___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Wednesday, January 18, 2017

Kilas Balik Tahun 2016 dan Projeksi Tahun 2017



(Bagian II)

Jokowi: Dari Dukungan Penuh ke  Kehilangan Legitimasi
Di Indonesia ceritanya mirip tetapi tidak sama. Setidaknya belum selesai, gambar keseluruhannya belum lengkap, mungkin tahun-tahun mendatang foto politik Indonesia secara keseluruhan akan lengkap. Kalau di US muncul ksatria hitam usahawan Trump, di Itali pelawak Beppe Grillo, di Indonesia sebelum itu semua adalah munculnya Jokowi, tokoh yang memperkenalkan blusukan, mencitrakan dirinya seperti madam Teresa mengalahkan sosok bercitra gagah pangeran berkuda, Prabowo. Citra pangeran dari kelompok mapan dikalahkan oleh sosok bercitra rakyat biasa. Tentu saja semuanya itu citra yang dibuat dengan bantuan media massa. Yang sesungguhnya......entahlah, Tuhan lebih tahu, tetapi saya sudah tidak percaya pada media besar.
Kisahnya tidak berhenti disitu. Dua tahun kemudian muncul Habib Rizieq dipenghujung tahun 2016, mengalahkan popularitas Jokowi. Pada demo 2 Desember 2016, kira-kira ada 3 juta rakyat jelata peserta demo yang dimotori Habib Rizieq, MUI dan para kyai mengalahkan jumlah pada demo tandingan disponsori oleh kaum golongan mapan, konglomerat, pemilik stasiun TV, dan elit politik. Pasalnya... penistaan agama oleh Ahok, mantan wakil gubernur Jokowi semasa menjabat posisi gubernur Jakarta.
EOWI tidak melihat kejadian ini merupakan suatu kemarahan sekelompok masyarakat yang agamanya dinistakan, karena sebagian besar orang yang mengaku Islam tidak tahu tentang Islam dan mungkin tidak tahu apa yang diucapkan oleh Ahok. Demonstrasi 2 Desember 2014 dan balasannya tidak lain suatu proses penajaman polarisasi di masyarakat, antara kelompok mapan, yang ekonominya kuat, masih stabil, punya posisi politik dengan kelompok yang terpinggirkan, yang bukan siapa-siapa. Dan Jokowi sudah tidak dianggap sebagai simbol yang pro kaum pinggiran, melainkan dari kaum mapan dan politikus. Buktinya, ketika demonstrasi sebelumnya demo 411, pada tanggal 4 November 2016, Jokowi lebih suka sowan ketua dan tokoh-tokoh partai untuk minta dukungan dan minta bantuan, ketimbang berdialog dengan para wakil demonstran. Lengkaplah citra Jokowi sebagai kubu pro kaum mapan. Apalagi, pemerintah semakin mengetatkan apa yang boleh dilihat dan apa yang tidak boleh dilihat oleh publik, sensor.
Di Jakarta, memang yang dilakukan Ahok sebagai gubernur adalah membuat Jakarta lebih nyaman bagi beberapa segmen masyarakat, yaitu yang mapan, yang resmi, yang....., tetapi mematikan kelompok-kelompok pinggiran. Relokasi orang-orang gusuran sama saja mencabut mata pencaharian mereka. Karena kaum pinggiran rumahnya itu adalah hidupnya. Mata pencahariannya berdekatan dengan rumahnya.
Beberapa waktu lalu ada video beredar di dunia maya, Jakarta Unfair. Saya tidak tahu berapa lama video ini bisa ditonton, karena sensor pemerintah semakin kuat saat ini. 


Ambil contoh juga kasus Kalijodo, sebelumnya tempat ini, di samping pemukiman kumuh, juga tempat orang mencari makan. Sekarang menjadi taman bermain. Memang banyak yang memuji. Itu adalah kaum yang punya waktu untuk bermain dan menikmati taman. Tetapi bagi yang harus selalu bergelut dengan aktivitas mencari uang, maka ceritanya lain lagi.

Kaum mapan lainnya yang bisa memanfaatkan Kalijodo baru adalah artis yang cari uangnya mudah dan bergengsi (penjual lendir juga mencari uangnya mudah, tetapi tidak bergengsi).

Ada teman saya yang protes, bahwa para penjual lendir juga cari uangnya mudah, tetapi kenapa tidak EOWI kategorikan sebagai kaum mapan? Memang para penjual lendir Kalijodo yang tergusur itu cari uangnya mudah, tinggal mengangkang saja, dan expiry date (waktu kedaluwarsa)nya juga pendek seperti para artis. Kalau sudah tua tidak laku. Tetapi occupational hazzardnya tinggi. Resiko terpapar penyakit, bertemu pelanggan yang tidak ramah dan banyak lagi menjadi resiko pekerjaan.
Jokowi dan Ahok walaupun di bawah naungan PDIP yang dulu katanya partainya wong cilik, yang sebenarnya adalah partai yang mengambil citranya wong cilik. Pembaca EOWI tahu tentang Keppress 81 2004 yang ditanda-tangani Megawati, isinya memnghadiahi dirinya sendiri nanti beberapa hari berselang ketika ia sudah tidak menjabat posisi presiden sebanyak....., ekivalen dengan 200 kg emas pada waktu itu. Saya tidak tahu apakah ia juga mengambil jatah wakil presiden, yang secara legal ia juga berhak atau jumlah yang sama. Kalau dia ambil maka ia akan memperoleh kekayaan senilai 400 kg emas dimasa itu. Hmmmmm......., ketua partainya wong cilik. Apakah partainya wong cilik sekarang ini dicintai oleh wong cilik atau oleh para artis dan pengusaha? Entahlah.


Penanganan wong cilik, kaum terpinggirkan dalam perkara gusur menggusur mungkin hanya sebatas citra, dalam arti ada dalam perencanaan dan di atas kertas bisa ditunjukkan ke publik. Tidak usah melihat penggusuran/pemindahan penduduk, pengalaman menunjukkan penutupan beberapa lokalisasi pelacuran yang notabene tempat maksiat, menyisakan banyak persoalan, seperti yang dialami oleh pemda Bandung. 
Pelatihan, sekolah nampaknya tidak banyak membantu. Orang-orang yang sudah dilatih, kemudian ternyata sulit untuk memperoleh lapangan kerja dengan keterampilan yang baru diperolehnya. EOWI tidak yakin kalaupun deparemen pendidikan dan kebudayaan diikutkan untuk mendesign kurikulum pelatihan tersebut akan menjamin keterampilan tersebut laku di pasar kerja.
Fakta tidak berhenti disitu. Tanggal 8 Januari 2017 lalu, artis-artis dan band yang mempunyai nama menggelar keramaian di Citos Jakarta. Itu tidak sekedar hiburan yang disebut Flash Mob, tetapi kampanye untuk Ahok dan membagi-bagikan selendang bermotif kotak-kotak simbolnya Ahok. Kita bisa lihat dari kelompok mana para pendukung Ahok, kaum mapan atau kaum pinggiran. 

Kasus Jokowi ini menarik. Ia bisa naik menjadi gubernur DKI, kemudian belum lagi masa jabatan gubernurnya selesai, ia berhasil memenangkan pemilihan presiden RI. Semua ini berkat teknologi media massa yang dimiliki kaum mapan yang mencitrakan Jokowi datang sebagai dewa kelompok populis – pejabat yang suka blusukan, bukan orang partai, sederhana, dan kalau berpergian naik pesawat komersial bersama rakyatnya. Citra itulah yang melontarkan dirinya ke kursi kepresidenan RI tahun 2014 oleh media massa milik kaum mapan. Harus diingat bahwa semua stasiun TV adalah milik kaum mapan. TVRI yang milik pemerintah sudah dikebiri dan jarang penonton. Dan yang bisa pasang spanduk serta baliho adalah mereka yang punya duit.  
Bagi Jokowi, menjadi populis setelah 2 tahun adalah dilema. Pilihan memihak orang-orang yang memilihnya atau Ahok, partnernya dalam pemilihan gubernur Jakarta serta partai pendukungnya. Ahok sebagai pilihannya menjadi jelas ketika terjadi pemburuan tukang sihir, alias witch hunting. Satu persatu lawan-lawan Ahok diburu. Mulai dari Ahmad Dani yang jelas-jelas mengekspressikan permusuhan terhadap Ahok dan Jokowi, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas yang anti kemapanan siapapun rejimnya. Kivlan Zein, Adityawarman Thahar TNI yang setahu EOWI tidak punya track record politik, Buni Yana yang mengunggah video Ahok dan sederet lagi sampai 11 orang. Sebagian besar tuduhannya adalah permufakatan jahat untuk makar dan sejenisnya. Habib Rizieq dan pentolan FPI, EOWI ramalkan akan juga dikejar dalam beberapa waktu yang akan datang. Penangkapan orang yang punya pengikut, timingnya harus tepat. Seperti episode penangkapan Jesus yang direncanakan oleh Judas yaitu pada saat orang banyak tidak sadar, tidak tahu.
Fasisme mungkin sudah tradisi Indonesia. Kalau Kondratieff winter diwarnai oleh tumbuhnya fasisme, Indonesia sepanjang berdirinya, aroma fasismenya lebih panjang. Dari 7 presidennya adalah 3 fasis atau calon fasis. Mulai dari Sukarno, Suharto dan sekarang Jokowi, fasis yang santun. Sukarno tidak segan-segan memenjarakan orang-orang yang berbeda pandangan politiknya dan yang mengkritisinya seperti Sutan Syahrir, Kasman Singodimejo, Mohammad Natsir, Prawoto, Hamka, Mochtar Lubis, Yunan Nasution dan sederet lagi, serta tidak segan-segan menghukum mati kawan seindekosnya Kartosuwiryo. Suharto juga dikenal tangan besi terhadap lawan-lawan politiknya dan orang-orang yang mengkritiknya dan punya perangkat untuk itu, seperti Kopkamtib. Sekarang Jokowi, mulai menerapkan pasal makar yang penginggalan jaman kolonial. Tidak hanya itu, Jokowi sudah mengkaretkan/menarik pasal yang dulunya diartikan sebagai melawan kekuasaan dengan senjata, sekarang dengan transfer uang, dengan penyediaan makan siang, transportasi, sudah cukup disebut makar.
Tidak terlalu mengherankan jika pasal fasis Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP akan sering digunakan di Indonesia. Secara umum fasisme subur selama periode Kondratieff winter.
Di samping penajaman polarisasi kelompok dan fasisme, masyarakat Indonesia juga terkena wabah peningkatan chauvinisme. Targetnya pekerja-pekerja illigal Cina. Pekerja illigal dari Cina sudah ada semenjak dulu. Mereka dibawa oleh kontraktor-kontraktor Cina. Ini mengingatkan saya ketika melakukan pengeboran sumur gas/minyak, beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang bekerja di lokasi pengeboran tidak mempunyai surat-surat ijin yang lengkap. Jika akan ada inspeksi dan pemeriksaan dari kanwil Depnaker, pekerja-pekerja Cina ini disuruh masuk hutan dulu.
Dulu ada pembiaran, bahkan dibantu ketika harus disembunyikan. Sekarang ceritanya lain. Mereka akan dilaporkan, kalau tidak ada tindakan dari instansi berwenang, akan disebarkan di internet untuk menekan pemerintah agar bertindak. Jangan heran, berita tentang tiba-tiba ditemukan sebuah kampung yang isinya pekerja Cina, TKA (Tenaga Kerja Asing) Cina illegal bertebaran di internet. Silahkan google search untuk membuktikannya.
Pada saat lapangan kerja menciut, tenaga-tenaga asing akan dimusuhi, dan yang paling lemah adalah mereka yang tidak punya surat-surat alias illegal.
 Sekian dulu, sampai nanti.
Catatan, banyak Youtube link yang kami rujuk sudah dihapus. Ini resiko jaman fasisme.


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

35 comments:

Anonymous said...

Postingannya tidak berimbang dan berat sebelah
Lebih dipengaruhi sentimen pribadi
Gak dibahas kebijakan berobat gratis untuk kelas 3 untuk kaum mapan atau bawah?, kebijblm lagi gratis transjakarta, subsidi pendidikan, subsidi daging murah untuk kaum mapan kah?

Anonymous said...

Fasisme adalah anti-komunisme, anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus anti-kapitalis multinasional tapi justru mendukung kapitalis nasionalis yg didukung kaum birokrat. Sejak era kemerdekaan, sebenarnya bangsa kita yang didukung kaum pemuda revolusioner telah menolak dengan tegas bangsa fasis seperti penjajah Jepang dan berusaha menuntut kemerdekaan tanpa harus bekerjasama atau berkolaborasi dan berdiplomasi dengan jepang seperti yg ditawarkan Bung Karno dan Bung Hatta. Namun semenjak revolusi kemerdekaan (1945-1949) yg banyak terjadi pemberontakan DI/TII yg dimotori Kartosuwiryo dan komunis yg dimotori Musso maka pemerintah berusaha mencari jalan tengah yaitu jalan diplomasi dan jalan tengah melalui demokrasi parlementer. Namun karena banyak terjadi ketidakpuasan di tubuh parlementer dan pergolakan daerah (PRRI/Permesta) akibat ketudakpuasan thd pemerintah pusat maka mulai muncul Ideologi Militerisme yg semakin menguat demi menjaga stabilitas nasional. Jadi Sukarno BUKAN seorang Fasisme. Tapi krn kondisi ketidakpuasan akibat demokrasi parlementer yg menimbulkan menguatnya rejim militer disegala bidang kehidupan (dwi fungsi ABRI) sejak tahun 1957 yg diciptakan Nasution. Bung Karno sudah jauh jauh sebelumnya menerapkan demokrasi terpimpin sebagai solusi akibat semakin menguatnya kubu militer dan kubu kiri (PKI). Tapi ideologi Sukarno dianggap gagal krn dianggap condong ke arah kiri (ingat peristiwa manikebu dan dukungan terhadap gerilyawan kiri sabah serawak dalam menentang imperialisme Inggris) yg juga dibantu komunis tiongkok dan semakin memperkuat peran militer dalam menstabilkan negara ketika terjadi gerakan G30S. Militer yg oportunis condong mendukung blok kanan (barat) demi mendapatkan bantuan utang dan kekuatan finansial. Di era Suharto kekuatan pembangunan ekonomi dan stabilitas politik menjadi prioritas utama dengan didukung kekuatan tunggal ABRI dan Golkar dalam mesin kekuasaan. Kekuasaan Fasis meningkat ketika ekonomi semakin menguat. Namun semenjak krisis minyak dan liberalisasi keuangan di era 80 an dan 90 an, rejim fasis mulai melemah karena semakin meningkatnya kelas menengah dan cendekiawan dlm mengkritisi pemerintahan yg makin korup. Puncaknya adl krisis moneter yg menumbangkan rejim orba ketika utang negara menumpuk mencapai 1000 trilyun akibat mismanajemen perbankan dan pertumbuhan ekonomi minus dibawah nol disertai inflasi yg tinggi. Gerakan reformis mulai bergulir dam yg terjadi bukan demokrasi kosmopolitan namun semakin menguatnya kelas menengah religius di perkotaan dan makn maraknya ormas ormas yg cenderung chauvinistik makin meningkat. Lihat saja partai partai berbasis keagamaan dan nasionalis mulai mumcul dan menjamur bak di musim penghujan. Justru yg terjadi saat ini adalah bahaya fasisme akibat kebangkitan chauvinisme berbasis keagamaan yg tidak didorong oleh ideologi yg lebih kosmopolitan. Kita bisa melihat krisis di Timur Tengah seperti di Irak, Suriah, bahkan Turki yg berujung pada perang saudara baik sunni, syiah dan kurdi. Disamping itu ideologi chauvinisme nadionalis juga marak berkembang di negara sekuler di Barat seperti Britania Raya, dan beberapa negara eropa bahkan di negara yg menjunjung tinggi demokrasi dan HAM seperti Amerika juga sudah mulai mengidap penyakit fasis akibat kampanye Donald Trump yg sembrono. Lalu apa solusi bagi bangsa Indonesia saat ini? Apakah dengan memakai mobilisasi massa FPI ataukah dengan menyebarkan HOAX. Saya menganggap bahwa penulis terlalu terburu buru menuduh bapak bangsa kita Sukarno sebagai fasisme. Apakah ketika PRRI/Permesta dikalahkan banyak pengikutnya dibunuh (Genoside) seperti yg dilakukan kepada kaum yg dianggap kiri oleh rejim militer Orba? Tidak... Bukan seperti rejim Stalin, Hitler, Saddam Hussein atau Basyar Assad.. Sukarno adl pemimpin moderat tapi juga progresif tidak seperti rejim sesudahnya yg oportunis.

Anonymous said...

kalo bibib ditangkep....IS mau gantiin ngak? udah cocok tuh...:D

Anonymous said...

Presiden Jokowi masih lebih sehat dan rasional kalau dibanding kebijakan presiden di dunia saat ini meskipun saat ini sudah tidak populis lagi. Mari kita bandingkan dengan presiden Turki Erdogan yg justru ingin menghukum mati Ulamanya sendiri Fetullah Gullen krn dianggap mendukung gerakan kudeta dan membubarkan ribuan pejabat yg dtuduh makar. Mengenyahkankan minoritas kurdi yg dianggapnya teroris. Presiden Suriah Bashar Asad yg cenderung menghabisi para lawan politiknya dengan cara massal demi menegakkan kekuasaannya. Atau bandingkan dengan Donald Trump yg pernyataannya sangat menyinggung kaum imigran dan etnis minoritas lain. Atau bandingkan Jokowi dengan presiden Filipina Rodrigo Duterte yg memberantas bandar narkoba dengan sangat keras. Jika dibandingkan dengan ketiga presiden itu, jokowi termasuk yang paling lunak dan lebih toleran. Terlepas siapakah Jokowi itu dengan berbagai latar versinya.. Jokowi sudah terpilih oleh rakyat di saat sistem ekonomi dunia sedang carut marut dan peta politik global yang sedang bergeser ke arah kanan ekstrim.

maleo said...

Pak Is, hati2 kalau menyindir Jokowi, sekarang pendukung jokowi semakin militan, fasis buta terhadap jokowi, anti kritik kalau jokowi di kritik seakan2 jokowi itu dewa maha sempurna yang akan menyelamatkan mereka dan bebas dari segala ketidak sempurnaan.

Sidharta, Yesus dan Muhammad mungkin kalah pesonanya oleh jokowi dimata mereka.

Mereka tidak melihat satupun dari puluhan kegagalan jokowi menepati janji2nya.

Sungguh jaman edan...

Anonymous said...

Di Jakarta, memang yang dilakukan Ahok sebagai gubernur adalah membuat Jakarta lebih nyaman bagi beberapa segmen masyarakat, yaitu yang mapan, yang resmi, yang....., tetapi mematikan kelompok-kelompok pinggiran. Relokasi orang-orang gusuran sama saja mencabut mata pencaharian mereka. Karena kaum pinggiran rumahnya itu adalah hidupnya. Mata pencahariannya berdekatan dengan rumahnya.

Naif kalau anda bilang kenyamanan jkt hanya utk org mapan
Banjir misalnya, justru masyarakat susah yg paling terkena dampaknya
Atau RPTRA itu yg menikmati jg masyarakat bawah
Agama malah jgn membuat hati jadi kotor

Anonymous said...

hahahaha mabok combro min ? jokowi kehilangan legitimasi ? bukanya kaum onta wasabi yang kehilangan panggung sekarang ?
pendonor utama wasabi marab sabudi uda mau bangkrut... edrogan jadi lingung.. wasabi lokal keyok deh gak ada duit...
yang ada jokowi malah makin menguat sekarang min...
mungkin popularitas jokowi gak ada technical chartnya ya ? makanya gak bisa di baca wkwkkwkwkwkw

Imam Semar said...

Banjir sudah menjadi bagian dari kaum bantaran sungai, bukan bagi istana kepresidenan atau kaum Menteng. Saya pernah menawarkan tempat tidur yg bisa diubah menjadi sampan kpd rekan yg tinggal di bidaracina legok, untuk menyelamatkan barang2 elektroniknya. Dia cuma tersenyum. Sdh biasa......, katanya.

Lain ceritanya kalau banjir itu ke istana negara atau kelapa gading....😊 mereka nggak siap.....

Imam Semar said...

Berobat gratis......, hmmmmm....di Kuba berobat dan rumah sakit gratis. Tapi nggak makmur. Bagus untuk pencitraan selama jadi presiden. Kalo jangka lama....., manusia diberi apa yg ia usahakan (an nisaa 32).

Anonymous said...

pendukung kowi ini pasti satu paket dg ngahoax. otaknya mampet & dungu

Anonymous said...

Info tambahan:
Persis dengan Komunis di tahun 65, Jokowi & The Gank juga menggunakan Fitnah Makar terhadap Suami Silviana Murni-Kandidat Wakil Gubernur DKI Agus Yudhoyono.
Belakangan karena Fitnah tersebut dinilai sulit dan beresiko bagi Jokowi di Pilpres 2019, Maka Fitnah lainnya pun dilakukan untuk Menghambat Laju Agus Yudhoyono. Kini Fitnah Korupsi Dana Bansos diserukan terhadap Silviana Murni & Agus Yudhoyono-Lawan Politik yang sangat disegani jokowi karena SBY adalah salah satu Presiden Terbaik Rakyat dengan Catatan Kemenangan Persentase Mutlak, 1 putaran, dan Menang 2 Periode.
Dari sinilah rakyat akan semakin melihat kebejadan rezim yang sangat takut dengan hadirnya Pahlawan Rakyat Kecil yang akan Hadir & Membela Kaum yang selama ini Tertindas & Terzalimi.
Walaupun Media-Media Besar Berusaha Dibungkam, tapi tetap saja Informasi tentang Imigran China, Proyek Korup Reklamasi, serta Tumpulnya KPK di zaman rezim ini, Dinilai Cukup Sanggup Merusak Dukungan Massa terhadap Rezim yang Disebut Fasis oleh Bang IS.
Semakin banyak Fitnah yang Ditebar oleh Rezim Fasis ini berakibat Elektabilitas Dirinya Sendiri Terdegradasi dan Membahayakan dirinya di Pilpres 2019.
Walaupun rezim SBY sendiri memang tidak tergolong bersih, tetapi di zaman SBY subsidi terhadap rakyat jauh lebih kencang dibandingkan rezim fasis yang sekarang ini. Subsidi yang tadinya ditujukan untuk rakyat kecil, sekarang dialihkan untuk Infrastruktur alias subsidi yang ditujukan bagi Korporasi yang ujungnya tentu Lebih Menguntungkan Korporasi dengan adanya Infrastruktur-Infrastruktur berbayar tersebut.
Rezim fasis ini juga semakin meyakinkan rakyat bahwa dirinya tidak berada di pihak rakyat, dengan keberpihakannya terhadap Reklamasi, Proyek yang Terbukti Korup dengan Ditangkapnya Dedengkot Pengembang Besar Agung Podomoro (yang Kemungkinan Besar Menggunakan Cara2 Kotor tsb di Proyek-Proyek Lainnya di Tanah Air).
Tidak sampai disitu, Rezim Fasis ini juga Memecat dengan Segera Siapapun yang Menghalangi Proyek Kotor ini. Sebut saja Rizal Ramli, seorang Menteri Professional sekaligus Aktivis Mahasiswa yang Idealisme nya Mungkin Sudah Tidak Bisa Dibendung dengan Uang Haram.
Saya rasa Bukti-Bukti tersebut cepat atau lambat akan Terkuak di Mata & Telinga Rakyat yang selama ini Hidupnya semakin susah.
Bahkan hingga detik ini pun Golongan yang Menyesal telah Memilih Rezim yang Ternyata Anti-Rakyat ini Jumlahnya Mulai Bertambah.
Hal ini ditandai dengan adanya Demo Buruh, dan juga Demo BEM se Indonesia, dan juga Upaya Sidang Istimewa yang diajukan oleh Sri Bintang Dkk (Aktivis Lintas Zaman yang Terbukti Getol Mengkritik Rezim2 Bobrok di Indonesia)
Tidak sampai disitu saja, Ketidakberpihakan Pemerintah Fasis terhadap Rakyat juga terbukti dengan Dilindungi nya Cagub Perusak Toleransi alias Penghina Agama lain.
Jika Jokowi segera mengeluarkan Kepres Pemberhentian Abraham Samad ketika menjadi Tersangka akibat Kriminalisasi, maka untuk Kasus Penghinaan Agama, Jokowi sangat Acuh dan Tidak Mengeluarkan Statement Apapun terkait Penegakan Hukum di kasus ini.
Sebagai Pengingat, Abraham Samad adalah Ketua KPK paling Progresif dalam sejarah Republik Indonesia. Dapat dilihat dari keseluruhan Kasus Korupsi yang Dapat Diungkap. Termasuk Korupsi yang Melibatkan Petinggi Partai Pemerintah SBY saat itu. Disinilah letak perbedaan Rezim SBY dengan rezim Fasis. Di zamannya SBY Sangat Mendukung Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu, bahkan Koruptor-Koruptor separtai nya juga diringkus dengan Mudah dan Objektif oleh KPK. Walaupun belakangan ini isu tersebut dijadikan senjata bagi Rezim Fasis untuk Mencap dan Memfitnah SBY sebagai Rezim Korup.
Padahal SBY dan Agus Yudhoyono selama puluhan tahun Tidak Pernah Terbukti Korup.
Hal inilah yang kemudian mempersulit rezim fasis yang kemudian berusaha Memfitnah lewat Silviana Murni (wakil Agus Yudhoyono) di Pilkada DKI. Hal ini semakin membuktikan bahwa rezim fasis sangat kesulitan untuk Merusak Citra Agus Yudhoyono-Yang Sesaat lagi Dipastikan Menang Melawan Cagub Fasis yang selama ini Menindas Rakyat.

Anonymous said...

(Lanjutan)
Bahkan Anies Baswedan yang sebelumnya merupakan Timses Jokowi, sekarang mulai menyadari tentang Kebusukan dan Kebejadan rezim Fasis ini.
Pergerakan nya di Pilkada DKI cukup Bernilai karena Menelanjangi Kebejadan Cagub Fasis yang selama ini berkuasa dengan Dukungan Pemerintah Pusat yang juga Fasis. Lewat Anies Baswedan lah Rakyat tahu bagaimana Janji Kampung Deret yang ditebar oleh Jokowi & Ahok terbukti hanyalah Penipuan terhadap Rakyat.
Anies Baswedan & Rizal Ramli hanyalah sebagian kecil Korban-Korban Rezim Reklamasi yang Mulai Menjalankan Perlawanan.
Perlawanan lainnya akan ditunjukkan oleh Komunitas Grass Root seperti: Nelayan yang menjadi Korban Reklamasi, Kaum Dhuafa yang Menjadi Korban Penggusuran, serta Rakyat Kecil yang Tertindas lewat Penggusuran (sekalipun memiliki sertifikat tanah), dan juga Kaum Habib (baik yang asli maupun palsu) bersama Umat Agama tertentu yang menyadari Agamanya DiHina & Disingkirkan.
Bahkan kemenangan Nelayan dan Korban Penggusuran di Pengadilan Negeri dinistakan begitu saja oleh Rezim Fasis Anti-Rakyat ini.
Tulisan ini Bukanlah Memihak suatu kubu apapun, tapi merupakan salah satu referensi bagi siapapun yang ingin meneliti lebih Objektif tentang apa yang terjadi saat ini.

Anonymous said...

Agama malah jgn membuat hati jadi kotor, komen anonymous ini pas banget buat penulis

Jgn buta hati bro, kaum mapan ga nikmati BPJS loh, dan semua dikenakan iuran bulanan kok, bukan bantuan sosial untuk pencitraan, mungkin penulis perlu belajar tentang sistem ekonomi yg bernama 'asuransi'.

Imam Semar said...
Banjir sudah menjadi bagian dari kaum bantaran sungai, bukan bagi istana kepresidenan atau kaum Menteng. Saya pernah menawarkan tempat tidur yg bisa diubah menjadi sampan kpd rekan yg tinggal di bidaracina legok, untuk menyelamatkan barang2 elektroniknya. Dia cuma tersenyum. Sdh biasa......, katanya.

Paslon 1 banget lo, teknologi terapung gitu.. dagelan.

Anonymous said...

Wah Kalau soal subsidi Yg lebih parah nomor 1 dan 3 berarti menawarkan ini itu hingga 1M per RW,BLT dsb
Bagi saya Orang sakit wajib ditolong,
Sama juga dengan pendidikan, semua orang wajib mendapatkan akses pendidikan,itu basic agar mereka bisa bertarung secara fair dan adil di kehidupan ini dgn anak orang yg sudah kaya dan punya akses modal dan gizi baik seperti yang memang digagas ahok saya setuju soal ini, ibarat fair play namannya
beda dgn orang miskin ya harus kerja keras

Arygrocery79 said...

Sampai kiamat indinesia gak bakal maju,yg ada ancur.smua ini intinya ekonomi/keuangan APBN 2000T/taun.1500T dari pajak dll +500T Utang.pertanyaanya saat target pajak turun apakah utang mesti bengkak? karena setiap rezim gak mau APBN kurang dari 2000T klo bisa lebih.saat ekonomi lesu utang pun susah(sun/obligasi dll) cara paling gampang cetak rupiah lebih banyak dengan kamuflasi seri rupiah terbaru.efeknya inflasi bengkak,rakyat kecil pertama jd korban dan para pemegang aset rupiah.alokasi APBN hampir 40% buat gaji PNS.padahal pns cuman 2% dari total penduduk indonesia.begitu eklusive/istimewa pns 2% makan jatah APBN 40%/taun.sisa 60% buat pembangunan n bancakan korupsi.sampai kapanpun gak bakal maju sistem begini.

midjin said...

Itu yg anonym serem.banget kalimatnya ya mbok ya biasa aja netral hati dan kepala dingin

Anonymous said...

Pak IS sejak kapan anda menggunakan Teori konspirasi yang belum terbukti sebagai alat pendukung gagasan anda?, apa karena ada sentimen pribadi pada gagasan anda itu?

den dedi said...

Ulasan bung semar rasional, tapi kadang jadi fail saat dicocoklogi dgn dongeng/ ayat manusia gurun abad 7.

Anonymous said...

bener juga bung IS..,,dl gw bela but skrg gw sakit hati ama si joko..!..fasis santun..wk wk..wk

Anonymous said...

Negeri ini cocoknya dipimpin oleh mantan militer spy stabilitas terjaga dgn baik. Dari ketujuh presiden saat ini, kedua presiden dari kalangan militer telah terbukti membawa bangsa indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi diatas lima persen dan stabilitas lebih terjaga. Kita lihat presiden Suharto dan SBY adl presiden RI terbaik saat ini. Sedangkan presiden dari kalangan sipil terbukti buruk dlm memimpin bangsa. Bukan krn mereka tidak cerdas dan berwawasan luas namun terbukti buruk dlm mengelola ekonomi bangsanya. Kita lihat contohnya seperti era Sukarno, Habibie, Adurrahman Wahid, Megawati dan Jokowi ternyata justru tidak pernah stabil dlm mengelola stabilitas politik dan ekonomi. Kalangan sipil hanya pintar dlm teori, ideologi dan konsep tapi buruk dlm pilihan kebijakannya. Begitu juga gubernur DKI Jakarta seharusnya tidak boleh dipimpin oleh kalangan sipil krn politik dan ekonominya tdk akan pernah stabil shg suatu saat akan mengalami kemerosotan. Kita melihat kesuksesan Gubernur Ali Sadikin dari kalangan Militer justru mampu memajukan kota jakarta menjadi ikon metropolitan di dunia. Kita juga bisa melihat Gubernur Sutiyoso dari kalangan Militer selama 2 periode paska krisis moneter 1998 sangat mampu menangani konflik dengan cepat, stabilitas mjd terjaga dan pulih kembali. Bahkan gagasan Busway awalnya dari Sutiyoso yg meniru negara lain dgn sistem transportasi rakyat yg murah dan nyaman. Dua gubernur ini adl dari kalangan militer yg mampu menjadikan Jakarta menjadi ikon modernitas. Itulah mengapa Bpk Prabowo (mantan militer) sangat didambakan oleh bangsa kita utk menjadi macan Asia tetapi justru gagal dlm pilpres 2014. Saya pikir jika anda ingin hidup dengan aman, tentram, kondusif dan ekonomi tetap stabil di atas 5 persen maka sudah saatnya kita berpaling kembali ke pasangan pilgub DKI yg memiliki kemampuan dan kewibawaan dlm memimpin bangsa spy bangsa kita menjadi terpecah belah. Nomer pasangan 1 adl dari kalangan militer dan pasangan no. 3 sebenarnya juga bagus krn dari kalangan intelektual dan praktisi bisnis dan juga didukung penuh oleh Bpk Prabowo. Namun krn mereka adl dari sipil maka kewibawaan mereka suatu saat akan jatuh kembali. Ini yg justru membahayakan NKRI. Saya pikir pasangan nomer 1 sangat layak utk dipilih.. Bagaimana dgn Ahok? Meskipun Ahok sudah banyak pengalaman di birokrasi pemerintahan di bangka belitung dan pernah mjd anggota DPR namun nasibnya tdk akan bertahan lama krn Ahok dr kaum minoritas yg tdk memiliki beking atau latar belakang militer. Berbeda dgn pasangan no urut satu dan tiga. Pasangan no urut 3 juga tidak memiliki kewibawaan dalam kepemimpinan. Dengan slogannya yg mengutamakan cara yg santun, mereka diserang oleh no urut 1 saat ditanya bagaimana ketika seorang pemimpin dihadapkan oleh konflik horisontal dan jawaban pasangan no urut 3 sangat tdk memuaskan krn hanya dengan mengandalkan pendidikan masyarakat tidak akan menghindari konflk tapi hanya bisa diatasi dengan ketegasan dan kewibawaan . Dan itu hanya dimiliki oleh pasangan no. urut 1 sbg sosok militer. Jadi nomer 3 justru jadi kartu mati jika DKI Jakarta tjd konflik dan premanisme. Apakah sy seorang militetistik? Bukan... Saya hanya tdk tahan melihat bangsa ini dipimpin oleh kalangan sipil yg justru tdk kompeten menstabilkan politik dan ekonomi bangsanya sendiri. Kita lihat Sukarno yg justru tdk tegas dgn bahaya laten PKI, BJ Habibie yg membuat Timor Timur hilang, Abdurahman Wahid yg kebijakannya merugikan parlementer, Megawati yg justru menjual pulau dan aset bangsa, dan Jokowi yg menambah beban utang negara. Semuanya dari kalangan sipil yg sangat buruk dlm masalah kepemimpinan meskipun pemikirannya sangat cerdas. Meskipun tdk semua pemimpin sipil itu buruk seperti Bu Risma. Tapi utk menciptakan keutuhan NKRI dan kedaulatan bangsa dari tangan bangsa asing maka sudah selayaknya kita memilih pemimpin dari kalangan militer.

Anonymous said...

Siap-siap bung is dibully dan ditinggalkan oleh pembaca setia yg jg org2 mapan dan berpendidikan

maleo said...

Saya non muslim, tapi saya juga termasuk golongan yang menarik mundur dukungan saya buat pemerintah ini.

Usaha semakin susah. Pemerintah butuh duwit buat ambisinya bangun infra yang blm tentu bermanfaat banget buat kondisi ekonomi global saat ini.

Demi uang Pemerintah memperkuat Anjing pemangsa (Dirjen Pajak) tanpa reformasi mendalam di dalamnya yang masih kotor dan carut marut.
Kemudian anjing ini teryata kemungkinan besar juga masih setia terhadap majikannya yang lain yaitu para koruptor dan kroni2nya.
Alhasil anjing dirjen pajak ini hanya berani memangsa pengusaha kelas2 cere. Sementara koruptor dan maling tetap terlindungi.

Tapi harus diketahui saat ini ada kelompok yang berusaha membonceng ketidak sukaan rakyat terhadap Rezim Jokowi ini,

Kelompok ini semua sudah tau siapa, 4L (Lu lagi Lu Lagi), militan berjubah agama yang memiliki misi membuat indonesia menjadi seperti suriah.

Jadi saat kita mengkritik pemerintah awasi juga apakah kritik anda dimanfaatkan oleh kelompok ini.

Anonymous said...

antek asing
anak sinar mas
komunis
kafir (uups salah ya)
sekarnag kafir
apalagi yang otak creative kalian bisa pikirkan ?
jangan kebanyakan baca dongeng padang pasir.. bikin hati jadi kelu

Anonymous said...

Siap siap dibully dan ditinggalkn pembaca setia eowi yg jg kebanyakan org2 mapan berpendidikn

Anonymous said...

dari dulu saya baca tidak memberikan pencerahan dan ramalanya banyak melesetnya...
pinter boleh pinter tapi jangan keblinger ya mas ....

kumbayamylord said...

Please yg Anonymous pake nomor kek... anonim 1, anonim 2... jadi bingung ini orangnya itu2 aja atau beda-beda ya...

Anonymous said...

Soeharto dr kalangan militer sukses menciptakan hyperinflasi dan korupsi berjamaah juga sby sama saja ujungnya
Khadafi jg dr militer tuh, yg bener adalah cari pemimpin yg jujur dan pintar

Anonymous said...

[img]http://i.xomf.com/dzllq.jpg[/img]

cek mata

Jon Lebay said...

WOW! What a surprise! Ternyata Bung IS punya otak yg sama dan sebangun dengan otaknya maestro idola saya : JONRU GINTING

Anonymous said...

Stress dolar nga tembus - tembus, bunga pinjaman dolar jalan terus. Jadi sakit hati ama Jokowi

Anonymous said...

Prediksi ekonomi 2017 akan semakin kompetitif. Dan jika tidak siap dgn ekonomi proteksionis AS ala Donald Trump maka Indonesia dipastikan akan kebanjiran produk impor dari negara se Asia Fasifik terutama Cina dan Jepang. Ekonomi Indonesia mungkin akan semakin defisit dan menekan APBN. Dampaknya akan merugikan ekonomi Indonesia kedepannya. Apakah ini salahnya Cina semata.. Bukan...... Lalu mengapa? Awalnya AS akan memproteksi perdagangan Cina dan kaum imigran asing ilegal. Bisa dipastikan dgn sistem proteksi AS maka mitra dagang terbesar di Asia Fasifik seperti Jepang dan Cina dipastikan akan beralih dgn mencari pasar ekspornya ke negara emerging market lain terutama Asia Tenggara dan ini akan meningkatkan dua kompetitor dagang terkuat yaitu Jepang dan Cina. Bagaimana ceritanya? AS sudah menarik diri dari TPP yg digagas Obama utk menandingi superioritas China di Asia Pasifik. Ini justru sangat merugikan negara sekutu AS yg loyal yaitu Jepang. Dengan menghilangnya AS maka Jepang akan berusaha mendekatkan diri kepada teman lamanya yaitu ASEAN. Kita busa lihat strategi diplomasi PM Jepang Shinzo Abe ketika melawat ke Indonesia bertemu Jokowi utk meningkatkan hubungan bilateral dua minggu yg lalu yg kemudian disusul ke filipina dan vietnam. Hal ini membuat Cina yg sudah jauh lebih dulu menjalin hubungan mesra dengan filipina dan indonesia ditengah konflik laut cina selatan menjadi terganggu. Shinzo Abe dikritik oleh Cina krn dianggap mengganggu dan menuduh Jepang bermain mata dengan pemimpin Asia Tenggara dengan dalih isu konflik Laut Cina selatan.. Padahal PM Shinzo Abe hanya ingin memperluas investasi dan pangsa pasarnya di ASEAN akibat menghilangnya AS dari TPP. Lalu bagaimana dengan nasib Indonesia? Dengan semakin diproteksinya ekonomi AS oleh Trump dan diperketatnya imigran asing maka Indonesia akan semakin kebanjiran produk dari Cina dan tenaga kerja ilegal.. Bahkan utk menekan jumlah tenaker asing Cina Jokowi harus mampu memainkan posisi strategis dgn menarik investor Jepang yg kehilangan mitra dagangnya AS di TPP. Tapi apakah ini berhasil menekan Cina yg makin digdaya di ASEAN? Silahkan Bung Is yg menganalisanya... Saya tunggu....

Anonymous said...

Hold usd 2 thn gak ada hasil,kalau 2 thn di inves ke saham or RD sudah dpt 20 - 30%
Ramalan IS ttg usd meleset dan jika mengikuti prediksi IS maka kita sdh kehilangan potensi keuntungan 20-30%
Someday maybe will happen but not now bro

Anonymous said...

Mas, postingannya bau onta, kambing dan kuda nil nih ...

Anonymous said...

Menolak LUPA , tahun 2009 ketika ada banjir besar si IS menulis (cek sendiri arsip blognya) bahwa orang2 yg tinggal di Kp. Melayu dan pinggir kali adalah orang2 tidak waras, manusia modern pecundang dan berbagai julukan2 lainnya disematkan IS pada mereka.

Tulisan IS tahun 2009:
Nenek moyang kita, hidup berpindah-pindah. Awalnya mereka menempati suatu daerah dan hidup disana. Membangun tempat tinggal dan menetap disana. Tetapi mereka tidak selamanya tinggal disitu. Pada saat daya dukung daerah itu sudah sudah berkurang dan hilang, maka mereka pindah. Keputusan yang waras. Kenapa harus tinggal di tempat yang tidak nyaman dan tidak menjanjikan?
Berdasarkan kriteria Einstein dia, dan juga orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, sudah tidak waras. Kalau mereka waras maka mereka sudah berbuat sesuatu yang lain, seandainya tidak mau pindah seperti yang dilakukan moyangnya dulu
Kembali pada masalah Jakarta dan Kampung Melayu. Ada dua alternatif untuk mengatasi masalah banjirnya bagi penduduk di Kampung Melayu. Dan memilih gubernur tidak termasuk di antaranya. Kedua pilihan itu adalah, pergi dari daerah itu (Kampung Melayu) sehingga mereka tidak kena banjir atau bergotong royong membuat pemukiman yang baik di Kampung Melayu.

Heh..sekarang sebagian "orng2 tidak waras" di bantaran sungai telah dibantu Ahok dipindahkan ke tempat yang lebih waras (sesuai saran IS tahun 2009) rusun bebas banjir, labelnya sekarang berpindah ke Ahok sebagai unfair pembela kaum mapan? Kebiasaan IS roni (robah2 niat) kumat lagi?

Btw Ahok bukan anggota PDIP walau didukung PDIP (dan Hanura, PPP, Golkar) , dan saya nggak ingat Ahok pernah sesumbar sebagai pembela kaum wong cilik. Sejak awal jadi cawagub bersama2 Jokowi , kerjaannya Jokowi-Ahok selalu berusaha menertibkan wong cilik seperti misalnya pedagang2 liar di Tanah Abang dan Jatinegara yag suka bikin macet jalanan.

Zuzus Alfandi said...

Artikel Yg Sangat Saya Cari². Nice Artikel Bang :D .
Update Film Dan Anime Terbaru

Bursa Mp3 Stafaband

Any Share Lagu