___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sunday, May 8, 2011

(No.25) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21





(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)


Sebelum kita melanjutkan dongeng PPUPCZF (Penipu, Penipu Ulung, Politikus dan Cut Zahara Fonna) ada baiknya kita mengkaji dua komentar pembaca EOWI. Kemungkinan komentar ini datangnya dari orang yang sama.

Begini komentarnya:

Anonymous Bapaknya Kwik said...

Bukan sosialis saja, Kebebasan yang digaungkan EOWI juga banyak mafsadatnya, (mafsadat = kerusakan atau akibat buruk yg menimpa seseorang (kelompok) krn perbuatan atau tindakan pelanggaran hukum: perjudian dapat menimbulkan -- berupa kemiskinan, kemalasan, dan kejahatan lainnya) khususnya bagi negara miskin dan berkembang. Jika laissez faire diterapkan maka hukum pasar (red;rimba) akan berlaku juga, yang kuat menindas yang lemah. Dan orang seperti EOWI ini tetap berlagak individualis dengan mengatakan pada si miskin "salah kamu sendiri miskin, kenapa tidak usaha. Buanglah kemalasan dari dirimu dan gunakan seluruh hidupmu untuk bekerja tak ada yang akan menolong selain dirimu sendiri, itu kata tuhan!"


Disisi lain EOWI menutup mata dari cara sistem ini bekerja. Apa pengecer di kolong jembatan itu disuruh bertarung dg carrefour, alfa n giant?? Apa petani itu harus dipaksa menurunkan harga seperti produk2 cina. Saya yakin anda tak akan setuju dg proteksionisme, tapi apa David mau ttp dibiarkan bertarung dg Goliath sendirian??


Ini salah 1 faktor saja, belum yang lain. Jika anda mau cari yang lain, silakan liat di Emas Pura sana yang kebanyakan Rakyatnya masih tidak tau cara memakai baju. Egois!


Anonymous MuridKwik said...

O, jadi menurut pandangan anda orang2 Papua (+rakyat lainnya) harus berpangku tangan melihat gunung emas mereka "dicuri" para kapitalis dan birokrat penghisap darah??!!. Salah sendiri mereka miskin, salah sendiri mereka ttp bodoh, slh sendiri mereka ttp pakai koteka. mau miskin kek, mampus kek, EGP. Mau pinter, sekolah! mau kaya, kerja! dg menipu, korupsi, terserah.. yang penting jangan karena "ditolong" orang lain apalagi negara karena itu bertentangan dg filosofi kami. Inilah wajah2 kapitalis egois yang ditunjukkan IS. Klo pemimipin seperti Anda yg miskin tambah miskin (mungkin sgt diharap kematiannya) yg kaya tambah kaya, Sungguh individualis!

Hari ini kita agak religious sedikit dalam menanggapi komentar pembaca EOWI. Karena disamping data, EOWI menyukai juga nasehat dan petunjuk dari Tuhan, Allah yang (kata orang Indonesia) yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. EOWI lebih menyukai sebutan Tuhan yang Paling Pengasih dan Paling Penyayang. Kata “Maha” yang diberikan oleh orang-orang Indonesia membuat artinya menjadi rancu. Seperti pada kata Maha Esa, mungkin maksudnya adalah bukan 0.99999 atau 1.0001. Entah apa arti kata “Maha” disitu karena esa sendiri berarti 1.00 dengan jumlah significant figure lebih dari 50 (maksudnya 1.00000000....... sampai nolnya 49 dibelakang desimal).

Kembali kepada topik semula. Ada suatu kisah teladan yang dicontohkan Tuhan yang Paling Pengasih dan Paling Penyayang di dalam Quran, surah Maryam atau Maria.

[19:22] Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.


[19:23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan".


[19:24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.


[19:25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,


[19:26] maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Dalam kisah ini Maryam atau Maria, sendirian, ditempat terpencil, sakit, lemah karena baru saja melahirkan bayi. Untuk membayangkan kondisi Maria ini, EOWI mempersilahkan pembaca untuk menjenguk rumah sakit bersalin dan melihat para ibu yang habis melahirkan. Maria mungkin lebih buruk kondisinya karena ia melahirkan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Dalam kondisi lemah dan lapar, yang Paling Pengasih dan Paling Penyayang mengirimkan malaikatnya hanya sekedar untuk menyuruh Maria menggoyang-goyang pohon kurma untuk merontokkan buahnya. Tanggung amat sih Tuhan Paling Pengasih dan Paling Penyayang ini? Bukannya menyuruh malaikat membantu memetikkan korma dan memberikan makanan, kok hanya menyuruh Maria mengambil buah kurma dari pohonnya. Bayangkan bagaimana kondisi yang masih lemah dan kesakitan disuruh melakukan kerja yang berat. Menggoyang pohon kurma bukanlah pekerjaan yang ringan.

Hikmah dari kisah ini mungkin Sang Paling Pengasih dan Paling Penyayang hendak menunjukkan makna Paling Pengasih dan Paling Penyayang (Maha Pengasih dan Maha Penyayang kata orang banyak). Kata Paling Pengasih dan Paling Penyayang berarti dalam memberi rizki tidak sampai pada menyodorkan makanan dihadapan. Orang masih dituntut untuk berusaha, walaupun dalam kondisi lemah dan kesakitan.

Kita boleh bertanya-tanya, apa jadinya kalau Maryam menolak perintah Tuhan itu dan enggan menggoyang-goyang pohon kurma yang tentu saja pekerjaan berat baginya yang masih lemah dan kesakitan. Tentu saja Maryam akan mati kelaparan, karena kelaparan dan perdarahan yang memburuk. Bisa disimpulkan bahwa menurut Tuhan yang Paling Pengasih dan Paling Penyayang, kerja dan berusaha adalah wajib bagi semua orang baik yang kuat atau yang lemah kalau mereka mau hidup.

Orang-orang sosialis seperti Kwik Kian Gie, mungkin menganggap Tuhan yang seperti ini masih kurang pengasih dan kurang penyayang. Oleh sebab ia tidak memilih Islam sebagai agamanya. Mungkin mereka menginginkan pemerintah lebih pengasih dan penyayang dibandingkan Tuhan. Tentu saja tidak bisa. Tuhan tidak akan suka diungguli dalam sifat pengasih dan penyayangnya oleh Pemerintah. Banyak usaha-usaha semacam ini gagal dalam mengentaskan kemiskinan. Eksperimen seperti ini pernah dicoba pada suku-suku Indian kulit merah Amerika dan suku Aborigin Australia. Dan hasilnya….., pembaca bisa melihat sendiri.

Pada komentar di atas ada pernyatan/pertanyaan yang menarik: Apa pengecer di kolong jembatan itu disuruh bertarung dg carrefour, alfa n giant?? Apa petani itu harus dipaksa menurunkan harga seperti produk2 cina. Saya yakin anda tak akan setuju dg proteksionisme, tapi apa David mau ttp dibiarkan bertarung dg Goliath sendirian??

Ini adalah penyederhanaan situasi. Seakan yang ada hanyalah pertarungan dan konflik. Pengecer tidak perlu bertarung dengan Carrefour atau Alfa Mart. Banyak opsi yang bisa dilakukan pengecer lemah. Mereka bisa lebih effektif dan effisien, bisa juga secara bersama-sama membentuk usaha yang lebih besar dan bisa menutup usahanya kemudian bekerja untuk Carrefour, Alfa Mart dan Giant. Kalau tidak bisa bersaing, kenapa harus bersaing? Ayah saya dulu selalu ingin menjadi pengusaha, dan berkali-kali dicobanya dan selalu gagal. Berkali-kali ia membenturkan kepalanya ke tembok. Itu adalah pilihan yang saya pikir konyol. Oleh sebab itu saya memilih bekerja pada pengusaha yang punya modal, sampai saya mampu bersaing. Hidup saya lebih enak dari pada ayah saya…, alhamdulillah. Tidak perlu ada pertarungan, karena pertarungan akan menguras modal dan kapital. Dan kalau anda lihat, banyak yang bekerja di Alfa Mart dan Carrefour adalah dari golongan para pengecer jalanan (mungkin anak atau saudara atau mereka sendiri).

Komentar lainnya: Kalau pemimipin seperti Anda (maka) yg miskin tambah miskin (mungkin sgt diharap kematiannya) yg kaya tambah kaya

Ungkapan ini patut diduga sebagai hasil dari membeo dari omongan politikus. Ungkapan ini juga memelintir logika oleh sebab itu mudah dipatahkan. Persoalan yang sesungguhnya adalah rajin-malas, effesien-boros. Jadi komentarnya seharusnya adalah: Kalau pemimipin seperti Anda (maka) yg malas dan boros tambah miskin (mungkin cepat mati) dan yg rajin dan effisien tambah kaya. - Maryam kalau malas mengambil kurma, mungkin dia akan mati bukan?

Kalimat seperti ini punya korelasi logika yang benar. Oleh sebab itu, di negara-negara dimana kebebasan berusaha diutamakan, anda tidak akan menjumpai yang kaya semakin kaya dan yang mskin semakin miskin. Negara seperti Hong Kong dan Singapura, yang beberapa dekade ini menempati urutan atas dalam hal kebebasan berusaha/ekonomi, sulit sekali menjumpai orang miskin yang sampai mati atau orang yang terlantar. Tuhan telah mencukupkan rizki bagi mereka.

Tanggapan EOWI di atas secara implisit punya asumsi bahwa niat para kaum sosialis ini baik. Tentu saja kebanyakan sifat yang dimuliki oleh politikus jauh dari baik. Kita bisa usulkan kepada Kwik dan rekan-rekannya untuk mendirikan sebuah perusahaan untuk mencari bahan tambang kemudian memproduksinya atau membuat perkebunan kepala sawit di Irian sana dan hasilnya dibagikan kepada rakyat Papua. Seperti Albert Schweitzer lah,…. Hanya lebih baik lagi. EOWI yakin mereka tidak mau,….. karena mereka ini patut diduga sebagai hipokrit.

EOWI sangat menganjurkan pembacanya agar menjadi orang yang effektif dan berdayaguna (bahasa Arabnya saleh). Karena orang-orang effektif dan berdayaguna (saleh) ini sangat disukai Tuhan. Banyak pembaca EOWI yang berpencar diseluruh dunia, dari mulai Timur-Tengah, Eropa sampai ke Finlandia, Australia, di lautan Atlantik yang menunjukkan banyak pembaca EOWI adalah orang-orang yang rajin dan effektif, berdayaguna (saleh) mencari rezkinya secara halal sampai ke ujung dunia.

Menjadi orang yang effektif dan berdayaguna (saleh) mempunyai tempat yang istimewa di mata Tuhannya kaum muslimin. Kaum muslimin, diperintahkan oleh Tuhannya seperti yang dicontohkan oleh nabinya, untuk medoakan orang-orang yang effektif dan berdayaguna (saleh) paling sedikit sehari 9 kali. Doanya dalam bahasa Arab dan kalau diartikan, bunyi doa itu adalah sebagai berikut: “Doa kedamaian, kesejahteraan dan rahmat serta berkah bagimu ya.. nabi. Dan doa kedamaian dan kesejahteraan bagimu ya… orang-orang yang effektif dan berdayaguna (saleh).”

Doa ini tidak memandang keimanan seseorang. Mungkin karena doa ini dan hukum Tuhan maka orang-orang effektif dan berdayaguna (saleh) selalu makmur, terlepas dari keimanan mereka. Tuhan mengabulkan doa jutaan kaum muslimin yang diucapkan 9 kali dalam seharinya. Bukankah lebih baik menjadi orang yang effektif dan berdaya guna?

Sekian dulu komentarnya. Dongeng PPUCZF kita lanjutkan lagi. Pada bagian ini kita akan mengkontraskan dua system, system sosialis dan system laissez faire yang dituduhkan sebagai hukum rimba. Dan tentu saja yang lebih sukses dalam mengentaskan kemiskinan adalah yang hukum rimba, bukan sosialisme. Ini berdasarkan data, bukan khayalan Kwik Kian Gie.


Dongeng Dua Korea

Jaman dahulu kala kira-kira abad ke 10 masehi, di sebuah semenanjung yang menempel Asia di timur Cina, ada sebuah kerajaan yang bernama Goryeo. Lidah orang sering keseleo akhirnya nama ini menjadi Korea. Orang-orang di kerajaan ini bermata sipit seperti orang Cina dan Jepang. Berkulit kuning. Dan mereka suka makan kimchi. Orang-orang disana mempunyai seni bela-diri yang bernama taekwondo yang berbeda dengan kungfu dari Cina atau karate dari Jepang. Yang menjadi ciri dari seni bela-diri taekwondo adalah penggunaan kaki yang sangat ekstensif. Semenanjung ini juga mengalami jaman kekejaman pendudukan Jepang tahun 1910.

Sejarah menjadi bercabang ketika perang dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang. Dalam kesepakatan sekutu, Uni Soviet akan melucuti tentara Jepang yang berada di utara garis 38 derajat lintang utara, dan Amerika Serikat akan melucuti tentara Jepang yang berada di selatannya. Kemudian wilayah semenanjung Korea di utara garis 38 derajat lintang utara ini di sebut Korea Utara dan di sebelah selatannya di sebut Korea Selatan. Walaupun keduanya terpisah oleh garis imaginer yang disebut 38 derajat lintang utara, masyarakat di kedua daerah ini tetap sama; matanya sipit, kulitnya kuning dan suka makan kimchi.

Dari interaksi dengan Uni Soviet, para politikus di Korea Utara melihat contoh-contoh dari Uni Soviet yang bisa adopsi untuk negrinya. Politikus Korea Utara dengan bantuan rekannya dari Uni Soviet menjanjikan bahwa pemerintah akan mengurus semua urusan mereka, rakyatnya dari mulai menyediakan lapangan pekerjaan, perawatan kesehatan, perlindungan, bahan pangan, pendek kata menyediakan kemakmuran bagi mereka. Mereka, katanya menyukai berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, tidak perlu negara lain seperti Sukarno di Indonesia. Nama negara itu resminya Republik Demokrasi Rakyat Korea. Untuk menunjang peran dan tujuan negara maka dibentuklah birokrasi yang makin lama makin besar, sangat besar. Pemimpinnya bernama Kim Il-sung. Semula jabatannya adalah perdana menteri yang dimulai dari awal pendirian Korea Utara, tahun 1948, kemudian menjadi presiden tahun 1972 sampai sekarang dan mungkin sampai negara ini bubar. Kim Il-sung meninggal tahun 1994. Jadi sekarang Korea Utara mempunyai presiden yang mati. Membingungkan bukan? Kok ada negara dengan jabatan presiden mati.

Setelah kematian Kim Il-sung, anaknya Kim Jong-il menjadi pemimpin di Korea Utara sebagai kepala komisi pertahanan Korea Utara, bukan sebagai presiden.

Di seberang garis demarkasi 38 derajat lintang utara, yang di sebut Korea Selatan rakyatnya lebih suka bebas dan tidak tergantung pada pemerintah. Mereka lebih suka berusaha sendiri, lapangan kerja tidak perlu disediakan pemerintah, kesejahteraan adalah usaha sendiri. Pendek kata, peran pemerintah tidak banyak. Besarnya birokrasi pemerintahnya jauh lebih kecil dari pada rekannya Korea Utara. Dalam hal kebebasan berusaha, Korea Selatan menempati peringkat 30 (tahun 2009), tepat di bawah Belgia yang masuk kategori negara bebas. Dalam hal kebebasan, Korea Selatan dari tahun-ke tahun menjadi semakin bebas. Sebagai perbandingan, Indonesia masuk pada peringkat 114 untuk tahun 2009.

Memperbandingkan dua Korea ini untuk menilai dampak campur tangan pemerintah di dalam tata kehidupan negara sangat relevan. Sebelum pemisahan keduanya di tahun 1948, kedua Korea ini mempunyai sejarah yang sama. Orang-orangnya sama, sukunya sama, mata mereka sama-sama sipit, bahasa mereka juga sama, kulitnya juga kuning, makanan mereka sama. Bahkan dulu, bau mereka mungkin juga sama. Nah setelah enam dekade, nampak perbedaan yang sangat menyolok.

Pertama GDP/PPP per kapita Korea Utara tidak beranjak dari posisi tahun 1948 sedangkan Korea Selatan sudah melesat hampir 25 kali lipat (lihat Grafik V- 11).

Grafik GDP di atas bisa bercerita banyak. Rakyat Korea Selatan, dengan kemakmuran yang meningkat 25 kali lipat diukur dengan GDP, secara fisik akan membuat kontras dibandingkan dengan tetangganya, rakyat Korea Utara, misalnya tinggi badan, harapan hidup (umur) rata-rata, kesehatan dan lain sebagainya. Tinggi rata-rata pemuda Korea Selatan tahun 2005 – 2010 menurut banyak statistik adalah 174 cm. Sedangkan rekannya di Korea Utara hanya 165 cm. Menurut catatan statistik tahun 2010[1], harapan hidup rakyat Korea Utara adalah 63.8 tahun dan ini adalah 1,5 dekade lebih pendek dari padan saudaranya di Korea Selatan yang harapan hidupnya (umur rata-ratanya) 78.7 tahun. (Orang malas dibenci Tuhan cepat mati?)

Grafik V- 11 GDP Korea Utara dan Korea Selatan

Kebebasan berkreasi dan berusaha membuat rakyat Korea Selatan mampu melahirkan produsen barang konsumsi berkwalitas seperti Hyundai dan KIA untuk mobil, dan di bidang produk elektronika dikenal Samsung dan LG. Pemerintah tidak akan mampu melahirkan barang-barang konsumsi yang bagus dengan harga bersaing. Barang konsumsi bukan satu-satunya produk Korea Selatan. Untuk industri dan mesin-mesin juga mereka ciptakan. Bagaimana dengan Korea Utara? Birokrat hanya mampu menciptakan kelaparan dan mesin perang yang tidak ada kaitannya dengan kemakmuran.

Kisah dua Korea ini bukan satu-satunya contoh yang bisa dijadikan pelajaran bahwa perencanaan terpusat dan campur tangan pemerintah yang terlalu banyak justru menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat. Di abad ini masih ada beberapa kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Kisah dua Jerman, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.

Sampai tahun 1945 kedua Jerman ini masih bersatu. Mereka melewati perang dunia I dan II bersama. Bersama juga di bawah pimpinan Hitler. Mereka sama-sama berbadan tinggi besar dan suka minum bir dan menyukai wurst. Dan kalau memaki, kata yang sering digunakan juga sama yaitu “scheiße”. Kemudian mereka ini berpisah di tahun 1945 sampai tahun 1990. Jerman Barat rakyatnya bebas menentukan nasibnya sendiri dan Jerman Timur dengan pemerintahan/birokrasi sebagai pusat segala kegiatan untuk mencapai kemakmuran. Perkembangan selanjutnya tidak banyak berbeda dengan kisah dua Korea. Di Jerman Barat mobil-mobil berkwalitas dan berkelas diproduksi seperti Porche, Mercedes Benz, BMW, dan VW. Dan di Jerman Timur hanya ada Trabant yang sama sekali tidak terkenal, dengan mesin dua-langkah yang berasap (mencemari udara) dan selama 30 tahun hanya diproduksi 3 juta unit. Jerman Barat melahirkan nama-nama terkenal di bidang industri, seperti Siemens, BASF, Bayer, Hoechst, Allianz dan lain sebagainya. Industri Jerman Timur bagaimana? Nyaris tak terdengar. Tidak seperti Korea, rakyat Jerman Timur menyadari sistem dimana peran pemerintah dalam kehidupannya terlalu banyak tidak akan menciptakan kemakmuran. Pada tahun 1990 ada kesempatan untuk mendepak para politikusnya dan kemudian bergabung dengan Jerman Barat setelah 4,5 dekade berpisah.

Kalau mau menelusuri lebih lanjut, masih ada lagi kisah-kisah yang lain yang relevan untuk mempelajari hubungan antara peran pemerintah dan laju pertumbuhan kemakmuran masyarakat. Kisah 4 Cina misalnya. Ada Cina Komunis, Cina Taiwan, Hongkong dan Singapura. Kaitan antara peran pemerintah dan laju pertumbuhan kemakmuran negara-negara ini antara tahun 1945 – 1985 nampak bedanya.


[1] WORLD HEALTH RANKINGS (http://www.worldlifeexpectancy.com)


Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan

Thursday, May 5, 2011

(No.24) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21





(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)





Pada sekitar tahun 1850, penduduk Soviet hanya 73,75 juta jiwa saja. Rupanya pada masa ini mereka beranak seperti tikus, tingkat kesehatan membaik sehingga tingkat kematian anak juga turun. Populasi meledak menjadi 124,50 juta jiwa di tahun 1900. Kemudian meningkat lagi menjadi 156,19 ditahun 1913, empat (4) tahun sebelum revolusi Bolshvik. Artinya, kepemilikan tanah pertanian mengkerut dari 5 hektar lebih per orang menjadi kurang dari 3 hektar per orang. Itupun banyak yang dimiliki oleh tuan tanah. Sektor industri tidak semaju di negara barat. Hal ini membuat tekanan ekonomi dan tekanan sosial yang kemudian melahirkan kaum radikal yang mempelopori pemberontakan.

Ketika revolusi Bolshvik terjadi, para founding father dari Russia berpikir bahwa mereka tahu persoalan yang dihadapi oleh rakyat Russia dan berpikir bahwa mereka punya penyelesaiannya. Mereka pikir bahwa persoalan rakyat kekaisaran Russia adalah kemelaratan dan biang keroknya adalah tuan tanah, pemilik modal dan para kaum borjuis yang mengangkangi mesin-mesin produksi. Para pemilik modal dan kaum borjuis ini harus dibasmi dan semua sistem produksi harus dikuasai oleh negara. Dan negara menurut teori komunis adalah terdiri dari pekerja, petani dan tentara.

Ide itu sederhana dan mudah dicerna, oleh sebab itu mudah memperoleh dukungan rakyat. Maka tahun 1918 dibuatlah konstitusi negara Federasi Russia Soviet untuk membuat ide itu resmi dan agar negara nantinya bisa mewujudkan ide itu.

Konstitusi Federasi Soviet Russia 1918 diganti menjadi konstitusi 1923 setelah terjadi penguasaan tanah dan mesin-mesin produksi oleh negara serta bergabungnya beberapa negara sosialis, hasilnya Uni Republik Sosialis Soviet yang resmi berdiri tahun 1922.

Ide komunisme dan sosialisme menjalar kemana-mana, sampai ke Eropa Timur, Korea Utara, Cina, karena sederhana dan mudah dicerna. Di konstitusi Indonesiapun ada nafas campur tangan pemerintah atas hajat hidup orang banyak, yaitu UUD 45 pasal 33, penguasaan oleh pemerintah sektor-sektor yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak serta sumber daya alam.

Untuk kemakmuran yang merata, sistem produksi harus dikuasai oleh negara. Dan negara menurut konstitusi adalah pekerja, petani dan tentara. Tentu saja itu teori, tetapi kenyataannya lain. Petani tempatnya di ladang dan sawah; pekerja di pabrik. Dan politikus di gedung parlemen dan di istana negara. Tentara di barak dan siap menunggu perintah politikus. Kalau tidak percaya lihat saja data di lapangan. Lenin adalah sarjana hukum yang sejak mahasiswa sudah aktif dalam bidang politik. Stalin bukan petani, buruh atau tentara tetapi politikus bawah tanah yang dicari polisi Czar karena melakukan propaganda, menggalang dana dengan merampok bank, menculik untuk minta uang tebusan dan pemerasan. Mao juga tidak mencangkul di ladang.

Walaupun Lenin bukan buruh, Stalin bukan petani, Mao Zedong juga tidak mencangkul di sawah, melainkan mereka hidup dan kerja di gedung, politikus seperti mereka ini berpikir mereka tahu apa persoalan yang ada di masyarakat dan mereka pikir bahwa mereka tahu penyelesaiannya. Sayangnya hidup ini kompleks dan tidak sesederhana pemikiran mereka. Ketika ide-ide mereka dijalankan, ternyata hasilnya hanya membuat kesengsaraan, setidaknya menghambat proses pemakmuran masyarakat.

Pemerintah bukan organisme makhluk hidup yang perduli dan punya motivasi untuk melakukan hal yang benar dan secara benar. Mereka – politikus dan birokrat – adalah sekumpulan individu yang mengejar kepentingannya sendiri. Ide bahwa sektor-sektor yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, kekayaan alam dan sumber daya mineral dikuasai oleh negara mengalami metamorfosa menjadi kekayaan yang dikuasai oleh birokrat dan politikus. Paling tidak mereka memperoleh porsi yang besar dari pada rakyatnya. Politikus dan birokrat yang menguasai sumber alam dan orang lain yang melakukan kerja kerasnya. Pola seperti ini menjadi magnit daya tarik untuk menjadi anggota partai, politikus dan birokrat. Sehingga akhirnya birokrasi dan partai membengkak. Parasit menjadi gemuk dan akhirnya mematikan induk tumpangannya.



Dipihak lain ide sosialisme bagai candu bagi masyarakat yang dalam jiwanya terlatih mengharap subsidi dan makan gratis tanpa perduli dari mana asalnya, siapa memikul bebannya, dan bagaimana memperolehnya. Akhirnya kalau semua berpikir seperti itu, siapa yang mau kerja riil untuk kemakmuran? Tentu saja masih ada, tetapi orang-orang yang produktif dan punya motivasi untuk bekerja secara benar dengan cara yang benar merasa dieksploitasi dan mencari jalan keluar. Dan salah satu jalan keluarnya ialah hengkang ke luar negri. Walaupun pemerintah mencoba mencegah, pelarian-pelarian ini terus berlangsung dan penghambatan jalur kemakmuran bertambah.

Grafik V- 5 di bawah ini menunjukkan GDP/PPP negara-negara komunis/sosialis di Eropa, Cina dan Korea Utara. Dan sebagai pembandingnya ialah GDP negara-negara Eropa Barat yang membebaskan para pemilik modal mengeksploitasi buruh dan pekerja, mengangkangi kekayaan alam untuk diri mereka, dengan semua hal-hal yang buruk menurut kaum komunis.




Grafik V- 5 Perbandingan pertumbuhan GDP/PPP negara Eropa Barat dan komunis



Secara konsisten pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran negara-negara Eropa Barat (Austria , Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Itali, Belanda, Norway, Swedia, Switzerland, Inggris) lebih cepat dari negara sosialis. Negara-negara Eropa Barat ini mempunyai indeks kebebasan ekonominya antara 70 – 80.

Keadaan ekonomi di negara-negara sosialis ini semakin terhambat perkembangannya ketika para politikus berpikir bahwa mereka perlu sirkus untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Dan untuk melanggengkan kekuasaannya mereka perlu kekuatan. Sirkus perang dengan dalih menyebarluaskan paham ideologi komunisme/sosialisme dikobarkan di sana-sini. Dan produksi serta pengembangan produk lebih banyak menyentuh sektor persenjataan. Produk apa yang terkenal dari negara-negara Uni Soviet? Pesawat tempur Mig, pesawat angkut Antonov 225 (produksi pertamanya tahun 1988) yang besarnya mengalahkan pesawat angkut Hercules C-5 Galaxy, dan bisa mengangkut pesawat ulang-balik luar angkasa. Kemudian berbagai tank dan helikopter tempur. Di bidang senapan ringan, AK-45 adalah senjata serbu terbaik di kelasnya. Di lain pihak, mobil merek Lada dan Moskvitch (buatan Russia) pada jamannya adalah mobil penumpang yang paling tidak menarik di dunia. Pada masa yang sama, Swedia punya Volvo; Jerman punya Porsche, VW, BMW dan Mercedes; Prancis punya Citroen dan Peugeot; Inggris punya Roll Royce; Itali punya Fiat, Lamborgini, Ferrari, yang semuanya jauh lebih menarik dan punya banyak keunggulan dari pada Lada dan Moskvitch. Kenapa Lada dan Moskvitch tidak menarik? Karena di negara sosialis seperti Uni Soviet tidak ada yang perduli pada inovasi untuk kepuasan konsumen.

Ketika ketidak-makmuran sudah menyentuh perut, atau paling tidak ketika melihat negara tetangga jauh lebih makmur, mobilnya lebih bagus, perangkat rumahnya lebih bagus, maka masyarakat tersadar bahwa campur tangan pemerintah dan ambisi politikus untuk mengembangkan ide sosialismenya ke seluruh dunia sebenarnya hanya menghambat pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran maka masyarakat memberontak dan pecahlah yang namanya Uni Soviet pada bulan Desember 1991 dan bubarlah komunisme. Mungkin belum semuanya bubar, tetapi sudah ambruk dan menyisakan beberapa negara seperti Korea Utara, Kuba, dan beberapa lagi. Dan jangan lupa, masih ada lagi yang tersisa, yaitu buku-buku yang berisi pemikiran-pemikiran komunisme yang dikemudian hari bisa menyulut timbulnya negara komunis baru. Kesederhaannya dan menggiurkannya konsep komunisme membuka peluang yang sangat luas bahwa ideologi ini akan dipakai lagi oleh politikus dimasa depan untuk mengejar ambisinya.

Setelah bubarnya blok komunis Eropa Pakta Warsawa (1955 – 1991), sebagian dari negara-negara bekas Uni Soviet ini membuka ekonominya dan sebagian masih menganut pola lamanya. Secara keseluruhan terlihat adanya percepatan pertumbuhan ekonomi rata-ratanya seusai tahun 1999, dimana gejolak perubahan yang dimulai tahun 1990 mereda. Dalam hal kebebasan ekonomi, negara-negara bekas Uni Soviet ini tidak seragam. Indeks kebebasan ekonominya bervariasi antara 40 – 70, atau dari mulai kategori terkekang (repressed) sampai masih ada kebebasan (moderately free).

Negara-negara Eropa Timur seperti Albania, Bulgaria, Czechoslovakia, Hungaria, Polandia, Romania, ex-Yugoslavia, yang sebelum tahun 1990 masuk dalam lingkungan pengaruh Uni Soviet (Pakta Warsawa), dalam perkembangannya, lebih aggresif dalam membongkar keterlibatan pemerintah di sektor ekonomi dibandingkan negara-negara bekas Uni Soviet. Indeks kebebasan ekonominya berada di level 60 – 69 dan masuk ke dalam kategori negara yang masih ada kebebasan (moderately free), bisa dilihat GDPnya mampu menyusul bekas induknya yaitu negara-negara bekas Uni Soviet.

Lain halnya dengan Cina, sejak tahun 1980, setelah revolusi kebudayaan (1966 – 1969) dan riak-riaknya sampai 1976, di bawah Deng Xioping mulai melakukan pelonggaran secara perlahan dan bertahap atas campur tangan pemerintah di dalam kehidupan pribadi orang dan juga ekonomi. Riak-riak kecil selalu ada karena tidak puas terhadap laju perubahan, seperti tragedi Tianamen 1989 yang terkenal karena adanya dokumentasi foto dan film yang dramatis dan bersejarah mengenai seorang demonstran menantang tank dan kemudian dilindas. Gejolak semacam ini bisa diredam. Pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran Cina mengalami percepatan yang bertahap sejak tahun 1980an. Tidak lama lagi akan mampu menyusul bekas rekan-rekan komunisnya di Eropa dan Asia Tengah.

Untuk Korea Utara yang sampai saat ini masih mempertahankan peran pemerintah sebagai pengendali penuh ekonomi dan sendi-sendi kehidupan bangsa, kemakmuran ekonominya tidak beranjak kemana-mana. Kelaparan sering terjadi disana. Padahal Korea Selatan yang menjadi tetangganya adalah negara yang sangat makmur.

Kisah tragis sebuah ideologi yang bernama komunisme dan sosialisme. Ideologi yang kedengarannya indah dan menjanjikan. Ketika lahir, ideologi ini memakan banyak korban nyawa dan harta. Sepanjang penerapannya juga memakan banyak korban. Dan ketika runtuh ada kalanya menghancurkan ekonomi. Dan negara imperium komunis/sosialis yang terbesar, Uni Soviet hanya berumur 69 tahun saja (1922 – 1991). Umur yang terlalu singkat bagi sebuah imperium besar.

Uni Soviet adalah kisah dimana orang berpaling kepada pemerintah ketika dalam kesulitan, menganggap pemerintah sebagai sang maha-bisa yang mau menolong mereka. Walaupun mereka ini kebanyakan beragama Katholik Orthodoks Russia, mungkin tidak pernah membaca Bible mereka, paling tidak telah mengabaikannya. Tuhan mereka telah memperingatkan:

Exodus 20:

3. Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku.

4. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

5. Jangan tunduk kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Tuhan yang pencemburu, yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku

17. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau budak laki-lakinya, atau budak perempuannya, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu

Mungkin Tuhan mereka telah marah karena orang-orang Uni Soviet telah menyandingkan para politikus dan birokrat denganNya dan mereka menginginkan harta sesama mereka (tuan tanah dan pemilik modal) untuk dijarah dan dikuasai, suatu sifat dengki dan iri yang tidak terpuji....... Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.





(Bersambung.....)



Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.


Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Tuesday, May 3, 2011

Kisah Hidup Osama Bin Laden

Osama bin Laden, orang yang paling dicari oleh Amerika Serikat telah tewas dalam suatu penyergapan di Islamabad. Tempat “kediaman” Osama ternyata sebuah kompleks rumah besar (tidak mewah) Abbottabad yang letaknya hanya 3 km dari Akademi Militer yang paling bergengsi di Pakistan. Ibaratnya sama dengan AKABRI untuk Indonesia atau West Point untuk Amerika Serikat. Tentu saja hal ini menimbulkan banyak pertanyaan. Pakistan mempunyai komitmen untuk membantu US dalam memberantas terorisme dan menerima dana sebesar US$ 3 milyar, ternyata orang yang dicari paling Amerika Serikat berada 3 km dari symbol militer Pakistan. Apalagi kompleks rumah besar yang bernilai jutaan dollar ini baru dibangun tahun 2005. Sulit untuk dimengerti bagaimana kompleks sebesar itu bisa lolos dari pengamatan badan intelegen.Bahkan, menurut berita, serangan helikopter US ke kompleks Osama tidak dikoordinasikan dengan pihak Pakistan.


Tempat tinggal Osama yang terakhir

Osama mungkin sudah lama tinggal disana dan pemperoleh perlindungan dari masyarakat sekitarnya. Dari sejarahnya, awal keberadaan Osama di wilayah Afganistan-Pakistan adalah karena mengemban misi kemanusiaan, membagikan bantuan kepada para pengungsi dan korban aggresi Uni Soviet di Afganistan. Dengan uangnya yang melimpah, ia mendapat hati dari rakyat di wilayah konflik Afganistan dan Pakistan. Ia mendirikan tempat-tempat pendidikan (madrasah) yang gratis, mendirikan tempat-tempat perawatan/pengobatan. Kemudian secara bertahap perannya berubah menjadi pejuang Mujahidin, mungkin karena dengan jalan kemanusiaan saja, persoalan tidak pernah akan selesai. Uni Soviet harus diusir. Video berikut ini menceritakan kisah awal dari Osama bin Laden.


Entah bagaimana dan apa yang menyebabkan Osama kemudian menjadi musuh Amerika Serikat, tidak ada yang tahu mengenai penyebabnya secara pasti. Tiba-tiba saja terjadi serangan World Trade Center di Amerika dan nama Osama bin Laden dengan al Qaedanya menjadi populer. Apakah serangan World Trade Center merupakan permainan Amerika Serikat untuk mempunyai musuh bersama, dan fokus rakyat Amerika mengarah kepada musuh bersama itu. Sejak penyerangan World Trade Center, al Qaeda muncul di banyak negara, termasuk Indonesia. Dan beberapa penyerangan terhadap simbol-simbol arogansi Anglo-Saxon Amerika Serikat yang terjadi sebelumnya dan sesudahnya selalu dikaitkan dengan al Qaeda.

Tayangan video berikut ini merupakan versi yang bisa diterima kalangan resmi. Saya selalu skeptis dengan versi resmi. Tayangan sebelumnya yang dibuat oleh National Geography mempunyai nada yang lebih netral. Seperti kata Napoleon: “Sejarah adalah paket kebohongan yang disepakati benar.” Mungkin juga definisi ini berlaku bagi kisah Osama bin Laden berikut ini.

Catatan: pada beberapa video berikut ini, anda akan diminta untuk mendaftar, karena berisi tayangan kekejaman.











Disclaimer:
Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, May 1, 2011

(No.23) - PENIPU, PENIPU ULUNG, POLITIKUS DAN CUT ZAHARA FONNA

Sejarah, dongeng satir, humor sardonik dan ulasan tentang konspirasi, uang, ekonomi, pasar, politik, serta kiat menyelamatkan diri dari depressi ekonomi global di awal abad 21




(Terbit, insya Allah setiap Minggu dan Kamis)



Pada kisah minggu lalu kita terhenti pada pertanyaan sebagai berikut:

Dari tiga (3) tipe negara di atas, coba terka tipe negara mana yang bisa lebih makmur dan apa sebabnya? Apakah karena demokrasinya, atau karena regulasinya atau karena sumber daya alamnya?

Kisah ini akan kita lanjutkan dengan jawabannya. Kita mulai lagi kisahnya.


--ooOoo--


Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita akan ambil contoh yang ekstrim saja. CIA the World Factbook[1] menunjukkan bahwa Brunei negara yang pimpinannya tidak dipilih secara demokrasi punya GDP/PPP $ $52.000 per kapita (2008), sedangkan Zimbabwe yang kepala negaranya dipilih melalui pemilihan umum punya GDP/PPP hanya $200 per kapita (2008). Jadi demokrasi tidak punya kaitan dengan kemakmuran. Artinya, penekanan pada keterwakilan sebagai prasyarat kemakmuran adalah tidak relevan.

Kemudian, Hong Kong, tanah kecil dan tidak punya sumber kekayaan alam, GDPnya $ 22.087 di akhir penjajahan Inggris (1997), dan lebih tinggi kalau dibandingkan dengan penjajahnya $ 18.527 per kapita[2]. Hong Kong dimasa penjajahan Inggris adalah kasus ekstrim untuk eksploitasi rakyat negara jajah oleh negara penjajah. Untuk perbandingan GDP Inggris dan Hong Kong ini sudah pernah dibahas di bab sebelumnya. Penekanan pada konsep eksploitasi majikan atas pekerja sebagai prasyarat kemakmuran juga tidak relevan.

Lalu Indonesia bangsa yang gagah berani, lebih demokratis, dengan sumber daya alam yang banyak, punya GDP/PPP $ 4.000 per kapita (2009), dibandingkan dengan bangsa serumpunnya Malaysia yang kurang punya militansi, kurang demokratis dan yang merdeka karena pemberian Inggris; punya GDP/PPP $ 14.700 per kapita per tahun (2009), yang 3,5 kali lebih tinggi dari GDP/PPP Indonesia[3].

Dari contoh bisakah ditarik kesimpulan? Apa yang membuat mereka ini mempunyai kemakmuran (GDP, Gross Domestic Product) yang berbeda? Sumber daya alam. Secara logika, itu pasti. Atau karena yang satu merdeka dan yang lain dijajah? Tetapi apakah hanya itu? Buktinya Hong Kong yang tidak punya sumber alam, dulu bisa lebih makmur dari penjajahnya, Inggris yang notabene punya sumber mineral minyak, gas dan batubara. Dan sekarangpun Hong Kong masih bisa mempertahankan superioritas kemakmurannya dibandingkan Inggris walaupun sudah tidak lagi dijajah Inggris.

Sebanyak negara yang ada di dunia ini bisa diajukan sebagai contoh. Kalau itu dilakukan untuk memperoleh kesimpulan dengan cara ini akan melelahkan dan belum tentu hasilnya. Cara yang sistematis, adalah dengan melakukan pengelompokan dan memberikan indeks.

Situs internet Heritage (http://www.heritage.org/index/) setiap tahun membuat peringkat dan statistik 184 negara-negara di dunia berdasarkan kebebasan ekonomi; kebebasan berusaha dan tingkat kemakmurannya.

Hongkong, dalam beberapa tahun ini menduduki peringkat pertama dalam hal kebebasan berusaha dan kebebasan ekonomi. Pembuatan peringkatan ini berdasarkan faktor-faktor kebebasan berbisnis, berdagang, faktor pajak dan fiskal, pengeluaran pemerintah, moneter, investasi, finansial, hak-hak kepemilikan, bebas dari korupsi, kebebasan buruh. Disamping tabel panjang daftar negara-negara di dunia ini beserta peringkatnya, situs Heritage juga memberi ringkasannya. Ke 184 negara-negara di dunia yang disurvey itu dikelompokkan menjadi 6 kelompok besar:

Negara bebas (free) dengan skor 100 - 80,

Hampir semua bebas (mostly free) dengan skor 79,9 – 70,

Masih ada kebebasan (moderately free) dengan skor 69,9 - 60,

Hampir tidak ada bebasan (mostly unfree), dengan skor 59,9 – 50,

Terkekang dan tertekan (repressed) 49,9 - 0

Tidak ada peringkatnya (unranked).

Dikaitkan dengan GDP atau kemakmuran, kelompok yang paling makmur adalah kelompok negara bebas, dikuti oleh yang “hampir bebas”, “masih ada kebebasan” dan seterusnya (lihat Grafik V- 1 di bawah). Yang menarik adalah “negara terkekang”, ternyata punya GDP yang lebih tinggi dari negara yang “hampir tidak ada kebebasan”. Kalau diperinci, ternyata ada negara-negara ekonominya mengandalkan sumber alam mineral, yang masuk di dalam kategori ini. Dan negara-negara ini punya GDP yang tinggi dari hasil penjualan bahan mineralnya. GDP negara-negara inilah yang memelintir trend. Jika negara-negara ini tidak diikut sertakan di dalam statistik, maka hasilnya ditunjukkan oleh grafik yang berwarna biru. Tabel di bawah memuat daftar negara-negara “terkekang” beserta GDP, hasil tambangnya dan populasinya.

Grafik V- 1 Tingkat kebebasan ekonomi/berusaha dan kemakmuran

Negara-negara ini jika dibandingkan dengan Indonesia mempunyai produksi bahan tambang, minyak per kapitanya yang berlimpah. Angola misalnya, produksi minyaknya 2 juta barrel per hari dan populasinya hanya 18 juta jiwa. Dengan kata lain, setiap penduduk bisa disokong oleh 111 ribu per hari produksi minyak. Sedangkan Indonesia hanya 3.8 barrel per orang per hari. Hanya 3,5% dari Angola. Wajarlah kalau negara-negara bisa kaya karena minyak dan berlian melimpah walaupun pemerintahannya dan sistem ekonominya sontoloyo. Tentu saja kemakmuran di negara-negara ini sangat bergantung pada produksi minyak (juga harga minyak).

Negara

Populasi,

juta jiwa

GDP Nominal* per kapita, US$

Produksi Minyak*,

ribu bbl/hari

Angola

18

4.632

2.015

Equatorial Guinea

0,7

26.464

359

Iran

72

4.656

4.174

Libya

6,3

14.272

1.875

Sierra Leone

0,1

19.550

penghasil berlian

Venezuela

27,9

11.450

2.643

*) – Data untuk tahun 2008


Sebagai perbandingan Indonesia menghasilkan 950 ribu bbl/hari dan populasi 250 juta jiwa

Grafik V- 2 membuktikan asumsi ini; GDP Equatorial Guinea meroket seiring dengan produksi minyaknya. Yang terjadi di Equatorial Guinea pada pertengahan dekade 90an adalah pembukaan ladang-ladang minyak lepas pantai sebagai kelanjutan dari dimulainya keterbukaan bisnis di sektor eksplorasi dan produksi minyak.

Kembali pada korelasi antara campur-tangan pemerintah dan kemakmuran. Kalau dikaitkan dengan jiwa konstitusi Soviet 1918, dimana pemerintah memegang peranan penting dalam urusan kemakmuran dan pemakmuran, maka banyak sekali negara komunis, atau yang masih kental nuansa komunisnya seperti Korea Utara, Timor-Leste, Kuba, Ukraina, Belarus, Turkmenistan, masuk kepada kategori negara “terkekang” yang GDPnya rendah. Artinya campur tangan pemerintah dalam ekonomi malah memperburuk keadaan.

Grafik V- 2 GDP dan produksi minyak negara Equatorial Guinea

Orang berpikir bahwa jika perekonomian sepenuhnya dikendalikan pemerintah, maka porsi kegiatan pemerintah di dalam GDP akan besar. Kenyataan itu benar, tetapi tidak selamanya seperti itu. Grafik V- 3 menunjukkan pendapatan pajak pemerintah (dalam % GDP) dan pengeluaran pemerintah. Orang tentu mengharapkan untuk semakin tidak bebas suatu negara makan pengeluaran pemerintah akan semakin besar. Dan akhirnya pada negara komunis/sosialis, mengeluaran pemerintah menjadi 100% dari GDP. Tetapi ada suatu hal yang dilupakan orang, bahwa badan-badan statistik pemerintah hanya melaporkan budget pemerintah. Sedangkan disamping pengeluaran yang budgeter ada pengeluaran non-budgeter. Pada jaman Suharto, masalah pengeluaran non-budgeter cukup populer di dalam birokrasi Indonesia. Setiap negara punya kiat tersendiri untuk mengakali dan memperoleh jalan pintas seperti kiat pengeluaran non-budgeter.

Grafik V- 3 Penghasilan Pajak dan Belanja Pemerintah

Ambil saja pengeluaran non-budgeter ala Indonesia di jaman Suharto sebagai contoh kasus. Kerangka kerjanya sederhana sekali. Departemen-departemen mempunyai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) atau kasarnya punya perusahaan. “Keuntungan” perusahaan tidak masuk ke pemerintah, dalam hal ini departemen keuangan, melainkan ke departemen induknya. PT Perkebunan (PTP) akan menyetor ke departemen pertanian dan perkebunan. Departemen sosial yang dulu mengkelola judi lottre akan memperoleh setoran dari para pengelola rumah judi. Demikian juga departemen-departemen lain. Uang yang diperoleh dari BUMN tidak tercatat di departemen keuangan (atau badan yang berwenang mengurus budget negara). Ini yang membuat pengeluaran-tercatat pemerintah lebih kecil dari yang sesungguhnya. Hal semacam ini membuat rawan korupsi dan penyalah-gunaan dana. Bisa diterka, kemana larinya, kalau tidak ke arah kegiatan untuk melanggengkan dan memperkokoh posisi partai berkuasa dan juga kantong pribadi. Ini adalah aktifitas yang jika dipandang dari sudut ekonomi adalah tidak effisien. Jangan heran, semakin banyak campur tangan pemerintah, semakin terhambatlah jalan menuju kemakmuran.

Ada yang perlu dicatat, walaupun belanja pemerintah negara bebas cukup banyak, yaitu rata-rata 30% dari GDP, kualitas pelayan umum yang diberikan kembali ke pembayar pajak cukup besar, apakah itu keamanan lingkungan, pelayanan pengadilan, untuk beberapa negara pelayanan kesehatan, dan pelayanan lainnya.

Kalau diperhatikan Grafik V- 3 terlihat bahwa pengeluaran pemerintah selalu lebih tinggi dari penghasilan pajak. Artinya pemerintah seharusnya mengalami defisit. Lalu dari mana uang itu diperoleh untuk menutupi defisitnya? Jawabnya ada dua, yaitu dengan mencetak uang dan mencetak uang melalui jalan berliku yang disebut penerbitan surat hutang. Keduanya akan menimbulkan dampak yang sama, inflasi.

Korelasi antara kebebasan ekonomi dengan kemakmuran, ternyata tidak hanya diwakili oleh GDP/PPP tetapi juga inflasi. Pada Grafik V- 4 ditunjukkan bahwa semakin terkekang/terkendali suatu ekonomi negara, maka semakin tinggi angka inflasinya. Jadi semakin banyak campur tangan pemerintah, maka semakin tinggi inflasi. Secara tidak langsung grafik ini mengatakan bahwa pemerintah tidak becus memerangi inflasi. Walaupun sebelumnya sudah disinggung sedikit bahwa pada kenyataannya pemerintahlah yang menyebabkan inflasi, di dalam bab mendatang akan dijelaskan lebih rinci maksud dari pernyataan ini.

Harus diingat bahwa angka-angka ini sangat hedonistik. Misalnya Indonesia yang termasuk negara yang “hampir tidak ada kebebasan” pada masa rejim reformasi, biasanya melaporkan inflasi antara 6% - 9%. Pada kenyataannya adalah sekitar 15% - 20%. Harga-harga naik 2 kali lipat dalam jangka waktu 4 tahun. Realita semacam ini tidak bisa didukung oleh laju inflasi 6% - 9%, melainkan harus 15% - 20%. Kembali kita harus diingatkan kepada kata petuah Mark Twain bahwa ada tipuan, tipuan canggih dan statistik.

Grafik V- 4 Tingkat inflasi dan tingkat kebebasan berusaha, tingkat kebebasan ekonomi

Untuk catatan juga bahwa inflasi untuk negara terkekang/terkendali tidak mengikutkan data inflasi Zimbabwe. Jika data inflasi Zimbabwe yang 10.500% itu diikutkan maka ingka inflasi negara terkekang akan terbang keluar grafik, karena sangat tinggi.


Sosialisme: Jalan Tersingkat Menuju Kesengsaraan

Judul di atas akan membuat pembaca yang awam mengangkat alisnya karena bernada negatif. Bukankah sosialisme adalah identik dengan pemerataan kemakmuran? Bukankah itu bagus?

Sebelum, melanjutkan ke inti cerita mengenai sosialisme, ada sebuah dongeng yang pernah diceritakan oleh seorang teman. Dongeng ini memiliki moral cerita yang sangat agamis. Berikut ini adalah versi yang telah dipendekkan.

Pada jaman dahulu kala, ada dua orang yang menjalani masa kecil bersama. Namanya sebut saja Mat Soleh dan Dul Khasad. Mat Soleh adalah seorang punya watak rajin, kreatif, punya motivasi dan giat bekerja. Cita-citanya...., hanya dia yang tahu. Sedang Dul Khasad adalah seorang yang biasa-biasa saja, pengikut arus. Cita-citanya...., hanya dia yang tahu. Mat Soleh sudah bekerja sebagai petani sejak sangat muda. Ketika hendak menanam, dia memilih jenis tanamannya yang disesuaikan dengan pasar, dia punya strategi untuk menanam tanaman pada saat orang lain tidak menanamnya, sehingga ketika panen harga produknya baik karena pasokannya tidak berlebih. Ia menanam cabai 3 – 4 bulan sebelum Desember, dan ketika panen harga tinggi karena kelangkaan cabai di musim hujan. Seperti itulah yang dilakukannya. Peruntungannya baik sekali, sehingga dia bisa membeli dan menambah tanahnya. Demikian seterusnya, sampai tanahnya luas dan banyak orang bekerja untuknya. Ia menjadi tuan tanah.

Nasib Dul Khasad tidak banyak berubah. Dia tetap menjadi buruh tani dan punya sedikit tanah garapan. Dia sering memandang teman sepermainannya dulu yang sudah menjadi tuan tanah dengan rasa iri. Iri ini lama-lama tumbuh menjadi dengki. Kadang-kadang ia melakukan hal-hal yang buruk kepada Amt Soleh sekedar untuk melampiaskan rasa iri.

Tuhan rupanya memperhatikan perbuatan Dul Khasad. Maka dikirimlah seorang malaikat yang menyerupai orang tua berjanggut putih. Malaikat ini mendatangi Dul Khasad dan berkata: “Tuhan telah memperhatikan sifatumu yang buruk, iri dan dengki. Ia akan memberimu pelajaran. Kamu boleh membuat 1 permohonan yang akan dikabulkannya. Tetapi......, temanmu Mat Soleh itu akan diberi 2 kali lebih banyak.”

Dul Khasad termenung sejenak. Kemudian dia tersenyum. “Boleh. Bagus sekali. Kalau janji ini ditepati, saya tidak pernah iri dan dengki lagi terhadap si Soleh. Tetapi, bolehkah permintaah ini merupakan sebuah paket?” katanya.

“Boleh,.... sesuka hatimu. Sekarang sebutkan saja permintaanmu. Mat Soleh akan memperoleh 2 kali lebih banyak” kata malaikat.

“Kalau demikian....,” kata Dul Khasad. “.... saya minta separo dari harta saya lenyap ditelan bumi dan butakan satu mata saya.” lanjutnya. Sejenak kemudian, terjadi gempa bumi yang menelan tanah dan harta Dul Khasad. Satu matanya terkena kayu yang membuatnya buta sebelah.

Dengan matanya yang tinggal satu itu, Dul Khasad melihat sambil tersenyum, rumah dan tanah Mat Soleh amblas ke dalam bumi. Dan Mat Soleh juga terlihat meraung-raung kesakitan sambil mendekap kedua matanya yang berdarah-darah, sakitnya 2 kali yang diderita Dul Khasad.

Iri dan dengki adalah landasan dari pemikiran sosialisme. Hanya saja peran sebagai pengabul doa kedengkian dipegang oleh negara. Bagi seseorang yang berwawasan paham sosialisme, adalah wajar jika pemerintah menjarah harta orang-orang yang produktif, kreatif dan rajin untuk dibagikan kepada yang tidak produktif, kurang rajin, tidak kreatif, tidak punya motivasi. Mereka berharap pemerintah melakukan hal tersebut. Dan menurut mereka, pemerintah bersalah dan dianggap tidak berfungsi, jika tidak melaksanakan keinginan mereka memeratakan kekayaan itu. Di negara sosialis, orang-orang yang kreatif, produktif, rajin (konsekwensinya berpotensi kaya) akan dihukum dengan pajak yang tinggi. Namanya pajak progressif. Uang pajak ini, menurut teori, akan diberikan kepada orang yang tidak produktif, malas (konsekwensinya berpotensi miskin). Di negara komunis atau versi sosialis yang ekstrim, tanah-tanah milik orang kaya, yang diperoleh dari hasil susah payah usaha yang halal dan kerja keras, akan disita. Dan menurut teori. untuk kepentingan semua. Hal seperti ini akan disambut gembira oleh para penganut sosialisme.

Bible dan Quran membahas sifat iri dan dengki sebagai sifat yang buruk dan tidak disukai Tuhan. Perintah yang terakhir dari 10 Perintah Tuhan (the Ten Commandments) menyebutkan:

“Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau budak laki-lakinya, atau budak perempuannya, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Perintah terakhir dari the Ten Commandments ini berlawanan sekali dengan jiwa sosialisme. Karena lahirnya sosialisme didasari oleh sifat iri dan dengki, jangan heran kalau sosialisme tidak memperoleh ridho dan berkah dari Tuhan sehingga perjalanan menuju kesengsaraan akan sangat singkat. Dan judul sub-bab di atas sangatlah tepat: sosialisme jalan tersingkat menuju kesengsaraan. Catatan: bentuk sosialisme yang ekstrim, yaitu komunisme, sering diidentikkan dengan atheisme. Mungkin karena para pemimpinnya jengkel terhadap Tuhan yang tidak memberi keridhoaan and keberkahan bagi bangsanya.

Banyak orang yang menyangkal bahwa dasar pembentukan sosialisme adalah iri dan dengki. Orang menyangkal bahwa dirinya sering merasa iri terhadap kekayaan tetangganya. Oleh sebab itu dalihnya untuk mempertahankan sosialisme adalah bahwa golongan yang kurang beruntung harus ada yang merawat, memelihara dan mengentaskannya dari kemiskinan. Ini adalah alasan dari seorang yang hipokrit. Mereka menganjurkan untuk merawat dan menolong kaum yang kurang beruntung dan kaum papa. Dan untuk menjalankan program sosialnya mereka yang hipokrit ini mau lepas tangan dan melimpahkannya ke pihak lain yang disebut pemerintah. Untuk lebih menegaskannya, mungkin kalimat ini bisa lebih menjelaskan: mereka ingin ada banyak yang berkorban seperti Albert Schweitzer dan ibu Teresa, tetapi mereka sendiri enggan menjadi berkorban seperti Albert Schweitzer dan ibu Teresa. Itu hipokrit! Kalau mereka ini tidak hipokrit maka sudah banyak ibu Teresa dan Albert Schweitzer. Kenyataannya, banyak orang yang menginginkan sosialisme tetapi jarang yang menjadi Albert Schwietzer atau madam Teresa. Dengan kata lain sosialisme adalah paham yang dilatarbelakangi oleh sifat dengki dan iri atau/dan hipokrit.

Sampai disini dongeng pembukaan dari sub-bab ini. Kita mulai saja inti ceritanya.


(Bersambung........)



[1] The World Factbook; CIA Publication, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/

[2] Historical Statistics for the World Economy: 1-2006 AD; Angus Maddison

[3] The World Factbook; CIA Publication, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/




Disclaimer:
Dongeng ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran untuk berinvestasi. Dan nada cerita dongeng ini cenderung mengarah kepada inflasi, tetapi dalam periode penerbitan dongeng ini, kami percaya yang sedang terjadi adalah yang sebaliknya.

Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.