___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, March 9, 2014

Membangkitkan Ekonomi Dunia Yang Lesu: Cina yang OD, Keracunan, Melesu dan Perlu Detox (Bagian I)



Sabtu pagi minggu lalu saya, seperti biasanya olah raga pagi di Senayan. Entah kenapa, teman saya Zul (sebut saja begitu namanya) pelatih nasional Kempo, mampir dan kongkow-kongkow bersama rekan-rekan alumni ITB. Dia sedikit mengolok-olokkan saya yang kebetulan agak lesu dan tidak bergairah karena sudah beberapa minggu pengeboran minyak yang saya kerjakan banyak masalah. Dia bilang saya perlu K2. Kemudian dia membandingkan badannya dengan otot-otot yang masih keras pada berumur 58 tahun. Ketika saya tanyakan apa itu K2, maka serentak dia dan teman-temannya yang berasal dari ITB Sipil, tertawa. Tadinya saya kira K2 adalah istilah teknik sipil, ternyata setelah saya google search, adalah ganja sintetis yang mulai dipopulerkan tahun 2008. Sebenarnya ganja sintetis, K2, kurang tepat untuk menaikkan gairah. Speed dan crack, atau cocain dan amphetamine lebih cocok untuk menaikkan gairah dan stamina, bukan ganja. Tetapi tak apalah. Karena bukan itu yang mau EOWI sampaikan. Bukan jenis upper seperti speed & crack yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, tetapi jenis all-arounders yang sifatnya membuat persepsi pemakainya terhadap realita menjadi terditorsi. Ganja, LSD, jamur halusinogen,  dan K2 termasuk ke dalam kategori ini. Yang menarik adalah adanya pertanyaan, apakah ini sekedar kebetulan, antara K2 dan Quantitative Easing (QE) punya banyak persamaan, bukan sekedar tahun kelahirannya saja, tetapi effek dan akibatnya terhadap pemakainya – yaitu distorsi terhadap realita.

Semenjak terjadinya krisis Subprime 2007 yang menjalar kemana-mana, sentral bank di semua negara yang terkena dampaknya, Eropa, Cina dan US memompakan liquiditas ke ekonomi dengan harapan bisa memulihkan ekonomi, mencegah pengempisan bubble lebih lanjut, mencegah terjadinya deflasi – momok yang paling ditakuti oleh bank-bank sentral. Pemompaan liquiditas dikenal dengan Quantitative Easing (QE). Sejak saat itu selama 7 tahun perlahan-lahan ekonomi diberitakan membaik (rasanya demikian).

Memang pemompaan liquiditas bisa memberikan rasa nyaman di beberapa negara/sektor. Tetapi dalam hal lowongan kerja di US dan di negara-negara Eropa, QE tidak menciptakan rasa nyaman. Bagi negara-negara yang berekonomi berbasis komoditi keras, bahan tambang, seperti Australia, Canada dan Indonesia, serta beberapa emerging market,  memang QE, seperti K2, bisa memberikan rasa nyaman dan hidup berjalan lebih menyenangkan. Paling tidak rasanya seperti itu. Dosis QE - K2 yang dipakai oleh Cina mempunyai dampak yang nampaknya agak berbeda pada pemakai lainnya, US dan Eropa. K2 Cina juga mempengaruhi negara-negara dan ekonomi yang spesifik, yaitu ekonomi yang berbasis komoditi. K2-QE, membuat aliran dana ke Cina cukup deras, masuk investasi terutama sektor properti dan infrastruktur. Sektor ini selanjutnya menyedot bahan baku yang membuat bubble di negara-negara berbasis ekonomi bahan tambang, seperti Australia, Canada, Indonesia dan lainnya.

Melihat demikian tangguhnya Cina dibandingkan negara-negara dengan ekonomi besar lainnya, orang mengatakan bahwa Cina akan menyaingi ekonomi US dan menjadi negara yang ekonominya terbesar di dunia dan akan mendominasi dunia. Opini ini mungkin benar......, tetapi EOWI, dengan sangat menyesal, harus tidak sepakat. Pendapat EOWI adalah bahwa Cina sedang dalam fasa puncak ekonominya yang akan menurun dalam jangka waktu yang panjang. Situasi Cina sekarang ini hampir sama dengan situasi Jepang di tahun 1980an. Pertumbuhan ekonominya sangat tinggi dan terlalu dipuja-puja. Cina mungkin masih ada waktu sampai tahun 2030 sebelum pertumbuhan ekonominya menjadi marginal seperti Jepang. Tetapi inipun harus diselingi dengan masa-masa krisis ekonomi sebagai pembukaannya. Dengan kata lain, Cina bukan tempat investasi dengan horizon waktu yang cukup lama (dalam hitungan dekade). Kita akan lihat nanti.

Hukum alam berlaku universal, sama untuk semua, apakah itu Cina, US, Indonesia atau Australia. Bahwa Cina tumbuh demikian cepatnya selama 3 dekade terakhir ini, bukan suatu mukjizat. Jepang dan Korea pernah mengalaminya beberapa waktu yang masih segar dalam ingatan banyak orang. Kalau anda hidup di Jakarta dan masih melihat kendaraan yang benama bemo, itulah produk Jepang diawal dari kebangkitannya, antara tahun 1960 – 1990. Bemo yang merknya Daihatsu, masih jelek, tidak bisa dibandingkan dengan mobil-mobil Jepang kelas atas saat ini, seperti Lexus, Toyota Camry atau Honda Accord. Pertumbuhan ekonomi Cina yang dimotori oleh eksport. Ini bisa dilihat dari besarnya ekspor Cina terhadap GDPnya yang meningkat sejak Deng Xioping membuka Cina (Chart - 1).




Tahun 2000 kontribusi perdagangan internasional Cina terhadap pertumbuhan ekonominya semakin meningkat. Hal ini dipicu oleh peningkatan konsumsi US. Menjelang krisis subprime di US, peran perdagangan internasional Cina mencapai puncaknya. Dengan kata lain ekspor produk-produk konsumen ke US (ekonomi terbesar di dunia), bisa bertahan sampai pesta konsumsi di US mereda di tahun 2007. Berhentinya pesta konsumsi di US seiring dengan meredanya kredit konsumsi di US.

Kalau orang mengatakan bahwa US banyak berhutang kepada Cina, pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi jika intonasinya ditekankan seakan US menjadi pengemis, adalah salah. US dan Cina mempunyai kepentingan bersama. US ingin bersenang-senang dengan kartu kreditnya (ungkapan saja), dan Cina ingin punya pekerjaan, dan pemerintahnya ingin agar rakyatnya sibuk.

Karena perdagangan dunia dilakukan dalam mata uang UD dollar, surplus perdagangan Cina membuat US dollar di Cina membanjir. Memang US merupakan partner dagang yang utama, tetapi asal dollar yang dipegang Cina adalah dari mana-mana. Membanjirnya US dollar dikalangan eksportir Cina pada akhirnya harus ditukarkan dengan Yuan, karena US dollar tidak digunakan sehari-hari untuk belanja, bayar gaji, beli barang-barang di Cina. Oleh sentral bank Cina akan dibersihkan/diserap dan ditukarkan dengan surat obligasi US. Jumlah surat obligasi US (US treasury) yang dipegang Cina meningkat terus sampai tahun 2010 - 2011. Setelah itu bergerak sideways disekitar 1 – 1.3 trilliun US$ (lihat Chart - 2). Pergerakan sideways dari kepemilikan US treasury oleh bank central Cina bisa dikatakan bahwa akumulasi US treasury berhenti. Lalulintas US dollar keluar-masuk menjadi seimbang, sehingga sentral bank Cina tidak perlu lagi melakukan membersihan pasar. Keseimbangan itu bisa dari neraca perdagangan yang seimbang, atau investasi atau campuran dari semua itu. Apapun yang menyebabkan menumpukan US treasury stagnan, yang pasti tahun 2014 seakan menjadi tonggak terjadinya perubahan arah ekonomi global. Ini akan kita lihat nanti.




Ketika pesta berhenti, yang tertinggal adalah sisa-sisanya. Yaitu mesin produksi dengan kapasitas berlebih. Koreksi dan penyeimbangan ulang serta creative destruction, adalah proses alamiah yang pasti terjadi pada hal-hal yang berlebih dan melampaui batas. Pemerintah Cina berusaha untuk menghentikan hal ini dengan memompakan liquiditas lebih banyak lagi. Yang terjadi adalah bubble yang semakin membengkak di sektor realestate dan perumahan. Disamping itu, pemerintah Cina membuat ke-tidak-bijaksanaan agar ekonomi Cina berubah dari ekonomi berbasis ekspor ke ekonomi berbasis konsumsi dalam negri. Ini didasari pada pemikiran agar kelebihan kapasitas produksi bisa dimanfaatkan oleh konsumsi dalam negrinya. Mungkin konsumsi Cina bisa ditingkatkan (persentagenya terhadap GDP) dengan pemaksaan. Pada kenyataannya, porsi konsumsi Cina terhadap GDP yang menurun selama masa boom ekonomi 2000 – 2007 (selama 7 tahun) dari 45% sampai 35%, kemudian setelah krisis subprime 2007 hanya mendatar di level sekitar 35% (lihat Chart - 3). Selama 6 - 7 tahun, dari 2007 – 2014, yang seharusnya ada koreksi, pertumbuhan Cina masih mengandalkan ekspor, bukan konsumsi dalam negri. Porsi konsumsi pada GDP masih sama. Dengan kata lain, usaha-usaha pemerintah Cina untuk memarakkan ekonomi melalui konsumsi belum berhasil. Mengubah kebiasaan perlu waktu. Dan masyarakat pelaku ekonomi secara alami akan melakukannya tanpa campur tangan pemerintah.




Kalau konsumsi rumah tangga Cina tidak meningkat (porsinya terhadap GDP) pada saat penggelontoran liquiditas, mana buktinya bahwa ada penggelontoran liquiditas, dan kemana larinya? Pengucuran kran liquiditas nampak pada peningkatan kredit swasta di Cina. Pertumbuhan kredit mencapai 35% di tahun 2009 – 2010, saat fase terakhir dari krisis subprime (lihat Chart - 4). Memang setelah itu (tahun 2010) pertumbuhan kredit agak mereda, tetapi masih cukup tinggi, di atas 15%. Jauh di atas pertumbuhan GDPnya yang berkisar disekitar 7.5%. Pernyataan “menciptakan pertumbuhan GDP 7.5% (US$ 617 milyar) dengan pengucuran kredit 15% (US$ 646 milyar) ” artinya setiap $1 kredit hanya bisa menciptakan pertumbuhan sebesar $0.96. Itu adalah kondisi yang sangat tidak effisien. Pada kondisi yang effisien, $1 kredit bisa menciptakan pertumbuhan $4. Pertumbuhan semacam ini biasanya pertumbuhan bubble. Untuk menggambarkan cepatnya pertumbuhan bubble kredit di Cina, hanya dalam kurun waktu kurang 4 tahun antara tahun 2010 - 2014, kredit di Cina naik dari 6 trilliun yuan ke 13 trilliun yuan. Atau 3 kali lipat jika dihitung sejak dimulainya pengucuran kredit secara besar-besaran tahun 2009. Padahal pertumbuhan GDP Cina tidak secepat itu. Artinya stimulasi yang banyak sekali dan tidak effektif. 



  
Chart - 4


Seperti di Indonesia, masyarakat Cina sangat mencintai rumah sebagai bentuk investasi. Harga rumah tidak akan pernah turun, menurut mereka. Bahkan saat ini, seorang pemuda akan mengalami kesulitan mencari jodoh kalau tidak punya rumah atau apartemen. Secara demografis, ada 10% dari pria Cina yang tidak akan pernah bisa menemukan pasangannya, karena jumlah pria melebihi populasi wanita. Harga rumah di Cina yang sudah tinggi sebelum krisis subprime di US, mengalami percepatan pelambungan sejak dikucurkannya stimulasi paska subprime. Bubble rumah di Cina meraksasa mencapai rekor. Harga rumah bisa mencapai 30 kali pendapatan (per tahun). Seperti di Beijing angka itu mencapai 30, Shanghai dan Guangzhou mencapai 28. Dibandingkan dengan London yang katanya mahal, hanya mencapai 15, Hongkong 17, Sydney dan Vancouver (Canada) hanya 11. Artinya, di Beijing, untuk membeli rumah, orang harus bekerja selama 30 tahun, membayarkan gajinya, tidak makan dan pergi ke kantor dengan jalan kaki. Ini belum termasuk membayar bunga cicilannya. Pertanyaannya adalah: “sanggupkah mereka membayar?”. Silahkan jawab sendiri.

Saya berkunjung ke Ordo di Inner Mongolia tahun 2007, menjelang krisis subprime di US. Pada saat itu Ordo merupakan kota yang megah dengan gedung-gedung apartemen yang tinggi dan kosong, sudah nampak membubble. Setelah pengucuran stimulasi ekonomi, bisa diduga akan lebih parah. Kota yang dibangun untuk populasi 1 juta orang, tetapi penduduknya hanya 70 ribu orang. Artinya 93% apartemen-apartemen itu kosong!!

Ditahun 2011, sebanyak 19 juta rumah/apartemen di bangun. Padahal hanya ada 5.8 juta pasangan yang membentuk rumah tangga baru. Andaikata pasangan semua pasangan yang 5.8 juta itu pindah dari rumah orang tuanya ke rumah sendiri, maka ada kelebihan 13.2 juta rumah (70%) yang tidak ditempati. Sebelum krisis subprime di US, sektor properti Cina sudah membubble. Antara tahun 2005 – 2008, sekitar 5 juta rumah/tempat tinggal dibangun per tahunnya. Padahal jumlah pasangan yang membentuk rumah tangga hanya 2.6 juta, separohnya. Dari catatan penggunaan listrik tahun 2012, ada 64 juta apartemen yang penggunaan listriknya NOL, artinya tidak ditempati dan tidak ditengok sama sekali. Ini adalah angka yang paling konservatif untuk mengukur kelebihan apartemen. Kalau masih ditengoki dan ditempati 1-2 hari per bulan, maka masih ada penggunaan listriknya! Rumah/apartemen yang bejumlah 64 juta unit ini tidak menghasilkan uang sewa. Yang ada hanya ongkos perawatan, depresiasi, bayar bunga dan bayar cicilan pokok.

Banyaknya apartemen kosong tidak lepas dari prilaku masyarakat Cina. Memang, lebih dari 50% dari rumah/tempat tinggal/properti yang dibeli masyarakat/pelaku bisnis di Cina adalah untuk investasi (baca: spekulasi dengan leverage kredit). Untuk orang waras, sulit dimengerti. Karena kenaikan harga rumah harus lebih tinggi dari bunga pinjaman bank dan depresiasi. Apalagi dengan jumlah 64 juta unit ini dan 2.5 juta pembentukan keluarga per tahunnya, maka perlu waktu 26 tahun untuk menghabiskan stok yang ada ini. Mereka tidak perlu membangun unit baru, cukup menghabiskan unit yang ada, dengan catatan bahwa semua pasangan keluarga tidak mau lagi mendiami/mewarisi rumah orang tua mereka.

Ordo bukan satu-satunya kota hantu, masih ada lagi Tianduncheng yang merupakan gado-gado antara Paris dan Ndiwek. Dari satu sudut Tianduncheng nampak seperti Paris yang kosong (lihat foto di bawah). Dari sudut yang lain seperti Paris ditengah-tengah Ndiwek (kampungnya para anggota Srimulat). 
 

  Paris yang kosong? Bukan......, ini Tianduncheng



Tianduncheng,  seperti Paris di tengah ladang labu. Ndiwek masih lebih rame.


Kalau Tianduncheng adalah Paris di tengah-tengah ladang labu, EOWI pernah memuat foto-foto Disneyland Cina di tengah-tengah ladang jagung. Atau New South China Mall, mall raksasa di Dongguan (terbesar ke-2 di Asia pada waktu itu) yang lengkap dengan taman hiburan berserta kanal-kanalnya seperti Venesia, tetapi........kosong. Ada lagi yang belum parnah EOWI tampilkan, yaitu Chengdu’s New Century Global Center. Dibangun oleh milyader Deng Hong, Chengdu’s New Century Global Center, merupakan gedung yang mempunyai luas lantai terbesar di dunia saat ini. Global Center ini merupakan shopping mall. Disamping shopping mall, tersedia juga perkantoran, ruang konferensi, universitas, pusat komersial, beberapa hotel, “perkampungan”, tempat skating dan perahu bajak laut. Mau ke pantai? New Century Global Center punya pantai buatan lengkap dengan LED-TV yang sangat besaaaar (besat sekali), untuk memberikan illusi pemandangan laut seakan anda berada di pantai yang sebenarnya. Saya belum pernah ke sana. Tetapi begitulah ceritanya.

Kisah New Century Global Center sangat tragis dan cermin dari landasan pertumbuhan ekonomi kuat dan korup. Sebagian dari New Century Global Center dibuka di awal 2013 (shopping mall nya). Tidak lama berselang, disana diadakan konferensi Global Fortune 500 pada bulan Maret 2013. Konferensi ini kemudian dipindahkan je hotel Shangri-La, setelah pendirinya, yaitu Deng Hong ditangkap yang berwajib dan menyusul kemudian sekitar 50 pejabat lokal dengan tuduhan korupsi. Sedianya New Century Global Center ini dibuka pada bulan Agustus 2013, tetapi kemudian diundur, karena penyelidikan korupsi ini.

Pembangunan-pembangunan yang pesat di China diwarnai dan dimotori oleh korupsi, pejabat pemerintahan (daerah) yang berkolusi dengan swasta. Kombinasi ini merupakan kombinasi yang melahirkan produk-produk dan struktur ekonomi yang rapuh. Latar belakang pembangunan suatu barang produksi bukan didasari oleh pertimbangan ekonomi, melainkan pertimbangan bagaimana seorang pejabat bisa mengutil dan mengkorupsi sebagian dari dana dan kapital yang ada. Oleh sebab itu apapun yang diadakan/dibangun akan menjadi barang yang mubazir dan akan merugi. Ini sama saja dengan menebar bibit bencana ekonomi.

EOWI menganjurkan pembaca untuk browsing topik-topik yang dibahas di atas: Ordo, South China Mall, New Century Global Center, Disneyland China, Tianduncheng untuk lebih menyakinkan lagi.

Bersambung.
 

 
Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Saturday, February 15, 2014

Membangkitkan Ekonomi Dunia Yang Lesu: “QE Yang Gagal”



Semenjak terjadinya krisis Subprime 2007, sentral bank di semua negara yang terkena dampaknya, Eropa, Cina dan US memompakan liquiditas ke ekonomi dengan harapan bisa memulihkan ekonomi, mencegah pengempisan bubble. Pemompaan liquiditas dikenal dengan Quantitative Easing (QE). Sejak saat itu selama 7 tahun perlahan-lahan ekonomi diberitakan membaik dan usaha the Fed dicitrakan berhasil. Salah satu tolok ukurnya adalah angka pengangguran di US menurun dari 10% menjadi hampir 6.5% setelah 6 - 7 tahun menjalankan QE (lihat Chart-1).

 
Chart-1

Cerita akan dimulai dari krisis DotCom atau pecahnya tech-bubble tahun 2000. Tech bubble di bursa Nasdaq tahun 2000 yang diakhiri dengan pecahnya bubble saham-saham teknologi sebenarnya merupakan serentetan krisis-krisis pecahnya bubble di dunia. Jadi sebenarnya, pecahnya bubble saham teknologi berada dalam masa serentetan krisis dari tahun 1997 (Krisis Asia), krisis Russia (1998), krisis Long Term Capital Management (LTCM, 1998 yang dilikuidasi tahun 2000), meledaknya saham Teknologi (2000) dan masih berlanjut dengan krisis Enron Creative Accounting (2001) yang pada saat yang sama dengan kejadian 9-11, pengeboman Twin Towers di New York.

Sampai meletusnya tech bubble, the Fed tidak banyak turun tangan. Bunga pinjaman the Fed tidak pernah diturunkan sampai di bawah 4.5% (lihat Chart-2). Baru setelah krisis melanda US, dengan meletusnya tech-bubble, the Fed, Alan Greenspan, meresponsnya dengan menggelontorkan liquiditas. Kejadian yang beruntun di US, meletusnya tech-bubble, krisis pengeboman 9-11 (2001) dan krisis creative accounting Enron (2001), dijadikan dalih untuk memompakan liquiditas ke ekonomi secara aggresif. Suku bunga the fed diturunkan dari sekitar 6.5% sampai di bawah 2% hanya dalam waktu 1 tahun, kemudian diturunkan lagi ke 1% dan dipertahankan di sana sampai tahun 2004.


 Chart - 2


 Ternyata QE tahun 2000 – 2004 versi Alan Greenspan tidak mencegah terjadinya krisis baru yang lebih besar. Tahun 2007 krisis sub-prime meletus, yang kemudian direspons dengan cara yang sama oleh the Fed, yaitu dengan menggelontorlan liquiditas. Suku bunga the Fed diturunkan hampir mendekati nol. Supply uang M1 meningkat tajam sejak tahun 2009 (Chart-3), hutang pemerintah untuk biaya stimulus naik tajam dari sekitar $ 9 trilliun sampai hampir US$ 17 trilliun selama 5 tahun (2009 – 2014, Chart-4) setelah krisis sub-prime.

The Fed/pemerintah US mempunyai momok baru, yaitu deflasi. Ben Bernanke yang dipilih menjadi ketua the Fed tahun 2006 (1 tahun menjelang krisis sub-prime) dijagokan sebagai penakluk momok deflasi, karena bidang spesialisasi adalah deflasi tahun 1930an.

Chart - 3




 Chart - 4



 Angka Pengangguran vs Angka Ketenagakerjaan

Itulah tadi latar belakang dan sejarah rentetan krisis-krisis moneter/ekonomi yang melanda dunia dalam kurun waktu lebih dari 1.5 dekade ini. Setelah 7 tahun dari krisis sub-prime dan 7 tahun QE bagaimana keadaan dunia. Bagaimana hasilnya. Apakah the Fed dan bank-bank sentral berhasil menaklukan momok deflasi dan mengembalikan lapangan pekerjaan rakyat US?

Media banyak yang memberikan applause the Fed dan bank-bank sentral dan menganggap mereka sebagai penyelamat. Apakah rakyat, masyarakat US juga memberikan appaluse? Hal ini yang akan kita bahas kali ini. Sorotan kita, dibatasi di US saja dan US sebagai panggung ekonomi dunia, bisa dianggap sebagai proxy negara-negara yang terkena krisis dan melakukan pola QE yang sama.

Di bidang peluang kerja, kalau kita lihat Chart-1, kurva angka pengangguran di US, maka kita akan berpikir bahwa QE telah membawa kembali lapangan-lapangan kerja ke dalam ekonomi. Angka pengangguran turun dari sekitar 10% di puncak krisis sub-prime, menjadi sekitar 6.5% dalam waktu 4 tahun. Mungkin berita yang disodorkan the Fed memang selektif dan dikemas dengan baik. Sebab the Fed juga punya data lain yang menggambarkan situasi ketenaga-kerjaan atau kesempatan kerja yang kemasannya berbeda. Chart-5 berikut ini menunjukkan jumlah (% dari penduduk) orang termasuk dalam tenaga kerja, yang disebut Civilian Labor Force Paticipation yang artinya adalah orang yang bekerja ditambah dengan orang yang menganggur sementara.

Chart - 5


Chart-5 ini bercerita kenyataan bahwa sejak krisis DotCom tahun 2000, persentase orang yang bisa memperoleh pekerjaan masih terus mengalami penurunan. Artinya ke(tidak)bijaksanaan the Fed (sejak jamannya Alan – Bubble –Greenspan) dan meningkatnya hutang pemerintah US juga tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja. Apapun sebabnya peluang kerja semakin kecil di US.


 Angka Pengangguran vs Pendapatan Rumah Tangga

Dengan tolok ukur kemakmuran lain juga mengatakan hal yang sama. Penghasilan rumah tangga (household income) sejak tahun 2000 (sejak jamannya Alan – Bubble –Greenspan) trendnya adalah menurun (Chart-6). Puncak kemakmuran US terjadi pada tahun 2000, pada saat DotCom bubble pecah. Semua usaha the Fed selama tahun 2000 – 2014 sia-sia dalam arti tidak memberikan dampak kemakmuran kepada rakyat US. Penghasilan rumah tangga US saat ini sama dengan di tahun 1994 (20 tahun lalu). Trend ini kami prediksi di US akan berlanjut sampai tahun 2020 nanti.


Chart - 6

Kalau melihat tren pendapatan rumah-tangga yang menurun yang sejalan dengan angka pengangguran, maka ada 2 kemungkinan. Pertama angka pengangguran adalah bohong atau (kedua) gaji turun. Chart-7 menunjukkan bahwa upah di US naik. Silahkan simpulkan sendiri.

Chart - 7

Bisnis Tidak Kembali

Saat ini disamping membaiknya (menurunnya) tingkat pengangguran, ada beberapa signal bahwa harga properti realestate mulai membaik, tetapi, EOWI percaya bahwa hal ini hanyalah dead-cat bounce. Konsumsi di US tidak akan kembali menguat sampai 5 tahun ke depan. Lihat saja Jepang, dengan QE sepanjang tahun 1990 – 2014, yang menyebabkan hutang pemerintah Jepang mencapai 220% dari GDPnya, tidak bisa membangkitkan bubble properti Jepang dan konsumsi Jepang seperti tahun-tahun 1980an. Kenapa (ketidak)-bijaksanaan yang sama bisa berdampak berbeda di US atau di Cina atau dimana saja?

Salah satu indikator maraknya ekonomi ialah velocity of money, yang mencerminkan berapa kali sebuah dollar yang disuntikkan ke dalam ekonomi berpindah tangan. Chart-8 menunjukkan penurunan money velocity, artinya uang yang disuntikkan ke dalam ekonomi, tidak berputar, melainkan ngendon di bank komersial sebagai cadangan modal bank. Bank tidak menyalurkan kredit dan konsumen/bisnis tidak meminta pinjaman.

Chart - 8

Bubble Bahan Komoditi Masih Mengempis

Di sudut lain, permintaan bahan-bahan dasar juga mengalami penurunan. QE yang digelontorkan oleh the Fed tidak bisa menahan pengempisan bubble di sektor komoditi keras. Ini tercermin dengan melorotnya harga bahan tambang dan bahan dasar dari tambang. Harga nikel, tembaga, besi, timah, batu bara, perak mengalami penurunan sejak tahun 2011. (Chart-9 sampai Chart-11). Bahkan cadangan/stok nikel di LME London terus meningkat sejak 2 tahun terakhir ini (Chart-12). Apakah ini karena produksinya melebihi permintaan alias kelebihan produksi.

Chart - 9



Chart - 10


 Chart - 11


Chart - 12

Catatan Akhir

Rupiah mengalami penguatan, dari Rp 12,250/US$ ke Rp 11,800/US$ pada saat artikel ini diturunkan. Perekonomian dunia akan membaik katanya. Dan uang masuk kembali ke Indonesia.

Janet Yellen menduduki kursi the Fed, bank sentral US yang katanya akan meneruskan QE.

Cina akan melakukan reformasi struktur ekonominya dari ekonomi berbasis ekspor ke ekonomi berbasis konsumsi dalam negri.

Akankah semua ini berhasil? Akankah penguatan rupiah berlanjut? Akankah ekonomi dunia membaik?

Sampai nanti, catatan berikutnya.........



Jakarta 15 Februari 2014


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, January 31, 2014

US Dollar di Tahun 2014




Selamat jumpa lagi pembaca EOWI. Sudah lama blog ini tidak aktif. Dengan 9 ekor anjing besar (doberman, golden retriever dan Doberman-Golden Retriever mix) waktu saya praktis tersita untuk mereka, setelah pengasuh (pemelihara) mereka keluar.  Beberapa kali ada yang mengisi lowongan ini, tetapi hanya bisa bertahan 3-4 bulan. Waktu sepanjang itu hanya cukup untuk melatih mereka memelihara anjing. Karena lama tidak ada yang mendisiplinkan mereka, maka sekarang anjing-anjing ini agak nakal dan susah dikontrol. Apa lagi pada musim hujan ini, saya mengalami kesulitan mengolah-ragakan mereka karena seringnya hujan. Sebagai konsekwensi, mereka buang air tidak pada tempatnya, hyperaktif, melampiaskan energi dan frustrasi mereka pada barang-barang yang ada. Pagar-pagar, pintu-pintu rusak karena mereka.

Beberapa waktu (beberapa tahun lalu), saya pernah mengatakan bahwa krisis global berikutnya setelah krisis subprime mortgage dari US dan disusul oleh krisis perumahan dari Eropa, harga US$ akan mencapai Rp13,000. Kisarannya antara Rp 13,000 – Rp 17,000 per US$. Nampaknya US$ akan sangat mudah menembus level itu. Krisis belum mulai (mungkin Indonesia sudah mencuri start) rupiah sudah terpuruk ke level Rp 12,250 per dollar US.

Kwartal II tahun 2013 lalu saya melakukan shorting terhadap rupiah dengan jalan meminjam rupiah ke bank, agunan deposito dollar. Di kalangan perbankan cara ini dikenal dengan nama kredit back-to-back. Dengan kenaikan nilai US$ terhadap Rp sekitar 25%, masih ada keuntungan yang cukup lumayan. Adapun yang memicu saya melakukan shorting ini, bahwa saya melihat bottom dari US$ thd Rp sudah lewat, yaitu di tahun 2011 pada lewel Rp 8400an. Itu dan beberapa hal lain seperti penurunan harga emas dan bahan tambang serta perlambatan di Cina, membuat saya agak aggressif untuk shorting rupiah. Saya termasuk yang terbuka tentang investasi yang saya lakukan. Jadi beberapa teman saya tahu move saya ini. Entah apa sebabnya, beberapa diantara mereka mencari/pindah kerja yang bergaji dollar. Perusahaan saya di tahun ini kehilangan 2 senior operation geologist, 2 wellsite geologist, 2 drilling superintendent. Jumlah itu cukup besar bagi sebuah perusahaan yang kecil.

Menjelang akhir tahun, ketika mengamati chart US$-Rp, saya melihat ada beberapa hal yang membuat saya agak ragu mengenai perjalanan koreksi rupiah dan targetnya terutama kalau dikaitkan denga Idiot wave. Saya tidak terlalu percaya dengan Idiot wave, sehingga saya sering mencari alasan fundamentalnya. Untuk kasus US$/Rp ini ada satu pertanyaan penting yang mendasar dan penting sekali yang bisa ditarik dari chart US$-Rp di bawah ini. Bisakah US$ mencapai kisaran Rp 16,000 – Rp 19,000 dalam 24 bulan mendatang? Fundamental apa yang mendasarinya? Level ini adalah level wave-3 (lihat Chart-1). Ini masih wave-3 lho. Masih ada wave-5.


Teknikal

Secara teknikal Idiot wave, US$ mencapai titik bottomnya di Rp 8,419. Kemudian rally wave-1 sampai ke Rp 11,442. Wave-2 berakhir di Rp 11,066 atau 12.5% retracement. Kemudian rally berlanjut sampai artikel ini diturunkan (Rp 12,250).

Pengintepretasian Idiot Wave seperti ini tidak ideal dan menimbulkan keraguan. Keraguan pertama: Fibonacci retracement 12.5% adalah sangat jarang. Biasanya 38% atau lebih besar lagi (50% atau 62%).

Kalau hitungan Idiot Wave ini benar, maka wave-3 bisa membawa US$ ke Rp 16,000 – Rp 19,000. Besarnya wave-3 bisa mencapai 1.65 x wave-1 atau 2.63 x wave-1.

Kemudian, setelah wave-4 yang katakanlah 50% retracement, akan ada wave-5, yang punya potensi membawa US$ ke level Rp 17,000 sampai Rp 18,500 atau Rp 20,000.

Menurut asumsi saat ini, US$-Rp sudah pada wave-3. Asumsi ini bisa salah, dan bisa saja saat ini US$-Rp masih pada wave-1. Kalau demikian halnya, maka koreksi wave-2 bisa membawa US$-Rp ke level Rp 10,000 – Rp10,500. Waktu akan memastikannya.


















Chart - 1



Long term chart US$ vs. Rp juga sudah menunjukkan bahwa sudah saatnya US$ akan naik terhadap rupiah (lihat Chart-2). 


  
















Chart - 2


Fundamental

Pada dasarnya saya tidak suka analisa teknikal, karena analisa seperti ini sejatinya bukan analisa melainkan utak-utik/gothak-gathuk grafik yang sama sekali tidak saintifik. Oleh sebab itu, analisa fundamental jauh lebih penting.

 Pada liburan Natal dan Tahun Baru ini, yang kebetulan hujan terus, saya punya waktu luang dan sempat melakukan riset fundamental sedikit. Fokusnya pada makro ekonomi Indonesia.


Pemerintah akan Roni

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan larangan ekspor bijih tambang dan batu bara. Bijih tambang tidak boleh diekspor lagi, dan harus diolah di dalam negri menjadi bahan setengah jadi untuk bisa diekspor. Pelarangan ekspor bijih merupakan amanat Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara. Menindak lanjuti undang - undang ini, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No 7 'Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 29/M-Dag/Per/5/ 2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan. Dan untuk tahun 2014 ini pemerintah akan tegas tidak menunda pemberlakuan larangan ekspor bijih tambang.

Pemerintah, seperti biasanya, terlambat. Dulu beberapa kali pemerintah menaikkan harga eceran BBM 3 bulan sebelum harga minyak mentah dunia turun/anjlok. Keputusan itu seharusnya dilakukan jauh hari sebelumnya. Demikian juga keputusan pemerintah kali ini. Harga hard commodities, logam dasar akan turun lagi. Tidak hanya itu, ada peluang yang cukup besar bahwa di petengahan atau penghujung tahun 2014, dunia akan mengalami ressesi lagi (Ini cerita lain yang akan dibahas lain kali).

Besar peluangnya pemerintah akan roni, robah-robah niat. Ini hanya roni, bukan roni sukardi (robah-robah niat sukar ditebak). Karena kami di EOWI sudah (dan mudah) menebaknya. Pemerintah akan membatalkan sebagian atau seluruhnya dari aturannya. Mungkin tidak secara resmi, tetapi bisa juga melalui pembiaran, membiarkan perusahaan-perusahaan pertambangan mengekspor bijih tambang. Serta tidak akan ada tuntutan.


Apa ini Pembantaian Rupiah dan Para Penabung?

Kenapa EOWI berani menebak demikian? Alasannya karena kalau keinginan pemerintah ini diterapkan, maka tindakan ini identik dengan bunuh diri. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Ekspor bijih tambang ini, menurut data statistik adalah sekitar US$ 20 milyar tahun 2013. Jadi, kalau larangan ekspor ini dipaksakan maka pemasukkan US$ 20 milyar akan menguap. Sederhana saja. Kata pemerintah, realisasinya mungkin tidak US$ 20 milyar tetapi hanya US$ 6 milyar. Pertanyaannya adalah, apakah US$ 20 atau US$ 6 milyar itu banyak atau tidak?

Berikut ini (Chart-3) adalah chart yang berisi komponen Transaksi Berjalan dari Indonesia. Ada 2 komponen yang cukup besar, yaitu transaksi dari perdagangan Barang dan Pendapatan yang masing-masing bisa mencapai di atas US$ 5 milyar.

Sebelum tahun 2012, keduanya cukup berimbang dalam arti defisit Pendapatan bisa ditutup dengan surplus Perdagangan Barang. Sejak tahun 2012, dari kedua komponen ini, nampak jelas bahwa surplus neraca perdagangan Barang mengalami penyusutan dan menjadi defisit tetapi komponen defisit Pendapatan relatif tetap (tidak banyak berubah).



















Chart - 3


Untuk lebih jelasnya, EOWI mencoba untuk menerangkan komponen apa saja yang ada di dalam Perdagangan Barang dan Pendapatan.

Komponen utama dari Perdagangan Barang, intinya adalah ekspor dan impor barang termasuk barang tambang – migas dan non-migas, komoditi pangan, dsb. Kita tahu bahwa Indonesia adalah net importer migas, net importer pangan dan bahan baku pangan. Indonesia mamang bukan importir tahu, tempe, ayam dan telor ayam. Tetapi bahan bakunya, yaitu kedele dan pakan ternak adalah impor. Indonesia juga importer bawang putih, beras dan buah-buahan. Disamping itu, Indonesia juga mengekspor bijih tambang, seperti bijih nikel, tembaga, dan batu bara.

Harga barang yang diimpor, pangan misalnya, relative tetap atau turun sedikit. Sedangkan harga bahan tambang, sejak tahun 2011 mengalami penurunan, seiring dengan melambatnya ekonomi Cina (dan global) akan berlanjut terus dengan kecepatan, mungkin akan lebih kencang. Sebagai contohnya adalah harga nikel dan tembaga (lihat Chart-4 dan Chart-5 di bawah).




















Chart - 4



  
















Chart - 5


Tentu saja menurunannya harga komoditi-komoditi keras ini akan mempengaruhi harga bijihnya. Melambatnya perekonomian Cina dan global, akan menyurutkan permintaan bahan komoditi keras serta bahan non-pangan. Ekspor Indonesia yang terpukul tidak hanya bijih tambang dan batu bara saja, tetapi juga minyak sawit (bahan dasar sabun dan chemical lainnya). Orang bisa menunda pembelian mobil, pembelian rumah, perbaikan rumah dan barang-barang sekunder lainnya, tetapi orang tidak bisa menunda makan sampai 1-3 tahun ke depan atau tidak pergi ke tempat kerja (yang memerlukan bahan bakar). Jadi ekspor bahan pokok tetap bertahan. Inilah yang membuat surplus perdagangan berubah menjadi defisit.

Komponen terbesar kedua dari Transaksi Berjalan berikutnya adalah Pedapatan. Ini mempunyai komponen Pembayaran Deviden dan Bunga yang jumlahnya tidak dominan, dan yang dominan adalah Pendapatan Investasi Asing Langsung (perusahaan asing). Kalau ada perusahaan Indonesia, misalnya Ayam Suharti atau Wong Solo, yang punya cabang di Congo misalnya, maka pendapatan perusahaan itu di Congo akan dibawa ke Indonesia, dan bisa memperbaiki neraca Transaksi Bejalan. Tetapi jika banyak perusahaan asing di Indonesia yang membawa keluar keuntungannya, maka akan mempunyai nilai negatif terhadap Transaksi Berjalan. Dan saat ini per tahunnya besarnya sekitar US$ 26 milyar.

Chart-3 kurang informatif, dalam arti sulit melihat bahwa defisit Transaksi Berjalan semakin melebar. Chart-5 di bawah ini bisa memperlihatkan lebih jelas bahwa defisit Transaksi Berjalan Indonesia mulai pada kwartal III 2011. Ini hampir berbarengan dengan depresiasi rupiah (Chart-1).



















Chart - 6


Pangan Dalam Sorotan

Tahun 2013 diakhiri dengan kejutan cuaca. Salju melanda Vietnam, musim dingin parah melanda Amerika Serikat. Dan tahun 2014 diawali dengan kejutan juga. Di Indonesia banjir melanda dimana-mana. Australia dilanda gelombang panas sedangkan disudut lain USA dilanda gelombang dingin. Banjir tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga Brazil penghasil kedele.

Dengan adanya banjir di Indonesia, apa dampaknya yang paling nyata. Harga mie instant naik. Karena sumbangan-sumbangan korban banjir biasanya mie instant. Tentu saja ini hanya kelakar saja. Banjir menyebabkan banyak daerah pertanian rusak. Tanaman pangan rusak. Jadi untuk tahun 2014, bisa dikatakan 1 panen gagal atau tertunda. Disini belum ada asumsi bahwa panen berikutnya juga gagal gara-gara musim kemarau yang ekstrim. Kalau cuaca ekstrim di awal tahun, disusul dengan cuaca ekstrim di pertengahan tahun, maka genaplah sudah alasan untuk mengimpor pangan.

Saya tidak meramalkan harga bahan pangan dunia akan naik. Walaupun demikian, tetap saja, Indonesia harus mengimpor pangan. Satu alasan lagi bagi rupiah untuk terdepresiasi karena melebarnya defisit transaksi pembayaran.


Transaksi Modal & Finansial

Sampai saat ini yang kita bahas hanyalah transaksi berjalan, yang intinya perdagangan barang dan jasa, serta penerimaan/pengeluaran di luar investasi dan permodalan. Masuknya dana asing ke bursa saham, misalnya, tidak dimasukkan dalam kelompok transaksi berjalan. Aliran dana yang berkaitan dengan investasi, dikelompokkan sendiri di dalam Transaksi Modal dan Finansial. Misalnya ada dana masuk dari luar negri untuk dibelikan/diinvestasikan ke Obligasi Republik Indonesia (ORI) atau saham, karena dana ini harus dirupiahkan maka akan memicu kenaikan permintaan atas uang rupiah. Dengan demikian akan memberikan dampak penguatan nilai rupiah. Dan sebaliknya, jika dana investasi  asing yang masuk berkurang atau malah keluar dari Indonesia, maka akan memberi tekanan terhadap nilai rupiah.

Misal lain, seandainya perusahaan-perusahaan asing INCO, Newmont, Freeport, atau Antam memperoleh pinjaman luar negri untuk membangun smelter seperti yang ditetapka pleh pemerintah, mereka akan memasukkan dana investasi ke Indonesia. Ini akan memberi dampak positif bagi rupiah. Tentu saja pertanyaannya adalah, apakah pemerintah bisa memaksa mereka? Pemerintah bisa memaksa melalui negosiasi ulang kontrak pertambangan perusahaan-perusahaan ini, tetapi tentu ada kompensasinya. Membangun smelter atau melakukan ekspansi operasi dimasa harga produk yang akan dijual sedang mengalami penurunan, bukanlah ide yang baik. Harga komoditi tambang sedang turun dan belum stabil. Lihat saja, laba Inco misalnya turun hampir 80% untuk tahun 2013 (link). Perusahaan-perusahaan ini juga harus melakukan pengurangan produksi karena turunnya permintaan. Apakah tindakan ekspansi masih waras? Pada akhirnya pemerintah juga yang akan menerima kerugian.


Kalau dilihat besaran neraca transaksi modal/investasi mencapai $ 10 milyar selama beberapa tahun belakangan ini. Dan puncaknya ada pada kwartal IV 2012. Apakah tren ini akan berlanjut pada kwartal-kwartal ke depan?



















Chart - 7


Kita tidak perlu ribut berdebat, coba anda tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Apakah defisit Transaksi Berjalan ini akan berbalik menjadi surplus untuk tahun 2014? Kalau berbalik, alasannya kenapa?
  2. Apakah depresiasi/appresiasi nilai rupiah ini berkaitan dengan defisit/surplus Transaksi Berjalan? Kalau demikian, bagaimana nasib rupiah di tahun 2014?
  3. Apakah akan ada peningkatan dana masuk untuk investasi di Indonesia untuk tahun 2014 dan 3 tahun ke depan?


Catatan: artikel ini mulai ditulis pada awal Januari 2014 dan terselesaikan di akhir Januari 2014, sehingga banyak perkembangan yang sudah terjadi dalam selang waktu tersebut.


Jakarta
Januari 2014



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.