___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, September 6, 2015

Goncangan Oktober 2015: Imam Semar vs Theo Tumion



Bagian II: Sebagian Dampaknya
Pada bagaian sebelumnya kita membahas mengenai kemungkinan adanya goncangan ekonomi. Menurut Theo Tumion datangnya dari masuknya yuan kedalam SDR (Special Drawing Right, suatu mata uang devisa super dari IMF). Disaat itu, menurut Theo, US dollar akan terpuruk.
Tetapi menurut EOWI, hasil akhir yang terjadi bukan US dollar yang terpuruk, tetapi US dollar akan mengalami penguatan, menuju target EOWI, yaitu rp 17,000 per US dollar. Berbalikan dengan ramalan Theo. Penyebabnya adalah effek domino yang disebabkan jatuhnya harga minyak di level $30an per bbl.
Kejatuhan harga minyak menembus level $40/bbl beberapa minggu lalu, kedepannya mempunyai implikasi yang sangat penting. Secara teknikal minyak mentah akan rebound dulu mendekati $50/bbl. Kemudian ia akan kembali pada trend utamanya, yaitu turun. EOWI perkirakan antara akhir tahun 2015 ini dan 2016 semester I, kemungkinan harga minyak sudah kembali ke level $30an per bbl.
Dalam sejarah selama saya hidup, saya menyaksikan bahwa kejatuhan harga minyak akan menimbulkan resesi dunia. Saya tidak tahu apakah lemahnya ekonomi dunia menyebabkan jatuhnya harga minyak atau sebaliknya. Yang pasti antara ekonomi dan harga minyak berjalan secara paralel.
Kejatuhan harga minyak tahun 1980, 1982-1983, 1991, 2001, 2008 dibarengi dengan resesi di US dan perlambatan ekonomi dunia. Kejatuhan harga minyak antara tahun 1996 – 1998, memang tidak menyebabkan US resesi, tetapi saat itu berbarengan dengan krisis moneter Asia. Pertanyaan apakah kejatuhan harga minyak menyebabkan perlambatan ekonomi atau sebaliknya, mungkin kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dan saling menguatkan. Lemahnya ekonomi akan menyeret harga minyak turun, dan turunnya harga minyak akan melambatkan ekonomi.

Perlambatan Ekonomi Mengancam Wilayah Penghasil Minyak dan Komoditi
Konsekwensi logis dari merosotnya harga minyak adalah perlambatan ekonomi di wilayah yang ekonominya berbasis minyak. Dengan jatuhnya harga minyak, wilayah US Texas dan Montana, wilayah Canada Alberta dan Saskatchewan, UK, Aberdeen akan mengalami perlambatan ekonomi. Itu belum termasuk yang disebut negara, dimana banyak yang budget pemerintahnya sangat bergantung pada pendapatan minyak. Hal ini pernah disinggung pada bagian I. Venezuela sudah rontok sejak harga minyak di level $100/bbl. Demikian juga Libya, rontok sejak tahun 2008, pada gelombang pertama gempa yaitu bubble subprime. Saat ini Russia mengalami pendarahan pada cadangan devisanya. Dari tahun 2013, Russia telah kehilangan 30% dari cadangan devisanya. Dampaknya terasa juga di nilai tukar mata uang rubel. Walaupun Russia mau memberlakukan mata uang selain US dollar di perdagangan antar negara ex-Uni Soviet, tetapi menurut pandangan EOWI, tidak akan berpengaruh pada US dollar. Dollar yang beredar terlalu banyak untuk bisa terasa dampak tindakan Russia dan negara-negara ex-Uni Soviet. Seperti menggarami air laut. Malah, kalau Rusia tidak berhati-hari dalam mengelola pengeluaran negaranya menjelang akhir secular commodity bear market, sekitar 2025 – 2030, Rusia akan mengalami krisis yang lebih besar lagi. Di saat itu, sejarah akan kembali ke suasananya tahun 1990, yang berakhir dengan keruntuhan Uni Soviet.
Mari kita fokus di US saja dulu, karena menurut radar EOWI, diperkirakan bahwa crash yang akan datang berasal dari US. Lebih spesifik lagi, sektor minyak/gas shale. Memang pukulan telak pertama terhadap ekonomi global datangnya dari Cina, meletusnya bubble bursa saham Shanghai. Pada saat ekonomi global masih terhuyung-huyung terkena ledakan bubble bursa Cina, sektor minyak mengakhiri permainan dengan pukulan yang membuat OK.
 Pada bulan Oktober 2015 nanti, kreditur akan meneropong lebih teliti mengenai kelayakan agunan hutang-hutang di sektor frac. Dan dapat dipastikan bahwa hutang-hutang tersebut menjadi makanan basi. Credit line untuk sektor itu kemungkinan putus. Dan resiko gagal bayar menjadi tinggi. Dan konsekwensinya bond di sektor ini yang dikategorikan sebagai junk bond akan jatuh. Junk bond yang bunganya sudah di atas 7% ini, akan naik lagi. Tetapi tidak berarti bond pemerintah US akan jatuh juga (bunganya akan naik). Kreditur juga akan berpikir-pikir lagi untuk mengucurkan kredit ke sektor frac dan oil/gas shale. Kita akan melihat banyak perusahaan di sektor ini akan bergelimpangan.
Sebagai contoh, tidak kah anda tahu, dua perusahaan batubara US tersungkur bangkrut saat ini akibat jatuhnya harga batubara? Mereka adalah Alpha Natural Resources dan Patriot Coal, menyusul Walter Energy (July 15), JW Resources (Juni 30), and Xinergy (April 6). Dan akan menyusul Peabody dan Arch Coal. Silahkan google search. Nasib sektor minyak bisa diramalkan mengikuti nasib batubara.
Gelombang PHK akan melanda wilayah Texas, Montana dan North Dakota yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu. Tetapi nanti akan mengalami percepatan. Perlambatan ekonomi di wilayah ini akan merambat ke sektor real estate. Kantor banyak ditutup dan pekerja yang di PHK akan pindah ke tempat yang biaya hidup lebih murah.
Sampai disini, apakah anda yakin the Fed akan menaikkan suku bunganya? Atau mau mencoba QE jilid 4? Silahkan pilih.

Indonesia dan Negara Berkembang
Kartu domino yang berikutnya akan jatuh adalah junk bond lainnya di US, merambat ke junk bond negara-negara berkembang, termasuk Indonesia (ekonominya berbasis komoditi), Nigeria, Iran, Angola, Congo, Azerbaijan, sampai ke Russia kalau Russia bisa dikategorikan sebagai negara berkembang.
Sell-off (junk) bond pemerintah negara-negara ini diwujudkan dalam bentuk keluarnya dana asing, hot money dari negara-negara ini. Ingat, di Indonesia di awal tahun 2015 ada sekitar $ 350 milyar hot money di bursa saham dan pasar bond, sedangkan cadangan devisa sebesar $110 milyar. Pada pertandingan tinju dimana ada ketimpangan pemainnya seperti ini, hot money petinju dengan bobot 350 lb melawan BI yang bobotnya 100 lb, bisa dipastikan siapa yang menang dan dengan kemenangan seperti apa. Ibaratnya seperti raksasanya Mike Tyson melawan Samsul Harahap. Beda kelas dan beda arena. K.O. tentunya.
Jadi besar peluangnya, setelah Oktober 2015, terjadi pelemahan rupiah, melorotnya IHSG dan SUN (surat utang negara) akan mengalami percepatan.
Bisa saja krisis junk bond ini merambat, meluas ke junk bond negara-negara berkembang yang berbasis non-komoditi. Kalau hal ini terjadi, makin serulah huru-hara ini.
Beberapa negara seperti Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, kelihatannya bisa lebih tahan dari pada yang lain. Mereka punya jaring pengaman yang lebih kuat dari yang lainnya. Cadangan devisa mereka cukup besar. Jadi mereka punya waktu untuk bebenah sebelum cadangan mereka habis.
Kita tunggu dan kita lihat. Yang pasti bencana ini tidak ada kaitannya dengan nubuat blood moon.

Kali ini the Fed Tidak Bisa Membantu
Persoalan utama, saat ini the Fed sudah kehabisan amunisi untuk melawan bubble junk bond yang mengempis ini......mungkin. Suku bunga sudah nol...., mau diturunkan seberapa lagi. Bahkan bisa dianggap negatif. Jika biaya administrasi dimasukkan dalam pembelian bond, mungkin suku bunganya sudah negatif. Saya tidak pernah menghitung atau punya selera untuk menghitungnya.
Mungkin the Fed bisa membeli saham seperti bank sentral  Jepang atau pemerintah Cina untuk mendongkrak harga saham. Tetapi realitanya, sekali bubble meletus, hampir mustahil untuk ditahan.
Ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan dan pernah dilakukan oleh pemerintah Cina atau/dan bank sentral Jepang:
  1. Melarang short sell.
  2. Membeli (atau menyuruh institusi pemerintah/semi pemerintah untuk membeli saham.
  3. Mendevaluasi mata uang (US$ mau didevaluasi terhadap mata uang apa?).
  4. Mengendorkan pembatasan kredit.
  5. Menurunkan suku bunga (the Fed sudah tidak bisa lagi).
Lihatlah bursa Shanghai dan Nikkei. Campur tangan pemerintah tidak bisa mencegah bubble bursa saham untuk tidak mengempis.

Apakah the Fed/pemerintah US akan melakukan apa yang dilakukan Jepang dan Cina? QE jilid 4?
Entah lah....., tetapi biasanya tindakan the Fed dan pemerintah datangnya terlambat.

Tindakan Pencegahan Pemerintah NKRI
Ini yang sudah dilakukan oleh BI dan pemerintah:
  1. Menyuruh BUMN untuk melakukan buy-back saham-sahamnya.
  2. Memperketat pembelian US dollar oleh publik, dari bebas membeli, kemudian $100 ribu dan sekarang hanya $25 ribu per bulannya.
  3. Semua transaksi harus dalam rupiah
  4. Batas bawah auto-rejection perdagangan saham adalah 10% (25/8/2015) dari 20%-30% (tergantung harga sahamnya). Artinya saham boleh naik tetapi kalau turun harus dicegah.
  5. Larangan short selling saham.
Pembatasan-pembatasan ini merugikan investor retail dan pemain-pemain non institusi. Penurunan harga saham dan rupiah tidak akan bisa dibendung. Dan yang dirugikan adalah pemain-pemain non-institusi. Subjek ini akan kita bahas lain kali.
Sekian dulu......, jaga investasi dan kesehatan anda baik-baik.......
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, September 2, 2015

Goncangan Oktober 2015: Imam Semar vs Theo Tumion



Bagian I: Pemicunya

EOWI mengalami kesulitan untuk memilih judul, tentu saja juga kata pembukaan untuk artikel kali ini. Pilihan pertama adalah: “Nubuat Crash pasar modal Oktober 2015”. Karena judulnya menggunakan kata nubuat maka alinea pembukaannya adalah sebagai berikut:
Telah datang kepada Imam Semar suatu ilham yang gambarannya cukup jelas dan meyakinkan akan adanya crash di pasar modal........(dan seterusnya).
Setelah saya pikir-pikir, kedengarannya sangat spiritual sekali, saya takut kalau ditanggapi juga secara religius dan serius. Padahal tulisan di EOWI tidak punya kandungan miracles atau supernatural. Mungkin tulisan EOWI berdasarkan ilham. Tetapi kami di EOWI bukanlah secara spritual orang-orang yang terpilih. Kami sama seperti pembaca kami.
Perlu diketahui bagi yang kurang memahami agama Kristen dan/atau Islam, kata nubuat adalah kata Arab. Kalangan penganut agama Kristen di Indonesia menggunakan kata ini sebagai padanan kata prophesy dalam bahasa Inggris. Kata nubuat punya akar kata yang sama dengan nabi, nabaa, yang artinya berkaitan dengan kabar/berita (dari Tuhan) yang berbeda dari persepsi masyarakat dan kadang kala merupakan peringatan bagi umat. Religius banget deh pokoknya.
Judul alternatifnya adalah “Goncangan Oktober: Imam Semar vs Theo Tumion.  Judul ini diilhami oleh seorang pembaca mengarahkan EOWI ke link mengenai wawancara Theo Tumion dan ramalan-ramalannya akan adanya suatu goncangan di pasar uang.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua. Walaupun cerita yang akan dibeberkan sama, yaitu peringatan akan adanya gejolak pasar pada bulan Oktober 2015 ini (2 bulan dari sekarang), tetapi cara membawakannya akan sedikit berbeda.
Kembali ke Theo Tumion. Beginilah ringkasan dari  ramalannya:
  1. IMF akan memasukkan yuan kedalam SDR (Special Drawing Right), sejenis super currency ciptaan IMF, dan membuat posisi yuan sejajar dengan US dollar, euro, yen, dan pounds sterling.  
  2. Sebagai implikasinya harga dollar akan turun dan harga yuan akan naik.     
  3. Investor dan pelaku pasar akan membuang US dollar dari portofolionya.
  4. Dan ini akan terjadi pada bulan Oktober 2015. IMF akan mengumumkannya.

Opini EOWI tentang masuknya yuan ke dalam SDR sudah dibahas di Kudeta Palsu: SDR, Yuan dan US Dollar
Inti opini EOWI bahwa masuknya yuan ke dalam SDR, tidak ada pengaruhnya terhadap US dollar.
Sebenarnya EOWI ingin mengajak tarohan dengan Theo Tumion. Tetapi sayangnya, Theo sudah kalah....., IMF tidak jadi memasukkan yuan ke dalam SDR tahun 2015 ini.
Di samping Theo Tumion, kalau anda mendengarkan PASFM, para analis PASFM ketika ditanya kenapa US dollar naik. Jawab mereka bahwa the Fed akan menaikkan suku bunganya (setelah pertemuan rutinnya pada tanggal 16 - 17 September 2015). Dollar akan naik dan ekonomi akan nyungsep, termasuk bursa saham.
EOWI punya versi sendiri bahwa dimulai dari bulan Oktober 2015, gempa baru akan melanda pasar uang dunia. Tetapi sumber dan akibatnya tidak sama dengan yang diramalkan Theo Tumion. Kalau Theo meramalkan bahwa US dollar akan jeblok, EOWI meramalkan US dollar akan terbang ke langit....., maksud saya, terbang menuju target-target EOWI (yang bisa dibaca di laman Gejolak 2014 – 2020).
Saat ini EOWI dan para kaki tangannya sudah mengkonversikan assetnya ke US dollar. Saham sudah dijual, dan mulai pasang short selling di pasar-pasar yang bisa short selling. Para pengikut EOWI banyak yang kreatif, US dollar saja yang sudah dibatasi, masih ada yang tahu mengenai celah-celah short selling rupiah dengan leverage. Pemerintah mau berbuat apa saja, celah-celah itu masih tetap ada. Dan jika celah-celah itu ditutup, kehancuran ekonomi Indonesia akan dipercepat. BI......, silahkan pilih. Dan buat kami di EOWI, krisis atau booming, tidak ada bedanya. Keduanya kami bisa dapat untung. Go ahead. Make my day.
Kenapa US dollar akan menguat kembali, bursa saham jatuh lebih dalam lagi, the Fed akan menaikkan suku bunga seperti kata analis PASFM? EOWI selalu berpendapat the Fed tidak bisa menaikkan suku bunganya untuk tahun 2015, 2016, 2017, ........., peluang menaikkan suku bunga itu masih lama. Krisis akan datang lagi sebelum the Fed menaikkan suku bunganya.
Kali ini krisis datangnya dari sektor 3F – Fµcking Freaking Frac. Ingat-ingat akronim 3F dari sektor minyak ini.
Pada mulanya ada krisis moneter. The Fed memberikan obatnya yang salah kaprah, yaitu likwiditas. Kemudian terciptalah bubble-tech dan meletus tahun 2000. The Fed meresepkan obat lamanya, suku bunga rendah. Gejala krisis hilang, tetapi muncul bubble-bubble baru. Yaitu bubble hutang. Orang meminjam uang untuk konsumsi dan spekulasi. Manifestasi dari bubble hutang adalah bubble properti di dunia dan malinvestasi terutama di Cina sebagai mesin produksi dunia.
Bubble properti di US meledak dikenal dengan krisis subprime tahun 2007. Kemudian merambat ke semua bubble properti di dunia. Pasar modal juga kena dampaknya. Dan....the Fed meresepkan obat yang sama, tetapi dosisnya lebih besar. Dari dosis likwiditas ditingkatkan dari suku bunga rendah (LIRP = Low Interest Rate Policy) ke level suku bunga nol (ZIRP = Zero Interest Rate Policy). Kemudian ditingkatkan lagi menjadi NIRP, Negative Interest Rate Policy.
Semua policy atau obat yang diresepkan the Fed mempunyai effek samping yaitu bubble. Bubble di sektor bahan komoditi, di sektor properti, di bursa saham, junk bond dan lain sebagainya.
Perjalanan semua bubble berakhir di tempat yang sama, yaitu meledak. Bubble saham Cina sudah meledak. Dan saat ini yang siap meledak adalah dari sektor minyak dan junk bond di US. Bagaimana dengan ukurannya?

Negara Penghasil Minyak Tidak Bisa Mengurangi Produksinya

Harga minyak akan turun terus. Itu hipotesa EOWI. Secara teknikal pernah disinggung di Peringatan: Brace, brace forCrash!!!
Kenapa harga minyak akan turun terus. Karena harga minyak dan komoditi, termasuk emas, sudah menjadi bubble dan meletus tahun 2011 lalu. Penyebab lainnya yang sifatnya mekanistik adalah karena banyak negara yang budget pengeluaran pemerintahnya bergantung sekali pada pemasukan dari minyak. Ini pernah dibahas sebelumnya. Tetapi, kita ulangi saja, tetapi jangan bosan. Banyak pembaca baru yang tidak membaca artikel-artikel terdahulu.
Negara-negara seperti Saudi Arabia dan rekan-rekannya di Timur Tengah, Algeria, Libya, Russia, Kazakhtan, Venezuela....dan lain-lain, pemasukan dari sektor minyak sangat vital bagi budget negaranya. Banyak negara-negara ini akan mengalami defisit bila harga minyak rendah. Tidak perlu turun sampai $40/bbl, tetapi $60/bbl sudah banyak yang kelabakan. Belum lama ini Kazakhtan menlakukan devaluasi mata uangnya baru-baru ini dari KZT 188 per US$ menjadi KZT 250 per US$, kejatuhan sebesar 33%. Venezuela saat ini juga mengalami krisis. Banyak negara-negara produsen minyak yang kelabakan.
Berikut ini adalah negara-negara yang pemerintahannya sangat bergantung pada pemasukan dari minyak serta harga minyak yang diperlukan agar budget pemerintahnya tidak defisit.

Budget Negara dan Harga Minyak
Negara
Harga untuk Budget 2015 Break-even
Produksi, juta bbl/hari
Revenue Ekspor Minyak, $ juta
GDP, $ juta
Ekspor Minyak, % GDP
Current Acount Balance, $ juta
Kuwait
$54.00
2.9
108,482
184,031
59%
71,902
Angola
$98.00
1.7
67,829
120,509
56%
8,036
Libya
$184.10
0.9
40,163
73,755
54%
6,367
Saudi Arabia
$106.00
9.6
321,723
745,273
43%
129,813
Iraq
$100.60
0.9
89,402
229,327
39%
22,208
Azerbaijan
$100.00
1.0
26,315
73,560
36%
3,049
UAE
$77.30
2.8
126,307
396,235
32%
59,076
Qatar
$60.00
0.7
62,519
202,172
31%
62,501
Kazakhtan
$90.00
1.6
54,600
224,000
24%
391 
Congo
$95.00
0.3
7,155
30,630
23%
-2,451
Venezuela
$117.50
2.8
85,861
373,978
23%
7,484
Norway
$40.00
1.9
104,520
513,000
20%
67,400
Algeria
$130.50
1.2
44,458
223,857
20%
920
Nigeria
$122.70
1.8
89,314
515,787
17%
20,711
Iran
$130.70
2.7
61,923
366,259
17%
29,727
Russia
$117.80
10.3
322,000
2,097,000
15%
11,400
Ecuador
$79.70
0.5
14,103
93,577
15%
-1,021
Mexico

2.9
45,370
1,261,000
4%
-2,702

Dari tabel ini bisa dilihat bagaimana ketergantungan Kazakhtan, Venezuela, Russia, Libya, Iran, bahkan Saudi Arabia.....terhadap harga minyak. Dua produsen minyak terbesar dunia, Saudi Arabia dan Russia perlu harga minyak di atas $105/bbl supaya budget negaranya berimbang, tidak defisit.
Kalau anda jadi pemimpin di kedua negara tersebut diminta untuk menurunkan produksi minyaknya, apakah anda mau? Anda pasti akan menjawab: “Nanti seribu tahun lagi!!. Budget negara gue mau dikemanain??
Negara-negara yang bergantung pada minyak dan sifat sosialnya tinggi, tidak punya pilihan lain, kecuali menggenjot produksi minyaknya. Pengurangan pada program sosial, bisa berdampak kepada kestabilan negara. Contohnya Venezuela, Libya (tahun 2008),........pembaca akan melihat ketidak-stabilan ini. Mungkin tidak sekarang dan dalam waktu dekat ini, karena pemerintahannya masih punya tabungan dari masa jayanya minyak mulai tahun 2000. Tetapi dengan perjalanan waktu, dimasa datang, apa lagi menjelang akhir dari secular bear market di sektor minyak, tabungan menipis dan sudah digantikan dengan hutang yang membebani……., anda bisa menerka kemana arah nasib mereka.
Jadi harga minyak akan cenderung turun, karena permintaan dari pembeli utama minyak yaitu Cina, mengurangi konsumsinya karena perlambatan ekonomi.

3F Akan Kolaps

Harga minyak sempat menembus level $40/bbl. Tetapi kemudian rebound. Taksiran EOWI akan mendekati $50/bbl. Bahkan sekarang sudah. Ketika di bawah level $40/bbl, banyak penjual yang menyimpan minyaknya di super-super tanker yang harga sewanya murah saat ini. Ini mengakibatkan contango (harga future lebih tinggi dari pada harga spot).
Tetapi suatu saat, ketika cadangan-cadangan itu dilepas, bersamaan dengan produksi yang ada, akan mengakibatkan banjir supply dan berakhir dengan kejatuhan harga yang lebih curam. Jadi hati-hati, kejatuhan harga minyak yang terjadi ketika stock-stock di tanker ini dilepas, akan sangat cepat dan curam.
Di antara sektor minyak, yang paling rentan adalah sektor-sektor yang non-konvesional. EOWI akan mengangkat sektor shale-oil dan shale-gas. Sektor ini memperoleh banyak perhatian karena semacam permainan baru. Banyaknya dana yang mengucur, membuat sektor mampu melambungkan produksi US hampir 10 juta bbl per hari. Sektor inilah yang membuat US berubah status dari importir ke eksportir.
Shale oil/gas adalah area baru bagi pengembangan produksi minyak/gas. Shale adalah batuan yang permeability (kemampuan mengalirkan fluida)  nya kecil. Dengan teknologi fracturing (disingkat frac) bisa menaikkan produksinya sampai 3 kali lipat. Untuk menguras hidrokarbon (minyak/gas) dari shale diperlukan banyak sumur yang di-frac. Di samping diperlukan banyak sumur, umur sumur nya pun pendek, hanya 2-5 tahun saja, sehingga diperlukan pengeboran sumur-sumur baru untuk menggantikan yang mati. Artinya pengembangan/produksi shale oil/gas relatif mahal.
Kebanyakan shale oil/gas bisa hidup jika harga minyak di level $60/bbl. Ongkos produksi (dari eksplorasi ke produksi) di atas $60/bbl. Dalam 10 tahun terakhir ini (terutama 8 tahun terakhir) sektor ini di anggap sangat sexy, banyak investor mengucurkan kredit untuk pengeboran-pengeboran minyak/gas shale ini.
Shale oil/gas sebenarnya hanya mewakili sektor minyak/gas bumi dengan biaya tinggi, minyak/gas mahal yang memperoleh kucuran kredit dimasa boom yang besarnya mencapai antara US$ 600 milyar sampai US$ 1 trilliun. Dana ini ada yang diperoleh dengan menerbitkan bond dengan bunga tinggi (junk bond), ada juga dari bank.
Kreditur/bank di US biasanya mengevaluasi ulang agunan kredit dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober. Sampai tahun 2015 ini masih banyak perusahaan shale oil/gas yang masih hidup. Sebabnya mereka biasanya menjual minyaknya secara future. Untuk produksi 2015, telah dijual di tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2014 misalnya, harga minyak masih bertengger di level $100 per bbl. Untuk petengahan tahun pertama, ketika harga minyak mulai jatuh, mungkin masih banyak yang berharap bahwa minyak akan rebound. Tetapi, memasuki semester ke II 2015, harapan itu pupus.
Bulan Oktober 2015 nanti, kreditur akan menemukan bahwa nilai jaminan kredit sektor shale oil/gas tidak layak lagi. Disaat itulah persoalan akan timbul. Hal ini akan merambat ke junk bond yang isinya bukan saja dari sektor 3F (fμcking freaking frac, sektor shale oil/gas), tetapi sektor-sektor lain. Suku bunga high yield bond akan naik.
Jadi kalau pembeca berani ngeshort silahkan cari ETF high yield bond. Mungkin peruntungan anda ada disitu.
Apakah rupiah akan makin terpuruk? Apakah IHSG akan terpuruk dan rally kemarin-kemarin itu hanyalah bear trap? Mungkin saja.
Masih banyak dampak-dampak yang lain, dan akan dibahas di tulisan berikutnya. Sekarang……., kita sudahi dulu. Jaga investasi, tabungan serta kesehatan anda baik-baik.
 


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.