Untuk di renungkan:

Karl Mark, Das Kapital & Depresi Ekonomi
" owners of capital will stimulate the working class to buy more and more of expensive goods, houses and technology, pushing them to take more and more expensive credits, until their debt becomes unbearable. The unpaid debt will lead to bankruptcy of banks, which will have to be nationalised and the state will have to take the road which will eventually lead to communism" Karl Marx Das Kapital 1867

Undang-Undang Penjaminan Simpanan/Deposit
Pernyataan di LPS:
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan, sejak tanggal 13 Oktober 2008, nilai Simpanan yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank paling banyak Rp2.000.000.000,- (dua miliar rupiah).

Kesimpulan:
1. Pemerintah tidak menjamin nilai riil uang anda agar supaya tetap. Hanya nominalnya saja yang tetap.

2. Pemerintah tidak mengatakan bahwa deposit anda tidak akan dibekukan. Uang anda akan utuh di bank tetapi tidak bisa diambil kalau pemerintah memutuskan untuk dibekukan.


Bagaimana bisa menanggung Rp 268.6 trilliun deposit nasabah yang ada kalau modalnya kurang dari 3%?


Untuk kasus Bank Century...., tiba-tiba dalam 1 tahun modal LPS naik dari Rp 7 triliun ke Rp 14 triliun, dan dipakai untuk 'menolong' Bank Century Rp 6.7 triliun. Dari mana datangnya Rp 7 triliun dalam 1 tahun ini. Hebat amat LPS bisa tumbuh 100% dalam 1 tahun. Mungkin dapat hibah dari pemerintah. Dan kwitansi hibah itu nantinya ditagih dalam bentuk pajak atau mencetak duit.......


Makna Demokrasi
Hasil Pilkada DKI:
Pemilih Terdaftar: 5.719.285
Fauzi Bowo: 2.010.545 (35.1%)
Adang: 1.467.737 (25.7%)
Tidak Memilih: 2.241.003 (39.2%)
Pemenangnya Kursi Kosong. Kenapa Fauzi Bowo jadi gubernur?


Makna Keadilan
Gigi dibayar gigi
Mata dibayar mata
Hutang Nyawa dibayar nyawa,

Hutang Emas dibayar emas dengan jumlah sama
Hutang pencemaran nama baik dibayar dengan pencemaran nama baik

Tetapi.., pengADILan menetapkan bahwa TIME harus bayar Rp 1 triliyun kepada pak Harto untuk hutang pencemaran nama baik..., (mungkin peradilan harus ganti nama menjadi per-TIDAK-ADIL-an)

Demokrasi dan Pajak
Oman, Qatar, Kuwait, Arab Saudi punya persamaan bahwa disana tidak ada pajak dan tidak ada pemilihan umum.



Untuk warga negara US, mereka wajib membayar pajak US dimana saja mereka tinggal dan cari nafkah dan walaupun sudah menanggalkan kewarganegaraan US nya masih harus terus membayar pajak sampai 10 tahun.


Perang


“Naturally the common people don't want war; neither in Russia, nor in England, nor in America, nor in Germany. That is understood. But after all, it is the leaders of the country who determine policy, and it is always a simple matter to drag the people along, whether it is a democracy, or a fascist dictatorship, or a parliament, or a communist dictatorship. Voice or no voice, the people can always be brought to the bidding of the leaders. That is easy. All you have to do is to tell them they are being attacked, and denounce the pacifists for lack of patriotism and exposing the country to danger. It works the same in any country.” - Hermann Goring - Pimpiman Militer Jerman pada masa Hitler.


___________________________________________


Pengumuman


_____ooOoo_____

BREAKING NEWS


----ooOoo----

Musik Minggu Ini: Black Knight

Loading...

Thursday, December 8, 2011

Bubble dan Pendidikan Tinggi

Saya tidak tahu apa yang mau saya jadikan pokok pembicaraan kali ini. Seperti biasanya, banyak. Walaupun demikian saya selalu bisa menggabungkan beberapa topik menjadi satu dan tetap punya alur cerita yang enak (menurut saya). Hal ini disebabken karena biasanya secara keseluruhan mereka ada hubungannya. Kali ini saya mau bercerita tentang yang tidak ada hubungannya sama sekali. Andaikata ada, maka jaraknya sangat jauh. Tepatnya, topik yang hendak saya gabungkan adalah tentang sekolah, bubble dan memasukkan cerita satir berdasarkan berita mengenai pajak.

Saya mulai dulu dengan berita di bidang pajak. Karena isinya sangat ironis dan saya suka sekali.

Ada berita di bulan lalu tentang General Electric (GE). Tahun 2011 ini GE memasukkan formulir pengembalian pajak 2010 tebal kira-kira 57,000 halaman. Pengertian kata kira-kira disini adalah, bisa 56,999 bisa juga 57,689 halaman. Jadi jangan terlalu dipersoalkan mengenai detailnya. Laporan pajak sepanjang 57,000 halaman itu ternyata hanya untuk menyetorkan $ 0.00 saja oleh GE. Padahal keuntungan yang diperolehnya untuk tahun itu adalah $17 milyar. Itulah kehebatan GE. Dan itulah ironisnya peraturan pajak.

GE mempunyai sederet ahli hukum, ahli pajak, akuntan yang jago dalam mengelak pajak walaupun aturan-aturan pajak sudah dibuat tebal sekali. Sangking banyaknya aturan pajak ada perkataan Don Nickles (pengusaha dan politikus US) yang populer:

the Internal Revenue Code is about ten times the size of the Bible - and unlike the Bible, contains no good news. ~ Don Nickles

Tebal buku aturan pajak US adalah 10 kali Bible, tetapi tidak satupun ada kabar gembira di dalamnya.

Pajak ibaratnya:

The best things in life are free, but sooner or later the government will find a way to tax them. ~ Author Unknown

Hal yang indah di dalam kehidupan adalah bahwa semuanya (barang disediakan alam) tidak perlu bayar, tetapi cepat atau lambat pemerintah akan mengetahui cara untuk membuatnya harus bayar dalam bentuk pajak.

Dan manusia selalu akan berusaha untuk mencari jalur alamiah, yaitu gratis, oleh sebab itu muncullah apa yang disebut ahli hukum, ahli pajak dan ahli akuntan. Sebut saja mereka semua itu ahli. Dan tidak hanya itu, sekolahnya pun ada, walaupun sebenarnya andaikata pemerintah tidak menariki pajak, maka pekerjaan tersebut tidak memberikan manfaat bagi kemakmuran. Saya akan jelaskan maksud saya ini nanti.

Suksesnya GE untuk memperoleh kemerdekaan (menghindari pajak adalah memperoleh kemerdekaan) berkat laporan pajaknya yang tebalnya/tingginya 6,3 meter yang disusun oleh sepasukan ahli pajak. Entah berapa banyak pegawai kantor pajak yang diperlukan untuk membaca laporan pajak GE yang tebalnya 6,3 meter atau setinggi rumah 2 lantai. Itu baru GE, masih banyak lagi perusahaan-perusahaan besar lainnya, seperti Exxon-Mobil, Morgan Stanley, JP Morgan, Microsoft dan lain-lain.

Pajak di jaman modern ini adalah musuh dari usaha pelestarian alam. Jika satu pohon bisa menghasilkan 16,7 rim kertas (5,5 cm tumpukan kertas A4), maka setiap tahunnya perusahaan seperti GE akan memerlukan hampir 7 batang pohon untuk 1 laporan pajaknya. Kalau perlu tambahan 2 arsip maka diperlukan 21 batang pohon. Kalau ada 1 juta perusahaan yang membuat laporan seperti GE maka diperlukan 21 juta batang pohon. Itu baru untuk kertas saja. Kemudian untuk auditor yang harus membaca laporan pajak itu?

Melalui pajak pemerintah menciptakan lapangan kerja sontoloyo, sektor keahlian sontoloyo dan merusak lingkungan. Saya katakan lapangan kerja sontoloyo karena membaca dan meneliti laporan pajak bukanlah pekerjaan yang memberikan kemakmuran. Apakah anda semua bertambah nikmat hidupnya karena karena auditor dari kantor pajak ini? Seorang pemulung dan pengangkut sampah bisa memberikan kemakmuran yang lebih riil. Tanpa mereka sampah akan menumpuk, hidup menjadi tidak nyaman. Bahkan sebaliknya, pegawai pajak membuat hidup menjadi tidak nyaman.

Ulah pemerintah melalui pajak juga menciptakan sektor keahlian sontoloyo, seperti auditor dan akuntansi. Coba bandingkan dengan insinyur pertambangan, yang bisa menemukan dan menggali bahan-bahan yang digunakan untuk membuat TV, mobil, dan barang-barang lain yang bisa dinikmati. Kalau dilihat, apa hasil kerja auditor pajak yang bisa dinikmati manusia? Seorang insinyur elektronik misalnya, hasilnya adalah tv plasma, hp, i-pad, i-pod, atau komputer yang sedang anda hadapi. Semuanya itu suatu bentuk kemakmuran. Apa hasil kerja auditor pajak yang bisa dinikmati manusia?

Memang tidak semua sektor keahlian sontoloyo dihasilkan dari kantor-kantor pemerintah. Tetapi sebagian besar dari gedung parlemen dan kantor pemerintah. Paling tidak gedung parlemen dan kantor pemerintah membuat sontoloyonisasi bidang-bidang ilmu yang berguna menjadi sontoloyo melalui undang-undang dan peraturan serta kampanye pendidikan.

Masyarakat punya persepsi bahwa tingkat pendidikan berbanding dengan tingkat status ekonomi atau potensinya. Oleh sebab itu orang akan berlomba-lomba mengejar gelar kesarjanaan.

Pada hari ini 27 tahun lalu, saya membuat suatu keputusan yang berlawanan dengan kebiasaan masyarakat. Saya memutuskan untuk meninggalkan program PhD yang hanya tinggal 2 mata pelajaran ditambah dengan riset. Untuk apa PhD, malah saya sering memplesetkan PhD menjadi Permanently Head Damage. Kalau anda tidak berminat untuk bekerja dibidang riset, untuk apa menempuh program PhD? Riset saya yang mengenai energy kemudian dilanjutkan oleh rekan saya Rob Gravelsins. Yang mengherankan (bagi banyak orang) adalah bahwa 7 tahun kemudian saya sempat berbicara melalui telpon dengannya dan mengatakan bahwa ia menyelesaikan riset itu tetapi tidak pernah menyelesaikan program PhDnya.

Ada suatu pertanyaan yang mendasar di dalam benak saya pada saat itu. Apakah PhD akan memperbaiki peluang untuk hidup lebih makmur secara finansial? Selama mengambil graduate study, saya lebih cenderung untuk mencari uang. Penghasilan pertama saya sebagai graduate student adalah $720 per bulan. Kemudian dinaikkan secara bertahap oleh professor saya karena saya banyak membantu untuk memperoleh research grant dari banyak sponsor. Sebelum saya keluar, ada 7 sponsor swasta yang tertarik dan mendukung riset saya. Karena itu honor saya dinaikkan menjadi $ 1.500 per bulan. Tidak terlalu buruk. Kalau sekedar melihat “hari ini untuk hari ini”, angka $1.500 cukup banyak. Pada saat itu ada sebuah perusahaan penyedia jasa di sektor minyak berani memberi $2.500 per bulan untuk tugas lapangan yang terkadang harus melek selama 72 jam. Harus diingat bahwa sektor minyak pada masa itu adalah sektor yang berani memberi imbalan yang tertinggi dibanding dengan sektor-sektor lain. Tetapi kerjanya juga berat.

Kembali pada pertanyaan: Apakah PhD akan memperbaiki peluang untuk hidup lebih makmur secara finansial? Jawabnya adalah “tidak”. Saya melihat banyak rekan-rekan yang mengerjakan pekerjaan post-doctoral, hidupnya juga begitu-begitu saja. Saya juga tidak heran jika dikemudian hari Rob Gravelsins rekan saya itu tidak menyelesaikan PhDnya.

Pandangan masyarakat yang salah bahwa pendidikan adalah jaminan status ekonomi dipupuk juga oleh pemerintah. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di “negara-negara maju”. Kalau anda punya gelar kesarjanaan di bidang teknik tambang, minyak, mesin, elektro, sipil basah memang peluang untuk hidup makmur lebih tinggi.

Jika anda punya gelar di bidang akuntan atau IT, peluangnya ada di support group, yang hidupnya hanya begitu-begitu saja. Kalau anda punya gelar di bidang kedokteran....., tergantung dimana anda hidup. Untuk Indonesia, jangan harap investasi (uang kuliah dan uang indekos) anda bisa kembali dengan cepat karena sekolahnya mahal, lama, susah, perlu kerja keras, tetapi setelah lulus tidak banyak orang yang mampu membayar jasa dokter. Mereka lebih suka ke pengobatan alternatif yang murah dan tidak jelas hasilnya.

Kalau anak anda diterima di jurusan SBM (School of Business Managemant) ITB, lebih baik uangnya digunakan untuk membeli rumah, kemudian disewakan. Usaha menyewakan rumah akan jauh menguntungkan dari pada menjadi sarjana SBM yang nantinya jadi klerk. Tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan manager baru lulus.

Kalau anak anda diterima di jurusan psikologi, FISIP, atau sejenisnya, maka lupakan saja gelar itu. Tidak banyak orang Indonesia yang mau datang ke psikolog untuk konsultasi mengenai kejiwaannya. Yang lebih banyak adalah orang yang dibawa ke dokter jiwa atau psikiater (penyandang sarjana kedokteran, bukan psikolog yang sarjana psikologi). Itupun kalau keluarganya mampu. Untuk jurusan FISIP, tidak jelas apa yang bisa dikerjakan dengan ilmunya.

Undang-Undang Dasar 45 yang telah diamendemen mengharuskan 20% dari belanja negara diperuntukkan bagi pendidikan. Tentu saja ini ide tolol. Wajib belajar 12 tahun, juga ide tolol lainnya. Saya punya pembantu yang baru adalah lulusan SMA. Kalau mau menjadi pembantu, tidak perlu lulus SMA, tidak perlu tahu deret ukur, tidak perlu tahu hukum Hess, tidak perlu tahu reaksi kimia redox atau reaksi asam-basa.

Politikus pemerintah berpikir bahwa mereka tahu apa yang baik bagi rakyat banyak. Mereka menariki pajak ke perusahaan sehingga keuangannya menjadi lebih sempit untuk bisa memberi gaji pegawainya yang tinggi dan juga untuk berkembang sehingga bisa mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi. Kemudian mereka juga memajaki karyawannya yang seharusnya gajinya bisa lebih tinggi itu. Dengan demikian karyawan kena pukul dua kali sehingga konsumsi karyawannya berkurang.

Kemudian pemerintah menyalurkan uang pajak ini untuk pendidikan, sehingga banyak lulusan SMA dan sarjana serta doktor. Persoalannya bahwa ijasah membawa gengsi. Karena mengantongi ijasah SMA dan sarjana, banyak orang enggan bekerja sebagai kuli bangunan atau pembersih WC atau pengangkut sampah atau pekerjaan yang produktif yang dianggap tidak sesuai dengan ijasah yang dimilikinya. Saya kenal banyak sarjana teknik (sipil, mesin, kimia, tata kota, dll), yang menganggur karena gengsi, padahal mereka ini tergolong orang-orang yang otaknya encer. Kalau sarjana ekonomi, politik & sosial, psikologi, kedokteran gigi atau hewan yang menganggur banyak dan wajar karena yang masuk jurusan itu biasanya tidak terlalu pintar. Seleksi masuk universitasnya juga tidak ketat.

Universitas menghasilkan pengangguran intelek. Istri saya seorang pengangguran sarjana ekonomi. Ipar saya ada yang sarjana ekonomi juga, ada juga yang dokter gigi pengangguran. Menurut pandangan orang bahwa jika ada dokter menganggur, itu adalah luar biasa. Tetapi hal itu terjadi. Salah satu sahabat saya adalah dokter spesialis farmakologi pengangguran. Dengan kata lain pendidikan menghasilkan pengangguran intelek. Setidaknya, orang berkerja tidak di bidangnya dan membuat biaya pendidikannya mubazir. Apalagi jika ketidak-bijakan pendidikan diarahkan oleh pemerintah. Akan semakin parah.

Persoalan menjadi semakin besar jika yang menganggur adalah sarjana militan pula. Tempat penampungan type sarjana seperti ini adalah LSM dengan pemikiran sosialis. Pemikiran-pemikiran sosialis radikal lebih mudah muncul dari kalangan yang gagal dan tertinggal. Mereka ingin sejajar, tetapi tidak punya kemampuan sehingga coercion (pemaksaan, bisa lewat hukum legal) menjadi pilihannya. Kaum sosialis ini tidak bisa disamakan dengan para philanthropist yang membagikan keberuntungannya secara sukarela atas dasar kasih. Kaum sosialis menginginkan pemerataan atas dasar keirian seperti yang terjadi di Irian dan Aceh pada masa lalu.

Banyak di antara sarjana-sarjana kesasar tidak ingin hidupnya menjadi sia-sia. Akhirnya memilih pekerjaan yang lain sama sekali dengan sekolahnya. Teman SMA saya seorang pemilik restoran yang sarjana kedokteran yang tidak lagi menekuni bidang kedokterannya karena tidak laku. Adik saya seorang sarjana tata kota dari Uni Keiserlautern Jerman akhirnya berkecimpung dibidang ekspor-impor dan menyewakan rumah. Agen asuransi yang baru-baru ini menemui saya adalah sarjana pertanian, karena tidak ada lapangan kerja yang sesuai dengan keahliannya. Banyak keponakan-keponakanan saya yang sarjana hukum, ekonomi, entah apa lagi yang bekerja sebagai agen asuransi, agen properti dan sejenisnya. Padahal untuk pekerjaan semacam ini tidak diperlukan keahlian yang dicarinya di universitas.

Andaikan saja pemerintah tidak menariki pajak untuk pendidikan dan pajak berkurang 20%. Uang itu bisa dipakai oleh perusahaan untuk mengembangkan usahanya yang bisa menampung tenaga kerja. Uang itu juga bisa membuat orang 20% lebih kaya. Semakin kaya, orang akan punya kebutuhan baru. Orang miskin akan memotong kukunya sendiri, akan mencuci muka sendiri, akan keramas sendiri. Jika uangnya sudah berlebih, maka dia akan membayar orang lain untuk memotong kukunya (pedicure dan manicure) atau mencuci mukanya (facial) atau mencuci rambutnya. Bahkan mungkin menggaruk punggungnya yang gatal mungkin bisa ada yang mau mempekerjakan orang. Itu lapangan kerja yang sama sekali tidak membutuhkan pengetahuan aljabar, ilmu alam yang diajarkan di SMA. Jadi pendidikan menciptakan pengangguran.

Apakah pendidikan di Indonesia sudah mencapai fase bubble? Saya tidak tahu jawabnya. Tetapi kalau anda melihat Universitas Cenderawasih yang punya fakultas kedokteran, fakultas teknik mesin, sipil dan elektro maka saya akan mengatakan absurd. Masyarakat yang 30 tahun lalu masih hidup di jaman batu, masih suka perang suku apakah mampu membayar jasa dokter? Mereka juga lebih cenderung pergi ke dukun. Lalu mau dikemanakan para sarjana kedokteran itu? Lalu....., sarjana teknik mesin. Mau digunakan untuk apa keahliannya? Lalu sarjana sipil jalan raya......., yang membutuhkan jalan raya adalah Jakarta yang macet sehingga memboroskan bahan bakar dan waktu, bukan Jayapura yang lalu-lintasnya masih lancar. Tidak usah bicara Jayapura, di Jakarta saja banyak sarjana teknik sipil yang bekerja di luar bidangnya atau menganggur atau kesarjanaannya membuatnya over-qualified terhadap pekerjaannya karena memang kurangnya lowongan di bidang itu.

Persoalan pendidikan di Indonesia bukan apa-apanya dibandingkan dengan persoalan di Amerika Serikat. Campur tangan pemerintah merambah bukan sekedar peraturan seperti 12 tahun wajib belajar, tetapi juga memberi dorongan berupa dengan pemberian kredit mudah. Kultur sekolah berubah. Ketika saya mengambil program paska sarjana dulu, bagi mahasiswa teknik mereka bisa sambil kerja, setidaknya riset mereka dikaitkan dengan interest sebuah perusahaan yang mensponsori. Bagi mahasiswa undergraduate, bekerja selama liburan musim panas, bisa membantu dalam pembiayaan sekolah. Pola sekolah di Amerika Serikat, tidak banyak berbeda dengan sekolah di negara-negara barat lainnya secara umum. Adik saya dulu bisa membiayai hidupnya sebagai mahasiswa di Jerman dengan menjadi pengantar koran. Sampai sekarangpun, di Jerman, pola semacam itu mungkin masih berlangsung karena kuliahnya tidak bayar.

Itu adalah kisah di Amerika pada jaman dulu. Kemudian muncul Sallie Mae, badan usaha pemberian kredit mahasiswa yang disponsori pemerintah. Sengaja atau sekedar ketidak becusan badan usaha yang ada kaitannya dengan pemerintah, standard kredit yang rendah menjerumuskan banyak mahasiswa untuk menjadikan diri mereka budak hutang (seumur hidup). Tahun 2005, seorang karyawan Sallie Mae bernama Michael Zahara menuntut secara hukum Sallie Mae atas tuduhan bahwa Sallie Mae memberi penundaan debitur untuk menyatakan kebangkrutan (foreclosure) dan membebani mantan mahasiswa dengan hutang yang lebih berat.

Karena adanya kredit murah, permintaan terhadap pendidikan tinggi meningkat. Akibatnya biaya pendidikan tinggi juga naik seiring dengan meningkat permintaan. Disamping itu terjadi penyalah-gunaan uang kredit untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan seperti untuk membeli mobil dan hidup bermewah-mewah. Itulah yang membuat banyak mahasiswa terbelit hutang yang cukup banyak ketika lulus sarjana. Banyak yang mengatakan bahwa hutang mahasiswa di Amerika Serikat sudah membentuk bubble.

Saya menemukan video dari Youtube yang berkaitan dengan kecurigaan adanya bubble di sektor kredit mahasiswa. Video ini bisa memberi gambaran mengenai hutang mahasiswa di Amerika Serikat. Semuga anda bisa menikmatinya. Maksud saya dengan kata “menikmati” disini bukan menikmati kesengsaraan orang lain, melainkan bisa menyimak apa yang terjadi di Amerika Serikat.



Ada perbedaan yang menyolok antara pendidikan tinggi di Indonesia dengan di Amerika. Di Indonesia, seorang anak hanya menghabiskan uang simpanan, tabungan atau/dan harta orang tuanya ketika masuk sekolah tinggi. Seperti adiknya pembantu saya dulu yang orang Betawi. Orang tuanya menjual tanahnya untuk bisa menyekolahkan anaknya di akademi entah apa. Uang hasil penjualan tanah itu hanya untuk memperoleh status pengangguran berijasah. Di Amerika, orang seperti mereka ini terbelit hutang. Walaupun sudah membanting tulang, hutangnya serasa tidak pernah habis terbayar. Singkatnya menjadi budak hutang. Dengan kata lain sekolah tinggi hanya untuk menjadi budak hutang berijasah.

Pada saat kita memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, sebaiknya kita bertanya kembali: “Untuk apa sekolah sampai tinggi-tinggi? Kapan pay-back time nya? Sebab ada jalan yang lebih mudah dan lebih murah yaitu membeli ijazah. Beberapa teman saya, menjelang pensiunnya mereka mengambil program PhD, mungkin untuk membuat dirinya penderita permanently head damage. Terkadang biayanya mahal. Kalau yang dicari adalah ijazah, maka tindakannya diambil pada saat ia mengalami brain haemorrhage. Karena mantan Presiden RI Hamzah Haz bisa membeli gelar dan ijazah PhD dengan harga (yang saya perkirakan) tidak lebih dari $100. Kalau anda mempertanyakan kwalitas doktornya Hamzah Haz dengan doktor dari universitas terkenal seperti IPB, Institut Pertanian Bogor, tidak berbeda. Presiden SBY, adalah doktor dari IPB dan dia tertipu 2 kali. Pertama oleh proyek Blue Energy – dagelan penipuan yang sebenarnya bisa dikuak dengan ilmu Kimia/Fisika SMA. Kedua adalah padi Super Toy. Jangan katakan ironis bahwa seorang doktor dari universitas pertania bisa ditipu di bidang pertanian. Karena PhD adalah Permanently Head Damage. There is nothing special about that.

Sekian dulu, jaga investasi dan tabungan anda baik-baik. Jangan sampai mereka mempengaruhi kesehatan anda. Bubble Pendidikan di Indonesia tidak ada, but it sucks and is expensive. Artinya belum menjadikan orang budak hutang. Tetapi sekedar menguras tabungan saja dan menjadikan orang pengangguran berijazah kalau gengsi menerima pekerjaan yang tidak sederajad dengan status sarjananya. Itu semua terjadi jika jurusan yang dipilihnya salah - yaitu jurusan yang tidak ada demand nya di masyarakat.




Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

13 comments:

Anonymous said...

Tulisan yang sangat menarik, lugas dan spontan ...

Ms Shamrocks said...

brilliant thoughts!

di UK fee utk bikin undergraduates rata-2 £10,000 setahun, utk menyelesaikan program butuh 4 tahun plus biaya hidup. pelajar yang tamat akan terbeban pinjaman banks min £40000+biaya hidup - kalau pinjam. a big investment :-). selain itu setelah lulus KALAU ada kerja berapa lama bisa bayar?
kenyataannya sekarang yang masuk universitas menurun drastis ini pemikiran yang praktikal.

dan banyak pegawai financial investment bank yang kena PHK, PhD's motong jalan ikut program pemerintah jadi guru SD, SMP & SMA atau kerja jadi perawat.

golden degree berarti kalau emang bisa memenuhi biaya hidup otherwise so what!

Ms Shamrocks yang lucky enough dpt PhD spent no penny

Ms Shamrocks said...

brilliant thoughts!

di UK fee utk bikin undergraduates rata-2 £10,000 setahun, utk menyelesaikan program butuh 4 tahun plus biaya hidup. pelajar yang tamat akan terbeban pinjaman banks min £40000+biaya hidup - kalau pinjam. a big investment :-). selain itu setelah lulus KALAU ada kerja berapa lama bisa bayar?
kenyataannya sekarang yang masuk universitas menurun drastis ini pemikiran yang praktikal.

dan banyak pegawai financial investment bank yang kena PHK, PhD's motong jalan ikut program pemerintah jadi guru SD, SMP & SMA atau kerja jadi perawat.

golden degree berarti kalau emang bisa memenuhi biaya hidup otherwise so what!

Ms Shamrocks yang lucky enough dpt PhD dg no penny

Anonymous said...

di suatu tempat kerja ada seorang office boy yg tidak sekolah tinggi, seorang office boy yg masih sekolah di BSI, dan seorang di bagian IT yg lulusan IF ITB. Coba tebak siapa diantara ketiga orang ini yg punya kontribusi terbaik bagi perusahaan? Orang pertama selalu datang pagi dan membuat bersih seluruh tempat kerja serta selalu ramah dan menyenangkan. Orang kedua lebih banyak baru kerja kalau disuruh. Orang ketiga sangat sering kena marah karena lebih buruk dari pesuruh (tunggu disuruh baru kerja bahkan sudah disuruhpun belum kerja dan selalu harus diawasi kerjanya) namun dengan gaji jauuhhh lebih besarrrr padahal kerjanya berususan dgn dokumen krn teknikal skillnya dodol.

Anonymous said...

pak IS,

Kalau prospek ambil graduate studies di geothermal atau energy management bagus ga ya?

Background S1 saya Comp Science.

Trus ada informasi untuk studi graduate jurusan di atas yang bagus dan murah di mana yah pak?

Regards,

Mike

-Casuarry- said...

menarik sekali pak IS,. dapat dibayangkan betapa naif nya masyarakat yang hanya mengeandalkan ppendidikan namun tidak mampu berkarya secara nyata,.. matur nuwun pak, tulisan bapak telah membuka mata saya,

Anonymous said...

Om IS ini bener2 double standard ya. Jerman, Swiss bisa grais sekolah dan kuliah kan karena pajaknya besar Om.
Kalau Om IS anti pajak kok seneng banget adiknya kuliah gratis di Jerman? Warga Jerman bayar pajak gede jadi pemerintahnya bisa ngadain kuliah gratis kan Om?

Saya pribadi ngga keberatan bayar pajak Om, asal jangan dikorupsi sama Gayus.

Imam Semar said...

Dear Anony December 10, 2011 1:00 PM yang baik,

Saya bukan menggunakan double standard, tetapi oportunis (busuk). Saya malah memberitahu jalan kepada sekretaris2 saya kalau anaknya mau sekolah keluar negri.

Bagi saya sekolah itu tidak banyak artinya, tetapi pelajaran hidup mandiri. Sayangnya setelah kembali ke Indonesia...., dari mereka ada juga yang mengalami kesulitan dalam make living. Tetapi ada juga yang akhirnya menetap di Eropa, ada sebagai pemain band.

Mike,
Computer Science saat ini, main streamnya berakhir ke support group dari companies. Kalau anda happy sebagai bagian support group, apa salahnya.

Saya masih berpandangan bahwa dimasa mendatang, natural resources akan tetap menjadi sektor dengan top pay jobs. Karena 50% dari penduduk dunia dalam proses keluar dari kelas bawah menjadi kelas menengah, India, Cina, Indonesia, negara-negara Afrika dan Amerika Latin. Mereka ini akan merubah pola konsumsinya yang akibatnya permintaan atas bahan baku dari alam tetap tinggi.

Kalau anda bisa memperoleh pekerjaan bukan sebagai support personnel, melainkan sebagai anggota dari money generating group, tidak ada salahnya, anda mulai bekerja. Beberapa perusahaan menerima fresh graduate sebagai recruits tanpa memandang latarbelakang pendidikan. Hampir 80% dari classmates saya tidak bekerja pada bidang yang ditekuninya selama di universitas.

DarSub said...

Saya suka artikel ini. Membuka mata... salut saya untuk Pak Ir. MA.Sc. Ph.D

pertanyaan saya: bisakah artikel dengan analisa seindah ini ditulis oleh orang yang ga lulus kuliah atau lulusan smu sederajat?

Jadi untuk apa rakyat membayar pajak dan membiayai para mahasiswa ITB yang jenius2 itu? apalagi yang setelah lulus dan melanjutkan studi di luar negeri ternyata bekerja dan membangun negara lain? atau lebih parah lagi tanya wani piro?

Anyway, kembali ke realitas... semoga dengan selesainya jembatan selat sunda, biaya tinggi akibat transportasi bisa dikurangi dan lebih mempersatukan pulau2 di Indonesia, paling tidak antara sumatra dan jawa. Skeptis antara mark up dan kualitas. jangan sampai episode kukar 2 terjadi...

yusuf81 said...

great article, meskipun gak sepenuhnya sepakat. Bukan sekolahnya yang dodol, tapi para pelaku nya yang gak ngerti arti sekolah itu.

Arendy65 said...

Seperti biasa, tulisan menarik pak IS..

bapak bilang " Saya masih berpandangan bahwa dimasa mendatang, natural resources akan tetap menjadi sektor dengan top pay jobs. Karena 50% dari penduduk dunia dalam proses keluar dari kelas bawah menjadi kelas menengah, India, Cina, Indonesia, negara-negara Afrika dan Amerika Latin. Mereka ini akan merubah pola konsumsinya yang akibatnya permintaan atas bahan baku dari alam tetap tinggi."

kriteria natural resource itu apa? apakah perikanan, pertanian, dan agri bisnis itu termasuk?? Btw, kenapa teknik elektro dan mesin gak menjanjikan ya, secara pendidikannya berupa skill yang bisa diterapkan buat kemaslahat umat manusia..

Anonymous said...

pak IS,

walaupun saya bukan sekretaris bapak, tapi tolong di bantu dong tips2 kuliah di LN untuk Master degree..

Regards,

Mike

Ms Shamrocks said...

Om IS, milyuner2 kayak liem swie liong(?) etc mereka running life kayak running a business ya ngak?