___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Monday, June 4, 2018

Teroris (Bagian III): Labeling dan Bukan Monopoli Islam

Labeling
EOWI tersandung pada website yang agak tidak umum untuk masyarakat Indonesia. Ia adalah: Uriavery.com. Sebuah website dari penulis Yahudi Israel.

Ada paragraf yang menarik pada artikel dilaman ini http://uriavnery.com/en/hatur.html

I was a member of the National Military Organization (the "Irgun"), an armed underground group labeled "terrorist".
Palestine was at the time under British occupation (called "mandate"). In May 1939, the British enacted a law limiting the right of Jews to acquire land. I received an order to be at a certain time at a certain spot near the sea shore of Tel Aviv in order to take part in a demonstration. I was to wait for a trumpet signal.
The trumpet sounded and we started the march down Allenby Road, then the city's main street. Near the main synagogue, somebody climbed the stairs and delivered an inflammatory speech. Then we marched on, to the end of the street, where the offices of the British administration were located. There we sang the national anthem, “Hatikvah”, while some adult members set fire to the offices.
Suddenly several lorries carrying British soldiers screeched to a halt, and a salvo of shots rang out. The British fired over our heads, and we ran away.
Perhatikan paragraf selanjutnya.

Remembering this event 79 years later, it crossed my mind that the boys of Gaza are greater heroes then we were then. They did not run away. They stood their ground for hours, while the death toll rose to 61 and the number of those wounded by live ammunition to some 1500, in addition to 1000 affected by gas.
Bagi pembaca yang mengalami kesulitan bahasa, bisa menggunakan google translate untuk menterjemahkan tulisan Uri Avery.

Uri mengatakan bahwa dia dulu sebagai anggota organisasi bersenjata "Irgun" diberi label teroris oleh pemerintah Inggris di Palestina. Setelah mereka menang dan mendirikan negara di tanah yang sama yang sekarang disebut Israel, mereka menyebut orang-orang Palestina sebagai teroris. Sedangkan para bekas anggota "Irgun" sekarang disebut pahlawan.

Hal yang senada terjadi di Indonesia, Belanda menyebut ekstrimis, Indonesia menyebut pejuang kemerdekaan untuk kelompok yang sama. Perubahan label ini mudah terjadi. Dulu mereka disebut penjuang Mujahidin Afganistan, sekarang disebut teroris Taliban. Dulu disebut penjuang muslim moderat Suriah, sekarang disebut teroris ISIS. Dulunya disebut pemimpin GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Fretilin, kemudian tahun 2002 disebut presiden Timor Leste.

Apa bedanya Xanana Gusmao dengan Ventje Samuel, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo dan Johan Manusama?

Jadi……… apa itu teroris?

Silahkan definisikan sendiri.

Islam Bukan Satu-Satunya
Teroris tidak akan menyebut diri mereka sebagai teroris. Demikian juga dengan pemberontak dan gerakan pengacau keamanan. Mereka lebih suka sebutan pejuang. Apakah itu pejuang mujahidin, pejuang Macan Tamil, pejuang kemerdekaan, pejuang ini dan itu. Dan lawan mereka oleh mereka disebut penjajahthogutpenindasrejim... dan lainnya. Itu pandangan dari kacamata para pejuang-pejuang itu yang bukan dari kelompok mapan.

Ada yang membingungkan dalam kaitannya dengan teroris yang sekarang ini. Siapa yang menjadi lawan mereka nampaknya sekarang menjadi kabur. Serangan bom sering tidak pandang bulu, seperti di Afganistan dan Timur-Tengah. Korbannya sering kali orang-orang yang sedang melintas. Barang kali teroris sekarang ini sebagian sudah kehilangan arah. Tidak tahu lawannya atau salah sasaran.

Tetapi mungkin, Indonesia saat ini agak lebih baik dari yang di Afganistan dan Timur Tengah. Setidaknya mereka lebih jelas mengarah pada yang dipersepsikan sebagai musuh mereka, yaitu polisi, khususnya Densus 88 dan kaum yang mereka anggap kafir. Tetapi ini target kecil, bukan target vital atau target high profile. Menyasar target-target semacam ini, akan cepat menghabiskan resources yang sangat langka, yaitu nyawa anggotanya. Setidaknya sejarah mencatat banyak teroris di masa lalu lebih selektif dalam memilih target. Dan banyak akhirnya mereka yang memperoleh kemenangan, langsung atau tidak langsung.

Mungkin bom bunuh diri yang pertama tercatat dan juga berhasil melumpuhkan high profile target nya adalah di tahun 1881. Masa itu adalah periode yang belum lama setelah ditemukannya dinamit dengan detonatornya oleh Alfred Nobel pada dekade 1860an. Pelakunya bom bunuh diri ini bukan orang Islam. Kemungkinan Kristen Orthodox. Namanya Nikolai Rysakov, Ignacy Hryniewieck dan Ivan Emelyanov, ketiganya anggota organisasi sosialis revolusioner Narodnaya Volya. Sedangkan sasarannya Tsar Alexander II, penguasa Russia.

Serangan berlapis tiga mejadi rencana mereka. Pertama Nikolai Rysakov, melemparkan bom ke kendaraan Tsar, gagal melukai Tsar. Ignacy Hryniewieck melakukan serangan berikutnya yang membuat tubuh Tsar rusak parah. Ignacy Hryniewieck bersama orang-orang disekitarnya ikut terluka dan kemudian menemui ajalnya. Dan Ivan Emelyanov yang direncanakan sebagai pembom ketiga, hanya bersiap-siap kalau kedua temannya gagal.

Nasib pelaku bom bunuh diri ini menarik. Ignacy Hryniewieck  mati bersama Tsar dan orang-orang disekitarnya oleh bomnya sendiri. Nikolai Rysakov tertangkap diadili dan dihukum gantung. Dan Ivan Emelyanov tertangkap, diadili, tetapi…. akhirnya diberi amesti dan melanjutkan hidupnya sampai meninggal secara alamiah.

Organisasi revolusioner Narodnaya Volya adalah organisasi militant yang isinya kaum muda terpelajar yang beraliran sosialis dan memilih jalan kekerasan. Targetnya cukup selektif yaitu pejabat pemerintah yang high profile.  

Yang lebih anyar, ditahun 1980an, organsasi yang punya tingkat kesuksesan serupa adalah Macan Tamil dari Sri Langka. Mereka mengirimkan seorang wanita yang berhasil meledakkan dirinya dan membunuh (mantan) perdana menteri India, Rajiv Gandhi. Tidak hanya itu, serangan bom bunuh diri Macan Tamil juga berhasil membunuh presiden Sri Langka Ranasinghe Premadasa serta high profile pejabat pemerintah Sri Langka lainnya seperti walikota Jaffna Alfred Duraiyappah, menteri perindustrian dan pembangunan Clement Gunaratne, anggota parlemen Abeyagoonasekera, menteri luar negri Ranjan Wijeratne, politikus ternama Gamini Dissanayake……. dan sederet lagi. Mungkin Macan Tamil adalah teroris yang paling banyak berhasil melenyapkan pejabat-pejabat yang high profile dengan bom bunuh diri.  

Cina juga tidak luput dari catatan teroris/pejuang bunuh diri. Tidak hanya itu, di dalamnya melibatkan nama seorang muslim sebagai salah satu anggota yang high profile, yaitu Umar Bai Chongxi yang dikemudian hari menjadi menteri pertahanan pertama Republik Cina. Nama organisasi itu adalah pasukan berani mati, Gansidui. Awalnya aktif dalam pemberontakan untuk menggulingkan dinasti Manchu Qing. Tetapi kemudian berlanjut ketika perang dunia ke II meletus, Cina juga berperang melawan Jepang. Gansidui dikenal melakukan bom bunuh diri untuk menghadapi tank-tank Jepang. Ironisnya Jepang menggunakan taktik yang sama dalam menghadapi Amerika di medan perang Pasifik dengan pasukan Kamikaze yang mengawaki pesawat terbang dan terpedo untuk menhantam kapal Amerika.

Yang Menang dan Yang Kalah dan Yang Keok
Saya tidak tahu tentang nasib Irgun saat ini, karena saya tidak baca buku-buku Israel. Mungkin Irgun diagung-agungkan atau sudah dilupakan. Yang pasti kubu dan idiologi  yang diperjuangkan Irgun menang, dan sekarang mereka menjadi kelompok yang mapan, yaitu pemerintah Israel, yang memerangi teroris Palestina. Posisi meja telah berbalik bagi Irgun.

Pembunuhan Tsar Alexander II oleh Narodnaya Volya, menyalakan bak api dalam sekam semangat kekerasan dan terorisme untuk mecapai tujuan-tujuan politik di Russia sampai beberapa dekade kemudian. Ketika tekanan ekonomi semakin meningkat di Russia akibat perang Russia-Jepang, kemudian perang dunia pertama, kekuatan pihak sosialis populis anti kemapanan menjadi menguat dan aksi gerilya teror sporadis merubah menjadi pemberontakan terbuka, Revolusi Bolshevic. Dan Tsar Nikolas II tergulingkan pada saat perang dunia pertama masih berlangsung.

Gansidui boleh dikata mengalami kesuksesan. Dinasti Manchu Qing, yang sudah berkuasa selama 3 abad, merupakan kekuatan yang menua, melemah, akhirnya termajinalkan oleh  kaum Komintang sampai Jepang datang. Jepangpun akhirnya babak belur di Pasifik. Pasukan Kamikazenya baik yang menggunakan pesawat terbang atau terpedo untuk menghantam kapal-kapal Amerika, tidak banyak membantu, karena Jepang juga sudah kelelahan berperang. Tetapi kubu politik Gansidui, yaitu Republik Cina, akhirnya dipukul oleh Cina Komunis sehingga Republik Cina, keok dan menyingkir ke Taiwan.

Nasib Macan Tamil cukup tragis. Walaupun mereka berhasil melumpuhkan banyak politikus dan pejabat pemerintah yang high profile, Macan Tamil harus menelan kekalahan militer dan sekarang nampaknya sudah lumpuh. Keok, kehilangan popularitas dan mungkin sudah bubar.

Suatu hal yang harus dipikirkan untuk para calon teroris, mereka akan sia-sia kalau mereka tidak balajar dari sejarah. Kelompok yang didukung Irgun menang karena Inggris secara ekonomi sudah babak belur karena perang dunia I. Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin akhirnya menang karena Indonesia juga pada kondisi ekonomi yang babak belur. Pemberontak Bolshevik menang atas Tsar Nikolas II juga karena Russia pada kondisi ekonomi yang babak belur setelah perang dunia I. Sedangkan Macan Tamil, walaupun berhasil melumpuhkan/melenyapkan banyak elit politik, tetapi gagal meraih kemenangan akhir, karena Sri Langka pada waktu itu tidak lemah secara ekonomi. Jemaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Daula, atau kelompok-kelompok lain akan sulit menang, kecuali Indonesia dalam keadaan lemah ekonominya. Mereka akan menjadi gerakan populist dan memperoleh banyak dukungan di saat ekonomi yang lemah. Dan syarat tambahannya bahwa mereka jangan menjadikan sipil menjadi sasarannya, karena akan kehilangan simpati. Saat ini…… mungkin belum waktunya.

Kesempatan bagi kelompok radikal tidak pernah ada jika pemerintah bisa mempertahankan tingkat kemakmuran sehingga tidak muncul ketidak-puasan ekonomi. Radikalisme mungkin bisa diredam kalau orang punya kesibukan lain. Sibuk kerja. Bukan sibuk ikut kursus P4 (Pedoman Pengamalan Pengamalan Pancasila). Kecuali semua rakyat Indonesia bisa dapat gaji yang besarnya seperti gaji ketua  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Indoktrinasi idieologi tidak akan mempan meredam radikalisme yang sumbernya dari ketidakpuasan ekonomi. Hanya ekonomi saja yang bisa.

Jadi bagaimana kalau solusinya dengan pertumbuhan ekonomi 7%, pajak hanya 10%? Itu cukup untuk membuat orang, anak-anak muda sibuk kerja, bukan sibuk baca buku-buku indoktrinasi terorisme. Kalau cuma 5%, hanya cukup untuk menutupi kebutuhan lowongan karena urbanisasi yang tingkatnya sampai 4%. Hampir semua untuk tenaga kerja dari kampung, sedang generasi yang memasuki umur kerja, tidak dapat bagian.


Selesai.



Jakarta 4 Juni 2018

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

12 comments:

Anonymous said...

Dengan segala hormat, dimanapun aksi radikal extrimist selalu ada baik itu, fasis, sosialis, komunis bahkan liberal, namun maaf yang impactnya luar biasa hanya yang mengatas namakan Tuhan seorang alim ulama yang seharusnya menyejukan faktanya saat ini justru menjadi provokator bermulut santun mereka sengaja menyajikan topik-2x sepele namun mengkondisikan & mendramatisirnya sedemikian rupa mengasah & mempertajam perbedaan yang semestinya tidak perlu dipermasalahkan. Dan sialnya orang secara naluri psikologis lebih tertarik & menerima konten negatif yang seolah-2x mendukung segala ketimpangan sosial yang mereka alami adalah disebabkan oleh golongan minoritas dan yang tidak sealiran dengan dirinya. Ini Fakta

Anonymous said...

Agreed without doubt, jgn campuraduk kan agama dengan politik apapun agama itu, sebab agama sesuatu yg sakral menyangkut iman dan kepercayaan dan keyakinan seseorg individu pada sesuatu yg abstrak/sakral/suci.. (vertikal).
Sedangkan Politik (horisontal) sesuatu yg sangat berbeda dgn ke Agamaan dan jgn sebab dan batasan yg tidak jelas maka agama dijadikan tameng politik dan politik dibungkus dengan ke agama an jadi sesuatu yg sakral yg perlu di perjuangkan dengan taruhan nyawa sampai tittitik darah penghabisan atau mencari pembenaran atas tindakan atau cara yg digunakan untuk mencapai tujuan dan maksud setserta kepentingannya dgn menghalalkan segala cara yg dimungkinkan dengan kedok dan atas nama Agama.. (segala yg salah dari manusia, yang maha benar hanya sang Khalik penguasa alam semesta).. Peace...

bobo said...

semua isu dapat ditunggangi politikus untuk mencapai sasarannya,
tapi politikus yang bikin muak itu politikus yang main agama namun di belakang terus menerima 'siraman' untuk setiap dukungan yang akan diberikan
dan sialnya masyarakat cenderung kelihatan baik diluarnya saja,namun didalam hatinya tersimpan iri dan dengki dan menyalahkan orang lain terutama orang kaya atas kejadian yang menimpa dirinya,tidak ada yang salah dengan menjadi kaya,politikus memindahkan kekayaan dari yg kaya ke yang miskin hasilnya seringkali kemiskinan tetap,yang kaya berkurang
seharusnya membuat orang kaya makin kaya dan yang miskin jadi kaya,itu baru bener

Anonymous said...

Siapa yang menyebut Aksi kekerasan & terorisme di monopoli & dilabeli oleh islam? Saya rasa tidak ada. Nah yang menjadi pertanyaan apakah dulu teroris irlandia utara, kaum militan Basque, atau gerilyawan sosialis kuba, atau pengungsi vietnam pernah membawa-2x label agamanya ya? Kira-2x kalimat apa yang dipekikan para aktor kekerasan yang disebut teroris dalam setiap menjalankan aksinya? Saya rasa kita semua paham endingnya jika demikian siapa sebenarnya yang memonopoli dan mengklaim label tersebut?

Prasetia Hajar Purnamasidi said...

Tulisan diatas mencampuradukkan perang dengan terorisme. Ada 4 tipe perang dlm sejarah dunia. Yang pertama adl Perang Realisme yaitu perang dengan tujuan yg realistik yaitu demi kekuasaan atau materi misalnya ingin memperebutkan wilayah teritorial negara lain dan sumber daya. Perang ini tujuannya sangat jelas, mereka akan berpikir scr realistis, dan mengkalkulasi untung dan ruginya. Ambil contohnya adl Perang Dunia 1 dan 2 Jika kalah mereka akan mundur dan jika menang dan sukses dia akan berhenti. Perang jenis kedua adl Holy War atau Perang Suci. Perang ini tidak realistis krn mereka berperang hanya mengandalkan spiritual membabibuta tanpa perhitungan. Meski harus kalah mereka ttp mendapat imbalan janji berupa surga. Perang ini tdk bisa berhenti meski kondisi negara makmur atau miskin. Tujuan mereka hanya mati dan masuk surga tanpa peduli dgn nasib manusia yg ada didunia, contohnya perang jihad dan perang salib dan lbh ekstrim dlm bentuk terorisme dgn kedok agama. Perang ini sampai kiamat tdk akan pernah berhenti. Perang jenis 3 adl Perang Pasifisme yaitu perang tanpa kekerasan. Perang ini dipelopori Mahatma Gandhi ketika melawan Inggris dgn cara tanpa membunuh lawannya tapi memberi efek merugikan lawan misal mogok makan, mogok kerja dan anti produk asing. Perang jenis 4 adl Perang Just War Theor dipeloporo Thomas Aquinas. Perang ini cocok dgn ajaran Nabi-nabi krn beliau hanya berperang jika diserang dari luar. Mereka tidak akan berperang ketika kondisi damai. Mereka tdk membunuh lawan dgn brutal, bersifat adil dan bijaksana. Ajaran Nabi tdk memperbolehkan perang jika masih bisa diselesaikan dgn musyawarah. Tdk membunuh wanita dan anak2 dan membebaskan tawanan perang. Jika melihat kondisi di Indonesia saat ini terorisme berkedok agama lbh banyak mendominasi dan sulit utk dihentikan sampai kapanpun. Krn tujuan mereka tdk realistik, mengkafirkan sesama org yg beragama dan musuh mereka hanyalah berupa simbol dan ideologi. Bukan sesuatu yg nyata. Teror ini lbh berbahaya daripada 3 jenis perang yg lain. Membunuh org yg tdk sepaham dgn kelompoknya, memanfaatkan situasi dan menciptakan teori konspirasi tanpa menggunakan nalar, logika dan empiris. Teror spt ini hanya bisa dilawan dgn ideologi tandingan spt menciptakan simbol perdamaian, pluralisme dan bhinneka tunggal ika. Mereka ttp menjalankan aksinya meski negara makmur dan damai contohnya rezim Orba thn 1980 pernah diteror oleh kaum jihadis spt pengeboman borobudur, pembajakan pesawat woyla dan pemboman bank.padahal waktu itu kondisi negara dlm.keadaan makmur

Saifudin Rohmat said...

Ha ha ha..... yang namanya berbeda pendapat dan kemudian perang, sudah berlangsung sejak adanya manusia. Dan akan terjadi sampai hari kiamat nanti. Baca saja sejarah dunia, berapa ribu perang yg telah terjadi. Ini adalah fakta. Bahkan perang dunia 1 dan perang dunia 2 cuma berjarak 20 tahun. Perang yang mengerikan sekali. Ini adalah fakta. Itulah manusia. Tidak suka berperang tapi perang terjadi di mana mana menurut catatan sejarah.

Anonymous said...

Namanya juga politikus. Batas antara agama dan politik suka beda-beda tipis. Di EOWI, semua yang ingin kita kritis ada disini.

Anonymous said...

sepanjang yg saya tahu memang sih teroris agama kristen atau lainnya misalnya,tidak pernah sy dengar meneriakkan "Yesus" atau "Budha i love u" atau Tuhan ataupun Nabinya sebelum memulai aksinya
lha ini yg kacau teroris islam selalu meneriakkan "Allah" dan kata2 agama sebelum memulai aksinya

D_J said...

Haha..bener2 anti mainstream pendapatnya..yg pemikirannya dipengaruhi bacaan mainstrram pst protes

Salim Hendrawansyah said...

Orang2 yg mainstream dan mencukupkan diri dengan data2 serta opini yg disajikan media2 mainstream,,,,yah bisa ditebak komentar dan perspektifnya. Salam damai :)

Anonymous said...

Ini menarik. Kerusuhan Mei 1998 berasal dari Mahasiswa Trisakti yang notabene yang berasal dari swasta bukan negeri seperti UI atau ITB yang masih disubsidi oleh pemerintah. Saya membayangkan kalo bayaran mahasiswa yang tadi cuma 1 juta naik dratis jadi berpuluh-puluh juta dalam hitungan beberapa bulan...Hanya bayangan saja

Anonymous said...

jadi kapan join sama "penjuang" atau bahasa kafirnya "freedom fighters" :D ditunggu lho...:D