Pada bagaian sebelumnya kita
membahas mengenai kemungkinan adanya goncangan ekonomi. Menurut Theo Tumion
datangnya dari masuknya yuan kedalam SDR (Special
Drawing Right, suatu mata uang devisa super dari IMF). Disaat itu, menurut
Theo, US dollar akan terpuruk.
Tetapi menurut EOWI, hasil
akhir yang terjadi bukan US dollar yang terpuruk, tetapi US dollar akan
mengalami penguatan, menuju target EOWI, yaitu rp 17,000 per US dollar. Berbalikan
dengan ramalan Theo. Penyebabnya adalah effek domino yang disebabkan jatuhnya
harga minyak di level $30an per bbl.
Kejatuhan harga minyak
menembus level $40/bbl beberapa minggu lalu, kedepannya mempunyai implikasi
yang sangat penting. Secara teknikal minyak mentah akan rebound dulu mendekati
$50/bbl. Kemudian ia akan kembali pada trend utamanya, yaitu turun. EOWI
perkirakan antara akhir tahun 2015 ini dan 2016 semester I, kemungkinan harga
minyak sudah kembali ke level $30an per bbl.
Dalam sejarah selama saya
hidup, saya menyaksikan bahwa kejatuhan harga minyak akan menimbulkan resesi
dunia. Saya tidak tahu apakah lemahnya ekonomi dunia menyebabkan jatuhnya harga
minyak atau sebaliknya. Yang pasti antara ekonomi dan harga minyak berjalan
secara paralel.
Kejatuhan harga minyak tahun
1980, 1982-1983, 1991, 2001, 2008 dibarengi dengan resesi di US dan perlambatan
ekonomi dunia. Kejatuhan harga minyak antara tahun 1996 – 1998, memang tidak
menyebabkan US resesi, tetapi saat itu berbarengan dengan krisis moneter Asia. Pertanyaan
apakah kejatuhan harga minyak menyebabkan perlambatan ekonomi atau sebaliknya,
mungkin kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dan saling menguatkan.
Lemahnya ekonomi akan menyeret harga minyak turun, dan turunnya harga minyak
akan melambatkan ekonomi.
Perlambatan Ekonomi Mengancam Wilayah Penghasil Minyak dan Komoditi
Konsekwensi logis dari
merosotnya harga minyak adalah perlambatan ekonomi di wilayah yang ekonominya
berbasis minyak. Dengan jatuhnya harga minyak, wilayah US Texas dan Montana,
wilayah Canada Alberta dan Saskatchewan, UK, Aberdeen akan mengalami perlambatan ekonomi. Itu belum termasuk yang
disebut negara, dimana banyak yang budget pemerintahnya sangat bergantung pada
pendapatan minyak. Hal ini pernah disinggung pada bagian I. Venezuela sudah
rontok sejak harga minyak di level $100/bbl. Demikian juga Libya, rontok sejak
tahun 2008, pada gelombang pertama gempa yaitu bubble subprime. Saat ini Russia mengalami pendarahan pada cadangan
devisanya. Dari tahun 2013, Russia telah kehilangan 30% dari cadangan
devisanya. Dampaknya terasa juga di nilai tukar mata uang rubel. Walaupun
Russia mau memberlakukan mata uang selain US dollar di perdagangan antar negara
ex-Uni Soviet, tetapi menurut pandangan EOWI, tidak akan berpengaruh pada US
dollar. Dollar yang beredar terlalu banyak untuk bisa terasa dampak tindakan Russia dan negara-negara ex-Uni Soviet. Seperti menggarami air laut. Malah, kalau Rusia tidak berhati-hari dalam mengelola pengeluaran negaranya menjelang akhir secular commodity bear market, sekitar
2025 – 2030, Rusia akan mengalami krisis yang lebih besar lagi. Di saat itu,
sejarah akan kembali ke suasananya tahun 1990, yang berakhir dengan keruntuhan Uni Soviet.
Mari kita fokus di US saja dulu,
karena menurut radar EOWI, diperkirakan bahwa crash yang akan datang berasal dari US. Lebih spesifik lagi, sektor
minyak/gas shale. Memang pukulan telak pertama terhadap ekonomi global
datangnya dari Cina, meletusnya bubble
bursa saham Shanghai. Pada saat ekonomi global masih terhuyung-huyung terkena
ledakan bubble bursa Cina, sektor
minyak mengakhiri permainan dengan pukulan yang membuat OK.
Pada bulan Oktober 2015 nanti, kreditur akan
meneropong lebih teliti mengenai kelayakan agunan hutang-hutang di sektor frac. Dan dapat dipastikan bahwa
hutang-hutang tersebut menjadi makanan basi. Credit line untuk sektor itu kemungkinan putus. Dan resiko gagal
bayar menjadi tinggi. Dan konsekwensinya bond di sektor ini yang dikategorikan
sebagai junk bond akan jatuh. Junk bond yang bunganya sudah di atas 7%
ini, akan naik lagi. Tetapi tidak berarti bond pemerintah US akan jatuh juga
(bunganya akan naik). Kreditur juga akan berpikir-pikir lagi untuk mengucurkan
kredit ke sektor frac dan oil/gas shale. Kita akan melihat banyak
perusahaan di sektor ini akan bergelimpangan.
Sebagai contoh, tidak kah anda
tahu, dua perusahaan batubara US tersungkur bangkrut saat ini akibat jatuhnya
harga batubara? Mereka adalah Alpha Natural Resources dan Patriot Coal,
menyusul Walter Energy (July 15), JW Resources (Juni 30), and Xinergy (April
6). Dan akan menyusul Peabody dan Arch Coal. Silahkan google search. Nasib
sektor minyak bisa diramalkan mengikuti nasib batubara.
Gelombang PHK akan melanda
wilayah Texas, Montana dan North Dakota yang sebenarnya sudah dimulai sejak
tahun lalu. Tetapi nanti akan mengalami percepatan. Perlambatan ekonomi di
wilayah ini akan merambat ke sektor real estate. Kantor banyak ditutup dan
pekerja yang di PHK akan pindah ke tempat yang biaya hidup lebih murah.
Sampai disini, apakah anda
yakin the Fed akan menaikkan suku bunganya? Atau mau mencoba QE jilid 4?
Silahkan pilih.
Indonesia dan Negara Berkembang
Kartu domino yang berikutnya
akan jatuh adalah junk bond lainnya
di US, merambat ke junk bond
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia (ekonominya berbasis komoditi),
Nigeria, Iran, Angola, Congo, Azerbaijan, sampai ke Russia kalau Russia bisa
dikategorikan sebagai negara berkembang.
Sell-off (junk) bond pemerintah negara-negara ini diwujudkan dalam bentuk keluarnya dana asing, hot money dari negara-negara ini. Ingat,
di Indonesia di awal tahun 2015 ada sekitar $ 350 milyar hot money di bursa saham dan pasar bond, sedangkan cadangan devisa
sebesar $110 milyar. Pada pertandingan tinju dimana ada ketimpangan pemainnya
seperti ini, hot money petinju dengan
bobot 350 lb melawan BI yang bobotnya 100 lb, bisa dipastikan siapa yang menang
dan dengan kemenangan seperti apa. Ibaratnya seperti raksasanya Mike Tyson
melawan Samsul Harahap. Beda kelas dan beda arena. K.O. tentunya.
Jadi besar peluangnya, setelah
Oktober 2015, terjadi pelemahan rupiah, melorotnya IHSG dan SUN (surat utang
negara) akan mengalami percepatan.
Bisa saja krisis junk bond ini
merambat, meluas ke junk bond negara-negara berkembang yang berbasis
non-komoditi. Kalau hal ini terjadi, makin serulah huru-hara ini.
Beberapa negara seperti Saudi
Arabia, Qatar, Kuwait, kelihatannya bisa lebih tahan dari pada yang lain.
Mereka punya jaring pengaman yang lebih kuat dari yang lainnya. Cadangan devisa
mereka cukup besar. Jadi mereka punya waktu untuk bebenah sebelum cadangan
mereka habis.
Kita tunggu dan kita lihat.
Yang pasti bencana ini tidak ada kaitannya dengan nubuat blood moon.
Kali ini the Fed Tidak Bisa Membantu
Persoalan utama, saat ini the
Fed sudah kehabisan amunisi untuk melawan bubble
junk bond yang mengempis ini......mungkin. Suku bunga sudah nol...., mau
diturunkan seberapa lagi. Bahkan bisa dianggap negatif. Jika biaya administrasi
dimasukkan dalam pembelian bond, mungkin suku bunganya sudah negatif. Saya
tidak pernah menghitung atau punya selera untuk menghitungnya.
Mungkin the Fed bisa membeli
saham seperti bank sentral Jepang atau
pemerintah Cina untuk mendongkrak harga saham. Tetapi realitanya, sekali bubble meletus, hampir mustahil untuk
ditahan.
Ini beberapa tindakan yang
bisa dilakukan dan pernah dilakukan oleh pemerintah Cina atau/dan bank sentral
Jepang:
- Melarang short sell.
- Membeli (atau menyuruh institusi pemerintah/semi pemerintah untuk membeli saham.
- Mendevaluasi mata uang (US$ mau didevaluasi terhadap mata uang apa?).
- Mengendorkan pembatasan kredit.
- Menurunkan suku bunga (the Fed sudah tidak bisa lagi).
Lihatlah bursa Shanghai dan
Nikkei. Campur tangan pemerintah tidak bisa mencegah bubble bursa saham untuk tidak mengempis.
Apakah the Fed/pemerintah US
akan melakukan apa yang dilakukan Jepang dan Cina? QE jilid 4?
Entah lah....., tetapi
biasanya tindakan the Fed dan pemerintah datangnya terlambat.
Tindakan Pencegahan Pemerintah NKRI
Ini yang sudah dilakukan oleh
BI dan pemerintah:
- Menyuruh BUMN untuk melakukan buy-back saham-sahamnya.
- Memperketat pembelian US dollar oleh publik, dari bebas membeli, kemudian $100 ribu dan sekarang hanya $25 ribu per bulannya.
- Semua transaksi harus dalam rupiah
- Batas bawah auto-rejection perdagangan saham adalah 10% (25/8/2015) dari 20%-30% (tergantung harga sahamnya). Artinya saham boleh naik tetapi kalau turun harus dicegah.
- Larangan short selling saham.
Pembatasan-pembatasan ini
merugikan investor retail dan pemain-pemain non institusi. Penurunan harga
saham dan rupiah tidak akan bisa dibendung. Dan yang dirugikan adalah
pemain-pemain non-institusi. Subjek ini akan kita bahas lain kali.
Sekian dulu......, jaga
investasi dan kesehatan anda baik-baik.......
Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
