RAMADHAN 1432H

Saya akan tunjukkan bagaimana cara yang lebih ilmiah dan diakui masyarakat ilmiah dalam menetapkan methode/kriteria yang sahih. Namanya “proof by exhaustion”, methode penyingkiran alternatif lain. Dan yang akan saya singkirkan adalah validitas (kesahihan) kriteria Imkanur Rukyah dan methode rukyat. Dalam kasus, dengan menunjukkan 1 (satu) kasus saja yang membuat Imkanur Rukyah tidak berlaku/gagal, maka kriteria Imkanur Rukyah menjadi tidak sahih. Dan otomatis, kriteria wujudul hilal dan/atau lainnya (selain rukyat dan Imkanur Rukyah) tetap berlaku sampai dibuktikan gagal.

Methode pengamatan hilal (rukyat) atau turunannya, mempunyai kelemahan. Penampakan bulan tidak mempunyai ritme yang tetap setiap tahunnya. Bulan tidak selalu muncul setiap harinya pada saat yang sama relatif terhadap matahari. Dan juga tidak selalu tenggelam pada waktu yang sama terhadap posisi matahari. Demikian juga benda-benda langit lainnya. Apalagi di wilayah di dekat kutub (utara dan selatan). Pada musim panas, siang hari menjadi lebih panjang. Dan sebaliknya pada musim dingin.

Pada musim panas, ada masa-masa dimana hilal tidak muncul sama sekali diwilayah ini. Hilal terbenam sebelum magrib. Bulan muncul (sesudah magrib) setelah wujudnya sudah 25% atau 50% atau bahkan mendekati purnama, tergantung bagaimana cara rukyatnya. Dalam kondisi seperti ini methode dengan kriteria rukyat dan Imkanur Rukyah gagal.

Contohnya adalah kasus Ramadhan tahun 2011 M atau 1432 H lalu di Oslo, ibukota negara nenek moyang Alice Norin.

  1. Hilal terbentuk pada tanggal 30-Jul-11 jam 20:40 waktu setempat (atau pukul 04:40 WIB tanggal 31 Juli di Indonesia). Tetapi hilal tidak pernah muncul di horizon, karena bulan terbenam 45 menit sebelum magrib.

Catatan: di Indonesia karena hilal terbentuk bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2011 hilal jam 04:40 dan ketika magrib pada tanggal tersebut sudah di atas 6º (atau berapapun) maka tanggal 1 Ramadhan 1432 H dimulai pada saat magrib 31 Juli 2011 dan puasa dimulai tanggal 1 Agustus 2011. Baik kubu hisab dan kubu rukyat punya waktu puasa yang bersamaan.



Peta visibility hilal tgl 1 Agustus 2011. Di Oslo hilal belum nampak (lha hilal sudah terbenam sebelum magrib kok). Padahal di Indonesia sudah Puasa (1 Ramadhan 1433H).


  1. Bulan masih tenggelam sebelum magrib sampai tanggal 2-Agustus-11. Jadi belum bisa memenuhi kriteria rukyat atau  Imkanur Rukyah. Mau 2º atau apapun tidak bisa, lha sudah di bawah horizon ketika magrib, bagaimana bisa dilihat? Jadi secara rukyat atau Imkanur Rukyah, Oslo belum memasuki 1 Ramadhan, belum boleh puasa!

  1. Tanggal 5 Agustus 2011, lima (5) hari sesudah Indonsia berpuasa, pada hari ini posisi bulan tertinggi mencapai 3º dimana menurut kriteria Imkanur Rukyah baru bisa dilihat. Sayangnya bulan sudah hampir ½ penuh. Bukan hilal lagi namanya, tetapi qamar. Jadi menurut kubu rukyat dan Imkanur Rukyah bahwa tahun 2011 M atau tahun 1432 H, tidak ada bulan Ramadhan di Oslo dan umat Islam di Oslo serta di wilayah sekitarnya tidak perlu puasa! Alasannya tidak ada hilal, yang ada qamar. Horeeeeee!!!! Alfred Almendingen, Alice Norin, Hasan Tiro, dan kaum muslimin disana bersorak, karena tidak usah berpuasa.

  1. Kalau ada yang mau pakai kriteria 6º (entah rukyat macam apa), maka yang dilihat adalah bulan menjelang purnama alias badar kamil.

Bagaimana lebarannya di Oslo? Itu tidak usah dipikirkan. Lha, Ramadhannya tidak ada, bagaimana dengan akhir Ramadhan? Kalau mau dipaksakan, dengan rukyat akan semakin membingungkan.

Tabel berikut ini bisa lebih menjelaskan lebih detail.







KUBU IMKANUR RUKYAH DI OSLO TANPA RAMADHAN 1433H
Bagaimana dengan tahun 2012 M ini? Apakah Oslo juga tidak ada Ramadhan versi kubu Imkanur Rukyah? Jawabnya ada di table berikut ini.

Poin-poin pentingnya:

  1. Hilal terbentuk pada tanggal 19 Juli 2012 jam 06:25 waktu setempat (Oslo). Magrib dimulai jam 22:16. Bulan terbenam 39 menit sebelum magrib. Jadi tidak akan nampak.

  1. Bulan tenggelam sesudah magrib terjadi pada tanggal 22 Juli, tetapi ketinggian hanya 1.5º. Terlalu rendah untuk bisa dilihat.

  1. Dan tanggal 23 Juli  ketika magrib, bulan pada ketinggian 3.2º. Bisa dilihat (dengan alat barangkali) menurut kriteria imkanur rukyah pak T. Djamaluddin. Hilalnya sudah gemuk, mendekati ¼ penuh. Umat Islam di Indonesia sudah puasa 2 – 3 hari, tergantung dari kubu yang dianut. Sayangnya bulan yang muncul bukan hilal, tetapi hilal gemuk. Jadi tahun 2012, warga imkanur rukyah Oslo dan sekitarnya tidak perlu puasa, karena tidak ada Ramadhan. Horeeee!!!!

  1. Pada tanggal 26 Juli 2012, ketinggian bulan mencapai 6º. Pasti bisa dilihat dengan mata telanjang karena sudah sebesar raksasa, maksudnya..... sudah lebih dari separo dari purnama.


Kubu Imkanur Rukyah Di Oslo Tanpa Ramadhan 1433H


CATATAN AKHIR
Banyak orang menjadi pengikut mayoritas, mereka melakukan sesuatu karena mayoritas melakukannya. Kebenaran ditentukan oleh mayoritas. Ini adalah sesat pikir – logical fallacy.

Banyak orang terintimidasi dengan gelar akademis. Orang dengan gelar akademis banyak dan tinggi, seperti professor, doktor, dan nama besar dianggap sebagai narasumber yang selalu benar. Ini juga suatu locigal fallacy, sesat pikir.

Kami di EOWI tidak akan terintimidasi dengan nama besar dan gelar. Kami juga tidak merasa kecil dan terintimidasi jika berada pada posisi minoritas kecil. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah penganut atau nama besar atau gelar.

Telah dibuktikan validitas imkanur rukyat dan otomatis methode rukyat serta derivatifnya gagal dalam menentukan 1 Ramadhan (otomatis 1 Syawal), di Oslo dan wilayah sekitarnya untuk tahun 2011 dan 2012. Dan ini berlaku umum selama musim panas di wilayah tersebut. Oleh sebab itu, methode rukyat dan derivatnya adalah methode yang gagal. Jika untuk wilayah ini diberlakukan pengecualian, maka menurut prinsip Oxam Razor, methode ini lebih inferior dari methode wujudul hilal.

Kalau kubu rukyat dan derivatnya masih mau ngotot memaksakan methodenya, mungkin mereka harus merubah rukun Islam di Norway, Swedia, Western Shetlad, Iceland, menjadi 4 saja. Yakni syahadat, sholat, zakat dan haji. Puasa sekali-sekali kalau ketemu Ramadhan. (Ha ha ha ha ha ha ha...). Ooo.... kalau tahun ini tidak mau puasa...., ngungsi aja ke rumah kakeknya Alice Norin. Disana nggak ada Ramadhan (versi rukyat) kok. Asyiik ‘kan?

Kalau kubu rukyat tidak sahih, jadi apakah Muhammadiyah yang benar?

Tidak juga. Ada satu dalil yang digunakan oleh Muhammadiyah yaitu prinsip kesatuan wilayatul hukmi yang sifatnya bidah. Prinsip ini mengatakan bahwa jika ada daerah dari suatu negara (wilayah hukum) sudah masuk tanggal 1 (Ramadhan/Syawal) secara wujudul hilal maka tanggal 1 (Ramadhan/Syawal; mulai puasa/hari raya) berlaku untuk semua daerah di negara itu, walaupun ada sebagian daerah dimana hilal belum wujud pada saat magrib. Hal ini pernah dibahas EOWI di link ini: http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2007/09/lebaran-ganda-ditinjau-dari-sudut.html). Lebaran tahun 2007 versi EOWI ditetapkan bawha 1 Syawwal 1428 H, jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007 untuk wilayah Indonesia bagian Barat-Utara dan tanggal 13 Oktober 2007 untuk wilayah Indonesia bagian Timur-Selatan. (Catatan: Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1428 tanggal 12 Oktober untuk seluruh wilayah Indonesia). Bayangkan untuk negara seperti Amerika Serikat yang mempunyai wilayah di Pasifik (Hawaii), Alaska dan Mainland, apakah mau disamakan 1 Ramadhannya atau Lebarannya? Begitu juga Inggris dengan wilayahnya di pulau Falkland? Untuk jamnya saja mereka punya beberapa zone waktu. Kenapa Lebaran harus sama?

Tadi di awal tulisan ini disebutkan bahwa Dalil-3 (hadith-hadith nabi yang bertemakan penentuan awal/akhir Ramadhan) adalah sifatnya kondisional dan relatif, maksudnya methode adalah satu-satunya methode yang dimiliki umat Islam di sekitar Madinah-Mekkah di masa itu. Dan yang bisa baca-tulis saja katanya masih sedikit, apa lagi yang menguasai ilmu falak.

EOWI yakin, di luar sana banyak orang yang menganut prinsip wa anna awwalu muslimin, saya tidak perlu menunggu orang lain untuk berserah diri mengikuti yang benar ditengah-tengah mayoritas dengan herd mentality (bermental seperti ternak). Oleh sebab itu, jika anda menyebarkan tulisan ini anda ikut andil membantu mereka menuju jalan yang benar.

Sebagai penganut prinsip wa anna awwalu muslimin, EOWI terbuka terhadap kritik, sekiranya EOWI salah,..... kami mangucapkan terimakasih atas membetulannya semoga Allah memberi balasan yang banyak.

Saya saat ini berada di hutan di selatan Sorong Papua, kira-kira 2 jam dengan helikopter. Puasa disini akan dimulai tanggal 20 Juli 2012 berdasarkan perhitungan EOWI. Sedangkan jika tidak ada halangan, pada saat lebaran saya akan ada di Jakarta. Diharapkan 1 Syawal 1433 H untuk Jakarta akan jatuh tanggal 19 Agustus 2012.

Di saat ada beberapa kubu yang bersebrangan, EOWI menganjurkan agar anda melakukan riset/perhitungan sendiri, karena tanggung jawab dihadapan Tuhan tetap pada individu masing, dan tidak bisa dipindah tangankan ke pemerintah atau al-Irsyad atau Persis, atau Muhammadiyah atau prof. T. Djamaluddin. Anda bisa mendown load secara gratis software-software perhitungan astronomi di internet.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan kutipkan sebuah ayat dari Quran dan sebuah pernyataan dari teman saya ketika tulisan ini saya sodorkan kepadanya:

[Q 17:71] (Ingatlah) suatu hari Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

[Q 17:72] Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). 

Dalam usaha mengelak untuk berpikir, komentar teman yang saya sodori tulisan ini: “Kalau para ahli saja masih mungkin keliru.... siapa pula awak niih

Untuk pertanyaan “Siapa pula awak niih?”, jika dikaitkan dengan ayat Q 17:71-72, pasti pembaca sudah tahu jawabannya, yaitu: “Orang yang tersesat.” Tidak ada jawaban lainnya.



Selamat berpuasa, Ramadhan Mubarak!
Hutan Bintuni, 13 Juli 2012.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

15 comments:

Anonymous said...

Ah sampeyan berpuasanya di antartika saja mas semar, terlalu pakai otak coba saja roh dirimu itu sampeyan pikirkan sampai botak pun kagak bisa kelihatan kan ? soal puasa itu soal kemepimpinan bukan debat otak yang makin sesat. Muhamadiyah pembaharau memang sesat perusak islam dari dalam.

Anonymous said...

Jangan lupa bahwa Galileo, Bapak Astronomi modern, adalah juga peletak dasar rumus bunga majemuk, yang memungkinkan riba dijalankan secara sistematis, sebagaimana dilaksanakan oleh para bankster hari ini. Kita juga tahu bahwa patron Galileo adalah Keluarga Medici, salah satu bankir terkemuka di zamannya. Rasionalisme, cara berpikir kalkulatif dan spekulatif, sangat diperlukan bagi keberlangsungan riba.

Mamase said...

Yang namanya rukyat itu hanya di akhir tanggal 29. Jika tidak terlihat hilal, maka diberlakukan ISTIKMAL, yaitu bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari, dan hari berikutnya otomatis sudah tanggal 1. Tidak perlu dilakukan rukyat lagi. Demikianlah Rasulullah memerintahkan.

coating thickness murah said...

hmm baru tahu euy di oslo

Anonymous said...

Terima kasih Pak IS...kebetulan sy juga dari awal setuju dg methode hisab...dan yg lucu dr mereka yg melakukan rukyat, Indonesia selalu berbeda dg negara2 tetangga seperti Malysia, Brunei....di negara2 Arab pun mulai puasa tgl 20 Juli...apalagi mereka merasa didukung oleh sang Profesor...

Anonymous said...

Terima kasih pak IS....anda masih konsisten untuk tidak terpengaruh mayoritas, tapi mengedepankan logika ilmiah berdasarkan sumber2 yg shahih...

padahal doyan said...

minta ijin copaz pak, ini artikel yg saya cari2 sejak kemelut perbedaan pendapat awal ramadhan dan awal syawal ... blog saya padahaldoyan.blogspot.com ... terima kasih.

Anonymous said...

Syarat bulan hijriyah baru menurut Konsep Wujudul Hilal:
1. Telah terjadi ijtimak
2. Ijtimak qoblal ghurub
3. Moonset after sunset

Jadi, menurut Konsep Wujudul Hilal, kapan jatuhnya 1 Ramadhan 1432H dan 1 Ramadhan 1433H di Oslo?

Lazuardi Zulfikar said...

Assalamualaikum,,
Nice artikel EOWI...

Maaf saya mau ikut tanya sedikit mas, berhubung saya takut perhitungan saya salah...(walaupun sudah terlambat karena puasa sudah berjalan hehe...)

Menurut perhitungan EOWI, untuk puasa tahun ini di wilayah barat Indonesia jatuh pada tanggal berapa?
Saya menghitung pake hisab, membandingkan dengan kalender2 lunar tradisional dan dari web tentang siklus bulan mendapati bahwa awal puasa sama dengan EOWI, 20 Juli

Kemudian saya menghitung lagi pake astrolab untuk memastikan, dan mendapati pada hari Minggu, 22 July bahwa bulan sabit yang nampak menunjukkan sekitar tanggal 3, yang berarti correct untuk kubu hisab memulai puasa tanggal 20.


Sedikit berbagi cerita mengenai keputusan pemerintah, lebaran tahun lalu saya mengikuti lebaran ala pemerintah yang jatuh di hari terakhir, dan ternyata pada waktu magrib saya mendapati bulan sabit menunjukkan tanggal 3, yang dengan kata lain lebaran tahun kemarin versi pemerintah jatuh pada tanggal 2 Syawal. Jika melihat riwayat :
Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithr dan hari Adha. (HR Muttafaq ‘alaihi), dan jika perhitungan bulan saya benar, maka ada keharaman berjamaah yang dilakukan di negeri ini(entahlah ini haram atau tidak bagi golongan yang berpegang pada ayat untuk mematuhi ulil amri).
Sejak saat itu saya memutuskan untuk melakukan perhitungan sendiri, walaupun belajar sambil jalan dan masih membandingkan sana-sini.
Saya meminta kritik dan masukan dari EOWI apakah masih ada yang salah dari sudut pandang saya, karena say amasih dalam proses meyakini kebenaran dan tanggung jawab saya sendiri.|

terima kasih atas tanggapannya :)
Selamat berpuasa

Anonymous said...

Pak Profesor tolong bahas agamanya Ibrahim adalah muslim. terima kasih banyak

Anonymous said...

Kondisi tidak normal seperti itu juga terjadi pada penentuan waktu shalat.

Secara fikih itu hal biasa dan sudah diantisipasi oleh ulama2 fikih terdahulu yg jenius dan hanif.

Solusi fikihnya ada beberapa:
a. Sempurnakan bulannya jadi 30 hari.

b. Gunakan daerah normal didekatnya (untuk kasus penentuan awal bulan) atau waktu normal sebelumnya (untuk waktu shalat).

"The best things in life are simple. This is true in nature, in art and in the stock market." - Richard Nay.

mamad said...

Pak IS, thanks utk artikelnya...tempat kerja kita ternyata relatif berdekatan, saya di teluk bintuninya

Anonymous said...

Pak IS ngitungnya pake software apa?
kasih link downloadnya juga ya..

Weko Abhinimpuno said...

Pak Is, ulasan yang bagus.

Saya bermaksud utk share pendapat, menurut saya anda terlalu menyamakan "kubu" Rukyatul. Padahal rukyatul sendiri ada yang Lokal dan Global.

Menurut saya dengan dengan methode Rukyatul Global. Masalah di oslo tsb bisa diselesaikan.

Dengan ilmu astronomi dan hisab kita tentukan "draft" bulan2 yang ada di kalender hijariah/qamariah utk seluruh dunia. "Transisi" pergantian bulan dan tanggal tinggal dilakukan pengamatan Rukyat tiap akhir bulan (29). Bila tidak muncul hilal maka digenapkan menjadi 30 hari.

Weko Abhinimpuno said...


Saya bermaksud utk share pendapat, menurut saya anda terlalu menyamakan "kubu" Rukyatul. Padahal rukyatul sendiri ada yang Lokal dan Global.

Menurut saya dengan dengan methode Rukyatul Global. Masalah di oslo tsb bisa diselesaikan.

Dengan ilmu astronomi dan hisab kita tentukan "draft" bulan2 yang ada di kalender hijariah/qamariah utk seluruh dunia. "Transisi" pergantian bulan dan tanggal tinggal dilakukan pengamatan Rukyat tiap akhir bulan (29). Bila tidak muncul hilal maka digenapkan menjadi 30 hari.