Terus tanggal 28 Oktober, kena macet 8 jam dalam perjalanan dari jln Sudirman ke Sunter. Dan hari sabtu/minggu 30-31 Oktober ini, ada pekerjaan di kantor. Mungkin minggu depan harus ke Papua. Mungkin ketika disana saya bisa punya waktu untuk menulis.
Selama saya absen, ada banyak berita. Ada berita bagus dan ada berita kurang bagus. Berita bagusnya, perusahaan tempat saya bekerja memperoleh dana segar dari penjualan sebuah asset yang bisa digunakan untuk membiayai beberapa projects yang sedang berjalan. Berita kurang bagusnya, pengambilan alihan oleh sebuah perusahaan besar Cina, batal karena dana perusahaan Cina tersebut agak terbatas setelah membeli asset-asset Repsol Brazil $7.1 milyar. Kelihatannya Brazil lebih menjanjikan daripada Indonesia. Berita ini kurang bagus karena bonus 3 bulan gaji kemungkinan batal karena batalnya take-over perusahaan tempat saya bekerja.
Persoalan kredit tetap menghantui semua perusahaan yang hidupnya tergantung pada kredit. Ketika kredit line putus, maka hidupnya bak ikan di darat. Menggelepar-gelepar. Seperti saham-saham keluarga Panigoro, sekarang sudah dijual ke Pertamina. Panigoro tidak punya uang. Panigoro berbeda dengan Bakrie. Kalau Bakrie sangat licin dalam hal “financial engineering”nya. Mereka punya orang-orang yang pandai dalam bersilat finansial.
Kesempatan kerja sekarang juga semakin mengering. Beberapa kali saya memperoleh tawaran kontrak hanya 6 bulan dengan gaji yang lebih rendah. Hal yang sama dialami oleh teman-teman yang lain.
Setelah sebulan lebih tidak melihat email ternyata ada sekitar 3000 lebih email baru. Untuk mudahnya memang menghapus semua bisa mejadi jalan keluar yang cepat. Tetapi terpikir juga mungkin ada email yang penting. Jalan keluarnya adalah melihat dengan cepat, pengirimnya, dari nama dan subjeknya bisa dikira-kira apa isinya penting atau tidak. Yang kira-kira tidak penting langsung dihapus. Dengan jalan begini, urusan bisa selesai cepat.
Beberapa email sempat saya baca. Beberapa diantaranya mengenai almarhum ibu Tuty Dewi Hadinoto. Saya ambilkan satu saja, beberapa kata saya ubah untuk menjaga privasi.
Pak IS,
Saya terharu sekali baca blog-nya Pak Imam yang sudah menulis tentang mbak Tuti dengan begitu mendalam karena saya juga mengalami hal yang sama malah sudah lima tahun lamanya saya jadi pelanggan apartemen mewah mbak Tuti & Pak Hadinoto di Upper Bukit Timah sejak saya terkena penyakit XXXX, ............
Apakah besok Pak Imam punya rencana untuk ikut tahlilan? Semoga kita bisa bertemu di rumahnya untuk bersama-sama mendoakan mbak Tuti Dewi yang kita hormati.
Terima kasih.
D
Mas D, saya minta maaf karena, email ini baru saya buka/baca minggu ini. Sudah hampir 1 bulan lebih saya tidak buka email yahoo saya. Saya datang pada tahlilan 7 hari. Mungkin kita sudah ketemu, hanya tidak tahu/tidak saling mengenal. Yah, kita doakan saja semoga Allah membalas semua kebaikan ibu Tuty Dewi (dan pak Hadinoto). Saya tahu banyak orang yang sering dibantu mereka. Dan untuk pak D, semoga anda sembuh. Ada beberapa kenalan yang terkena penyakit yang sama, dan bisa sembuh. Mereka yang sembuh biasanya punya kemauan hidup yang kuat.
Beberapa waktu ini banyak komentar-komentar yang tidak relevan dan kurang sopan pada posting EOWI. Selama ini memang saya biarkan. Mungkin si penulis ingin belajar menulis gaya sadonik. Tetapi, yang membuat kecewa adalah bahwa dia tidak tahu tempat dan menjadi agak norak. Karena sampai-sampai menodai posting duka Alex Supeli. Harus diketahui bahwa Alex bukan politikus yang makan uang rakyat. Dia adalah dari kelas pekerja yang dulunya menjalani hidup secara baik-baik. Bagi teman-temannya dia adalah orang dicintai. Tidak layak posting mengenai dirinya yang sudah almarhum itu dinodai dengan posting-posting yang tidak sopan. Oleh sebab itu sebagian saya delete.
Banyak pembaca EOWI merasa risi dengan adanya komentar-komentar yang tidak senonoh pada posting EOWI. Salah satu diantaranya, mas MD memberi nama komentator anonymous ini sebagai SOBDAJ singkatan Son Of a Bitch Dumb Ass Jerk. Bagus juga julukan itu (tercermin dari prilakunya menodai posting mengenai Alex Sipeli). Pembaca-pembaca ini juga meminta saya untuk membersihkan komentar-komentar mas SOBDAJ.
Saya akan mengambil jalan tengah saja. Karena saya tetap berasumsi bahwa orang ini ingin belajar menulis dengan gaya sadonik saja. Memang tidak mudah untuk bisa membuat tulisan sadonik yang menghibur. Jadi perlu pengalaman.
Hari jumat 22 Oktober 2010, terjadi flash crash di US dollar (chart-1). Walaupun kemudian rebound ke 77.25, tetapi dollar indeks sempat jatuh ke 74.55. Setelah itu indeks dollar stabil di kisaran 77, sampai sekarang (Chart-2). Pada saat ini hanya 3% saja dari investor yang bullish terhadap US dollar. Dengan jumlah bear yang sangat banyak dan tidak mampu lagi membuat US dollar turun, artinya kekuatannya bear US dollar yang banyak itu sudah lemah. Saya masih menunggu rebound yang cukup berarti. Mungkin harus menunggu selama beberapa minggu. Mungkin juga bisa lebih awal. Bull sendiri mungkin masih malu untuk keluar. Bahkan bukan tidak mungkin dollar indeks akan menyentuh level 76.14 lagi.

Chart 2
Berkaitan dengan pelemahan US dollar selama ini (sejak bulan Juni 2010 lalu), ada berita dari bloomberg yang menarik.
Pertemuan G-20 tanggal 27 Oktober 2010 (link) tentang masalah keuangan khususnya masalah kurs nampaknya tidak menghasilkan apa-apa. “No teeth”, tidak ada giginya. Banyak yang dibicarakan tetapi tidak ada rencana yang nyata. Masing-masing anggota emerging market ingin mata uangnya menguat secara perlahan. Semua katanya berusaha mempertahankan ekonominya sejalan dengan penurunan nilai dollar. Semua berjanji akan menahan diri dari godaan competitive devaluation mata uangnya. Tetapi semua tidak menyadari bahwa yang masuk adalah uang panas yang sewaktu-waktu bisa keluar.
Pertumbuhan uang (+uang kwasi) mencapai 15% per tahunnya. Sama seperti Indonesia. Di Cina, dimana kredit masih mengucur dan masih membuat bubble di sektor perumahan masih terus terpompa. Dana panas masuk ke Indonesia membuat Bank Indonesia terpaksa membersihkannya, intervensi, katanya. Dan menurut berita biayanya mencapai Rp 26 trilliun untuk menjaga agar rupiah tidak menguat secara cepat. Padahal dana yang masuk jumlahnya hanya berkisar sekitar $ 5 milyar saja. (link).Asian currencies fell to a one-week low after Bank of Korea Governor Kim Choong Soo said today that measures to mitigate capital flows could be “useful.” Hours later, the rand dropped as South African Finance Minister Pravin Gordhan said his government will use part of higher-than-expected tax revenue to build foreign reserves as it attempts to weaken the currency.
The shifts suggest G-20 members will keep trying to defend their economies from the slide of the dollar and capital inflows even after the group promised Oct. 23 to refrain from “competitive devaluation” and to increasingly embrace market determined currencies.
“The G-20 made a vague pledge not to manipulate currencies much, but there was no mechanism to ensure that each country will not keep taking unilateral measures,” said Win Thin, global head of emerging markets strategy at Brown Brothers Harriman & Co. in New York. “It’s every man for himself.”
No ‘Teeth’
“Although what came out of the G-20 meeting was better than expected, it didn’t really have any teeth in it,” said Kieran Curtis, a fund manager who helps oversee about $2 billion in emerging market debt at Aviva Investors in London. “There was still no framework laid out to deal with countries following an ultra-competitive exchange-rate policy.”
Omong-omong perkara competitive devaluation,.... devaluasi secara umum, maksudnya menurunkan nilai mata uang, ada cerita sejarah dari Inggris yang menarik. Raja Inggris Henry I tahun 1124 menangkapi 94 banker-banker yang ada di Inggris. Mereka dipotong tangannya atau dikebiri untuk kesalahan mereka, yaitu menurunkan kadar perak yang ada di koin-koin yang disirkulasikannya. Dengan kata lain, kesalahan mereka adalah melakukan devaluasi poundsterling. Asyik juga kalau hukuman ini diterapkan dimasa sekarang. Banyak ketua-ketua bank sentral yang dikebiri sebagai hukuman bagi perbuatannya melakukan competitive devaluation.
Di Asia dan emerging market, para ketua bank-bank sentral disibukkan dengan competitive defaluation, sedangkan di benua lain, yaitu Amerika Serikat, pertumbuhan uang dan kredit selama ini masih negatif. Investor menunggu QE II (Quantitative Easing II), yang katanya akan membuat US dollar semakin merosot harganya. Kata orang bijak, para cowboy bisa membawa kuda ke sungai, tetapi cowboy-cowboy itu tidak bisa membuat kuda-kudanya minum. Kalau kuda-kuda itu enggan minum, maka percuma saja dibawa ke sungai. The Fed bisa membuat suku bunga rendah, serendah mungkin, tetapi the Fed tidak bisa memaksa orang untuk mengambil kredit untuk konsumsi atau untuk ekspansi perusahaan. The Fed tidak bisa memaksa orang untuk terus berbelanja dan berhenti menabung. Menurut jajak pendapat Gallup, menunjukkan bahwa rencana belanja kado hari Natal rakyat Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan 2 tahun lalu. Angka 20% ini cukup besar. Dan ini cermin dari belanja secara keseluruhan.

Chart 3
Jangan heran kalau kebutuhan minyak-olahan juga turun. Tingkat kebutuhan minyak (olahan) di Amerika Serikat turun mencapai titik yang sama dengan konsumsi tahun 1997 - 1999. Ini kemunduran selama 11 - 13 tahun (Chart-4). Kalau harga minyak saat ini masih bertengger di tingkat $80 per barrel adalah akibat ulah spekulator. Saya tidak heran kalau perusahaan tempat saya bekerja mengalami kesulitan untuk menjual assetnya dan mencari kerja di sektor ini tidak mudah 3-4 tahun lalu.
Ada cerita lain yang menarik yaitu Bank Sentral Berhenti Menjual Emas (link). Herannya, harga emas malah turun dari puncaknya di $1385 per oz. Kita mengharap bahwa harga emas akan naik, karena sumber-sumber yang menekan harga emas sudah berhenti melakukan tekanan. Untuk saya yang sering berpandangan negatif terhadap institusi pemerintah, menganggap berita ini sebagai indikasi kontrarian. Maksudnya, emas bukan akan naik, tetapi akan turun. Saya ingat suatu kejadian pada musim panas tahun 1999. Saya sedang di-relokasi dari Inggris ke Indonesia. Di dalam pesawat terbang, saya membaca koran Wall Street Journal yang dibagikan di pesawat. Isinya tentang pengumuman penjualan emas besar-besaran oleh Bank of England yang membuat harga emas anjlok ke level $250 per oz. Apakah selanjutnya harga emas turun? Malah sebaliknya. Tahun 1999 – 2000 adalah awal dari secular bull market untuk emas. Dalam kurun waktu 10 lebih sedikit, harga emas naik 5.5 kali lipat. Apakah berita tentang berhentinya bank-bank sentral menjual emasnya mengindikasikan harga emas akan turun? Entah lah......., saya hanya suka menduduki posisi kontrarian.
Pasar saham memble, tidak kemana-mana. Mungkin tidak semuanya benar, Nikkei sudah di level 9100an lagi dan indeks perbankan Amerika juga sudah turun banyak sejak 2 bulan terakhir ini. Hanya Indeks Dow dan S&P masih bertahan. Pemilihan umum di Amerika nampaknya tidak diacuhkan. Mungkin the Fed lebih menarik daripada pemilihan umum. Pasar masih menunggu pengumuman the Fed hari Rabu ini. Bisa saja saham akan rally 2% dan US dollar jatuh 1% dalam minggu ini. Setelah itu....... mungkin tidak kemana-mana atau US dollar akan rally dan saham akan jatuh.
Saya ada rencana untuk merubah format tulisan. Biasanya saya berusaha secara teratur mengisi blog ini setiap minggu. Tulisannya biasanya saya siapkan dalam minggu itu. Tetapi sekarang ini musim hujan dan Jakarta sering terjebak macet. Ini membuat saya sering capek ketika sampai di rumah. Oleh sebab itu, tulisan yang pendek tetapi lebih rutin akan bisa mempertahankan blog ini tetap ramai. Moga-moga hal ini mudah untuk dilaksanakan.
Sekian dulu......, jaga kesehatan fisik dan mental anda selama musim hujan ini. Macet bisa membuat tekanan darah anda naik, dan kesehatan anda menurun, kemudian menjadi flu atau yang lebih berat lagi, darah tinggi. Jangan lupa untuk membantu para penderita korban Merapi, tsunami di Sumatera Barat/Mentawai, dan juga orang-orang yang kurang beruntung di sekitar anda.







