Kalau anda merasa kurang nyaman dengan ilmu sejarah, agama, ekonomi, sosial dan politik yang diajarkan di sekolah, dan ingin mencari jawaban yang objektif, maka disinilah tempatnya.
Blog ini membahas masalah makro ekonomi, politik dan investasi dari sisi pandangan orang waras dan yang berjiwa merdeka.
Fokus Utama: Saham, Emas, Mata Uang, Bond, Perundang-Undangan, Ke(tidak)bijaksanaan Pemerintah, Politik, Ekonomi Makro
Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.
Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".
Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21
Kecuali Nixon dan Obama, kelima presiden USA ini relatif dipuja oleh rakyatnya. Kelima presiden ini punya persamaan, yaitu berbohong secara terang-terangan terhadap rakyatnya. Mereka mewakili banyak contoh presiden-presiden di dunia ini yang berbohong secara terang-terangan. Pemilihan lima presiden ini sebagai subjek diskusi buku ini karena mereka populer. Seperti FDR (F.D. Roosevelt) yang terpilih 4 kali menjadi presiden Amerika Serikat (1933 – 1945), dan selebihnya dipilih sebagai subjek diskusi karena masa pemerintahan mereka masih ada dalam ingatan kita.
Franklin D. Roosevelt adalah presiden Amerika Serikat yang membuka pintu bagi perubahan sistem keuangan pseudo emas ke arah uang fiat. Dengan Executive Order 6102 yang ditanda-tangani pada tanggal 5 April 1933, rakyat Amerika tidak boleh lagi memiliki emas. Semua emas harus diserahkan kepada pemerintah dalam waktu satu (1) bulan dan dihargai $ 20,67 per troy-ounce (oz). Artinya dollar Amerika Serikat didevaluasi 6.6%. Setelah tanggal itu, siapa saja yang melanggar ketentuan ini bisa dikenakan hukuman penjara sampai 10 tahun dan/atau denda $10.000.
Harga $ 20,67 per oz ini lebih tinggi dari ketetapan undang-undang mata uang dan koin US, the Coinage Act 1792, $19,39 per oz. Itu pun ternyata, larangan kepemilikan emas yang dikeluarkan FDR ini kurang effektif untuk menggiring rakyat Amerika Serikat untuk menyerahkan emasnya. Artinya mereka tidak percaya terhadap dollar kertas dan lebih menyukai dollar emas. Oleh sebab itu Roosevelt menaikkan lagi nilai tukar emas terhadap dollar menjadi $35 per oz. Dengan kata lain devaluasi dollar sebesar 45%. Nilai dollar turun 45%! Nilai riil tabungan bangsa Amerika menguap 45% hanya dalam sekedipan mata saja.
Ketidak-bijaksanaan F. D. Roosevelt menaikkan nilai tukar emas dari $20,67 di tahun 1933 ke $ 35 per oz di tahun 1934, sangat merugikan mereka yang menyerahkan di tahun 1933. Ini adalah pelajaran bahwa melanggar ketidak-bijaksanaan pemerintah (ketetapan pemerintah yang tidak bijaksana) ada insentifnya.
Executive Order 6102, instrumen pengekangan hak-hak rakyat Amerika Serikat
Akibat dari Executive Order 6102 nya F. D. Roosevelt, pintu bagi semua presiden Amerika Serikat untuk memanipulasikan kurs nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap emas. Dan ini dilakukan oleh Richard Nixon dikemudian hari. Pada saat itu, akibat perang Vietnam yang berkepanjangan, Amerika Serikat mengalami defisit belanja pemerintah dan terpaksa mencetak uang yang melebihi cadangan emasnya. Hutang Amerika Serikat meningkat dan dikirim keluar negri untuk membiayai perang. Tidak seimbangnya US dollar dengan cadangan emasnya dilihat oleh jendral Charles De Gaulle dari Prancis. Prancis yang memiliki $191 juta devisa piutang, memotori langkah untuk menukarkan US dollarnya ke emas bukan surat hutang (obligasi) pemerintah Amerika Serikat. Swiss melaksanakan niatnya dan berhasil menggaet $ 50 juta pada bulan July 1971. Nixon tahu benar bahwa cadangan emasnya tidak akan terkuras kalau semua negara menukarkan US dollarnya menjadi emas. Akhirnya Nixon secara sepihak menutup loket penukaran US dollar ke emas pada tanggal 15 Agustus 1971. Sejak saat itu harga emas melambung jauh di atas $ 35 per oz. Larangan kepemilikan emas FDR baru dicabut dimasa presiden Gerald Ford tanggal 31 Desember 1974. Rakyat Amerika Serikat memperoleh kebebasannya kembali untuk mengatur tabungannya sesuai dengan yang diinginkannya.
Roosevelt tidak hanya berbuat semena-mena, tetapi juga seorang pembohong. Dalam kampanye pemilihan presiden tahun 1940 (yang ke tiga bagi F. D. Roosevelt), Roosevelt berjanji tidak akan terjun ke perang dunia di Eropa. Saingannya dari partai Republik, Wendell Willkie, mengajukan tema yang berlawanan, yaitu ingin mengirimkan pasukan untuk menghentikan Hitler.
Kenyataannya Amerika Serikat kemudian terlibat Perang Dunia II di medan Eropa. Padahal Hitler Jerman bukanlah ancaman bagi US. Tentara Jerman tidak akan pernah bisa mencapai tanah Amerika.
Penipu lain dari Amerika Serikat adalah L. B. Johnson, presiden ke 36 US. Dalam pemilihan umum Amerika Serikat tahun 1964, L. B. Johnson berhadapan dengan Barry Goldwater.
Kata-kata Johnson yang terkenal dalam kampanyenya pada musim panas 1964 (12 Agustus 1964) dan sering dikutip sampai sekarang adalah:
“Some others are eager to enlarge the conflict........They call upon the U.S. to supply American boys to do the job that Asian boys should do.”
“Banyak orang yang bersemangat untuk meningkatkan peperangan..... Mereka meminta Amerika Serikat agar memasok pemuda-pemuda Amerika untuk tugas yang seharusnya dilakukan oleh pemuda-pemuda Asia.”
Selanjutnya Johnson menyakinkan para pendengar kampanyenya (21 Oktober 1964), katanya lagi:
“We are not about to send American boys nine or ten thousand miles away from home to do what Asian boys ought to be doing for themselves. We don’t want to get . . . tied down to a land war in Asia.”
Terjemahan bebas bahasa Indonesianya:
“Kita tidak akan mengirimkan pemuda-pemuda Amerika Serikat ke tempat yang jaraknya 9 – 10 ribu mil dari kampung halaman mereka untuk melakukan tugas yang seharusnya dilakukan para pemuda Asia (Vietnam Selatan). Kita tidak mau terjebak dalam perang di daratan Asia”
Opini Goldwater berbeda dengan Johnson. Barry Goldwater ingin menahan gerak maju komunis di Asia dengan kekuatan militer Amerika Serikat sepenuhnya. Kalau perlu dengan senjata nuklir.
Akhirnya Johnson menang mutlak. Kemenangan Johnson atas Goldwater tidak lain karena publik Amerika Serikat takut kalau terlibat dalam perang yang lebih besar, bahkan melibatkan senjata nuklir. Tentu saja publik Amerika Serikat ini dikemudian hari, kalau ingat janji Johnson, akan merasa dikecewakan.
Pada waktu Johnson terpilih sebagai presiden, dan di saat kematian presiden J. F. Kennedy, hanya ada 16.000 tentara Amerika Serikat di Vietnam. Setelah menjadi presiden, Johnson memperluas peperangan dengan menyerang dan membom Vietnam Utara, Hanoi. Jumlah tentara Amerika Serikat ini naik 13 kali lipat menjadi 184.000 tentara pada akhir 1965. Dan akhirnya menjadi 537.000 di tahun 1968. Pengiriman tentara ini dilakukan dengan diam-diam, tidak banyak publikasi dan sangat low profile. Secara keseluruhan L. B. Johnson mengirimkan sekitar 30.000 pemuda-pemuda Amerika Serikat kepada kematian mereka di tanah yang disebut Vietnam. Janjinya bahwa dia tidak akan menugaskan pemuda-pemuda Amerika Serikat untuk melakukan perang yang seharusnya menjadi tugas pemuda Vietnam Selatan, dilanggarnya. Lucunya, apa yang ditakuti oleh para pelopor demokrasi di Amerika Serikat mengenai ekspansi komunisme ternyata tidak pernah terbukti. Setelah Vietnam Selatan jatuh, negara tetangganya yang lain, seperti Thailand, Malaysia, Indonesia, tidak pernah diganggu-ganggu oleh komunis, apa lagi jatuh ketangan komunis. Alangkah sia-sianya kematian 30.000 pemuda Amerika di jaman Johnson itu.
Secara keseluruhan perang Vietnam adalah sia-sia. Komunisme bisa runtuh dengan sendirinya, karena memang sistem itu tidak pernah bisa membawa suatu masyarakat kepada tujuan yang dijanjikannya, yaitu kemakmuran. Mbahnya komunisme, Uni Soviet, runtuh dengan sendirinya di tahun 1991, atau 16 tahun setelah kemenangan Vietnam Utara yang komunis atas Vietnam Selatan. Cina komunis menjadi setengah kapitalis untuk bisa maju. Yang tersisa dari sejarah adalah hampir 1 juta tentara Vietnam Utara, hampir 250 ribu Vietnam Selatan dan sekitar 30 ribu tentara Amerika mati. Andaikata Johnson menepati janjinya dengan tidak mengirim tentara Amerika Serikat ke Vietnam, maka perang Vietnam menjadi pendek dan cepat saja. Sebab tentara Vietnam Selatan sebenarnya tidak punya motivasi untuk berperang. Buktinya setelah tentara Amerika Serikat ditarik mundur, Hue, kota besar diperbatasan, jatuh ketangan Vietnam Utara. Dan sebulan kemudian pemerintahan Vietnam Selatan bersama tentaranya bubar. Personilnya menghilang entah kemana.
Penipu kecil dan pemimpin Amerika Serikat lain yang masih segar dalam ingatan kita adalah Bill Clinton. Clinton dituduh berhubungan seks dengan Lewinsky sebanyak 9 kali. Tentu saja Clinton kemudian berbohong dalam pernyataan persnya di depan kamera TV pada tanggal 26 Januari 1998 mengenai skandal seksnya dengan Monica Lewinsky. Kata-kata pengingkaran Clinton itu menjadi sangat terkenal dan diputar berulang-ulang di televisi Amerika dan Canada:
"I did not have sexual relations with that woman,..... Miss Lewinsky.”
Terjemahan bebas bahasa Indonesianya:
“Saya tidak pernah berhubungan seks dengan wanita itu, ......nona Lewinsky”
Kalimat ini terkenal juga karena diucapkan dengan telunjuk yang diacung-acungkan secara berlebihan, suatu bahasa tubuh yang berlebihan dan mengindikasikan bahwa dia nervous karena bohong. Bahkan oleh psikolog dijadikan contoh bagaimana bahasa tubuh bila seseorang sedang berbohong. Kasihan juga Bill Clinton. Dia perlu berlatih lebih banyak untuk bisa mengontrol bahasa tubuhnya ketika berbohong.
Kebohongan Bill Clinton terkuak dan dia tidak bisa mengelak lagi, ketika test laboratorium mengindikasikan adanya noda sperma dibaju biru Lewinsky yang cocok dengan DNA Bill Clinton. (Catatan: Monica Lewinsky sengaja menyimpan baju birunya yang terkena noda sperma Bill Clinton tanpa dicuci.)
Akhirnya 7 bulan kemudian setelah pengingkarannya yang terkenal dengan gerakan-gerakan telunjuknya tanggal 17 Agustus 1998 di hadapan grand jury, Clinton mengakui bahwa dia melakukan “improper physical relationship” – hubungan badan yang tidak wajar – dengan Lewinsky dan di sore harinya Clinton memberikan konfrensi pers dan mengatakan:
“Sesungguhnya saya punya hubungan gelap dengan nona Lewinsky dan hal itu tidak patut.”
Kebohongan Bill Clinton mengenai skandal seksnya dengan Monica Lewinsky tidak mempunya konsekwensi yang besar terhadap rakyat Amerika. Tidak ada rakyat Amerika yang mati karenanya. Bagaimana dengan presiden Amerika yang baru serta baru saja mendapat hadiah Nobel perdamaian yaitu Obama?
Sulit untuk mengerti apa yang ada di kepala komite hadiah Nobel ketika mereka memilih Obama sebagai penerima hadiah Nobel 2009 untuk perdamainan. Mungkin sebelumnya mereka ini habis minum sesuatu yang membuat mereka hilang akal. Obama tidak pernah berbuat apa-apa yang menonjol untuk perdamaian sebelum hadiah itu dianugerahkan padanya. Mungkin pemberian hadiah ini bukan karena prestasi Obama, tetapi lebih banyak pengharapan komite hadiah Nobel. Komite hadiah Nobel berharap bahwa Obama bisa berbuat banyak untuk perdamaian karena Obama bukan dari golongan kulit putih Anglo-Saxon yang kemungkinan bisa diterima oleh banyak kalangan di dunia. Obama secara penampakan bisa dipercaya oleh umat Islam dan rakyat negara ketiga. Buktinya, patung Obama pernah terpajang di Taman Menteng Jakarta (walaupun kemudian diturunkan kembali karena munculnya protes warga Indonesaia).
Pemberian (bukan penghargaan lho) hadiah Nobel Perdamaian ini mungkin karena janji-janji Obama selama kampanye untuk menarik pasukan Amerika dari Iraq. Dengan kata lain menurunkan intensitas militer di Iraq dan tentu saja artinya meningkatkan perdamaian. Juga mengenai janji Obama untuk menutup penjara para teroris di Guantanamo dianggap sebagai langkah perdamaian dengan “teroris”. Teroris juga manusia, kalau tidak diganggu maka tidak akan mengganggu. Buktinya Finlandia, Norwegia, Swedia tidak diganggu teroris al-Qaeda. Lihatlah GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang dianggap sebagai teroris dan pengacau oleh rejim Suharto, juga bisa diajak damai. Perlu dicatat bahwa sukarelawan muslim cikal bakal al-Qaeda dan Mujahidin Afghanistan adalah partner Amerika ketika melawan Uni Soviet di dalam perang Afghanistan (1979 - 1989).
Janji dan penampakan fisik Obama bisa mengecoh. Belum setahun memperoleh hadiah Nobel dan menjadi presiden, pada bulan November 2009, Obama menetapkan untuk menambah pasukan Amerika 30.000 orang lagi di Afganistan sebelum pertengahan tahun 2010 dan meningkatkan kobaran perang di sana. Penampakan fisik, gaya dan ucapan bisa mengecoh. Apalagi dari seorang politikus.
Ada suatu lelucon yang berupa pertanyaan: “Bagaimana kita tahu, kapan seorang politikus berbohong?”
Jawabnya: ”Ketika bibirnya bergerak dan mulutnya mengeluarkan suara”.
(Bersambung)
Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.
Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21
Sukarno adalah pahlawan, itu yang tertulis dibuku-buku sejarah Indonesia saat ini. Tetapi tidak halnya pada tahun 1966 – 1970, nuansa semua tulisan tentang Sukarno sangatlah berbeda. Sejak dari kejatuhannya sampai menjelang kematiannya, Sukarno dikucilkan dan dikenakan semacam tahanan rumah. Haknya (kalau dia punya) untuk memperoleh perawatan medis untuk mengobati penyakit ginjalnya diabaikan. Setelah itupun namanya masih dianggap berbau busuk sehingga dirasakan perlu mengganti semua nama-nama yang diambil dari nama Sukarno. Kota Sukarnopura diganti menjadi Jayapura, Gelora Bung Karno (Gelanggang Olah-Raga Bung Karno) menjadi Stadion Utama Senayan, Puncak Sukarno menjadi puncak Jaya-Wijaya. Bahkan kalau dalam buku sejarah masa lampau disebutkan bahwa Sukarno adalah perumus Panca Sila, kemudian Mohammad Yamin dijadikan sebagai penggali Panca Sila.
Apa yang terjadi 15 tahun kemudian? Angin berbalik. Pada pertengahan dekade 1980an, nama Sukarno direhabilitasi kembali. Namanya menghiasi lapangan terbang Cengkareng (1985). Dia dinobatkan menjadi pahlawan proklamasi Indonesia melalui keputusan presiden Keppres RI No 081/TK/Tahun 1986, tanggal 23 Oktober 1986.
Kalau begitu bung Karno itu pahlawan atau bukan? Apakah bung Karno pahlawan karena secarik kertas yang bernama Keppres RI No 081/TK/Tahun 1986? Atau dia memang pahlawan yang sejatinya. Bagaimana statusnya antara tahun 1970 – 1985? Pada periode antara tahun 1970 - 1985 dengan periode antara 1985 – sampai sekarang Sukarno sudah tidak pernah lagi membuat perubahan, bagaimana mungkin statusnya berubah? Itulah persoalannya dengan istilah “resmi” (Inggris: official), keputusan pemerintah, undang-undang. Walaupun isinya selalu ada kata-kata: “menimbang”, “mengingat”, seakan-akan ada alasan-alasan logis yang mendasari pembuatan sebuah keputusan, tetapi sering kali kata-kata itu tidak ada maknanya. Ibaratnya, jika ada keputusan pemerintah menyamakan kecantikan seekor monyet dengan seorang ratu kecantikan, maka secara resmi seekor monyet sama cantiknya dengan seorang ratu kecantikan. Seperti halnya pemerintah mendekritkan nilai selembar kertas yang bernama uang, bernilai sama dengan sepotong roti atau sebongkah emas.
Lupakan hal yang resmi-resmi dulu, kumpulkan data yang ada mengenai hasil karya Sukarno. Kemudian memutuskan dimana dia layak ditempatkan. Cara ini adalah cara yang layak dan paling masuk akal.
Faktanya Sukarno adalah yang membacakan text proklamasi Indonesia yang ditanda tanganinya bersama Mohammad Hatta. Faktanya dia juga presiden Indonesia dari tahun 1945 sampai 1967. Tetapi apakah hal ini sudah cukup untuk mengkategorikannya sebagai orang baik? Masih banyak lagi yang dilakukannya (bersifat positif atau negatif). Lagi pula menandatangi naskah proklamasi dan membacakannya atau menjadi presiden tidak penting, yang lebih penting adalah dampak dari prilakunya.
Sukarno pada tahun 1943, bersama Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo memperoleh bintang kekaisaran Jepang yang diberikan langsung dari kaisar Hirohito[1]. Diantara ketiga penerima bintang kekaisaran Jepang Sukarno lah yang aktif dalam perekrutan romusha. Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno mengatakan:
“Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul ditangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan – kepala pemerintahan militer dan para pembesar pemerintahan. Aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang kerangka hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang emas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”
Bung Karno mengakui bahwa tugas seorang panglima adalah memenangkan peperangan, dan dalam beberapa pertempuran mungkin kalah dan harus mengorbankan ribuan jiwa untuk menyelamatkan jutaan jiwa.[2] Kita tidak tahu tentang jutaan jiwa yang diklaim Sukarno telah diselamatkan dengan kematian ribuan jiwa. Sekedar angka statistik saja, jumlah romusha yang berhasil direkrut diperkirakan mencapai 270 ribu orang Jawa dan hanya 52 ribu yang berhasil pulang[3]. Berarti 218 ribu orang mati. Sukarno tidak pernah menerangkan dari mana angka jutaan orang yang terselamatkan karena pengorbanan 210 ribu orang itu dan peperangan apa yang harus dimenangkan. Tanpa penjelasan arti kematian 218 ribu orang Jawa itu adalah sia-sia.
Kalau bung Karno mengaku bahwa dialah yang mengantarkan ribuan jiwa untuk dikorbankan itu untuk menyelamatkan jutaan jiwa, siapakah yang memberi hak Sukarno mengorbankan si fulan dan si badu? Apakah Sukarno pemimpin terpilih waktu itu? Kenapa bukan yang lain yang dijadikan tumbal, seperti dirinya sendiri. Apakan pengorbanan itu sebelumnya telah dijelaskan kepada calon romusha bahwa mereka akan dikorbankan? Dengan kata lain apakah mereka rela bahwa mereka akan dikorbankan. Ataukah mereka diakali untuk dikorbankan?
Berdasarkan penuturan orang-orang tua kita yang hidup di masa itu lurah dan kepala desa ikut merekrut romusha dan iming-imingannya adalah gaji dan makan yang cukup untuk pekerjaan yang mereka lakukan. Seakan romusha ini akan bekerja. Informasi ini dikukuhkan dengan sebuah artikel[4]:
Tahun 1943 pemuda Karja Wiredja meninggalkan desanya di Matukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menjadi romusha di Thailand. Di benaknya mungkin tidak terpikir bahwa dia baru akan kembali ke desanya 52 tahun kemudian. "Waktu itu lurah bilang kita boleh ikut Nippon," kata Karja akhir bulan Juli yang lalu. Maka berangkatlah pemuda lugu tersebut untuk jadi mandor pembangunan rel kereta api sepanjang 415 kilometer antara Thailand dan Burma. Bayarannya, dua sen sehari. Selama sebulan kerja Karja mendapat gaji enam rupiah.
Jadi yang dijanjikan adalah lapangan kerja dengan gaji tentunya, bukan kerja paksa yang menuju kematian. Bukan kah romusha ini pengelabuhan?
Salah satu gagasan dan retorik yang sering dilontarkan oleh Sukarno selama menjadi presiden adalah anti imperialisme, anti kolonialisme. Sampai-sampai Sukarno mengajak rakyat Indonesia untuk mencampuri urusan bangsa Malayu pada saat membentuk negara Malaysia. Selama Sukarno memerintah tidak pernah terdengar bantahan untuk menggugat apakah imperialisme dan kolonialisme itu pada hakekatnya buruk?
Data tidak bisa menyimpulkan bahwa imperialisme dan kolonialisme itu buruk. Berikut ini adalah suatu perbandingan GDP (Purchasing Power Parity, kemampuan membeli, PPP) antara imperium terbesar pada masa Sukarno masih muda, yaitu negara kolonial Inggris, negri yang dijajahnya sampai tahun 1997 yaitu Hong Kong dan negri yang membebaskan diri dengan jalan kekerasan di tahun 1947, yaitu India (Grafik IV- 1).
Grafik IV- 1Perbandingan GDP (PPP) negara imperial (Inggris), negara yang dijajah (Hong Kong) dan negara yang cepat merdeka. GDP India lambat tumbuh dibandingkan Hong Kong negara yang terlama dijajah Inggris.
Yang menarik ialah, bahwa GDP Hong Kong – negri jajahan Inggris bisa melampaui GDP negara yang menjajahnya, yaitu Inggris, di tahun 1988. Sebagai negara terjajah, nasibnya tidak selalu lebih buruk dari penjajahnya. Buktinya Hong Kong.
Lalu bagaimana negara yang memerdekakan diri dari Inggris sejak tahun 1947, India? Memang ada kenaikan GDP dan kemakmuran. Tetapi lambat. Jauh tertinggal dibandingkan dengan Hong Kong – tanah terjajah. Itu fakta!! Padahal Hong Kong tanah dan sumber alamnya kalah jauh dibandingkan dengan India. Mungkin anda tertarik untuk membandingkan sendiri GDP Indonesia, Suriname dan Antilles Belanda serta Belanda, silahkan mencari datanya.
Bagaimana pengaruh kemerdekaan itu sendiri, terutama pemerintahan Sukarno terhadap kemakmuran yang dimanifestasikan sebagai GDP (Purchasing Power Parity, PPP) per kapita. Kalau dilihat dari data yang dikumpulkan oleh Angus Maddison (Grafik IV- 2)[5], ternyata pada jaman Sukarno, rakyat Indonesia kurang lebih 10% - 20% lebih melarat dari pada pada jaman penjajahan Belanda yang oleh nenek saya disebut jaman Normal. Maksudnya jaman republik Sukarno adalah jaman yang tidak bisa disebut normal. Apa lagi pada tahun-tahun 1964 – 1967, itu lebih cocok disebut jaman melarat. Banyak yang kelaparan, harus makan jagung atau bulgur (makanan hewan) dan nilai uang serta nilai tabungan hancur lebur karena mesin cetak uang diputar sangat cepat.
Kalau dilihat perbedaan antara GDP Indonesia di jaman penjajahan Belanda dengan jaman Sukarno hanya terpaut sedikit saja, hanya 10% - 20%. Tetapi jangan sangka bahwa pada jaman merdeka adalah yang lebih tinggi, melainkan sebaliknya jaman Belanda yang lebih baik. Harus dilihat bahwa pada jaman Belanda, tidak banyak sarjana dan lulusan SMA. Pengharapan para sarjana dan lulusan SMA yang sangat dihargai pada jaman Belanda, tentunya tinggi. Tetapi situasi berubah. Dokter tidak lagi identik dengan punya rumah besar dengan pembantu 5 orang dan hidup yang mewah. Orang yang berpendidikan meningkat tetapi penghasilan malah turun. Perbedaan antara pengharapan dan kenyataan menjadi sangat lebar. Itu sebabnya nenek saya menyebut jaman Belanda sebagai jaman Normal, sedang jaman Sukarno adalah jaman tidak normal.
Grafik IV- 2Perbandingan GDP (PPP) Hindia Belanda dan Indonesia merdeka. Walaupun sudah banyak rakyat yang berpendidikan tinggi, GDP/PPP di jaman Sukarno lebih rendah dibanding dengan GDP/PPP di jaman penjajahan Belanda.
Sukarno dengan gagasan kemerdekaannya membuat Indonesia menjadi bangsa tempe yang tidak punya daya saing. Dari tahun 1950 – setelah pengakuan kedaulatan Indonesia sampai berakhirnya masa jabatan Sukarno tahun 1967, pertumbuhan rata-rata GDP per kapita Indonesia hanya 0.8% per tahunnya. Jika dibandingkan dengan rata-rata dunia adalah 3%. Dan pertumbuhan GDP untuk mantan penjajah (Belanda) adalah 3.3%. Jadi, jangankan untuk mensejajarkan diri dengan bangsa penjajah Belanda, revolusi malah menjadikan Indonesia bangsa kelas kambing yang ekonominya tumbuh jauh di bawah rata-rata dunia, selama pemerintahan Sukarno.
Angka yang diberikan Angus Maddison, menurut penilaian saya agak lunak. Sebagai orang yang hidup dan merasakan tahun 1964 – 1967, saya nilai Angus Maddison terlalu bermurah hati terhadap prestasi Sukarno. Seingat saya, tahun 1964, uang Rp 1000 bisa digunakan untuk makan sekeluarga sehari. Karena inflasi (pencetakan uang secepat-cepatnya) uang Rp 1000 itu sudah tidak punya nilai lagi dan 3 angka nol nya dihilangkan dan menjadi Rp 1 dan hanya bisa membeli sebungkus kwaci. Itu jauh lebih menyengsarakan dibandingkan dengan angka GDPnya Maddison yang hanya turun 10% - 15% selama kurun waktu 6 tahun. Mengenai kesengsaraan di masa Sukarno ini akan dibahas lagi di bagian lain dengan menggunakan tolok ukur yang lebih universal, yaitu uang sejati – emas.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Sukarno adalah orator yang ulung seperti Hitler. Perumpamaan keahlian orator adalah bak penjual yang mampu menyakinkan calon-calon pembelinya untuk membayar tahi ayam seharga permen coklat yang melanggar semua ketentuan-ketentuan akal sehat. Sukarno berhasil mengganti akal sehat dan indra dengan slogan dan kata-kata eksotik. “Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur”, berdikari, manipol usdek, dwikora, trikora, nekolim, gayang Malaysia, demokrasi terpimpin, politik bebas aktif, marhaenisme adalah slogan dan kata-kata eksotik memukau jutaan orang sehingga menanggalkan semua akal warasnya dan indranya. Untuk dirinya, semasa menjadi presiden di dekade 60an, dia memakai gelar panjang yang sangat eksotik yaitu: “Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, Mandataris MPRS, Panglima Tertinggi ABRI”. Dan dalam tulisan resmi, gelar ini selalu mendahului namanya.
Salah satu bukti bahwa Sukarno mampu menghipnotis massa bisa dilihat dari idenya menghadapi penjajah dengan bambu runcing yang kemudian diikuti orang. Berikut ini adalah cuplikan pidato Sukarno:
“Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing,... saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka.” (Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945)
Renungkanlah dengan pikiran yang jernih ajakan merdeka di atas. Bambu runcing melawan karaben metraliyur (senapan otomatis ringan)? Tidak ada orang yang masih menggunakan akalnya mau maju perang dengan bambu runcing melawan musuhnya yang bersenjata senapan mesin. Kenyataannya ada rakyat Indonesia yang mau melakukannya dan akhirnya mati menjadi sasaran empuk senapan mesin. Pasti mereka pikir bahwa bambu runcing dan semangat membuat mereka kebal peluru. Kepercayaan semacam ini sama saja dengan kehilangan akal. Mungkin yang mati akibat kegilaan ini tidak banyak, karena dalam perang kemerdekaan hanya ada 2 pertempuran yang besar, pertempuran 10 November di Surabaya dan pertempuran 5 hari di Semarang. Walaupun demikian setiap kematian pahlawan untuk kemerdekaan negaranya, adalah termasuk sia-sia. Malaysia, Singapura, Brunei, Suriname dan sederet negara lagi, memperoleh kemerdekaan tanpa perlu pengorbanan nyawa dari orang yang disebut pahlawan. Tentu saja mereka ini tidak punya kenikmatan dalam mengagungkan pahlawan-pahlawannya yang bisa dilakukan setiap tahun dalam perayaan kemerdekaan seperti Indonesia atau Amerika Serikat.
Ada lagi gagasan Sukarno yang absurd lainnya, yaitu berdikari. Berdikari suatu konsep yang absurd dan indah didengar. Konsep dan idenya ialah bahwa semuanya harus diusahakan sendiri tanpa keikut-sertaan bangsa lain. Indah terdengar, tetapi ketika diuji dengan hal yang sangat sepele akan gugur. Untuk urusan korma bagi penganan buka puasa, misalnya apakah bisa ditanam di Indonesia? Selama ini harus didatangkan dari Kalifornia, Timur Tengah dan tempat-tempat lain. Itu baru masalah korma yang sepele. Mungkin juga pergi haji bagi orang Islam di Indonesia, mereka harus ke Mekkah yang tidak ada di Banten atau Sumatra. Berdikari adalah konsep yang mengabaikan prinsip keunggulan suatu daerah atas daerah lain karena kondisi alamnya, sumber daya alamnya dan juga keterampilan masyarakatnya. Oleh sebab itu politik berdikari akan menghasilkan sistem ekonomi yang mahal dan menyengsarakan. Jangan heran kalau selama masa pemerintahan Sukarno, ekonomi dan GDP tidak beranjak kemana-mana.
Politik bebas aktif dan mendukung perdamaian maksudnya tidak memihak kemana-mana dan mencintai perdamaian. Mungkin politik bebas aktif itu hanya sampai pada masa operasi Dwikora yang dilaksanakan di bulan Maret 1964. Karena setelah itu adalah Dwikora yang merupakan politik untuk mencampuri urusan tetangga Malaysia. Sukarno merasa perlu mencampuri urusan rakyat Melayu yang mau mendirikan negara federasi Malaysia. Untuk itu dikirimkanlah sukarelawa-sukarelawan ke perbatasan untuk berperang melawan Malaysia.
Walaupun retorik “Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur” bukan resmi dari mulutnya, di jaman Sukarno slogan ini sangat populer. Dan sesungguhnya Sukarno telah membawa Indonesia menyebrangi jembatan emasnya. Sayangnya emas bukan logam yang baik untuk konstruksi jembatan. Akibatnya jembatan itu ambruk. Ekonomi makin lama makin terpuruk dan akhirnya tahun 1965 tidak tahan lagi dan meletuslah huru-hara, yang berlangsung sampai Sukarno jatuh.
Untuk menilai semua itu, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah” – “JASMERAH” kata Sukarno. Semua harus diingat: keikut-sertaannya dalam mengantar 218 ribu romusha kepada kematiannya; memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan menempuh jalan kekerasan untuk merdeka dan mengorbankan nyawa dan harta secara sia-sia; ikut memprovokasi para pemuda untuk berjuang dan bertempur secara tidak seimbang dengan Belanda, bambu runcing melawan bedil yang menyebabkan sebagian dari mereka mati sia-sia; membawa masyarakat Indonesia ke masyarakat yang lebih berpendidikan tetapi lebih melarat; memelaratkan bangsa Indonesia dengan mencetak banyak rupiah di akhir pemerintahannya; mencampuri urusan dalam negri tetangga (Malaysia) yang menyebabkan korban mati dan tertawan dipikul oleh para sukarelawan. Masuk kategori manakah Sukarno ini? Ibu Teresa, Albert Schweitzer, Amru bin As atau Lincoln dan Hitler?
(Bersambung..........)
[1] Soekarno, Wikipedia bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno
[2] The Other Stories - Bung Karno – Serpihan Sejarah yang Tercecer; Roso Daras, 2009, Penerbit Imania.
[3] Romusha; Wikipedia Online Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Romusha
[4] Kisah Seorang Romusha; Suara Independen No.03/1, Augus 1995 http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/09/02/0000.html
[5] Historical Statistics for the World Economy:1-2006 AD, Angus Maddison, http://www.ggdc.net/Maddison/Historical_Statistics/horizontal-file_03-2009.xls
Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.
Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
Tanggal 9 April 2011 lalu adalah hari yang ke 300 di Belgia tanpa ada pemerintahan. Tidak ada menteri selama 300 hari. Tidak ada kabinet, tidak ada kepala pemerintahan. Apakah Negara Belgia kacau? Tidak juga. Apakah negara Belgia yang berpenduduk 10 juta orang ini makin miskin? Tidak juga. Apakah bisnis tutup? Tidak juga. Jadi apa yang kurang? Yang berkurang hanya kabinat, menteri dan perdana menteri, dan pekerjaan di departemen-departemen/kementerian mandeg.
Pemerintah Portugal tanggal 24 Maret 2011 lalu membubarkan diri. Sekarang sudah 2 minggu tanpa pemerintahan. Alasan pemerintah membubarkan diri adalah karena saling tidak setuju mengenai budgetnya.
Berita tentang tidak adanya pemerintahan di Belgia dan Portugal saya ceritakan kepada rekan sekantor. Dengan spontan dia berkomentar: “Woww…., bagaimana tuh Portugal? Hutangnya ‘kan banyak!”. Rekan sekantor saya ini perlu merenung yang dalam, memikirkan ucapannya tadi. Yang perlu direnungkannya adalah pertanyaan: “siapa yang membuat hutang Portugal menumpuk itu.” Jawabnya sederhana saja, yaitu: “Pemerintah!” Dengan tidak adanya pemerintah, maka biang kerok kekacauan ini sudah disingkirkan.
Kalau pembaca masih sulit menerimanya, kita lihat Libya. Libya kacau. Perang antara pendukung Muamar Qaddafy melawan pendukung Mahmoud Jibril, yang menjadi pimpinan opposisi. Di Libya pemerintah bertambah dengan adanya pemerintahan bayangan yang dipimpin Mahmoud Jibril, dan negaranya makin kacau.
Mesir masih bergolak. Semua orang mau memerintah mau membuat kebijaksanaan. Kakacauan masih terus berlangsung.
Bisakah pembaca menangkap makna semua ini? Hikmah apakah yang bisa diambil? Kalau pembaca tidak berani mengatakannya atau tidak bisa mengambil kesimpulan, saya akan bantu: “Banyak yang tidak diperlukan di Pemerintah. Kalau mau ekstrim, bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya pemerintah tidak diperlukan.”
EOWI saat ini sedang menurunkan dongeng bersambung yang berjudul “Penipu, Penipu Ulung, Politikus dan Cut Zahara Fonna”. Mungkin dimasa datang EOWI harus menurunkan kisah “Pencuri, Orang Cabul dan Politikus”. Baru saja EOWI memperoleh ide ini dari Presiden Republik Czech, Václav Klaus, anggota DPR dari partai PKS Arifinto dan berita lama anggota DPR dari Golkar Yahya Zaini. Presiden Republik Czech dua hari lalu tertangkap kamera sedang mengutil. Arifinto kepergok menonton video porno ketika sidang paripurna DPR dan berita lama Yahya Zaini bermain video porno dan diedarkan ke Youtube.
Dalam hal kutil-mengutil, seorang presiden tidak kalah lihainya. Contohnya saja presiden Václav Klaus seperti pada tayangan video Youtube ini. Perhatikan tangan kanannya mengambil pena, kemudian menurunkannya ke bawah, sampai terhalang meja. Kemudian memindahkannya ke tangan kiri (terhalang meja) dan memasukkannya ke dalam saku (juga terhalang meja). Setelah itu ia menutup kotak penanya. Semua gerakannya berjalan dengan halus sekali dan tidak mencurigakan jika tidak memperhatikan setiap langkahnya. Begitulah cara pejabat dan politikus mencuri.
M Irfan, pewarta foto harian Media Indonesia, memergoki Arifinto anggota DPR sedang menontong video porno di IPad miliknya pada saat sidang paripurna DPR. Arifinto yang berjenggot adalah dari partai PSK, eeh.. salah, maksud saya PKS. Ketika berita ini tersebar ke media massa, Arifinto mengelak dengan mengatakan bahwa dia hanya melihat beberapa detik saja lalu menghapusnya.
Lain kata Arifinto, lain pula kata wartawan fotonya. Kata wartawan foto yang memergokinya adalah beberapa menit. Antara menit dan detik punya perbedaan bagaikan antara kilo dan kwintal atau gram dengan ons. Mendekati 100 kalinya. Si wartawan foto Irfan sempat mengabadikan momen itu sampai beberapa kali. Jadi tidak mungkin hanya bilangan detik. Sangat patut diduga bahwa Arifinto berbohong. Dosanya menjadi 2, menonton video porno dan berbohong. Mungkin dosanya 3, karena harus ditambah 1 lagi yaitu berjanggut seakan untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang taat beragama padahal dia penggemar video cabul dan (suka) berbohong pada posisi terpojok (atau mungkin juga tidak tepojok).
Ternyata perkara dosa anggota DPR-PKS ini merambat kemana-mana. Tifatul Sembiring, rekan Arifinto dari PSK,.... maksud saya PKS, membela melalui twitter seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com. Katanya:
“apakah tindakan arifinto yg dikirim link situs porno, lalu dibukanya selama 2 menit, itu termasuk dosa besar? Menurut saya ini tidak termasuk kabair (dosa besar). Namun bukan berarti tidak berdosa sama sekali. Kalau hukum positif, tentu lain lagi."
Ini adalah pengakuan PSK (eeh salah ketik lagi, maksudnya PKS) bahwa Arifinto memang menonton video porno. Dan kata Tifatul Sembiring sebelumnya:
Dari kacamata Islam sy pahami bahwa kabair (dosa2 besar) adalah: 1. Syirk pd Allah 2. Durhaka pd ortu 3. Pembunuhan 4. Zina 5. Sumpah palsu.
Secara implisit, maksud Tifatul Sembiring bahwa korupsi juga bukan dosa yang besar dan boleh-boleh saja dilakukan seperti halnya menonton video porno. Dan perbuatan dosa yang boleh dilakukan termasuk juga mengingkari kepercayaan rakyat, berbohong, berjanji paslu, ingkar janji......., ini boleh-boleh saja dilakukan. Tentu saja yang boleh melakukannya hanya politikus, menteri dan anggota DPR, serta anggota partai. Soalnya, bagi Tifatul, yang menteri Penerangan (kominfo), lain hari lain ceritanya, karena pelakunya berbeda. Tiga bulan lalu ia berusaha dengan gigih menutup semua situs-situs porno, seperti yang diberitakan RakyatMerdekaOnline.Com Tifatul Mulai Blokir Pornografi di BlackBerry.
Sembilan bulan lalu ceritanya juga lain bagi Tifatul. Republika online melansir berita keaktifan menkominfo ini memberantas pornografi dunia maya, Tifatul: Situs Porno Tuntas Diblokir Sebelum Ramadhan. Maksudnya Ramadhan 2010 lalu. Katanya:
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring mengatakan, pihaknya menargetkan proses pemblokiran terhadap situs porno di dalam negeri tuntas sebelum memasuki Bulan Ramadhan. Dia mengingatkan, pemblokiran situs porno merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan pemerintah.
"Saya minta waktu selama sebulan, ini baru satu pekan, pokoknya sebelum Ramadhan sudah beres, supaya tidak terganggu ibadahnya," ujar Tifatul sebelum mengikuti Rapat Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kamis (22/7). Pemblokiran itu, kata dia, akan dilakukan secara masif meski tidak bisa seluruhnya.
"Bukan seluruhnya ya, cuma yang masuk itu kami blok, jadi secara masif kami lakukan," ujar Tifatul. Mengenai sanksi terhadap pembuat situs itu, Tifatul menyerahkan kepada kepolisian. Dia hanya mengingatkan, dalam UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memuat hukuman penjara 6-12 tahun.
Akankah Arifinto dihukum 6-12 tahun untuk pelanggaran UU No 11/2008? Meragukan. Karena hal itu adalah kata Tifatul sebelum ada politikus yang melanggar UU No 11/2008, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sekarang lain lagi ceritanya. Arifinto akan melenggang kangkung. Sebabnya....., karena janggutnya.
Arifinto dipecat dari DPR dan majelis suro PKS. Tetapi tidak lebih dari itu. Kata PKS, masih belum ada penggantinya. Di EOWI, kami mengatakan tidak perlu ada penggantinya. Sejarah membuktikan bahwa dengan 38 orang wakil rakyat sudah cukup untuk membuat peraturan (UU). Dan sekarang ini sudah terlalu banyak. Anggota DPR 560, DPD 132 orang dan DPRD I 1.770 serta DPRD II 13.525 orang sekarang ini (2009-2014). Itu baru anggotanya, belum lagi staff “ahlinya”. Tahun 2007 DPR (pusat) punya 550 staff ahli. Sekarang dan yang akan datang entah berapa lagi. Dan ini belum termasuk yang ada di daerah.
Arifinto – yang berjanggut sakti, pelanggar UU No 11/2008?.
Dibandingkan dengan jaman Belanda dulu, anggota Volkraad hanya 38 orang. Jumlah kementerian hanya 5. Tidaklah mengherankan kalau jumlah peraturan melesat banyaaak sekali, saling tumpang tindih, ruang gerakpun semakin sempit. Sampai-sampai sekarang ini arisan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran UU BI No. 10 tahun 1992 – Mengumpulkan dana tanpa ijin BI. Undang-undang seperti ini yang saya sebut UU sontoloyo, karena terlalu mencampuri urusan pribadi orang. Setiap hari secara tidak sadar kita melanggar UU – yang sontoloyo.
Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan undang-undang baru. Saya belum baca undang-undang yang sudah jadi, baru rancangannya saja. Namanya Undang-Undang Tentang Informasi Geospasial. Kata Geospasial, sangat mentereng, atau “big word” dalam bahasa Inggris. Saya yakin pembaca tidak tahu artinya. Menurut definisinya:
Geospasial adalah sifat keruangan yang menunjukkan posisi atau lokasi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi dengan posisi keberadaannya mengacu pada sistem koordinat nasional. Peta termasuk informasi geospatial.
Pokoknya Indonesia sudah canggih, punya peraturan baru dengan big word baru yaitu Geospasial. Bahasa awamnya adalah tentang peta. Cuma itu. Disamping isi bahasanya menyentuh langit, tentu saja UU ini menjadi banyak konyolnya. Kalau tidak konyol, mana mau EOWI menyentuhnya.
Bab VII Ketentuan Pidana Pasal 59 ayat 3 dan ayat 4:
Setiap orang yang mengubah Informasi Geospasial Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 untuk maksud disebarkan kepada orang lain tanpa persetujuan dari penyelenggara Informasi Geospasial Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Setiap orang yang mengubah Informasi Geospasial Tematik dengan maksud disebarkan kepada orang lain tanpa persetujuan dari penyelenggara Informasi Geospasial Tematik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dan Pasal 24 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (pasal 59 ayat 3 & 4)
Pada dasarnya, kalau anda membuat undangan dan disertai peta petunjuk cara mencapai lokasi, maka jika peta itu dasarnya dari “pihak yang berwenang” maka tidak boleh ditambah, dikurangi, atau diperbaharui (update) untuk memudahkan undangan mencapai lokasi tersebut. Dan juga harus dengan ijin “pihak yang berwenang”. Jika seseorang tersesat dan mengalami kerugian bensin, maka pembuat undangan tersebut bisa 24 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000. Ini tentunya kalau pemerintah lagi mau menuntut. Pokoknya suka-suka pemerintah lah.
Undang-undang konyol banyak sekali. Hampir setiap hari ada saja peraturan yang kita langgar. Tetapi tentunya kita tidak dituntut. Penuntutan sangat tergantung pada mood pemerintah yang angot-angotan. UU No. 10 tahun 1992 (arisan), UU No 11/2008 internet porno, Peraturan ketenaga kerjaan, UU perkawinan, dan sederet lagi. Kalau anda punya radio di mobil anda, seingat saya anda harus bayar pajak. Demikian juga TV, ada iuran TV. Juga sepeda dan anjing. Itu baru yang kecil-kecil.
Jaman Belanda dulu hanya ada 5 kementerian, yaitu:
Departemen Van Economische Zaken (Ekonomi)
Departement van Sociale Zaken (Masalah Sosial termasuk tenaga kerja)
Departement van Verkeer en Waterstaat (Perkerjaan Umum)
Departemen Van Binnenlandsche Zaken (Dalam Negri)
Departemen van Onderwijs en Eredienst (Pendidikan dan Budaya/Kepercayaan)
Dan anggota perwakilan rakyat hanya 38 orang. Bandingkan dengan sekarang ada 34 menteri, plus 3 pejabat setingkat menteri (kepala Polisi, Kepala TNI dan jaksa agung). Setelah 80 tahun kementeriannya naik dari 5 menjadi 37 atau 7,5 kali. Dan anggota parlemen naik dari 38 menjadi 15.987 atau naik 421 kali. Padahal penduduk Indonesia hanya naik 4,2 kalinya saja sejak tahun 1920 dari 54 juta jiwa (tahun 1920) menjadi 226 juta (tahun 2008). Jumlah kabinet dan jumlah wakil rakyat melesat jauh dibandingkan dengan jumlah yang bayar pajak. Kalau mau dihitung perbandingan jumlah pegawai negri yang katanya untuk mengurusi rakyat dengan jumlah rakyat yang diurusinya (maksudnya yang bayar pajak) maka terjadi lonjakan yang drastis. Jangan heran kalau pajak penghasilan naik dari 3% di jaman Belanda menjadi maksimum 30% di jaman reformasi dan 35% di jaman orde baru. Indonesia merdeka untuk membebani rakyatnya dengan pajak 10x lipat.
Jaman Belanda dikenal oleh kakek-nenek kita sebagai jaman Normal. Karena cari penghidupan relatif mudah. Dan harga-harga stabil. Orang bisa menabung. Itu karena Belanda menerapkan pajak upah (penghasilan) hanya 3%. Entah kebetulan atau tidak, nabi Muhammad juga menerapkan 2,50% kewajiban zakat. Kalau mau lebih tidak dilarang. Mungkin Tuhannya orang Islam menganggap 2,50% sudah cukup untuk menolong secara “memberi ikan”. Selebihnya bisa untuk menolong secara “memberi kail”. Pemerintah bukan lembaga yang produktif. Hasilnya hanyalah menghabiskan modal dan resources, membuat UU dan peraturan yang tidak ada gunanya. Ada ucapan dari Don Kickles – seorang comedian:
Internal Revenue Code: It's about ten times the size of the Bible - and unlike the Bible, contains no good news.
Buku aturan pajak di Amerika tebalnya 10 kali Bible, tetapi sama sekali tidak mengandung kabar gembira. Untuk Indonesia tidak jauh berbeda. Ini baru aturan pajak, belum lagi aturan-aturan lainnya.
Pembaca EOWI mungkin berpikir bahwa EOWI selalu mencitrakan pemerintah sebagai the bad guy. Walaupun demikian, EOWI juga menyodorkan bukti-buktinya bukan? Bukan sekedar opini tanpa dasar. Misalnya mengenai Tifatul dan Arifinto, mereka tahu bahwa nabi mereka hanya mewajibkan iuran wajib 2,5% dari penghasilan. Sekarang mereka bergabung dengan golongan penindas yang setuju menariki sampai 30%. Dan uangnya digunakan untuk menggaji mereka. Apakah mereka layak disebut pengikut nabi mereka, nabi Muhammad? Tidak hanya itu, partai berjanggut ini juga digoncang kemelut penggelapan dana Rp 10 milyar yang berasal dari Adang Darajatun, calon gubernur DKI. Salah satu beritanya dilansir oleh Wartabuawa.com dalam Deklarator PKS Tuduh Petinggi PKS Gelapkan Dana.
JAKARTA, WARTABUANA.COM-Deklarator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yusuf Supendi melaporkan Presiden PKS Luthfi Hasan, Sekjen PKS Anis Matta, dan Wakil Sekjen PKS Mahfudz Siddiq ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tuding telah menerima dana asing dari Timur Tengah untuk partai dan menggelapkan dana Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2007 sebesar Rp10 miliar.
a mengaku tidak main-main dengan kasus yang dialaporkanya itu. Karena semuanya ada bukti kuat terkait penggelapan dana Pilkada Jakarta senilai Rp10 miliar itu. Yang bakal mendapat dukungan sejumlah nama saksi kunci dan pemegang bukti manipulasi laporan daftar donatur partai ke KPU.
Yusuf melaporkan sejumlah dana yang diterima PKS dari pihak tertentu, termasuk dari mantan Wakil Kapolri Komjen Pol. Adang Daradjatun. Menurut Yusuf, Adang pernah memberikan dana Rp40 miliar kepada PKS sebagai 'uang mahar' dicalonkan PKS sebagai gubernur Jakarta.
"Dari jumlah itu, digelapkan Anis Matta Rp10 miliar," kata Yusuf, tanpa tedeng aling-aling.
Yusuf juga melaporkan adanya sumbangan dana Rp21 miliar dari salah satu calon presiden pada Pemilu 2009, dan senilai Rp34 miliar dari salah satu calon wakil presiden saat Pemilu 2004. Dana itu, kata Yusuf, dikelola oleh Luthfi Hasan Ishaaq yang kini menjabat Presiden PKS.
"Kalau memang tidak bisa diselesaikan secara internal, saya laporkan ke KPK," kata Yusuf sambil membawa bukti-bukti yang dituduhkannya, Senin (21/3). "Saya juga akan memberikan nama-nama saksi yang masih aktif di PKS. Ada 11 saksi," tandasnya.
Hallo... Yusuf...., kok masih berpikir diselesaikan secara internal. Ini delik kriminal. Hallooooo...., polisi, kok tidak diselidiki, sampai ke calon presidennya?
Saya tidak heran jika ada kelompok Islam yang mengkafirkan mereka yang berprilaku seperti itu.
Kembali pada pertanyaan: Apakah kita perlu pemerintah? Belgia sudah lebih dari 300 hari tanpa pemerintahan. Amerika Serikat nyaris me-shutdown beberapa pelayanan umumnya seminggu lalu.
Anda pasti bisa menjawab pertanyaan itu.
Dan cerita ini akan saya akhiri dengan sebuah video (bukan porno yang ditonton Arifito PKS) dari CATO Institute tentang pemerintah:
Banyak persamaannya dengan Indonesia. Bahkan Indonesia lebih parah.
Anda bisa membantu menjadikan Indonesia lebih makmur dengan berbagi kisah ini dengan teman dan kenalan anda.
Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21
Sejarah mencatat dan mencitrakan Hitler sebagai penjahat. Kematiannya adalah karena bunuh diri pada saat dia sudah terkepung oleh tentara Uni Soviet di Berlin; dan mayatnya kemudian dibakar oleh anak buahnya supaya tidak bisa dikenali lagi. Keputusan bunuh diri adalah keputusan yang sadar dan penuh perhitungan. Seandainya ia tertangkap oleh sekutu, ia pasti diadili, dipermalukan dan dihukum mati. Itu yang tidak diinginkannya.
Hitler seharusnya menjadi pahlawan bagi mereka yang memilih jalur tengah. Hilter sangat anti kapitalis dan juga anti komunis, serta orang-orang Yahudi yang selalu diassosiasikan dengan golongan yang menguasai sektor keuangan dan perbankan. Hitler menyukai jalan tengah, yaitu sosialisme. Menurut ceritanya, Sukarno menyukai sosialisme, juga Suharto yang menyebutnya sebagai sosialisme Pancasila (ada tambahan kata Pancasila).
Hitler dipilih sebagai pemimpin Jerman secara demokratis. Jadi jangan salah sangka, kenaikan Hitler ke kursi kekuasaannya bukan dengan perebutan secara militer melainkan dengan pemilihan yang demokratis. Dengan kata lain Hitler adalah produk sistem demokrasi. Dia menjadi chancellor pada 3 Januari 1933 sebagai produk koalisi partainya dengan partai Rakyat Nasional Jerman (Deutschnationale Volkspartei DNVP). Jangan salah sangka juga, bahwa sistem demokrasi tidak bisa menghasilkan seorang diktator bahkan dikemudian hari dianggap sebagai diktator yang jahat. Dengan manuver politiknya, Hitler berhasil secara legal konstitusionil menjadikan Nazi menjadi partai tunggal di Jerman pada tanggal 14 Juli 1933. Kekuasaan Hitler semakin kokoh ketika presiden Paul von Hindenburg meninggal pada 2 Agustus 1934, dan plebisit (pengambilan suara) diadakan untuk menyatukan jabatan presiden dan chancellor. Hitler memperoleh dukungan suara 84,6% untuk penyatuan kedua posisi itu, penyatuan fungsi legislatif dan fungsi eksekutif. Ini menunjukkan betapa populernya dia dimata rakyat Jerman.
Hitler adalah seorang orator yang ulung. Ibaratnya dia mampu menyakinkan ribuan bahkan jutaan orang untuk membeli tahi ayam seharga permen coklat. Ketika ia menawarkan dirinya sebagai presiden sekaligus sebagai chancellor, 84,6% rakyat Jerman menerimanya tanpa paksaan.
Kesuksesan Hitler memang tidak semata-mata karena kepiawaiannya dalam berpidato saja tetapi juga memotivasi rakyatnya untuk menggairahkan indutri-industri Jerman yang hancur dan rusak parah setelah Perang Dunia Idan akibat depressi ekonomi global tahun 1930. Ekonomi Jerman bisa lebih baik dan pemerintahannya berhasil menurunkan angka pengangguran.
Usaha-usaha Hitler membangkitkan perekonomian Jerman termasuk membangun infrastruktur, seperti dam, jalan bebas hambatan, jalur-jalur kereta api yang lebih lebar supaya bisa menampung kereta yang lebih besar dan lebih cepat. Di bidang militer, Hitler mengabaikan perjanjian Versailes yang isinya mengebiri kemampuan militer Jerman. Jerman dilarang memiliki pasukan lebih dari 100.000 orang, angkatan laut tidak lebih dari 15.000 orang, 6 kapal perang dan semua di bawah 10.000 ton, 6 kapal penjelajah, 6 kapal penghancur dan 12 kapal terpedo. Pesawat terbang yang dilengkapi senjata, kapal selam dan tank dilarang dimiliki. Disamping itu masih ada lagi pembatasan lain, yaitu larangan pembuatan senapan mesin. Jalan menuju pembangunan militer Jerman menjadi mulus ketika ditanda-tanganinya persekutuan militer laut Inggris-Jerman pada 18 Juni 1935. Jerman juga menyelenggarakan Olimpiade 1936 di Berlin yang berlangsung sangat meriah. Jadi jangan terlalu heran kalau Hitler memperoleh gelar “the Man of the Year” majalah Times tahun 1938.
Sampai menjelang ajalnya Hitler adalah pahlawan bagi Jerman. Buktinya mayoritas rakyat Jerman mau berkorban mengikuti arahannya. Sebanyak 8,2 juta (10%) rakyat Jerman, tidak termasuk Yahudinya, dengan suka rela mati di dalam Perang Dunia II mengikuti ambisi politik Hitler. Kota-kota di Jerman sebagian hancur lebur semasa Perang Dunia II. Walaupun demikian, kalau bukan pahlawan yang disukai oleh rakyatnya, bagaimana mungkin rakyat Jerman mau mati mengikuti ambisi Hitler? Apakah Hitler benar-benar pahlawan atau bajingan sontoloyo? Yang pasti, sampai sekarangHitler adalah dewa bagi kaum Neo-Nazi dan kaum supermasi kulit putih.
Abraham Lincoln dikenal di dalam sejarah bangsa Amerikan Serikat (US) dan dipuja, dikenang sebagai presiden salah satu yang besar Amerika Serikat kalau bukan yang terbesar. Demikian disanjungnya sampai dibuatkan patungnya yang besar dan bangunan untuk mengabadikan namanya - Abraham Lincoln Memorial. Seakan orang telah melupakan atau tidak tahu bahwa kesengsaraan yang paling berat sepanjang sejarah yang dialami oleh rakyat Amerika adalah karena keputusan dan ulah Abraham Lincoln. Perang saudara antara Utara dan Selatan, antara Federationist dan Confederationist, yang diputuskan Abraham Lincoln adalah kesengsaraan yang terbesar dalam sejarah USA. Dimulai tahun 1861 dan berakhir tahun 1865 dan hanya dalam 4 tahun, perang menelan korban 620.000 atau 2% dari penduduk mati sia-sia. Kalau untuk ukuran sekarang, 2% dari penduduk Amerika Serikat adalah 6 juta jiwa. Bayangkan betapa banyaknya.
Apakah Abraham Lincoln itu pahlawan atau orang konyol?
Kesengsaraan itu bukan hanya bagi jiwa yang melayang sia-sia, tetapi juga ekonomi. Pihak Federasi (pihaknya Abraham Lincoln), kehabisan uang. Tidak ada uang untuk melakukan aktifitas ekonomi. Tetapi, tentara harus digaji. Baru 1 tahun berperang pemerintah Federal sudah kebingungan cari dana untuk perang ini. Pada tahun 1862 pemerintah Amerika Serikat memberlakukan undang-undangkan yang memberikan hak bagi pemerintah untuk mencetak mata uang nasional. Awalnya sistem keuangan Amerika Serikat menggunakan uang sejati, emas dan perak; kemudian oleh Abraham Lincoln dilanggar begitu saja, - secara resmi dan legal dengan menggunakan undang-undang tentunya.
Undang-undang hak mencetak uang tanpa didukung oleh cadangan emas ataupun asset riil apa-apa ini adalah yang pertama dalam sejarah USA. Maka dicetaklah uang-uang yang berwarna hijau. Disebut Greenback karena satu sisi yang bergambar dan warnanya hijau). Itulah asal muasal kata Greenback - artinya uang kertas yang bagian belakangnya berwarna hijau.
Biaya perang yang dikeluarkan oleh pemerintah Federasi mencapai $15 milyar uang masa itu. Kalau diekivalenkan dengan masa 2007 adalah $ 600 milyar atau setara dengan 900 juta oz (280 ribu ton) emas. Itu baru pihak Federasi. Pihak Konfederasi juga menderita dengan jumlah yang hampir sama, sehingga total menjadi $ 1,2 trilliun. Kalau populasi Ameruka Serikat seperti sekarang, 301 juta, maka setiap orang hanya menanggung $4.000 per kepala. Jumlah itu kecil. Tetapi pada waktu itu jumlah penduduk Amerika Serikat hanya 31,4 juta, sehingga setiap orang harus menanggung beban dari pihak Federasi sebesar $40.000 (uang 2007) per kepala atau 1,8 kg emas. Sayangnya bukan hanya pihak Federasi yang mengeluarkan biaya, tetapi juga musuhnya, yaitu pihak Konfederasi. Katakanlah besarnya sama. Jadi dalam perang saudara – Amerika Serikat Civil War, diperkirakan orang yang hidup harus menanggung beban sebesar $40.000 yang ekivalen dengan 1,8 kg emas. Itu jumlah yang banyak! Dan jumlah itu hanya pengeluaran pemerintah dan tidak termasuk rumah-rumah harta benda, infra-struktur dan ladang yang hancur. Mungkin lebih besar dari pengeluaran pemerintah.
Orang boleh berargumen bahwa perang saudara di Amerika Serikat bertujuan mulia, penghapusan perbudakan. Orang waras mengatakan pengorbanan sia-sia. Pada saat itu perbudakan ada dimana-mana. Di Amerika selatan dan tengah misalnya, orang Spanyol juga punya budak-budak negro. Di Asia, Timur Tengah dan Afrika masih berlaku perbudakan. Untuk daerah-daerah Asia, Afrika dan tempat lain selain Amerika Serikat, perbudakan hilang tanpa peperangan. Memang memakan waktu yang lebih lama. Abraham Lincoln seharusnya bisa melakukan penghapusan perbudakan tanpa perang, tanpa mengorbankan 2% dari pendudukanya dan tanpa membebani rakyatnya dengan ongkos perang sebesar 1.8 kg emas, kalau dia tidak melakukannya dengan perang.
Alangkah sia-sianya. Pengorbanan sia-sia untuk keputusan yang tolol. Lalu apa bedanya dengan Hitler? Sama-sama mengorbankan nyawa rakyatnya dengan sia-sia. Hanya besarnya penderitaan rakyatnya saja yang berbeda dan akhir dari pencatatan sejarah. Abraham Lincoln dijadikan pahlawan, sangat dipuja berkat promosi, bumbu dan citra yang diciptakan elit politik. Sedang Hitler dicerca. Itulah sejarah.
Mengelompokkan Abraham Lincoln dengan ibu Teresa, Albert Schweitzer, Amru bin As, jelas tidak mungkin. Ibu Teresa dan Albert Schweitzer menyelamatkan orang, mengurangi penderitaan orang, bukan membawa 620.000 manusia kepada kematiannya seperti yang dilakukan Abraham Lincoln. Menggolongkan Abraham Lincoln bersama Amru bin As juga tidak bisa. Amru menghindari pertempuran, dan tidak pernah membebani rakyat Mesir dan rakyat Hijaz dengan 1,8 kg emas per orang. Amru malah menurunkan pajak di Mesir, dibandingkan Abraham Lincoln yang membuat inflasi (catatan: pada bab-bab yang akan datang akan dijelaskan bahwa inflasi dan pencetakan uang adalah bentuk pajak yang tersembunyi atas tabungan). Perlu diketahui, pajak yang dikenakan kepada rakyat Mesir adalah antara 1 – 4 dinar (4 – 16 gram emas) per tahunnya, bukan 1,8 kg seperti yang dilakukan Abraham Lincoln. Dengan 1 – 4 dinar emas itupun sebenarnya rakyat Mesir masih diuntungkan, karena sebelumnya oleh pemerintahan Romawi, mereka diwajibkan membayar 5 kali lebih banyak. Jadi Amru sebenarnya meringankan beban pajak rakyat Mesir sebanyak 80%. Adakah Abraham Lincoln melakukan hal seperti itu?
(Bersambung........)
Disclaimer:Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.
Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.
Uang (salah satu wilayah) Bosnia 10 milyar dinara. Kapan rupiah dan US$ punya mata uang seperti ini?
10 triliun dollar Zimbabwe
Bagaimana rasanya menjadi triliuner?
Politik
HASIL PILKADA Fauzi Bowo: 2.010.545 (35.1%) Adang: 1.467.737 (25.7%) Tidak Memilih: 2.241.003 (39.2%)
Hasil Pilkada Jakarta menunjukkan bahwa mayoritas penduduk yang mempunyai hak pilih tidak menjatuhkan pilihan pada ke dua kontestan. Penduduk Jakarta tidak perduli dan merasa tidak perlu ada gubernur. Haruskah salah satu kontestan itu (Fauzi Bowo) jadi gubernur?
Adakah bedanya kalau Jakarta tidak punya gubernur? Manfaat apa yang diperoleh dengan adanya gubernur? Tuangkan opini anda